Login
Section Education

Think Pair Share Cooperative Method Promotes Elementary Indonesian Language Learning Interest


Metode Kooperatif Think Pair Share Mendorong Minat Belajar Bahasa Indonesia Sekolah Dasar
Vol. 11 No. 2 (2026): December:

Feronica Indah Sari Topuko (1), Zulnuraini Zulnuraini (2), Azizah Azizah (3), Asriani Asriani (4), Kasmawati Kasmawati (5)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Tadulako, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Tadulako, Indonesia
(3) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Tadulako, Indonesia
(4) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Tadulako, Indonesia
(5) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Tadulako, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Indonesian language education is fundamental for developing communication and literacy skills within the national curriculum. Specific Background However, fifth-grade students at SDN Doda currently exhibit low attention, involvement, and enthusiasm during instruction, largely due to teacher-centered conventional methods. Knowledge Gap While cooperative pedagogical approaches are widely recognized, specific evidence regarding the application of collaborative frameworks utilizing audiovisual media to address low student engagement in elementary subjects remains limited. Aims This study investigates the application of a targeted collaborative model on student engagement in fifth-grade subjects at SDN Doda. Results Utilizing a Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design with 16 pupils, the analysis revealed a statistically significant difference (Sig. 2-tailed of 0.002 < 0.05), with the mean score rising from 42.25 to 47.06. Novelty This research demonstrates the specific utility of combining a structured interactive syntax with targeted audiovisual stimulus to actively engage elementary pupils in intrinsic story elements. Implications These findings suggest that providing structured opportunities for independent thought, paired discussion, and public sharing serves as a highly supportive alternative pedagogical strategy for fostering active classroom participation and sustained engagement.


Highlights




  • Pre-test and post-test assessments of fifth-graders revealed a statistically significant score progression from 42.25 to 47.06.




  • The applied pedagogical strategy successfully stimulated active classroom participation during intrinsic story element lessons.




  • Data analysis utilizing paired sample t-tests confirmed a significance value of 0.002, verifying positive instructional outcomes.




Keywords Think Pair Share; Cooperative Learning; Learning Interest; Indonesian Language; Elementary School

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan aspek fundamental dalam pendidikan nasional yang berperan penting dalam membentuk kemampuan komunikasi, literasi, dan karakter peserta didik. Kurikulum Merdeka yang diimplementasikan sejak beberapa tahun terakhir menekankan pembelajaran yang lebih fleksibel, berpusat pada peserta didik, dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta potensi individu (Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022). Pendekatan ini bertujuan menciptakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang ideal, di mana siswa tidak hanya menguasai aspek tentang bahasa, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang ideal dalam Kurikulum Merdeka mengedepankan metode pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berdiferensiasi, dan penggunaan media pembelajaran yang kontekstual. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung pengembangan kompetensi literasi dan karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, termasuk nilai gotong royong, bernalar kritis, dan mandiri [1]. Hal ini memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan sehari- hari siswa.

Melihat dunia pendidikan, sekolah mempunyai peran penting dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Selain itu, para siswa harus dapat memahami konsep dasar ilmu yang di ajarkan. Untuk mencapai hal tersebut, guru harus berperan sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran di kelas. Guru harus selalu meningkatkan kualitas pembelajaran (Hafni et al., 2021). Kegiatan belajar mengajar adalah transfer ilmu dari guru ke siswa. Ini biasanya dilakukan di dalam kelas. Guru dapat menarik perhatian dan minat siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan berbagai model dan metode, ini memungkinkan materi yang diajarkan menjadi lebih bermakna dan lebih mudah diserap oleh siswa. Dengan cara ini, guru dapat mencapai hasil yang diinginkan [2].

Minat belajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Para ahli berpendapat bahwa minat belajar memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa (Susanti et al., 2023). Minat belajar merupakan faktor penting dalam pembelajaran, karena dengan adanya minat akan timbul dorongan untuk mengerjakan sesuatu, terutama dalam konteks pembelajaran [4]. Minat belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah bahan ajar atau materi pelajaran serta upaya guru dalam menyampaikan pembelajaran di dalam kelas, termasuk penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran [1]. Guru sering dituntut untuk memahami peserta didik dalam penyampaian pelajaran dan harus mampu menyesuaikan kebutuhan serta kondisi kelasnya agar proses pembelajaran berjalan efektif (Carles Jamal, 2024).

Hambatan yang ada dalam proses pembelajaran salah satunya yang penulis dapat adalah kurangnya minat belajar siswa karena kurangnya penggunaan media dalam proses pembelajaran. Padahal (Friantini & Winata, 2019) berpendapat bahwa minat merupakan aspek kepribadian yang berhubungan dengan akademik. Minat juga merupakan perasaan suka dan tertarik terhadap suatu tanpa mengatakannya dan dapat dilihat dari tingkah laku Widayanti dalam [4]. Siswa yang menunjukan minat tinggi dalam proses pembelajaran cenderung memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan belajar Sri Wulan dalam (Amalia et al., 2024) Siswa yang berminat dalam kegiatan pembelajaran akan berusaha lebih keras, dan siswa dengan minat belajar yang tinggi dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik (Charli dalam Lutfiah et al., 2024).

Berdasarkan observasi yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Doda dan wawancara pada tanggal 14 Juli 2025 dengan bapak Apolos Madadi selaku wali kelas terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia, teridentifikasi bahwa banyak siswa yang kurang berminat di dalam pembelajaran hal ini di lihat dari beberapa indikator seperti siswa tidak berminat dalam pembelajaran dikelas, siswa juga tidak terlibat dalam diskusi, dan siswa juga tidak bersemangat, tidak adanya minat siswa ini di sebabkan karena model pembelajaran yang digunakan kurang menarik, model pembelajaran yang digunakan oleh guru didominasi dengan metode ceramah, terkait kurangnya minat belajar siswa yang berdampak langsung pada hasil belajar mereka. Sehingga siswa dinyatakan tuntas apabila telah mencapai KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) yang ditetapkan. Faktor- faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ini meliputi kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, metode dan model pengajaran yang kurang menarik dimana guru hanya menggunakan metode ceramah selama proses belajar mengajar. Artinya strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran belum tepat sasaran, oleh karena itu perlu dicarikan solusi yang terbaik.

Perlu pendekatan yang tepat guna seperti model kooperatif tipe Think Pair Share sebagai satu alternatif yang mungkin minat belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Alasan peneliti menggunakan model pembelajaran tersebut karna menurut (Sulisto & Haryanti, 2022) model pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan jenis model yang dirancang khusus untuk merangsang pola pikir dan interaksi siswa [5]. Hal itu sejalan dengan pendapat (Ahmed & Kumalasari, 2023) model pembelajaran TPS siswa akan bekerjasama dengan kelompok untuk menyelesaiakan permasalahan, kemudian akan bertukar fikiran dengan kelompok lainnya [6]. Hal itu dibuktikan dengan model pembelajaran TPS akan memberikan waktu yang leluasa kepada siswa untuk berpikir, berpasangan, dan saling membantu [7]. Keberhasilan model pembelajaran TPS ini dibuktikan dengan pengunaan model pembelajaran yang menggunakan permasalahan yang dapat mengasah kemampuan siswa berpikir. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati & Erwin, (2022) dan Larasati et al., (2022) [8].

METODE

A.Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode Pre- Experimental Design. Desain yang digunakan yaitu One Group Pretest- Posttest Design, yaitu penelitian yang melibatkan satu kelompok eksperimen yang diberikan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan [9].

B.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini di laksanakan di SDN Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Adapun waktu pelaksanaan yaitu di bulan Februari tahun ajaran 2025/2026.

C.Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

1.Populasi

Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V SDN Doda yang berjumlah 16 siswa.

2.Sampel Dan Teknik Penarikan Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 16 orang. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel yaitu kelas V SDN Doda sebagai kelas eksperimen. Adapun tekhnik yang digunakan untuk penarikan sampel yaitu menggunakan teknik sampling jenuh.

D.Jenis dan Sumber Data

1.Jenis Data

Dalam penelitian ini, jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data kuantitatif dalam penelitian ini berupa skor angket minat belajar yang diukur menggunakan skala likert, Data diperoleh dari jawaban responden terhadap pernyataan yang diberikan untuk mengukur tingkat minat belajar siswa.

2.Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari lapangan melalui angket minat belajar yang diberikan kepada 16 siswa sebagai responden, sehingga memungkinkan pengukuran secara langsung dan sesuai dengan fokus penelitian (Ramadhani & Bina, 2021). Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur, dokumen, atau laporan yang telah tersedia sebelumnya dan berfungsi sebagai penunjang dalam analisis dan pembahasan penelitian (Laia et al., 2022; Subagiya, 2023).

E.Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukurannya

1.Variabel Bebas (Independent Variable)

Adapun variabel bebas menuriut Sugiyono (2021) variabel independent atau variabel bebas merupakan variabel yang mepengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share) [9].

2.Variabel Terikat (Dependent variable)

Variabel ini diukur untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh variable bebas dalam suatu penelitian (HowStuffWorks, 2024). Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel terikat adalah minat belajar siswa. Minat belajar merupakan suatu bentuk ketertarikan dan dorongan internal yang memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

F.Teknik pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan angket. Angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya sesuai dengan kondisi sebenarnya (Ramdhani & Ramdhani, 2021; Sugihartono et al., 2023).

G.Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian data merupakan alat pengumpulan data harus betul- betul dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data empiris sebagai mana adanya. Adapun instrumen pengumpulan data pada penelitian ini adalah lembar angket siswa.

1.Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely yang artinya percaya dan reliabel yang artinya dapat dipercaya. Instrumen penelitian dikatakan reliabel apabila menghasilkan data yang konsisten ketika digunakan berulang kali pada kondisi yang relatif sama (Tavakol & Wetzel, 2020; Hinton, 2022).

H.Teknik Analisis Data

1.Analisis Inferensial

Analisis inferensial yaitu Analisis inferensial merupakan teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis sampel serta hasilnya kemudian diberlakukan untuk populasi [9].

2.Uji Normalitas Data

Uji normalitas digunakaan untuk mengadakan pengujian terhadap normal atau tidaknya sebaran data yang akan dianalisis. (Aisyah, 2024).

3.Uji Hipotesis

Untuk mengukur sejauh mana hipotesis yang telah dirumuskan didukung oleh data yang dikumpulkan, kita perlu melakukan pengujian.

I.Kerangka Pemecahan Masalah

Kerangka pemecahan masalah merupakan serangkaian prosedur dan langkah – langkah dalam penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan tahapan yang terstruktur secara sistematis, sehingga penelitian dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

1.Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Doda yang terletak di jalan Mawar desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Sekolah ini berstatus negeri dan terakreditas B.

Pemilihan lokasi penelitian ini dengan alasan sekolah tersebut belum pernah menggunakan model pembelajaran kooperatif menggunakan media video, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V. Berdasarkan hal tersebut sekolah dipilih oleh peneliti sebagai tempat untuk melaksanakan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share yang bertujuan untuk melihat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap minat belajar siswa kelas V. Penelitian ini dilaksanakan pada satu kelas, yaitu kelas V SDN Doda sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).

2.Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian merupakan langkah kegiatan yang akan dilakukan peneliti untuk mendapatkan hasil penelitian. Langkah kegiatan penelitian ini berlangsung mulai dari observasi awal pada tanggal 14 Juli 2025 sampai dengan tanggal 09 maret 2026.

Tahapan awal yang dilakukan antara lain pengujian instrument penelitian, pengolahan data dan instrument penelitian, pelaksanaan pre- test, pada kelas eksperimen, pelaksanaan post- test 1 pada kelas eksperimen, perlakuan pengajaran kelas eksperimen, danmlangkah terakhir yaitu pelaksanaan post- test 2 pada kelas ekperimen.

3.Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Pengujian instrument penelitian dilakukan di SD Bala Keselamatan Palu. Instrumen yang digunakan berupa angket sebanyak 20 butir , yang sebelumnya sudah divaliditasi oleh validator, kemudian divalidasi menggunakan Microsoft Excel dengan bantuan program IBM SPSS versi 27. Berikut ini hasil uji validitas instrument penelitian:

Tabel 1 Hasil Uji Validitas Instrumen

Berdasarkan hasil uji validitas pada table 1 diperoleh nilai ( r table ) sebesar 0,444 dengan jumlah responden sebanyak 22 siswa. Suatu butir soal dikatakan valid apabila memenuhi kriteria yaitu nilai r hitung > r tabel atau nilai signifikansi (Sig.) < 0,05 dari 20 butir angket yang diuji cobakan, hanya 15 yang dinyatakan valid karena memenuhi kreteria tersebut.

4.Reliabilitas Instrumen

Uji reliabilitas dilakukan setelah instrumen tes telah tervalidasi. Instrumen penelitian dikatakan reliable jika menghasilkan hasil yang sama meskipun dilakukan pengukuran berkali- kali. uji reliabilitas instrumen tes ini menggunakan bantuan program IBM SPSS versi 27 yang secara otomatis dihitung menggunakan rumus Cronbach Alpha. Berikut hasil dari perhitungan pada program SPSS menggunakan rumus Cronbach Alpha:

Tabel 2 Hasil Uji Relibilitas

Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 2 diketahui bahwa nilai Cronbach’s Alpha adalah 0,845. Hasil uji tersebut menunjukan bahwa nilai Cronbach’s Alpha>0,60, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian tersebut dinyatakan reliable atau konsisten.

B.Analisis Deskriptif

1.Hasil Pre- Test dan Post- Test Kelas Eksperimen

Berdasarkan data yang telah di kumpulkan dari hasil penelitian, kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap minat belajar siswa kelas 5 SDN Doda. Data yang diperoleh dari kelas eksperimen sebagai berikut:

a.Data Pre- Test dan Post- Test kelas Eksperimen

Kegiatan Pre- Test dilaksanakan pada kelas eksperimen dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2026 di kelas V SDN Doda di awal sebelum pembelajaran dimulai, sedangkan Post- Test dilaksanakan pada tanggal 6 sampai 8 Maret 2026 dengan jumlah partisipan sebanyak 16 siswa.

Hasil analisis yang didapatkan dari data Pre- Test dan Post-Test minat belajar siswa dengan menggunakan perhitungan SPSS versi 27 pada kelas eksperimen sebagai berikut:

Tabel 3 Hasil Pre- Test dan Post- Test kelas Eksperimen

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui jumlah partisipan sebanyak 16 siswa. Dalam tabel tersebut dapat dilihat skor terendah Pre- Test yaitu 30 sebanyak 1 orang siswa dan skor terendah Post- Test yaitu 41 sebanyak 2 orang siswa. Untuk perolehan skor tertinggi untuk Pre-Test yaitu 49 sebanyak 4 orang siswa dan untuk Post- Test yaitu 53 sebanyak 2 orang siswa. Nilai Pre- Test pada kelas ekperimen memiliki rata- rata (mean) sebesar 42,25 sedangkan nilai Post- Test pada kelas ekperimen memilki rata- rata (mean) sebesar 47,06.

Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas terlihat bahwa rata- rata di kelas eksperimen nilai Pre- Test (sebelum diberi perlakuan) lebih rendah dari rata- rata nilai Post- Test (sesudah diberi perlakuan). Sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share memberi pengaruh terhadap minta belajar Bahasa Indonesia siswa SDN Doda.

C.Analisis Inferensial

1.Uji Normalitas

Uji normalitas pada penelitian ini berfungsi untuk mengetahui apakah data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak normal, karena data yang baik adalah data yang berdistribusi normal. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji (Shapiro- Wilk) karena jumlah sampel kurang dari 50 responden. Pada uji normalitas peneliti menggunakan bantuan SPSS versi 27. Dasar pengambilan keputusan pada uji normalitas yaitu apabila nilai taraf signifikan α=0,05, jika signifikansi yang diperoleh > α, maka sampel

Uji normalitas pada penelitian ini berfungsi untuk mengetahui apakah data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak normal, karena data yang baik adalah data yang berdistribusi normal. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji (Shapiro-Wilk) karena jumlah sampel kurang dari 50 responden. Pada uji normalitas peneliti menggunakan bantuan SPSS versi 27. Dasar pengambilan keputusan pada uji normalitas yaitu apabila nilai taraf signifikan α=0,05, jika signifikansi yang diperoleh > α, maka sampel berasal dari populasi berdistribusi normal, sedangkan jika signifikansi yang diperoleh < α, maka sampel bukan berasal dari populasi berdistribusi normal

Tabel 4 Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen

Tabel 5 Hasil Uji Normalitas Data Pre-Test dan Post-Test

Berdasarkan hasil uji normalitas dinyatakan bahwa nilai signifikansi > 0,05 maka data memenuhi asumsi normalitas, sehingga variabel dependen dan independen mempunya distribusi normal dan data yang baik memiliki distribusi data yang normal.

2.Uji Hipotesis

Uji hipotesis adalah uji yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh variabel x terhadap variabel y. Data yang diuji pada penelitian ini adalah nilai Pre- Test dan Post-Test kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan uji Paired Sample T-test berbantuan program SPSS versi 27. Adapun dasar pengambilan keputusan signifikan untuk uji-t adalah jika nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, sebaliknya jika nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hasil analisis Paired Sample T-test sebagai berikut:

Tabel 6 Hasil Uji Hipotesis

Tabel 7 Hasil Uji-T(Paired Sample Test)

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, hasil uji Paired Sample Test menunjukkan nilai sig (2-tailed) 0,002 (<0,05) sehingga dapat di simpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Tabel di atas merupakan gambaran singkatdari hasil uji-t pada SPSS versi 27.

D.Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap minat belajar siswa kelas V SDN Doda pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Model pembelajaran ini diterapkan pada kelas eksperimen untuk melihat perubahan minat belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan [10]. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat peningkatan minat belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran TPS. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran memberikan kontribusi terhadap peningkatan keterlibatan dan ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar [11].

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Fdhillah dan Sofian (2023) yang menyatakan bahwa penerapan model Think Pair Share dapat meningkatkan minat belajar siswa pada kelas eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS memiliki pengaruh positif terhadap aspek afektif siswa, khususnya minat belajar, karena memberikan ruang interaksi yang lebih luas antar peserta didik dalam proses pembelajaran [12].

Minat belajar merupakan salah satu faktor internal yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Siswa yang memiliki minat belajar tinggi cenderung lebih aktif, lebih fokus, dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh guru. Menurut Setiawan dan Rojabiyah (2019), minat belajar merupakan ketertarikan individu terhadap suatu aktivitas belajar yang ditandai dengan rasa senang, perhatian, serta keterlibatan secara konsisten tanpa adanya unsur paksaan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa peningkatan minat belajar sangat dipengaruhi oleh strategi dan model pembelajaran yang digunakan oleh guru di dalam kelas [13].

Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam tiga kali pertemuan yang dirancang secara sistematis agar proses penerapan model TPS dapat berjalan optimal. Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2026 dengan kegiatan pemberian angket pre-test kepada siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat minat belajar awal siswa sebelum diberikan perlakuan. Hasil dari pre-test ini kemudian dijadikan sebagai data awal untuk dibandingkan dengan hasil setelah perlakuan. Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2026 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share pada materi unsur-unsur intrinsik cerita.

Dalam proses pembelajaran, peneliti menggunakan media video pembelajaran dengan tema “Belalang dan Semut” sebagai stimulus untuk menarik perhatian siswa. Penggunaan media audiovisual tersebut terbukti mampu meningkatkan fokus dan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, media pembelajaran juga berperan dalam membantu guru menyampaikan materi yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret, sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa serta mengurangi kemungkinan terjadinya miskonsepsi. Pada tahap pembelajaran, siswa diarahkan untuk mengikuti sintaks model TPS yang terdiri atas tiga tahap utama, yaitu think, pair, dan share. Pada tahap think, siswa diberikan kesempatan untuk berpikir secara mandiri terhadap permasalahan atau materi yang diberikan [14]. Tahap ini melatih kemandirian berpikir siswa serta memberikan waktu untuk memahami materi secara individu. Selanjutnya pada tahap pair, siswa bekerja secara berpasangan untuk mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing. Pada tahap ini terjadi proses saling bertukar ide, memperbaiki pemahaman, serta membangun kerja sama antar siswa. Selama proses pembelajaran berlangsung, siswa terlihat lebih antusias ketika memasuki tahap pair. Siswa yang pada awalnya lebih banyak menunggu arahan guru mulai aktif berdiskusi dengan pasangannya, saling bertukar pendapat, serta memberikan tanggapan terhadap hasil pemikiran masing-masing. Interaksi tersebut menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan mendorong siswa untuk lebih percaya diri dalam menyampaikan ide sebelum memasuki tahap berikutnya. Tahap terakhir yaitu share, di mana siswa mempresentasikan hasil diskusi pasangan mereka di depan kelas. Tahap ini tidak hanya melatih kemampuan komunikasi siswa, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri serta keberanian dalam menyampaikan pendapat di hadapan teman-temannya. Pada tahap share, suasana kelas menjadi lebih interaktif karena siswa tampak lebih berani menyampaikan hasil diskusi di depan kelas, sementara siswa lain memberikan tanggapan maupun pertanyaan terhadap presentasi yang disampaikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan sintaks Think Pair Share mampu mendorong keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran dan mendukung peningkatan minat belajar. Setelah seluruh rangkaian pembelajaran selesai dilaksanakan, pada tanggal 9 Maret 2026 siswa diberikan angket post-test untuk mengukur kembali tingkat minat belajar setelah penerapan model TPS. Hasil post-test ini kemudian dibandingkan dengan hasil pre-test untuk melihat adanya perubahan yang terjadi setelah perlakuan diberikan [15].

Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji statistik. Tahap pertama dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data pre-test dan post-test berdistribusi normal, sehingga memenuhi syarat untuk dilakukan uji parametrik. Setelah itu dilakukan uji hipotesis menggunakan Paired Sample t-test dengan bantuan program SPSS versi 27 untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model TPS terhadap minat belajar siswa.

Berdasarkan hasil uji Paired Sample t-test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,02 (< 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa H₀ ditolak dan Hₐ diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap minat belajar siswa kelas V SDN Doda pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, secara statistik model TPS terbukti efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa [16].

Selain berdasarkan uji statistik, peningkatan minat belajar juga dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif angket. Rata-rata nilai pre-test sebesar 42,25 mengalami peningkatan menjadi 47,06 pada post-test. Peningkatan ini menunjukkan adanya perubahan positif pada minat belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan model TPS. Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa siswa menjadi lebih tertarik, lebih memperhatikan pembelajaran, serta lebih aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Slavin (2015) yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan keterlibatan siswa melalui interaksi sosial dalam proses belajar. Interaksi tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar informasi, bekerja sama, dan membangun pemahaman secara bersama-sama. Dalam konteks model TPS, tahapan think, pair, dan share memberikan struktur pembelajaran yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif, baik secara individu maupun kelompok kecil, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna [17].

Selama pelaksanaan penelitian, siswa menunjukkan respons yang sangat positif terhadap penerapan model TPS. Siswa terlihat lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran, lebih berani mengemukakan pendapat, serta lebih aktif dalam diskusi kelompok. Suasana kelas juga menjadi lebih hidup karena siswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa model TPS mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, interaktif, dan menyenangkan.

Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian Yulianti, Faelasup, dan Mubaidilla (2025) yang menyatakan bahwa penerapan model Think Pair Share berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat belajar siswa. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat antara penerapan TPS dengan minat belajar siswa, dengan kontribusi sebesar 68%. Hal ini memperkuat temuan penelitian bahwa model TPS mampu meningkatkan keterlibatan emosional dan kognitif siswa dalam proses pembelajaran [18].

Selain itu, penelitian Fajrin, Wardani, dan Prasetyo (2019) juga menunjukkan bahwa model pembelajaran Saintifik Think Pair Share memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan minat belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Integrasi pendekatan saintifik dengan model TPS menjadikan pembelajaran lebih terstruktur, aktif, dan berpusat pada siswa, sehingga minat belajar siswa dapat berkembang secara optimal.

Penelitian Uswatun Khasanah (2023) juga mendukung hasil penelitian ini, di mana penerapan model Think Pair Share terbukti memberikan pengaruh positif terhadap minat belajar serta hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian tersebut menunjukkan rata-rata minat belajar sebesar 73,23 dan rata-rata hasil belajar sebesar 82,43 setelah penerapan model TPS. Temuan ini memperkuat bahwa model Think Pair Share tidak hanya berpengaruh pada aspek minat belajar, tetapi juga berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa secara keseluruhan [19].

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data, serta kajian penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat belajar siswa kelas V SDN Doda pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Model ini terbukti mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, kolaboratif, serta berpusat pada siswa, sehingga berdampak pada meningkatnya minat belajar secara signifikan dan berkelanjutan [20].

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Doda. Penerapan model ini dilakukan pada pembelajaran materi unsur-unsur intrinsik cerita, sehingga hasil penelitian memberikan gambaran efektivitas model Think Pair Share (TPS) dalam meningkatkan minat belajar siswa pada konteks materi tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata skor minat belajar siswa, yaitu dari 42,25 pada saat pre-test menjadi 47,06 pada saat post-test. Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perubahan positif pada minat belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran TPS. Selain itu, hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,002 (< 0,05), sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata minat belajar siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran TPS berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan minat belajar siswa.

Berdasarkan temuan penelitian ini, guru disarankan untuk memanfaatkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sebagai alternatif pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia karena terbukti mampu meningkatkan minat belajar siswa. Model ini dapat diterapkan khususnya pada pembelajaran materi unsur-unsur intrinsik cerita dengan tetap menyesuaikan karakteristik materi dan kondisi peserta didik agar pelaksanaannya lebih efektif. Selain itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk menguji penerapan model Think Pair Share pada jenjang pendidikan atau konteks pembelajaran yang berbeda dengan melibatkan jumlah sampel yang lebih besar maupun menggunakan variabel lain yang relevan sehingga diperoleh temuan yang lebih komprehensif.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru, dan siswa kelas V SDN Doda yang telah memberikan izin, dukungan, serta berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini. Penulis juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.

References

[1] N. A. Azkia and T. Tressyalina, “Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Muhammadiyah 6 Padang,” Journal of Education Language and Innovation, vol. 3, no. 1, pp. 1–9, 2025.

[2] Azizah, A. Rahman, and D. Ma’asi, “Pengaruh Pembelajaran Jarak Jauh Luar Jaringan (PJJ Luring) terhadap Minat Belajar Siswa,” Journal of Elementary Education, vol. 4, no. 4, pp. 517–527, 2021.

[3] A. Fauzi and S. Nurhaliza, “Pengaruh Motivasi, Sikap Guru dan Fasilitas Belajar terhadap Minat Belajar Siswa,” Indonesian Journal on Education, vol. 3, no. 1, pp. 1–10, 2020.

[4] M. P. Pratama and F. N. Hasanah, “Pengaruh Media Pembelajaran Interaktif terhadap Minat Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA SD,” Jurnal Eduproxima, vol. 6, no. 1, pp. 1–10, 2024, doi: 10.29100/.v6i1.4454.

[5] A. Sulisto and N. Haryanti, Cooperative Learning Model (Cooperative Learning Model). Eureka Media Literacy, 2022.

[6] M. A. Ahmed and N. Kumalasari, “Development of Android-Based Descriptive Text Interactive Multimedia Materials in High School English Subjects,” Assyfa Learning Journal, vol. 1, no. 1, pp. 49–59, 2023, doi: 10.61650/alj.v1i1.17.

[7] A. N. Lesi and R. Nuraeni, “Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Self-Confidence Siswa antara Model TPS dan PBL,” Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 1, no. 2, pp. 249–262, 2021.

[8] A. Rachmawati and E. Erwin, “Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Berbantuan Media Video Animasi terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 3, no. 1, pp. 1–10, 2022.

[9] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2020.

[10] M. Yulianti, Faelasup, and M. R. Mubaidilla, “Pengaruh Penerapan Metode Think Pair Share terhadap Minat Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Kelas VI di SD Muhammadiyah 2 Sangatta Utara,” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, vol. 4, no. 1, pp. 44–53, 2025, doi: 10.58540/jipsi.v4i1.822.

[11] A. Masduki, “Efektivitas Metode Think Pair Share terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa,” TA’DIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 3, pp. 27–36, 2020, doi: 10.30659/jpai.3.2.27-36.

[12] N. F. Ramadhona, E. Susanti, A. Avida, N. F. Luthfi, and P. P. Sari, “Peningkatan Minat Belajar Siswa Melalui Media Pembelajaran pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1,” Berkala Ilmiah Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 428–440, 2024, doi: 10.51214/bip.v4i2.1056.

[13] W. Setiawan and A. B. Rojabiyah, “Analisis Minat Belajar Siswa MTs Kelas VII dalam Pembelajaran Matematika Materi Aljabar Berdasarkan Gender,” Journal on Education, vol. 1, no. 2, pp. 458–464, 2019.

[14] M. Y. Iskandar, S. Aisyah, and N. Novrianti, “Pengembangan Computer Based Testing Menggunakan Aplikasi Kahoot! untuk Evaluasi Pembelajaran,” Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah, vol. 9, no. 2, pp. 218–226, 2024.

[15] O. A. Fajrin, N. S. Wardani, and T. Prasetyo, “Pengaruh Pembelajaran Saintifik Think Pair Share (S-TPS) terhadap Minat Belajar Siswa Kelas 5 SD,” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, vol. 3, no. 1, pp. 35–43, 2019.

[16] I. Rifiana Ulfa, “Implementasi Instrumen Penilaian Sikap di SDN Gunungsaren Bantul,” [Online]. Available: https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/palapa. [Accessed: Jul. 9, 2026].

[17] R. E. Slavin, Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. Pearson, 2021.

[18] M. Yulianti and M. R. Mubaidilla, “Pengaruh Penerapan Metode Think Pair Share terhadap Minat Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Kelas VI di SD Muhammadiyah 2 Sangatta Utara,” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, vol. 4, no. 1, pp. 44–53, 2025.

[19] A. R. Kusuma et al., “Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Melalui Model Pembelajaran Think Pair Share,” Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 2, no. 1, pp. 1–10, 2021.

[20] L. Marlina, U. H. Habisukan, and D. Arfika, “Pengaruh Penerapan Model TPS (Think Pair Share) terhadap Minat Belajar Siswa Kelas VII pada Mata Pelajaran Biologi di MTs Negeri 1 Palembang,” Bioilmi: Jurnal Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 25–37, 2017.