Muhammad Naufal Al-Azizy (1), Titi Prihatin (2)
General Background Digital culture has established new spaces for visual communication, transforming online imagery into significant discursive units for societal interaction. Specific Background On specific networking platforms, these visual texts convey layered meanings that extend beyond mere entertainment to encompass potential instructional content. Knowledge Gap Previous literature predominantly explores these visuals as political critique or popular culture, leaving their pedagogical dimensions and informal knowledge construction largely unexamined. Aims This descriptive qualitative study analyzes the depiction of instructional tenets within these digital posts utilizing Roland Barthes’s sign systems and Stuart Hall’s constructivist framework. Results Findings reveal that creators successfully embed interdisciplinary knowledge—spanning botany, biology, pure science, and socio-religious topics—using intentional visual and linguistic strategies termed educational smuggling. Comedy functions as a transitional medium to translate complex scholarly concepts into communicative formats, fostering participatory knowledge construction between creators and audiences within digital spaces. Novelty This research integrates Barthes's and Hall’s theories to specifically decode informal pedagogical content, establishing a comprehensive analytical structure for digital instructional media. Implications Educators are encouraged to adopt smuggling strategies by inserting academic material into trending visual templates, thereby lowering cognitive resistance and facilitating material contextualization through everyday digital culture.
Highlights
Intentional visual comedy successfully translates complex scholarly concepts into accessible formats for digital audiences.
The strategy of educational smuggling allows creators to embed interdisciplinary knowledge seamlessly into trending online templates.
Virtual interactions transform passive content consumption into participatory environments for collective learning alongside misinterpretation clarification.
Keywords
Educational Smuggling; Roland Barthes Semiotics; Stuart Hall Representation; Digital Visual Culture; Interdisciplinary Knowledge
Perkembangan budaya digital telah menciptakan ruang baru bagi masyarakat untuk saling berkomunikasi, bertukar informasi, dan mengungkapkan gagasan melalui berbagai bentuk media visual. Salah satu bentuk ekspresi yang populer dalam budaya digital adalah meme, menurut Wiggins [1] meme didefinisikan sebagai unit diskursif yang digunakan sebagai alat kritik, parodi maupun aktivitas sosial lainnya. Dalam praktiknya meme ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga menjadi sarana komunikasi sosial yang mampu membentuk opini publik, menyampaikan kritik, serta menyebarkan pesan moral maupun edukasi secara singkat dan mudah dipahami [2]. Sejalan dengan temuan temuan Literat & Kligler-Vilenchik [3] meme digital telah bertransformasi menjadi instrumen komunikasi strategis yang mampu menyederhanakan isu kompleks menjadi sebuah narasi visual persuasif guna mempercepat distribusi pesan. Fenomena ini terlihat dalam berbagai peristiwa sosial di Indonesia, di mana meme sering digunakan masyarakat sebagai respons terhadap isu publik melalui humor visual yang kreatif.
Dalam budaya digital meme berkembang pesat di berbagai platform media sosial, salah satunya Facebook. Platform ini mempunyai karakteristik interaksi dan budaya berbagi konten yang khas khususnya di grub-grub, sehingga memungkinkan terbentuknya produksi dan pemaknaan meme yang beragam. Berdasarkan data laporan DataReportal Indonesia [4] menempati peringkat tiga dunia sebagai negara dengan pengguna aktif Facebook, dengan angka 122 juta pengguna. Dari statistik NapoleonCat [5] per Mei 2026 mencatatkan ekspansi demografis yang signifikan di mana user Facebook Indonesia mendominasi ruang horizontal kebudayaan digital dengan umur produktif 24-34 tahun (79,5 juta pengguna). Melihat dari sudut pandang komunikasi visual meme dapat dipahami sebagai teks budaya yang memuat tanda, simbol, serta pesan yang dapat dimaknai secara berbeda oleh audiens [6]. Meme di Facebook tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media komunikasi visual yang mengandung makna berlapis dan berpotensi menyampaikan nilai edukasi. Dalam perspektif semiotika Roland Barthes setiap elemen dalam meme memiliki makna denotatif dan konotatif yang memungkinkan munculnya pesan implisit di balik tampilan yang sederhana [7]. Dilihat dari teori representasi Stuart Hall menjelaskan bahwa makna tersebut tidak bersifat tetap, melainkan dikonstruksi lewat interaksi kreator, teks, dan audiens dalam konteks sosial budaya [8]. Teori representasi Stuart Hall terus relevan digunakan untuk menganalisis konstruksi makna di media digital yang mampu mengungkap cara audiens membaca pesan melalui posisi dominan, negosiasi, maupun oposisional [9]. Dengan demikian, meme dapat dipahami sebagai medium yang tidak hanya mempresentasikan realitas, tetapi juga berperan dalam membentuk dan menyampaikan nilai edukasi secara informal di ruang digital.
Kajian mengenai meme dalam penelitian terdahulu umumnya lebih banyak menyoroti fenomena meme sebagai sarana kritik politik, humor, atau ekspresi budaya populer. Suhantoro & Sufyanto [10] mengkaji peran meme politik sebagai katalisator dalam membentuk pandangan audiens melalui pesan visual yang persuasif. Irmadini et al., [11] menyoroti bagaimana Generasi Z menggunakan meme sebagai ekspresi identitas kolektif dan kritik sosial. Selain itu, Wahyudi et al., [12] memperlihatkan peran meme dalam membangun wacana yang memengaruhi persepsi publik brand. Adha dan Mahadian mengungkap representasi kritik sosial terhadap lembaga legislatif di Twitter. Sementara itu [13] menunjukkan adanya perbedaan orientasi antara meme yang dibuat oleh brand dan pengguna di Instagram. Agrawal et al., [14] menegaskan perkembangan kajian meme ke arah analisis multimodal berbasi kecerdasan buatan yang mencakup klasifikasi, interpretasi, hingga generasi konten meme secara otomatis.
Berdasarkan telaah penelitian terdahulu, kajian mengenai meme lebih banyak menyoroti fungsi meme sebagai sarana humor, kritik politik, atau ekspresi budaya populer, sementara dimensi edukatifnya dibiarkan begitu saja dan belum banyak untuk dikaji. Sebagian besar juga penelitian masih fokus pada konteks umum media sosial tanpa memfokuskan ataupun menyoroti satu platform yang spesifik. Padahal, Facebook memiliki pola interaksi pengguna dan budaya konten yang khas, sehingga berpotensi membentuk cara produksi dan pemaknaan meme yang berbeda terhadap platform lainnya [15]. Berangkat dari kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan kebaruan dalam dua hal. Yang pertama secara empiris, penelitian ini secara spesifik mengkaji meme edukatif di Facebook sebagai platform dengan karakteristik interaksi dan budaya berbagi konten yang khas, berbeda dari kajian meme pada platform lain seperti Twitter atau Instagram. Yang kedua secara teoritis penelitian ini menyeleraskan semiotika Roland Barthes dan Representasi Stuart Hall sebagai strukturanalisis terpadu untuk menguraikan lapisan makna meme yang dimulai dari tahapan denotasi, konotasi, dan mitos, sekaligus menerangkan bagaimana makna tersebut dibedah melalui hubungan kreator, teks, dan audiens. Gabungan dua struktur ini belum banyak diterapkan secara menyeluruh dalam kajian meme edukasi di platform Facebook, sehingga penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pendekatan analisis konten digital edukatif yang lebih luas.
Dalam penelitian ini dirumuskan dalam dua pertanyaan utama. Yang pertama, bagaimana nilai edukasi dalam meme di Facebook direpresentasikan melalui analisis semiotika Roland Barthes. Yang kedua, bagaimana struktur representasi menurut Stuart Hall mengonstruksi pengetahuan edukatif dari berbagai bidang ilmu pada konten meme Facebook. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai edukasi dalam meme di Facebook menggunakan kerangka semiotika Roland Barthes, serta menjelaskan proses konstruksi pengetahuan edukatif dari berbagai bidang ilmu menurut teori representasi Stuart Hall. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena tanpa analisis mendalam, dimensi edukatif dalamm meme akan terabaikan atau hanya dipahami secara dangkal. Diharapkan penelitian ini hadir dapat mengisis kekosongan tersebut dengan membedah konten meme edukatif di Facebook sebagai kajian utama. Lebih jauh, hasil penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam pengembangan kajian semiotika media digital, serta menjadi referensi akademis mengenai pemanfaatan meme sebagai media edukasi yang efektif.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian analisis semiotika. Pendekatan kualitatif deskriptif dipilih karena penelitian ini berusaha menganalisis dan memahami representasi nilai edukasi yang ada dalam fenomena meme dalam konten meme di Facebook [16]. Sumber data penelitian ini bersumber dari data primer berupa konten visual/konten meme yang diperoleh langsung di Facebook. Data dikumpulkan melalui proses identifikasi, seleksi, dan dokumentasi meme yang termuat nilai edukasi. Pemilihan data dilakukan menggunakan teknik purposive sampling atau pemilihan sampel dengan kriteria tertemtu sesuai dengan tujuan penelitan. Adapun kriteria inklusi yang ditetapkan meliputi: (1) meme yang secara eksplisit memuat pesan atau informasi edukatif yang dapat diidentifikasi, (2) meme yang berasal dari konten yang diunggah dan beredar di platform Facebook baik di halaman atau grub terbuka, (3) meme yang mengandung kombinasi elemen visual dan teks, (4) meme yang merepresentasikan domain pengetahuan yang beragam (saisns, biologi, lingkungan, dan sosial-religius) guna memperoleh variasi temuan yang kaya. Meme yang hanya bersifat hiburan tanpa konten faktual atau edukatif yang dapat di validasi dikecualikan dan analisis. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh empat meme sebagai uni analisis yang dipandang memadai dalam penelitian kualitatif semiotika berbasis purposive sampling, mengingat kedalaman analisis diutamakan daripada kuantitas sampel [17]. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik ketekunan pengamatan (persistent observation) dengan cara membaca dan menganalisis ulang setiap meme secara berulang dalam rentang waktu yang berbeda, sehingga interpretasi yang dihasilkan bersifat konsisten dan tidak bersifat kebetulan. Tak hanya itu, dilakukan pengecekan referensial (referencial adequacy) dengan membandingkan hasil analisis terhadap literatur semiotika dan kajian meme yang relevan untuk memvalidasi kesesuaian temuan dengan teori yang digunakan.
Proses pengumpulan data dalam penelitian ini melalui dokumentasi digital dan studi kepustakaan. Dokumentasi digital ini digunakan untuk menelusuri konten meme edukasi yang ada dalam Facebook, sedangkan studi kepustakaan ini dilakukan dengan penelusuran sistematis terhadap berbagai literatur yang selaras dengan topik penelitian ini untuk memperkuat landasan teori. Instrumen penelitian berupa lembar analisis semiotika yang digunakan untuk mengkaji elemen visual dan teks dalam meme.
Sumber: Diolah Penyusun, 2026
Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, pendekatan semiotika Roland Barthes yang mencakup denotasi, konotasi, dan mitos banyak digunakan dalam kajian konten digital karena mampu mengungkap lapisan makna yang tidak tampak di permukaan [18]. Analisis dimulai dengan mengidentifikasi elemen-elemen meme terlebih dahulu baik sebagai penanda (signifier) dan petanda (signified), lalu dianalisis yang meliputi tiga tahap yaitu analisis denotasi untuk mengidentifikasi makna literal, konotasi untuk mengungkap makna yang bersifat simbolik, mitos untuk memahami makna ideologis atau nilai yang terkandung dalam meme. Pada tahapan pertama (denotasi), tanda menghubungkan penanda dan petanda secara nyata dengan realitas, sehingga menghasilkan makna yang bersifat literal. Pada tahapan kedua, tanda berkembang dalam konteks budaya menjadi konotasi, makna yang dipengaruhi nilai, emosi, dan pengalaman audiens. Pada tahap ini signifikasi kedua, makna berkembang jadi mitos yang diartikan sistem pemaknaan yang menjelaskan realitas berdasarkan konstruksi budaya. Dengan demikian, tanda pada tahap pertama berfungsi sebagai dasar terbentuknya makna konotatif dan mitos pada tahap kedua.
Hasil analisis kemudian diinterpretasikan untuk mengungkap representasikan nilai edukasi konten meme dalam Facebook dengan menggunakan teori Stuart Hall dari komunikasi visual dalam budaya digital. Analisis ini mempertimbangkan tiga pendekatan representasi Stuart Hall yaitu pendekatan reflektif, pendekatan intensional, dan pendekatan konstruksionis. Pendekatan reflektif digunakan untuk mengidentifikasi sejauh mana meme merepresentasikan lrealitas sosial atau fenomena ilmiah yang ada. Pendekatan intensional digunakan untuk menelaah maksud kreator meme dalam menyampaikan pesan edukasi. Sementara pendekatan konstuksionis digunakan untuk memahami bagaiaman makna akhir dibentuk melalui interaksi teks, visual, dan interpretasi audiens dalam konteks budaya digital.
A.Representasi Nilai Edukasi dalam Konten Meme Facebook
Meme di media sosial tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi sebagai alat komunikasi yang mempresentasikan realitas sosial dan pengetahuan [19]. Melalui karakter visual dan kemudahan distribusi, meme mampu menyampai pesan secara implisit khususnya nilai edukasi. Berdasarkan dokumentasi konten di Facebook, ditemukan meme yang merepresentasikan nilai edukasi yang dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes dan representasi Stuart Hall sebagai berikut:
Gambar 2. Meme Karya @Sarif Efzi [2]
Tabel 1. Analisis Semiotika Roland Barthes [2]
Penulis juga mendedikasikan rasa terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua serta seluruh keluarga tercinta yang tiada hentinya memberikan doa, dukungan moral, kasih sayang, dan motivasi di setiap tahapan perjalanan akademik penulis. Pada gambar 2 karya @Sarif Efzi denotasi menampilkan interaksi berupa percakapan serius antara tiga karakter anak-anak yang berdebat apakah pohon sawit dapat diklasifikasikan sebagai pohon pelindung atau tidak. Di tahap denotasi inilah menampilkan perbandingan fisik antara pohon sawit (akar serabut, batang, tidak berkayu, tajuk lebar) dan pohon hutan sejati (berkayu keras, akar tunggang) melalui dialog interaktif tiga karakter anak-anak. Secara konotatif penggunaan diksi santai “Kau tuh monokotil” berfungsi sebagai jembatan linguistik untuk meruntuhkan keawaman istilah biologi. Strategi humor yang dipakai punya arti yang mendalam, sengaja digunakan untuk mengedukasi audiens mengenai kekeliruan pemahaman dalam memahami klasifikasi tanaman. Perbedaan anatomi vegetasi inilah secara mutlak mempengaruhi fungsi ekologisnya dalam menyerap air dan menahan tanah. Akibatnya pada tahapan mitos, meme ini berhasil memaknai bias “penghijauan semu” (greenwashing) di masyarakat, sehingga terbentuk kesadaran ekologis baru bahwa kelapa sawit merupakan simbol kegagalan konservasi alam jika dipaksakan untuk menggantikan peran hutan sejati dalam melakukan mitigasi bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Gambar 3. Meme Karya @Emuinfo [3]
Tabel 2. Analisis Semiotika Roland Barthes [2]
Gambar 3 meme karya @Emuinfo pada bagiam denotasi menyajikan kombinasi gambar seorang pria dengan ekspresi kedinginan yang ekstrem berpadu dengan teks penjelasan ilmiah mengenai respons saraf simpatik terhadap dingin, takut, atau emosi kuat. Secara konotatif ekspresi didramatis lewat gaya visual khas meme yang berfungsi sebagai jembatan emosional untuk mengemas informasi sains yang berat menjadi terasa ringan dan mudah dipahami oleh audiens awam. Pada tataran mitos, signifikasi tersebut mengonstruksi pandangan bahwa reaksi sensorik harian tubuh seperti merinding (piloereksi) bukanlah hal mistis atau sekedar perasaan biasa, melainkan produk mekanisme biologis yang punya dasar ilmiah rasional.
Gambar 4. Meme Karya @ Miaw Tau [4]
Tabel 3. Analisis Semiotika Roland Barthes [3]
Pada gambar 4 meme karya tataran denotasi memperlihatkan alur naratof visual interaksi tiga ekor siput yang menggunakan personifikasi dialog romantis, di mana salah satu siput mengalami perubahan fisik pada bagian tentakel akibat infeksi parasit Leucochloridium paradoxum. Pada sudut pandang konotatif kontras antara narasi rayuan “cantik banget njir” dengan kenyataan perubahan fisik siput yang tidak normal menyiratkan pesan bahwa hubungan yang tampak menarik dari luar bisa menyimpan bahaya fatal, karena perilaku inang telah dikendalikan oleh parasit demi kelangsungan siklus hidupnya. Sudut pandang mitos tanda ini berkembang menjadi pemahaman filosofis atau biologis bahwa interaksi mahluk hidup tidak selalu berjalan saling menguntungkan. Penampilan fisik yang memikat justru dipahami sebagai kamuflase ekologis yang manipulatif, di mana parasit direpresentasikan sebagai kekuatan tersembunyi yang mengeksploitasi inangnya dalam sistem simbiosis parasitisme.
Gambar 5. Meme karya @Beginilah Aguy Apa Adanya
Tabel 4. Analisis Semiotika Roland Barthes
Gambar ke 5 meme karya @Beginilah Aguy Apa Adanya, pada bagian tataran denotasi memotret transaksi pertukaran uang baru senilai 500 ribu rupiah yang berkurang jadi 450 ribu rupiah dengan dalih “biaya admin”, yang kemudian ditutup dengan penegasan teologis “Hanya mengingatkan bahwasannya iru adalah riba”. Secara konotatif, istilah biaya admin dan reaksi kaget si penukar uang dianalisis sebagai bentuk kritik sosial terhadap eufemisme bahasa ekonomi yang kerap digunakan masyarakat untuk melegitimasi praktik pengambilan keutungan sepihak. Hal ini membawa pemaknaan pada tataran mitos di mana riba disebut sebagai praktik yang dilarang dalam tatanan nilai moral agama Islam. Meme ini membangun kesadaran etis bahwa aktivitas ekonomi sejenis yang tidak setara nominalnya dianggap cacat secara esensi religius, sehingga memicu sudut pandang baru yang kritis bagi audiens terhadap praktik finansial harian yang dianggap lumrah.
B.Konstruksi Pengetahuan Edukatif Lintas Bidang Ilmu dalam Konten Meme Facebook
Struktur representasi Suart Hall bermula dari pendekatan reflektif, di mana teks visual meme bertindak sebagai cermin (mirror) yang memotret dan merefleksikan realitas empiris, fenomena alam, atau kondisi sosiologis yang riil di tengah masyarakat. Berdasarkan data penelitin, keempat unit analisis meme merefleksikan berbagai problem kognitif dan fenomena nyata dari bidang ilmu yang berbeda secara mendalam. Dalam bidang edukasi lingkungan dan botani, meme karya @Sarif Efzi merefleksikan kondisi nyata mengenai kecenderungan masyarakat untuk menggeneralisasi bahwa seluruh vegetasi hijau berdaun lebar secara otomatis memiliki kapasitas ekologis yang sama sebagai pohon penahan bencana. Sementara itu, pada bidang sains murni, meme dari @Emuinfo merefleksikan fenomena bilogis harian berupa respon piloereksi atau merinding sebagai mekanisme alami tubuh saat menghadapi rangsangan dingin maupun luapan emosi. Refleksi terhadap hukum alam juga terlihat kuat pada meme karya @Miaw Tahu yang mengangkat realitas objektif mengenai siklus hidup parasit Leucholoridium paradoxum yang menginfeksi sosiologi perilaku siput darat. Pada dimensi sosial-religius, meme karya @Beginilah Aguy Apa Adanya merefleksikan potret sosiologis musiman di Indonesia menjelang Idul Fitri, di mana praktik jasa penukaran uang baru sering kali mengambil keuntungan sepihak melalui selisih nominal dengan dalih biaya administrasi. Melalui pendekatan reflektif, pengetahuan edukatif lintas bidang ilmu tidak lagi terasa teoritis bagi audiens awam, karean konstruksi maknanya bertumpu pada realitas terdekat yang relevan dengan keseharian mereka.
Konstruksi pengetahuan edukatif berlanjut pada pendekatan intensional, yang menitikberatkan pada tujuan, intensi, dan tujuan konseptual dari sang kreator konten selaku produsen tanda. Analisis diskursus terhadap keempat meme menunjukkan adanya intensi sadar dari para kreator untuk menyisipkan edukasi (educational smuggling). Kreator secara sengaja menyandingkan istilah-istilah ilmiah asli yang kaku dengan visual populer komikal untuk menurunkan resistensi kognitif audiens awam. Dalam lingkup botani dan biologi, kreator mempertahankan penggunaan jargon teoritis seperti “monokotil”, “saraf simpatik”, “piloereksi”, hingga nama ilmiah spesies "Leucochloridium paradoxum". Sementara dalam bidang sosial-agama, istilah “biaya admin” dibenturkan langsung dengan konsep hukum teologis “riba”. Penggunaan humor, dialog romantis tiruan, ataupun ekspresi visual yang dramatis pada awal panel berfungsi sebagai umpan untuk menarik atensi . Perubahan nada komunikasi inilah yang bergeser menjadi serius di akhir panel mengkonfirmasi adanya intensi terukur dari kreator agar audiens tidak sekedar terhibur, melainkan membawa pulang sebuah pemahaman ilmu pengetahuan yang substantif.
Pendekatan Konstruksionis adalah muara dari struktur representasi Stuart Hall yang menjelaskan bagaimana pengetahuan edukatif lintas bidang ilmu yang dalam ruang digital. Pada tahap inilah makna edukatif bersifat final pada lembar visual meme saja. Melainkan dikonstruksi secara aktif, dinamis, dan kolektif melalui interaksi bahasa, simbol visual, dan interpretasi budaya oleh audiens. Media meme memiliki karakteristik bahasa visual yang khas di mana potongan gambar ikonik, ekspresi karakter, alur cerita panel, serta teks ilmiah yang disandingkan bekerja bersama-sama sebagai sebuah sistem tanda untuk melahirkan sudut pandang baru. Melalui arsitektur antarmuka Facebook yang akomodatif, sebuah unggahan meme bertransformasi menjadi ruang diskursif yang horizontal. Ketika sebuah meme didistribusikan, audiens tidak hanya bertindak sebagai konsumen pasif, melainkan terlibat dalam interaksi tingkat tinggi (high-engagement interaction) pada kolom komentar. Utas diskusi (thread) yang panjang pada unggahan meme menjadi tempat netizen dari berbagai latar belakang saling berdebat, mengklarifikasi miskonsepsi sains, menambahkan rujukan ilmiah baru, hingga berdialektika mengenai batas moralitas. Dengan demikian, media meme di ruang digital tidak lagi diposisikan sebagai sekadar alat parodi instan, melainkan sebuah teks budaya konstruktif yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan informal antara kreator dan audiens secara emansipatif.
Representasi nilai edukasi dalam meme di Facebook menunjukkan bahwa konten visual telah bertransformasi menjadi media instruksional informal yang efektif melalui sistem humor visual. Efektivitas meme sebagai media edukasi sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa meme dapat meningkatkan minat belajar dan kemampuan berpikir kritis peserta didik [20]. Penggunaan meme juga terbukti memperlancar penerimaan informasi ilmiah oleh audiens awam. Temuan ini memperluas hasil Carlos & Delocado [19] yang menunjukkan peningkatan prestasi akademik siswa melalui meme biologi, dengan menunjukkan bahwa efek edukatif meme tidak terbatas pada konteks pembelajaran formal di kelas, melainkan juga berlangsung secara organik di ruang informal media sosial. Berbeda dari kajian Suhantoro & Sufyanto Melalui kerangka semiotika Roland Barthes, makna edukatif tersebut dikonstruksi dari sistem signifikasi tingkat pertama (denotasi) menuju makna yang lebih dalam (konotasi) hingga menjadi sebuah mitos budaya. Berdasarkan analisis semiotika Roland Barthes sebelumnya, meme yang dikaji menunjukkan bahwa setiap konten merepresentasikan nilai edukasi yang beragam sesuai konteksnya. Meme tentang jenis pohon karya @Sarif Efzi merepresentasikan nilai edukasi lingkungan melalui pemaknaan terhadap perbedaan fungsi vegetasi dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terkhusus menjaga lingkungan yang berfungsi jadi resapan air. Meme siput karya @Miaw Tau merepresentasikan nilai edukasi biologi yang berkaitan dengan simbiosis parasitisme. Dalam meme merinding karya @Emuinfo merepresentasikan nilai edukasi sains lewat pemahaman terhadap mekanisme biologis tubuh manusia ketika kedinginan, ketakukan, dan emosi yang bergejolak. Meme tentang riba karya @Beginilah Aguy Apa Adanya merepresentasikan nilai edukasi sosial dan agama berkaitan dengan praktik ekonomi dalam pandangan nilai moral. Ragam meme ini menunjukkan bahwa meme tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menciptakan pengetahuan lintas bidang secara situasional.
Dalam perspektif representasi Stuart Hall, nilai edukasi tersebut tidak hadir secara nyata sebagai realitas objektif, melainkan dikonstruksi melalui praktik representasi yang memadukan eleven bahasa, visual, dan konteks budaya. Perspektif ini memperkuat argumen bahwa media sosial khususnya Facebook bukan hanya sebagai distribusi konten, tapi ruang konstruksi makna bersifat partisipatif [21]. Melihat hal itu meme berperan sebagai teks budaya yang memungkinkan terjadinya penukaran pengetahuan informal antara kreator dan audiens secara horizontal di ruang digital [22]. Meme berfungsi sebagai sistem tanda yang mengaikatkan kehidupan sehari-hari dengan konsep yang lebih abstrak, sehingga memungkinkan audiens membangun pemaknaan baru. Proses ini memperlihatkan bahwa makna edukasi dalam meme bersifat logis yang menempatkan audiens tidak hanya akan menerima pesan, tetapi juga terlibat dalam proses interpretasi yang dipengaruhi oleh latar sosial dan pengetahuan sebelumnya. Searah dengan kerangka semiotika Roland Barthes, konstruksi makna meme bergerak dari representasi literal mengarah pemaknaan yang lebih dalam yang berdampak untuk membentuk kesadaran. Dalam konteks tersebut meme berfungsi sebagai medium yang mampu mentransformasikan konsep ilmiah, sosial, maupun religius ke dalam bentuk yang lebih sederhana dan komunikatif [23].
Penelitian ini menunjukkan bahwa konten visual meme di Facebook telah bertransformasi menjadi media instruksional informal yang efektif dan emansipatif melalui sistem humor visual. Melalui analisis semiotika Roland Barthes, makna edukatif dalam meme dikonstruksi secara berlapis mulai dari penangkapan fenomena rill secara harfiah pada denotasi, penyederhanaan materi berat melalui jembatan emosional humor pada tahap konotasi, hingga pembentukan kesadaran kritis atau mitos budaya baru di masyarakat. Secara konkret, temuan spesifik dari keempat unit analisis menunjukkan kekuatan representasi edukatif yang beragam sesuai konteks keilmuannya, seperti pada meme lingkungan karya @Sarif Efzi yang berhasil mendekonstruksi bias greenwashing terkait fungsi ekologis kelapa sawit vs pohon hutan, meme sains murni karya @Emuinfo yang merasionalisasi respons biologis piloereksi (merinding) sebagai mekanisme saraf simpatik, meme biologi karya @Miaw Tau yang mempersonifikasikan infeksi parasitisme Leucochloridium paradoxum pada siput, serta meme sosial-keagamaan karya @Beginilah Aguy Apa Adanya yang secara kritis menyentil unsur riba di balik eufemisme "biaya admin" pada jasa penukaran uang musiman.Sejalan dengan itu, berdasarkan struktur representasi Stuart Hall, meme terbukti mampu mengonstruksi pengetahuan lintas disiplin ilmu baik lingkungan, biologi, sains murni, maupun sosial-religius secara konstektual yang melalui tiga pendekatan yang meliputi pendekatan reflektif yang memotret problem kognitif riil , pendekatan intensional yang menunjukkan upaya sadar kreator dalam melakukan penyusupan edukasi (educational smuggling), serta pendekatan konstruksionis yang mengubah ruang interaksi Facebook menjadi wadah partisipatif untuk berdialektika dan mengklarifikasi miskonsepsi secara horizontal antara kreator dan audiens.
Temuan ini membawa pada implikasi praktis yang siginifikan serta rekomendasi lanjutan bagi tenaga pendidik dalam mengoptimalkan meme sebagai media pembelajaran formal atau informal. Pendidik dapat mengadaptasi strategi educational smuggling dengan menyisipkan materi pembelajaran atau istilah ilmiah yang kaku ke dalam templat visual meme yang sedang tren guna menurunkan resistensi kognitif awal siswa sekaligus memantik minat belajar siswa. Dengan adanya meme pendidik dapat lebih aktif melakukan kontekstualisasi materi ajar dengan mengurasi atau memproduksi konten yang merefleksikan realitas sosiologis dan fenomena ilmiah terdekat dari kehidupan sehari-hari siswa melalui sistem humor visual, sehingga proses transfer pengetahuan dapat berlangsung secara lebih inklusif, cair, dan emansipatif di dalam kelas maupun di luar kelas.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada progam studi Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Semarang atas dukungan akademis selama proses penelitian berlansung. Apresiasi juga disampaikan kepada Ibu Titi Prihatin selaku pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan, dan bimbingan yang sangat berharga dalam penyusunan artikel ini. Penulis juga mendedikasikan rasa terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua serta seluruh keluarga tercinta yang tiada hentinya memberikan doa, dukungan moral, kasih sayang, dan motivasi di setiap tahapan perjalanan akademik penulis. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan banyak kepada para kreator konten meme edukatif di Facebook yang karyanya menjadi objek kajian dalam penelitian ini, serta kepada para reviewer yang telah memberikan masukan konstruktif demi peningkatan kualitas artikel.
[1] B. E. Wiggins, The Discursive Power of Memes in Digital Culture. 2019. doi: 10.4324/9780429492303-2.
[2] S. Mukhtar, Q. Ul Ain Ayyaz, S. Khan, A. Muhammad Nawaz Bhopali, M. Khalid Mehmood Sajid, dan A. Wasaya Babbar, “Information Technology Qasimabad Hyderabad 5 BS English Ghazi University DG Khan 6 Teaching Faculty at College of Applied Medical Sciences, Alhasa Campus, King Saud bin Abdul Aziz University for Health Sciences, Saudi Arabia 7 Elmentry School Teacher GHSS,” Theory Pract., vol. 30, no. 6, hal. 1443–1455, 2024, doi: 10.53555/kuey.v30i6.5520.
[3] I. Literat dan N. Kligler-Vilenchik, “Youth collective political expression on social media: The role of affordances and memetic dimensions for voicing political views,” New Media Soc., vol. 21, no. 9, hal. 1988–2009, 2019, doi: 10.1177/1461444819837571.
[4] S. KEMP, “Digital 2025: Indonesia,” DATAREPORTAL, 2025. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
[5] NapoleonCat, “Facebook users in Indonesia May 2026,” NapoleonCat, 2026. https://stats.napoleoncat.com/facebook-users-in-indonesia/2026/05/
[6] R. Rogers dan G. Giorgi, “What is a meme, technically speaking?,” Inf. Commun. Soc., vol. 27, no. 1, hal. 73–91, 2024, doi: 10.1080/1369118X.2023.2174790.
[7] E. Barus, A. Aisyah, E. F. Siregar, dan R. Risnawaty, “An Analysis of Roland Barthes’ Semiotic Theory: Focusing on Denotation, Connotation, and Myth,” Int. J. Educ. Res. Excell., vol. 4, no. 2, hal. 355–363, Jul 2025, doi: 10.55299/ijere.v4i2.1438.
[8] S. Hall, Representation Cultural Representations and Signifying Practices. 1 Oliver’s Yard, 55 City Road London EC1Y 1SP United States: SAGE Publications Ltd, 1997. doi: 10.4135/9781036232825.
[9] A. Platonov, “Deconstructing Western Culture: Stuart Hall’s Approach to Critical Theory,” Patria, vol. 1, no. 2, hal. 62–80, 2024, doi: 10.17323/3034-4409-2024-1-2-62-80.
[10] I. Suhantoro dan S. Sufyanto, “Meme sebagai Katalisator Politik di Media Sosial Indonesia,” Interact. Commun. Stud. J., vol. 1, no. 2, hal. 119–128, 2024, doi: 10.47134/interaction.v1i2.2887.
[11] I. M. Irmadini, E. Purwanto, Fitri, N. Agustin, dan M. Agustin, “Budaya Meme sebagai Ekspresi Budaya Populer Generasi Z,” J. Desain Komun. Vis., vol. 2, no. 3, hal. 10, 2025, doi: 10.47134/dkv.v2i3.4273.
[12] F. Wahyudi, M. Nur Salam, dan A. Ismail, “Ideologi dan pesan tersirat dalam meme: Analisis struktur visual dan teks,” J. Komun. Vis. Indones., vol. 5, no. 1, hal. 55–70, 2023.
[13] A. Agrawal, D. Sharma, M. K. Mishra, M. A. Shah, M. Alam, dan V. Khandelwal, “How to cook a meme: exploring content strategies in brand and user-generated memes on Instagram,” Cogent Bus. Manag., vol. 11, no. 1, hal., 2024, doi: 10.1080/23311975.2024.2366001.
[14] B. Wang et al., “Internet meme on social media: A comprehensive review and new perspectives,” Inf. Fusion, vol. 130, no. October 2025, hal. 104102, 2026, doi: 10.1016/j.inffus.2025.104102.
[15] D. Zulli dan D. Zulli, “Extending the Internet meme: Conceptualizing technological mimesis and imitation publics on the TikTok platform,” New Media Soc., vol. 24, hal. 1872–1890, Agu 2022, doi: 10.1177/1461444820983603.
[16] J. W. Creswell dan C. N. Poth, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. SAGE Publications, 2024. [Daring]. Tersedia pada: https://books.google.co.id/books?id=nFr2EAAAQBAJ
[17] S. Sugiyono, “The evaluation of facilities and infrastructure standards achievement of vocational high school in the Special Region of Yogyakarta,” J. Penelit. Dan Eval. Pendidik., vol. 25, no. 2, hal. 207–217, 2021.
[18] S. Sunaryanto dan A. Rofi Syamsuri, “Semiotika Dakwah Digital dalam Meme Ajakan Salat Jumat,” KOMUNIDA Media Komun. dan Dakwah, vol. 12, no. 2, hal. 103–124, Nov 2022, doi: 10.35905/komunida.v12i2.2874.
[19] A. D. Nicole CARLOS dan E. D. Delocado, “Utilizing Internet Memes in Senior High School Biology to Improve Gen Z’s Academic Achievement, Attitude, and Self-efficacy,” Asian J. Biol. Educ., hal. 34–53, 2024, [Daring]. Tersedia pada: https://doi.org/10.57443/ajbe.a6.0_34
[20] M. M. Sukma, G. A., Muhammad, M., Al Faza, “Science Meme Sebagai Stimulus Kemampuan Berpikir kritis Siswa Pada Pembelajaran IPA SMP,” Semin. Nas. IPA, hal. 584–590, 2024, [Daring]. Tersedia pada: https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/3743%0Ahttps://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/download/3743/3183
[21] M. Rahman, I. Nursyabilah, P. Astuti, M. I. Syam, S. Mukramin, dan W. O. I. Kurnawati, “Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Media Pembelajaran,” J. Educ., vol. 5, no. 3, hal. 10646–10653, 2023, doi: 10.31004/joe.v5i3.1890.
[22] K. P. N. Nguyen et al., “MemeQA: Holistic Evaluation for Meme Understanding,” Proc. Annu. Meet. Assoc. Comput. Linguist., vol. 1, hal. 18926–18946, 2025, doi: 10.18653/v1/2025.acl-long.927.
[23] X. Huang, Y. Han, Y. Ran, Y. Yang, dan Y. Yang, “The Rise of Cross-Language Internet Memes: A Social Semiotic Analysis,” Signs Soc., vol. 12, no. 2, hal. 125–141, Jan 2024, doi: 10.1086/729125.