Sahid Han Hidayatulloh (1), Yosef Abdul Ghani (2)
General Background Indonesia possesses immense natural tourism potential but sits within the highly active Ring of Fire, necessitating sustainable and safe destination management. Specific Background Tebing Keraton in northern Bandung has rapidly developed as a prime nature destination despite its proximity to the active Lembang Fault and landslide-prone topography. Knowledge Gap Previous literature predominantly discusses destination development or macro-level policies, leaving a deficit in understanding how stakeholders specifically negotiate the intersection of aesthetic appeal and geological threats. Aims This qualitative case study explores how tourists, local communities, and destination managers perceive and respond to disaster risks while maintaining the area's natural appeal. Results Through interviews and observations, findings indicate that tourists prioritize panoramic views, such as sunrises and cloud seas, perceiving geological risks as reasons for caution rather than deterrents. Destination managers and locals collaboratively implement structural and non-structural safety measures, including warning boards, safety fences, and evacuation routes, without compromising the site's natural beauty. Novelty This research distinctly captures the synergistic relationship between aesthetic tourist motivations and multi-stakeholder risk mitigation practices within a specific active fault zone. Implications Destination developers must continuously integrate proactive safety infrastructure and educational risk communication to guarantee sustainable nature-based tourism in geographically vulnerable regions.
Highlights
Tourists prioritize panoramic landscapes over geological threats, treating disaster awareness as a precautionary measure rather than a visitation deterrent.
Destination managers and local communities collaboratively implement safety fences and evacuation routes without compromising the natural aesthetic appeal.
Proactive risk communication and structural mitigation are essential for maintaining sustainable nature-based tourism in active fault zones.
Keywords
Disaster Risk Perception; Natural Tourist Attractions; Tebing Keraton Destination; Geological Risk Mitigation; Sustainable Tourism Management
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi pariwisata alam yang sangat besar, namun berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang menjadikannya rentan terhadap berbagai bencana geologi seperti gempa bumi, letusan gunung api, longsor, dan gerakan tanah. Kondisi tersebut menyebabkan banyak destinasi wisata berkembang di kawasan tersebut memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Oleh karena itu, pembangunan pariwisata di Indonesia perlu mengintegrasikan strategi pengurangan risiko bencana agar mampu menciptakan destinasi yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. Integrasi pengelolaan risiko bencana dalam pembangunan destinasi juga dinilai mampu meningkatkan ketahanan masyarakat lokal serta keberlanjutan sektor pariwisata [1].
Pentingnya integrasi mitigasi bencana dalam pembangunan destinasi wisata tidak terlepas dari besarnya peran sektor pariwisata bagi pembangunan nasional dan daerah. Sektor pariwisata memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan. Selain itu, sektor pariwisata juga mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan UMKM, serta mendorong perkembangan sektor transportasi, perdagangan, dan jasa. Dengan besarnya kontribusi tersebut, pengembangan sektor pariwisata perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat ekonomi dapat terus dirasakan tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Sejalan dengan pentingnya peran sektor pariwisata dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, pengelolaan destinasi wisata perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat yang dihasilkan dapat terus dirasakan. Pengembangan pariwisata pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan, pelestarian sumber daya alam, serta keselamatan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam aktivitas kepariwisataan [2]. Dengan demikian, aspek keamanan dan keselamatan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan destinasi wisata.
Dalam konteks pengembangan pariwisata berkelanjutan, aspek keamanan dan keselamatan menjadi salah satu unsur penting yang menentukan kualitas suatu destinasi wisata. Destinasi wisata yang aman akan memberikan rasa nyaman bagi wisatawan sehingga mampu membentuk citra positif serta meningkatkan minat berkunjung maupun kunjungan ulang. Sebaliknya, destinasi yang berada pada kawasan rawan bencana memerlukan perhatian khusus karena ancaman bencana alam dapat memengaruhi aktivitas wisata, keberlanjutan destinasi, bahkan keselamatan wisatawan. Oleh karena itu, pengelolaan destinasi wisata perlu mengintegrasikan aspek mitigasi bencana sebagai bagian dari pembangunan pariwisata yang berkelanjutan [3]. Dengan demikian, keberhasilan penerapan mitigasi bencana juga dipengaruhi oleh bagaimana wisatawan memandang dan merespons risiko yang ada pada suatu destinasi.
Dalam upaya mewujudkan destinasi wisata yang aman dan berkelanjutan, pemahaman mengenai persepsi wisatawan terhadap risiko bencana menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa persepsi wisatawan terhadap risiko bencana memiliki pengaruh terhadap keputusan berkunjung, citra destinasi, hingga minat melakukan kunjungan ulang. Selain itu, pengelolaan destinasi yang adaptif terhadap ancaman bencana menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pariwisata, khususnya pada kawasan yang memiliki karakteristik geologi aktif. Dengan demikian, risiko bencana tidak lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata, tetapi telah menjadi bagian dari tata kelola destinasi wisata modern [4]. Meskipun demikian, kawasan yang memiliki potensi risiko bencana tetap dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata apabila dikelola secara tepat dan memiliki nilai edukatif bagi wisatawan.
Meskipun kawasan rawan bencana sering dikaitkan dengan berbagai risiko, kawasan tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang bernilai edukatif. Di sisi lain, kawasan rawan bencana juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis edukasi dan geowisata. Karakteristik bentang alam yang terbentuk melalui proses geologi dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus media pembelajaran mengenai kebencanaan dan konservasi lingkungan. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif sehingga mampu meningkatkan kesadaran wisatawan terhadap pentingnya mitigasi bencana [5]. Salah satu kawasan yang memiliki karakteristik tersebut adalah kawasan Bandung Utara, yang dikenal memiliki daya tarik wisata alam sekaligus potensi risiko bencana geologi.
Kawasan ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Jawa Barat yang memiliki bentang alam pegunungan, hutan konservasi, dan panorama alam yang menarik. Namun demikian, Bandung Utara juga berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas geologi aktif, khususnya keberadaan Sesar Lembang yang berpotensi menimbulkan gempa bumi. Kondisi tersebut menjadikan kawasan ini memiliki dua karakteristik sekaligus, yaitu sebagai destinasi wisata alam yang menarik sekaligus wilayah yang memiliki potensi risiko bencana geologi [6]. Salah satu destinasi wisata yang menjadi representasi kondisi tersebut adalah Tebing Keraton, yang menawarkan keindahan alam sekaligus berada pada kawasan yang memiliki potensi risiko bencana geologi.
Sebagai salah satu destinasi unggulan di kawasan Bandung Utara, Tebing Keraton menjadi contoh kawasan wisata yang memadukan keindahan alam dengan potensi risiko bencana geologi. Salah satu destinasi wisata yang berkembang pesat di kawasan Bandung Utara adalah Tebing Keraton. Destinasi ini menawarkan panorama alam dari ketinggian yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan lanskap, suasana alam, serta lokasinya yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda menjadikan Tebing Keraton sebagai salah satu ikon wisata alam di Kota Bandung. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan menunjukkan bahwa destinasi ini memiliki daya tarik yang tinggi, namun di sisi lain keberadaannya yang berdekatan dengan jalur Sesar Lembang menuntut adanya perhatian terhadap aspek keselamatan dan mitigasi bencana. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Tebing Keraton merupakan objek yang relevan untuk dikaji, khususnya terkait bagaimana daya tarik wisata dapat tetap berkembang di tengah adanya potensi risiko bencana serta bagaimana aspek keselamatan dikelola dalam mendukung keberlanjutan destinasi.
Meskipun Tebing Keraton telah banyak dikaji sebagai destinasi wisata alam, masih terdapat beberapa aspek yang memerlukan pendalaman lebih lanjut. Sejumlah penelitian sebelumnya lebih banyak membahas Tebing Keraton dari aspek pengembangan destinasi, citra wisata, daya tarik alam, serta minat berkunjung wisatawan. Penelitian lain juga telah mengkaji strategi mitigasi bencana pada destinasi wisata dari sisi kebijakan maupun pengelolaan kawasan. Akan tetapi, kajian yang secara khusus mengungkap bagaimana wisatawan memaknai keberadaan risiko bencana, bagaimana pengelola dan masyarakat merespons ancaman tersebut, serta bagaimana risiko menjadi bagian dari pengalaman berwisata di Tebing Keraton masih relatif terbatas. Padahal, persepsi dan pengalaman para pelaku pariwisata memiliki peran penting dalam membentuk perilaku, kesiapsiagaan, serta praktik pengelolaan destinasi wisata di kawasan rawan bencana. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mampu mengkaji aspek-aspek tersebut secara lebih komprehensif sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai pengelolaan destinasi wisata di kawasan rawan bencana.
Berdasarkan uraian latar belakang dan kesenjangan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan Tebing Keraton sebagai destinasi wisata alam di kawasan yang memiliki potensi risiko bencana geologi, mengkaji bagaimana wisatawan memaknai daya tarik destinasi di tengah keberadaan risiko bencana, serta mengeksplorasi bagaimana pengelola dan masyarakat sekitar memahami serta merespons potensi risiko tersebut dalam aktivitas pariwisata. Penelitian ini juga membahas bagaimana praktik pengelolaan destinasi mencerminkan hubungan antara upaya peningkatan daya tarik wisata dengan kesadaran terhadap risiko bencana sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pariwisata yang lebih aman, adaptif, dan berkelanjutan.
Kajian Pustaka
A.Pariwisata Alam
Pariwisata merupakan aktivitas perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang ke suatu destinasi di luar tempat tinggalnya untuk tujuan rekreasi, pendidikan, bisnis, maupun kepentingan lainnya dalam jangka waktu tertentu. Selain berfungsi sebagai kegiatan rekreasi, pariwisata juga menjadi sektor yang mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pelestarian budaya dan lingkungan apabila dikelola secara berkelanjutan [7].
Salah satu bentuk pariwisata yang berkembang pesat adalah pariwisata alam. Pariwisata alam merupakan kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi dan keindahan lingkungan alami sebagai daya tarik utama destinasi. Gunung, hutan, air terjun, tebing, dan kawasan konservasi menjadi objek wisata yang banyak diminati karena mampu memberikan pengalaman rekreatif sekaligus edukatif kepada wisatawan. Menurut (Octaviani, 2023), pengembangan pariwisata alam harus memperhatikan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan destinasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat maupun wisatawan [8].
Dalam konteks penelitian ini, Tebing Keraton merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan panorama lanskap pegunungan serta pengalaman wisata berbasis alam. Keunikan bentang alam yang dimiliki menjadikan Tebing Keraton sebagai salah satu destinasi unggulan di Bandung Utara. Namun demikian, karakteristik kawasan yang berada di sekitar Sesar Lembang menyebabkan pengelolaan pariwisata tidak hanya berorientasi pada daya tarik alam, tetapi juga harus memperhatikan aspek keselamatan dan mitigasi risiko bencana.
B.Daya Tarik Wisata
Daya tarik wisata merupakan segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai tertentu sehingga mampu menarik minat wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi. Daya tarik tersebut dapat berupa potensi alam, budaya, sejarah, maupun atraksi buatan yang memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Menurut (Daud et al., 2024), daya tarik wisata menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih destinasi wisata [9].
Dalam pengembangan destinasi wisata, daya tarik tidak hanya ditentukan oleh keindahan objek wisata, tetapi juga dipengaruhi oleh aksesibilitas, fasilitas pendukung, pelayanan, serta keamanan destinasi. Kombinasi berbagai komponen tersebut akan membentuk pengalaman wisata yang positif sehingga meningkatkan kepuasan dan minat kunjungan wisatawan [10].
Pada destinasi wisata alam seperti Tebing Keraton, daya tarik utama berasal dari panorama alam, suasana pegunungan, dan pengalaman menikmati pemandangan dari ketinggian. Meskipun demikian, keberadaan destinasi di kawasan rawan bencana menjadikan aspek keamanan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas daya tarik wisata itu sendiri.
C.Persepsi Risiko dalam Pariwisata
Persepsi risiko merupakan penilaian subjektif seseorang terhadap kemungkinan terjadinya ancaman atau bahaya berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan informasi yang dimilikinya. Dalam konteks pariwisata, persepsi risiko berkaitan dengan bagaimana wisatawan memandang tingkat keamanan suatu destinasi sebelum maupun selama melakukan kunjungan. Persepsi tersebut tidak selalu dipengaruhi oleh tingkat risiko yang sebenarnya, tetapi juga oleh pengalaman pribadi, informasi yang diperoleh, serta karakteristik masing-masing wisatawan (Nur & Rahmafitria, 2021).
Pada destinasi yang berada di kawasan rawan bencana, persepsi risiko menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung. Informasi mengenai potensi bencana, kondisi geografis, maupun fasilitas keselamatan akan membentuk persepsi wisatawan terhadap tingkat keamanan destinasi tersebut. Penelitian (Pranindyasari et al., 2023) menunjukkan bahwa persepsi risiko memiliki hubungan dengan perilaku wisatawan dalam menentukan pilihan destinasi, terutama pada kawasan yang memiliki potensi ancaman bencana [11].
Meskipun demikian, tidak semua wisatawan memandang risiko sebagai hambatan untuk berwisata. Sebagian wisatawan justru menganggap tantangan alam sebagai bagian dari pengalaman wisata yang menarik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persepsi risiko dipengaruhi oleh pengalaman, motivasi perjalanan, serta kemampuan individu dalam memahami dan menerima tingkat risiko yang ada [12].
D.Mitigasi Risiko Destinasi Wisata
Mitigasi risiko merupakan serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi kemungkinan maupun dampak bencana terhadap masyarakat dan aktivitas yang berlangsung di suatu wilayah. Dalam sektor pariwisata, mitigasi risiko bertujuan menciptakan destinasi yang aman melalui penyediaan jalur evakuasi, rambu keselamatan, sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, serta peningkatan kapasitas pengelola dan masyarakat sekitar [13].
Implementasi mitigasi risiko menjadi sangat penting pada destinasi wisata alam yang berada di kawasan rawan bencana. Pengelola destinasi memiliki peran dalam menyediakan informasi keselamatan, menyusun prosedur tanggap darurat, serta memastikan fasilitas pendukung berfungsi dengan baik. Di sisi lain, wisatawan juga diharapkan memiliki kesadaran terhadap potensi risiko dan mematuhi aturan keselamatan selama melakukan aktivitas wisata [14].
Melalui penerapan mitigasi yang efektif, pengembangan destinasi wisata tidak hanya mampu meningkatkan rasa aman wisatawan, tetapi juga memperkuat keberlanjutan pariwisata. Dengan demikian, daya tarik wisata dan keselamatan dapat berjalan secara seimbang sehingga destinasi tetap menarik sekaligus adaptif terhadap potensi risiko bencana.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena bertujuan memahami secara mendalam fenomena pariwisata di kawasan rawan bencana, khususnya mengenai bagaimana wisatawan, pengelola, dan masyarakat memaknai daya tarik wisata serta risiko bencana di Tebing Keraton, Bandung. Menurut (Creswell, 2018), penelitian kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang diberikan individu atau kelompok terhadap suatu fenomena sosial. Penelitian dilaksanakan di destinasi wisata alam Tebing Keraton yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena memiliki daya tarik wisata alam yang tinggi sekaligus berada di kawasan yang dipengaruhi aktivitas geologi Sesar Lembang sehingga memiliki potensi risiko bencana.
Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu berdasarkan pertimbangan bahwa mereka memiliki pengalaman dan keterlibatan langsung dengan aktivitas pariwisata di Tebing Keraton. Informan terdiri atas wisatawan yang pernah atau sedang berkunjung ke Tebing Keraton, pengelola destinasi, serta masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan wisata. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati kondisi destinasi, aktivitas wisata, fasilitas keselamatan, serta praktik pengelolaan di lapangan. Wawancara semi-terstruktur dilakukan kepada seluruh informan untuk memperoleh informasi mengenai persepsi terhadap daya tarik wisata, pemahaman mengenai potensi risiko bencana, serta praktik mitigasi yang diterapkan di destinasi. Dokumentasi berupa foto, dokumen pengelolaan, papan informasi, dan data pendukung lainnya digunakan untuk memperkuat hasil observasi dan wawancara.
Analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Data hasil wawancara ditranskripsikan, kemudian diklasifikasikan berdasarkan tema-tema yang berkaitan dengan daya tarik wisata, persepsi risiko, dan mitigasi bencana. Selanjutnya data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif untuk mengidentifikasi hubungan antartema sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena yang diteliti. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi sehingga temuan penelitian memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.
Gambar 1 Diagram Alir
A.Perkembangan Pariwisata Tebing Keraton sebagai Destinasi Wisata Alam di Kawasan Rawan Bencana
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara terhadap wisatawan, Tebing Keraton merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terus berkembang dan menjadi tujuan wisata favorit di kawasan Bandung Utara. Perkembangan tersebut didukung oleh potensi sumber daya alam yang dimiliki, berupa panorama pegunungan, hamparan hutan, udara yang sejuk, serta pemandangan Kota Bandung dari ketinggian yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Selain itu, fenomena matahari terbit (sunrise), lautan awan, serta keberadaan berbagai spot fotografi semakin memperkuat citra Tebing Keraton sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara, mayoritas informan menyatakan bahwa alasan utama mereka mengunjungi Tebing Keraton adalah keindahan panorama alam yang dimiliki. Beberapa responden menyebutkan bahwa mereka tertarik berkunjung karena rekomendasi dari media sosial, teman, maupun informasi dari internet. Informan lain juga mengungkapkan bahwa pemandangan sunrise, lautan awan, udara yang sejuk, serta jalur menuju lokasi yang menantang menjadi pengalaman wisata yang menarik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Tebing Keraton sebagai destinasi wisata tidak hanya dipengaruhi oleh potensi alam yang dimiliki, tetapi juga oleh penyebaran informasi melalui media digital dan rekomendasi dari wisatawan yang pernah berkunjung.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa daya tarik utama Tebing Keraton adalah panorama alam yang masih asri, pemandangan matahari terbit (sunrise), lautan awan, serta udara yang sejuk. Seorang wisatawan menyampaikan:
“Saya datang ke Tebing Keraton karena ingin melihat sunrise dan pemandangan alamnya yang terkenal indah. Tempatnya sesuai dengan yang saya lihat di media sosial, jadi saya tertarik untuk datang.” (Informan W1)
Informan lain juga mengungkapkan:
“Walaupun jalannya cukup menantang, justru itu yang membuat pengalaman berwisata terasa berbeda. Pemandangannya sangat bagus dan udaranya juga sejuk.” (Informan W2)
Meskipun memiliki daya tarik alam yang tinggi, Tebing Keraton berada pada kawasan yang memiliki potensi risiko bencana geologi karena berada di sekitar kawasan Sesar Lembang yang berpotensi memicu gempa bumi serta memiliki karakteristik perbukitan yang rentan terhadap tanah longsor. Berdasarkan hasil wawancara, hampir seluruh informan mengetahui bahwa kawasan Tebing Keraton merupakan wilayah yang memiliki potensi bencana. Informasi tersebut diperoleh melalui berbagai sumber, seperti media sosial, website, berita, internet, papan informasi di lokasi wisata, maupun rekomendasi dari teman.
Sebagian besar informan mengaku telah mengetahui bahwa Tebing Keraton berada di kawasan yang memiliki potensi bencana sebelum melakukan kunjungan. Salah satu wisatawan menyatakan:
“Saya tahu dari internet kalau daerah ini dekat Sesar Lembang, tapi selama fasilitas keselamatannya ada dan kita mengikuti aturan, saya tetap merasa aman untuk berkunjung.” (Informan W3).
Meskipun demikian, keberadaan potensi bencana tidak serta-merta mengurangi perkembangan aktivitas pariwisata di Tebing Keraton. Sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka tetap memutuskan untuk berkunjung karena keindahan alam yang ditawarkan mampu memberikan pengalaman wisata yang berkesan. Beberapa wisatawan memang mengaku merasa lebih berhati-hati selama berada di lokasi, namun risiko tersebut lebih dipandang sebagai bentuk kewaspadaan daripada alasan untuk membatalkan kunjungan. Bahkan terdapat responden yang berpendapat bahwa jalur menuju Tebing Keraton yang menantang justru menjadi bagian dari pengalaman wisata alam yang menarik.
Hasil observasi juga menunjukkan bahwa pengelola telah menyediakan beberapa fasilitas pendukung keselamatan, seperti pagar pembatas pada beberapa titik, papan peringatan, serta jalur kunjungan yang tertata. Keberadaan fasilitas tersebut memberikan rasa aman bagi sebagian wisatawan ketika menikmati panorama alam Tebing Keraton. Namun demikian, beberapa responden masih mengharapkan adanya peningkatan fasilitas keselamatan, khususnya pada area yang menjadi spot foto utama dan titik-titik yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.
Mengenai fasilitas keselamatan, salah satu informan menyampaikan:
“Menurut saya pagar pembatas dan papan peringatan sudah membantu, tetapi akan lebih baik jika jumlahnya ditambah pada titik-titik yang sering digunakan wisatawan untuk berfoto.” (Informan W4)
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan Tebing Keraton sebagai destinasi wisata alam dipengaruhi oleh kombinasi antara potensi daya tarik alam, kemudahan penyebaran informasi, serta pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat (Sukendra et al. 2023) yang menyatakan bahwa pariwisata alam berkembang melalui pemanfaatan potensi lingkungan sebagai daya tarik utama destinasi wisata [15]. Selain itu, daya tarik wisata yang berupa panorama alam, keunikan lanskap, serta pengalaman yang diberikan kepada wisatawan merupakan faktor utama yang memengaruhi minat kunjungan wisatawan [9]. Di sisi lain, keberadaan Tebing Keraton pada kawasan rawan bencana menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata alam perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko dan penerapan mitigasi bencana yang memadai agar aktivitas pariwisata dapat berlangsung secara aman dan berkelanjutan [5].
Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan Tebing Keraton tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan destinasi dalam mengelola potensi risiko bencana sehingga tetap mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi wisatawan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan pengembangan Tebing Keraton sebagai destinasi wisata alam di kawasan rawan bencana
B.Makna Daya Tarik Wisata Tebing Keraton Menurut Persepsi Wisatawan di Tengah Risiko Bencana
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap wisatawan, Tebing Keraton dimaknai sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan pengalaman berbeda melalui panorama alam yang indah, udara yang sejuk, serta pemandangan Kota Bandung dari ketinggian. Mayoritas informan menyatakan bahwa alasan utama mereka berkunjung adalah untuk menikmati keindahan alam, melihat fenomena matahari terbit (sunrise), lautan awan, serta mengabadikan momen pada berbagai spot fotografi yang tersedia. Selain itu, beberapa wisatawan juga tertarik karena jalur menuju lokasi yang menantang sehingga memberikan pengalaman berwisata yang lebih berkesan.
Sebagian besar wisatawan mengetahui keberadaan Tebing Keraton melalui berbagai sumber informasi, seperti media sosial, internet, website, Google Maps, berita, papan informasi di kawasan wisata, maupun rekomendasi dari teman. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyebaran informasi melalui media digital dan komunikasi antarpengunjung memiliki peran penting dalam membentuk persepsi wisatawan terhadap daya tarik Tebing Keraton. Informasi yang diperoleh sebelum melakukan kunjungan memberikan gambaran mengenai kondisi destinasi, keindahan panorama, serta pengalaman yang akan diperoleh ketika berada di lokasi wisata.
Dari sisi wisatawan, mayoritas responden juga menyatakan bahwa mereka telah mengetahui Tebing Keraton berada di kawasan yang memiliki potensi bencana, terutama gempa bumi akibat keberadaan Sesar Lembang serta risiko tanah longsor pada kawasan perbukitan. Informasi tersebut diperoleh dari media sosial, berita, internet, website, maupun papan informasi yang tersedia di lokasi wisata. Meskipun demikian, sebagian besar informan mengungkapkan bahwa keberadaan potensi bencana tidak mengurangi keinginan mereka untuk berkunjung. Beberapa responden menyatakan bahwa risiko tersebut memang menimbulkan rasa khawatir sehingga mereka menjadi lebih berhati-hati selama berada di kawasan wisata. Namun, terdapat pula wisatawan yang menganggap kondisi geografis Tebing Keraton justru menjadi bagian dari pengalaman wisata alam yang menarik dan menantang.
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa rasa aman wisatawan dipengaruhi oleh keberadaan fasilitas keselamatan yang disediakan pengelola, seperti pagar pembatas, papan peringatan, serta jalur kunjungan yang telah diatur. Sebagian besar wisatawan merasa cukup aman selama mematuhi aturan yang berlaku dan tetap berada pada area yang telah ditentukan. Meskipun demikian, beberapa responden berharap adanya peningkatan fasilitas keselamatan, terutama pada area yang menjadi spot foto utama, penambahan informasi mengenai mitigasi bencana, serta peningkatan kualitas sarana pengamanan di beberapa titik yang dianggap masih memiliki tingkat risiko tinggi.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi wisatawan terhadap daya tarik Tebing Keraton tidak hanya dibentuk oleh keindahan panorama alam, tetapi juga oleh informasi yang mereka terima sebelum melakukan perjalanan serta pengalaman yang dirasakan selama berada di lokasi wisata. Daya tarik berupa panorama alam, sunrise, lautan awan, udara yang sejuk, dan spot fotografi menjadi faktor utama yang mendorong keputusan berkunjung, sedangkan potensi risiko bencana lebih dipersepsikan sebagai aspek yang memerlukan kewaspadaan dibandingkan sebagai hambatan untuk melakukan perjalanan wisata.
Salah satu wisatawan mengungkapkan bahwa daya tarik utama Tebing Keraton terletak pada panorama alam yang masih alami serta pengalaman menikmati matahari terbit.
“Saya datang ke Tebing Keraton karena ingin menikmati pemandangan alamnya, terutama sunrise dan lautan awan. Menurut saya pemandangannya sangat indah dan sesuai dengan yang saya lihat di media sosial. Walaupun saya tahu kawasan ini memiliki potensi bencana, saya tetap berkunjung karena selama mengikuti aturan saya merasa cukup aman.” (Informan W1)
Informan lain juga menyampaikan bahwa informasi mengenai potensi bencana tidak mengurangi minatnya untuk berkunjung, tetapi justru membuatnya lebih berhati-hati selama berada di lokasi.
“Sebelum datang saya sudah tahu dari internet kalau Tebing Keraton berada di kawasan yang rawan longsor dan dekat Sesar Lembang. Namun, saya tetap datang karena ingin menikmati keindahan alamnya. Saya hanya lebih berhati-hati dan mengikuti arahan dari petugas serta tidak melewati pagar pembatas.” (Informan W3)
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori daya tarik wisata yang menyatakan bahwa keunikan alam, atraksi wisata, serta pengalaman yang ditawarkan suatu destinasi merupakan faktor utama yang memengaruhi minat kunjungan wisatawan [9]. Selain itu, temuan ini juga mendukung teori persepsi risiko dalam pariwisata yang menjelaskan bahwa keputusan wisatawan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, serta informasi yang diterima mengenai potensi risiko pada suatu destinasi (Nur & Rahmafitria, 2021). Wisatawan yang memiliki pengetahuan mengenai potensi bencana cenderung tetap melakukan kunjungan apabila mereka menilai bahwa risiko tersebut masih dapat dikendalikan melalui penerapan fasilitas keselamatan dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian (Pranindyasari et al. 2023) yang menjelaskan bahwa persepsi risiko tidak selalu menurunkan niat berkunjung wisatawan, tetapi lebih memengaruhi tingkat kewaspadaan dan cara wisatawan mempersiapkan perjalanan mereka [11].
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa makna daya tarik Tebing Keraton bagi wisatawan tidak hanya terletak pada keindahan alam yang dimiliki, tetapi juga pada pengalaman yang diperoleh selama berwisata. Meskipun berada di kawasan rawan bencana, wisatawan tetap memandang Tebing Keraton sebagai destinasi yang menarik karena keindahan panorama yang ditawarkan lebih dominan dibandingkan persepsi terhadap risiko, selama aspek keselamatan tetap diperhatikan oleh pengelola maupun wisatawan.
C.Pemahaman dan Respons Pengelola serta Masyarakat terhadap Risiko Bencana
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak pengelola Tebing Keraton yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda serta masyarakat sekitar, diketahui bahwa pengelola memiliki pemahaman yang baik mengenai potensi risiko bencana yang terdapat di kawasan wisata tersebut. Tebing Keraton merupakan destinasi wisata alam yang berada di kawasan perbukitan dengan kondisi lereng yang curam serta berdekatan dengan jalur Sesar Lembang, sehingga memiliki potensi terjadinya longsor maupun gempa bumi. Oleh karena itu, aspek keselamatan wisatawan menjadi salah satu prioritas utama dalam pengelolaan destinasi.
Berdasarkan hasil wawancara, pihak pengelola menyampaikan bahwa pengawasan terhadap kondisi kawasan dilakukan secara rutin, terutama ketika memasuki musim hujan atau saat terjadi cuaca ekstrem. Pengelola juga menjelaskan bahwa apabila kondisi cuaca dianggap membahayakan, maka akses menuju area tebing akan dibatasi atau ditutup sementara demi menjaga keselamatan wisatawan. Selain itu, pemantauan terhadap kondisi lereng dan fasilitas wisata juga dilakukan secara berkala sebagai bentuk mitigasi terhadap potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sebagai bentuk upaya menjaga keselamatan pengunjung, pengelola telah menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti pagar pengaman di sekitar area tebing, papan informasi mengenai potensi bahaya, jalur evakuasi, serta petugas yang melakukan pengawasan selama jam operasional. Berdasarkan hasil observasi peneliti, fasilitas keselamatan tersebut telah tersedia di beberapa titik strategis sehingga membantu wisatawan untuk tetap berada pada area yang aman selama melakukan aktivitas wisata. Beberapa wisatawan juga mengungkapkan bahwa keberadaan fasilitas tersebut memberikan rasa aman ketika menikmati panorama Tebing Keraton. Salah satu informan menyampaikan bahwa dirinya merasa cukup aman karena telah tersedia pagar yang kokoh serta papan peringatan di sekitar kawasan wisata. Namun demikian, terdapat pula wisatawan yang berpendapat bahwa fasilitas keselamatan masih perlu ditingkatkan, khususnya pada beberapa titik yang menjadi lokasi favorit untuk berfoto.
Selain pengelola, masyarakat sekitar juga menunjukkan pemahaman yang cukup baik mengenai kondisi kawasan Tebing Keraton sebagai wilayah yang memiliki potensi risiko bencana. Berdasarkan hasil wawancara, masyarakat mengetahui adanya potensi longsor maupun aktivitas Sesar Lembang melalui pengalaman tinggal di kawasan tersebut, informasi dari pemerintah, serta berbagai kegiatan sosialisasi kebencanaan. Masyarakat menilai bahwa keselamatan wisatawan merupakan tanggung jawab bersama karena keberlangsungan aktivitas pariwisata juga berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat yang berada di sekitar kawasan Tebing Keraton.
Berdasarkan hasil wawancara, pihak pengelola menjelaskan bahwa keselamatan wisatawan menjadi prioritas utama dalam pengelolaan Tebing Keraton.
“Kami rutin memantau kondisi kawasan, terutama saat musim hujan atau cuaca ekstrem. Jika kondisi dinilai berisiko, akses menuju area tebing akan dibatasi atau ditutup sementara demi keselamatan pengunjung.” (Informan P1)
Masyarakat sekitar juga menunjukkan kepeduliannya terhadap keselamatan wisatawan. Salah seorang informan menyampaikan:
“Kami mengetahui kawasan ini memiliki potensi longsor dan berada di sekitar Sesar Lembang. Karena itu, kami ikut mengingatkan wisatawan agar tetap berhati-hati dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan pengelola.” (Informan M1)
Selain itu, salah satu wisatawan mengungkapkan:
“Saya merasa lebih tenang karena ada petugas yang berjaga dan tersedia papan peringatan di beberapa titik. Hal itu membuat saya lebih yakin untuk menikmati pemandangan tanpa mengabaikan keselamatan.” (Informan W4)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sinergi antara pengelola dan masyarakat dalam upaya mitigasi risiko bencana. Pengelola berperan dalam menyediakan fasilitas keselamatan, melakukan pengawasan kawasan, serta memberikan informasi kepada wisatawan mengenai potensi bahaya yang mungkin terjadi. Sementara itu, masyarakat berkontribusi dengan menjaga lingkungan sekitar, melaporkan apabila ditemukan kondisi yang berpotensi membahayakan, serta mendukung berbagai upaya pengelolaan destinasi yang aman dan berkelanjutan. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan destinasi wisata yang tetap menarik tanpa mengabaikan aspek keselamatan pengunjung.
Temuan penelitian ini sejalan dengan pendapat (Ramadhan & Rahmafitria 2024) yang menyatakan bahwa mitigasi risiko pada destinasi wisata tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga melalui penyediaan informasi keselamatan, edukasi kepada wisatawan, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan wisata [13]. Selain itu, (Sunarya et al. 2025) menjelaskan bahwa penerapan mitigasi struktural dan nonstruktural pada destinasi wisata alam mampu meningkatkan rasa aman wisatawan sekaligus mendukung keberlanjutan pengelolaan destinasi [14]. Dengan demikian, pemahaman dan respons pengelola serta masyarakat terhadap risiko bencana di Tebing Keraton telah mengarah pada upaya mitigasi yang bersifat preventif sehingga mampu menjaga keseimbangan antara daya tarik wisata alam dan aspek keselamatan wisatawan.
D.Praktik Pengelolaan Pariwisata dalam Menyeimbangkan Daya Tarik Wisata dan Mitigasi Risiko
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak pengelola Tebing Keraton, diketahui bahwa praktik pengelolaan destinasi wisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan daya tarik wisata, tetapi juga pada upaya mitigasi risiko bencana. Tebing Keraton memiliki panorama alam berupa hamparan hutan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, pemandangan Kota Bandung dari ketinggian, serta fenomena sunrise dan lautan awan yang menjadi daya tarik utama wisatawan. Di sisi lain, kawasan ini berada pada wilayah yang memiliki potensi risiko geologi sehingga pengelola berupaya menjaga keseimbangan antara aspek keindahan alam dan keselamatan pengunjung.
Berdasarkan hasil wawancara, pengelola menjelaskan bahwa berbagai fasilitas keselamatan telah disediakan tanpa mengurangi nilai estetika kawasan wisata. Pengelola memasang pagar pengaman pada area yang berbatasan langsung dengan tebing sebagai pembatas aktivitas wisatawan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan. Selain itu, tersedia papan informasi mengenai potensi bahaya, tata tertib kunjungan, serta jalur evakuasi yang dapat digunakan apabila terjadi kondisi darurat. Menurut pengelola, penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi agar wisatawan tetap dapat menikmati panorama alam Tebing Keraton dengan aman.
Hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa pagar pembatas, papan peringatan, serta jalur evakuasi telah ditempatkan pada beberapa titik strategis di kawasan wisata. Keberadaan fasilitas tersebut tidak mengurangi keindahan lanskap alam Tebing Keraton, melainkan menjadi bagian dari pengelolaan destinasi yang mendukung kenyamanan dan keamanan wisatawan. Beberapa informan juga mengungkapkan bahwa keberadaan pagar pembatas dan papan informasi membuat mereka merasa lebih aman ketika menikmati pemandangan maupun melakukan aktivitas fotografi di sekitar tebing. Namun demikian, terdapat pula wisatawan yang berpendapat bahwa beberapa fasilitas keselamatan masih perlu ditingkatkan, terutama pada titik-titik yang menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto.
Selain penyediaan infrastruktur keselamatan, pengelola juga melakukan edukasi kepada wisatawan mengenai pentingnya mematuhi aturan selama berada di kawasan wisata. Berdasarkan hasil wawancara, petugas secara aktif memberikan arahan dan teguran kepada pengunjung yang melewati batas aman ataupun melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan keselamatan. Informasi mengenai kondisi kawasan, cuaca, dan potensi bahaya juga disampaikan melalui papan informasi maupun media sosial sehingga wisatawan memperoleh pemahaman mengenai risiko yang terdapat di Tebing Keraton sebelum melakukan kunjungan.
Berdasarkan hasil wawancara, pengelola menjelaskan bahwa berbagai upaya mitigasi dilakukan tanpa mengurangi daya tarik wisata yang dimiliki Tebing Keraton.
“Kami berusaha menjaga agar wisatawan tetap bisa menikmati keindahan alam Tebing Keraton, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, kami memasang pagar pembatas, papan informasi, dan terus mengawasi aktivitas pengunjung di area yang berisiko.” (Informan P1)
Salah satu wisatawan juga menyampaikan bahwa upaya yang dilakukan pengelola memberikan rasa aman selama berkunjung.
“Menurut saya fasilitas keselamatan yang ada sudah cukup membantu. Pagar pembatas dan papan peringatan membuat pengunjung tahu batas area yang aman, sehingga kami bisa menikmati pemandangan dengan lebih tenang.” (Informan W2)
Informan lainnya mengungkapkan harapannya agar pengelolaan destinasi terus ditingkatkan.
“Keindahan Tebing Keraton sudah sangat baik, tetapi akan lebih bagus jika informasi mengenai mitigasi bencana diperbanyak dan pengawasan pada saat ramai pengunjung lebih ditingkatkan.” (Informan W5)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pengelolaan Tebing Keraton telah mengarah pada keseimbangan antara upaya meningkatkan daya tarik wisata dan penerapan mitigasi risiko bencana. Pengelola tidak hanya berfokus pada promosi keindahan panorama alam, tetapi juga berupaya membangun citra destinasi yang aman melalui penyediaan fasilitas keselamatan, pengawasan kawasan, serta edukasi kepada wisatawan. Meskipun demikian, beberapa aspek masih memerlukan penyempurnaan, seperti peningkatan sistem peringatan dini, penambahan informasi keselamatan yang lebih interaktif, serta peningkatan pengawasan pada saat kondisi cuaca ekstrem maupun ketika jumlah wisatawan meningkat.
Temuan penelitian ini sejalan dengan (Sunarya et al. 2025) yang menjelaskan bahwa pengelolaan destinasi wisata alam di kawasan rawan bencana memerlukan kombinasi mitigasi struktural dan nonstruktural agar mampu menciptakan destinasi yang aman sekaligus menarik bagi wisatawan [14]. Selain itu, (Kadek et al. 2024) menyatakan bahwa pengelolaan pariwisata berkelanjutan perlu mengintegrasikan aspek keselamatan, konservasi lingkungan, dan pengalaman wisata sebagai satu kesatuan dalam pengembangan destinasi [16]. Dengan demikian, praktik pengelolaan yang diterapkan di Tebing Keraton menunjukkan bahwa daya tarik wisata alam dan mitigasi risiko bukan merupakan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan secara berdampingan dalam mewujudkan destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil reduksi data, diperoleh bahwa praktik pengelolaan Tebing Keraton berfokus pada upaya menyeimbangkan daya tarik wisata dan mitigasi risiko bencana. Tema yang paling sering muncul meliputi penyediaan pagar pembatas, papan informasi, jalur evakuasi, pengawasan oleh petugas, serta edukasi kepada wisatawan mengenai keselamatan. Informan menilai bahwa fasilitas keselamatan yang tersedia telah memberikan rasa aman tanpa mengurangi keindahan kawasan wisata. Namun, beberapa informan juga menyampaikan harapan agar dilakukan penambahan fasilitas keselamatan, peningkatan sistem peringatan dini, dan pengawasan yang lebih intensif pada saat kondisi cuaca ekstrem maupun ketika jumlah wisatawan meningkat.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa daya tarik wisata alam Tebing Keraton tetap menjadi faktor utama yang mendorong wisatawan untuk berkunjung meskipun destinasi ini berada di kawasan yang memiliki potensi risiko bencana geologi. Keindahan panorama alam, fenomena sunrise dan lautan awan, serta pengalaman menikmati pemandangan dari ketinggian menjadi daya tarik yang mampu membentuk persepsi positif wisatawan. Meskipun sebagian besar wisatawan menyadari adanya potensi gempa bumi dan longsor di kawasan tersebut, risiko tersebut tidak sepenuhnya mengurangi minat berkunjung selama tersedia fasilitas keselamatan, informasi yang memadai, dan pengelolaan risiko yang baik dari pihak pengelola.
Secara teoritis, temuan penelitian ini memperkaya kajian mengenai persepsi risiko dalam pariwisata, khususnya pada destinasi wisata alam yang berada di kawasan rawan bencana. Secara praktis, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi wisata perlu menyeimbangkan upaya meningkatkan daya tarik wisata dengan penerapan mitigasi risiko melalui penyediaan fasilitas keselamatan, edukasi kepada wisatawan, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan kawasan wisata.
Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah informan dan cakupan penelitian yang hanya berfokus pada satu destinasi wisata alam, yaitu Tebing Keraton. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas objek penelitian pada berbagai destinasi wisata alam lain yang berada di kawasan rawan bencana serta menggunakan pendekatan kuantitatif atau metode campuran (mixed methods) sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara persepsi risiko, daya tarik wisata, dan keputusan wisatawan dalam memilih destinasi wisata.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada pengelola kawasan wisata Tebing Keraton, masyarakat sekitar, dan para wisatawan yang telah berpartisipasi sebagai narasumber. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan wisata alam yang aman, berkelanjutan, dan berwawasan mitigasi bencana.
A. Pribudi and E. Sugiarto, “Ketahanan Masyarakat untuk Manajemen Risiko Bencana: Studi Kasus di Tiga Desa Wisata Rawan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta,” Journal of Indonesian Rural and Regional Government, vol. 9, no. 1, pp. 90–106, 2025.
E. Rindrasih, “Tourists’ Perceived Risk and Image of Destinations Prone to Natural Disasters: The Case of Bali and Yogyakarta, Indonesia,” Humaniora, vol. 30, no. 2, pp. 192–203, 2018.
F. Rahmafitria, H. Puspito, D. Setiyorini, P. Hindayani, and A. Ramadhan, “The Role of Destination Image and Risk Perception on Interest in Revisiting Disaster-Prone Coastal Destination,” Journal of Environmental Science and Sustainable Development, vol. 7, no. 1, pp. 480–495, 2024.
W. Widyaningrum, I. Aliyah, and T. Istanabi, “Keragaman Tipe Mitigasi Bencana pada Destinasi Wisata di Kecamatan Ngargoyoso,” Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Pemukiman, vol. 6, no. 1, pp. 69–83, 2024.
S. R. P. Wulung, R. Andari, A. P. Kikania, and A. Abdilah, “Geowisata dan Wisata Edukasi: Merancang Paket Wisata untuk Kawasan Rawan Bencana,” Geowisata dan Wisata Edukasi, vol. 3, no. 1, pp. 21–25, 2024.
A. Gani, Z. Kemala, and E. H. Sukriadi, “Pengembangan Tebing Keraton sebagai Daya Tarik Wisata Alam di Kota Bandung,” Manajemen dan Pariwisata, vol. 3, pp. 22–33, 2024.
A. Rismunadia and A. Hamid, “Peningkatan Potensi Pariwisata Alam Butta Toa adalah Jembatan untuk Menyejahterakan Masyarakat dalam Wujud Rancangan Peraturan Daerah,” Jurnal Administrasi Terapan, vol. 2, no. 1, pp. 85–103, 2024.
L. K. Octaviani, “Developing Nature Tourism to Support Sustainable Development in Widosari Tourist Village,” Jurnal IDEAS, vol. 9, no. 4, pp. 1195–1204, 2023, doi: 10.32884/ideas.v9i4.1528.
D. M. Daud, S. S. Eraku, and Rusiyah, “Analisis Daya Tarik Wisata Air Terjun Ilohu’Uwa Kecamatan Bone Kabupaten Bone Bolango,” Jurnal Riset dan Pengabdian Interdisipliner, vol. 1, no. 1, pp. 15–23, 2024, doi: 10.37905/jrpi.v1i1.27945.
A. Z. Ibrahim and D. N. Susanti, “Pengaruh Daya Tarik Wisata dan Fasilitas terhadap Minat Berkunjung Kembali dengan Kepuasan sebagai Variabel Intervening,” Jurnal Penelitian Ekonomi Manajemen dan Bisnis, vol. 4, no. 2, pp. 96–107, 2025.
C. Pranindyasari, S. W. Siswomihardjo, and A. A. Armielia, “Analisa Persepsi Risiko terhadap Niat Wisata dan Persyaratan Tes COVID-19 di Indonesia,” Jurnal Manajemen Perhotelan dan Pariwisata, vol. 6, no. 2, pp. 451–460, 2023.
K. Alit, A. A. Ketut, N. K. W. Agustina, P. G. A. Yudhistira, et al., “The Influence of Risk Perception on Visit Decision to Tourism Village: The Mediating Role of Tourist Motivation,” International Journal of Social Science and Business, vol. 7, no. 4, pp. 947–956, 2023.
P. J. Ramadhan and F. Rahmafitria, “Pengaruh Persepsi Risiko Wisatawan terhadap Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda,” Journal of Disaster Management and Community Resilience, vol. 1, no. 2, pp. 74–84, 2024.
A. H. Sunarya, D. T. Alamanda, and H. Cupiadi, “Pengaruh Persepsi Risiko dan Citra Destinasi terhadap Keputusan Berkunjung Wisatawan pada Sawah Lega Hegar Resor Garut,” Jurnal Ilmiah MEA (Manajemen, Ekonomi, dan Akuntansi), vol. 9, no. 2, pp. 1814–1836, 2025
I. K. Sukendra, P. D. Asrida, N. K. R. Purwati, I. D. P. Juwana, P. D. Fridayanthi, and I. M. Subrata, “Pengembangan Objek Wisata Alam Berbasis Kearifan Lokal Berorientasi Etnomatematika di …,” 2023.
N. K. D. Julyastini, P. Y. Setiawan, I. G. A. K. Giantari, and I. M. Wardana, “Tourist Experience and Risk Perception on Revisit Intention: Mediate of Destination Image,” World Journal of Advanced Research and Reviews, vol. 23, no. 1, pp. 2638–2649, 2024.