Nur Fitrah Julianti Patta (1), Sulfasyah Sulfasyah (2), Tarman A. Arif (3)
General Background: Reading comprehension is a fundamental component of Indonesian language learning because it enables elementary students to understand explicit and implicit meanings, identify key information, and connect texts with real-life experiences. Specific Background: Fifth-grade students still faced difficulties in understanding texts because available teaching materials were limited, general, and less connected to students’ everyday contexts. Knowledge Gap: Previous learning resources had not integrated local cultural content, Heyzine-assisted interactive digital media, and a deep learning approach within one instructional product for reading comprehension. Aims: This study aimed to develop an interactive local culture-based e-module assisted by Heyzine using a deep learning approach for fifth-grade elementary students’ Indonesian reading comprehension. Results: The developed product was categorized as highly feasible, with expert validation scores of 91.66% from media experts, 96.19% from material experts, and 89% from cultural experts, producing an average feasibility score of 92.28%. Practicality results showed very strong implementation, with classroom observation reaching 95.83%, teacher response 95%, and student response 92%. Student learning outcomes increased from a pretest mean score of 53.00 to a posttest mean score of 89.11, supported by an N-Gain score of 0.76, a paired sample t-test significance value of 0.000, and Cohen’s d of 3.8417. Novelty: The product combines contextual cultural texts, multimedia flipbook features, and mindful, meaningful, and joyful learning principles. Implications: This e-module can serve as a feasible, practical, and empirically supported digital learning resource for elementary reading instruction.
Highlights• Expert appraisal averaged 92.28% in the very feasible category.• Classroom implementation reached 95.83%, with strong teacher and learner responses.• Scores rose from 53.00 to 89.11, with N-Gain 0.76 and Cohen’s d 3.8417.
KeywordsE Module; Local Culture; Heyzine; Deep Learning; Reading Comprehension
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa yang merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemuka serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya [1].
Sejalan dengan hal tersebut menurut Kridalaksana (dalam Intang, 2023) “Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri [2]. Penjelasan tersebut semakin menegaskan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan baik secara individu maupun berkelompok”.
Pembelajaran di Indonesia saat ini menerapkan kurikulum merdeka yang merupakan pengembangan dari kurikulu 2013 (K13). Kurikulum Merdeka menempatkan pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai sarana utama dalam pengembangan kompetensi literasi yang holistik dan bermakna. Bahasa Indonesia merupakan aspek penting yang perlu diajarkan kepada siswa di tingkat sekolah dasar. Bahasa Indonesia adalah suatu alat pemersatu, yang mana pembelajaran Bahasa Indonesia dikemas dalam bentuk mata pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan, salah satunya Sekolah Dasar [3]. Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan nyata, sehingga bahasa tidak hanya dipelajari sebagai sistem kaidah, tetapi juga sebagai alat berpikir, berkomunikasi, dan membangun identitas diri.
Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar [4]. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu keterampilan berbahasa yang memegang peranan penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan adalah keterampilan membaca, khususnya membaca pemahaman. Melalui kegiatan membaca, peserta didik tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami makna teks, serta menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga harus memperhatikan perkembangan spiritual anak, karena faktor inilah yang menjadi sasaran utama. Tanpa pemahaman yang tepat tentang perkembangan jiwa dan kemampuan berpikir anak, kesuksesan sulit dicapai.
Paramita (2022: 12) mengungkapkan bahwa membaca merupakan proses memahami makna apa saja yang terkandung dalam bacaan [5]. Membaca adalah kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk menemukan informasi yang terdapat dalam tulisan. Hal ini berarti membaca merupakan proses berpikir untuk memahami suatu bacaan. Pada kelas tinggi, pembelajaran membaca lebih ditekankan pada keterampilan membaca pemahaman dimana dengan membaca siswa mampu memahami teks bacaan yang dibaca serta menggali informasi yang terdapat pada teks bacaan. Membaca pemahaman merupakan membaca secara kognitif (membaca untuk memahami). Membaca pemahaman adalah kemampuan untuk mengungkapkan makna tersurat maupun tersirat dan menerapkan informasi yang diperoleh dari membaca dengan menggabungkan pengetahuan dan pengalaman yang ada [6].
Membaca pemahaman merupakan jenis kegiatan membaca yang berupaya menjelaskan pengalaman, menghubungkan infromasi baru dengan yang sudah ada atau yang diketahui, dan menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan dari bacaan tertulis. Namun, dalam praktiknya, kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar masih tergolong rendah. Banyak siswa yang hanya mampu membaca secara mekanis tanpa benar-benar memahami makna informasi yang disampaikan dalam teks.
Hasil penelitian yang dilakukan (Sarah et al, 2023) di SD Negeri 3 Nagri Kaler memiliki tingkat keterampilan membaca pemahaman yang rendah, siswa kesulitan memaknai dan menceritakan kembali bacaan yang dibaca. Hasil penelitian yang dilakukan (Dian et al, 2023) di SDN 07 Kabupaten Dompu juga memiliki keterampilan membaca pemahaman yang rendah dikarenakan guru tidak memusatkan seluruh siswa pada saat mengajar. Sebagian besar siswa kurang berminat dalam membaca, siswa hanya membolak balikkan halaman pada buku paket tanpa serius membaca semua isi teks bacaan dan masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan membaca sehingga membuat hasil belajar rendah dan minimnya pemahaman yang diperoleh.
Hasil Studi Internasional yaitu Program Student Assesment (PISA) Sejak tahun 2009 hingga tahun 2018 menilai Indonesia belum menunjukkan perubahan signifikan dalam hal kemampuan membaca pemahaman, Indonesia masih dikatakan kategori rendah dalam kemampuan membaca pemahaman. Fakta tersebut membuktikan pada tahun 2018 menunjukkan hasil kemampuan literasi membaca siswa di Indonesia mendapat skor rata-rata 371 dan berada di peringkat ke 74 dari 79 negara partisipan PISA pada kategori kemampuan membaca. Kemampuan membaca tersebut dipengaruhi oleh kemampuan siswa dalam memahami, menggunakan, merefleksikan dan menanggapi teks berdasarkan koteks [7]. Selanjutnya, PISA 2022 mencatat bahwa skor literasi membaca Indonesia turun menjadi 359, rekor terendah sejak Indonesia mulai ikut PISA. Meskipun peringkat relatif Indonesia pada PISA 2022 naik, peringkat ini tetap menunjukkan tantangan literasi membaca yang mendasar.
Hasil analisis kebutuhan di UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar kelas V juga didapati bahwa bahan ajar yang digunakan oleh guru masih belum memanfaatkan lingkungan di sekitar siswa. Buku teks yang digunakan dalam pembelajaran masih berisi contoh-contoh yang tidak relevan dengan lingkungan siswa, sehingga siswa kurang memiliki pengetahuan awal tentang materi yang dipelajari. Hal ini disebabkan oleh buku paket yang digunakan dalam pembelajaran adalah buku yang bersifat umum.
Guru mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa mengalami kesulitan memahami suatu bacaan. Bahan bacaan yang disediakan saat pembelajaran terbatas hanya teks bacaan pada buku paket saja. Bahan bacaan atau literatur tambahan dengan muatan budaya lokal juga masih kurang, sehingga kurang memadai untuk mendukung kemampuan literasi siswa. Hal ini berdampak pada minat membaca siswa dan siswa cenderung membaca tanpa memahami isi bacaan. Kesulitan memahami bacaan ini disebabkan oleh keterbatasan kosakata yang dimiliki siswa serta topik bacaan yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari dan pengalaman mereka. Banyaknya kosakata baru dalam bacaan semakin menambah kesulitan bagi siswa untuk memahami isi bacaan yang mereka baca.
Permasalahan ini didukung dengan data nilai hasil belajar siswa muatan pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V tahun pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 19 siswa. Dari 19 jumlah siswa yang ada di kelas V, 53% siswa yang dinyatakan tuntas, dan 47% siswa belum mencapai batas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 72. Kondisi ini menunjukkan hampir setengah dari jumlah siswa masih mengalami kesulitan dalam menguasai kompetensi yang diharapkan.
Capaian pembelajaran (CP) yang harus dicapai siswa dalam membaca pemahaman, yaitu siswa menunjukkan minat terhadap teks, memahami makna tersurat dan tersirat, menggali informasi penting, serta menyimpulkan teks bacaan secara tepat. Belum tercapainya capaian pembelajaran (CP) pada aspek membaca pemahaman secara optimal, maka diperlukan upaya perbaikan dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bacaan secara lebih efektif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan bahan ajar yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan siswa [8].
E-Modul merupakan bahan ajar yang dirancang secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai dengan tingkat pengetahuan siswa, E-Modul dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran, mengatasi kesulitan belajar serta mendukung pencapaian hasil belajar yang optimal (Fidarti, 2023: 398). Keberadaan E-Modul dan penggunaannya dapat membuat siswa untuk belajar sendiri tanpa bantuan atau keberadaan pendidik yang biasanya ada dalam setiap pembelajaran. Ini akan mengajarkan siswa untuk menggali informasi maupun materi dan mengembangkannya secara mandiri. Dengan demikian, E-Modul tidak hanya menjadi alat penyampaian informasi, tetapi juga menjadi komponen integral yang membentuk pengalaman pembelajaran yang efektif.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa E-Modul sebagai bahan ajar dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa. Hasil penelitian oleh (Meidira et al, 2025) menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar E-Modul dinilai bermanfaat dan efektif dalam pembelajaran karena pada bahan ajar E-modul materi pembelajaran disajikan dengan bentuk yang sangat menarik [9]. Hasil penelitian (Hanatun & Liyana) menunjukkan bahwa penggunaan e-modul membantu siswa memahami bacaan secara lebih mendalam melalui tampilan visual, multimedia, serta latihan yang bervariasi, sehingga minat dan pemahaman membaca meningkat [10].
Efektivitas E-Modul tersebut semakin optimal ketika didukung oleh platform penyaji digital seperti heyzine, yang memungkinkan E-Modul disajikan dalam bentuk flipbook interaktif dengan tampilan visual yang lebih menarik dan navigasi yang mudah. Heyzine merupakan presentasi perangkat lunak yang berbentuk lembaran digital yang menyerupai buku cetak dan menyertakan fitur multimedia seperti animasi, video, foto, dan koneksi untuk membuat penggunaannya lebih nyaman [11]. Penelitian yang dilakukan oleh (Consista et al, 2024), menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan berupa E-Modul heyzine dinyatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran khususnya pada keterampilan membaca Bahasa Indonesia siswa [12].
Keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan ajar yang menarik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pemilihan pendekatan, model, metode atau strategi pedagogis yang digunakan [13]. Dalam konteks pendidikan, deep learning merupakan suatu pendekatan yang dirancang untuk menumbuhkan pemahaman siswa secara lebih mendalam, mendorong kemampuan berpikir kritis siswa, serta mengaitkan pengetahuan dengan situasi dan permasalahan dalam kehidupan nyata [14].
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti mencoba mengembangkan bahan ajar yaitu E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning. Budaya lokal suatu daerah perlu diperkenalkan kepada siswa agar semua sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh dari sekolah dapat diimplementasikan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah, memperkuat karakter siswa, dan menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tidak hilang tergerus perkembangan teknologi dan globalisasi.
Tabel 1 Hasil Angket Analisis Kebutuhan Siswa
Berdasarkan hasil angket analisis kebutuhan siswa, diperoleh skor rata-rata keseluruhan sebesar 4,45 dan termasuk kategori sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sangat membutuhkan media pembelajaran yang inovatif, khususnya E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning. Siswa masih menghadapi kesulitan dalam memahami isi bacaan, namun menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap pembelajaran yang memuat gambar, video, dan konten budaya lokal. Selain itu, siswa merasa lebih bersemangat belajar apabila materi dikaitkan dengan lingkungan dan pengalaman mereka. Belum ada guru yang mengembangkan E-Modul yang memuat bacaan berbasis budaya lokal dengan pendekatan deep learning atau bacaan yang berisi keragaman yang terdapat di sekitar siswa. Dengan menyajikan E-Modul yang dekat dengan pengalaman siswa, siswa akan lebih aktif dalam proses membaca pemahaman.
Kebaruan penelitian ini adalah mengembangkan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning sebagai bahan ajar yang dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa yang didalamnya terdapat materi teks pembelajaran budaya lokal Selayar dan didukung dengan gambar, video dan tampilan yang menarik oleh heyzine dengan pendekatan deep learning. Integrasi budaya lokal dalam E-Modul berfungsi sebagai konteks kontekstual yang dekat dengan pengalaman siswa, Heyzine sebagai media digital interaktif yang menyajikan materi secara visual dan multimedia, serta pendekatan deep learning yang mendorong pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan pengaitan materi dengan kehidupan nyata, sehingga ketiganya saling memperkuat dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa.
A. Model Penelitian dan Pengembangan
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Research and Development merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk menghasilkan prosuk tertentu dan menguji produk tersebut.
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Prosedur dalam pengembangan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning pada keterampilan membaca pemahaman Bahasa Indonesia, peneliti menggunakan model ADDIE yang dikembangkan oleh Reise dan Mollenda pada tahun 1990-an dalam merancang sistem pembelajaran. Model ADDIE memiliki 5 tahap utama yaitu: (1) analysis; (2) design; (3) development; (4) implementation; (5) evaluation (Branch, 2009). Model ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa model ini memiliki langkah secara sistematis dalam memecahkan masalah belajar berhubungan dengan sumber belajar.
Gambar 1 Penelitian dan Pengembangan
C. Uji Coba Produk
Pada tahap ini terdiri dari desain ujicoba dan subjek ujicoba.
1. Desain uji Coba
Uji coba E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah produk yang sedang dikembangkan layak untuk digunakan.
2. Subjek Uji Coba
Dalam penelitian pengembangan ini, ada dua subjek ujicoba.
a. Pertama adalah validator ahli budaya, ahli materi, dan ahli media pembelajaran yang ditugaskan untuk menilai seberapa layak produk untuk digunakan.
b. Kedua adalah siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar sebanyak 19 siswa yang akan menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning selama proses pembelajaran.
D. Instrumen Pengumpulan Data
Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitan dan pengembangan ini adalah sebagai berikut:
1. Analisis kebutuhan
Analisis kebutuhan dilakukan sebelum penelitian berlangsung. Bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, kebutuhan pengguna, dan kondisi awal pembelajaran sebagai dasar dalam merancang produk yang sesuai.
2. Lembar Validasi Ahli Media dan Ahli Materi
Instrumen validasi oleh ahli dalam penelitian pengembangan ini terdiri dari tiga bagian, yaitu instrumen yang digunakan oleh ahli media, ahli materi, dan ahli budaya. Tujuan dari validasi ahli media, ahli materi, dan ahli budaya adalah untuk mengevaluasi kevalidan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning sebelum digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran.
3. Uji Coba Produk
Uji coba produk dilakukan untuk mengetahui kepraktisan dan keefktifan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning pada keterampilan membaca pemahaman siswa.
4. Angket
Dalam penelitian ini, angket diisi oleh guru dan siswa. Angket ini bertujuan untuk mengevaluasi kepraktisan E-Modul yang digunakan dan untuk mengukur kemampuan siswa dalam membaca pemahaman.
5. Dokumentasi
Teknik pengumpulan ini mencakup informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian, seperti absensi siswa, foto selama melaksanakan kegiatan penelitian mulai dari proses validasi oleh ahli media dan ahli materi, pengumpulan data angket respon siswa dan guru, pelaksanaan tes, serta dokumentasi lain terkait dengan penelitian ini.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah sebagai berikut.
1. Analisis Prototype Produk
Analisis prototype merupakan proses awal untuk mengetahui E-Modul yang dikembangkan telah memenuhi kriteria yang diharapkan. Analisis prototype dilakukan dengan menggunakan model ADDIE, yaitu analysis, design, development, implementation, evaluation. Tujuannya agar E-Modul yang dikembangkan sudah sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran. Peneliti meninjau berbagai aspek berdasarkan model penelitian pengembangan yang digunakan. Melalui analisis ini, peneliti dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan produk awal, lalu melakukan revisi atau penyempurnaan untuk memastikan E-Modul yang dikembangkan layak dan siap dinilai pada proses pengembangan ADDIE.
2. Analisis Kevalidan
Data kevalidan diperoleh melalui analisis hasil penilaian tiga ahli terhadap E-Modul yang telah disetujui oleh pembimbing peneliti. Uji validitas penelitian ini menggunakan analisis Georgy untuk memeriksa hasil penilaian ahli tersebut.
3. Analisis Kepraktisan
Hasil penilaian observer digunakan untuk memperoleh data kepraktisan. Guru di kelas V menilai penggunaan E-Modul dalam beberapa uji coba pengamatan selama proses pembelajaran. E-Modul dikatakan praktis jika hasil angket respon guru, siswa, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa E-Modul berada pada kriteria baik, observer dalam lembar observasi menyatakan E-Modul dapat digunakan oleh guru dan siswa.
4. Analisis Keefektifan
Tingkat keefektifan produk yaitu E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning, ini dilakukan melalui pemberian tes kepada siswa setelah menggunakan media.
A. Hasil Penelitian
1. Protitipe E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning Pada Keterampilan Membaca Pemahaman
a. Tahap Analisis (Analysis)
Tahap analisis ini dilakukan dengan menganalisis kebutuhan siswa kelas V Sekolah Dasar dalam proses pembelajaran.
1) Analisis kebutuhan
Analisis awal dalam penelitian pengembangan ini mengidentifikasi masalah mendasar dalam pembelajaran siswa kelas V di Sekolah Dasar, yaitu rendahnya kemampuan membaca pemahaman siswa. Tahap analisis ini, peneliti melakukan observasi langsung di UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar yang melibatkan siswa kelas V. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan pada muatan Pelajaran Bahasa Indonesia dalam membaca pemahaman.
2) Analisis Kurikulum
Analisis kurikulum dilakukan untuk memetakan capaian pembelajaran yang berkaitan dengan membaca pemahaman berbasis budaya lokal dalam kurikulum sebagai dasar untuk membuat indikator dan tujuan pembelajaran.
3) Analisis Sumber Belajar
Analisis sumber belajar dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar.
b. Tahap Perancangan (Design)
Setelah analisis temuan dari studi pendahuluan, langkah selanjutnya yaitu merancang E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar. Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan prototipe E-Modul yang dapat memfasilitasi pemahaman bacaan lebih mendalam pada siswa serta mendorong partisipasi aktif siswa dalam proses belajar.
c. Tahap Pengembangan (Development)
Dalam tahap pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning telah disempurnakan berdasarkan umpan balik dan saran dari ahli setelah melalui uji coba. Penyempurnaan dilakukan agar produk yang dikembangkan layak digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar.
E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dirancang dengan tampilan yang menarik dan mudah digunakan oleh siswa sekolah dasar. Produk ini dikembangkan sesuai dengan rancangan awal yang telah dibuat sebelumnya. Selanjutnya, E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning disempurnakan melalui proses desain dan penyusunan materi yang mendukung pembelajaran mendalam dan bermakna, sehingga siswa dapat belajar secara aktif, memahami isi bacaan, menemukan informasi penting, serta menjelaskan kembali makna dari teks yang dibaca dengan bahasa mereka sendiri.
d. Tahap Implementasi (Implementation)
Tahap implementasi dilakukan setelah melewati ujicoba I (skala kecil). Pada tahap ini, peneliti mengimplementasikan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning ke siswa UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar sebanyak 19 siswa. Setelah proses pembelajaran selesai siswa mengisi angket respon terhadap E-Modul berbasis budaya lokal. Pada tahap ini, diberikan pretest dan postest untuk melihat keterampilan membaca pemahaman siswa setelah diimplementasikan E-Modul berbasis budaya lokal dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa memberikan kesan yang positif terhadap E-Modul, diperoleh hasil angket respon guru dan siswa yaitu sangat praktis dan E-Modul efektif digunakan dalam proses pembelajaran dilihat dari hasil belajar siswa.
e. Tahap Evaluasi (Evaluation)
Tahap evaluasi merupakan tahap akhir yang dilakukan dalam pengembangan E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning, tahap ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali hal-hal yang kurang atau belum dilaksanakan dari tahapan analisis sampai pada tahapan implementasi atau penerapan produk pada pengguna, dan dari sebelum mulai penelitian sampai selesai dilakukannya penelitian.
2. Kevalidan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning Pada Keterampilan Membaca Pemahaman Siswa
Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah E-Modul berbasis budaya lokal Selayar berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning terhadap peningkatan keterampilan membaca siswa kelas V. uji kevalidan pengembangan produk diperoleh dari hasil validasi ahli media dan validasi ahli materi.
a. Validasi Media
Validasi isi media menggunakan uji Georgy dengan angket uji dari 2 ahli dengan jumlah butir 24 pernyataan yang menggunakan skala likert dengan jenjang 4 skala. Berdasarkan hasil analisis data angket dengan menggunakan rumus uji Georgy diperoleh bahwa media memiliki kriteria validitas isi tinggi dengan skor perolehan dari ketiga ahli yaitu berada pada skor 3 dan 4, dimana diketahui dari Tabel 3.8 bahwa untuk validitas isi menunjukkan rentang skor 3 sampai 4 merupakan skor yang sangat relevan sehingga media yang dinilai dari ketiga ahli masuk pada kategori atau kriteria validitas isi tinggi. Setelah dianalisis menggunakan rumus uji Georgy hasilnya menunjukkan angka 1,00 dimana angka tersebut masuk pada kategori atau kriteria validitas isi sangat tinggi.
Gambar 2 Persentase Kelayakan Ahli M edia
Berdasarkan diagram 2 diperoleh persentase kelayakan dari ahli media I sebesar 90,62% dengan kriteria sangat layak dan persentase kelayakan ahli media II sebesar 92,70% dengan kriteria sangat layak. Rata-rata persentase kelayakan dari ahli media I, ahli media II sebesar 91,66%.
3. Kepraktisan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning Pada Keterampilan Membaca Pemahaman Siswa
Bagian ini mengamati tiga aspek terkait kepraktisan penggunaan media E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning . aspek pertama adalah data observasi keterlaksanaan pembelajaran yang menggunakan media tersebut, yang diamati oleh pengamat melalui instrumen observasi. Aspek kedua adalah respons guru terhadap penggunaan media dan aspek ketiga adalah respons siswa terhadap penggunaan media ini dalam upaya meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa
a. Observasi Keterlaksanaan Penggunaan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning
Pada ujicoba, data keterlaksanaan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning digunakan untuk menilai kepraktisan dan efektivitasnya. Guru kelas V bertindak sebagai pengamat keterlaksanaan media selama lima kali pertemuan, mengamati proses pembelajaran dari awal hingga akhir. Setiap elemen dalam lembar pengamatan diamati untuk memastikan apakah dilaksanakan atau tidak selama proses pembelajaran berlangsung.
Tabel 2 berikut menunjukkan perhitungan analisis data keterlaksanaan terhadap E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning, yang digunakan untuk mengetahui seberapa efektif produk ini digunakan dalam meningkatkan membaca pemahaman siswa kelas UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar.
Observasi keterlaksanaan pembelajaran menggunakan menggunakan media ini dilakukan oleh guru kelas V menggunakan skala penilaian likert yakni pilihan skala 1-4, dimana skor yang diperoleh kemudian dikategorikan sesuai dengan kriteria kepraktisan yang berlaku. Adapun skor dan kriteria yang diperoleh dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2 Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil pengamatan observer pada tabel tersebut, secara keseluruhan keterlaksanaan pembelajaran dinyatakan sangat sesuai atau sangat baik. Hasil dari observer yang merupakan guru kelas V menyatakan keterlaksanaan pembelajaran memperoleh skor 95.83. Sehingga, berdasarkan tabel skala penilaian kualifikasi keterlaksanaan pembelajaran dinyatakan sangat sesuai/sangat baik, yang menunjukkan bahwa media ini dapat diterapkan dengan efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar.
b. Respon Guru
Respon guru terhadap kepraktisan penggunaan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar dinilai oleh guru kelas V. Guru mengisi angket respon terhadap kepraktisan penggunaan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning menggunakan skala penilaian dengan pilihan jawaban sangat praktis, praktis, tidak praktis, sangat tidak praktis.
Adapun skor dan kriteria penilaian yang diperoleh dari angket tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini, yang menunjukkan sejauh mana media ini mudah digunakan, menarik, dan mendukung proses pembelajaran serta meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa.
Tabel 3 Hasil Kepraktisan Respon Guru
Berdasarkan hasil respon guru terhadap kepraktisan E-Modul berbasis budaya lokal pada tabel tersebut dilihat bahwa secara keseluruhan respon guru terhadap kepraktisan dinyatakan sangat praktis. Adapun hasil perolehan dari guru kelas V menyatakan bahwa E-Modul berbasis budaya lokal sangat praktis dengan skor 95%, sehingga dapat disimpulkan bahwa media ini menarik dan mendukung proses pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar.
c. Respon Siswa
Pada ujicoba II, respon siswa terhadap penggunaan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dalam meningkatkan membaca pemahaman dikumpulkan melalui angket. Dalam bagian ini, 19 siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar yang menjadi subjek ujicoba diminta mengisi lembar respons setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran.
Data respons siswa ini bertujuan untuk mengukur kepraktisan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa.
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh persentase kepraktisan sebesar 92%. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memberikan respon positif terhadap penggunaan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dalam pembelajaran membaca. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan terbukti praktis dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan selayar.
4. Keefektifan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning Pada Keterampilan Membaca Pemahaman Siswa
Data mengenai efektivitas penelitian ini diperoleh dari tes hasil belajar membaca pemahaman siswa setelah mengikuti rangkaian lengkap pembelajaran yang menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dalam pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui gambaran umum hasil penelitian pada tahap uji coba terbatas dan ujicoba luas.
a. Hasil Membaca Pemahaman Siswa Menggunakan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning pada Ujicoba I (Skala Kecil)
Tes keterampilan membaca pemahaman siswa menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning di kelas V UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar pada uji coba I (skala kecil). Data mengenai efektivitas pada uji coba terbatas dalam penelitian ini diperoleh dari tes keterampilan membaca pemahaman siswa setelah mengikuti rangkaian lengkap pembelajaran yang menggunakan media E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning. Tes ini digunakan untuk mengukur sejauh mana media yang dikembangkan mampu meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa.
Tabel 4 Hasil Uji Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa
menggunakan E-Modul pada Ujicoba I (skala kecil)
Data dalam penelitian ini diperoleh dari tes keterampilan membaca pemahaman siswa setelah penerapan media E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning yang dikembangkan pada siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar. Hasil menunjukkan bahwa E-Modul berbasis budaya lokal dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik.
Tabel 5 Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, hasil tes keterampilan membaca pemahaman siswa menunjukkan bahwa jumalh data (N) sebanyak 5. Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 80 dan nilai tertinggi adalah 91. Nilai rata-rata (mean) membaca pemahaman siswa adalah 88,20. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membaca pemahaman siswa setelah menggunakan media E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning berada pada kategori sangat baik. Nilai standar deviasi sebesar 4.764 menunjukkan bahwa sebaran data membaca pemahaman siswa cukup merata atau homogen.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa E-Modul berbasis budaya lokal memberikan dampak positif pada pemahaman membaca siswa kelas V pada ujicoba I (skala kecil). Hasil ini memberikan dukungan empiris terhadap pentingnya penggunaan media digital interaktif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, untuk menilai efeknya secara lebih akurat, media ini haru diujicoba dalam skala yang lebih luas.
b. Hasil Membaca Pemahaman Siswa Menggunakan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning pada Ujicoba II (Skala Besar)
Data efektivitas dikumpulkan dari siswa melalui tes kemampuan membaca pemahaman. Tes ini dilaksanakan sebelum (pretest) dan esudah (postest) penerapan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning. Pelaksanaan tes dilakukan secara individual untuk mengukur tingkat pemahaman materi membaca siswa setelah mengikuti pembelajaran menggunakan media tersebut. Data hasil belajar siswa pada ujicoba II (skala besar) tersaji dalam diagram berikut:
Gambar 3 Hasil Ujicoba II (Skala Besar)
Seperti yang ditunjukkan oleh hasil analisis data pada diagram hasil ujicoba II (skala besar), kemampuan siswa untuk memahami bacaan menjadi jauh lebih baik setelah menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning. Perbandingan skor pretest dan postest ditunjukkan dalam diagram hasil ujicoba.
Tabel 5 Statistik Deskriptif Pretest
Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjadi responden pada uji coba luas sebanyak 19 siswa. Nilai minimum yang diperoleh siswa pada pretest adalah 27, nilai maksimum adalah 66 dan nilai rata-rata (mean) hasil membaca pemahaman siswa adalah 53.00. hal ini menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa secara klasikal masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).
Nilai satndar deviasi sebesar 11.823 menunjukkan bahwa terdapat variasi kemampuan membaca pemahaman antar siswa, namun sebaran data relatif mengumpul pada kategori cukup. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan siswa sebelum diberikan perlakuan belum merata dan masih perlu ditingkatkan melalui penggunaan media pembelajaran yang kontekstual dan menarik.
Temuan ini sejalan dengan tujuan penelitian, yaitu untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa melalui pengembanagn media menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning. Kondisi awal yang berada pada rata-rata 53.00 memberikan ruang bagi peneliti untuk melihat efektivitas media dalam meningkatkan capaian pembelajaran siswa pada tahap berikutnya.
Tabel 6 Statistik Deskriptif Posttest
Hasil analisis posttest menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjadi responden pada ujicoba luas sebanyak 19 siswa. Nilai minimum yang diperoleh siswa meningkat signifikan menjadi 75 dan nilai maksimum mencapai 100. Nilai rata-rata (mean) hasil membaca pemahaman siswa adalah 89,11. Hal ini menunjukkan bahwa hasil membaca pemahaman siswa setelah penggunaan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning berada pada kategori tinggi dan telah melampaui batas Krtieria Ketuntasan Minimum (KKM). Nilai standar deviasi sebesar 6.073 menunjukkan bahwa sebaran data hasil belajar siswa relatif homogen dari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan keterampilan membaca pemahaman yang dihasilkan dari penggunaan media ini terjadi secara merata dan konsisten di antara siswa. Peningkatan dari rata-rata pretest sebesar 53,00 menjadi 89,11 pada posttest membuktikan efektivitas media dalam membantu siswa dalam memahami bacaan.
Gambar 4 Hasil N-Gain Siswa
Adapun tingkat pemahaman siswa meningkat sebesar 0,76, bila mengacu pada tabel 3.9 E-Modul memiliki keefktifan dengan kriteria tinggi. Dengan demikian, penggunaan E-Modul berbasis budaya lokal efektif digunakan dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa, ditunjukan dengan adanya peningkatan rata-rata nilai setelah intervensi pembelajaran menggunakan media tersebut.
Tabel 7 Hasil Uji-T Pretest dan Posttest
Berdasarkan hasil uji-t menggunakan Paired Sample t-test, diperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest siswa setelah menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning.
Tabel 8 Hasil Uji Effect Size Cohen’s d
Hasil perhitungan effect size menggunakan Cohen’s d menunjukkan nilai sebesar 3,8417 yang termasuk dalam kategori sangat besar. Hal ini mengindikasikan bahwa perlakuan yang diberikan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap peningkatan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara N0.61 Kepulauan Selayar. Perbedaan rata-rata antara pretest dan posttest yang cukup tinggi memperkuat temuan bahwa E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning mampu meningkatkan kemampuan siswa secara signifikan. Hal ini juga sejalan dengan hasil uji-t sebelumnya yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretset dan posttest.
Temuan ini menegaskan bahwa E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning memberikan dampak positif tidak hanya pada siswa dengan pemahaman awal yang kurang, tetapi juga membantu meningkatkan pemahaman siswa yang sudah memiliki fondasi yang baik. Tidak adanya penurunan skor pada siswa setelah penggunaan media ini yang dapat dilihat dari hasil statistik deskriptif, uji N-Gain, uji-t, dan effect size menunjukkan bahwa media yang dikembangakn memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan membaca pemahaman siswa.
B. Pembahasan
Penelitian ini menghasilkan produk berupa E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar. Penelitian ini mengkaji prototipe, kevalidan, kepraktisan, dan keefktifan produk yang dikembangkan menggunakan model pengembangan ADDIE, yang mencakup lima tahapan utama: analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Hasil pembahasan diuraikan secara sistematis berdasarkan masing-masing elemen tersebut.
Pembahasan hasil penelitian ini diuraikan secara sistematis berdasarkan kevalidan, kepraktisan, dan keefktifan media, sehingga memberikan gambaran lengkap mengenai kualitas dan dampak penggunaan media E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning dalam pembelajaran di kelas V UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar.
Pengembangan prototipe Emodul berbasis budaya lokal dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa diawali dengan tahap analisis. Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi rendahnya keterampilan membaca pemahaman siswa serta keterbatasan bahan ajar dan media pembelajaran yang digunakan guru, yang umumnya hanya berupa buku paket saja. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merencanakan pengembangan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dilakukan analisis kurikulum dan perumusan tujuan pembelajaran serta penyususnan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi perangkat pembelajaran, instrumen pengumpulan data berupa angket respon guru dan siswa terhadap media, soal tes membaca pemahaman, serta lembar penilaian kelayakan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning untuk ahli media dan ahli materi 15].
Pada tahap desain, pengembangan E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning akan dimulai dengan desain format media yang akan dipilih, serta perancangan awal struktur dan konten yang akan digunakan dengan memperhatikan aspek kebahasaan, kelayakan isi, penyajian visual interaktif, dan kegrafikan agar mudah dipahami siswa. Dalam proses pembuatan E-Modul, canva digunakan sebagai aplikasi untuk mengatur struktur dan konten pembelajaran, lalu di convert ke heyzine untuk menghasilkan produk. Media ini memiliki berbagai fitur interaktif yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman membaca siswa. Setiap menu yang ada pada E-Modul memungkinkan siswa mengeksplorasi konten secara bertahap, mempelajari konsep secara mandiri, dan menemukan hubungan anatara informasi yang mereka peroleh .
Materi yang dipilih adalah materi berbasis budaya lokal Kab. Kepulauan Selayar berupa teks narasi yang disajikan dalam bentuk teks bacaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. E-Modul ini juga memiliki penjelasan yang disertai dengan gambar dalam kehidupan nyata yang dapat mendukung agar siswa dapat lebih paham akan konsep pembelajaran. Terdapat pula latihan/kuis untuk menguji kemampuan pemahaman siswa setelah mempelajari materi yang diberikan. Keberagaman fitur dalam E-Modul berbasis budaya lokal berbantuan heyzine dengan pendekatan deep learning ini tidak hanya menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna, tetapi juga menjamin aksesibilitas siswa dalam menelusuri konten yang tersedia.
Pengembangan prototipe media ini didasarkan pada kebutuhan akan media visual yang inovatif. Hal ini sejalan dengan teori yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sapriyah, 2019). Selain itu, penggunaan format digital dalam media ini merupakan bentuk modernisasi dari modul ajar berbentuk cetak yang memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan materi secara lebih menarik dan tampak hidup. Penelitian oleh Meidira et al (2025) menunjukkan bahwa E-Modul yang dikembangkan memperoleh hasil bahwa produk efektif dan layak digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa [9]. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan yaitu produk yang dikembangkan sama-sama berupa E-Modul yang dirancang menarik dan kontekstual dan berfokus pada membaca pemahaman. Hal yang menjadi pembeda yaitu penelitian tersebut berbasis pada model pembelajaran quantum reading, sedangkan penelitian yang dilakukan berbasis budaya lokal.
Kebaruan dari media E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning ini yaitu terletak pada pengembangan berbasis budaya lokal yang diintegrasikan dengan platfrom digital heyzine serta dirancang menggunakan pendekatan deep learning. Media ini tidak hanya menyajikan materi pembelajaran secara kontekstual berbasis budaya lokal, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif siswa melalui pembelajaran yang bermakna (meaningful), sadar (mindful), dan menyenangkan (joyful). Integrasi ketiga aspek tersebut menjadikan media yang dikembangkan memiliki karakteristik yang belum dikaji dalam penelitian sebelumnya [16].
Proses validasi E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning dikembangkan untuk meningkatkan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar melibatkan tiga validator ahli media, ahli materi, dan ahli budaya. Hasil evaluasi setelah tahap validasi yang dilakukan oleh para ahli di bidang yang relevan menunjukkan bahwa alat pembelajaran ini menerima penilaian sangat valid dan dianggap layak untuk digunakan.
Validasi yang dilakukan oleh ahli media memastikan bahwa elemen desain dan fungsi teknis media telah memenuhi standar, sehingga pengguna memiliki pengalaman yang optimal. Ahli media mengevaluasi struktur E-Modul, tata letak, kemenarikan, dan kemudahan penggunaan media. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa media ini telah memenuhi standar desain yang baik, dengan alur pembelajaran yang sistematis yang dapat memfasilitasi siswa dalam memahami materi secara mandiri.
Validasi oleh ahli materi dan ahli budaya, menekankan ketepatan dan relevansi konten yang disajikan dalam media dengan budaya lokal. Hasil validasi menunjukkan bahwa konten materi dan budaya telah memenuhi standar, akurat, jelas, dan sesuai dengan kemampuan siswa kelas V Sekolah Dasar.
Dengan demikian, hasil validasi dari ketiga kelompok ahli ini memberikan kepastian bahwa E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning telah dievaluasi secara cermat dan memenuhi syarat sebagai media pembelajaran yang efektif dalam mendukung pemahaman membaca siswa. Hal ini sesuai dengan fungsi media pembelajaran dalam memfasilitasi proses belajar mengajar, sehingga siswa dan guru dapat memanfaatkan perkembangan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam menyampaikan materi agar proses pembelajaran menjadi lebih efisien (Sapriyah, 2019).
Hasil validasi yang mencapai kategori sangat valid menunjukkan bahwa produk ini memenuhi kriteria kelayakan teknis dan subtansial. Jika ditinjau dari teori belajar, kevalidan media pembelajaran yang dikembangkan berkaitan dengan teori belajar bermakna yang dikemukakan oleh David Ausubel (dalam Novak, 2010), menekankan bahwa pembelajaran akan lebih efektif jika informasi baru dikaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning yang dikembangkan menyajikan materi yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan siswa, sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi secara lebih mendalam.
Dapat disimpulkan bahwa melalui proses validasi yang cermat, media E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning telah memenuhi prinsip pembelajaran bermakna, baik dari aspek isi, penyajian, maupun bahasa serta layak digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar [17].
Kepraktisan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning dalam meningkatkan membaca pemahaman siswa dievaluasi berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dan tanggapan siswa terhadap media. E-Modul berbasis budaya lokal dinyatakan praktis berdasarkan hasil uji kepraktisan yang dilakukan melalui penerapan media tersebut pada siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar. Secara teoritis, keterlaksanaan pembelajaran yang tinggi menunjukkan bahwa media telah memenuhi prinsip usability (kemudahan penggunaan) dan implementability (kemudahan penerapan).
Hal ini sejalan dengan karakteristik E-Modul bahwa E-Modul yang baik harus: self instructiob, self contined, adaptif dan user friendly seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Tingginya keterlaksanaan pembelajaran (95,83%) menunjukkan bahwa media E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning memiliki desain instruksional yang jelas, mampu memandu siswa agar akatif dalam pembelajaran, serta tidak menimbulkan kebingungan dalam penggunaannya. Observasi ini menegaskan bahwa elemen pembelajaran menggunakan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning berjalan dengan lancar, terstruktur, dan sesuai rencana pembelajaran.
Selain itu, kepraktisan media juga dibuktikan melalui tanggapan guru kelas V yang mengisi angket respon yang memperoleh skor sebesar 95% dan dikategorikan sangat praktis. Sebagai tahap akhir, siswa diberikan angket untuk mengevaluasi kepraktisan media setelah mengikuti proses pembelajaran menggunakan E-Modul berbasis budaya lokal. Hasil pengisian angket menujukkan persentasi sebesar 92% yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.
Hal ini memperkuat teori bahwa, semakin tinggi keterlibatan siswa (stident engagement), maka semakin tinggi pula kepraktisan media dalam konteks pembelajaran. Dengan kata lain, kepraktisan tidak hanya dilihat dari kenyamanan dan ketertarikan siswa saat menggunakan media. Guru dapat memanfaatkan E-Modul ini sebagai alat bantu dalam menyampaikan materi membaca pemahaman secara lebih sistematis. Semntara itu, siswa dapat berinteraksi langsung dengan E-Modul melalui berbagai fitur yang tersedia, seperti membaca secara digital, maupun mengamati gambar atau ilustrasi berbasis budaya lokal. Hal ini memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri maupun terbimbing dengan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna [18].
Dapat disimpulkan bahwa E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning tidak hanya praktis digunakan dalam pembelajaran, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih mandiri, aktif dan bermakna bagi siswa.
Untuk mengetahui seberapa efektif E-Modul berbasis budaya lokal dalam pembelajaran, hasil ujicoba (pretest dan posttest) dibandingkan. Ini dilakukan untuk mengetahui seberapa baik membaca pemahaman siswa setelah menggunakan media ini dalam pembelajaran.
a. Ujicoba I (Skala Kecil)
Pada ujicoba terbatas yang melibatkan kelompokkecil, media E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning ini sudah menunjukkan hasil yang sangat baik. Data statistik deskriptif menunjukkan nilai minimum siswa adalah 80, nilai maksimum adalah 91, dan rata-rata hasil membaca pemahaman siswa mencapai 88,20 dengan standar deviasi 4.764.
Hasil pada skala kecil ini memberikan gambaran awal bahwa struktur konten dan fitur visual dalam E-Modul mampu menciptakan fokus belajar yang lebih tinggi. Skor standar deviasi yang cukup rendah mengindikasikan bahwa media ini dapat diterima dengan baik oleh siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam, sehingga kesenjangan pemahaman dapat diminimalisir sejak tahap awal pengembangan [19].
b. Ujicoba II (Skala Besar)
Ujicoba II (Skala Besar), dilakukan pada seluruh siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar sebagai tahap penerapan media dalam skala yang lebih luas untuk menguji konsistensi efektivitasnya. Pada variabel hasil membaca pemahaman, data pretest menunjukkan siswa berkisar antara 27 dan 63, namun setelah menggunakan E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning skor posttest siswa meningkat secara signifikan antara 75 hingga 100 dengan perolehan rata-rata sebesar 89,11. Sebagian besar siswa mencapai kategori sangat baik dalam membaca pemahaman.
Selain hasil data statistik deskriptif, hasil n gain siswa juga menunjukkan bahwa tingkat membaca pemahaman siswa meningkat sebesar 0,76. Berdasarkan hasil uji-t menggunakan paired sample t-test diperoleh nilai signifikansi (sig 2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest siswa. Hasil perhitungan effect size menggunakan Cohen’s d juga menunjukkan nilai sebesar 3.8417 yang termasuk dalam kategori sangat besar, yang menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap peningkatan membaca pemahaman siswa kelas V UPT SDI Benteng Utara No.61 Kepulauan Selayar.
Hasil uji coba skala kecil (terbatas) dan skala besar (luas) menunjukkan konsistensi yang kuat dalam hal efektivitas produk. Baik pada tahap uji coba awal maupun pada penerapan skala luas, nilai membaca pemahaman siswa secara konsisten meningkat secara signifikan. Hal ini menegaskan bahwa E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning yang dikembangkan tidak hanya valid secara teoritis, dan praktis secara teknis, tetapi juga efektif sebagai instrumen pembelajaran di sekolah dasar.
Secara keseluruhan, peningkatan rata-rata hasil belajar dari 53.00 menjadi 89,11 mengonfirmasi penelitian Hanatun, J. & Liyana, S (2025) yang menyatakan bahwa E-Modul sebagai media pembelajaran mampu meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa karena materi yang terorganisasi dengan baik dan didukung tampilan yang menarik dapat membantu siswa memahami bacaan secara lebih efektif [20].
Temuan ini menunjukkan bahwa E-Modul Berbasis Budaya Lokal Selayar Berbantuan Heyzine Dengan Pendekatan Deep Learning mampu menciptakan korelasi positif antara ketertarikan visual dengan pemahaman siswa, media ini terbukti mampu meningkatkan keterampian membaca pemahaman siswa sekaligus memotivasi siswa untuk lebih aktif dan antusias dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena integrasi budaya lokal memberikan konteks yang dekat dengan pengalaman keseharian siswa sehingga meningkatkan meaningful learning, sedangkan fitur interaktif pada Heyzine seperti navigasi digital yang fleksibel, tampilan visual yang dinamis, serta kuis dan aktivitas interaktif mampu meningkatkan perhatian, keterlibatan kognitif, dan mempermudah proses pemahaman isi bacaan secara bertahap dan terstruktur.
Hal ini dapat dijelaskan melalui teori konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif melalui pengalaman belajar bermakna. Integrasi budaya lokal dalam E-Modul memungkinkan siswa mengaitkan teks dengan pengalaman sehari-hari, sehingga proses asimilasi dan akomodasi informasi menjadi lebih mudah. Pendekatan deep learning yang menekankan mindful, meaningful, dan joyful learning juga mendorong siswa tidak sekadar membaca, tetapi memahami, merefleksikan, dan menghubungkan informasi, sehingga keterampilan membaca pemahaman meningkat melalui keterlibatan kognitif, emosional, dan kontekstual.
Dari sisi media, Heyzine sebagai platform flipbook interaktif menghadirkan pengalaman multimodal learning yang menggabungkan teks, visual, dan interaksi digital. Hal ini sejalan dengan Cognitive Theory of Multimedia Learning (Mayer) yang menyatakan bahwa kombinasi verbal dan visual yang terintegrasi dapat mengurangi beban kognitif dan meningkatkan pemahaman. Fitur seperti navigasi mandiri, zoom, dan kuis juga memperkuat active learning, sehingga siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi menjadi partisipan aktif dalam pembelajaran.
Selain itu, penelitian terdahulu menunjukkan bahwa media digital interaktif berbasis konteks budaya lokal mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman membaca karena lebih dekat dengan pengalaman siswa serta lebih menarik secara visual dan emosional.
Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan: (1) hanya dilakukan pada satu sekolah sehingga generalisasi masih terbatas, (2) materi masih berfokus pada teks budaya lokal tertentu sehingga belum mencakup seluruh materi Bahasa Indonesia, dan (3) belum dilakukan evaluasi jangka panjang terhadap retensi pemahaman siswa. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan memperluas sampel, materi, serta melakukan uji efektivitas jangka panjang agar hasil lebih komprehensif.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa:
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada pihak UPT SDI Benteng Utara No. 61 Kepulauan Selayar atas izin dan kerja samanya. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran di sekolah dasar.
[1] B. Soehendro, Standar Isi Kurikulum 2006. Dalam Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, 2006.
[2] Intang et al., “The effectiveness of local culture-based teaching materials for reading comprehension assisted by Adobe Flash CS6 for fifth grade students in elementary school,” Indonesian Values and Character Education Journal, vol. 4, no. 2, 2023.
[3] D. J. Amelia, “Pengembangan bahan ajar cetak dalam bentuk komik untuk siswa kelas III sekolah dasar,” Jurnal Pemikiran dan Pengembangan, vol. 6, no. 2, p. 136, 2018.
[4] T. A. Arif, Teori Belajar dan Implikasinya di SD. Sukabumi: Penerbit Haura Utama, 2022.
[5] Paramita et al., “Buku cerita bergambar guna meningkatkan keterampilan membaca muatan pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas III SD,” Jurnal Mimbar Ilmu, vol. 27, no. 1, p. 12, 2022.
[6] Sulfasyah, Ernawati, dan Fatmawati, “Profil pengajaran membaca pemahaman siswa sekolah dasar: siapkah mengantar siswa menuju society 5.0?” dalam Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar: Merdeka Belajar dalam Menyambut Era Masyarakat 5.0, pp. 277–288, 2021. [Online]. Available: https://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/PSNPD/article/view/1075
[7] L. Hewi dan M. Shaleh, “Refleksi hasil PISA (the programme for international student assessment): upaya perbaikan bertumpu pada pendidikan anak usia dini,” Jurnal Golden Age, vol. 4, no. 1, pp. 31–35, 2020.
[8] Sulfasyah dan Fajri, “Metode pembelajaran multisensori VAKT sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca lancar siswa kelas II,” Jurnal Riset Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 1, p. 19, 2018.
[9] Meidira et al., “Pengembangan e-modul berbasis model pembelajaran quantum reading untuk potensi keterampilan membaca pemahaman siswa pada materi teks narasi di kelas IV SD,” Didakti: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 11, no. 3, 2025.
[10] J. Hanatun dan S. Liyana, “Pengembangan e-modul terhadap kemampuan membaca dan keterampilan kolaborasi,” Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, vol. 1, no. 2, 2025.
[11] H. Ismail, “Pengembangan e-modul berbasis aplikasi Canva dan Heyzine pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 03 Palopo,” Tesis, IAIN Palopo, 2023.
[12] Consista et al., “Pengembangan EDUVANE (e-modul Canva dan Heyzine) pada materi fakta dan opini di kelas V SDN 011 Samarinda Kota tahun pembelajaran 2023/2024,” Jurnal Basataka, vol. 7, no. 2, p. 536, 2024.
[13] Alisa et al., “Pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendekatan pembelajaran mendalam pada siswa kelas III sekolah dasar,” Taman Cendekia: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, vol. 9, no. 2, 2025.
[14] T. A. Arif dan S. Rahayu, “Pengaruh penggunaan media jembatan suku kata (JASUKA) terhadap kemampuan membaca permulaan siswa kelas I sekolah dasar,” Harmoni Pendidikan: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 1, no. 2, p. 40, 2024.
[15] Pantiwati et al., Prototype E-Model: Model Pembelajaran LI-PRO-GP (Pembelajaran Literasi Sains Berbasis Proyek dalam Gerakan Literasi Sekolah Terintegrasi Penguatan Pendidikan Karakter). Malang: UMM Press, 2021.
[16] F. Rahim, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
[17] H. R. Riskynianyo, L. Novita, dan T. Windiyani, “Pengembangan e-modul berbasis flipbook materi manusia dan lingkungan,” Journal on Education, vol. 6, no. 3, pp. 16091–16099, 2024.
[18] R. Sari, F. Anggreni, dan K. Kunci, “Penyusunan e-modul menggunakan Heyzine pada KKG MI se-Kota Langsa,” Jurnal Pendidikan Masyarakat dan Pengabdian, vol. 3, no. 2, pp. 291–299, 2023.
[19] H. D. Lestari dan D. P. Parmiti, “Pengembangan e-modul IPA bermuatan tes online untuk meningkatkan hasil belajar,” Journal of Education Technology, vol. 4, no. 1, 2020.
[20] Mahartini et al., “Buku tema peristiwa dalam kehidupan: sikap dan muatan pembelajaran Bahasa Indonesia serta potensi budaya lokal pendukung dalam pembelajaran,” Jurnal Edutech Undiksha, vol. 10, no. 1, p. 70, 2022.