Gagus Wertika Yasa (1), Masduki Zakarijah (2)
General Background Digital transformation fundamentally shifts educational paradigms, requiring educators to adopt interactive visual learning platforms. Specific Background Yayasan Insan Mandiri Denpasar mandates specific design software for 178 educators across Lombok and Sumbawa, yet adoption remains inconsistent despite institutional directives. Knowledge Gap Traditional technology adoption frameworks fail to adequately explain educational software integration because they overlook how technical features align with pedagogical demands. Aims This study evaluates platform acceptance among educators using a modified theoretical framework incorporating compatibility with instructional requirements. Results Partial Least Squares Structural Equation Modeling reveals that perceived usefulness and compatibility with instructional requirements positively determine behavioral intention. Conversely, perceived ease of operation lacks a direct relationship with intention, operating solely as an indirect determinant through instructional compatibility. Novelty This research isolates pedagogical compatibility as a crucial mediating variable that bridges the gap between operational simplicity and sustained technological integration. Implications Educational institutions must design training programs that prioritize pedagogical integration and practical utility over basic technical navigation.
Highlights
Perceived usefulness and instructional compatibility directly dictate the behavioral intention of educators to adopt digital platforms.
Perceived ease of operation does not directly govern the behavioral intention for instructional purposes.
Instructional compatibility successfully mediates the relationship between operational simplicity, perceived utility, and sustained software integration.
Keywords
Partial Least Squares; Instructional Needs Compatibility; Behavioral Intention; Educational Software Adoption; Structural Equation Modeling
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah paradigma pendidikan secara mendasar, menuntut para pendidik untuk mengadopsi inovasi media pembelajaran yang lebih interaktif dan visual [1]. Menurut (Sindi et al., 2023) Integrasi teknologi dalam pembelajaran telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, menghadirkan baik tantangan maupun potensi yang tidak dapat diabaikan [2]. Teknologi digital telah merevolusi akses pendidikan, memberikan fleksibilitas yang tak tertandingi karena memungkinkan peserta didik untuk belajar kapan saja dan dari lokasi mana pun [3]. Meskipun teknologi menawarkan potensi besar untuk meningkatkan proses pembelajaran, perlu ada upaya untuk mengatasi hambatan yang ada demi memastikan efektivitas penggunaannya [4]. Media tradisional kini dirasa kurang relevan dalam menjembatani kesenjangan antara materi ajar yang statis dan kebutuhan peserta didik di era digital yang mengharapkan konten dinamis dan menarik. Tuntutan ini menjadi pendorong utama bagi guru untuk mengeksplorasi dan mengintegrasikan berbagai platform digital [5].
Salah satu platform digital yang kian populer dan menunjukkan potensi besar dalam ranah pendidikan adalah Canva [6]. Menurut (Saraswati et al., 2025) Aplikasi desain grafis berbasis cloud ini menawarkan kemudahan dalam pembuatan presentasi, infografis, modul, dan materi visual lainnya tanpa memerlukan keahlian desain tingkat tinggi [7]. Sedangkan menurut (Setianto & Yulia, 2022) Canva merupakan perangkat lunak desain yang digunakan secara online untuk berbagai macam grafis seperti presentasi, resume, poster, pamflet, brosur, grafik, infografis, spanduk, penanda buku, bulletin, dan lain sebagainya [8]. Di tahun 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) meluncurkan Akun Pembelajaran dengan domain belajar.id. Akun elektronik tersebut dapat digunakan oleh peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan untuk mengakses layanan pembelajaran berbasis elektronik. Fitur Canva for Education memperkuat peran Canva sebagai media pembelajaran visual [9]. Namun, pemanfaatannya oleh pendidik masih belum optimal dan konsisten dalam praktik pembelajaran. Menurut (Delvia et al., 2025) Fenomena ini menunjukkan adanya hambatan atau faktor-faktor penentu yang memengaruhi keputusan guru untuk secara berkelanjutan menggunakan platform ini [10].
Yayasan Insan Mandiri Denpasar adalah institusi yang berfokus pada layanan pendidikan dengan jangkauan operasional di dua provinsi utama yaitu Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara spesifik di NTB, Yayasan ini mengelola 13 unit sekolah yang tersebar di wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa. Dengan didukung oleh total 249 guru dan karyawan, Sebagai bagian dari upaya transformasi digital di lingkungan pendidikan, yayasan memprioritaskan pengembangan pembelajaran berbasis teknologi dengan mendorong seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan untuk memanfaatkan Canva sebagai platform utama dalam mendesain berbagai media pembelajaran maupun media promosi sekolah. Penggunaan Canva tersebut mencakup pembuatan spanduk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), brosur, poster, infografis, bahan presentasi, serta berbagai media pembelajaran lainnya. Untuk memperoleh gambaran mengenai implementasi kebijakan tersebut, peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan guru yang berasal dari beberapa unit sekolah di bawah naungan Yayasan Insan Mandiri Denpasar cabang Lombok dan Sumbawa serta Sekretaris Yayasan. Berdasarkan hasil observasi awal, diketahui bahwa implementasi penggunaan Canva belum berjalan secara optimal. Sebagian guru masih lebih nyaman menggunakan Microsoft PowerPoint karena telah terbiasa menggunakannya dalam proses pembelajaran. Selain itu, beberapa guru mengaku belum memahami seluruh fitur Canva sehingga pemanfaatannya masih terbatas pada penggunaan template sederhana dan belum memanfaatkan berbagai fitur Canva secara maksimal. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa meskipun yayasan telah mendorong penggunaan Canva sebagai platform utama dalam mendukung proses pembelajaran, tingkat penerimaan dan pemanfaatannya oleh guru masih bervariasi. Hingga saat ini, pihak yayasan belum memiliki data empiris mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan penggunaan Canva maupun jenis kesulitan yang dihadapi guru dalam mengoperasikan platform tersebut. Kondisi ini menegaskan pentingnya mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan Canva sebagai dasar penyusunan strategi pelatihan bagi guru.
Selain persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan, penerimaan Canva juga dipengaruhi oleh Compatibility with Teaching Needs (CTN), yaitu tingkat kesesuaian teknologi dengan kebutuhan dan praktik pembelajaran guru. Suatu teknologi akan lebih mudah diterima apabila mampu berintegrasi dengan kebutuhan nyata pengguna dalam melaksanakan pekerjaannya [11]. Dalam konteks pendidikan, kesesuaian tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemudahan penggunaan aplikasi, tetapi juga mencakup kemampuan teknologi dalam mendukung strategi pembelajaran, penyusunan materi ajar, pencapaian tujuan pembelajaran, serta karakteristik peserta didik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini Compatibility with Teaching Needs dipertimbangkan sebagai variabel yang berpotensi memengaruhi niat guru dalam menggunakan Canva sebagai platform desain media pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal dan kajian teori, penelitian ini memandang bahwa penerimaan penggunaan Canva oleh guru tidak hanya dipengaruhi oleh persepsi mengenai manfaat (Perceived Usefulness) dan kemudahan penggunaan (Perceived Ease of Use), tetapi juga oleh tingkat kesesuaian Canva dengan kebutuhan pengajaran (Compatibility with Teaching Needs). Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) yang dimodifikasi dengan menambahkan variabel Compatibility with Teaching Needs untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi Behavioral Intention to Use Canva sebagai platform desain media pembelajaran, sehingga dapat memberikan dasar empiris bagi Yayasan Insan Mandiri Denpasar dalam merancang strategi pelatihan dan pendampingan penggunaan Canva yang lebih efektif.
Untuk menganalisis faktor-faktor penentu ini, penelitian ini berakar pada Technology Acceptance Model (TAM), yang merupakan kerangka teoretis paling dominan dalam memprediksi penerimaan dan penggunaan teknologi. Menurut (Daulay et al., 2025) Technology Acceptance Model (TAM) adalah salah satu kerangka kerja teoritis yang paling sering dan luas digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu mengadopsi atau menerima penggunaan suatu teknologi baru [12]. Menurut (Davis, 1989) Model ini secara fundamental mengidentifikasi dua konstruk utama yang memengaruhi niat perilaku pengguna (Behavioral Intention to Use) yaitu Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use [13]. Perceived Usefulness merujuk pada keyakinan guru bahwa menggunakan Canva akan meningkatkan efektivitas dan kinerja pengajaran mereka, misalnya dalam membuat materi lebih mudah dipahami atau meningkatkan keterlibatan siswa. Jika guru tidak merasakan manfaat nyata, niat untuk menggunakan Canva, seberapa pun mudahnya, akan menurun. Pemanfaatan Sistem Informasi, sebagaimana dijelaskan oleh Technology Acceptance Model (TAM), sangatlah penting karena tak hanya meningkatkan kinerja baik bagi individu maupun organisasi, melainkan juga secara signifikan memudahkan penyelesaian berbagai tugas yang ada [14].
Pada dunia pendidikan, Perceived Usefulness diartikan sebagai persepsi guru mengenai sejauh mana penggunaan Canva memberikan manfaat dalam mendukung penyusunan dan penyajian media pembelajaran serta mempermudah pelaksanaan tugas mengajar. Di sisi lain, Perceived Ease of Use menggambarkan sejauh mana guru percaya bahwa menggunakan Canva tidak akan memerlukan upaya yang besar atau sulit dipelajari. Pada pembelajaran digital yang melibatkan siswa Generasi Z, variabel Perceived Usefulness atau Kemudahan yang Dirasakan, terlihat memiliki peran yang lebih kuat dan dominan dalam membentuk niat penggunaan teknologi tersebut dibandingkan dengan variabel Perceived Ease of Use atau Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan [15]. Hal ini menunjukkan bahwa bagi siswa saat ini, nilai manfaat praktis dan efektivitas teknologi dalam membantu proses belajar adalah faktor pendorong utama. Bagi pendidik yang memiliki literasi digital yang beragam, kemudahan antarmuka dan proses penggunaan yang intuitif menjadi faktor-faktor kunci [16]. Tingkat Perceived Ease of Use yang tinggi seringkali menjadi gerbang awal adopsi teknologi.
Studi-studi terdahulu pada TAM konsisten menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara Perceived Ease of Use dan Perceived Usefulness. Teknologi yang mudah digunakan cenderung dipersepsikan lebih bermanfaat karena mengurangi hambatan penggunaan dan memudahkan pencapaian tujuan. Dalam konteks Canva, antarmuka yang sederhana mendukung pembuatan media pembelajaran secara lebih efektif. Hubungan antara Perceived Usefulness (PU) dan Perceived Ease of Use (PEOU) bertujuan menjelaskan Behavioral Intention to Use (BI), yaitu niat guru menggunakan Canva secara berkelanjutan. Namun model TAM dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan faktor kontekstual, sehingga dalam pendidikan penerimaan teknologi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran.
Penelitian-penelitian sebelumnya banyak menguji TAM pada berbagai teknologi, termasuk aplikasi desain dan e-learning, namun urgensi pada penelitian ini terletak pada implikasi praktisnya bagi lembaga pendidikan. Dengan memahami bagaimana Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use, dan Compatibility with Teaching Needs berinteraksi dan memengaruhi niat guru dan pihak sekolah agar dapat merancang program pelatihan dan kebijakan adopsi teknologi yang lebih terarah dan berkelanjutan. Fokus tidak hanya pada pelatihan teknis Perceived Ease of Use atau menunjukkan manfaat umum Perceived Usefulness, tetapi juga pada seorang pendidik Guru menggabungkan penggunaan teknologi dengan prinsip-prinsip, strategi, dan tujuan pengajaran yang efektif dan bermakna dari Compatibility with Teaching Needs.
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan ex post facto adalah jenis penelitian non-eksperimental di mana peneliti menyelidiki hubungan sebab-akibat yang mungkin terjadi setelah peristiwa (variabel bebas atau sebab) sudah terjadi secara alami.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Adapun jumlah populasi data guru disetiap unit sekolah yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah sebanyak 178 guru.
2. Sampel
Penelitian ini menggunakan pendekatan sensus atau sampel jenuh, di mana seluruh anggota populasi dijadikan responden. Jumlah sampel dalam penelitian ini Adalah 178 guru.
C. Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Unit Sekolah Yayasan Insan Mandiri Denpasar. Waktu pelaksanaan penelitian direncanakan berlangsung selama periode tiga bulan, terhitung sejak awal proses perizinan dan pengumpulan data hingga selesainya analisis lapangan yaitu pada bulan Agustus-Oktober 2025.
D. Sumber Data
1. Data Primer
Pengumpulan data ini akan dilakukan melalui instrumen penelitian, yakni kuesioner (survei), yang dirancang secara kuantitatif dengan menggunakan skala pengukuran seperti Skala Likert.
2. Data Sekunder
Sumber utama data sekunder dalam penelitian ini adalah literatur akademik, meliputi buku, tesis, dan jurnal ilmiah yang membahas secara mendalam kerangka Technology Acceptance Model (TAM) beserta variabel turunannya (Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use), konsep niat perilaku, serta studi yang relevan mengenai peran Compatibility dalam adopsi teknologi pendidikan.
E. Teknik Dan Instrument Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
a. Kuisioner
Teknik pengumpulan data melalui kuesioner dalam penelitian ini memanfaatkan Skala Likert untuk mengukur sikap, persepsi, atau intensi responden secara terstruktur, khususnya pada variabel-variabel terkait penggunaan Canva.
b. Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dokumentasi adalah metode yang digunakan peneliti untuk memperoleh informasi melalui sumber-sumber tertulis, arsip, atau rekaman yang telah ada dan tersedia.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merujuk pada alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan secara sistematis dan terukur guna menjawab pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis. Pada penelitian kuantitatif, instrumen utama yang sering digunakan adalah kuesioner (angket), yang dirancang untuk mengukur variabel-variabel yang sedang diteli, dengan menggunakan Skala Likert.
F. Analisis Data
1. Analisis Statistik Deskriptif
Analysis statistik deskriptif adalah dipakai untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau mengambarkan data yang telah dikumpulkan dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiono, 2015).
2. Analisis PLS-SEM
Analisis Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) adalah metode statistik multivariat yang digunakan untuk menguji model hubungan yang kompleks antar variabel.
a. Outer Model (Uji Indikator)
Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) berfungsi untuk menentukan seberapa baik variabel-variabel indikator yang digunakan dapat merefleksikan atau mewakili variabel laten yang sedang diukur (Gendro, 2011).
1) Convergent Validity
Validitas konvergen dapat dievaluasi dengan meninjau nilai loading factor untuk setiap indikator yang mewakili variabel laten.
2) Discriminant Validity
Validitas Diskriminan memastikan bahwa setiap konstruk dalam model kita benar-benar unik dan berbeda dari yang lain.
3) Average Variance Extracted (AVE)
Average Variance Extracted (AVE) merupakan ukuran dalam analisis PLS-SEM yang digunakan untuk mengevaluasi validitas konvergen suatu konstruk atau variabel laten.
4) Composite Reliability (CR)
Composite Reliability (CR) merupakan ukuran realiabilitas konstruk yang menilai konsistensi internal variabel laten dengan mempertimbangkan nilai loading factor setiap indikator.
b. Goodness of Fit Index (GFI)
Goodness of Fit Index (GFI) digunakan untuk menilai tingkat kesesuaian model dalam merepresentasikan matriks kovarians dari data yang diamati.
c. Inner Model (Uji Hipotesis)
Inner Model pada analisis PLS-SEM digunakan untuk mengevaluasi kemampuan prediksi model serta menguji signifikansi hubungan antar variabel laten yang dihipotesiskan.
d. R2 (R-Square)
Nilai R-Square (R2) adalah alat ukur statistik yang berfungsi untuk menentukan tingkat variasi perubahan pada variabel laten endogen yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel laten eksogen (prediktor) tertentu dalam model struktural.
e. Q2 (Predictive Relevance)
Q2 (Predictive Relevance) pada analisis PLS-SEM adalah ukuran kemampuan model struktural untuk memprediksi secara akurat data yang diamati (indikator) dari variabel laten endogen (terikat).
f. Uji Hipotesis (Path Coefficient)
Pada analisis PLS-SEM, Uji Hipotesis dilakukan pada Model Struktural (Inner Model) untuk menentukan signifikansi dan arah hubungan kausal antar variabel laten (konstruk) yang telah ditetapkan (Gendro, 2011).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisis PLS-SEM
Pada penelitian ini menggunakan analisis Structural Equation Modeling -Partial Least Squares (PLS-SEM) dengan SmartPLS adalah metode statistik yang sangat berguna untuk menguji hubungan yang kompleks antara variabel laten (konstruk) yang tidak dapat diukur secara langsung. Pertama, Model Pengukuran (apakah indikator yang kita gunakan benar-benar mewakili konstruk yang dimaksud? ini adalah analisis validitas dan reliabilitas); dan kedua, Model Struktural (apakah hipotesis hubungan sebab-akibat antar-konstruk.
a. Model Pengukuran (Outer Model)
Gambar 1 Model Pengukuran (Outer Model)
Sumber: Hasil Analisis Data SmartPLS3 (2025)
Validitas konvergen dapat dievaluasi dengan meninjau nilai loading factor untuk setiap indikator yang mewakili variabel laten. Berdasarkan pedoman umum, nilai loading factor yang berada di rentang 0,5 hingga 0,6 sudah dianggap memadai (cukup kuat), sementara nilai >0,7 menunjukkan kekuatan hubungan yang tinggi antara indikator dan konstruknya (Gendro, 2011).
Tabel 1 Outer Loading
Berdasarkan tabel Outer Loading menunjukkan hasil pengujian Validitas Konvergen untuk semua variabel penelitian Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, Compatibility with Teaching Needs, dan Behavioral Intention to Use, yang menjadi bagian penting dari evaluasi Model Pengukuran PLS-SEM. Untuk sebuah indikator dikatakan valid, nilai Loading Factor idealnya harus berada di atas 0,7. Berdasarkan tabel, seluruh indikator memiliki loading faktor sebesar 0,818-0,924 sehingga dinyatakan valid. Nilai AVE pada setiap konstruk juga melebihi 0,50 (PU = 0,776; PEU = 0,759; CTN = 0,805; BIS = 0,811), yang menunjukkan bahwa seluruh konstruk telah memenuhi validitas konvergen dan layak digunakan dalam analisis.
Validitas Diskriminan memastikan bahwa setiap konstruk dalam model kita benar-benar unik dan berbeda dari yang lain. Untuk mengujinya, kita bisa melihat dua metode utama. yang pertama adalah Fornell-Larcker Criterion, di mana nilai akar kuadrat dari Average Variance Extracted (AVE) suatu variabel harus lebih besar dibandingkan semua nilai korelasi variabel tersebut dengan variabel lainnya dalam model. Kemudian, ada metode yang lebih modern dan sangat disarankan, yaitu Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT). Dengan metode HTMT, validitas terpenuhi jika semua nilai HTMT berada di bawah 0,90 (atau di bawah 0,85 untuk kriteria yang lebih ketat), yang menunjukkan adanya perbedaan yang jelas dan meyakinkan antar-konstruk.
Tabel 2 Fornell-Larcker Criterion
Berdasarkan hasil uji validitas diskriminan menggunakan metode Fornell-Larcker Criterion pada Tabel 2, terlihat bahwa seluruh variabel penelitian memiliki nilai akar kuadrat dari Average Variance Extracted (AVE) yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai korelasi antar variabel lainnya dalam model. Hal ini ditunjukkan oleh nilai pada garis diagonal (angka yang dicetak tebal atau berada di ujung kolom) yang secara konsisten lebih besar daripada angka-angka di bawahnya, seperti nilai Perceived Usefulness (0,981) yang mengungguli korelasi lainnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap konstruk memiliki identitas unik dan memenuhi syarat validitas diskriminan yang ketat.
3) Uji Reliabilitas Konstruk
Reliabilitas Konstruk bertujuan memastikan bahwa indikator-indikator pada sebuah variabel laten konsisten saat digunakan untuk mengukur fenomena yang sama, dan ini dievaluasi melalui dua indikator utama. Indikator yang paling diutamakan dalam PLS-SEM adalah Composite Reliability (CR), yang nilainya harus berada di atas 0,70 , sebab CR dianggap lebih akurat dalam mengestimasi konsistensi internal. Selain itu, Cronbach’s Alpha (CA) juga digunakan sebagai pelengkap dan standarnya juga harus lebih besar dari 0,70. Jika kedua kriteria ini terpenuhi, kita dapat menyimpulkan bahwa instrumen penelitian (kuesioner) yang digunakan untuk mengukur setiap variabel laten dalam model Anda memiliki konsistensi internal yang baik dan handal.
Tabel 3 Reliabilitas Konstruk
Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai Composite Reliability (CR) dan Cronbach’s Alpha (CA) Untuk semua variabel Behavioral Intention to Use, Compatibility With Teaching Needs, Perceived Ease Of Use, dan Perceived Usefulness berada pada level yang sangat tinggi, berkisar antara 0,965 hingga 0,976. Dengan kriteria penerimaan yang mengharuskan kedua nilai ini berada di atas 0,70. Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki reliabilitas yang tinggi dan konsisten sehingga layak digunakan.
b. Uji Kelayakan Model (Model Fit)
Uji model fit pada SEM-PLS dilakukan untuk menilai kesesuaian model teoritis dengan data empiris. Evaluasi ini menggunakan indikator SRMR, NFI, dan Chi-Square guna memastikan model mampu merepresentasikan hubungan antar variabel secara memadai.
Tabel 4 Goodness of Fit Index (GFI)
Berdasarkan hasil pengujian model penelitian ini dinyatakan memiliki tingkat kecocokan yang baik (Fit) karena seluruh parameter telah memenuhi kriteria nilai cut-off yang ditentukan. Hal ini dibuktikan dengan nilai SRMR sebesar 0,036 yang berada di bawah ambang batas 0,08, serta nilai NFI sebesar 0,926 yang telah melampaui standar minimal 0,90, mengindikasikan bahwa model memiliki tingkat validitas yang tinggi dalam menjelaskan data. Selain itu, nilai d_ULS dan d_G yang berada dalam rentang benchmarking memperkuat kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara matriks kovarians sampel dan matriks kovarians yang diprediksi oleh model, sehingga model layak digunakan untuk analisis lebih lanjut.
c. Model Struktural (Inner Model)
Model Struktural (Inner Model) adalah bagian dari analisis Structural Equation Modeling (SEM) yang menunjukkan hubungan kausal antara coefficient). Model ini mengevaluasi hubungan antara variabel independen dan dependen.
Gambar 2 Model Struktural (Inner Model)
1) R-Square
Nilai Coefficient Determination (R-Square) digunakan untuk mengukur pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Menurut Chin. nilai R2 dapat dikategorikan jika nilainya Tinggi ≥ 0.67. Sedang 0.33-0.67. dan Lemah 0.19-0.33. Hasil analisis menggunakan SmartPLS 3.0 menunjukkan nilai R Square sebagai berikut:
Tabel 5 R-Square
Hasil analisis menggunakan SmartPLS menunjukkan bahwa nilai R2 untuk variabel Behavioral Intention to Use sebesar 0,908, sedangkan Compatibility With Teaching Needs sebesar 0,862. Kedua nilai ini berada dalam kategori Tinggi atau Kuat, yang mengindikasikan bahwa variabel-variabel eksogen (independen) dalam model mampu menjelaskan variasi pada kedua variabel endogen (dependen) tersebut dengan tingkat yang sangat kuat.
2) Q2 (Predictive Relevance)
Nilai Q2 (Predictive Relevance) digunakan untuk menilai kemampuan model PLS-SEM dalam memprediksi konstruk endogen. Nilai ini diperoleh melalui prosedur Blindfolding pada SmartPLS, dengan kriteria Q2 > 0 yang menunjukkan model memiliki relevansi atau kemampuan prediktif, sedangkan nilai Q2 ≤ 0 mengindikasikan kemampuan prediksi yang kurang baik.
Tabel 6 Nilai Q2 (Predictive Relevance)
Berdasarkan hasil pengujian relevansi prediktif Q2 dilakukan menggunakan prosedur Blindfolding dalam SmartPLS untuk menilai kemampuan model struktural memprediksi data yang relevan terhadap konstruk endogen. Berdasarkan hasil analisis, nilai Q2 untuk variabel Behavioral Intention to Use adalah 0,725 dan untuk Compatibility With Teaching Needs adalah 0,681. Karena kedua nilai Q2 ini positif (lebih besar dari nol), dapat disimpulkan bahwa model penelitian ini memiliki relevansi prediktif yang kuat, artinya variabel-variabel eksogen dalam model mampu memprediksi dan menjelaskan observasi pada variabel endogen dengan baik.
3) Uji Hipotesis (Path Coefficient)
Uji hipotesis pada PLS-SEM yang dioperasikan melalui SmartPLS dilakukan dengan metode Bootstrapping, sebuah teknik resampling non-parametrik yang bertujuan untuk menilai stabilitas dan signifikansi statistik dari koefisien jalur dalam model struktural. Proses ini menghasilkan nilai T-statistik dan p-value untuk setiap hubungan antar variabel. Hipotesis penelitian dinyatakan diterima apabila nilai T-statistik yang dihasilkan lebih besar dari nilai kritis (1,96 untuk alpha =0,05 dua sisi) atau secara ekuivalen, jika p-value yang diperoleh lebih kecil dari 0,05. Kepatuhan terhadap kriteria ini menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik, antar konstruk yang dihipotesiskan.
Tabel 7 Path Coefficient
Hasil bootstrapping menunjukkan bahwa Perceived Usefulness berpengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use (β = 0,287; t = 3,918; p = 0,000) serta Compatibility With Teaching Needs (β = 0,403; t = 6,016; p = 0,000). Perceived Ease of Use tidak berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention to Use (β = 0,125; t = 1,618; p = 0,106), tetapi berpengaruh positif terhadap Compatibility With Teaching Needs (β = 0,558; t = 8,247; p = 0,000). Selanjutnya, Compatibility With Teaching Needs juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use (β = 0,572; t = 6,495; p = 0,000).
Tabel 8 Total Indirect Effects
Tabel 8 menampilkan hasil analisis efek tidak langsung total (total indirect effects), yang melibatkan pengaruh variabel Perceived Ease of Use (kemudahan yang dirasakan) dan Perceived Usefulness (kegunaan yang dirasakan) terhadap Behavioral Intention to Use (niat perilaku untuk menggunakan). Berdasarkan data tersebut, kedua hubungan variabel memiliki nilai signifikansi yang sangat kuat. Hal ini dibuktikan oleh nilai P-Values sebesar 0,000 (jauh di bawah ambang batas standard α = 0,05) dan didukung oleh nilai T-Statistics yang tinggi, yaitu masing-masing sebesar 5,173 dan 4,272, di mana keduanya melampaui nilai kritis tabel t sebesar 1,96.
Secara spesifik, variabel Perceived Ease of Use memiliki pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use dengan nilai estimasi Original Sample (O) sebesar 0,319. Sementara itu, variabel Perceived Usefulness juga menunjukkan pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan sebesar 0,230 terhadap variabel terikat yang sama. Hasil ini mengindikasikan bahwa kedua variabel independen tersebut mampu meningkatkan niat pengguna untuk mengadopsi suatu sistem secara tidak langsung melalui variabel mediator yang ada dalam model penelitian.
Tabel 9 Tabel Specific Indirect Effects
Tabel 9 menyajikan hasil specific indirect effects untuk mengevaluasi peran mediasi Compatibility With Teaching Needs. Pada jalur Perceived Ease of Use terhadap Behavioral Intention to Use melalui Compatibility With Teaching Needs, diperoleh nilai Original Sample (O) sebesar 0,319, yang menunjukkan arah pengaruh positif. Jalur tidak langsung ini dinyatakan signifikan secara statistik karena memiliki nilai T-Statistics sebesar 5,173 (lebih besar dari t-tabel 1,96) dan P-Values sebesar 0,000 (di bawah batas signifikansi 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan yang dirasakan guru dapat meningkatkan niat mereka untuk menggunakan teknologi secara tidak langsung melalui peningkatan keselarasan teknologi tersebut dengan kebutuhan mengajar mereka.
Pada jalur kedua, hasil analisis menunjukkan bahwa Compatibility With Teaching Needs juga berhasil memediasi hubungan antara Perceived Usefulness dan Behavioral Intention to Use. Pengaruh tidak langsung ini memiliki nilai Original Sample sebesar 0,230 yang bernilai positif, dengan nilai T-Statistics sebesar 4,272 dan P-Values sebesar 0,000. Karena nilai T-statistik berada di atas 1,96 dan P-value lebih kecil dari 0,05, maka efek mediasi pada jalur ini terbukti signifikan secara statistik. Secara keseluruhan, kedua hasil ini menegaskan bahwa kesesuaian teknologi dengan kebutuhan mengajar merupakan variabel mediator yang krusial dalam menjembatani persepsi kemudahan dan kemanfaatan teknologi terhadap niat guru untuk menggunakannya.
B. Pembahasan
1. Pengaruh Perceived Usefulness terhadap Behavioral Intention to Use
Bersadasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa Perceived Usefulness (PU) memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam mendorong Behavioral Intention to Use (BI) pada Canva sebagai platform desain media pembelajaran. Persepsi kegunaan menjadi faktor utama yang mendorong niat menggunakan Canva. Semakin besar manfaat yang dirasakan semakin tinggi niat penggunaannya. Temuan ini didukung oleh mayoritas responden yang merupakan guru perempuan (66,85%), berpendidikan S1 (95,50%), dan berpengalaman mengajar lebih dari 10 tahun (52,25%). Dengan tanggung jawab profesional yang tinggi, kelompok ini cenderung membutuhkan media pembelajaran yang efisien dan mendukung pelaksanaan tugas mengajar. Hal ini mengindikasikan bahwa ketika pengguna merasa suatu teknologi memberikan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, atau mempermudah pekerjaan mereka, maka keinginan atau niat untuk mengadopsi teknologi tersebut akan semakin kuat.
Menurut (Davis, 1989) kemanfaatan adalah tingkat kepercayaan sesorang bahwa penggunaan sebuah system khusus akan meningkatkan performa pekerjaan [13]. Semakin tinggi manfaat fungsional yang dirasakan oleh individu, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk berkomitmen menggunakan sistem tersebut dalam aktivitas sehari-hari [17]. Secara teoretis, hubungan ini berakar pada Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh (Davis, 1989), di mana kegunaan yang dirasakan merupakan faktor utama yang secara langsung memengaruhi niat pengguna [13]. Pada kerangka (TAM) manusia cenderung bertindak berdasarkan evaluasi kognitif terhadap keuntungan yang akan diperoleh, jika suatu alat dianggap mampu meningkatkan kinerja, maka secara otomatis akan terbentuk sikap positif yang berujung pada niat penggunaan yang kuat [18]. Teori ini memposisikan persepsi kegunaan sebagai pendorong motivasi atau dorongan dari luar yang melandasi keputusan seseorang dalam menerima inovasi terhadap teknologi baru.
Selain itu, karakteristik responden yang mayoritas berusia di atas 37 tahun (51,12%) menunjukkan bahwa meskipun mereka bukan termasuk generasi digital native, mereka memiliki kemauan kuat untuk mengadopsi teknologi asalkan teknologi tersebut terbukti meningkatkan performa kerja (high usefulness). Pengalaman menggunakan Canva yang sebagian besar berada pada rentang 1-5 tahun (70,23%) mengindikasikan bahwa responden telah melewati masa adaptasi awal dan mulai merasakan manfaat fungsional aplikasi ini dalam aktivitas mengajar sehari-hari. Kemudian, pada analisis deskriptif variabel Perceived Usefulness menunjukkan skor tertinggi pada butir pernyataan “Canva mempercepat proses saya dalam membuat materi presentasi atau visual pembelajaran yang menarik” dengan nilai rata-rata (mean) sebesar (4,59). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden merasakan manfaat praktis yang sangat nyata dari penggunaan Canva, terutama dalam aspek efisiensi waktu. Tingginya nilai rata-rata pada poin ini menandakan bahwa akselerasi kerja merupakan keunggulan utama yang dirasakan pengguna, di mana kemudahan fitur dan ketersediaan template dalam aplikasi tersebut secara efektif memangkas durasi pembuatan konten visual dibandingkan metode konvensional. Secara psikologis, ketika hambatan teknis berkurang dan hasil kerja meningkat secara instan, pengguna akan mempersepsikan teknologi tersebut sebagai alat yang sangat berguna (high usefulness), yang pada akhirnya menjadi pendorong utama munculnya niat kuat untuk terus menggunakan aplikasi tersebut dalam jangka panjang.
Temuan ini selaras dengan beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Setyawati, 2022; Aditya & Wardhana, 2016; Setyawati, 2020; Sinaga et al., 2021; Nursiah & Usefulness, 2017) yang secara konsisten menempatkan persepsi kegunaan sebagai faktor paling dominan dalam memprediksi perilaku pengguna [19][17][20][21][22]. Konsistensi hasil ini memperkuat validitas bahwa kegunaan praktis tetap menjadi standar utama bagi pengguna sebelum memutuskan untuk menginvestasikan waktu dan tenaga pada suatu platform. Dengan demikian, hasil penelitian ini mendukung literatur sebelumnya yang menyatakan bahwa tanpa adanya manfaat yang jelas dan relevan bagi kebutuhan pengguna, inovasi teknologi akan sulit untuk mencapai tingkat adopsi yang luas di masyarakat.
2. Perceived Ease Of Use terhadap Behavioral Intention to Use
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Ease of Use (PEOU) tidak berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention to Use (BI) Canva. Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan hanya dianggap sebagai syarat dasar, sedangkan niat menggunakan lebih dipengaruhi oleh manfaat yang dirasakan. Temuan ini didukung oleh karakteristik responden yang mayoritas berusia di atas 37 tahun (51,12%), memiliki pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun (52,25%), serta telah menggunakan Canva selama 1-5 tahun (70,23%). Profil ini mengindikasikan bahwa responden adalah pengguna yang sudah matang dan memiliki literasi digital yang cukup baik, sehingga bagi mereka, antarmuka Canva yang sederhana bukan lagi dianggap sebagai nilai tambah yang istimewa, melainkan sebuah standar dasar yang wajib ada.
Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat kemudahan dalam mengoperasikan sebuah platform tidak serta-merta menjadi penentu utama yang mendorong seseorang untuk menggunakannya. Sebagai tenaga pendidik dengan latar belakang pendidikan mayoritas S1 (95,50%), fokus utama mereka telah bergeser dari sekadar "kemudahan proses" menuju "kualitas dan fungsionalitas hasil", di mana niat untuk terus menggunakan teknologi lebih didorong oleh seberapa efektif alat tersebut membantu mereka mencapai kompetensi kurikulum dan efisiensi waktu mengajar dibandingkan sekadar kemudahan operasionalnya. Menurut (Nursiah, 2017) Perceived Ease Of Use adalah tingkatan kepercayaan seseorang bahwa menggunakan sebuah teknologi akan terbebas dari namanya usaha [22]. Bagi para responden pada penelitian ini, meskipun sebuah sistem sangat mudah dipelajari atau dijalankan, hal tersebut tidak menjadi motivasi kuat untuk memunculkan niat penggunaan jika tidak dibarengi dengan faktor lain yang dianggap lebih penting, seperti fungsionalitas atau kebutuhan mendesak.
Hasil penelitian ini memberikan sudut pandang kritis terhadap teori Technology Acceptance Model (TAM). Meskipun TAM umumnya menempatkan kemudahan sebagai pendorong niat, (Davis, 1989) sendiri dalam pengembangan teorinya menyatakan bahwa manfaat (usefulness) sering kali memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada kemudahan [13]. Dalam hal ini, pengguna mungkin merasa bahwa kemudahan adalah hal yang standar (wajar ada), sehingga keberadaannya tidak lagi menjadi daya tarik istimewa yang mampu meningkatkan niat perilaku secara signifikan. Menurut (Trihutama, 2017) ketika sebuah teknologi sudah menjadi sangat umum atau user-friendly di mata masyarakat, maka tingkat kemudahan tidak lagi menjadi variabel yang membedakan niat seseorang [23]. Pengguna akan lebih menitikberatkan evaluasi mereka pada nilai guna atau kualitas hasil akhir daripada sekadar kemudahan dalam proses pembuatannya. Fenomena ini sering terjadi pada kelompok responden yang sudah memiliki literasi digital yang tinggi, di mana kemudahan teknologi dianggap sebagai aspek dasar yang tidak lagi memengaruhi keputusan mereka. Penelitian ini selaras dengan beberapa temuan terdahulu yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian pada variabel kemudahan penggunaan, terutama pada teknologi yang sudah bersifat umum atau familiar. Dibandingkan dengan penelitian yang menunjukkan hasil positif, hasil penelitian ini justru memperkuat argumen bahwa faktor kemudahan dapat bersifat "netral" jika sistem tersebut digunakan dalam lingkungan yang menuntut efisiensi hasil di atas segalanya. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan niat penggunaan tidak cukup mengandalkan kemudahan antarmuka, tetapi juga harus didukung oleh manfaat nyata yang dirasakan pengguna.
3. Pengaruh Perceived Usefulness terhadap Compatibility With Teaching Needs
Hasil analisis menunjukkan bahwa Perceived Usefulness (PU) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Compatibility With Teaching Needs (CTN) dalam pengguna Canva. Temuan ini menandakan bahwa ketika para pengajar merasakan manfaat fungsional yang besar dari Canva seperti kemampuan untuk membuat konten yang lebih menarik dan variatif mereka akan menilai platform tersebut sangat relevan dan selaras dengan tugas-tugas mereka. Semakin tinggi nilai guna yang dirasakan oleh guru, semakin kuat pula persepsi bahwa teknologi tersebut merupakan instrumen yang tepat dan sesuai dengan gaya serta tuntutan kurikulum yang mereka ampu. Hubungan antara kegunaan yang dirasakan dan kesesuaian kebutuhan mengajar terlihat sangat kuat pada kelompok responden didominasi oleh pengajar senior dan berpengalaman, di mana sebanyak (51,12%) berusia di atas 37 tahun dan (52,25%) memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun. Karakteristik pengajar berpengalaman ini menunjukkan bahwa meskipun mereka telah melewati berbagai era perubahan kurikulum, mereka tetap menilai Canva sebagai instrumen yang sangat relevan karena kemampuannya mempermudah persiapan materi di tengah tingginya beban mengajar harian. Hal ini didukung oleh latar belakang pendidikan responden yang mayoritas adalah lulusan S1 (95,50%), yang secara intelektual mampu menyadari bahwa manfaat fungsional Canva. Selain itu, dengan (70,23%) responden telah menggunakan Canva selama 1 hingga 5 tahun, kematangan pengalaman menggunakan aplikasi ini memperkuat persepsi mereka bahwa teknologi tersebut bukan sekadar tren sesaat, melainkan alat yang sudah terintegrasi dengan baik dalam mendukung metode pengajaran.
Landasan teoretis yang mendasari hubungan ini berkaitan erat dengan perluasan Technology Acceptance Model (TAM) (Davis, 1989) [13] dan Diffusion of Innovations (DOI) dari (Rogers, 1995) [24]. Dalam hal ini, kegunaan yang dirasakan berperan sebagai pendorong bagi munculnya rasa kesesuaian (compatibility). Teori ini menjelaskan bahwa suatu inovasi teknologi tidak hanya dinilai dari kemampuannya bekerja secara teknis, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut mampu berintegrasi dengan nilai-nilai, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan spesifik pengguna. Ketika Canva terbukti mampu mempermudah penyampaian materi pembelajaran, secara otomatis pengajar akan menganggap platform tersebut kompatibel dengan ekosistem pendidikan mereka. Hasil analisis deskriptif juga menunjukkan bahwa responden sangat setuju bahwa Canva mempercepat proses pembuatan materi presentasi, dengan nilai rata-rata yang sangat tinggi yaitu (4,59). Keunggulan dalam hal kecepatan ini membuat Canva terasa sangat pas dengan metode pengajaran masa kini seperti blended learning, karena guru bisa dengan mudah membuat dan membagikan materi visual yang menarik untuk kelas online maupun tatap muka. Dengan rata-rata keseluruhan variabel sebesar (4,51), jelas bahwa Canva bukan hanya sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi solusi praktis yang sangat mendukung kebutuhan mengajar sehari-hari.
Secara empiris, hasil penelitian ini memperkuat temuan dalam literatur terdahulu yang dilakukan oleh (Ismail, 2016; Siregar, 2023; Wahyuni et al., 2023) menyatakan bahwa kegunaan praktis merupakan prasyarat utama sebelum sebuah teknologi dianggap sesuai dengan kebutuhan professional [25][26][27]..Hasil penelitian menegaskan bahwa persepsi manfaat memperkuat kesesuaian Canva dengan kebutuhan mengajar. Dengan demikian, keberhasilan adopsi Canva bergantung pada kemampuannya memenuhi kebutuhan visualisasi materi pembelajaran yang dinamis.
4. Pengaruh Perceived Ease Of Use terhadap Compatibility With Teaching Needs
Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa Perceived Ease of Use (PEUO) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Compatibility With Teaching Needs (CTN) dalam penggunaan Canva. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin sederhana dan mudah operasional sebuah platform desain bagi para pendidik, semakin tinggi pula persepsi guru bahwa teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan pengajaran mereka [26]. Kemudahan dalam fitur-fitur Canva membuat para pengajar merasa bahwa alat ini sangat fleksibel dan adaptif untuk mendukung berbagai metode pengajaran, sehingga tercipta keselarasan antara alat digital yang digunakan dengan tuntutan tugas mengajar sehari-hari. Hubungan antara kemudahan penggunaan dan kesesuaian kebutuhan mengajar dalam penelitian ini semakin diperkuat oleh profil responden yang didominasi oleh pengajar senior berusia di atas 37 tahun (51,12%) dengan pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun (52,25%). Karakteristik ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas responden merupakan kelompok pengajar yang sudah mapan dengan beban kerja yang tinggi, antarmuka Canva yang intuitif dan fitur dasar yang mudah ditemukan tetap mampu mengimbangi kebutuhan pedagogis mereka tanpa memerlukan usaha kognitif yang berat. Selain itu, dengan latar belakang pendidikan mayoritas S1 (95,50%) dan pengalaman penggunaan Canva yang cukup stabil selama 1 hingga 5 tahun (70,23%), responden memiliki kecakapan yang memadai untuk menyelaraskan kemudahan teknologi ini dengan tuntutan kurikulum modern, seperti pembelajaran digital.
Pada analisis deskriptif, variabel Perceived Ease of Use mencatatkan skor tertinggi pada kemudahan menemukan fitur dasar seperti teks dan gambar, yang secara langsung mendukung variabel Compatibility with Teaching Needs dengan nilai rata-rata (mean) sebesar (4,51). Kemudahan operasional ini membuat Canva sangat sesuai dengan kebutuhan pengajaran digital dan blended learning, karena guru dapat dengan praktis menciptakan serta membagikan konten visual interaktif untuk sesi pembelajaran daring maupun tatap muka. Hal ini membuktikan bahwa aspek kemudahan teknis pada Canva menjadi faktor kunci yang menjadikannya platform yang sangat kompetibel dengan tuntutan pengajar saat ini. Secara teoretis, hubungan ini didukung oleh Diffusion of Innovations Theory yang dikemukakan oleh (Rogers, 1995), di mana kemudahan penggunaan (complexity yang rendah) merupakan salah satu penentu utama tingkat kompatibilitas suatu inovasi [24]. Ketika sebuah teknologi tidak memerlukan usaha kognitif yang berat untuk dipelajari, teknologi tersebut akan lebih mudah dianggap sebagai bagian yang menyatu dengan kebiasaan kerja pengguna. Dalam hal ini, rendahnya hambatan teknis pada Canva memungkinkan para pengajar untuk lebih fokus pada substansi materi pembelajaran, sehingga platform ini dinilai sangat kompatibel dengan gaya mengajar dan kebutuhan pedagogis mereka.
Temuan penelitian ini juga dapat dijelaskan melalui Technology Acceptance Model 2 (TAM 2). Dalam TAM 2, penerimaan teknologi dipengaruhi oleh persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dan Job Relevance, yaitu kesesuaian teknologi dengan tugas pengguna. Konsep ini sejalan dengan Compatibility with Teaching Needs (CTN), tetapi CTN lebih menekankan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan pedagogis guru. Penelitian ini mengembangkan TAM dengan menambahkan CTN, dan hasilnya menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan meningkatkan kesesuaian Canva dengan kebutuhan mengajar sehingga mendukung penerapannya dalam pembelajaran.
Penelitian ini juga memperkuat hasil temuan terdahulu yang dilakukan oleh (Siregar, 2023; Aulia & Marsasi, 2024; Akbar & Nurmahdi, 2019) menyatakan bahwa kemudahan akses dan antarmuka yang ramah pengguna menjadi pintu masuk utama bagi terciptanya rasa kecocokan antara teknologi dan kebutuhan profesi [26][28][29]. Konsistensi temuan ini membuktikan bahwa bagi para pendidik, teknologi yang ideal bukan hanya yang memiliki fitur canggih, melainkan yang paling mudah untuk langsung diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, kemudahan penggunaan menjadikan Canva sebagai platform yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran modern.
5. Pengaruh Compatibility With Teaching Needs terhadap Behavioral Intention to Use
Hasil analisis menunjukkan bahwa Compatibility With Teaching Needs (CTN) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use (BI) dalam penggunaan Canva. Hal ini membuktikan bahwa ketika sebuah platform digital dirasakan selaras dengan tuntutan profesi dan gaya mengajar, maka kecenderungan untuk mengadopsi teknologi tersebut akan semakin kuat. Berdasarkan profil responden mayoritas pengguna adalah perempuan (66,85%) dengan latar belakang pendidikan S1 (95,50%). Tingginya tingkat pendidikan ini mengindikasikan bahwa responden memiliki standar profesionalisme yang tinggi dalam memilih media pembelajaran, di mana mereka hanya akan berkomitmen menggunakan alat yang benar-benar mampu mendukung kebutuhan pengajaran secara efektif.
Hubungan ini diperkuat oleh karakteristik usia dan pengalaman mengajar responden, di mana lebih dari separuh subjek penelitian berusia di atas 37 tahun (51,12%) dengan pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun (52,25%). Kelompok pendidik senior ini cenderung memiliki pola mengajar yang sudah mapan, sehingga niat mereka dalam menggunakan teknologi sangat bergantung pada sejauh mana teknologi tersebut dapat berintegrasi dengan kebiasaan mengajar mereka tanpa mengubah keilmuan yang mereka miliki. Kesesuaian Canva dalam memfasilitasi pembuatan konten visual yang cepat dan interaktif membuatnya dipandang sebagai solusi yang relevan bagi pendidik berpengalaman untuk tetap adaptif terhadap tuntutan pendidikan di era modern.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil deskriptif variabel yang menunjukkan tingkat keselarasan sangat tinggi (mean 4,45), di mana item CTN4 mencatat skor tertinggi (4,51) yang menegaskan bahwa Canva sangat sesuai dengan metode blended learning dan pengajaran digital. Tingginya skor indikator mencerminkan bahwa Canva dinilai sesuai dengan kebutuhan pembelajaran berbasis tatap muka dan media digital. Penilaian ini didukung oleh mayoritas responden yang telah menggunakan Canva selama 1-5 tahun (70,23%), sehingga memiliki pengalaman dalam memanfaatkan fitur-fiturnya untuk menyusun media pembelajaran.
Pengalaman tersebut memungkinkan responden menilai secara langsung bahwa Canva relevan digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran yang memadukan aktivitas pembelajaran luring dan daring, sehingga indikator mengenai kesesuaian Canva dengan metode blended learning memperoleh nilai rata-rata tertinggi. Persepsi kesesuaian yang tinggi meningkatkan niat menggunakan Canva (mean BI = 4,50), dengan skor tertinggi pada BIS6 (4,60). Temuan ini menunjukkan bahwa kesesuaian dengan kebutuhan mengajar memperkuat niat penggunaan, didukung oleh 70,23% responden yang telah menggunakan Canva selama 1-5 tahun. Temuan penelitian ini memperkuat konsistensi empiris dengan studi terdahulu yang dilakukan oleh (Maenah, 2024; Denovan, 2025) yang menegaskan bahwa kesesuaian teknologi dengan kebutuhan profesional merupakan faktor yang kuat dalam pembentukan niat perilaku pengguna pada sebuah teknologi [30].
C. Keterbatasan Penelitian
Meskipun penelitian ini memberikan gambaran penting mengenai adopsi dalam penggunaan Canva sebagai platform desain media pembelajaran, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan, antara lain cakupan sampel yang hanya terbatas pada 178 responden di wilayah tertentu sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk populasi pengajar secara luas. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode cross-sectional yang hanya memotret persepsi responden pada satu titik waktu tertentu. Model penelitian ini juga hanya berfokus pada faktor-faktor internal pada kerangka (TAM) yaitu Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, Compatibility With Teaching dan Behavioral Intention to Use, sehingga belum mempertimbangkan faktor eksternal lain seperti pengaruh sosial, dukungan infrastruktur sekolah atau biaya langganan fitur premium yang turut memengaruhi niat penggunaan teknologi di lingkungan pendidikan.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai analisis penerimaan penggunaan canva menggunakan technology acceptance model (TAM) yang dimodifikasi, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Perceived Usefulness terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use, yang menunjukkan bahwa persepsi mengenai peningkatan produktivitas menjadi pendorong utama niat dalam penggunaan Canva.
2. Perceived Ease of Use tidak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use, yang mengindikasikan bahwa aspek kemudahan pengoperasian bukan lagi faktor pembeda utama bagi responden dalam mengadopsi platform tersebut.
3. Perceived Usefulness berpengaruh positif dan signifikan terhadap Compatibility With Teaching Needs, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi manfaat fungsional yang dirasakan oleh pengajar, maka semakin kuat pula persepsi bahwa Canva selaras dengan tuntutan profesi mereka.
4. Perceived Ease of Use berpengaruh positif dan signifikan terhadap Compatibility With Teaching Needs, menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan Canva meningkatkan kesesuaiannya dengan kebutuhan mengajar.
5. Compatibility With Teaching Needs berpengaruh positif dan signifikan terhadap Behavioral Intention to Use, sehingga keselarasan fitur Canva dengan kebutuhan pembelajaran mendorong niat guru untuk terus menggunakannya.
Secara keseluruhan, penerimaan Canva lebih dipengaruhi oleh persepsi kegunaan dan kesesuaian dengan kebutuhan mengajar dibandingkan kemudahan penggunaan. Namun, hasil penelitian ini masih terbatas pada cakupan responden, desain cross-sectional, dan model TAM yang dimodifikasi. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan memperluas responden, menerapkan desain longitudinal, serta menambahkan faktor eksternal agar pemahaman mengenai penerimaan teknologi pendidikan menjadi lebih komprehensif.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Insan Mandiri Denpasar Cabang Lombok dan Sumbawa beserta seluruh guru yang telah bersedia menjadi responden dan mendukung pelaksanaan penelitian ini. Apresiasi juga disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan masukan sehingga artikel ini dapat diselesaikan dengan baik.
[1] A. Asfiana, F. Fitriyani, and M. A. Rokhimawan, “Analisis Tantangan dan Kelebihan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, vol. 10, no. 1, pp. 187–193, 2024, doi: 10.51169/ideguru.v10i1.1215.
[2] S. S. Hasnida, R. Adrian, and N. A. Siagian, “Tranformasi Pendidikan Di Era Digital,” Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia, vol. 2, no. 1, pp. 110–116, 2023, doi: 10.55606/jubpi.v2i1.2488.
[3] J. Barus, “Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Di Madrasah Desa Bandar Tinggi,” AT-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam, vol. 2, no. 2, pp. 314–319, 2025.
[4] M. Egloffstein and D. Ifenthaler, “Tracing digital transformation in educational organizations from individual to organizational perspectives,” in Digital Transformation of Learning Organizations. Cham, Switzerland: Springer, 2021, doi: 10.1007/978-3-030-55878-9_3.
[5] Yusra and Z. Sesmiarni, “Pemanfaatan Platform Digital dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,” Dirasah: Jurnal Studi Ilmu dan Manajemen Pendidikan Islam, vol. 8, no. 1, pp. 393–405, 2025.
[6] J. Astaño, “The Effectiveness of Canva as an Instructional Tool in Improving Students’ Academic Performance: A Meta-Analysis,” Journal of Digital Learning and Distance Education, vol. 3, no. 10, pp. 1327–1345, 2025, doi: 10.56778/jdlde.v3i10.468.
[7] N. P. R. T. A. K. H. Saraswati, N. K. H. Lastari, and I. W. S. Winaya, “Integrating Canva and Similar Digital Design Tools in English Language Teaching: A Literature Review,” Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, vol. 4, no. 1, pp. 8–13, 2025, doi: 10.31004/jpion.v4i1.317.
[8] I. Setianto and C. Yulia, “Efektivitas Media Canva Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Pada Siswa,” Research and Development Journal of Education, vol. 8, no. 2, p. 634, 2022, doi: 10.30998/rdje.v8i2.13624.
[9] W. S. Putra, “Digitalisasi Pendidikan: Integrasi Aplikasi Canva Sebagai Solusi Digital dalam Membantu Guru Sekolah Dasar Merancang Media Visual Interaktif pada Kurikulum Merdeka,” IJERI, pp. 1–8, 2025.
[10] M. Delvia, M. Kustati, R. Amelia, E. Elijonnahdi, and T. Sartini, “Pelatihan Pemanfaatan Media Canva Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Kompetensi Guru PAI SD,” Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 5, no. 3, pp. 266–277, 2025, doi: 10.59395/altifani.v5i3.705.
[11] H. Wijaya, V. C. Juniarmi, and C. A. Y. Tehusalawany, “Evaluating the compatibility between Indonesian language teachers’ competence, their needs, and in-service training’s effectiveness,” Litera, vol. 21, no. 2, pp. 130–148, 2022, doi: 10.21831/ltr.v21i2.40181.
[12] H. S. Daulay, M. M. Rahman, R. N. Muzakki, S. Diabel, M. Munthe, and V. A. Pratiwi, “Analisis Penerimaan Penggunaan Aplikasi Canva Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) Pada Mahasiswa Program Studi S1 Peternakan Universitas Jambi,” Jurnal Sistem Informasi dan Teknologi Informasi, vol. 7, no. 2, pp. 753–763, 2025.
[13] F. D. Davis, “Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of information technology,” MIS Quarterly, vol. 13, no. 3, pp. 319–339, 1989, doi: 10.2307/249008.
[14] I. Purwandani, N. O. Syamsiah, and M. S. Maulana, “Applying TAM and SERVQUAL to Explore User Experience of MyBEST UBSI,” Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JustIN), vol. 10, no. 2, p. 264, 2022, doi: 10.26418/justin.v10i2.56783.
[15] N. Misirlis and H. Bin Munawar, “An analysis of the technology acceptance model in understanding university students behavioral intention to use metaverse technologies,” pp. 4–7, 2023.
[16] M. J. Solih and I. R. Julianto, “Mengeksplorasi Literasi Digital pada Pembelajaran di Sekolah Dasar,” Jurnal Cahaya Edukasi, vol. 3, no. 1, pp. 35–39, 2025, doi: 10.63863/jce.v3i1.17.
[17] R. Aditya and A. Wardhana, “Pengaruh Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use terhadap Behavioral Intention dengan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) pada Pengguna Instant Messaging LINE di Indonesia,” Jurnal Siasat Bisnis, 2016.
[18] S. H. Leasa, H. H. Rumtutuly, and N. Azda, “Technology Acceptance Model (TAM) pada Layanan E-Wallet: Dampaknya terhadap Spending Behavior Generasi Z di Kota Ambon,” pp. 5798–5805, 2025.
[19] P. Setyawati, “Pengaruh Perceived Usefulness terhadap Behavior Intention to Use E-Wallet GoPay melalui Mediasi Attitude Toward Using di Kota Ternate,” Jurnal Akuntansi dan Pajak, 2022.
[20] Setyawati, “Pengaruh Perceived Usefullness, Perceived Ease of Use terhadap Behavioral Intention to Use dengan Attitude Towards Using sebagai Variabel Intervening,” Jurnal Ekobis Dewantara, vol. 3, no. 1, pp. 39–51, 2020.
[21] O. S. Sinaga, F. K. Marpaung, R. S. Dewi, and A. Sudirman, “Kontribusi Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use dan Perceived Security terhadap Behavioral Intention to Use Aplikasi JAKET,” vol. 1, no. 3, pp. 86–94, 2021.
[22] N. Nursiah, “Pengaruh Perceived Ease of Use dan Perceived Usefulness terhadap Behavior Intention to Use,” vol. 3, no. 2, 2017.
[23] R. P. Trihutama, “Pengaruh Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness, dan Trust terhadap Behavioral Intention to Use (Studi pada Pengguna Go-Pay Layanan Go-Jek),” pp. 1–15, 2017.
[24] E. M. Rogers, Diffusion of Innovations, 4th ed. New York, NY, USA: Free Press, 1995.
[25] Ismail, “Intention to Use Smartphone Through Perceived Compatibility, Perceived Usefulness, and Perceived Ease of Use,” vol. 7, no. 16, pp. 1–10, 2016.
[26] H. S. Siregar, “Perceived usefulness and perceived ease of use of online learning for Islamic religious education teacher,” vol. 9, no. 1, pp. 93–106, 2023, doi: 10.15575/jpi.v0i0.25518.
[27] D. S. Wahyuni, G. Ariadi, N. Sugihartini, and I. N. E. Mertayasa, “The Impact of Achievement Motivation on Educational Compatibility Mediated by Perceived Ease of Use,” 2023, doi: 10.4108/eai.6-10-2022.2327429.
[28] N. S. Aulia and E. G. Marsasi, “The Role of Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and Task Technology Fit to Increase Perceived Impact on Learning,” pp. 163–181, 2024.
[29] N. F. Akbar and D. A. Nurmahdi, “Analysis of Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use and Service Quality on User Satisfaction in Using Snaapp Communication Application in Ignatius Slamet Riyadi Karawang Elementary School,” pp. 6663, 2019.
[30] Maenah, “Pengembangan Media Pembelajaran PowerPoint Interaktif untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru,” Journal of Education Research, vol. 5, no. 2, pp. 3272–3282, 2024.