Freti Freti (1), Yusdin Bin. M. Gagaramusu (2), Dyah Rahmawati (3), Rizal (4), Danti Indriastuti Purnamasari (5)
General Background Education represents a systematic and continuous process to develop intellectual, emotional, spiritual, and social potentials, functioning as a complex social system requiring sustainable administration. Specific Background Within primary education, institutional leaders serve crucial administrative roles, functioning as motivators and supervisors responsible for establishing conducive environments that support professional growth. Knowledge Gap Previous academic literature predominantly investigates instructional innovation and professional compliance as separate entities, leaving a substantial conceptual void regarding how simultaneous administrative functions shape both domains concurrently. Aims This qualitative descriptive study investigates how planning, organizing, executing, and supervising strategies cultivate instructional ingenuity and professional adherence at SD Inpres 2 Besusu. Results Data analyzed through the Miles, Huberman, and Saldana interactive model reveal that participatory program planning and competence-based task distribution provide strong structural foundations. Furthermore, active motivation through workshops, working groups, and learning communities directly stimulates pedagogical innovation, while continuous supervision of attendance and instructional administration ensures strict regulatory compliance. Novelty This research provides a holistic framework demonstrating the simultaneous development of instructional ingenuity and professional adherence through integrated administrative strategies within an educational setting. Implications These findings suggest that establishing collaborative planning and consistent academic supervision is essential for cultivating a professional environment that sustains instructional quality.
Highlights
Participatory planning and competence-based task distribution provide structural foundations for professional growth.
Continuous academic supervision and administrative evaluation ensure strict regulatory compliance among educators.
Collaborative learning communities and targeted workshops stimulate pedagogical ingenuity and technological integration.
Keywords School Leadership; Professional Compliance; Instructional Innovation; Academic Supervision; Qualitative Study
Keywords
School Leadership; Professional Compliance; Instructional Innovation; Academic Supervision; Qualitative Study
Pendidikan merupakan proses yang terencana dan berkesinambungan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Proses ini tidak hanya dipahami sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya pembentukan karakter, kepribadian, keterampilan, serta nilai moral (Fadlillah, 2023; Tirtoni & Wulandari, 2022). Pendidikan bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, melainkan sistem sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan budaya, ekonomi, dan kebijakan pendidikan sehingga menuntut adanya pengelolaan pendidikan yang efektif dan berkelanjutan (Fadlillah, 2023; Mulyasa, 2013; Novianty Djafri, 2017). Oleh karena itu, pendidikan perlu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang agar peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga sikap dan keterampilan hidup yang baik (Tirtoni & Wulandari, 2022; Supardi, 2014).
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar, kepala sekolah memegang peranan penting sebagai pemimpin sekaligus manajer pendidikan yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pengelolaan sekolah melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan (Mulyasa, 2013; Terry, 2019; Wahjosumidjo, 2013). Kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga sebagai motivator, supervisor, pembina, dan inovator yang mampu menciptakan lingkungan kerja kondusif untuk meningkatkan profesionalisme guru (Muslihat, 2020; Hasibuan, 2017; Novianty Djafri, 2017).
Penelitian Kurniawan dan Hasanah (2021) menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kreativitas guru melalui dukungan inovasi pembelajaran, pelatihan, dan pembinaan profesional. Penelitian serupa juga dikemukakan oleh Arifin et al. (2024) dan Juliardin et al. (2024) yang menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan budaya sekolah berpengaruh terhadap kreativitas serta kinerja guru di sekolah dasar. Selain kreativitas, disiplin guru juga merupakan aspek penting dalam menjamin kualitas pembelajaran karena berkaitan dengan tanggung jawab profesional, kehadiran, kepatuhan terhadap administrasi pembelajaran, dan pelaksanaan tugas mengajar (Khomsinnudin, 2023; Victorynie et al., 2024; Ngadi et al., 2021).
Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji peran kepala sekolah terhadap kreativitas maupun disiplin guru, sebagian besar penelitian masih membahas kedua aspek tersebut secara terpisah. Penelitian Safitri dan Darsinah (2022), Kurniawan dan Hasanah (2021), serta Zahrotul Jannah dan Ashari (2024) lebih menekankan kreativitas guru melalui kepemimpinan kepala sekolah, sedangkan penelitian Khomsinnudin (2023), Victorynie et al. (2024), dan Ngadi et al. (2021) lebih menyoroti pembinaan disiplin dan supervisi guru. Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian terkait bagaimana fungsi manajemen kepala sekolah meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan berperan secara simultan dalam meningkatkan kreativitas dan disiplin guru pada konteks sekolah dasar (Terry, 2019; Mulyasa, 2013; Wahjosumidjo, 2013).
Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis peran fungsi manajemen kepala sekolah secara menyeluruh terhadap kreativitas dan disiplin guru pada konteks sekolah dasar, khususnya di SD Inpres 2 Besusu, dengan menampilkan bentuk kreativitas guru dan indikator disiplin kerja yang berkembang melalui praktik manajerial kepala sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana kepala sekolah menjalankan fungsi manajemen dalam membina, memotivasi, mengarahkan, dan mengawasi guru guna meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar (Mulyasa, 2013; Terry, 2019; Selvi et al., 2024).
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan, menguraikan, dan menganalisis fenomena secara mendalam bagaimana peran manajemen kepala sekolah terhadap tingkat kreativitas dan disiplin guru SD Inpres 2 Besusu dengan kondisi nyata di lapangan tanpa adanya perlakuan khusus terhadap objek penelitian. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan untuk memahami secara mendalam suatu fenomena sosial yang terjadi secara alami. Pada pendekatan ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama yang terlibat secara langsung dalam proses pengumpulan data melalui kegiatan observasi, wawancara, dan dokumentasi di lapangan. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami serta menggambarkan berbagai kondisi, perilaku, maupun pandangan individu atau kelompok sesuai keadaan yang sebenarnya tanpa adanya perlakuan atau intervensi tertentu. Metode ini dinilai relevan digunakan ketika fokus penelitian masih berkembang atau persoalan yang diteliti memiliki karakteristik yang kompleks. Hasil penelitian kemudian dipaparkan dalam bentuk uraian deskriptif yang menekankan makna dan pemahaman mendalam, bukan disajikan melalui angka maupun analisis statistik. Dengan demikian, penelitian kualitatif deskriptif berfokus pada pemahaman makna dan konteks dari suatu peristiwa berdasarkan pandangan para partisipan [1]. Dalam konteks penelitian ini, pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk memahami secara mendalam Peran Manajemen Kepala Sekolah Terhadap Tingkat Kreativitas Dan Disiplin Guru Sd Inpres 2 Besusu.
Menurut [1] teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara triangulasi, yaitu menggabungkan berbagai teknik untuk memperolah data yang valid. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Observasi, Wawancara, dan Angket. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengacu pada model interaktif yang dikembangkan oleh [2], Model ini menekankan bahwa analisis data dilakukan secara terus-menerus sejak data dikumpulkan hingga penelitian selesai. Adapun analisis datanya antara lain reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
A. Peran Manajemen Kepala Sekolah Di SD Inpres 2 Besusu
Manajemen kepala sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah dalam mengelola, membimbing, mengoordinasikan, dan mengawasi seluruh kegiatan sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif. Dalam penelitian ini, manajemen kepala sekolah dikaji melalui empat aspek, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Berdasarkan hasil wawancara, kepala sekolah SD Inpres 2 Besusu telah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kreativitas dan disiplin guru.
1. Perencanaan Program Sekolah
Berdasarkan hasil penelitian, perencanaan program sekolah dilaksanakan melalui rapat yang melibatkan guru, staf, dan pihak-pihak terkait. Kepala sekolah tidak menyusun program secara sendiri, tetapi memberi ruang kepada guru untuk menyampaikan pendapat dan masukan terhadap kegiatan yang akan dijalankan. Keterlibatan guru terlihat melalui rapat awal semester maupun awal tahun ajaran yang membahas program sekolah, program pembelajaran, pembagian tugas, serta kegiatan yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa penyusunan program sekolah mengacu pada Rencana Kerja Sekolah serta ketersediaan anggaran, terutama dana BOS. Program tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam program tahunan. Salah satu program yang diarahkan untuk meningkatkan kreativitas guru adalah pelaksanaan workshop, Kelompok Kerja Guru (KKG) internal, komunitas belajar, serta kegiatan berbagi pengalaman antar guru. Melalui komunitas belajar, guru diberi kesempatan secara bergiliran untuk membagikan pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dari pelatihan, Kelompok Kerja Guru (KKG), buku, internet, maupun sumber belajar lainnya. Sebagaimana di sampaikan dalam wawancara bersama kepala sekolah SD Inpres 2 Besusu:
“Seorang kepala sekolah adalah pimpinan penanggung jawab dalam menyusun program untuk meningkatkan kreativitas guru, Tentunya program dilihat dari RKS atau dana, kemudian dituangkan dalam program tahunan dan sekolah memiliki program seperti, kegiatan workshop, Kelompok Kerja Guru (KKG) secara internal atau dengan KKG secara internal. Setiap minggu dilakukan oleh setiap guru dan sudah terjadi kombel, komunitas belajar. (Wawancara, Kepala Sekolah, Subjek AR, 2026).”
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa kepala sekolah telah menjalankan fungsi perencanaan secara partisipatif melalui pelibatan guru dalam penyusunan program sekolah. Dalam sudut pandang manajemen pendidikan, perencanaan merupakan langkah awal yang penting untuk menentukan arah organisasi dan mengoptimalkan keterlibatan sumber daya manusia dalam mencapai tujuan pendidikan (Terry, 2019). Pelibatan guru dalam perencanaan juga menunjukkan praktik kepemimpinan kolaboratif yang dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen guru terhadap program sekolah. Hal ini sesuai dengan pernyataan guru yang menyebutkan bahwa kepala sekolah selalu melibatkan guru dalam proses perencanaan program sekolah. Salah satu guru menyampaikan bahwa setiap awal semester kepala sekolah mengadakan rapat bersama seluruh guru dan staf tata usaha untuk membahas program sekolah. Sebagaimana di sampaikan dalam wawancara bersama Guru Di SD Inpres 2 Besusu:
“Guru-guru selalu dilibatkan setiap awal semester, kepala sekolah akan mengadakan rapat bersama seluruh guru dan staf TU untuk membahas program sekolah. (Wawancara, Guru, Subjek MW, 2026).”
Selain itu, guru lain juga mengungkapkan bahwa kepala sekolah memberikan kesempatan kepada guru untuk menyampaikan usulan dan masukan, termasuk dalam penyusunan kegiatan ekstrakurikuler maupun program pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan dilakukan secara partisipatif dan demokratis. Guru tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga dilibatkan sejak tahap perencanaan sehingga memiliki rasa tanggung jawab terhadap keberhasilan program.
2. Pengorganisasian Tugas Guru
Pengorganisasian dalam manajemen kepala sekolah terlihat melalui pembagian tugas mengajar, tugas tambahan, struktur kerja, serta pembentukan tim yang menunjang pelaksanaan program sekolah. Berdasarkan hasil wawancara, pembagian tugas guru di SD Inpres 2 Besusu dilakukan secara jelas, adil, dan disesuaikan dengan kemampuan guru serta kebutuhan sekolah. Kepala sekolah menjelaskan bahwa pembagian tugas dilakukan melalui surat keputusan kepala sekolah dan dibahas dalam rapat pada awal tahun pembelajaran. Sebagaimana di sampaikan dalam wawancara bersama kepala sekolah SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
“Kalau untuk pembagian tugas tentunya melalui surat keputusan kepala sekolah, dilakukan pada saat awal tahun pembelajaran, disampaikan melalui rapat dan pembagian tugas guru yang akan memegang kelas. Jadi setiap tahun ada perubahan-perubahan. (Wawancara, Kepala Sekolah, Subjek MW, 2026).”
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa kepala sekolah telah menjalankan fungsi pengorganisasian secara sistematis melalui pembagian tugas mengajar, pemberian tanggung jawab tambahan, serta pembentukan struktur kerja yang disesuaikan dengan kompetensi dan kebutuhan sekolah. Kemudian dalam sudut pandang manajemen pendidikan, pengorganisasian merupakan proses pengelompokan tugas, pembagian wewenang, serta penempatan sumber daya manusia secara tepat untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif (Terry, 2019).
3. Pelaksanaan dan Motivasi Kepala Sekolah
Pelaksanaan manajemen kepala sekolah terlihat dari usaha kepala sekolah dalam menggerakkan guru agar dapat menjalankan tugas secara optimal. Bentuk pelaksanaan tersebut meliputi pemberian motivasi, komunikasi yang terbuka, dukungan terhadap penggunaan metode, model dan media pembelajaran, serta pemberian apresiasi kepada guru. Berdasarkan hasil wawancara, kepala sekolah mendorong guru untuk belajar secara mandiri, mengikuti workshop, mengikuti Kelompok Kerja Guru (KKG), serta mengembangkan media pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Sebagaimana di sampaikan dalam wawancara bersama kepala sekolah SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
"Dukungan kepala sekolah bertujuan agar guru menjadi profesional. Tentunya, guru harus didorong. Salah satunya, mereka didorong untuk belajar secara mandiri, mengikuti kegiatan workshop, serta melalui kegiatan supervisi untuk menilai kinerja guru. (Wawancara, Kepala Sekolah, Subjek MW, 2026)".
Berdasarkan hasil wawancara ini menunjukkan bahwa kepala sekolah telah menjalankan fungsi pelaksanaan melalui upaya menggerakkan, memotivasi, dan membina guru agar mampu menjalankan tugas secara optimal serta terus mengembangkan kompetensi profesionalnya. Selain itu, kepala sekolah dapat menjalankan fungsi pelaksanaan merupakan proses mengarahkan, memotivasi, dan mengoordinasikan sumber daya manusia agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif (Terry, 2019). Dukungan kepala sekolah melalui pemberian motivasi, komunikasi terbuka, supervisi, workshop, dan partisipasi dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) menunjukkan adanya peran kepala sekolah sebagai motivator dan fasilitator pengembangan profesional guru. Pemberian kesempatan kepada guru untuk belajar secara mandiri dan mengembangkan media pembelajaran juga menunjukkan adanya budaya pembelajaran berkelanjutan (continuous professional development) yang mendukung peningkatan kreativitas dan kualitas pembelajaran. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Safitri dan Darsinah yang menyatakan bahwa peran manajerial kepala sekolah dapat meningkatkan kreativitas pembelajaran guru melalui dukungan terhadap inovasi, pelatihan, dan pengembangan profesional.
4. Pengawasan dan Evaluasi Kinerja Guru
Pengawasan merupakan bagian penting dalam manajemen kepala sekolah karena bertujuan memastikan tugas guru berjalan sesuai dengan rencana. Berdasarkan hasil wawancara, kepala sekolah melakukan pengawasan melalui pemantauan kehadiran guru, pemantauan kegiatan belajar mengajar, supervisi administrasi, supervisi pembelajaran di kelas, serta evaluasi rutin terhadap kinerja guru. Pengawasan tersebut tidak hanya bertujuan menemukan kesalahan, tetapi juga diarahkan untuk memberikan pembinaan dan perbaikan.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan sejak pagi melalui apel, jadwal piket, dan pengecekan kelas. Kepala sekolah memastikan bahwa guru hadir di kelas dan proses pembelajaran tetap berlangsung. Apabila terdapat kelas yang belum didampingi guru, kepala sekolah berupaya menghadirkan guru pengganti agar peserta didik tetap memperoleh pembelajaran. . Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala sekolah SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
"Kepala sekolah akan memantau, mulai dari kelas ini, untuk memeriksa apakah sudah ada guru di kelas dan apakah proses belajar mengajar sudah dilaksanakan atau belum. Jika belum ada guru, maka akan diusahakan adanya guru pengganti di dalam kelas agar siswa tetap dapat belajar. (Wawancara, Kepala Sekolah, Subjek MW, 2026)”.
Temuan ini menunjukkan bahwa kepala sekolah telah menjalankan fungsi pengawasan (controlling) secara aktif melalui pemantauan kehadiran guru, supervisi pembelajaran, evaluasi administrasi, serta pengendalian proses pembelajaran di kelas untuk memastikan kegiatan sekolah berjalan sesuai tujuan yang telah direncanakan. Dalam perspektif manajemen pendidikan, pengawasan merupakan fungsi yang bertujuan memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai standar, rencana, dan tujuan organisasi melalui proses pemantauan, evaluasi, serta tindakan korektif apabila ditemukan hambatan (Terry, 2019). Pengawasan yang dilakukan kepala sekolah di SD Inpres 2 Besusu menunjukkan bahwa fungsi pengawasan tidak hanya berorientasi pada kontrol administratif, tetapi juga pada pembinaan profesional guru melalui supervisi dan evaluasi berkelanjutan. Pemantauan kehadiran guru, pengecekan proses pembelajaran, serta upaya menyediakan guru pengganti ketika kelas belum didampingi menunjukkan adanya komitmen kepala sekolah dalam menjaga kontinuitas pembelajaran dan kedisiplinan guru.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Victorynie dan kolega yang menunjukkan bahwa strategi kepemimpinan kepala sekolah berperan penting dalam meningkatkan disiplin dan kinerja guru melalui supervisi, evaluasi, serta penguatan budaya kerja. Selaras dengan itu, penelitian Ngadi dan kolega menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan kedisiplinan guru memiliki hubungan yang erat dalam mendukung mutu sekolah melalui pengawasan kerja yang konsisten. Secara akademik, temuan ini menunjukkan bahwa fungsi pengawasan kepala sekolah tidak hanya berperan menjaga keteraturan pelaksanaan tugas guru, tetapi juga menjadi strategi manajerial untuk memperkuat disiplin kerja, tanggung jawab profesional, serta menjamin keberlangsungan proses pembelajaran secara efektif.
B. Kreativitas Guru Di SD Inpres 2 Besusu
Kreativitas guru dalam penelitian ini dimaknai sebagai kemampuan guru dalam mengembangkan dan menerapkan metode, media, serta strategi pembelajaran yang inovatif dan bervariasi. Berdasarkan hasil wawancara, manajemen kepala sekolah berperan dalam mendorong kreativitas guru melalui pemberian kebebasan untuk berinovasi, dukungan terhadap penggunaan media pembelajaran, pelatihan, workshop, Kelompok Kerja Guru (KKG), dan komunitas belajar.
1. Kebebasan Guru dalam Berinovasi
Berdasarkan hasil penelitian, kepala sekolah memberikan keleluasaan kepada guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kebutuhan peserta didik. Kebebasan tersebut tetap diarahkan agar sesuai dengan tujuan pembelajaran dan aturan sekolah. Guru diberi ruang untuk menentukan cara mengajar yang dianggap efektif, baik melalui metode yang beragam, penggunaan media pembelajaran, maupun pendekatan yang sesuai dengan karakteristik siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh guru di SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
"Kepala Sekolah, yang terpenting untuk kebaikan guru dan kebaikan anak-anak, memberikan izin untuk guru-guru menggunakan metode apa saja, asalkan metode yang digunakan sesuai dengan materi yang diajarkan." (Wawancara, Guru, Subjek DN, 2026).
Guru lain juga menyampaikan bahwa kepala sekolah memberikan kebebasan dalam mengajar sesuai kemampuan dan kondisi kelas. Kebebasan tersebut menunjukkan adanya kepercayaan kepala sekolah kepada guru sebagai tenaga profesional. Kepercayaan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong guru untuk lebih berani mengembangkan pembelajaran yang menarik dan tidak monoton. Sebagaimana dikemukakan oleh guru di SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
"Kepala sekolah memberikan kebebasan kepada guru dalam menentukan cara mengajar kepada anak-anak, asalkan sesuai dengan peraturan. (Wawancara, Guru, Subjek FT, 2026)."
Dengan adanya kebebasan untuk berinovasi, guru memiliki kesempatan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Hal ini penting karena setiap kelas memiliki karakteristik yang berbeda. Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan tanpa membatasi kreativitas guru. Oleh sebab itu, kebebasan yang diberikan kepala sekolah dapat meningkatkan kepercayaan diri guru dalam menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
2. Dukungan Media Pembelajaran dan Pelatihan
Kreativitas guru juga didukung melalui penyediaan media pembelajaran dan kegiatan pelatihan. Kepala sekolah menyampaikan bahwa sekolah mendorong guru untuk mengikuti workshop, Kelompok Kerja Guru (KKG), komunitas belajar, serta belajar secara mandiri dari berbagai sumber. Guru juga menjelaskan bahwa sekolah menghadirkan narasumber dari luar untuk memberikan pelatihan, termasuk pelatihan penggunaan aplikasi dan media pembelajaran berbasis teknologi. Sebagaimana dikemukakan oleh guru di SD Inpres 2 Besusu, Yaitu:
"Media pembelajaran, terutama di era teknologi saat ini, biasanya mengundang beberapa narasumber untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru mengenai penggunaan aplikasi dalam pembelajaran. (Wawancara, Guru, Subjek FL, 2026)".
"Kegiatan ini diadakan setiap enam bulan sekali, dengan menghadirkan narasumber dari luar sekolah, serta dilaksanakan kegiatan komunitas belajar (kombel) sekolah. (Wawancara, Guru, DS, 2026)".
Kegiatan pelatihan dan komunitas belajar menjadi sarana bagi guru untuk menambah wawasan baru. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat berbagi pengalaman, mempelajari metode pembelajaran yang lebih variatif, serta meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media pembelajaran. Meskipun sekolah memiliki keterbatasan anggaran, kepala sekolah tetap berusaha memberikan dukungan terhadap pengembangan kreativitas guru sesuai dengan kemampuan sekolah. Sebagaimana dikemukakan oleh guru di SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
"Dukungan diberikan dengan menyediakan anggaran, meskipun anggaran di sekolah kami sangat terbatas. (Wawancara, Guru, Subjek HL, 2026)".
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dukungan kepala sekolah terhadap kreativitas guru terlihat melalui penyediaan fasilitas, pelaksanaan pelatihan, workshop, komunitas belajar, serta dorongan untuk belajar mandiri. Dukungan tersebut memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan guru dalam mengembangkan metode dan media pembelajaran yang lebih menarik.
3. Pengaruh Manajemen Kepala Sekolah terhadap Kreativitas Guru
Hasil wawancara menunjukkan bahwa manajemen kepala sekolah memberikan pengaruh terhadap kreativitas guru. Kepemimpinan yang terbuka, komunikatif, dan mendukung membuat guru lebih termotivasi untuk menciptakan pembelajaran yang menarik. Guru merasa bahwa kepala sekolah tidak hanya memberikan tugas, tetapi juga memberi arahan, motivasi, dan apresiasi terhadap ide-ide kreatif yang disampaikan guru. Sebagaimana dikemukakan oleh guru di SD Inpres 2 Besusu, yaitu:
"Sangat berpengaruh, kepemimpinan yang mendukung dan terbuka dapat memotivasi guru. (Wawancara, Guru, Subjek MW, 2026)".
"Kepala sekolah sangat berpengaruh terhadap semangat guru dalam menciptakan pembelajaran yang menarik, dan selalu memberikan motivasi kepada guru. (Wawancara, Guru, Subjek SN, 2026)".
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas guru di SD Inpres 2 Besusu berkembang karena adanya dukungan kepala sekolah secara langsung dalam memberikan input saran atau motivasi kepada guru. Upaya seperti penyusunan program pengembangan guru, pembagian tugas yang terorganisasi, pemberian motivasi, komunikasi yang efektif, pelatihan, serta supervisi menjadi unsur penting dalam mendorong guru untuk terus memperbaiki mutu pembelajaran. Oleh sebab itu, kepala sekolah memegang peranan yang signifikan dalam menciptakan suasana sekolah yang dapat mendukung berkembangnya kreativitas guru.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manajemen kepala sekolah di SD Inpres 2 Besusu berperan penting dalam meningkatkan kreativitas dan disiplin guru melalui penerapan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang dilakukan secara partisipatif dan berkelanjutan. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa kreativitas guru berkembang melalui dukungan kepala sekolah terhadap inovasi pembelajaran, kebebasan dalam memilih metode dan media pembelajaran, serta keterlibatan guru dalam kegiatan pengembangan profesional seperti workshop, Kelompok Kerja Guru (KKG), dan komunitas belajar Pada pendekatan ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama yang terlibat secara langsung dalam proses pengumpulan data melalui kegiatan observasi, wawancara, dan dokumentasi di lapangan. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami serta menggambarkan berbagai kondisi, perilaku, maupun pandangan individu atau kelompok sesuai keadaan yang sebenarnya tanpa adanya perlakuan atau intervensi tertentu. Metode ini dinilai relevan digunakan ketika fokus penelitian masih berkembang atau persoalan yang diteliti memiliki karakteristik yang kompleks. Hasil penelitian kemudian dipaparkan dalam bentuk uraian deskriptif yang menekankan makna dan pemahaman mendalam, bukan disajikan melalui angka maupun analisis statistik. Implikasi praktis penelitian ini menunjukkan pentingnya penguatan supervisi akademik, pelatihan guru secara berkelanjutan, serta pembinaan disiplin yang konsisten guna mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dasar.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak SD Inpres 2 Besusu, Kepala Sekolah, guru, dan siswa yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan motivasi sehingga artikel ini dapat terselesaikan dengan baik. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai referensi dalam analisis peran manajemen kepala sekolah terhadap tingkat kreativitas dan disiplin guru di tingkatan sekolah dasar.
Abdillah, F. N., Muhith, A., & Baya’gub, R. (2024). Kebijakan kepala sekolah dalam pembentukan karakter religius, disiplin, dan kreatif pada peserta didik di SMPN 05 Jember. Jurnal Eksplorasi Penelitian Risalah Islam, 8(4), 52–57. https://rel.ojs.co.id/index.php/jepri/article/view/55/65
Arifin, S. A., Nurkolis, N., & Haryati, T. (2024). Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, komitmen guru, dan budaya sekolah terhadap kreativitas guru. Jurnal Inovasi Pembelajaran di Sekolah, 5(2), 473–484. https://doi.org/10.51874/jips.v5i2.245
Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta.
Efendi, A. (2023). Manajemen purna jabatan kepala sekolah. Deepublish.
Fadlillah, M. (2023). Manajemen pendidikan di sekolah: Sesuai kebijakan merdeka belajar.
Hasibuan, M. S. P. (2017). Manajemen sumber daya manusia. Bumi Aksara.
Juliardin, J., Jufrianis, J., & Hidayat, A. (2024). Hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan kreativitas dan kinerja guru pada sekolah dasar negeri 018 Kerumutan Kecamatan Kerumutan. Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 1(5), 3046–4560.
Khomsinnudin, K. (2023). Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin guru di SMK Kesehatan Bhakti Nusantara, Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung. DIMAR: Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 229–242. https://doi.org/10.58577/dimar.v4i2.88
Kurniawan, H., & Hasanah, E. (2021). Peran kepala sekolah dalam meningkatkan inovasi dan kreativitas guru di masa pandemi di SD Muhammadiyah Bantul Kota. Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran, 4(1), 56–66.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Analisis data kualitatif: Buku sumber tentang metode-metode baru.
Mulyasa, E. (2013). Manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah. Bumi Aksara.
Muslihat. (2020). Kepemimpinan kepala sekolah dalam kinerja guru. Deepublish.
Ngadi, N., Sudharto, S., & Abdullah, G. (2021). Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kedisiplinan guru terhadap mutu sekolah di SD daerah binaan II unit pengelola pendidikan Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang. Jurnal Manajemen Pendidikan, 9(2), 249–259. https://doi.org/10.26877/jmp.v9i2.8115
Novianty Djafri. (2017). Manajemen kepemimpinan kepala sekolah.
Safitri, N. A., & Darsinah. (2022). Peran manajerial kepala sekolah dasar dalam meningkatkan kreativitas pembelajaran bagi guru. Jurnal ISEMA: Islamic Educational Management, 7(2), 163–172. https://doi.org/10.15575/isema.v7i2.16807
Selvi, T. A., Putra, S. A., & Badrun, M. (2024). Peran kepala sekolah dalam meningkatkan budaya kerja para guru sekolah dasar. Manajemen Pendidikan, 19(2), 209–223.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Terry, G. R. (2019). Dasar-dasar manajemen (S. F. Bunga, Ed.). Bumi Aksara.
Tirtoni, F., & Wulandari, F. (2022). Buku ajar manajemen pendidikan. UMSIDA Press.
Victorynie, I., Putri, L. F. E., & Rosulinawati. (2024). Strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kualifikasi, kompetensi, kinerja, dan disiplin guru. Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education, 5(3), 354–359. https://doi.org/10.32832/itjmie.v5i3.16732
Wahjosumidjo. (2013). Kepemimpinan kepala sekolah: Tinjauan teoretik dan permasalahannya.
Warman, W., Azainil, A., & Jamilah, L. (2024). Peran kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerja guru di SMP Negeri Kota Samarinda: Sebuah studi kualitatif. Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan, 4(2), 135–146.
Zahrotul Jannah, & Ashari, A. (2024). Peran kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kreativitas guru di MI Andzariyah Batuputih Sumenep. ALFIHRIS: Jurnal Inspirasi Pendidikan, 2(4), 169–183. https://doi.org/10.59246/alfihris.v2i4.1033