Salsabila Hasyim (1), Rizal Rizal (2), Pahriadi Pahriadi (3), Muhammad Aqil (4), Muhammad Nazimuddin Al Kamil (5)
General Background Education plays a crucial role in building human resources and shaping personality traits that reflect societal identity. Specific Background Schools function as central institutions for preserving regional customs against globalization, particularly through daily academic routines and learning facilitation. Knowledge Gap Despite the recognized need for culturally responsive pedagogy, practical execution remains hindered by limited teacher comprehension, student behavioral differences, and a scarcity of culturally integrated instructional media. Aims This qualitative descriptive research investigates the application of indigenous Kaili social values in managing fourth-grade learners at SD Inpres 1 Tanamodindi. Results Data gathered through observation, interviews, and documentation indicates that embedding the principles of nosimpogau (mutual respect), nosimpotove (mutual assistance), and nosusa (togetherness) successfully establishes an orderly, comfortable, and harmonious academic atmosphere. This cultural integration actively promotes cooperation and instills discipline, social care, and accountability among learners. Novelty This study proves that translating specific indigenous philosophies into daily administrative and pedagogical practices creates a highly contextual educational experience directly tied to the learners' social reality. Implications Educational institutions should continuously embed regional heritage into academic and non-academic activities to sustainably build learner morality while actively preserving local identity.
Highlights
Integrating mutual respect and assistance transforms traditional teaching spaces into harmonious settings.
Systematic habituation of togetherness values successfully instills discipline among elementary learners.
Bridging academic routines with regional customs provides highly contextual educational experiences.
Keywords
Classroom Management; Local Wisdom; Kaili Tribe; Character Education; Contextual Learning
Pendidikan memainkan peranan krusial dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui pendidikan, setiap individu diberi kesempatan untuk menggali dan mengembangkan potensi diri sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan budaya setempat. Proses pendidikan tidak hanya menekankan pada penguasaan ilmu, melainkan juga pada pembentukan karakter dan kepribadian yang mencerminkan identitas budaya dan social [1]. Sesuai Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan harus mengupayakan perkembangan peserta didik secara menyeluruh, namun kenyataannya praktik pembelajaran seringkali masih berfokus pada metode tradisional yang kurang responsif terhadap keberagaman budaya [2].
Indonesia, dengan kekayaan budayanya yang beraneka ragam, memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi serta mengembangkan nilai-nilai budaya lokal melalui jalur pendidikan. Hal ini menjadi penting agar keberadaan identitas budaya tidak tergerus oleh pengaruh globalisasi dan modernisasi yang semakin meluas. Sekolah menjadi sentral dalam usaha pelestarian budaya tersebut dengan cara mengintegrasikan nilai dan kearifan lokal dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari [3].
Manajemen kelas adalah unsur terkecil dalam sistem pendidikan yang berperan sebagai inti pembelajaran. Melalui manajemen kelas yang efektif, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik secara optimal. Peran guru sangat vital dalam menciptakan suasana yang mendukung dan nyaman di kelas agar peserta didik dapat belajar lebih baik. Strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru menjadi penentu keberhasilan siswa dalam memahami materi pelajaran [4].
Manajemen kelas yang berhasil menciptakan lingkungan belajar yang kondusif memungkinkan proses pembelajaran berlangsung dengan efektif dan jelas. Kelas yang kondusif memberikan suasana positif bagi guru dan siswa, sementara kondisi kelas yang tidak mendukung dapat mengganggu jalannya pembelajaran (Wijaya, 2013:48).
Tantangan di era globalisasi semakin kompleks, terutama persaingan dalam dunia pendidikan yang semakin ketat. Sekolah-sekolah berlomba meningkatkan kualitas mereka untuk menarik peserta didik. Untuk itu, peningkatan kualitas baik dari segi sarana maupun proses pembelajaran menjadi keharusan agar sekolah dapat memberikan hasil yang sesuai dengan harapan siswa dan masyarakat [5].
Pelestarian budaya lokal dalam pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan dan sistematis. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah mengintgerasikan nilai-nilai kearifan local dalam pengelolaan kelas [6]. Pada msyarakat Kaili di Sulawesi Tengah, nilai gotong royong, saling menghargai, dan kerja sama dapat menjadi dasar pembelajaran yang lebih bermakna serta selaras dengan identitas budaya siswa. Penerapan nilai-nilai tersebut dapat membantu meningkatkan solidaritas, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab dalam lingkungan belajar [7].
Observasi di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi menunjukkan berbagai kendala, termasuk kurang strategisnya penataan ruang kelas, minimnya interaksi guru-siswa, dan kurangnya perhatian guru terhadap perkembangan emosional peserta didik. Kondisi ini menghambat proses pembelajaran yang optimal.
Situasi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan model manajemen kelas yang berlandaskan kearifan lokal Suku Kaili, yang mampu memaksimalkan potensi siswa sekaligus mempertahankan nilai budaya. Efektivitas pengelolaan kelas dipengaruhi oleh strategi yang sesuai dengan konteks budaya setempat [8]. Namun penerapannya masih terkendala oleh keterbatasan sumber daya, kurangnya pemahaman guru terhadap budaya local, dan resistensi terhadap perubahan.
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengelolaan kelas berbasis nilai budaya Kaili di kelas IV SD Inpres 1 Tanamodindi melalui pendekatan kualitatif dan analisis tematik. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya model manajemen kelas yang sesuai dengan kebutuhan local sekaligus mendukung pelestarian budaya Kaili melalui pembentukan peserta didik yang berkarakter dan mencintai identitas budayanya [9].
A.Rancangan Penelitian
1.Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini di pilih bertujuan untuk memahami secara mendalam tentang bagaimana manajemen kelas berbasis kearifan lokal suku kaili di terapkan di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi, melalui deskripsi yang apa adanya sesuai dengan kondisi lapangan.
B.Tempat dan Waktu Penelitian
1.Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan di SD Ipres 1 Tanamodindi yang terletak di JI.Merpati No.35, Kelurahan Tanamodindi, Kecamatan Mantikulore Kota Palu, Provinsi Sulawasi Tengah.
2.Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Januari Tahun 2026.
C.Subjek Penelitian
1.Siswa kelas IV B, sebagai fokus utama yang menjadi objek penerapan pengelolaan kelas berbasis kearifan lokal.
2.Guru kelas IV B, sebagai Fasilitator yang mengimplementasikan nilai-nilai budaya lokal suku Kaili dalam pengelolaan kelas.
3.Kepala sekolah, sebagai pemegang kebijakan dan pendukung utama penerapan manajemen pengelolaan kelas berbasis kearifan lokal di lingkungan sekolah.
D.Desain Penelitian atau Rancangan Penelitian Kualitatif
Gambar 1 Desain dan Rancangan Penelitian Kualitatif
E.Teknik Pengumpulan Data
1.Observasi
Peneliti secara langsung mengamati aktivitas pembelajaran dan interaksi yang terjadi di dalam kelas. Observasi dilakukan secara partisipatif, di mana peneliti tidak hanya sebagai pengamat pasif tetapi juga turut terlibat dalam suasana kelas untuk memahami secara langsung proses pengelolaan kelas dan bagaimana nilai-nilai kearifan lokal diimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari.
2.Wawancara
Wawancara akan dilakukan secara semi-terstruktur terhadap siswa, guru, dan kepala sekolah. Tujuan wawancara ini adalah untuk menggali pandangan, pengalaman, dan pemahaman mereka terhadap pengelolaan kelas berbasis kearifan lokal suku Kaili.
3.Dokumentasi
Peneliti mengumpulkan berbagai dokumen pendukung yang relevan, seperti catatan kelas, kebijakan sekolah terkait pengelolaan kelas, materi pembelajaran yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal, serta arsip kegiatan sekolah yang mendukung pelaksanaan manajemen kelas.
F.Teknik Analisis Data
1.Reduksi Data
Dalam tahap ini, peneliti memilih data yang relevan dengan fokus penelitian dan mengeliminasi informasi yang kurang penting atau berulang.
2.Penyajian Data (Data Display)
Setelah data direduksi, langkah berikutnya adalah menyajikan data tersebut dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Penyajian data bisa berupa narasi deskriptif yang menceritakan temuan penelitian secara runtut dan jelas, atau dalam bentuk visualisasi seperti tabel, diagram, atau grafik yang mendukung penjelasan narasi.
3.Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Tahap terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan data yang telah direduksi dan disajikan. Pada tahap ini, peneliti mencoba menemukan makna atau pola dari data untuk menjawab pertanyaan penelitian [10].
A.Hasil Penelitian
Hasil penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana hasil dari Observasi, Wawancara, Dokumentasi terhadap implementasi manajemen kelas berbasis kearifan lokal suku Kaili serta dampaknya terhadap iklim kelas, motivasi belajar, partisipasi siswa, dan pembentukan karakter siswa.
1.Hasil Observasi Manajemen Kelas berbasis Kearifan Lokal Suku Kaili
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama proses penelitian, guru kelas IV B telah menerapkan manajemen kelas berbasis kearifan lokal Suku Kaili dalam kegiatan pembelajaran sehari- hari. Penerapan Manajemen Kelas berbasis kearifan lokal terlihat dalam pengelolaan lingkungan kelas, seperti penataan tempat duduk yang mendukung I teraksi saat belajar itu sangat baik, Kebersihan dan kerapian kelas juga Baik, Kenyamanan ruang belajar (pencahayaan, dan sirkulsi udara) juga baik.
Nilai-nilai kearifan lokal suku Kaili terlihat dalam proses pembelajaran,yang tercantum dalam buku pembelajaran/modul ajar. nilai kearifan lokal kaili lainnya terlihat dalam proses pembelajaran, terutama pada kegiatan kerja kelompok, diskusi kelas, serta pembiasaan sikap saling menghormati dan saling membantu antar siswa. Nilai budaya Kaili yang diterapkan meliputi nosimpogau (saling menghormati), nosimpotove (saling membantu), dan nosusa (kebersamaan). Itu semua dilaksanakan dengan baik.
Berdasarkan hasil observasi, Implementasi Nilai kearifan lokal suku Kaili ada, Nosimpongau (gotong royong) yang diterapkan disaat siswa sedang berdiskusi dimana mereka menghormati/menghargai pendapat teman yang lainnya. Nosimpotove (Saling membantu) diterapkan saat siswa sedang bekerja kelompok dimana mereka diajarkan untuk saling membantu teman jika ada teman yang belum mengerti pahan tentang tugas yang di berikan oleh guru. Nosusa di terapkan pada saat siswa sedang mengerjakan piket kelas secara bersama sama, Diterapkan dengan baik.
Hasil Observasi juga menunjukan interaksi anatara guru dan siswa terlaksana dengan baik, yang dimana, Guru menyampaikan materi materi pembelajaran dengat baik, membimbing, serta memberi arahan pada siswa pada saat proses pembelajaran, dan siswa pun memberikan respon yang baik. Iklim Kelasnya pun sangat baik seperti, Suasana pembelajaran kondusif ketertiban dan kenyamanan selama pembelajaran. Begitupun partisipasi siswa dalam kegiatan belajar baik, dan keterlibatan siswa dalam kerja kelompok pun sangat baik.
Gambar 2 Guru menyampaikan materi pembelajaran
Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa terlihat aktif bekerja sama selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa yang telah memahami materi membantu siswa lain yang mengalami kesulitan belajar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan nilai budaya lokal membantu menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan harmonis
Gambar 3 Siswa Belajar Dengan Aktif Selama Proses Pembelajaran
Dalam Penerapan Manajemen Berbasis Kearifan Lokal Suku Kaili Ini Karakter
Siswa seperti, disiplin dalam mengikuti aturan kelas, tanggung Jawab terhadap tugas, kerja sama antar siswa semua terlaksana dengan baik.
2.Hasil Wawancara Manajemen Kelas berbasis Kearifan Lokal Suku Kaili
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru kelas IV B, kepala sekolah, dan siswa, diperoleh informasi mengenai penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal suku Kaili di SD Inpres 1 Tanamodindi. Manajemen kelas berbasis kearifan local dilakukan dengan mengintegrasikan nilai budaya Kaili dalam pembelajaran. Menurut guru kelas IV B, pendekatan ini penting karena mayoritas siswa berasal dari suku Kaili, sehingga mereka dapat mempelajari dan menerapkan nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya, manajemen berbasis kearifan local itu sangat bagus, apalagi kearifan local suku Kaili yang mana siswa-siswi di sini mayoritas Kaili, jadi saya bisa mengelola pembelajaran dan suasana kelas dengan memasukkan nilai-nilai Kaili seperti Nosimpongau, Nasimpotove, dan Nosusa. Jadi bukan hanya mengatur tempat duduk atau disiplin kelas, tetapi juga menanamkan nilai budaya dalam keseharian siswa di kelas.”
Sejalan dengan pernyataan guru, kepala sekolah juga mengungkapkan bahwa sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal, khususnya budaya Kaili. Menurut kepala sekolah, penerapan nilai budaya lokal penting dalam pembentukan karakter siswa sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya daerah.
“Sekolah mendukung pembelajaran yang mengintegrasikan budaya local, terutama budaya Kaili, karena sebagian besar siswa berasal dari lingkungan budaya tersebut. Guru didorong memasukkan nilai budaya local dalam kegiatan pembelajaran dan pembiasaan sekolah.”
Dalam penerapannya, guru mengintegrasikan beberapa nilai kearifan lokal suku Kaili, yaitu Nosimpongau (saling menghormati), Nosimpotove (saling membantu), dan Nosusa (kebersamaan atau solidaritas). Nilai-nilai tersebut diterapkan melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, membersihkan kelas bersama, serta membiasakan siswa menghargai pendapat teman.
“Nilai kearifan local Kaili yang sering saya pakai yaitu Nasimpongau (saling menghormati), Nasimpotove (saling membantu), dan Nosusa (kebersamaan/solidaritas). Misalnya saat kerja kelompok siswa dibiasakan saling membantu, membersihkan kelas bersama, dan menghargai pendapat teman.”
Pernyataan guru tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan siswa. Siswa mengaku bahwa guru sering mengajak mereka bekerja sama dalam kelompok dan membiasakan mereka untuk saling membantu saat mengalami kesulitan belajar.
“Iya kak, sering. Biasanya kami disuruh kerja kelompok, terus dibagi-bagi tugasnya.”
“Iya kak, misalnya kalau ada teman belum mengerti biasanya saya abntu. Tapi kadang saya juga minta tolong ke teman kalau ada soal yang belum saya mengerti.”
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal memberikan perubahan positif terhadap iklim kelas. Guru menjelaskan bahwa suasana kelas menjadi lebih tertib, harmonis, dan siswa lebih terbiasa bekerja sama serta menghargai satu sama lain.
“Setelah saya menerapkannya, suasana di kelas menjadi lebih tertib dan harmois. Siswa mulai terbiasa bekerja sama, lebih menghargai teman, dan konflik kecil antar siswa mulai berkurang.”
Hal tersebut sesuai dengan pendapat siswa yang menyatakan bahwa suasana belajar di kelas terasa nyaman dan menyenangkan.
“Bagus kak, senang dan nyaman. Tidak terlalu sepi dan tidak juga rebut sekali.”
Selain menciptakan suasana kelas yang kondusif, penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal juga berdampak pada motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Guru menjelaskan bahwa siswa menjadi lebih aktif bertanya, berani menyampaikan pendapat, serta lebih antusias mengikuti kegiatan belajar.
“Motivasi belajar siswa meningkat karena pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Siswa juga lebih aktif bertanya dan lebih berani menyampaikan pendapat.”
Pernyataan tersebut didukung oleh hasil wawancara dengan siswa yang mengaku lebih bersemangat ketika mengikuti pembelajaran yang melibatkan diskusi kelompok, kuis, maupun penggunaan media pembelajaran yang menarik.
“Semangat kak kalau pelajarannya seru, kaya waktu belajar terus dikasih tugas kerja kelompok atau diskusi. Apalagi kalau pembelajarannya pakai video animasi ataupun waktu kuis.”
Menurut kepala sekolah, penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal juga memberikan manfaat dalam pembentukan karakter siswa. Kepala sekolah menilai bahwa siswa menjadi lebih disiplin, menghargai teman, memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, serta lebih memahami identitas budaya mereka.
“Manfaatnya banyak. Siswa menjadi lebih disiplin, menghargai teman, memiliki rasa kebersamaan tinggi, dan lebih memahami identitas budaya mereka sendiri. Selain itu suasana kelas menjadi lebih kondusif.
Meskipun demikian, guru mengakui bahwa dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala. Kendala yang dihadapi antara lain belum semua siswa memahami makna nilai budaya secara mendalam, masih terdapat siswa yang pasif dalam kegiatan kelompok, serta keterbatasan waktu untuk mengintegrasikan nilai budaya dalam pembelajaran.
“Kendala utamanya yaitu tidak semua siswa langsung memahami makna nilai budaya tersebut secara mendalam. Selain itu, masih ada beberapa siswa yang cenderung pasif atau sulit bekerja sama.”
Untuk mengatasi kendala tersebut, guru melakukan pembiasaan secara terus- menerus, memberikan contoh perilaku yang baik, menjelaskan makna nilai budaya melalui cerita dan nasihat, serta melakukan evaluasi dan refleksi setelah kegiatan pembelajaran.
“Saya memberikan pembiasaan secara terus menerus, memberi contoh langsung dalam perilaku sehari-hari, dan menjelaskan makna nilai budaya Kaili melalui cerita atau nasihat sederhana.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, kepala sekolah, dan siswa dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas berbasis kearifan lokal suku Kaili telah diterapkan melalui integrasi nilai Nosimpongau, Nosimpotove, dan Nosusa dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Penerapan nilai-nilai tersebut mendapat dukungan dari pihak sekolah dan diterima dengan baik oleh siswa. Dampak yang terlihat antara lain terciptanya suasana kelas yang lebih kondusif, meningkatnya kerja sama antar siswa, tumbuhnya sikap saling menghormati, serta meningkatnya motivasi dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Meskipun masih terdapat beberapa kendala, guru terus melakukan berbagai upaya agar penerapan nilai-nilai kearifan lokal dapat berjalan secara optimal.
3.Integrasi Kearifan Lokal dalam Modul Ajar dan Bahan Ajar.
Berdasarkan dokumentasi, modul dan bahan ajar kelas IV B mengintegrasikan nilai budaya Kaili, seperti kerja sama, salingmenghormati, dan kebersamaan, yang diterapkan melalui diskusi kelompok dan kerja sama tim sebagai wujud nilai nosusa dan nosimpotove. Selain itu, guru juga memberikan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan masyarakat Kaili agar pembelajaran lebih kontekstual dan mudah dipahami.
Dalam kegiatan pembelajaran, guru membiasakan siswa menggunakan sikap sopan santun saat berbicara dengan teman maupun guru. Guru juga mengaitkan materi pelajaran dengan perilaku saling menghargai dan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil observasi, integrasi kearifan lokal dalam modul ajar membuat siswa lebih aktif dan antusias mengikuti pembelajaran karena materi yang disampaikan dekat dengan pengalaman dan budaya mereka sehari-hari.
4.Bentuk-Bentuk Penerapan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Kelas
Bentuk penerapan kearifan lokal Suku Kaili dalam pengelolaan kelas dilakukan melalui beberapa kegiatan pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari di kelas.
a.Kerja Kelompok
Guru menerapkan nilai nosusa dan nosimpotove melalui kegiatan kerja kelompok. Dalam kegiatan tersebut siswa bekerja sama menyelesaikan tugas pembelajaran secara bersama-sama.
b.Pembiasaan Saling Membantu
Nilai nosimpotove diterapkan melalui pembiasaan membantu teman yang mengalami kesulitan belajar maupun kesulitan dalam kegiatan sehari- hari di kelas. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu siswa yang menyatakan bahwa:
“Kami kalo saat belajar terus ada teman lain yang belum paham, biasanya kami saling bantu sama-sama supaya bisa mengerti dan paham semua.”
c.Kegiatan Piket Kelas
Guru juga menerapkan nilai kebersamaan melalui kegiatan piket kebersihan kelas. Siswa dibagi ke dalam kelompok piket yang dilakukan secara bergiliran setiap hari. Kegiatan tersebut bertujuan melatih rasa tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama antarsiswa.
d.Diskusi Kelompok
Dalam proses pembelajaran, guru menggunakan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa. Dalam kegiatan diskusi, guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menyampaikan pendapat. Guru juga mengingatkan siswa agar menghargai teman yang sedang berbicara dan tidak menertawakan pendapat teman.
5.Respon Siswa terhadap Implementasi Manajemen Kelas Berbasis Kearifan Lokal suku Kaili
Berdasarkan hasil wawancara, siswa memberikan respon positif terhadap Implementasi manajemen kelas berbasis kearifan lokal Suku Kaili. Salah satu siswa menyatakan bahwa:
“Saya dengan teman-temanku senang kalo belajar berkelompok kak, karena kitorang bisa saling baku bantu kalo misalnya ada yang susah ato ada yang belum paham kami cari tau sama-sama.”
Siswa merasa pembelajaran lebih nyaman akrena dibiasakan saling menghargai dan bekerja sama. Observasi menunjukkan siswa lebih aktif berdiskusi dan berani berpendapat. Penerapan nilai budaya local membantu siswa memahami pentingnya kerja sama, kebersamaan, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
6.Dampak implementasi Manajemen Kelas Berbasis Kearifan Lokal
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal memberikan dampak positif terhadap suasana pembelajaran di kelas IV B.
a.Meningkatkan Kondusivitas Kelas
Penerapan nilai budaya lokal membantu menciptakan suasana kelas yang lebih tertib, nyaman, dan harmonis. Siswa terlihat lebih mudah diarahkan dan lebih menghargai aturan kelas yang telah disepakati bersama.
b.Meningkatkan Partisipasi dan Motivasi Belajar
Siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, terutama saat kegiatan diskusi dan kerja kelompok berlangsung. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu siswa ia menyatakan :
“Belajar kelompok lebih seru karena kami bisa saling bantu dan tidak takut bertanya.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis budaya lokal mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa.
c.Membentuk Karakter Sosial Siswa
Penerapan nilai nosimpogau, nosimpotove, dan nosusa membantu membentuk karakter siswa seperti: saling menghargai, tanggung jawab, kerja sama, disiplin, dan kepedulian sosial.
Guru juga menyampaikan bahwa setelah menerapkan pembiasaan tersebut, siswa menjadi lebih mudah bekerja sama dan jarang terjadi pertengkaran antarteman.
7.Hambatan dalam Penerapan Manajemen Kelas Berbasis Kearifan Lokal
Dalam pelaksanaannya, guru juga mengalami beberapa hambatan dalam menerapkan manajemen kelas berbasis kearifan lokal. Berdasarkan hasil wawancara, hambatan yang dihadapi antara lain :
Tidak semua siswa memiliki karakter yang sama. Terdapat beberapa siswa yang masih sulit diatur saat diskusi kelompok. Waktu pembelajaran yang terbatas membuat guru belum maksimal menerapkan seluruh kegiatan berbasis budaya lokal.
Guru kelas IV B juga menyampaikan bahwa:
“Kadang masih ada siswa yang suka ribut atau belum mau bekerja sama dengan baik, jadi perlu dibimbing terus secara perlahan.”
Selain itu, pengaruh lingkungan luar sekolah dan penggunaan teknologi juga menjadi tantangan dalam mempertahankan nilai budaya lokal pada siswa.
Meskipun demikian, guru tetap berusaha menanamkan nilai budaya lokal melalui pembiasaan yang dilakukan secara berulang dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
B.Pembahasan
1.Implementasi Manajemen Kelas Berbasis Kearifan Lokal Suku Kaili
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, implementasi manajemen kelas berbasis kearifan lokal Suku Kaili di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi telah dilaksanakan dengan baik. Guru mengintegrasikan nilai nosimpogau, nosimpotove, dan nosusa melalui diskusi kelompok, kerja sama tugas, dan piket kelas. Temuan ini menunjukkan bahwa manajemen kelas tidak hanya mengatur pembelajaran, tetapi juga membentuk perilaku social siswa sehingga tercipta suasana belajar yang tertib, nyaman, dan harmonis [11].
Temuan penelitian ini sejalan dengan pendapat Sutrisno (2018) yang menyatakan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam manajemen kelas dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dan pembiasaan yang menanamkan nilai solidaritas, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Selain itu, Pingge (2017) menjelaskan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal merupakan upaya yang disengaja untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap berdasarkan potensi budaya daerah setempat [12]. Oleh karena itu, penerapan nilai budaya Kaili dalam pengelolaan kelas menjadi bentuk nyata pendidikan berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Hasil wawancara dengan guru kelas juga menunjukkan bahwa penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal dipandang penting karena mayoritas siswa berasal dari Suku Kaili. Guru secara sadar memasukkan nilai-nilai budaya lokal dalam kegiatan pembelajaran agar siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memahami dan mengamalkan budaya yang menjadi identitas mereka. Temuan ini memperlihatkan bahwa guru telah menjalankan perannya sebagai fasilitator sekaligus teladan dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik [13]
Penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Setyaningrum (2017) yang menemukan bahwa manajemen kelas berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan motivasi belajar, memperkuat karakter siswa, dan menanamkan nilai budaya secara sistematis dalam proses pembelajaran [14]. Dengan demikian, implementasi manajemen kelas berbasis kearifan lokal Suku Kaili di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi dapat dikatakan berhasil karena nilai budaya tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan kelas sehari-hari.
2.Pengaruh Manajemen kelas berbasis kearifan lokal terhadap Iklim Kelas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal memberikan pengaruh positif terhadap iklim kelas. Suasana pembelajaran menjadi lebih kondusif, tertib, nyaman, dan harmonis. Siswa terlihat lebih mudah diarahkan, lebih menghargai aturan kelas, serta mampu menjaga hubungan sosial yang baik dengan teman-temannya [15]. Selain itu, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran juga meningkat, terutama pada saat diskusi kelompok dan kerja sama dalam menyelesaikan tugas.
Temuan tersebut sesuai dengan teori pendekatan sosio-emosional dalam manajemen kelas yang menekankan pentingnya hubungan positif antara guru dan siswa serta hubungan yang harmonis antarsiswa untuk menciptakan iklim kelas yang kondusif. Guru yang mampu membangun komunikasi yang baik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama akan lebih mudah menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan [16].
Nilai nosimpogau terlihat melalui pembiasaan siswa untuk menghormati pendapat teman ketika diskusi berlangsung. Guru secara konsisten mengingatkan siswa agar tidak memotong pembicaraan teman dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk menyampaikan pendapatnya. Kebiasaan tersebut membantu menciptakan suasana kelas yang saling menghargai. Nilai nosimpotove diwujudkan melalui kegiatan saling membantu dalam proses pembelajaran. Siswa yang telah memahami materi membantu teman yang mengalami kesulitan sehingga tercipta interaksi sosial yang positif di dalam kelas. Nilai nosusa diwujudkan melalui kegiatan kerja kelompok, diskusi, dan piket kebersihan kelas. Melalui kegiatan tersebut siswa belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan menjaga kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama.
Temuan penelitian ini juga memperkuat hasil penelitian Ahmad Syahid (2022) yang menyatakan bahwa integrasi nilai budaya lokal Kaili dalam pembelajaran mampu menciptakan lingkungan belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan demikian, manajemen kelas berbasis kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai strategi pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas interaksi dan suasana pembelajaran di kelas [17].
3.Pembetukan Karakter melalui Kearifan Lokal Suku Kaili
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah terbentuknya karakter positif siswa melalui penerapan nilai-nilai kearifan lokal Suku Kaili. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih disiplin dalam mengikuti aturan kelas, lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, serta mampu bekerja sama dengan teman dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Selain itu, siswa juga menunjukkan sikap saling menghargai, peduli terhadap teman, dan memiliki rasa kebersamaan yang tinggi [18].
Pembentukan karakter tersebut tidak terlepas dari penerapan nilai nosimpogau, nosimpotove, dan nosusa yang dilakukan secara konsisten oleh guru melalui kegiatan pembelajaran maupun pembiasaan sehari-hari. Melalui kerja kelompok, siswa belajar menghormati pendapat orang lain. Melalui kegiatan saling membantu, siswa belajar peduli terhadap teman yang mengalami kesulitan. Sedangkan melalui kegiatan bersama seperti piket kelas, siswa belajar tentang pentingnya kebersamaan dan tanggung jawab.
Temuan ini sejalan dengan pendapat Saidah dan Aka (2020) yang menyatakan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal memiliki fungsi untuk membentuk karakter peserta didik sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat [19]. Selain itu, Maharani dan Muhtar (2022) juga menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan karakter siswa karena peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang dekat dengan lingkungan sosial dan budaya mereka [20].
Hasil penelitian ini juga memperkuat penelitian Setyaningrum (2017) yang menemukan bahwa manajemen kelas berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan motivasi belajar sekaligus membentuk karakter positif siswa [14]. Dengan demikian, penerapan manajemen kelas berbasis kearifan lokal Suku Kaili di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi tidak hanya berkontribusi terhadap terciptanya suasana belajar yang kondusif, tetapi juga berperan penting dalam membangun karakter siswa yang sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal dan tujuan pendidikan nasional.
Meskipun berdampak positif, penerapan manajemen kelas berbasis kearifan local masih terkendala oleh perbedaan karakteristik siswa, pemahaman budaya yang beragam, dan keterbatasan media pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan bahan ajar berbasis budaya Kaili, memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan tokoh masyarakat, serta membiasakan nilai budaya secara konsisten. Dukungan sekolah melalui program pendidikan karakter dan pelatihan guru juga diperlukan agar penerapannya lebih optimal dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kelas IV B SD Inpres 1 Tanamodindi, dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas berbasis kearifan lokal Suku Kaili telah diterapkan dengan baik dalam proses pembelajaran. Nilai kearifan local Kaili, seperti nosimpogau (saling menghormati), nasimpotove (saling membantu), dan nosusa (kebersamaan), diterapkan melalui kegiatan pembelajaran dan pembiasaan di kelas. Penerapan tersebut menciptakan suasana belajar yang tertib, nyaman, dan kondusif, sekaligus mendorong sikap kerja sama, saling menghargai, serta partisipasi aktif siswa. nilai-nilai tersebut juga berperan dalam membentuk karakter siswa, seperti disiplin, tanggung jawab, kepedulian social, dan kebersamaan. Dengan demikian, manajemen kelas berbasis kearifan local tidak hanya mendukung pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat interaksi social, keterlibatan belajar, dan identitas budaya siswa. Oleh karena itu, sekolah perlu mengintegrasikan nilai budaya local secara berkelanjutan dalam kegiatan akademik maupun nonakademik, didukung oleh inovasi pembelajaran guru serta kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada SD Inpres 1 Tanamodindi serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian dan penyusunan artikel ini. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan manajemen kelas berbasis kearifan lokal dan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dasar.
[1] S. B. Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2011.
[2] A. Erwinsyah, “Manajemen pembelajaran dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas guru,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 5, no. 1, pp. 69–84, 2017.
[3] Juhji, “Peran guru dalam pendidikan,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 5, no. 1, pp. 52–62, 2016.
[4] R. Njatrijani, “Kearifan lokal dalam perspektif budaya Kota Semarang,” Gema Keadilan, vol. 5, no. 1, pp. 16–31, 2018.
[5] H. D. Pingge, “Kearifan lokal dan penerapannya di sekolah,” Jurnal Edukasi Sumba (JES), vol. 1, no. 2, 2017.
[6] K. Saidah and K. A. Aka, Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dan Implementasinya dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Genteng, Indonesia: LPPM Institut Agama Islam Ibrahimy, 2020.
[7] Misnah, “Implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal etnik Kaili Nosarara Nosabatutu di SMAN 2 Sigi,” Tesis, Universitas Tadulako, Palu, Indonesia, 2018.
[8] Sunhaji, “Konsep manajemen kelas dan implikasinya dalam pembelajaran,” Jurnal Kependidikan, vol. 2, no. 2, pp. 30–46, 2014.
[9] N. Suryana and E. M. Rahmat Fadhli, Manajemen Pengelolaan Kelas. Indonesia: Indonesia Emas Group, 2022.
[10] A. Sodiq, R. Rokhmad, A. J. Furoidah, and N. Nurkholis, “Implementasi manajemen sekolah berbasis kearifan lokal,” Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 8, no. 4, pp. 98–106, 2025, doi: 10.37329/cetta.v8i4.4464.
[11] R. Njatrijani, “Kearifan lokal dalam perspektif budaya Kota Semarang,” Gema Keadilan, vol. 5, pp. 17–18, 2018.
[12] H. D. Pingge, “Kearifan lokal dan penerapannya di sekolah,” Jurnal Edukasi Sumba, vol. 1, no. 2, pp. 128–135, 2017.
[13] R. C. Bogdan and S. K. Biklen, Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods, 5th ed. Boston, MA, USA: Pearson Education, 2014.
[14] I. Setyaningrum, “Manajemen kelas berbasis kearifan lokal di sekolah dasar,” Tesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia, 2017.
[15] Safitri et al., “Efektivitas penggunaan modul berbasis budaya lokal untuk meningkatkan pembelajaran,” 2022. [Online]. Available: https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/ummatanwasathan/article/viewFile/4914/3475
[16] Dartini, “Studi pengintegrasian kearifan lokal dalam kelas,” 2025. [Online]. Available: https://media.neliti.com/media/publications/284531-model-pembelajaran-tematik-berbasis-kear-8f5e6c66.pdf
[17] W. Yuliani, “Metode penelitian deskriptif kualitatif dalam perspektif bimbingan dan konseling,” QUANTA Journal: Kajian Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan, vol. 2, no. 2, pp. 83–91, 2018, doi: 10.22460/q.v2i2p83-91.1641.
[18] K. A. Akhmad, “Pemanfaatan media sosial bagi pengembangan pemasaran UMKM (studi deskriptif kualitatif pada distro di Kota Surakarta),” Dutacom, vol. 9, no. 1, pp. 43–43, 2015.
[19] K. Saidah and R. D. K. A. Aka, Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Indonesia dan Implementasinya dalam Pendidikan Sekolah Dasar, 1st ed. Genteng, Indonesia: LPPM Institut Agama Islam Ibrahimy, 2020.
[20] S. T. Maharani and T. Muhtar, “Implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan karakter siswa,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 5961–5968, 2022.