Sri Kuntifa (1), Ari Metalin Ika Puspita (2), Moch Nursalim (3)
General Background Schools function as formal educational institutions that are responsible for fostering both academic development and the psychological well-being of young learners. Specific Background Despite this mandate, increasing incidents of bullying, excessive academic pressure, and emotional distress continually threaten the psychological security of elementary students. Knowledge Gap Although the Indonesian government mandated the Child-Friendly School Program to combat these issues, empirical qualitative research examining its direct role in cultivating the specific cognitive and affective dimensions of subjective well-being within real-world elementary settings remains limited. Aims This study describes the role of the Child-Friendly School Program on students’ psychological well-being at SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya. Results Utilizing a qualitative case study approach with data from principals, teachers, students, and parents, the analysis revealed that the program effectively minimized negative emotional affect, such as fear and anxiety. Concurrently, it promoted positive affect and life satisfaction by fostering secure learning environments, eliminating physical punishments, and nurturing emotionally supportive teacher-student relationships. Novelty This research distinctly bridges Urie Bronfenbrenner's ecological systems theory with Ed Diener's subjective well-being framework, demonstrating that structured non-discriminatory institutional policies directly translate into measurable improvements in childhood emotional security and self-confidence. Implications Educational institutions must systematically enforce non-discriminatory disciplinary policies and prioritize empathetic teacher-student communication to sustain a secure psychological climate that optimizes childhood learning experiences.
Highlights
The Child-Friendly School Program effectively eliminates fear and anxiety by strictly prohibiting physical disciplinary actions.
Emotionally supportive teacher-student interactions directly cultivate positive affective experiences and enhance childhood self-confidence.
Structured non-discriminatory institutional policies significantly improve the overall subjective well-being of elementary learners.
Keywords
Child Friendly School; Psychological Well-Being; Subjective Well-Being; Elementary Education; Learning Environment
Sistem pendidikan dasar Indonesia merupakan fondasi penting yang berperan sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membentuk karakter, dan membangun kesejahteraan psikologis anak. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal tidak hanya fokus pada pengembangan aspek akademik, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter, membangun kesehatan mental, dan menciptakan kesejahteraan psikologis siswa. Lingkungan belajar anak-anak memiliki pengaruh besar pada perkembangan kognitif, perilaku emosional, dan hubungan sosial selama proses pendidikan (Santrock, 2011).
Secara konseptual, sekolah adalah tempat belajar dengan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak. Lingkungan pendidikan yang positif dapat membantu perkembangan emosional dan sosial siswa sehingga siswa mampu berkembang secara optimal (Desmita, 2017). Lingkungan sekolah yang efektif adalah lingkungan yang menjamin pemenuhan hak-hak anak, upaya pencegahan berbagai bentuk kekerasan, dan memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapatnya. Sekolah berupaya membangun lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa merasa dihargai, diterima, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sekolah (UNICEF, 2009) Child-Friedly Schools Manual. New York.
Kesejahteraan subjektif dapat didefinisikan sebagai penilaian pribadi terhadap kepuasan hidup (penilaian kognitif), baik kepuasan hidup umum maupun lebih spesifik dan pengalaman respons emosional positif dan negatif ketika berperilaku dalam lingkungan belajar (Ed Diener, 1984). Teori ini menekankan bahwa kesejahteraan bersifat subjektif, yang berarti kesejahteraan diperoleh dari pengalaman individu dalam menilai kehidupan mereka sendiri, bukan pada indikator objektif karena kondisi ekonomi atau status sosial. Individu dengan kesejahteraan subjektif yang tinggi cenderung memiliki perasaan bahagia, merasakan kepuasan dalam hidup mereka, dan memiliki hubungan sosial yang positif (Diener, Suh, Lucas, dan Smith, 1999).
Akhir-akhir ini, banyak permasalahan di lingkungan sekolah dalam berbagai bentuk perilaku yang dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan kesejahteraan psikologis siswa, seperti meningkatnya kasus perundungan, penggunaan media digital yang berlebihan, tekanan akademik, dan tuntutan sosial dan emosional yang tidak dikelola dengan baik di lingkungan sekolah. Bullying adalah perilaku agresif yang terjadi berulang kali dalam tindakan mendominasi interaksi ketidakseimbangan perlakuan antara pelaku individu dan pihak yang terkena dampak (Olweus, 1993). Lingkungan sekolah yang tidak mendukung dapat menyebabkan berbagai masalah psikologis pada siswa, seperti stres, kecemasan, kepercayaan diri rendah, dan penurunan motivasi untuk belajar.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menunjukkan bahwa selama tahun 2025 akan terjadi 2.031 kasus pelanggaran hak anak dengan pencapaian 2.063 korban di Indonesia. Ada peningkatan data jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sehingga membutuhkan penanganan yang komprehensif. Salah satu pelanggaran hak-hak anak adalah kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Berdasarkan laporan pengaduan yang diterima KPAI, kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di satuan pendidikan sebanyak 37,5% kasus, di mana kasusnya menempati posisi yang cukup tinggi, terutama di lingkungan sekolah dasar. Bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, perundungan, dan kekerasan psikologis.
Dalam upaya mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) mengesahkan Peraturan Menteri PPPA Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak. Peraturan ini menekankan bahwa satuan pendidikan harus berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan hak-hak anak dalam mewujudkan anak yang berakhlak mulia, memiliki psikologi yang sehat, memiliki jiwa nasionalis, menciptakan lingkungan belajar anak yang aman, bersih, sehat, peduli, dan inklusif tanpa diskriminasi sehingga anak merasa nyaman dan mendapatkan.
Teori ekologi perkembangan anak dari Urie Bronfenbrenner (1979) menjelaskan bahwa perkembangan sosial dan emosional anak dipengaruhi oleh lingkungan fisik di sekitarnya. Sekolah sebagai bagian dari sistem mikro memiliki pengaruh langsung pada perkembangan individu siswa. Lingkungan sekolah yang aman dan positif akan membantu siswa berkembang secara optimal.
Selain itu, teori belajar dari Bandura (1977) menjelaskan bahwa perilaku belajar anak adalah melalui observasi dan meniru perilaku di lingkungan sosialnya. Guru dan lingkungan sekolah adalah model yang akan ditiru oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, lingkungan sekolah yang positif dapat membantu membentuk perilaku, emosi positif, dan kesejahteraan psikologis siswa.
Harapan ideal dari penyelenggaraan Sekolah Ramah Anak adalah memberikan dampak yang baik pada psikologi siswa seiring dengan meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa (subjective well-being) di sekolah. Sekolah ramah adalah lembaga yang dapat menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan dan bahagia, merasa dihargai, disambut secara sosial, menerima dukungan emosional dari guru dan teman, serta memiliki kesempatan untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah. Konsep manajemen seperti ini akan berdampak pada kenyamanan siswa, suasana hati yang bahagia, dan kepuasan dalam pengalaman belajar. (Sriwahyuni, T. E., & Alfiansyah, R. (2025).
A. Komponen Sekolah Ramah Anak
Pelaksanaan Sekolah Ramah Anak dilakukan melalui enam komponen utama, yaitu: 1) Kebijakan Sekolah Ramah Anak. Sekolah memiliki kebijakan yang mendukung perlindungan anak, seperti anti-bullying, anti-kekerasan, mekanisme pengaduan, dan disiplin non-diskriminatif. 2) Implementasi Proses Pembelajaran Ramah Anak. Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang berpusat pada siswa, menghormati perbedaan individu, dan mendorong partisipasi aktif anak-anak dalam proses pembelajaran. 3) Pendidik dan tenaga kependidikan yang dilatih tentang hak-hak anak. Guru dan tenaga kependidikan memiliki pemahaman tentang hak-hak anak, komunikasi empatik, dan penerapan disiplin positif dalam pembelajaran. 4) Fasilitas dan prasarana yang aman dan ramah anak. Sekolah menyediakan fasilitas yang aman, sehat, bersih dan mendukung kenyamanan belajar siswa. 5) Partisipasi anak-anak. Memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pendapatnya dan terlibat dalam kegiatan sekolah. 6) Partisipasi Orang Tua dan Masyarakat. Sekolah membangun kerja sama dengan orang tua dan masyarakat dalam mendukung perkembangan anak.
B. Kesejahteraan Psikologis Siswa
Kesejahteraan Psikologis atau Kesejahteraan Subjektif adalah suatu kondisi ketika individu mampu menilai kehidupan mereka secara positif dan merasakan pengalaman emosional yang menyenangkan (Diener, 1984). Menurut Ed Diener (2000), kesejahteraan subjektif terdiri dari dua aspek utama, yaitu aspek kognitif berupa kepuasan hidup dan aspek afektif berupa pengalaman emosional positif dan emosi negatif yang rendah.
Gambar 1. Konsep Kepuasan Hidup Individu (Sumber: Ed Diener, 2000)
Kepuasan hidup adalah aspek kognitif dari kesejahteraan psikologis. Ini berarti bahwa individu membuat penilaian rasional terhadap kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Pengaruh Positif adalah pengalaman emosional yang menyenangkan seperti kebahagiaan, kebanggaan, kenyamanan, dan antusiasme. Pengaruh Negatif adalah pengalaman emosi yang tidak menyenangkan, seperti kecemasan, ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan depresi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk dapat memahami lebih menyeluruh penerapan Program Sekolah Ramah Anak dan kaitannya dengan kesejahteraan subjektif siswa dalam konteks alami lingkungan sekolah. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini cenderung berfokus pada proses, makna, dan dinamika yang terjadi selama pelaksanaan program di lingkungan sekolah.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus. Penelitian studi kasus adalah jenis pendekatan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengkaji suatu fenomena secara komprehensif, komprehensif, dan faktual untuk mendapatkan gambaran nyata di lapangan. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran lengkap tentang realitas yang terjadi, sehingga peneliti dapat memahami fenomena tersebut secara lebih komprehensif.
Penggunaan metodologi studi kasus dalam penelitian ini memungkinkan peneliti untuk memahami pelaksanaan program secara jelas, kontekstual, dan komprehensif berdasarkan kondisi terkini di lapangan. Metode ini digunakan untuk menyelidiki kasus secara metodis dalam sistem saat ini dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber, seperti observasi, dokumentasi, dan wawancara, untuk mendapatkan informasi terperinci tentang kasus yang sedang diselidiki (Creswell, 2013).
Selain itu, studi kasus digunakan untuk menyelidiki kasus kontemporer secara lebih rinci dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batas antara kasus dan konteks tidak terlihat jelas, sehingga peneliti perlu menggunakan berbagai sumber bukti untuk memahami kasus tersebut secara komprehensif (Yin, 2014).
Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah yang telah menerapkan program sekolah ramah anak, yaitu SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya. Latar belakangnya, sekolah tersebut merupakan lokasi penelitian karena implementasi prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak di SD masih perlu dikaji lebih dalam, terutama dalam hal konsistensi pelaksanaan.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya, siswa kelas V yang berjumlah 27 siswa. Sedangkan informan pendukung adalah kepala sekolah, guru kelas, tenaga kependidikan, dan orang tua siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Sementara itu, teknik analisis data juga digunakan dalam penelitian ini, dengan tujuan untuk memahami secara mendalam pelaksanaan Program Sekolah Ramah Anak dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan psikologis siswa sekolah dasar.
Gambar 2. Tahap Analisis Data (Sumber: Miles dan Huberman, 2014)
Langkah pertama dalam analisis data adalah pengumpulan data, yang bertujuan untuk merampingkan dan memusatkan data lapangan yang belum diproses. Seleksi, konsentrasi, kategorisasi, dan pengelompokan data sesuai dengan penekanan penelitian adalah bagian dari proses ini. Untuk menyajikan gambaran yang jelas tentang fenomena yang diteliti, data yang dikurangi harus disusun ulang secara teratur, yang membuat langkah ini penting untuk penelitian kualitatif.
Proses menyusun informasi yang dipadatkan menjadi gaya metodis dan dapat dipahami sehingga peneliti dapat membuat kesimpulan yang tepat dikenal sebagai reduksi data. Untuk menyajikan gambaran yang jelas tentang fenomena yang diteliti, data yang dikurangi harus disusun ulang secara teratur, yang membuat langkah ini penting untuk penelitian kualitatif.
Langkah terakhir dalam analisis data adalah penarikan dan verifikasi kesimpulan, yang bertujuan untuk menentukan signifikansi data yang telah diperiksa.Tahapan ini tidak hanya untuk merangkum hasil penelitian, tetapi juga menjadi proses interpretasi yang mendalam terhadap temuan yang diperoleh di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, kesimpulan bersifat sementara dan selalu diverifikasi selama proses penelitian, memungkinkan perubahan atau penyesuaian saat ditemukan data baru dan lebih relevan.
Selain itu, teknik validitas data juga dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh memiliki tingkat kebenaran, kepercayaan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan sumber triangulasi, teknik triangulasi, dan waktu triangulasi.
1)Triangulasi sumber, yaitu membandingkan data yang diperoleh dari kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan tenaga kependidikan. Dalam penelitian ini digunakan triangulasi sumber untuk melihat kesesuaian informasi mengenai pelaksanaan program Sekolah Ramah Anak, misalnya antara kebijakan yang disampaikan oleh kepala sekolah dengan praktik yang dilakukan oleh guru dan pengalaman yang dirasakan langsung oleh siswa.
2)Triangulasi teknis, yaitu membandingkan data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, data kenyamanan dan keselamatan siswa tidak hanya diperoleh melalui wawancara, tetapi juga diamati langsung melalui observasi dan diperkuat dengan dokumen atau arsip sekolah.
3)Triangulasi waktu, yaitu mengumpulkan data pada waktu yang berbeda untuk melihat konsistensi data. Dalam penelitian ini, pendataan dilakukan lebih dari sekali untuk memastikan bahwa kondisi yang diamati, seperti interaksi sosial dan suasana belajar, benar-benar mencerminkan kondisi stabil dan bukan situasi sesaat.
A.Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya, sekolah telah menerapkan berbagai prinsip Program Sekolah Ramah Anak dalam kegiatan belajar sehari-hari dan budaya sekolah.
1. Penerapan Program Sekolah Ramah Anak
Program Sekolah Ramah Anak di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya dilaksanakan melalui berbagai kegiatan dan kebijakan sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan inklusif bagi siswa. Pelaksanaan program dilakukan secara komprehensif melalui aspek kebijakan sekolah, proses pembelajaran, hubungan sosial warga sekolah, partisipasi siswa, dan dukungan sarana dan prasarana sekolah.
Dari segi kebijakan, sekolah memiliki aturan dan budaya sekolah yang menanamkan disiplin, toleransi, saling menghormati, dan pencegahan tindakan kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah. Sekolah juga menerapkan budaya 5S (tersenyum, menyapa, menyapa, kesopanan, dan sopan) sebagai bentuk membiasakan perilaku positif kepada siswa. Kepala sekolah bersama guru dan tenaga kependidikan berusaha menciptakan lingkungan yang menghormati hak-hak anak dan bebas dari diskriminasi.
Pelaksanaan Program Sekolah Ramah Anak juga dilihat melalui berbagai kegiatan sekolah yang secara aktif melibatkan siswa, seperti kerja kelompok, piket kelas, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan keagamaan, dan kegiatan kebersihan lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerja sama, dan partisipasi siswa dalam kehidupan sekolah.
Selama proses pengajaran, instruktur menggunakan komunikasi yang efektif, menggunakan metode pengajaran yang menarik, dan memberi siswa kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan mengekspresikan pembelajaran mereka. Guru tidak menggunakan hukuman fisik untuk mendisiplinkan siswa, namun guru menggunakan argumen persuasif dan umpan balik positif. Situasi ini membuat siswa merasa lebih nyaman dan tidak terlalu gugup saat belajar.
Hubungan antara guru dan siswa juga sudah mapan. Guru memberikan perhatian, motivasi, dan dukungan emosional kepada siswa agar siswa merasa dihargai dan diperhatikan. Hubungan sosial antar siswa juga terlihat positif karena siswa diajarkan untuk saling membantu, menghormati, dan bekerja sama dalam kegiatan belajar dan kegiatan sekolah lainnya. Tenaga kependidikan juga terlihat melayani administrasi mahasiswa dengan baik.
Selain itu, fasilitas sekolah mendukung pelaksanaan Program Sekolah Ramah Anak melalui ketersediaan ruang kelas yang bersih dan nyaman, toilet yang layak, tempat cuci tangan, area bermain, dan lingkungan sekolah yang aman bagi siswa. Sekolah juga melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan dan pengembangan siswa melalui komunikasi dan kerja sama antara sekolah dan orang tua siswa. Dengan demikian, implementasi Program Sekolah Ramah Anak di sekolah telah melalui berbagai aspek yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang ramah anak.
2. Kondisi Kesejahteraan Psikologis (Subjective Well-Being) Siswa
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan subjektif siswa di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya relatif baik. Hal ini terlihat dari kondisi psikologis siswa selama berada di lingkungan sekolah yang menunjukkan rasa aman, nyaman, dan bahagia dalam mengikuti kegiatan belajar dan kegiatan sekolah lainnya. Lingkungan sekolah yang mendukung membuat siswa merasa lebih tenang dan tidak terlalu takut saat berada di sekolah.
Sebagian besar siswa mengaku merasa nyaman dalam proses pembelajaran karena guru memberikan perhatian, dukungan, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Guru juga membangun komunikasi yang baik dengan siswa sehingga siswa merasa lebih dekat dan dihargai selama belajar. Kondisi ini membantu menciptakan kenyamanan belajar bagi siswa.
Selain itu, siswa menunjukkan rasa gembira selama di sekolah. Hal ini terlihat dari antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, kegiatan kelas, dan kegiatan sekolah lainnya. Siswa tampak lebih ceria dan aktif dalam berinteraksi dengan guru dan teman sebaya. Suasana belajar yang positif membuat siswa menikmati kegiatan belajar di sekolah.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup baik. Siswa berani bertanya, mengungkapkan pendapat, tampil di depan kelas, dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Lingkungan sekolah yang mendukung dan tidak diskriminatif membantu siswa merasa diterima, sehingga meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Hubungan sosial antara siswa dan antara siswa dan guru tampaknya berjalan dengan baik. Siswa saling membantu, bekerja sama dan saling menghormati dalam kegiatan belajar dan kegiatan sekolah lainnya. Guru juga memberikan dukungan emosional kepada siswa agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai di lingkungan sekolah.
Selain itu, siswa terlihat aktif selama proses pembelajaran. Siswa terlibat dalam diskusi kelas, kerja kelompok, dan berbagai kegiatan sekolah lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis siswa di sekolah dasar.
Orang tua siswa juga mengatakan bahwa anak-anak terlihat lebih bahagia dan lebih bersemangat ketika mereka berangkat ke sekolah. Beberapa orang tua juga menjelaskan bahwa anak menjadi lebih percaya diri dan lebih terbuka dalam menceritakan pengalaman belajarnya di sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan sekolah memiliki pengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis siswa.
3. Peran Program Sekolah Ramah Anak Terhadap Kesejahteraan Psikologis (Subjective Well-Being) Siswa
Peran Program Sekolah Ramah Anak memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan subjektif siswa di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya. Pelaksanaan program yang dilakukan oleh sekolah melalui lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif berpengaruh pada kondisi psikologis siswa selama di sekolah. Program ini membantu siswa merasa lebih tenang, lebih nyaman, dan bahagia dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya.
Peran Program Sekolah Ramah Anak dapat dilihat dari terciptanya rasa aman bagi siswa. Sekolah berusaha untuk mencegah tindakan kekerasan, intimidasi, dan diskriminasi melalui pengawasan guru dan pembiasaan perilaku positif kepada siswa. Siswa merasa lebih aman dan tidak takut ketika mereka berada dalam lingkungan pendidikan yang aman. Ini meningkatkan kesehatan mental saat mereka belajar.Selain itu, Program Sekolah Ramah Anak bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan menginspirasi. Guru menggunakan metode pengajaran yang lebih komunikatif, memberi siswa kesempatan untuk mengekspresikan pembelajaran mereka, dan menggunakan penguatan positif untuk memperkuat siswa. Dukungan emosional yang diberikan oleh guru membantu siswa merasa bahagia dan fokus, membuat mereka lebih bersemangat untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
Hubungan sosial yang baik antara guru dan siswa serta antar siswa juga merupakan bentuk peran Program Sekolah Ramah Anak terhadap kesejahteraan subjektif siswa. Lingkungan sekolah yang mendukung kerja sama, saling menghormati, dan kepedulian sosial membantu siswa memiliki hubungan interpersonal yang positif . Kondisi ini membuat siswa merasa diterima dan memiliki pengalaman sosial yang menyenangkan di sekolah.
Selain itu, Program Sekolah Ramah Anak berkontribusi pada peningkatan kepercayaan diri siswa. Siswa belajar lebih aktif, berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, mengajukan pertanyaan, dan menyuarakan ide-ide mereka. Keterampilan sosial dan emosional siswa dikembangkan melalui kemungkinan yang diberikan sekolah kepada mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan.
Dengan demikian, Program Sekolah Ramah Anak memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan subjektif siswa melalui terciptanya rasa aman, kenyamanan belajar, hubungan sosial yang baik, dukungan emosional, dan peningkatan kepercayaan diri siswa di lingkungan sekolah dasar.
B. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Sekolah Ramah Anak di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya telah berjalan melalui berbagai aspek, seperti kebijakan sekolah, pembelajaran ramah anak, hubungan sosial warga sekolah, penyediaan fasilitas, dan keterlibatan orang tua siswa. Temuan ilmiah yang diperoleh menunjukkan bahwa implementasi Program Sekolah Ramah Anak memberikan kontribusi positif terhadap kondisi kesejahteraan subjektif siswa di sekolah dasar. Hal ini terlihat dari munculnya rasa aman, nyaman, bahagia, percaya diri, dan hubungan sosial yang positif pada siswa selama berada di lingkungan sekolah.
Kondisi ini dapat terjadi karena sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan sosial dan emosional siswa. Siswa merasa lebih nyaman saat belajar di lingkungan sekolah yang aman dan bebas kekerasan. Untuk membuat siswa merasa lebih dihargai dan nyaman di kelas, guru juga menggunakan pembelajaran komunikatif dan menahan diri dari menggunakan hukuman fisik. Pada kenyataannya, guru memberi siswa kesempatan untuk menjelaskan perilaku mereka, mendorong mereka untuk merenungkan perilaku yang salah, menegur mereka secara persuasif, dan memfasilitasi pemecahan masalah melalui debat kelas dan kesepakatan.
Guru juga membuka sesi tanya jawab dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengungkapkan pendapatnya tanpa takut malu di depan teman sebayanya. Dukungan guru melalui motivasi dan apresiasi terhadap pendapat siswa juga membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa. Dukungan emosional yang diberikan oleh guru menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis siswa karena siswa merasa diperhatikan dan diterima di lingkungan sekolah.
Selain itu, hubungan sosial yang positif antara guru dan siswa serta antar siswa juga mempengaruhi kondisi kesejahteraan subjektif siswa. Siswa yang memiliki hubungan sosial yang baik cenderung lebih nyaman, aktif, dan percaya diri dalam kegiatan belajar. Lingkungan sekolah yang mendukung kerja sama dan saling menghormati membantu siswa memiliki pengalaman belajar yang positif sehingga timbul emosi positif selama di sekolah.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih aktif dan percaya diri dalam mengikuti pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Kondisi ini terjadi karena siswa diberikan kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah. Lingkungan belajar yang inklusif dan non-diskriminatif membantu siswa merasa bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan konsep kesejahteraan subjektif dari Ed Diener yang menjelaskan bahwa kesejahteraan subjektif terkait dengan adanya emosi positif, kepuasan individu, dan emosi negatif yang rendah dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung mampu memberikan pengalaman positif bagi siswa sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis siswa.
Selain itu, hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner yang menjelaskan bahwa lingkungan berpengaruh terhadap perkembangan individu. Dalam penelitian ini, lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan psikologis siswa. Lingkungan belajar yang positif membantu siswa merasa lebih nyaman dan dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah.
Temuan penelitian ini juga didukung oleh teori pembelajaran sosial Albert Bandura yang menjelaskan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitarnya. Hubungan sosial yang baik antara guru dan siswa serta antar siswa memberikan pengalaman sosial yang positif bagi siswa sehingga membantu membentuk kepercayaan diri dan perilaku positif siswa di sekolah.
Namun, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi Program Sekolah Ramah Anak masih menghadapi tantangan dalam hal konsistensi pelaksanaannya di lingkungan sekolah. Temuan ini sesuai dengan latar belakang pemilihan lokasi penelitian yang menekankan bahwa implementasi prinsip Sekolah Ramah Anak di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya masih perlu diteliti lebih lanjut, terutama konsistensi pelaksanaannya. Tantangan ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan pemahaman budaya positif, variasi praktik komunikasi guru, dan kebutuhan untuk meningkatkan koordinasi dengan orang tua dan staf pendidikan. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan pelatihan, supervisi, dan kerja sama antara sekolah dan orang tua agar program dapat dilaksanakan secara harmonis dan berkelanjutan.
Dengan demikian, Program Sekolah Ramah Anak tidak hanya berperan dalam mendukung perkembangan akademik siswa, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan sosial, emosional, dan psikologis siswa sekolah dasar. Lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung merupakan faktor penting dalam menciptakan kesejahteraan subjektif siswa di lingkungan sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian di SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Program Sekolah Ramah Anak berkontribusi positif terhadap kesejahteraan subjektif siswa. Kontribusi ini dapat dilihat melalui terciptanya rasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah, yang dirasakan oleh siswa, hubungan sosial yang positif antara siswa dan guru serta sesama teman, serta adanya dukungan emosional dari guru dalam proses pembelajaran.
Budaya 5S, disiplin positif tanpa hukuman fisik, pembelajaran yang komunikatif dan partisipatif, pencegahan tindakan kekerasan atau perundungan, serta partisipasi dalam beragam kegiatan sekolah mendorong pengalaman emosional yang positif, kepuasan dengan kehidupan yang “bitty”, serta kepercayaan diri. Hasil seperti ini menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran yang bebas dari stres dan bersifat mendukung dapat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis anak-anak usia sekolah yang masih muda.
Hasilnya, Program Sekolah Ramah Anak SDN Putat Jaya IV/380 Surabaya membantu perkembangan sosial, emosional, dan psikologis siswa, selain mendukung proses pendidikan. Sekolah masih kesulitan menjalankan program ini secara konsisten di seluruh komunitas sekolah. Hal ini membutuhkan pelatihan lebih lanjut, pengawasan, dan kerja sama antara orang tua dan sekolah agar program bisa berjalan dengan terkoordinasi dan bertahan lama.
.
Santrock, J. W. (2011). Educational psychology (5th ed.). McGraw-Hill.
Desmita. (2017). Psikologi perkembangan peserta didik. Remaja Rosdakarya.
UNICEF. (2012). Child friendly schools manual. UNICEF.
Diener, E. (1984). Subjective well-being. Psychological Bulletin, 95(3), 542–575.
Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective well-being: Three decades of progress. Psychological Bulletin, 125(2), 276–302.
Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Blackwell Publishing.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (2025): Data Kasus Kekerasan di Lingkungan Sekolah.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak. Jakarta: KemenPPPA.
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Sriwahyuni, T.E., & Alfiansyah, R. (2025) Implementasi Program Sekolah Ramah Anak dalam Membentuk Karakter Peserta Didik.
Diener, E. (2000). Subjective well-being: The science of happiness and a proposal for a national index. American Psychologist, 55(1), 34–43.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage Publications.
Yin, R. K. (2014). Case Study Research: Design and Methods.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.