Manar Imam Muhammadi (1), Dwi Priyo Utomo (2), Elly Purwanti (3)
General Background: Primary education quality depends strongly on teachers’ pedagogical competence in planning, implementing, and evaluating learning. Specific Background: Conventional teacher training has often been short-term and one-directional, making it difficult to produce continuous changes in classroom practice. Knowledge Gap: Prior studies have commonly examined coaching or mentoring separately, while systematic synthesis integrating both approaches for primary school pedagogical development remains limited. Aims: This study aimed to analyze the role of coaching and mentoring in developing primary school teachers’ pedagogical competence through a Systematic Literature Review following PRISMA guidelines. Results: The reviewed literature shows that coaching supports reflective practice, autonomy, classroom problem solving, instructional planning, active learning strategies, assessment competence, and confidence in receiving feedback. Mentoring contributes through professional experience transfer, practical guidance, emotional support, adaptation to curriculum change, collaborative culture, and career development. The integration of both approaches forms a more comprehensive, contextual, and sustainable professional development model. Novelty: This study presents an integrated conceptual synthesis of coaching and mentoring as a continuous professional development framework for primary school teachers. Implications: The findings support the design of teacher development programs that combine reflective dialogue, individualized feedback, experienced guidance, and classroom-based assistance.
Highlights:
Keywords: Coaching, Mentoring, Pedagogical Competence, Primary School Teacher, Professional Development
Coaching and Mentoring for Primary Teacher Pedagogical Competence [ Pembinaan dan Pendampingan untuk Kompetensi Pedagogis Guru Sekolah Dasar ]
Manar Imam Muhammadi1*, Dwi Priyo Utomo2, Elly Purwanti3
1)Studi Doktoral Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
*Email Penulis Korespondensi: imammanar30@gmail.com
Abstract. Enhancing teachers’ competencies in elementary school instruction is a strategic step toward improving the quality of education. However, teacher training programs implemented to date have tended to be traditional in nature and have thus failed to produce a sustainable impact on the improvement of teachers’ professional competencies. The coaching and mentoring approaches are viewed as more effective alternatives for professional development because they can continuously accommodate teachers’ needs. This study aims to analyze the role of coaching and mentoring in improving the teaching competencies of elementary school teachers through a Systematic Literature Review (SLR) following the PRISMA guidelines. A total of XX articles that met the inclusion criteria were systematically analyzed to identify key findings related to the implementation of coaching and mentoring in teacher professional development. The study findings indicate that coaching plays a role in enhancing teachers’ reflective abilities, autonomy, and the quality of their teaching practices, while mentoring contributes to the transfer of experience, professional guidance, and teachers’ career development. The integration of these two approaches results in a more comprehensive, sustainable, and contextual professional development model. Therefore, a coaching- and mentoring-based teacher training model is recommended as a professional development strategy capable of effectively enhancing the teaching competencies of elementary school teachers.
Keywords - Coaching; Mentoring; Pedagogical competence; Primary school teacher; Professional development
Abstrak. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar di sekolah dasar adalah langkah penting untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun, pelatihan yang dilakukan kepada guru di masa lalu masih berupa cara yang tradisional, sehingga belum mampu memberikan pengaruh yang terus-menerus dalam meningkatkan kompetensi profesional para guru. Pendekatan coaching dan mentoring dianggap sebagai pilihan pengembangan karier yang lebih baik karena bisa memenuhi kebutuhan guru secara terus menerus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran coaching dan mentoring dalam meningkatkan kemampuan mengajar guru di tingkat dasar sekolah dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dan mengikuti pedoman PRISMA. Dari jumlah XX artikel yang memenuhi kriteria tertentu, dilakukan analisis secara sistematis untuk menemukan temuan utama mengenai penerapan coaching dan mentoring dalam meningkatkan kompetensi profesional guru. Penelitian menunjukkan bahwa coaching membantu meningkatkan kemampuan berpikir reflektif, kemandirian, dan kualitas cara guru mengajar, sementara mentoring berperan dalam meneruskan pengalaman, mendampingi dalam pekerjaan, serta membantu perkembangan karier guru.Integrasi kedua pendekatan tersebut menghasilkan model pengembangan profesional yang lebih komprehensif, berkelanjutan, dan kontekstual. Oleh karena itu, model pelatihan guru berbasis coaching dan mentoring direkomendasikan sebagai strategi pengembangan profesional yang mampu meningkatkan kompetensi mengajar guru sekolah dasar secara efektif.
Kata Kunci - Coaching; Mentoring; Kompetensi pedagogik; Guru sekolah dasar; Pengembangan profesional
[4]Oleh karena itu, coaching dan mentoring kini semakin dianggap sebagai bagian yang penting dalam.program peningkatan kompetensi guru di berbagai negara.Meskipun jumlah penelitian mengenai coaching dan mentoring terus meningkat, hasil-hasil penelitian tersebut masih tersebar dalam berbagai konteks, jenjang pendidikan, dan fokus kajian yang berbeda. Sebagian penelitian berfokus pada instructional coaching, sebagian lainnya menelaah mentoring bagi guru pemula, sementara kajian yang secara khusus mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut dalam konteks peningkatan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar masih relatif terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk melakukan sintesis literatur secara.sistematis untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai peran coaching dan mentoring dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar.
Berdasarkan penjelasan tersebut, penelitian ini bertujuan melakukan tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR) terhadap berbagai penelitian yang membahas tentang coaching dan mentoring dalam meningkatkan kemampuan mengajar guru.sekolah dasar. Dengan menggabungkan hasil penelitian sebelumnya, artikel ini diharapkan dapat mengenali hal-hal yang relevan.bentuk penerapan coaching dan mentoring, serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan kemampuan guru mengaplikasikan pedagogik yang tepat, serta menentukan dampaknya terhadap pembuatan model pelatihan guru yang lebih efektif dan.berkelanjutan.Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini berfokus pada beberapa pertanyaan penelitian, yaitu: (1) bagaimana.Tren penelitian tentang coaching dan mentoring dalam meningkatkan kemampuan profesional guru sekolah dasar; (2) bagaimana peran coaching dan mentoring berperan dalam pengembangan kemampuan tersebut.Pelatihan dalam meningkatkan kemampuan mengajar guru sekolah dasar; (3) bagaimana pera pembimbingan dalam.meningkatkan kemampuan mengajar guru sekolah dasar; dan (4) bagaimana cara menggabungkan model coaching dan mentoring.yang mungkin membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru secara terus-menerus.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa coaching dan mentoring merupakan strategi pengembangan profesional guru yang lebih efektif dibandingkan pelatihan konvensional karena menekankan pendampingan berkelanjutan, refleksi praktik, dan umpan balik yang bersifat individual. Sebagian besar penelitian melaporkan bahwa coaching mampu meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, menerapkan strategi pembelajaran aktif, serta melakukan refleksi terhadap praktik mengajarnyaMentoring juga membantu meningkatkan kemampuan guru dalam beradaptasi secara profesional dengan memberikan pengalaman, dukungan emosional, dan mendorong pembentukan budaya kerja sama di sekolah.
Meskipun begitu, penelitian sebelumnya masih memiliki beberapa kekurangan. Pertama, kebanyakan penelitian hanya memeriksa efektivitas coaching atau mentoring secara terpisah, sehingga belum menjelaskan bagaimana penggabungan kedua metode tersebut dapat membentuk kemampuan mengajar guru secara lebih lengkap.Kedua, fokus penelitian lebih banyak diarahkan pada peningkatan kinerja mengajar atau hasil belajar peserta didik, sedangkan analisis mengenai dimensi kompetensi pedagogik—seperti pemahaman karakteristik peserta didik, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa, serta evaluasi pembelajaran—masih relatif terbatas. Ketiga, sebagian besar penelitian menggunakan desain eksperimen atau studi kasus pada konteks tertentu sehingga belum menghasilkan sintesis konseptual yang mampu menjelaskan mekanisme coaching dan mentoring sebagai strategi pengembangan profesional guru sekolah dasar secara berkelanjutan.
Selain itu, perkembangan kebijakan pendidikan yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi, penguatan kompetensi guru, dan pembelajaran reflektif menuntut adanya model pengembangan profesional yang lebih adaptif daripada sekadar pelatihan berbasis lokakarya. Namun, kajian yang secara sistematis mengintegrasikan berbagai temuan empiris mengenai coaching dan mentoring untuk menjelaskan kontribusinya terhadap pengembangan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar masih sangat terbatas.
Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan kebaruan (novelty) dengan menyajikan analisis konseptual yang mengintegrasikan coaching dan mentoring sebagai satu kerangka pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru sekolah dasar. Artikel ini tidak hanya merangkum hasil penelitian sebelumnya, tetapi juga mengidentifikasi mekanisme, karakteristik, dan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan implementasi coaching dan mentoring dalam meningkatkan kompetensi pedagogik. Dengan demikian, penelitian ini memberikan sintesis yang lebih komprehensif sekaligus menghasilkan kerangka konseptual yang dapat dijadikan dasar bagi pengembangan program pembinaan guru yang lebih efektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan dasar saat ini.
Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis hasil penelitian mengenai peran coaching dan mentoring dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar. Metode SLR dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai perkembangan penelitian, temuan utama, serta kesenjangan penelitian yang masih memerlukan kajian lebih lanjut. Selain itu, SLR dinilai mampu menghasilkan sintesis bukti ilmiah yang lebih sistematis dan transparan dibandingkan kajian literatur tradisional[5]
Pelaksanaan SLR dalam penelitian ini mengacu pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses[6] yang memberikan kerangka kerja sistematis dalam proses identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan pemilihan artikel yang akan direview. Penggunaan pedoman PRISMA membantu meningkatkan transparansi dan reproduktibilitas penelitian sehingga hasil sintesis yang diperoleh memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi[5]
Pencarian literatur dilakukan pada beberapa basis data internasional yang banyak digunakan dalam penelitian pendidikan, yaitu Scopus, Web of Science, ERIC, Dimensions, dan Google Scholar. Penggunaan beberapa database bertujuan untuk memperluas cakupan pencarian serta meminimalkan kemungkinan terlewatnya artikel yang relevan [7]
Proses pencarian dilakukan menggunakan kombinasi kata kunci berikut:
("coaching" OR "instructional coaching")AND("mentoring")AND("pedagogical competence" OR "pedagogical skills")AND("elementary school teacher" OR "primary school teacher")
Seluruh artikel yang diperoleh kemudian diekspor ke perangkat manajemen referensi untuk mengidentifikasi dan menghapus artikel duplikat sebelum dilakukan proses penyaringan lebih lanjut.
Kriteria inklusi digunakan untuk memastikan bahwa artikel yang direview memiliki relevansi dengan tujuan penelitian. Artikel yang dimasukkan dalam kajian ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
Sementara itu, artikel dikeluarkan dari proses review apabila memenuhi salah satu kriteria berikut:
Proses seleksi artikel dilakukan melalui empat tahap sesuai pedoman PRISMA 2020, yaitu identification, screening, eligibility, dan included studies [8] Pada tahap identifikasi, seluruh artikel yang diperoleh dari database dikumpulkan dan diperiksa duplikasinya. Selanjutnya, tahap screening dilakukan melalui pemeriksaan judul dan abstrak untuk menentukan kesesuaian artikel dengan tujuan penelitian. Artikel yang lolos tahap screening kemudian dianalisis secara penuh pada tahap eligibility. Hanya artikel yang memenuhi seluruh kriteria inklusi yang dimasukkan ke dalam tahap sintesis akhir.
Proses tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa setiap artikel yang direview memiliki kualitas dan relevansi yang memadai sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap sintesis temuan penelitian mengenai coaching dan mentoring bagi guru sekolah dasar.
Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan thematic analysis yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari berbagai penelitian yang direview. Tahapan analisis meliputi proses pengkodean data, pengelompokan temuan yang serupa, identifikasi tema utama, dan sintesis hasil penelitian menjadi kesimpulan yang lebih komprehensif [9]
Melalui pendekatan ini, berbagai temuan penelitian mengenai coaching dan mentoring dapat diorganisasikan ke dalam beberapa tema utama, seperti peningkatan refleksi pembelajaran, pengembangan keterampilan mengajar, peningkatan kemampuan asesmen, transfer pengalaman profesional, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan implementasi coaching dan mentoring. Hasil sintesis tersebut kemudian digunakan untuk merumuskan model konseptual yang dapat mendukung peningkatan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar secara berkelanjutan.
Tabel 1. Sintesis Penelitian Terdahulu tentang Coaching dan Mentoring dalam Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Dasar
Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020 (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) untuk memastikan proses identifikasi, seleksi, penilaian kelayakan, dan sintesis artikel dilakukan secara sistematis, transparan, dan dapat direplikasi.
Pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus, Web of Science, ERIC, dan Google Scholar menggunakan kombinasi kata kunci coaching, mentoring, pedagogical competence, teacher professional development, dan primary school teachers. Rentang publikasi yang digunakan adalah 2021 hinggaJuni 2026. Pemilihan periode tersebut didasarkan pada tujuan untuk memperoleh bukti empiris yang paling mutakhir mengenai implementasi coaching dan mentoring setelah perubahan paradigma pengembangan profesional guru pada era pascapandemi. Karena penelitian dilakukan pada tahun 2026, artikel yang diterbitkan hingga Juni 2026 tetap diikutsertakan agar mencerminkan perkembangan penelitian terkini.
Kriteria inklusi meliputi: (1) artikel penelitian empiris yang diterbitkan pada periode 2021–Juni 2026; (2) dipublikasikan pada jurnal ilmiah peer-reviewed; (3) membahas coaching, mentoring, atau integrasi keduanya dalam pengembangan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar; (4) tersedia dalam teks lengkap (full text); dan (5) ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia.
Adapun kriteria eksklusi meliputi: (1) prosiding, buku, bab buku, tesis, disertasi, editorial, atau artikel opini; (2) artikel yang tidak melalui proses peer review; (3) penelitian yang tidak berfokus pada guru sekolah dasar atau tidak membahas kompetensi pedagogik; (4) artikel yang tidak tersedia dalam bentuk teks lengkap; dan (5) artikel duplikat. Dengan demikian, jurnalilmiahmerupakansumberutamapenelitian dan termasukdalamkriteriainklusi, bukan kriteria eksklusi.
Proses seleksi artikel mengikuti tahapan PRISMA 2020 yang meliputi identification, screening, eligibility, dan included. Diagram alur PRISMA menyajikan jumlah artikel yang ditemukan pada tahap identifikasi, jumlah artikel setelah penghapusan duplikasi, jumlah artikel yang dieliminasi berdasarkan judul dan abstrak, jumlah artikel yang dievaluasi melalui pembacaan teks lengkap beserta alasan eksklusinya, hingga jumlah artikel yang akhirnya dimasukkan dalam proses sintesis. Penyajian diagram ini merupakan bagian penting untuk meningkatkan transparansi dan replikasi penelitian.
Penelitian tentang coaching dan mentoring dalam meningkatkan kemampuan guru semakin banyak dilakukan dalam lima tahun terakhir. Kebanyakan penelitian diterbitkan antara tahun 2021 hingga 2026, dengan penekanan pada peningkatan kompetensi guru, peningkatan kualitas proses belajar mengajar, dan penguatan kemampuan dalam mengajar.Penelitian yang direview berasal dari berbagai negara dan menggunakan pendekatan yang beragam, termasuk penelitian tindakan sekolah, studi kasus, survei, systematic literature review, dan meta-analisis.
Berdasarkan hasil sintesis, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa coaching dan mentoring merupakan strategi yang efektif dalam mendukung pengembangan profesional guru. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pendekatan pendampingan yang berkelanjutan lebih mampu menghasilkan perubahan praktik pembelajaran dibandingkan pelatihan konvensional yang bersifat satu arah dan berjangka pendek [10]. Selain itu, peningkatan perhatian terhadap coaching dan mentoring menunjukkan adanya pergeseran paradigma pengembangan profesional guru dari pendekatan berbasis pelatihan menuju pendekatan berbasis kolaborasi dan refleksi profesional
Salah satu temuan utama dalam kajian ini adalah bahwa coaching berperan signifikan dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar. Membimbing memberikan kesempatan kepada guru untuk memikirkan kembali cara kerjanya.pelaksanaan pembelajaran yang sudah dilakukan serta menemukan bidang-bidang yang masih perlu diperbaiki. Melalui dialog reflektif dengan umpan balik yang konstruktif, guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif sesuai dengan kebutuhan peserta didik.kebutuhan peserta didik [11]
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelatihan instruksional membantu guru meningkatkan kemampuan mereka dalam.merencanakan pembelajaran, mengelola kelas, dan melakukan penilaian yang terpusat pada kebutuhan siswa [12]Pelatihan juga mendorong guru untuk terus memikirkan dan mengevaluasi cara mengajar mereka secara lebih teliti.sehingga tercipta budaya belajar yang berkelanjutan. Kondisi ini sejalan dengan pandangan bahwa pengembangan
Kompetensi pedagogik tidak hanya membutuhkan pemahaman teoritis, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan dan memperbaiki praktik pembelajaran secara terus-menerus.
Coaching tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan mengajar secara teknis, tetapi juga memberikan dampak positif pada peningkatan rasa percaya diri guru dalam melaksanakan inovasi pembelajaran.Guru yang memperoleh pendampingan coaching cenderung lebih terbuka terhadap perubahan, lebih siap menerima umpan balik, serta memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran [4]Temuan ini menunjukkan bahwa coaching tidak hanya berdampak pada aspek kompetensi pedagogik, tetapi juga pada aspek psikologis yang mendukung profesionalisme guru.
Selain coaching, mentoring juga menjadi strategi penting dalam pengembangan kompetensi pedagogik guru. Hasil kajian menunjukkan bahwa mentoring berfungsi sebagai sarana transfer pengalaman profesional dari guru yang lebih berpengalaman kepada guru yang membutuhkan dukungan dalam pengembangan kompetensinya. Melalui hubungan mentor dan mentee, guru memperoleh kesempatan untuk belajar dari pengalaman nyata yang telah dihadapi oleh mentor dalam praktik pembelajaran sehari-hari [5] Mentoring terbukti membantu guru memahami berbagai aspek pembelajar Mentoring terbukti membantu guru memahami berbagai aspek pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Dukungan yang diberikan mentor memungkinkan guru mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi di kelas secara lebih efektif. Selain itu, mentoring juga berkontribusi terhadap peningkatan rasa percaya diri dan identitas profesional guru karena mereka memperoleh dukungan emosional dan profesional selama proses pengembangan kompetensi berlangsung [4]
Hasil kajian menunjukkan bahwa coaching dan mentoring memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam mendukung pengembangan profesional guru. Coaching lebih menekankan proses refleksi, pemberdayaan individu, dan pengembangan solusi mandiri, sedangkan mentoring lebih berfokus pada transfer pengalaman, pemberian arahan, dan dukungan profesional [10]
Integrasi kedua pendekatan tersebut menghasilkan sistem pengembangan profesional yang lebih komprehensif. Guru tidak hanya memperoleh kesempatan untuk merefleksikan praktik pembelajaran melalui coaching, tetapi juga mendapatkan bimbingan dan pengalaman praktis melalui mentoring. Dengan demikian, kebutuhan pengembangan guru dapat dipenuhi secara lebih menyeluruh, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun keterampilan profesional.
Geletu [8] menjelaskan bahwa kombinasi coaching dan mentoring mampu meningkatkan kualitas praktik pembelajaran, keterlibatan siswa, dan efektivitas pengajaran secara lebih signifikan dibandingkan penerapan salah satu pendekatan secara terpisah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa program pengembangan profesional guru perlu dirancang secara terpadu dengan mengintegrasikan unsur coaching dan mentoring dalam satu sistem pendampingan yang berkelanjutan.
Keberhasilan implementasi coaching dan mentoring dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung. Dukungan kepala sekolah, budaya kolaboratif di lingkungan sekolah, ketersediaan waktu untuk pendampingan, serta kompetensi coach dan mentor menjadi faktor utama yang menentukan efektivitas program [4]Sekolah yang memiliki budaya belajar yang kuat cenderung lebih berhasil mengimplementasikan coaching dan mentoring karena guru terbiasa melakukan refleksi dan berbagi praktik baik dengan rekan sejawat.
Di sisi lain, beberapa hambatan juga ditemukan dalam implementasi coaching dan mentoring. Beban administrasi yang tinggi, keterbatasan jumlah mentor yang kompeten, serta kurangnya pemahaman mengenai konsep coaching menjadi tantangan yang sering dihadapi sekolah. Selain itu, sebagian guru masih memandang proses observasi dan umpan balik sebagai bentuk evaluasi sehingga menimbulkan resistensi terhadap program coaching [4]
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan coaching dan mentoring memerlukan dukungan sistemik dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi, pembelajaran profesional, dan budaya reflektif agar program coaching dan mentoring dapat berjalan secara optimal.
Hasil kajian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan model pelatihan guru sekolah dasar. Selama ini,Sebagian besar pelatihan yang diberikan kepada guru masih hanya berupa pemberian materi melalui workshop atau seminar.yang berlangsung dalam waktu terbatas. Pendekatan itu biasanya tidak cukup berhasil dalam menciptakan perubahan praktik pembelajaran yang berkelanjutan.Berdasarkan hasil penelitian, model pelatihan guru yang menggabungkan coaching dan mentoring memiliki potensi yang besar. menjadi alternatif yang lebih efektif. Pelatihan bisa digunakan untuk mendorong orang berpikir kembali dan mencari solusi yang lebih baik.
Pembelajaran yang kontekstual, sedangkan mentoring dapat berfungsi sebagai cara untuk mentransfer pengalaman dan pendampingan profesional. Menggabungkan kedua pendekatan tersebut memungkinkan terbentuknya sistem pengembangan profesional yang berkelanjutan dan berfokus pada kebutuhan nyata guru di sekolah dasar.Temuan ini berkaitan dengan pembuatan model pelatihan sistem penilaian hasil belajar siswa yang bertujuan.meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar. Dengan memasukkan komponen coaching dan mentoring ke dalam model pelatihan, proses peningkatan kompetensi guru tidak hanya terjadi selama pelatihan berlangsung, tetapi juga terus berlangsung setelah pelatihan selesai. juga berlangsung melalui bantuan dan pemikiran yang terus-menerus.
Pembahasan
Hasil kajian menunjukkan bahwa coaching memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar. Dalam konteks ini, coaching memberikan ruang bagi guru untuk terus belajar sepanjang hidup dengan aktif mengevaluasi dan meningkatkan cara mengajar mereka.Coaching memungkinkan guru menciptakan solusi yang tepat mengajarnya. Berbeda dengan pelatihan tradisional yang biasanya fokus pada penyebaran ilmu pengetahuan, sesuai dengan kebutuhan dan sifat-sifat peserta didik.kelas masing-masing[7]Selain membantu guru meningkatkan kemampuan berpikir kritis, coaching juga membantu meningkatkan kemampuan dan kapasitas guru dalam. merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru yang memperoleh pendampingan coaching cenderung lebih mampu menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, melakukan penilaian yang lebih bermakna, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.lingkungan belajar yang mendukung keterlibatan aktif siswa. Dengan demikian, coaching tidak hanya berdampak pada.Peningkatan kemampuan mengajar guru, sekaligus memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar peserta didik secara keseluruhan.
B. Kontribusi Mentoring terhadap Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru
Temuan penelitian menunjukkan bahwa mentoring memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi satu sama lain.coaching jika coaching lebih menekankan pengembangan refleksi dan kemandirian guru, mentoring berfokus pada pembelajaran dan pengembangan keterampilan melalui bimbingan yang lebih intensif.mengalihkan pengalaman profesional dan bimbingan yang diberikan oleh guru yang lebih berpengalaman kepada guru lainnya yang membutuhkan dukungan pengembangan kompetensi. Dalam konteks sekolah dasar, mentoring menjadi sangat Relevan karena guru sering menghadapi masalah-masalah yang rumit dalam mengelola kelas dan memberikan pembelajaran yang berbeda sesuai kebutuhan setiap siswa. kebutuhan belajar siswa yang beragam telah dipenuhi [9] Hasil sintesis menunjukkan bahwa mentoring membantu guru mendapatkan pemahaman praktis yang tidak selalu diperoleh secara langsung dalam proses pembelajaran sehari-hari diperoleh melalui pelatihan formal. Pengalaman mentor dalam menghadapi berbagai situasi pembelajaran menjadi hal yang sangat penting.sumber belajar yang berharga bagi mentee.
Proses ini membantu guru memperdalam pemahaman mereka.membahas secara mendalam mengenai strategi pembelajaran yang efektif dan meningkatkan kemampuan seseorang dalam membuat keputusan.pedagogik secara tepat [11]Mentoring tidak hanya membantu dalam aspek pembelajaran, tetapi juga memperkuat identitas profesional guru. Hubungan antara mentor dan mentee membentuk lingkungan belajar yang memfasilitasi pertumbuhan profesional meningkatkan rasa percaya diri guru dan memperkuat komitmen mereka terhadap profesi mengajar. Temuan ini memperkuat hasilMeta analisis menunjukkan bahwa mentoring memiliki dampak positif terhadap kemampuan profesional dan rasa puas kerja, dan keberlanjutan karier guru [10]
C. Integrasi Coaching dan Mentoring dalam Pengembangan Profesional Guru
Salah satu temuan penting dalam kajian ini adalah bahwa coaching dan mentoring tidak seharusnya dipandang sebagai dua pendekatan yang berdiri sendiri. Sebaliknya, keduanya memiliki karakteristik yang saling melengkapi dan berpotensi menghasilkan dampak yang lebih besar apabila diintegrasikan dalam satu sistem pengembangan profesional guru. Coaching memberikan ruang bagi guru untuk menemukan solusi secara mandiri melalui refleksi dan dialog profesional, sedangkan mentoring menyediakan dukungan berupa pengalaman, arahan, dan contoh praktik yang dapat dijadikan referensi dalam pengambilan keputusan pedagogik [1] Menggabungkan kedua pendekatan tersebut memberi manfaat yang lebih lengkap bagi guru. Guru tidak hanya didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir reflektif, tetapi juga memperoleh bimbingan praktis yang. dapat membantu mereka menghadapi berbagai tantangan pembelajaran. Dengan demikian, proses pengembangan Profesional tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga melanjutkan pada perubahan perilaku dan praktik. pembelajaran yang lebih efektif (Dalam pendekatan teori pembelajaran profesional, gabungan coaching dan mentoring bisa dianggap sebagai salah satu bentuknya. pengembangan kemampuan yang seimbang antara belajar dengan berpikir kembali dan belajar melalui interaksi dengan orang lain. Pendekatan ini sesuai dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 yang menekankan pentingnya bekerja sama, berpikir kembali, dan pembelajaran berkelanjutan sebagai bagian dari profesionalisme guru. Sintesis terhadap dua belas artikel menunjukkan bahwa coaching dan mentoring sama-sama berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi pedagogik guru, namun mekanisme keduanya berbeda. Sebagian penelitian Dewi, 2021; Marshall, 2023; Apriliantari et al., 2025; Geletu et al., 2026 menunjukkan bahwa coaching lebih efektif meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran, melakukan refleksi, dan memperbaiki praktik mengajar melalui observasi kelas dan umpan balik. Sebaliknya, penelitian Handrianto et al. 2022, Sulhan 2022, Stevenson et al. 2023, dan Zhang 2024 memperlihatkan bahwa mentoring lebih berpengaruh terhadap pembentukan identitas profesional, adaptasi guru baru, dan keberlanjutan pengembangan karier.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa coaching dan mentoring tidak bisa dianggap sebagai metode yang bisa saling menggantikan. Coaching bertujuan meningkatkan kemampuan dengan menganalisis cara belajar, sedangkan mentoring berfokus pada pembagian pengalaman kerja profesional melalui hubungan yang berlangsung lama antara mentor dan mentee. Oleh karena itu, keefektifan keduanya bergantung pada tujuan dari program pengembangan profesional yang ingin dicapai.
Temuan ini mendukung teori pembelajaran untuk orang dewasa yang menyatakan bahwa seorang guru, sebagai pembelajar dewasa, bisa meningkatkan kemampuannya melalui pengalaman, memikirkan kembali apa yang sudah dilakukan, dan menyelesaikan masalah nyata, bukan hanya dengan memberi materi saja. Dalam pandangan itu, coaching berfungsi sebagai alat refleksi untuk profesi, sedangkan mentoring memberikan pengalaman yang lebih kontekstual, yang tidak selalu bisa didapat dari pelatihan resmi.
Berdasarkan sintesis hasil penelitian, dapat dirumuskan suatu model konseptual yang menggambarkan hubungan antara coaching, mentoring, dan peningkatan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar. Dalam model ini, coaching berperan sebagai mekanisme yang mendorong refleksi profesional, pengembangan solusi pembelajaran, dan peningkatan kemampuan pengambilan keputusan pedagogik. Sementara itu, mentoring berperan sebagai saranaTransfer pengalaman, bimbingan oleh profesional, dan penguatan identitas guru.
Kedua pendekatan tersebut bekerja sama secara harmonis untuk meningkatkan kemampuan mengajar yang dimilikimeliputi kemampuan untuk merancang pembelajaran, serta menerapkan pembelajaran yang berfokus pada siswa melakukan pengecekan yang baik, serta membangun kebiasaan berpikir kritis secara terus menerus. Model konseptual ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan mengajar guru tidak hanya tergantung pada pelatihan resmi, tetapi juga ada sistem bimbingan profesional yang terus berlangsung melalui coaching dan mentoring.
Walaupun seluruh penelitian melaporkan dampak positif, besarnya peningkatan kompetensi pedagogik tidak selalu sama. Penelitian yang menerapkan coaching secara berkelanjutan selama beberapa bulan menunjukkan peningkatan yang lebih konsisten dibandingkan penelitian yang hanya mengevaluasi program pelatihan jangka pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa durasi pendampingan merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan coaching.
Selain durasi, perbedaan hasil juga dipengaruhi oleh karakteristik responden dan konteks sekolah. Penelitian pada guru pemula lebih banyak melaporkan peningkatan kepercayaan diri, kemampuan adaptasi, dan kesiapan mengajar, sedangkan penelitian pada guru berpengalaman lebih menekankan peningkatan kualitas refleksi pembelajaran dan inovasi pedagogik. Dengan demikian, coaching dan mentoring menghasilkan luaran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan profesional guru pada setiap tahap karier.
Perbedaan lain terlihat pada indikator yang digunakan untuk mengukur kompetensi pedagogik. Sebagian penelitian menggunakan persepsi guru melalui angket, sementara penelitian lain menggunakan observasi pembelajaran atau penilaian kinerja guru. Variasi instrumen tersebut menyebabkan hasil penelitian sulit dibandingkan secara langsung sehingga diperlukan standar pengukuran kompetensi pedagogik yang lebih seragam pada penelitian berikutnya.
Analisis Kritis terhadap Penelitian Terdahulu
Sintesis ini juga menunjukkan beberapa kelemahan penelitian sebelumnya. Pertama, sebagian besar penelitian menggunakan desain studi kasus atau eksperimen dengan jumlah sampel relatif kecil sehingga validitas eksternal dan generalisasi hasil masih terbatas. Kedua, sebagian besar penelitian hanya mengevaluasi perubahan kompetensi guru dalam jangka pendek sehingga belum dapat menjelaskan apakah peningkatan tersebut bertahan dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Selain itu, penelitian terdahulu umumnya menempatkan coaching dan mentoring sebagai dua program yang berdiri sendiri. Pendekatan tersebut menyebabkan hubungan sinergis antara refleksi profesional, transfer pengalaman, dan pengembangan kompetensi pedagogik belum banyak dianalisis secara komprehensif. Padahal hasil sintesis menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan profesional justru muncul ketika kedua pendekatan tersebut saling melengkapi.
Keterbatasan lain adalah minimnya perhatian terhadap faktor organisasi sekolah. Banyak penelitian berfokus pada guru sebagai individu, sementara pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, budaya kolaboratif, ketersediaan waktu, dan kebijakan institusi masih jarang dianalisis secara mendalam. Padahal faktor-faktor tersebut menentukan keberlanjutan implementasi coaching dan mentoring.
Coaching dan Mentoring dalam Perspektif Professional Learning Community
Hasil sintesis lebih mudah dipahami melalui teori Professional Learning Community (PLC) yang memandang pengembangan profesional sebagai proses kolaboratif yang berlangsung terus-menerus. Dalam kerangka PLC, peningkatan kompetensi pedagogik tidak terjadi karena guru mengikuti pelatihan semata, tetapi karena guru secara rutin berdiskusi, melakukan observasi kelas, menerima umpan balik, serta merefleksikan praktik pembelajaran bersama rekan sejawat.
Dari perspektif tersebut, coaching berfungsi sebagai mekanisme refleksi berbasis praktik (reflective practice), sedangkan mentoring memperkuat pembelajaran sosial (social learning) melalui interaksi antara guru berpengalaman dan guru yang membutuhkan pendampingan. Integrasi keduanya membentuk lingkungan belajar profesional yang mendukung peningkatan kompetensi pedagogik secara berkelanjutan.
Implikasi Konseptual
Berdasarkan sintesis kritis tersebut, penelitian ini mengusulkan bahwa coaching dan mentoring sebaiknya tidak lagi dipandang sebagai dua program pengembangan profesional yang terpisah. Model yang lebih relevan adalah model integratif, yaitu coaching digunakan untuk mengembangkan refleksi, observasi kelas, dan umpan balik berbasis praktik, sedangkan mentoring digunakan untuk memperkuat transfer pengalaman, dukungan profesional, dan pembentukan identitas guru.
Model integratif ini merupakan kontribusi konseptual penelitian karena menjelaskan mekanisme hubungan antara coaching, mentoring, dan kompetensi pedagogik secara lebih komprehensif dibandingkan penelitian terdahulu yang umumnya hanya mengevaluasi efektivitas salah satu pendekatan. Dengan demikian, pengembangan profesional guru sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan mengajar, tetapi juga membangun budaya belajar profesional yang berkelanjutan.
Penelitian ini menemukan bahwa coaching dan mentoring adalah dua cara pengembangan profesional yang memiliki fungsi yang berbeda, namun saling melengkapi dalam menaikkan kemampuan mengajar guru sekolah dasar. Hasil sintesis menunjukkan bahwa coaching membantu meningkatkan kemampuan berpikir reflektif, kemampuan mengambil keputusan dalam mengajar, merencanakan pembelajaran, serta memperbaiki cara mengajar melalui pengamatan di kelas dan pemberian umpan balik secara terus menerus. Mentoring juga membantu memperkuat pemindahan pengalaman kerja, membentuk identitas seorang guru, meningkatkan rasa percaya diri, serta memberikan bantuan dalam mengatasi berbagai masalah dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan mengajar tidak hanya bergantung pada pemahaman ilmu pengetahuan, tetapi juga pada proses berpikir kembali, bekerja sama, dan bimbingan profesional yang terus berlangsung.
Kontribusi teori dari penelitian ini adalah membuat model konseptual yang menggabungkan coaching dan mentoring sebagai dasar untuk mengembangkan profesionalisme guru sekolah dasar. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya memandang coaching dan mentoring sebagai dua metode yang berdiri sendiri, penelitian ini menemukan bahwa kedua pendekatan tersebut membentuk sebuah siklus pengembangan kemampuan yang saling mengisi satu sama lain. Dalam model tersebut, coaching berfungsi sebagai cara untuk mengeksplorasi profesi secara profesional dengan cara mengamati kelas, berdiskusi secara reflektif, menerima umpan balik yang konstruktif, serta meningkatkan keahlian melalui proses belajar mengajar. Mentoring berperan sebagai cara untuk mengalihkan pengalaman, memberi bimbingan yang profesional, memberikan dukungan secara psikologis dan sosial, serta memperkuat identitas seorang guru. Menggabungkan kedua komponen tersebut menciptakan proses belajar profesional yang lebih lengkap, karena menggabungkan refleksi pribadi dengan belajar bersama.
Model konseptual yang diajukan terdiri dari lima tahapan utama, yaitu pertama adalah mengenali kebutuhan kompetensi pedagogik guru, kedua adalah melakukan coaching dengan cara mengamati proses pembelajaran di kelas dan melakukan refleksi profesional, ketiga adalah melaksanakan mentoring melalui pendampingan serta berbagi pengalaman, keempat adalah menerapkan hasil dari pendampingan tersebut dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, dan kelima adalah melakukan evaluasi secara terus menerus dengan cara melakukan refleksi dan menerima umpan balik untuk meningkatkan kompetensi pedagogik. Siklus ini membantu guru meningkatkan kemampuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar secara terus menerus, sekaligus mendorong tumbuhnya budaya belajar yang profesional di lingkungan sekolah.
Implikasi praktis dari penelitian ini adalah diperlukannya pergeseran paradigma dalam pengembangan profesional guru dari model pelatihan berbasis workshop yang bersifat sementara, menuju sistem pendampingan profesional yang berkelanjutan dengan menggabungkan coaching dan mentoring. Model tersebut bisa menjadi acuan dalam membuat program pengembangan guru oleh sekolah, pemerintah daerah, atau lembaga yang bertugas membina guru, sehingga peningkatan kemampuan mengajar bisa dilakukan dengan sesuai dengan kondisi nyata, kerja sama yang baik, dan fokus pada perbaikan cara mengajar.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya mereview artikel yang dipublikasikan pada periode 2021–Juni 2026 dan belum melakukan validasi empiris terhadap model konseptual yang diusulkan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan penelitian eksperimen atau penelitian pengembangan untuk menguji efektivitas model coaching–mentoring tersebut pada berbagai konteks sekolah dasar, sekaligus mengevaluasi pengaruhnya terhadap kompetensi pedagogik guru dan hasil belajar peserta didik.
Referensi
[1] N. K. Apriliantari, S. Sumarwati, and S. Suparno, "Instructional coaching untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan integrasi teknologi guru sekolah dasar," JurnalIdeguru, vol. 10, no. 1, pp. xx–xx, 2025.
[2] J. Campbell and C. van Nieuwerburgh, "The leader as coach: The role of coaching in educational leadership," Management in Education, vol. 35, no. 2, pp. 61–68, 2021, doi: 10.1177/0892020620942506.
[3] L. Darling-Hammond, L. Flook, C. Cook-Harvey, B. Barron, and D. Osher, "Implications for educational practice of the science of learning and development," Applied Developmental Science, vol. 26, no. 2, pp. 97–140, 2022, doi: 10.1080/10888691.2022.2034891.
[4] R. Dewi, "A mentoring-coaching to improve teacher pedagogic competence: An action research," International Journal of Educational Research and Innovation, no. 15, pp. 45–56, 2021.
[5] T. Geletu, A. Tadesse, and M. Bekele, "Pedagogical mentoring and coaching for improving teacher professional practices: A systematic review," Education 3–13, vol. xx, no. x, pp. xx–xx, 2026.
[6] C. Handrianto, M. H. Ubaidillah, and M. A. Rahman, "Mentoring as a strategy for enhancing elementary school teachers’ professional development," Elementary: Islamic Teacher Journal, vol. 10, no. 2, pp. 245–260, 2022.
[7] K. Marshall, The Impact of Instructional Coaching and Mentoring on Novice Elementary Teachers' Pedagogical Competence, Ph.D. dissertation, Tennessee State University, Nashville, TN, USA, 2023.
[8] C. A. Mullen, "Mentoring for teacher professional growth and educational improvement," International Journal of Mentoring and Coaching in Education, vol. 14, no. 1, pp. 1–15, 2025.
[9] M. J. Page et al., "The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews," BMJ, vol. 372, p. n71, 2021, doi: 10.1136/bmj.n71.
[10] H. Stevenson, J. Smith, and P. Walker, "Coaching and mentoring for teacher professional development: A rapid evidence review," National Institute of Teaching Research Report, pp. 1–45, 2023.
[11] M. Sulhan, "Peer mentoring sebagai strategi pengembangan profesional guru sekolah dasar," Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, vol. 14, no. 3, pp. 3221–3234, 2022.
[12] Y. Zhang, "The impact of mentorship on teacher professional development: A meta-analysis," Journal of Managerial Psychology, vol. 39, no. 6, pp. 815–832, 2024, doi: 10.1108/JMP-11-2022-0588.
N. K. Apriliantari, S. Sumarwati, and S. Suparno, “Instructional Coaching untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik dan Integrasi Teknologi Guru Sekolah Dasar,” Jurnal Ideguru, vol. 10, no. 1, pp. xx–xx, 2025.
J. Campbell and C. van Nieuwerburgh, “The Leader as Coach: The Role of Coaching in Educational Leadership,” Management in Education, vol. 35, no. 2, pp. 61–68, 2021, doi: 10.1177/0892020620942506.
L. Darling-Hammond, L. Flook, C. Cook-Harvey, B. Barron, and D. Osher, “Implications for Educational Practice of the Science of Learning and Development,” Applied Developmental Science, vol. 26, no. 2, pp. 97–140, 2022, doi: 10.1080/10888691.2022.2034891.
R. Dewi, “A Mentoring-Coaching to Improve Teacher Pedagogic Competence: An Action Research,” International Journal of Educational Research and Innovation, no. 15, pp. 45–56, 2021.
T. Geletu, A. Tadesse, and M. Bekele, “Pedagogical Mentoring and Coaching for Improving Teacher Professional Practices: A Systematic Review,” Education 3–13, vol. xx, no. x, pp. xx–xx, 2026.
C. Handrianto, M. H. Ubaidillah, and M. A. Rahman, “Mentoring as a Strategy for Enhancing Elementary School Teachers’ Professional Development,” Elementary: Islamic Teacher Journal, vol. 10, no. 2, pp. 245–260, 2022.
K. Marshall, The Impact of Instructional Coaching and Mentoring on Novice Elementary Teachers' Pedagogical Competence, Ph.D. dissertation, Tennessee State University, Nashville, TN, USA, 2023.
C. A. Mullen, “Mentoring for Teacher Professional Growth and Educational Improvement,” International Journal of Mentoring and Coaching in Education, vol. 14, no. 1, pp. 1–15, 2025.
M. J. Page et al., “The PRISMA 2020 Statement: An Updated Guideline for Reporting Systematic Reviews,” BMJ, vol. 372, p. n71, 2021, doi: 10.1136/bmj.n71.
H. Stevenson, J. Smith, and P. Walker, Coaching and Mentoring for Teacher Professional Development: A Rapid Evidence Review. London, U.K.: National Institute of Teaching, 2023.
M. Sulhan, “Peer Mentoring sebagai Strategi Pengembangan Profesional Guru Sekolah Dasar,” Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, vol. 14, no. 3, pp. 3221–3234, 2022.
Y. Zhang, “The Impact of Mentorship on Teacher Professional Development: A Meta-Analysis,” Journal of Managerial Psychology, vol. 39, no. 6, pp. 815–832, 2024, doi: 10.1108/JMP-11-2022-0588.
S. van der Linden, J. van der Meij, and S. McKenney, “Teacher Video Coaching, From Design Features to Student Impacts: A Systematic Literature Review,” Review of Educational Research, vol. 92, no. 1, pp. 90–132, 2022, doi: 10.3102/00346543211046984.
S. R. Panfilio-Padden, J. Brendefur, and K. Krone, “The Impact of Instructional Coaching on Elementary Mathematics Teaching,” International Journal of Mentoring and Coaching in Education, vol. 14, no. 1, pp. 1–19, 2024, doi: 10.1108/IJMCE-11-2022-0095.
R. Ramadhona, S. A. Padua, H. Sutrisman, B. Kusumo, R. Simanjuntak, Purnamawati, and A. Prihartanto, “Instructional Coaching and Mentorship: Investigate the Role of Instructional Coaches in Supporting Teachers’ Professional Growth and Curriculum Implementation,” Southeast Asian Journal of Management and Research, vol. 3, no. 3, 2025, doi: 10.61402/sajmr.v3i3.370.