Login
Section Education

Expressive Speech Acts Fostering Social Harmony In Tulo Village Interpersonal Conversations


Tindak Tutur Ekspresif Pembentuk Keharmonisan Sosial Dalam Percakapan Interpersonal Desa Tulo
Vol. 11 No. 2 (2026): December:

Rossa Nur Ramadhani (1), Idris Patekkai (2), Julia Marfuah (3), Ulinsa Ulinsa (4), Arum Pujiningtyas (5)

(1) Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Tadulako, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Tadulako, Indonesia
(3) Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Tadulako, Indonesia
(4) Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Tadulako, Indonesia
(5) Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Tadulako, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Language serves as a crucial pragmatic tool for human communication and societal interaction. Specific Background Expressive utterances specifically function to communicate a speaker's psychological attitude toward various daily situations. Knowledge Gap While previous pragmatic studies extensively explore language in formal contexts, media, and literature, natural conversational dynamics within rural communities remain largely undocumented. Aims This qualitative descriptive study aims to describe the forms and functions of expressive speech acts within everyday community conversations in Tulo Village. Results Observational and conversational data analysis reveals five primary forms of psychological expressions: thanking, congratulating, apologizing, blaming, and praising. The dominant occurrence of apologizing signifies a community characterized by active efforts to preserve societal relationships and resolve communication discomfort. Functional applications include expressing gratitude, offering appreciation, conveying regret, and delivering constructive criticism. Novelty This research provides distinct empirical documentation of localized pragmatic characteristics in Tulo Village, shifting the analytical focus from formal discourse to authentic rural interactions. Implications These findings demonstrate the critical role of linguistic politeness in maintaining relationship cohesion, offering a foundational reference for understanding culturally responsive pragmatic frameworks.


Highlights


  • The pragmatic analysis identifies apologizing as the most dominant linguistic behavior.




  • Residents frequently utilize thanking, congratulating, praising, and blaming to convey psychological attitudes.




  • These communicative strategies actively resolve interactional discomfort and sustain polite relationships.




Keywords

Pragmatics; Expressive Speech Acts; Linguistic Politeness; Psychological Attitudes; Rural Communication

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan sarana utama dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Melalui bahasa, manusia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengekspresikan pikiran, perasaan, serta sikap terhadap suatu keadaan. bahasa dipahami berdasarkan penggunaannya dalam konteks tertentu sehingga makna suatu tuturan tidak hanya ditentukan oleh struktur bahasa, tetapi juga oleh situasi dan tujuan penutur. Pada saat manusia beradaptasi kepada lingkungan sosial. Manusia memilih tututran yang digunakan bergantung pada situasi yang dihadapi [1]. Oleh karena itu, bahasa memiliki peranan penting untuk memperlancar segala aktivitas dilingkungan sosial. Bidang bahasa yang mengkaji bahasa serta konteksnya disebut pragmatik. Pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari makna ujuran yang ditentukan atau terikat oleh konteks.

Tindak tutur merupakan bagian dari peristiwa tutur berupa pengujaran kalimat untuk menyakatan suatu maksud dari sebuah proses interaksi sosial. Keberlangsungan tindak tutur ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur lebih kepada makna arti tindakan dalam tuturan, sehingga komunikasi dapat dipahami baik dari penutur maupun mitra tutur. Dalam memahami sebuah tuturan yang diajurkan oleh seseorang, perlu memperhatikan konteks, karena setiap tuturan dipengaruhi oleh konteks yang menjadi latar belakang sebuah tuturan. Suatu tuturan pasti mempunyai maksud serta faktor yang melatarbelakangi penutur dalam menyampaikan tuturan kepada mitra tutur dan kontekslah yang akan menentukan bentuk tuturan tersebut [2].

Tuturan tidak hanya berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, tetapi dapat digunakan untuk melakukan sesuatu. Teori tindak tutur ekspresif yang digunakan dalam penelitian ini, dikemukakan oleh John searle. Tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang menyatakan atau menunjukan sikap psikologis yang dirasakan oleh pentur terhadap suatu keadaan.

Hal yang penting didalam kajian pragmatik adalah tindak tutur, yaitu kegiatan melakukan tindakan mengujarkan tuturan kepada mitra tutur dengan maksud tertentu. Tindak tutur dibagi menjadi tiga, yaitu tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Namun yang menjadi fokus dari penelitian ini ialah tindak tutur ekspresif yang terdapat dari pembagian tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi. Misalnya, terima kasih, ucapan selamat, meminta maaf, menyalahkan, dan memuji. [3]

Tindak tutur ekspresif adalah salah satu jenis tindak tutur yang berfungsi untuk mengungkapkan atau mengkomunikasikan sikap psikologis penutur terhadap situasi yang tersirat dalam ilokusi (Esdar et al., 2024) Tindak tutur ekspresif terdapat dalam pembagian tindak tutur ilokusi [4]. Tindak tutur ekspresif, sebagai salah satu bentuk komunikasi, memiliki peran penting dalam interaksi sosial, termasuk di masyarakat desa, seperti desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi.

Berbagai penelitian terdahulu mengenai tindak tutur ekspresif umumnya berfokus pada objek seperti karya sastra, media sosial, film, maupun lingkungan pendidikan dengan tujuan mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam konteks tersebut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tindak tutur ekspresif sangat dipengaruhi oleh konteks komunikasi, hubungan antarpeserta tutur, serta situasi terjadinya tuturan. Namun, penelitian yang mengkaji tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat yang berlangsung secara alami di lingkungan masyarakat Desa Tulo, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi masih sangat terbatas. Padahal, masyarakat Desa Tulo memiliki karakteristik komunikasi yang dipengaruhi oleh kebiasaan berbahasa dan interaksi sosial sehari-hari sehingga memungkinkan munculnya bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif yang khas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melengkapi kekosongan kajian tersebut dengan mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif yang digunakan masyarakat Desa Tulo dalam percakapan sehari-hari.

Tindak tutur ini diakui sebagai alat untuk mendeskripsikan sikap dan perasaan ini individu terhadap berbagai situasi atau mitra tutur dalam interaksinya. Berikut contoh tindak tutur ekspresif pada masyarakat di desa Tulo.

PN 1 : Terima kasih ee sudah bantu saya (a)

PN 2 : Iye sama sama (b)

Pada data di atas, tuturan (a) merupakan bentuk tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih dengan menggunakan strategi langsung. Dalam percakapan tersebut, tindak tutur ekspresif yang disampaikan oleh penutur 1 kepada penutur 2 bertujuan untuk mengeskpresifkan rasa syukur dan penghargaan karena sudah membantu. Ucapan tersebut termasuk dalam tindak tutur ekspresif, yaitu terima kasih. Dalam hal ini, penutur 1 mengungkapkan rasa terima kasih sebagai respon terhadap tindakan penutur 2. Melalui tuturan ekspresif ini, penutur 1 berharap penutur 2 dapat memahami makna dari ucapannya.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian Tindak Tutur Ekspresif dalam Percakapan Masyarakat di Desa Tulo. Hal ini dilatarbelakangi pertama, untuk mengetahui bagaimana bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif yang digunakan oleh remaja. Kedua, Penulis memfokuskan masyarakat sebagai bahan penelitian, karena masyarakat yang di desa tulo belum dibekali atau belum mempelajari materi mengenai pragmatik. Oleh sebab itu, masyarakat tersebut belum memahami maksud tuturan yang diujarkan. Ketiga, percakapan yang dilakukan masyarakat kemungkinan terdapat pengungkapan dan pengekspresian suatu ujuran yang mereka sampaikan akan menimbulkan perbedaan. Tindak tutur ekspresif yang digunakan para masyarakat tentu akan berbeda-beda dan bervariasi dalam menyampaikan tuturan.

Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang lebih banyak mengkaji tindak tutur ekspresif pada konteks formal maupun media tertentu, penelitian ini memusatkan perhatian pada penggunaan tindak tutur ekspresif dalam percakapan alami masyarakat Desa Tulo. Fokus penelitian tidak hanya mengidentifikasi bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif, tetapi juga menggambarkan bagaimana tuturan tersebut digunakan dalam interaksi sosial masyarakat sehari-hari. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian pragmatik, khususnya mengenai penggunaan tindak tutur ekspresif dalam konteks masyarakat lokal yang masih jarang diteliti serta menjadi dokumentasi ilmiah mengenai karakteristik komunikasi masyarakat Desa Tulo.

METODE

A.Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sugiyono, (2020:9) mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif bertujuannya untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa, khususnya tindak tutur ekspresif, dalam konteks alamiahnya [6].

B.Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo, dilakukan di Desa Tulo, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Penelitian ini dilaksanakan pada mei-juni 2026.

C.Data dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini berupa data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti. Data tersebut berupa bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Tulo yang terlibat dalam percakapan yang mengandung tindak tutur ekspresif. Data diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap komunikasi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

D.Intrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Sebagaimana Sugiyono, (2020) menyatakan peneliti adalah instumen kunci dalam penelitian kualitatif [6].

E.Teknik Pengumpulan Data

1.Observasi

Menurut Sugiyono, (2020) Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung objek yang diteliti untuk memperoleh data yang bersifat faktual dan sesuai dengan kondisi alamiah di lapangan [6].

2.Teknik Simak

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik simak, yaitu dengan menyimak penggunaan bahasa oleh penutur tanpa memengaruhi proses tuturan. teknik ini diterapkan melalui teknik sadap dan teknik simak bebas libat cakap (SBLC), di mana peneliti berperan sebagai pengamat dan tidak terlibat langsung dalam percakapan.

3.Teknik Cakap

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik cakap melalui teknik cakap semuka dan teknik pancing.

F.Teknik Analisis Data

1.Pengumpulan Data

Langkah awal penelitian ini adalah pengumpulan data. Data dikumpulkan menggunakan teknik observasi, teknik simak, dan cakap. teknik simak diterapkan dengan sadap dan simak bebas libat cakap (SBLC) untuk memperoleh tuturan secara alami, sedangkan teknik cakap menggunakan cakap semuka dan teknik pancing agar peneliti dapat memperoleh data langsung dari informan sesuai tujuan penelitian.

2.Reduksi Data

Dalam tahap reduksi data, peneliti mengklasifikasikan data berdasarkan bentuk tindak tutur ekspresif, yang meliputi ungkapan berterima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan bentuk ekspresif lainnya. Data yang telah dikumpulkan melalui proses penyimakan kemudian dipilah dan dikelompokkan sesuai dengan kategori tersebut.

3.Penyajian Data

Setelah mereduksi data, langkah selanjutnya adalah penyajian data. Data yang disajikan berfokus pada tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo. Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk tulisan, yaitu dengan menjabarkan dan mengklasifikasikan tuturan yang telah direduksi. Proses ini menyajikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif secara rapi dan sistematis.

4.Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Langkah terakhir dalam analisis data ini adalah penarikkan kesimpulan atau verifikasi. Penarikan kesimpulan mengenai tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di desa Tulo dilakukan setelah kegiatan mereduksi data dan penyajian data. Kesimpulan merupakan hasil dari kegiatan mengaitkan rumusan masalah penelitian, yaitu apa saja bentuk tindak dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam percakpan masyarakat di Desa Tulo.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dibahas hasil temuan penelitian mengenai bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa tindak tutur ekspresif mencakup a) Terima kasih, terdiri atas 7 data b) Memberi selamat, terdiri atas 2 data c) Meminta maaf, terdiri atas 10 data d) Menyalahkan, terdiri atas 4 data dan e) Memuji, terdiri atas 5 data. Adapun deskripsi hasil penelitian dan pembahasan tersebut sebagai berikut:

B.Pembahasan

1.Bentuk Tindak Tutur Ekspresif

Searle (dalam Mulya et al., 2021) mengungkapkan bahwa bahwa bentuk tindak tutur ekspresif menekankan pada sisi psikologis penutur terhadap suatu kondisi. Tindak tutur ini memiliki bermacam-macam bentuk sebagai berikut: Tuturan mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji.

a.Bentuk Tindak Tutur Ekspresif Terima Kasih

Tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih adalah bentuk ujaran yang digunakan seseorang untuk menyatakan rasa syukur, penghargaan, dan apresiasi kepada pihak lain atas bantuan, perhatian, kebaikan, dukungan, atau manfaat yang telah diterimanya. Selain berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur, ucapan terima kasih juga berperan dalam menjaga kesantunan berbahasa, mempererat hubungan sosial dalam percakapan remaja di Desa Tulo, ditemukan beberapa bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih, sebagai berikut:

Data 1

PN 1 : Lusi bawa kemari kartu remi itu

PN 2 : Yang ini?

PN 1 : Iyo yang itu

PN 2 : (Langsung memberikan kartu remi)

PN 1 : Makasih ee

PN 2 : Iye sama -sama

Tuturan pada data 1 terjadi di sebuah kedai pada malam hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “makasih ee”, yang diucapkan setelah menerima kartu dari penutur 2. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas bantuan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan perasaan senang dan penghargaan penutur terhadap kebaikan yang diberikan oleh penutur 2.

Data 2

PN 1 : Kau mau main kartu remi?

PN 2 : Iyo madota, ba duduk dimana saya?

PN 1 : Ba duduk di tempatku ini

PN 2 : Oke dan, makasih ee

PN 1 : Cepat jo duduk disini

Tuturan pada data 2 terjadi di sebuah kedai pada malam hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “makasih ee”, yang diucapkan setelah diberikan tempat duduk oleh penutur 2. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas kebaikan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan rasa terima kasih penutur 1 atas perhatian yang diberikan oleh penutur 2.

Data 3

PN 1 : Pulang sama-sama kita, saya bonceng kau

PN 2 : Betulan?

PN 1 : Iyo betulan rangah

PN 2 : Okedan, Terima kasih ee

PN 1 : Iyo sama-sama sini jo kita pulang sudah

Tuturan pada data 3 terjadi di sebuah kedai pada malam hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 2, yaitu “Okedan, terima kasih ee”, yang diucapkan setelah penutur 1 bersedia mengantarnya pulang. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas bantuan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan rasa terima kasih penutur 2 atas kebaikan yang diberikan oleh penutur 1.

Data 4

PN 1 : Adit temani saya pigi ambe sepatu bolaku

PN 2 : Kapan?

PN 1 : Sekarang ini

PN 2 : Oh siap, anjo dan pigi kita

PN 1 : Makasih adit aa

PN 2 : Iyo sip

Tuturan pada data 4 terjadi di depan rumah penutur pada malam hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “makasi Adit aa”, yang diucapkan setelah penutur 2 bersedia menemaninya. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas bantuan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan rasa terima kasih penutur 1 kepada penutur 2 atas perhatian dan kebersamaan yang diberikan.

Data 5

PN 1 : Adit liat kata hpmu jam so jam berapa?

PN 2 : So jam 22:00

PN 1 : Bah iyokah?

PN 2 : Tidak percaya sekali kau

PN 1 : Oh oke, makasih deluan saya pulang

Tuturan pada data 5 terjadi di depan rumah penutur pada malam hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Oh oke, makasih deluan saya pulang”, yang diucapkan setelah penutur 2 membantu mengecek waktu melalui telepon genggamnya. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas bantuan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan rasa terima kasih penutur 1 kepada penutur 2 atas bantuan yang diberikan.

Data 6

PN 1 : Kamu mau kue ini?

PN 2 : Saya

PN 1 : Ambe jo nanti saya bayarkan

PN 2 : Makasih aa ( sambil mengambil kue )

Tuturan pada data 6 terjadi di sebuah kios pada malam hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 2, yaitu “Makasih aa” (sambil mengambil kue), yang diucapkan setelah ditawari kue oleh penutur 1. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas kebaikan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan rasa terima kasih penutur 2 atas pemberian kue dari penutur 1.

Data 7

PN 1 : Ambe dulu bola di rumahnya adit sana main kita

PN 2 : Hau mo iko mangalah mboto

PN 1 : Hama ba mintol ini ( minta tolong)

PN 2 : Huu iyota tunggu

PN 1 : Oke-oke Makasih ( sambil menerima bola )

Tuturan pada data 7 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif berterima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur, yaitu “oke-oke makasih” (sambil menerima bola), yang diucapkan setelah mitra tutur membantu mengambilkan bola. Tuturan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas bantuan yang diterima. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif berterima kasih karena menunjukkan rasa terima kasih penutur kepada mitra tutur atas bantuan yang diberikan.

b.Bentuk Tindak Tutur Ekspresif Memberi Selamat

Tindak tutur ekspresif memberi selamat merupakan ujaran yang digunakan untuk mengungkapkan rasa senang, apresiasi, dan harapan baik kepada seseorang atas keberhasilan atau peristiwa membahagiakan yang dialaminya. Tuturan ini berfungsi sebagai bentuk penghargaan sekaligus mempererat hubungan sosial serta menciptakan interaksi yang harmonis antara penutur dan lawan tutur. Berikut beberapa bentuk tindak tutur ekspresif memberi selamat yang ditemukan dalam percakapan remaja di Desa Tulo :

Data 8

PN 1 : Selamat awa, apa kau juara kelas lagi

PN 2 : Iye makasih

Tuturan pada data 8 terjadi di halaman rumah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif ucapan selamat. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Selamat apa kau juara kelas lagi”, yang diucapkan sebagai respons atas keberhasilan penutur 2 menjadi juara kelas. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif ucapan selamat karena menunjukkan rasa senang dan penghargaan penutur 1 terhadap keberhasilan yang dicapai oleh penutur 2.

Data 9

PN 1 : Selamat ulang tahun adit, panjang umur sehat selalu

PN 2 : Iye makasih le

Tuturan pada data 9 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif ucapan selamat. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Selamat ulang tahun Adit, panjang umur dan sehat selalu”, yang diucapkan kepada penutur 2 yang sedang berulang tahun. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif ucapan selamat karena menunjukkan rasa senang, doa, dan penghargaan penutur 1 terhadap penutur 2 yang sedang merayakan ulang tahun.

c.Bentuk Tindak Tutur Ekspresif Meminta Maaf

Tindak tutur ekspresif meminta maaf adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan penyesalan dan memohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukan. Tuturan ini berfungsi untuk menunjukkan tanggung jawab penutur serta menjaga dan memperbaiki hubungan sosial dengan lawan tutur. Berikut tuturan permintaan maaf yang ditemukan dalam percakapan remaja di Desa Tulo.

Data 10

PN 1 : Astaga, maaf-maaf kena mukamu suda bola

PN 2 : Aman-aman namanya bermain bola

PN 1 : Iye maaf dan aa

Tuturan pada data 10 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Astaga, maaf-maaf kena mukamu suda bola dan iye maaf dan aa”, yang diucapkan setelah bola yang ditendangnya mengenai wajah penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang telah dilakukan

Data 11

PN 1 : Maaf, tida ke arahmu tadi bola saya tendang

PN 2 : Iye tepapa-tepapa

Tuturan pada data 11 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf ee, tida ke arahmu bola saya tendang”, yang diucapkan karena bola yang ditendangnya tidak sengaja mengarah kepada penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang terjadi.

Data 12

PN 1 : Aduh maaf aa, tida sampe bolaku saya tendang

PN 2 : Tepapa cuma bermain biasa juga ini

Tuturan pada data 12 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Aduh maaf aa, tida sampe bolaku saya tendang”, yang diucapkan karena tendangan bola tidak sampai kepada penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang terjadi.

Data 13

PN 1 : Maaf roa salah opor bola saya tadi

PN 2 : Bah tepapa cuman main santai juga

Tuturan pada data 13 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf roa salah opor bola saya tadi”, yang diucapkan karena penutur 1 tidak sengaja salah mengoper bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang dilakukan.

Data 14

PN 1 : Sakit mukamu kena bola tadi?

PN 2 : Te juga sakit

PN 1 : Maaf hamo tida saya sengaja tadi ba kasi kena mukamu

PN 2 : Iye tepapa ranga

Tuturan pada data 14 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf hamo tida saya sengaja tadi ba kasi kena mukamu”, yang diucapkan setelah bola yang ditendangnya mengenai wajah penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas tindakan yang tidak disengaja.

Data 15

PN 1 : Maaf, gara-gara saya kita tida ba cetak gol

PN 2 : Bah cuman main santai juga

Tuturan pada data 15 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf, gara-gara saya kita tida ba cetak gol”, yang diucapkan karena penutur 1 melakukan kesalahan saat menendang bola sehingga gagal mencetak gol. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang dilakukan.

Data 16

PN 1 : Maaf, saya salah posisi tadi le

PN 2 : Mbay tekenapa namanya cuman latihan

Tuturan pada data 16 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf, saya salah posisi tadi le”, yang diucapkan karena penutur 1 melakukan kesalahan posisi saat bermain bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang dilakukan.

Data 17

PN 1 : Maaf-maaf saya tida sengaja senggol kau

PN 2 : Iyo tepapa bah

Tuturan pada data 17 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf-maaf saya tida sengaja senggol kau”, yang diucapkan setelah tidak sengaja menyenggol penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan, tanggung jawab, dan upaya meredakan suasana akibat kesalahan yang dilakukan.

Data 18

PN 1 : Maaf, tadi saya terlalu kuat ba tendang bola

PN 2 : Santai saja ranga cuman main biasa-biasa saja

Tuturan pada data 18 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf, tadi saya terlalu kuat ba tendang bola”, yang diucapkan karena penutur 1 menendang bola terlalu keras. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan tanggung jawab penutur 1 atas kesalahan yang dilakukan.

Data 19

PN 1 : Maaf aa so kelewatan saya bercanda dengan kau

PN 2 : Iye tida kenapa Adit

Tuturan pada data 19 terjadi di depan rumah penutur pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf aa so kelewatan saya bercanda dengan kau”, yang diucapkan karena penutur 1 menyadari candaan yang diberikan kepada penutur 2 sudah berlebihan. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif meminta maaf karena menunjukkan rasa penyesalan dan kesadaran penutur 1 atas kesalahan yang dilakukan.

d.Bentuk Tindak Tutur Ekspresif Menyalahkan

Tindak tutur ekspresif menyalahkan adalah bentuk ujaran yang digunakan untuk menuduh atau menganggap seseorang maupun sesuatu sebagai penyebab terjadinya kesalahan. Berikut bentuk tindak tutur ekspresif menyalah yang ditemukan dalam percakapan remaja di Desa Tulo.

Data 20

PN 1 : Kau lama sekali datang

PN 2 : Masi di suru mamaku tadi saya.

Tuturan pada data 20 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kau lama sekali datang”, yang diucapkan karena penutur 2 datang terlambat. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif menyalahkan karena menunjukkan rasa kesal, kecewa, dan penilaian negatif penutur 1 terhadap tindakan penutur 2.

Data 21

PN 1 : Gara-gara kau lama datang, jadi kitorang pake bolanya Adit

PN 2 : Iyo maaf ranga.

Tuturan pada data 21 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Gara-gara kau lama datang, jadi kitorang pake bolanya Adit”, yang diucapkan karena penutur 2 terlambat membawa bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif menyalahkan karena menunjukkan rasa kecewa dan penilaian negatif penutur 1 terhadap tindakan penutur 2.

Data 22

PN 1 : Kau gara-gara lagi dia. Apa dia tida mau jengkel

PN 2: Saya pikir dia te jengkel kalau di gara-gara. Apa saya cuma bercanda.

Tuturan pada data 22 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kau gara-gara lagi dia. Apa dia tida mau jengkel”, yang diucapkan karena penutur 2 mengganggu penutur 1 dengan candaan berlebihan. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif menyalahkan karena menunjukkan rasa kecewa dan ketidaknyamanan penutur 1 terhadap tindakan penutur 2.

Data 23

PN 1 : Kenapa kau ceritakan lusi lagi yang saya kasi tau kau kemarin

PN 2 : Saya pikir dia tida mau cerita sama rifka lagi

PN 1 :Padahal suda saya jangan ceritakan sama orang lain.

Tuturan pada data 23 terjadi di salah satu rumah penutur pada sore hari. Tuturan pada data 23 menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kenapa kau ceritakan lusi lagi yang saya kasi tau kau kemarin”, yang diucapkan karena penutur 2 menyebarkan cerita pribadi yang dipercayakan kepadanya. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif menyalahkan karena menunjukkan rasa kecewa dan ketidakpuasan penutur 1 terhadap tindakan penutur 2.

e.Bentuk Tindak Tutur Ekspresif Memuji

Tindak tutur ekspresif memuji adalah bentuk tuturan yang digunakan untuk menyatakan pujian, penghargaan, atau penilaian positif terhadap seseorang, tindakan, benda, atau keadaan yang dianggap memiliki kualitas baik. Berikut beberapa bentuk tindak tutur ekspresif memuji yang digunakan dalam percakapan remaja di Desa Tulo.

Data 24

PN 1 : Motor baru kau?

PN 2 : Iye motor baru

PN 1 : Bagus sekali model motornya

Tuturan pada data 24 terjadi di depan rumah penutur pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Bagus sekali model motornya”, yang diucapkan karena penutur 1 tertarik dengan motor milik penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif memuji karena menunjukkan rasa kagum dan penilaian positif penutur 1 terhadap sesuatu yang dianggap menarik.

Data 25

PN 1 : Bagus bulu matamu lusi panjang baru melentik

PN 2 : Biasa saja bulu mataku

Tuturan pada data 25 terjadi di halaman depan rumah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Bagus bulu matamu lusi panjang baru melentik”, yang diucapkan karena penutur 1 tertarik dengan penampilan fisik penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif memuji karena menunjukkan rasa kagum dan penilaian positif penutur 1 terhadap penampilan penutur 2.

Data 26

PN 1 : Mantap tendanganmu tadi adit, suda boleh jadi pemain liga

PN 2 : Hama tida juga, tapi aamiin

Tuturan pada data 26 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Mantap tendanganmu tadi adit, suda boleh jadi pemain liga”, yang diucapkan karena kemampuan menendang penutur 2 sangat baik. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif memuji karena menunjukkan rasa kagum dan penghargaan penutur 1 terhadap kemampuan penutur 2.

Data 27

PN 1 : Kau liat adit tadi ba gol bola bagus to

PN 2 : Iye saya liat

PN 1 : Keren ee

Tuturan pada data 27 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kau liat adit tadi ba opor bola bagus to dan keren ee”, yang diucapkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kemampuan penutur lain dalam bermain bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif memuji karena menunjukkan rasa kagum dan penghargaan terhadap kemampuan penutur lain.

Data 28

PN 1 : Suda bagus mainmu tadi viki

PN 2 : Makasih atas pujian le, hahaha

PN 2 : Pertahankan mainmu

Tuturan pada data 28 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan bentuk tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “suda bagus mainmu tadi viki”, yang diucapkan karena penutur 2 bermain dengan baik. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif memuji karena menunjukkan rasa kagum dan penghargaan penutur 1 terhadap kemampuan penutur 2 dalam permainan.

2.Fungsi Tindak Tutur Ekspresif

Searle (1979) (dalam Saleh et al., 2024) fungsi tindak tutur ekspresif yaitu indak tutur ekspresif berfungsi untuk menyampaikan perasaan atau sikap emosional penutur kepada mitra tutur, misalnya melalui ucapan terima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan Tindak tutur ekspresif sering ditandai dengan mengucapkan terima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji.

a.Fungsi Tindak Tutur Ekspresif Berterima kasih

Fungsi tindak tutur ekspresif terima kasih adalah untuk mengungkapkan rasa syukur, dan sebagai bentuk balasan atas kebaikan yang diterima. Dalam percakapan remaja di Desa Tulo, tuturan ini berfungsi untuk menyatakan terima atas perbuatan baik yang dilakukan orang lain. Adapun fungsi tindak tutur ekspresif berterima kasih tersebut dapat dilihat pada data berikut :

Data 1

PN 1 : Lusi bawa kemari kartu remi itu

PN 2 : Yang ini?

PN 1 : Iyo yang itu

PN 2 : (Langsung memberikan kartu remi)

PN 1 : Makasih ee

PN 2 : Iye sama -sama

Tuturan pada data 1 terjadi di kedai pada malam hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “makasih ee”, yang diucapkan setelah menerima kartu dari penutur 2. Tuturan tersebut berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur, kesantunan, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antarpenutur. Sesuai dengan teori Searle (1979), tindak tutur ekspresif digunakan untuk mengungkapkan sikap psikologis penutur, termasuk rasa terima kasih yang dapat mempererat hubungan antara penutur dan mitra tutur.

Data 2

PN 1 : Kau mau main kartu remi?

PN 2 : Iyo madota, ba duduk dimana saya?

PN 1 : Ba duduk di tempatku ini

PN 2 : Oke dan, makasih ee

PN 1 : Cepat jo duduk disini

Tuturan pada data 2 terjadi di kedai pada malam hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 2, yaitu “makasih ee”, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur, kesantunan, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antarpenutur. Sesuai dengan teori Searle (1979), tindak tutur ekspresif berperan dalam mengungkapkan sikap psikologis penutur sekaligus memperkuat hubungan sosial dalam interaksi sehari-hari.

Data 3

PN 1 : Pulang sama-sama kita, saya bonceng kau

PN 2 : Betulan?

PN 1 : Iyo betulan rangah

PN 2 : Okedan, Terima kasih ee

PN 1 : Iyo sama-sama sini jo kita pulang sudah

Tuturan pada data 3 terjadi di kedai pada malam hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 2, yaitu “Okedan, terima kasih ee”, yang diucapkan setelah mendapat bantuan dari penutur 1 berupa kesediaan mengantar pulang. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa syukur, menunjukkan kesantunan, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 4

PN 1 : Adit temani saya pigi ambe sepatu bolaku

PN 2 : Kapan?

PN 1 : Sekarang ini

PN 2 : Oh siap, anjo dan pigi kita

PN 1 : Makasih adit aa

PN 2 : Iyo sip

Tuturan pada data 4 terjadi di depan rumah pada malam hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “makasi adit aa”, yang diucapkan setelah mendapat bantuan berupa menemani dari penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa syukur, menunjukkan kesantunan, serta mempererat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 5

PN 1 : Adit liat kata hpmu jam so jam berapa?

PN 2 : So jam 22:00

PN 1 : Bah iyokah?

PN 2 : Tidak percaya sekali kau

PN 1 : Oh oke, makasih deluan saya pulang

Tuturan pada data 5 terjadi di depan rumah penutur pada malam hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Oh oke, makasih deluan saya pulang”, yang diucapkan setelah mendapat bantuan dari penutur 2 berupa pengecekan waktu melalui handphone. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa syukur, menunjukkan kesantunan, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 6

PN 1 : Kamu mau kue ini?

PN 2 : Saya

PN 1 : Ambe jo nanti saya bayarkan

PN 2 : Makasih aa ( sambil mengambil kue )

Tuturan pada data 6 terjadi di kios pada malam hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 2, yaitu “Makasih aa” (sambil mengambil kue), yang diucapkan setelah menerima pemberian dari penutur 1. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa syukur, menunjukkan kesantunan, serta mempererat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 7

PN 1 : Ambe dulu bola di rumahnya adit sana main kita

PN 2 : Hau mo iko mangalah mboto

PN 1 : Hama ba mintol ini ( minta tolong)

PN 2 : Huu iyota tunggu

PN 1 : Oke-oke Makasih ( sambil menerima bola )

Tuturan pada data 7 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif terima kasih. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “oke-oke makasih” (sambil menerima bola), yang diucapkan setelah mendapat bantuan dari mitra tutur. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa syukur, menunjukkan kesantunan, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

b.Fungsi Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Selamat

Fungsi tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat adalah untuk menyampaikan dan memberikan ucapan selamat kepada lawan tutur. Dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo Tuturan ini berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan rasa kegembiraan, menjaga keharmonisan interaksi sosial, dan memperkuat hubungan pertemanan antarremaja. Adapun fungsi tindak tutur ekspresif memberi selamat tersebut dapat dilihat pada data berikut :

Data 8

PN 1 : Selamat awa, apa kau juara kelas lagi

PN 2 : Iye makasih

Tuturan pada data 8 terjadi di halaman rumah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan selamat. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Selamat apa kau juara kelas lagi”, yang diucapkan karena penutur 2 berhasil meraih juara kelas. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa gembira dan apresiasi, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 9

PN 1 : Selamat ulang tahun adit, panjang umur sehat selalu

PN 2 : Iye makasih le

Tuturan pada data 9 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif ucapan selamat. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Selamat ulang tahun Adit, panjang umur sehat selalu”, yang diucapkan kepada penutur 2 yang sedang berulang tahun. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan kegembiraan, doa, dan apresiasi, serta mempererat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

c.Fungsi Tindak Tutur Ekspresif Meminta Maaf

Fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf untuk menyampaikan atau menyatakan rasa bersalah dan penyesalan atas kesalahan yang dilakukan pada lawan tutur, ungkapan ini berupa permohonan maaf dan ungkapan penyesalan. Adapun fungsi tindak tutur ekspresif memberi selamat tersebut dapat dilihat pada data berikut :

Data 10

PN 1 : Astaga, maaf-maaf kena mukamu suda bola

PN 2 : Aman-aman namanya bermain bola

PN 1 : Iye maaf dan aa

Tuturan pada data 10 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Astaga, maaf-maaf kena mukamu suda bola dan iye maaf dan aa”, yang diucapkan setelah bola yang ditendangnya mengenai wajah penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 11

PN 1 : Maaf, tida ke arahmu tadi bola saya tendang

PN 2 : Iye tepapa-tepapa

Tuturan pada data 11 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf ee, tidak ke arahmu bola saya tendang”, yang diucapkan karena bola yang ditendangnya tidak sengaja mengarah kepada penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 12

PN 1 : Aduh maaf aa, tida sampe bolaku saya tendang

PN 2 : Tepapa cuma bermain biasa juga ini

Tuturan pada data 12 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Aduh maaf aa, tidak sampai bolaku saya tendang”, yang diucapkan karena tendangan bola tidak sampai kepada penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 13

PN 1 : Maaf roa salah opor bola saya tadi

PN 2 : Bah tepapa cuman main santai juga

Tuturan pada data 13 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf roa salah opor bola saya tadi”, yang diucapkan karena penutur 1 tidak sengaja salah mengoper bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 14

PN 2 : Te juga sakit

PN 1 : Maaf hamo tida saya sengaja tadi ba kasi kena mukamu

PN 2 : Iye tepapa ranga

Tuturan pada data 14 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf hamo tidak saya sengaja tadi ba kasi kena mukamu”, yang diucapkan setelah bola yang ditendangnya mengenai wajah penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 15

PN 1 : Maaf, gara-gara saya kita tida ba cetak gol

PN 2 : Bah cuman main santai juga

Tuturan pada data 15 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf, gara-gara saya kita tidak ba cetak gol”, yang diucapkan karena kesalahan penutur 1 menyebabkan tim gagal mencetak gol. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 16

PN 1 : Maaf, saya salah posisi tadi le

PN 2 : Mbay tekenapa namanya cuman latihan

Tuturan pada data 16 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf, saya salah posisi tadi le”, yang diucapkan karena penutur 1 melakukan kesalahan posisi saat bermain bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 17

PN 1 : Maaf-maaf saya tida sengaja senggol kau

PN 2 : Iyo tepapa bah

Tuturan pada data 17 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf-maaf saya tida sengaja senggol kau”, yang diucapkan karena tidak sengaja menyenggol penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur

Data 18

PN 1 : Maaf, tadi saya terlalu kuat ba tendang bola

PN 2 : Santai saja ranga cuman main biasa-biasa saja

Tuturan pada data 18 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf, tadi saya terlalu kuat ba tendang bola”, yang diucapkan karena penutur 1 menendang bola terlalu keras. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 19

PN 1 : Maaf aa so kelewatan saya bercanda dengan kau

PN 2 : Iye tida kenapa Adit

Tuturan pada data 19 terjadi di depan rumah penutur pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif meminta maaf. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Maaf aa so kelewatan saya bercanda dengan kau”, yang diucapkan karena candaan penutur 1 dianggap berlebihan. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan penyesalan, tanggung jawab, serta menjaga keharmonisan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

d.Fungsi Tindak Tutur Ekspreisf Menyalahkan

Tindak tutur ekspresif menyalahkan berfungsi untuk mengkritik, menyatakan keberatan, dan membebankan tanggung jawab atas terjadinya suatu keadaan yang tidak diinginkan. Dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo, tuturan ini digunakan untuk menyatakan kesalahan atau rasa tidak suka terhadap suatu keadaan yang kurang baik. Adapun fungsi tindak tutur ekspresif memberi selamat tersebut dapat dilihat pada data berikut :

Data 20

PN 1 : Kau lama sekali datang

PN 2 : Masi di suru mamaku tadi saya

Tuturan pada data 20 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kau lama sekali datang”, yang diucapkan karena penutur 2 datang terlambat. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa kecewa sekaligus menjadi bentuk pengingat agar mitra tutur lebih disiplin dan bertanggung jawab dalam interaksi sosial.

Data 21

PN 1 : Gara-gara kau lama datang, jadi kitorang pake bolanya Adit

PN 2 : Iyo maaf ranga

Tuturan pada data 21 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Gara-gara kau lama datang, jadi kitorang pake bolanya Adit”, yang diucapkan karena penutur 2 terlambat membawa bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan rasa kecewa sekaligus menjadi pengingat untuk meningkatkan disiplin dan tanggung jawab dalam interaksi sosial.

Data 22

PN 1 : Kau gara-gara lagi dia. Apa dia tida mau jengkel

PN 2 : Saya pikir dia te jengkel kalau di gara-gara. Apa saya cuma bercanda

Tuturan pada data 22 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kau gara-gara lagi dia. Apa dia tida mau jengkel”, yang diucapkan karena penutur 2 mengganggu dengan candaan berlebihan. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan ketidakpuasan sekaligus menjadi pengingat untuk menjaga sikap dan keharmonisan dalam interaksi sosial.

Data 23

PN 1 : Kenapa kau ceritakan lusi lagi yang saya kasi tau kau kemarin

PN 2 : Saya pikir dia tida mau cerita sama rifka lagi

PN 1 : Padahal suda bilang saya jangan ceritakan sama orang lain

Tuturan pada data 23 terjadi di rumah penutur pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif menyalahkan. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kenapa kau ceritakan lagi yang saya kasi tau kau kemarin”, yang diucapkan karena penutur 2 menyebarkan cerita pribadi tanpa izin. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan kekecewaan sekaligus menjadi pengingat untuk menjaga kepercayaan, tanggung jawab, dan keharmonisan hubungan sosial.

e.Fungsi Tindak Tutur Ekspresif Memuji

Fungsi tindak tutur ekspresif memuji untuk menunjukan untuk menyatakan pujian, penghargaan, atau penilaian positif kepada orang lain. Dalam percakapan remaja di Desa Tulo, tuturan ini bertujuan memberikan pujian karena sesuatu yang dianggap indah, baik, dan sejenisnya. Berikut fungsi tindak tutur ekspresif memuji.

Data 24

PN 1 : Motor baru kau?

PN 2 : Iye motor baru

PN 1 : Bagus sekali model motornya

Tuturan pada data 24 terjadi di depan rumah penutur pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Bagus sekali model motornya”, yang diucapkan karena penutur 1 kagum terhadap motor milik penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan apresiasi dan kekaguman serta memperkuat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 25

PN 1 : Bagus bulu matamu lusi panjang baru melentik

PN 2 : Biasa saja bulu mataku

Tuturan pada data 25 terjadi di halaman depan rumah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Bagus bulu matamu Lusi, panjang dan melentik”, yang diucapkan karena penutur 1 tertarik dengan penampilan penutur 2. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan apresiasi dan kekaguman serta memperkuat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 26

PN 1 : Mantap tendanganmu tadi adit, suda boleh jadi pemain liga

PN 2 : Hama tida juga, tapi aamiin

Tuturan pada data 26 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Mantap tendanganmu tadi Adit, sudah boleh jadi pemain liga”, yang diucapkan karena kemampuan menendang penutur 2 sangat baik. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan apresiasi, meningkatkan rasa percaya diri, serta memperkuat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Data 27

PN 1 : Kau liat adit tadi ba gol bola bagus to

PN 2 : Iye saya liat

PN 1 : Keren ee

Tuturan pada data 27 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “Kau lihat Adit tadi ba opor bola bagus to dan keren ee”, yang diucapkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kemampuan penutur lain dalam bermain bola. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan kekaguman, memperkuat hubungan sosial, serta menciptakan interaksi yang positif antara penutur dan mitra tutur.

Data 28

PN 1 : Suda bagus mainmu tadi viki

PN 2 : Makasih atas pujiannya le, hahaha

PN 2 : Pertahankan mainmu

Tuturan pada data 28 terjadi di lapangan halaman sekolah pada sore hari dan menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif memuji. Hal ini terlihat pada tuturan penutur 1, yaitu “sudah bagus mainmu tadi Viki”, yang diucapkan karena penutur 2 bermain dengan baik. Sesuai dengan teori Searle (1979), tuturan tersebut berfungsi mengungkapkan apresiasi, memberikan motivasi, serta memperkuat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian, ditemukan bahwa bentuk tindak tutur ekspresif yang muncul dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo terdiri atas tindak tutur berterima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, menyalahkan, dan memuji. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur meminta maaf lebih sering digunakan dalam percakapan yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa penutur cenderung mengungkapkan penyesalan ketika melakukan kesalahan atau tindakan yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tutur. Sebagian besar data diperoleh dari interaksi sehari-hari, terutama pada aktivitas bermain sepak bola dan percakapan antarremaja, sehingga situasi tersebut lebih banyak memunculkan tuturan permintaan maaf dibandingkan bentuk tindak tutur ekspresif lainnya.

Selain itu, tindak tutur berterima kasih juga sering digunakan sebagai bentuk penghargaan terhadap bantuan atau kebaikan yang diterima dari mitra tutur. Adapun tindak tutur memuji, menyalahkan, dan mengucapkan selamat digunakan sesuai dengan konteks komunikasi yang melatarbelakangi terjadinya tuturan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo dipengaruhi oleh konteks komunikasi yang berlangsung. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat teori tindak tutur ekspresif yang dikemukakan oleh Searle (1979), bahwa tindak tutur ekspresif digunakan untuk mengungkapkan sikap atau keadaan psikologis penutur terhadap suatu peristiwa yang dialaminya, sehingga setiap bentuk tuturan memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan konteks interaksi yang melatarbelakanginya.

KESIMPULAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan penelitian telah tercapai, yaitu mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tindak tutur ekspresif dalam masyarakat Desa Tulo tidak hanya mencerminkan variasi bentuk bahasa yang digunakan dalam interaksi sehari-hari, tetapi juga menggambarkan cara masyarakat mengekspresikan sikap, perasaan, dan penilaian terhadap berbagai situasi sosial. Bentuk-bentuk tindak tutur ekspresif yang ditemukan meliputi ucapan terima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, dan memuji.

Setiap bentuk tindak tutur ekspresif memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan konteks komunikasi, yaitu untuk menyampaikan rasa syukur, memberikan penghargaan, mengungkapkan penyesalan, menyampaikan kritik atau peringatan, serta memberikan apresiasi kepada mitra tutur. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan tindak tutur ekspresif tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial yang melatarbelakangi terjadinya tuturan, sehingga bentuk dan fungsi tuturan saling berkaitan dalam membangun makna komunikasi.

Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan hubungan sosial, memperkuat nilai-nilai kesantunan berbahasa, serta menciptakan komunikasi yang lebih efektif di tengah masyarakat Desa Tulo. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan bahasa yang santun dan sesuai konteks dalam kehidupan bermasyarakat.

Penelitian ini masih terbatas pada analisis bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif dalam percakapan masyarakat di Desa Tulo. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji tindak tutur ekspresif dari aspek strategi bertutur, tingkat kesantunan berbahasa, atau menghubungkannya dengan faktor sosial budaya, usia, maupun jenis kelamin penutur sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan tindak tutur ekspresif dalam masyarakat.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya masyarakat Desa Tulo yang telah bersedia menjadi partisipan dan memberikan informasi selama proses pengumpulan data. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kajian pragmatik dan linguistik.

References

[1] S. Herwani, “Mabasan: Masyarakat bahasa & sastra nusantara,” Mabasan: Masyarakat Bahasa & Sastra Nusantara, vol. 17, no. 1, pp. 133–154, 2024.

[2] A. Bala, “Kajian tentang hakikat, tindak tutur, konteks, dan muka dalam pragmatik,” Retorika: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 3, no. 1, pp. 36–45, 2022, doi: 10.37478/rjpbsi.v3i1.1889.

[3] F. F. Rahmadhani and A. Purwo Yudi Utomo, “Analisis tindak tutur ekspresif dalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono,” Bahtera Indonesia: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 5, no. 2, pp. 88–96, 2020, doi: 10.31943/bi.v5i2.69.

[4] D. P. Esdar, I. Masruroh, I. S. Budi, et al., “Tindak tutur ekspresif dalam tayangan YouTube Ganjar Pranowo Bicara Gagasan (Capres 2024),” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 8, pp. 3724–3736, 2024.

[5] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2020.

[6] I. M. Astika, D. A. Murtiningrum, A. Asih, and S. Tantri, “Analisis tindak tutur ekspresif dalam acara Mata Najwa ‘Perlawanan Mahasiswa’,” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha, vol. 11, no. 1, pp. 55–66, 2021.

[7] F. Fatmawati and R. Ningsih, “Tindak tutur ekspresif dalam perspektif cyberpragmatics,” Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, vol. 10, no. 1, pp. 196–214, 2024, doi: 10.30605/onoma.v10i1.3165.

[8] N. Ismawati, H. Nopriani, and Y. S. Putra, “Analisis tindak tutur direktif dalam novel Matahari Minor karya Tere Liye (Kajian Pragmatik),” Jurnal Lentera Pedagogi, vol. 7, no. 2, pp. 81–98, 2024, doi: 10.54895/lentera.v7i2.2296.

[9] D. U. Ahmad, B. Riadi, and R. Prayogi, “Literature review: Tindak tutur ekspresif pada artikel tahun 2021–2024,” Aksentuasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra, 2025.

[10] M. Ana, “Tindak tutur ekspresif dalam podcast Close The Door Deddy Corbuzier pada episode ‘Coba Ibu Jawab JHT Gimana,’” ESTETIK: Jurnal Bahasa Indonesia, vol. 5, no. 2, p. 113, 2022, doi: 10.29240/estetik.v5i2.5080.

[11] R. Aryani and Sudaryanto, “Hubungan semantis konjungsi subordinatif pada buku Putri Nibung di Sarang Lanun,” vol. 4, no. 1, pp. 1–10, 2023.

[12] M. Ritonga and H. Hermaliza, “Tindak tutur ilokusi dalam bahasa iklan di stasiun televisi nasional,” J-LELC: Journal of Language Education, Linguistics, and Culture, vol. 2, no. 1, pp. 34–41, 2022, doi: 10.25299/j-lelc.2022.8031.

[13] F. Saleh, R. Yusuf, I. Rosvita, and Ibrahim, “Tindak tutur ekspresif menurut Searle pada interaksi pembelajaran siswa SMA 2 Sidenreng Rappang,” Qalam: Jurnal Ilmu Kependidikan, vol. 13, no. 1, pp. 49–56, 2024, doi: 10.33506/jq.v13i1.3500.

[14] D. Sanggabuwana and S. Andrini, “Dampak media sosial terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) sentra industri keramik Plered, Kabupaten Purwakarta,” Inter Komunika, vol. 2, no. 2, pp. 172–181, 2022.

[15] N. Lailiyah, “Tindak tutur ekspresif meminta maaf terpidana korupsi di Indonesia,” PRASASTI: Journal of Linguistics, vol. 6, no. 2, p. 215, 2021, doi: 10.20961/prasasti.v6i2.51038.

[16] S. Mardiah, “Tindak tutur ekspresif dalam percakapan nonformal siswa di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Palu,” Jurnal Bahasa dan Sastra, vol. 5, no. 1, pp. 127–134, 2020.

[17] “Analisis tindak tutur ekspresif dalam film Ano Hi Mita Hana karya Nishiura Masaki,” Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang, vol. 7, no. 2, pp. 117–128, 2021.

[18] N. A. Usman and D. A., “Praanggapan dalam teks imbauan lingkungan alam di internet (Kajian pembelajaran pragmatik model Yule),” Jurnal Galeri Pendidikan, vol. 1, no. 1, pp. 171–184, 2021.

[19] R. Utami and M. Rizal, “Bahasa dalam konteks sosial (Peristiwa tutur dan tindak tutur),” JUMPER: Journal of Educational Multidisciplinary Research, vol. 1, no. 1, pp. 16–25, 2022, doi: 10.56921/jumper.v1i1.36.

[20] S. Yendra, “Jenis tindak tutur,” KREDO: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, vol. 5, no. 1, pp. 62–83, 2018.