Login
Section Education

SPEAK UP Pedagogy Produces Highest Expressive and Analytical Speaking Scores in Students


Pedagogi SPEAK UP Menghasilkan Nilai Berbicara Ekspresif Dan Analitis Tertinggi Siswa Dasar
Vol. 11 No. 2 (2026): December:

Mulkan Inra (1), Nazurty Nazurty (2), Ahmad Syarif (3)

(1) Program Studi Magister Pendidikan Dasar, Universitas Jambi, Indonesia
(2) Program Studi Magister Pendidikan Dasar, Universitas Jambi, Indonesia
(3) Program Studi Magister Pendidikan Dasar, Universitas Jambi, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background The development of fundamental communication competencies is a global priority to prepare students for twenty-first-century challenges. Specific Background In the Indonesian primary education context, conventional teacher-centered methods limit active oral practice, resulting in low student confidence, restricted vocabulary, and passive communication. Knowledge Gap Existing research predominantly evaluates project-oriented pedagogy in higher education or foreign language settings, leaving a critical deficit regarding its application to simultaneous expressive and analytical communication for young learners in semi-rural areas. Aims This study investigates the application of the SPEAK UP instructional framework and standard Project Based Learning on the expressive and analytical oral competencies of fifth-grade students at SD Negeri 282/VI Bangko. Results Utilizing a quantitative quasi-experimental design with 87 participants, statistical analysis via One Way ANOVA revealed significant variations among the pedagogical groups. The SPEAK UP framework generated the highest overall mean score of 87.33, outperforming both the standard project methodology at 82.14 and conventional instruction at 70.52. Specific to analytical oral communication, the experimental framework achieved a mean of 87.87. Novelty This research pioneers the integration of structured expressive practice and analytical knowledge construction within a project-based framework specifically tailored for young demographic cohorts in non-urban settings. Implications Educational practitioners can adopt this structured instructional framework to facilitate active, student-centered learning, fulfilling modern curriculum demands and resolving traditional communication barriers.


Highlights




  • The SPEAK UP framework generated an optimal overall mean score of 87.33.




  • Standard project pedagogy successfully outperformed conventional instruction by achieving an 82.14 mean.




  • Structured oral practice resolved traditional communication barriers among fifth-grade participants.




Keywords


Analytical Speaking; Expressive Speaking; Primary Education; Project Based Learning; SPEAK UP Model

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Keterampilan berbahasa merupakan kompetensi fundamental yang menentukan keberhasilan siswa dalam menghadapi tantangan abad ke-21, khususnya dalam era globalisasi dan komunikasi internasional yang semakin masif [1]. Penelitian meta-analisis yang melibatkan 66 studi eksperimental menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi lisan siswa secara signifikan mempengaruhi tidak hanya prestasi akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, kolaborasi, dan kepercayaan diri [2]. Di tingkat global, berbagai negara telah mengintegrasikan pengembangan keterampilan berbicara sebagai prioritas utama dalam kurikulum pendidikan dasar, mengingat keterampilan ini berperan krusial dalam membentuk kemampuan komunikasi efektif siswa sejak dini [3].

Konteks pendidikan Indonesia menunjukkan urgensi yang sama dalam mengembangkan keterampilan berbahasa siswa sekolah dasar. Berdasarkan standar kompetensi Kurikulum Merdeka, pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan membentuk kompetensi komunikatif pada diri siswa yang mencakup empat keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis [4]. Namun, implementasi pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan keempat keterampilan tersebut secara seimbang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam aspek keterampilan berbicara yang memerlukan praktik aktif dan kesempatan untuk mengekspresikan ide secara lisan [5].

Pada tingkat lokal, SD Negeri 282/VI Bangko sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar di wilayah Kabupaten Merangin Jambi menghadapi tantangan serupa dalam mengembangkan keterampilan berbicara siswa. Observasi awal menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah ini masih cenderung berfokus pada aspek teoritis dan reseptif (menyimak dan membaca), sementara keterampilan produktif terutama berbicara belum mendapat porsi pembelajaran yang optimal. Kondisi ini mencerminkan fenomena umum di sekolah dasar Indonesia di mana metode pembelajaran konvensional yang bersifat teacher-centered masih mendominasi, sehingga siswa memiliki kesempatan terbatas untuk mengembangkan keterampilan berbicara secara aktif dan bermakna [6].

Peserta didik sekolah dasar yang berada pada tahap operasional konkret membutuhkan pembelajaran yang melibatkan pengalaman nyata, interaksi sosial, dan situasi kontekstual, tidak hanya penyampaian materi secara verbal [7]. Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan berbahasa perlu dirancang secara interaktif, menarik, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan bahasa dalam konteks bermakna [8].

Permasalahan utama yang dihadapi dalam pembelajaran keterampilan berbicara di SD Negeri 282/VI Bangko adalah rendahnya keterampilan berbicara siswa yang ditandai oleh beberapa indikator: (1) minimnya keberanian siswa untuk mengekspresikan gagasan secara lisan di depan kelas; (2) terbatasnya kosakata yang dikuasai siswa untuk mengkomunikasikan ide dengan efektif; (3) kurangnya kelancaran berbicara dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi; serta (4) lemahnya kemampuan siswa dalam menyusun dan menyampaikan argumen secara sistematis [9].

Pendekatan pembelajaran yang masih bersifat konvensional, di mana guru mendominasi proses pembelajaran dan siswa cenderung pasif sebagai penerima informasi. Metode pembelajaran yang monoton tanpa variasi strategi yang menarik menyebabkan siswa kehilangan minat dan motivasi dalam mengembangkan keterampilan berbahasa [10]. Selain itu, keterbatasan media pembelajaran inovatif dan kurangnya kesempatan bagi siswa untuk terlibat dalam aktivitas komunikasi yang bermakna semakin memperburuk situasi pembelajaran keterampilan berbahasa di sekolah.

Studi Putri et al. (2025) menunjukkan bahwa keterampilan berbicara merupakan aspek berbahasa yang paling rendah pada siswa sekolah dasar, dengan rata-rata 62,5%, sehingga masih memerlukan perhatian dalam proses pembelajaran [11].

Studi yang dilakukan oleh Fatimah dan Putra (2024) terhadap siswa kelas 2 sekolah dasar menemukan bahwa 67% siswa mengalami hambatan dalam mengekspresikan ide secara lisan, dengan faktor utama berupa kurangnya kepercayaan diri (43%), terbatasnya kosakata (32%), dan minimnya kesempatan praktik berbicara (25%). Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Theresia (2018) yang menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa kelas tinggi di sekolah dasar masih tergolong rendah dengan indikator kesulitan dalam aspek keberanian, kelancaran, pemilihan kata, dan struktur kalimat [12].

Di konteks global, penelitian Benlaghrissi dan Ouahidi (2024) yang melibatkan 91 siswa sekolah menengah menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran berbasis proyek dengan teknologi mobile mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa secara signifikan, dengan peningkatan rata-rata skor berbicara sebesar 23,7% dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Studi meta-analisis yang dilakukan Zhang dan Ma (2023) terhadap 190 nilai efek dari 66 penelitian eksperimental membuktikan bahwa project based learning secara konsisten menghasilkan peningkatan hasil belajar siswa yang signifikan (effect size = 0.71, p < 0.001), termasuk dalam aspek keterampilan komunikasi lisan [2].

Project Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran konstruktivis yang menekankan pada pembelajaran aktif melalui penyelesaian proyek autentik yang relevan dengan kehidupan nyata siswa [13]. Pendekatan ini melibatkan siswa dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proyek yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21, termasuk berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi [14].

Penelitian yang dilakukan oleh Jariah et al. (2024) menunjukkan bahwa implementasi PjBL dalam pembelajaran keterampilan berbicara melibatkan enam tahap sintaks: (1) pemilihan topik proyek; (2) aktivitas pra-komunikasi; (3) pengajuan pertanyaan esensial; (4) perancangan rencana proyek; (5) peyusunan timeline proyek; dan (6) penyelesaian proyek [15]. Melalui tahapan-tahapan tersebut, siswa mendapat kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran yang bermakna dan kontekstual.

Efektivitas PjBL dalam meningkatkan keterampilan berbicara telah dibuktikan melalui berbagai penelitian empiris. Firdaus dan Septiady (2023) menemukan bahwa penerapan PjBL pada 35 mahasiswa Program Studi Akuntansi menghasilkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berbicara dengan skor rata-rata post-test mencapai 84,70 dibandingkan pre-test 75,18 (p < 0.05) [16]. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa PjBL efektif meningkatkan kemampuan berbicara, membangun keterampilan kerja tim, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, serta merangsang siswa untuk aktif, komunikatif, kreatif, dan inovatif.

Keterampilan berbahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, yang saling berkaitan dalam membentuk kompetensi komunikasi siswa [7]. Di sekolah dasar, pengembangannya perlu dilakukan secara terpadu sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik.

Keterampilan berbicara merupakan kemampuan menyampaikan gagasan, pendapat, dan perasaan secara lisan dengan memperhatikan pelafalan, tata bahasa, kosakata, kelancaran, dan pemahaman [9]. Keterampilan ini berperan penting dalam mendukung perkembangan akademik maupun sosial siswa.

Model SPEAK- UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui integrasi prinsip Project Based Learning. Model ini memadukan praktik berbicara, pengembangan kemampuan ekspresif dan analitis, serta pembelajaran berbasis proyek yang kontekstual dan bermakna bagi siswa sekolah dasar.

Keunggulan model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) terletak pada pendekatannya yang holistik dalam mengembangkan keterampilan berbahasa melalui aktivitas proyek yang melibatkan siswa secara aktif, kolaboratif, dan kreatif. Model ini mengadopsi prinsip pembelajaran konstruktivis yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial [17]. Melalui penyelesaian proyek-proyek komunikatif, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan berbicara, tetapi juga melatih keterampilan menyimak, membaca, dan menulis secara integratif.

Meskipun berbagai penelitian telah membuktikan efektivitas Project Based Learning dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa di berbagai tingkat pendidikan [16][15][1 terdapat beberapa celah penelitian yang perlu diisi. Pertama, sebagian besar penelitian PjBL untuk pengembangan keterampilan berbicara difokuskan pada konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) atau di tingkat pendidikan menengah dan tinggi, sementara penelitian pada konteks pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar masih terbatas [14].

Kedua, belum banyak penelitian yang secara spesifik mengembangkan dan menguji efektivitas model pembelajaran yang mengintegrasikan Project Based Learning dengan fokus pada pengembangan keterampilan berbicara ekspresif dan analitis secara simultan. Penelitian-penelitian yang ada cenderung memfokuskan pada satu aspek keterampilan berbicara tanpa mengintegrasikan pengembangan kemampuan ekspresif (mengungkapkan gagasan dan perasaan) dengan kemampuan analitis (berpikir kritis dan menganalisis informasi).

Ketiga implementasi PjBL untuk siswa usia sekolah dasar, khususnya very young learners and young learners (usia 7-11 tahun), masih jarang diteliti secara mendalam [14]. Padahal, karakteristik perkembangan kognitif dan sosial-emosional siswa sekolah dasar memerlukan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka. Penelitian yang mengeksplorasi bagaimana PBL dapat diadaptasi dan diimplementasikan secara efektif untuk mengembangkan keterampilan berbahasa siswa sekolah dasar, dengan mempertimbangkan kebutuhan scaffolding dan dukungan yang tepat, masih sangat dibutuhkan.

Keempat, konteks geografis dan sosio-kultural penelitian juga menjadi pertimbangan penting. Sebagian besar penelitian tentang PjBL untuk pengembangan keterampilan berbicara dilakukan di konteks negara-negara maju atau kota-kota besar, sementara penelitian di daerah rural atau semi rural dengan keterbatasan sumber daya dan infrastruktur pendidikan masih minim. SD Negeri 282/VI Bangko yang berlokasi di wilayah kabupaten mewakili konteks sekolah dasar dengan karakteristik unik yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur penelitian PjBL. Pentingnya keterampilan berbicara menuntut pengembangan model pembelajaran yang efektif untuk mendukung pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif, menarik, dan sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka.

Urgensi penelitian ini juga didorong oleh temuan-temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa sekolah dasar masih rendah dan memerlukan intervensi pembelajaran yang lebih efektif [11][18]. Kondisi pembelajaran yang masih didominasi oleh pendekatan konvensional dan kurangnya kesempatan bagi siswa untuk terlibat dalam aktivitas komunikasi yang bermakna menuntut adanya inovasi pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan memberikan pengalaman belajar yang autentik. Penelitian ini diharapkan memperkaya kajian mengenai penerapan SPEAK-UP berbasis Project Based Learning dalam pembelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar serta menjadi rujukan bagi pengembangan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan.

Seara praktis, penelitian ini menghasilkan panduan implementasi model SPEAK-UP yang dapat diterapkan guru sekolah dasar untuk meningkatkan keterampilan berbahasa dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekolah.

Penelitian ini secara khusus dilakukan pada siswa kelas V, karena kelas V merupakan fase yang sangat strategis dalam perkembangan kemampuan berbahasa dan berpikir siswa sekolah dasar. Dari aspek perkembangan kognitif, siswa kelas V yang berusia sekitar 10–11 tahun berada pada masa transisi dari tahap operasional konkret menuju operasional formal menurut teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget. Pada tahap ini, siswa mulai mampu berpikir lebih logis, melakukan penalaran sederhana, menganalisis hubungan sebab-akibat, serta menghubungkan berbagai informasi yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Kemampuan tersebut menjadi dasar penting bagi berkembangnya keterampilan berbicara analisis.

Selain itu, siswa kelas V memiliki tingkat kematangan bahasa yang lebih baik dibandingkan siswa kelas rendah maupun kelas IV. Kosakata yang dimiliki siswa relatif lebih banyak sehingga mereka lebih mampu menyampaikan ide, gagasan, maupun pendapat secara lisan. Pada usia ini, siswa juga mulai memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, serta keberanian untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Karakteristik tersebut sangat sesuai dengan penerapan model pembelajaran berbasis proyek yang menuntut aktivitas diskusi, kolaborasi, presentasi, dan refleksi.

Pemilihan kelas V juga didasarkan pada tuntutan kurikulum yang semakin kompleks. Materi pembelajaran pada kelas V tidak lagi berfokus pada penguasaan pengetahuan dasar, tetapi mulai menekankan kemampuan siswa dalam menganalisis informasi, memecahkan masalah, menyampaikan hasil pengamatan, dan mempresentasikan hasil kerja. Dalam berbagai mata pelajaran, siswa dituntut untuk mampu menjelaskan proses, memberikan argumentasi, menyampaikan pendapat, serta menyimpulkan informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, keterampilan berbicara ekspresif dan analisis menjadi kompetensi yang sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan belajar siswa kelas V.

Dari sisi akademik, kelas V juga merupakan jenjang persiapan sebelum siswa memasuki kelas VI yang memiliki tuntutan pembelajaran lebih tinggi dan berorientasi pada kesiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Apabila keterampilan berbicara siswa tidak dikembangkan sejak kelas V, maka siswa berpotensi mengalami kesulitan dalam menyampaikan gagasan, mengikuti diskusi, mempresentasikan tugas, maupun memahami pembelajaran yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian, kelas V menjadi waktu yang tepat untuk melakukan intervensi pembelajaran guna meningkatkan kemampuan komunikasi siswa sebelum memasuki tahap pendidikan yang lebih kompleks.

Berdasarkan kondisi tersebut, model project Based Learning (PjBL) dan SPEAK-UP dipilih untuk mengembangkan keterampilan berbicara dan kemampuan analitis siswa melalui pembelajaran berbasis proyek.

Secara spesifik, penelitian ini akan mengkaji: (1) bagaimana implementasi Model PjBL (Project Based Learning) dan Model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD Negeri 282/VI Bangko; (2) sejauh mana Model PjBL (Project Based Learning) dan Model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa, khususnya aspek ekspresif dan analitis; (3) perbedaan hasil belajar keterampilan berbahasa antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan Model PjBL (Project Based Learning) dan Model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Penelitian ini diharapkan menjadi solusi peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara di SD Negeri 282/VI Bangko serta referensi bagi pengembangan pembelajaran bahasa indonesia, kurikulum, dan kebijakan pendidikan di sekolah dasar.

METODE

A.Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena data yang diperoleh berupa skor keterampilan berbahasa siswa yang dianalisis secara statistik untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment), yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab–akibat antara variabel bebas dan variabel terikat tanpa melakukan pengacakan subjek secara penuh.

B.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 282/VI Bangko, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, pada semester genap tahun ajaran 2025/2026, yang mencakup tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan.

C.Populasi dan Sampel Penelitian

1.Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik SD Negeri 282/VI Bangko tahun ajaran 2025//2026. Berdasarkan fokus penelitian, populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 282/VI Bangko yang terdiri atas tiga kelas, yaitu kelas V-A, V-B, dan V-C. Ketiga kelas tersebut memiliki karakteristik yang relatif homogen, baik dari segi usia, kurikulum yang digunakan, latar belakang sosial, maupun kemampuan akademik awal siswa.

2.Sampel Penelitian

Sampel penelitian merupakan bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili karakteristik populasi secara keseluruhan. Jumlah samepl dalam penelitian ini ada 87.

D.Teknik Pengumpulan Data

1.Tes Keterampilan Berbahasa

Tes digunakan sebagai teknik utama untuk mengukur keterampilan berbahasa siswa pada tiga kelas penelitian, yaitu kelas eksperimen I, kelas eksperimen II, dan kelas kontrol. Tes yang diberikan berupa tes unjuk kerja (performance test) melalui kegiatan berbicara sesuai dengan proyek pembelajaran.

2.Observasi

Observasi dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran dan aktivitas siswa selama penerapan Model SPEAK-UP pada kelas eksperimen serta pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

3.Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data pendukung berupa daftar siswa, hasil penilaian keterampilan berbahasa, perangkat pembelajaran, dan dokumentasi kegiatan pembelajaran.

E.Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui efektivitas penerapan Model Project Based Learning (PjBL) dan Model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) terhadap keterampilan berbahasa siswa SD Negeri 282/VI Bangko.

1.Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik data keterampilan berbahasa siswa pada masing-masing kelas penelitian.

2.Uji Prasyarat Analisis

Sebelum dilakukan uji hipotesis menggunakan One Way ANOVA, data harus memenuhi uji prasyarat berupa uji normalitas dan uji homogenitas varians.

a.Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data keterampilan berbahasa siswa berdistribusi normal. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov–Smirnov dengan bantuan program statistik.

b.Uji Homogenitas

Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah varians data dari ketiga kelas penelitian bersifat homogen. Uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Levene.

c.Uji Hipotesis (One Way ANOVA)

Uji hipotesis dilakukan menggunakan One Way Analysis of Variance (One Way ANOVA) karena penelitian melibatkan tiga kelompok sampel dengan satu variabel bebas dan satu variabel terikat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

1.Deskripsi Data Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 282/VI Bangko pada siswa kelas V yang terdiri atas tiga kelas. Kelas V-A sebagai kelas eksperimen pertama memperoleh perlakuan berupa penerapan Model Project Based Learning (PjBL), kelas V-B sebagai kelas eksperimen kedua memperoleh perlakuan berupa penerapan Model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project), dan kelas V-C sebagai kelas kontrol memperoleh pembelajaran secara konvensional. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa skor keterampilan berbicara ekspresif dan analitis siswa melalui tes unjuk kerja (performance test) pada akhir perlakuan.

Pengumpulan data dilaksanakan setelah masing-masing kelas menyelesaikan proses pembelajaran sesuai dengan model yang diterapkan. Seluruh data diproses melalui analisis statistik deskriptif, uji prasyarat (normalitas dan homogenitas), serta uji hipotesis menggunakan One Way ANOVA dan uji lanjutan Post Hoc Tukey.

a.Statistik Deskriptif Keterampilan Berbicara

Berikut disajikan ringkasan statistik deskriptif keterampilan berbicara secara keseluruhan (ekspresif dan analitis) untuk masing-masing kelompok penelitian.

Berdasarkan Tabel 1, nilai rata-rata keterampilan berbicara tertinggi diperoleh oleh kelas SPEAK-UP (87,33), diikuti oleh kelas PjBL (82,14), dan kelas kontrol (70,52). Perbedaan rata-rata nilai antarkelompok menunjukkan bahwa kelas SPEAK-UP dan PjBL memperoleh hasil lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Temuan ini sejalan dengan meta-analisis Zhang dan Ma (2023) yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek lebih efektif daripada pembelajaran konvensional.

Standar deviasi kelas SPEAK-UP (6,45) lebih rendah dibandingkan kelas kontrol (8,17), yang mengindikasikan bahwa sebaran skor siswa pada kelas SPEAK-UP lebih homogen dan konsisten. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan model SPEAK-UP mampu mengangkat kemampuan berbicara siswa secara merata, tidak hanya pada siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi, tetapi juga pada siswa dengan kemampuan awal rendah. Temuan ini mendukung prinsip scaffolded support dalam model SPEAK-UP yang memberikan dukungan terstruktur sesuai dengan Zone of Proximal Development (ZPD) siswa (Vygotsky, 1978).

b.Statistik Deskriptif Keterampilan Berbicara Ekspresif

Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kelas SPEAK-UP memperoleh rata-rata keterampilan berbicara ekspresif tertinggi (86,80), diikuti kelas PjBL (81,07), dan kelas kontrol (69,24). Perbedaan rata-rata antara kelas SPEAK-UP dan kelas kontrol sebesar 17,56 poin merupakan perbedaan yang sangat substantif dan bermakna secara pedagogis. Keterampilan berbicara ekspresif mencakup kemampuan mengekspresikan gagasan, perasaan, dan pen6galaman secara lisan dengan jelas dan menarik (Dahlia et al., 2023).

Tingginya capaian kelas SPEAK-UP dalam aspek ekspresif dapat dijelaskan melalui karakteristik sintaks model ini yang secara khusus menyediakan ruang latihan berbicara ekspresif pada setiap tahap pembelajaran. Tahap Presentation and Sharing memberi kesempatan siswa melatih keterampilan berbicara di depan audiens, sejalan dengan temuan Benlaghrissi dan Ouahidi (2024) yang melaporkan peningkatan kemampuan berbicara sebesar 23,7% dibandingkan kelompok kontrol.

c.Statistik Deskriptif Keterampilan Berbicara Analitis

Pada keterampilan berbicara analitis, kelas SPEAK-UP kembali memperoleh rata-rata tertinggi (87,87), diikuti kelas PjBL (83,21), dan kelas kontrol (71,79). Keterampilan berbicara analitis yang diukur dalam penelitian ini mencakup kemampuan mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebab-akibat, mengevaluasi argumen, menyampaikan argumen yang logis, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Kemampuan-kemampuan tersebut berkaitan erat dengan keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan melalui aktivitas proyek (Ennis, 1996 dalam Beckett, 2023).

Capaian kelas PjBL (83,21) dalam aspek analitis lebih tinggi dibandingkan aspek ekspresif (81,07). Hal ini mengindikasikan bahwa model PjBL memiliki keunggulan dalam mengembangkan keterampilan berpikir analitis melalui proses investigasi, konstruksi, dan presentasi proyek. Temuan ini konsisten dengan penelitian Syafryadin et al. (2024) yang menemukan bahwa PjBL mendorong siswa untuk terlibat dalam proses analisis mendalam selama menyelesaikan proyek, meskipun tantangan dalam manajemen waktu (78%) dan koordinasi kelompok (65%) juga perlu mendapat perhatian dalam implementasinya.

2.Uji Prasyarat Analisis

a.Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data keterampilan berbicara siswa dari ketiga kelas berdistribusi normal. Pengujian dilakukan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria: jika nilai signifikansi (Sig.) > 0,05 maka data berdistribusi normal.

Berdasarkan Tabel 4, seluruh data keterampilan berbicara ekspresif maupun analitis dari ketiga kelas memperoleh nilai signifikansi > 0,05. Hal ini berarti bahwa data dari ketiga kelas berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas untuk pelaksanaan uji One Way ANOVA terpenuhi.

b.Uji Homogenitas Varians

Uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Levene untuk menguji apakah varians data dari ketiga kelompok bersifat homogen. Kriteria keputusan: jika nilai Sig. > 0,05 maka varians antar kelompok dinyatakan homogen.

Hasil uji Levene pada Tabel 5 menunjukkan bahwa seluruh variabel memperoleh nilai Sig. > 0,05, yang berarti varians data antar ketiga kelompok bersifat homogen. Dengan terpenuhinya asumsi normalitas dan homogenitas, maka pengujian hipotesis menggunakan One Way ANOVA dapat dilanjutkan.

3.Pengujian Hipotesis

a.Uji One Way ANOVA Keterampilan Berbicara Ekspresif

Pengujian hipotesis pertama dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam keterampilan berbicara ekspresif antara ketiga kelompok penelitian. Hipotesis yang diuji adalah: H₀₁: μ₁ = μ₂ = μ₃ dan H₁₁: terdapat perbedaan rata-rata pada minimal satu kelompok.

Berdasarkan Tabel 6, hasil One Way ANOVA menunjukkan nilai F hitung = 68,34 dengan Sig. = 0,000 < 0,05. Dengan demikian, H₀₁ ditolak dan H₁₁ diterima, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan dalam keterampilan berbicara ekspresif antara kelas yang menggunakan model PjBL, model SPEAK-UP, dan pembelajaran konvensional. Hasil ini sejalan dengan penelitian Firdaus dan Septiady (2023) yang menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan berbicara melalui PjBL (t = -8,532, p < 0,05), serta penelitian Widiyati dan Pangesti (2022) yang menemukan perbedaan signifikan keterampilan berbicara antara kelompok PjBL dan kontrol (t = 8,945, p < 0,001).

b.Uji One Way ANOVA Keterampilan Berbicara Analitis

Pengujian hipotesis kedua dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam keterampilan berbicara analitis antara ketiga kelompok penelitian.

Hasil One Way ANOVA pada Tabel 7 menunjukkan nilai F hitung = 74,21 dengan Sig. = 0,000 < 0,05. H₀₂ ditolak dan H₁₂ diterima, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan dalam keterampilan berbicara analitis antara ketiga kelompok. Nilai F hitung pada keterampilan analitis (74,21) lebih besar dibandingkan ekspresif (68,34), yang mengindikasikan bahwa perbedaan pengaruh antar model lebih menonjol pada aspek analitis. Hal ini dapat dipahami mengingat model PjBL dan SPEAK-UP secara khusus dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui penyelesaian proyek yang menuntut analisis dan evaluasi (Beckett, 2023; Zhang & Ma, 2023).

c.Uji Post Hoc Tukey

Setelah diketahui bahwa terdapat perbedaan signifikan pada kedua variabel, dilakukan uji lanjutan Post Hoc Tukey untuk mengidentifikasi pasangan kelompok yang berbeda secara signifikan.

Hasil uji Post Hoc Tukey pada Tabel 8 dan 9 menunjukkan bahwa ketiga pasangan kelompok memiliki perbedaan yang signifikan baik pada keterampilan berbicara ekspresif maupun analitis (Sig. < 0,05). Hasil ini mengkonfirmasi bahwa: (1) model SPEAK-UP lebih efektif dibandingkan model PjBL dalam meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif (perbedaan mean = 5,73) dan analitis (perbedaan mean = 4,66); (2) model SPEAK-UP lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional (perbedaan mean ekspresif = 17,56; analitis = 16,08); dan (3) model PjBL lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional (perbedaan mean ekspresif = 11,83; analitis = 11,42).

B.Pembahasan

1.Efektivitas Model PjBL terhadap Keterampilan Berbicara Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Model Project Based Learning (PjBL) secara signifikan meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri 282/VI Bangko dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Rata-rata keterampilan berbicara ekspresif kelas PjBL (81,07) dan analitis (83,21) secara substansial lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (69,24 dan 71,79) dengan perbedaan yang signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Temuan tersebut juga sejalan dengan karakteristik siswa kelas V SD Negeri 282/VI Bangko yang berada pada tahap perkembangan operasional konkret menuju operasional formal, sehingga lebih mudah memahami materi melalui kegiatan proyek, diskusi kelompok, presentasi, dan pengalaman belajar yang kontekstual. Kondisi ini membuat siswa lebih aktif mengemukakan pendapat, berani berbicara di depan teman sebaya, serta mampu mengembangkan kemampuan berbicara secara lebih optimal dibandingkan pembelajaran yang berpusat pada guru.

Keunggulan model PjBL dalam meningkatkan keterampilan berbicara dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme. Pertama, PjBL menciptakan konteks autentik bagi siswa untuk menggunakan bahasa dalam komunikasi yang bermakna. Suminto et al. (2024) dalam penelitiannya menemukan bahwa PjBL memberikan konteks autentik yang memfasilitasi siswa untuk menggunakan bahasa dalam situasi komunikatif yang bermakna, menghasilkan peningkatan pada aspek fluency dan confidence siswa [19]. Kedua, melalui tahapan investigasi, konstruksi, dan presentasi proyek, siswa memiliki kesempatan berulang untuk berlatih berbicara dalam berbagai konteks dan format, sesuai prinsip Multiple Opportunities for Practice yang menjadi landasan model ini.

Ketiga, interaksi sosial yang intensif dalam kelompok selama penyelesaian proyek memberikan scaffolding alami bagi siswa untuk mengembangkan kompetensi komunikatifnya. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky (1978) yang menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dalam Zone of Proximal Development (ZPD) [20]. Penelitian Apat et al. (2023) yang melibatkan 293 responden menemukan korelasi positif yang signifikan antara komunikasi lisan dan learning engagement siswa (r = 0,742, p < 0,001), yang membuktikan bahwa aktivitas komunikasi yang difasilitasi oleh PjBL tidak hanya meningkatkan keterampilan berbicara, tetapi juga keterlibatan siswa secara keseluruhan [21].

Temuan ini konsisten dengan meta-analisis Zhang dan Ma (2023) terhadap 66 penelitian eksperimental yang menunjukkan bahwa PjBL secara konsisten menghasilkan peningkatan hasil belajar yang signifikan (effect size = 0,71) [22]. Penelitian Benlaghrissi dan Ouahidi (2024) juga membuktikan bahwa integrasi PjBL dengan pendekatan komunikatif menghasilkan peningkatan kemampuan berbicara sebesar 23,7% dibandingkan metode konvensional (F = 45,32, p < 0,001) [1]. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis H1 (model PjBL lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif) dan H2 (keterampilan berbicara analitis) terbukti kebenarannya.

2.Efektivitas Model SPEAK-UP terhadap Keterampilan Berbicara Siswa

Model SPEAK-UP terbukti paling efektif meningkatkan keterampilan berbicara siswa, dengan rata-rata keterampilan berbicara ekspresif 86,80 dan analitis 87,87, lebih tinggi dibandingkan PjBL maupun kelas kontrol. Keunggulan model ini didukung oleh empat aspek utama. Pertama SPEAK-UP menyediakan latihan berbicara yang terstruktur pada setiap tahap pembelajaran, sehingga kemampuan berbicara siswa berkembang secara bertahap melalui orientasi, diskusi, presentasi, dan refleksi. Kedua model ini mengintegrasikan kemampuan Expressive Knowledge dan Analytical Knowledge, sehingga siswa mampu menyampaikan gagasan secara jelas sekaligus logis. Ketiga, pembelajaran berbasis proyek menghadirkan konteks komunikasi yang autentik, sehingga mendorong siswa menggunakan bahasa secara bermakna sesuai prinsip Communicative Language Teaching [22]. Keempat, frekuensi latihan berbicara lebih tinggi melalui diskusi, presentasi, umpan balik, dan refleksi. Hal ini sejalan dengan penelitian Mandouit dan Hattie (2020) yang menunjukkan bahwa oral feedback during discussion lebih efektif dibandingkan written feedback without discussion (F = 23,67; p < 0,001), sehingga mendukung diterimanya hipotesis H3, H4, H5, dan H6 [23].

3.Perbandingan Efektivitas Ketiga Model Pembelajaran

Berdasarkan hasil analisis statistik dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan urutan efektivitas dari yang tertinggi ke terendah sebagai berikut: (1) Model SPEAK-UP > (2) Model PjBL > (3) Pembelajaran Konvensional. Urutan ini konsisten pada kedua variabel, baik keterampilan berbicara ekspresif maupun analitis.

Perbedaan efektivitas antara model SPEAK-UP dan PjBL dapat dipahami melalui perbedaan orientasi kedua model. Model PjBL berfokus pada penyelesaian proyek sebagai produk pembelajaran, sementara model SPEAK-UP menjadikan keterampilan berbicara sebagai tujuan utama yang dicapai melalui konteks proyek. Dengan demikian, model SPEAK-UP memberikan intensitas latihan berbicara yang lebih tinggi dan lebih terstruktur dibandingkan model PjBL biasa. Hal ini selaras dengan temuan Jariah et al. (2024) yang menemukan bahwa tidak semua guru melaksanakan keenam tahap PjBL secara konsisten, khususnya tahap evaluasi, yang mengurangi efektivitas PjBL dalam mengembangkan keterampilan berbicara [15].

Kesenjangan yang signifikan antara model berbasis proyek (PjBL dan SPEAK-UP) dan pembelajaran konvensional mengkonfirmasi kritik terhadap pendekatan teacher-centered yang mendominasi pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Ali dan Dea (2024) dalam kajiannya tentang hakikat bahasa dan pembelajaran Bahasa Indonesia menegaskan bahwa pendekatan konvensional yang berpusat pada guru tidak memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk mengembangkan kompetensi komunikatif secara aktif [6]. Putri et al. (2025) juga menemukan bahwa keterampilan berbicara merupakan aspek yang paling rendah capaiannya (62,5%) dibandingkan keterampilan berbahasa lainnya, yang mencerminkan kurangnya perhatian pada pengembangan keterampilan produktif dalam pembelajaran konvensional [11].

Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berbasis proyek. Nafili dan Pramowardhani (2024) menekankan bahwa keempat keterampilan berbahasa harus dikembangkan secara integratif, dan model SPEAK-UP memberikan kerangka operasional yang memungkinkan hal tersebut melalui pendekatan berbasis proyek yang berfokus pada pengembangan keterampilan berbicara.

4.Temuan dari Perspektif Teori Perkembangan dan Konstruktivisme

Keberhasilan model PjBL dan SPEAK-UP dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V dapat dijelaskan melalui perspektif teori perkembangan dan konstruktivisme. Siswa kelas V yang berusia sekitar 10-11 tahun berada pada masa transisi dari tahap concrete operational menuju formal operational menurut Piaget (1971). Pada tahap ini, siswa mulai mampu berpikir lebih logis dan menganalisis hubungan sebab-akibat, karakteristik yang sangat mendukung pengembangan keterampilan berbicara analitis.

Model PjBL dan SPEAK-UP mengeksploitasi karakteristik perkembangan ini dengan menyediakan proyek-proyek yang konkret namun menuntut penalaran analitis. Melalui penyelesaian proyek, siswa tidak hanya mengembangkan pemahaman konseptual (asimilasi), tetapi juga memodifikasi skema pengetahuan mereka untuk mengakomodasi informasi baru (akomodasi), yang pada akhirnya mencapai ekuilibrasi melalui praktik berbicara yang berkelanjutan. Romdhon et al. (2024) dalam tinjauan literaturnya mengkonfirmasi bahwa pendekatan konstruktivis yang disesuaikan dengan tahap perkembangan concrete-operational siswa SD menghasilkan peningkatan hasil belajar yang signifikan [24].

Dari perspektif konstruktivisme sosial Vygotsky, keberhasilan kedua model juga dapat dijelaskan melalui mekanisme scaffolding dan zone of proximal development. Dalam konteks PjBL dan SPEAK-UP, scaffold diberikan oleh guru melalui bimbingan bertahap, dan oleh teman sebaya melalui diskusi kelompok dan peer feedback. Edlund et al. (2023) menemukan bahwa guru yang secara konsisten menggunakan strategi komunikasi-supporting seperti open-ended questions, modeling, dan responsive feedback mampu meningkatkan partisipasi dan kualitas komunikasi lisan siswa, yang sesuai dengan peran guru sebagai More Knowledgeable Other (MKO) dalam model SPEAK-UP [25].

5.Faktor Pendukung dan Tantangan Implementasi

Pelaksanaan model PjBL dan SPEAK-UP di SD Negeri 282/VI Bangko berjalan dengan dukungan beberapa faktor. Pertama, karakteristik siswa kelas V yang sudah memiliki kosakata yang relatif memadai dan mulai mampu berpikir logis menjadi modal penting dalam pelaksanaan kedua model. Kedua, antusiasme dan motivasi siswa yang tinggi selama proses pembelajaran berbasis proyek, yang tercermin dari peningkatan keaktifan siswa dalam berdiskusi dan presentasi. Ketiga, dukungan dari kepala sekolah dan rekan guru yang memfasilitasi pelaksanaan penelitian sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Di sisi lain, terdapat beberapa tantangan yang ditemukan selama implementasi. Pertama, manajemen waktu menjadi kendala yang perlu diantisipasi, mengingat model berbasis proyek memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang. Syafryadin et al. (2024) menemukan bahwa manajemen waktu merupakan tantangan yang dihadapi oleh 78% responden dalam implementasi PjBL untuk pembelajaran berbicara [26]. Kedua, sebagian siswa awalnya mengalami kecemasan berbicara di depan umum, yang merupakan hambatan umum dalam pengembangan keterampilan berbicara. Fatimah dan Putra (2024) mengidentifikasi bahwa 43% siswa mengalami hambatan dalam berbicara akibat kurangnya kepercayaan diri [18]. Ketiga, koordinasi dalam kerja kelompok memerlukan perhatian khusus untuk memastikan seluruh anggota kelompok mendapat kesempatan berbicara yang merata.

Tantangan-tantangan tersebut berhasil diatasi melalui perencanaan yang matang, pemberian scaffolding yang tepat, dan penciptaan lingkungan belajar yang supportive dan kolaboratif. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini memberikan bukti empiris yang kuat tentang efektivitas model PjBL dan khususnya model SPEAK-UP dalam meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif dan analitis siswa kelas V SD di daerah semi-rural, memperkaya literatur tentang pembelajaran Bahasa Indonesia yang inovatif dan efektif.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1.Efektivitas Model PjBL terhadap Keterampilan Berbicara Siswa

Model Project Based Learning (PjBL) terbukti efektif meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif dan analitis siswa kelas V SD Negeri 282/VI Bangko secara signifikan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Kelas yang menerapkan model PjBL memperoleh rata-rata keterampilan berbicara ekspresif sebesar 81,07 dan analitis sebesar 83,21, jauh lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang memperoleh rata-rata 69,24 (ekspresif) dan 71,79 (analitis). Perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik berdasarkan uji Post Hoc Tukey (Sig. < 0,05).

Keunggulan model PjBL dalam mengembangkan keterampilan berbicara dikarenakan pendekatan ini menyediakan konteks autentik untuk praktik berbicara melalui proses investigasi, konstruksi, dan presentasi proyek. Interaksi sosial yang intensif antar siswa dalam menyelesaikan proyek memberikan scaffolding alami untuk pengembangan kompetensi komunikatif. Dengan demikian, hipotesis H1 dan H2 yang menyatakan bahwa model PjBL lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif dan analitis siswa dinyatakan terbukti.

2.Efektivitas Model SPEAK-UP terhadap Keterampilan Berbicara Siswa

Model SPEAK-UP (Speaking Practice for Expressive and Analytical Knowledge Using Project) terbukti sebagai model pembelajaran yang paling efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif dan analitis siswa kelas V SD Negeri 282/VI Bangko. Kelas SPEAK-UP memperoleh rata-rata keterampilan berbicara ekspresif sebesar 86,80 dan analitis sebesar 87,87, merupakan capaian tertinggi di antara ketiga kelompok penelitian.

Keunggulan model SPEAK-UP disebabkan oleh karakteristiknya yang secara eksplisit menjadikan keterampilan berbicara sebagai tujuan utama di setiap tahap pembelajaran, mengintegrasikan pengembangan kemampuan berbicara ekspresif dan analitis secara simultan, serta memberikan frekuensi dan kualitas latihan berbicara yang lebih tinggi dan lebih terstruktur dibandingkan model PjBL biasa. Dengan demikian, hipotesis H3 dan H4 (model SPEAK-UP lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional) serta H5 dan H6 (model SPEAK-UP lebih efektif dibandingkan model PjBL) dinyatakan terbukti kebenarannya.

3.Perbedaan Efektivitas Ketiga Model Pembelajaran

Terdapat perbedaan yang signifikan dalam keterampilan berbicara ekspresif dan analitis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PjBL, model SPEAK-UP, dan pembelajaran konvensional. Hasil One Way ANOVA menunjukkan nilai F hitung yang sangat signifikan untuk keterampilan berbicara ekspresif (F = 68,34, Sig. = 0,000) maupun analitis (F = 74,21, Sig. = 0,000). Urutan efektivitas dari yang tertinggi ke terendah adalah: (1) Model SPEAK-UP, (2) Model PjBL, dan (3) Pembelajaran Konvensional.

Temuan ini mengkonfirmasi hipotesis utama penelitian bahwa terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara ketiga model pembelajaran, dan model SPEAK-UP merupakan model yang paling efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara ekspresif dan analitis siswa kelas V SD Negeri 282/VI Bangko. Model SPEAK-UP menyempurnakan PjBL melalui pembelajaran berbasis proyek yang lebih terstruktur untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Model ini dapat menjadi alternatif pembelajaran yang aktif, komunikatif, dan berpusat pada siswa sesuai Kurikulum Merdeka.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru, dan seluruh siswa SD Negeri 282/VI Bangko atas kerja sama dan partisipasinya selama pelaksanaan penelitian. Penulis juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan dalam penyusunan artikel ini. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran di sekolah dasar.

References

[1] H. Benlaghrissi and L. M. Ouahidi, “The impact of mobile-assisted project-based learning on developing EFL students' speaking skills,” Smart Learning Environments, vol. 11, no. 1, p. 18, 2024, doi: 10.1186/s40561-024-00303-y.

[2] L. Zhang and Y. Ma, “A study of the impact of project-based learning on student learning effects: A meta-analysis study,” Frontiers in Psychology, vol. 14, Art. no. 1202728, 2023, doi: 10.3389/fpsyg.2023.1202728.

[3] D. B. Petersen, M. Staskowski, T. D. Spencer, M. E. Foster, and M. P. Brough, “Effects of a multitiered system of language support on kindergarten oral and written language,” Reading Psychology, vol. 43, no. 1, pp. 1–26, 2022, doi: 10.1080/02702711.2021.1995867.

[4] A. R. Nafili and A. Pramowardhani, “Peranan keterampilan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan, vol. 5, no. 3, pp. 178–187, 2024, doi: 10.37058/jfkip.v5i3.12458.

[5] Nurajijah, Juliyani, and Goziyah, “Pentingnya peran pendidikan Bahasa Indonesia dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 6, no. 2, pp. 456–465, 2024, doi: 10.31004/jpdk.v6i2.21547.

[6] A. Ali and S. Dea, “Hakikat bahasa dan implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar,” Journal on Education, vol. 7, no. 1, pp. 7225–7239, 2024, doi: 10.31004/joe.v7i1.7418.

[7] Y. H. B. Tarigan, N. H. Cipta, and S. Rokmanah, “Pentingnya keterampilan berbahasa Indonesia pada kegiatan pembelajaran sekolah dasar,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 9, no. 5, pp. 829–842, 2023, doi: 10.36989/didaktik.v9i5.2032.

[8] Kusyairi, F. A. Farahiyyah, and H. Ummah, “Menumbuhkan keterampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa di sekolah,” Demagogi: Journal of Social Sciences, Economics and Education, vol. 2, no. 4, pp. 239–251, 2024, doi: 10.61166/demagogi.v2i4.58.

[9] D. Dahlia, S. R. H. Intiana, and H. Husniati, “Kemampuan berbicara siswa kelas V SD dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 9, no. 4, pp. 2164–2170, 2023, doi: 10.31949/educatio.v9i4.5847.

[10] L. W. Wardana, N. Mafruudloh, and I. Damayanti, “Tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia di era digital: Studi kasus di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 8, no. 2, pp. 145–156, 2023, doi: 10.23887/jpbsi.v8i2.58742.

[11] Z. P. N. Putri, P. B. Al Ansor, and M. A. Humaira, “Analisis kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas tinggi di sekolah dasar: Studi komparatif keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara,” Karimah Tauhid, vol. 4, no. 8, pp. 5811–5824, 2025, doi: 10.30997/karimahtauhid.v4i8.20227.

[12] M. Theresia, “Analisis keterampilan berbicara siswa kelas tinggi pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar,” Jurnal Misi, vol. 1, no. 1, pp. 163–173, 2018, doi: 10.31604/jmisi.v1i1.163-173.

[13] M. A. Almulla, “The effectiveness of the project-based learning (PBL) approach as a way to engage students in learning,” SAGE Open, vol. 10, no. 3, 2020, doi: 10.1177/2158244020938702.

[14] G. H. Beckett, Project-Based Learning for 21st-Century Skills: The Five C's for L2 Students. London, U.K.: Routledge, 2023, doi: 10.4324/9781003414810.

[15] A. Jariah, R. Hamid, and S. Nappu, “Analysis of the implementation of project based learning model on students' speaking skill,” International Journal of Social Science and Human Research, vol. 7, no. 2, pp. 1476–1488, 2024, doi: 10.47191/ijsshr/v7-i02-77.

[16] F. Firdaus and A. Septiady, “The effect of project-based learning on the students' speaking ability,” Journal on Education, vol. 5, no. 3, pp. 10105–10112, 2023, doi: 10.31004/joe.v5i3.1900.

[17] M. Aljohani, “Principles of constructivism in foreign language teaching,” Journal of Literature and Art Studies, vol. 7, no. 1, pp. 97–107, 2017, doi: 10.17265/2159-5836/2017.01.013.

[18] S. N. Fatimah and A. B. N. R. Putra, “Keterampilan berbicara peserta didik kelas 2 sekolah dasar,” Journal of Language Literature and Arts, vol. 4, no. 11, pp. 1097–1102, 2024, doi: 10.17977/um064v4i112024p1097-1102.

[19] A. G. Suminto, N. Mariani, and E. Andriyanti, “Project-based learning method in teaching speaking English: An analysis of its implementation,” Language and Education Journal, vol. 9, no. 1, pp. 20–30, 2024, doi: 10.52237/lej.v9i1.531.

[20] L. S. Vygotsky, Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA, USA: Harvard University Press, 1978.

[21] J. P. M. Apat, M. E. M. Alon, and M. J. S. Caya, “Oral communication and learning engagement of students,” International Journal of Research Studies in Education, vol. 12, no. 7, pp. 85–95, 2023, doi: 10.5861/ijrse.2023.24088.

[22] S. Halidjah, “Evaluasi keterampilan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 260–276, 2012, doi: 10.26418/jvip.v2i1.195.

[23] L. Mandouit and J. Hattie, “Using formative peer assessment to improve fifth graders' oral speaking skills,” Studies in Educational Evaluation, vol. 67, Art. no. 100941, 2020, doi: 10.1016/j.stueduc.2020.100941.

[24] M. S. Romdhon, I. Maulidia, and D. L. Setyowati, “Application of constructivism learning theory to improve student learning outcomes in elementary schools: A literature review,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 4, no. 2, pp. 2501–2512, 2024, doi: 10.31004/innovative.v4i2.9482.

[25] A. Edlund, U. Damber, and C. Olin-Scheller, “Supporting communication in the classroom: Teachers' talk and young students' oral language development,” Scandinavian Journal of Educational Research, vol. 67, no. 6, pp. 978–992, 2023, doi: 10.1080/00313831.2022.2083600.

[26] S. Syafryadin, E. Apriani, Noermanzah, F. Dafit, S. Juwita, and D. Yanti, “Challenges and attitudes of EFL students towards project-based learning in speaking class,” Cogent Education, vol. 11, no. 1, Art. no. 2287526, 2024, doi: 10.1080/2331186X.2023.2287526.