Sekar Arum Yulianti Putri Wibowo (1), Heidy Arviani (2)
General Background: Inclusive sports support social interaction, communication, attention, and emotional development in children with Autism Spectrum Disorder and Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Specific Background: Basketball requires trainers to adapt communication to diverse attention spans, emotions, and abilities. Knowledge Gap: Limited studies explain interpersonal communication strategies in mixed-group training for children with developmental conditions. Aims: This study analyzes interpersonal strategies and communication barriers during inclusive basketball training. Results: A descriptive qualitative study involved five informants (one head trainer, two assistants, and two parents) using interviews, observation, documentation, and literature review. Data were analyzed with the Miles and Huberman model and triangulation. Four strategies emerged: building rapport, providing motivation, adjusting targets fairly, and repeating instructions. Verbal communication was supported by gestures, demonstrations, eye contact, positive expressions, rewards, and light physical contact. Barriers included mood changes, limited attention, restricted eye contact, communication differences, trainer-student ratios, and trainer experience. Novelty: The study combines relational, motivational, equitable, and repetitive communication strategies in inclusive sports. Implications: Sports academies should provide specialized communication training and strengthen family coordination to support participation and learning continuity.
Highlights:
Keywords: Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperctivity Disorder (ADHD), Basketball Coaching, Interpersonal Communication, Inclusive Sports
Setiap individu memiliki kondisi perkembangan fisik, kognitif, dan sosial-emosional yang berbeda, Tidak semua manusia dilahirkan dengan kondisi yang sama, baik dari kondisi fisik, kognitif, maupun sosial-emosional yang berbeda termasuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Gangguan tersebut kerap dianggap sebagai keterlambatan sementara, padahal jumlah penyandangnya terus meningkat setiap tahun [1]. World Health Organization memperkirakan sekitar 1 dari 160 anak di dunia mengalami ASD, sedangkan di Indonesia diperkirakan terdapat 2,4 juta penyandang ASD dengan pertambahan sekitar 500 kasus baru per tahun [2].
Peningkatan jumlah anak berkebutuhan khusus tersebut belum diimbangi dengan akses pendidikan yang memadai. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa dari sekitar 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia, hanya 30% yang mendapatkan akses pendidikan formal [3]. Selain keberhasilan akademis, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus sangat menekankan pada pengembangan keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi, dan pengendalian emosi. Pendidikan inklusif, termasuk melalui jalur non-akademik seperti olahraga, menjadi salah satu upaya penting untuk memberi kesempatan yang setara bagi anak berkebutuhan khusus agar dapat berkembang secara optimal, membangun interaksi sosial, disiplin, dan pengendalian emosi [4].
Berdasarkan perspektif ABK, Yohanda dkk [5] mengidentifikasi bahwa implementasi pendidikan jasmani inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus di Indonesia masih bervariasi, sehingga sebagian siswa penyandang disabilitas memiliki pengalaman negatif dalam pembelajaran olahraga inklusif akibat keterbatasan partisipasi. Faktor pribadi, lingkungan fisik, dan dukungan sosial menjadi penentu utama yang dapat memfasilitasi maupun menghambat keterlibatan ABK dalam bidang olahraga. Kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya rasa percaya diri, motivasi untuk mengikuti kegiatan olahraga, serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan fisik, sosial, dan emosional. Di sisi lain, dukungan sosial yang diberikan oleh pelatih, guru, teman sebaya, maupun keluarga juga menjadi faktor yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan olahraga yang inklusif.
Bola basket merupakan olahraga tim yang melibatkan keterampilan fisik, kognitif, dan sosial sekaligus, seperti konsentrasi, kerja sama, dan komunikasi, sehingga berpotensi besar membantu anak dengan ASD dan ADHD belajar mengikuti instruksi dan berinteraksi dengan pelatih maupun teman sebaya [6]. Meskipun memiliki potensi yang besar untuk membantu perkembangan anak ASD dan ADHD, akademi bola basket yang secara khusus menerima dan mengakomodasi anak berkebutuhan khusus masih sangat terbatas. Salah satu akademi yang membuka kesempatan tersebut sejak tahun 2016 adalah DBL Academy di Surabaya yang menerima siswa ASD dan ADHD berlatih bersama siswa reguler.
Kondisi tersebut menuntut pelatih untuk menerapkan strategi komunikasi interpersonal yang berbeda dari pelatihan siswa reguler, mengingat setiap siswa memiliki cara menerima informasi yang berbeda. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi interpersonal pelatih dalam latihan bola basket di DBL Academy pada siswa dengan ASD dan ADHD, serta hambatan yang dihadapi pelatih selama proses latihan berlangsung.
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengungkap dan memahami secara mendalam fenomena strategi komunikasi interpersonal yang diterapkan oleh pelatih dalam melatih siswa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) [7]. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu memberikan gambaran yang holistik dan kontekstual mengenai suatu fenomena sosial yang berlangsung dalam latar alamiahnya, sehingga peneliti dapat menggali makna, proses, dan dinamika interaksi antara pelatih dan siswa berkebutuhan khusus secara lebih rinci dibandingkan dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di DBL Academy Pakuwon City Mall, Surabaya, yang dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu akademi bola basket di Surabaya yang secara konsisten membuka kesempatan latihan inklusif bagi siswa ASD dan ADHD bersama siswa reguler sejak tahun 2016.
Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian [7]. Kriteria utama yang digunakan adalah keterlibatan langsung dan intensif informan dalam proses latihan siswa ASD dan ADHD, sehingga informasi yang diperoleh benar-benar merepresentasikan pengalaman nyata di lapangan. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh lima informan yang terdiri atas satu kepala pelatih (head coach) yang bertanggung jawab atas keseluruhan program latihan, dua asisten pelatih yang berinteraksi langsung dan rutin dengan siswa ASD dan ADHD selama sesi latihan berlangsung, serta dua orang tua siswa dengan kondisi tersebut yang dilibatkan untuk memperoleh perspektif tambahan mengenai dampak komunikasi pelatih terhadap perkembangan anak di luar sesi latihan.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui empat teknik yang saling melengkapi satu sama lain. Pertama, wawancara mendalam (in-depth interview) dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara semi-terstruktur agar proses tanya jawab tetap terarah namun tetap memberi ruang bagi informan untuk menyampaikan pengalamannya secara bebas dan mendalam. Kedua, observasi partisipatif dilakukan terhadap proses latihan secara langsung guna mengamati interaksi komunikasi verbal dan nonverbal antara pelatih dan siswa dalam konteks yang alamiah. Ketiga, dokumentasi berupa catatan lapangan, rekaman audio wawancara, serta foto kegiatan latihan dikumpulkan untuk memperkuat dan melengkapi data hasil wawancara dan observasi. Keempat, studi pustaka dilakukan dengan menelaah literatur, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan guna memperkuat kerangka teori serta memperkaya perspektif analisis.
Keabsahan data dalam penelitian ini diperkuat melalui triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan dan mengonfirmasi informasi yang diperoleh dari kepala pelatih, asisten pelatih, dan orang tua siswa, sehingga temuan penelitian tidak hanya bertumpu pada satu sudut pandang semata. Seluruh data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan model interaktif Miles and Huberman, yang terdiri atas empat tahap yang saling berkaitan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Proses analisis dilakukan secara berkelanjutan dan berulang (iteratif) hingga data mencapai titik jenuh, yakni ketika tidak lagi ditemukan informasi baru yang signifikan dari proses wawancara maupun observasi lanjutan [7].
DBL Academy merupakan salah satu sekolah bola basket di Surabaya yang didirikan pada tahun 2016 dan sejak awal berdiri telah membuka kesempatan bagi siswa dengan ASD dan ADHD untuk mengikuti latihan. DBL Academy ingin menyamaratakan hak setiap anak untuk berlatih bola basket, sebab tidak semua siswa yang berlatih ditargetkan menjadi atlet professional sehingga anak yang memiliki keterbatasan pun berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencoba hal baru di luar lingkungan mereka. Latihan yang dilakukan selama dua kali pertemuan dalam seminggu membuat pelatih harus memiliki kedekatan, motivasi, dan kesetaraan perlakuan dalam penyampaian instruksi dan menerapkan strategi komunikasi yang efektif.
Kebijakan latihan inklusif ini menempatkan pelatih pada posisi yang menuntut kepekaan dan fleksibilitas dalam menyampaikan instruksi, mengingat karakteristik siswa ASD dan ADHD yang beragam dari sisi kemampuan komunikasi, tingkat fokus, dan respons emosional. Berdasarkan hasil wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap kelima informan, penelitian ini mengidentifikasi empat bentuk strategi komunikasi interpersonal yang secara konsisten diterapkan pelatih dalam melatih siswa ASD dan ADHD, yaitu membangun kedekatan, memberikan motivasi, menerapkan kesetaraan perlakuan, dan menggunakan repetisi dalam penyampaian instruksi, serta sejumlah hambatan komunikasi yang menyertai penerapan strategi tersebut, sebagaimana diuraikan pada bagian berikut.
1. Membangun Kedekatan dengan Siswa ASD dan ADHD
Kedekatan menjadi fondasi awal yang dibangun pelatih sebelum masuk ke materi latihan teknis. Sebelum sesi latihan dimulai, pelatih secara aktif menjalin komunikasi dengan orang tua untuk memahami kebiasaan, pola perilaku, dan kondisi emosional siswa di luar sesi latihan, sehingga pelatih dapat mengantisipasi respons siswa dalam berbagai situasi latihan. Selain itu, pelatih juga memanfaatkan minat pribadi siswa, seperti menggambar, sebagai jembatan interaksi awal sebelum masuk pada instruksi teknik bola basket. Strategi icebreaking dan kontak fisik ringan seperti tos (high five) turut digunakan secara konsisten untuk menumbuhkan rasa nyaman dan mencairkan suasana sebelum instruksi latihan diberikan. Efektivitas strategi komunikasi tersebut tidak hanya disebabkan oleh kemampuan pelatih membangun hubungan yang dekat dengan siswa, tetapi juga karena strategi tersebut di sesuaikan dengan karakteristik komunikasi dan regulasi emosi yang dimiliki siswa ASD dan ADHD.
Siswa dengan ASD umumnya mengalami kesulitan dalam membangun interaksi sosial, memahami isyarat sosial, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sementara itu, siswa dengan ADHD cenderung memiliki rentang perhatian yang lebih pendek, impulsivitas yang tinggi, dan perubahan suasana hati yang dapat memengaruhi kesiapan mereka untuk menerima instruksi. Dalam kondisi tersebut, kedekatan yang dibangun melalui komunikasi dengan orang tua, pemanfaatan minat khusus siswa, icebreaking, dan pemberian respons positif bukan sekadar upaya menciptakan suasana yang menyenangkan, melainkan menjadi strategi untuk menurunkan kecemasan, meningkatkan rasa aman, serta membangun kesiapan siswa sebelum menerima materi latihan. Dengan kata lain, komunikasi interpersonal berfungsi sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan individual siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan inklusif tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis pelatih dalam mengajarkan keterampilan olahraga, tetapi juga oleh kompetensi komunikasi interpersonal yang dimilikinya. Pelatih berperan sebagai fasilitator yang mampu membaca kondisi emosional, menyesuaikan pendekatan komunikasi, dan menciptakan lingkungan latihan yang suportif. Oleh karena itu, komunikasi interpersonal tidak dapat dipandang sebagai pelengkap dalam proses latihan, tetapi merupakan komponen utama yang menentukan keberhasilan dan partisipasi aktif siswa berkebutuhan khusus. Semakin baik kualitas hubungan interpersonal yang dibangun, semakin besar pula peluang siswa untuk terlibat secara aktif, mempertahankan motivasi berlatih, dan mengembangkan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan pelatih maupun teman sebayanya.
Pendekatan-pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan dan empati yang ditunjukkan pelatih membentuk keterikatan emosional yang membuat siswa merasa lebih aman dan percaya diri untuk berinteraksi [8]. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa gaya komunikasi interpersonal pelatih yang terbuka dan dialogis, disertai dukungan emosional yang tulus, mampu menumbuhkan rasa dihargai serta meningkatkan kepercayaan diri individu yang dilatih dalam berinteraksi dan mengekspresikan dirinya [9]. Kedua orang tua informan turut menguatkan temuan tersebut dengan menyatakan bahwa perhatian dan respons positif pelatih memengaruhi kenyamanan dan keinginan anak untuk terus berlatih secara berkelanjutan.
2. Pemberian Motivasi Pelatih kepada Siswa ASD dan ADHD
Motivasi diberikan pelatih melalui bentuk-bentuk sederhana namun disampaikan secara konsisten pada setiap sesi latihan, seperti pemberian nilai atau reward atas perkembangan yang ditunjukkan siswa, pelaporan capaian latihan kepada orang tua agar apresiasi terhadap siswa dapat berlanjut di rumah, pujian verbal singkat seperti "good job", serta pancaran energi positif yang ditunjukkan melalui sapaan ramah, ekspresi wajah, dan intonasi suara yang ceria sejak siswa tiba di lokasi latihan hingga sesi latihan berakhir. Kedua orang tua informan turut mengonfirmasi bahwa pujian sederhana dan kontak fisik ringan tersebut secara nyata mampu meningkatkan rasa percaya diri anak mereka, baik selama latihan berlangsung maupun dalam aktivitas sehari-hari di rumah.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pemberian motivasi tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk penghargaan yang diberikan, melainkan oleh konsistensi pelatih dalam menghadirkan komunikasi yang suportif selama proses latihan berlangsung. Bagi siswa ASD dan ADHD, penguatan positif yang diberikan melalui pujian verbal, reward, kontak fisik ringan, maupun ekspresi nonverbal yang menunjukkan penerimaan berfungsi sebagai umpan balik yang membantu siswa mengenali bahwa perilaku atau keterampilan yang ditampilkan telah sesuai dengan harapan pelatih. Penguatan yang diberikan secara berulang juga membantu membangun asosiasi positif terhadap aktivitas latihan sehingga siswa lebih termotivasi untuk mempertahankan partisipasi dan menunjukkan perkembangan pada pertemuan berikutnya.
Pelibatan orang tua dalam memberikan apresiasi terhadap capaian latihan menunjukkan bahwa proses pemberian motivasi tidak berhenti pada interaksi antara pelatih dan siswa, tetapi berlanjut melalui kesinambungan komunikasi antara pelatih dan keluarga. Pelibatan tersebut memungkinkan penguatan positif yang diterima siswa berlangsung secara konsisten pada berbagai lingkungan, sehingga pesan yang diterima siswa tidak bersifat parsial. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi interpersonal dalam pelatihan inklusif dipengaruhi oleh kolaborasi antarpihak yang terlibat, bukan hanya oleh kemampuan pelatih dalam menyampaikan motivasi. Dengan adanya kesinambungan penguatan di lingkungan latihan dan rumah, siswa memperoleh pengalaman komunikasi yang lebih stabil sehingga berpotensi meningkatkan motivasi intrinsik, kepercayaan diri, serta konsistensi dalam mengikuti latihan.
Menurut Azhari dkk [10] Pujian verbal singkat, pelaporan capaian kepada orang tua, serta pancaran energi positif sejak siswa tiba di lokasi latihan merupakan wujud nyata dari upaya pelatih memberikan penguatan (stroking) secara konsisten kepada siswa. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa komunikasi suportif yang disampaikan secara verbal maupun nonverbal, seperti dukungan empatik dan umpan balik yang membangun, berperan penting dalam memperkuat kepercayaan diri individu yang dilatih serta menciptakan lingkungan berlatih yang aman, kondusif, dan memotivasi, sehingga siswa merasa dihargai dan dipahami [11].
3. Kesetaraan dalam Perlakuan terhadap Siswa
Seluruh informan pelatih menegaskan bahwa siswa ASD dan ADHD tidak dibedakan perlakuannya dari siswa reguler dan tetap digabungkan dalam kelompok latihan yang sama, tanpa dipisahkan ke dalam kelas atau sesi khusus. Penyesuaian yang dilakukan pelatih hanya terbatas pada cara penyampaian instruksi dan penetapan target latihan, misalnya dengan memberikan jarak shooting yang lebih dekat bagi siswa berkebutuhan khusus, sehingga seluruh siswa tetap memiliki peluang yang setara untuk merasakan keberhasilan dalam setiap sesi latihan. Kedua orang tua informan turut merasakan dan menegaskan bahwa anak mereka diperlakukan secara setara oleh pelatih maupun oleh siswa reguler lainnya, tanpa dianggap berbeda atau dibeda-bedakan dalam kegiatan latihan.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip kesetaraan yang diterapkan pelatih tidak dimaknai sebagai pemberian perlakuan yang identik kepada seluruh siswa, melainkan sebagai pemberian kesempatan yang setara melalui penyesuaian strategi komunikasi dan target latihan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Bagi siswa ASD dan ADHD, pendekatan tersebut menjadi penting karena karakteristik komunikasi, kemampuan memproses informasi, dan perkembangan keterampilan motorik setiap siswa tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Oleh karena itu, penyesuaian instruksi maupun tingkat kesulitan latihan bukan merupakan bentuk perlakuan yang berbeda, tetapi merupakan upaya untuk memastikan setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama dalam memahami instruksi dan mencapai keberhasilan selama proses latihan.
Kesetaraan yang dilakukan oleh pelatih menunjukkan bahwa praktik pelatihan dan pendidikan inklusif perlu menggeser pemahaman mengenai kesetaraan dari konsep "memperlakukan semua siswa dengan cara yang sama" menjadi "memberikan dukungan yang sesuai agar setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang". Pergeseran perspektif tersebut menempatkan kemampuan pelatih dalam mengadaptasi strategi komunikasi sebagai faktor yang sama pentingnya dengan penguasaan materi atau keterampilan teknis. Pengembangan kompetensi komunikasi interpersonal yang berorientasi pada prinsip kesetaraan perlu menjadi bagian dari praktik pelatihan olahraga maupun pendidikan inklusif. Tidak hanya mendukung peningkatan partisipasi dan perkembangan siswa ASD dan ADHD, tetapi juga memperkuat terwujudnya lingkungan belajar yang menghargai keberagaman.
Temuan ini merepresentasikan dimensi kesetaraan (equality) dalam teori komunikasi interpersonal yang menekankan bahwa kedua pihak yang terlibat dalam komunikasi interpersonal harus saling mengakui nilai dan hak yang setara, terlepas dari adanya perbedaan kemampuan, kondisi, maupun latar belakang di antara keduanya [12]. Prinsip kesetaraan ini sejalan dengan temuan penelitian pada konteks pelatihan siswa disabilitas, yang menunjukkan bahwa penerapan kesetaraan oleh pelatih tidak hanya berupa perlakuan yang sama secara teknis, tetapi juga mencakup pengakuan atas nilai, kontribusi, dan hak setiap individu untuk berkembang, sehingga tercipta lingkungan latihan yang inklusif dan suportif [13].
4. Repetisi sebagai Cara Penyampaian Instruksi dan Pesan
Repetisi menjadi strategi komunikasi yang paling banyak disebutkan oleh seluruh informan sebagai kunci keberhasilan penyampaian instruksi. Instruksi dan istilah dasar bola basket diulang secara konsisten disertai demonstrasi gerakan secara langsung, mengingat siswa ASD dan ADHD pada umumnya membutuhkan penyampaian sebanyak dua hingga tiga kali sebelum benar-benar memahami dan mampu mempraktikkan instruksi yang diberikan. Pengulangan tersebut tidak dilakukan secara monoton, melainkan disertai variasi intonasi dan penekanan pada kata kunci agar perhatian siswa tetap terjaga selama proses latihan berlangsung. Kedua orang tua informan turut mengonfirmasi pola pengulangan ini berdasarkan pengamatan mereka selama proses latihan berlangsung, dan menilai bahwa pendekatan tersebut efektif membantu anak mereka memahami instruksi secara bertahap.
Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas strategi repetisi tidak hanya terletak pada frekuensi pengulangan instruksi, tetapi juga pada kemampuan pelatih menyesuaikan cara penyampaian pesan dengan karakteristik pemrosesan informasi yang dimiliki siswa ASD dan ADHD. Siswa ASD umumnya memerlukan waktu yang lebih panjang untuk memahami dan menginterpretasikan informasi verbal, sedangkan siswa ADHD sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian secara berkelanjutan sehingga pesan yang disampaikan hanya satu kali berpotensi tidak diterima secara utuh. Oleh karena itu, pengulangan instruksi yang disertai demonstrasi gerakan, variasi intonasi, serta penekanan pada kata-kata kunci berfungsi sebagai bentuk adaptasi komunikasi yang membantu siswa memusatkan perhatian dan memperkuat pemahaman.
Strategi repetisi yang diterapkan pelatih ini sesuai dengan teknik redundancy (repetition) dalam strategi komunikasi, yaitu upaya memengaruhi khalayak dengan cara mengulang pesan yang sama secara konsisten agar pesan tersebut lebih mudah diperhatikan, dipahami, dan tidak mudah dilupakan oleh penerima pesan, khususnya bagi siswa yang memiliki keterbatasan dalam memproses informasi secara cepat [14].
5. Hambatan Komunikasi Interpersonal antara Pelatih dan Siswa
Meskipun berbagai strategi komunikasi interpersonal telah diterapkan secara konsisten, pelatih tetap menghadapi sejumlah hambatan dalam proses pelatihan yang dapat dikelompokkan ke dalam dua faktor utama. Faktor pertama bersumber dari karakteristik individual siswa, yaitu perubahan suasana hati (mood) yang cepat dan sulit diprediksi, kesulitan dalam mempertahankan fokus dalam jangka waktu yang lama, keterbatasan dalam melakukan kontak mata, serta kecenderungan sebagian siswa untuk larut dalam dunianya sendiri sehingga sulit diajak berinteraksi pada momen-momen tertentu.
Faktor kedua bersumber dari kondisi eksternal di lapangan, yaitu rasio jumlah pelatih dan siswa yang belum sepenuhnya ideal sehingga perhatian pelatih tidak selalu dapat terbagi secara merata kepada seluruh siswa, serta tingkat pengalaman pelatih dalam menangani siswa berkebutuhan khusus yang bervariasi, terutama bagi pelatih yang baru pertama kali menghadapi kondisi tersebut dan belum memiliki bekal pelatihan khusus mengenai penanganan ASD dan ADHD. Kedua faktor tersebut saling berkaitan dan dapat memengaruhi efektivitas komunikasi interpersonal yang telah dibangun pelatih. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi interpersonal antara pelatih dan siswa berkebutuhan khusus merupakan proses dinamis yang terus disesuaikan berdasarkan evaluasi dari pengalaman lapangan [15]. Selain itu, tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan yang seragam untuk setiap anak, mengingat setiap siswa ASD dan ADHD memiliki karakteristik dan kebutuhan komunikasi yang khusus.
Pelatih di DBL Academy menerapkan empat strategi komunikasi interpersonal dalam melatih siswa dengan ASD dan ADHD, yaitu membangun kedekatan melalui keterbukaan dan empati, memberikan motivasi melalui sikap mendukung dan sikap positif, menerapkan kesetaraan perlakuan dengan penyesuaian target dan cara penyampaian, serta menggunakan repetisi dalam penyampaian instruksi. Selain itu, pelatih juga menghadapi hambatan yang bersumber dari karakteristik siswa, seperti perubahan mood dan keterbatasan kontak mata, maupun faktor eksternal seperti rasio pelatih-siswa dan pengalaman pelatih. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi interpersonal yang adaptif dan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan pelatihan olahraga inklusif bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga disarankan agar akademi olahraga menyediakan pelatihan berkala bagi pelatih mengenai penanganan komunikasi dengan siswa berkebutuhan khusus.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada DBL Academy Surabaya, khususnya kepala pelatih, para asisten pelatih, dan orang tua siswa yang telah bersedia menjadi informan dan memberikan izin pelaksanaan penelitian, kepada dosen pembimbing atas arahan yang diberikan selama proses penelitian ini. serta kepada Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur atas dukungan akademik yang diberikan.
S. Dewi and S. Morawati, "Gangguan Autis pada Anak," SCIENA, vol. 3, no. 6, pp. 418–431, 2024, doi: 10.56260/sciena.v3i6.177.
R. Nurussakinah, H. S. Mediani, and D. Purnama, "Pentingnya Dukungan Emosional untuk Orang Tua Anak Autisme di SLB: Pembelajaran dari Pengalaman Kecemasan," Jurnal Kesehatan dan Kebidanan Nusantara, vol. 2, no. 1, pp. 17–23, 2024, doi: 10.69688/jkn.v2i1.82.
H. Putri, W. Putri, and B. S., "Pendidikan Inklusi yang Berkeadilan: Studi Kasus Pemenuhan Hak Anak Berkebutuhan Khusus," Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), vol. 5, no. 2, pp. 762–773, 2025, doi: 10.53299/jppi.v5i2.1144.
A. F. Nauval, H. Ma, M. A. Hudain, and A. Alwi, "Pendidikan Jasmani Inklusif dan Interaksi Sosial Siswa Berkebutuhan Khusus di Sekolah Reguler," Journal Olympic (Physical Education, Health and Sport), vol. 5, no. 2, pp. 98–105, 2025, doi: 10.36709/jolympic.v5i2.142.
Y. F. Rosmi and M. N. Jauhari, "Pelaksanaan Pendidikan Jasmani Adaptif di Sekolah Inklusi Surabaya," Jurnal Pendidikan Khusus, vol. 18, no. 1, 2022, doi: 10.21831/jpk.v18i1.50886.
R. Febrianti, D. A. Kusuma, K. Ustaddy, and I. H. S. Putra, "Pendampingan Permainan Motorik untuk Anak ADHD," PROFICIO, vol. 6, no. 2, pp. 327–332, 2025, doi: 10.36728/jpf.v6i2.4710.
S. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2023.
R. W. A. S. Putri and H. Arviani, "Strategi Komunikasi Interpersonal Pelatih dengan Atlet Putri Hockey Kota Surabaya dalam Porprov 2022," JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 10, pp. 8185–8194, 2023, doi: 10.54371/jiip.v6i10.3044.
M. Januke and R. P. Jati, "Komunikasi Interpersonal Pelatih-Atlet untuk Peningkatan Motivasi Berprestasi pada Pelatihan Bola Basket Universitas," Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika dan Komunikasi, vol. 6, no. 2, 2025, doi: 10.63447/jimik.v6i2.1429.
H. T. Azhari, Y. Nuraeni, and R. Astriani, "Komunikasi Interpersonal antara Pelatih dan Atlet Disabilitas dalam Menumbuhkan Motivasi dan Prestasi (Studi Deskriptif Atlet Tenis Meja Disabilitas NPCI DKI Jakarta)," Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 63–69, 2023, doi: 10.56127/jushpen.v2i1.747.
M. Maulidayani et al., "Komunikasi Interpersonal Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajaran di MIN 1 Medan," Widya Balina, vol. 10, no. 2, 2025, doi: 10.53958/wb.v10i2.851.
Y. F. Rosmi and M. N. Jauhari, "Universal Design for Learning: Perspektif Guru Pendidikan Jasmani di Sekolah Inklusi," STAND: Journal Sports Teaching and Development, vol. 4, no. 2, 2023, doi: 10.36456/j-stand.v4i2.9605.
P. A. Dhesiyanti and M. W. Wibowo, "Dinamika Komunikasi Interpersonal Guru Sekolah Menengah Kejuruan pada Keaktifan Siswa di Kelas," Jurnal Diversita, vol. 11, no. 1, 2025, doi: 10.31289/diversita.v11i1.14805.
R. Suliyarti, N. Gistituati, Rusdinal, and Irsyad, "Persepsi Siswa tentang Komunikasi Interpersonal Guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Padang," Journal of Educational Administration and Leadership, vol. 1, no. 2, 2020, doi: 10.24036/jeal.v1i2.39.
M. Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik. Yogyakarta, Indonesia: Graha Ilmu, 2009.