Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Education
DOI: 10.21070/acopen.4.2021.1817

The Relationship Between Learning Readiness and Learning Outcomes of Grade II Elementary School Students


Hubungan Antara Kesiapan Belajar Dengan Hasil Belajar Siswa Kelas II Sekolah Dasar

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Kesiapan Belajar dan Hasil Belajar

Abstract

This research is motivated by the number of students who lack readiness in learning. This happens when students are doing assignments from the teacher, leaving textbooks behind, and learning readiness so that they can hinder the learning process and affect student learning outcomes. The purpose of this study was to determine whether there was a relationship between student learning readiness and student learning outcomes in grade II SD Negeri Kwedenkembar Mojokerto. The research was conducted using quantitative research with the Pearson bivariate correlation research method using a questionnaire instrument and learning outcomes. The results showed that there was no relationship between student learning readiness and student learning outcomes in grade II SD Negeri Kwedenkembar Mojokerto. This is evidenced by the results of data calculations carried out with a significance value of 0.959 or (0.959 > 0.05), and obtained rcount 0.297 which is known to be smaller than rtable which is worth 0.456 with a significance level of 5% or 0.05. Although it does not have much effect, learning readiness still contributes to students' learning motivation.

Pendahuluan

Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi oleh seseorang karena aktivitas mental ataupun psikis yang dilakukan oleh seseorang. Belajar juga merupakan suatu proses dari seorang individu yang berupaya untuk mencapai tujuan belajar atau hasil belajar yang diinginkan. Banyak proses yang perlu dilakukan dalam kegiatan belajar yang pertama adalah kesiapan belajar. Oleh karenanya, untuk memperoleh hasil belajar siswa yang baik dan nilai yang maksimal sangat diperlukan kesiapan siswa dalam belajar. Kesiapan siswa dalam belajar merupakan suatu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Kesiapan belajar jangan diterjemahakan bahwa ungkapan siap merupakan arti fisik, tetapi juga diapat diartikan kedalam psikis dan materiil. Kesiapan fisik dalam hal ini dapat dilihat dari keadaan badan yang sehat dan bugar. Kesiapan psikis biasanya memiliki adanya minat untuk belajar, berkonsentrasi, serta motivasi instrinsik. Kesiapan materiil dapat berupa bahan yang dapat dipelajari ataupun dikerjakan baik dalam bentuk buku bacaan, catatan siswa pada saat pelajaran, serta bahan pendukung lainnya. Kesiapan siswa dalam belajar baik berupa kondisi diri untuk menyiapan diri untuk melakukan kegiatan belajar akan membentuk sebuah perjuangan, dan motivasi untuk mencapai cita-cita yang diinginkan [1].

Permasalahan pada proses kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar dapat diketahui dan dilihat dari beberapa fakta yang saling terkait dengan kondisi kesiapan belajar siswa serta hubungan dengan pencapaian hasil belajar. Dilihat dari faktor internal siswa, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kesiapan belajar siswa. Dari pengamatan yang peneliti lakukan di SD Negeri Kwedenkembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, ada beberapa siswa yang belum memiliki kesiapan dalam mengikuti pembelajaran baik dari faktor fisik, psikis maupun materiil. Indikasinya adalah masih terlambatnya dalam mengikuti jam pembelajaran, mengantuk, lesu, kurang konsentrasi, dan masih banyak ditemui beberapa siswa dalam mempersiapkan bahan pembelajaran, tidak mengerjakannya soal latihan yang diberikan, dan dalam menyelesaikan suatu tugas maupun pekerjaan rumah (PR) terkadang terlambat dalam mengumpulkan maupun mencari jalan pintas mengerjakan tugas dengan menyalin dari hasil temannya, sehingga tidak dapat mencapai keberhasilan dalam mendapatkan hasil belajar yang baik.

Hasil yang diperoleh setiap siswa dalam kegiatan belajar berbeda-beda, dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi. Kesiapan belajar (readiness) adalah salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Kesiapan sendiri mempunyai arti bahwa seluruh kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban dalam berbagai cara tertentu terhadap suatu situasi [2]. Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perilaku yang relative menetap. Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perilaku yang relative menetap [3]

Kesiapan diri dalam mengikuti pelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan siswa, karena persiapan ynag matang siswa akan lebih merasa mantap dalam belajar sehingga siswa lebih berkonsentrasi dan mendapatkan manfaat, tujuan dan hasil belajar dengan baik. Hasil belajar siswa ditentukan oleh banyak faktor. Akan tetapi dari banyak faktor yang berhubungan dengan hasil belajar. Peneliti membatasi penelitian ini pada faktor kesiapan belajar. Kesiapan merupakan tingkatan keadaan yang harus dicapai dalam suatu proses perkembangan sesorang pada tingkat pertumbuhan mental, fisik, sosial ataupun emosional [4].

Kondisi siswa yang memiliki kesiapan dalam menerima pelajaran dari guru, akan berusaha merespon dengan baik atas pertanyaan atau perintah yang telah diberikan guru dalam kegiatan pembelajaran. Untuk menjawab pertanyaan dengan benar, siswa harus memiliki pengetahuan yang baik, pengetahuan itu didapatkan dengan cara membaca dan mempelajari materi-materi bahan pelajaran yang akan diajarkan oleh guru. Selain adanya kesiapan untuk belajar, akan membuat siswa termotivasi untuk mendapatkan dan mengoptimalkan hasil belajar. Siswa yang memiliki kesiapan belajar akan lebih dominan memperhatikan kegiatan pembelajaran dan berusaha untuk mengingat apa yang telah ajarkan oleh gurunya, karena merupakan salah satu dari tujuan belajarnya.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini termasuk dalam penelitian survey dimana metode penelitian ini sumber data dan informasi utama diperoleh dari responden sebagai sampel penelitian dengan menggunakan kuesioner atau angket sebagai instrumen pengumpulan data, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisi data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah diterapkan [5]. Desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif harus terstruktur, baku, formal dan dirancamg sematang mungkin sebelumnya. Desain bersifat spesifik dan detail karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya [6]. Sedangkan untuk menganalisis hubungan masing-masing variabel peneliti menggunakan nilai koefisien korelasi, dimana suatu pengujian statistik yang digunakan untuk membantu peneliti dalam pemahaman tingkat hubungan. Penelitian korelasi atau korelasional merupakan penelitian digunakan untuk mengetahui ada dan tidakadanya hubungan antara dua atau beberapa variabel [7]. Berikut penilaian korelasi:

Gambar 1 Desain Penelitian Korelasi

Keterangan:

X : Kesiapan belajar

Y : Hasil belajar

Rxy : Hubungan dua variabel

Penelitian ini menggunakan sumber data dari informasi yang telah diperoleh, direkam dan dapat dibedakan dengan data lainnya serta dapat dianalisis dan relevan dengan problem tertentu. Sumber data pada penelitian ini merupakan subyek dari mana data itu diperoleh dengan demikian sumber data adalah petunjuk dari mana data itu berasal yaitu dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar. Sumber Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang di peroleh oleh peneliti dari penelitian secara langsung terhadap siswa kelas II di SDN Kwedenkembar. Untuk data primer data yang didapatkan secara langsung dari subjek yang diteliti, dan data sekunder yaitu data yang telah disusun berbentuk dokumen-dokumen. Data sekunder merupakan perolehan data berupa hasil dari pembelajaran siswa pada batas waktu yang ditentukan oleh sekolah. Kemudian data tersebut dibuat secara lebih lanjut serta disampaikan secara baik oleh peneliti, dan di sajikan dalam bentuk tabel, catatan, diagram, dan dokumentasi. Desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif harus terstruktur, baku, formal dan dirancamg sematang mungkin sebelumnya. Desain bersifat spesifik dan detail karena desain merupakan suatu rancangan penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya [8].

Instrumen penelitian merupakan alat ukur atau fasilitas yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan oleh peneliti yang sudah pada tahap pengumpulan sebuah informasi yang secara langsung di lapangan. [9]. Penelitian ini termasuk dalam penelitian survey dimana metode penelitian ini sumber data dan informasi – informasi utamanya diperoleh dari responden sebagai sampel penelitian dengan menggunakan angket atau kuesioner sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Angket pada penelitian ini dalam bentuk google form yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kesiapan belajar siswa dalam proses pembelajaran. Maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan pengukuran instrumen menggunakan skala guttman. Dimana skala guttman merupakan skala yang digunakan untuk mendapatkan suatu jawaban yang tegas dari suatu permasalahan yang ditanyakan [10]. Dengan skala guttman maka peneliti hanya menggunakan dua interval yaitu: “setuju” atau “tidak setuju”. Skala guttman selain dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dibuat dalam bentuk ceklist. Jawaban dapat dibuat dengan skor tertinggi satu dan terendah nol.

Teknik pengumpulan data adalah salah satu langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian tersebut adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik dari mengumpulkan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan suat data yang memenuhi standart data yang digunakan. Setelah melakukan observasi peneliti dapat mengetahui gambaran berupa instrumen yang akan digunakan pada saat pengambilan data pada masa pandemik COVID-19. Dalam hal ini peneliti melakukan kegiatan penelitian terhadap siswa dengan cara daring menggunakan kuesioner atau angket yang disebar berupa link google form mengenai angket kesiapan belajar siswa. Angket tersebut disebar melalui group Whatsapp wali mulid siswa pada tanggal 03 November 2020. Penyusunan angket ini berdasarkan variabel kesiapan belajar serta sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Angket ini terdiri dari 15 butir soal dengan dua pilihan jawaban, yakni “ya-tidak”, “benar-salah”.

Peneliti memberikan kuesioner/angket menggunakan instrumen yang akan disusun. Sebelum instrumen kuesioner/angket diberikan pada saat penelitian, instrumen tersebut dianalisis untuk mengetahui kualitas dari instrumen tersebut. Beberapa uji percobaan instrumen yang dilakukan untuk mengetahui uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas ini meliputi uji validitas konstruk (ahli materi) dan validitas empirik. Dari perhitungan uji validitas konstruk (ahli materi) mengenai instrumen dan perangkat pembelajaran dapat dikatakan valid. Begitu juga dengan hasil perhitungan validitas empirik yang menggunakan rumus korelasi product moment, didapatkan 10 soal essay yang dapat dikatakan valid dan 5 soal yang tidak valid. Sedangkan untuk uji reliabilitas terdapat reliabilitas empirik dengan menggunakan rumus cronbach alpha. Hasil yang didapatkan dari perhitungan uji reliabilitas diperoleh r11 0,699, butir soal memiliki kriteria koefisien reliabilitas yang tinggi karena nilainya berada pada rentang 0,61-0,80.

Hasil dan Pembahasan

Sebagaimana tujuan dari Peneliti sehingga menyajikan data penelitian yang berkaitan dengan hubungan antara kesiapan belajar siswa dengan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri Kwedenkembar dengan jumlah responden 19 siswa. Yang mana hal ini dilakukan untuk mengetahui jawaban dari rumusan masalah pada penelitian ini, yakni adakah hubungan antara kesiapan belajar siswa dengan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri Kwedenkembar. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 - 15 Oktober dan 03 November 2020 secara daring (dalam jaringan) dengan menyajikan instrumen soal angket kesiapan belajar siswa. Instrumen soal tersebut dibuat menggunakan link google form, kemudian diberikan secara daring pada grup kelas II SD Negeri Kwedenkembar.

No Hasil Penelitian Jumlah skor Rata-rata
1. Angket 1415 74
2. Rata-rata nilai raport 1682 89
Table 1.Hasil Penilaian Angket Kesiapan Belajar Siswa dengan Hasil Belajar siswa

Setelah dilakukan uji coba, kemudian peneliti melakukan kegiatan penelitian terhadap siswa kelas II yang dilakukan secara daring, peneliti memiliki dua tahapan yakni pada hari pertama memberikan link google form mengenai angket kesiapan belajar, hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengenalan mengenai macam-macam kesiapan belajar yang ada pada siswa kelas II SD. Dan dihari kedua peneliti meminta hasil belajar siswa yang diperoleh dari Nilai rata-rata raport ujian Semester pada guru kelas II SD Negeri Kwedenkembar , hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa kelas II SD dalam memahami kesiapan dalam belajar. Penelitian ini dilakukan hanya untuk mengetahui adakah hubungan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar siswa.

Hubungan Antara Kesiapan Belajar Siswa dengan Hasil Belajar Siswa Kelas II SD Negeri Kwedenkembar

No Hasil Penelitian Hasil Data Penelitian
1. Thitung ,297
2. N 19
3. Sign. (2-tailed) ,216
4. Rtabel ,456
5. Pearson Correlation ,297
6. Asymp. Sig. (2-tailed) ,959
Table 2.Hasil Data Penelitian

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa, hasil uji normalitas memiliki nilai sigsifikasi 0,959 yang berarti nilai signifikasi > 0,05 sehingga dapat dikatakan data tersebut memiliki kriteria distribusi normal. Berdasarkan hasil analisis data yang disajikan peneliti diatas, dapat diperoleh hasil bahwa nilai koefisien uji korelasi bernilai sebesar 0,297 yang berarti lebih kecil dari rtabel yakni 0,456. Pada penelitian ini menggunakan signifikasi 5% atau 0,05, nilai signifikasi yang diperoleh pada penelitian ini yakni 0,216 > 0,05. Maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara kesiapan belajar siswa dengan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri Kwedenkembar.

Kesimpulan

Terkait dengan hasil analisis dan pembahasan mengenai “Hubungan Kesiapan Belajar Siswa dengan Hasil Belajar siswa kelas II SD Negeri Kwedenkembar” dapat disimpulkan bahwa: Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa tidak terdapat hubungan kesiapan belajar siswa dengan hasil belajar siswa. Sedangkan berdasarkan perhitungan data secara statistik diperoleh hasil sebesar 0,297 yang berarti nilai tersebut termasuk kedalam kategori nilai interval yang rendah. Dengan nilai signifikasi 2-tailed sebesar 0,216, karena nilai signifikasinya > 0,05 serta memiliki rhitung 0,297 < rtabel 0,456. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Ha ditolak yang berarti kedua variabel tersebut tidak ada hubungan yang signifikan antara kesiapan belajar siswa dengan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri kwedenkembar.

References

  1. Djamarah & Zain,2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta..
  2. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya Edisi Revisi 2010. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  3. Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
  4. Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  5. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabet.
  6. Sugihartono. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: FIP UNY.
  7. Arikunto, S. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  8. Suharsini Arikunto, 215 Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  9. Sukardi. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Kopetensi dan Prakteknya Jakarta: Bumi Aksara.
  10. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta, 2017.