Nurullana A. Pala (1), Syamsuddin Syamsuddin (2), Fadillah Fadillah (3), Yunidar Yunidar (4), Nirmayanti Nirmayanti (5)
General Background Indonesia possesses diverse local cultures and traditions that require consistent preservation to maintain a robust national character. Specific Background The Mome’ati ceremony serves as a crucial life-cycle custom marking a young girl's transition to adulthood through complex verbal and nonverbal representations. Knowledge Gap Rapid modernization precipitates a shift in understanding these traditional elements among the younger generation, risking the gradual loss of profound philosophical, moral, and religious dimensions. Aims This study analyzes the semiotic elements within the ceremonial procession to ensure local heritage preservation and intergenerational comprehension. Results Utilizing a qualitative anthropological approach and semiotic frameworks by Peirce and Fiske, the findings demonstrate that the ritual's five stages contain distinct elements—such as white clothing, candles, betel nut, and ceremonial poetry—that represent purity, social responsibility, harmony, and spiritual commitment. Novelty This research uniquely categorizes the verbal prayers and nonverbal artifacts as an integrated ideological communication system that harmonizes Islamic tenets with indigenous philosophies. Implications Sustaining this heritage necessitates active transmission by families, customary institutions, and educational bodies to ensure fundamental ethical values remain relevant in contemporary society.
Highlights
Semiotic analysis reveals profound religious and moral values within traditional ceremonial transitions.
Verbal prayers and nonverbal artifacts function as an integrated ideological communication system.
Modernization necessitates active intergenerational transmission to sustain indigenous philosophies among youths.
Keywords
Semiotic Analysis; Indigenous Ceremonies; Moral Education; Intergenerational Transmission; Anthropological Linguistics
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki suku bangsa, bahasa, agama dan kebudayaan yang berfariasi. Hal tersebut, merupakan dampak dari kondisi geografis Indonesia, yang terdiri atas beberapa pulau besar dan pulau kecil. Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan lokal, hal tersebut merupakan suatu kebanggaan tersendiri dan sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia untuk mempertahankan eksistensi budaya. Dalam rangka mempertahankan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya, bangsa Indonesia harus selalu mengingat dan menjunjung tinggi nilai budaya [1].
Setiap daerah memiliki kebudayaan yang membentuk kebiasaan dan menjadi pedoman perilaku Masyarakat. Kebudayaan bersifat dinamis mengikuti perkembangan kebutuhan dan kondisi social. Menurut Koentjaraningrat dalam Warsito (2012:51), kebudyaan merupakan keseluruhan perilaku dan hasil karya manusia yang dipelajari dalam kehidupan bermasyarakat. Khususnya daerah Gorontalo juga memiliki beraneka ragam budaya daerah, misalnya tarian adat, lagu daerah, peralatan ataupun benda budaya, dan tidak terkecuali budaya dalam bentuk adat upacara adat, mulai dari upacara adat kelahiran, sunatan, pembeatan, pernikahan, kematian dan sebagainya. Ragam budaya yang terdapat di daerah Gorontalo ini telah menjadi ciri khusus sehingga ragam-ragam budaya ini menjadi khasanah kebudayaan daerah Gorontalo yang dijaga kelestariannya. Salah satu khasanah budaya Gorontalo yang sampai dengan saat ini masih dapat ditemukan adalah budaya dalam bentuk adat upacara adat [2].
Gorontalo termasuk salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai budaya adat yang cukup beragam, salah satunya adalah adat mome’ati. Adat mome’ati merupakan salah satu adat yang dilaksanakan ketika seorang perempuan sudah mendapat halangan (haid). Mome’ati adalah suatu keharusan syareat Islam yang merupakan perjanjian dengan inti pengucapan kalimay syahadat, melaksanakan rukun islam dan rukun iman secara utuh. Sebagai kewajiban kaum perempuan muslim, mulai dari timbul tanda kedewasaannya, untuk menata diri lahir dan bathin, dengan pengetahuan pembersihan diri, dan penjagaan kesucian dirinya dalam kehidupannya. Jenjang peradatan dalam peristiwa kelahiran dan keremajaan yang turun temurun diberlakukan oleh masyarakat Gorontalo. Adat Mome’ati menggunakan syair tuja’I yaitu puisi yang mengiringi berbagai upcara adat dan keagamaan [3].
Tuja’i merupakan salah satu ragam sastra lisan Gorontalo. Sastra lisan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sastra tertulis. Sebelum munculnya sastra tertulis, sastra lisan telah berperan membentuk apresiasi sastra masyarakat, sedangkan dengan adanya sastra tertulis, sastra lisan terus hidup berdampingan dengan sastra tertulis. Sastra lisan termasuk cerita lisan, merupakan warisan budaya daerah dan masih mempunyai nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Selain itu, bukan hanya tuja’i yang merupakan puisi lisan masyarakat Gorontalo, tetapi masih banyak lagi puisi lisan lainnya. Sastra lisan Gorontalo meliputi berbagai bentuk puisi dan tuturan, seperi palebohu, tinilo, mala-mala, tanggomo, dan me’raji, yang berfungsi dalam upcara adat, keagamaan, serta pewarisan nilai budaya [4]. Pada adat mome’ati, tuja’i ini dilantunkan oleh pemangku adat sebagai pengungkap rasa, penyampaian pesan, dan pengaturan tahapan upacara. Selain itu, tuja’i juga memilki makna serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu tuja’i ini perlu untuk dipertahankan kelestariannya. Tetapi kenyataannya 4 sekarang adat mome’ati yang dilaksanakan untuk seorang gadis sudah banyak yang tidak menggunakan tuja’i. Hal ini menyebabkan kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat khususnya generasi muda tentang budaya mome’ati. Semoga dengan adanya penelitian ini, budaya-budaya yang ada di daerah Gorontalo akan semakin berkembang dan tidak dilupakan oleh generasi muda. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini difokuskan pada masalah makna simbol yang terdapat dalam adat mome’ati, baik simbol verbal maupun simbol non verbal. Upacara adat mome'ati atau pembeatan adalah ritual penting dalam masyarakat Gorontalo yang menandai transisi seorang gadis menjadi perempuan dewasa. Sebagai ritual daur hidup, upacara ini kaya akan berbagai tanda dan simbol, baik verbal maupun nonverbal, yang mengandung makna filosofis dan religius yang mendalam. Namun, seiring dengan modernisasi, pemahaman masyarakat Gorontalo, khususnya generasi muda, terhadap makna-makna simbolis ini berpotensi mengalami pergeseran atau bahkan pelupaan [5].
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam tanda dan simbol yang muncul dalam upacara mome'ati menggunakan pendekatan semiotika untuk mengungkap makna-makna di baliknya, sehingga dapat berkontribusi pada pelestarian budaya dan pemahaman identitas lokal. Masyarakat Gorontalo mempertahankan adat sebagai pedoman hidup berdasarkan prinsip adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah. Salah satu tradisinya ialah upacara Mome’ati, yang menandai kedewasaan anak perempuan sebagai ungkapan Syukur sekaligus symbol peralihan menuju masa dewasa [6]. Upcara ini juga mengandung nilai spiritual, social, moral, dan budaya yang diwariskan kepada generasi muda. Pelaksanaan mome’ati biasanya diiringi dengan serangkaian prosesi adat yang sakral dan penuh nilai-nilai simbolis. Misalnya, penggunaan busana adat tertentu, warna-warna yang khas (seperti kuning, merah, dan hijau), serta benda-benda simbolik seperti binthe biluhuta (makanan khas Gorontalo), sirih pinang, lilin, dan air bunga. Setiap simbol ini tidak dihadirkan secara kebetulan, melainkan mencerminkan pandangan hidup masyarakat Gorontalo tentang kesucian, kebersihan, kematangan, dan tanggung jawab seorang perempuan dalam kehidupan sosial dan religius [7].
Menurut perspektif antropologi budaya, simbol-simbol dalam upacara mome’ati dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi budaya yang menyampaikan nilai, norma, serta harapan kolektif masyarakat terhadap individu yang menjalani ritus tersebut. Melalui simbol-simbol ini, masyarakat Gorontalo menanamkan pesan moral dan spiritual agar generasi muda memahami makna kedewasaan bukan hanya dari segi fisik, tetapi juga dari segi etika, perilaku, dan tanggung jawab social [8]. Namun, modernisasi menyebabkan makna upacara Mome’ati mulai bergeser sehingga symbol-simbol adat kurang dipahami oleh generasi muda. Padahal, symbol tersebut penting sebagai media pelestarian identitas budaya dan pewarisan nilai luhur. Kajian mengenai makna simbol dalam upacara adat pembeatan (mome’ati) pada masyarakat Kota Gorontalo menjadi sangat relevan dan penting dilakukan. Penelitian atau pembahasan ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan warisan budaya daerah, tetapi juga untuk menggali kembali nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang terkandung dalam simbol-simbol tersebut. Dengan memahami makna setiap simbol, masyarakat dapat memperkuat jati diri budaya Gorontalo serta menjaga kesinambungan tradisi lokal di tengah perubahan zaman [9].
Berdasarkan realita tersebut peneliti tertarik untuk mengambil judul Makna Simbol dalam Upacara Adat Pembeatan atau mome’ati pada masyarakat Kota Gorontalo agar masyarakat mengetahui makna simbol apa saja yang terkandung dalam prosesi adat Pembeatan atau mome’ati. Selain itu, peneliti juga ingin memperkenalkan budaya adat Gorontalo kepada masyarakat umum. Penelitian ini sangat bermanfaat sebagai literatur pada masyarakat sebagai pengetahuan di masa depan [10].
Penelitian yang Relevan dalam penelitian ilmiah, kajian terhadap penelitian yang relevan sangat penting dilakukan sebagai landasan untuk memahami sejauh mana topik yang dibahas telah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Kajian ini juga bertujuan untuk melihat perbedaan, kesamaan, serta posisi penelitian baru terhadap penelitian terdahulu [11]. Adapun beberapa penelitian dan kajian yang relevan dengan topik makna simbol dalam upacara adat pembeatan (mome’ati) pada masyarakat Gorontalo dapat diuraikan sebagai berikut.
1.Buato, Zubaeda (2015) Makna Simbol dalam Prosesi Adat Mome’ati Masyarakat Gorontalo Penelitian ini membahas simbol verbal dan nonverbal dalam prosesi Mome’ati, seperti penggunaan perlengkapan adat dan tuturan tuja’i. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan Mome’ati mengandung makna religius, sosial, dan pendidikan moral bagi anak perempuan yang memasuki fase kedewasaan. Penelitian ini relevan karena menjadi rujukan utama dalam memahami simbol adat Mome’ati secara structural [12].
2.Halid, Elan & Novianti, Hasmi (2017) Tahap Awal Menjelang Pelaksanaan Prosesi Mome’ati Masyarakat Gorontalo Penelitian ini menitikberatkan pada tahapan persiapan upacara Mome’ati dan peran keluarga serta tokoh adat. Relevansi penelitian ini terletak pada penjelasan konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi munculnya simbol-simbol dalam upacara adat [13].
3.Arifin (2018) Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Mome’ati Suku Gorontalo penelitian ini menekankan bahwa simbol-simbol dalam Mome’ati tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan mengandung nilai pendidikan akhlak, kesucian diri, dan tanggung jawab moral. Penelitian ini relevan karena memperkuat aspek religius dari makna simbol Mome’ati [14].
4.Mokoginta (2022) Perspektif Islam terhadap Tradisi Lokal dalam Upacara Be’ati di Gorontalo Penelitian ini mengkaji hubungan antara adat dan Islam dalam pelaksanaan Be’ati/Mome’ati. Relevansinya terletak pada pemaknaan simbol adat sebagai media internalisasi nilai-nilai keislaman dalam budaya lokal Gorontalo.
5.Bahtiar, Aini, Talani & Thomas (2025) Makna Mome’ati dalam Perspektif Generasi Z Penelitian ini mengkaji pergeseran pemahaman simbol Mome’ati di kalangan generasi muda. Penelitian ini relevan karena menunjukkan tantangan pelestarian makna simbol adat di tengah modernisasi, khususnya di wilayah perkotaan seperti Kota Gorontalo [15].
6.Kau et al. (2025) Gorontalo Women’s Be’ati (Bai’at): Perspektif Sejarah, Budaya, dan Hukum Islam Penelitian ini menelaah simbolisme Be’ati dari perspektif multidisipliner. Relevansinya terletak pada penguatan analisis makna simbol Pembeatan sebagai bagian dari sistem adat Gorontalo yang berbasis syariat Islam.
A.Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif antropologi budaya untuk mengkaji makna simbolik upcara adat Pembeatan atau Mome’ati.
B.Desain Penelitian
Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk menggambarkan fenomena budaya secara alami [16].
C.Subjek Penelitian
Penelitian ini mengambil subjek dari masyarakat Kota Gorontalo yang masih melaksanakan dan mempertahankan tradisi upacara adat Mome’ati (pembeatan). Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling, yaitu teknik penentuan informan berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai dengan kebutuhan dan relevansi penelitian [17].
1.Jenis Data
a.Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari informan yang terlibat dalam upacara Mome’ati melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi
b.Data Sekunder
Data sekunder berasal dari berbagai sumber tertulis, seperti buku, jurnal, skripsi, tesis, arsip adat, serta artikel dan laporan yang relevan mengenai tradisi Mome’ati.
c.Keterkaitan Antara Jenis Data Kedua jenis data tersebut saling melengkapi.
1)Data primer memberikan gambaran empiris dan faktual dari pelaksanaan upacara.
2)Data sekunder memberikan konteks teoretis dan konseptual yang membantu menafsirkan makna simbol secara ilmiah.
2.Sumber Data
Sumber data penelitian meliputi informan, dokumen, dan dokumentasi yang dipilih secara purposive untuk mengkaji makna symbol upacara Mome’ati [16][17].
D.Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data disesuaikan dengan pendekatan kualitatif deskriptif etnografi untuk memahami makna simbolik dalam upacara adat Mome’ati. Teknik yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
E.Teknik Analisis Data
Analisis data meliputi reduksi, penyajian, serta penarikan, dan verifikasi kesimpulan. Data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi diseleksi, disajikan secara desktiptif, kemudian ditafsirkan untuk mengungkap makna symbol, nilai budaya, dan fungsi social upacara Mome’ati [18].
A.Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh peneliti dalam hasil wawancara langsung narasumber mengenai “Makna Symbol Dalam Upcara Adat Pembeatan Atau Mome’ati Pada Masyarakat Kota Gorontalo” yang dilaksanakan di Kota Gorontalo. Terdapat prosesi, makna simbol verbal dan nonverbal dalam setiap tahapan-tahapannya. Adapun data pendukung yang diperoleh peneliti dari ketua-ketua adat yang berada di Kota Gotontalo. Upacara adat Mome’ati diartikan sebagai upacara ritual adat masyarakat Gorontalo yang menandai peralihan tahap kehidupan anak, khususnya anak perempuan, dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan awal, yang dilaksanakan berdasarkan nilai adat dan ajaran Islam. Mome’ati merupakan upacara adat yang berfungsi sebagai sarana pengenalan, penanaman, dan pewarisan nilai moral, sosial, dan religius kepada anak. Melalui upacara ini, anak dipandang telah mulai memahami tanggung jawab, norma kesopanan, serta kewajiban hidup bermasyarakat sesuai falsafah hidup masyarakat Gorontalo, yaitu: “Adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to Qur’ani”(Adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Al-Qur’an). Dalam perspektif antropologi simbolik, upacara adat Mome’ati dapat diartikan sebagai ritus peralihan (rite of passage) yang mengandung simbol-simbol budaya untuk membentuk identitas dan karakter anak. Sementara dalam perspektif semiotika, Mome’ati dipahami sebagai sistem tanda dan simbol yang menyampaikan makna tentang kesucian, tanggung jawab, dan kedewasaan dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.
1.Prosesi upacara adat Mome’ati
Pada prosesi upacara adat Pembeatan atau Mome’ati terdapat 6 tahapan yaitu:
a.Molungudu (Mandi Uap)
b.Momonto (Pemberian Tanda Suci)
c.Mopohuta'a to Pinggi (Menginjak Piring)
d.Mome'ati (Ikrar Perjanjian)
e.Mohatamu (Khatam Qur'an)
2.Simbol Verbal
Simbol verbal adalah simbol yang menggunakan kata-kata atau bahasa lisan dan tulisan untuk menyampaikan pesan, ide, atau informasi. Dalam prosesi adat Mome’ati terdapat bentuk kalimat dalam tahapan prosesinya sebagai berikut:
a.Molungudu (Mandi Uap) Anak gadis dimandikan uap dengan ramuan tradisional.
"De'uwito wulito, me-wulito to hungo lo lipu"
Membersihkan diri agar harum namanya di kampung.
b.Momonto (Pemberian Tanda Suci) Pemberian tanda putih di dahi (dari tepung beras/kampur) oleh tetua Perempuan
"Bula-bulahu dila o toliyo, mome-monto ta o suci"
Putih bersih tanpa cela, menandai kesucian jiwa dan raga.
c.Mopahuta’a to pinggi (Menginjak Piring) Menginjak piring hingga pecah, melambangkan keberanian dan lepasnya masa kanak-kanak.
"Mopohuta'a to pingge, modaha u o-daha, mome-ati to hilawo"
Menginjak piring , menahan hawa nafsu, mengikuti diri pada kebijakan.
d.Mome'ati (Ikrar Perjanjian) Pembacaan janji (syahadat) di hadapan Imam dan anak.
1.Imam: "Wali-waliya mola'o u wule-wulelo lo Allah SWT"
Wajib menjaga perintah Allah SWT
2.Anak: "Bismillah, hilawo-u mome-ati, mopohutu u banari, mome-tola mola u mopala'o"
Dengan nama Allah, hatiku berikrar, berbuat benar, meninggalkan yang dilarang.
e.Mohatamu (Khatam Qur'an) Pembacaan ayat suci terakhir, melambangkan bekal ilmu agama.
"Dula-dulahu lo lo-mola, mome-ati lo to-tola"
Menjunjung tinggi ajaran, berikrar dalam keteguhan.
3.Simbol Nonverbal
Simbol nonverbal adalah segala bentuk komunikasi tanpa kata-kata yang menyampaikan makna, perasaan atau sikap.Ia sangat penting dalam penjelasan, memperkuat atau bahkan mengangtikan pesan verbal, dan sering kali lebih kuat dalam menyampainkan pesan. Dalam simbol nonverbal peneliti menemukan 10 simbol yang digunakan dalam prosesi upacara adat Pembeatan atau Mome’ati yaitu:
a.Air bunga (tohutu lo hulawa)
b.Sirih Pinang (Bite Limo)
c.Lilin (Lilin)
d.Warna Putih (Puti)
e.Warna Pink dan Peach (Ping dan puti momekuni)
f.Nasihat adat (Pitudu lo adati)
g.Alas duduk (Tilam)
h.Daun Sirih (Daun Bite)
i.Doi Logam (Koyini)
j.Telur Ayam Mentah (Taluhu manu moputi)
B.Pembahasan
Upacara adat mome’ati (pembeatan) pada masyarakat Gorontalo merupakan representasi sistem nilai budaya yang diwujudkan melalui berbagai simbol ritual. Simbol-simbol tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap upacara, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang mengandung makna filosofis, moral, dan sosial. Dalam perspektif semiotika, setiap simbol dalam mome’ati dapat dianalisis menggunakan model triadik Charles Sanders Peirce, yaitu representamen, objek, dan interpretant. Representamen merujuk pada bentuk fisik simbol seperti warna, lilin, telur, sirih pinang (bite limo), koin (koyini), dan tilam. Objek adalah makna yang dirujuk oleh simbol tersebut, seperti kesucian, harapan, transformasi, dan kesejahteraan. Sementara itu, interpretant merupakan pemahaman masyarakat terhadap simbol sebagai nilai-nilai kehidupan yang harus dijalankan [19].
1.Prosesi Upacara Adat Pembeatan atau Mome’ati
a.Mome’ati (Ikrar Syahadat)
Gambar 1 Ikrar Syahadat
Warna putih (puti) sebagai salah satu simbol utama merepresentasikan kesucian dan kebersihan diri, yang menunjukkan bahwa individu yang menjalani prosesi berada dalam tahap penyucian sebelum memasuki fase kehidupan baru.
b.Baju Biliu (Warna pink dan peach)
Gambar 2 Warna Pink dan Peach
Baju Biliu (Warna pink dan peach) melengkapi makna tersebut dengan menghadirkan nilai kelembutan, kasih sayang, dan keseimbangan emosional, yang mencerminkan harapan terhadap pembentukan karakter yang halus dan matang.
c. Tuja’i (Lilin)
Gambar 3 Lilin
Lilin sebagai simbol penerangan memiliki makna sebagai petunjuk hidup dan kesadaran diri. Nyala api lilin tidak hanya berfungsi secara fisik sebagai sumber cahaya, tetapi juga secara simbolik sebagai representasi arah kehidupan yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
d.Molungundu (Mandi Uap)
Gambar 4 Telur Ayam Mentah
Telur ayam mentah (taluhu manu moputi) yang dipecahkan dalam prosesi mome’ati melambangkan kelahiran kembali atau transformasi individu. Telur sebagai simbol kehidupan menunjukkan bahwa individu sedang mengalami perubahan status sosial, dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Proses pemecahan telur mempertegas adanya fase transisi yang harus dilalui.
e.Mopohuta’a To Pinggi (Menginjak Piring)
Gambar 5 Menginjak Piring
Sirih pinang (bite limo) merupakan simbol penghormatan dan penerimaan sosial. Kehadirannya dalam upacara menunjukkan pentingnya hubungan sosial yang harmonis serta nilai kesopanan dalam kehidupan bermasyarakat.
f.Koyini (koin)
Gambar 6 Koin
Koyini (koin) yang diinjak melambangkan harapan akan kesejahteraan serta kesiapan individu dalam menghadapi tantangan ekonomi dan kehidupan nyata.
g. Tilam (Alas Duduk)
Gambar 7 Alas duduk
Tilam (alas duduk) juga memiliki makna simbolik sebagai bentuk kestabilan dan kesiapan. Posisi duduk di atas tilam menunjukkan bahwa individu telah ditempatkan dalam posisi yang layak dalam struktur sosial masyarakat.
Analisis menggunakan pendekatan semiotika John Fiske, makna simbol dalam mome’ati dapat dilihat melalui tiga level. Pada level realitas, simbol hadir sebagai objek fisik dalam ritual. Pada tingkat representasi, simbol Mome’ati bermakna sebagai tanda, sedangkan pada tingkat ideologi merefleksikan nilai kesucian, tanggung jawab, kesopanan, dan keharmonisan social. Symbol tersebut menjadi media pewarisan budaya dan pembentukan identitas Masyarakat Gorontalo. Pada level ideologi, simbol-simbol dalam upacara adat Mome’ati tidak hanya merepresentasikan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi legitimasi pandangan hidup masyarakat Gorontalo yang berlandaskan falsafah "Adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to Qur’ani". Simbol-simbol tersebut menunjukkan bahwa adat bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan mekanisme sosial yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai nilai religius, moral, dan sosial. Dengan demikian, Mome’ati berperan sebagai media identitas budaya Gorontalo. Pada tingkat ideologi, symbol-simbolnya merepresentasikan nilai local yang menjaga keberlangsungan tradisi di tengah modernisasi.
2.Simbol Verbal Dalam Prosesi Upacara Adat Pembeatan atau Mome’ati
Simbol verbal dalam prosesi upacara adat pembeatan atau mome’ati pada masyarakat Kota Gorontalo merupakan unsur penting yang berfungsi sebagai media penyampaian makna, nilai, dan norma budaya secara lisan. Simbol ini hadir dalam bentuk doa, ungkapan adat, nasihat, serta tuturan seremonial yang diucapkan oleh pemangku adat, tokoh agama, maupun anggota keluarga selama berlangsungnya prosesi. Bahasa yang digunakan formal dan simbolis, dengan makna yang dipahami secara kultural serta spiritual.
a.Doa dan Permohonan (Du’a)
Doa adat dalam prosesi Mome’ati berisi permohonan keselamatan dan kebaikan bagi anak, sekaligus melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan serta penyerahan diri secara spiritual. Doa-doa adat yang diucapkan selama prosesi:
“Ya Allah, moponuwa to lio, mopoduduto to batanga.”
(Ya Allah, kuatkan hati dan teguhkan diri)
Doa ini melambangkan keteguhan iman dan menunjukkan eratnya hubungan adat dengan nilai religious Masyarakat Gorontalo.
b.Petuah atau Nasihat Adat (Pitua)
Nasihat ini biasanya disampaikan oleh orang tua, tetua adat, atau tokoh masyarakat kepada anak yang diupacarakan. Isi nasihat mencakup nilai-nilai moral, etika, serta tuntunan hidup yang harus dipegang teguh oleh anak dalam menjalani kehidupannya. Bahasa yang digunakan sering kali berbentuk kiasan atau perumpamaan yang mengandung makna mendalam, sehingga mengajarkan anak untuk berpikir bijaksana dan memahami nilai kehidupan secara lebih luas. Nasihat ini juga mencerminkan fungsi pendidikan dalam upacara adat, di mana tradisi menjadi sarana untuk mentransmisikan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Salah satu bentuk simbol verbal yang sering muncul adalah nasihat adat (petuah) yang disampaikan oleh pemangku adat atau orang tua. Misalnya:
“Mo’otoduwo lo lipu, mo’otoduwo lo agama.”
(Jagalah negeri, jagalah agama)
Ungkapan ini mengandung makna bahwa individu yang menjalani prosesi diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial (masyarakat) dan kehidupan spiritual (agama). Ini menunjukkan bahwa kedewasaan tidak hanya diukur dari usia, tetapi juga dari tanggung jawab terhadap lingkungan dan keyakinan.
c.Ungkapan Adat (Tinepo atau Tanggomo)
Ungkapan ini memiliki struktur bahasa khas dan sering kali bersifat puitis serta metaforis. Fungsinya adalah untuk menandai setiap tahapan dalam prosesi upacara, memberikan legitimasi adat, serta memperkuat nuansa sakral dalam pelaksanaan ritual. Ungkapan adat ini juga menjadi simbol keterikatan masyarakat dengan leluhur mereka, karena diwariskan secara turun-temurun dan tetap dipertahankan hingga saat ini. ungkapan simbolik dalam bentuk peribahasa juga digunakan, seperti:
“Adati hula-hula’a to syara’, syara’ hula-hula’a to Qur’ani.”
(Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Al-Qur’an)
Ungkapan ini merupakan prinsip dasar dalam kehidupan masyarakat Gorontalo yang menegaskan bahwa adat dan agama tidak dapat dipisahkan. Dalam prosesi Mome’ati, ungkapan ini menjadi landasan normatif dalam setiap tahapan ritual.
d.Dialog atau Tuturan Seremonial
Dialog ini biasanya berupa pernyataan persetujuan, penyampaian maksud pelaksanaan upacara, serta respon dari pihak keluarga sebagai bentuk penerimaan terhadap proses adat yang dilakukan. Melalui dialog ini, tercermin adanya hubungan sosial yang harmonis, penghormatan terhadap struktur adat, serta pengakuan bersama terhadap nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dialog ini juga memperlihatkan bahwa upacara adat bukan hanya kegiatan individual, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan banyak pihak.Symbol verbal dalam Mome’ati berperan sebagai media pewarisan budaya, penguat identitas, sarana spiritual, dan legitimasi adat. Fungsinya tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penjaga nilai budaya dan pembentuk karakter Masyarakat Gorontalo.
3.Simbol Nonverbal Dalam Prosesi Upacara Adat Pembeatan atau Mome’ati
Berdasarkan hasil penelitian pada upacaran adat pembeatan atau Mome’ati peneliti menemukan ada 10 simbol yaitu:
a.Pinang dibelah (Pinang motita’a)
Gambar 8 Pinang dibelah
Pinang yang dibelah melambangkan:
1)Keterbukaan dan kejujuran
Pinang yang dibelah memperlihatkan bagian dalamnya, sehingga dimaknai sebagai sikap terbuka, jujur, dan tidak menyembunyikan sesuatu.
2)Kesepakatan dan persatuan
Dalam tradisi Nusantara, pembelahan pinang melambangkan hubungan social dan kesiapan memasuki fase kehidupan baru.
3)Peralihan menuju kedewasaan
Dalam Mome’ati, symbol ini melambangkan peralihan menuju kedewasaan social dan moral.
4)Kesucian niat
Pinang yang bersih di dalamnya melambangkan hati yang bersih serta niat yang tulus dalam menjalani kehidupan ke depan.
b.Khatam Al-Qur’an (Mohotamu)
Gambar 9 Doa dan Nasihat Adat
Doa yang dipanjatkan melambangkan penyerahan diri kepada Tuhan setelah anak menyelesaikan kewajiban membaca Al-Qur’an. Ini bukan sekadar ritual, tetapi simbol bahwa ilmu agama harus diiringi dengan permohonan keberkahan. Nasihat adat yang disampaikan oleh tokoh adat atau orang tua mengandung pesan moral dan etika. Ini menjadi simbol transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan spiritual [20].
c.Daun Sirih (Dila)
Gambar 10 Daun Sirih
1)Kesucian diri
Daun sirih melambangkan kebersihan lahir dan batin. Dalam konteks Khatam Al-Qur’an (Mohotamu), ini menunjukkan bahwa anak yang telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an diharapkan memiliki hati yang bersih dan perilaku yang baik.
2)Penghormatan (adat penerimaan)
Dalam tradisi Mome’ati sirih melambangkan penghormatan dan penerimaan anak secara adat sebagai pribadi yang telah memiliki bekal ilmu agama.
3)Keutuhan dan kebersamaan
Daun sirih biasanya disusun bersama bahan lain (seperti pinang dan kapur), yang melambangkan kesatuan. Ini menggambarkan hubungan harmonis antara:
a)manusia dengan Tuhan
b)manusia dengan sesama
c)manusia dengan adat
4)Pengikat nilai adat dan agama
Daun sirih menjadi symbol keselarasan adat Gorontalo dengan nilai-nilai Islam.
Modernisasi dan budaya digital memengaruhi pemaknaan symbol Mome’ati di kalangan generasi Z, sehingga symbol-simbol adat berpotensi mengalami pergeseran makna. Simbol-simbol tersebut tidak lagi hanya dipahami sebagai media penyampaian nilai filosofis, tetapi pada sebagian kalangan juga dipandang sebagai bagian dari identitas budaya dan pelengkap prosesi adat. Pergeseran cara memaknai simbol ini merupakan salah satu dampak modernisasi yang memengaruhi proses pewarisan nilai budaya kepada generasi muda.
Meskipun demikian, berdasarkan hasil penelitian ini, para tokoh adat menegaskan bahwa setiap simbol yang digunakan dalam upacara Mome'ati tetap memiliki makna filosofis yang kuat sebagai representasi nilai kesucian, tanggung jawab, penghormatan, religiusitas, serta hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan adat istiadat. Oleh karena itu, perubahan cara pandang Generasi Z tidak serta-merta menghilangkan makna simbol tersebut, melainkan menjadi tantangan bagi masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, dan pemangku adat untuk terus mentransmisikan nilai-nilai budaya melalui berbagai media yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, makna simbol dalam upacara adat Mome'ati akan tetap terpelihara apabila proses pewarisan budaya dilakukan secara berkelanjutan tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang menjadi landasan adat Gorontalo.
Tabel 1 Klasifikasi Doa dan Tuturan Adat dalam Bentuk Verbal pada
Adat Pembeatan atau Mome’ati Masyarakat Gorontalo
Tabel 2 Klasifikasi Doa dan Tuturan Adat dalam Bentuk Nonverbal
pada Adat Pembeatan atau Mome’ati Masyarakat Gorontalo
Berdasarkan hasil penelitian mengenai makna simbol dalam upacara adat pembeatan (mome’ati) pada masyarakat Gorontalo, dapat disimpulkan bahwa upacara ini merupakan bentuk praktik budaya yang sarat makna simbolik dan memiliki fungsi sosial, kultural, serta religius yang kuat. Mome’ati tidak hanya menjadi ritual peralihan menuju kedewasaan, tetapi juga media pewarisan nilai budaya. Berdasarkan semiotika Charles Sanders Peirce, symbol-simbol seperti sirih, pinang, telur, lilin, koin, tilam, dan busana adat meruapakan tanda yang merepresentasikan nilai kehormatan, persatuan, religiusitas, kesopanan, tanggung jawab, harapan, dan kesiapan memasuki kehidupan dewasa. Teori John Fiske menegaskan bahwa symbol-simbol tersebut membentuk system komunikasi budaya yang menyampaikan pesan moral, norma social, dan nilai kehiudpan Masyarakat Gorontalo. Makna symbol dibangun melalui kesepakatan budaya, sementara beberapa symbol memiliki hubungan langsung dengan realitas, seperti telur yang melambangkan kehidupan dan lilin sebagai petunjuk. Dengan demikian, Mome’ati tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya dan pembentukan karakter.
Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberlangsungan makna simbolik dalam upacara mome’ati memerlukan upaya pelestarian yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pewarisan nilai-nilai budaya perlu diperkuat melalui peran keluarga, lembaga adat, dan satuan pendidikan dengan mengintegrasikan pemahaman mengenai filosofi mome’ati dalam kegiatan budaya maupun pembelajaran berbasis kearifan lokal. Selain itu, dokumentasi dan diseminasi makna simbol-simbol mome’ati melalui media digital dapat menjadi langkah strategis agar generasi muda tidak hanya mengenal prosesi upacara, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, eksistensi mome’ati sebagai warisan budaya Gorontalo dapat tetap terjaga dan relevan di tengah perkembangan masyarakat modern.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya para tokoh adat, informan, serta masyarakat Kota Gorontalo yang telah bersedia berbagi informasi dan pengalaman terkait adat Pembeatan atau Mome’ati. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian budaya daerah.
REFERENSI
[1] A. Sobur, Semiotika Komunikasi. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2013.
[2] Bilhikma, “Simbol dan makna dalam tradisi lokal Gorontalo,” 2020. [Online]. Available: https://stidalhadid.ac.id. [Accessed: Jun. 23, 2026].
[3] B. Bungin, Penelitian Kualitatif. Jakarta, Indonesia: Kencana, 2015.
[4] A. Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2015.
[5] C. S. Peirce, Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Cambridge, MA, USA: Harvard University Press, 1931–1958.
[6] J. Fiske, Television Culture. London, U.K.: Routledge, 2011.
[7] C. Geertz, The Interpretation of Cultures. New York, NY, USA: Basic Books, 1973.
[8] L. M. Given, The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods. California, USA: Sage Publications, 2018.
[9] D. Iswatiningsih and Fauzan, “Makna simbol dalam budaya lokal,” Jurnal Kajian Budaya, vol. 5, no. 2, pp. 120–135, 2021.
[10] J. Fiske, Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2016.
[11] S. Mokoginta, “Perspektif Islam tentang tradisi lokal dalam proses pelaksanaan upacara Be’ati di Gorontalo,” Jurnal PAI, vol. 1, no. 2, 2022.
[12] Z. Buato, “Makna simbol dalam prosesi adat Mome’ati masyarakat Gorontalo,” Skripsi, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo, Indonesia, 2015.
[13] E. Halid and H. Novianti, “Tahap awal menjelang pelaksanaan prosesi Mome’ati masyarakat Gorontalo,” Jurnal Puitika, vol. 13, no. 2, 2017.
[14] Arifin, “Nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Mome’ati Suku Gorontalo di Desa Pusungi, Kabupaten Tojo Una-Una,” Skripsi/Tesis, UIN Datokarama Palu, Palu, Indonesia, 2018.
[15] K. A. Bahtiar, “Makna Mome’ati dalam perspektif Generasi Z,” Skripsi, Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo, Indonesia, 2025.
[16] Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2019.
[17] L. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2019.
[18] M. B. Miles and A. M. Huberman, Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook, 2nd ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 1994.
[19] C. S. Peirce, Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Cambridge, MA, USA: Harvard University Press, 1931.
[20] A. Sobur, Semiotika Komunikasi. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2018.