Nana Liesdiana (1), Mohammad Syaifuddin (2), Joko Widodo (3)
General Background: Artificial intelligence has transformed how children access, process, and validate information, including religious knowledge obtained through digital platforms. Specific Background: Primary school students increasingly encounter AI-generated religious information, creating risks of superficial spiritual understanding, weakened theological authority, and unverified religious interpretation. Knowledge Gap: Previous studies have discussed artificial intelligence, digital literacy, religious literacy, and Cross-Cultural Religious Literacy separately, while integrated conceptual work connecting these domains in primary education remains limited. Aims: This study aimed to analyze the transformation of religious literacy in primary education through a cross-disciplinary approach and examine the role of Cross-Cultural Religious Literacy in the artificial intelligence era. Results: Using a qualitative conceptual library research method with content analysis, the study found that religious literacy should not be taught in isolation. Integrating religious education, science, digital literacy, digital ethics, and Cross-Cultural Religious Literacy can strengthen students’ critical thinking in evaluating AI-generated religious information. The study also found that Cross-Cultural Religious Literacy supports inclusive, tolerant, spiritually resilient, and responsible digital character formation. Novelty: This study proposes a cross-disciplinary religious literacy transformation model that integrates religious education, artificial intelligence ethics, digital literacy, and Cross-Cultural Religious Literacy in primary education. Implications: The model provides a foundation for forming students as responsible digital peace agents from an early age.
Highlights:
Keywords: Artificial Intelligence, Primary Education, Cross-Disciplinary Religious Literacy, Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL).
Disrupsi besar seiring berkembang pesatnya Artificial intelligence (AI) telah melanda dunia pendidikan saat ini. Cara manusia mengakses, memproses, dan memvalidasi informasi telah dipengaruhi oleh kehadiran teknologi seperti large language models, agen otonom, hingga algoritma pencarian cerdas. Transformasi ini telah merambah ke ranah pendidikan nilai dan spiritualitas, termasuk Pendidikan Agama Islam dan pendidikan agama lainnya. Tidak hanya menyentuh disiplin ilmu sains dan teknologi. Maka perlu penyikapan yang bijaksana karena di era algoritma ini otoritas kegamaan tradisional mulai bergeser ke ruang digital. Jika tidak disikapi dengan bijak, dapat memicu krisis literasi keagamaan atau pendangkalan pemahaman spiritual [1].
Masa kanak-kanak merupakan fase krusial dalam pembentukan karakter, moral, dan fondasi keimanan. Tantangan terbesar muncul pada jenjang pendidikan dasar. Anak-anak usia sekolah dasar sudah terpapar asisten virtual yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis yang kompleks secara instan di era AI. reorientasi dari sekadar pola menghafal ajaran agama secara konvensional menuju pengembangan nalar kritis-religius sangat dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Diperlukan pendekatan lintas disipliner yang mengintegrasikan pemahaman agama dengan litersi digital, sains, sosial, dan etika teknologi. Literasi keagamaan tidak bisa diajarkan secara terisolasi [2]
AI dan internet menghubungkan anak-anak dengan berbagai pandangan dunia yang sangat majemuk. Pendidikan dasar di era digital juga membutuhkan penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Tanpa bekal LKLB yang kuat sejak dini, keterhubungan digital yang tinggi tersebut justru berisiko menimbulkan polarisasi dan rentan terhadap konflik sosial [2]. Mengintegrasikan literasi kegamaan multikultural ke dalam kurikulum lintas disiplin di sekolah dasar menjadi sebuah urgensi guna membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga inklusif, toleran dan kokoh secara spiritual [3].
Di tingkat pendidikan dasar, anak-anak belum membutuhkan teori sosiologi yang rumit. Mereka membutuhkan contoh nyata yang dekat dengan keseharian mereka. Kasus nyata dalam keseharian siswa. Anak sekolah dasar zaman sekarang adalah pengguna aktif media sosial (seperti TikTok, Youtube Shorts, atau game online seperti Roblox). Jika tanpa bekal LKLB maka seorang anak Muslim ketika melihat video di TikTok tentang perayaan hari keagamaan umat Hindu Bali, karena tidak paham, anak tersebut menulis atau menyerap komentar negatif/ejekan yang menganggap ritual tersebut aneh atau salah. Berbeda jika ada bentuk penguatan LKLB. Siswa diajarkan cara memfilter informasi AI/internet dengan sikap sopan (digital citizenship) saat berinteraksi dengan orang yang berbeda keyakinan. Guru menggunakan video viral tersebut di kelas. Guru menjelaskan dari sudut pandang sosial dan budaya mengapa tradisi itu dilakukan, sekaligus mengajarkan nilai universal dalam agama Islam (misalnya prinsip lakum dinukum waliyadin atau menghargai tetangga). [2].
Adapun integrasi lintas disipliner yaitu kolaborasi antara agama, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), dan literasi digital. Disini LKLB diajarkan secara lintas disipliner menggunakan teknologi AI. Dalam praktik pembelajaran, guru meminta siswa menggunakan AI image generator (seperti Bing Image Creator atau Canva AI) dalam pelajaran IPAS dengan tema Rumah Ibadah dan Budaya di Indonesia [1].
Proses LKLB yang dapat diterapkan adalah siswa diminta memasukkan perintah teks (prompt) seperti: ‘Gambar kartun anak-anak di Indonesia memakai baju adat, berdiri di depan Masjid, Gereja, dan Pura sambal tersenyum bersama’ . Melalui aktivitas ini, output nilai yang bisa diambil adalah siswa belajar menyusun teknologi (AI) untuk mempromosikan perdamaian [2].
Guru kemudian menjelaskan sejarah budaya di balik arsitektur bangunan tersebut, sehingga siswa paham bahwa perbedaan keyakianan adalah kekayaan bangsa yang harus dihormati, bukan ditakuti. Melalui visualisasi tersebut, siswa tidak hanya belajar mengenal teknologi, tetapi juga diajak memahami latar belakang budaya dan toleransi sejak dini, sehingga mencegah mereka terpapar konten radikal atau perundungan (bullying) berbasis SARA di ruang digital [2].
Anak-anak sering menggunaka chatbot AI untuk mengerjakan tugas atau sekadar iseng bertanya. Misalnya, seorang anak SD iseng bertanya kepada AI; “Kenapa cara berdoa umat Kristen dan umat Buddha berbeda dengan Islam?” AI akan memberikan jawabanyang sangat akademis, yang kadang sulit dicerna anak-anak atau justru memicu kebingungan jika tidak dibimbing. Maka bentuk penguatan LKLB adalah sekolah dasar menyelenggarakan program “Literasi Digital Agama”. Guru melatih anak-anak untuk bersikap kritis terhadap jawaban AI. Guru menjelaskan bahwa AI hanyalah mesin pengumpul data, namun rasa empati, kasih saying, dan menghargai perbedaaan budaya adalah berkah dari Tuhan yang hanya dimiliki oleh amnusia. Siswa diajarkan bahwa perbedaan cara berdoa adalah bagian dari keragaman budaya manusia, dan esensinya setiap manusia sedang menuju kebaikan [1].
Perkembangan penelitian tentang AI dalam bidang pendidikan semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak penelitian berpusat pada penggunaan AI untuk meningkatkan hasil belajar, membuat proses belajar lebih sesuai dengan kebutuhan individu, serta meningkatkan kemampuan digital siswa. Penelitian lain menekankan betapa pentingnya kemampuan digital guru dan siswa dalam menghadapi perubahan pendidikan yang didasarkan pada kecerdasan buatan. Meskipun begitu, pembicaraan tentang aspek etika, spiritualitas, dan pendidikan agama masih lebih bersifat tambahan dibandingkan menjadi topik utama.
Di sisi lain, penelitian tentang literasi keagamaan semakin berkembang dalam hal meningkatkan moderasi beragama, toleransi, pembentukan kepribadian, serta pendidikan multikultural. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kemampuan memahami keberagaman keyakinan dan membangun sikap saling menghormati pada peserta didik dapat meningkat dengan adanya literasi keagamaan. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih dilakukan dalam konteks pembelajaran agama yang tradisional dan belum mempertimbangkan tantangan baru yang muncul karena penggunaan AI sebagai sumber informasi keagamaan.
Sementara itu, penelitian tentang literasi digital lebih fokus pada kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan membuat informasi digital secara kritis. Meski ada beberapa penelitian yang menghubungkan literasi digital dengan penggunaan AI, umumnya topik yang dibahas hanya terbatas pada aspek keamanan digital, keterampilan teknis, dan kemampuan berpikir kritis. Dimensi literasi keagamaan, terutama dalam menyaring informasi keagamaan yang dihasilkan oleh AI, masih kurang banyak dibahas secara mendalam.
Kajian tentang Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL) atau Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) terus berkembang sebagai cara untuk memperkuat pemahaman antaragama, mendorong dialog, dan meningkatkan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Namun, penelitian yang menggabungkan CCRL dengan kemajuan AI, pendidikan dasar, serta pendekatan berbasis lintas disiplin masih sangat sedikit. Kebanyakan penelitian membahas CCRL dalam konteks pendidikan tinggi atau diskusi antar agama, bukan sebagai bentuk pembelajaran yang bisa digunakan oleh siswa SD yang sedang menghadapi informasi keagamaan yang didasarkan pada AI.
Berdasarkan peta penelitian tersebut, terdapat tiga celah dalam penelitian. Saat ini, belum banyak penelitian yang menggabungkan AI, pemahaman agama, dan kemampuan digital dalam satu kerangka pemikiran yang lengkap. Kedua, penelitian mengenai CCRL masih terbatas dalam diterapkan di tingkat pendidikan dasar sebagai bentuk respons terhadap perubahan digital. Ketiga, penelitian tentang model pembelajaran yang menggabungkan pendidikan agama, sains, teknologi, dan etika digital masih terbatas, sehingga kurang mampu membentuk kemampuan berpikir kritis serta ketahanan spiritual peserta didik.
Dari celah tersebut, artikel ini mengusulkan sesuatu yang baru, yaitu pengembangan model transformasi literasi keagamaan yang melintasi berbagai bidang studi.Model ini menggabungkan pendidikan agama, literasi digital, etika kecerdasan buatan, dan Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL) sebagai satu rangkaian konsep yang utuh dalam pendidikan dasar. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang membahas hal-hal tersebut secara terpisah, penelitian ini menggunakan CCRL sebagai dasar pembelajaran.Tujuannya adalah membentuk siswa yang tidak hanya bisa mengevaluasi informasi keagamaan yang didukung AI secara kritis, tetapi juga memiliki sifat inklusif, toleran, dan kuat secara spiritual.Dengan demikian, mereka mampu menjadi pelaku perdamaian digital sejak usia dini.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif konseptual dengan jenis studi kepustakaan. Pendekatan ini bertujuan untuk membahas, menggabungkan, dan menggambarkan berbagai penemuan ilmiah agar dapat dibuat gambaran konseptual mengenai perubahan dalam literasi keagamaan di pendidikan dasar pada masa era Artificial Intelligence (AI). Studi kepustakaan adalah cara yang tepat untuk memperkaya pemahaman, menemukan pola-pola penelitian yang ada, serta menyusun rangkuman teori berdasarkan bacaan yang relevan [4], [5]. Maka dari itu, penelitian ini tidak memakai data langsung dari lapangan, melainkan lebih mengutamakan analisis yang mendalam terhadap berbagai sumber ilmiah yang dapat dipercaya[6].
Sumber data yang digunakan dalam penelitian terdiri dari literatur primer dan literatur sekunder. Literatur primer meliputi artikel dari jurnal nasional dan internasional yang membahas topik seperti kecerdasan buatan dalam pendidikan, literasi keagamaan, Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL), literasi digital, pendidikan dasar, serta etika digital. Literatur sekunder mencakup buku-buku akademik, kumpulan makalah ilmiah, serta dokumen kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga nasional atau internasional yang relevan dengan topik penelitian [7], [8].
Penelitian dilakukan dengan mencari informasi di berbagai sumber database ilmiah seperti Scopus, Web of Science, ERIC, ScienceDirect, SpringerLink, Google Scholar, serta Garuda. Kata kunci yang digunakan mencakup Artificial Intelligence dalam Pendidikan, Literasi Keagamaan, Literasi Keagamaan lintas Budaya, Literasi Digital, Pendidikan Dasar, Pendidikan Keagamaan, Etika AI, serta istilah-istilah setara dalam bahasa Indonesia, yaitu kecerdasan buatan, literasi keagamaan, literasi keagamaan lintas budaya, literasi digital, dan pendidikan dasar. Menggunakan berbagai basis data bertujuan untuk mendapatkan literatur yang lengkap, terkini, dan memiliki kualitas akademik yang baik [5], [9].
Buku-buku yang dipilih sesuai dengan kriteria masuk dan tidak masuk yang sudah ditentukan. Kriteria untuk dimasukkan meliputi: (1) artikel, buku, atau dokumen ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025, kecuali karya klasik yang digunakan sebagai dasar konsep; (2) membahas langsung topik seperti AI, literasi keagamaan, literasi digital, CCRL, atau pendidikan dasar; (3) berasal dari jurnal yang terpercaya, buku akademik, atau dokumen resmi dari lembaga yang terkemuka; dan (4) tersedia dalam bentuk teks lengkap. Sementara itu, kriteria untuk mengecualikan artikel mencakup karya yang tidak melewati proses peninjauan oleh rekan sejawat, publikasi yang sama yang muncul beberapa kali, artikel yang bersifat populer, serta literatur yang tidak memiliki hubungan penting dengan topik penelitian yang dibahas. Penetapan kriteria ini bertujuan untuk memastikan hasil sintesis literatur yang dihasilkan tetap valid dan berkualitas [6], [10]
Proses pemilihan literatur dilakukan bertahap sesuai dengan prinsip pelaporan PRISMA 2020, yaitu Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses, seperti yang dijelaskan oleh Page dan timnya pada tahun 2021. Tahap pertama adalah mengidentifikasi literatur dengan menggunakan kata kunci di seluruh basis data. Tahap kedua adalah menyaring judul dan abstrak untuk menghilangkan dokumen yang tidak relevan atau sudah ada kembarannya. Tahap ketiga adalah peninjauan secara menyeluruh terhadap naskah lengkap berdasarkan kriteria yang ditentukan, hingga diperoleh kumpulan literatur yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Proses ini dilakukan dengan cara yang teratur agar semua sumber yang digunakan memiliki keterkaitan dan kualitas ilmiah yang cukup baik.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis isi, yang memungkinkan peneliti untuk menemukan pola, tema, serta hubungan antar konsep dalam berbagai dokumen ilmiah secara terstruktur dan sistematis, seperti yang dijelaskan oleh Krippendorff (2019) dan Stemler (2001). Tahapan analisis mencakup mengurangi data, memberi label pada informasi, mengelompokkan tema, memberi makna, serta menggabungkan konsep secara keseluruhan. Selanjutnya, analisis tematik digunakan untuk menggabungkan berbagai hasil penelitian, sehingga dapat dikembangkan model konseptual tentang transformasi literasi keagamaan lintas disiplin dalam pendidikan dasar di masa era AI [11], [12], [13]
Pemilihan sumber utama dilakukan berdasarkan tingkat kepercayaan, relevansi terhadap tujuan penelitian, ketepatan waktu dari publikasi, serta peran yang dimainkan dalam menjelaskan hubungan antara AI, literasi keagamaan, literasi digital, dan Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL). Dengan prosedur ini, penelitian diharapkan mampu menghasilkan konsep yang komprehensif, terstruktur, dan didasari oleh teori akademik yang kuat, sesuai dengan rekomendasi dalam penelitian berbasis tinjauan pustaka [4], [5]
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara anak-anak sekolah dasar mendapatkan pengetahuan tentang agama. Kalau dulu pembelajaran agama berasal dari guru, orang tua, dan tokoh agama, sekarang anak-anak lebih banyak menggunakan chatbot AI, mesin pencari, dan media sosial untuk mencari jawaban tentang pertanyaan keagamaan mereka. Penelitian-penelitian yang dikumpulkan menunjukkan bahwa AI membantu mengakses informasi keagamaan dengan lebih mudah, namun juga menggeser pengaruh pengetahuan dari sumber yang pribadi ke sistem digital yang menggunakan algoritma [1]
Literatur menunjukkan sedikitnya dua tantangan utama. Pertama, pendangkalan pemahaman teologis. AI membuat jawaban berdasarkan pola data, sehingga penjelasan yang diberikan biasanya bersifat informatif dan berupa teks. Padahal, pendidikan agama tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan saja, tetapi juga membentuk pengalaman spiritual, membentuk karakter seseorang, serta menanamkan nilai-nilai moral secara dalam. Tanpa bimbingan guru, siswa berpotensi hanya memahami ajaran agama secara sepotong dan kehilangan kemampuan untuk berpikir reflektif mengenai materi tersebut.
Kedua, krisis otoritas dan validitas informasi keagamaan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa AI masih ada kekurangan, seperti bias dalam algoritma dan fenomena hallucinasi AI, yaitu menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan namun tidak selalu benar. Kondisi itu menjadi tantangan bagi siswa SD karena kemampuan kritis mereka masih berkembang, sehingga berisiko menerima informasi keagamaan tanpa diverifikasi [3].
Di sisi lain, hasil gabungan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa AI memberikan kesempatan baru dalam pengembangan pembelajaran agama. Teknologi AI memungkinkan pembelajaran yang lebih personal, di mana materi diajarkan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.AI juga bisa membuat gambar-gambar yang membantu memudahkan pemahaman konsep-konsep yang sulit dipahami.Selain itu, chatbot bisa digunakan sebagai alat untuk menciptakan diskusi awal, tetapi tetap diawasi oleh guru. Seperti itu, AI tidak dianggap sebagai pengganti guru, melainkan sebagai alat bantu pembelajaran yang bisa memperkaya pengalaman belajar jika digunakan dengan cara yang benar dan bertanggung jawab.
Berdasarkan hasil kajian literatur, masalah yang muncul terkait AI tidak bisa diatasi hanya dengan pendekatan pembelajaran agama yang bersifat satu bidang keilmuan saja. Penelitian-penelitian menyaranakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang ilmu, seperti pendidikan agama, sains, teknologi, seni, dan literasi digital.Pendekatan ini bertujuan agar siswa mampu memahami nilai-nilai agama secara baik sekaligus mampu menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi yang terus berkembang[14].
Model integrasi tersebut dicapai melalui hubungan antar mata pelajaran dalam hal pencapaian pembelajaran. Dalam pembelajaran IPAS, misalnya, materi seperti ekosistem, tata surya, atau keanekaragaman hayati bisa dikaitkan dengan refleksi tentang keagungan Tuhan dan tugas manusia sebagai khalifah dalam merawat lingkungan hidup. Integrasi ini membuat konsep ilmu pengetahuan dan nilai spiritual saling melengkapi, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna.
Dalam hal teknologi, pendidikan agama digabungkan dengan pemahaman tentang dunia digital melalui penguatan nilai-nilai etika dalam menggunakan media. Siswa tidak hanya belajar cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengerti bahwa kegiatan di dunia digital harus mencerminkan sikap jujur, sopan, menghormati orang lain, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial [15], [16]. Pendekatan ini membantu siswa untuk lebih kritis dalam mengevaluasi informasi agama yang didapatkan dari AI.
Menggunasi teknologi AI secara kreatif dan bertanggung jawab terhada saranran berberhada saran terhada. Berdasarkan hasil penelitian yang disintesis, pendekatan dari berbagai bidang ilmu tersebut memiliki kemungkinan besar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, berkreasi, berkomunikasi, serta bekerja sama, yang merupakan kemampuan penting di abad ke-21. Namun, hasilnya sangat bergantung pada kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang terpadu dan kemampuan mereka dalam membimbing penggunaan AI.
Era AI mempertemukan para siswa dengan berbagai pandangan agama, budaya, dan sistem nilai melalui platform digital. Oleh karena itu, Literasi Keagamaan Lintas Budaya (Cross-Cultural Religious Literacy/CCRL) semakin relevan untuk meningkatkan kemampuan memahami keberagaman dan memperkuat identitas keagamaan secara moderat[17].
Penelitian-penelitian yang disintesis menunjukkan bahwa memperkuat CCRL dalam pendidikan dasar memiliki kemungkinan besar untuk mengembangkan tiga kemampuan utama. Pertama, kompetensi pribadi, yaitu kemampuan untuk memahami dan menghayati identitas agama secara positif, tanpa mengembangkan sikap yang membeda-bedakan atau mengeksklusi kelompok lain. Kedua, kompetensi komparatif, yang berarti kemampuan untuk mengenali nilai-nilai universal seperti kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan rasa peduli terhadap sesama yang terdapat dalam berbagai tradisi keagamaan. Ketiga, kompetensi kolaboratif, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama atau budaya yang berbeda dalam menghadapi berbagai tugas pembelajaran yang menggunakan teknologi [2].
Dalam pembelajaran, kompetensi ini bisa ditingkatkan dengan proyek kerja sama yang didukung AI, seperti membuat infografis tentang keragaman budaya dan agama, membuat video pembelajaran tentang toleransi, atau berdiskusi menggunakan chatbot AI yang tetap diawasi oleh guru. Aktivitas itu bukan hanya membantu meningkatkan kemampuan dalam menggunakan teknologi, tetapi juga membantu siswa menjadi lebih baik dalam berinteraksi di dunia maya, dengan sifat yang lebih ramah, menerima perbedaan, dan tahu tanggung jawab.
Berdasarkan rangkuman semua referensi yang ada, perubahan dalam pemahaman agama melalui pendekatan yang melibatkan beberapa bidang ilmu dan diimbangi dengan Literasi Agama Antar Budaya (CCRL) bisa menjadi cara belajar yang tepat untuk menghadapi tantangan yang dibawa oleh kecerdasan buatan (AI). Cara ini tidak hanya memberikan kemampuan kepada siswa untuk mengevaluasi informasi agama secara lebih bijak, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi warga digital yang berintegritas, toleran, dan mampu bertahan dalam menghadapi perkembangan teknologi [15].
Berdasarkan gabungan berbagai sumber, perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara belajar agama di tingkat pendidikan dasar.Perubahan ini membawa tantangan, seperti perpindahan otoritas dalam agama ke dunia digital, risiko mengurangi pemahaman yang dalam tentang ajaran agama, dan meningkatnya kebutuhan akan kemampuan berpikir kritis untuk memeriksa informasi agama secara benar. Di sisi lain, AI juga memberi kesempatan untuk membantu proses belajar agama yang lebih fleksibel, menarik, dan sesuai dengan situasi nyata, asalkan digunakan dengan benar dan diawasi oleh pendidik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan dalam cara memahami agama perlu dilakukan dengan pendekatan yang melibatkan berbagai bidang ilmu, seperti pendidikan agama, sains, teknologi, seni, dan etika digital. Pendekatan tersebut bisa meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam memilah informasi keagamaan yang menggunakan AI, sekaligus membantu mereka mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21.
Selain itu, meningkatkan pemahaman tentang keagamaan lintas budaya (Cross-Cultural Religious Literacy/CCRL) menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa yang inklusif, toleran, dan memiliki ketangguhan spiritual. Berdasarkan hasil penelitian, menggabungkan CCRL dalam proses belajar bisa membentuk siswa yang tidak hanya bisa menggunakan teknologi dengan bijak, tetapi juga bisa menjadi pelaku perdamaian di dunia maya, terutama dalam masyarakat yang semakin beragam.
Saran
Pendekatan pembelajaran yang baik membutuhkan peningkatan kemampuan guru dalam memahami AI dan teknologi digital.Dengan demikian, mereka bisa merancang metode mengajar yang menggabungkan nilai-nilai agama, etika dalam menggunakan teknologi, serta penerapan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Bagi institusi pendidikan, diperlukan pembuatan kebijakan dan kurikulum yang mendorong penerapan pembelajaran lintas bidang berdasarkan Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL), serta diberikan panduan penggunaan teknologi AI yang aman, bermoral, dan sesuai dengan kondisi anak-anak sekolah dasar.
Penelitian ini masih menggunakan pendekatan studi kepustakaan, sehingga hasil yang diperoleh bersifat konseptual dan belum menghasilkan data empiris. Oleh karena itu, diperlukan penelitian nyata, seperti penelitian tindakan kelas, studi eksperimen, atau penelitian yang menggabungkan metode (mixed methods), untuk menguji cara penerapan dan tingkat keberhasilan model transformasi literasi keagamaan lintas disiplin yang didasarkan pada AI di berbagai situasi pendidikan dasar.
S. Mahud, “Pendidikan Agama Islam di Era Algoritma: Kecerdasan Buatan, Otoritas, dan Krisis Literasi,” Action Research Journal Indonesia, vol. 7, no. 4, pp. 3512–3530, 2025.
A. C. Nasir, “Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sebagai Keterampilan Hidup Era Digital,” in International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL), Jakarta, Indonesia, 2025.
L. W. Ni’mah and U. Farihah, “Transformasi Literasi Digital dalam Pembelajaran PAI di Era AI: Studi Deskriptif pada Siswa,” QOSIM: Jurnal Pendidikan Sosial & Humaniora, vol. 3, no. 4, pp. 1735–1744, 2025.
M. J. Grant and A. Booth, “A Typology of Reviews: An Analysis of 14 Review Types and Associated Methodologies,” Health Information & Libraries Journal, vol. 26, no. 2, pp. 91–108, 2009, doi: 10.1111/j.1471-1842.2009.00848.x.
H. Snyder, “Literature Review as a Research Methodology: An Overview and Guidelines,” Journal of Business Research, vol. 104, pp. 333–339, 2019, doi: 10.1016/j.jbusres.2019.07.039.
M. W. George, The Elements of Library Research: What Every Student Needs to Know. Princeton, NJ, USA: Princeton University Press, 2008.
K. Krippendorff, Content Analysis: An Introduction to Its Methodology, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2019.
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, 3rd ed. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2023.
M. Zed, Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta, Indonesia: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014.
M. J. Page et al., “The PRISMA 2020 Statement: An Updated Guideline for Reporting Systematic Reviews,” BMJ, vol. 372, p. n71, 2021, doi: 10.1136/bmj.n71.
V. Braun and V. Clarke, Thematic Analysis: A Practical Guide. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2022.
K. Krippendorff, Content Analysis: An Introduction to Its Methodology, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2018.
S. E. Stemler, “An Overview of Content Analysis,” Practical Assessment, Research, and Evaluation, vol. 7, no. 17, pp. 1–10, 2001, doi: 10.7275/z6fm-2e34.
G. Thomas, How to Do Your Case Study, 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2021.
Fuad, “Transformasi Budaya Pendidikan Agama Islam dalam Dinamika Digital Konten Sosial Media & Artificial Intelligence (AI),” Qolamuna: Keislaman, Pendidikan, Literasi dan Humaniora, vol. 3, no. 1, pp. 295–310, 2026.
O. Zawacki-Richter, V. I. Marín, M. Bond, and F. Gouverneur, “Systematic Review of Research on Artificial Intelligence Applications in Higher Education—Where Are the Educators?,” International Journal of Educational Technology in Higher Education, vol. 16, no. 39, pp. 1–27, 2019, doi: 10.1186/s41239-019-0171-0.
Y. Xiao and M. Watson, “Guidance on Conducting a Systematic Literature Review,” Journal of Planning Education and Research, vol. 39, no. 1, pp. 93–112, 2019, doi: 10.1177/0739456X17723971.