Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Education
DOI: 10.21070/acopen.4.2021.2882

Ecoliteracy Profile of Grade 1 Elementary School Students


Profil Ekoliterasi Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Ekoliterasi Modifikasi Profil

Abstract

This study aims to reveal the ecoliteracy profile of the students of SD Negeri 2 Sedatigede. The research method used is a quantitative survey. The population used was all first grade students of SD Negeri 2 Sedati and the samples taken in this study were 92 students. The collection of samples using a sampling technique is a quota sampling technique. Data collection techniques using test techniques. The research instrument used in the form of a test about the ability of ecoliteracy. The test results were then analyzed using a formula and the ecoliteracy ability was described into 4 criteria, namely very positive, positive, negative, and very negative. Based on the results of the analysis, it was concluded that students at SD Negeri 2 Sedatigede had ecoliteracy skills at a very positive level with an average of 56% as many as 52 students, at a positive level with an average of 32% as many as 29 students, at a negative level with an average of 12% as many as 16 students, and the level is very negative with an average of 0% as many as 0 students from the total number of students in class I Keywords –Ecoliteracy, Modification, Profile

Pendahuluan

Pada saat ini pendidikan dalam kehidupan manusia itu sangat penting, karena pendidikan itu sangat bermanfaat bagi manusia. Pendidikan tidak hanya dituntut untuk menjadi yang terbaik dan berprestasi saja, melainkan harus memperhatikan nilai moral dan budaya, agar bias menjadi manusia yang bermartabat dan tidak kehilangan jati diri. Menurut UU No. 2003 tentang system pendidikan nasional bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara [1]. Pentingnya pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat pancasila dan pembukaan UUD 1945 dilatar belakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti; disorientasi dan belum dihayatii nilai-nilai pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa [2]. Pendidikan karakter sendiri merupakan target utama dalam Kurikulum-2013 dan pada Kurikulum-2013 khususnya yang berkaitan dengan Sekolah Dasar (SD) menerapkan pembelajaran tematik. Guru memberi kesempatan yang sama bagi setiap siswa untuk mengembangkan sebuah tema berdasarkan minat dan wawasan siswa. Sebab itu pengambilan tema haruslah dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa [3]. Pendidikan karakter untuk menjaga lingkungan hidup haruslah menyentuh hingga usia dini dan memberikan pengajaran langsung kepada siswa untuk membangun pola piker mereka agar menjaga lingkungan [4]. Pendidikan Pada pembelajaran Kurikulum-2013 ini menggunakan pembelajaran berbasis tematik yang di gadang-gadang merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Untuk menanamkan aspek karakter peduli lingkungan juga dapat dilakukan dengan cara memadukannya dengan kemampuan ekoliterasi siswa [5].

Ekoliterasi merupakan keadaan individu yang sadar akan pentingnya lingkungan hidup, dengan kesadarannya tersebut individu mampu menjaga dan merawat alam termasuk didalamnya ekosistem dan bumi [6]. Teori Ekoliterasi adalah memahami prinsip-prinsip organisasi yang telah dikembangkan ekosistem untuk menopang jaringan kehidupan [7]. Ekoliterasi memiliki arti kecerdasan ekologi, yaitu kecerdasan tentang ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup. Kecerdasan ekologi bersifat kompleks yang didukung oleh unsur kognitif, afektif (sosial dan emosi), dan psikomotorik. Dimana menurut Orr, Pengertian ekoliterasi merupakan sebuah keterampilan yang terdiri dari tiga aspek yaitu, pengetahuan (knowledge), kepedulian (concern) dan perilaku (attitude) [8]. Dengan adanya pernyataan tersebut keterampilan ekoliterasi dalam diri siswa sangatlah penting untuk dimiliki, UNESCO mengkaji bahwa keterampilan ekoliterasi merupakan suatu langkah utama yang harus di ambil untuk dapat mewujudkan keterlanjutan pembangunan namun tetap memperhatikan kesinambuangan dengan lingkungan [9]. Memiliki hasrat untuk menjaga lingkungan hidup yang di dasari oleh wawasan tentang pengetahuan tentang lingkungan. Aspek afektif didasari oleh kesadaran untuk menjaga kelestarian dan penyelamatan lingkungan. Dan tindakan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Maka kemampuan ekoliterasi sama dan juga memiliki keterkaitan dengan karakter peduli lingkungan karena didalamnya memiliki kesamaan tujuan yaitu untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup [10]. Ekoliterasi dalam pembelajarannya memiliki tujuan dan aspek pedagogis yang positif untuk diterapkan dalam proses pembelajaran pada semua bidang studi terutama pada bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) baik dari tingkat satuan pendidikan prasekolah sampai universitas. Peng integrasian ekoliterasi dalam pembelajaran IPA bermuara pada tercapainya mental siswa berwawasan lingkungan [11].

Kemampuan ekoliterasi tidak hanya harus dipahami oleh orang dewasa saja tetapi harus ditanamkan sejak dini. Sekolah Dasar merupakan salah satu lembaga formal yang memiliki peranan penting dalam pembentukan sikap anak perlunya dikembangkan kemampuan ekoliterasi agar siswa tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab yang benar-benar peduli tentang mempertahankan hidup, dan mengembangkan semangat menerapkan kemampuan mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan. Sehingga tidak ada kesenjangan antara manusia dan sistem ekologis alam [12] . Edukasi tentang kemampuan ekoliterasi siswa sangat penting maka siswa harus tau teori dan adanya pratek dan antara lain siswa untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolahnya. Ditunjukan bahwa sekolah dasar tersebut sudah menerapkan pembelajaran ekoliterasi, memiliki fasilitas-fasilitas sekolah antara lain tempat sampah, tempat cuci tangan yang bersih. Maka peneliti juga memiliki rasa ingin tau kemampuan ekoliterasi siswa di SD Negeri 2 Sedati Gede Sidoarjo dan perlu membuktikan kesadaran siswa untuk menjaga kebersihan dan merawat tumbuhan di lingkungan sekolah. Keadaan demikian telah menjadi metode penelitian penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ekoliterasi siswa.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis kuantitatif survei. Kuantitatif survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunaan tes soal sebagai alat pengumpulan data pokok [13]. Desain penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional survey design yaitu desain penelitian yang mengumpulkan data pada suatu waktu kepada sampel [14]. Pengambilan data yang dilaksanakan pada hari senin, 29 Maret 2021, yang dilakukan di SD Negeri Sedatigede 2, Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya [15]. Populasi yang digunakan seluruh siswa kelas I di SD Negeri Sedatigede 2. Sampelnya adalah siswa sebanyak 92 siswa. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut [16]. Pengumpulan sampel menggunakan tehnik sampling merupakan tehnik pengambilan sampel tehnik kuota. Dengan metode pengambilan data menggunakan tekhnik survei berupa tes. Kemampuan ekoliterasi siswa diukur dengan menggunakan instrument tes yang telah divalidasi sesuai dengan indikator ekoliterasi dimana diantaranya adalah ada indikator sangat positif, indikator positif, indikator negatif, dan indikator sangat negatif mengadopsi dari [17].

Analisis yang digunakan untuk melihat bagaimana keterampilan ekoliterasi siswa dengan menghitung skor rata-rata mahasiswa [17].

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎

N = X 100

𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝜒 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎

Hasil dan Pembahasan

Tes kemampuan ekoliterasi peserta didik yang telah diberikan kepada peserta didik dikelas I yang di mulai pengambilan data pada tanggal 29 maret 2021 menunjukkan bahwa peserta didik di SD Negeri 2 Sedatigede memiliki tingkat kemampuan ekoliterasi yang berbeda. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan kuantitatif deskriptif yaitu dengan tes soal. Untuk mengungkapkan hasil peserta didik dalam tingkat kemampuan ekoliterasi dapat melihat dari hasil pengerjaan tes soal yang diberikan, melalui hasil jawaban tes tersebut peneliti dapat mengetahui kemampuan ekoliterasi.

Tes yang terdiri dari 11 soal kemampuan ekoliterasi yang sudah di berikan kepada peserta didik memiliki hasil jawaban yang berbeda-beda karena setiap peserta didik memiliki pemikiran yang berbeda. Setelah melakukan penyebaran soal-soal tes kemampuan ekoliterasi lalu peneliti melakukan pengecekan hasil jawaban dari peserta didik agar dapat diketahui hasil jawaban dari masing-masing peserta didik. Banyaknya peserta didik ada beberapa yang masih mengalami taraf berpikir ekoliterasi tinggi, sedang dan sedikit rendah . Kemudian peneliti dapat mengungkapkan bahwa kemampuan ekoliterasi peserta didik melalui pengujian indikator-indikator yang diberikan kepada peserta didik berupa sebuah tes soal yang indikatornya sesuai dengan kemampuan berpikir ekoliterasi, rata-rata memiliki hasil yang baik dan beberapa masih ada yang memiliki hasil yang sedang dan bahkan ada yang kurang sedikit untuk mendapatkan sebuah jawaban sesuai dengan kemampuan ekoliterasi.

Berdasarkan dari hasil pemberian soal tes yang telah diisi oleh siswa yang digunakan untuk mengukur kemampuan ekoliterasi siswa sebagai berikut :

No. Kelas Kategori Indikator
Sangat Positif Positif Negatif Sangat Negatif
Rata-rata Kelas I 56 % 32 % 12 % 0 %
Jumlah Siswa 52 Siswa 29 Siswa 16 Siswa 0 Siswa
Table 1.

Indikator kategori sangat positif berdasarkan rata-rata perhitungan hasil yang diperoleh dikelas I diperoleh indikator berada pada tingkat sangat positif yaitu dengan nilai presentase 56% yang berjumlah 52 siswa untuk indikator ini siswa mengetahui tentang permasalahan kerusakan lingkungan akibat sampah kemudian melakukan observasi pada lingkungan sekolahnya dan mengamati lingkungan kotor yang diakibatkan oleh sampah secara baik [17]. Siswa mampu memberikan gagasan guna diterapkan pada permasalahan lingkungan sekolah akibat sampah secara baik. Kemampuan untuk menindak lanjuti terhadap masalah lingkungan tersebut siswa mampu memberikan tindakan pada masalah di lingkungan sekolah yang diakibatkan oleh sampah secara baik. Memiliki kualitas dalam menyikapi permasalahan lingkungan serta sikap personal yang baik dan mampu menyikapi permasalahan lingkungan sekolah akibat sampah serta memiliki sikap kepedulian terhadap lingkungan secara baik.

Indikator kategori positif sedangkan pada perhitungan indikator positif peserta didik memperoleh hasil kemampuan ekoliterasi yang diperoleh dikelas I berada pada tingkat positif yaitu dengan nilai presentase 32% yang berjumlah 29 siswa, untuk penjabaran indikator ini Siswa mengetahui tentang permasalahan kerusakan lingkungan akibat sampah kemudian melakukan observasi pada lingkungan sekolahnya dan mengamati lingkungan kotor yang diakibatkan oleh sampah secara cukup. Siswa mampu memberikan gagasan guna diterapkan pada permasalahan lingkungan sekolah akibat sampah secara cukup. Kemampuan untuk menindak lanjuti terhadap masalah lingkungan tersebut siswa mampu memberikan tindakan pada masalah di lingkungan sekolah yang diakibatkan oleh sampah secara cukup. Memiliki kualitas dalam menyikapi permasalahan lingkungan serta sikap personal yang cukup dan mampu menyikapi permasalahan lingkungan sekolah akibat sampah serta memiliki sikap kepedulian terhadap lingkungan secara cukup.

Indikator kategori negatif pada perhitungan indikator berada pada tingkat negatif dengan hasil rata-rata nilai presentase yaitu 12% yang berjumlah 16 siswa, untuk penjabaran indikatoi ini Siswa mengetahui tentang permasalahan kerusakan lingkungan akibat sampah kemudian melakukan observasi pada lingkungan sekolahnya dan mengamati lingkungan kotor yang diakibatkan oleh sampah secara kurang. Siswa mampu memberikan gagasan guna diterapkan pada permasalahan lingkungan sekolah akibat sampah secara kurang. Kemampuan untuk menindak lanjuti terhadap masalah lingkungan tersebut siswa mampu memberikan tindakan pada masalah di lingkungan sekolah yang diakibatkan oleh sampah secara kurang. Memiliki kualitas dalam menyikapi permasalahan lingkungan serta sikap personal yang kurang dan mampu menyikapi permasalahan lingkungan sekolah akibat sampah serta memiliki sikap kepedulian terhadap lingkungan secara kurang.

Indikator kategori sanagat negatif peserta didik mengalami hasil nilai rata-rata yaitu 0% yang berjumlah 0 siswa, berdasarkan hasil soal tes seluruh peserta didik masih mampu untuk mengerjakan soal tes kemampuan ekoliterasi yang diberikan oleh peneliti jikapun ada siswa yang mendapatkan hasil sangat negatif maka siswa tersebut sangat kurang sekali dalam kemampuan ekoliterasi.

Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa siswa yang mendapatkan kategori sangat positif meraih nilai tes lebih dari 60 dan dapat mencapai nilai baik dari indikator yang telah ditentukan. Kemudian siswa mendapatkan kategori positif meraih nilai tes lebih 50 kurang dari 60 dan dapat mencapai nilai cukup dari indikator yang telah ditentukan. Lalu siswa mendapatkan kategori negatif meraih nilai tes lebih 40 kurang dari 50 dan dapat mencapai nilai kurang dari indikator yang telah ditentukan. Penyikapan permasalahan lingkungan yang dikaitkan dengan etika dikarenakan dalam pembelajaran mahasiswa ditransfer ilmu dalam pemanfaatan tekhnologi dalam setiap pembelajaran, dimana [18]. Dalam era moderen seperti sekarang ini manusia diberikan kebebasan untuk memanfaatkan tekhnologi dalam pengelolaahan sumberdaya alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup [19]. Mengatakan peranan pengajar (guru) sangatlah penting dalam menentukan arah pembelajaran, guru sebagai perancang, pembangun potensi peserta didik, pembelajar, penggagas pembelajaran, pemelihara, dan peraih titik puncak pembelajaran [20].

Kesimpulan

Dalam penelitian ini keterlaksanaan bahwa kemampuan keterampilan ekoliterasi siswa dengan rata rata paling banyak memiliki kemampuan ekoliterasi berada pada indikator paling tinggi yaitu sangat positif menyikapi dengan baik soal permasalahan kerusakan lingkungan sekolah akibat sampah, kemampuan menindak lanjuti terhadap masalah lingkungan sekolah tersebut serta memiliki sikap kepedulian terhadap lingkungan secara baik, sehingga adanya profil ekoliterasi yang demikian kondisi kemampuan siswa dapat diketahui.

References

  1. Puguh, Bachtiar. Penerapan Permainan Ballnastic Terhadap hasil Belajar Dribbling dalam Permainan Sepak Bola. Universitas Negeri Surabaya. 2019
  2. Daryanto, Suryati. Implementasi Pendidika Karakter di Sekolah. Yogyakarta : Gava Media. 2013
  3. Suyadi. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2013
  4. UUSPN No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Undang – Undang Pendidikan Nasional (2010b)
  5. Saptono. Dimensi – dimensi Pendidikan Karakter Wawasan Strategi dan Langkah Praktis. Jakarta : Erlangga. 2011
  6. Yanti, F. Ekoliterasi Dalam Konsep IPA. Purwokerto: CV IRDH. 2019
  7. Capra, Fritjof. “Ecoliteracy : The Challenge for Education in the next Century”. Liverpool Scumacher. 1999
  8. Orr, D. W. Ecological literacy. In Ecological literacy: education and transition to a postmodern world (online book) (pp. 85-93). New York: SUNY Press, Albany,. 1992
  9. McBride, B. B., Brewer, C. A., Berkowitz, A. R., & Borrie, W. T. Environmental literacy, ecological literacy, ecoliteracy: What do we mean and how did we get here?. Ecosphere, 4(5), 1-20. 2013
  10. Supriyatna. Ecopedagogy Membangun Kecerdasan Ekologi Dalam Pembelajaran IPS. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2016
  11. Syukron, A. Ekoliterasi: desain pembelajaran bahasa indonesia berwawasan lingkungan. FKIP e-Proceeding, 61-70. 2019
  12. Ria, Kurniasari. Peningkatan Ekoliterasi Siswa Terhadap Sampah Organik dan Anorganik Melalui Group Investigation Pada Pembelajaran IPS. 2018
  13. Maksum, Ali. Metodologi Penelitian Surabaya. Universitas Negeri Surabaya. 2018
  14. Eka, Rahmawati. Kecenderungan Integritas Akademik Siswa Sekolah Menengah Atas. Universitas Pendidikan Indonesia. 2016
  15. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta. 2018
  16. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta. 2018
  17. Annisa, Nur. Efektifitas Model Ejas Berbasis Pembelajaran Tematik Terhadap Kemampuan Ekoliterasi Siswa Kelas 1 SDN Singopadu. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 2019
  18. Mukhadis, A. Sosok manusia indonesia unggul dan berkarakter dalam bidang teknologi sebagai tuntutan hidup di era globalisasi. Jurnal Pendidikan Karakter, 2(2).A. 2013
  19. Keraf, A. S. Etika lingkungan hidup. Penerbit Buku Kompas.A. 2010
  20. Suyono & Hariyanto. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Remaja Rosdakarya.Bandung. 2014