Adinda Putri Eka Oktaviani (1), Sonja Andarini (2)
General Background: Brand equity is essential in competitive food and beverage franchise markets because consumers evaluate brands through awareness, association, perceived quality, and loyalty. Specific Background: Two ice cream and tea franchise brands in Surabaya were compared because preliminary survey findings showed unequal consumer preference and taste as the main product selection consideration. Knowledge Gap: Prior studies have discussed brand equity dimensions, yet comparative evidence on brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyalty in contemporary ice cream and tea franchise consumers remains limited. Aims: This study aimed to compare brand equity dimensions between two ice cream and tea franchise brands among consumers in Surabaya. Results: Using a quantitative comparative approach with 100 respondents and Independent Samples T-Test analysis, the findings show significant differences in brand awareness, perceived quality, and brand loyalty, each with a significance value of 0.000. Brand association showed no significant difference, with a significance value of 0.259. One brand was stronger in recognition, purchase, consistent quality, word of mouth, and repeat purchasing, while the other was stronger in recall, consumption, acceptable quality, consistent performance, and rejection of other brands. Novelty: This study compares four brand equity dimensions simultaneously in the ice cream and tea franchise context. Implications: The findings support brand strategy development based on differentiated awareness, quality perception, and loyalty indicators.
Highlights:
Keywords: Brand Awareness, Brand Association, Perceived Quality, Brand Loyalty
Di antara beragam jenis bisnis yang menarik perhatian, setiap tahunnya tren baru terus bermunculan di bidang franchise (waralaba) minuman. Kondisi ini menjadikan bisnis tersebut sangat diminati dan digemari oleh masyarakat, dengan perkembangan pesat dalam sektor waralaba turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan bisnis di Indonesia . Bisnis franchise ialah model bisnis yang dijalankan melalui kemitraan antara pemilik merekdengan pihak lain yang memperoleh hak untuk menjalankan usaha tersebut. Hak tersebut mencakup dukungan merek, penerapan sistem operasional, serta akses terhadap dukungan lain yang diatur dalam kontrak kerja sama . Dengan banyaknya perusahan baru yang terus bermunculan membuat semakin ketatnya persaingan bisnis di indonesia khususnya di bidang franchise F&B. Dampaknya mendorong banyak produsen lokal dan asing untuk membuka bisnis franchise di Indonesia, termasuk dalam sektor minuman kekinian.
Momoyo dan Mixue adalah dua merek yang menonjol dalam industri minuman kekinian es krim dan teh yang ada di Indonesia. Untuk mendapatkan gambaran awal, peneliti telah melakukan pra-survei pada 50 orang konsumen yang dilakukan di kota Surabaya dengan kriteria pernah membeli merek Momoyo dan Mixue disajikan pada gambar 1
Gambar 1. Hasil Pra Survei
Pada hasil pra survei yang dilakukan peneliti menunjukan bahwa responden memilih Mixue sebagai ice cream and tea paling favorit dengan perolehan 42 (84%) responden. Meskipun demikian, responden yang memilih Momoyo sebagai ice cream and tea paling favorit tergolong cukup rendah dengan perolehan 8 (16%).
Konsumen biasanya mempunyai pertimbangan tersendiri saat membeli minuman atau es krim. Hal ini dapat dibuktikan melalui pra survei yang dilakukan oleh peneliti ditunjukkan pada gambar 2
Gambar 2. Hasil Pra Survei
Dari hasil pengolahan data, dapat dibuktikan bahwa yang menjadi dasar konsumen untuk mempertimbangkan faktor paling penting dalam menentukan pilihan produk es krim maupun minuman adalah rasa.
Dengan ketatnya persaingan pasar, faktor penting yang menentukan eksistensi kemajuan operasional sebuah bisnis dapat dilihat dari ketahanan merek. Konsep ekuitas merek dibangun oleh empat dimensi yang terdiri dari brand awareness, brand association, perceived quality dan brand loyalty . Pertama brand awareness berhubungan dengan seberapa jauh konsumen mampu mengenali sekaligus mengingat identitas suatu produk. Dalam pemasaran langkah awal itu penting sehingga pengenalan merek harus dilakukan karena jika sebuah merek bahkan tidak dikenali lalu bagaimana sebuah merek akan sampai pada tahap dipilih .
Kedua brand association merupakan sekumpulan informasi dalam ingatan konsumen yang memberikan makna mendalam bagi sebuah identitas produk . Ketiga perceived quality adalah cara konsumen menilai kualitas suatu produk secara menyeluruh . Keempat brand loyalty mengacu pada konsistensi perilaku konsumen dalam memilih suatu merek, sehingga mendorong kemungkinan konsumen terus menggunakan serta merekomendasikan merek kepada orang lain . Berlandaskan uraian di atas melandasi keinginan peneliti untuk meneliti tentang dimensi ekuitas merek pada konsumen Momoyo dan Mixue di wilayah Surabaya. Ketertarikan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan kajian dengan judul “Brand Awareness Quality and Loyalty Separate Momoyo and Mixue”.
Pendekatan kuantitatif menggunakan analisis komparatif dipilih dalam metode penelitian yang dilakukan, untuk menguji bagaimana dua kelompok atau lebih saling bertolak belakang atau justru sejalan . Responden dalam penelitian ini merupakan konsumen Momoyo dan Mixue yang berdomisili di Surabaya dengan usia minimal 15 tahun dengan intensitas pembelian setidaknya satu kali atau lebih dalam sebulan terakhir. Data primer digunakan sebagai sumber data di mana kuisioner disebarkan kepada 100 responden yang dipilih melalui teknik nonprobability sampling dengan menggunakan metode purposive sampling.
Distribusi instrumen penelitian dilakukan secara daring memanfaatkan Google Form sebagai media penyebaran untuk memperluas jangkauan responden. Data yang diukur dengan skala Likert ini dianalisis melalui program SPSS versi 27 dan Microsoft Excel tujuannya untuk mempermudah perhitungan serta membantu memahami hasil penelitian. Maka dari itu metodologi analisis data yang di gunakan mencakup uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik dan uji beda T-Test.
Konsumen Momoyo dan Mixue di wilayah Surabaya ditinjau dari kelompok usia didominasi oleh kelompok muda, dengan mayoritas responden berada pada kategori usia 21 hingga 25 tahun dengan presentase sebesar 54%. Untuk klasifikasi jenis kelamin didominasi oleh kelompok perempuan dengan 71% responden. Merujuk pada wilayah tempat tinggal yang diperoleh, partisipan penelitian ini terdistribusi ke dalam lima wilayah dengan domisili terbanyak ialah Surabaya Timur sebanyak 34% responden.
Sebelum instrumen penelitian digunakan, diperlukannya uji validitas dengan membandingkan nilai r-hitung terhadap r-tabel guna memastikan bahwa setiap butir pernyataan dinyatakan layak dalam instrumen penelitian. Dari 100 orang jumlah responden maka, nilai degree of freedom (df) sebesar 98 menggunakan taraf signifikansi 5% sehingga nilai r-tabel sebesar 0,196. Item pernyataan terbukti valid dengan syarat nilai r-hitung lebih besar daripada r-tabel . Pada tabel 1 dan 2 menampilkan hasil pengujian validitas pada brand Momoyo dan Mixue:
Tabel 1. Uji Validitas Momoyo
Tabel 2. Uji Validitas Mixue
Dari tabel diatas dapat diperhatikan bahwa hasil uji validitas untuk brand Momoyo (YBA, YBAS, YPQ dan YBL) serta brand Mixue (XBA, XBAS, XPQ dan XBL) sehingga mengindikasikan seluruh butir pernyataan dinyatakan valid dan layak untuk digunakan sebagai instrumen penelitian.
Tabel 3. Uji Reliabel Momoyo
Tabel 4. Uji Reliabel Mixue
Melalui output uji reliabilitas untuk brand Momoyo dan Mixue mengindikasikan bahwa seluruh variabel memperoleh nilai Cronbach's Alpha yang melebihi 0,60. Perolehan hasil tersebut menegaskan bahwa seluruh butir pernyataan dalam kuesioner sudah memenuhi syarat reliabilitas.
Pengujian normalitas diterapkan dengan tujuan untuk memverifikasi bahwa data yang telah dikumpulkan telah mencapai asumsi normalitas . Uji statistik Kolmogorov-Smirnov digunakan dalam penelitian ini dengan ketentuan data dinyatakan normal jika nilai signifikansi (Sig) di atas 0,05. Tabel 5 menyajikan hasil uji normalitas untuk brand Momoyo serta Mixue
Tabel5. Uji Normalitas Momoyo dan Mixue
Mengacu pada output tersebut, semua perolehan nilai signifikansi berada diambang batas 0,05 yang merupakan persyaratan normalitas karenanya hasil tersebut mengonfirmasi bahwa data untuk brand Momoyo serta Mixue berdistribusi normal.
Kesamaan varians antar kelompok data dibutuhkan untuk mengujinya melalui uji homogenitas pengujian tersebut menggunakan uji Levene untuk syarat yang harus dipenuhi ialah jika nilai nilai signifikansi (Sig.) melebihi 0,05 maka data bersifat homogen . Sehingga hasil uji homogenitas untuk brand Momoyo dan Mixue ditunjukan pada tabel 6
Tabel6. Uji Homogenitas Momoyo dan Mixue
Berlandaskan pada hasil uji homogenitas yang menggunakan Levene dapat dilihat untuk keseluruhan variabel penelitian memperlihatkan nilai signifikansi melebihi 0,05 hal itu dapat dipastikan bahwa varian data Momoyo serta Mixue bersifat homogen.
Untuk mengidentifikasi perbedaan rata-rata disetiap variabel yang akan diteliti antara Momoyo dan Mixue, penelitian ini memanfaatkan analisis Independent Sampel T-Test yang ditentukan berdasarkan nilai signifikansi. Jika nilai signifikasi dibawah batas 0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara dua kelompok. Sebaliknya, nilai Sig. 2-tailed yang melebihi batas mengindikasikan tidak adanya perbedaan yang signifikan . Tabel 7 menampilkan hasil pengujian beda T-Test antara Momoyo dan Mixue
Tabel7. Uji Beda T-Test Momoyo dan Mixue
Merujuk dari hasil uji beda T-Test memperlihatkan nilai signifikansi sebesar 0,00 pada variabel Brand Awareness, Perceived Quality dan Brand Loyalty hal ini membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara brand Momoyo dengan Mixue. Akan tetapi berbeda pada variabel Brand Associationyang memperoleh nilai signifikansi mencapai 0,259 menjadi bukti bahwa tiada perbedaan yang signifikan antara Momoyo dengan Mixue.
H1 diterima didasarkan pada hasil analisis yang memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan antara variabel brand awareness Momoyo dengan Mixue. Brand Momoyo unggul dalam indikator recognition dan purchase dilain sisi pada brand Mixue menunjukkan keunggulan pada indikator recall dan consumption. Hasil yang sama pada penelitian “Analisis Perbandingan Brand Equity Jual Beli Online pada Aplikasi Tokopedia dan Shopee di Kota Bandung” dimana penelitian tersebut menunjukkan terdapat perbedaan antara brand awareness Tokopedia dengan Shopee .
H2 ditolak berlandaskan dari hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara brand association Momoyo dengan Mixue. Sehingga pada indikator product attributes, intangible attributes, customer’s benefit, relative price, dan application mencerminkan bahwa di mata konsumen, Momoyo dan Mixue memiliki keterikatan informasi yang hampir sama. Hal ini sesuai dengan penelitian yang berjudul “Analisis Komparasi Brand Equity Produk Smartphone Merek Oppo dan Xiaomi: Studi pada Konsumen di Plaza Marina Surabaya” yang juga menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara brand association produk Oppo dengan Xiaomi .
H3 diterima dari hasil penelitian menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara perceived quality Momoyo dengan Mixue. Ini menunjukkan bahwa Brand Momoyo unggul dalam indikator has consistent quality, is well made dan rarely devectivedilain sisi brand Mixue unggul dalam indikator has an accepteble dan would perform consistenly. Temuan ini sejalan pada penelitian terdahulu dengan judul “Analisis Komparasi Brand Equity Produk Smartphone Merek Oppo dan Xiaomi: Studi pada Konsumen di Plaza Marina Surabaya” yang mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara perceived quality produk Oppo dengan Xiaomi .
H4 diterima mengacu pada hasil penelitian membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara brand loyalty Momoyo dengan Mixue dikarenakan brand momoyo menunjukkan keunggulan pada indikator word of mounth dan repeat purchasing sementara pada indikator reject another brand mixue lebih unggul. Temuan ini menguatkan penelitian yang berjudul “Analisis Komparasi Brand Equity Chatime dan Haus! di Kota Surabaya: Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kelompok Usia” yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara responden laki-laki dan perempuan dengan kelompok usia remaja dan dewasa pada variabel brand loyalty antara Chatime dan Haus! .
Dari hasil yang sudah dijabarkan pada variabel brand awareness, perceived quality, serta brand loyaltymenunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Akan tetapi berbeda dari tiga variabel sebelumnya pada variabel brand association hasil pengujian membuktikan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara Momoyo dengan Mixue di kota Surabaya. Penelitian ini memiliki keterbatasan sehingga untuk penelitian yang akan datang dapat mempertimbangkan serta menambahkan variabel dependen seperti keputusan pembelian atau minat beli agar bisa mengidentifikasi faktor manakah yang memiliki kontribusi dalam mendorong perilaku konsumen di masing-masing merek. Hal ini merupakan poin penting untuk diperhatikan karena temuan di variabel asosiasi merek pada Momoyo dan Mixue memiliki karakteristik yang serupa, sehingga perlu dikaji ulang apakah kesamaan tersebut dapat menghasilkan pengaruh yang sama terhadap keputusan akhir konsumen dalam memilih produk.
Keberhasilan penyelesaian artikel ini didukung penuh oleh bimbingan serta motivasi dari Ibu Dra. Sonja Andarini, M.Si selaku dosen pembimbing. Motivasi terbesar juga hadir dari pihak keluarga melalui doa yang tiada henti. Terakhir, bantuan berharga dari berbagai pihak dan pastinya untuk para responden penelitian yang sangat berarti bagi kelancaran seluruh tahapan penelitian penulis.
A. Najla, Y. Dewanthi, and E. Permana, “Strategi Mempertahankan Usaha Franchise pada Minuman Mixue di Indonesia,” Journal of Business, Finance, and Economics (JBFE), vol. 3, no. 2, pp. 189–198, Jun. 2023, doi: 10.32585/jbfe.v3i2.4099.
R. Putri, V. Savitri, N. Kamila, and G. Djuanda, Peran Literasi Keuangan dalam Mitigasi Risiko Investasi pada Franchise Mixue, Ai-Cha, dan Momoyo. Sukoharjo, Indonesia: Tahta Media Group, 2025.
A. Wardhana, Brand Management in the Digital Era – Edisi Indonesia. Purbalingga, Indonesia: Eureka Media Aksara, 2024.
A. Mayliani and M. Trihudiyatmanto, “Analisis Dimensi Brand Equity terhadap Keputusan Pembelian pada Produk Susu Kemasan Bear Brand,” JAMSY: Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Perbankan Syariah, vol. 4, no. 5, pp. 103–117, Oct. 2024, doi: 10.32699/jamasy.v4i5.8516.
G. P. Purnama, S. Zaid, N. Nur, and N. Ittaqullah, “Analisis Perbandingan Brand Equity Produk Indomie dengan Mie Sedaap,” Jurnal HOMANIS: Halu Oleo Manajemen dan Bisnis, vol. 2, no. 1, pp. 30–46, Jan. 2025, doi: 10.55598/homanis.v2i1.21.
A. Kurniawan, S. Sumowo, and I. Puspitadewi S., “Analisis Brand Equity terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Honda Beat (Studi Kasus pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember),” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Growth, vol. 20, no. 2, pp. 349–360, Nov. 2022, doi: 10.36841/growth-journal.v20i2.2020.
A. Aida, D. Hermina, and N. Norlaila, “Jenis Data Penelitian Kuantitatif (Korelasional, Komparatif, dan Eksperimen),” Al-Manba: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan, vol. 10, no. 1, pp. 31–40, Jan. 2025, doi: 10.69782/almanba.v10i1.48.
I. R. A. N. Tasmirah and E. Gunawan, “Tinjauan Pelaksanaan Rekam Medis Elektronik Guna Meningkatkan Kualitas Pelayanan di RSUD Bandung Kiwari,” Prepotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 8, no. 3, pp. 4832–4839, Sep. 2024, doi: 10.31004/prepotif.v8i3.33690.
B. J. Forester, A. I. A. Khater, M. W. Afgani, and M. Isnaini, “Penelitian Kuantitatif: Uji Reliabilitas,” Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial dan Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 4, no. 3, pp. 1812–1820, Dec. 2024, doi: 10.56832/edu.v4i3.577.
Z. Iba and A. Wardhana, Analisis Regresi dan Analisis Jalur untuk Riset Bisnis Menggunakan SPSS 29.0 & SmartPLS 4.0. Purbalingga, Indonesia: Eureka Media Aksara, 2024.
Nurhaswinda et al., “Uji Normalitas dan Homogenitas dalam Analisis Statistik,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 12, no. 1, pp. 98–105, Jan. 2026, doi: 10.36989/didaktik.v12i01.11233.
A. Mashuri, Statistika Parametrik Dasar (Uji Hubungan, Uji Perbedaan, dan Aplikasinya Menggunakan JASP). Malang, Indonesia: Inara Publisher, 2023.
F. M. Gaus and A. Prasetio, “Analisis Perbandingan Brand Equity Jual Beli Online pada Aplikasi Tokopedia dan Shopee di Kota Bandung,” Permana: Jurnal Perpajakan, Manajemen, dan Akuntansi, vol. 13, no. 2, pp. 150–162, 2021, doi: 10.24905/permana.v13i2.196.
I. Baihaqqi and S. N. Farida, “Analisis Komparasi Brand Equity Produk Smartphone Merek Oppo dan Xiaomi,” Jurnal Ilmu Komputer dan Bisnis, vol. 12, no. 1, pp. 170–178, May 2021, doi: 10.47927/jikb.v12i1.102.
L. Q. Aini and Nurhadi, “Analisis Komparasi Brand Equity Chatime dan Haus! di Kota Surabaya: Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kelompok Usia,” Kajian Ekonomi & Bisnis Indonesia, vol. 6, no. 3, pp. 640–659, 2025, doi: 10.47467/elmal.v6i3.5770.