Login
Section Geography. Anthropology. Recreation

Waste Management Ecotourism Drives Local Community Environmental Awareness And Participation


Ekowisata Pengelolaan Sampah Mendorong Kesadaran Dan Partisipasi Lingkungan Masyarakat Lokal
Vol. 11 No. 2 (2026): December:

Hani Agustina (1), Yosef Abdul Ghani (2)

(1) Program Studi Manajemen Pariwisata, Sekolah Tinggi Pariwisata ARS Internasional, Indonesia
(2) Program Studi Manajemen Pariwisata, Sekolah Tinggi Pariwisata ARS Internasional, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background The continuous expansion of the tourism sector significantly escalates ecological pressures, particularly concerning garbage accumulation in destination areas. Specific Background Sustainable recreational models, such as Udjo Ecoland, attempt to balance tourist activities with ecological preservation by implementing reduce, reuse, and recycle principles. Knowledge Gap While extensive literature examines visitor behavior, comprehensive studies focusing on how garbage-centric governance shapes the ecological consciousness of resident populations remain limited. Aims This qualitative descriptive research investigates the governance of garbage-centric recreational destinations at Udjo Ecoland and its role in building ecological consciousness among resident populations. Results Findings from observations and interviews reveal that integrating cultural education with direct public involvement in garbage sorting and plastic reduction fosters responsible ecological habits. Furthermore, adequate sanitation facilities positively shape visitor perceptions and behaviors toward destination cleanliness. Novelty This study highlights that garbage-centric recreational governance serves not solely as a sustainable destination strategy, but crucially functions as an active empowerment platform for transforming public ecological behaviors. Implications Destination managers and policymakers must prioritize collaborative, stakeholder-driven sanitation governance models to ensure long-term ecological sustainability and continuous public empowerment.


Highlights




  • Integrating cultural education with ecological preservation successfully transforms public habits regarding sanitation.




  • Applying reduce, reuse, and recycle principles minimizes plastic usage and promotes responsible garbage sorting.




  • Adequate hygiene facilities positively shape visitor behavior and perceptions regarding destination cleanliness.




Keywords


Sustainable Tourism; Ecological Preservation; Garbage Sorting; Destination Management; Stakeholder Collaboration

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Perkembangan sektor pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama tahun 2024 mencapai 13.902.420 kunjungan, meningkat sebesar 19,05 persen dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sekitar 11,68 juta kunjungan. Perjalanan wisatawan nusantara juga mencapai sekitar 1,02 miliar perjalanan pada tahun 2024 atau meningkat sebesar 21,61 persen dibandingkan tahun 2023 yang berjumlah 839,67 juta perjalanan. Pertumbuhan aktivitas wisata tersebut berjalan seiring dengan berkembangnya ragam destinasi berbasis masyarakat. Data Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat sedikitnya 6.201 desa wisata, yang terdiri atas 4.850 desa wisata rintisan, 996 desa wisata berkembang, 320 desa wisata maju, dan 35 desa wisata mandiri. Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak hanya ditandai oleh peningkatan mobilitas wisatawan, tetapi juga oleh semakin luasnya pengembangan destinasi wisata di berbagai daerah Indonesia [1][2].

Peningkatan jumlah kunjungan dan perluasan destinasi tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pengelola kawasan wisata. Aktivitas wisata yang semakin tinggi juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan, terutama melalui bertambahnya volume sampah di kawasan wisata. Apabila tidak dikelola secara berkelanjutan, sampah dapat menurunkan kualitas lingkungan, mengurangi kenyamanan pengunjung, serta melemahkan daya tarik destinasi wisata itu sendiri [3].

Konsep pariwisata berkelanjutan menjadi pendekatan penting dalam menjawab tantangan tersebut. Pariwisata berkelanjutan menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan, sehingga pengelolaan destinasi tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisata, tetapi juga pada pelestarian ekosistem dan pemberdayaan masyarakat lokal. Dalam konteks ini, strategi pengembangan pariwisata perlu diarahkan pada model yang mampu meningkatkan daya saing destinasi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan [4]. Salah satu pendekatan yang relevan adalah ekowisata, yaitu bentuk wisata yang mengintegrasikan aktivitas rekreasi, edukasi lingkungan, konservasi, dan keterlibatan masyarakat.

Udjo Ecoland merupakan kawasan wisata edukatif yang dikembangkan Saung Angklung Udjo dengan mengintegrasikan nilai budaya dan pelestarian lingkungan. Selain sebagai destinasi wisata, kawasan ini menjadi sarana pembelajaran ekologis melalui pengelolaan berbasis lingkungan yang mendorong kebersihan, pengurangan dan pemilahan sampah, serta kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Ekowisata tidak hanya berfungsi sebagai wisata berbasis alam, tetapi juga sebagai media edukasi yang membangun kesadaran lingkungan melalui partisipasi masyarakat dalam pelestarian kawasan. Pendekatan ini meningkatkan pemahaman dan perilaku ramah lingkungan [5]. Di Udjo Ecoland, konsep tersebut diterapkan melalui edukasi pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan bagi masyarakat lokal.

Salah satu permasalahan utama dalam pengelolaan destinasi wisata adalah sistem pengelolaan sampah yang belum optimal. Banyak kawasan wisata masih menghadapi persoalan penumpukan sampah akibat keterbatasan fasilitas, rendahnya kesadaran lingkungan, serta belum terintegrasinya sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) dalam pengelolaan sampah di kawasan wisata menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas destinasi wisata [6]. Prinsip ini juga relevan diterapkan di Udjo Ecoland sebagai bagian dari tata kelola ekowisata yang edukatif dan berkelanjutan.

Keberhasilan pengelolaan sampah di kawasan wisata sangat dipengaruhi oleh keterlibatan berbagai pihak, termasuk pengelola destinasi, masyarakat lokal, wisatawan, dan pemangku kepentingan lainnya. Pendekatan berbasis stakeholder menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Masyarakat lokal memiliki posisi penting karena mereka tidak hanya berada di sekitar kawasan wisata, tetapi juga berpotensi menjadi pelaku utama dalam menjaga kebersihan, mendukung program lingkungan, dan menanamkan budaya peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari [7].

Meskipun berbagai penelitian telah membahas pariwisata berkelanjutan, ekowisata, dan pengelolaan sampah, kajian yang secara khusus membahas tata kelola ekowisata berbasis pengelolaan sampah dalam konteks peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat lokal masih relatif terbatas. Sebagian penelitian lebih banyak menempatkan wisatawan sebagai fokus utama, sedangkan masyarakat lokal sebagai subjek yang mengalami proses pembelajaran lingkungan belum banyak dikaji secara mendalam. Hal ini menunjukkan adanya celah penelitian yang perlu diisi, terutama dalam memahami bagaimana pengelolaan sampah berbasis ekowisata di Udjo Ecoland dapat berperan sebagai sarana edukasi, pemberdayaan, dan pembentukan kesadaran lingkungan masyarakat lokal.

Penelitian ini menganalisis tata kelola ekowisata berbasis pengelolaan sampah di Udjo Ecoland serta perannya dalam meningkatkan kesadaran lingkungan sebagai rujukan pengembangan ekowisata berkelanjutan.

TINJAUAN PUSTAKA

A.Konsep Ekowisata dan Pariwisata Berkelanjutan

Ekowisata menekankan keberlanjutan melalui konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Selain menawarkan pengalaman wisata, ekowisata juga berperan sebagai media edukasi untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan [8].

Pariwisata berkelanjutan memadukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk menjaga keberlanjutan destinasi tanpa mengabaikan ekosistem maupun masyarakat lokal. Dalam konteks ini, ekowisata menjadi wujud penerapan prinsip tersebut melalui pelestarian lingkungan dan peningkatan kesadaran wisatawan [9].

B.Pengelolaan Sampah dalam Destinasi Wisata

Pengelolaan sampah menjadi tantangan utama di destinasi wisata karena meningkatnya jumlah wisatawan turut menambah volume limbah.

Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang terintegrasi melalui penyediaan fasilitas, pengelolaan operasional, dan edukasi untuk menjaga kualitas lingkungan. Keberhasilannya didukung oleh kualitas layanan serta partisipasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kebersihan dan pengelolaan sampah [10].

C.Kesadaran Lingkungan Wisatawan

Kesadaran lingkungan wisatawan berperan penting dalam mendukung pariwisata berkelanjutan dan tercermin dari perilaku bertanggung jawab, seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, serta mendukung praktik wisata ramah lingkungan.

Persepsi wisatawan terhadap kualitas lingkungan dan pengelolaan destinasi juga memengaruhi tingkat kesadaran tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap pengelolaan destinasi dapat meningkatkan kepuasan wisatawan sekaligus mendorong perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan [11]. Selain itu, persepsi terhadap dampak pengembangan pariwisata berkelanjutan turut membentuk sikap wisatawan dalam menjaga lingkungan [12]. Preferensi dan pengalaman wisata juga menjadi faktor yang memengaruhi bagaimana wisatawan merespons isu lingkungan selama kunjungan mereka [13].

D.Partisipasi Wisatawan dalam Pelestarian Lingkungan

Partisipasi wisatawan dalam pelestarian lingkungan diwujudkan melalui dukungan terhadap edukasi, pengelolaan sampah, dan kebijakan ramah lingkungan.

Partisipasi tersebut dipengaruhi oleh komunikasi dan daya tarik destinasi. Pemanfaatan media digital, seperti konten media sosial, terbukti mampu meningkatkan minat berkunjung sekaligus membentuk persepsi wisatawan terhadap nilai-nilai lingkungan yang diusung suatu destinasi [14]. Selain itu, daya tarik wisata yang dikemas secara edukatif juga dapat meningkatkan kepuasan wisatawan dan mendorong keterlibatan mereka dalam aktivitas pelestarian lingkungan [15]. Dengan demikian, partisipasi wisatawan tidak hanya bersifat sukarela, tetapi juga dipengaruhi oleh strategi pengelolaan dan komunikasi yang efektif.

E.Dampak Sosial dan Model Integrasi Ekowisata

Pengembangan ekowisata tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitar destinasi. Jika dikelola dengan baik, ekowisata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan budaya lokal [16].

Keberlanjutan destinasi juga dipengaruhi oleh kualitas layanan dan pengelolaannya. Integrasi aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui kolaborasi pengelola, masyarakat lokal, dan wisatawan menjadi kunci dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing (Sudiarta et al., 2022).

METODE

Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal untuk mengkaji tata kelola ekowisata berbasis pengelolaan sampah, kesadaran lingkungan, dan partisipasi para pihak pada penerapan pengelolaan sampah di Udjo Ecoland. Studi kasus memungkinkan peneliti memahami suatu fenomena secara mendalam berdasarkan kondisi nyata dan konteks tempat fenomena tersebut berlangsung [17].

Penelitian dilakukan di Udjo Ecoland, Kota Bandung, yang dipilih secara purposive karena menerapkan wisata edukatif berbasis budaya, lingkungan, dan pengelolaan sampah. Penelitian berfokus pada tata kelola ekowisata berbasis pengelolaan sampah, meliputi pengurangan dan pemilahan sampah, fasilitas kebersihan, edukasi lingkungan, keterlibatan wisatawan dan masyarakat, serta perubahan kesadaran lingkungan.

Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan dan pengetahuan mereka terhadap kegiatan ekowisata dan pengelolaan sampah di Udjo Ecoland. Informan terdiri atas pengelola Udjo Ecoland, petugas yang menangani kebersihan atau lingkungan, masyarakat lokal yang terlibat dalam kegiatan wisata, serta wisatawan yang pernah mengikuti atau mengamati program lingkungan di lokasi penelitian. Kriteria informan meliputi berusia minimal 18 tahun, mengetahui kegiatan pengelolaan sampah di Udjo Ecoland, terlibat atau pernah berinteraksi langsung dengan program lingkungan, serta bersedia memberikan informasi. Penentuan jumlah informan dilakukan sampai data mencapai kejenuhan, yaitu ketika wawancara tambahan tidak lagi menghasilkan tema atau informasi baru [18].

Data penelitian dibagi menjadi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif dan wawancara semi-terstruktur. Observasi dilakukan untuk mencatat kondisi fasilitas persampahan, pemilahan sampah, kebersihan kawasan, penyampaian informasi lingkungan, serta perilaku wisatawan dan masyarakat lokal. Wawancara dilakukan untuk menggali pemahaman, persepsi, kesadaran, dan partisipasi informan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi. Instrumen penelitian terdiri atas peneliti, pedoman wawancara, lembar observasi, alat perekam, catatan lapangan, dan kamera.

Pengumpulan data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu identifikasi masalah dan kajian literatur, penetapan lokasi, informan, serta instrumen penelitian, kemudian observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Setiap wawancara dilaksanakan setelah informan memperoleh penjelasan mengenai tujuan penelitian dan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi. Identitas informan dijaga kerahasiaannya dengan menggunakan kode pada proses analisis dan penyajian hasil.

Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang mencakup kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan [19]. Kondensasi data dilakukan dengan menyeleksi hasil wawancara, catatan observasi, dan dokumentasi yang sesuai dengan fokus penelitian. Data kemudian diberikan kode, dikelompokkan ke dalam tema penelitian, kemudian disajikan secara naratif dan dianalisis untuk mengidentifikasi pola serta hubungan antara pengelolaan sampah, kesadaran lingkungan, dan partisipasi masyarakat.

Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan pemeriksaan anggota dengan membandingkan informasi dari berbagai informan serta hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian mengonfirmasi temuan kepada informan utama. Peneliti juga menyimpan catatan proses penelitian sebagai jejak audit untuk memperkuat transparansi dan keterlacakan analisis. Hasil analisis selanjutnya digunakan untuk menyusun gambaran tata kelola dan model integratif ekowisata berbasis pengelolaan sampah di Udjo Ecoland.

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Tata Kelola Ekowisata Berbasis Pengelolaan Sampah di Udjo Ecoland

Tata kelola ekowisata berbasis pengelolaan sampah di Udjo Ecoland berada dalam tahap pengembangan yang diarahkan pada konsep wisata edukatif dan berwawasan lingkungan. Udjo Ecoland tidak hanya menjadi kawasan rekreasi, tetapi juga sarana pembelajaran ekologis yang mengintegrasikan budaya, edukasi, dan pelestarian lingkungan. Pengelolaan sampah menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) melalui pengurangan, pemanfaatan kembali, dan pemilahan sampah, yang didukung fasilitas, pengelolaan, serta keterlibatan berbagai pihak [10]. Hal ini ditegaskan oleh pihak pengelola Udjo Ecoland yang menjelaskan komitmen kawasan dalam menerapkan tata kelola lingkungan berbasis edukasi:

“Di Udjo Ecoland, kami berupaya mengintegrasikan edukasi budaya dan kelestarian lingkungan. Pengelolaan sampah di sini mengacu pada prinsip 3R, di mana kami memilah sampah organik dan anorganik, meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai, serta mengolah sebagian sampah organik menjadi kompos. Kami berharap kawasan ini bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran ekologis bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.”(Wawancara dengan Callis, 2025).

Penerapan pengelolaan sampah juga melibatkan pengelola, masyarakat lokal, dan pemangku kepentingan dalam kegiatan kebersihan, pemilahan sampah, perawatan lingkungan, serta edukasi kepada pengunjung. Kolaborasi tersebut menjadi kunci keberlanjutan pengelolaan lingkungan di kawasan wisata. Pendekatan berbasis pemangku kepentingan menjadi penting karena efektivitas pengelolaan sampah sangat dipengaruhi oleh koordinasi, pembagian peran, dan kesadaran bersama [7].

Penerapan tata kelola tersebut tidak hanya berdampak pada kebersihan dan keberlanjutan kawasan wisata, tetapi juga memengaruhi perilaku para pengunjung. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya difokuskan pada tingkat kesadaran wisatawan sebagai salah satu indikator keberhasilan implementasi pengelolaan sampah berbasis ekowisata.

B.Tingkat Kesadaran Wisatawan

Kesadaran lingkungan wisatawan menunjukkan tingkat yang beragam. Sebagian telah menerapkan perilaku bertanggung jawab, seperti menjaga kebersihan dan memanfaatkan fasilitas pengelolaan sampah, meskipun kepedulian tersebut cenderung menurun pada saat jumlah kunjungan meningkat.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa perilaku wisatawan dipengaruhi oleh persepsi terhadap kualitas pensigelolaan destinasi [11]. Selain itu, pemahaman mengenai konsep pariwisata berkelanjutan turut berperan dalam meningkatkan kesadaran lingkungan wisatawan [12].Persepsi positif terhadap ketersediaan fasilitas dan kebersihan kawasan diungkapkan oleh salah satu pengunjung:

“Area Udjo Ecoland terbilang bersih dan penataan fasilitas sampahnya cukup jelas, sehingga pengunjung terdorong untuk membuang sampah sesuai tempatnya. Ketika melihat kawasannya terawat, rasanya kita sebagai pengunjung juga merasa sungkan kalau mau membuang sampah sembarangan.”(wawancara dengan Rendy)

C.Partisipasi Wisatawan

Partisipasi wisatawan dalam pengelolaan lingkungan dipengaruhi oleh fasilitas, edukasi, dan program yang disediakan pengelola.

Temuan menunjukkan bahwa partisipasi tersebut dipengaruhi oleh kesadaran wisatawan, daya tarik destinasi, dan strategi komunikasi pengelola. Pemanfaatan media digital dan konten promosi yang mengedepankan nilai-nilai lingkungan terbukti mampu meningkatkan keterlibatan wisatawan [14]. Selain itu, daya tarik wisata yang dikemas secara edukatif juga dapat mendorong wisatawan untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan [15].

Dengan demikian, perpaduan edukasi dan pengalaman wisata yang menarik mampu meningkatkan partisipasi wisatawan.

D.Peran Ekowisata Berbasis Pengelolaan Sampah dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Masyarakat Lokal

Kesadaran lingkungan masyarakat ditingkatkan melalui ekowisata berbasis pengelolaan sampah di Udjo Ecoland. Masyarakat dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pengelolaan sampah. Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan melalui kebiasaan memilah sampah. Penggunaan plastik juga mulai dikurangi. Kebersihan lingkungan terus dijaga oleh masyarakat. Kepedulian terhadap lingkungan ikut dibentuk melalui kebiasaan mengelola sampah.

Partisipasi masyarakat yang berkelanjutan memperkuat kebiasaan menjaga kelestarian lingkungan, sehingga ekowisata berbasis pengelolaan sampah menjadi sarana edukasi yang mendorong perilaku peduli lingkungan. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman, ekowisata tidak hanya melibatkan masyarakat sebagai pengunjung, tetapi juga sebagai pelaku pelestarian lingkungan. Selain menjadi media edukasi, ekowisata mengintegrasikan konservasi, pendidikan, dan aktivitas wisata sehingga pesan keberlanjutan dapat tersampaikan secara efektif [5]. Masyarakat lokal kini tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan. Mereka juga menunjukkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Perubahan tersebut memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekowisata melalui pengelolaan sampah.

Masyarakat juga diberdayakan melalui ekowisata berbasis pengelolaan sampah. Mereka dilibatkan dalam menjaga kebersihan. Program lingkungan ikut didukung. Pengunjung juga diberi edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan. Keterlibatan tersebut menumbuhkan rasa memiliki terhadap destinasi serta memperkuat budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.

E.Model Integratif Ekowisata Berbasis Sampah

Berdasarkan hasil penelitian, model ekowisata berbasis pengelolaan sampah dikembangkan melalui kolaborasi pengelola, masyarakat, dan pemangku kepentingan yang mencakup pengelolaan sampah berbasis reduce, reuse, dan recycle (3R), edukasi wisatawan, serta partisipasi masyarakat melalui informasi, kampanye, dan pengalaman langsung.

Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberlanjutan model ini sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan [16]. Didukung kualitas pengelolaan destinasi yang baik, model ini dapat meningkatkan kepuasan wisatawan dan keberlanjutan kunjungan [20]. Dengan demikian, integrasi aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi menjadikan model ini sebagai strategi pengembangan destinasi yang berkelanjutan, edukatif, dan partisipatif.

KESIMPULAN

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah berbasis ekowisata di Udjo Ecoland mampu meningkatkan kesadaran masyarakat. Program ini juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif menjaga lingkungan. Pengelola menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) dalam kegiatan wisata. Pengelola juga menyediakan fasilitas pemilahan sampah dan memberikan edukasi lingkungan kepada pengunjung. Pengelola Udjo Ecoland mengembangkan model ekowisata berbasis pengelolaan sampah melalui kerja sama dengan masyarakat dan pemangku kepentingan. Model ini menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Pengelola memberikan edukasi kepada wisatawan tentang cara mengelola sampah. Masyarakat ikut berperan melalui penyampaian informasi dan kampanye lingkungan. Wisatawan juga memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan pengelolaan sampah.

Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberlanjutan model ini sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan [16]. Didukung kualitas pengelolaan destinasi yang baik, model ini dapat meningkatkan kepuasan wisatawan dan keberlanjutan kunjungan [20]. Dengan demikian, integrasi aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi menjadikan model ini sebagai strategi pengembangan destinasi yang berkelanjutan, edukatif, dan partisipatif. Selain itu, kontribusi utama penelitian ini terletak pada penegasan bahwa ekowisata berbasis pengelolaan sampah tidak hanya mendukung pengelolaan destinasi yang berkelanjutan, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam membangun kesadaran lingkungan masyarakat lokal melalui keterlibatan aktif dalam berbagai aktivitas pengelolaan lingkungan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang membantu dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada pengelola Saung Angklung Udjo dan Udjo Ecoland atas bantuan serta kesempatan yang diberikan selama proses pengumpulan data. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ekowisata berbasis pengelolaan sampah dan peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat.

References

Badan Pusat Statistik, “Statistik Wisatawan Nusantara 2024,” 2025. [Online]. Available: https://www.bps.go.id

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, “Peta Sebaran Jejaring Desa Wisata,” 2025. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id

I. P. D. A. Saputra, “Pentingnya Pariwisata Berkelanjutan dalam Menjaga Keseimbangan Lingkungan,” AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora, vol. 4, no. 2, pp. 207–217, 2024, doi: 10.37680/almikraj.v4i02.4613.

B. Sintia and Nurhayati, “Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan untuk Meningkatkan Daya Saing Destinasi Lokal,” Jurnal Dinamika Sosial dan Sains, vol. 2, no. 1, pp. 396–401, 2025, doi: 10.60145/jdss.v2i1.111.

T. Bela and E. Maryani, “Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Edukasi,” Jambura Journal of Educational Management, pp. 345–358, 2024, doi: 10.37411/jjem.v5i2.3114.

R. Aziz, Y. Dewilda, H. Khair, and M. Faklin, “Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Kawasan Wisata Pantai Kota Pariaman dengan Pendekatan Reduce-Reuse-Recycle,” Jurnal Serambi Engineering, vol. 5, no. 3, 2020.

J. I. Aritonang, R. S. Darwis, and M. B. Santoso, “Pengelolaan Sampah Berbasis Stakeholders di Daerah Pariwisata,” Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, vol. 7, no. 1, pp. 13–22, 2024, doi: 10.24198/focus.v7i1.55410.

I. A. P. Widiati and I. Permatasari, “Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism Development) Berbasis Lingkungan pada Fasilitas Penunjang Pariwisata di Kabupaten Badung,” Kertha Wicaksana, vol. 16, no. 1, pp. 35–44, 2022, doi: 10.22225/kw.16.1.2022.35-44.

Y. Ghani, “Pengembangan Sarana Prasarana Destinasi Pariwisata Berbasis Budaya di Jawa Barat,” Jurnal Pariwisata, 2017.

Y. A. Ghani, A. Astuti, P. R. Somantri, and S. Topiq, “Upaya-Upaya dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan di Objek Wisata Kampung Tulip,” Jurnal Khatulistiwa Informatika, vol. 1, no. 1, 2018.

H. K. Liestiandre, “Persepsi Wisatawan terhadap Kualitas Destinasi Pariwisata Bali,” Jurnal Kepariwisataan, vol. 20, no. 1, pp. 1–17, 2021, doi: 10.52352/jpar.v20i1.449.

W. Pramudya and S. Hidayat, “Persepsi Wisatawan terhadap Dampak Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul,” Indonesian Journal of Tourism Business and Entrepreneurship, vol. 1, no. 1, pp. 55–70, 2024.

A. Oktavianita and L. Warlina, “Persepsi dan Preferensi Pengunjung tentang Objek Wisata Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi,” Jurnal Wilayah dan Kota, vol. 6, no. 1, pp. 35–44, 2020, doi: 10.34010/jwk.v7i01.4748.

S. D. Hanifah and Y. A. Ghani, “Pengaruh Konten Instagram Wisata Budaya terhadap Minat Berkunjung Wisatawan Generasi Z di Kota Bandung,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 5, no. 4, pp. 3611–3622, 2025, doi: 10.31004/innovative.v5i4.20360.

M. A. Rajab, “Daya Tarik Wisata terhadap Kepuasan Wisatawan Objek Wisata Benteng Rotterdam Kota Makassar,” Pringgitan, vol. 1, no. 2, 2020, doi: 10.47256/prg.v1i2.112.

A. M. Rana, R. A. Kinseng, and M. Siwi, “Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Desa Wisata,” Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, vol. 7, no. 1, pp. 186–198, 2023, doi: 10.29244/jskpm.v7i1.1126.

M. Sandelowski, “Whatever Happened to Qualitative Description?,” Research in Nursing & Health, vol. 23, no. 4, pp. 334–340, 2000, doi: 10.1002/1098-240X(200008)23:4<334::AID-NUR9>3.0.CO;2-G.

J. W. Creswell and C. N. Poth, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2018.

M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2014.

I. N. Sudiarta, P. E. Wirawan, I. N. G. Astina, and I. G. A. M. Dewi, “Kualitas Layanan dan Destinasi Wisata terhadap Kepuasan Wisatawan untuk Mengunjungi Kembali Desa Wisata,” Journal of Management and Business (JOMB), vol. 4, no. 1, pp. 508–526, 2022, doi: 10.31539/jomb.v4i1.3704.