Hardianto Hardianto (1), Nursalam Nursalam (2), Muhajir Muhajir (3)
General Background: The integration of interactive digital media is essential in modern elementary education to adapt to globalization and meet the learning needs of digital-native students. Specific Background: Civic Education (PKn) at the elementary school level in Tanrutedong District currently relies on traditional lectures and textbook-based instruction, failing to foster student engagement or internalize multicultural character values. Knowledge Gap: Existing research on digital learning media predominantly emphasizes cognitive outcomes, leaving a significant deficiency in studies that specifically address the affective development of tolerance attitudes within diverse, multicultural classroom environments. Aims: This study aims to develop and test the effectiveness of a multicultural-based digital learning media platform assisted by Google Sites to improve student tolerance and PKn learning outcomes. Results: Utilizing the ADDIE R&D model, the media integrated Bugis-Makassar 3S local wisdom principles (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge). Validation results confirmed a very high validity (Gregory’s coefficient = 1.00), and empirical testing revealed a significant N-Gain average of 0.73, signifying high effectiveness in improving both academic achievement and tolerance. Novelty: The study uniquely bridges digital technology with localized Bugis-Makassar cultural values to create a contextually relevant and inclusive educational framework. Implications: This interactive digital platform provides educators with a scalable, practical, and meaningful tool to cultivate democratic character and national unity, suggesting that technology-driven localized pedagogy is vital for character formation in elementary schools.
Highlights
The Google Sites-based digital media achieved a perfect Gregory validity coefficient of 1.00, demonstrating high expert-approved instructional design quality.
Integration of the Bugis-Makassar 3S principles significantly increased student tolerance attitudes through contextual and culturally relevant learning experiences.
Quantitative N-Gain analysis confirms high effectiveness in improving learning outcomes compared to conventional teacher-centered instructional methods.
Keywords
Digital Media; Google Sites; Multicultural Approach; Tolerance Attitude; Civics Learning Outcomes
Pesatnya perkembangan teknologi dan era globalisasi mengharuskan dunia pendidikan, termasuk di Tingkat sekolah dasar, untuk beradaptasi dengan mengintegrasikan media digital interaktif dalam proses pembelajaran. Teknologi ini memungkinkan untuk melakukan tugas apa pun dengan cepat, termasuk mencari materi untuk melaksanakan proses pembelajaran [1]. Banyak guru masih kesulitan menggunakan teknologi digital secara efektif dalam pembelajaran PKn, sehingga minat siswa rendah. Akibatnya, penanaman nilai karakter seperti toleransi dan menghargai perbedaan belum optimal.
Indonesia sebagai negara multikultur memiliki berbagai kebudayaan di dalamnya. Sebanyak 300 suku dan 700 bahasa, berbagai agama, berbagai tarian adat, dan lain-lain, tersebar di seluruh wilayah Indonesia [2]. Keanekaragaman budaya di Indonesia melahirkan kearifan lokal yang perlu dijaga melalui pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai multikultural. Di era teknologi, guru dituntut mampu memanfaatkan media digital agar pembelajaran lebih menarik dan relevan. Selain hal tersebut, siswa juga dapat belajar secara mandiri dengan mengakses informasi pembelajaran melalui media digital [3].
Hasil observasi awal pada 15 November 2025 di UPT SD Negeri 9 Tanrutedong menunjukkan bahwa pembelajaran PKn masih didominasi metode ceramah dan tugas dari buku paket atau LKS, dengan guru lebih aktif daripada siswa. Media pembelajaran selain buku hampir tidak digunakan, diskusi kelompok jarang dilakukan dan belum disusun secara heterogen, sehingga minat belajar siswa tampak rendah. Akibatnya, pembelajaran cenderung menekankan hafalan konsep tanpa memberi pengalaman sosial bermakna, sehingga nilai toleransi dan kerja sama siswa belum berkembang optimal.
Observasi awal di UPT SD Negeri 6 Tanrutedong menunjukkan bahwa pembelajaran PKn masih didominasi metode ceramah dengan media yang terbatas, sehingga keaktifan dan sikap toleransi siswa masih rendah. Selain itu, siswa cenderung berinteraksi dengan kelompoknya sendiri sehingga keberagaman perlu dikelola secara tepat dalam pembelajaran [4].
Menanggapi permasalahan tersebut, Pengembangan media digital inovatif melalui Google Sites dengan pendekatan multikultural diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran PKn. Media ini diharapkan menjadikan pembelajaran lebih menarik dan menumbuhkan sikap toleransi melalui kegiatan bersama dan refleksi. Sikap toleransi menyeimbangkan antara menerima perbedaan pendapat dan perilaku sambil tetap menjaga rasa hormat dan kesopanan (Trisiana et al., 2025).
Upaya ini sejalan dengan ajaran Islam yang dijelaskan dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Hujurat ayat 13.
النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya:
"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. "(QS. A1-Hujurat: 13).
Media interaktif berbasis digital menjadi pilihan karena memiliki dampak positif terhadap kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Ini mencakup aspek keterlibatan siswa, pemahaman konsep, hingga pencapaian hasil belajar [5]. Hal ini mendukung penggunaan media digital dalam pengembangan pembelajaran PKn berbasis multikultural karena mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan menciptakan pengalaman belajar yang aktif serta bermakna. [6]
Kemudian, Integrasi media digital dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi, keaktifan, dan prestasi belajar siswa, termasuk pada mata pelajaran PKn, karena penyajian materi yang lebih menarik dan kontekstual [7]. Selain itu, Media digital mendukung pembelajaran PKn yang aktif, berpusat pada siswa, dan menumbuhkan nilai toleransi [8].
Pendekatan pembelajaran yang dikenal sebagai pendidikan multikultural sangat menekankan nilai menghormati dan menghargai keberagaman, termasuk ras, budaya, dan aspek keberagaman lainnya [9]. Pendidikan multikultural merupakan strategi pembelajaran yang menekankan perlunya menghargai dan menghormati keragaman, termasuk perbedaan ras, budaya, dan aspek-aspek lain yang bervariasi [10].
Pendidikan multikultural di sekolah bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang keterbukaan terhadap perbedaan [11]. Pendidikan multikultural bertujuan menumbuhkan kesadaran akan keberagaman budaya agar tercipta kerukunan yang terus diperjuangkan sebagai karakter utama warga negara Indonesia [12]. Oleh karena itu, pendidikan multikultural dapat dilihat sebagai suatu cara mengubah cara berpikir seseorang agar lebih menghargai perbedaan dalam hal etnisitas, ras, dan perbedaan budaya [13]. Salah satu contohnya adalah siswa dapat belajar melalui simulasi, diskusi perbedaan pendapat, dan analisis kasus sehari-hari yang menanamkan nilai toleransi, keadilan, dan gotong royong [14].
Dampak positif pendekatan multikultural di SD yaitu membentuk sikap toleransi sejak dini, membantu siswa menghargai perbedaan, dan menjadi dasar karakter kebangsaan dalam PKn [15]. Kemudian, dalam pendidikan nasional, multikulturalisme berperan meningkatkan toleransi, pemahaman antarbudaya, dan menanamkan nilai kebersamaan demi keharmonisan masyarakat [16]. Selain itu, pendidikan multikultural dapat membangun karakter toleransi siswa dan mendukung tujuan pendidikan nasional dalam menghargai keberagaman [17].
Dinamika multikultural yang tidak terkelola dengan baik dalam pendidikan berpotensi membawa dampak negatif berupa ketegangan antar kelompok budaya, marginalisasi individu dari kelompok minoritas, serta hilangnya identitas budaya lokal tertentu (Nugraha, 2024). Di Indonesia, pendidikan multikultural perlu dilakukan dengan cara yang tepat, karena tanpa saling menghargai dan berinteraksi dengan baik, perbedaan justru bisa menimbulkan konflik [18].
Untuk mendukung pembelajaran yang lebih menarik, guru perlu memanfaatkan media yang sesuai, salah satunya Google Sites [19]. Platform ini memungkinkan guru mengembangkan media pembelajaran interaktif sesuai kebutuhan peserta didik [20], [21], serta meningkatkan keterlibatan, akses informasi, dan pengalaman belajar siswa [22].
Kelebihan Google Sites terletak pada kemudahan dalam menggunakannya dan dapat dijangkau oleh semua orang . Google Sites memudahkan guru menyusun media sesuai kebutuhan dan memungkinkan siswa belajar kapan saja dan di mana saja secara gratis, hemat kuota, dan tidak memakan banyak memori [23]. Kemudian media ini gampang dibuat, bisa diakses kapan pun, tidak perlu keahlian khusus, dan membantu siswa belajar bersama sekaligus mandiri sesuai kemampuan masing-masing [24].
PPKn merupakan salah satu pendidikan yang bukan hanya membentuk kemampuan kognitif peserta didik, melainkan juga membentuk sikap afektif yang menghasilkan individu berkarakter [25]. Salah satu karakter yang diajarkan dalam pendidikan multikultural adalah toleransi. Toleransi berperan untuk menciptakan rasa saling menghormati dan menghargai di tengah perbedaan antar siswa [26]. Toleransi bukan hanya menghargai, tetapi juga memahami dan menerima orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari [27] Sikap intoleransi perlu dicegah sejak SD dengan menanamkan nilai toleransi agar terbentuk karakter yang baik sejak dini [28].
Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu isi pembelajaran yang membentuk siswa agar menjadi warga negara yang baik, mampu bersosialisasi, dan siap menghadapi perubahan dalam masyarakat dengan bekal pengetahuan serta keterampilan hidup [29]. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah usaha yang bertujuan untuk membentuk karakter anak sesuai nilai Pancasila dan membekali mereka dengan dasar hidup bermasyarakat [30]. Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, siswa dilatih untuk menghargai perbedaan, memperkuat persatuan, dan secara aktif berkontribusi pada kehidupan demokrasi [31].
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah dasar menjadi sarana penting untuk membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia [32]. Pendidikan kewarganegaraan sangat penting karena membantu siswa memahami dan menyadari peran mereka sebagai warga negara [33]. PKn diharapkan membentuk siswa yang menghargai keberagaman, berjiwa persatuan, demokratis, dan berkarakter.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 6 UPT SD Negeri 9 Tanrutedong pada tanggal 17 s.d 19 November 2025 terkait analisis data nilai Asesmen Akhir Semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025 ditemukan bahwa 65 % siswa kelas 6 masih di bawah KKTP 75. Kemudian analisis data nilai Asesmen tengah semester Ganjil tahun Pelajaran 2025/2026 ditemukan 60 % siswa kelas 6 masih di bawah KKTP 75. Kemudian, observasi dalam kegiatan pembelajaran menunjukkan sebagian siswa enggan bekerja sama dan menerima pendapat teman yang berbeda latar budaya, bahkan menolak mempelajari adat yang tidak sesuai dengan budayanya.
Hasil wawancara dan observasi di kelas terhadap media pembelajaran yang digunakan terungkap bahwa penggunaan media pembelajaran di kelas 6 UPT SD Negeri 9 Tanrutedong sebagai berikut:
1.Kurangnnya media pembelajaran yang menarik sehingga siswa cenderung pasif dan kurang antusias saat belajar.
2.Motivasi belajar siswa rendah hal ini berpengaruh lansung pada rendahnya hasil belajar.
3.Pembelajaran masih pasif dan berpusat pada guru, sehingga siswa kurang aktif dalam mengikuti proses belajar.
4.Guru cenderung hanya mengandalkan buku guru dan siswa tanpa inovasi media pembelajaran.
5.Kurangnya pemanfaatan media berbasis teknologi modern.
Dampak yang terjadi membuat peserta didik bosan dan kesulitan dalam pembelajaran PKn. Hal ini diperoleh dari data angket yang diberikan kepada 20 orang peserta didik, yang menunjukkan 85% siswa lebih cepat paham dengan video atau gambar bergerak, 90% bosan jika hanya belajar dari buku/LKS, 80% kesulitan memahami budaya lain tanpa video, dan 85% lebih senang belajar sambil bermain daripada ceramah.
Dalam konteks multikultural, hanya 35% siswa mau berteman dengan yang berbeda suku atau agama, 70% masih bingung berinteraksi dengan teman yang berbeda bahasa, dan 75% ingin memakai HP untuk belajar mengenal budaya teman di kelas. Dalam hal kepemilikan dan penggunaan alat/sarana digital di rumah menunjukkan 100% siswa memiliki akses HP, 90% sudah boleh menggunakannya untuk belajar, dan 75% mampu mengunduh serta membuka aplikasi sendiri.
Kondisi serupa terjadi di UPT SD Negeri 6 Tanrutedong. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 6 UPT SD Negeri 6 Tanrutedong pada tanggal 20 s.d 22 November 2025 terkait analisis data nilai Asesmen Akhir Semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025 ditemukan bahwa 60 % siswa kelas 6 masih di bawah KKTP 75. Kemudian analisis data nilai Asesmen tengah semester Ganjil tahun Pelajaran 2025/2026 ditemukan 65 % siswa kelas 6 masih di bawah KKTP 75.
Selanjutnya, Observasi menunjukkan masih ada siswa yang menghindari teman berbeda latar budaya/agama dan tetap memilih kelompoknya sendiri saat kerja kelompok. Pembelajaran PKn juga minim penggunaan media yang melibatkan partisipasi siswa sehingga mereka cepat jenuh dan kurang aktif. Selain itu, pembelajaran belum sepenuhnya berorientasi pada siswa sehingga proses belajar menjadi kurang bermakna.
Hasil wawancara dan observasi di kelas 6 UPT SD Negeri 6 Tanrutedong menunjukkan adanya masalah signifikan dalam penggunaan media pembelajaran PKn. Media yang dipakai guru dianggap tidak mampu menarik perhatian dan membangkitkan partisipasi optimal siswa. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada rendahnya antusiasme, kurangnya minat, dan sikap pasif yang ditunjukkan oleh mayoritas siswa saat mengikuti pelajaran.
Data angket menunjukkan bahwa 80% siswa lebih cepat paham jika materi PKn disajikan lewat video atau gambar bergerak, 90% merasa bosan jika hanya belajar dari buku dan LKS, 80% kesulitan mengenal budaya daerah lain tanpa video, dan 90% lebih senang belajar sambil bermain. Hal ini menunjukkan perlunya media PKn yang interaktif dan inovatif.
Dalam konteks multikultural, hanya 20 % siswa merasa memiliki teman kelas yang berbeda suku dan agama dengannya. Sebanyak 85 % siswa masih bingung bagaimana cara berteman dengan orang yang bahasanya berbeda. Kemudian 85 % siswa ingin lebih tahu budaya daerah lain lewat aplikasi di HP. Dalam hal ketersediaan alat, 95 % siswa memiliki akses HP baik milik sendiri maupun masih menggunakan milik orang tuanya. Kemudian 75 % diantara mereka sudah diperbolehkan menggunakan HP untuk belajar. Beberapa diantaranya bercerita bahwa penggunaan HP masih dibatasi dan dipantau oleh orang tuanya. Sebanyak 85 % siswa sudah mampu mengunduh dan membuka aplikasi baru di HP.
Hasil angket menunjukkan pola yang relatif sama dengan UPT SD Negeri 9 Tanrutedong dan UPT SD Negeri 6 Tanrutedong, yaitu rendahnya keterlibatan siswa, kejenuhan belajar, serta belum optimalnya pembentukan sikap toleransi akibat keterbatasan media dan pendekatan pembelajaran. Data angket siswa pada kedua sekolah menunjukkan konsistensi permasalahan pembelajaran PKn, khususnya pada aspek motivasi belajar, keterlibatan siswa, dan internalisasi sikap toleransi. Temuan ini memperkuat urgensi pengembangan media pembelajaran digital berbasis pendekatan multikultural sebagai solusi inovatif.
Berikut ringkasan temuan observasi siswa selama proses pembelajaran yaitu:
1.4 sampai 6 kali kejadian dalam 1 kali pertemuan, siswa menolak satu kelompok dengan alasan “tidak cocok” karena berbeda suku/agama maupun bahasa.
2.60 % sampai 70 % siswa diam, tidak menanggapi pendapat teman dari kelompok yang berbeda saat kegiatan diskusi berlangsung.
3.Saat belajar tentang budaya terdapat 2 – 3 kejadian siswa protes membahas adat yang berbeda dengan budaya sendiri.
4.Siswa cenderung menunggu arahan guru dan tidak berinisiatif saat belajar PKn menggunakan buku teks.
5.Setiap pertemuan siswa terlihat bicara sendiri, merasa jenuh dan bosan karena pembelajaran berlangsung dengan metode ceramah.
Data observasi menunjukkan sikap toleransi siswa belum berkembang optimal dan pembelajaran PKn masih pasif serta berpusat pada guru. Pembelajaran terlalu didominasi hafalan, ceramah, dan buku paket sehingga hanya menekankan ranah kognitif. Padahal, PKn seharusnya membentuk karakter serta sikap kewarganegaraan yang demokratis dan humanis. Kegagalan mencapai ranah afektif ini menunjukkan bahwa pembelajaran PKn yang berlaku tidak lagi relevan untuk membentuk karakter bangsa di masa kini [34].
Kemudian hasil Wawancara menguatkan temuan observasi bahwa Keterbatasan media dan pendekatan membuat keterlibatan siswa rendah serta nilai toleransi kurang terinternalisasi. Pembelajaran masih didominasi ceramah dan buku teks sehingga kurang kontekstual dan bermakna. Minimnya aktivitas kolaboratif juga membuat siswa jarang berlatih menghargai perbedaan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, pengembangan media digital interaktif berbasis Google Sites dengan pendekatan multikultural menjadi solusi yang sangat dibutuhkan. Media ini menawarkan keunggulan dalam penyajian materi secara visual dan menarik, serta mampu mengintegrasikan konten multikultural, cerita lokal, video, simulasi, dan kuis reflektif untuk memupuk empati dan sikap toleransi. Dengan menyediakan pembelajaran PKn yang kontekstual, kolaboratif, dan autentik, Google Sites berfungsi sebagai jembatan untuk mengatasi kegagalan pembelajaran PKn yang berfokus pada aspek kognitif dan sekaligus memperkuat dimensi afektif yang selama ini terabaikan.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa media pembelajaran Google Sites berbasis budaya Banten terbukti sangat layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran materi warisan budaya. Hal ini ditunjukkan oleh hasil validasi ahli materi yang mencapai 96%, validasi ahli media sebesar 88,33%, serta validasi instrumen soal sebesar 98%, semuanya dalam kategori “sangat baik”. Uji coba kepada siswa juga menghasilkan respons yang sangat positif dengan nilai rata-rata 94% pada uji kelompok kecil dan 97% pada uji kelompok besar, serta tingkat minat belajar yang mencapai 90%. Selain itu, terdapat peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa, terlihat dari skor N-Gain sebesar 76% dan hasil uji paired sample t-test (sig. 0,000 < 0,05), yang menegaskan bahwa media Google Sites berbasis budaya Banten efektif meningkatkan minat dan hasil belajar siswa [35].
Penelitian lainnya hanya berfokus pada konteks penerapan nilai-nilai pendekatan multikultural dan tidak teritegrasi media digital interkatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Diskursus Multi-Representasi (DMR) mampu meningkatkan keterlibatan siswa SD dalam mengaplikasikan nilai pendidikan multikultural, khususnya dalam belajar hidup dalam perbedaan serta membangun sikap menghargai dan menghormati antar sesama [36].
Penelitian sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada aspek kognitif, sedangkan pengembangan sikap toleransi melalui media digital masih terbatas. Penelitian ini mengisi celah tersebut melalui media digital berbasis pendekatan multikultural pada konteks keberagaman di Kabupaten Sidenreng Rappang. Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan multikultural dengan kearifan lokal Bugis-Makassar 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge) agar pembelajaran PKn lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa.
Penelitian terdahulu mengenai pengembangan media pembelajaran digital pada mata pelajaran PKn di sekolah dasar umumnya menunjukkan hasil yang positif, namun sebagian besar masih berfokus pada peningkatan aspek kognitif, seperti pemahaman konsep, hasil belajar, dan capaian nilai siswa. Berbagai studi melaporkan bahwa penggunaan media digital berbasis web, multimedia interaktif, maupun platform daring mampu meningkatkan minat dan hasil belajar PKn, tetapi pengukuran dampaknya terhadap ranah afektif khususnya sikap toleransi dalam konteks keberagaman masih terbatas dan sering kali diperlakukan sebagai dampak tidak langsung [37].
Jika masalah ini dibiarkan tanpa adanya penelitian atau intervensi, pengajaran PKn di tingkat sekolah dasar akan tetap berfokus hanya pada aspek kognitif, seperti menghafal konsep dan materi. Akibatnya, dimensi afektif yang merupakan inti dari pendidikan kewarganegaraan tidak tersentuh. Siswa akan bisa mendefinisikan toleransi dan persatuan, namun gagal menerapkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Konsekuensi jangka panjangnya adalah pembentukan karakter yang lemah dan menurunnya kesiapan siswa untuk berinteraksi dan mengelola perbedaan sosial, budaya, dan agama di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Celah inilah yang menunjukkan belum optimalnya kajian yang secara khusus merancang dan menguji media digital dengan tujuan utama pembentukan sikap toleransi siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengembangkan media pembelajaran digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites yang secara eksplisit dirancang untuk menumbuhkan sikap toleransi sebagai capaian afektif utama, sekaligus menguji efektivitasnya dalam konteks kelas yang heterogen, sehingga memperkaya khazanah penelitian PKn tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai kebinekaan siswa [38].
Kurangnya inovasi media digital yang relevan dan berbasis budaya lokal juga akan membuat kegiatan belajar menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa generasi digital saat ini. Kondisi ini menyulitkan guru untuk memicu keterlibatan siswa yang aktif, karena materi PKn yang disampaikan gagal memberikan pengalaman belajar yang signifikan. Imbasnya, nilai-nilai penting seperti saling menghormati, menghargai keragaman, dan kerja sama lintas kelompok (suku atau agama) akan sulit tertanam dalam diri siswa, yang pada akhirnya mengakibatkan lemahnya kesadaran multikultural mereka.
Penelitian ini mengembangkan media Google Sites berbasis multikultural dan nilai 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge) untuk meningkatkan pemahaman PKn, sikap sosial, dan toleransi melalui fitur interaktif. Hasilnya, pembelajaran diharapkan menjadi jauh lebih kontekstual, menarik, dan sesuai dengan realitas kehidupan siswa di lingkungan yang beragam [39].
Kemudian pendekatan multikultural digunakan untuk menumbuhkan pemahaman serta apresiasi terhadap keragaman, yakni dengan menyajikan contoh-contoh konkret dari kekayaan budaya lokal maupun nasional yang menekankan nilai-nilai toleransi dan persaudaraan. Untuk pondasi moralnya, penelitian ini mengadopsi falsafah 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge) dari budaya Bugis-Makassar, yang bertujuan agar siswa menginternalisasi perilaku saling menghargai, bersikap santun, dan saling mengingatkan.
Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi untuk menghasilkan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites serta menguji efektivitasnya terhadap hasil belajar dan sikap toleransi siswa kelas VI Sekolah Dasar. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di UPT SD Negeri 9 Tanrutedong dan UPT SD Negeri 6 Tanrutedong, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VI pada kedua sekolah tersebut dan seluruh anggota populasi dijadikan sampel melalui teknik sampling jenuh. Tahap analisis dilakukan melalui kajian kurikulum, karakteristik peserta didik, dan materi PKn, kemudian dilanjutkan dengan perancangan media yang berorientasi pada pembelajaran kontekstual dan interaktif. Produk yang dikembangkan selanjutnya divalidasi oleh ahli, diuji keterbacaan dan kelayakannya, lalu diimplementasikan pada kelas eksperimen dan dibandingkan dengan kelas kontrol menggunakan desain quasi experiment Nonequivalent Control Group Design. Uji coba dilakukan untuk menguji validitas, kepraktisan, dan keefektifan media. Data diperoleh melalui lembar validasi, angket, dan tes hasil belajar, lalu dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan pre-test-post-test, Independent Sample t-test, serta analisis sikap toleransi.
A.Hasil Penelitian
1.Hasil Analysis (Analisis)
a.Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan dilakukan melalui observasi wawancara guru kelas VI, dan pengamatan pembelajaran PKn di UPT SD Negeri 9 Tanrutedong serta UPT SD Negeri 6 Tanrutedong.
b.Analisis Kebutuhan
c.Analisis Hasil Belajar
Analisis hasil belajar dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik pada mata pelajaran IPAS sebelum penggunaan media pembelajaran Flashcard berbasis Assemblr Edu. Hasil wawancara dengan guru kelas 6 UPT SD Negeri 9 Tanrutedong pada tanggal 17 s.d 19 November 2025 terkait analisis data nilai Asesmen Akhir Semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025 ditemukan bahwa 65 % siswa kelas 6 masih di bawah KKTP 75. Kemudian analisis data nilai Asesmen tengah semester Ganjil tahun Pelajaran 2025/2026 ditemukan 60 % siswa kelas 6 masih di bawah KKTP 75.
d.Evaluasi Tahap Analisis
Pada tahap analysis (analisis), evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, angket kebutuhan, dan analisis hasil belajar peserta didik. Evaluasi pada tahap analisis bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan pengembangan media pembelajaran telah diidentifikasi secara akurat berdasarkan kondisi pembelajaran yang sebenarnya. Tahap ini menjadi landasan penting dalam menentukan arah desain dan pengembangan produk agar sesuai dengan kondisi nyata di sekolah.
2.Hasil Design (Perencanaan)
a.Desain Konseptual Media digital berbasis multikultural berbantuan Google Sites:
1)Scan QR Code
Sebagai langkah awal, peserta didik memindai QR Code untuk mengakses Google Sites yang memuat materi, video, LKPD digital, evaluasi, dan aktivitas pembelajaran interaktif.
2)Yuk Membaca Materi Digital
Peserta didik mengakses Google Sites melalui QR Code untuk mempelajari materi keberagaman yang disajikan dalam bentuk teks, gambar, dan ilustrasi.
3)Analisis Studi Kasus
Peserta didik menganalisis kasus keberagaman di lingkungan sekolah guna memahmi perbedaan serta menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupaan sehari-hari.
4)Menonton Video
Peserta didik menyaksikan video pembelajaran pada Google Sites yang memuat materi keberagaman dan contoh perilaku toleran untuk memperkuat pemahaman.
5)Mengerjakan LKPD Digital
Setelah mempelajari materi dan video, peserta didik mengerjakan LKPD digital yang tersedia pada Google Sites.
6)Refleksi Digital
Melalui refleksi ini, peserta didik dapat memahami pentingnya menghargai perbedaan, menerima keberagaman, dan menerapkan nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi diisi pada akhir pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar yang telah diperoleh.
7)Upload Tugas
Berdasarkan hasil angket bahwa rata-rata peserta didik telah memiliki HP, maka fitur unggah tugas yang terintegrasi dengan Google Form dirancang dalam Google Sites untuk memudahkan peserta didik mengumpulkan tugas secara digital, praktis, dan mudah diakses.
8)Evaluasi/Kuis Digital
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, evaluasi pembelajaran Pendidikan Pancasila masih didominasi tes tertulis konvensional yang kurang menarik bagi peserta didik. Sementara itu, sebagian besar peserta didik telah memiliki akses perangkat digital dan tertarik pada pembelajaran berbasis teknologi, sehingga diperlukan evaluasi yang lebih interaktif dan digital.
b.Perancangan Instrumen Penelitian dan Validasi Produk
Pada tahap desain, peneliti menyusun berbagai instrumen penelitian yang digunakan untuk memperoleh data mengenai kualitas media digital berbasis pendekatan multikutural berbantuan google sites yang dikembangkan. Instrumen tersebut dirancang untuk mengukur tingkat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan media dalam mendukung pembelajaran PKn pada materi “Keberagaman Dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika”.
c.Evaluasi dan Revisi Hasil Perancangan
Evaluasi dilakukan terhadap aspek tampilan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites yang meliputi pemilihan warna, ukuran huruf, kualitas gambar, tata letak, dan kemudahan penggunaan. Hasil penelaahan menunjukkan bahwa media telah dirancang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar yang menyukai pembelajaran visual dan interaktif. Namun, masih diperlukan beberapa perbaikan, seperti penyesuaian ukuran teks agar lebih mudah dibaca, penyederhanaan bahasa pada beberapa materi, serta penyempurnaan petunjuk penggunaan media agar lebih jelas dan mudah dipahami.
3.Hasil Development (Pengembangan)
a.Validasi ahli media
Validas ahli media ini dilakukan dengan tujuan mengukur kelayakan media yang dimuat dalam produk hasil pengembangan, khususnya pada cakupan materi Keberagaman Dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika. Validasi media ini dilakukan oleh dua orang validator ahli, yaitu Validator 1 (Dr. Abdul Azis, S.Pd., M.Pd.) dan Validator 2 (Dr. Idawati, M.Pd.) yang memberikan penilaian terhadap 20 butir aspek penilaian yang terbagi menjadi empat aspek utama, yaitu aspek lay out (7 butir), isi (5 butir), manfaat (4 butir), serta Bahasa yang digunakan (3 butir). Penilaian dilakukan dengan menggunakan skala Likert empat poin, yaitu 1 (Tidak Relevan), 2 (Cukup Relevan), 3 (Relevan), dan 4 (Sangat Relevan).
b.Validasi ahli materi
Validas ahli materi pada media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites dilakukan untuk mengukur kelayakan substansi materi yang dimuat di dalam produk hasil pengembangan, khususnya pada cakupan materi Sistem Pernapasan Manusia yang meliputi materi pertemuan 1 (Keberagaman di Indonesia dan pentingya toleransi), materi pertemuan 2 (Menghargai perbedaan pendapat), serta materi pertemuan 3 (Perilaku diskriminasi dan sikap anti diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari) dan materi pada pertemuan 4 (Penerapan nilai 3S dalam kehidupan multikultural )pada mata pelajaran PKn kelas 6 Sekolah Dasar. Validasi materi ini dilakukan oleh dua orang validator ahli, yaitu Validator 1 (Dr. Abdul Azis, S.Pd., M.Pd.) dan Validator 2 (Dr. Idawati, M.Pd) yang memberikan penilaian terhadap 14 butir aspek penilaian yang terbagi menjadi tiga aspek utama, yaitu aspek Isi (6 butir), aspek Bahasa, Tulisan dan Tampilan (7 butir), serta aspek Manfaat (2 butir). Penilaian dilakukan dengan menggunakan skala Likert empat poin, yaitu 1 (Tidak Relevan), 2 (Cukup Relevan), 3 (Relevan), dan 4 (Sangat Relevan).
c.Validasi Instrumen Penelitian
Validasi instrumen penelitian dilakukan oleh validator 1 dan validator 2, kedua validator merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Makassar. Berikut ini merupakan hasil validasi instrumen penelitian.
d.Revisi Media dan Materi Setelah Validasi
Setelah media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites yang dikembangkan di validasi, selanjutnya peneliti melakukan revisi desain produk. Saran Validator 1 ( Perbaiki sesuai nilai multikultural). Saran Validator 2 (Dilengkapi dengan gambar pada cover yang menunjukkan budaya).
e.Revisi Lembar Validasi Instrumen Penelitian
Berdasarkan hasil validasi ahli media dan ahli Materi memperoleh kategori valid dan layak digunakan dengan sedikit revisi. Meskipun demikian, beberapa saran dan catatan perbaikan dari validator digunakan sebagai dasar untuk menyempurnakan produk sebelum dilakukan uji coba kepada peserta didik.
f. Revisi dan Uji coba Tes
Untuk mengukur kevalidan dan kelayakan tes, peneliti akan melakukan uji coba di UPT SD Negeri 3 lancirang dengan sampel 15 peserta didik. Melalui uji coba tes, peneliti dapat mengidentifikasi butir soal yang valid maupun yang tidak valid berdasarkan hasil analisis data.
Gambar 2 Tampilan Hasil Uji Validitas Tes
Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh butir soal memiliki nilai Corrected Item-Total Correlation yang berada pada rentang 0,527 sampai dengan 0,827. Nilai tersebut lebih besar daripada nilai r tabel pada taraf signifikansi 5% untuk jumlah responden 15 orang, yaitu sebesar 0,514. Dengan demikian, seluruh butir soal dinyatakan valid karena mampu mengukur aspek yang hendak diukur serta memiliki hubungan yang baik dengan skor total instrumen. Oleh karena itu, semua butir soal dapat digunakan dalam penelitian tanpa perlu dilakukan penghapusan ataupun revisi.
Gambar 3 Tampilan Hasil Uji Reliabilitas Tes
Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat konsistensi instrumen. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,907. Nilai tersebut berada di atas kriteria minimum reliabilitas, yaitu 0,70, sehingga instrumen termasuk dalam kategori sangat reliabel. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat konsistensi internal yang sangat baik dan mampu memberikan hasil pengukuran yang relatif tetap apabila digunakan pada kondisi yang serupa.
g.Uji Coba Skala Kecil
Tabel 1 Hasil Angket Respon Guru Kelas Uji Coba
Tabel 2 Hasil Angket Respon Siswa Kelas Uji Coba
Berdasarkan hasil uji coba skala kecil, diperoleh rata-rata skor respon guru sebesar 91,67% dengan kategori “sangat praktis”, sedangkan rata-rata skor respon peserta didik sebesar 91,50% dengan kategori “sangat praktis”. Hasil tersebut menunjukkan bahwa media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites layak digunakan dalam proses pembelajaran PKn peserta didik kelas 6 Sekolah Dasar.
h.Evaluasi Tahap Development (Pengembangan)
Hasil validasi menunjukkan bahwa media dan instrumen penelitian telah memenuhi kriteria valid dari aspek isi, konstruksi, tampilan, dan kebahasaan. Meskipun demikian, validator memberikan beberapa saran dan perbaikan untuk lebih menyempurnakan media dan instrumen yang telah dirancang peneliti. Selain itu, dilakukan perbaikan pada aspek visual media, seperti perbaikan sampul baik media maupun materi dan beberapa pernyatan instrumen disesuaikan degan tujuan yang akan diteliti.
4.Hasil Implementation (Pelaksanaan)
a.Hasil Angket Kepraktisan Respon Guru dan Peserta Didik
Tabel 3 Hasil Angket Respon Guru Kelas Eksperimen
Tabel 4 Hasil Angket Respon Peserta Didik Kelas Eksperimen
Berdasarkan hasil dari kelas eksperimen, diperoleh rata-rata skor respon guru sebesar 93,33% dengan kategori “sangat praktis”, sedangkan rata-rata skor respon peserta didik sebesar 92,33% dengan kategori “sangat praktis”. Hasil tersebut menunjukkan bahwa media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites layak digunakan dalam proses pembelajaran PKn siswa kelas 6 Sekolah Dasar.
b.Hasil Angket Sikap Toleransi Peserta Didik
1)Sikap Toleransi Kelas Eksperimen
Tabel 5 Angket Sikap Toleransi Peserta Didik (Eksperiment)
Berdasarkan hasil analisis angket pada kelas eksperimen, seluruh indikator sikap toleransi mengalami peningkatan setelah peserta didik mengikuti pembelajaran menggunakan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Indikator menghargai perbedaan mengalami peningkatan tertinggi, dari 61,88% menjadi 91,25% (meningkat 29,37%), diikuti empati dari 63,13% menjadi 90,00% (meningkat 26,87%), anti diskriminasi dari 65,63% menjadi 90,00% (meningkat 24,37%), kerja sama dari 64,38% menjadi 86,88% (meningkat 22,50%), serta keterbukaan dan penerimaan dari 63,75% menjadi 85,63% (meningkat 21,88%). Secara keseluruhan, seluruh indikator mengalami peningkatan dari kategori tinggi menjadi sangat tinggi, yang menunjukkan bahwa penggunaan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites efektif dalam meningkatkan sikap toleransi peserta didik.
Selanjutnya, untuk mengukur efektifitas media peneliti menggunakan rumus N-Gain dengan data sebagai berikut:
Tabel 6 Hasil N gain Sikap Toleransi Kelas Eksperiment
Berdasarkan hasil analisis N-Gain, seluruh indikator sikap toleransi mengalami peningkatan setelah peserta didik mengikuti pembelajaran menggunakan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Indikator Menghargai Perbedaan memperoleh peningkatan tertinggi dengan nilai N-Gain sebesar 0,77 (kategori tinggi), diikuti Empati sebesar 0,72 (kategori tinggi) dan Anti Diskriminasi sebesar 0,71 (kategori tinggi). Sementara itu, indikator Kerjasama memperoleh nilai N-Gain sebesar 0,63 (kategori sedang) dan Keterbukaan dan Penerimaan sebesar 0,60 (kategori sedang). Secara keseluruhan, hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang diterapkan mampu meningkatkan sikap toleransi peserta didik pada seluruh indikator, terutama dalam aspek menghargai perbedaan, empati, dan anti diskriminasi. Dengan demikian, media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites efektif dalam meningkatkan sikap toleransi peserta didik.
2)Sikap Toleransi Kelas Kontrol
Tabel 7 Angket Sikap Toleransi Peserta Didik (Kontrol)
Pada kelas kontrol, seluruh indikator sikap toleransi juga mengalami peningkatan setelah pembelajaran berlangsung, namun peningkatannya relatif lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Peningkatan terjadi pada indikator menghargai perbedaan sebesar 10,63%, empati sebesar 6,88%, anti diskriminasi sebesar 8,75%, kerja sama sebesar 9,37%, serta keterbukaan dan penerimaan sebesar 8,75%. Meskipun seluruh indikator mengalami peningkatan dan tetap berada pada kategori tinggi, hasil yang diperoleh belum mencapai kategori sangat tinggi seperti pada kelas eksperimen. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran konvensional dapat meningkatkan sikap toleransi peserta didik, namun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan pembelajaran yang menggunakan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Dengan demikian, media yang dikembangkan memberikan kontribusi yang lebih besar dalam meningkatkan sikap toleransi melalui pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan berorientasi pada nilai-nilai multikultural.
Selanjutnya, untuk mengukur efektifitas peningkatan sikap toleransi dengan pembelajaran konvensional menggunakan rumus N-Gain dengan data sebagai berikut:
Tabel 8 Hasil N-Gain Sikap Toleransi Kelas Kontrol
Berdasarkan hasil analisis N-Gain pada kelas kontrol, seluruh indikator sikap toleransi mengalami peningkatan yaitu Indikator menghargai perbedaan memperoleh nilai sebesar 0,27, empati sebesar 0,28, anti diskriminasi sebesar 0,24, dan kerja sama sebesar 0,28, termasuk dalam kategori rendah. Sementara itu, indikator keterbukaan dan penerimaan memperoleh nilai sebesar 0,40 yang berada pada kategori sedang. Secara keseluruhan, peningkatan sikap toleransi pada kelas kontrol tergolong rendah hingga sedang, dengan peningkatan tertinggi terdapat pada indikator keterbukaan dan penerimaan. Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas kontrol mampu meningkatkan sikap toleransi, namun peningkatannya masih relatif terbatas.
3)Uji t Sikap Toleransi Kelas Eksperimen dan Kontrol
Gambar 4 Tampilan Hasil Uji t Sikap Toleransi
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh rata-rata (mean) skor sikap toleransi peserta didik pada kelas eksperimen sebesar 88,75 dengan standar deviasi 5,098, sedangkan rata-rata skor sikap toleransi pada kelas kontrol sebesar 73,75 dengan standar deviasi 4,175. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata sikap toleransi peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.
c.Hasil Keterlaksanaan Pembelajaran Menggunakan Media Digital Berbasis Multikultural Berbantuan Google Sites
Tabel 9 Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi, keterlaksanaan pembelajaran menunjukkan peningkatan yang konsisten pada setiap pertemuan. Pada pertemuan I, guru memperoleh skor sebesar 73 dari skor maksimal 96 dengan persentase sebesar 76,04% yang termasuk dalam kategori Berhasil. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar langkah pembelajaran telah terlaksana sesuai dengan rancangan, meskipun masih terdapat beberapa indikator yang belum terlaksana secara optimal, terutama pada aspek pengelolaan diskusi dan pelibatan peserta didik secara merata.
d.Hasil Observasi Aktifitas Peserta Didik Menggunakan Media Digital Berbasis Multikultural Berbantuan Google Sites
Tabel 10 Hasil Observasi Keaktifan Peserta Didik
Berdasarkan hasil observasi keaktifan peserta didik selama empat kali pertemuan, terlihat adanya peningkatan yang konsisten setelah penggunaan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Pada pertemuan pertama diperoleh skor 68 (70,83%) dan pertemuan kedua meningkat menjadi 76 (79,17%), keduanya berada pada kategori Berhasil. Peningkatan ini menunjukkan bahwa peserta didik mulai terbiasa menggunakan media pembelajaran digital dan semakin aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.
e.Hasil Evaluasi (Pretest/Post Test)
Hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen yang terdiri dari 20 peserta didik menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar setelah penerapan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Rata-rata pretest kelas eksperimen 57,71 meningkat menjadi 86,86 pada posttest dengan selisih 29,15 poin, menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. N-Gain sebesar 0,71 termasuk kategori tinggi, dengan 70% peserta didik kategori tinggi dan 30% kategori sedang, serta tidak ada kategori rendah. Hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar yang optimal, didukung oleh penggunaan media digital berbasis Google Sites yang interaktif kontekstual, dan mengintegrasikan nilai multikultural. Secara keseluruhan kelas eksperimen menunjukkan efektivitas tinggi dalam meningkatkan hasil belajar Pendididikan pancasila.
Pada kelas kontrol, rata-rata pretest 53,57 meningkat menjadi 69,14 pada posttest dengan selisih 15,57 poin. N-Gain sebesar 0,33 berada pada kategori sedang, dengan 70% kategori sedang 30% kategori rendah tanpa kategori tinggi. Meskipun terjadi peningkatan, hasil ini masih lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen, sehingga pembelajaran konvesional belum optimal dan memerlukan inovasi yang lebih interaktif.
Uji normalitas dilakukan untuk memastikan data pretest dan posttest pada kedua kelas berdistribusi normal sebagai prasyarat uji hipotesis menggunakan uji parametik (uji t).
Berikut disajikan data uji normalitas hasil belajar peserta didik berdasarkan hasil pretest dan postest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai berikut:
Gambar 5 Tampilan Hasil Uji Normalitas Pretest/Posttest
Berdasarkan hasil uji normalitas, diperoleh nilai signifikansi Shapiro-Wilk pada data pretest kelas kontrol sebesar 0,123, posttest kelas kontrol sebesar 0,231, pretest kelas eksperimen sebesar 0,750, dan posttest kelas eksperimen sebesar 0,525. Seluruh nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar pada kedua kelompok, baik sebelum maupun sesudah perlakuan, berdistribusi normal.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi sehingga data layak dianalisis menggunakan statistik parametrik. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah penerapan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites.
Gambar 6 Tampilan Hasil Uji t Kelas eksperimen/Kontrol
Berdasarkan hasil uji Independent Samples t-Test diperoleh nilai t hitung sebesar -8,770 dengan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,001. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,001 < 0,05), maka H₀ ditolak dan H₁ diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen sebesar 87,65 lebih tinggi dibandingkan rata-rata kelas kontrol sebesar 69,15 dengan selisih sebesar 18,50 poin. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik.
f.Evaluasi Pada Tahap Implementasi
Berdasarkan hasil implementasi, media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran PKn kelas VI. Peserta didik aktif dan antusias selama pembelajaran dari akses materi hingga evaluasi. Integrasi nilai multikultural dan kearifan lokal 3S memudahkan pemahaman serta penerapan sikap keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.
5.Tahap Evaluation (Evaluasi)
Pada tahap evaluasi hasil observasi, wawancara, dan angket menunjukkan pembelajaran masih berpusat pada guru, media digital terbatas, hasil belajar belum optimal, dan sikap toleransi perlu ditingkatkan. Temuan ini menjadi dasar pengembangan media digital berbasis pendekatan multikultural melalui Google Sites.
B.Pembahasan
1.Karakteristik Peserta Didik
Dari aspek latar belakang budaya, peserta didik berasal dari lingkungan sosial yang beragam, namun interaksi antar peserta didik yang berbeda latar belakang budaya belum berkembang secara optimal. Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta didik masih cenderung memilih teman yang memiliki kesamaan budaya, bahasa, maupun kebiasaan dalam kegiatan belajar kelompok. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberagaman yang terdapat di lingkungan sekolah belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber belajar untuk mengembangkan sikap multikultural dan toleransi peserta didik.
Dari aspek sikap toleransi, angket menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dengan teman yang berbeda latar belakang budaya. Di UPT SD Negeri 9 Tanrutedong hanya sekitar 35% siswa yang menyatakan memiliki teman berbeda suku atau agama, sedangkan 70% siswa masih merasa bingung ketika harus berinteraksi dengan teman yang menggunakan bahasa berbeda. Di UPT SD Negeri 6 Tanrutedong, hanya sekitar 20% siswa memiliki teman dari latar belakang berbeda dan 85% mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman yang berbeda bahasa. Hal ini menujukkan perlunya penguatan nilai multikultural dan toleransi melalui pembelajaran yang kontekstual.
Sementara itu, siswa lebih termotivasi belajar melalui media visual dan interaktif. Sebagian besar peserta didik menyatakan lebih mudah memahami materi melalui video, gambar, dan aktivitas pembelajaran yang melibatkan teknologi dibandingkan pembelajaran yang hanya menggunakan buku dan metode ceramah. Kondisi ini menunjukkan bahwa peserta didik di sekolah dasar memiliki karakteristik belajar yang cenderung visual, aktif, dan membutuhkan pengalaman belajar yang menarik agar dapat memahami materi secara optimal.
Temuan ini diperkuat oleh hasil peneltian yang mengemukakan bahwa Keterampilan mengakses informasi digital peserta didik menunjukkan perkembangan yang cukup baik, meskipun kemampuan dalam memilah dan mengolah informasi masih rendah [40]. Olehnya itu, diperlukan media digital yang diharapkan meningkatkan partisipasi dan keterlibatan belajar peserta didik.
Berdasarkan keseluruhan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa kelas 6 UPT SD Negeri 9 Tanrutedong dan UPT SD Negeri 6 Tanrutedong memiliki kesiapan yang baik dalam memanfaatkan teknologi digital serta motivasi yang tinggi terhadap pembelajaran interaktif. Namun demikian, sikap toleransi dan kemampuan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, pengembangan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites menjadi alternatif yang relevan untuk menjawab kebutuhan pembelajaran sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Pancasila pada elemen Bhinneka Tunggal Ika, khususnya dalam membentuk sikap toleransi dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.
2.Desain Media Digital Berbasis Pendekatan Multikultural Berbantuan Google Sites
Tahap desain merupakan tahap perancangan media pembelajaran yang dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan, karakteristik peserta didik, dan analisis kurikulum. Media berbasis multikultural melalui Google Sites dikembangkan untuk mendukung pembelajaran Pendidikan Pancasila (Bhinneka Tunggal Ika) dalam meningkatkan toleransi dan hasil belajar siswa kelas VI, sesuai karakteristik siswa yang menyukai pembelajaran visual dan interaktif.
Google Sites dipilih karena mudah diakses tanpa instalasi serta mampu mengintegrasikan berbagai media pembelajaran dalam satu platform, sehingga mendukung pembelajaran mandiri maupun koloboratif, serta mudah digunakan oleh pengguna awam [41].
Desain media disusun berdasarkan pendekatan multikultural yang menekankan pada pengenalan, pemahaman, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya, agama, bahasa, dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Materi yang dikembangkan difokuskan pada keberagaman budaya dan agama serta pentingnya sikap toleransi. Untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai multikultural, media juga mengintegrasikan budaya lokal 3S sebagai landasan pembentukan karakter toleransi peserta didik. Pendekatan berbasis budaya membantu menghubungkan konsep Pancasila dengan kehidupan nyata, memperkuat identitas budaya, dan menjaga relevansinya di era global [42].
Secara struktural, media Google Sites terdiri atas beberapa menu utama yang saling terhubung. Menu Beranda berfungsi sebagai halaman utama yang berisi petunjuk penggunaan media dan tujuan pembelajaran. Menu Materi Pembelajaran memuat konsep keberagaman budaya dan agama, pentingnya toleransi, serta contoh penerapan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Materi disajikan dalam bentuk teks, gambar, dan infografis agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Penggunaan teknologi informasi yang menggabungkan media teks, gambar, suara, video dan animasi menyebabkan seseorang dapat menangkap 50% dari apa yang dilihat dan apa yang didengar, menyerap 80% pengetahuan, sehingga penggunaan teknologi berupa media interaktif dapat meningkatkan efektifitas penyerapan materi [43].
Untuk meningkatkan toleransi, media menyediakan menu analisis kasus kontekstual yang mendorong siswa menganalisis masalah, menyampaikan pendapat dan merumuskan solusi berdasarkan nilai toleransi sehingga pembelajaran lebih bermakna. Selain itu, LKPD digital digunakan untuk mendukung pembelajaran kolaboratif, meningkatkan keterlibatan memperkuat pemahaman, serta menambah variasi dan daya Tarik pembelajaran [44].
Sebagai alat evaluasi, media menyediakan menu Kuis Interaktif yang terhubung dengan Google Form atau Wayground sehingga siswa dapat langsung mengetahui hasil belajarnya. Wayground merupakan platform pembelajaran digital interaktif yang dirancang untuk mendukung kegiatan pengajaran, latihan, dan evaluasi secara lebih menarik melalui perangkat digital [45].
Evaluasi tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada perkembangan wawasan berkebhinekaan global. Kebhinekaan global dapat berhasil dengan baik jika setiap peserta didik mampu menghargai dan hidup berdampingan dengan budaya yang berbeda. Wawasan kebhinekaan global dapat terbentuk dan menjadi karakter jika dalam pembelajaran dikembangkan pengetahuan tentang multikultural [46].
3.Validitas Media Digital Berbasis Pendekatan Multikultural Berbantuan Google Sites
Hasil validasi media menunjukkan bahwa media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites memperoleh koefisien validitas Gregory sebesar 1,00 dengan kategori validitas sangat tinggi. Berdasarkan penilaian ahli, media dinyatakan valid dan layak digunakan dalam pembelajaran PKn kelas VI Sekolah Dasar, dengan sedikit revisi berupa penyesuaian konten multikultural dan penambahan ilustrasi budaya pada tampilan awal media. Validasi oleh ahli media bertujuan untuk mendapatkan informasi, kritik, dan saran agar media pembelajaran yang dikembangkan menjadi produk yang berkualitas baik secara aspek pemrograman maupun tampilan [47].
Hasil validasi media diperoleh jumlah skor Validator 1 sebesar 78 dari skor maksimal 80 dengan persentase 97,50%, sedangkan jumlah skor Validator 2 sebesar 79 dari skor maksimal 80 dengan persentase 98,75%. Dengan demikian, persentase rata-rata penilaian materi dari kedua validator adalah sebesar 98,13 %, yang menunjukkan kualitas materi pada media berada pada kategori sangat tinggi. Dari Validator2 memberi saran untuk menambahkan konsep budaya pada sampul media agar tampilannya menjadi lebih menarik.
Selanjutnya validasi materi dilakukan untuk menilai kesesuaian isi materi dengan capaian pembelajaran, kedalaman materi, penggunaan bahasa, serta keterpaduan materi dengan pendekatan multikultural dan budaya 3S. Validasi dilakukan oleh dua orang ahli materi yang memiliki kompetensi di bidang Pendidikan Kewarganegaraan. Hasil validasi menunjukkan materi yang disajikan dalam media dinyatakan valid dan layak digunakan. Kedua validator menyatakan bahwa materi dapat digunakan dengan sedikit revisi, salah satunya dengan menambahkan contoh soal pada materi pembelajaran.
Hasil validasi materi diperoleh jumlah skor Validator 1 sebesar 55 dari skor maksimal 56 dengan persentase 98,21%, sedangkan jumlah skor Validator 2 sebesar 49 dari skor maksimal 56 dengan persentase 87,50%. Dengan demikian, persentase rata-rata penilaian materi dari kedua validator adalah sebesar 92,86%, yang menunjukkan kualitas materi pada media berada pada kategori sangat tinggi. Validasi ahli materi dilakukan untuk menilai kesesuaian isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik sebelum digunakan dalam pembelajaran [48].
Selanjutnya hasil validasi instrumen penelitian menunjukkan validitas sangat tinggi, sehingga seluruh instrumen penelitian valid dan layak digunakan untuk tahap selanjutnya dengan melakukan revisi dan perbaikan berdasarkan saran dan masukan dari validator.
4.Kepraktisan Media Digital Berbasis Pendekatan Multikultural Berbantuan Google Sites
Kepraktisan media menunjukkan tingkat kemudahan penggunaan media oleh guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Aspek yang dinilai meliputi kemudahan akses, kemudahan pengoperasian, kejelasan tampilan, kualitas isi, serta kebermanfaatan media dalam mendukung pembelajaran PKn. Dalam penelitian ini, kepraktisan media diukur melalui angket respons guru dan peserta didik yang diberikan setelah penggunaan media pembelajaran berbasis Google Sites.
Berdasarkan hasil uji coba skala kecil, diperoleh rata-rata skor respons guru sebesar 91,67% dengan kategori sangat praktis, sedangkan rata-rata skor respons peserta didik sebesar 91,50% yang juga berada pada kategori sangat praktis. Guru menilai bahwa penggunaan media ini mampu meningkatkan minat dan perhatian peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Selain itu, peserta didik merasa lebih tertarik dan antusias saat menggunakan media pembelajaran karena tampilan menarik dan mudah diakses. Hasil tersebut menunjukkan bahwa media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites telah memenuhi kriteria kepraktisan dan layak digunakan dalam pembelajaran PKn pada peserta didik kelas 6 Sekolah Dasar.
Selanjutnya data respon guru dan respon peserta didik kelas eksperimen setelah menggunakan media diperoleh rata-rata skor respon guru sebesar 93,33% dengan kategori “sangat praktis”, sedangkan rata-rata skor respon peserta didik sebesar 92,33% dengan kategori “sangat praktis”. Hasil tersebut menunjukkan bahwa media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites layak digunakan dalam proses pembelajaran PKn siswa kelas 6 Sekolah Dasar.
Selama implementasi di kelas eksperimen, peserta didik menunjukkan antusiasme dan keterlibatan yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran. Peserta didik dapat mengakses materi, mengamati video pembelajaran, berdiskusi, mengerjakan LKPD digital, serta menyelesaikan evaluasi melalui satu platform yang terintegrasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa media memiliki tingkat keterpakaian yang baik dan dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang.
5.Keefektifan Media Digital Berbasis Pendekatan Multikultural Berbantuan Google Sites
Keefektifan media merupakan salah satu indikator kualitas produk pengembangan yang menunjukkan kemampuan media dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tingginya ketertarikan peserta didik terhadap pemanfaatan internet hendaknya dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran [49].
Adapun hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran menggunakan media digital ini mengalami peningkatan yang konsisten pada setiap pertemuan. Pada pertemuan I diperoleh skor 73 (76,04%) dengan kategori Berhasil, yang menunjukkan bahwa sebagian besar langkah pembelajaran telah terlaksana. Pada pertemuan II, skor meningkat menjadi 83 (86,46%) dengan kategori Sangat Berhasil, Selanjutnya, pada pertemuan III skor mencapai 89 (92,71%), yang menandakan hampir seluruh indikator pembelajaran telah terlaksana dengan baik. Puncaknya pada pertemuan IV diperoleh skor 95 (98,96%) dengan kategori Sangat Berhasil, yang menunjukkan bahwa pembelajaran terlaksana secara maksimal. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites dapat mendukung keterlaksanaan pembelajaran yang semakin efektif.
Kemudian, hasil observasi, keaktifan peserta didik mengalami peningkatan yang konsisten selama empat kali pertemuan setelah penggunaan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Skor keaktifan meningkat dari 68 (70,83%) pada pertemuan I dan 76 (79,17%) pada pertemuan II dengan kategori Berhasil, menjadi 85 (88,54%) pada pertemuan III dan 91 (94,79%) pada pertemuan IV dengan kategori Sangat Berhasil. Hasil ini menunjukkan bahwa peserta didik semakin aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, baik dalam berdiskusi, bekerja sama, maupun menghargai perbedaan, sehingga media yang digunakan efektif dalam meningkatkan keaktifan peserta didik.
Selanjutnya hasil angket sikap toleransi peserta didik pada kelas eksperimen diperoleh data seluruh indikator sikap toleransi mengalami peningkatan setelah peserta didik mengikuti pembelajaran menggunakan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Indikator menghargai perbedaan mengalami peningkatan tertinggi, dari 61,88% menjadi 91,25% (meningkat 29,37%), diikuti empati dari 63,13% menjadi 90,00% (meningkat 26,87%), anti diskriminasi dari 65,63% menjadi 90,00% (meningkat 24,37%), kerja sama dari 64,38% menjadi 86,88% (meningkat 22,50%), serta keterbukaan dan penerimaan dari 63,75% menjadi 85,63% (meningkat 21,88%). Secara keseluruhan, seluruh indikator mengalami peningkatan dari kategori tinggi menjadi sangat tinggi, yang menunjukkan bahwa penggunaan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites efektif dalam meningkatkan sikap toleransi peserta didik.
Sebagai pembanding data pada kelas eksperimen, didapatkan hasil angket sikap toleransi pada kelas kontrol yaitu seluruh indikator sikap toleransi juga mengalami peningkatan setelah pembelajaran berlangsung, namun peningkatannya relatif lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Peningkatan terjadi pada indikator menghargai perbedaan sebesar 10,63%, empati sebesar 6,88%, anti diskriminasi sebesar 8,75%, kerja sama sebesar 9,37%, serta keterbukaan dan penerimaan sebesar 8,75%. Meskipun seluruh indikator mengalami peningkatan dan tetap berada pada kategori tinggi, hasil yang diperoleh belum mencapai kategori sangat tinggi seperti pada kelas eksperimen.
Kemudian, hasil analisis deskriptif, diperoleh rata-rata (mean) skor sikap toleransi peserta didik pada kelas eksperimen sebesar 88,75 dengan standar deviasi 5,098, sedangkan rata-rata skor sikap toleransi pada kelas kontrol sebesar 73,75 dengan standar deviasi 4,175. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata sikap toleransi peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.
Hasil uji Independent Samples t-Test menunjukkan nilai t = -10,180 dengan derajat kebebasan (df) = 38 dan nilai signifikansi Sig. (2-tailed) < 0,001. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,001 < 0,05), maka H₀ ditolak dan H₁ diterima. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara sikap toleransi peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah perlakuan diberikan. Dengan demikian, media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites efektif dalam meningkatkan sikap toleransi peserta didik.
Langkah selanjutnya untuk menguji efektifitas media yaitu dengan pengukuran kemampuan awal (pretest) dan kemampuan akhir (posttest) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pretest diberikan sebelum proses pembelajaran dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik terkait materi keberagaman, sedangkan posttest diberikan setelah seluruh rangkaian pembelajaran selesai untuk mengetahui peningkatan hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Data hasil pretest dan posttest kemudian dianalisis untuk melihat perubahan kemampuan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Analisis dilakukan melalui perhitungan nilai rata-rata, peningkatan skor, dan nilai N-Gain guna mengetahui tingkat peningkatan hasil belajar peserta didik.
Hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen yang terdiri dari 20 peserta didik menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar setelah penerapan media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites. Rata-rata nilai pretest sebesar 57,71 meningkat menjadi 86,86 pada posttest, dengan selisih peningkatan 29,15 poin yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan.
Hasil analisis N-Gain memperoleh nilai rata-rata 0,71 yang termasuk kategori tinggi. Sebanyak 14 peserta didik (70%) berada pada kategori N-Gain tinggi, 6 peserta didik (30%) pada kategori sedang, dan tidak ada yang berada pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik mengalami peningkatan hasil belajar yang optimal.
Selanjutnya Hasil analisis pretest dan posttest pada kelas kontrol menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dari rata-rata 53,57 menjadi 69,14, dengan selisih peningkatan sebesar 15,57 poin. Meskipun terjadi peningkatan, capaian ini masih lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen.
Hasil N-Gain menunjukkan nilai rata-rata 0,33 yang termasuk kategori sedang. Sebanyak 70% peserta didik berada pada kategori sedang dan 30% pada kategori rendah, tanpa adanya peserta didik yang mencapai kategori tinggi. Secara umum, pembelajaran pada kelas kontrol memberikan peningkatan hasil belajar, namun efektivitasnya masih berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran konvensional belum mampu memberikan peningkatan yang optimal seperti pada kelas eksperimen.
Selanjutnya dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah data hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol berdistribusi normal atau tidak. Pengujian ini merupakan langkah penting sebelum dilakukan uji hipotesis, khususnya uji parametrik seperti uji t.
hasil uji normalitas, diperoleh nilai signifikansi Shapiro-Wilk pada data pretest kelas kontrol sebesar 0,123, posttest kelas kontrol sebesar 0,231, pretest kelas eksperimen sebesar 0,750, dan posttest kelas eksperimen sebesar 0,525. Seluruh nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data hasil belajar pada kedua kelompok, baik sebelum maupun sesudah perlakuan, berdistribusi normal.
Uji Independent Samples t-Test menghasilkan t hitung-8,770 dengan Sig. 0,001 (<0,05), sehingga H₀ ditolak dan H1 diterima. Terdapat perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol, dengan rata-rata 87,65 (eksperimen) lebih tinggi dibanding 69,15 (kontrol). Hal ini menunjukkan media Google Sites berbasis multikultural efektif meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Meskipun demikian, implementasi media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites memerlukan dukungan perangkat digital, akses internet yang memadai, serta kesiapan guru dalam mengoperasikan media dan mengaitkan nilai-nilai kearifan lokal 3S dengan konteks keberagaman peserta didik. Dengan dukungan sarana yang memadai dan penyesuaian materi sesuai karakteristik budaya siswa, media ini berpotensi diterapkan secara efektif serta menjadi referensi bagi pendidik yang ingin mengimplementasikan pembelajaran multikultural di sekolah lain.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites efektif digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas 6 Sekolah Dasar. Media ini terbukti mampu meningkatkan sikap toleransi dan hasil belajar peserta didik, serta memperkuat pemahaman tentang keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan sikap saling menghargai perbedaan. Dengan demikian, media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites layak digunakan sebagai media pembelajaran inovatif karena efektif meningkatkan hasil belajar sekaligus menumbuhkan sikap toleransi sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik di sekolah dasar.
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa:
6.Karakteristik peserta didik menunjukkan keberagaman latar belakang budaya dengan tingkat toleransi yang masih perlu ditingkatkan, serta motivasi belajar PKn yang cenderung rendah. Di sisi lain, kesiapan penggunaan teknologi digital sudah baik, ditandai dengan akses perangkat yang memadai dan minat tinggi terhadap pembelajaran berbasis media interaktif.
7.Desain media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites berhasil dikembangkan dengan mengintegrasikan materi PKn, nilai-nilai multikultural, dan kearifan lokal Bugis-Makassar 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge). Media terdiri atas menu beranda, materi, galeri budaya, aktivitas interaktif, refleksi, evaluasi, dan umpan balik hasil belajar yang dirancang sesuai karakteristik peserta didik sekolah dasar.
8.Tingkat kelayakan (validitas) media berada pada kategori sangat tinggi. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa media, materi, serta seluruh instrumen penelitian memenuhi aspek isi, konstruksi, tampilan, bahasa, dan kesesuaian pedagogis sehingga layak digunakan dalam pembelajaran. Media memperoleh koefisien validitas Gregory sebesar 1,00 yang menunjukkan kategori validitas sangat tinggi.
9.Tingkat kepraktisan media berada pada kategori sangat praktis. Guru dan peserta didik memberikan respons positif terhadap penggunaan media karena mudah diakses, menarik, interaktif, serta membantu proses pembelajaran PKn menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
10.Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan media digital ini mengalami peningkatan yang konsisten pada setiap pertemuan.
11.Peserta didik semakin aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, baik dalam berdiskusi, bekerja sama, maupun menghargai perbedaan
12.Media digital berbasis pendekatan multikultural berbantuan Google Sites efektif meningkatkan hasil belajar dan sikap toleransi peserta didik. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan antara pretest dan posttest. Nilai rata-rata N-Gain sebesar 0,73 berada pada kategori tinggi, dengan sebagian besar peserta didik mengalami peningkatan hasil belajar pada kategori tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge) ke dalam media digital tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menumbuhkan sikap saling menghargai, bekerja sama, dan menerima keberagaman. Dengan demikian, media ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter berbasis budaya lokal. Selain itu, media ini berpotensi diadaptasi pada lingkungan sekolah multikultural di luar Tanrutedong dengan menyesuaikan kearifan lokal setempat, sehingga dapat menjadi alternatif pembelajaran Pendidikan Pancasila yang kontekstual dan inklusif.
. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru, dan siswa UPT SD Negeri 9 Tanrutedong serta UPT SD Negeri 6 Tanrutedong yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan kontribusi sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.
[1] M. S. P. Ferdian, “The Role of Technology in Learning Citizenship Education in Primary Schools,” International Journal of Students Education, vol. 1, no. 2, pp. 29–34, 2023.
[2] M. S. Mubin, “Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal: Studi Kasus Tradisi Ngaturi di Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri,” Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, vol. 4, no. 2, pp. 72–80, 2023, doi: 10.23887/jabi.v4i2.42361.
[3] S. Sari and W. S. W. Nurdiana, “Google Sites-Based Educational Web Development in Ecosystem Learning Materials for Grade V Elementary Schools in Winong District, Pati Regency,” Uniglobal Journal of Social Sciences and Humanities, vol. 3, pp. 51–57, 2024, doi: 10.53797/ujssh.v3i1.8.2024.
[4] S. Purnama, “Implementasi Pendidikan Multikultural melalui Mata Pelajaran PPKn untuk Mendukung Sikap Toleransi Siswa dalam Masyarakat Multikultur,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 6, pp. 5753–5760, 2021.
[5] D. F. Utami, P. Y. Sutikno, N. Widiarti, and A. Yuwono, “A Literature Review on the Effectiveness of Interactive Media in Elementary School Science Learning,” Indonesian Journal of Instructional Media and Model, vol. 7, no. 2, pp. 157–167, 2025.
[6] A. Rachmawati, “Innovative Digital Learning Media to Enhance Student Engagement and Learning Outcomes in Elementary Schools,” SCHOLA, vol. 3, no. 1, pp. 22–27, 2025.
[7] H. Jakaria, “Efektifitas Media Pembelajaran Berbasis Digital Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Dasar,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS), vol. 5, no. 3, pp. 2670–2680, 2025.
[8] R. R. Nugroho, “Efektivitas Media Pembelajaran Digital dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn di Sekolah Dasar,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS), vol. 5, no. 4, pp. 5245–5249, 2025.
[9] I. Utari, M. Amrullah, and V. Rezania, “The Influence of the Multicultural Learning Model on Pancasila Education Subjects on the Understanding of Students’ Tolerance Attitudes,” Sosioedukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan dan Sosial, vol. 14, no. 2, pp. 1402–1411, 2025.
[10] O. Haryono, Y. Firmansyah, and T. Repelita, “Peran PPKn sebagai Pendidikan Multikultur dalam Meningkatkan Toleransi Siswa,” Journal of Education Research, vol. 5, no. 20, pp. 2138–2144, 2024.
[11] M. Japar, Hermanto, S. Muyaroah, A. H. R. Susila, and H. Alfani, “Digital Literacy-Based Multicultural Education through Civic Education in Indonesian Junior High Schools,” Jurnal Penelitian Pendidikan Ilmu Sosial, vol. 14, no. 4, pp. 328–349, 2023.
[12] D. Nurmansyah and M. F. Muttaqin, “Implementasi Pendidikan Multikultural dalam PKn untuk Menumbuhkan Toleransi dan Nasionalisme Siswa Sekolah Dasar,” JAMP: Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan, vol. 7, pp. 37–58, 2024.
[13] L. Zakiah, Sarkadi, A. Marini, Komarudin, A. R. Casmana, and A. P. Kusmawati, “Implementation of Teaching Multicultural Values Through Civic Education for Elementary School Students,” Journal of Social Studies Education Research, vol. 14, no. 1, pp. 110–142, 2023.
[14] D. Qondias, M. D. Noge, M. L. Lodo, and V. Meo, “Penguatan Nilai-Nilai Multikultural Melalui Pembelajaran Pancasila Berbasis Media Interaktif di Sekolah Dasar,” Darma Diksani: Jurnal Pengabdian Ilmu Pendidikan, Sosial, dan Humaniora, pp. 35–47, 2025.
[15] A. C. Lalita, L. Zakiah, and D. R. Haikal, “The Effect of Multicultural Education on the Tolerant Attitudes of Elementary School Students: A Literature Study,” Pendidikan Multikultural, vol. 8, no. 1, pp. 16–21, 2024.
[16] T. Haryanto, “Pendidikan Multikultural di Indonesia sebagai Upaya Meningkatkan Toleransi dan Pemahaman Antar Budaya,” SYAIKHONA: Jurnal Magister Pendidikan Agama Islam, vol. 3, no. 1, pp. 2–6, 2025, doi: 10.59166/syaikhona.v3i1.286.
[17] P. Widiatmaka and M. Y. Hidayat, “Pendidikan Multikultural dan Pembangunan Karakter Toleransi,” JIPSINDO (Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia), vol. 9, no. 2, pp. 119–133, 2022.
[18] Z. Rizki, “Problem Pendidikan Multikultural di Indonesia,” PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, vol. 1, no. 1, pp. 1–12, 2022, doi: 10.58540/pijar.v1i1.67.
[19] S. W. Zuhroh and N. W., “Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Website Google Sites dalam Meningkatkan Hasil Belajar,” Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, vol. 2, no. 1, pp. 87–101, 2023.
[20] D. W. Widyawati, I. Sujono, and N. U. Hadi, “Pengembangan Media IPAS Berbasis Google Sites untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD,” Andragogi Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 5, no. 2, pp. 44–57, 2025.
[21] R. M. Mashudi, R. N. A. Sahra, R. A. Ridanti, and A. Marini, “Peran Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Google Site untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar dan Sosial Humaniora, vol. 2, no. 8, pp. 931–942, 2023.
[22] Juwariyah, A. N. Fatirul, and D. A. Waluyo, “Pengembangan Media Pembelajaran Google Sites dengan Model ADDIE,” Edutech: Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 24, no. 1, pp. 109–131, 2025.
[23] S. Ningsih and M. I. Farisi, “Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Web Google Sites untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Jambura Journal of Educational Management, vol. 4, no. 1, pp. 108–122, 2023.
[24] T. I. Sari, “Pembelajaran Interaktif Berbantuan Google Sites dengan Model PJBL untuk Meningkatkan Keterampilan Kolaborasi Peserta Didik,” Khazanah Pendidikan: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 17, no. 1, pp. 106–115, 2023, doi: 10.30595/jkp.v17i1.15855.
[25] I. Karimah, N. Nurhasanah, and D. A. Soleh, “Pengembangan LKPD Berbasis Pendidikan Multikultural pada Pembelajaran PPKn Kelas IV SD,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 5, pp. 59–70, 2021.
[26] A. Anggito and E. K. E. Sartono, “The Development of Multicultural Education Comics to Embed Tolerance Character for 4th Grade of Elementary School,” Jurnal Prima Edukasia, vol. 10, no. 1, pp. 66–81, 2022.
[27] H. H. Tsalisa, “Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Rasa Toleransi Beragama di Kalangan Siswa Sekolah Dasar,” MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, pp. 39–49, 2024.
[28] S. Fatonah, “Analisis Implementasi Peran Guru dalam Penanaman Nilai Karakter Toleransi pada Mata Pelajaran PKn,” Jurmia: Jurnal Riset Madrasah Ibtidaiyah, vol. 2, no. 1, pp. 181–190, 2022.
[29] L. Amilleanda, N. Nurhasanah, and E. Adnan, “Development of Multicultural-Based Quartet Card Learning Media for Civic Education Subject of Fourth-Grade Elementary School,” EduBasic Journal: Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 1, pp. 73–84, 2022.
[30] M. Adelia and R. R. Wandini, “Media Interaktif Berbasis Kearifan Lokal Tri Hita Karana Berbantuan Articulate Storyline untuk Meningkatkan Hasil Belajar PPKn Siswa,” Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 7, no. 3, pp. 528–536, 2023.
[31] N. P. A. Utami and D. B. Sanjaya, “Civic Education as a Development of Character Education for Elementary School Students,” Indonesian Journal of Instruction, vol. 6, pp. 89–97, 2025.
[32] D. A. Putri, D. M. Irianto, and Y. F. Furnamasari, “Pengembangan Media Pembelajaran Google Sites Berbasis Aplikasi pada Mata Pelajaran PPKn Materi Hak dan Kewajiban Kelas V Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 8, pp. 11381–11391, 2024.
[33] M. T. Hidayat, “Systematic Comparison of Civics Learning Models in Elementary Schools: Indonesia Versus Finland,” Journal of Teaching and Learning, vol. 20, no. 1, pp. 84–100, 2026.
[34] T. Wijayanti, “Research Implication of Character Education in Indonesia: Bibliometric Analysis and Future Agenda,” Pakistan Journal of Life and Social Sciences, vol. 22, no. 2, 2024, doi: 10.57239/pjlss-2024-22.2.001027.
[35] N. Yuliani, R. S. Dewi, and S. M. Leksono, “Developing Engaging IPAS Lessons: Google Sites Learning Media Based on Banten Culture to Boost Interest and Learning Outcomes,” Jurnal Kependidikan, vol. 11, no. 2, p. 851, 2025, doi: 10.33394/jk.v11i2.15330.
[36] M. Afandi, R. Rachmadtullah, and A. Syamsi, “The Impact of the Multi-Representational Discourse Learning Model and Student Involvement in Applying Multiculturalism Values,” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, vol. 6, no. 2, pp. 295–305, 2022, doi: 10.23887/jisd.v6i2.46225.
[37] Muhajir, Darmawati, and N. Mutmainnah, “Pengaruh Aplikasi Kahoot Berbasis Game Edukatif terhadap Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV di UPTD SDN 130 Inpres Gantarang Tompobulu Kecamatan Maros,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 9, no. 3, pp. 2477–2143, 2024.
[38] A. A. R. Muhajir, “Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation pada Murid Kelas IV SD Inpres Boronguntia Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa,” Jurnal Etika Demokrasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 3, no. 1, 2018.
[39] N. H. Nursalam, “Penerapan Model Pembelajaran Role Playing dalam Mata Pelajaran PKn untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid Kelas V SD Inpres Jatia Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa,” Jurnal Etika Demokrasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 2, no. 1, 2017.
[40] N. A. Harisanti, “Penggunaan Google Form sebagai Alat Evaluasi Pembelajaran di Sekolah Dasar,” Jurnal Teknologi Pendidikan (JTP), vol. 1, no. 1, pp. 17–22, 2026.
[41] A. R. Said, H. S. Iriansyah, and O. Huzaefah, “Pengembangan Media Pembelajaran Multimedia Interaktif Berbasis WEB Google Sites untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMPN I Teluknaga Tangerang,” Jurnal Citizenship Virtues, vol. 3, no. 2, pp. 544–558, 2023.
[42] Y. Safitri, “Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Budaya dalam Pendidikan Pancasila,” Judikdas: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia, vol. 4, no. 2, pp. 84–96, 2025.
[43] D. D. Prasetya, “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Peserta Didik dengan Pengembangan Fasilitas Belajar.id Google Sites sebagai Sumber Media Belajar Interaktif dalam Mendukung Hybrid Learning,” Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 6, pp. 817–828, 2023.
[44] N. Khoerunnisa, N. Badruzzaman, and R. A. G., “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (E-LKPD) Berbasis Liveworksheets pada Subtema Lingkungan Tempat Tinggalku,” Dwija Cendekia: Jurnal Riset Pedagogik, vol. 7, pp. 391–397, 2023.
[45] D. A. Pamungkas, Y. E. Prabowo, N. J. Widyarini, and F. Septi, “Analisis Penggunaan Wayground Papermode sebagai Media Evaluasi Interaktif pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar,” PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, vol. 5, no. 2, pp. 3952–3963, 2026.
[46] Murgiyanti, “Pengembangan Media Pembelajaran Website Berbasis Google Sites untuk Meningkatkan Kebhinekaan Global Anak Usia Dini di TK IT Almawaddah Tahun Pelajaran 2022/2023,” JUPENDIS: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 1, no. 2, pp. 79–92, 2023.
[47] S. Ismawati and D. Mustika, “Validitas Media Video Berbasis Animasi dalam Pembelajaran Tematik,” INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, vol. 1, pp. 291–297, 2021.
[48] F. Nurlaili, B. Mulyati, and E. N. Prianti, “Pengembangan Bahan Ajar Interaktif Mata Pelajaran Praktikum Akuntansi Lembaga/Instansi Pemerintah,” Jurnal Pendidikan: Riset & Konseptual, vol. 6, no. 1, pp. 25–36, 2022.
[49] N. I. P. S., Idawati, and M. Nawir, “Pengembangan Media Pembelajaran Digital Interaktif pada Mata Pelajaran IPS di Sekolah,” JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran, vol. 4, no. 1, pp. 579–593, 2024.