Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Education
DOI: 10.21070/acopen.4.2021.2989

The Influence of the Educational Environment on Students' Interest in Learning in Science Subjects at Junior High School


Pengaruh lingkungan pendidikan terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran IPA di SMP

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Lingkungan Pendidikan Minat Belajar

Abstract

This study aims to determine the effect of the educational environment on students' interest in learning. The non-experimental quantitative research method with descriptive correlational research design was tested on several experimental classes using an assessment instrument in the form of giving a questionnaire of 20 questions to determine the effect of the educational environment on students' interest in learning. The population used was 412 using simple random sampling technique so that in class VII there were 24 representatives from 119 students, class VIII 24 from representatives of 122 students, and class IX consisted of 34 representatives from 171 students at Avisena Junior High School. Data analysis used correlation between variables X and Y through the SPSS 25 application, namely. Based on the results of descriptive analysis found that the educational environment was in the good category 46.9%, and the results of interest in learning were in the good category 43.3%. The educational environment is significantly and positively related, shown because the significance value is 0.02 < 0.05, then it is correlated and the Pearson correlation value is 0.319 > 0.213 r table so that based on the correlation value greater than r table, there is a relationship between the educational environment variable and students' interest in learning science

Pendahuluan

Belajar adalah suatu proses usaha dari seseorang yang dapat dilakukan untuk memperoleh suatu tujuan tertentu. Tujuan itu berupa suatu perubahan tingkah laku yang baik secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Seorang pelajar adalah orang yang sedang berusaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku pada dirinya sebagai hasil dari perolehan pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnyasekitarnya [1].

Kurikulum merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan. Selama kurang waktu 15 tahun terakhir kurikulum telah mengalami perubahan sebanyak tiga kali, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006, dan yang terakhir Kurikulum 2013 (K13) pada tahun 2014. Kurikulum 13 merupakan kurikulum yang dipakai sampai saat ini [2].

Kurikulum merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan dan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan. Kurikulum 13 merupakan kurikulum yang dipakai sampai saat ini. Karakteristik berdasarkan dari Kurikulum 2013 terletak pada suatu pendekatan yang diaplikasikan dalam pengembangan kurikulum tersebut. Kurikulum 2013 saat ini menitikberatkan pendekatan saintifik pada pendidikan dasar hingga menengah. Implementasi ini dimaksudkan untuk meningkat kualitas dari sumber daya manusia dalam meningkatkan daya saing antar bangsa seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni [3].

Dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang tidak akan hadir secara tiba-tiba tanpa adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya Faktor- faktor tersebut berasal dari dalam dan luar diri seseorang. Faktor yang berasal dari dalam dikenal dengan faktor internal, salah satunya adalah minat. Minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh [4].

Minat mempunyai pengaruh yang besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Minat tidak dibawah sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Dalam proses belajar minat yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal [5]. Faktor eksternal yang mempengaruhi minat belajar seseorang yaitu lingkungan.

Lingkungan yang mempengaruhi minat belajar disini adalah lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada disekitar manusia, baik berupa benda mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi masyarakat terutama dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu [6]. Seperti lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bersosialisasi.

Avisena jabon adalah sekolah swasta yang mempunyai naungan SMP dan SMA, lokasi sekolah yang berada di area perkampungan yang padat penduduk dan dikelilingi 8 pondok pesantren. Siswa-siswi tidak hanya berasal dari sekitar saja melainkan santri-santri dari 8 pondok tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru wali kelas di SMP diperoleh hasil bahwa minat belajar siswa menurun karena adanya pandemi covid-19 ini dan penyesuaian sistem pembelajaran daring serta penggabungan kelas saat pembelajaran yang mengakibatkan kurang kondusifnya lingkungan pendidikan. Pada pembelajaran Ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang mendasar dalam prinsip dan konsep tentang semua kejadian di alam yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari [7]. Pengetahuan secara garis besar tentang fakta yang ada di alam untuk memahami dan memperdalam lebih lanjut, serta melihat adanya keterangan dan keteraturannya. Di samping itu pembelajaran IPA diharapkan mampu melatihkan keterampilan psikomotorik, sikap ilmiah, pemahaman, kebiasaan, serta apresiasi dalam mencari jawaban suatu permasalahan. Sehingga ilmu IPA ini sangat primer dan harus dimiliki oleh siswa agar dapat diaplikasikan pada diri sendiri dan kehidupan sehari-hari. Peneliti yang dilakukan observasi pada kelas VII di SMP AVISENA dengan membagikan soal mata pelajaran IPA.

Metode Penelitian

  1. Populasi : populasi yang digunakan adalah siswa SMP AVISENA yang terdiri 412 siswa.
  2. Sampel : sampel peneliti mengambil 20% dari siswa yang berjumlah 412 siswa secara keseluruhan, sehingga didapatkan hasil kelas VII 24, VIII 24, IX 34, jadi totalnya 82 siswa.
  1. Jenis Data : Jenis data dalam penelitian ini menggunakan angket
  2. Sumber Data : Sumber data dalam penelitian ini menggunakan angket yang di sebarkan pada siswa yang berjumlah 20 butir soal.

Hasil dan Pembahasan

Dalam bab ini peneliti akan menyajikan hasil dari analisis data yang merupakan hasil pengamatan sejumlah variabel yang telah digunakan dalam model korelasional dengan menggunakan program aplikasi SPSS 25. Yang mana telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa penelitian ini melibatkan dua variabel X yaitu lingkungan pendidikan dan variabel ay yaitu minat belajar.

Data tentang kondisi lingkungan pendidikan di SMP Avisena berhasil dikumpulkan dari responden sebanyak 83 siswa, secara kuantitatif menunjukkan total skor teetinggi adalah 49 dan total skor terendah adalah 27. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Variabel lingkungan pendidikan

No Interval Skor Kriteria Frekuensi
F %
1 27-32 Buruk 8 9,6%
2 33-37 Sedang 8 9,6%
3 38-43 Baik 39 46,9%
4 44-50 Sangat baik 28 33,7%
Jumlah 83 100%
Table 1.Distribusi Frekuensi tentang Lingkungan Pendidikan Siswa

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa persepsi siswa tentang lingkungan pendidikan di SMP Avisena yang termasuk kategori buruk 8 siswa (9,6%), kategori sedang 8 siswa (9,6%), kategori baik 39 (46,9%), kategori sangat baik 28 siswa (33,7%). Dengan demikian, secara umum dapat dinyatakan bahwa lingkungan pendidikan di SMP Avisena adalah baik. Kategori baik ini dimaksudkan bahwa dalam lingkungan pendidikan cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Data tentang minat belajar berhasil dikumpulkan dari responden sebanyak 83 siswa, secara kuantitatif menunjukkan bahwa total skor tertinggi adalah 26 dan total skor terendah adalah 15. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

No Interval Skor Kriteria Frekuensi
F %
1 15-17 Buruk 8 9,6%
2 18-20 Sedang 19 22,8%
3 21-23 Baik 36 43,3%
4 24-26 Sangat baik 20 24%
Jumlah 83 100%
Table 2.Variabel minat belajar

Berdasarkan tabel diatas hasil pengolahan data secara statistik dapat diketahui bahwa minat belajar IPA siswa yang termasuk kategori buruk 8 siswa (9,6%), kategori sedang 19 siswa (22,8%), kategori baik 36 siswa (43,3%), kategori sangat baik 20 siswa (24%). Sehingga dapat dinyatakan bahwa minat belajar adalah baik. Kategori disini dimaksudkan dalam proses pembelajaran perasaannya merasa senang, keterlibatan siswa saat mengikuti pelajaran, ketertarikan dalam mata pelajaran IPA, dan perhatian siswa terhadap guru.

lingkungan minat
lingkungan Pearson Correlation 1 ,319**
Sig. (1-tailed) ,002
N 83 83
minat Pearson Correlation ,319** 1
Sig. (1-tailed) ,002
N 83 83
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Table 3.Korelasi lingkungan pendidikan dan minat belajar IPA

Berdasarkan table diatas, hasil analisis deskriptif menemukan bahwa lingkungan pendidikan berada pada kategori baik 46,9% , dan hasil minat belajar dalam kategori baik 43,3%. Lingkungan pendidikan berhubungan nyata dan positif ditunjukan karena nilai signifikansi 0.002 < 0.05, maka berkorelasi dan nilai pearson korrelation 0.319 > 0.213 (r tabel). Sehingga berdasarkan nilai korelasi lebih besar dari r tabel maka terdapat hubungan pada variabel lingkungan pendidikan terhadap minat belajar IPA siswa.

Variabel dalam penelitian ini meliputi X lingkungan pendidikan dan Y minat belajar siswa. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai jawaban responden terhadap variabel-variabel dalam penelitian ini yaitu mengenai pengaruh lingkungan pendidikan (lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat) terhadap minat belajar IPA di SMP Avisena dan berdasarkan hasil analisis deskriptif menemukan bahwa pengaruh lingkungan pendidikan terhadap minat belajar siswa SMP Avisena menunjukkan hasil yang signifikan, dibuktikan pada indikator lingkungan pendidikan yang termasuk kategori buruk 8 siswa (9,6%), kategori sedang 8 siswa (9,6%), kategori baik 39 (46,9%), kategori sangat baik 28 siswa (33,7%)

Dengan demikian, secara umum dapat dinyatakan bahwa lingkungan pendidikan adalah baik. Kategori baik ini dimaksudkan bahwa dalam lingkungan pendidikan cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua berpengaruh terhadap perkembangan anak. Pada minat belajar yang termasuk kategori buruk 8 siswa (9,6%), kategori sedang 19 siswa (22,8%), kategori baik 36 siswa (43,3%), kategori sangat baik 20 siswa (24%)

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dinyatakan bahwa minat belajar adalah baik. Kategori disini dimaksudkan dalam proses pembelajaran perasaannya merasa senang, keterlibatan siswa saat mengikuti pelajaran, ketertarikan dalam mata pelajaran IPA, dan perhatian siswa terhadap guru. Dan korelasi X pada Y berhubungan nyata dan positif ditunjukan karena nilai signifikansi 0.02<0.05, maka berkorelasi dan nilai pearson korrelation 0.319>0.213 r tabel, sehingga berdasarkan nilai korelasi lebih besar dari r tabel maka terdapat hubungan pada variabel lingkungan pendidikan terhadap minat belajar IPA siswa, untuk mencari data tersebut peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa pemberian angket untuk dijawab oleh siswa atau responden.

Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Pratiwi. 2018: 347) yang berjudul Korelasi antar Lingkungan pendidikan dan Minat Belajar Siswa dengan Hasil Belajar IPA mengatakan bahwa lingkungan pendidikan dan minat belajar secara serempak berhubungan signifikan dengan hasil belajar mata pelajaran IPA [8]. Dan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Andriana. 2017) dengan judul Pengaruh Lingkungan Sekolah terhadap Minat Belajar Siswa Kelas XI MA Wasilatul Falah Rangkasbitung mengatakan bahwa terdapat pengaruh lingkungan sekolah terhadap minat belajar siswa. Hal tersebut terbukti dengan hasil pengujian pada paraf signifikan 5% (0,511>0,304) begitu juga pada taraf signifikansi 1% (0,511>0,393). Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh lingkungan sekolah terhadap minat belajar siswa di MA Wasilatul FalahFalah [9].

Hasil penelitian ini juga didukung oleh (Muhammadin. 2015) dengan judul Pengaruh Motivasi, lingkungan dan Disiplin terhadap Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran IPA yang menyatakan bahwa motifasi, lingkungan dan disiplin secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar IPA di SMPN 19 Banda Aceh. Dan didukung oleh (Ramadhani. 2017) dengan judul Pengaruh Interaksi Guru dengan Siswa dan Lingkungan pendidikan Terhadap Minat Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI, hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif lingkungan pendidikan terhadap minat belajar, dibuktikan dengan nilai b2=0,444, nilai t=2,213 dan sig 0,031<0,05 [10].

Penelitian ini telah diusahakan dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur ilmiah, namun demikian masih memiliki keterbatasan yaitu faktor – faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa dalam penelitian ini hanya terdiri dari satu variabel bebas, yaitu lingkungan pendidikan. Sedangkan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi minat belajar siswa. Kemudian PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di masa pandemi ini juga menjadi masalah bagi peneliti dalam menyelesaikan pengambil data sampel siswa. Sehingga pengerjaan penelitian memakan waktu yang agak lama dari biasany.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari penelitian di atas dapat diketahui seberapa besar pengaruh lingkungan pendidikan terhadap minat belajar siswa SMP AVISENA. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan program SPSS 25 dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi siswa tentang lingkungan pendidikan di SMP Avisena berada pada kategori baik 46,9%, dan hasil minat belajar IPA dalam kategori baik 43,3%. Lingkungan pendidikan berhubungan nyata dan positif ditunjukan karena nilai signifikansi 0.02<0.05, maka berkorelasi dan nilai pearson korrelation 0.319>0.213 r tabel sehingga berdasarkan nilai korelasi lebih besar dari r tabel maka ada pengaruh pada variabel lingkungan pendidikan terhadap minat belajar IPA siswa.

References

  1. Andriana. (2017). Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Minat Belajar Siswa Kelas XI MA Wasilatil Falah Rangkasbitung. Jakarta.
  2. Muhammadin. (2015). Pengaruh Motivasi, Lingkungan Dan Disiplin Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA. Banda Aceh: STKIP Bina Bangsa, 2015.
  3. Pratiwi. (2018). Korelasi antara Lingkungan Pendidikan dan Minta Belajar Siswa. Singaraja: Universitas Ganesha, 2018 Hlm 348.
  4. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, Hlm. 526, dari https://www.worldcat.org/title/kamus-besar-bahasa indonesia/oclc/232450350.
  5. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia, jakarta. Hlm. 413, dari https://www.worldcat.org/title/kamus-besar-bahasa-indonesia/oclc/232450350.
  6. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. (1989). Kamus Bahasa Indonesia, jakarta. op. cit, Hlm. 583 dari https://www.worldcat.org/title/kamus-besar-bahasa indonesia/oclc/232450350.
  7. Djamarah. (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. ISBN 978-979-518-852-0. dari Online public catalog.
  8. Indah Komsiyah. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta, Teras. hlm. 3.
  9. Kadir Abdul. (2012) Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2012, dari https://docplayer.info/36645813-Bab-i-pendahuluan-prenada-media-group-2012-hlm-abdul-kadir-dkk-dasar-dasar-pendidikan-jakarta-kencana.html.
  10. Kadir Abdul, dkk. (2012). Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2012, dari https://docplayer.info/36645813-Bab-i-pendahuluan-prenada-media-group-2012-hlm-abdul-kadir-dkk-dasar-dasar-pendidikan-jakarta-kencana.html.