Login
Section Education

Internalization Strategy of Tamaddun Melayu Values in Batam Public Senior High School


Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Tamaddun Melayu di SMA Negeri 1 Batam
Vol. 11 No. 2 (2026): December:

Astri Testiningtyas Firman (1), Agustina Tri Wijayanti (2), Sudrajat Sudrajat (3)

(1) Program Studi Pendidikan IPS, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan IPS, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia
(3) Program Studi Pendidikan IPS, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Indonesia’s cultural pluralism encompasses the Tamaddun Melayu civilization, a rich repository of local wisdom and ethical systems currently vulnerable to erosion in the era of globalization. Specific Background: SMA Negeri 1 Batam serves as a strategic site for exploring how educational institutions integrate these values to counter cultural degradation among youth. Knowledge Gap: Existing educational practices often lack structured, multi-dimensional approaches to cultural preservation, creating a disconnect between national character education goals and local implementation. Aims: This study aims to examine the strategies for internalizing Tamaddun Melayu values at SMA Negeri 1 Batam through intracurricular, cocurricular, and extracurricular activities using a phenomenological approach. Results: The findings reveal that schools implement a synergistic model: integrating Malay values into Sociology coursework, utilizing experiential learning through local wisdom exploration, and reinforcing cultural identity via arts and traditional attire. Novelty: By applying Culturally Responsive Teaching (CRT) and Bourdieu’s Habitus Theory, this research demonstrates that a tri-pathway strategy effectively transforms cultural knowledge into incorporated habitus. Implications: The results provide an adaptive model for schools in the Riau Islands to strengthen student cultural identity and character education through structured, community-linked pedagogical practices.


Highlights


  • Integration of Malay values within Sociology curriculum establishes a robust conceptual foundation for students.




  • Cocurricular exploration of local wisdom facilitates authentic, experiential learning that effectively deepens cultural habituation.




  • Participation in extracurricular arts and traditional practices solidifies symbolic capital and collective cultural identity among learners.




Keywords

Tamaddun Melayu; Culturally Responsive Teaching; Local Wisdom; Cultural Habitus; Character Education

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara kepulauan yang majemuk menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Di antara ragam budaya yang ada, peradaban Melayu atau yang dikenal dengan istilah Tamaddun Melayu merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki akar sejarah panjang dan tersebar luas di kawasan Nusantara, termasuk di Kepulauan Riau. Tamaddun Melayu bukan sekadar tradisi atau adat-istiadat semata, melainkan merupakan sistem nilai, norma, dan pandangan hidup yang sarat dengan kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan modern. Namun, di tengah globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai Tamaddun Melayu semakin rentan mengalami erosi, terutama pada generasi muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam tahun 2023 menunjukkan laju pertumbuhan penduduk Batam mencapai 4,3% per tahun akibat tingginya migrasi [1]. Kondisi ini memperkuat interaksi antara budaya pendatang dan budaya Melayu, sehingga dinamika sosial-budaya semakin kompleks. Akibatnya, banyak generasi muda Melayu yang tumbuh tanpa pemahaman yang memadai tentang identitas budaya leluhurnya. Survei awal peneliti terhadap 120 siswa SMA Negeri 1 Batam pada tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya 34,2% siswa yang mampu menyebutkan lebih dari tiga nilai utama Tamaddun Melayu, sementara 61,7% siswa mengaku tidak pernah mengikuti kegiatan yang secara khusus memperkenalkan budaya Melayu di sekolah. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa identitas budaya Melayu di kalangan pelajar perkotaan Kepulauan Riau mengalami degradasi signifikan akibat dominasi budaya populer global yang masuk melalui media digital [2]. Selain itu, penelitian lain juga mengungkap bahwa hanya 28% guru di sekolah menengah di Batam yang merasa cukup percaya diri untuk mengintegrasikan nilai-nilai Melayu dalam proses pembelajaran [3]. Temuan-temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan yang nyata antara harapan pelestarian budaya dan realitas praktik pendidikan di lapangan.

Tamaddun Melayu sendiri merupakan konsep yang mencakup dimensi yang sangat luas. Tamaddun Melayu merujuk pada keseluruhan sistem peradaban Melayu yang mencakup nilai-nilai agama Islam, adat-istiadat, bahasa, seni, sastra, sistem kemasyarakatan, dan etika pergaulan. Nilai-nilai inti Tamaddun Melayu meliputi: (1) syarak mengatur, adat memakai; (2) kejujuran dan integritas (tunjuk ajar); (3) gotong-royong dan semangat kebersamaan; (4) penghormatan terhadap orang tua dan tokoh adat; serta (5) kepedulian terhadap lingkungan alam [4]. Nilai-nilai ini sejatinya sangat relevan dan kompatibel dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam Panduan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang menekankan bahwa pendidikan harus mampu membentuk peserta didik yang berkarakter, berbudaya, dan memiliki jati diri kebangsaan yang kuat [5].

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Panduan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) Tahun 2025 menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi lokal dan penguatan profil lulusan yang berkarakter, termasuk dimensi kebinekaan global dan semangat gotong-royong (Kemendikdasmen, 2025). Kebijakan ini membuka ruang yang sangat signifikan bagi sekolah-sekolah di daerah untuk mengintegrasikan kearifan lokal, termasuk nilai-nilai Tamaddun Melayu, ke dalam kurikulum dan kegiatan sekolah. SMA Negeri 1 Batam sebagai salah satu sekolah tertua di Kota Batam menjadi laboratorium yang menarik untuk dikaji, mengingat posisinya yang strategis sebagai pusat pendidikan di kota yang multikultural ini.

Strategi tiga cara tentang Culturally Responsive Teaching (CRT) yang menekankan bahwa pembelajaran yang efektif harus berangkat dari latar belakang budaya peserta didik dan dihadirkan dalam berbagai bentuk pengalaman belajar yang saling menguatkan [6]. Ketika internalisasi nilai-nilai Tamaddun Melayu tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui eksplorasi budaya yang otentik dan ekspresi simbolik dalam kehidupan sekolah, maka proses pembentukan karakter dan identitas budaya siswa menjadi jauh lebih mendalam dan berkelanjutan. Salah satu hal yang patut disoroti dari praktik pendidikan di SMA Negeri 1 Batam adalah upaya internalisasi Tamaddun Melayu yang dijalankan secara menyeluruh melalui tiga cara sekaligus: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pada kegiatan intrakurikuler, nilai-nilai Tamaddun Melayu diintegrasikan dalam pembelajaran Sosiologi. Sementara itu, kegiatan kokurikuler menerapkan pendekatan cara lainnya melalui eksplorasi budaya yang terintegrasi dengan penilaian akademik [5]. Sementara pada kegiatan ekstrakurikuler, penggunaan atribut budaya Melayu dalam berbagai acara dan kegiatan sekolah menjadi media peneguhan identitas budaya siswa secara kolektif dan simbolik. Penelitian di Riau juga menunjukkan bahwa program berbasis budaya lokal yang dijalankan secara lintas jalur mampu meningkatkan rasa bangga dan identitas budaya siswa hingga 47% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya menerima pembelajaran konvensional [7].

Dengan demikian, penelitian ini mengkaji strategi internalisasi Tamaddun Melayu di SMA Negeri 1 Batam melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Hasilnya diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal Melayu serta referensi dalam penguatan identitas budaya di lingkungan sekolah.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi sebagai kerangka metodologis utama. Pemilihan pendekatan fenomenologi didasarkan pada tujuan penelitian yang secara spesifik ingin mengungkap pengalaman hidup (lived experience) para pelaku pendidikan dalam proses internalisasi nilai-nilai Tamaddun Melayu di SMA Negeri 1 Batam. Fenomenologi dalam konteks penelitian Pendidikan memberikan ruang bagi peneliti untuk menangkap makna terdalam dari suatu pengalaman sebagaimana ia dihayati oleh subjek penelitian, tanpa terdistorsi oleh asumsi-asumsi teoritis yang bersifat apriori [8].

Relevansi desain fenomenologi dengan topik penelitian ini sangat erat. Internalisasi nilai budaya merupakan proses yang sifatnya subjektif, kontekstual, dan berbasis pengalaman. Nilai-nilai Tamaddun Melayu tidak dapat sepenuhnya dipahami hanya melalui data statistik atau survei kuantitatif, melainkan memerlukan penyelidikan mendalam terhadap bagaimana guru, siswa, dan pimpinan sekolah menghayati, memaknai, dan mentransmisikan nilai-nilai tersebut dalam keseharian [9].

Lokasi penelitian adalah SMA Negeri 1 Batam, yang dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa sekolah ini merupakan salah satu pencetus program internalisasi budaya Melayu di Kota Batam. Partisipan penelitian terdiri dari 12 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, meliputi: 3 orang guru mata pelajaran Sosiologi, Sejarah, dan Seni Budaya; 1 orang kepala sekolah; 2 orang wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan; 4 orang siswa dari kelas X, XI, dan XII yang aktif dalam program budaya; serta 2 orang tokoh adat/budayawan Melayu yang terlibat dalam program sekolah. Keragaman partisipan ini penting untuk memastikan triangulasi sumber data yang memadai.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi tiga cara utama. Pertama, wawancara fenomenologis mendalam. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur menggunakan panduan pertanyaan terbuka yang dirancang untuk mengeksplorasi pengalaman konkret, makna yang dilekatkan pada pengalaman tersebut, serta perubahan pemahaman yang dirasakan partisipan selama terlibat dalam program internalisasi Tamaddun Melayu. Kedua, observasi partisipatif yang dilaksanakan selama lima bulan (November–Maret 2025). Ketiga, studi dokumentasi yang mencakup analisis RPPM (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mendalam), dokumen program kokurikuler, foto, serta laporan evaluasi program sekolah.

Analisis data mengikuti prosedur analisis fenomenologis yang terdiri dari empat tahap: (1) epoche, yaitu upaya peneliti untuk 'menunda' atau 'mengurung' asumsi-asumsi priorinya agar dapat membuka diri sepenuhnya terhadap pengalaman partisipan; (2) horizonalization, yaitu proses pemberian bobot yang setara pada setiap pernyataan partisipan yang relevan dengan fenomena yang diteliti; (3) clustering of themes, yaitu pengelompokan pernyataan-pernyataan tersebut ke dalam kluster-kluster tematik yang bermakna; dan (4) imaginative variation, yaitu upaya untuk memahami berbagai kemungkinan makna dari fenomena tersebut melalui variasi imajinatif. Kredibilitas penelitian dijaga melalui member checking dan peer debriefing dalam penyajian temuan [10].

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis data fenomenologis yang dilaksanakan secara mendalam terhadap dua belas partisipan, penelitian ini menemukan tiga temuan utama yang saling berkaitan dalam membentuk ekosistem internalisasi Tamaddun Melayu di SMA Negeri 1 Batam.

A.Intrakurikuler: Integrasi Nilai-Nilai Melayu dalam Mata Pelajaran Sosiologi

Temuan pertama menunjukkan bahwa internalisasi Tamaddun Melayu secara intrakurikuler dilaksanakan paling intensif melalui mata pelajaran Sosiologi. Para guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Batam secara aktif dan terencana mengintegrasikan konten kearifan lokal Melayu ke dalam silabus dan RPPM. Pada BAB tentang Harmoni Sosial, misalnya, guru menggunakan contoh sistem kekerabatan dan stratifikasi sosial dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Pada BAB Pemberdayaan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal, nilai-nilai ketahanan budaya Melayu digunakan sebagai studi kasus lokal yang relevan. Salah satu guru partisipan menyatakan bahwa ia secara konsisten memasukkan peribahasa, pantun, dan gurindam Melayu sebagai pembuka dan penutup setiap sesi pembelajaran, sehingga nilai-nilai tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritme belajar siswa. Pendekatan ini mendapat respons positif karena membuat pembelajaran Sosiologi lebih bermakna dan relevan dengan budaya siswa.

Temuan pertama menunjukkan penerapan prinsip Culturally Responsive Teaching (CRT), yaitu pendekatan yang mengitegrasikan latar belakang budaya siswa untuk meningkatkan efektivitas dan kebermaknaan pembelajaran. Guru yang responsif secara budaya tidak hanya mengakui keberadaan keragaman budaya di kelas, tetapi secara aktif memanfaatkannya sebagai kekuatan pedagogis [11]. Dalam konteks SMA Negeri 1 Batam, para guru Sosiologi telah melampaui sekadar pengakuan terhadap budaya Melayu: mereka menjadikan budaya Melayu sebagai substansi dalam pembelajaran. Ketika konsep struktur sosial dijelaskan melalui sistem adat perpatih dan temenggung Melayu, atau ketika konsep perubahan sosial dianalisis melalui lensa ketahanan adat Melayu di Kepulauan Riau, maka siswa tidak hanya mempelajari materi Sosiologi secara abstrak, mereka mempelajarinya melalui pintu masuk budaya yang mereka kenali dan miliki [6]. Proses ini, dalam perspektif CRT, disebut sebagai scaffolding berbasis budaya, di mana pengetahuan baru dibangun di atas fondasi pengetahuan kultural yang sudah ada pada diri siswa.

Dari perspektif Teori Habitus Bourdieu, pengintegrasian nilai-nilai Melayu ke dalam kurikulum formal memiliki implikasi yang lebih dalam. Habitus sebagai sistem disposisi yang terinternalisasi secara mendalam dan berfungsi sebagai prinsip yang menghasilkan dan mengorganisasi praktik-praktik sosial. Habitus terbentuk melalui pengalaman berulang dalam suatu medan (field) sosial tertentu [12]. Ketika sekolah sebagai salah satu medan sosial yang paling berpengaruh dalam kehidupan remaja, secara konsisten menghadirkan nilai-nilai Tamaddun Melayu dalam pembelajaran formal, maka sekolah sedang berpartisipasi secara aktif dalam pembentukan habitus budaya siswa. Nilai-nilai seperti adat sopan santun, penghormatan kepada yang lebih tua, dan semangat gotong-royong yang diajarkan melalui mata pelajaran Sosiologi lama-lama akan terinternalisasi menjadi disposisi yang bersifat otomatis dan tanpa disadari inilah yang disebut Bourdieu sebagai incorporated capital.

B.Kokurikuler: Eksplorasi Kearifan Lokal Melayu sebagai 'Cara Lainnya'

Temuan kedua menunjukkan bahwa pendekatan cara lainnya pada kegiatan kokurikuler menjadi inovasi utama SMA Negeri 1 Batam. Program ini menghadirkan pengalaman belajar langsung melalui berbagai kegiatan eksplorasi budaya Melayu. Siswa diwajibkan mendokumentasikan pengalaman mereka dalam bentuk jurnal refleksi yang kemudian menjadi bahan diskusi di kelas. Program ini berlangsung minimal dua kali per semester dan terintegrasi dengan penilaian akademik sesuai panduan kokurikuler yang diterbitkan oleh Kemendikdasmen [5].

Temuan kedua tentang program kokurikuler 'cara lainnya' merupakan yang paling inovatif dan secara teoritis paling kaya untuk dianalisis. Program ini menunjukkan prinsip CRT yang paling mendasar: bahwa pembelajaran yang bermakna harus bersifat kontekstual, experiential, dan terhubung dengan komunitas nyata di luar sekolah (Gay, 2000). Ketika siswa mengunjungi Kominutas Seni Rumah Hitam, belajar melihat pembuatan dan perwatan tanjak Melayu, atau bersama-sama membuat Batik Gonggong Melayu, mereka sedang menjalani proses pembelajaran yang tidak dapat digantikan oleh buku teks manapun.

Pendekatan 'cara lainnya' ini secara langsung menjawab tantangan terkait 'pendidikan bank' (banking education), yakni model pendidikan yang memperlakukan siswa sebagai wadah pasif yang diisi dengan pengetahuan oleh guru [13]. Dalam program kokurikuler ini, siswa bertransformasi menjadi agen aktif yang melakukan eksplorasi, bertanya, berinteraksi, dan merefleksikan pengalaman budaya mereka sendiri. Proses ini, dalam perspektif Bourdieu, merupakan mekanisme habituasi yang sangat efektif karena melibatkan seluruh dimensi pengalaman kognitif, afektif, sensorik, dan sosial secara simultan. Hal ini juga selaras dengan arah kebijakan Panduan Kokurikuler Kemendikdasmen yang mendorong sekolah untuk merancang kegiatan kokurikuler yang berpijak pada potensi dan kearifan lokal daerah masing-masing [5].

Gambar 1. Tradisi Sekapur Sirih Bersama Gubernur Kepulauan Riau

Sumber: Dokumentasi Tim Kesiswaan SMAN 1 Batam

Gambar 2. Workshop Gema Budaya Guru SMAN 1 Batam

Sumber: Dokumentasi Tim Kesiswaan SMAN 1 Batam

Habitus tidak terbentuk melalui instruksi verbal semata, melainkan terutama melalui praktik-praktik berulang dalam situasi sosial yang nyata. Ketika siswa berulang kali mengalami, mempraktikkan, dan merefleksikan nilai-nilai Tamaddun Melayu melalui program kokurikuler, maka nilai-nilai tersebut semakin terinternalisasi sebagai bagian dari habitus mereka [12]. Jurnal refleksi yang wajib ditulis oleh siswa setelah setiap kegiatan juga memainkan peran penting, yaitu memungkinkan siswa untuk mengeksternalisasi dan mengartikulasi pengalaman internal mereka, sehingga proses internalisasi menjadi semakin mendalam dan sadar.

C.Ekstrakurikuler: Atribut Budaya Melayu dalam Acara-Acara Tertentu

Temuan ketiga menunjukkan bahwa penggunaan atribut budaya lokal Melayu dalam kegiatan ekstrakurikuler dan acara-acara sekolah tertentu menjadi media internalisasi yang efektif melalui jalur simbolik. Setiap peringatan hari besar, dan festival sekolah, seluruh guru dan siswa SMA Negeri 1 Batam diwajibkan mengenakan pakaian adat Melayu. Selain itu, ekstrakurikuler Tari Melayu dan Kompang (Hadroh) aktif berjalan dengan anggota yang terus bertumbuh. Penggunaan atribut dan simbol budaya ini, menurut para partisipan, secara bertahap membangun rasa kebanggaan dan kepemilikan identitas budaya Melayu pada diri siswa.

Gambar 3. Tarian Persembahan Bengkel Tari SMAN 1 Batam

Sumber: Dokumentasi Tim Kesiswaan SMAN 1 Batam

Gambar 4. Penampilan Tim Hadroh/Kompang SMAN 1 Batam

Sumber: Dokumentasi Tim Kesiswaan SMAN 1 Batam

Temuan ketiga tentang penggunaan atribut budaya Melayu dalam kegiatan ekstrakurikuler dan acara-acara sekolah dapat dianalisis melalui konsep Bourdieu tentang modal budaya (cultural capital) dan modal simbolik (symbolic capital). Modal budaya dalam bentuk objectified state, yaitu benda-benda budaya seperti pakaian adat, alat musik tradisional, dan simbol-simbol budaya lainnya memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai dan identitas sosial secara efektif [14]. Ketika seluruh warga SMA Negeri 1 Batam mengenakan pakaian Melayu pada hari-hari tertentu, mereka secara kolektif sedang melakukan perayaan dan peneguhan identitas budaya Melayu.

Dari perspektif CRT, praktik ini sesuai dengan prinsip bahwa sekolah yang responsif secara budaya harus menciptakan lingkungan fisik dan sosial yang merefleksikan dan menghormati budaya siswa. Ketika siswa melihat budaya mereka tidak hanya dibicarakan di kelas, tetapi juga ditampilkan, dirayakan, dan diakui dalam ruang-ruang publik sekolah, maka tercipta apa yang disebut sebagai affirming school culture (budaya sekolah yang meneguhkan) [6]. Kondisi initerbukti secara signifikan meningkatkan keterlibatan (engagement), motivasi, dan prestasi akademik siswa, khususnya mereka yang berasal dari kelompok budaya minoritas atau lokal [12].

Gambar 5. Bagan Hasil Temuan

Sumber: Peneliti

Secara keseluruhan, ketiga jalur internalisasi ini membentuk sebuah sistem yang sinergis dan saling memperkuat. Intrakurikuler memberikan fondasi konseptual dan kognitif; kokurikuler memberikan pengalaman autentik dan habituasi praktis; sementara ekstrakurikuler menyediakan ruang ekspresi dan peneguhan identitas budaya secara kolektif. Dalam kerangka Bourdieu, ketiganya bekerja bersama untuk membentuk habitus budaya Melayu yang mengakar kuat dalam diri siswa. Sebuah habitus yang tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan globalisasi. Lebih jauh, penyelarasan ketiga jalur ini dengan Panduan KSP Kemendikdasmen memastikan bahwa program internalisasi Tamaddun Melayu tidak berjalan secara ad hoc, melainkan terstruktur dan terencana dalam kerangka kurikulum satuan pendidikan yang sah [15].

KESIMPULAN

Penelitian ini menyimpulkan bahwa SMA Negeri 1 Batam telah mengembangkan strategi internalisasi Tamaddun Melayu yang bersifat holistik dan terintegrasi melalui tiga jalur utama: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Integrasi nilai Melayu dalam mata pelajaran Sosiologi memberikan fondasi konseptual yang kuat; program kokurikuler 'cara lainnya' yang berbasis eksplorasi kearifan lokal menghadirkan pembelajaran autentik dan experiential yang efektif dalam proses habituasi nilai; sementara penggunaan atribut budaya Melayu dalam kegiatan ekstrakurikuler dan acara-acara tertentu memperkuat modal simbolik dan identitas budaya siswa secara kolektif.

Strategi yang diterapkan SMA Negeri 1 Batam terbukti mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang responsif secara budaya dan efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai Tamaddun Melayu dalam perspektif Culturally Responsive Teaching dan Teori Habitus Bourdieu. Keselarasan program dengan Panduan dan Panduan Kokurikuler mempertegas legitimasi dan keberlanjutan program ini dalam sistem pendidikan nasional. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembentukan habitus budaya berlangsung melalui sinergi jalur intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang saling melengkapi. Keterpaduan ketiga jalur tersebut memungkinkan nilai-nilai Tamaddun Melayu tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga dihayati melalui pengalaman dan diwujudkan dalam praktik sehari-hari sehingga menjadi bagian dari disposisi siswa. Dalam perspektif Bourdieu, sekolah berperan sebagai field yang memfasilitasi proses pembentukan habitus budaya melalui praktik pendidikan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Penelitian ini merekomendasikan agar model internalisasi tiga jalur ini diadaptasi secara lebih luas oleh sekolah-sekolah lain di Kepulauan Riau, dengan penyesuaian terhadap konteks lokal masing-masing. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengukur dampak jangka panjang dari program ini terhadap pembentukan identitas budaya dan karakter siswa secara longitudinal.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada SMA Negeri 1 Batam beserta seluruh pihak yang telah memberikan izin, dukungan, dan bantuan selama pelaksanaan penelitian. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai referensi dalam upaya penguatan internalisasi Tamaddun Melayu di lingkungan pendidikan serta menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.

References

[1] F. Utami and A. S. Dewi, “Statistik Daerah Kota Batam 2023,” Badan Pusat Statistik, vol. 13, p. 71, 2023.

[2] Marlina, “Implementasi Nilai Kearifan Lokal Cublak Cublak Suweng dalam Pembelajaran Merdeka,” Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, vol. 12, no. 2, pp. 166–178, 2020. [Online]. Available: https://socius.ppj.unp.ac.id/index.php/socius/article/view/668

[3] A. Usman and A. Hamid, “The Status and Challenges of Entrepreneurship Education in Vocational Higher Education Institutions in Indonesia,” Jurnal Kewirausahaan dan Bisnis, vol. 27, no. 2, p. 130, 2022, doi: 10.20961/jkb.v27i2.60757.

[4] U. Natuna, “Restorasi Tamadun Melayu,” Jurnal Madania, vol. 3, no. 1, p. 77, 2013.

[5] Kemendikdasmen, *Kurikulum Satuan Pendidikan*. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025.

[6] G. Ladson-Billings, “But That's for Teaching! The Culturally Relevant,” *Theory into Practice*, vol. 34, no. 3, pp. 159–165, 2014.

[7] Suryadi, “Pengaruh Kegiatan Intrakurikuler dan Budaya Sekolah terhadap Kedisiplinan Siswa SMP Negeri 1 Raman Utara,” M.S. thesis, Universitas Islam Negeri Metro, Metro, Indonesia, 2020. [Online]. Available: https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/3499/

[8] J. W. Creswell, *Educational Research Methodology*. 2018.

[9] M. van Manen, *Phenomenology of Practice*, vol. 1, no. 1, 2023. doi: 10.4324/9781003228073.

[10] C. Moustakas, *Phenomenological Research Methods*. New Delhi, India: SAGE Publications India, 1994.

[11] G. Gay, *Culturally Responsive Teaching*, pp. 1–24, 2000.

[12] N. Istiqomah and N. Khasanah, “The Transformation of Learning Culture in the Age of AI: A Sociological Review of Education from the Perspective of Pierre Bourdieu's Social Habitus,” vol. 6, no. 3, 2026.

[13] P. Freire, *Pedagogy of the Oppressed*. In *The Community Performance Reader*, 2020. doi: 10.4324/9781003060635-5.

[14] P. Bourdieu, *Pengantar Teori Habitus*, pp. 1–23, 2016.

[15] U. Natuna, *Cetak Biru Pendidikan Karakter Berbasis Tamadun Melayu di Perguruan Tinggi*. Literasi Nusantara & Pusat Kajian Islam dan Tamadun Melayu, 2021.