Ismi Auliya Nur Rohmah (1), Novi Darmayanti (2), Dewi Kusmayasari (3)
General Background The integrity of the public accounting profession strictly requires thorough archiving practices to ensure accountability and compliance with professional regulations. Specific Background In Indonesia, the Audit Tool and Linked Archive System facilitates the structured preparation of electronic working papers. However, the excellence of this digital archiving relies heavily on the practitioner's adherence to professional rules and their proficiency with digital platforms. Knowledge Gap While previous studies extensively explore general practitioner performance, the specific determinants of electronic working paper integrity under unpredictable and complex client conditions remain underexplored. Aims This study examines how record completeness, professional rules, and platform utilization predict ATLAS-based archiving outcomes, analyzing external unpredictability as a moderating variable. Results Based on Partial Least Squares analysis of 100 practitioners, professional rules, platform utilization, and external unpredictability positively and significantly predict archiving outcomes. Record completeness shows no significant relationship. Furthermore, external unpredictability weakens the predictive power of professional rules while strengthening the role of digital platforms. Novelty This research demonstrates that sheer record availability is insufficient for accountability; instead, digital proficiency becomes the critical driver of archiving outcomes when navigating highly unpredictable external conditions. Implications Public Accounting Firms must prioritize digital proficiency training alongside strict regulatory compliance to maintain electronic archive integrity amidst complex client conditions.
Highlights
The sheer availability of working papers fails to guarantee archive integrity without systematic digital integration.
Unpredictable client conditions weaken regulatory compliance but amplify the necessity of utilizing electronic platforms.
The tested variables collectively account for 79.3 percent of the variance in electronic archiving outcomes.
Keywords
ATLAS Application; Audit Documentation; Auditing Standards; Environmental Uncertainty; Technology Utilization
Isu kepatuhan auditor terhadap standar audit masih menjadi perhatian dalam pengawasan profesi akuntan publik di Indonesia. Pusat Pembinaan Profesi Keuangan Kementerian Keuangan melaporkan bahwa sepanjang tahun 2024 telah dijatuhkan berbagai sanksi administratif kepada Akuntan Publik dan Penilai Publik, mulai dari peringatan tertulis sampai pencabutan izin [1]. PPPK juga mencatat bahwa sejak tahun 2020 sampai 2024 terdapat lima Akuntan Publik yang izinnya dicabut karena pelanggara. Berdasarkan data PPPK per November 2024 tercatat 39 sanksi peringatan tertulis, 13 sanksi pembatasan pada entitas tertentu, 4 sanksi pembatasan jasa audit, dan 1 pencabutan izin Akuntan Publik. signifikan terhadap standar audit dan regulasi profesi keuangan [1]. Salah satu bentuk pelanggaran yang disebutkan berkaitan dengan kertas kerja audit, yaitu tidak dibuatnya kertas kerja audit atas sejumlah klien dan adanya kertas kerja yang tidak menggambarkan proses serta hasil audit secara jelas [1]. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan audit tidak hanya berada pada opini yang diterbitkan, tetapi juga pada bagaimana proses audit didokumentasikan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Persoalan kualitas proses audit juga berkaitan dengan kinerja auditor dan independensi dalam hubungan auditor dengan klien. Penelitian Rama et al. menunjukkan bahwa profesionalisme auditor dalam bentuk skeptisisme profesional dan audit fee berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor pada KAP di Surabaya dan Malang, sedangkan independensi dan proses audit jarak jauh tidak berpengaruh signifikan secara parsial [2]. Hasil tersebut memberi gambaran bahwa kualitas pekerjaan auditor tidak hanya ditentukan oleh keberadaan prosedur audit, tetapi juga oleh faktor perilaku profesional, kondisi penugasan, dan cara audit dilaksanakan. Dari sisi hubungan auditor dengan klien, penelitian Darmayanti menjelaskan bahwa independensi auditor sering menjadi dasar perdebatan dalam rotasi auditor karena hubungan jangka panjang dengan klien dapat memengaruhi independensi dan kualitas kerja auditor [3]. Darmayanti menemukan bahwa opini audit berpengaruh terhadap auditr switching, sedangkan financial distress, ukuran klien, pergantian manejemen, dan ukuran KAP tidak. Temuan ini menegaskan pentingnya dokumentasi audit yang lengkap, tertelusur, dan sesuai standar sebagai bentuk pertanggungjawaban auditor.
Menurut ASA 230, dokumentasi audit mencakup catatan prosedur, bukti audit, dan kesimpulan yang diperoleh auditor [4]. Dokumentasi audit juga menjadi bukti atas dasar kesimpulan auditor serta bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai standar audit dan ketentuan hukum yang berlaku [4]. Dalam proses audit, dokumentasi tidak hanya berfungsi sebagai arsip pekerjaan, tetapi juga membantu auditor dan tim perikatan dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, supervisi, review, serta pemeriksaan mutu atas pekerjaan audit [4]. Oleh karena itu, ketika terjadi persoalan kepatuhan terhadap standar audit, dokumentasi audit menjadi salah satu bagian yang dapat menunjukkan apakah auditor telah menjalankan prosedur secara memadai.
Kualitas dokumentasi audit sangat bergantung pada kelengkapan dokumen audit yang disusun oleh auditor. ASA 230 mengatur bahwa dokumentasi audit harus cukup untuk memungkinkan auditor berpengalaman memahami sifat, waktu, dan luas prosedur audit yang dilakukan, hasil prosedur audit, bukti audit yang diperoleh, serta hal signifikan dan kesimpulan yang dicapai selama proses audit [4]. Dokumentasi audit juga perlu memuat identitas pihak yang melakukan pekerjaan audit, tanggal penyelesaian pekerjaan, pihak yang melakukan review, serta dan luas review yang dilakukan [4]. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa kelengkapan dokumen audit bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga keterlacakan proses audit. Jika prosedur, bukti, kesimpulan, dan review tidak terdokumentasi dengan baik, maka dasar auditor dalam menyusun opini akan lebih sulit ditelusuri.
Selain kelengkapan dokumen, kepatuhan terhadap standar audit juga menjadi faktor yang menentukan kualitas dokumentasi audit. Dokumentasi yang lengkap belum tentu memadai apabila tidak disusun sesuai dengan standar audit yang berlaku. ASA 230 menegaskan bahwa dokumentasi audit harus memberikan bukti bahwa audit telah dilaksanakan sesuai standar audit serta persyaratan hukum dan regulasi yang relevan [4]. Dalam praktik audit di Indonesia, kepatuhan terhadap standar audit menjadi semakin penting karena auditor bekerja dalam lingkungan yang diawasi oleh regulator dan tunduk pada ketentuan profesi. Data sanksi PPPK menunjukkatanggaln bahwa pelanggaran terhadap standar audit dan lemahnya dokumentasi pekerjaan audit dapat berdampak pada sanksi administratif bagi Akuntan Publik [1]. Dengan demikian, kepatuhan terhadap standar audit perlu dilihat sebagai bagian yang melekat dalam penyusunan dokumentasi audit yang berkualitas.
Perkembangan teknologi informasi kemudian mendorong perubahan dalam cara auditor melaksanakan dan mendokumentasikan pekerjaan audit. Dalam praktik modern, auditor tidak lagi bergantung pada kertas kerja manual, melainkan menggunakan alat audit elektronik untuk mendukung pengumpulan bukti, pengolahan dan analisis data, dokumentasi, serta pelaporan. Nour Al-Nawaiseh & Ebraim Nawaiseh menyebutkan alat tersebut meliputi spreadsheet, electronic working paper, generalized audit software, data visualization tools, robotic process automation, dan platform audit terintegrasi [5]. Penggunaan alat-alat tersebut dapat membantu auditor dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses audit apabila digunakan sesuai kebutuhan pekerjaan audit [5]. Dalam dokumentasi audit, teknologi dapat membantu auditor menyusun kertas kerja secara lebih rapi, menyimpan bukti audit secara lebih terorganisasi, serta memudahkan proses review atas pekerjaan yang telah dilakukan.
Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi audit yang berkembang di Indonesia adalah penggunaan Audit Tool and Linked Archive System atau ATLAS. ATLAS merupakan aplikasi berbasis Microsoft Excel yang dikembangkan sebagai alat bantu dalam pelaksanaan audit dan penyusunan kertas kerja audit. Peluncuran ATLAS dilatarbelakangi oleh persoalan penyusunan kertas kerja audit dan pendokumentasian prosedur audit [6]. ATLAS digunakan sebagai sarana untuk menjalankan prosedur audit, mendokumentasikan hasil audit, dan mendukung auditor dalam menyusun dasar pemberian opini [6]. Siklus audit dalam ATLAS mengacu pada tahapan audit yang sistematis, mulai dari pra-perikatan, penilaian risiko, respons risiko, sampai penyelesaian dan pelaporan [6]. Dengan karakteristik tersebut, ATLAS memiliki hubungan langsung dengan proses dokumentasi audit.
Penggunaan ATLAS menjadi relevan karena aplikasi ini dirancang untuk membantu auditor menyusun dokumentasi kertas kerja secara terstruktur dan terintegrasi. ATLAS membantu penyiapan dokumentasi kertas kerja yang dimulai dari tahap pra-perikatan hingga pelaporan, serta memudahkan implementasi kepatuhan terhadap Standar Audit dan Standar Profesional Akuntan Publik [6]. ATLAS juga menyediakan tahapan audit yang mengikuti pendekatan berbasis risiko, sehingga auditor dapat mendokumentasikan proses penerimaan atau keberlanjutan klien, penilaian risiko, respons risiko, hingga penyelesaian audit secara lebih sistematis [6]. Hal ini membuat ATLAS tidak hanya dipahami sebagai aplikasi bantu, tetapi juga sebagai media yang mengarahkan auditor dalam mendokumentasikan proses audit sesuai alur yang telah ditentukan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ATLAS dapat meningkatkan kualitas kinerja auditor melalui struktur kerja yang sistematis, fitur materialistis, dan kepatuhan standar audit [6]. Namun, dampaknya terhadap kuantitas kinerja masih terbatas karena masih digunakan bersama prosedur manual sehingga belum signifikan mempercepat proses audit. ATLAS juga terbukti meningkatkan kompetensi auditor, khususnya pemahaman standar audit dan penerapan audit berbasis risiko [7], serta berpengaruh positif terhadap kualitas audit pada KAP di Bali [8]. Secara umum, ATLAS berkaitan erat dengan peningkatan kualitas audir, kinerja, dan kompetensi auditor.
Meskipun penelitian mengenai ATLAS mulai berkembang, kajian yang secara khusus menempatkan kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS sebagai fokus utama masih terbatas. Sebagian besar penelitian terdahulu masih menggunakan kualitas audit, kinerja auditor, atau kompetensi auditor sebagai variabel utama. Padahal, fungsi ATLAS dalam praktik audit sangat dekat dengan penyusunan kertas kerja, pendokumentasian prosedur, penyimpanan bukti audit, dan penyusunan dasar kesimpulan auditor. Jika penelitian hanya berhenti pada kualitas audit secara umum, kontribusi ATLAS terhadap dokumentasi audit dapat menjadi kurang terlihat. Karena itu, kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS perlu diteliti secara lebih spesifik agar peran ATLAS dalam proses dokumentasi audit dapat dipahami dengan lebih tepat.
Kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS dalam penelitian ini dipandang dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu kelengkapan dokumen audit, kepatuhan terhadap standar audit, dan pemanfaatan teknologi audit. Kelengkapan dokumen audit diperlukan agar prosedur audit, bukti audit, kesimpulan audit, identitas pelaksana, dan proses review dapat terdokumentasi dengan jelas. Kepatuhan terhadap standar audit diperlukan agar dokumentasi yang disusun tidak hanya lengkap, tetapi juga sesuai dengan ketentuan profesional yang berlaku. Pemanfaatan teknologi audit diperlukan karena ATLAS sebagai alat bantu digital hanya dapat memberikan manfaat apabila auditor mampu menggunakannya secara optimal. Ketiga factor tersebut saling terkait dalam membentuk dokumentasi audit yang terstruktur, dapat ditelusuri, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam praktiknya, proses penyusunan dokumentasi audit sering tidak stabil karena auditor menghadapi perubahan standar, variasi klien, kompleksitas transaksi, perkembangan system informasi, keterbatasan sumber daya, tekanan waktu, dan tuntutan penugasan. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian lingkungan, seiring kondisi organisasi yang semakin kompleks, dinamis, dan sulit diprediksi [9]. Dalam pendekatan kontigensi, kesesuaian factor internal dan eksternal organisasi, termasuk ketidakpastian lingkungan, memengaruhi kinerja dan efektivitas penggunaan informasi, serta dapat memoderasi hubungan antara relevansi informasi dan kinerja organisasi [9].
Ketidakpastian lingkungan juga relevan dalam audit karena auditor bekerja dengan klien yang memiliki kondisi, sistem, risiko, dan tekanan yang berbeda-beda. Ketidakpastian lingkungan diukur melalui tiga indikator, yaitu dynamism, environmental heterogeneity, dan environmental hostility [10]. Dynamism menggambarkan perubahan lingkungan yang cepat, environmental heterogeneity menggambarkan keragaman kondisi lingkungan, sedangkan environmental hostility menggambarkan tekanan atau ancaman yang berasal dari lingkungan eksternal. Dalam penelitian sebelumnya, tingkat ketidakpastian lingkungan berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 3,93 yang terdiri dari dynamism sebesar 3,83, environmental heterogeneity sebesar 4,20, dan environmental hostility sebesar 3,89 [10]. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian lingkungan dapat muncul dalam bentuk perubahan, keragaman, dan tekanan yang memengaruhi penggunaan sistem informasi dalam organisasi.
Dalam dokumentasi audit berbasis ATLAS, ketidakpastian lingkungan dapat memengaruhi hubungan antara kelengkapan dokumen audit, kepatuhan terhadap standar audit, pemanfaatan teknologi audit, dan kualitas dokumentasi audit. Dalam kondisi klien dengan system informasi kompleks, transaksi beragama, dan tekanan waktu tinggi, kelengkapan dokumentasi menjadi krusial. Situasi tersebut juga menyulitkan kebutuhan terhadap standar audit karena auditor perlu menyesuaikan prosedur dengan kondisi dan risiko yang ada. Pada saat yang sama, pemanfaatan teknologi audit semakin penting untuk mendukung pekerjaan dalam lingkungan yang dinamis. Oleh karena itu, ketidakpastian lingkungan dalam penelitian ini ditempatkan sebagai variabel moderasi yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara faktor-faktor audit dan kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini diarahkan untuk menguji pengaruh kelengkapan dokumen audit, kepatuhan terhadap standar audit, dan pemanfaatan teknologi audit terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS. Penelitian ini menguji ketidakpastian lingkungan sebagai variable moderasi dalam hubungan ketiga variable terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya kajian audit berbasis teknologi khususnya dokumentasi yang masih jarang dikaji. Secara praktis, hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi auditor dan KAP dalam meningkatkan kualitas dokumentasi melalui kelengkapan dokumen, kepatuhan standar, pemanfaatan teknologi, serta kemampuan menghadapi ketidakpastian lingkungan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria auditor KAP Habib Basuni & Rekan, KAP Nur Shodiq & Rekan yang berdomisili di Surabaya dan pernah terlibat dalam proses audit laporan keuangan serta mengetahui atau pernah menggunakan aplikasi ATLAS. Penelitian ini melibatkan 100 auditor.
Variable yang dikaji meliputi kelengkapan dokumen audit, kepatuhan standar audit, dan pemanfaatan teknologi audit sebagai variable independen, kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS sebagai variable dependen, serta ketidakpastian lingkungan sebagai variable moderasi. Data dikumpulkan melalui kuesioner beeskala Likert 1-5 dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Jumlah item pernyataan adalah 32 item yang terdiri dari 6 item untuk kelengkapan dokumen audit, 6 item untuk kepatuhan terhadap standar audit, 6 item untuk pemanfaatan teknologi audit, 8 item untuk kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS, dan 6 item untuk ketidakpastian lingkungan.
Data dianalisis melalui perhitungan skor variable, uji validitas dan reliabilitas, serta Moderated Regression Analysis (MRA) untuk menguji pengaruh kelengkapan dokumen, standar audit, dan teknologi audit terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS dengan ketidakpastian lingkungan sebagai variable moderasi. Sebelum pengujian, dilakukan uji normalisas, multikolinearitias, dan heteroskedastisitas.
A.Deskripsi Data atau Objek Penelitian
Tabel 1. Deskripsi Data Responden
Sumber: Data primer diolah menggunakan SMARTPLS
Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, responden dalam penelitian ini didominasi oleh laki-laki sebanyak 54 orang atau 54%, sedangkan responden perempuan berjumlah 46 orang atau 46%. Berdasarkan usia, responden didominasi oleh kelompok 25-30 tahun sebanyak 45 orang (45%), diikuti usia <25 tahun sebanyak 28 orang (28%).
Dari segi pendidikan, mayoritas belajar belakang S1 sebanyak 78 orang (78%), menunjukkan dominasi lulusan sarjana yang relevan dengan profesi audit. Sementara itu, berdasarkan jabatan, sebagian besar berada pada posisi Junior Auditor sebanyak 39 orang (39%), diikuti Senior Auditor sebanyak 33 orang (33%).
Berdasarkan lama pengalaman kerja di bidang audit, mayoritas responden memiliki pengalaman 1–3 tahun sebanyak 44 orang atau 44%. Sementara itu, berdasarkan lama pengalaman menggunakan ATLAS, mayoritas responden telah menggunakan ATLAS selama 1–2 tahun sebanyak 42 orang atau 42%. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memiliki pengalaman awal yang cukup dalam menggunakan ATLAS dalam pelaksanaan pekerjaan audit.
Berdasarkan jenis KAP atau tempat bekerja, responden paling banyak berasal dari KAP menengah sebanyak 44 orang atau 44%, diikuti oleh KAP kecil sebanyak 38 orang atau 38%. Selanjutnya, berdasarkan frekuensi penggunaan ATLAS, mayoritas responden menyatakan sering menggunakan ATLAS dalam pekerjaan audit, yaitu sebanyak 43 orang atau 43%. Berdasarkan jumlah penugasan audit yang pernah menggunakan ATLAS, mayoritas responden telah menggunakan ATLAS dalam 3–5 penugasan sebanyak 39 orang atau 39%.
Adapun berdasarkan jenis klien yang paling sering diaudit, mayoritas responden menangani perusahaan menengah sebanyak 41 orang atau 41%, diikuti oleh UMKM sebanyak 32 orang atau 32%. Dengan demikian, responden dalam penelitian ini dapat dikatakan cukup relevan dengan topik penelitian karena mayoritas memiliki pengalaman kerja di bidang audit serta pernah menggunakan ATLAS dalam penugasan audit.
B.Analisis Hasil Penelitian
1.Outer Model
Gambar 1. Outer Loading
Tabel 2. Outer Loadings
Berdasarkan Tabel 2, seluruh indikator pada masing-masing variabel memiliki nilai outer loading di atas 0,70. Hasil outer loading menunjukkan bahwa seluruh item kuesioner pada variabel Dokumen Audit, Ketidakpastian Lingkungan, Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS, Standar Audit, dan Teknologi Audit telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Oleh karena itu, tidak terdapat indikator yang perlu dieliminasi dari model penelitian.
Tabel 3. Cronbach’s Alpha dan AVE
Berdasarkan Tabel 3, seluruh variabel dalam penelitian ini memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,70. Selain itu, nilai Average Variance Extracted atau AVE pada seluruh variabel juga berada di atas 0,50. Dengan demikian, hasil pengujian Cronbach’s Alpha dan AVE menunjukkan bahwa seluruh variabel dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria reliabilitas dan validitas konvergen. Instrumen yang digunakan dapat dinyatakan konsisten dan layak untuk digunakan dalam tahap pengujian inner model.
2.Inner Model
Tabel 4. Uji R2
Berdasarkan Tabel 4, nilai R-Square Adjusted pada variabel Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS adalah sebesar 0,793. Nilai ini menunjukkan bahwa variabel Dokumen Audit, Standar Audit, Teknologi Audit, Ketidakpastian Lingkungan, serta variabel interaksi dalam model mampu menjelaskan Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS sebesar 79,3%. Sisa sebesar 20,7% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian ini. Nilai R-Square Adjusted sebesar 0,793 termasuk dalam kategori kuat, sehingga model penelitian memiliki kemampuan prediksi yang baik terhadap variabel Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS.
3.Bootstrapping
Tabel 5. Hasil Uji Bootstrapping
Berdasarkan hasil uji bootstrapping pada Tabel 5, pengaruh Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS memiliki nilai original sample sebesar -0,003, T-statistics sebesar 0,034, dan P-values sebesar 0,973. Nilai P-values lebih besar dari 0,05, sehingga pengaruh Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS tidak signifikan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa Dokumen Audit berpengaruh terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS ditolak.
Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS memiliki nilai original sample sebesar 0,294, T-statistics sebesar 2,346, dan P-values sebesar 0,019. Nilai P-values lebih kecil dari 0,05, sehingga Ketidakpastian Lingkungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa Ketidakpastian Lingkungan berpengaruh terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS diterima.
Selanjutnya, pengaruh interaksi Ketidakpastian Lingkungan dan Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS memiliki nilai original sample sebesar 0,062, T-statistics sebesar 0,543, dan P-values sebesar 0,587. Nilai P-values lebih besar dari 0,05, sehingga Ketidakpastian Lingkungan tidak mampu memoderasi pengaruh Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Dengan demikian, hipotesis moderasi pada hubungan tersebut ditolak.
Pengaruh interaksi Ketidakpastian Lingkungan dan Standar Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS memiliki nilai original sample sebesar -0,253, T-statistics sebesar 2,057, dan P-values sebesar 0,040. Nilai P-values lebih kecil dari 0,05, sehingga Ketidakpastian Lingkungan terbukti memoderasi pengaruh Standar Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Nilai original sample yang negatif menunjukkan bahwa Ketidakpastian Lingkungan memperlemah hubungan antara Standar Audit dan Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Dengan demikian, hipotesis moderasi pada hubungan tersebut diterima.
Pengaruh interaksi Ketidakpastian Lingkungan dan Teknologi Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS memiliki nilai original sample sebesar 0,239, T-statistics sebesar 2,115, dan P-values sebesar 0,034. Nilai P-values lebih kecil dari 0,05, sehingga Ketidakpastian Lingkungan terbukti memoderasi pengaruh Teknologi Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Nilai original sample yang positif menunjukkan bahwa Ketidakpastian Lingkungan memperkuat hubungan antara Teknologi Audit dan Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Dengan demikian, hipotesis moderasi pada hubungan tersebut diterima.
Pengaruh Standar Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS memiliki nilai original sample sebesar 0,355, T-statistics sebesar 2,968, dan P-values sebesar 0,003. Nilai P-values lebih kecil dari 0,05, sehingga Standar Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa Standar Audit berpengaruh terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS diterima.
Pengaruh teknologi audit terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS menunjukkan koefisien sebesar 0,356 dengan T-satistics 3,066 dan p-value 0,002. Karena p-value < 0,05, teknologi audit terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS, sehingga hipotesis diterima.
Secara keseluruhan, hasil boostrappig mengindikasikan bahwa ketidakpastian lingkungan , standar audit, dan teknologi audit berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS. Sementara itu, Dokumen Audit tidak memiliki pengaruh signifikan. Pada pengujian moderasi, Ketidakpastian Lingkungan terbukti memoderasi hubungan Standar Audit dan Teknologi Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS, sedangkan hubungan Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS tidak berhasil dimoderasi oleh Ketidakpastian Lingkungan.
C.Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian bootstrapping, model penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS lebih banyak dipengaruhi oleh faktor yang berkaitan dengan penerapan standar, pemanfaatan teknologi, dan kondisi lingkungan audit yang dihadapi auditor. Nilai R-Square Adjusted sebesar 0,793 menunjukkan bahwa variabel Dokumen Audit, Standar Audit, Teknologi Audit, Ketidakpastian Lingkungan, serta variabel interaksi dalam model mampu menjelaskan Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS sebesar 79,3%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan penjelasan yang kuat, sehingga hubungan antarvariabel dalam penelitian ini dapat digunakan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Dokumen Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS dengan nilai original sample sebesar -0,003, T-statistics sebesar 0,034, dan P-values sebesar 0,973. Temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan dokumen audit saja belum cukup untuk meningkatkan kualitas dokumentasi apabila dokumen tersebut belum dikelola dalam sistem yang terstruktur. Dalam praktik audit berbasis ATLAS, dokumen audit bukan hanya perlu tersedia, tetapi juga harus dapat dihubungkan dengan prosedur audit, bukti audit, kesimpulan audit, dan proses review. Oleh karena itu, kualitas dokumentasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya dokumen yang disusun auditor, melainkan juga oleh bagaimana dokumen tersebut disusun, ditelusuri, dan digunakan sebagai dasar pertanggungjawaban audit. Hal ini selaras dengan Sumanto dan Rosdiana yang menjelaskan bahwa salah satu tantangan auditor adalah pemahaman audit berbasis risiko dan penyusunan dokumentasi audit yang belum lengkap, sehingga diperlukan aplikasi untuk melaksanakan prosedur audit yang hasilnya dicatat sebagai dasar pemberian opini.[11]
Ketidakpastian Lingkungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS dengan nilai original sample sebesar 0,294, T-statistics sebesar 2,346, dan P-values sebesar 0,019. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ketidakpastian lingkungan yang dihadapi auditor, semakin tinggi pula kebutuhan auditor untuk menyusun dokumentasi audit secara lebih lengkap, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketidakpastian lingkungan dalam penelitian ini mencakup perubahan regulasi, perubahan sistem informasi klien, keberagaman karakteristik klien, kompleksitas transaksi, tekanan waktu, keterbatasan sumber daya, serta tekanan dari klien. Kondisi tersebut membuat auditor perlu bekerja lebih hati-hati karena risiko kesalahan, ketidaksesuaian prosedur, dan kesulitan memperoleh bukti audit dapat meningkat. Gimson, Sinaga, dan Reke menjelaskan bahwa ketidakpastian lingkungan terjadi ketika seseorang tidak mampu memprediksi secara akurat faktor sosial dan fisik yang memengaruhi pengambilan keputusan organisasi.[12] Dalam KAP, kompleksitas lingkungan, ketidakpastian teknologi, dan perubahan kebijakan menuntut KAP untuk mampu beradaptasi secara cepat dan tepat. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakpastian lingkungan mendorong auditor untuk menjadikan dokumentasi berbasis ATLAS sebagai sarana pengendalian, pembuktian, dan pertanggungjawaban audit.
Standar Audit juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS dengan nilai original sample sebesar 0,355, T-statistics sebesar 2,968, dan P-values sebesar 0,003. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik auditor menerapkan standar audit, semakin baik pula kualitas dokumentasi yang disusun melalui ATLAS. Standar audit memberikan arah bagi auditor dalam merencanakan prosedur, mengumpulkan bukti, melakukan evaluasi, dan menyusun kesimpulan audit. Dalam ATLAS, standar audit menjadi dasar agar setiap tahapan audit terdokumentasi secara runtut dan dapat di-review. Nugrahaningtyas dan Priyastiwi menjelaskan bahwa kualitas audit merupakan ukuran mutu pekerjaan auditor yang dicapai melalui kepatuhan terhadap standar audit dan kode etik yang berlaku. Selain itu, ATLAS dikembangkan oleh IAPI dan PPPK sebagai pengganti kertas kerja manual untuk menunjang pelaksanaan tugas auditor dan menekan risiko kesalahan dalam penyusunan kertas kerja audit.[13] Dengan demikian, penerapan standar audit yang baik akan membantu auditor menghasilkan dokumentasi yang lebih lengkap, konsisten, dan sesuai dengan ketentuan profesional.
Teknologi Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS dengan nilai original sample sebesar 0,356, T-statistics sebesar 3,066, dan P-values sebesar 0,002. Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi audit (spreadsheet, kertas kerja elektronik, software audit, visualisasi data, otomatisasi, dan platform terintegrasi) meningkatkan kualitas dokumentasi audit dnegan membuat kerja auditor lebih sistematis, cepat, minim kesalahan, serta memudahkan penelusuran bukti. Musyaffa et al, menyatakan ATLAS mendukung efektivitas audit melalui dokumentasi, analisis, dan pelaporan yang terintegrasi. ATLAS juga tidak hanya mempercepat proses audit, tetapi mendorong proses kerja yang lebih akuntabel, transparan, dan terdokumentasi dengan baik.[14] Hal ini memperkuat hasil penelitian bahwa teknologi audit menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS.
Hasil pengujian interaksi menunjukkan bahwa Ketidakpastian Lingkungan tidak memoderasi pengaruh Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS dengan nilai original sample sebesar 0,062, T-statistics sebesar 0,543, dan P-values sebesar 0,587. Temuan ini menunjukkan bahwa kelengkapan dokumen audit saja belum menentukan kualitas dokumentasi, termasuk dalam kondisi yang tidak pasti. Kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS lebih bergantung pada proses dokumentasi yang terintegrasi antara dokumen, prosedur, bukti dan kesimpulan audit.
Interaksi ketidakpastian lingkungan dan standar audit berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS (β = -0,253; T = 2,057; p = 0,040), menunjukkan bahwa ketidakpastian lingkungan melemahkan efektivitas standar audit dalam meningkatkan kualitas dokumentasi. Perubahan regulasi, tekanan waktu, keterbatasan sumber daya, dan kompleksitas klien dapat menghambat penerapan standar audit secara optimal. Tekanan kerja yang tinggi juga berpotensi menurunkan kualitas audir [15]. Oleh karena itu, standar audit perlu didukung kompetensi, teknologi, waktu, dan pengendalian mutu yang memadai agar tetap efektif dalam kondisi yang tidak pasti.
Interaksi ketidakpastian lingkungan dan teknologi audit berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS (β = 0,239; T = 2,115; p = 0,034), yang menunjukkan bahwa ketidakpastian lingkungan memperkuat peran teknologi audit dalam meningkatkan kualitas dokumentasi. Dalam kondisi klien yang kompleks, sistem informasi yang berubah, tekanan waktu yang tinggi, dan kebutuhan bukti audit yang lebih beragam, teknologi membantu auditor bekerja lebih cepat, rapi, dan terarah. Gimson, Sinaga, dan Reke menjelaskan bahwa penggunaan teknologi informasi pada KAP dapat meningkatkan efisiensi proses audit dan pelaporan, meningkatkan akurasi, mempercepat informasi keuangan, serta memudahkan penyimpanan dan akses data.[12] Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa ketidakpastian lingkungan dan digital transformation berpengaruh positif terhadap kinerja auditor KAP, sehingga transformasi digital menjadi respons penting dalam menghadapi lingkungan yang berubah.[12]
Secara keseluruhan, kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS lebih diengaruhi oleh standar audit, teknologi, dan kemampuan menghadapi ketidakpastian, bukan sekedar keberadaan dokumen. Dokumen audit tidak signifikan karena harus dikelola secara terstruktur agar menjadi dasar pertanggungjawaban. Standar dan teknologi mengingatkan kualitas melalui proses yang sistematis, sedangkan ketidakpastian menekankan kelengkapan dan keterlacakan. Hasil moderasi menunjukkan ketidakpastian tidak memperkuat pengaruh dokumen audit, melemahkan standar audit, namun memperkuat peran teknologi dalam menghadapi kompleksitas dan tekanan waktu. Dengan demikian, ATLAS dan teknologi menjadi kunci kualitas dokumentasi pada kondisi audit dinamis. Secara praktis, KAP perlu pelatihan berkelanjutan berbasis teknologi dan standar audit, tidak hanya penguasaan ATLAS, tetapi juga kepatuhan prosedur, bukti, dan kesimpulan agar auditor tetap adaptif tanpa mengurangi standar.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS sebesar 79,3%, sedangkan sisanya sebesar 20,7% dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Hasil outer model juga menunjukkan bahwa seluruh indikator telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, sehingga instrumen penelitian layak digunakan. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa Dokumen Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan dokumen audit saja belum cukup untuk meningkatkan kualitas dokumentasi apabila tidak dikelola secara sistematis dan terintegrasi melalui ATLAS.
Ketidakpastian Lingkungan, Standar Audit, dan Teknologi Audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Artinya, kualitas dokumentasi audit berbasis ATLAS akan meningkat apabila auditor mampu merespons ketidakpastian lingkungan, menerapkan standar audit dengan baik, serta memanfaatkan teknologi audit secara optimal. Ketidakpastian lingkungan dalam penelitian ini tercermin dari perubahan regulasi, kompleksitas transaksi dan karakteristik klien, perubahan sistem informasi, tekanan waktu, serta keterbatasan sumber daya yang menuntut auditor untuk menyusun dokumentasi audit yang lebih lengkap, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan melalui ATLAS. Hasil moderasi menunjukkan bahwa Ketidakpastian Lingkungan tidak memoderasi pengaruh Dokumen Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Ketidakpastian Lingkungan memperlemah pengaruh Standar Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS, tetapi memperkuat pengaruh Teknologi Audit terhadap Kualitas Dokumentasi Audit Berbasis ATLAS. Dengan demikian, teknologi audit memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dokumentasi ketika auditor menghadapi lingkungan audit yang semakin kompleks. Oleh karena itu, manajemen Kantor Akuntan Publik perlu memperkuat pelatihan standar audit, meningkatkan pengawasan kualitas dokumentasi, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi audit berbasis ATLAS agar dampak negatif ketidakpastian lingkungan terhadap penerapan standar audit dapat diminimalkan.
Penulis berterima kasih kepada auditor KAP yang telah menjadi responden serta semua pihak yang mendukung proses penelitian hingga penyusunan artikel ini. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan praktik audit, khususnya peningkatan kualitas dokumentasi berbasis ATLAS.
[1] Kementerian Keuangan Republik Indonesia, “PPPK Berikan Sanksi Tegas Akuntan Publik dan Penilai Publik,” https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/siaran-pers/PPPK-Berikan-Sanksi-Tegas-%281%29?utm_source=chatgpt.com.
[2] R. S. Rama, N. Darmayanti, D. Kusmayasari, M. Suhardiyah, and Z. Abdullah, “The Influence Of Professional Skeptism, Independence, Audit Fee, And Remote Audit Process On Auditor Performance,” Owner, vol. 8, no. 2, pp. 1009–1027, Mar. 2024, doi: 10.33395/owner.v8i2.2116.
[3] N. Darmayanti, “The Effect of Audit Opinion, Financial Distress, Client Size, Management Turn and KAP Size on Auditor Switching,” Journal of Economics, Business, & Accountancy Ventura, vol. 20, no. 2, pp. 237–248, Oct. 2017, doi: 10.14414/jebav.v20i2.1125.
[4] Auditing and Assurance Standards Board, “Auditing Standard ASA 2022-2 Amendments to Australian Auditing Standards,” 2022.
[5] H. Nour Al-Nawaiseh and M. Ebrahim Nawaiseh, “Impact of Electronic Auditing Tool Utilization on Audit Performance: The Mediating Role of Auditor’s Digital Competence,” 2025.
[6] F. Cahyaning Falianda and F. Izza Noor Abidin, “The Effectiveness of Implementing the Audit Tool and Linked Archive System (ATLAS) on Auditor Performance [Efektivitas Penerapan Aplikasi Audit Tool and Linked Archive System (ATLAS) Terhadap Kinerja Auditor],” UMSIDA Preprints Server, 2026.
[7] M. Umroh, “THE EFFECT OF ATLAS APPLICATION IMPLEMENTATION ON AUDITOR COMPETENCY PENGARUH,” COSTING: Journal of Economic, Business and Accounting, vol. 9, no. 1, 2026.
[8] A. A. P. R. Andari, N. L. S. Widhiyani, and I. K. Sujana, “The Influence of ATLAS Utilization, Auditor Competence, and Time Pressure on Audit Quality at Public Accounting Firms in Bali Province,” Journal of International Accounting, Taxation and Information Systems, vol. 2025, no. 3, pp. 350–364, 20AD, [Online]. Available: https://jiatis.com/index.php/journal
[9] R. Pires and M. C. G. Alves, “The Impact of Environmental Uncertainty on Accounting Information Relevance and Performance: A Contingency Approach,” Economies, vol. 10, no. 9, Sep. 2022, doi: 10.3390/economies10090211.
[10] J. M. N. Flores, C. G. P. Baguio, F. J. M. Idul, and M. E. M. Llemit, “Accounting Information System and Environmental Uncertainty among Agri-Related Cooperatives in Davao del Norte,” International Journal of Multidisciplinary: Applied Business and Education Research, vol. 5, no. 6, pp. 2325–2333, Jun. 2024, doi: 10.11594/ijmaber.05.06.32.
[11] A. Sumanto, M. Rosdiana, U. Wijaya, and K. Surabaya, “ANALISIS PERSPEKTIF MAHASISWA PADA PENERAPAN KERTAS KERJA ATLAS (AUDIT TOOL AND LINKED ARCHIVE SYSTEM),” BALANCE: Economic, Business, Management, and Accounting Journal, no. 1, 2023.
[12] G. Gimson, J. T. G. Sinaga, and J. S. U. Reke, “THE INFLUENCE OF ENVIRONMENTAL UNCERTAINTY, DIGITAL TRANSFORMATION ON THE PERFORMANCE OF PUBLIC ACCOUNTING FIRM AUDITORS,” COSTING: Journal of Economic, Business and Accounting, vol. 8, no. 2, 2025.
[13] A. Febrina Nugrahaningtyas and S. Widya Wiwaha, “PROMOSI: Jurnal Program Studi Pendidikan Ekonomi PENERAPAN SOFTWARE ATLAS DAN KOMPETENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT DENGAN ETIKA AUDITOR SEBAGAI VARIABEL MODERASI,” vol. 12, no. 2, pp. 187–200, 2024, doi: 10.24127/ajpm.
[14] I. A. Musyaffa, A. Muhamad Daffa, L. Alfiandy, and D. J. Thahara, “Digitalisasi Audit: Implementasi Aplikasi ATLAS dalam Meningkatkan Efisiensi dan Profesionalisme KAP Heliantono & Rekan Ungaran,” PAKDIMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat), vol. 2, no. 1, pp. 2988–1889, 2025, [Online]. Available: http://ojs.stiemujahidin.ac.id/index.php/pakdimas
[15] J. R. Melanie and D. Darmastuti, “Kompleksitas Tugas, Audit Fee, dan Kualitas Audit: Moderasi Diskriminasi Harga,” EL MUHASABA: Jurnal Akuntansi (e-Journal), vol. 14, no. 2, 2023.