Arsita Al Mufidah (1), Lailatul Maghfiroh (2), Aisyah Durrotun Nafisah (3)
General Background Character education in primary schooling requires the foundational development of moral and emotional traits rather than solely focusing on cognitive skills. Specific Background Modern globalization presents social challenges such as selfishness, a lack of empathy, and bullying, which necessitates educational innovations capable of engaging students' emotional dimensions. Knowledge Gap While general character development is widely studied, research specifically addressing the implementation of compassion values within a love-based curriculum in elementary madrasahs remains limited. Aims This study aims to describe the application of compassion values within a love-based curriculum during learning processes at MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan. Results Qualitative descriptive analysis reveals that compassion is applied through teacher role models, positive daily habits, humanistic communication, and religious activities. This supportive school culture actively fosters empathy, caring, tolerance, cooperation, and respect among students. Supporting factors include a religious madrasah environment and teacher commitment, whereas primary obstacles involve differing student traits, familial influences, and unmonitored digital technology usage. Novelty This research specifically isolates compassion as a core structural component of love-based curricula, offering a unique and targeted perspective on humanistic learning in elementary Islamic education. Implications These findings provide a scientific contribution for educators seeking to cultivate harmonious learning environments, demonstrating that empathy-driven approaches build holistic social skills and positive peer interactions.
Highlights
Teacher role modeling and positive daily habits foster empathy and tolerance.
Religious activities and humanistic communication build harmonious learning environments.
Unmonitored digital technology usage and family backgrounds present implementation obstacles.
Keywords
Values Of Compassion; Humanistic Learning; Character Education; Moral Development; Islamic Education
Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada pengembangan aspek kognitif peserta didik, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks pendidikan dasar, pembentukan karakter menjadi fondasi utama dalam mengembangkan kepribadian peserta didik agar memiliki sikap moral, sosial, dan emosional yang baik. Salah satu nilai yang sangat penting untuk ditanamkan sejak dini adalah nilai kasih sayang, karena nilai tersebut mampu membentuk hubungan sosial yang harmonis, rasa empati, kepedulian, serta sikap saling menghormati satu sama lain.[1]
Perkembangan zaman dan arus globalisasi yang pesat memberikan pengaruh besar terhadap sikap sosial anak-anak di sekolah. Fenomena seperti kurangnya empati, sikap egois, bully, serta kurangnya perhatian sosial semakin banyak terlihat di lingkungan pendidikan. Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya fokus pada dimensi akademik, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang dapat menyentuh sisi emosional peserta didik.[2] Oleh sebab itu, dibutuhkan inovasi dalam pendidikan yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang dalam proses pembelajaran.
Kurikulum berbasis cinta menempatkan kasih saying, kepedulian, dan penghormatan sebagai landasan pembelajaran yang humanis sehingga peserta didik merasa dihargai dan didampingi dalam berkembang. [3] penerapannya tampak dalam proses belajar, interaksi guru dan siswa, serta budaya sekolah.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan, kasih sayang dan keteladanan berperan penting dalam pembentukan karakter anak, sejalan dengan prinsip among Ki Hajar Dewantara yang menekankan pendidikan berbasis kasih sayang dan penghormatan terhadap kodrat anak. [4] Karena itu, kurikulum berbasis cinta relevan untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah dasar.
Hasil observasi awal di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan menunjukkan bahwa nilai kasih sayang ditanamkan melalui sikap ramah, komunikasi santun, pembiasaan saling menghargai dan kegiatan religius yang mendukung pembentukan karakter peserta didik.
Dalam praktik pembelajaran, guru membiasakan peserta didik untuk saling membantu, menghargai teman, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, hubungan yang terjalin antara guru dan peserta didik terlihat lebih dekat dan humanis sehingga menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Hal ini menjadi salah satu bentuk implementasi nyata dari kurikulum berbasis cinta di lingkungan madrasah.[5]
Meskipun demikian, implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam proses pembelajaran tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Perbedaan karakter peserta didik, pengaruh lingkungan keluarga, serta perkembangan teknologi yang memengaruhi perilaku sosial anak menjadi faktor yang dapat menghambat internalisasi nilai kasih sayang secara optimal.[6] Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar nilai-nilai kasih sayang dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan. Hasilnya diharapkan dapat mendukung penguatan pendidikan karakter di madrasah.
Pengembangan karakter sejak sekolah dasar penting karena masa kanak-kanak merupakan tahap awal pembentukan kepribadian dan perilaku social. Di fase ini, peserta didik cenderung mudah meniru perilaku yang mereka lihat dan rasakan dari lingkungan sekitarnya, terutama dari guru yang menjadi panutan di sekolah. Oleh sebab itu, suasana pembelajaran yang dipenuhi dengan kasih sayang, penghargaan, dan perhatian akan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan emosional dan sosial peserta didik. Di sisi lain, lingkungan belajar yang kurang humanis dapat memengaruhi sikap dan perilaku anak menjadi kurang peduli, mudah marah, bahkan sulit menghargai orang lain.[7]
Pada kenyataannya, pendidikan karakter di sekolah masih sering menghadapi dengan perbedaan antara konsep dan praktik. Nilai-nilai moral sering kali hanya disampaikan secara teoritis dalam pembelajaran tanpa adanya pembiasaan yang konsisten dalam lingkungan sekolah. Ini menyebabkan, peserta didik memahami konsep tentang prilaku yang baik, namun belum mampu menerapkannya secara nyata dalam kehidupan sosial sehari-hari. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan pendekatan yang lebih praktis dan melibatkan pengalaman langsung peserta didik melalui budaya di sekolah dan interaksi pembelajaran yang konstruktif.[8]
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan, ditemukan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta tidak hanya dilakukan melalui proses pembelajaran formal di dalam kelas, tetapi juga melalui pembiasaan sikap dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah. Para guru berupaya menciptakan suasana belajar yang nyaman dengan memberikan perhatian kepada seluruh peserta didik tanpa membedakan kemampuan akademik maupun latar belakang sosial mereka. Selain itu, peserta didik juga dibiasakan untuk membangun sikap saling menghargai, bekerja sama, dan peduli terhadap sesama melalui berbagai aktivitas pembelajaran maupun kegiatan keagamaan.
Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa tantangan, seperti adanya peserta didik yang kurang disiplin, mudah bertengkar dengan teman, serta belum mampu mengontrol emosi dengan baik. Selain itu, pengaruh lingkungan di luar sekolah dan penggunaan teknologi digital yang kurang terkontrol juga menjadi faktor yang memengaruhi tingkah laku sosial peserta didik. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai kasih sayang membutuhkan peran aktif dari semua pihak, baik guru, sekolah, maupun orang tua agar proses internalisasi karakter dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.[9]
Penelitian mengenai pendidikan karakter berbasis cinta telah banyak dilakukan, namun banyak di antaranya lebih fokus pada aspek pendidikan karakter secara umum. Sementara itu, penelitian yang secara spesifik membahas implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta pada proses pembelajaran di madrasah ibtidaiyah masih cukup terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki nilai kebaruan (novelty) karena berfokus pada implementasi nilai-nilai kasih sayang sebagai komponen dari kurikulum berbasis cinta dalam pembelajaran di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan.
Melalui penelitian ini, peneliti ingin mengkaji secara mendalam bagaimana bentuk implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam proses pembelajaran, strategi yang digunakan guru dalam menanamkan nilai-nilai tersebut, faktor yang mendukung dan menghambat implementasi kurikulum berbasis cinta, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi ilmiah dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis cinta, khususnya di lingkungan madrasah ibtidaiyah, serta bisa menjadi acuan bagi pendidik dalam menciptakan proses pembelajaran yang humanis dan memfokuskan pada pengembangan karakter peserta didik secara utuh.[10]
Implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta juga memiliki keterkaitan dengan terciptanya suasana pembelajaran yang mendukung. Suasana belajar yang dirancang dengan prinsip kasih sayang dan penghargaan akan membuat peserta didik merasa aman, nyaman, dan dihargai keberadaannya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar, rasa percaya diri, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berlangsung sebagai proses penyerahan ilmu, tetapi juga sebagai upaya pembentukan karakter dan pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh.[11]
Di sisi lain, implementasi kurikulum berbasis cinta juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di lingkungan sekolah. Sikap tidak toleransi, bullying, kurangnya rasa tanggung jawab, dan rendahnya kepedulian bisa di kurangi melalui pembiasaan nilai-nilai kasih sayang secara konsisten. Ketika peserta didik dibiasakan untuk saling menghormati, memahami perasaan orang lain, dan menyelesaikan permasalahan dengan cara yang baik, maka secara perlahan akan tercipta budaya sekolah yang damai dan harmonis.[12]
Berdasarkan observasi, MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan menanamkan nilai kasih sayang melalui pembiasaan salam, senyum, berjabat tangan, doa bersama, kerja sama, serta motivasi dari guru. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum berbasis cinta lebih diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di madrasah.
Selain itu, hubungan interpersonal yang terjalin antara guru dan peserta didik terlihat lebih dekat dan penuh komunikasi. Guru berusaha memahami kondisi emosional peserta didik serta memberikan perhatian kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar maupun masalah pribadi. Pendekatan yang dilakukan guru tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan sikap peserta didik, seperti meningkatnya rasa hormat kepada guru, kepedulian terhadap teman, serta terciptanya suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan.[13]
Meskipun implementasi kurikulum berbasis cinta menunjukkan berbagai dampak positif, keberhasilannya tentu memerlukan konsistensi dan dukungan dari berbagai pihak. Sekolah perlu menciptakan budaya yang mendukung pembentukan karakter, guru harus mampu menjadi teladan yang baik, dan orang tua juga perlu memberikan penguatan nilai kasih sayang di lingkungan keluarga. Kerjasama antara sekolah dan keluarga menjadi faktor penting agar nilai-nilai yang ditanamkan kepada peserta didik dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.[14]
Dengan demikian, implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta bukan hanya sekadar metode pembelajaran, tetapi juga menjadi upaya strategis dalam membentuk generasi tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, sikap sosial yang positif, dan kemampuan untuk membangun hubungan harmonis dengan sesama. Oleh karena itu, penelitian mengenai implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan menjadi penting untuk dikaji secara lebih mendalam guna mengetahui bentuk implementasi, strategi pelaksanaan, serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter peserta didik.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta pada proses pembelajaran di lingkungan madrasah. Penelitian kualitatif fokus pada pemahaman makna, proses, dan realitas sosial yang terjadi secara alamiah di lapangan. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai bentuk implementasi, strategi pelaksanaan, serta dampak penerapan nilai-nilai kasih sayang terhadap pembentukan karakter peserta didik.[15]
Penelitian ini dilakukan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan, pada tanggal 19 Februari 2026. Lokasi penelitian ini dipilih karena madrasah tersebut merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum berbasis cinta dalam aktivitas belajar dan pembentukan karakter peserta didik. Selain itu, subjek yang diteliti mencakup kepala madrasah, guru kelas, serta peserta didik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Kepala madrasah dipilih sebagai narasumber untuk mendapatkan informasi mengenai kebijakan dan budaya sekolah dalam penerapan kurikulum berbasis cinta. Guru kelas dipilih karena berperan langsung dalam implementasi nilai-nilai kasih sayang pada proses pembelajaran, sedangkan peserta didik menjadi sumber data utama terkait pengalaman dan respons mereka terhadap penerapan kurikulum berbasis cinta di lingkungan madrasah.
Sedangkan objek penelitian ini adalah implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam dalam kurikulum berbasis cinta pada proses pembelajaran di Mi Ma’arif Nu Sunan Drajat Lamongan. Penelitian mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, strategi penanaman nilai kasih sayang, pembiasaan dalam budaya sekolah, serta faktor-faktor yang mendukung dalam mendukung dan meghambat implementasi, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik, dan penilaian proses pembelajaran.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung terhadap aktivitas pembelajaran dan interaksi sosial di ligkungan madrasah untuk mendapatkan informasi tentang penerapan implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam proses pembelajaran. Melalui observasi, peneliti mengamati perilaku guru dan peserta didik, suasana pembelajaran, serta pola kebiasaan yang di terapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.[16]
Analisis data menggunakan mode Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber dan Teknik melalui perbandingan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis ini menghasilkan data mengenai strategi guru, hambatan, dan perubahan perilaku peserta didik setelah penerapan kurikulum berasis cinta. [17].
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan, diperoleh beberapa temuan mengenai implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta pada proses pembelajaran. Implementasi tersebut di lakukan secara terintegrasi melalui keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, kegiatan religius serta budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter peserta didik.
Pertama, Berdasarkan wawancara dari guru wali kelas, Ustadzah Dian Dwi Alifatul Faizah, S.Pd. Terkait Implementasi Nilai Kasih Sayang Melalui Keteladanan Guru. Guru memiliki peran utama dalam menanamkan nilai kasih sayang kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Dalam pembelajaran, guru bersikap ramah, sabar, dan peduli terhadap kondisi akademik, emosional, serta social peserta didik. Sebelum belajar, siswa dibiasakan memberi salam, berjabat tangan, dan berdoa bersama, sementara guru menyambut mereka dengan senyum dan sopan santun sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.Sikap tersebut menjadi bentuk keteladanan yang secara tidak langsung mengajarkan nilai kasih sayang, penghormatan, dan kepedulian kepada peserta didik.
Selain itu, dalam meghadapi peserta didik yang melakukan kesalahan, guru tidak menggunakan hukuman fisik atau kata-kata kasar. Guru lebih memilih menggunakan pendekatan persuasif melalui nasihat dan bimbingan secara personal agar peserta didik memahami kesalahan yang di lakukan. Pendekatan tersebut membuat peserta didik merasa di hargai dan tidak takut untuk menyampaikan pendapat maupun permasalahan yang mereka alami.
Kedua, Berdasarkan wawancara dari peserta didik. Terkait Pembiasaan Sikap Peduli dan Saling Menghargai, Implementasi nilai kasih sayang juga dilakukan melalui kegiatan pembiasaan perilaku baik dalam aktivitas sehari-hari di madrasah. Berdasarkan hasil observasi, peserta didik dibiasakan untuk saling membantu ketika ada teman yang mengalami kesulitan belajar maupun kesulitan lainnya. Guru memberikan bimbingan agar peserta didik tidak bersikap egois dan mampu membangun kerja sama dengan teman.
Dalam kegiatan belajar, peserta didik dibiasakan bekerja sama, menghargai pendapat, dan bersikap santun tanpa membedakan latar belakang teman. Selain itu, budaya antre, berbagi, menjaga kebersihan, dan menjenguk teman yang sakit diterapkan secara konsisten untuk menanamkan empati, toleransi, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, Berdasarkan wawancara dari Ustadz Ubaidillah, SP.d.I. Terkait Integrasi Nilai Kasih Sayang dalam Kegiatan Religius, Nilai-nilai kasih sayang juga diintegrasikan melalui kegiatan religius yang dilaksanakan secara rutin di madrasah. Berdasarkan hasil dokumentasi dan observasi, kegiatan seperti shalat berjamaah, membaca doa bersama, dan pembacaan shalawat dilakukan secara rutin untuk menanamkan nilai spiritual sekaligus membentuk karakter peserta didik.
Guru memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa agama mengajarkan pentingnya saling menyayangi, menghormati sesama, dan membantu orang lain. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran, guru sering mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai akhlakul karimah seperti sikap saling peduli, jujur, tolong menolong, dan meghormati orang lain.
Keempat, terkait Faktor Pendukung dan Hambatan, Hasil penelitian menunjukkan bahwa terhadap beberapa faktor yang mendukung implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta didukung oleh budaya madrasah yang religius, komitmen guru, dan menerapkan pendidikan karakter serta adanya kerja sama antar warga sekolah. Lingkungan sekolah yang kondusif mendukung penerapan nilai kasih sayang. Namun, perbedaan karakter siswa, rendahnya mengendalikan emosi, serta kurangnya pengawasan orang tua masih menjadi kendala dalam pelaksanaannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan dilakukan secara terintegrasi melalui proses pembelajaran, budaya sekolah, serta interaksi sosial antara guru dan peserta didik. Implementasi tersebut tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi pelajaran, tetapi juga di arahkan pada pembentukan karakter peserta didik melalui pendekatan humanis yang menekankan nilai kasih sayang, kepedulian, empati, dan penghormatan terhadap sesama. Keteladanan guru merupakan kunci dalam penerapan kurikulum berbasis cinta. Melalui sikap ramah, sabar, peduli, santun, dan penuh perhatian, guru menjadi teladan yang membantu peserta didik merasa aman, dihargai, dan nyaman sehingga lebih mudah menerima serta menerapkan nilai-nilai karakter yang diajarkan. Temuan ini sejalan dengan teori belajar.[18] Dalam teori belajar sosial Albert Bandura dijelaskan bahwa anak cenderung meniru perilaku yang dilihat dari lingkungan sekitarnya, terutama dari figur yang dianggap penting seperti guru. Oleh karena itu, perilaku guru mencerminkan sikap ramah, sabar, dan peduli yang ditunjukkan guru memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku peserta didik.[19]
Nilai kasih sayang ditanamkan melalui pembiasaan positif, seperti salam, berjabat tangan, berdoa, antre, saling membantu, menjaga kebersihan, dan berbagi. Pembiasaan ini membantu peserta didik menginternalisasi nilai karakter melalui praktik langsung. [20] Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis cinta menciptakan suasana belajar yang humanis dan nyaman sehingga peserta didik lebih aktif, percaya diri, dan berani menyampaikan pendapat. Guru tidak menggunakan pendekatan hukuman fisik maupun kata-kata kasar ketika menghadapi peserta didik yang melakukan kesalahan, melainkan menggunakan pendekatan persuasif melalui nasihat, dialog, dan bimbingan individual. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berbasis cinta menekankan penghargaan terhadap martabat peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang. Suasana belajar yang positif seperti ini dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik sekaligus memperkuat perkembangan emosional dan sosial mereka.[21]
Implementasi nilai-nilai kasih sayang juga terlihat melalui kegiatan kerja sama dan interaksi sosial antara peserta didik. Dalam kegiatan diskusi kelompok, peserta didik dibiasakan untuk saling menghargai pendapat, mendengarkan teman yang berbicara, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Guru secara aktif membimbing peserta didik agar tidak membeda-bedakan teman berdasarkan kemampuan akademik maupun latar belakang sosial. Pembiasaan tersebut memberikan dampak positif terhadap berkembangnya sikap toleransi, empati, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sosial pada diri peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berbasis cinta tidak hanya berfokus pada hubungan guru dan peserta didik, tetapi juga membangun hubungan sosial yang harmonis antar peserta didik di lingkungan sekolah.[22]
Nilai kasih sayang diitengrasikan melalui kegiatan religius, seperti shalat berjamaah, doa bersama, salawat, dan nasihat keagamaan yang menanamkan sikap tolong menolong, kejujuran, hormat, dan kepedulian social. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis cinta mencakup hubungan dengan sesame dan Tuhan. [23]. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa lingkungan madrasah yang religius, hubungan harmonis, dan komitmen guru mendukung keberhasilan kurikulum berbasis cinta sehingga sekolah berperan sebagai tempat pembentukan karakter peserta didik. [24].
Temuan penelitian ini sejalan dengan konsep pendidikan humanistik yang menempatkan peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang secara optimal melalui lingkungan yang penuh kasih sayang, penghargaan, dan perhatian. Pendidikan humanistik menekankan pentingnya hubungan interpersonal yang positif dalam proses pembelajaran. Ketika peserta didik merasa dihargai dan diterima di lingkungan sekolah, mereka akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan sosial, serta motivasi belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, implementasi kurikulum berbasis cinta dapat menjadi salah satu bentuk penerapan pendidikan humanistik dalam pembelajaran di madrasah ibtidaiyah.[25]
Meskipun demikian, penerapan nilai kasih sayang masih terkendala oleh perbedaan karakter siswa, rendahnya disiplin, pengendalian emosi yang belum optimal, serta pengaruh lingkungan keluarga dan media digital. Karena itu, diperlukan kerja sama antara sekolah, guru, dan orang tua untuk mendukung pembentukan karakter siswa secara berkelanjutan. [26].
Namun demikian, implementasi kurikulum berbasis cinta menunjukkan dampak positif dalam pengembangan terhadap pembentukan karakter peserta didik. Nilai-nilai seperti empati, kepedulian, toleransi, kerja sama, dan rasa hormat dapat berkembang melalui keteladanan guru, pembiasaan positif, kegiatan religius, serta budaya sekolah yang humanis. Oleh karena itu, kurikulum berbasis cinta dapat menjadi alternatif pendekatan pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, moral, dan sikap sosial yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.[27]
Secara umum, kurikulum berbasis cinta di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan berdampak positif dalam mengembangkan empati, kepeduliaan, toleransi, kerja sama, dan rasa hormat peserta didik. Melalui keteladanan pembiasaan, kegiatan religius, dan budaya sekolah yang humanis, pendekatan ini efektif membentuk karakter dan sikap social siswa.
Berdasarkan hasil penelitian, implementasi nilai-nilai kasih sayang dalam kurikulum berbasis cinta di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan terlaksana secara terintegrasi melalui pembelajaran, budaya sekolah, dan interaksi sosial yang diwujudkan lewat keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, komunikasi humanis, pembelajaran kolaboratif, serta integrasi nilai religius dalam aktivitas harian. Guru berperan sebagai pembimbing dan teladan dalam menanamkan empati, kepedulian, toleransi, tanggung jawab, dan saling menghargai, sehingga tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi pengembangan karakter siswa. Implementasi ini berdampak positif pada peningkatan sikap peduli, kemampuan bekerja sama, rasa hormat, serta hubungan sosial yang harmonis, didukung budaya madrasah yang religius, komitmen guru, dan lingkungan yang kondusif. Meskipun terdapat hambatan berupa perbedaan karakter siswa, kurangnya pengendalian emosi, serta pengaruh keluarga dan teknologi digital yang kurang terkontrol, di mana kurangnya pengawasan terhadap penggunaan media digital berpotensi mendorong siswa meniru perilaku negatif yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kasih sayang yang ditanamkan di sekolahpembentukan karakter dapat optimal melalui konsistensi, keteladanan, dan kerja sama berkelanjutan antara sekolah, guru, dan orang tua. Penelitian ini bermanfaat sebagai acuan bagi guru dalam menerapkan pembelajaran humanis, bagi sekolah dalam memperkuat budaya religius dan penuh kasih sayang, serta bagi orang tua dalam menanamkan nilai karakter secara konsisten. Oleh karena itu, sekolah perlu memperkuat budaya humanis-religius, guru mempertahankan keteladanan dan pembelajaran yang menghargai perbedaan, sedangkan orang tua meningkatkan pendampingan karakter di rumah. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji kurikulum berbasis cinta pada konteks dan metode yang lebih beragam agar diperoleh pemahaman yang lebih luas.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh madrasah, guru, peserta didik, serta seluruh pihak di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis kasih sayang di madrasah.
[1] E. Pramono, L. Lamirin, T. Ismoyo, S. Susanto, and K. Sutawan, “Upaya Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Nilai-Nilai Kemanusiaan Pada Peserta Didik,” J. Pendidik. Buddha dan Isu Sos. Kontemporer, 2022, doi: 10.56325/jpbisk.v4i1.60.
[2] S. Sosial, D. A. N. Emosional, S. Sekolah, P. Studi, P. Guru, and S. Dasar, “Dampak bullying terhadap perkembangan,” 2023.
[3] A. A. Billah, H. Religius, P. Madrasah, and K. B. Cinta, “Pendekatan Humanis Religius pada Pendidikan Madrasah : Analisis terhadap Kurikulum Berbasis Cinta Kementerian Agama Republik Indonesia,” vol. 13, no. 1, pp. 94–107, 2025.
[4] N. M. Khozin et al., “Cendikia pendidikan,” vol. 18, no. 3, 2026, doi: 10.9644/sindoro.v3i9.267.
[5] W. Putri, M. Kurniawan, and N. Nuraini, “Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa,” Metta J. Ilmu Multidisiplin, 2024, doi: 10.37329/metta.v4i4.3617.
[6] N. Mukaromah, A. R. Abila, R. Dwi, R. Nuranggraeni, and E. Jahlia, “Jurnal basicedu,” vol. 9, no. 5, pp. 1633–1641, 2025.
[7] A. Syah, M. Meiwindah, M. Fatihah, Z. Al Fariza, and J. Dealova, “Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di Mi Al-Islah Palembang: Membangun Pendidikan yang Humanis dan Berkarakter,” Sentri J. Ris. Ilm., 2025, doi: 10.55681/sentri.v4i10.4799.
[8] S. Melalui, P. Di, and L. Sekolah, “3 1,2,3,” vol. 10, pp. 1949–1962, 2024.
[9] A. Of, L. Discipline, S. Behavior, and I. The, “Sosial Anak Dalam Kelas Analysis Of Learning Discipline Guidance And Children ’ s Social Behavior In The Classroom,” vol. 12, no. 01, pp. 105–114, 2025.
[10] A. Rahmi, U. Islam, K. Muhammad, and A. A. Banjarmasin, “Impelemtasi Penerapan Kurikulum Pendidikan,” vol. 7, no. 1, pp. 96–106, 2025.
[11] H. Sangadji, “Kurikulum Merdeka: Analisis Asesmen Perkembangan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar,” PrimEarly J. Kaji. Pendidik. Dasar dan Anak Usia Dini, 2024, doi: 10.37567/primearly.v7i1.2877.
[12] S. A. Manar and A. N. H. B, “Analisis Strategi Penerapan Pendidikan Karakter untuk Mencegah Bullying di Sekolah Dasar,” J. Pendidik. dan Pembelajaran, 2024, doi: 10.62388/jpdp.v4i2.475.
[13] D. A. Aryani, H. K. Aji, D. M. Herawati, and R. Positif, “Komunikasi Interpersonal Guru Dengan Murid Dalam,” vol. 02, pp. 67–86, 2025.
[14] D. Daniel, A. M. F. H. . Pangera, F. Sasmita, A. A. Agus, and Najamuddin, “Konsep Pendidikan dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Dalam Kerangka Pendidikan Nilai dan Karakter,” Indo-MathEdu Intellectuals J., 2025, doi: 10.54373/imeij.v6i3.3172.
[15] O. Fahroji, “Implementasi Pendidikan Karakter,” Qathruna, 2020, doi: 10.32678/qathruna.v7i1.3030.
[16] U. Haki, E. Prahastiwi, and U. T. Selatan, “Strategi Pengumpulan dan Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif Pendidikan,” J. Inov. dan Teknol. Pendidik., 2024, doi: 10.46306/jurinotep.v3i1.67.
[17] U. Sriwijaya, “Seni Mengelola Data : Penerapan Triangulasi Teknik, Sumber Dan Waktu Pada Penelitian Pendidikan Sosial,” vol. 5, no. 2, pp. 146–150, 2020.
[18] N. I. Maulidah and M. M. E. I. Bali, “Strategi Guru Dalam Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Melalui Kegiatan Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah,” J-Simbol J. Magister Pendidik. Bhs. dan Sastra Indones., 2025, doi: 10.23960/simbol.v13i1.640.
[19] M. Azhari, “Teori Sosial Kognitif Albert Bandura dan Relevansi Terhadap Pendidikan Islam,” vol. 2, no. 2, pp. 304–317, 2025.
[20] N. Laeli, “Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Melalui Pembiasaan Kegiatan Keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah Bantarsari,” An-Nidzam J. Manaj. Pendidik. dan Stud. Islam, 2023, doi: 10.33507/an-nidzam.v10i2.1792.
[21] Y. Sari, N. Sari, R. Adiffa, and S. Suwartini, “Analisis Perkembangan Sosial-Emosional di Sekolah Dasar,” Jispendiora J. Ilmu Sos. Pendidik. Dan Hum., 2025, doi: 10.56910/jispendiora.v4i1.2051.
[22] P. Syawalia, A. Novita, and R. Amalia, “Efektivitas Metode Diskusi Kelompok dalam Meningkatkan Pemahaman Nilai Sosial pada Kelas IV SD,” vol. 03, pp. 137–146, 2025.
[23] L. Farihah, “Pendidikan Islam berbasis Budaya Lokal : Integrasi Tradisi Burdah dalam Nilai-nilai Karakter Religius di Kabupaten Probolinggo Local Culture-Based Islamic Education : Integration of Burdah Tradition into Religious Character Values in Probolinggo Regency,” vol. 6, no. 2, pp. 347–369, 2025.
[24] R. Di and L. Sekolah, “Strategi dan implementasi penciptaan suasana religius di lingkungan sekolah,” vol. 2, no. 1, pp. 155–166, 2025.
[25] Shulhan, “Pentignya Implementasi Kurikulum Cinta Di Madrasah Ibtidaiyah Untuk Membentuk Kepribadian Anak,” Mubtadi J. Pendidik. Ibtidaiyah, 2025, doi: 10.19105/mubtadi.v7i1.19036.
[26] E. S. Cipta, A. S. Husaeni, C. Cahyati, and F. Anwar, “Analisis Pengaruh Media Digital terhadap Perkembangan Karakter Siswa Sekolah Dasar,” Ainara J. (Jurnal Penelit. dan Pkm Bid. Ilmu Pendidikan), 2023, doi: 10.54371/ainj.v4i3.271.
[27] R. Reksamunandar and H. Hadirman, “Pembentukan Karakter Siswa melalui Pembiasaan dan Keteladanan Guru,” J. Cendekia Media Komun. Penelit. dan Pengemb. Pendidik. Islam, 2022, doi: 10.37850/cendekia.v14i01.251.