Login
Section Business and Economics

Entrepreneurship Education Family Support And Generative Artificial Intelligence Predicting Student Business Intentions


Pendidikan Kewirausahaan Dukungan Keluarga Dan Kecerdasan Buatan Generatif Memprediksi Niat Bisnis Mahasiswa
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Alya Nuralifah Fajrin (1), Wijang Sakitri (2)

(1) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika Dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika Dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Entrepreneurship creates jobs, fosters innovation, and strengthens economic resilience within the modern digital era. Specific Background Indonesia faces high unemployment alongside low founder ratios, making undergraduates crucial candidates for venture creation, yet actual startup rates remain significantly low. Knowledge Gap Previous literature predominantly evaluates social environments and digital tools separately, leaving a scarcity of research analyzing these factors simultaneously utilizing the Theory of Planned Behavior framework. Aims This study investigates how academic instruction, household backing, and generative algorithms predict undergraduate venture intentions. Results A quantitative explanatory analysis using multiple linear regression on 162 respondents reveals that academic instruction, household backing, and generative algorithms concurrently yield a positive, significant role shaping venture intentions. Novelty This research distinctly integrates modern digital tools alongside traditional academic variables into a unified predictive model. Implications Universities must prioritize practical learning experiences, foster supportive communities, and integrate responsible technology utilization preparing future founders.


Highlights


  • Academic instruction significantly cultivates proactive venture creation mindsets.




  • Household encouragement provides crucial emotional backing for undergraduates.




  • Modern digital algorithms optimize market opportunity analysis plus promotional strategies.




Keywords

Entrepreneurial Intention; Entrepreneurship Education; Family Support; Generative Artificial Intelligence; University Students

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Kewirausahaan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi modern karena mampu menciptakan lapangan kerja, inovasi, dan daya saing ekonomi. Di negara berkembang, kewirausahaan juga berfungsi sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi pengangguran. Kewirausahaan tidak hanya berasal dari keinginan untuk mendapat keuntungan melainkan kewirausahaan juga berfokus pada penciptaan nilai baru melalui kreativitas dan inovasi. Perkembangan ekonomi digital semakin memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mendirikan perusahaan berbasis teknologi. Situasi ini menjadikan kewirausahaan sebagai elemen kunci dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Maka dari itu, penguatan budaya kewirausahaan sangat penting bagi Indonesia dalam menghadapi persaingan di tingkat global..

Perkembangan kewirausahaan di Indonesia masih berhadapan dengan berbagai masalah, meskipun proporsi wirausaha di tingkat nasional telah mencapai 3,29% pada tahun 2025. Walaupun angka ini telah melebihi target nasional yang ditetapkan sebesar 3,10%, namun masih kalah dibandingkan dengan negara-negara seperti Malaysia dan Thailand yang sudah mencapai 4%, serta Singapura yang mencapai 8,6%. Keadaan ini menunjukkan bahwa jumlah pengusaha di Indonesia belum memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan cara yang maksimal. Permasalahan lain muncul dari tingginya angka pengangguran yang menunjukkan keterbatasan lapangan kerja formal. Data BPS tahun 2025 juga memperlihatkan Tingkat Pengangguran Terbuka Kota Semarang sebesar 5,65% sehingga kewirausahaan dipandang sebagai solusi alternatif menciptakan peluang kerja baru. Situasi tersebut memperlihatkan urgensi peningkatan niat berwirausaha terutama pada kalangan mahasiswa .

Mahasiswa merupakan kelompok generasi muda yang memiliki kreativitas, inovasi, dan kemampuan adaptasi tinggi terhadap perkembangan teknologi. Perguruan tinggi berperan penting dalam membentuk pola pikir kewirausahaan melalui pendidikan, pelatihan, organisasi mahasiswa, dan praktik bisnis. Namun, realitas menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswa memiliki niat kuat untuk menjadi wirausaha setelah lulus kuliah. Hasil observasi yang dilakukan dengan ketua UKM Kewirausahaan Universitas Katolik Soegijapranata menunjukkan jumlah 33 mahasiswa yang berwirausaha hasil tersebut terlihat bahwa masih sangat sedikit dibandingkan total mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa munculnya perilaku kewirausahaan tidak terjadi secara otomatis, tetapi diawali oleh terbentuknya entrepreneurial intention maka, diperlukan penelitian yang membahas beberapa faktor untuk meningkatkan niat berwirausaha mahasiswa .

Salah satu faktor yang akan memengaruhi niat berwirausaha mahasiswa adalah pendidikan kewirausahaan yang diperoleh selama perkuliahan. Pendidikan kewirausahaan dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan bisnis, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan inovasi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata, universitas telah menyediakan berbagai program seperti teori bisnis, pencatatan keuangan, pemasaran, hingga fasilitas pengembangan usaha mahasiswa. Penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwasanya pendidikan kewirausahaan memiliki hubungan positif kepada niat berwirausaha mahasiswa. Meskipun demikian, masih ditemukan kendala praktik seperti lemahnya pengelolaan usaha dan pencatatan penjualan mahasiswa. Keadaan ini mengindikasikan bahwa pendidikan kewirausahaan belum sepenuhnya berhasil dalam mempersiapkan mahasiswa secara optimal untuk mengelola sebuah perusahaan. .

Selain pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam meningkatkan keinginan untuk berbisnis di kalangan mahasiswa. Bentuk dukungan keluarga motivasi emosional, bantuan uang, saran, serta pengalaman dalam bisnis, yang semuanya mendukung mahasiswa dalam membuat keputusan terkait usaha. Penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang mendapat dukungan dari keluarga cenderung lebih memiliki semangat dan keberanian yang lebih untuk memulai usaha. Namun, hasil wawancara menunjukkan masih terdapat mahasiswa yang kurang mendapatkan dukungan emosional maupun finansial dari keluarga. Sebagian keluarga bahkan lebih mengarahkan mahasiswa untuk memilih pekerjaan formal dibandingkan menjadi wirausaha. Kondisi ini menyebabkan niat berwirausaha mahasiswa belum berkembang secara optimal sehingga dukungan keluarga perlu dikaji lebih mendalam dalam penelitian ini .

Perkembangan teknologi digital, khususnya Generative Artificial Intelligence (Gen-AI), membuka peluang baru dalam pengembangan kewirausahaan mahasiswa. Teknologi ini dapat mendukung mahasiswa dalam menemukan gagasan bisnis, melakukan studi pasar, menyusun material promosi, serta merancang strategi pemasaran yang lebih efisien. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa penerapan Gen-AI mempengaruhi secara positif minat untuk berusaha, karena hal tersebut memperkuat pandangan individu tentang kemampuan diri dan kepercayaan diri mereka. Namun, hasil wawancara mengindikasikan bahwa pemakaian Gen-AI oleh mahasiswa masih terbatas pada pekerjaan-pekerjaan dasar seperti membuat brosur dan materi promosi. Selain itu, sebagian besar penelitian sebelumnya masih mengkaji pengaruh pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan teknologi digital secara terpisah, sehingga belum banyak penelitian yang menganalisis ketiga variabel tersebut secara simultan dalam membentuk niat berwirausaha mahasiswa. Padahal, di era digital saat ini, niat berwirausaha tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan lingkungan sosial, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi berbasis AI untuk mendukung aktivitas kewirausahaan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dengan memasukkan Gen-AI sebagai faktor yang memengaruhi niat berwirausaha mahasiswa dalam kerangka Theory of Planned Behavior .

Penelitian ini mengkaji mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata. Tujuan penelitian ini yakni guna mengeksplorasi dampak pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan Gen-AI kepada niat berwirausaha mahasiswa. Kajian ini memiliki urgensi yang tinggi karena meskipun pihak universitas telah menyediakan berbagai layanan pendukung, jumlah mahasiswa yang berminat untuk berwirausaha tetap rendah. Selain itu, penelitian ini juga penting sebab perkembangan teknologi digital menuntut mahasiswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan penggunaan teknologi AI di dalam dunia bisnis. Penelitian ini penting dilakukan karena masih terbatasnya kajian yang mengintegrasikan faktor pendidikan, dukungan sosial keluarga, dan teknologi digital dalam satu kerangka model penelitian mengenai kewirausahaan mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangan teoretis dalam pengembangan lebih lanjut pada Theory of Planned Behavior khususnya pada konteks kewirausahaan digital, serta menghasilkan implikasi praktis untuk perguruan tinggi dalam membangun ekosistem kewirausahaan berbasis teknologi.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis explanatory research untuk menguji pengaruh pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan kecerdasan buatan generatif pada niat berwirausaha mahasiswa secara parsial maupun simultan. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur hubungan antar variabel melalui data berbentuk angka maupun pengujian hipotesis secara statistik . Prosedur penelitian dilakukan secara sistematis mulai dari identifikasi masalah, penyusunan kerangka berpikir dan hipotesis, penyusunan instrumen penelitian yakni kuesioner, hingga analisis data memakai regresi linear berganda . Penelitian dilaksanakan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata pada tahun 2026 karena memiliki lingkungan kewirausahaan yang aktif dan mendukung pengembangan usaha mahasiswa. Populasi penelitian berjumlah 271 mahasiswa FEB angkatan 2023 yang telah menempuh mata kuliah kewirausahaan. Berdasarkan perhitungan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, diperoleh sampel sebanyak 162 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik probability sampling dan proportional sampling .

Variabel pada penelitian ini berisi pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan kecerdasan buatan generatif sebagai variabel independen, serta niat berwirausaha sebagai variabel dependen. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala Likert dalam bentuk lima poin untuk bisa menghitung persepsi responden pada setiap indikator dalam penelitian. Pendidikan kewirausahaan diukur melalui kualitas pembelajaran, pengembangan kompetensi, dukungan universitas, dan kepuasan pembelajaran. Dukungan keluarga diukur melalui dukungan emosional, intelektual, dan ekonomi, sedangkan kecerdasan buatan generatif diukur melalui kemampuan memahami peluang usaha, inovasi, pengurangan risiko, dan analisis strategi bisnis . Variabel niat berwirausaha diukur melalui indikator keinginan berwirausaha, keseriusan menjadi wirausaha, dan komitmen dalam bertindak. Seluruh indikator disusun berdasarkan penelitian terdahulu dan dikembangkan sesuai konteks mahasiswa.

Data penelitian tersusun atas data primer yang berasal dari sebaran kuesioner pada mahasiswa dan data sekunder yang didapatkan dari buku, jurnal, serta dokumen pendukung lainnya . Sebelum digunakan, instrumen penelitian telah diuji validitas dan reliabilitasnya menggunakan IBM SPSS. Hasil uji validitas memperlihatkan bahwa keseluruhan item berada pada nilai signifikansi < 0,05 oleh karena itu dianggap valid. Selain itu, temuan uji reliabilitas memperlihatkan bahwasanya koefisien Cronbach’s Alpha pada semua variabel > 0,70 yang memiliki arti bahwasanya instrumen ditetapkan reliabel serta sesuai untuk penelitian.

Teknik analisis data yang diterapkan pada analisis ini yakni statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, serta uji hipotesis dibantu IBM SPSS. Uji asumsi klasik berisi uji normalitas, multikolinearitas, serta heteroskedastisitas demi menonfirmasi bahwa model regresi telah mencukupi syarat analisis statistik . Selanjutnya, analisis regresi linear berganda dipakai demi mencermati dampak masing-masing variabel independen maupun pengaruh secara simultan terhadap niat berwirausaha mahasiswa. Uji hipotesis dihitung lewat uji parsial (uji t), uji simultan (uji F), dan koefisien determinasi () semi memahami tingkat keterlibatan variabel bebas kepada variabel terikat. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menyajikan penfsiran yang mendalam tentang hubungan antara beberapa faktor yang mempengaruhi niat berwirausaha di kalangan mahasiswa pada zaman digital. Selain itu, studi ini juga mengakomodasi elemen-elemen etika dalam penelitian, seperti persetujuan dari partisipan, perlindungan informasi, kejujuran dalam pengolahan data, dan orisinalitas karya ilmiah, agar hasil penelitian ini memiliki dasar yang solid baik secara akademis maupun etis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Analisis Statistik Deskriptif

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif terhadap 162 responden, seluruh variabel penelitian berada dalam kategori sangat tinggi. Variabel Pendidikan Kewirausahaan memiliki nilai rata-rata sebesar 42,56 dengan jumlah standar deviasi 5,315, di mana mayoritas responden berada pada kategori sangat tinggi sebesar 69,1%. Variabel Dukungan Keluarga memperoleh nilai rata-rata 38,22 dengan standar deviasi 4,856 dan didominasi kategori sangat tinggi sebesar 85,2%. Selanjutnya, variabel Kecerdasan Buatan Generatif memiliki rata-rata sebesar 64,07 dengan standar deviasi 7,682, dengan mayoritas responden berada pada kategori sangat tinggi sebesar 54,3%. Adapun variabel Niat Berwirausaha memperoleh nilai rata-rata sebesar 38,34 dengan standar deviasi 4,779 dan didominasi kategori sangat tinggi sebesar 81,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FEB Universitas Katolik Soegijapranata memiliki tingkat pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, pemanfaatan kecerdasan buatan generatif, serta niat berwirausaha yang sangat tinggi.

2. Uji Asumsi Klasik

Uji normalitas mengacu pada data yang terdistribusi dengan normal ataupun tidak, guna menguji normalitas data memakai metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Landasan guna pengambilan keputusan di uji ini yakni jikalau nilai signifikansi melebihi α = 0,05 (tingkat signifikansi 5%), maka data berdistribusi normal. Kebalikannya, jikalau nilai signifikansi lebih kecil daripada α = 0,05, maka data tidak berdistribusi normal. Pengujian ini dilakukan dibantu software IBM SPSS Statistics didapatkan hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Uji Normalitas

Berlandaskan tabel 1, temuan uji normalitas menrapkan Kolmogorov-Smirnov didapati nilai signifikansi sebesar 0,200 yang menunjukkan bahwa lebih besar daripada 0,05. Perihal ini memiliki hasil bahwasanya data residual pada model regresi berdistribusi normal. Nilai tersebut mengindikasikan tidak adanya penyimpangan dari distribusi normal. Dengan demikian, asumsi normalitas telah terpenuhi dalam penelitian ini. Oleh karena itu, analisis regresi dapat dilakukan dengan metode parametrik.

Uji multikolineritas digunakan untuk bisa mencermati apabila terjadi korelasi antar variabel bebas. Uji multikolinearitas yang dipakai di analisis ini yaitu analisis nilai tolerance serta variance inflation factor (VIF). Model regresi ditetapkan bebas dari multikolinieritas jikalau variabel independen dari nilai hasil uji tolerance sebesar ≥ 0,1 dan nilai hasi uji VIF ≤ 10. Hasil uji pada analisis ini diperlihatkan di tabel 2:

Tabel 2. Hasil Uji Multikolinieritas

(Sumber: Data Diolah, 2026)

Berlandaskan tabel 2, temuan pada uji multikolinearitas diketahui yaitu nilai tolerance seluruh variabel lebih besar daripada 0,10 dan nilai VIF lebih kecil daripada 10. Nilai VIF pada X1 sebesar 1,008, X2 sebesar 1,003, serta X3 sebesar 1,007. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen. Dengan demikian, variabel bebas tidak saling berkorelasi tinggi. Oleh karena itu, model regresi dinyatakan layak digunakan.

Uji heteroskedastisitas mempunyai tujuan guna bisa mengetahui apabila terjadi ketidaksamaan varian pada residual. Model regresi yang baik yakni yang tidak memiliki heteroskedastisitas. Untuk dapat mengetahui ada tidaknya gejala heterokedastisitas dapat menggunakan bantuan program analisis statistik SPPS 25 melalui uji Glejser, dengan ketentuan nilai signifikansi > 0,05 . Hasil uji heterokedastisitas pada tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Uji Heterokedastisitas

(Sumber: Data Diolah, 2026)

3. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi linear berganda pada penelitian yaitu guna mencermati dampak variabel independen kepada variabel dependen baik dengan parsial juga simultan. Metode ini digunakan ketika terdapat lebih dari satu variabel bebas yang mempengaruhi satu variabel terikat . Temuan analisis persamaan regresi linear berganda di tabel 4:

Tabel 4. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

(Sumber: Data Diolah, 2026)

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda menggunakan IBM SPSS Statistics diperoleh persamaan regresi . Nilai konstanta sebesar 28,571 menunjukkan bahwa niat untuk berwirausaha memiliki nilai positif meskipun tidak didorong oleh pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan kecerdasan buatan generatif. Koefisien pendidikan kewirausahaan sebesar 0,181 menunjukkan bahwa peningkatan dalam pendidikan kewirausahaan mempunyai dampak positif serta signifikan kepada niat berwirausaha. Koefisien dukungan keluarga sebesar 0,176 menunjukkan bahwasanya niat berwirausaha para siswa juga meningkat secara signifikan seiring dengan bertambahnya dukungan dari keluarga. Sementara itu, koefisien kecerdasan buatan generatif sebesar 0,074 menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan terhadap niat berwirausaha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketiga variabel independen memiliki pengaruh positif terhadap peningkatan niat berwirausaha mahasiswa.

4. Uji Hipotesis

Uji Parsial (Uji T) guna menguji secara individual dampak variabel independen kepada variabel dependen dengan individual dalam model regresi . Uji Parsial menggunakan IBM SPSS yakni:

a. Apabila, signifikan > 0,05 maka Ha ditolak.

b. Apabila, signifikan < 0,05 maka Ha diterima.

Tabel 5. Hasil Uji Parsial (Uji T)

(Sumber: Data Diolah, 2026)

Temuan uji parsial (uji t) menunjukkan bahwasanya variabel Pendidikan Kewirausahaan mempunyai nilai t hitung sebesar 2,335 lebih besar daripada t tabel 1,975 dengan nilai signifikansi 0,001 < 0,05. Temuan tersebut memperlihatkan bahwasanya Pendidikan Kewirausahaan berdampak positif serta signifikan kepada Niat Berwirausaha mahasiswa. Dengan demikian, hipotesis pertama (H1) yang menyatakan adanya pengaruh Pendidikan Kewirausahaan terhadap Niat Berwirausaha dinyatakan diterima.

Variabel Dukungan Keluarga mendapati nilai t hitung sebesar 2,687 lebih besar daripada t tabel 1,975 dengan nilai signifikansi 0,037 < 0,05. Temuan memperlihatkan sesungguhnya Dukungan Keluarga dengan parsial berdampak positif serta signifikan kepada Niat Berwirausaha mahasiswa. Kian tinggi dukungan emosional, intelektual, maupun finansial dari keluarga, maka semakin tinggi pula niat mahasiswa untuk berwirausaha. Maka karenanya, hipotesis kedua (H2) ditetapkan diterima.

Selanjutnya, variabel Kecerdasan Buatan Generatif mempunyai nilai t hitung sebesar 2,434 lebih besar daripada t tabel 1,975 dengan nilai signifikansi 0,002 < 0,05. Temuan tersebut memperlihatkan bahwasanya Kecerdasan Buatan Generatif berdampak positif serta signifikan kepada Niat Berwirausaha mahasiswa. Pemanfaatan teknologi Generative Artificial Intelligence mampu membantu mahasiswa dalam menemukan ide bisnis, meningkatkan kreativitas, dan mendukung pengambilan keputusan usaha. Maka karenanya, hipotesis ketiga (H3) yang menetapkan terdapatnya dampak Kecerdasan Buatan Generatif kepada Niat Berwirausaha ditetapkan diterima.

Uji Simultan (Uji F) dipakai guna menguji semua variabel independen pada suatu model regresi dengan bersamaan berpengaruh signifikan pada variabel dependen . Uji Parsial menggunakan IBM SPSS yakni :

a. Apabila, signifikan > 0,05 maka Ha ditolak.

b. Jikalau, signifikan < 0,05 maka Ha diterima.

Tabel 6. Hasil Uji Simultan (Uji F)

(Sumber: Data Diolah, 2026)

Berdasarkan tabel hasil uji F diketahui nilai F hitung sebesar 8,953 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menjelaskan bahwa variabel Pendidikan Kewirausahaan, Dukungan Keluarga, dan Kecerdasan Buatan Generatif secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel Niat Berwirausaha. Dengan demikian, model regresi layak digunakan untuk pengujian hipotesis. Hasil ini menunjukkan bahwa ketiga variabel bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. Oleh karena itu, model memenuhi uji simultan.

Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur sejauh mana data dependen dapat dijelaskan oleh data independen. Seberapa besar variabel independen yaitu pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga dan kecerdasan buatan generatif mampu menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependen yaitu niat berwirausaha dalam sebuah model regresi Nilai R2 memiliki kisaran antara 0 sampai 1, yaitu pada nilai yang lebih tinggi memperlihatkan bahwasanya model regresi lebih baik pada menerangkan perubahan terjadi pada variabel dependen.

Tabel 7. Hasil Koefisien Determinasi (R2)

(Sumber: Data Diolah, 2026)

Berlandaskan tabel 7, temuan uji Koefisien Determinasi (R2) dicermati bahwasanya nilai Adjusted R Square sebesar 0,429 dengan arti pengaruh variabel Pendidikan Kewirausahaan, Dukungan Keluarga, serta Kecerdasan Buatan Generatif dengan bersama-sama atau simultan dalam model regresi sebesar 42,9%.

B. Pembahasan

1. Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan terhadap Niat Berwirausaha

Pendidikan Kewirausahaan merupakan proses pembelajaran untuk bisa mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kewirausahaan pada suatu individu. Pada konteks penelitian ini, pendidikan kewirausahaan merupakan salah satu faktor yang diharapkan mampu membentuk niat berwirausaha mahasiswa, dengan adanya pendidikan kewirausahaan diharapkan mahasiswa bisa memiliki niat berwirausaha yang tinggi.

Berlandaskan temuan analisis deskriptif, variabel Pendidikan Kewirausahaan ada di kategori sangat tinggi yang memiliki arti bahwa sebagian besar responden menilai pendidikan kewirausahaan yang diperoleh selama perkuliahan mampu memberikan pemahaman, keterampilan, serta pengalaman yang mendukung aktivitas kewirausahaan. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasakan manfaat dari pembelajaran kewirausahaan yang dibagikan oleh perguruan tinggi.

Hasil penelitian pada variabel pendidikan kewirausahaan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berwirausaha mahasiswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin baik pendidikan kewirausahaan yang diterima mahasiswa, maka semakin tinggi pula niat mahasiswa untuk menjadi seorang wirausaha. Maka karenanya, hipotesis pertama menetapkan bahwasanya pendidikan kewirausahaan berdampak kepada niat berwirausaha mahasiswa dinyatakan diterima.

Temuan kajian ini sejalan dengan Theory of Planned Behavior (TPB) yang dijabarkan oleh , terkhusus di komponen attitude toward behavior. Pendidikan kewirausahaan mampu membentuk sikap yang positif mahasiswa terhadap dunia usaha dengan pemberian pengetahuan, pengalaman, serta pemahaman mengenai peluang bisnis dan cara mengelola usaha. Ketika mahasiswa mempunyai pemahaman yang baik pada kewirausahaan, maka mereka akan memandang aktivitas berwirausaha sebagai sesuatu yang menarik dan bermanfaat sehingga mendorong munculnya niat untuk berwirausaha.

Pendidikan kewirausahaan juga mendukung mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan mereka untuk mengenali kesempatan bisnis, berpikir inovatif, dan membangun keberanian untuk mengambil risiko. Dengan pendidikan kewirausahaan, mahasiswa tidak sekadar mendapatkan wawasan teoritis, namun juga pengalaman nyata yang menguatkan niat mereka untuk memulai bisnis. Ini menunjukkan bahwa proses belajar memiliki peran yang krusial dalam mengembangkan sikap kewirausahaan di kalangan siswa.

Temuan analisis ini selaras dengan kajian yang dilaksanakan oleh bertajuk “Role of entrepreneurial education and perceived opportunity in shaping entrepreneurial intention of female students” yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap niat berwirausaha mahasiswa. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pembelajaran kewirausahaan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berfungsi sebagai alat penting untuk mengelola dan memberdayakan mahasiswa untuk mewujudkan potensi kewirausahaan mereka. Selain itu penelitian dengan judul “Do Entrepreneurship Education and Family Experience Promote Student'sEntrepreneurial Intention? The Mediating Role of Unemployment Rate: An IntegratedAnalysis through Entrepreneurship Theory, Social Learning Theory, and Hidden Unemployment Theory”, yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berwirausaha mahasiswa, tingginya nilai pendidikan kewirausahaan menunjukkan bahwa mahasiswa merasa pembelajaran kewirausahaan yang diterima telah membantu mereka memahami dunia bisnis dan meningkatkan kesiapan dalam berwirausaha.

Penelitian ini juga didukung oleh dengan judul “Catalyzing entrepreneurial intentions among female students: unpacking the role of entrepreneurship education and gender stereotype dynamics” yang menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan terbukti menjadi prediktor yang kuat, tidak hanya secara langsung memengaruhi niat tetapi secara tidak langsung melalui pengaruh positifnya pada tiga faktor kognitif. Mahasiswa yang memperoleh pendidikan kewirausahaan dengan baik cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dalam kemampuan berwirausaha, sehingga lebih terdorong memilih kewirausahaan untuk pilihan karier di masa depan.

Temuan analisis ini memperlihatkan pula bahwasanya pendidikan kewirausahaan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan rendahnya minat mahasiswa untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Mahasiswa yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan dengan baik cenderung lebih percaya diri untuk memilih karier sebagai wirausaha dibandingkan hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus kuliah.

Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat bahwa pendidikan kewirausahaan mempunyai pengaruh penting terhadap niat berwirausaha mahasiswa. Semakin tinggi pendidikan kewirausahaan yang diterima, maka semakin tinggi kecenderungan mahasiswa untuk memilih kewirausahaan sebagai pilihan karier di masa depan.

2. Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Niat Berwirausaha

Dukungan keluarga merupakan bagian dari dukungan sosial yang berasal dari lingkungan terdekat individu. Pada konteks penelitian ini dukungan keluarga dibutuhkan pada mahasiswa untuk meningkatkan niat berwirausaha. Dukungan tersebut dapat berupa perhatian, motivasi, arahan, maupun bantuan ekonomi yang diberikan keluarga kepada mahasiswa dalam proses memulai usaha. Adanya dukungan dari keluarga membuat mahasiswa merasa lebih percaya diri, aman, dan yakin dalam menghadapi risiko serta tantangan berwirausaha.

Berlandaskan temuan pada analisis deskriptif, untuk variabel dukungan keluarga ada di kategori tinggi. Perihal ini menunjukkan bahwasanya responden merasa mendapatkan dukungan dari keluarga, baik dalam bentuk dukungan emosional, arahan, maupun dukungan ekonomi dalam aktivitas kewirausahaan. Dukungan tersebut membuat mahasiswa merasa lebih percaya diri dan memiliki keyakinan untuk memulai usaha di masa depan.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis variabel dukungan keluarga menunjukkan pengaruh positif serta signifikan kepada niat berwirausaha mahasiswa. Temuan itu memperlihatkan jika kian tinggi dukungan yang diberikan keluarga, maka kian tinggi juga niat mahasiswa guna menjadi seorang wirausaha. Maka karenanya, hipotesis kedua yang menguraikan bahwasanya dukungan keluarga berdampak kepada niat berwirausaha mahasiswa dinyatakan diterima.

Temuan kajian ini selaras dengan Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikatakan oleh Ajzen (1991), terkhusus di komponen subjective norms. Dalam penjelasan teori ini, diungkapkan bahwa keinginan individu dipengaruhi oleh dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga. Saat mahasiswa mendapatkan dukungan dan pengakuan dari keluarga mengenai keputusan karier sebagai pengusaha, maka mereka akan merasa lebih percaya diri dan terdorong untuk menjalankan bisnis.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa keluarga memiliki peranan yang sangat vital untuk membentuk keyakinan serta keberanian mahasiswa guna mengambil keputusan berwirausaha. Dukungan keluarga tidak hanya berupa motivasi, tetapi juga bantuan berupa saran, pengalaman, serta dukungan finansial yang dapat membantu mahasiswa menghadapi tantangan dalam memulai usaha. Mahasiswa yang memperoleh dukungan keluarga cenderung memiliki rasa aman dan keberanian yang lebih tinggi dalam menghadapi risiko bisnis.

Temuan analisis ini selaras dengan kajian yang dijalankan oleh bertajuk ”Fostering entrepreneurial intention in family business: the robustness of orientation, support, education and self-efficacy” yang menyatakan bahwa dukungan keluarga dapat meningkatkan niat berwirausaha mahasiswa melalui pemberian motivasi, pengalaman, serta dukungan emosional dan finansial. Dalam penelitian ini, mahasiswa yang mendapat dukungan keluarga yang tinggi cenderung mempunyai rasa percaya diri serta keyakinan lebih besar pada memulai usaha, sehingga niat berwirausaha juga semakin meningkat. Selain itu, penelitian bertajuk “Efikasi Diri, Motivasi Wirausaha, Dukungan Keluarga, Dan Pendidikan Pengaruhnya Terhadap Niat Berwirausaha” yang mengemukakan bahwasanya dukungan keluarga berdampak positif serta signifikan kepada niat berwirausaha mahasiswa. Dalam penelitian tersebut, dukungan dari anggota keluarga seperti orang tua maupun saudara mampu meningkatkan rasa tanggung jawab, kompetensi, serta kepercayaan diri mahasiswa pada bidang kewirausahaan.

Penelitian ini juga didukung oleh dengan judul ”The Role of Family Support, Self-efficacy, and Entrepreneurial Education in Developing Entrepreneurial Intentions in Developing Countries” yang mengemukakan bahwa dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan niat berwirausaha melalui dukungan emosional, pendanaan, serta peningkatan keyakinan diri mahasiswa. Dalam penelitian ini, mahasiswa yang memperoleh dukungan keluarga yang tinggi cenderung lebih percaya diri dan lebih siap untuk memulai usaha. Hal tersebut menunjukkan bahwa dukungan keluarga mampu memperkuat keberanian mahasiswa dalam menghadapi risiko dan tantangan kewirausahaan sehingga mendorong munculnya niat berwirausaha yang lebih tinggi.

Dengan demikian, hasil penelitian memperkuat yakni dukungan keluarga mempunyai peran penting untuk meningkatkan niat berwirausaha mahasiswa. Kian tinggi dukungan yang diberikan keluarga, maka kian besar juga kecenderungan mahasiswa guna memilih kewirausahaan sebagai pilihan karier di masa depan.

3. Pengaruh Kecerdasan Buatan Generatif terhadap Niat Berwirausaha

Kecerdasan buatan generatif (generative artificial intelligence) merupakan teknologi yang mampu membantu mahasiswa dalam mencari informasi, menghasilkan ide bisnis, menganalisis pasar, serta mendukung pengambilan keputusan usaha. Dalam penelitian ini, generative AI dipandang sebagai faktor baru yang relevan dalam membentuk niat berwirausaha mahasiswa di era digital.

Berdasarkan pada hasil analisis deskriptif variabel kecerdasan buatan generatif menunjukkan pada kategori sangat tinggi hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memanfaatkan generative AI dalam mendukung aktivitas pembelajaran maupun pengembangan ide usaha. Mahasiswa merasa bahwa penggunaan teknologi tersebut membantu mereka memahami konsep kewirausahaan, menemukan peluang bisnis, serta meningkatkan efisiensi dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan terkait usaha.

Hasil pengujian hipotesis variabel kecerdasan buatan generatif memperlihatkan dampak positif serta signifikan kepada niat berwirausaha mahasiswa. Hasil tersebut menunjukkan semakin tinggi pemanfaatan generative AI oleh mahasiswa, maka semakin tinggi pula niat mahasiswa untuk berwirausaha.

Temuan dari studi ini sinkron dengan Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikatakan oleh Ajzen (1991), terkhusus di komponen perceived behavioral control. terutama berkaitan dengan elemen kontrol perilaku yang dirasakan. Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI) berperan dalam meningkatkan keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka dalam memulai dan menjalankan usaha. Kemudahan dalam mengakses informasi, kemampuan untuk menganalisis data, dan dukungan dalam merencanakan strategi bisnis membuat mahasiswa merasa siap dan lebih percaya diri saat ingin memulai usaha.

Teknologi generative AI juga mampu meningkatkan kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam mengembangkan ide bisnis. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk membuat konten promosi, menganalisis tren pasar, hingga membantu penyusunan perencanaan bisnis. Dengan adanya dukungan teknologi tersebut, hambatan dalam memulai usaha menjadi lebih rendah sehingga meningkatkan keyakinan mahasiswa untuk berwirausaha.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh dengan judul “Pengaruh Intensitas Penggunaan Generative AI terhadap Niat Berwirausaha Digital: Studi pada Digital ProductManager di Indonesia” mengemukakan bahwasanya ada dampak positif yang sangat kuat serta signifikan antara intensitas penggunaan Generative AI kepada niat berwirausaha. Di samping itu, kajian yang dijalankan oleh dengan judul “Generative artificial intelligence in entrepreneurship education enhances entrepreneurial intention through self-efficacy and university support” menyatakan bahwa Generative AI secara signifikan meningkatkan efikasi diri kewirausahaan dan niat berwirausaha.

Penelitian ini juga didukung oleh dengan judul “Generative AI in Higher Education Assessments: Examining Risk and Tech-Savviness on Student’s Adoption” menyatakan bahwa generative AI menjadi teknologi yang mampu meningkatkan pengalaman belajar dan efisiensi individu dalam memperoleh informasi serta menghasilkan solusi secara cepat. Sebagai komponen dari penelitian ini, mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan generatif untuk memperkuat proses pembelajaran dalam kewirausahaan, menyusun konten pemasaran, dan mengevaluasi peluang di pasar. Alat-alat tersebut memberikan dukungan bagi mahasiswa agar mereka merasa lebih siap dan yakin saat menjalani usaha, yang pada gilirannya meningkatkan motivasi mereka untuk memasuki bidang kewirausahaan.

Dengan demikian, Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa kecerdasan buatan yang bersifat generatif mempunyai pengaruh yang signifikan untuk meningkatkan keinginan berwirausaha mahasiswa. Semakin tinggi pemanfaatan generative AI, maka kian tinggi juga keyakinan dan kesiapan mahasiswa guna memulai usaha di era digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memberikan edukasi mengenai pemanfaatan AI secara bertanggung jawab agar mahasiswa tidak sekadar mengandalkan teknologi, namun juga mampu mengembangkan kemampuan analitis dan kreativitas secara mandiri.

4. Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan, Dukungan Keluarga, dan Kecerdasan Buatan Generatif terhadap Niat Berwirausaha

Pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan kecerdasan buatan generatif merupakan faktor yang saling melengkapi dalam membentuk niat berwirausaha mahasiswa. Pendidikan kewirausahaan memberikan dasar pengetahuan dan keterampilan, dukungan keluarga memberikan rasa percaya diri dan motivasi emosional, sedangkan generative AI meningkatkan kemampuan teknis dan efisiensi mahasiswa dalam menjalankan usaha. Kombinasi ketiga faktor tersebut dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk memulai usaha.

Berlandaskan temuan analisis deskriptif, seluruh variabel independen ada di kategori tinggi hingga sangat tinggi, temuan itu memperlihatkan bahwasanya mahasiswa mempunyai persepsi yang baik terhadap pembelajaran kewirausahaan, memperoleh dukungan keluarga yang cukup tinggi, serta aktif memanfaatkan generative AI dalam mendukung aktivitas kewirausahaan.

Hasil pengujian simultan menggunakan uji F, diketahui bahwa pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, dan kecerdasan buatan generatif secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berwirausaha mahasiswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketiga variabel memiliki kontribusi dalam meningkatkan niat mahasiswa untuk menentukan kewirausahaan sebagai pilihan karier di masa depan.

Temuan kajian ini selaras dengan Theory of Planned Behavior (TPB) yang dijabarkan oleh Ajzen (1991), yang berkata bahwasanya niat seseorang akan terpengaruh oleh sikap kepada perilaku (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norms), serta persepsi kontrol perilaku (perceived behavioral control). Pada kajian ini pendidikan kewirausahaan menciptakan attitude toward behavior, dukungan keluarga memperkuat subjective norms, dan generative AI meningkatkan perceived behavioral control. Ketiga komponen tersebut saling mendukung dalam membangun keyakinan mahasiswa untuk memulai usaha. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan bisnis, tetapi juga dukungan sosial dan kemampuan memanfaatkan teknologi agar merasa siap menjadi wirausaha.

Temuan kajian ini selaras dengan studi yang dilaksanakan oleh dengan judul “Role of Entrepreneurial Education and Family Support in Shaping Entrepreneurial Intention: Mediating Effects of Self-Efficacy and Attitude toward Entrepreneurship” menemukan bahwasanya pendidikan kewirausahaan serta dukungan keluarga dengan simultan berdampak kepada niat berwirausaha melalui peningkatan self-efficacy dan sikap kewirausahaan. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh dengan judul “How do generative artificial intelligence, entrepreneurial education and entrepreneurial capacity interact to spark entrepreneurial intentions among business graduates in the digital space?” menunjukkan bahwa integrasi antara pendidikan kewirausahaan dan pemanfaatan generative AI dapat memperkuat kapasitas kewirausahaan serta meningkatkan niat berwirausaha mahasiswa di era digital.

Mahasiswa yang memperoleh pendidikan kewirausahaan yang baik, mendapatkan dukungan keluarga, serta mampu memanfaatkan teknologi digital cenderung memiliki keyakinan dan kesiapan yang lebih tinggi dalam memulai usaha. Hal tersebut relevan dengan hasil penelitian ini, di mana ketiga variabel secara simultan mampu meningkatkan niat berwirausaha mahasiswa. Ketiga variabel dalam penelitian ini saling melengkapi dalam membentuk niat berwirausaha mahasiswa. Pendidikan kewirausahaan memberikan mahasiswa dasar pengetahuan serta keterampilan dalam bisnis, dukungan dari keluarga mendorong semangat dan pengakuan sosial, dan kecerdasan buatan generatif berperan dalam meningkatkan efisiensi, kreativitas, serta kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa di sektor bisnis. Gabungan ketiga elemen ini menunjukkan bahwa keinginan mahasiswa untuk berwirausaha di zaman digital tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengetahuan, tetapi juga oleh dukungan dari lingkungan sosial mereka dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru.

Hasil dari studi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan niat berwirausaha di kalangan mahasiswa tidak sekadar terpengaruh oleh aspek internal misalnya pengetahuan serta kemampuan, namun juga oleh dukungan dari lingkungan sosial dan penggunaan teknologi digital. Dengan demikian, institusi pendidikan tinggi perlu menciptakan ekosistem kewirausahaan yang lebih terpadu, yang mencakup pembelajaran berbasis praktik, layanan konsultasi bisnis, komunitas wirausaha, serta penerapan teknologi digital dengan cara yang etis dan produktif. Selain itu, mahasiswa perlu didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam menciptakan peluang usaha baru.

SIMPULAN

Berlandaskan temuan analisis, bisa ditarik inti sari bahwasanya pendidikan kewirausahaan, dukungan keluarga, serta kecerdasan buatan generatif secara parsial maupun simultan berdampak positif serta signifikan kepada niat berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata. Kajian ini memberikan hasil bahwasanya niat berwirausaha mahasiswa dipengaruhi oleh pendidikan, dukungan lingkungan keluarga, serta pemanfaatan teknologi digital. Selain itu, generative artificial intelligence menjadi faktor baru yang dapat mempercepat pengembangan ide bisnis, analisis peluang pasar, dan meningkatkan efisiensi aktivitas kewirausahaan mahasiswa di era digital. Hasil penelitian juga mendukung Theory of Planned Behavior (TPB), yang mengemukakan bahwasanya pendidikan kewirausahaan bisa menciptakan sikap positif terhadap kewirausahaan, dukungan dari keluarga memperkuat jaringan sosial, dan kecerdasan buatan generatif meningkatkan keyakinan mahasiswa dalam memulai usaha. Oleh karena itu, disarankan agar perguruan tinggi mengembangkan pendidikan kewirausahaan yang praktis melalui proyek bisnis, mentoring, dan inkubasi usaha. Selain itu, pemanfaatan generative artificial intelligence harus dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip etis dan produktif untuk mendorong kreativitas dan inovasi di kalangan mahasiswa. Penelitian ini dilakukan secara khusus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Soegijapranata sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, penelitian hanya menggunakan pendekatan kuantitatif dan berfokus pada tiga variabel penelitian. Perguruan tinggi juga perlu memperkuat ekosistem kewirausahaan melalui pelatihan, komunitas bisnis, dan dukungan teknologi digital. Serta peneliti selanjutnya disarankan menambah variabel seperti pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik, pemanfaatan AI, dan penguatan ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi untuk memperluas objek penelitian agar hasil penelitian menjadi lebih komprehensif.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak Universitas Katolik Soegijapranata yang telah mengizinkan untuk melakukan penelitian. Penulis juga menyampaikan apresiasi untuk keseluruhan responden yang sudah bersedia meluangkan waktu mengisi kuesioner penelitian. Ucapan terima kasih turut diberikan pada dosen pembimbing, keluarga, serta semua pihak yang sudah memberi dukungan, motivasi, dan bantuan pada proses penyusunan penelitian hingga penyelesaian artikel ini.

References

[1] H. Munir, S. Nauman, F. Ali Shah, and U. Zahid, “Attitude towards entrepreneurship education and entrepreneurial intentions among generation Z: unleashing the roles of entrepreneurial self-efficacy and social norms in Pakistani context,” Journal of Entrepreneurship and Public Policy, vol. 13, no. 2, pp. 255–277, 2024, doi: 10.1108/JEPP-07-2023-0065.

[2] S. Ayudiana, “Rasio kewirausahaan nasional 2025 capai 3,29 persen,” 2025.

[3] T. R. González, M. V Flores, M. D. Fernandez, and H. U. Lohse, “Individual entrepreneurial orientation and digital entrepreneurial intention: examining the mediating role of digital competencies,” Education + Training, vol. 68, no. 2, pp. 184–204, 2026, doi: 10.1108/ET-01-2025-0011.

[4] E. Melese, A. Kumar, A. K. Kashyap, and R. K. Kovid, “Role of entrepreneurial education and perceived opportunity in shaping entrepreneurial intention of female students,” LBS Journal of Management & Research, vol. 23, no. 2, pp. 222–235, 2025, doi: 10.1108/LBSJMR-08-2024-0089.

[5] M. R. Haque, M. Kour, and M. H. Mahin, “The Role of Family Support, Self-efficacy, and Entrepreneurial Education in Developing Entrepreneurial Intentions in Developing Countries,” Journal of the Knowledge Economy, vol. 16, no. 3, pp. 12143–12169, 2024, doi: 10.1007/s13132-024-02285-1.

[6] Y. H. Al-Mamary, “The transformative power of artificial intelligence in entrepreneurship: exploring AI’s capabilities for the success of entrepreneurial ventures,” Future Business Journal, vol. 11, no. 1, p. 104, 2025, doi: 10.1186/s43093-025-00533-7.

[7] Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Sugiyono 2023. CV. ALFABETA, 2023.

[8] Prof. H. Ghozali, APLIKASI ANAL ISIS MULTIVARIATE Dengan Program IBM SPSS 26 IBM" SPSS" Statistics ». 2021.

[9] Amruddin et al., Metodologi Penelitian Kuantitatif. Sukoharjo: Pradina Pustaka, 2022.

[10] Y. Xie and S. Wang, “Generative artificial intelligence in entrepreneurship education enhances entrepreneurial intention through self-efficacy and university support,” Sci. Rep., vol. 15, no. 1, p. 24079, 2025, doi: 10.1038/s41598-025-09545-3.

[11] A. Soesana et al., Buku Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yayasan Kita Menulis, 2023.

[12] Z. Iba and A. Wardhana, ANALISIS REGRESI DAN ANALISIS JALUR UNTUK RISET BISNIS MENGGUNAKAN SPSS 29.0 & SMART-PLS 4.0. EUREKA MEDIA AKSARA, 2024.

[13] M. Indartini and Mutmainah, “Analisis DATA KUANTITATIF Uji Instrumen, Uji Asumsi Klasik, Uji Korelasi dan Regresi Linier Berganda,” 2024.

[14] I. Ghozali, APLIKASI ANALISIS MULTIVARIATE dengan Program IBM SPSS 26, 10th ed. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2021.

[15] M. Indartini and Mutmainah, ANALISIS DATA KUANTITATIF Uji Instrumen, Uji Asumsi Klasik, Uji Korelasi dan Regresi Linier Berganda. Lakeisha, 2024.

[16] I. Ajzen, “The theory of planned behavior,” Organ. Behav. Hum. Decis. Process., vol. 50, no. 2, pp. 179–211, Dec. 1991, doi: 10.1016/0749-5978(91)90020-T.

[17] P. Diawati, O. Karneli, S. Siminto, A. Pitoyo, and L. Judijanto, “Do Entrepreneurship Education and Family Experience Promote Students Entrepreneurial Intention? The Mediating Role of Unemployment Rate: An Integrated Analysis through Entrepreneurship Theory, Social Learning Theory, and Hidden Unemployment Theory,” Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, vol. 10, no. 1, p. 65, 2024, doi: 10.33394/jk.v10i1.10465.

[18] T. D. Vu and P. L. Dang, “Catalyzing entrepreneurial intentions among female students: unpacking the role of entrepreneurship education and gender stereotype dynamics,” Gender in Management: An International Journal, pp. 1–23, 2026, doi: 10.1108/gm-07-2025-0434.

[19] N. A. A. Abdelwahed and B. A. Soomro, “Fostering entrepreneurial intention in family business: the robustness of orientation, support, education and self-efficacy,” Journal of Islamic Accounting and Business Research, pp. 1–28, 2025, doi: 10.1108/JIABR-02-2025-0121.

[20] A. Yogas and N. Hidayah, “Efikasi Diri, Motivasi Wirausaha, Dukungan Keluarga, dan Pendidikan Pengaruhnya terhadap Niat Berwirausaha,” Jurnal Manajerial Dan Kewirausahaan, vol. 6, no. 2, pp. 271–283, 2024, doi: 10.24912/jmk.v6i2.29830.

[21] R. P. Kostarian, E. S. Soegoto, and S. W. K. Modjo, “Pengaruh Intensitas Penggunaan Generative AI terhadap Niat Berwirausaha Digital: Studi pada Digital Product Manager di Indonesia,” Jurnal Manajemen, Bisnis dan Kewirausahaan, vol. 6, no. 1, pp. 223–238, Jan. 2026, doi: 10.55606/jumbiku.v6i1.6676.

[22] Y. Oc, C. Gonsalves, and L. T. Quamina, “Generative AI in Higher Education Assessments: Examining Risk and Tech-Savviness on Student’s Adoption,” Journal Marketing Education, vol. 47, no. 2 Special Issue, pp. 138–155, 2025, doi: 10.1177/02734753241302459.

[23] F. Wadood, M. A. Luner, and F. Akbar, “Role of Entrepreneurial Education and Family Support in Shaping Entrepreneurial Intention: Mediating Effects of Self-Efficacy and Attitude toward Entrepreneurship,” Journal of Asian Development Studies, vol. 14, no. 3, pp. 411–423, 2025, doi: 10.62345/jads.2025.14.3.35.

[24] Moh. Q. Ayaz, I. Saleem, N. Hayat, and A. Rauf, “How do generative artificial intelligence, entrepreneurial education and entrepreneurial capacity interact to spark entrepreneurial intentions among business graduates in the digital space?,” Journal of Applied Research in Higher Education, pp. 1–16, 2025, doi: 10.1108/JARHE-02-2025-0122.