Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.3442

Stock Prices and Financial Indicators in the Food and Beverage Industry


Harga Saham dan Indikator Keuangan di Industri Makanan dan Minuman

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Earning Per Share Debt To Equity Ratio Price Earning Ratio Stock Prices Food and Beverage Industry

Abstract

This study investigates the influence of key financial indicators, namely Earnings Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), and Price Earning Ratio (PER), on stock prices within the Food and Beverage industry listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) from 2016 to 2019. The research population comprised all Food and Beverage companies listed on the IDX during the specified period. By employing a partial t test analysis using SPSS version 25, a sample of 68 Consumer Goods Industry sector companies was selected, consisting of 17 Food and Beverage sector companies. The findings reveal that EPS significantly affects stock prices in Food and Beverage companies on the IDX. Conversely, DER does not demonstrate a significant impact, whereas PER exhibits a significant influence on stock prices. These results shed light on the financial factors that drive stock prices in the Food and Beverage industry and provide valuable insights for investors, practitioners, and policymakers alike.

Highlights:

  • Earnings Per Share (EPS) significantly influences stock prices in the Food and Beverage industry.
  • Debt to Equity Ratio (DER) does not have a significant impact on stock prices in the sector.
  • Price Earning Ratio (PER) exhibits a significant effect on stock prices in Food and Beverage companies.

Keywords: Earnings Per Share, Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio, Stock Prices, Food and Beverage Industry.

Pendahuluan

Persaingan bisnis di era globalisasi semakin meningkat setiap tahunnya. Setiap pelaku bisnis di setiap kategori bisnis harus peka terhadap setiap perubahan yang terjadi dan menjadikan kepuasan pelanggan sebagai tujuan utamanya [1]. Persaingan bisnis di setiap bidang semakin ketat. Oleh karena itu, setiap pelaku usaha harus dapat terus berkembang dan bertahan agar mampu menghadapi persaingan yang ada. Setiap tahun harga saham setiap perusahaan mengalami perubahan, dan fluktuasinya juga tidak menentu, sehingga naik turunnya harga saham sangat umum terjadi. Dalam teori ekonomi, pergerakan harga saham disebabkan karna adanya permintaan dan penawaran. Apabila permintaan tinggi, maka harga saham akan naik. Namun, apabila jumlah penawaran tinggi maka harga saham akan turun. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya naik turunnya saham yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain kondisi fundamental perusahaan, kebijakan yang diambil oleh manajemen perusahaan, proyeksi kinerja perusahaan di masa mendatang. Sedangkan untuk faktor eksternal antara lain faktor fundamental ekonomi makro, kuat atau lemahnya kurs rupiah terhadap mata uang asing, kebijakan pemerintah, berita yang memicu kepanikan investor untuk menjual sahamnya, dan adanya manipulasi pasar [2]. Salah satu perusahaan yang mengalami naik turunnya harga saham ialah perusahaan manufaktur sektor foodandbeverage.Kementerian Perindustrian mencatat, sepanjang tahun 2018, laju pertumbuhan industri makanan dan minuman mencapai 7,91%, bahkan melampaui 5,17% perekonomian nasional. Padahal pada kuartal IV 2018, pertumbuhan output manufaktur besar dan menengah meningkat 3,90% (year- on-year) dibandingkan kuartal IV-2017. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan produksi minuman, menyumbang 23,44%. Selain itu, industri makanan merupakan salah satu industri yang menopang pertumbuhan total nilai investasi negara. Pada tahun 2018, industri tersebut memberikan kontribusi sebesar 56,60 triliun rupiah. Dalam setahun terakhir, total nilai investasi industri manufaktur mencapai 222,3 triliun rupiah. Pasar modal merupakan pilihan lain bagi investor (pemilik dana) dalam menanamkan dananya. Setiap investor yang berinvestasi akan mendapatkan pengembalian investasi di masa depan. Keuntungan merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor untuk berinvestasi dan sekaligus menjadi reward bagi investor untuk mengambil resiko. Akan tetapi, walaupun berinvestasi di saham memiliki keuntungan yang relatif tinggi, hal itu membawa risiko yang besar. Transaksi pasar modal Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam berbagai periode, terlihat dari peningkatan jumlah saham yang dikonversi dan peningkatan volume perdagangan saham [3]. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman adalah salah satu jenis investasi yang diminati oleh investor. Karena perusahaan pada bidang ini memiliki prospek yang bagus dan cenderung dapat bertahan di masa mendatang. Pasalnya, masyarakat akan selalu membutuhkan produk yang dihasilkan dari industri ini, sehingga prospek perusahaan di masa ini dan di masa mendatang akan cukup baik. Saat membeli dan menjual saham di pasar modal, investor akan cenderung khawatir dengan harga saham. Karena harga saham dapat mencerminkan nilai dari perusahaan tersebut. Pada umumnya, dengan memaksimalkan nilai dari perusahaan dapat memaksimalkan pendapatan yang akan diperoleh investor. Semakin tinggi risiko yang ditanggung oleh investor, maka akan semakin tinggi pula return yang dihasilkan. Return yang tinggi ini nantinya akan berpengaruh pada citra perusahaan [4]. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, investor harus melakukan analisis dengan cermat terhadap perusahaan yang akan menjadi pilihannya untuk berinvestasi. Untuk melakukan analisis harga saham dapat digunakan dengan dua metode diantaranya yaitu metode fundamental dan metode teknikal. Yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode fundamental. Analisis dengan metode fundamental merupakan suatu metode dalam menganalisis harga saham dengan meniktikberatkan pada kinerja perusahaan dan analisis ekonomi yang dapat mempengaruhi masa depan perusahaan. Analisis fundamental berfokus pada rasio dan peristiwa keuangan yang secara langsung atau tidak langsung dapat berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan [5]. Rasio keuangan bisa digunakan untuk menilai status keuangan suatu entitas. Bentuk rasio keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan adalah rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio pertumbuhan, dan rasio penilaian. Rasio yang akan digunakan dalam analisis ini adalah rasio profitabilitas melalui pertumbuhan EarningPerShare(EPS), rasio solvabilitas melalui Debt to Equity Ratio (DER) dan Price Earning Ratio (PER). Secara umum, EarningPerShare(EPS)akan berdampak pada harga saham. Apabila nilai EPS tinggi akan mempengaruhi laba yang diberikan oleh perusahaan sehingga akan menyebabkan meningkatnya harga saham perusahaan sehingga investor akan merasa tertarik untuk menanamkan modalnya [6]. Rasio solvabilitas atau rasio leverage (rasio utang) digunakan untuk mengukur pembiayaan hutang perusahaan [7]. Rasio likuiditas yang akan digunakan pada penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio(DER). Jika rasionya tinggi, artinya pembiayaan utang semakin meningkat, maka dikhawatairkan perusahaan tidak dapat menggunakan asetnya untuk melunasi utang, dan perusahaan akankesulitan mendapatkan pinjaman tambahan [8]. PriceEarningRatio(PER)merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan berapa jumlah rupiah yang harus dibayar oleh investor agar bisa memperoleh keuntungan dari jumlah rupiah yang dibayarkan tersebut [9]. Semakin tinggi nilai Price Earning Ratio (PER) maka akan berpengaruh pada besarnya tingkat kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan di masa depan. Penelitian sebelumnya terkait dengan Earning Per Share telah dilakukan oleh [10] menyatakan bahwa secara parsial Earning Per Share berpengaruh negatif terhadap harga saham. Namun, secara simultan berpengaruh positif terhadap harga saham. Tetapi, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh [11], yang menyimpulkan bahwa secara parsial EaningPerShare(EPS)mempunyai pengaruh negatif terhadap harga saham. Namun, secara simultan memberikan pengaruh negatif terhadap harga saham. Penelitian terkait dengan DebttoEquityRatiodilakukan oleh [12] dan [13] yang menyatakan bahwa secara parsial DebttoEquityRatio(DER)mempunyai pengaruh positif terhadap harga saham. Tetapi, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh [14] yang hasil penelitiannya menjelaskan yang menjelaskan bahwa DebttoEquityRatiotidak berpengaruh terhadap harga saham. Hasil yang berbeda juga ditunjukkan penelitian yang dilakukan oleh [10] yang menyatakan bahwa Debt toEquity Ratio (DER) secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Dan juga penelitian yang dilakukan oleh [11] yang hasil penelitiannya menyatakan bahwa secara simultan dan secara parsial Debt toEquityRatio (DER)tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Penelitian tentang Price Earnig Ratio (PER) dilakukan oleh [15] menjelaskan bahwa secara parsial Price Eaning Ratio (PER)berpengaruh positif terhadap harga saham. Namun lain dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh [16] yang menyatakan bahwa Price EarningRatio(PER)secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Perbedaan penelitian ini terdapat diobjek,waktu, dan lokasi penelitian dimana objek pada penelitian ini adalah pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonsia pada tahun 2016-2019. Dimana ada dua penelitian yang menggunakan objek yang berbeda yaitu penelitian yang dilakukan oleh [10] yang objeknya adalah perusahaan manufaktur dalam Indeks Saham Syariah Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh [14] yang objek penelitiannya adalah perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 selama periode 2013-2015 dan penelitian yang dilakukan oleh [13] yang objek penelitiannya adalah industri otomotif dan komponen. Perbedaan lainnya ialah terletak pada variabel independen yang digunakan, yaitu Earning Per Share, Debt to Equity Ratio dan Price EarningRatio.

Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Jenis yang digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab hubungan sebab akibat dari pengaruhnya antara dari variabel bebas ke variabel terikatnya maka tekhnik yang diambil adalah tekhnik kuantitatif. Tekhnik kuantitatif merupakan tekhnik [17] “tekhnik yang melibatkan populasi dan sampel dalam penelitian dengan filsafat positivism dengan hasil yang dianalisis secara statistik untuk membuktikan kebenaran hipotesisnya”.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur sub sektor foodandbeverageyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan laporan keuangan yang dipublikasikan pada website . Subyek dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur sub sektor food and beverage yang telah terdafat di BEI (Bursa Efek Indonesia) periode 2016-2019. Penelitian ini menggunakan objek berdasarkan rasio keuangan perusahaan sub sektor food and beverage terdiri dari variabel bebas yaitu Earning Per Share (X1), Debt to Equity Ratio (X2), dan Price Earning Ratio(X3). Adapun variabel dependen atau variabel terikat yang diambil dalam penelitian ini yaitu harga saham (Y). Harga saham yang dipilih sebagai perhitungan dari variabel adalah perhitungan berdasarkan harga closing(penutupan) secara tahunan pada perusahaan manufaktur sub sektor food andbeverageyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2019.

C. Indikator Variabel

Variabel Parameter Skala Pengukuran
Variabel Dependen
Harga Saham (Y) Harga saham pada saat penutupan (closingprice) Rasio
Variabel Independen
EarningPer Share(EPS)(X1) EPS = Rasio
Debt toEquityRatio(DER)(X2) DER = Rasio
PriceEarningRatio(PER)(X3) PER = Rasio
Table 1.Indikator VariabelData Diolah, 2022

D. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan seluruh objek atau subjek penelitian yang pada umumnya objek atau subjeknya terdiri dari : objek atau subjek yang memiliki ciri dan atribut tertentu yang dikuasai oleh peneliti untuk dipusatkan dan kemudian dilakukan pengambilan kesimpulan dalam penelitian [17]. Adapun dalam penelitian yang dianggap sebagai populasi yang telah ditentukan sebagai keseluruhan objek penelitian adalah seluruh sektor barang konsumsi dari jenis perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI (Bursa Efek Indonesia) periode 2016-2019.

Sampel penelitian merupakan sebagian dari populasi atau dari jumlah keseluruhan objek penelitian yang ada. Jika populasinya besar, dan tidak terbayangkan bagi para analis untuk melakukan secara keseluruhan dari objek tersebut, misalnya dalam hal dana yang terbatas, waktu dan tenaga, peneliti bisa menggunakan contoh yang diambil dari populasi tersebut [17]. Purposivesamplingdigunakan untuk dasar pengambilan sampel yang telah terpilih dengan kriteria:

  1. Perusahaan manufaktur yang bergerak di sektor industri makanan dan minuman
  2. Perusahaan yang melaporkan laporan keuangan secara lengkap
  3. Perusahaan yang mempunyai laba setiap tahunnya
  4. Perusahaan yang tidak pernah delisting selama periode 2016-2019

Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti mendapatkan jumlah sampel sebanyak 17 perusahaan manufaktur sub sektor foodandbeverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2016 sampai dengan 2019 yang memenuhi seluruh kriteria dalam penelitian ini. Sehingga total data yang diolah sebanyak 68 data

E. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu dari laporan keuangan dari perusahaan manufaktur sub sektor food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2019.

F. Teknik Pengumpulan Data

Kegiatan penelitian ini diambil dengan memakai: tekhnik dokumentasi. pengumpulan, pencatatan dan penelaahan data dengan tidak langsung yang bersumber dari annualreport dari keseluruhan perusahaan yang telah dijadikan sampel penelitian yaitu perusahaan sub sektor food and beverage periode tahun 2016-2019. Data yang berupa laporan keuangan tahunan yang digunakan dalam penelitian ini dapat diakses melalui website Namun untuk memperkuat sumber data, peneliti membeli data dalam bentuk laporan keuangan tahunan melalui Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, kemudian dengan metode studi pustaka, yaitu dengan cara data yang didapatkan dari berbagai dokumen kepustakaan misalnya pada karya ilmiah, jurnal, artikel dan yang memliki keterkaitan mengenai data penelitian dan sumber lainnya dan pencarian internet, adalah data yang diperoleh melalui penggunaan teknologi internet untuk mendukung penelitian ini.

G. Teknik Analisis

Dalam rangka menguji hipotesis yang telah dirumuskan, analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan bantuan SPSS (StatisticalProductServiceSolution)ver.25.0. Analisis regresi linear berganda digunakan oleh peneliti dengan maksud untuk meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen, apabila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya) [17] :

1. Uji Statistik Deskriptif.

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah dikumpulkan, tanpa bermaksud membuat kesimpulan umum atau generalisasi [17].

2. Uji Asumsi Klasik

a) Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas berfungsi agar diketahuinya kecenderungan antar variabel bebas dalam suatu model penelitian [18].

b) Heteroskedastisitas

Penggunaan uji heteroskedastisitas adalah untuk mengetahui terdapat atau tidaknya perbedaan varianceresidualpada satu masa ke masa lainnya dalam model regresi [19]

c) Uji Normalitas

Uji normalitas berfungsi sebagai pengukuran apakah data yang sedang dilakukan pengamatan memiliki distribusi yang normal sedangkan pengamatanya data pada variabel terikat dan variabel bebas [19].

d) Autokorelasi

Pengujian ini memiliki fungsi sebagai melakukan pemeriksanaan, terdapat hubungan antara periode tertentu dengan periode sebelumnya dalam model regresi atau tidak [19].

3. Analisis Korelasi dan koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) dipakai sebagai pengukuran dalam menjelaskan proporsi bebas variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen [20].

4. Analsisis Regresi Liner berganda

Analisis regresi linier berganda dipakai untuk melakukan analisis pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan menggunakan rumus sebagai berikut

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

H. Uji Hipotesis

Pengujian ini bermaksud untuk mengetahui seberapa kontribusi variabel independen secara terpisah dalam menjelaskan ragam variabel dependen. Pengujian parsial digunakan dalam menguji EarningPer Share (EPS),Debtto Equity Ratio(DER)dan PriceEarningRatio(PER)terhadap harga saham [21].

Uji t memiliki fungsi agar dapat diketahui pengaruh dari setiap variabel indepeden terhadap variabel terikatnya dependen. Significance level dari pengujian ini adalah 0,05.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Analisis

1. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas berfungsi agar diketahuinya kecenderungan antar variabel bebas dalam suatu model penelitian.

Tolerance VIF
EPS_X1 .969 1.032
DER_X2 .988 1.013
PER_X3 .968 1.033
a. Dependent Variable: HRG.SHM_Y
Table 2.Uji MultikolinieritasOlahan SPSS, 2022.

Dari hasil pada tabel 3 diatas terlihat bahwa tolerance > 0.1 dan VIF < 10 dengan ini dinyatakan bahwa tidak adanya multikolinieritas

2. Uji Heteroskedastisitas

Penggunaan uji heteroskedastisitas adalah untuk mengetahui terdapat atau tidaknya perbedaan varianceresidualpada satu masa ke masa lainnya dalam model regresi. Pengujian heterokedastisitas sebagai berikut:

Supplementary Files

Gambar 1 Uji Heterokedastisitas

Sumber : Olahan SPSS, 2022

Model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu, karena penyebarannya.

3. Uji Normalitas

Uji normalitas berfungsi sebagai pengukuran apakah data yang sedang dilakukan pengamatan memiliki distribusi yang normal sedangkan pengamatanya data pada variabel terikat dan variabel bebas, uji normalitas ditampilkan ke tabel 4 berikut:

Test Statistic .135
Monte Carlo. Sig. .151
Table 3.Uji Kolmogorov-Smirnov Monte CarloOlahan SPSS, 2022

Kolmogorov-Smirnov Monte Carlo di atas 0,05 sebesar 0,151, hal berarti dalam penelitian ini data yang ada dalam kondisi distribusi normal.

4. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda dipakai untuk melakukan analisis pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan hasil sebagai berikut:

Y = 69.618 + 0.859X1 + 0.328 X2 - 14.948X3 + e

Pada persamaan regresi diatas variabel EPS dan DERmemiliki nilai positif hal artinya jika nilai dari variabel EPS dan DERmeningkat maka akan mengakibatkan juga kenaikan harga saham.

Variabel PER bernilai negatif hal ini berarti jika nilai dari variabel PER diturunkan maka akan menurunkan harga saham berlaku sebaliknya.

5. Analisa Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) dipakai sebagai pengukuran dalam menjelaskan proporsi bebas variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen,analisis determinasi disajikan pada tabel 5 berikut:

R R Square
.641 .410
Table 4.Koefisien DeterminasiOlahan SPSS, 2022

R² yang diperoleh adalah sebesar 0.41 atau 41% dan sisanya 59% dijelaskan oleh variabel bebas lainnya di luar model uji coba ini.

6. Uji Hipotesis

Pengujian ini bermaksud untuk mengetahui seberapa kontribusi variabel independen secara terpisah dalam menjelaskan ragam variabel dependen. Pengujian parsial digunakan dalam menguji EarningPer Share (EPS),Debtto Equity Ratio(DER)dan PriceEarningRatio(PER)terhadap harga saham, hasil pengujian tersaji ditabel 5 dibawah ini :

Variabel t Sig.
EPS_X1 2.829 .008
DER_X2 -2.808 .008
PER_X3 2.981 .005
Table 5.Uji HipotesisOlahan SPSS, 2022

a) Uji Pengaruh Earning Per Share (X 1 ) Terhadap Harga Saham (Y).

Uji pengaruh Earning Per Share (X1) terhadap harga saham (Y) sebesar 0.038 (0,038 0,05). Hasil yang didapatkan lebih kecil dari 5% (0.05) Artinya Earning Per Share mampu mempengaruhi harga saham.

b) Uji Pengaruh Debt to Equity Ratio (X 2 ) Terhadap Harga Saham (Y).

Uji pengaruh Debt to Equity Ratio (X2) terhadap harga saham (Y) sebesar 0.250 (0,250 0,05). Hasil yang didapatkan lebih besar dari 5% (0.05) artinya Debt to Equity Ratio tidak mampu mempengaruhi harga saham.

c) Uji Pengaruh Price Earning Ratio (X 3 ) Terhadap Harga Saham (Y).

Hasil sig. sebesar 0.005 nilai ini lebih kecil dari tingkat signifikansi 5% (0,005 ≤ 0,05) Artinya variabel price earning ratio (X3) mampu mempengaruhi harga saham (Y).

B. Pembahasan

Pengaruh Earning Per Share Terhadap Harga Saham

Hasil uji hipotesis pertama membuktikan bahwa Earning Per Share berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan oleh [22] dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Earning Per Share mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage, hasil yang dilakukan yaitu perusahan yang dapat menghasilkan laba bersih yang cenderung tinggi perusahaan tersebut dapat membuat investor untuk tertarik dalam menanamkan sahamnya karena dinilai pada perusahaan yang memiliki laba yang stabil akan dapat lebih baik pula dalam melakukan pengembalian atas saham yang ditanamkan (dividen). Earning Per Share dapat mencerminkan tingkat pertumbuhan laba perusahaan, berdasarkan teori sinyal (signallingtheory),jumlah EarningPerShare(EPS)yang ditunjukkan oleh perusahaan dalam laporan keuangan dapat memberikan sinyal baik (goodnews)kepada para investor. Tingginya nilai Earning Per Share maka dapat mengindikasikan bahwa investor akan diuntungkan karena pengembalian yang tinggi pula dalam tiap saham lembar yang ditanamkan.

Pengaruh Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham.

Hasil uji hipotesis ketiga membuktikan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hasil ini didukung oleh riset terdahulu [10] hasil tersebut membuktikan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham, hasil tersebut sesuai dengan pengamatan yang ada investor menanamkan sahamnya di perusahaan food and beverage tidak melihat tingginya hutang yang digunakan sebagai modal perusahaan namun investor tertarik menanamkan sahamnya berdasarkan kinerja perusahaan yang dinilai dari keuntungan yang dapat dihasilkan karena jika perusahaan dapat menhasilkan keuntungan yang baik maka hutang tersebut dapat diminimalisisr dan perusahaan akan mampu menanggung liabilitas baik jangka pendek maupun jangka panjangnya dari profit yang dihasilkan sehingga tingkat pengembalian dividen atas saham yang telah ditanamkan oleh investor memiliki pengembalian yang tinggi. Hal ini lah yang menyebabkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan antara jumlah utang (debt) perusahaan dengan jumlah ekuitas (equity) tidak dapat mempengaruhi harga saham yang ada pada perusahaan food and beverage.

Pengaruh Price Earning Ratio Terhadap Harga Saham.

Hasil uji hipotesis ketiga variabel Price Earning Ratio berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil tersebut sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh penelitian terdahulu oleh [16] yang memberikan hasil bahwa Price Earning Ratio berpengaruh terhadap harga saham. Price Earning Ratio(PER)merupakan rasio keuangan yang digunakan oleh investor sebagai pengukuran dari sejauh mana perusahaan dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan investor. Dalam penelitian ini harga saham yang dimiliki oleh perusahaan sektor food and beverage tergolong stabil dan memiliki harga saham yang wajar menunjukkan bahwa perusahaan dapat tumbuh dengan baik jika dinilai dengan harga pasar per lembar dan laba per lembar saham yang dihasilkan. Investor akan mengetahui apakah harga saham tergolong wajar atau tidak atau sesuai dengan kondisi saat ini. Berdasarkan teori sinyal (signalling theory), semakin tinggi nilai PriceEarningRatio (PER)maka akan menunjukkan tingkat pertumbuhan perusahaan yang tinggi, sehingga akan menyebabkan kenaikan pada harga saham, hal ini lah yang menyebabkan bahwa Price Earning Ratio (PER) dapat mempengaruhi harga saham yang ada diperusahaan sektor food and beverage..

Kesimpulan

Sesudah penelitian dilakukan maka sesuai dengan hasil analisis penelitian maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut : Uji hipotesis menunjukkan bahwa Earning Per Share berpengaruh terhadap harga saham kemudian pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham dan pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa Price Earning Ratio berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan food and beverageyang terdaftar di BEI periode tahun 2016-2019.

References

  1. P. Kotler, Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Jakarta: PT. Prehallindo, 2007.
  2. I. Fahmi, Pengantar Manajemen Keuangan Teori dan Soal Jawab. Bandung: Alfabeta, 2016.
  3. N. Nurlia dan J. Juwari, “Pengaruh Return on Asset, Return on Equity, Earning Per Share Dan Current Ratio Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sub Sektor Otomotif Dan Komponen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia,” J. GeoEkonomi, vol. 1, no. 10, 2019.
  4. A. Alipudin, “Pengaruh Eps, Roe, Roa Dan Der Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sub Sektor Semen Yang Terdaftar Di BEI,” J. Ilm. Akunt. Fak. Ekon., vol. 1, no. 2, hal. 1–22, 2016.
  5. L. Ariyani, R. Andini, dan E. B. Santoso, “Pengaruh EPS, CR, DER Dan PBV Terhadap Harga Saham Dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Intervening (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2011-2015,” J. Account., vol. 4, no. 4, 2018.
  6. J. Gunawan, F. Funny, C. Marcella, E. Evelyn, dan J. . Sitorus, “Pengaruh CR (Current Ratio), DER (Debt to Equity Ratio), EPS (Earning Per Share) dan Financial Distress (Altman Score) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Industri Dasar dan Kimia Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia,” J. Adm. Bisnis, vol. 1, no. 4, 2020.
  7. A. Sugiono dan E. Untung, Panduan Praktis Dasar Analisa Laporan Keuangan Pengetahuan Dasar bagi ... In Panduan Praktis Dasar Analisa Laporan Keuangan. Jakarta: Grasindo, 2018.
  8. Kasmir, Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2017.
  9. E. Tandelin, portofolio dan investasi. Kanisius, 2010.
  10. M. R. Utami dan A. Darmawan, “Pengaruh DER, ROA, ROE, EPS Dan MVA Terhadap Harga Saham Pada Indeks Saham Syariah Indonesia,” J. Appl. Manag. Account., vol. 2, 2018, doi: https://doi.org/10.30871/jama.v2i2.910.
  11. M. Jalil, “Pengaruh EPS, ROA, DER dan CR terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI Periode 2015- 2017,” J. Chem. Inf. Model., vol. 1, hal. 1–9, 2020.
  12. D. Fitrianingsih dan Y. Budiansyah, “Pengaruh Current Rasio Dan Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham Di Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013 – 2017,” J. Ris. Akunt. Terpadu, vol. 12, no. 1, 2018.
  13. A. W. Hutapea dan I. S. Saerang, “Pengaruh Return On Assets, Net Profit Margin, Debt To Equity Ratio, Dan Total Assets Turnover Terhadap Harga Saham Industri Otomotif Dan Komponen Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia,” J. Ris. Ekon. MANAJEMEN, BISNIS DAN Akuntansi., vol. 5, 2017, doi: https://doi.org/10.35794/emba.5.2.2017.15718.
  14. I. D. G. Suryawan dan I. G. A. Wirajaya, “No Title,” E-Jurnal Akunt., vol. 21, no. 2, 2017.
  15. P. W. Rahmadewi dan N. Abundanti, “Pengaruh Eps, Per, Cr Dan Roe Terhadap Harga Saham Di Bursa Efek IndonesiA,” E-Jurnal Manaj. Unud, vol. 7, no. 4, 2018, doi: https://doi.org/10.24843/EJMUNUD.2018.v07.i04.p14.
  16. N. F. Amaliyah, S. Priantono, dan D. Perwitasari, “Pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Price To Book Value (PBV), dan Debt To Equity Ratio (DER) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI),” J. Ilm. Ekon. Dan Bisnis Ecobus, vol. 5, no. https://ejournal.upm.ac.id/index.php/ecobuss/issue/view/38, 2017.
  17. Sugiyono, Metode Peneiltian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. 2018.
  18. Sujarweni Wiratna, “Metodologi Penelitian - Bisnis dan Ekonomi,” in Metodologi Penelitian, 2015.
  19. Y. Sutopo dan A. Slamet, Statistik Inferensial. Yogyakarta: Andi, 2017.
  20. D. Siagian dan Sugiarto, Metode Statistika Untuk Ekonomi dan Bisnis. 2000.
  21. I. Ghozali, likasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2018.
  22. K. KHAIRUDIN dan Wandita, “Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas, Debt To Equity Ratio (DER) dan Price To Book Value (PBV) Terhadap Harga Saham Perusahaan Pertambangan di Indonesia,” J. Akuntani dan Keuangan, vol. 8, 2017, doi: http://dx.doi.org/10.36448/jak.v8i1.826.