Login
Section Medicine

Grit Aligns With Psychological Wellbeing Among Medical Students


Grit Selaras Dengan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Kedokteran
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Nella Nurhaliza Husnia (1), Tissa Octavira Permatasari (2), Catur Setia Sulistiya (3)

(1) Fakultas Kedokteran, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, Indonesia
(2) Fakultas Kedokteran, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, Indonesia
(3) Fakultas Kedokteran, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Medical education places persistent academic and emotional demands on students, making psychological wellbeing a central concern in health professional training. Specific Background: Grit, understood as sustained perseverance and passion for long-term goals, may help students remain resilient during demanding academic experiences. Knowledge Gap: Although previous evidence has linked grit with better adaptation in medical training, specific empirical data on its association with psychological wellbeing in a private medical faculty context remain limited. Aims: This study examined the relationship between grit and psychological wellbeing among medical faculty students. Results: An analytical observational cross-sectional study involving 293 first- to fourth-year students was conducted using stratified random sampling. Data were collected through the Grit Scale and Ryff’s Psychological Well-Being Scale and analyzed using Spearman rank correlation. Findings showed that 50.5% of students had high grit, while 77.8% had high psychological wellbeing. A statistically significant positive correlation was found between grit and psychological wellbeing (r = 0.427; p = 0.047), indicating that students with higher grit tended to report better psychological wellbeing. Novelty: This study provides empirical evidence on grit and psychological wellbeing within undergraduate medical education. Implications: Integrating perseverance-building components, structured mentoring, and early psychological screening into medical curricula may support students’ mental health throughout academic training.


Highlights

• Most respondents showed moderate to high perseverance-related capacity.
• Strong mental functioning was reported by 77.8% of participants.
• Spearman analysis confirmed a moderate positive correlation.


Keywords

Grit; Psychological Wellbeing; Medical Education; Perseverance; Student Mental Health

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan kedokteran tergolong salah satu jenjang pendidikan tinggi yang paling berat karena mahasiswanya harus menguasai kompetensi klinis dan akademik, sekaligus mempertahankan kondisi mental yang stabil.[1] Sattar et. al. menyebutkan bahwa WHO menetapkan bahwa kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara menyeluruh, bukan sekadar terbebas dari penyakit.[2] Karena itu, psychological well-being mahasiswa kedokteran tidak bisa dilepaskan dari mutu pendidikan kesehatan itu sendiri.

Angka-angka dari lapangan cukup mengkhawatirkan. Penelitian di Amerika Serikat mencatat lebih dari separuh mahasiswa kedokteran mengalami stres berat, angka depresi berkisar antara 9 sampai 55%, dan satu dari sepuluh mahasiswa pernah mengalami pikiran untuk mengakhiri hidup.[3] Kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan pribadi karena penurunan psychological well-being berdampak langsung pada kemampuan belajar dan praktik klinis, mulai dari kesulitan berkonsentrasi hingga rapuhnya hubungan terapeutik dengan pasien.[4]

Hasil penelitian di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon justru menunjukkan gambaran yang berbeda, yakni 93% dari 295 mahasiswa kedokteran memiliki psychological well-being yang tinggi.[5] Namun faktor-faktor yang mendasari kondisi positif ini belum berhasil diidentifikasi secara tuntas, sehingga intervensi yang tepat sasaran pun belum bisa dirancang.[5]

Kondisi itulah yang mendorong perhatian ke arah psikologi positif, khususnya konstruk grit. Grit merujuk pada kombinasi ketekunan dan semangat yang konsisten dalam mengejar tujuan jangka panjang, dengan empat komponen inti yaitu growth (pertumbuhan), resilience (ketahanan), initiative (inisiatif), dan tenacity (ketekunan).[6] [7] Duckworth merumuskannya melalui dua dimensi yang saling melengkapi, yaitu perseverance of effort dan consistency of interest, yang bersama-sama menggambarkan kapasitas seseorang untuk bertahan dan tetap terarah pada tujuan jangka panjang.[8] Lin dkk. menemukan bahwa mahasiswa kedokteran dengan grit lebih tinggi lebih jarang mengalami kelelahan selama rotasi klinis dan cenderung lebih puas dengan prosesnya.[1] Rusli dkk. mengonfirmasi pola yang sama pada residen medis.[7]

Meski bukti dari berbagai konteks sudah cukup konsisten, penelitian spesifik tentang hubungan grit dan psychological well-being di pendidikan kedokteran Indonesia, terutama pada perguruan tinggi swasta di Jawa Barat, praktis belum ada. Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati belum memiliki data tentang profil grit mahasiswanya maupun kaitannya dengan psychological well-being mereka.[5] Penelitian ini bertujuan menjawab kesenjangan itu dan menghasilkan bukti empiris pertama yang dapat menjadi pijakan pengembangan strategi pembelajaran adaptif serta program dukungan psikososial berbasis bukti di institusi tersebut.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan rancangan cross-sectional untuk menelaah hubungan antara grit dan psychological well-being mahasiswa kedokteran.[9] [10] Penelitian berlangsung di Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon selama enam bulan, dari Januari hingga Juni 2025.

Populasi terjangkau adalah seluruh mahasiswa program studi kedokteran yang terdaftar aktif pada tahun akademik 2024/2025. Sampel ditentukan melalui teknik stratified random sampling dengan tingkat akademik sebagai variabel stratifikasi untuk menjamin keterwakilan tiap angkatan sekaligus memungkinkan analisis komparatif pola grit dan psychological well-being pada setiap tahap pendidikan.[11] Besar sampel dihitung menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5%, sehingga diperoleh minimal 266 responden dari populasi 796 mahasiswa.[12] Dengan mempertimbangkan kemungkinan non-response dan penguatan daya statistik, jumlah responden yang dilibatkan sebanyak 293 orang yang tersebar secara proporsional pada setiap tingkat akademik.

Kriteria inklusi mencakup mahasiswa aktif tingkat satu hingga empat yang bersedia berpartisipasi secara sukarela dengan menandatangani informed consent dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Adapun kriteria eksklusi meliputi mahasiswa yang sedang menjalani cuti akademik, mahasiswa dengan gangguan psikiatris mayor yang masih dalam pengobatan aktif, serta responden yang tidak mengisi kuesioner secara lengkap.

Variabel independen adalah grit, diukur menggunakan Grit Scale yang dikembangkan oleh Duckworth et al. dan telah diadaptasi ke konteks Indonesia. Instrumen ini terdiri atas 10 butir yang mengukur dua dimensi, yaitu perseverance of effort dan consistency of interest (Alpha Cronbach = 0,86).[8] Variabel dependen adalah psychological well-being, diukur menggunakan Ryff's Psychological Well-Being Scale versi 42 butir yang mencakup enam dimensi: otonomi, penguasaan lingkungan, pertumbuhan pribadi, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup, dan penerimaan diri (Alpha Cronbach 0,72 hingga 0,89).[4]

Pengumpulan data dilakukan secara digital setelah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (No. 41/EC/FKUGJ/II/2025). Analisis data diawali dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Karena data tidak berdistribusi normal, hubungan antarvariabel diuji menggunakan uji korelasi Spearman rank correlation.[10] Kekuatan korelasi diinterpretasikan berdasarkan kriteria Cohen dengan taraf signifikansi alpha = 0,05 menggunakan SPSS versi 26.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

Karakteristik Responden

Penelitian ini berhasil mengumpulkan data dari 293 responden mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Distribusi responden berdasarkan tingkat perkuliahan menunjukkan representasi yang relatif seimbang across semua tingkat akademik.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Perkuliahan

Distribusi responden menunjukkan keterwakilan yang memadai dari seluruh tingkat akademik dalam pendidikan kedokteran fase akademik. Proporsi tertinggi berasal dari mahasiswa tingkat pertama (28,0%), yang mencerminkan karakteristik piramida demografis mahasiswa kedokteran dimana jumlah mahasiswa cenderung menurun seiring dengan progres akademik akibat berbagai faktor seperti perpindahan program atau dropout akademik. Distribusi ini memberikan dasar yang solid untuk analisis komparatif antar tingkat dan generalisasi temuan pada populasi mahasiswa kedokteran dalam konteks pendidikan kesehatan.

Gambaran Grit pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Analisis deskriptif terhadap variabel grit menunjukkan pola yang mengindikasikan tingkat ketahanan dan ketekunan yang relatif tinggi pada populasi mahasiswa kedokteran yang diteliti.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Grit Berdasarkan Kategorisasi

Temuan ini mengindikasikan distribusi grit yang relatif optimal pada populasi mahasiswa kedokteran, dengan mayoritas absolut (100%) berada pada kategori sedang hingga tinggi. Dominasi kategori tinggi (50,5%) menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah mengembangkan karakteristik ketekunan dan konsistensi minat yang diperlukan untuk sukses dalam pendidikan kedokteran. Tidak adanya responden pada kategori rendah dapat mengindikasikan adanya proses seleksi natural dalam sistem pendidikan kedokteran, dimana mahasiswa dengan grit rendah cenderung tidak bertahan dalam program yang menantang ini.

Tabel 3. Distribusi Grit Berdasarkan Dimensi

Analisis dimensi grit menunjukkan pola yang menarik dalam konteks pendidikan kesehatan. Dimensi consistency of interest menunjukkan skor yang lebih tinggi (75,4% kategori tinggi) dibandingkan dengan perseverance of effort (62,8% kategori tinggi). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa kedokteran memiliki konsistensi minat yang kuat terhadap bidang kedokteran, namun masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan usaha yang konsisten ketika menghadapi hambatan akademik. Pola ini konsisten dengan karakteristik pendidikan kedokteran yang memiliki daya tarik intrinsik tinggi namun menuntut ketekunan yang luar biasa dalam pelaksanaannya.

Gambaran Kesejahteraan Psikologi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Evaluasi kesejahteraan psikologi mahasiswa menunjukkan profil yang relatif positif, meskipun dengan variasi yang perlu mendapat perhatian dalam konteks pendidikan kesehatan.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kesejahteraan Psikologi

Profil kesejahteraan psikologi mahasiswa menunjukkan kondisi yang relatif baik dengan 77,8% responden berada pada kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa telah mengembangkan kapasitas psikologi yang memadai untuk menghadapi tuntutan pendidikan kedokteran. Namun, proporsi 22,2% mahasiswa dengan kesejahteraan psikologi sedang tetap memerlukan perhatian dari perspektif pendidikan kesehatan, mengingat potensi risiko deteriorasi kondisi psikologi seiring dengan peningkatan beban akademik pada tingkat yang lebih tinggi.

Tabel 5. Distribusi Kesejahteraan Psikologi Berdasarkan Tingkat Perkuliahan

Analisis distribusi kesejahteraan psikologi berdasarkan tingkat akademik mengungkapkan pola yang mencerminkan dinamika perkembangan psikologi dalam perjalanan pendidikan kedokteran. Mahasiswa tingkat pertama mencatat proporsi tertinggi pada kategori kesejahteraan psikologi tinggi (23,9%), kondisi ini kemungkinan besar didorong oleh semangat awal serta harapan positif yang mereka bawa saat memasuki dunia pendidikan kedokteran. Berbeda dengan itu, mahasiswa tingkat kedua justru menunjukkan proporsi tertinggi pada kategori sedang (7,8%), yang mengindikasikan bahwa mereka tengah berada dalam fase transisi sekaligus berupaya menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik yang kian bertambah kompleks.

Hubungan antara Grit dan Kesejahteraan Psikologi

Analisis korelasi menggunakan uji Spearman mengungkapkan hubungan yang signifikan antara grit dan kesejahteraan psikologi pada mahasiswa kedokteran.

Tabel 6. Analisis Korelasi antara Grit dan Kesejahteraan Psikologi

Uji Spearman menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara grit dan psychological well-being (r = 0,427; p = 0,047). Menurut kriteria Cohen, kekuatan korelasi ini tergolong sedang, namun tetap bermakna secara klinis dalam konteks pendidikan kesehatan. Mahasiswa dengan grit yang lebih tinggi konsisten menunjukkan psychological well-being yang lebih baik. Pola ini sejalan dengan hasil Rusli et al. yang menemukan korelasi serupa pada residen medis.(9) Tidak ditemukannya responden dalam kategori grit rendah memberi indikasi bahwa seleksi masuk program kedokteran secara tidak langsung telah menyaring individu dengan ketekunan yang cukup.(16)

B. Pembahasan

Grit dalam Konteks Pendidikan Kedokteran

Distribusi grit mahasiswa yang terpusat pada kategori tinggi (50,5%) dan sedang (49,5%), tanpa satu pun yang masuk kategori rendah, mencerminkan kesiapan psikologis yang cukup memadai untuk menghadapi tuntutan pendidikan kedokteran. Pola ini sejalan dengan karakter program tersebut yang memang menuntut komitmen jangka panjang dan kemampuan bangkit dari kegagalan, sehingga mereka yang berhasil masuk cenderung sudah membawa grit yang cukup sejak awal.[1]

Analisis per dimensi menunjukkan bahwa consistency of interest lebih tinggi (75,4% kategori tinggi) dibandingkan perseverance of effort (62,8% kategori tinggi).[13] Artinya, mahasiswa memiliki komitmen yang kuat terhadap bidang kedokteran, tetapi masih kesulitan mempertahankan usaha secara konsisten ketika menghadapi hambatan. Pendidikan kedokteran tidak cukup hanya dengan minat yang kuat; ketekunan yang terjaga juga dibutuhkan di tengah beban studi yang padat, frekuensi ujian yang tinggi, dan tuntutan belajar mandiri yang besar.[5] [6] Mahasiswa dengan consistency of interest tinggi namun lemah dalam perseverance of effort berisiko mengalami penurunan performa atau burnout saat benar-benar berhadapan dengan rintangan akademik, terlepas dari kuatnya motivasi awal mereka.[1] Di sisi lain, individu dengan grit rendah lebih rentan terhadap stres berat karena kedua dimensi grit, yakni ketahanan usaha dan konsistensi minat, berperan dalam meredam tekanan yang berlebihan.[14] Dengan demikian, penguatan perseverance of effort perlu menjadi prioritas intervensi pendidikan, antara lain melalui program yang melatih ketahanan menghadapi kegagalan dan strategi pemecahan masalah akademik secara sistematis.[7]

Kesejahteraan Psikologi dalam Pendidikan Kedokteran

Sebanyak 77,8% mahasiswa berada pada kategori psychological well-being tinggi, angka yang senada dengan temuan di Universitas Swadaya Gunung Jati yang sebelumnya mencatat 93% pada kategori serupa.[5] Hasil ini berbeda dari banyak penelitian internasional yang melaporkan tingginya masalah kesehatan mental pada mahasiswa kedokteran, perbedaan yang kemungkinan berakar pada faktor dukungan sosial, latar budaya, dan model pembelajaran yang khas di masing-masing institusi.[3]

Dari sisi tingkat akademik, mahasiswa tingkat pertama menyumbang 23,9% dari kelompok psychological well-being tinggi. Pada fase ini, mahasiswa umumnya masih membawa antusiasme awal yang kuat saat memasuki pendidikan kedokteran, kondisi yang dalam literatur dikenal sebagai honeymoon effect.[6] Proporsi kategori sedang pada mahasiswa tingkat kedua yang mencapai 7,8% menunjukkan bahwa tekanan kurikulum mulai terasa lebih berat pada tahap tersebut.[9] Pola ini memberi sinyal bahwa kebutuhan dukungan berbeda di tiap angkatan. Mahasiswa tingkat pertama perlu mendapat orientasi yang jujur tentang tuntutan studi kedokteran, agar semangat awal tidak runtuh tiba-tiba ketika realitas akademik mulai terasa.[6] Adapun mahasiswa tingkat kedua dan keempat yang lebih banyak berada di kategori sedang membutuhkan bentuk intervensi yang lebih terstruktur.

Hubungan Grit dan Kesejahteraan Psikologi dalam Pendidikan Kesehatan

Korelasi positif antara grit dan psychological well-being (r = 0,427; p = 0,047) memberikan bukti empiris bahwa ketekunan berperan dalam mempertahankan kesejahteraan psikologi mahasiswa kedokteran. Hubungan ini dapat dijelaskan melalui beberapa jalur.[1] [7] Grit memfasilitasi pembentukan strategi coping adaptif saat menghadapi tekanan akademik, yang pada gilirannya menjaga keseimbangan psikologi.[15] Consistency of interest juga menghasilkan sense of purpose yang kuat, yakni salah satu dimensi utama psychological well-being dalam model Ryff.(20) Ketekunan dalam melewati tantangan turut membangun self-efficacy dan resiliensi yang menopang psychological well-being secara keseluruhan.[16] Pola ini konsisten dengan temuan bahwa kesejahteraan psikologi berhubungan erat dengan kemampuan individu menerapkan strategi coping adaptif di lingkungan akademik.[17]

Temuan ini memiliki sejumlah implikasi bagi institusi pendidikan kedokteran. Integrasi modul pengembangan grit ke dalam kurikulum dapat dilakukan melalui sesi refleksi terstruktur tentang pengalaman menghadapi kegagalan akademik dan strategi pemulihannya.[5] Program mentoring terstruktur juga perlu dirancang khusus untuk mendampingi mahasiswa tingkat kedua dan keempat, mengingat kelompok ini menunjukkan kerentanan psychological well-being yang lebih tinggi dan membutuhkan dukungan eksternal dalam menghadapi tekanan pendidikan medis.[18] Skrining grit dan psychological well-being di awal tahun akademik dalam layanan konseling perlu dipertimbangkan agar mahasiswa dengan profil risiko tinggi dapat diidentifikasi dan didampingi sedini mungkin.[3]

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diakui. Desain cross-sectional tidak memungkinkan penarikan simpulan kausal, sehingga hubungan yang ditemukan harus dipahami sebagai asosiasi yang dapat bersifat bidirectional. Penelitian longitudinal diperlukan untuk memahami dinamika temporal hubungan grit dan psychological well-being sepanjang perjalanan pendidikan kedokteran.[19]

Simpulan

Penelitian ini menemukan hubungan positif yang signifikan antara grit dan psychological well-being pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (r = 0,427; p = 0,047), sejalan dengan hasil yang diperoleh Rusli et al. dalam konteks residen medis. Mahasiswa menunjukkan consistency of interest yang lebih kuat dibandingkan perseverance of effort, yang berarti komitmen mereka terhadap bidang kedokteran sudah terbentuk dengan baik, tetapi ketekunan dalam menghadapi hambatan akademik masih perlu ditingkatkan. Atas dasar itu, pengembangan grit, khususnya dimensi perseverance of effort, perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum dan program dukungan mahasiswa kedokteran sebagai langkah preventif dalam menjaga psychological well-being selama masa studi.

Ucapan Terimakasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penelitian ini. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon telah memberikan izin dan fasilitas yang diperlukan selama penelitian berjalan. Seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati yang bersedia berpartisipasi secara sukarela dan menyumbangkan data yang akurat juga layak mendapat penghargaan. Tim kolaborator dan asesor membimbing jalannya penelitian dari sisi metodologi maupun substansi, sedangkan Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati menerbitkan persetujuan etik yang dibutuhkan. Bagian akademik dan kemahasiswaan turut memperlancar proses pengumpulan data, begitu pula berbagai pihak lain yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu, tetapi nyata perannya dalam mewujudkan penelitian yang diharapkan memberi manfaat bagi pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia.

References

[1] Y. K. Lin, C.-D. Lin, D.-Y. Chen, and B. Y.-J. Lin, “Effects of grit on medical students’ wellbeing during clerkships: a longitudinal observational cohort study,” Front. Med., vol. 11, May 2024, doi: 10.3389/fmed.2024.1331402.

[2] K. Sattar, M. S. B. Yusoff, W. N. Arifin, M. A. Mohd Yasin, and M. Z. Mat Nor, “A scoping review on the relationship between mental wellbeing and medical professionalism,” Med. Educ. Online, vol. 28, no. 1, Dec. 2023, doi: 10.1080/10872981.2023.2165892.

[3] Nurkholisah, V. Meidianawaty, and D. Fachrudin, “HUBUNGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DENGAN PROFESIONALISME MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI,” Ibnu Sina J. Kedokt. dan Kesehat. - Fak. Kedokt. Univ. Islam Sumatera Utara, vol. 24, no. 1, pp. 243–255, Jan. 2025, doi: 10.30743/ibnusina.v24i1.726.

[4] P. Tanamas, A. P. Ayu, A. L. Ekowati, and E. Suryani, “Hubungan Strategi Koping dengan Stres dan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Kedokteran,” Damianus J. Med., vol. 22, no. 3, pp. 232–242, Dec. 2023, doi: 10.25170/djm.v22i3.3099.

[5] D. H. Lee, K. Reasoner, and D. Lee, “Grit: what is it and why does it matter in medicine?,” Postgrad. Med. J., vol. 99, no. 1172, pp. 535–541, Jun. 2023, doi: 10.1136/postgradmedj-2021-140806.

[6] L. F. Fun, H. L. Mikarsa, and D. K. Putri, “Gambaran Grit pada Mahasiswa di Indonesia,” Sch. J. Pendidik. dan Kebud., vol. 13, no. 3, pp. 240–249, 2023, doi: https://doi.org/10.24246/j.js.2023.v13.i3.p240-249.

[7] R. Rusli, N. Ainy Fardana, and W. Hendriani, “GRIT IN MEDICAL PROFESSIONAL EDUCATION STUDENTS,” J. Pendidik. Kedokt. Indones. Indones. J. Med. Educ., vol. 10, no. 1, p. 1, Mar. 2021, doi: 10.22146/jpki.57068.

[8] A. L. Duckworth, C. Peterson, M. D. Matthews, and D. R. Kelly, “Grit: Perseverance and passion for long-term goals.,” J. Pers. Soc. Psychol., vol. 92, no. 6, pp. 1087–1101, 2007, doi: 10.1037/0022-3514.92.6.1087.

[9] M. K. Pratama, E. P. Wiriansya, U. Azis, S. Syamsuddin, and Dahlia, “Gambaran Tingkat Stres Mahasiswa Program Profesi Doktor Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia,” Prepotif J. Kesehat. Masy., vol. 8, no. 1, pp. 674–684, 2024, doi: https://doi.org/10.31004/prepotif.v8i1.26088.

[10] U. M. Chukwuemeka, U. P. Okonkwo, C. J. Njoku, S. E. Igwe, T. J. Oyewumi, and D. C. Ugwuanyi, “Work-related stress, quality of life, and coping mechanism among lecturers in a Tertiary Educational Institution in Anambra State, Nigeria,” BMC Psychol., vol. 11, no. 1, p. 73, Mar. 2023, doi: 10.1186/s40359-023-01114-5.

[11] W. O. N. Y. A. Aulia Rizki Aditya; Taliki, Siti Nuria; Ibrahim, Jessica Naurah; Agustin, Dewinta; Permatasari, Novi Indah; Kusumaninggar, Titis Sari; Hasanah, Risma Nur; Saputra, Riztu Duwi, “Kesejahteraan Psikologis dan Tingkat Stress Pada Mahasiswa Tingkat Akhir di UNIMUS: Psychological Well-Being And Stress Levels In Final-Level Students At UNIMUS,” J. Nurs. Res. Publ. Media, no. Vol. 3 No. 1 (2024): Journal Nursing Research Publication Media (NURSEPEDIA), pp. 58–66, 2024, [Online]. Available: https://nursepedia.lenteramitralestari.org/index.php/nsp/article/view/71/49

[12] S. Wahyunianti, Lukman, and A. Asri, “Pengaruh Grit terhadap Stres Akademik pada Dokter Muda (Co-asisstant),” J. Psikol. Talent. Mhs., vol. 2, no. 1, 2022, doi: https://doi.org/10.26858/jtm.v2i1.36008.

[13] Linda Mora, Arif Rahman Hakim, and Wahyu Wahidin, “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GRIT PADA MAHASISWA PSIKOLOGI DI UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN KARAWANG,” Psychopedia J. Psikol. Univ. Buana Perjuangan Karawang, vol. 8, no. 1, pp. 23–31, Jun. 2023, doi: 10.36805/psychopedia.v8i1.5538.

[14] S. Septania and K. Khairani, “PENGARUH GRIT DAN GENDER DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR MAHASISWA,” TAJDID J. Ilmu Keislam. dan Ushuluddin, vol. 22, no. 1, pp. 19–27, Jul. 2019, doi: 10.15548/tajdid.v22i1.279.

[15] F. K. Triyana Harlia Putri, Zehro Masitoh, “Faktor Yang Mempengaruhi Academic Burnout Pada Mahasiswa Keperawatan,” J. Keperawatan Jiwa, vol. 11, no. 2, pp. 379–386, 2023.

[16] B. L. H. B. Sanusi, S. M. P. Lestari, S. Supriyati, and D. Hermawan, “HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN TINGKAT EFIKASI DIRI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN TAHAP SARJANA UNIVERSITAS MALAHAYATI,” J. Ilmu Kedokt. dan Kesehat., vol. 10, no. 7, pp. 2294–2305, Jul. 2023, doi: 10.33024/jikk.v10i7.10434.

[17] D. Alawiyah, C. A. Alwi, Lilis, and Selvi, “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Semester Akhir,” J. Mimb. Media Intelekt. Muslim dan Bimbing. Rohani, vol. 8, no. 2, pp. 30–44, Sep. 2022, doi: 10.47435/mimbar.v8i2.1190.

[18] S. Langness, N. Rajapuram, M. Marshall, A. S. Rahman, and A. Sammann, “Risk factors associated with student distress in medical school: Associations with faculty support and availability of wellbeing resources,” PLoS One, vol. 17, no. 4, p. e0265869, Apr. 2022, doi: 10.1371/journal.pone.0265869.

[19] D. M. Mahardhika, Sri Ratna Dewi, and I Wayan Eka Arsana, “Hubungan antara Stres dengan Motivasi Belajar pada Mahasiswa Tingkat Pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa,” Aesculapius Med. J., vol. 3, no. 2, pp. 254–260, Jun. 2023, doi: 10.22225/amj.3.2.2023.254-260.