Login
Section Articles

Brain Based Learning Framework for Beginner Indonesian Language Acquisition


Kerangka Pembelajaran Berbasis Otak untuk Pemerolehan Bahasa Indonesia Tingkat Pemula
Vol. 11 No. 2 (2026): December:

Nurul Fara Nazwa (1), Syamsuyurnita Syamsuyurnita (2)

(1) Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Indonesia
(2) Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Indonesian as a Foreign Language (BIPA) instruction is increasingly vital in the Southeast Asian educational landscape, necessitating adaptive pedagogical strategies to facilitate cross-cultural communication. Specific Background: Beginner BIPA learners in Thailand often face significant challenges, including limited linguistic exposure, high cognitive demands, and anxiety, which hinder their initial language acquisition. Knowledge Gap: While current BIPA research prioritizes technological tools, there is a deficiency in empirical studies applying neuro-pedagogical frameworks—specifically Brain-Based Learning (BBL)—to optimize the receptive–pre-productive stages of language development. Aims: This study examined the application of the BBL model on basic Indonesian vocabulary mastery as a foundation for early speaking readiness among beginner BIPA learners. Results: Using a mixed-methods sequential explanatory design, the study revealed a statistically significant improvement in vocabulary mastery (t = 2.21, p = 0.040), with mean scores rising from 76.32 to 86.32. Novelty: This research provides empirical evidence that BBL-driven instruction—emphasizing multisensory stimulation and positive emotional engagement—effectively constructs cognitive-linguistic foundations for novice learners. Implications: Brain-Based Learning offers a meaningful instructional framework for beginner-level BIPA learners by strengthening receptive–pre-productive vocabulary foundations as vital preparation for subsequent speaking development.


Highlights


  • The Brain-Based Learning model significantly improves vocabulary mastery for beginner-level foreign language learners.




  • Instructional designs incorporating multisensory stimulation and positive emotional management reduce language learning anxiety and increase learner participation.




  • Systematic vocabulary acquisition at the receptive–pre-productive stage serves as a crucial cognitive foundation for future productive speaking proficiency.




Keywords

Brain-Based Learning; BIPA; Indonesian Vocabulary Mastery; Receptive–Pre-Productive Stage; Mixed-Methods

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing (BIPA) merupakan bagian dari dinamika pendidikan global dan meningkatnya interaksi lintas budaya di kawasan Asia Tenggara. Sejalan dengan peran Indonesia dalam ASEAN, internasionalisasi Bahasa Indonesia didukung oleh pertukaran budaya dan kerja sama pendidikan yang mendorong meningkatnya minat masyarakat asing—terutama di Thailand dan negara-negara sekitarnya—untuk mempelajari Bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi lintas budaya dan diplomasi (Collins & Adriani, 2020). Berbeda dengan bahasa asing dominan seperti bahasa Inggris yang berfungsi sebagai lingua franca global, pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing umumnya bersifat kontekstual, ditentukan oleh kebutuhan akademik, sosial, dan ekonomi pembelajar, serta tidak selalu didukung oleh paparan luas di luar kelas formal (Kirkpatrick & Liddicoat, 2017). Kondisi ini menjadikan akuisisi Bahasa Indonesia berlangsung lebih spesifik dan menuntut desain pedagogis yang peka terhadap konteks sosial dan budaya pembelajar (Tiawati & Bidin, 2023). Oleh karena itu, pembelajaran BIPA perlu mengedepankan strategi yang adaptif dan interkultural agar komunikasi lintas budaya dapat berkembang secara efektif (Yulianeta & Halimah, 2025).

Dalam konteks empiris di Thailand, Bahasa Indonesia umumnya diperkenalkan sebagai bahasa asing yang benar-benar baru bagi sebagian besar peserta didik. Banyak pembelajar tidak memiliki paparan linguistik sebelumnya di lingkungan keluarga maupun masyarakat, sehingga pemerolehan bahasa dimulai dari tahap awal yang sangat mendasar (Isnaniah & Islahuddin, 2020). Akibatnya, penggunaan Bahasa Indonesia hampir sepenuhnya terbatas pada ruang kelas formal dan tidak didukung oleh kebutuhan sosial atau akademik di luar kelas (Wahyono & Islahudin, 2023). Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perbedaan fonologis antara bahasa Thai dan Bahasa Indonesia, yang diperkuat oleh minimnya paparan, dapat menimbulkan kesulitan pelafalan, memperlambat penguasaan kosakata, serta menurunkan kepercayaan diri pembelajar untuk berbicara (Srikandi, 2022). Namun, keterbatasan kemampuan berbicara pada tahap awal tidak tepat dipahami sebagai kegagalan, melainkan sebagai karakter alami pemerolehan bahasa asing yang berlangsung bertahap dan sangat dipengaruhi oleh konteks pembelajaran (Tiawati & Kurnia, 2024). Dengan pendekatan pembelajaran yang adaptif, komunikatif, dan relevan dengan pengalaman pembelajar, motivasi belajar serta fondasi linguistik dapat dibangun secara progresif (Kusmiatun & Adam, 2025). Hal ini sejalan dengan temuan bahwa pengalaman belajar yang dipersepsi bermakna dan kontekstual berkontribusi pada peningkatan motivasi dan keterlibatan pembelajar dalam kelas BIPA (Febriyana & Syamsuyurnita, 2025). Dalam penelitian ini, istilah kontekstual tidak dioperasionalkan sebagai integrasi kearifan lokal, melainkan sebagai penciptaan pengalaman belajar bermakna melalui prinsip Brain-Based Learning yang menekankan emosi positif, keterlibatan aktif, dan aktivitas multisensorik.

Berdasarkan kondisi tersebut, persoalan utama dalam pembelajaran BIPA tahap awal tidak semata terletak pada belum tampaknya hasil berbicara secara produktif, melainkan pada efektivitas desain proses pembelajaran awal. Fase awal merupakan tahap krusial karena pada fase ini pembelajar mulai membangun representasi dasar bahasa melalui penguasaan kosakata dan pemahaman makna sebagai fondasi bagi kemampuan komunikasi selanjutnya (Susilowati & Luciandika, 2021). Oleh karena itu, fokus pembelajaran tahap awal perlu diarahkan bukan pada pencapaian kefasihan produktif secara prematur, melainkan pada pembangunan dasar kognitif-linguistik yang berkelanjutan melalui desain pembelajaran yang tepat (Tantri & Fitrah, 2025).

Pembelajaran pada fase awal juga mengandung risiko pedagogis yang tinggi apabila tidak dirancang secara cermat. Materi dengan kepadatan leksikal yang tidak selaras dengan kemampuan pemula berpotensi meningkatkan beban kognitif, memicu kelelahan mental, dan menurunkan retensi pembelajaran (Putra & Aziz, 2024). Selain itu, kesalahan desain pembelajaran dapat memunculkan kecemasan berbahasa (foreign language anxiety) yang berdampak pada rendahnya partisipasi lisan dan kepercayaan diri pembelajar (Darmawansah, 2020; Mufti & Sulistyaningsih, 2025). Pembelajaran yang terlalu formal, kurang kontekstual, dan minim ruang komunikasi bermakna cenderung menghasilkan pengalaman belajar yang tidak menyenangkan dan kurang relevan dengan kebutuhan sosial pembelajar (Pawoko & Asteria, 2025). Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menghambat perkembangan keterampilan berbicara pada tahap lanjut, terutama apabila intervensi pembelajaran tidak mempertimbangkan konteks budaya dan komunikasi pembelajar (Tiawati & Kurnia, 2024).

Selain risiko pedagogis, pembelajar pemula juga menghadapi tantangan kognitif dan afektif yang saling berkelindan. Secara kognitif, keterbatasan atensi dan kapasitas memori kerja dapat menyulitkan pembelajar membentuk asosiasi bentuk–makna kosakata Bahasa Indonesia, terutama ketika perbedaan dengan bahasa ibu cukup signifikan (Dhari & Syafryadin, 2025). Kurangnya paparan autentik dan terbatasnya waktu praktik turut menghambat proses otomasi bahasa serta pembentukan representasi mental kosakata baru (Mufidah & Latifah, 2023). Secara afektif, rasa malu, takut melakukan kesalahan, dan kecemasan berbicara sering muncul pada pembelajar pemula, khususnya dalam interaksi langsung di kelas (Darmawansah, 2020). Meskipun strategi kolaboratif dapat menekan kecemasan melalui dukungan sosial antarpembelajar, efektivitasnya tetap bergantung pada desain pembelajaran yang secara sadar mengelola aspek emosi dan kenyamanan belajar (Mufti & Sulistyaningsih, 2025). Dengan demikian, pembelajaran tahap awal tidak dapat hanya berfokus pada penyampaian materi linguistik, tetapi perlu secara simultan mengelola beban kognitif dan kondisi afektif pembelajar (Tantri & Fitrah, 2025).

Dalam konteks tersebut, Brain-Based Learning (BBL) menjadi relevan sebagai kerangka pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang menekankan hafalan mekanis dan penyampaian satu arah sering kali tidak sejalan dengan mekanisme otak dalam memproses bahasa baru karena cenderung mengabaikan peran emosi, keterbatasan memori kerja, dan kebutuhan stimulasi multisensorik (Suparsa & Mantra, 2017). BBL menawarkan kerangka neuro-pedagogis yang menekankan keterpaduan aspek kognitif, afektif, dan biologis, di mana pembelajaran berlangsung lebih optimal ketika melibatkan emosi positif, pengulangan bermakna, serta stimulasi multisensorik yang mendukung pembentukan memori jangka panjang (Vovk & Zenya, 2022). Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penerapan BBL dalam pembelajaran bahasa dapat meningkatkan retensi kosakata, memperkuat pemrosesan reseptif, dan meningkatkan motivasi belajar melalui suasana belajar yang lebih alami dan menyenangkan (Salem, 2017). Dalam konteks BIPA, BBL dapat diimplementasikan melalui penggunaan media interaktif, aktivitas berbasis seni dan budaya, serta pengalaman belajar kontekstual yang mengaktifkan keterlibatan kognitif dan emosional secara simultan (Nurhadi & Rahma, 2019; Nuraida & Nursilah, 2025).

Pembelajaran Berbasis Otak disajikan sebagai model pembelajaran dalam makalah ini, bukan sekadar metode atau pendekatan, yang dioperasionalkan secara terstruktur pada pembelajaran awal Bahasa Indonesia. Penekanan utama ditempatkan pada fase reseptif–pra-produktif, di mana pembelajar belum dituntut untuk berbicara secara penuh, tetapi difasilitasi untuk membangun keterhubungan antara bunyi, simbol, dan makna sebagai fondasi kesiapan berbicara pada tahap berikutnya (Rakhimova, 2024). Dalam kerangka tersebut, penguasaan kosakata dasar diposisikan sebagai indikator kesiapan berbicara tahap awal.

Meskipun Brain-Based Learning telah banyak dikaji dalam pembelajaran bahasa secara umum, penelitian yang secara khusus menguji penerapannya pada konteks BIPA tahap awal masih terbatas. Sebagian besar penelitian BIPA lebih berfokus pada aspek linguistik, budaya, atau pemanfaatan teknologi pembelajaran, sementara integrasi pendekatan neuro-pedagogis berbasis cara kerja otak belum banyak diuji secara empiris dalam pembelajaran awal Bahasa Indonesia (Syafruddin & Pratiwi, 2025). Beberapa inovasi pembelajaran BIPA juga cenderung berorientasi teknologi, seperti mobile learning, tanpa secara eksplisit mengaitkannya dengan prinsip neurosains pembelajaran bahasa (Muzaki & Susanto, 2024). Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menguji penerapan model Brain-Based Learning terhadap penguasaan kosakata dasar pada pembelajaran awal Bahasa Indonesia bagi penutur asing pemula.

Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimana perubahan penguasaan kosakata dasar Bahasa Indonesia sebagai indikator kesiapan berbicara tahap awal setelah penerapan model Brain-Based Learning pada pembelajaran awal Bahasa Indonesia bagi penutur asing?

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji perubahan penguasaan kosakata dasar Bahasa Indonesia setelah penerapan model Brain-Based Learning (BBL) sekaligus menjelaskan proses pembelajaran yang menyertai perubahan tersebut. Secara kuantitatif, penelitian menerapkan desain one-group pretest–posttest, yaitu satu kelompok subjek yang diukur sebelum dan sesudah intervensi pembelajaran berbasis BBL tanpa kelompok pembanding. Penelitian ini mengkaji tahap-tahap awal pengajaran bahasa Indonesia kepada siswa asing di Thailand. Subjek penelitian ini adalah sembilan belas siswa kelas lima sekolah dasar yang belum pernah mendapatkan pelatihan formal bahasa Indonesia dan baru mulai mempelajari bahasa tersebut. Kurikulum yang diterapkan berfokus pada kosakata tematis yang berkaitan dengan musim, sedangkan intervensi pembelajaran menggunakan paradigma Brain-Based Learning yang mengikuti tujuh tahapan pembelajaran menurut Jensen (2011). Penerapan pembelajaran dirancang untuk menekankan pengulangan bermakna, keterlibatan emosi positif, dan stimulasi multisensorik guna memperkuat asosiasi antara bunyi, bentuk, dan makna kosakata.

Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu (1) tes tertulis berupa pre-test dan post-test dalam format pilihan ganda untuk mengukur penguasaan kosakata dasar Bahasa Indonesia sebagai indikator kesiapan berbicara tahap awal yang bersifat reseptif–pra-produktif, (2) observasi kelas untuk mencatat keterlibatan siswa, respons afektif, serta dinamika interaksi belajar selama pembelajaran berbasis BBL, dan (3) catatan refleksi peneliti untuk mendokumentasikan proses pelaksanaan pembelajaran dan respons siswa secara umum Instrumen penelitian terdiri atas lembar tes sebagai instrumen kuantitatif utama, serta lembar observasi terstruktur dan format jurnal reflektif sebagai instrumen kualitatif penjelas. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji-t sampel berpasangan paired-samples t-test pada tingkat signifikansi α = 0,05 untuk mengetahui perbedaan antara skor pre-test dan post-test.

Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini mengkaji perubahan penguasaan kosakata dasar bahasa Indonesia pada pembelajar BIPA tingkat pemula setelah penerapan model Brain-Based Learning (BBL). Penguasaan kosakata dioperasionalkan sebagai indikator kesiapan awal berbicara pada tahap reseptif–pra-produktif, yang diukur melalui skor pre-test dan post-test berpasangan.

Tabel 4.1 Data ini menyajikan skor pre-test dan post-test individu, beserta peningkatan skor masing-masing. Hasil pre-test menunjukkan rentang skor awal yang lebar (40–100), yang mengindikasikan adanya heterogenitas signifikan dalam pengetahuan kosakata awal peserta didik. Variasi semacam itu merupakan hal yang umum terjadi di kalangan pembelajar bahasa asing tingkat pemula, mengingat adanya perbedaan yang nyata dalam tingkat paparan bahasa dan kesiapan belajar setiap individu. Selama pelaksanaan pembelajaran di kelas, heterogenitas ini juga tercermin dalam perilaku belajar siswa, di mana beberapa peserta didik menunjukkan kemampuan memahami kosakata baru dengan cepat serta memiliki kemauan untuk mencoba menggunakan kosakata tersebut, sementara peserta didik lainnya memerlukan pengulangan dan dukungan instruksional yang lebih banyak.

Setelah penerapan model BBL, skor post-test menunjukkan pola perkembangan individu yang beragam: sebanyak 9 siswa mengalami peningkatan skor, 5 siswa menunjukkan skor yang tetap, dan 5 siswa mengalami penurunan skor. Meskipun peningkatan tidak terjadi secara merata pada seluruh peserta didik, pola keseluruhan menunjukkan adanya pergeseran menuju peningkatan penguasaan kosakata pada tingkat kelas. Hasil observasi pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan peserta didik, meningkatnya keberanian untuk mencoba pengucapan meskipun masih terdapat kesalahan, serta munculnya pengulangan spontan terhadap kosakata baru yang diperkenalkan. Indikator proses tersebut membantu menjelaskan peningkatan skor yang diperoleh, karena latihan aktif dan berkurangnya hambatan afektif diketahui dapat mendukung pembentukan hubungan awal antara bentuk dan makna dalam proses pembelajaran bahasa.

Pada saat yang sama, keberadaan skor yang tetap maupun mengalami penurunan menunjukkan bahwa pemerolehan kosakata pada tahap awal masih dipengaruhi oleh berbagai faktor individual, seperti fluktuasi perhatian, kesiapan afektif, dan proses penguatan hubungan antara bentuk bahasa dan makna. Kondisi tersebut tidak menunjukkan bahwa model pembelajaran yang diterapkan kurang efektif, melainkan mencerminkan karakteristik perkembangan bahasa pada tahap reseptif–pra-produktif, di mana peserta didik dapat menunjukkan performa yang tidak selalu konsisten pada setiap tahap pengukuran.

Untuk mengontekstualisasikan perubahan skor individu dalam kecenderungan tingkat kelas, dilakukan analisis statistik deskriptif (Tabel 4.2). Nilai rata-rata meningkat dari 76,32 pada pre-test menjadi 86,32 pada post-test, disertai dengan peningkatan nilai median dari 80 menjadi 90. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan kosakata tidak hanya terjadi pada sebagian kecil peserta didik dengan kemampuan tinggi, tetapi mencerminkan adanya pergeseran distribusi skor secara lebih luas menuju nilai yang lebih tinggi. Selain itu, penurunan standar deviasi dari 13,83 menjadi 10,12 menunjukkan bahwa kemampuan penguasaan kosakata peserta didik menjadi lebih merata setelah diberikan pembelajaran.

Peningkatan skor minimum dari 40 menjadi 70 juga menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal terendah mengalami perkembangan yang bermakna. Temuan ini sejalan dengan data proses pembelajaran di kelas yang menunjukkan bahwa suasana belajar yang lebih mendukung, berkurangnya kecemasan, serta meningkatnya kesempatan untuk melakukan pengulangan memberikan manfaat khusus bagi peserta didik yang pada awalnya kurang percaya diri atau ragu dalam menggunakan kosakata baru. Sementara itu, skor maksimum yang tetap berada pada angka 100 menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal tinggi mampu mempertahankan performa optimal tanpa mengalami penurunan kemampuan.

Analisis inferensial menggunakan uji paired-samples t-test (Tabel 4.3) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pre-test dan post-test (t = 2,21, p = 0,040). Interval kepercayaan 95% (0,50–19,50) tidak mencakup angka nol, sehingga memperkuat bahwa perbedaan rata-rata yang ditemukan kemungkinan besar bukan disebabkan oleh variasi acak semata. Dalam konteks desain penelitian berbasis kelas dengan satu kelompok, hasil ini diinterpretasikan sebagai bukti bahwa penerapan model BBL berkaitan dengan peningkatan signifikan dalam penguasaan kosakata dasar pada pembelajar yang diteliti.

Temuan kuantitatif tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya mengenai pembelajaran berbasis otak (brain-based learning) dan pembelajaran bahasa berbasis multisensori, yang secara konsisten menunjukkan adanya peningkatan dalam pemerolehan kosakata awal disertai variasi respons antarindividu peserta didik (Salem, 2017; Bonomo, 2017). Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang menekankan aspek keamanan emosional, perhatian, dan pengulangan bermakna dapat mendukung peningkatan hasil belajar rata-rata sekaligus mengurangi perbedaan capaian antarpeserta didik, terutama pada pembelajar tingkat pemula (Al Adzillina & Hasanah, 2021; Heredia Muñoz & Vega, 2025). Hasil penelitian ini memperluas bukti tersebut dalam konteks pembelajaran awal bahasa Indonesia bagi penutur asing, dengan menunjukkan bahwa prinsip-prinsip BBL dapat mendukung pertumbuhan penguasaan kosakata sekaligus mendorong ketercapaian kemampuan peserta didik yang lebih merata.

Secara keseluruhan, hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa penerapan model Brain-Based Learning dalam pembelajaran BIPA tingkat awal berkaitan dengan peningkatan yang signifikan dan memiliki makna pedagogis terhadap penguasaan kosakata dasar. Meskipun perkembangan setiap peserta didik tetap menunjukkan variasi, gabungan hasil kuantitatif dan indikator proses pembelajaran menunjukkan bahwa BBL menyediakan kerangka pembelajaran yang mendukung pengembangan fondasi kosakata reseptif–pra-produktif yang penting untuk perkembangan kemampuan berbicara pada tahap berikutnya.

Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model *Brain-Based Learning* (BBL) sangat membantu dalam tahap awal penguasaan bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA), khususnya dalam pengembangan penguasaan kosakata dasar sebagai landasan kesiapan berbicara pada tahap reseptif-praproduktif. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa efektivitas BBL tidak hanya tercermin dari peningkatan prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lingkungan belajar yang mendorong keterlibatan siswa, kenyamanan emosional, serta kesiapan untuk secara bertahap mengenali dan menggunakan kosakata bahasa Indonesia.

Penerapan BBL melalui integrasi kosakata tematik kontekstual, aktivitas multisensorik, pengulangan bermakna, serta pengelolaan emosi positif membantu proses pengkodean dan penyimpanan kosakata dalam memori siswa. Hasil kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan penguasaan kosakata yang signifikan setelah penerapan model BBL berdasarkan hasil uji t berpasangan (p = 0,040). Namun, makna utama dari peningkatan tersebut tidak hanya terletak pada perubahan skor, melainkan pada proses pembelajaran yang menunjukkan peningkatan partisipasi siswa, berkurangnya kecemasan dalam belajar bahasa, serta munculnya keberanian untuk mengulang dan mengenali kosakata baru dalam aktivitas kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahap awal pembelajaran BIPA, keberhasilan pembelajaran lebih tepat dipahami sebagai proses membangun kesiapan berbahasa melalui penguatan kosakata dan pemahaman makna yang kontekstual, bukan sebagai tuntutan untuk mencapai kefasihan berbicara secara langsung.

Meskipun demikian, hasil penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan. Penelitian menggunakan desain one-group pretest–posttest tanpa kelompok pembanding dan dilakukan pada satu konteks kelas dengan jumlah peserta yang terbatas. Oleh karena itu, temuan penelitian bersifat kontekstual sesuai karakteristik kelas yang diteliti dan tidak dapat dipahami sebagai bukti kausalitas eksperimental yang dapat digeneralisasikan secara luas pada seluruh konteks pembelajaran BIPA.

Secara keseluruhan, model Brain-Based Learning memiliki potensi sebagai pendekatan pedagogis yang relevan dalam pembelajaran awal BIPA, terutama ketika materi disajikan secara kontekstual dan dikembangkan melalui strategi yang melibatkan aktivitas aktif, stimulasi multisensorik, serta dukungan emosional positif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah peserta yang lebih besar, menggunakan kelompok pembanding, memperpanjang durasi intervensi, serta memperluas tema kosakata agar efektivitas penerapan BBL dalam berbagai konteks pembelajaran BIPA dapat dikaji secara lebih mendalam.

Ucapan Terima Kasih

Terselesaikannya penyusunan artikel jurnal ini saya tidak akan bisa melakukan semua ini tanpa ketekunan, doa, dorongan, dan bantuan dari beberapa Oleh karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing atas semua bimbingan dan inspirasi yang telah diberikannya kepada saya. dan revisi bagi penulis untuk menyelesaikan artikel jurnal ini.

References

Bonomo Ed. D., V. (2017). Brain-Based Learning Theory. Journal of Education and Human Development, 6(2). https://doi.org/10.15640/jehd.v6n1a3

Collins, I., Adriani, I., & Rahman, M. S. A. (2020). Indonesia’s Cultural Diplomacy on the Conduct of Indonesian Language for Foreigners Programme in Thailand (2014-2019). Insignia: Journal of International Relations, 7(2), 138. https://doi.org/10.20884/1.ins.2020.7.2.2752

Darmawansah, D. (2020a). Teaching Indonesian as a foreign language through Small Private Online Course (SPOC): investigating learners’ multidimensional anxiety in online learning. Epistema, 1(2), 69–77. https://doi.org/10.21831/ep.v1i2.34995

Darmawansah, D. (2020b). Teaching Indonesian as a foreign language through Small Private Online Course (SPOC): investigating learners’ multidimensional anxiety in online learning. Epistema, 1(2), 69–77. https://doi.org/10.21831/ep.v1i2.34995

Gkintoni, E., Vassilopoulos, S. P., & Nikolaou, G. (2025). Brain-Inspired Multisensory Learning: A Systematic Review of Neuroplasticity and Cognitive Outcomes in Adult Multicultural and Second Language Acquisition. Biomimetics, 10(6), 397. https://doi.org/10.3390/biomimetics10060397

Isnaniah, S., & Islahuddin. (2020). Management of Indonesian Language Learning for Foreign Speakers (BIPA) at Islamic Religious Higher Education Institutions (PTKI) in Indonesia and Thailand. Jurnal Pendidikan Islam, 9(1), 1–28. https://doi.org/10.14421/jpi.2020.91.1-27

Kirkpatrick, A., & Liddicoat, A. J. (2017). Language education policy and practice in East and Southeast Asia. Language Teaching, 50(2), 155–188. https://doi.org/10.1017/S0261444817000027

Putra, R. A., Aziz, M. F., & Syamsuddin, S. (2024). Examining lexical density of Bahasa Indonesia for foreign language learners (BIPA) textbook. LingTera, 11(1), 1–12. https://doi.org/10.21831/lt.v11i1.67363

Srikandi, C. N. (2022). THAILAND STUDENTS’ DIFFICULTIES AND MOTIVATION IN STUDYING BIPA AT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA. Jurnal As-Salam, 6(2), 229–243. https://doi.org/10.37249/assalam.v6i2.485

Susilowati, N. E., Luciandika, A., & Mardasari, O. R. (2021). Learning Materials of Indonesian for Foreign Speakers for Academic Purposes: What Do Students Need? Advances in Social Science, Education and Humanities Research. https://doi.org/10.2991/assehr.k.211212.041

Tantri, N. R., Fitrah, Y., Kusmana, A., Wulandari, B. A., & Utama, G. T. (2025). Bridging Epistemology, SLA, and Cultural Content in BIPA Enhancing Indonesian Language Learning for Foreign Speakers. Allure Journal, 5(1), 48–59. https://doi.org/10.26877/allure.v5i1.20783

Tiawati, R. L., Bidin, A. bin, & Baba, S. (2023). How the Language Competence of International Students is Culturally Oriented When Learning Indonesian Language. Studies in Media and Communication, 11(6), 80. https://doi.org/10.11114/smc.v11i6.6020

Tiawati, R. L., Kurnia, M. D., Nazriani, N., Annisa, W., & Harahap, S. H. (2024). Cultural Literacy in Indonesian Language Learning for Foreign Speakers (BIPA): Overcoming Barriers and Fostering Language Proficiency with Cross-Cultural Understanding Issues. Journal of Pragmatics and Discourse Research, 4(1), 22–31. https://doi.org/10.51817/jpdr.v4i1.739

VOVK, O., ZENYA, L., & BROVARSKA, I. (2022). NEUROPEDAGOGY: A CONCEPT OF BRAIN COMPATIBLE TEACHING A FOREIGN LANGUAGE. Cherkasy University Bulletin: Pedagogical Sciences, 2, 64–73. https://doi.org/10.31651/2524-2660-2022-2-64-73

Wahyono, T., Islahudin, I., Kusmiatun, A., Hermanto, H., Purbohadi, D., & Septian, M. R. (2023). Assistance in Teaching Indonesian Language and Culture to BIPA Students at Fatoni University, Thailand. Proceeding International Conference of Community Service, 1(2). https://doi.org/10.18196/iccs.v1i2.121