Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.3469

The Influence of Perceived Usefulness and Perception of Ease of Use of Financial Technology (Fintech) for MSME Development in Sidoarjo Regency


Pengaruh Persepsi Kegunaan dan Persepsi Kemudahan Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) Untuk Pengembangan UMKM di Kabupaten Sidoarjo

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Perception of Usefulness Perception of Ease Use of Financial Technology (Fintech)

Abstract

This study aims to analyze the effect of perceived usefulness and ease of use on the use of financial technology (fintech) for the development of SMEs in Sidoarjo. The sampling method used is in this study using a non-probability sampling technique. The non-probability sampling technique used in this study is purposive sampling. The sample in this study was 100 respondents. The data used is primary data. The data analysis method used in this study is Multiple Linear Regression with SPSS 25. The results of this study indicate that Perception of Usefulness Affects the Use of Financial Technology (Fintech). Perception of Ease of Influence on the Use of Financial Technology (Fintech).

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital dewasa ini sangatlah pesat, banyak inovasi-inovasi baru yang bermunculan di bidang teknologi digital mulai dari software hingga hardware serta perangkat pendukung lainnya [1]. Perkembangan teknologi digital juga didukung dengan penggunaan gadget dan Internet yang juga mengalami peningkatan, anak-anak hingga orang dewasa pun menggunakannya. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bahwa pengguna Internet di indonesia sebanyak 143,26 juta jiwa atau sebesar 54,68% dari total penduduk indonesia adalah pengguna Internet [2] . Perkembangan teknologi digital sekarang sudah merambah hampir seluruh aspek kehidupan mulai dari berbelanja, transportasi, keuangan, pariwisata hingga memberikan donasi serta kegiatan ekonomi lainnya dapat diakses secara digital. Perkembangan Teknologi digital telah mengubah gaya hidup masyarakat masa kini, kehidupan masyarakat yang dekat dengan gadget dan Internet dan di dukung dengan fasilitas pelayanan yang berbasis teknologi digital membuat aktivitas sehari-hari masyarakat menjadi lebih sederhana dengan menggunakan gadget dalam genggaman tangan mereka. Hal ini mendorong perkembangan bisnis berbasis teknologi digital, salah satunya adalah Financial Technology (Fintech) [3]. Fintech adalah sebuah sistem keuangan berbasis teknologi yang menghasilkan produk, layanan, teknologi dan/atau model bisnis baru yang berdampak pada kestabilan moneter, kestabilan sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan serta keandalan sistem pembayaran [4]. Layanan keuangan pada era sekarang telah mengalami evolusi dari waktu ke waktu, meskipun layanan keuangan sejak dahulu sudah menggunakan sentuhan teknologi, seperti Anjungan Tunai Mandiri (ATM), kartu kredit dan lain sebagainya, namun di era sekarang muncul berbagai layanan keuangan berbasis teknologi digital yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Aktivitas Fintech diklasisifikasikan dalam 5 (lima) kategori yakni; 1. Pembayaran, Transfer, Kliring, dan penyelesaian (Payment,clearing and settlement); 2. Deposito, Pinjaman, dan Penambahan Modal (Deposit lending and Capital Raising); 3. Manajemen Risiko (Risk Management); 4. Dukungan Pasar (Market Support);5. Manajemen Investasi (Invesment Management) (Pramaswari, & Nasution, 2021).

Akibat perkembangan baru di bidang digitalisasi tersebut, sikap dan gaya hidup masyarakat berubah menjadi lebih peka dan kritis terhadap setiap perubahan, yang kemudian menciptakan bentuk interkonektivitas baru antarpelaku ekonomi yang menjadi semakin kreatif, aktif dan produktif. Sejalan dengan perubahan tersebut, maka muncul kesadaran terutama di negara-negara maju untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan industri semata, melainkan perlu membangun dan mengandalkan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif. Salah satu bentuk kesadaran ini yakni berkembangnya ekonomi baru atau yang populer disebut sebagai ekonomi atau industri kreatif. Industri ini dapat diartikan sebagai industri yang mengutamakan bakat, kreativitas, informasi, dan pengetahuan dalam aktivitas operasionalnya. Selain perkembangan industri atau ekonomi kreatif, perkembangan teknologi digitalisasi juga telah mengubah sistem pembayaran dari sistem pembayaran tunai ke nontunai menggunakan electronic money atau uang elektronik. Menurut Bank for International Settlements, e-money didefinisikan sebagai stored-value atau prepaid produk di mana catatan dana atau value yang tersedia untuk konsumen disimpan pada perangkat elektronik yang dimiliki.

Hasil survei JakPat dalam Startup Report 2017 Daily Social.Id menyatakan bahwa Go-Pay merupakan uang elektronik yang terpopuler serta paling banyak diminati publik. Sebanyak 50 persen responden yang di survei memiliki uang elektronik yang dikeluarkan oleh perusahaan penyedia jasa transportasi online Go-Jek. Sementara e-money dari Bank Mandiri dan TCASH milik Telkomsel berada di urutan kedua dan ketiga.

Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia yang memiliki tugas menentukan kebijakan moneter dan mengatur sistem pembayaran telah mengeluarkan kebijakan sistem pembayaran melalui e-money yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No. 16/08/PBI/2014. Dengan adanya alat pembayaran nontunai seperti e-money ini diharapkan mampu mengoptimalkan daya beli masyarakat yang sekaligus berdampak pada meningkatnya perekonomian negara. Hal ini karena e-money sendiri memberi kemudahan dan keamanan bagi masyarakat sebagai pengguna e-money. Kemudahan dan keamanan yang diberikan salah satunya adalah masyarakat tidak perlu membawa uang tunai secara langsung dalam jumlah yang banyak untuk bertransaksi.

Dalam menggunakan suatu teknologi baik teknologi keuangan atau Financial Technology (Fintech) maupun teknologi lainnya, diperlukan suatu penerimaan atau minat dalam menggunakan teknologi tersebut. Minat ini tidak akan muncul sendiri melainkan dipengaruhi oleh suatu persepsi yang kemudian dijabarkan dalam suatu Model Penerimaan Teknologi. Model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM) merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang dikembangkan berdasarkan teori tindakan beralasan (Theory of Reasoned Action atau TRA). Pada TAM terdapat dua tambahan konstruk utama, yakni persepsi kegunaan (perceived usefulnes) dan persepsi kemudahan (perceived ease of use). Persepsi kegunaan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Persepsi kemudahan penggunaan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha [6].

Persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) keduanya mempunyai pengaruh ke minat perilaku (behavioral intention). Pemakai teknologi akan mempunyai minat menggunakan teknologi (minat perilaku) jika merasa sistem teknologi bermanfaat dan mudah digunakan [7]. Teknologi adalah keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan [8]. Teknologi berfungsi untuk mempermudah manusia dalam melakukan kegiatannya, menjadikan pekerjaan lebih efisien, singkat dan cepat. Kehadiran teknologi mudah diterima dalam masyarakat membuat teknologi berkembang luas dalam masyarakat dan masuk kedalam berbagai bidang, salah satunya ekonomi. Dalam bidang ekonomi teknologi sangat mempengaruhi lembaga keuangan, banyak produk lembaga keuangan telah menggunakan tekonologi seperti penggalangan dana, permodalan, saham, dan lain-lain.

Teknologi dibidang ekonomi dibedakan menjadi dua, yaitu E-commerce dan Financial Technology atau yang dikenal sebagai Fintech. E-commerce merupakan perusahaan yang menyediakan platform jual beli online. Sementara Fintech merupakan perusahaan berpusat pada perusahaan yang melakukan inovasi di bidang lembaga keuangan dengan sentuhan teknologi modern. Jenis fintech memiliki banyak macam, seperti pengelolaan aset, penggalangan dana (Crowd Funding), peer to peer (P2P) Lending, payment gateway, saham, asuransi, dan e-money. Fintech sangat membantu masyarakat, dimana Fintech tersebut dapat mempengaruhi kebiasaan transaksi masyarakat menjadi lebih mudah/praktis dan efektif yang awalnya sedikit sulit karena harus bertransaksi dulu ke bank atau pergi ke ATM untuk mentransfer sejumlah uang kepada pihak lain yang dituju. Terdapat beberapa layanan Financial Technology seperti pembayaran, peminjaman, pembiayaan, perencanaan keuangan, investasi, dan termasuk layanan yang menjadi solusi dalam permodalan yaitu layanan penyedia modal. Dengan adanya Fintech akan mengubah industri keuangan pada era digital [9].

Memanfaatkan penggunaan gadget yang telah memasuki seluruh lapisan masyarakat, fintech bisa diakses melalui gadget. Fintech dapat menjangkau seluruh kalangan mulai dari kalangan menengah ke bawah sampai kalangan mengah ke atas. Kehadiran Fintech dapat membantu masyarakat dalam mengakses produkproduk keuangan dan mempermudah melakukan transaksi keuangan dengan sentuhan teknologi tangan. Dimanapun dan kapanpun masyarakat dapat melakukan transaksi tanpa harus datang langsung ke lembaga keuangan atau tanpa harus mengantri dengan berbagai prosedur seperti pada bank umumnya [10].

Financial Technology (Fintech) dalam peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 merupakan penggunaan teknologi sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, efisiensi, kelancaran, keamanan dan kendala sistem pembayaran. Penyelanggaraan teknologi finasial yakni meliputi sistem pembayaran, pendukung pasar, manajemen investasi dan majemen risiko, pinjaman, pembiayaan dan penyedia modal, dan jasa finansial lainnya (Peraturan BI no 19/12/PBI/2017) [11].

Fintech bukan merupakan lembaga keuangan seperti perbankan, melainkan model bisnis baru yang sangat membantu masyarakat. Fintech tetap diatur oleh Bank Indonesia agar konsumen atau masyarakat dapat terlindungi. Oleh karena itu perusahaan Fintech wajib mendaftarkan perusahaanya pada Bank Indonesia ataupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perusahaan Fintech sudah banyak berdiri di Indonesia dan banyak digunakan oleh Masyarakat Indonesia. Sampai September 2018 sebanyak 82 perusahaan Fintech Lending tercatat dan berizin pada Otoritas Jasa Keuangan. Ada peningkatan yang sangat tinggi pada perusahaan Fintech Lending, yang sebelumnya pada Maret 2018 sebanyak 40 perusahaan Fintech Lending yang terdaftar dan berizin pada OJK. Perusahaan Fintech Di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat atau sebesar 105% dalam jangka waktu 6 bulan [12].

Dengan adanya layanan fintech akan membuat layanan keuangan menjadi lebih cepat dan mudah. Selain itu, bisa dilakukan dimana saja dan tidak terbatasi lagi oleh ruang dan waktu. Dengan sosialisasi yang baik dan perbaikan aturan yang sesuai, akan memberikan jalan yang lurus bagi perkembangan Fintech kedepannya. Dunia perbankan harus siap dengan hadirnya fintech pada masa sekarang ini. Jangan sampai fintech mendisrupsi bisnis yang telah dibangun oleh perbankan khususnya di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kebutuhan masyarakat saat ini adalah layanan yang cepat dan aman. Terlebih lagi jika layanan itu bisa diakses dimana saja dan kapan saja.

Perkembangan fintech syariah di Indonesia masih memberikan peluang yang cukup besar dan terbuka lebar hanya saja harus diikuti dengan regulasi yang lebih mudah, infrastruktur yang memadai, serta sosialisasi tentang pemahaman keuangan syariah yang baik agar fintech syariah dapat lebih berkembang serta meminimalisasi tumbuh pesatnya fintech-fintech illegal. Pandemic covid -19 memberi berkah tersendiri untuk perkembangan fintech di Indonesia khususnya fintech syariah ketika masyarakat dibayang-bayangi dengan ketidakpastian ekonomi fitech syariah membawa solusi untuk inovasi keuangan digital dimana transaksi lebih mudah, juga masyarakat dapat berkonsultasi tanpa bertemu secara fisik.

Perlu dilakukan adanya penelitian lanjutan yang berguna untuk mengetahui hasil temuan yang jika diterapkan pada kondisi lingkungan dan waktu yang berbeda, karena dalam fenomena di atas dan juga penelitian terdahulu masih menghasilkan temuan yang tidak konsisten. Maka dari itu dalam penelitian ini akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi Penggunaan Financial Technology (Fintech) dengan menggunakan periode waktu dan obyek yang berbeda dari penelitian sebelumnya, sehingga akan memberikan hasil penelitian yang berbeda pula dengan penelitian terdahulu.

Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Pengaruh Persepsi Kegunaan Dan Persepsi Kemudahan Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) Untuk Pengembangan Umkm Di Sidoarjo. Perlu dilakukan adanya penelitian lanjutan untuk melengkapi penelitian terdahulu mengenai Penggunaan Financial Technology (Fintech) yang pernah dilakukan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan variable Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan dan Penggunaan Financial Technology (Fintech).

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya . Perbedaannya pada populasi, waktu dan sampel yang digunakan yaitu pada pengusahan kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Alasan memilihi Kabupaten Sidoarjo dikarenakan Kabupaten Sidoarjo dijuluki Kota UMKM, Sidoarjo memiliki ratusan ribu UMKM di sejumlah bidang. Bahkan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Pemkab Sidoarjo mencatat ada sekitar 206.745 jenis UMKM yang tersebar di 18 wilayah kecamatan di Sidoarjo. Dari uraian latar belakang diatas, peneliti mengambil judul “PENGARUH PERSEPSI KEGUNAAN DAN PERSEPSI KEMUDAHAN TERHADAP PENGGUNAAN FINANCIAL TECHNOLOGY (FINTECH) UNTUK PENGEMBANGAN UMKM DI SIDOARJO”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) Untuk Pengembangan UMKM Di Sidoarjo?
  2. Apakah Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) Untuk Pengembangan UMKM Di Sidoarjo?

Metode Penelitan

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data primer sebagai sumber data, karena menggunakan data penelitian berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistic [13].

2. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif serta menggunakan pengujian hipotesis untuk menjelaskan hubungan antara variabel-variabel. Sebagai langkah awal peneliti mencari acuan studi literature dari jurnal, artikel, maupun penelitian terdahulu yang berhubungan dengan variabel Pengaruh Persepsi Kegunaan Dan Persepsi Kemudahan Dalam Penggunaan Financial Technology (Fintech). Tahap kedua dan selanjutnya peneliti menetapkan rumusan masalah, menentukan hipotesis, dan data-data yang akan diperlukan.Pengumpulan data berasal dari data sekunder berupa data historis yang diperoleh dari berbagai sumber melalui media perantara. Data sekunder tersebut meliputi buku referensi, literature, dan informasi mengenai Financial Technology (Fintech).

3. Lokasi Penelitian

Peneliti dalam hal ini melakukan penelitian di UMKM daerah sekitar Kota Sidoarjo.

4. Definisi Operasional, Identifikasi Variabel dan Indikator Variabel

a. Definisi Operasional

Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen.

1) Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen (terikat) adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Financial Technology (Fintech) (Y). Fintech adalah suatu inovasi baru dijasa keuangan yang mengadaptasi perkembangan teknologi untuk mempermudah pelayanan keuangan dan sistem kuangan agar lebih efisien dan efektif [14]. Dalam penelitian ini Fintech ada 3 macam yaitu [15]:

1. Fintech Payment Gateway

Dalam sistem pembayaran diharuskan menciptakan sistem pembayaran yang aman, efisien, efektif,lancar, dan andal. Indikator Fintech Payment Gateway yaitu :

  1. Meningkatkan efektivitas
  1. Mempermudah pekerjaan (efisien)
  1. Mudah dioperasikan
  1. Penguasaan dalam menggunakan teknologi
  1. Menghasilkan pelayanan/service yang baik

2. Fintech Peer To Peer Lending Syariah

Peer to Peer Lending syariah memberikan mekanisme yang lebih minimalis dibandingkan dengan pembiayaan melalui bank. Indikator Peer to Peer Lending syariah yaitu :

  1. Mekanisme pengajuan dana pembiayaan
  2. Persyaratan pengajuan dana pembiayaan
  3. Jangka waktu pengembalian dana
  4. Dapat digunakan dengan mudah
  5. Menambah produktifitas
  6. Meminimalisir waktu

3. Fintech Reseller

Reseller merupakan bentuk untuk pengembangan usaha/bisnis. Indikator Reseller yaitu :

  1. Memperluas jangkauan pasar
  2. Strategi promosi
  3. Perluasan ukuran bisnis

2) Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah Persepsi Kegunaan (X1) Dan Persepsi Kemudahan (X2).

1. Persepsi Kegunaan (X1)

Persepsi kegunaan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Indikator Persepsi Kegunaan yaitu [16] :

  1. Persepsi efektivitas
  2. Persepsi kegunaan dalam meningkatkan kerja
  3. Persepsi kegunaan dalam menjawab kebutuhan informasi

2. Persepsi Kemudahan (X2)

Persepsi kemudahan penggunaan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha. Indikator Persepsi kemudahan yaitu [17]:

  1. Persepsi kemudahan untuk berinteraksi
  2. Persepsi kemudahan untuk digunakan
  3. Persepsi kemudahan untuk dipelajari

Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah Pengusaha kecil dan menengah yang ada di kabupaten Sidoarjo. Sebagai kabupaten yang dijuluki Kota UMKM, Sidoarjo memiliki sekitar 206.745 jenis UMKM yang tersebar di 18 wilayah kecamatan di kabupaten Sidoarjo (Dinas Koperasi (Dinkop) UMKM Sidoarjo, 2021) .

b. Sampel

Pada penelitian ini peneliti menggunakan simple random sampling, Simple Random Sampling adalah pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Untuk menentukan besarnya sampel yang diambil dari populasi peneliti menggunakan rumus yang dikemukakan oleh slovin dengan tingkat kepercayaan 90% dengan nilai e=10% adalah sebagai berikut:

n = N

1 + Ne2

= 206.745

1 + 206.745 (0.1)2

= 99,9

Jadi, berdasarkan perhitungan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, jumlah sampel sebanyak 99,9 dibulatkan menjadi 100 responden, yang menjadi respondennya yaitu para pengusaha UMKM di Sidoarjo.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan kuesioner tertulis untuk pengumpulan data yang diperlukan, tidak melalui wawancara terhadap responden karena responden khawatir identitasnya akan terungkap. Kuesioner tersebut berisi daftar pernyataan yang telah dibuat dan disusun oleh peneliti yang selanjutnya akan diberikan kepada responden untuk dijawab. Kuesioner tersebut bersifat tertutup, yang berarti bahwa responden tidak bisa memberikan jawaban atau pendapat sendiri melainkan cukup memilih jawaban yang telah tersedia [18].

Pada penelitian ini menggunakan 5 poin skala likert, untuk menghilangkan sifat keragu-raguan responden dalam memberikan jawaban pada kuesioner. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu objek atau fenomena tertentu [19].

Adapun untuk keperluan analisis kuantitatif, skor yang diberikan dari setiap skala sebagai berikut :

Pilihan Jawaban Bobot Skor
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Netral 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak setuju 1
Table 1.Bobot Skor Jawaban Variabel

Teknik Analisis

a. Uji Validitas dan Realibitas

1) Uji Validitas

Uji Validitas adalah uji statistik yang digunakan guna menentukan seberapa valid suatu item pertanyaan mengukur variabel yang diteliti [20]. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai kritis pada taraf signifikan 0,05 (5%).

2) Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Kuesioner dinyatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten dari waktu ke waktu. Dengan ketentuan sebagai berikut :

b. Uji Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan secara ringkas variabel-variabel dalam penelitian ini. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran data yang akan dianalisis. Statistik deskriptif ini menggambarkan sebuah data menjadi informasi yang lebih jelas dan mudah untuk dipahami dalam menginteprestasikan hasil analisis data dan pembahasannya.

c. Analisis Regresi Linier Berganda

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat digunakan uji statistik regresi linier berganda.Untuk menguji kebenaran dan hipotesis yang diajukan maka di uji dengan regresi linier berganda yaitu sebagai berikut:

Y = a+b 1 X 1 + b 2 X 2 + e

Keterangan :

Y= Semangat Kerja

a= Konstanta

X1= Persepsi Kegunaan

X2= Persepsi Kemudahan

b1= koefisien regresi untuk variabel X1

b2= koefisien regresi untuk variabel X2

e= Error (variabel lain tidak dijelaskan)

D. Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk pengujian hipotesis. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh beberapa variable bebas (X) terhaadap variable terikat (Y). Analisis regresi linear berganda dilakukan dengan uji koefisien determinasi, dan uji t.

1. Uji Parsial (Uji t)

Menurut [21] Uji t digunakan untuk mengetahui signifikansi peran secara parsial antara variable bebas terhadap variable terikat. Dengan ketentuan jika nilai signifikan lebih dari 0,05 alpha, maka artinya terdapat alas an untuk hipotesis satu (H1) diterima dan menolak hipotesis nol (H0), dan sebaliknya.

2. Koefisien Korelasi Berganda (R)

Koefisien korelasi berganda dipergunakan untuk menghitung tingkat keeratan hubungan antara variable bebas dengan variable terikat. Jangkauan nilai R berkisar antara 0-1, artinya semakin mendekati 1 maka semakin kuat hubungan antara variable bebas secara bersama-sama dan variable terikat. Semakin mendekati 0 berarti hubungannya semakin lemah atau bahkan tidak sama sekali antara variable bebas secara bersama-sama dan variable terikat. Jika nilai R (korelasi) tersebut bernilai positif, artinya hal ini menandakan bahwa jika terjadi peningkatan nilai pada variable bebas, maka akan menyebabkan peningkatan nilai variable terikat, artinya terjadi hubungan yang searah antara variable bebas secara bersama-sama terhadap varaibel terikat.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

1. Pengujian Kualitas Data

Uji Validitas

Variabel Item Variabel Correlation (r-hitung) r-kritis Keterangan
Persepsi Kegunaan (X1) X1.1 0.393 0.30 Valid
X1.2 0.413 0.30 Valid
X1.3 0.397 0.30 Valid
X1.4 0.666 0.30 Valid
X1.5 0.430 0.30 Valid
X1.6 0.490 0.30 Valid
X1.7 0.407 0.30 Valid
Persepsi Kemudahan (X2) X2.1 0.320 0.30 Valid
X2.2 0.356 0.30 Valid
X2.3 0.406 0.30 Valid
X2.4 0.429 0.30 Valid
X2.5 0.445 0.30 Valid
X2.6 0.899 0.30 Valid
X2.7 0.350 0.30 Valid
X2.8 0.772 0.30 Valid
Financial Technology (Fintech) (Y) Y1.1 0.359 0.30 Valid
Y1.2 0.405 0.30 Valid
Y1.3 0.381 0.30 Valid
Y1.4 0.353 0.30 Valid
Y1.5 0.380 0.30 Valid
Y1.6 0.425 0.30 Valid
Y1.7 0.401 0.30 Valid
Y1.8 0.402 0.30 Valid
Y1.9 0.411 0.30 Valid
Y1.10 0.993 0.30 Valid
Y1.11 0.357 0.30 Valid
Y1.12 0.717 0.30 Valid
Y1.13 0.774 0.30 Valid
Y1.14 0.437 0.30 Valid
Table 2.Uji Validitas

Pada hasil pengujian validitas diatas menyatakan bahwa seluruh item pernyataan kuisioner variable (X) dan variable (Y) memiliki nilai koefesien korelasi diatas 0,30 (>0,30), sehingga dari variable (X) dan variable (Y) keseluruhan dapat dinyatakan valid.

b. Uji Reliabilitas

Variabel Nilai alpha cronbach Nilai Kritis Keterangan
Persepsi Kegunaan (X1) .816 0.7 Reliabel
Persepsi Kemudahan (X2) .812 0.7 Reliabel
Financial Technology (Fintech) (Y) .784 0.7 Reliabel
Table 3.Uji Reliabilitas

Dari data table diatas, dapat dilihat terdapat nilai koefisien reliabilitas cronbach alpha pada variable Financial Technology (Fintech) (Y) sebesar 0.784, variable Persepsi Kegunaan (X1) sebesar 0.816, sedangkan variable Persepsi Kemudahan (X2) memiliki nilai 0.812. Dari hasil penelitian tersebut maka dari pernyataan instrument variable Persepsi Kegunaan (X1), Persepsi Kemudahan (X2) dan Financial Technology (Fintech) (Y) ini bahwa instrument kuisioner yang digunakan dikatakan memiliki reliabilitas.

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 14.730 2.732 5.391 .000
Persepsi Kegunaan 4.291 .038 .607 7.638 .000
Persepsi Kemudahan 5.094 .063 .118 5.485 .001
a. Dependent Variable: Financial Technology (Fintech)
Table 4.Uji Regresi Linier Berganda

Berdasarkan hasil table diatas dapat dilihat dan dijelaskan bahwa persamaan yang diperoleh sebagai berikut :

Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + e

Y = 14.730 + 4.291 X 1 + 5.094 X 2 + e

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam perasamaan diatas dapat dijelaskan makna dari koefisien regresi sebagai berikut :

1) Konstanta (a)

Nilai konstanta adalah 14.730. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa adanya pengaruh variable bebas yaitu Persepsi Kegunaan (X1), dan Persepsi Kemudahan (X2), maka nilai dalam variable terikatnya yaitu variable Financial Technology (Fintech) (Y) tetap konstan sebesar 14.730.

2) Persepsi Kegunaan (X1)

Koefisien bernilai positif 4.291 antara variable Persepsi Kegunaan (X1) dengan variable variable Financial Technology (Fintech) (Y). hal ini dapat diartikan bahwa variable tersebut memiliki hubungan yang positif. Maka dapat disimpulkan bahwa jika variable Persepsi Kegunaan (X1) mengalami kenaikan satu satuan, sehingga variable variable Financial Technology (Fintech) (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 4.291 satuan.

3) Persepsi Kemudahan (X2)

Koefisien bernilai positif 5.094 antara variable Persepsi Kemudahan(X2) dengan variable variable Financial Technology (Fintech) (Y). hal ini dapat diartikan bahwa variable tersebut memiliki hubungan yang positif. Maka dapat disimpulkan bahwa jika variable Persepsi Kemudahan(X2) mengalami kenaikan satu satuan, sehingga variable variable Financial Technology (Fintech) (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 5.094 satuan.

3. Pengujian Hipotesis

1. Uji Koefisien Determinasi (R²)

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 .638 a .707 .795 1.892 1.967
a. Predictors: (Constant), Persepsi Kemudahan , Persepsi Kegunaan
b. Dependent Variable: Financial Technology (Fintech)
Table 5.Hasil Uji R Square

Pada table diatas diketahui bahwa nilai koefisien korelasi R adalah 0,638 atau mendekati 1. Artinya terdapat hubungan (korelasi) yang kuat antara variabel bebas yang meliputi Persepsi Kemudahan (X1), dan Persepsi Kegunaan (X2) terhadap variabel terikat yaitu Financial Technology (Fintech) (Y).

Adapun analisis determinasi berganda, dari tabel diatas diketahui presentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditujukan oleh nilai R square adalah 0,707 maka koefisien determinasi berganda 0,707 x 100% = 70,7% dan sisanya 100% - 70,7% = 29,3%. Hal ini berarti naik turunnya variabel terikat yaitu Kepatuhan Wajib Pajak (Y) dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu Persepsi Kemudahan (X1), dan Persepsi Kegunaan (X2) sebesar 70,7%. Sedangkan sisanya sebesar 29,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, misalnya Persepsi Manfaat, Norma Subjektif, dan Persepsi Kontrol Perilaku.

2. Uji t (Uji Parsial)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 14.730 2.732 5.391 .000
Persepsi Kegunaan 4.291 .038 .607 7.638 .000
Persepsi Kemudahan 5.094 .063 .118 5.485 .001
a. Dependent Variable: Financial Technology (Fintech)
Table 6.Hasil Uji Parsial (Uji t)
  1. Pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada hipotesa Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Financial Technology (Fintech) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000, lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilai t hitung 7.638 dan t tabel 1.66071. Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 7.638 > 1.66071 dan tingkat signifikan 0,000 < 0,05, sehingga H1yang menyatakan bahwa variabel Persepsi Kegunaan secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Financial Technology (Fintech) diterima.
  2. Pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada hipotesa Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Financial Technology (Fintech) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001, lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilai t hitung 5.485 dan t tabel 1.66088. Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 5.485 > 1.66088 dan tingkat signifikan 0,001 < 0,05, sehingga H2yang menyatakan bahwa variabel Persepsi Kemudahan secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Financial Technology (Fintech) diterima.
No. Uraian Hasil Keterangan
1 Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Financial Technology (Fintech) Diterima 7.638 > 1.66071 0,000 < 0,05
2 Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Financial Technology (Fintech) Diterima 5.485 > 1.66088 0,001 < 0,05
Table 7.Hasil Pengujian Hipotesis

Pembahasan

1. Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech)

Hasil pengujian Regresi Linear Berganda variabel Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) menunjukkan tingkat signifikansi dibawah tingkat signifikansi 0,05 (5%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) diterima dan mempengaruhi perusahaan dalam meningkatkan Financial Technology (Fintech). Hasil pengujian yang dilakukan dapat mendukung hipotesis yang diajukan. Efektivitas dapat didefinisikan sebagai daya guna, keaktifan, serta adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan antara seseorang yang melaksanakan tugas dengan tujuan yang ingin dicapai [22]. Menurut [23] persepsi kegunaan adalah suatu kepercayaan seseorang bahwa dengan menggunakan teknologi akanmeningkatkan prestasi kerja mereka. Efektivitas yang dimaksud yaitu hasil yang diperoleh dari penggunaan suatu teknologi sesuai dengan tujuan penggunaanya. Persepsi kemudahan penggunaan merupakan komponen dari Technology Accaptance Model (TAM) yang berkaitan erat dengan efektivitas, ketika seseorang merasa percaya bahwa teknologi informasi mudah dipahami maka orang akan memiliki rasa percayaan bahwa menggunakan teknologi akan meningkatkan prestasi kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kegunaan sangat berkaitan dengan efektivitas, semakin banyak kegunaan yang didapatkan oleh penguna teknologi maka efektivitas penggunaannya dapat tercapai [24].

2. Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech)

Hasil pengujian Regresi Linear Berganda variabel Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) menunjukkan tingkat signifikansi dibawah tingkat signifikansi 0,05 (5%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech) diterima dan mempengaruhi perusahaan dalam meningkatkan Financial Technology (Fintech). Hasil pengujian yang dilakukan dapat mendukung hipotesis yang diajukan. persepsi kemudahan didefinisikan sebagai seberapa jauh seseorang mempercayai bahwa menggunakan suatu teknologi akan terbebas dari usaha. Kemudahan merupakan komponen dari Technology Acceptence Model (TAM), model ini dirancang untuk memprediksi penerimaan atau penggunaan teknologi oleh pengguna beserta manfaatnya dalam pekerjaan. Penggunaan financial technology yang mudah digunakan pasti akan digunakan oleh pelaku UMKM. Jika seseorang merasa atau meyakini bahwa sistem teknologi informasi mudah digunakan maka ia akan menggunakannya begitupun sebaliknya, jika sistem tidak mudah digunakan maka tidak akan menggunakannya.

Kesimpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Persepsi Kegunaan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech). Persepsi kemudahan penggunaan merupakan komponen dari Technology Accaptance Model (TAM) yang berkaitan erat dengan efektivitas, ketika seseorang merasa percaya bahwa teknologi informasi mudah dipahami maka orang akan memiliki rasa percayaan bahwa menggunakan teknologi akan meningkatkan prestasi kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kegunaan sangat berkaitan dengan efektivitas, semakin banyak kegunaan yang didapatkan oleh penguna teknologi maka efektivitas penggunaannya dapat tercapai.
  2. Persepsi Kemudahan Berpengaruh Terhadap Penggunaan Financial Technology (Fintech). Penggunaan financial technology yang mudah digunakan pasti akan digunakan oleh pelaku UMKM. Jika seseorang merasa atau meyakini bahwa sistem teknologi informasi mudah digunakan maka ia akan menggunakannya begitupun sebaliknya, jika sistem tidak mudah digunakan maka tidak akan menggunakannya.

References

  1. M. Wildan, “Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan, Efektivitas dan Risiko terhadap Minat Bertransaksi Menggunakan Financial Technology (Fintech),” Fak. Ekon. dan Bisnis Islam, 2019.
  2. M. D. Hadad, “Financial Technology (FinTech) di Indonesia.,” J. Med. Imaging Radiat. Sci., vol. 45, no. 2, pp. 176–177, 2017.
  3. K. Rosyadah, B. Budiandriani, and T. Hasrat, “The Role of Fintech: Financial Inclusion in MSMEs (Case Study in Makassar City),” J. Manaj. Bisnis, vol. 8, no. 2, pp. 268–275, 2021, doi: 10.33096/jmb.v8i2.840.
  4. D. T. Subagiyo, “Characteristics of Financial Technology as Financing Alternative Capitalization of Medium Small-Medium Enterprises (MSME),” Fiat Justisia J. Ilmu Huk., vol. 15, no. 2, pp. 133–158, 2021, doi: 10.25041/fiatjustisia.v15no2.1933.
  5. F. Pramaswari, A. P. Nasution, and S. L. Nasution, “The Effect of Branding Quality and Service Quality on Customer Satisfaction through Financial Technology (FinTech) at PT. WOM Finance Branch Rantauprapat,” Budapest Int. Res. Critics Inst. Humanit. Soc. Sci., vol. 4, no. 2, pp. 2995–3004, 2021, doi: 10.33258/birci.v4i2.2012.
  6. A. Micu, “Financial Technology (FinTech) and its Implementation on the Romanian Non-Banking Capital Market,” SEA Pract. Appl. Sci., vol. IV, no. 11 (2/2016), pp. 379–384, 2016.
  7. Jogiyanto, “Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Yogyakarta: BPFE-UGM,” SSRN Electron. J., 2014.
  8. J. Hartono, Teori portofolio dan analisis investasi (edisi Kesebelas). 2017.
  9. R. Muchlis, “Analisis SWOT Financial Technology (Fintech) Pembiayaan Perbankan Syariah Di Indonesia (Studi Kasus 4 Bank Syariah Di Kota Medan),” AT-TAWASSUTH J. Ekon. Islam, vol. 1, no. 1, p. 335, 2018, doi: 10.30821/ajei.v1i1.2735.
  10. H. Hiyanti, L. Nugroho, C. Sukmadilaga, and T. Fitrijanti, “Sharia fintech (financial technology) opportunities and challenges in Indonesia,” J. Ilm. Ekon. Islam, vol. 5, no. 3, pp. 326–333, 2020.
  11. R. Marginingsih, “Financial Technology (Fintech) Dalam Inklusi Keuangan Nasional di Masa Pandemi Covid-19,” Monet. - J. Akunt. dan Keuang., vol. 8, no. 1, pp. 56–64, 2021, doi: 10.31294/moneter.v8i1.9903.
  12. S. Kusumawardhany, Y. K. Shanti, K. Azzahra, B. F. Arianti, and A. P. Romadhina, “Penerapan Literasi Keuangan Dalam Memahami Financial Technology,” SULUH J. Abdimas, vol. 2, no. 2, pp. 151–160, 2021, doi: 10.35814/suluh.v2i2.1544.
  13. J. H. Mustakini, “Metode Penelitian Bisnis. Edisi ke-6. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.,” 2014.
  14. M. Fajar and C. W. Larasati, “Peran Financial Technology (Fintech) dalam Perkembangan UMKM di Indonesia: Peluang dan Tantangan,” Humanis (Humanities,Management Sci. Proceedings), vol. 1, no. 2, pp. 702–715, 2021.
  15. R. Kismawadi, “No Title,” pp. 135–152.
  16. D. P. Anzelin, PERSEPSI KEGUNAAN DAN KEMUDAHAN DALAM PENGGUNAAN FINANCIAL TECHNOLOGY (FINTECH) PADA MASYARAKAT KOTA BANDA ACEH Disusun. 2020.
  17. G. F. C. Putri and N. Novianti, “Pengaruh Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Kenyamanan, Kepercayaan, Kepuasan, dan Loyalitas Pelanggan Terhadap Minat Pembelian Kembali Secara Online. (Online).,” p. (diakses tanggal 11 Juni 2021)., 2016.
  18. S. Hermawan and Amirullah, “Metode Penelitian Bisnis Bandung,” CV Alfa Beta, 2016.
  19. S. Syofian, “Statistik Parametrik untuk Penelitian Kuantitatif: Dilengkapi dengan Perhitungan Manual dan Aplikasi SPSS Versi 17 Ed. 1, Cet. 2. Jakarta: PT Bumi Aksara.,” 2014.
  20. R. Agus, Statisk Deskriptif, Yogyakarta, Nuha Medika. 2017.
  21. Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Cv Alfabeta. 2017.
  22. H. S. Firizi, “Pengaruh Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Persepsi Risiko Dan Kepercayaan Terhadap Minat Menggunakan Internet Banking,” J. Ilm. Mhs. FEB, 2014.
  23. G. William and M. Tjokrosaputro, “PERSEPSI KEGUNAAN DAN PROMOSI UNTUK MEMPREDIKSI NIAT PENGGUNAAN E-WALLET: SIKAP SEBAGAI VARIABEL MEDIATOR,” J. Muara Ilmu Ekon. dan Bisnis, 2021, doi: 10.24912/jmieb.v5i1.9997.
  24. K. Natalia, A. P. Ompusunggu, and J. Sarwono, “PENGARUH PERSEPSI KEGUNAAN DAN PERSEPSI KEMUDAHAN TERHADAP PENGGUNAAN E-FILING DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PADA KPP PRATAMA GAMBIR TIGA (SURVEI PADA KPP PRATAMA GAMBIR TIGA PERIODE APRIL-JULI 2017),” J. Muara Ilmu Ekon. dan Bisnis, 2019, doi: 10.24912/jmieb.v3i1.1922.