Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.3422

Implementation of SAK-ETAP-Based Accounting on the Quality of Financial Reports in Micro, Small and Medium Enterprises Batik Tulis in Sidoarjo Regency


Implementasi Akuntansi Berbasis SAK-ETAP Terhadap Kualitas Laporan Keuangan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah Batik Tulis di Kabupaten Sidoarjo

Mahasiswa
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

SAK ETAP Financial Statements

Abstract

The problem that is often faced by SMEs is the lack of knowledge in making financial reports due to a lack of knowledge about accounting science. In addition, SMEs have limited time in making financial reports. Therefore, SMEs need to know the financial statements based on SAK ETAP. So that they can record business transactions with financial statements. Starting from journals, ledgers, income statements and balance sheets. The purpose of this study was to find out how the implementation of accounting based on SAK-ETAP on the quality of financial reports in small and medium-sized Batik Tulis in Sidoarjo. The object of this research is UKM Batik Tulis Jetis Sidoarjo. Researchers conducted observations and interviews with batik SME actors to identify the financial statements of SMEs. Test the validity of the data using a triangulation test. Technical analysis of the data uses four stages, namely data collection, data extraction, data display, and conclusion drawing. Based on interviews with SMEs making batik in Sidoarjo, no one has yet implemented SAK ETAP for their business financial records. On average they only record transactions that occur, without making financial statements.

Pendahuluan

Usaha mikro kecil menengah atau yang lebih dikenal sebagai sebutan UMKM merupakan pemegang peranan yang cukup penting bagi pergerakan ekonomi Indonesia dikarenakan pelaku UMKM dapat dikatakan cukup banyak, sehingga UMKM yang ada di Indonesia mampu untuk menyerap tenaga kerja [1]. UMKM di Indonesia juga sebagai penyumbang pendapatan negara yang cukup besar dikarenakan masalah jumlah pelaku yang banyak dan tarif pajak UMKM yang mayoritas diterapkan kepada usaha UMKM dihitung berdasarkan omzet bruto mereka, namun dengan meningkatnya peredaran bruto suatu UMKM akan diikuti dengan tanggung jawab yang meningkat pula. Selain perubahan tata cara perhitungan pajak penghasilan yang memperhitungkan pajak penghasilan berdasarkan laba bersih, tentu saja menurut ketentuan undang-undang perpajakan, pelaku UMKM yang memiliki kriteria tersebut diwajibkan untuk melaksanakan pembukuan yang menghasilkan laporan keuangan sesuai standar yang berlaku [2]. Laporan keuangan selain berguna bagi negara, pemilik, dan pihak lainnya, laporan keuangan juga berguna sebagai tolok ukur suatu usaha dalam hal kesehatan finansial mereka [3]. Laporan keuangan yang baik, adalah laporan keuangan yang mampu menyediakan informasi mengenai performa entitas, dan posisi keuangan entitas secara andal, relevan, tepat waktu, dan dapat diperbandingkan sehingga pengguna laporan keuangan dapat mempergunakan informasi yang terdapat di dalam laporan keuangan untuk membuat keputusa-keputusan taktis dan bernilai ekonomis [4]. Meskipun telah disusun suatu standar baku yang diperuntukkan secara umum kepada pelaku

Usaha UMKM, kita tidak bisa menutup fakta bahwa mayoritas pelaku usaha UMKM banyak yang mungkin masih belum paham dengan SAK ETAP. KUD sejahtera sebagai pelaku UMKM di kota Sorong masih tidak dapat menerapkan SAK ETAP sehingga laporan keuangan yang dihasilkan masih tidak dapat dikatakan disajikan secara wajar menurut SAK ETAP [5]. Penelitian yang dilakukan di Cekoslowakia menyatakan bahwa masih banyak UMKM di Cekoslowakia yang belum menerapkan IFRS for SME (International Fianncial Reporting Standard forSmallandMedium Enterprises) dikarenakan pelaku usaha UMKM di Cekoslowakia masih memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari pengimplementasian IFRS for SME tersebut, dan mayoritas masih merasa rugi jika menerapkan hal tersebut [6]. Di Sidoarjo ini UKM yang sangat dikenal masyarakat luas yaitu Batik Sidoarjo, meskipun batik Sidoarjo ini tidak sepopuler batik solo ataupun batik pekalongan.Namun, batik Sidoarjo ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.Batik tulis tradisional Sidoarjo sudah dikenal dan terus dikembangkan hingga menjadi salah satu tujuan wisata belanja di kabupaten Sidoarjo.Salah satunya adalah kampung batik jetis sebagai sentra perajin batik tulis Sidoarjo, dan telah dinobatkan sebagai kampung batik.Karena dikawasan tersebut banyak perajin batik yang menjadi ciri khas batik Sidoarjo. Kampung batik ini merupakan salah satu sentra UKM agenda wisata belanja Sidoarjo.Meskipun tempatnya banyak seperti rumah tinggal, namun koleksi batik tulis di kampung jetis ini tidaklah kalah dengan berbagai macam batik di solo dan di daerah lainnya.Sebab seiring perkembangan, motif yang ditampilkan juga beragam.Selalu mengikuti perkembangan zaman, namun tidak meninggalan motif etnik:

Metode Penelitian

Untuk mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai penerapan SAK-ETAP dalam menyusun laporan keuangan pada bisnis batik tulis Sidoarjo, dengan unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, Pendekatan kualitatif sesuai untuk penelitian ini karena penelitian ini tidak menggunakan data berupa angka [7]. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dokumentasi serta mencari informan untuk dijadikan sumber informasi penelitian [8]. Teknik penentuan informan menggunakan Teknik sampling yang digunakan oleh peneliti adalah purposive sample . Kunci Informan dalam penelitian ini adalah pemilik-pemilik batik tulis jetis sidoarjo, yaitu adalah batik tulis Namiro, batik tulis Jahai, batik tulis Kamsatun, batik tulis Hasah dan yang terakhir yaitu bati tulis H.I karena data dan informasi dapat diperoleh dari kunci informan tersebut. Teknik penganalisisan data menggunakan model dari Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, Reduksi data, Penyajian data dan penarikan kesimpulan [9]. Teknik analisis data yang digunakan yaitu kualitatif. Aktivitas tersebut ialah Data collection, Data reduction, data display, dan conclusiondrawing[10]

Hasil dan Pembahasan

Wawancara dan pengamatan diajukan kepada lima UMKM pengrajin batik di Kampung Batik Tulis Jetis Sidoarjo, batik yang dijadikan sampel yaitu Batik Tulis Namiro, Batik Tulis Jahai, Batik Tulis Kamsatun, Batik tulis Hasah danBatik Tulis H.I. Kemudian Persepsi dari lima pengelola UMKM pengrajin batik dengan jenis usaha manufaktur maupun perdagangan, rata-rata mereka belum mengetahui tentang SAK ETAP. Ada 2 UMKM pengerajin batik yang memiliki show room di Kampung Batik Tulis Jetis Sidoarjo yaitu batik tulis Namiro dan batik tulis Jahai. Dari lima sampel UMKM pengerajian Batik tulis terdapat satu UMKM pengrajin batik yang pernah mengenal tentang SAK ETAP yaitu Batik tulis Hasah, Pengetahuan mereka tentang SAK ETAP hanya sebatas tahu, dan pernah mengenal, tetapi belum memahami konsep dari SAK ETAP itu sendiri, pengetahuan mereka tentang SAK ETAP saat pemilik batik tulis Hasah meminjam modal ke pihak bank, karena tidak adanya pihak yang melakukan pelatihan dan followuptentang pencatatan mengenai SAK ETAP kepada mereka.

Kemudian wawancara yang dilakukan dengan Batik tulis Hasah yang diwakili oleh Ibu Tulikah sebagai pengelola semua kegiatan operasional, mengatakan bahwa Batik tulis Hasah pernah mendapat pelatihan mengenai SAK ETAP dari pihak perbankan, meskipun demikian Batik tulis Hasah belum memahami isi dari SAK ETAP, karena tidak adanya tindak lanjut atau followupdari pihak yang melakukan pelatihan. Batik Estu Mulyo beranggapan bahwa pencatatan secara detail dan sesuai aturan SAK ETAP kurang begitu penting bagi bisnis mereka, karena dari pada waktu mereka digunakan untuk mencatat keuangan, lebih baik mereka melakukan produksi dan penjualan batik. Menurut mereka hal itu lebih menguntungkan, dari pada melakukan pembukuan akuntansi secara detail. Selanjutnya dari ke empat UMKM pengerajin batik yang belum perna mengetahui atau mendengar tentang laporan keuangan berbasis SAK ETAP yaitu Tulis Namiro, Batik Tulis Jahai, Batik Tulis Kamsatun, danBatik Tulis H.I, mereka hanya mencatat keuangan secara sederhana dan manual. secara keseluruhan persepsi pengelola UMKM pengrajin batik di Kampung Batik Tulis Jetis Sidoarjo terhadap SAK ETAP belum memahami tentang SAK ETAP. Pengetahuan UMKM pengrajin batik tersebut hanya sebatas mendengar, dan sedikit sekali yang telah mendapatkan sosialisasi. Hasil dari sosialisasi mengenai SAK ETAP pun hanya memberikan informasi mengenai SAK ETAP dan tidak adanya program tindak lanjut pelatihan secara berkelanjutan dari pihak yang memberikan sosialsisasi tersebut.

Selanjutnya UMKM pengrajin batik di Kampung Batik Tulis Jetis Sidoarjo belum menerapkan SAK ETAP untuk pencatatan keuangan bisnis mereka. Rata-rata mereka hanya mencatat transaksi yang terjadi, tanpa membuatan laporan keuangan. Apabila dilihat dari hasil wawancara terhadap lima UMKM pengrajin batik, diketahui bahwa hanya ada satu UMKM pengrajin batik yang pernah mengetahui SAK ETAP yaitu Batik tulis Hasah, hal tersebutpun hanya sebatas pernah mendengar dan sebatas tahu saja tentang SAK ETAP, dan belum mengetahui lebih lanjut.

Sedangkan Implementasi atau penerapan SAK ETAP pada UMKM pengrajin batik di Kampung Batik Tulis Jetis Sidoarjo yaitu tidak menerapkan SAK ETAP, yang dibagi menjadi dua kategori sebagai berikut:

  1. tidak melakukan pencatatan
  2. melakukan pencatatan sederhana

Kemudian UMKM pengrajin batik yang tidak menerapkan SAK ETAP dan melakukan pencatatan sederhana dengan mencatat semua transaksi yang terjadi tanpa membuat laporan keuangan yaitu Tulis Namiro, Batik Tulis Jahai, Batik Tulis Kamsatun, danBatik Tulis H.I.

Dalam Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) memiliki banyak kendala, dan kendala-kendala yang dihadapi oleh lima UMKM pengrajin batik di kampung Batik Jetis Sidoarjo berdasarkan wawancara, diantaranya: Batik Tulis Namiro, Batik Tulis Jahai, Batik Tulis Kamsatun, Batik tulis Hasah danBatik Tulis H.I.

  1. Kendala yang dihadapi Batik Tulis Namiro terkait pencatatan akuntansi adalah dalam hal penggajian masihrumit, sehingga tidak ada waktu untuk membuatnya.
  2. Kendala-kendala Batik Tulis Jahaiterkait pencatatan akuntansi adalah karena pencatatan masih manual sehingga merepotkan, dan tidak adanya tenaga khusus akuntansi.
  3. Batik Tulis Kamsatunmenganggap bahwa laporan keuangan penting untuk perusahaan, tetapi pemilik belum mempunyai Sumber Daya Manusia yang kompeten untuk membuat laporan keuangan, dan malas membuat laporan keuangan karena merasa bahwa penjualannya sedikit, juga tidak berencana membuat laporan keuangan untuk ke depannya.
  4. Batik tulis Hasah menganggap bahwa pencatatan keuangan dan membuat laporan keuangan itu sangat penting, tetapi perusahaan belum melakukannya, karena pihak perusahaan merasa tidak terlalu butuh membuat laporan keuangan mereka menganggap bahwa pencatatan secara sederhana sudah cukup karena kendala Sumber Daya Manusia dalam bidang akuntansi, meskipun demikian Batik tulis Hasah berencana membuat laporan keuangan dan pencatatan yang lebih baik untuk ke depannya.
  5. Kendala Batik Tulis H.I.dalam membuat laporan keuangan yang lengkap adalah karena tidak adanya Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam bidang akuntansi. Batik Nazz menganggap bahwa laporan keuangan penting bagi tumbuh dan berkembangnya perusahaan, meskipun begitu Batik Tulis H.I. belum berencana membuat laporan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP.

Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian pada UMKM Kampung Batik tulis Jetis Sidoarjo, maka dapat disimpulkan bahwa UMKM pengrajin batik di Kampung Batik tulis Jetis Sidoarjo belum ada yang menerapkan SAK ETAP. Berdasarkan wawancara terhadap lima UMKM pengrajin batik yaitu Batik Tulis Namiro, Batik Tulis Jahai, Batik Tulis Kamsatun, Batik tulis Hasah danBatik Tulis H.I, belum ada yang menerapkan SAK ETAP untuk pencatatan keuangan bisnis mereka. Rata-rata mereka hanya mencatat transaksi yang terjadi, tanpa membuat laporan keuangan. Apabila dilihat dari hasil wawancara terhadap lima UMKM pengrajin batik, diketahui bahwa hanya ada satu UMKM pengrajin batik yang pernah mengetahui SAK ETAP yaitu Batik tulis Hasah, hal tersebut pun hanya sebatas pernah mendengar dan sebatas tahu saja tentang SAK ETAP, dan belum mengetahui lebih lanjut.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan SAK ETAP ada beraneka ragam, diantaranya dari pihak UMKM pengrajin batik sendiri dan juga dari pihak pemerintah atau pihak terkait yang menyelenggarakan pelatihan mengenai SAK ETAP. Pihak UMKM pengrajin batik ada yang merasa belum membutuhkan pencatatan keuangan yang detail dan berdasarkan SAK ETAP, karena beranggapan bahwa dari pada waktu yang mereka gunakan untuk melakukan pencatatan keuangan, lebih baik mereka melakukan kegiatan perdagangan yang secara jelas lebih menghasilkan keuntungan dan laba bagi usaha mereka. Belum adanya sumber daya manusia di bidang akuntansi menjadikan pihak UMKM belum menerapkan pencatatan keuangan yang sesuai dengan SAK ETAP. Pihak pemerintah, dan pihak-pihak yang terkait mengenai pelatihan penerapan SAK ETAP belum melakukan sosialisasi dan pelatihan secara maksimal mengenai SAK ETAP kepada pihak UMKM pengrajin batik.

References

  1. Widnyani, I. A. D., & Suardana, K. A. (2016). Pengaruh Sosialisasi, Sanksi dan Persepsi Akuntabilitas terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Kendaraan Bermotor. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 16(3), 2176–2203
  2. Siagian, R. P., & Pangemanan, S. S. (2016). Analisis Penyajian Laporan Keuangan Berdasarkan Sak-Etap Pada Koperasi Karyawan Bank Sulut GO, 4(1), 1450–1460..
  3. Pratiwi, A. A., Sondakh, J. J., & Kalangi, L. (2014). Analisis Penerapan Sak Etap Pada Penyajian Laporan Keuangan Pt. Nichindo Manado Suisan. Jurnal EMBA,2(3),254–265.
  4. Ikatan Akuntan Indonesia. (2009). Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan.
  5. Frasawi, J. H., Morasa, J., & Walandouw, S. K. (2016). Analisis Pelaporan Keuangan Berdasarkan SAK ETAP Pada Koperasi Unit Desa (KUD) Sejahtera di Kota Sorong. EMBA, 4(4), 815–823.
  6. Bohušová, H. (2011). The implementation of the IFRS for sme in the Eu. Acta Universitatis Agriculturaeet Silviculturae Mendelianae Brunensis, 59(2), 43–50..
  7. Hermawan, S. D., &Amirullah, S. (2016). Metode Penelitian Bisnis Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Malang: Media Nusa Creative Rahardjo, M. (2011). Metode pengumpulan data penelitian kualitatif.
  8. _____________. Metode Penelitian Bisnis Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Malang: Media Nusa Creative Rahardjo, M. (2011). Metode pengumpulan data penelitian kualitatif.
  9. Sugiyono, P. D. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualiltatif dan R&D. Alfabeta.