<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Nilai-Nilai Moral dalam Film The Lion King dan Relevansinya untuk Penguatan Pendidikan Karakter Siswa Sekolah Dasar</article-title>
        <subtitle>Moral Values ​​in the Film The Lion King and Its Relevance for Strengthening Character Education of Elementary School Students</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-d8d068e798ee15212017369f656eae10" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Oktafiani Alda Intansari</surname>
            <given-names>Ratih</given-names>
          </name>
          <email>Ratih.oktafiani29@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-27c5f0e9928d2e2359850b2d7fd6fb7d" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <given-names>Supriyadi</given-names>
          </name>
          <email>supriyadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-08-27">
          <day>27</day>
          <month>08</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-0f5b7c125d813942d6b942ac6d608b1e">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-32">Nilai moral merupakan nilai yang melakat pada diri manusia yang berkaitan dengan watak, perilaku atau pun sifat dan dianggap penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hamid [1] menjelaskan bahwa moral merupakan segala aturan (rule), yang berkaitan dengan sikap (attitude) serta perilaku manusia (human behavior) sebagai manusia. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa fungsi moral adalah untuk mengendalikan manusia agar bisa melakukan segala sesuatu dengan baik sesuai dengan norma yang berlaku.</p>
      <p id="_paragraph-33">Seiring kemajuan zaman, nilai moral mulai terkikis dan dianggap kuno, padahal nilai moral sudah menjadi adat istiadat dimasyarakat sejak dahulu. Terjadinya perkembangan zaman saat ini diikuti dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat pesat atau biasanya disebut dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), menjadikan manusia lebih mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dan juga menjadikan pemikiran manusia semakin maju dalam berbagai hal. Selain itu dengan adanya perkembangan tersebut dapat membuat masuknya budaya luar dengan mundah hingga memunculkan adanya penyimpangan sosial atau tindakan yang tidak baik seperti pergaulan bebas, malas belajar, perkelahian antar teman, dan lain sebagainya. Seperti beberapa tahun belakangan ini terjadi perkelahian pada kamis 07 Juli 2020 di Bekasi yang menyebabkan satu pelajar meninggal, CNN Indonesia [2]. Hal tersebut menunjukkan bahwa pentingnya penanaman nilai-nilai moral pada generasi muda pada pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-34">Permasalahan moral pada pelajar akan berdampak negatif pada generasi muda penerus bangsa Ruslan &amp; Elly, dkk [3]. Salah satu tujuan pendidikan yaitu membentuk waatak dan sikap pada anak dengan nilai moral yang ada dimasyarakat[8]. Wuryandani dan Faturrohman, dkk[4] mengatakan pelaksanaan pendidikan tidaklah cukup mengembangkan kemampuan akademik saja, akan tetapi pentingnya penanaman nilai moral pada siswa. artinya pendidikan tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, akan tetapi juga menanamkan sikap positif, penanaman nilai sikap positif dalam dilakukan dengan penanaman nilai pada siswa. Oleh sebab itu, salah satu sarana dimassa zaman saat ini yang cocok digunakan untuk Penanaman dan penguatan nilai-nilai moral dapat dilakukan guru dan orang tua dengan media berupa film. Film memiliki fungsi menghibur dan juga memiliki fungsi lainnya, seperti fungsi informasi dan juga fungsi pendidikan yang bisa mempengaruhi perkembangan moral anak, Sri Wahyuni [5].</p>
      <p id="_paragraph-35">Berdasarkan uraian permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang nilai moral yang terkandung pada film “the lion king”, dengan mengangkat judul “Nilai-nilai moral pada film <italic id="_italic-34">the lion king</italic> dan relevansinya untuk penguatan karakter siswa sekolah dasar”. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif naratif yang memiliki keunggulan dalam menemukan adanya nilai moral pada film the lion king. Penelitian ini ditujukan untuk guru dan orang tua dalam memberikan penguatan kepada siswa kelas rendah dalam pembentukan karakter. Kekurangan penelitian ini yaitu analisis data nilai moral yang ada pada film hanya ditujukan untuk penguatan karakter siswa tanpa mengaitkan pada buku tema yang ada pada berbagai mata pelajaran. Sehingga penelitian ini masih bisa untuk dikembangkan lagi.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-be3cf881c8417d2c2b34338faa3c1cd3">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-36">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi naratif. Ada beberapa pertimbangan diantaranya penelitian ini bersifat menggambarkan, menguraikan suatu fakta dengan gambar disertai penjelasan berupa kalimat. Penyajian data penelitian ini dalam bentuk gambar yang memasukan pembahasan naratif menggunakan kutipan dialog percakapan yang ada dalam film <italic id="_italic-35">the lion king live action</italic> 2019. Penelitian kualitatif naratif merupakan suatu bentuk khas dari penelitian kualitatif, biasanya berfokus pada studi satu orang atau individu tunggal dan bagaimana individu itu memberikan makna terhadap pengalamannya melalui cerita-cerita yang disampaikan [6] . Data yang diperoleh pada penelitian ini bersumber pada film <italic id="_italic-36">The Lion King Live Action</italic> 2019, dengan mengambil data berupa gambar serta dialog antar tokoh. Teknik pegumpulan data menggunakan metode dokumentasi yang dilakukan dengan cara menyimak, mendengar dan mencatat hal-hal penting yang ada pada film sesuai dengan fokus penelitian. Teknik analasis data menggunakan konsep Miles, Huberman, dan Saldana [7] dengan cara kondensasi data yaitu mencatat dan mengkasifikasikan data pada teori, kemudian penyajian data, dan menarik kesimpulan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-54f613ad1d9fa072311797ca7e7364c9">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-de3a7eae7ccd1602d30e1807a6d41a46">
        <title>Nilai-Nilai Moral dalam Film <italic id="italic-1">The Lion King Live Action</italic> 2019</title>
        <p id="_paragraph-37">Penyajian data hasil penelitian pada sub bahasan yang berkaitan dengan nilai-nilai moral pada film <italic id="_italic-37">the lion king live action</italic>, yang disajikan dengan menggunakan teori menurut Thomas Lickona[9] yaitu mengetahui kebaikan (<italic id="_italic-38">knowing the good</italic>), mencintai kebaikan (<italic id="_italic-39">desiring the good</italic>), dan melakukan kebaikan (<italic id="_italic-40">doing the good</italic>). Berdasarkan temuan peneliti, terdapat 11 nilai-nilai moral dalam film the lion king sebagai berikut.</p>
        <p id="paragraph-e2e7e61aa863dd800b0e55fc22142c56">Moral Mengetahui Kebaikan</p>
        <list list-type="bullet" id="list-1da131530ac7b75df43c80b6b2e1473a">
          <list-item>
            <p>Mendengarkan nasihat orang tua dengan baik</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-38">Nasihat adalah suatu pelajaran, peringatan, anjuran atau teguran supaya dapat melakukan kebaikan. Dalam data film the lion king terdapat adanya perilaku Mufasa (ayah simba) yang sedang memberikan nasihat kepada Simba (anaknya). Perilaku moral yang dilakukan Mufasa kepada anaknya Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian pada film <italic id="_italic-41">the lion king </italic>dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat nilai moral “Mengetahui Kebaikan” yang diajarkan oleh Mufasa kepada Simba. Nilai moral tersebut dapat dicontohkan oleh orang tua kepada anak, bahwa mendengarkan semua nasihat yang diberikan orang tua adalah bentuk sikap mengetahui kebaikan yang menunjukan ketaatan atas nasihat orang tua. Sehingga seseorang yang dinasehati tidak melenceng dari adanya aturan yang diberikan. Apa yang dikatakan orang tua akan bermanfaat untuk anak-anaknya. Pada film tersebut Mufasa berperan sebagai seorang ayah yang memperdulikan anaknya yang lebih paham mengenai kehidupan.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-77d7b068a4175edd51469598089aee80">
          <list-item>
            <p>Mengajarkan kerja keras untuk meraih sesuatu yang diinginkan</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-39">Kerja keras adalah usaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan kesuksesan yang terhadap apa yang dikerjakan, kurniawan. Pada film <italic id="_italic-42">the lion king</italic> terdapat adegan perilaku Mufasa sebagai seorang ayah yang sedang melatih anaknya untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan agar mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Perilaku yang dilakukan Mufasa kepada anaknya Simba tersebut menunjukan kesesuaian dengan teori Thomas Lickona dimana terdapat adanya nilai moral “Mengetahui Kebaikan” yang diajarkan oleh Mufasa kepada Simba. Hal tersebut dibuktikan dengan prilaku Simba untuk mealukan dan menirukan apa yang dilatih oleh ayahnya kepada dirinya ketika menerkam mangsa. Perilaku atau usaha yang telah dilakukan Simba selama berlatih, menunjukan sikap kerja keras. Nilai moral tersebut dapat dijadikan contoh dan diajarkan pada anak, bahwa kerja keras menjadi bukti nyata seseorang supaya bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan tekad dan usahannya sendiri.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-911d44aa19dd93f16b50799f0088aee1">
          <list-item>
            <p>Mencari tahu jawaban dari sebuah pertanyaan.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-40">Mencari tahu adalah suatu usaha seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal itu terlihat ketika Simba ingin mencari tahu apa yang membuat dia penasaran akan sesuatu tempat, yang akhirnya Simba dan temannya (Nala) menemukan tempat tersebut. Perilaku yang dilakukan Simba dan Nala (teman Simba) tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Mengetahui Kebaikan” yang dilakukan oleh Simba dan Nala. Sikap ingin tahu tersebut sangat baik untuk dilakukan, sehingga orang tua perlu mendampingi, memancing, dan memperkuat sikap ingin tahu yang dimiliki pada anak dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan keingin tahuan tersebut anak akan terbiasa berusaha mencari jawaban dari pertanyaan mereka sendiri dengan baik.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-dbb3de7746adefed821173f77e1ac5b2">
          <list-item>
            <p>Memberikan Kesempatan untuk Memperbaiki diri dari Kesalahan.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-41">Memperbaiki diri adalah salah satu sikap untuk merubah apa yang pernah dilakukannya sebelumnya untuk menjadi lebih baik. Terlihat bahwa Mufasa yang menjadi seorang ayah memaafkan Simba atas kesalahan yang dilakukan, dan tetap menjalin hubungan keluarga yang baik antara orang tua dan anak. Perilaku yang dilakukan Mufasa kepada anaknya Simba tersebut menunjukan kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Mengetahui Kebaikan” yang dilakukan oleh Mufasa kepada Simba supaya saling memaafkan. Sikap memaafkan adalah perilaku terpuji yang patut dilakukan. Orang tua perlu mengajarkan hal tersebut kepada anaknya, supaya bisa saling memaafkan antar sesama. dan memberikan kesempatan bagi mereka yang pernah melakukan kesalahan agar tidak mengulangi dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>
        <p id="paragraph-18d4934ae7912ea91fadd2c3ab51feac">Melakukan Kebaikan</p>
        <list list-type="bullet" id="list-4e0a8443b7562db0879473347aabb464">
          <list-item>
            <p>Berusaha Melakukan Segala Sesuatu Sendiri</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-42">Mandiri adalah salah satu sikap melakukan segala sesuatu sendiri yang tidak bergantung pada orang. Pada uraian yang telah diuraikan peneliti di atas, terdapat adegan Simba telah meninggalkan tempat tinggalnya dan melakukan kehidupan baru dalam kesehariannya dengan sendiri, hingga dia menjadi dewasa. Perilaku moral yang dilakukan Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Melakukan Kebaikan”. Sikap kemandirian tersebut bisa dicontohkan oleh orang tua kepada anak dalam kehidupan sehari-hari seperti memakai baju sendiri, makan sendiri, menyiapkan buku sekolah sendiri, dll. Dengan demikian film the lion king dapat membantu mempermudah dalam memperkuat sikap kemandirian anak.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-1993de023e9db2686a09388b46f57fb9">
          <list-item>
            <p>Setia kawan dan Saling Tolong Menolong.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-43">Tolong menolong adalah sikap peduli antar sesama tanpa meminta atau memberikan imbalan. Perilaku tersebut terlihat pada adegan ketika Simba melakukan perjalan pulang ke halaman rumahnya, Pumbaa dan Timon mengikuti perjalanan Simba dan Nala. Sikap yag ditunjukan Pumba dan Timon melihatkan kepedulian sosial terhadap teman atau orang lain. Nilai moral yang dilakukan Pumba dan Timon untuk Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai “Melakukan Kebaikan” yang telah dilakukan teman-teman Simba. Perilaku tersebut patut diajarkan kepada anak dikehidupan sehari-harinya, contohnya seperti membiasakan membantu melakukan pekerjaan rumah. Dengan demikian film the lion king mengandung nilai moral peduli terhadap sosial. Karena munculnya rasa ingin memberikan bantuan pada orang lain.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-30fcab1105aa62070bb5952b8e9a6e3a">
          <list-item>
            <p>Menghargai pendapat orang lain dengan baik.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-44">Menghargai adalah sikap memberikan kesempatan atas kehendak orang lain. Pada uraian data yang telah diuraiakan, terlihat pada adegan dimana Simba memberikan pendapat dan juga arahan kepada teman-temannya untuk menyusun rencana yang akan dilakukan ketika mengalahkan musuhnya. Teman-teman Simba pun terlihat menghargai semua pendapat yang diberikan Simba dan menjalankan tugas atas pendapat Simba. Perilaku moral yang dilakukan Timon, Pumba, dan Nala tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Melakukan Kebaikan” yang telah dilakukan tokoh Timon, Pumba dan Nala. Nilai moral tersebut sangat baik dijadikan contoh pada anak, supaya anak melakukan perilaku terebut ketika berada dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama. Contoh kecil, orang tua bisa membiasakan anak untuk bebas berpendapat ketika sedang berdiskusi bersama. Dengan demikian film the lion king mengandung nilai moral menghargai yang bisa dicontoh oleh kalangan anak-anak.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-30a8a6b31ba2a1b8b0587e0516f5569d">
          <list-item>
            <p>Memiliki Keberanian yang Tinggi.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-45">Keberanian adalah sikap yang menunjukan bahwa seseorang melakukan segala sesuatu tanpa adanya kerisauan yang buruk terjadi. Pada adegan ketika Simba memiliki keberanian muncul dihadapan lawannya Scar (Pamannya yang jahat) dan para penjaga untuk mengungkap kenyataan yang sebenarnya. Simba terlihat tidak takut dan siap melawan semua musuh. Perilaku moral yang dilakukan Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Melakukan Kebaikan”, karena Simba berani menunjukan dirinya kembali dihadapan semua kaum Singa. Hal tersebut pantas untuk diajarkan kepada anak ketika ingin melakukan suatu kegiatan, supaya anak percaya diri serta tidak takut dalam melakukannya. Contoh kecil yang dapat dilakukan pada kehidupan sehari-hari untuk menguatkan perilaku tersebut pada anak yaitu berani menegur orang ketika berbuat salah. Dengan demikian film the lion king mengandung nilai moral keberanian yang paut dicontoh oleh anak.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-4b0aa3ad6a217ec90e978acb7d048172">
          <list-item>
            <p>Mengungkap kebenaran dengan berkata jujur.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-46">Jujur adalahh sikap mengungkapkan suatu hal yang sebenarnya terjadi. Pada uraian yang telah diuraikan diatas, terlihat bahwa Simba bertarung untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya. Dan Scar justru mengatakan apa yang telah dilakukan Simba terhadap Mufasa diwaktu dulu. Namun akhirnya Simba berkata jujur untuk mengungkapkan kebenarannya kepada kaum singa. Perilaku moral yang dilakukan Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Melakukan Kebaikan” karena adanya perilaku ingin mengungkap keberanan yang telah terjadi. Perilaku yang dilakukan Simba tersebut pantas untuk diajarkan kepada anak, karena kejujuran adalah kunci utama dalam kehidupan. Peilaku tersebut dapat dicontohkan oleh orang tua dengan cara menegur anak ketika salah dan menanyakan mengapa kesalahan tersebut bisa terjadi. Sehingga anak akan terbiasa berkata jujur ketika berbuat salah. Dengan demikian film the lion king mengandung nilai moral jujur yang patur dicontoh oleh anak.</p>
        <p id="paragraph-33375dfc7359f3d7145c67523e57b296">Mencintai Kebaikan</p>
        <list list-type="bullet" id="list-c25cfbd7bb9c9a8879bbad2b908b5994">
          <list-item>
            <p>Mencintai Tempat Tinggal Asalnya</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-47">Cinta tanah air adalah sikap kepedulian dengan menunjukan kesetiannya terhadap tempat atau wilayah bertempat tinggal. Pada uraian yang telah diuraikan di atas terlihat Simba mengejar mengikuti Nala untuk kembali pada tempat tinggal asalnya. Akhirnya mereka melakukan perjalanan pulang bersama. Perilaku moral yang dilakukan Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Mencintai Kebaikan” yang dilakukan Simba ketika ingin kembali etempat tinggal asalnya. Perilaku Simba menunjukan bahwa adanya kepedulian dan rasa cinta terhadap tempat tinggal asalnya. Sikap cinta tanah air tersebut dapat di biasakan oleh orang tua kepada anak seperti belajar dengan sungguh-sungguh dan menjaga lingkungan sekitar. Dengan demikian film the lion king mengandung nilai moral cinta tanah air yang patut dicontoh oleh anak.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-e3682e6a02194cf928b362c4ed43df49">
          <list-item>
            <p>Berjuang untuk Rakyatnya.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-48">Berjuang adalah sikap rela berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Terlihat pada perilku Simba setalah melakukan perjalanan jauh, Simba sampai ditempat tujuan dan melihat keadaan tempat tinggalnya yang rusak dan banyak binatang yang mati. Dan akhirnya simba ingin memperjuangkan kembali wilayah tempat tinggalnya tersebut pada keadaan seperti semula. Perilaku moral yang dilakukan Simba tersebut menunjukan adanya kesesuaian dengan teori Thomas Lickona, dimana terdapat adanya nilai moral “Mencintai Kebaikan” yang dilakukan Simba ketika ingin memperjuangan kembali tinggal asalnya. Perilaku tersebut dapat dicontohkan oleh orang tua kepada anak seperti belajar dengan giat untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Dengan demikian film the lion king mengandung nilai moral nasionalis yang patut dicontoh oleh semua kalangan termasuk anak-anak.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-c10b320598a157631b4ebd2926b51f43">
        <title>Relevansi Nilai Moral dalam Film <italic id="italic-d2711748413ab44e97cb87a675676f84">The Lion King </italic>dengan Penguatan Karakter</title>
        <list list-type="bullet" id="list-86b686cde9e3602ebc56b6adade7a9e3">
          <list-item>
            <p>Mendengarkan nasihat orang tua dengan baik</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-49">Mendengarkan nasihat orang tua dengan baik yang dilakukan Mufasa dan Simba pada film the lion king merupakan bentuk pesan yang dapat disampaikan pada anak dan akan mempertanggung jawabkan atas nasihat yang diberikan, seperti dialog Simba dan Mufasa sebagai berikut.</p>
        <p id="_paragraph-50">
          <italic id="_italic-43">Mufasa: “Lihat simba! Semua yang diterangi cahaya adalah kerajaan kita.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-51">
          <italic id="_italic-44">Simba: “Ayah menguasai semua itu?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-52">
          <italic id="_italic-45">Mufasa: “Ya. Tapi kekuasaan raja, terbit dan tenggelam seperti matahari. Kelak, simba.. matahari ayah akan terbenam.. dan kau jadi raja saat terbit nanti.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-53">
          <italic id="_italic-46">Simba: “Semua ini akan menjadi milik ku?” (sedang mendengarkan dan bertanya atas hak dan tanggung jawabnya suatu saat nanti)</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-54">
          <italic id="_italic-47">Mufasa: “Bukan milik siapa-siapa, tapi kau harus melindunginya. Tanggung jawab besar.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-55">
          <italic id="_italic-48">Simba: “Semua yang diterangi cahaya? Pohon-phon itu? Dan lubang air? Dan gunung? Dan diluar sisi gelap itu?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-56">
          <italic id="_italic-49">Mufasa: “Jangan kesana simba!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-57">
          <italic id="_italic-50">Simba: “Ku kira raja bisa bertindak sesukanya. Mengambil alih wilayah manapun.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-58">
          <italic id="_italic-51">Mufasa: “Raja lain mencari yang bisa mereka ambil, tapi raja sejati mencari apa yang bisa diberinya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-59">Perilaku mendengarkan nasihat yang dilakukan tokoh Mufasa dan Simba pada dialog tersebut memiliki relevansi dengan penguatan prndidikan karakter integritas [13], karena mengandung nilai karakter tanggung jawab atas nasihat yang sudah diberikan orang tua untuk harus dijalankan oleh seorang anak dikemudian hari.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-7f2fb85b51dd2ee8cb41e87fdd0b4fca">
          <list-item>
            <p>Mengajarkan Kerja Keras untuk Meraih Sesuatu yang Diinginkan</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-60">Mengajarkan kerja keras pada anak untuk mencapai keinginannya seperti yang dilakukan Mufasa sebagai seorang ayah, yang akhirnya Simba bisa menjadi sosok pekerja keras merupakan bentuk sikap yang baik dalam melatih anak untuk bisa merasakan bersusah payah terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan keinginannya, sebagaimana dialog berikut.</p>
        <p id="_paragraph-61">
          <italic id="_italic-52">Mufasa: “Menyelip ditanah.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-62">
          <italic id="_italic-53">Simba: “Aku bisa”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-63">
          <italic id="_italic-54">Mufasa: “Priksa arah mata angin, bayangan, dan tunggu saat yang tepat untuk menerkam.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-64">
          <italic id="_italic-55">Simba: Arghhhh..(menerkam)</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-65">
          <italic id="_italic-56">Mufasa: “Bagus sekali!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-66">Dialog tersebut memberikan pesan supaya anak tidak bermalas-malasan, dan tidak mengandalkan orang tuanya secara terus menerus dalam menjalankan kehidupan kesehariannya. Sehingga menumbuhkan kemandirian anak dalam berlatih dan mecapai keinginannya. Dengan demikian, bentuk perilaku mengajarkan kerja keras untuk meraih sesuatu yang diinginkan tersebut memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter mandiri [13]. Terintegrasinya dengan penguatan karakter tersebut, karena mengandung adanya nilai karakter etos kerja atau kerja keras. Sunarty Kustiah menjelaskan bahwa kemandirian anak diartikan sebagai suatu keadaan yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya ketergantuangan bantuan dari orang lain. Anak yang mandiri adalah anak yang telah mampu menagambil dan melakukan segala sesuatu dengan keputusannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari [11].</p>
        <list list-type="bullet" id="list-1045021c24851cc0764e0e9baeb0e094">
          <list-item>
            <p>Mencari Tahu Jawaban dari Sebuah Pertanyaan</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-67">Mencari tau jawaban dari sebuah pertanyaan seperti yang Simba dan Nala lakukan merupakan bentuk sikap yang baik dalam mengasah fikiran anak. Anak akan berusaha mencari tahu jawaban yang tepat sesuai kemampuannya. Selain itu, anak juga akan belajar dari sebuah pengalamannya yang tadinya anak belum mengetahui sesuatu hal akhirnya mendapatkan pengetahuan baru, sebagaimana dialog yang ditunjukan oleh Simba sebagai berikut.</p>
        <p id="_paragraph-68">
          <italic id="_italic-57">Nala: “Sebenarnya kita mau kemana?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-69">
          <italic id="_italic-58">Simba: “Bagaimana kau tahu?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-70">
          <italic id="_italic-59">Nala: “Kau benci air.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-71">
          <italic id="_italic-60">Simba: “Aku dengar kabar soal tempat ini Nala. Tempat luar biasa dan..”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-72">
          <italic id="_italic-61">Nala: “Katakan tempatnya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-73">
          <italic id="_italic-62">Simba: “Kuburan gajah”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-74">
          <italic id="_italic-63">Nala: “Seberapa jauh?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-75">
          <italic id="_italic-64">Simba: “Tidak jauh disisi gelap.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-76">Bentuk perilaku mencari tau jawaban dari sebuah pertanyaan memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter mandiri [13]. Terintegrasinya pada penguatan karakter tersebut karena mengandung adanya nilai karakter mandiri disaat anak mampu mencari jawaban secara sendiri. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Muhammad Fadilah dan Lilif Mualifatu Khorida [12] yang menjelaskan bahwa rasa ingin tahu memiliki manfaat bagi anak baik secara bilogis dan psikologis. Secara biologis manusia memiliki kondisi tubuh yang dapat berkembang dengan baik, dan psikologis pada otak manusia dilatih secara terus menerus hingga memilikin ketajaman pada pola pemikirannya.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-e87f5de7f6e5a5508b1f0eb0c3a8af2d">
          <list-item>
            <p>Memberikan Kesempatan untuk Memperbaiki Diri dari Kesalahan</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-77">Memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahan merupakan bentuk sikap yang perlu diajarkan pada anak supaya bisa saling memaafkan antar sesama ketika berbuat salah. Selain itu juga akan menghindarkan anak dari sikap egois yang tidak ingin hidup rukun dengan sesama, sebagaimana yang ditunjukan pada dialog berikut.</p>
        <p id="_paragraph-78">
          <italic id="_italic-65">Mufasa: “kau tak mematuhi ayah.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-79">
          <italic id="_italic-66">Simba: “Aku tahu.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-80">
          <italic id="_italic-67">Mufasa: “Kau bisa mati. Yang terburuk, kau bahayakan Nala. Kau mengerti bahayanya? Kau membahayakan masa depan kaum singa.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-81">
          <italic id="_italic-68">Simba: “Aku hanya ingin tunjukkan bahwa aku bisa. Aku berani seperti ayah.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-82">
          <italic id="_italic-69">Mufasa:”Aku berani saat diperlukan, saat tak ada pilihan lain.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-83">
          <italic id="_italic-70">Simba: “Tapi ayah tak takut.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-84">
          <italic id="_italic-71">Mufasa: “Ayah takut tadi.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-85">
          <italic id="_italic-72">Simba: “Sungguh?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-86">
          <italic id="_italic-73">Mufasa: “Ya. Ayah kira akan kehilanganmu.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-87">
          <italic id="_italic-74">Simba: “Para raja juga bisa takut, ya?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-88">
          <italic id="_italic-75">Mufasa: “Lebih dari yang kau tahu.:</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-89">
          <italic id="_italic-76">Simba: “Coba tebak.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-90">
          <italic id="_italic-77">Mufasa: “Apa?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-91">
          <italic id="_italic-78">Simba: “Hiena itu pasti lebih takut.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-92">
          <italic id="_italic-79">Mufasa:”Karena tak ada yang macam-macam dengan ayahmu. Kemarilah.(Ayah memaafkan simba dan memeluk)”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-93">
          <italic id="_italic-80">Simba: “Ayah.. (Simba memeluk ayahnya dan bermain)”.</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-94">Bentuk perilaku pada dialog diatas menunjukan bahwa memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahan memiliki relevansi dengan penguatan pendidikans karakter religius. Terintegrasinya penguatan karakter tersebut karena mengandung adanya nilai karakter cinta damai ketika memaafkan kesalahan orang lain dan kembali hidup rukun. Hal ini diperkuat dengan peraturan kemendikbud 2016 yang menyatakan bahwa nilai religius adalah sikap pauh terhadap segala ajaran agama yang dianut, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah semua agama, serta hidup rukun dengan semua pemeluk agama [13].</p>
        <list list-type="bullet" id="list-1b8a37ad34a3a24a7f3eecc4783dfb79">
          <list-item>
            <p>Berusaha Melakukan Segala Sesuatu dengan Sendiri</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-95">Berusaha melakukan segala sesuatu dengan sendiri seperti yang dilakukan Simba ketika meninggalkan tempat tinggal asalnya merupakan bentuk sikap yang baik dalam melatih kemampuan dan mental anak. Dengan perilaku tersebut anak akan terbiasa ketika melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-harinya dengan sendiri tanpa bantuan orang lain secara terus menerus, sebagaimana dialog yang ditunjukan oleh Simba berikut.</p>
        <p id="_paragraph-96">
          <italic id="_italic-81">Simba: “Siapa kalian, pergilah?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-97">
          <italic id="_italic-82">Timon dan Pumba: “Kami Penyelamatmu.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-98">
          <italic id="_italic-83">Timon: “Ya. Membahayakan hidup. Mengusir buruh marah.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-99">
          <italic id="_italic-84">Pumba: “Mereka bergerombol. Aku pumba. Ini Timon.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-100">
          <italic id="_italic-85">Timon: “Aku sudah bilang.. Kami menyelamatkanmu.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-101">
          <italic id="_italic-86">Simba: “Tak penting.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-102">
          <italic id="_italic-87">Pumba: “Suram sekali.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-103">
          <italic id="_italic-88">Timon: “Masalahku sudah banyak kini aku harus urus masalahnya. Bagaimana keadaanmu? Singkat saja.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-104">
          <italic id="_italic-89">Simba: “Aku melakukan hal buruk. Aku tak mau membahasnya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-105">
          <italic id="_italic-90">Pumba: “kita semua pernah berbuat salah. Pasti ada yang bisa kami bantu, kan?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-106">
          <italic id="_italic-91">Simba: “Tak ada kecuali kalian bisa ubah masa lalu.” </italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-107">
          <italic id="_italic-92">akhirnya mereka berjalan bersama-sama dan memperkenalkan tempat tinggal yang baru untuk Simba.</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-108">Perilaku Simba pada dialog diatas untuk berusaha melakukan segala sesuatu sendiri memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter mandiri sesuai peraturan kemendikbud. Terintegrasinya pada penguatan karakter tersebut, karena terdapat perilaku yang menunjukan dimana anak berusaha melakukan kegiatan sehari-harinya dengan sendiri yang tergolong nilai karakter mandiri.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-cf825bbf715c9726292087a2f2565489">
          <list-item>
            <p>Setia Kawan dan Saling Tolong Menolong</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-109">Setia kawan dan saling tolong menolong yang Pumba dan Timon lakukan pada temannya yaitu Simba merupakan bentuk sikap saling membantu antar sesama yang dilakukan tanpa membeda-bedakan dan meminta imbalan, sebagaimana dialog Simba, Pumba dan Timon berikut.</p>
        <p id="_paragraph-110">
          <italic id="_italic-93">Timon: “Semuanya, tenang kami datang.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-111">
          <italic id="_italic-94">Pumbaa: “Bantuan datang!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-112">
          <italic id="_italic-95">Simba: “Mau apa kalian kesini?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-113">
          <italic id="_italic-96">Pumba dan Timon: “Kami tak khawatir / Benar.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-114">
          <italic id="_italic-97">Pumbaa: “kami risau karena.. kau teman kami.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-115">
          <italic id="_italic-98">Simba: “Bagaimana dengan garis ketidak kepedulian?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-116">
          <italic id="_italic-99">Pumbaa: “Kami berpikir.. mungkin garisnya melengkung.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-117">
          <italic id="_italic-100">Timon: “Benar juga. Simba aku mengakui pumba keliru dan ini contohnya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-118">
          <italic id="_italic-101">Pumba: “Aku tak keliru.</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-119">Perilaku setia kawan dan saling tolong menolong yang dilakukan Timon dan Pumba memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter gotong royong. Terintegrasinya penguatan karakter tersebut karena mengandung adanya nilai karakter solidaritas ketika seorang teman membantu teman lainnya. Manusia adalah makhluk sosial yang juga perlu bantuan orang lain. Sehingga anak perlu diajarkan hal tersebut dan dibiasakan untuk saling tolong menolong ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan. Gotong royong merupakan ciri khas orang Indonesia yang mana gotong royong masuk kedalam pancasila ke tiga dan menjadi budaya bangsa dengan tujuan untuk menyeesaikan permasalahan dari segala aktivitas antar sesama [13].</p>
        <list list-type="bullet" id="list-9da777dfa3734fa5079208a6b6f818dd">
          <list-item>
            <p>Menghargai Pendapat Orang Lain</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-120">Menghargai orang lain seperti yang diakukan Nala, Pumba dan Timon ketika Simba sendang mengemukakan pendapat merupakan bentuk sikap menghargai atau menghormati orang lain. Meghormati orang lain adalah hal yang berat untuk dilakukan. Sebagaimana perilaku yang dilakukan Nala, Pumba dan Timon pada dialog berikut.</p>
        <p id="_paragraph-121">
          <italic id="_italic-102">Timon: “Apa Rencanamu agar kita melewati penjaga itu?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-122">
          <italic id="_italic-103">Simba: “Umpan hidup.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-123">
          <italic id="_italic-104">Pumbaa: “Ide bagus. Mereka tidak akan menolak daging segar. Tinggal cari hewan besar montok, dan berlemak. Mungkin weldebeest?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-124">
          <italic id="_italic-105">Timon, Simba, Nala dan Zazu: “(Menatap Pumbaa).”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-125">
          <italic id="_italic-106">Pumbaa: “kenapa semua menatapku?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-126">
          <italic id="_italic-107">Kemudian mereka bersama-sama menjalankan pendapat Simba.</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-127">Perilaku menghargai pendapat yang dilakukan teman-teman Simba pada dialog tersebut memiliki relevansi dengan pendidikan penguatan pendidikan karakter gotong royong. Terintegrasi dengan penguatan karakter tersebut karena mengandung adanya nilai karakter menghargai orang lain [13]. Nilai moral tersebut sangat perlu diimplementasikan dan dibiasakan kepada anak supaya anak dapat menghormati orang lain dengan berbagai situasi apapun.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-45c45831514c7c3d461ed599013f2cae">
          <list-item>
            <p>Memiliki Keberanian yang Tinggi</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-128">Keberanian yang dimiliki Simba dan teman-temannya merupakan bentuk sikap yang dilakukan untuk menyelesaikan sesuatu hal meskipun beresiko. Sikap keberanian juga bisa menumbuhkan kepercaya dirian pada anak ketika anak ingin melakukan sesuatu, sehingga anak tidak akan malu-malu dan takut untuk melakukan apapun. Sebagaimana dialog yang dilakukan Simba berikut.</p>
        <p id="_paragraph-129">
          <italic id="_italic-108">Scar: “Simba.. aku amat senang melihatmu masih hidup.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-130">
          <italic id="_italic-109">Simba: “Beri satu alasan untuk tak menghabisimu.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-131">
          <italic id="_italic-110">Scar: “Aku bisa beri lebih dari satu. Begini mereka pikir aku raja.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-132">
          <italic id="_italic-111">Nala: “Bagi kami tidak. Pemerintahanmu berakhir Scar. Simba adalah raja yang sah! Kalau kau ingin menentangnya, lewati kami dulu. Kalian dukung kami singa?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-133">
          <italic id="_italic-112">Semua Singa: “setuju (Mengaum)”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-134">
          <italic id="_italic-113">Simba: “Pilihlah Scar. Turun tahta atau bertarung.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-135">
          <italic id="_italic-114">Scar: “Haruskah berakhir dengan kekerasan? Aku tak mau membunuh anggota keluarga. Merasa malu kalau aku merenggut nyawa singa tercintaku.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-136">
          <italic id="_italic-115">Simba: “Aku sudah melupakannya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-137">
          <italic id="_italic-116">Scar: “Tapi apa mereka akan melupakannya? Perbuatanmu diketahui rakyat setiamu?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-138">
          <italic id="_italic-117">Surabi (ibu Simba): “Apa Maksudnya?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-139">
          <italic id="_italic-118">Scar: “Kau belum beri tahu rahasia kecilmu? Simba saatnya mengaku. Katakan siapa yang tewaskan Musafa.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-140">
          <italic id="_italic-119">Simba: “Aku pelakunya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-141">Sikap keberanian yang dilakukan Simba tersebut memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter gotong royong sesuai dengan peraturan kemendikbud [13]. Terintegrasinya penguatan karakter tersebut karena mengandug nilai karakter keberanian untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-668847a65288900452d7c8cad9c4b13c">
          <list-item>
            <p>Mengungkap Kebenaran dengan Berkata Jujur</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-142">Mengungkap kebenaran dengan berkata jujur seperti yang dilakukan oleh Simba merupakan bentuk sikap baik yang patut untuk ditiru., sebagaimana kutipan dialog Simba dan pamannya Scar berikut.</p>
        <p id="_paragraph-143">
          <italic id="_italic-120">Scar: “Ini tampak familiar. Dimana aku melihatnya? Aku ingat. Beginilah wujud Mufasa sebelum mati. Aku melihat kebawah, melihat ketakutan di matanya. Ini rahasia kecilku. Aku membunuh Mufasa.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-144">
          <italic id="_italic-121">Simba: “Ayahku. Kakakmu sendiri! Teganya kau.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-145">
          <italic id="_italic-122">Scar: “Pertama, dia bunuh Mufasa. Dan kini ingin membunuhku!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-146">
          <italic id="_italic-123">Simba: “Kau membunuhnya! Katakan sejujurnya!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-147">
          <italic id="_italic-124">Scar: “Jangan percaya dustanya!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-148">
          <italic id="_italic-125">Surabi: “Scar, katamu kau terlambat sampai di ngarai.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-149">
          <italic id="_italic-126">Scar: “Itu benar!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-150">
          <italic id="_italic-127">Surabi: “Bagaimana bisa kau lihat mata Mufasa?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-151">
          <italic id="_italic-128">Simba: “Pembunuh!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-152">Nilai moral berkata jujur yang dilakukan Simba pada kutipan dialog diatas memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter integritas sesuai peraturan kemendikud [13]. Terintegrasinya penguatan karakter tersebut karena mengandung adanya nilai karakter kejujuran yang dilakukan oleh Simba agar sang paman menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya dan mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-9525b1ae80c99994ec3fbe1b866d2b04">
          <list-item>
            <p>Mencintai Tempat Tinggal Asalnya</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-153">Mencintai tempat tinggal asalnya yang dilakukan Simba merupakan bentuk sikap cinta tanah air dimana dia bertempat tinggal. Sikap cinta tanah air tersebut menunjukan suatu kepedulian dan kesetiaan seseorang untuk berjuang membela bangsanya. Sebagaimana perilaku yang dilakukan oleh Simba pada dialog berikut.</p>
        <p id="_paragraph-154">
          <italic id="_italic-129">Nala: “Simba?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-155">
          <italic id="_italic-130">Simba: “Ayo! Tunggu apa lagi? Ayo Pulang!”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-156">Dengan demikian, nilai moral mencintai tempat tinggal asalnya yang dilakukan oleh Simba tersebut memiliki relevansi dengan penguatan pendidikan karakter nasionalis sesuai dengan peraturan kemendikbud. Terintegrasinya pada penguatan karakter tersebut karena mengandung nilai karakter cinta tanah air. Disaat era revolusi ini perlu memperkuat adanya rasa cinta tanah air tersebut kepada anak, supaya di masa depan yang akan datang anak akan mencintai negaranya sendiri dari pada negara luar.</p>
        <list list-type="bullet" id="list-5bb12d4389cde4182c5980e08d3e1589">
          <list-item>
            <p>Rela Berkorban demi Rakyatnya</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-157">Rela berkorban demi Rakyatnya yang dilakukan Simba merupakan sikap bersedia melakukan perjuangan dengan ikhlas demi membela rakyat dan negaranya. Sebagaimana perilaku yang ditunjukan Simba pada dialog berikut.</p>
        <p id="_paragraph-158">
          <italic id="_italic-131">Simba: “Tadinya aku tidak percaya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-159">
          <italic id="_italic-132">Nala: “Jadi kau mau apa?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-160">
          <italic id="_italic-133">Simba: “Ayahku menyuruhku melindungi semua yang diterangi cahaya. Kalau aku tak melindungi, siapa lagi?”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-161">
          <italic id="_italic-134">Nala: “Aku mau.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-162">
          <italic id="_italic-135">Simba: “Keadaan akan berbahaya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-163">
          <italic id="_italic-136">Nala: “Bahaya? Aku tertawa di hadapan bahaya.”</italic>
        </p>
        <p id="_paragraph-164">Nilai moral rela berkorban yang dilakukan Simba tersebut memiiki relevansi dengan pendidikan penguatan pendidikan karakter nasionalis sesuai dengan peraturan kemendikbud. Terintegrasinya pada penguatan karater tersebut karena mengandung nilai karakter rela berkorban untuk kepentingan bersama. Rela berkorban merupakan bentuk sikap rasa cinta seseorang terhadap bangsa dan negaranya yang perlu diperjuangkan. Selain itu perilaku tersebut juga sangat baik karena mengajarkan untuk lebih mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-dc566b17294a16db052d7691cf4b0378">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-165">Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian studi literatur yang telah dilakukan peneliti, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa film the lion king memiliki nilai moral yang sesuai dengan teori Thomas Lickona yaitu pertama nilai mengetahui kebaikan (<italic id="_italic-137">knowing the good</italic>) meliputi nilai moral mendengarkan nasihat orang tua dengan baik, mengajarkan kerja keras untuk meraih sesuatu yang diinginkan, mencari tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dari Kesalahan. Kedua, nilai mencintai kebaikan (<italic id="_italic-138">desiring the good</italic>) meliputi berusaha melakukan segala sesuatu sendiri, setia kawan dan saling tolong menolong, menghargai pendapat orang lain dengan baik, memiliki keberanian yang tinggi, mengungkap kebenaran dengan berkata jujur. Ketiga, nilai melakukan kebaikan (<italic id="_italic-139">doing the good</italic>) meliputi mencintai tempat tinggal asalnya, dan berjuang untuk rakyatnya. Kesebelas temuan nilai moral yang ada pada film <italic id="_italic-140">the lion king</italic><italic id="_italic-141"> live action </italic>2019 juga memiliki relevansi penguatan karakter sesuai dengan penguatan pendidikan karakter kemendikbud tahun 2016 yaitu religius, integritas, nasionalis, mandiri, dan gotong royong.</p>
      <p id="paragraph-1c3910eb3ef9051d2bcd06de5ad978b5" />
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>