Login
Section Education

Validated Folklore Materials for Elementary Reading Interest and Literacy


Bahan Ajar Cerita Rakyat Tervalidasi untuk Minat dan Literasi Membaca
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Alif Kurnia Syam (1), Andi Sukri Syamsuri (2), Syekh Adiwijaya Latief (3)

(1) Program Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar, Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia
(2) Program Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar, Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia
(3) Program Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar, Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Reading interest and reading literacy are essential competencies in elementary Indonesian language learning because they support students’ comprehension, communication, and lifelong learning. Specific Background: Fourth grade students still face difficulties in understanding folklore texts due to limited contextual, visually attractive, and student-centered teaching resources. Knowledge Gap: Previous studies have developed folklore-based resources, yet systematic development that integrates local cultural content, expert validation, practicality testing, and field-based literacy measurement remains limited. Aims: This study developed Indonesian language teaching materials on folklore to support fourth grade students’ reading interest and reading literacy. Results: The developed printed folklore materials were categorized as very valid, with media expert validation reaching 96% and material expert validation reaching 98%. Practicality testing showed very high results through learning implementation and teacher responses with a score of 97, while student responses reached 89%. Student reading literacy increased from a pretest mean of 70.71 to a posttest mean of 80.29, and reading interest increased from 57.29 to 89.76. Novelty: The study presents locally grounded folklore teaching materials supported by illustrations, reading guidance, vocabulary support, and literacy exercises designed for elementary learners. Implications: These findings indicate that folklore-based teaching materials can serve as a contextual learning alternative for strengthening reading engagement, literacy achievement, and cultural understanding in elementary Indonesian language learning.


Highlights

• Expert appraisal placed the developed resource in the very valid category.
• Teacher and student responses showed strong practicality in classroom use.
• Posttest scores showed higher learner engagement and comprehension outcomes.


Keywords

Folklore Materials; Reading Interest; Reading Literacy; Elementary Students; Local Culture

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Belajar adalah sebuah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan [1]. Belajar adalah aktivitas yang tidak lepas dari proses menuntut ilmu. Islam sendiri memandang orang yang berilmu dengan derajat yang mulia, orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu tidak mungkin berada di derajat yang setara, seperti yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala (QS. Al Mujadilah:11) :

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “berilah kepalangan di dalam manjelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Kurikulum Merdeka merupakan sebuah terobosan kurikulum yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai langkah untuk memulihkan pembelajaran yang sempat terhambat oleh berbagai tantangan, termasuk pandemi. Kurikulum ini memberi fleksibilitas bagi guru dan siswa dengan focus pada materi esensial untuk memperkuat literasi dan numerasi serta menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik [2].

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kurikulum Merdeka menekankan pengembangan keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Pembelajaran bahasa tidak hanya berorientasi pada aspek kebahasaan melainkan juga mengintegrasikan unsur budaya dan konteks sosial yang relevan dengan kehidupan siswa. Melalui cara ini, keterlibatan siswa menjadi lebih aktif dan pembelajaran terasa lebih bermakna [3].

Pembelajaran cerita rakyat dalam kurikulum ini berperan penting sebagai media untuk menanamkan nilai budaya dan moral yang terkandung dalam cerita-cerita tradisional. Cerita rakyat dipandang sebagai sumber pembelajaran yang dapat memperkaya wawasan budaya siswa sekaligus membangun karakter melalui nilai-nilai yang diajarkan seperti kejujuran, kerja keras, dan gotong royong. Penggunaan cerita rakyat dalam pembelajaran bahasa Indonesia juga mendukung pengembangan kemampuan literasi dan apresiasi seni sastra, dengan cara yang sesuai dengan perkembangan kognitif dan emosional siswa. Lebih jauh, cerita rakyat juga memberikan konteks lokal yang kuat, sehingga siswa tidak hanya belajar bahasa tetapi juga memahami identitas dan warisan budaya bangsa [4].

Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berbahasa seseorang yang dibina sejak usia dini ini akan menjadi bekal berharga bagi anak untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya Pembelajaran bahasa Indonesia diberikan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap positif dalam berbahasa. Selain itu, supaya murid mampu berkomunikasi dengan baik, baik secara lisan ataupun tertulis dan murid mampu menyampaikan gagasan-gagasan yang ada di pikirannya melalui interaksi yang baik dengan masyarakat [5].

Membaca adalah salah satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan bagian atau komponen dari komunikasi tulis. Membaca sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa merupakan suatu masalah yang mendapat banyak perhatian dalam kehidupan manusia. Perhatian ini berakar kepada kesadaran akan pentingnya arti, nilai, dan fungsi membaca dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam usaha pembentukan kebiasaan membaca, dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu minat dan keterampilan membaca [6].

Cerita rakyat sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia memiliki keunggulan untuk dijadikan materi pembelajaran bahasa Indonesia dalam menarik minat baca peserta didik. Materi cerita rakyat tidak hanya mengandung unsur instrinsik seperti tema, tokoh, nilai moral, dan alur yang dapat meningkatkan pemahaman teks, tetapi juga menyuguhkan pengalaman budaya yang khas dan mengakar di masyarakat [7].

Kurikulum Merdeka menjadikan Bahasa Indonesia sebagai mata pelaajran wajib yang berfokus pada pengutaan literasi membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Pembelajaran dirancang lebih mendalam melalui materi cerita rakyat yang mengandung nilai budaya dan moral sehingga siswa mampu memahami ini teks serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Pada buku Bahasa Indonesia kelas IV Bab 7 “Asal Usul”, siswa diarahkan untuk menemukan informasi dari teks dan gambar serta menyampaikan pendapat berdasarkan informasi tersebut. PISA 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia 359 poin, yang merupakan skor terendah sejak partisipasi pertama pada tahun 2000. Skor ini menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 81 negara yang berpartisipasi [8]. Rendahnya minat dan literasi membaca siswa sekolah dasar khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia bidang cerita rakyat masih menjadi tantangan utama. Kurangnya bahan ajar yang menarik, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik siswa menjadikan proses pembelajaran cenderung monoton serta kurang efektif dalam mendorong keterampilan membaca dan pemahaman isi bacaan [9].

Data empiris yang diperoleh dari observasi dan wawancara beberapa guru di sekolah dasar menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kesulitan memahami teks cerita rakyat karena bahasa yang digunakan sulit dipahami dan bahan ajar yang tersedia kurang menarik secara visual. Selain itu, keterbatasan media pembelajaran membuat siswa kurang termotivasi untuk membaca secara kontinu, sehingga berdampak pada rendahnya literasi dan minat membaca siswa [10].

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di UPT SPF SDN 42 Gattareng, Kabupaten Bulukumba, diperoleh gambaran bahwa pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia materi cerita rakyat sangat dibutuhkan dalam pembelajaran. Dari sisi guru, diketahui bahwa masih terdapat berbagai kendala dalam pembelajaran cerita rakyat. Guru menyatakan kesulitan dalam menemukan bahan ajar yang secara khusus membahas mitologi lokal Bulukumba serta keterbatasan referensi yang valid terkait sejarah daerah. Materi cerita rakyat pada buku paket dinilai kurang sesuai dengan lingkungan siswa karena teks terlalu Panjang dan minim ilustrasi, sehinga siswa mudah bosan dan kesulitan memahami isi cerita. Guru membutuhkan bahan ajar pendamping yang lebih aktif, menarik, dan berbasis budaya local Bulukumba, khususnya tema asal-usul penanaman Bulukumba.

Hasil analisis kebutuhan menunjukkan sebagian besar siswa menyukai cerita bergambar dan teratirk membaca cerita local, tetapi masih mengalami kesulitan memahami beberapa kosa akta. Guru juga menyatakan bahwa bahan ajar yang tersedia belum mendukung pembelajaran cerita rakyat secara optimal karena kurang kontekstual dan kurang menarik. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar baru yang membuat ilustrasi, ringkasan materi, Latihan literasi, dan istilah local agar pembelajaran lebih efektif.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan siswa dan bahan ajar yang tersedia, penelitian ini penting dilakukan untuk mengembangkan bahan ajar cerita rakyat yang lebih menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan budaya local sehingga dapat meningkatkan minat baca, kemampuan literasi, sertapemahaman siswa terhadap budaya Bulukumba.

Beberapa penelitian nasional dan internasional telah mencoba mengatasi masalah tersebut dengan mengembangkan bahan ajar cerita rakyat dalam berbagai format seperti digital storybooks, media interaktif, dan komik agar lebih menarik dan mudah dipahami siswa [11],[12]. Penerapan teknologi dan multimedia terbukti dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran membaca serta mendukung pemahaman isi teks cerita [13].

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa unsur budaya local, seperti cerita rakyat, pantun, peribahasa, dan tradisi lisa, berperan penting dalam menanamkan nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan sikap menghargai keberagaman [14].

Salah satu wujud kearifan lokal yang perlu dipertahankan keberadaannya adalah cerita rakyat. Karena itu, cerita rakyat yang berbasis kearifan lokal setempat perlu dikenalkan oleh peserta didik sejak dini. Sementara yang terjadi di lapangan, banyak sekolah belum menggunakan cerita rakyat berbasis kearifan lokal menjadi bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah [15].

Penelitian pengembangan bahan ajar berbasis cerita rakyat telah menunjukkan hasil positif, antara lain meningkatkan minat membaca, keterampilan memahami teks, dan menanamkan nilai karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan relijiusitas pada siswa [7]. Namun demikian, pengembangan bahan ajar yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa SD kelas IV masih perlu dilakukan secara sistematis. Pengembangan juga harus mempertimbangkan faktor pendukung seperti ketersediaan teknologi, kemampuan guru, serta keterlibatan siswa dalam proses belajar [16].

Keunggulan hasil penelitian terdahulu adalah integrasi nilai budaya lokal ke dalam bahan ajar serta penggunaan media yang interaktif sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, hidup, dan mampu membangkitkan minat baca siswa. Validasi oleh pakar dan respons positif dari guru serta siswa menjadikan bahan ajar tersebut layak dan efektif.

Namun demikian, berbagai studi tersebut memiliki keterbatasan utama, antara lain cakupan uji coba yang terbatas, kurangnya variasi materi cerita rakyat dari berbagai daerah, serta minimnya integrasi aspek budaya lokal secara mendalam yang utuh. Selain itu, sebagian besar bahan ajar masih berbentuk cetak atau digital statis tanpa adanya evaluasi komprehensif terhadap pengaruh bahan ajar terhadap minat dan literasi membaca siswa di kelas rendah sekolah dasar.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, penelitian ini menggambarkan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang telah melalui validasi dan uji coba langsung kepada siswa. pengembangan ini juga menekankan integrasi budyaa local guna memperkuat identitas budaya dan pembentukan karakter siswa.

Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan bahan ajar cerita rakyat yang dirancang khusus untuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV SD dengan pendekatan validasi multi ahli dan uji coba lapangan komprehensif. Selain itu, penelitian ini menghubungkan bahan ajar tersebut dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) melalui integrasi tiga poin utama pembelajaran berkesadaran (mindful learning) yang mendorong siswa sadar penuh terhadap nilai budaya dalam cerita rakyat, pembelajaran bermakna (meaningful learning) yang menghubungkan narasi tradisional dengan pengalaman sehari-hari siswa, serta pembelajaran menggemberikan (joyfull learning) yang memberdayakan siswa untuk secara aktif mengeksplorasi dan mereinterpretasikan cerita lokal guna membangun pemahaman mendalam. Pendekatan ini diharapkan dapat mengatasi keterbatasan penelitian terdahulu serta memberikan solusi yang aplikatif dan kontekstual bagi pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar.

Penyelesaian masalah ini sangat penting agar kualitas pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkat, siswa menjadi lebih gemar membaca dan memiliki kemampuan literasi yang memadai, serta budaya lokal dapat dilestarikan melalui pembelajaran yang efektif dan relevan dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan berkontribusi pada Pendidikan dan pelestarian budaya melalui pengembangan bahan ajar cerita rakyat yang kontekstual untuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV SD serta menanamkan nilai budaya local.

METODE

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dan pengembangan (Research and Development) jenis tersebut adalah suatu proses yang digunakan untuk menciptakan dan memvalidasi produk pendidikan melalui siklus yang meliputi studi pustaka, pengembangan produk, pengujian lapangan, evaluasi, dan penyempurnaan produk.

Penelitian ini menggunakan model 4-D (Define, Design, Develop, Disseminate) Model 4-D dikembangkan oleh [1] terdiri dari empat tahap utama, yaitu: pendefinisian kebutuhan dan masalah (Define), perancangan produk (Design), pengembangan produk (Develop), dan penyebaran produk (Disseminate) [17].

B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan

Prosedur penelitian dan pengembengan menggunakan model pengembangan 4D, yang terdiri dari 4 tahap pengembangan Define, Design, Develop, dan Disseminate. model ini digunakan untuk menyelidiki pengembangan bahan ajar ini. Tahap-tahap ini dijelaskan sebagai berikut.

Gambar .1 Tahapan Model 4D

C. Uji Coba Produk

1. Desain Uji Coba

Uji coba bahan ajar bahasa indonesia materi cerita rakyat dilaksanakan sebagai berikut. tujuan utama dari uji coba ini adalah untuk mengetahui apakah produk yang sedang dikembangkan layak (valid), praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran bahasa indonesia materi cerita rakyat.

2. Subjek Uji Coba

Subjek uji coba dalam penelitian ini meliputi validator ahli, siswa, dan guru. Validator terdiri atas ahli materi dan ahli desain/bahan ajar yang bertugas menilai validitas produk bahan ajar bahasa Indonesia materi cerita rakyat. Subjek pengguna adalah seluruh siswa kelas IV SD yang berjumlah 18 orang, yang sekaligus menjadi populasi dan sampel melalui teknik total sampling. Selain itu, guru kelas IV dilibatkan untuk menilai kepraktisan penggunaan bahan ajar berbasis budaya lokal dalam pembelajaran.

D. Jenis Data

Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa saran dan komentar dari ahli, guru, dan siswa sebagai bahan perbaikan produk, sedangkan data kuantitatif berupa skor angket validasi, respons pengguna, serta hasil pretest dan posttest untuk mengukur validitas, kepraktisan, dan evektifitas bahan ajar.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan pengamatan langsung menggunakan panca indera untuk mendapatkan informasi tentang aktivitas, kejadian, objek, kondisi, atau suasana tertentu.

b. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data melalui komunikasi secara langsung antara peneliti dan responden dengan cara tanya jawab.

c. Validasi

Validasi adalah proses untuk menilai kelayakan, ketepatan, dan kualitas suatu produk berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian para ahli (validator) atau pihak terkait.

d. Angket / Kuisioner

Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang menggunakan daftar pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh responden.

e. Tes

Tes adalah teknik pengumpulan data dengan pelaksanaan pengukuran kemampuan, pengetahuan, atau kecakapan responden dalam aspek tertentu.

2. Instrumen Penelitian

a. Lembar Review Kebutuhan

Lembar ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan yang menjadi dasar penelitian atau pengembangan. Berisi pertanyaan atau indikator yang membantu mengumpulkan data tentang kebutuhan responden atau situasi yang akan diteliti.

b. Lembar Validasi Ahli

Instrumen ini berfungsi untuk mendapatkan penilaian dan masukan dari para ahli terkait instrumen, produk, atau isi penelitian. Tujuannya adalah memastikan validitas isi dan kesesuaian instrumen dengan tujuan penelitian melalui aspek keabsahan dan kelayakan.

c. Lembar Angket Respons Guru & Siswa

Lembar ini merupakan kuesioner yang dirancang khusus untuk mengumpulkan tanggapan, opini, atau penilaian guru dan siswa terhadap suatu program, produk, atau kegiatan. Data yang diperoleh dapat digunakan untuk evaluasi dan pengembangan lebih lanjut.

d. Lembar Instrumen Tes

Dokumen yang berisi soal-soal tes dan kriteria penilaian yang digunakan untuk mengukur kemampuan atau pencapaian peserta penelitian. Lembar ini harus tervalidasi dan terstandarisasi agar hasil tes dapat diandalkan dan objektif.

F. Teknik Analisis Data

1. Analisis Data Kevalidan Produk (Validitas Ahli)

Tujuan mengukur kelayakan teoritis dan kesesuaian bahan ajar berbasis budaya lokal berdasarkan penilaian validator (ahli materi dan ahli desain/bahan ajar).

2. Analisis Data Kepraktisan dan Minat (Angket Guru dan Siswa)

Tujuan Mengukur tingkat kepraktisan bahan ajar dari sudut pandang guru dan mengukur tingkat minat membaca siswa setelah menggunakan bahan ajar.

3. Analisis Data Efektivitas (Tes Literasi dan Minat Membaca)

Tujuan mengukur peningkatan literasi membaca siswa setelah menggunakan bahan ajar melalui Uji Hipotesis (Uji-t) Menggunakan uji t (Paired Sample T-Test jika menggunakan satu kelompok pre-post) untuk membuktikan secara statistik apakah terdapat perbedaan signifikan antara hasil pre-test dan post-test, yang mengindikasikan efektivitas bahan ajar. Pengujian ini dilakukan menggunakan program SPSS dengan paired sample t-test, (a) yang digunakan yaitu 0,05.

D. Diagram Alir Penelitian

Diagram alir penelitian adalah representasi visual dari rangkaian tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan dalam sebuah proses penelitian secara sistematis dan berurutan. Diagram ini menggunakan simbol-simbol dan panah yang menghubungkan langkah-langkah tersebut sehingga memudahkan pembaca untuk memahami alur kerja penelitian secara jelas dan logis [18].

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Prototipe Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat

a. Pendefinisan (Define)

    Tahap pendefinisian ini melibatkan pengumpulan fakta dan identifikasi kebutuhan dalam pembelajaran siswa kelas IV di Sekolah Dasar. Proses pendefinisian ini terdiri dari lima Langkah yang akan dijelaskan lebih lanjut di bagian berikut:

    1) Analisis Awal

    Analisis awal dalam penelitian ini mengidentifikasi rendahnya minat dan literasi membaca siswa kelas IV pada pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi cerita rakyat.Hasil observasi di UPT SPF SDN 42 Gatterang Kabupaten Bulukumba menunjukkan rendhanya minat dan kemampuan membaca siswa akibat bahan ajar yang kurang menarik dan kontekstua. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar cerita rakyat yang lebih menarik untuk meningkatkan literasi membaca siswa [19].

    2) Analisis Peserta didik

    Analisis peserta didik menunjukkan bahwa siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba mulai memiliki kemandirian belajar, namun masih memerlukan bimbingan dalam keterampilan membaca. Sebagian siswa mampu membaca secara sederhana, tetapi masih mengalami kesulitan memahami isi bacaan, mengidentifikasi unsur cerita, dan mengungkapkan kembali isi teks [20]. Minat membaca juga tergolong rendah karena pembelajaran masih konvensional dan bahan ajar kurang variatif serta belum mendukung aktivitas membaca aktif. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan bahan ajar cerita rakyat yang inovatif, menarik, dan sesuai karakteristik siswa untuk meningkatkan minat dan kemampuan literasi membaca secara bertahap dan bermakna [21].

    3) Analisis Konsep

    Analisis konsep difokuskan pada materi cerita rakyat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas IV Kurikulum Merdeka, meliputi pengertian, ciri, jenis, unsur intrinsik, dan nilai moral, serta konsep literasi membaca seperti memahami, menafsirkan, dan mengungkapkan kembali isi bacaan.

    4) Analisis Tugas

    Analisis tugas mengacu pada tujuan pembelajaran Fase C yang menekankan kemampuan menemukan informasi, memahami, dan menyampaikan kembali isi teks melalui aktivitas membaca, menjawab pertanyaan, serta merangkum cerita. Selanjutnya, analisis tujuan pembelajaran diarahkan pada peningkatan minat dan literasi membaca siswa, sehingga siswa mampu memahami teks secara mendalam, mengidentifikasi informasi penting, dan mengungkapkan kembali isi cerita secara runtut melalui kegiatan membaca yang aktif dan bermakna.

    b. Tahap perencanaan (Design)

    Setelah analisis temuan dari studi panduan, langkah berikutnya adalah merancang bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba. Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan prototipe bahan ajar yang dapat memfasilitasi kegiatan membaca yang bermakna, sekaligus mendorong partisipasi aktif siswa dalam proses belajar. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:

    1) Penyusunan Tes

    Instrumen berupa tes literasi membaca disusun berdasarkan tujuan pembelajaran untuk mengukur pemahaman teks, kemampuan menemukan informasi, dan menafsirkan makna cerita rakyat.

    2) Pemilihan Bahan Ajar

    Bahan ajar berbasis cerita rakyat dipilih secara kontekstual dan menarik, dilengkapi ilustrasi, panduan membaca, pertanyaan pemahaman, dan latihan literasi untuk mendorong membaca aktif.

    3) Pemilihan Format

    Bahan ajar dikemas dalam bentuk modul interaktif yang memuat teks, gambar, kosakata kunci, panduan membaca, serta aktivitas dan latihan literasi untuk mendukung pembelajaran bermakna.

    4) Rancangan Awal

    Pengembangan prototipe bahan ajar dilakukan berdasarkan kurikulum, karakteristik siswa, dan tujuan pembelajaran, meliputi pemilihan cerita, penyusunan aktivitas membaca, latihan literasi, serta penggunaan ilustrasi untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa [22].

    c. Tahap Pengembangan (Develop)

    Tahap pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang telah disempurnakan berdasarkan umpan balik dan saran dari ahli serta hasil uji coba. Penyempurnaan dilakukan agar bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya untuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba.

    Bahan ajar cerita rakyat dirancang secara menarik, sederhana, dan mudah digunakan siswa SD. Isi bahan ajar disusun sistematis serta dilengkapi petunjuk penggunaa, teks cerita rakyat, ilustrasi, panduan membaca, dan Latihan literasi yang sesuai dengan karaktersitik siswa kelas IV. Produk dikembangkan sesuai dengan materi cerita rakyat dan rancangan awal yang telah dibuat. Selanjutnya, bahan ajar disempurnakan melalui proses desain dan penyusunan materi yang mendukung pembelajaran interaktif dan bermakna, sehingga siswa dapat membaca secara aktif, memahami isi cerita, mengidentifikasi unsur cerita, menafsirkan pesan moral, serta menceritakan kembali isi bacaan dengan bahasa sendiri.

    d. Tahap Penyebaran (Disseminate)

    Tahap penyebaran merupakan tahap akhir dalam penelitian pengembangan ini. Pada tahap ini, peneliti melakukan penyebaran bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat di UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba. Setelah pelaksanaan pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan, peserta didik dan guru mengisi angket respon terhadap bahan ajar untuk mengetahui tanggapan mereka terhadap penggunaan bahan ajar tersebut dalam pembelajaran. Selain itu, peneliti juga memberikan posttest kepada peserta didik yang sebelumnya telah diberikan pretest untuk mengetahui peningkatan minat dan literasi membaca siswa setelah menggunakan bahan ajar.

    Bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat ini dikembangkan dengan menggunakan jenis penelitian Research and Development (R&D) dan menggunakan model pengembangan 4D (Define, Design, Develop, dan Disseminate).

    Pada tahap pendefinisian (Define) atau studi pendahuluan, berdasarkan hasil analisis kebutuhan guru dan siswa diperoleh data bahwa pembelajaran membaca masih didominasi oleh penggunaan buku teks cetak, tanpa didukung oleh bahan ajar yang variatif dan menarik. Hal ini menyebabkan minat membaca siswa rendah dan berdampak pada rendahnya kemampuan literasi membaca siswa.

    Pada tahap perancangan (Design), peneliti merancang bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas IV Sekolah Dasar, baik dari segi bahasa, tampilan, maupun aktivitas membaca yang disajikan [23].

    Selanjutnya, pada tahap pengembangan (Develop), bahan ajar yang telah dirancang kemudian divalidasi oleh ahli materi dan ahli media.Hasil validasi menunjukkan bahan ajar memperoleh nilai 80-100% dengan kategori “sangat valid”, sehingga layak digunakan dalam pembelajaran. Uji coba juga menunjukkan respons positif dari siswa dengan persentase angket sebesar 97% yang termasuk kategori “sangat menarik” dan “sangat praktis”. Dengan demikian, bahan ajar cerita rakyat yang dikembangkan dinilai valid, praktis, dan mampu mendukung peningkatan minat serta literasi membaca siswa kelas IV.

    2. Kevalidan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV SD

    Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang dikembangkan untuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba. Uji kevalidan pengembangan bahan ajar diperoleh berdasarkan hasil validasi ahli bahan ajar dan validasi ahli materi. Hasil validasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan kelayakan bahan ajar sebelum diujicobakan dalam proses pembelajaran.

    a. Validasi Bahan Ajar

    Hasil validasi bahan ajar memperoleh presentase 97% dari validator ahli 1 dengan kategori sangat valid, dan 97% dari validator ahli 2. Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat ini mampu menarik perhatian siswa sehingga dapat meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV.

    b. Validasi Materi

    Hasil validasi materi memperoleh presentase 96% dari validator ahli 1 dengan kategori sangat valid, dan 98% dari validator ahli 2 dengan kategori sangat valid. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui bahwa aspek-aspek penjelasan yang terdapat pada bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat telah relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa, serta jabaran materi dalam bahan ajar telah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Hal ini sejalan dengan pendapat Tafonao (2018) yang menyatakan bahwa media pembelajaran dikatakan valid apabila memenuhi beberapa indikator, di antaranya penjelasan yang relevan dengan kompetensi yang harus dikuasai siswa dan jabaran materi yang mencakup kurikulum.

    c. Rekapitulasi Presentase Skor Kevalidan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat

    Berdasarkan hasil rekapitulasi presentase skor kevalidan. Penilaian validator 1 menilai aspek Desain Bahan Ajar dan materi adalah 97% dan 96% dengan rata-rata yaitu 96,50%. Sedangkan penilaian validator 2 menilai aspek media dan materi adalah 97% dan 98% dengan rata-rata 97,50%.

    d. Koefision Validator (Analisis Gregory) Desain Bahan Ajar dan Materi Bahan Ajar

    Berdasarkan hasil analisis greogry, hasil validasi desain bahan ajar dan materi Bahasa Indonesia materi cerita rakyat oleh dua validator, diperoleh data sebagai berikut:

    1) Koefision validator (Analisis Greogry) Desain Bahan Ajar

    Nilai koefisien validitas (Vc) sebesar 1,0 menunjukkan adanya kesepakatan penuh antara kedua validator bahwa seluruh indikator bahan ajar dinilai relevan. Dengan demikian, desain bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat dinyatakan sangat valid, layak digunakan, dan memenuhi kriteria kelayakan untuk tahap pengembangan selanjutnya.

    2) Koefision validator (Analisis Greogry) Materi pada Bahan Ajar

    Nilai koefisien validitas (Vc) sebesar 1,0 menunjukkan kesepakatan penuh antara kedua validator bahwa seluruh indikator materi dalam bahan ajar dinilai relevan. Dengan demikian, materi cerita rakyat dinyatakan sangat valid dan layak digunakan untuk mendukung peningkatan minat dan literasi membaca siswa [24].

    3. Kepraktisan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    a. Observasi Keterlaksanaan Penggunaan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Tabel 1 Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

    Berdasarkan hasil pengamatan observer pada tabel di atas, secara keseluruhan keterlaksanaan pembelajaran menggunakan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat dinyatakan sangat sesuai atau sangat baik. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru kelas IV menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran memperoleh skor 97. Dengan demikian, berdasarkan tabel skala penilaian, kualifikasi keterlaksanaan pembelajaran dapat dikategorikan sangat sesuai/sangat baik, yang menunjukkan bahwa bahan ajar ini dapat diterapkan dengan efektif dalam meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba.

    b. Respon Guru

    Tabel 2 Hasil Kepraktisan Respon Guru Terhadap Bahan Ajar

    Berdasarkan hasil respon guru terhadap kepraktisan bahan ajar pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa secara keseluruhan, respon guru terhadap kepraktisan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat dinyatakan sangat praktis. Hasil perolehan dari guru kelas IV menunjukkan bahwa bahan ajar ini memperoleh skor 97, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan ajar ini mudah digunakan, menarik, dan mendukung proses pembelajaran dalam meningkatkan minat serta literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba.

    c. Respon Siswa

    Tabel 3 Hasil Respon Siswa Terhadap Bahan Ajar

    Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh presentase efektivitas sebesar 89%. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memberikan respon positif terhadap penggunaan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat dalam pembelajaran membaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan terbukti efektif dalam meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba.

    4. Keefektifan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    a) Hasil Minat dan Literasi Siswa pada Materi Cerita Rakyat Menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada Uji Coba I (Skala Kecil) di Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    1) Hasil Minat Siswa pada Materi Cerita Rakyat Menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada uji coba 1 (Skala Kecil) di kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Tabel 4 Hasil Uji Coba I (Skala Kecil)

    Hasil Literasi Membaca Siswa pada Materi Cerita Rakyat menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada Uji Coba I (Skala Kecik) di Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Tabel 5 Hasil Uji Coba I (Skala Kecil)

    Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil tes literasi membaca dan minat membaca siswa setelah penerapan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang dikembangkan pada siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui gambaran umum hasil penelitian yang meliputi nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean), standar deviasi, dan varians.

    Tabel 6 Statistik Deskriptif Hasil Tes Literasi Membaca dan Minat Membaca Siswa

    a) Deskripsi Data Literasi Membaca

    tes literasi membaca siswa menunjukkan bahwa jumlah data (N) sebanyak 2. Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 82 dan nilai tertinggi adalah 84, dengan rentang nilai sebesar 2. Nilai rata-rata (mean) hasil tes literasi membaca siswa adalah 83,00. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa setelah menggunakan bahan ajar cerita rakyat berada pada kategori baik.

    b) Deskripsi Data Minat Membaca

    Hasil angket minat membaca siswa menunjukkan bahwa jumlah data (N) sebanyak 2. Nilai minimum yang diperoleh adalah 82 dan nilai maksimum adalah 92, sehingga diperoleh rentang nilai sebesar 10. Nilai rata-rata (mean) minat membaca siswa adalah 87,00. Hal ini menunjukkan bahwa minat membaca siswa berada pada kategori tinggi setelah penggunaan bahan ajar cerita rakyat yang dikembangkan.

    2) Hasil Minat dan Literasi Siswa pada Materi Cerita Rakyat Menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada Uji Coba II (Skala Besar) di Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    a) Hasil Minat Siswa pada Materi Cerita Rakyat Menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada uji coba II (Skala Besar) di kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Tabel 7 Statistik Deskriptif Hasil PreTest Minat Membaca Siswa

    Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjadi responden sebanyak 17 orang. Nilai minimum yang diperoleh siswa adalah 48 dan nilai maksimum 68. Nilai rata-rata (mean) minat membaca siswa adalah 57,29. Hal ini menunjukkan bahwa minat membaca siswa sebelum penggunaan bahan ajar yang dikembangkan masih berada pada kategori sedang.

    Hasil Posttest Uji Minat Siswa Menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat pada Uji Coba II (Skala Besar) di Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    b) Hasil Literasi Membaca Siswa pada Materi Cerita Rakyat menggunakan Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada uji coba II (Skala Besar) di kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Tabel 8 Statistik Deskriptif Hasil Posttest Minat Membaca Siswa

    Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjadi responden sebanyak 17 orang, dengan nilai minimum 82 dan nilai maksimum 94. Nilai rata-rata (mean) minat membaca siswa sebesar 89,76, menunjukkan bahwa minat membaca siswa setelah penggunaan bahan ajar berada pada kategori tinggi. Nilai standar deviasi sebesar 3,800 menunjukkan bahwa sebaran data relatif homogen, sehingga peningkatan minat membaca siswa cenderung konsisten di antara peserta didik.

    Tabel 9 Statistik Deskriptif Hasil Pretest Literasi Membaca Siswa

    Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif terhadap tes literasi membaca siswa sebelum penerapan bahan ajar, diperoleh data sebagaimana disajikan pada Tabel 8, hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjadi responden sebanyak 17 orang. Nilai minimum literasi membaca siswa adalah 66, sedangkan nilai maksimum adalah 75. Nilai rata-rata (mean) literasi membaca siswa sebesar 70,71, yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa sebelum penerapan bahan ajar berada pada kategori sedang.

    Tabel 10 Statistik Deskriptif Hasil Post test Literasi Membaca Siswa

    Descriptive Statistics
    Table 1.

    Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah siswa yang menjadi responden sebanyak 17 orang, dengan nilai minimum 75 dan nilai maksimum 84. Nilai rata-rata (mean) literasi membaca siswa sebesar 80,29, menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa setelah penggunaan bahan ajar berada pada kategori tinggi. Nilai standar deviasi sebesar 3,738 menunjukkan bahwa sebaran data relatif homogen, sehingga peningkatan literasi membaca siswa cenderung konsisten di antara peserta didik.

    Tabel 10 Statistik Deskriptif Hasil Efektivitas Minat Dan Literasi Membaca

    Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif terhadap data pretest dan posttest, terlihat bahwa penerapan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat memberikan dampak yang signifikan terhadap minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba.

    Data literasi membaca menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa meningkat dari 70,71 pada pretest menjadi 80,29 pada posttest, sedangkan nilai minat membaca meningkat dari 57,29 pada pretest menjadi 89,76 pada posttest. Peningkatan nilai ini disertai dengan standar deviasi yang relatif kecil, yaitu 3,601–3,738 untuk literasi membaca dan 3,800–4,740 untuk minat membaca, yang menunjukkan bahwa sebaran data antar siswa cukup homogen dan peningkatan yang terjadi bersifat konsisten di sebagian besar peserta didik.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar cerita rakyat mampu meningkatkan literasi, membaca siswa dari kategori sedang ke tinggi serta menumbuhkan minat baca secara signifikan. Siswa menjadi lebih termotivasi, memahami isi cerita dengan lebih baik, dan lebih aktif dalam pembelaajran. Dengan demikian, bahan ajar ini efektif dan layak digunakan pada pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV.

    B. Pembahasan

    1. Kebutuhan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV Sekolah Dasar UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan terhadap guru dan siswa menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar cerita rakyat berbasis kearifan lokal sangat diperlukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV sekolah dasar.

    Dari sisi guru, ditemukan bahwa terdapat kesulitan dalam memperoleh bahan ajar yang relevan dengan konteks lokal, khususnya yang berkaitan dengan mitologi atau cerita rakyat Bulukumba. Hal ini sejalan dengan konsep bahan ajar dalam kajian teori yang menyatakan bahwa bahan ajar harus disusun secara sistematis dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta konteks pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal . Keterbatasan bahan ajar yang relevan menyebabkan proses pembelajaran kurang bermakna dan kurang kontekstual bagi siswa.

    Selain itu, guru juga menyatakan bahwa materi cerita rakyat dalam buku paket kurang sesuai dengan lingkungan siswa. Temuan ini sesuai dengan prinsip relevansi dalam pengembangan bahan ajar, yaitu bahan ajar harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan belajar mereka . Dengan demikian, penggunaan cerita rakyat lokal seperti “asal-usul penamaan Bulukumba” menjadi sangat penting karena dapat mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa.

    Dari sisi siswa, hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menyukai buku yang memiliki gambar berwarna serta tertarik membaca cerita berbasis lokal. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa bahan ajar yang efektif harus disajikan secara menarik, komunikatif, dan menggunakan ilustrasi yang relevan agar dapat meningkatkan minat belajar siswa . Visualisasi dalam bahan ajar tidak hanya meningkatkan daya tarik, tetapi juga membantu pemahaman siswa terhadap isi bacaan [25].

    Selain itu, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami kata-kata sulit. Kondisi ini menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan belum sepenuhnya memenuhi kriteria bahasa yang sederhana dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Dalam kajian teori disebutkan bahwa bahan ajar yang baik harus menggunakan bahasa yang jelas, sederhana, dan mudah dipahami agar tidak menimbulkan kebingungan .

    Temuan lain menunjukkan bahwa siswa memiliki minat yang cukup tinggi terhadap cerita lokal. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa cerita rakyat memiliki peran penting sebagai media pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan berbahasa sekaligus menanamkan nilai budaya dan karakter siswa . Cerita rakyat dapat membantu meningkatkan literasi membaca karena memiliki alur yang menarik dan dekat dengan kehidupan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat membaca siswa meningkat melalui bahan bacaan yang menarik, kontekstual, dan sesuai kebutuhan mereka.

    Pengembangan bahan ajar berbasis cerita rakyat juga selaras dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual dan sesuai karakteristik peserta didik. Penggunakan cerita local membuat pembelajaran lebih bermakna karena berkaitan dengan lingkungan social dan budaya siswa. Selain itu, bahan ajar ini mendukung pembelajaran mendalam melalui pengalaman belajar yang menari, menyenangkan, dan melibatkan siswa secara aktif maupun emosional.

    Keterlibatan emosional tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mendorong peningkatan minat membaca siswa. Dalam teori literasi membaca dijelaskan bahwa siswa lebih mudah memahami dan mengingat isi bacaan apabila materi memiliki kedekatan dengan pengalaman hidup mereka. Cerita rakyat lokal memberikan rasa familiar sehingga siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran dan terdorong untuk membaca secara mandiri. Selain itu, penggunaan unsur budaya lokal dalam bahan ajar juga membantu siswa membangun identitas budaya serta menanamkan nilai-nilai karakter melalui isi cerita yang dibaca.

    Berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan kajian teori, pengembangan bahan ajar cerita rakyat berbasis kearifan local dinilai relevan utnuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV SD.

    2. Prototipe Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat dalam meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba diawali dengan tahap analisis pendahuluan.

    Analisis ini menunjukkan rendahnya minat dan literasi membaca siswa akibat penggunaan bahan ajar konvensional yang kurang menarik dan belum mendorong aktivitas membaca secara aktif. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merencanakan pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat sebagai solusi untuk meningkatkan minat dan literasi membaca siswa. Oleh karena itu, dilakukan analisis konsep materi, perumusan tujuan pembelajaran, serta penyusunan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan meliputi perangkat pembelajaran, angket respons guru dan siswa terhadap bahan ajar, soal tes literasi membaca (pre-test dan post-test), serta lembar penilaian kelayakan bahan ajar yang divalidasi oleh ahli materi dan ahli media.

    Pada tahap desain, bahan ajar cetak dirancang sesuai karakteristik siswa kelas IV dengan memperhatikan isi, bahasa, penyajian, dan tampilan agar menarik dan mudah dipahami. Materi cerita rakyat dipilih karena mengandung nilai budaya dan pesan moral yang dekat dengan kehidupan siswa.

    Bahan ajar terdiri atas petunjuk penggunaan, tujuan pembelajaran, teks cerita rakyat beserta ilustrasi, kegiatan literasi membaca, latihan evaluasi, dan refleksi untuk membantu siswa memahami isi cerita serta menumbuhkan minat membaca [26].

    Struktur bahan ajar yang sistematis tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada proses pembentukan keterampilan literasi membaca siswa secara bertahap. Dalam literasi membaca, pemahaman bacaan berkembang melalui kegiatan membaca yang aktif dan bermakna. Karena itu, Latihan memahami isi cerita, menemukan ide pokok, dan refleksi dalam bahan ajar membantu meningkatkan pemahaman serta kemampuan berpikir kritis siswa. Pengembangan bahan ajar ini diharapkan membuat pembelajaran lebih menarik, kontekstual, dan bermakna. Keberadaan bahan ajar cerita rakyat tidak hanya membantu siswa memahami teks bacaan, tetapi juga menumbuhkan minat membaca serta meningkatkan kemampuan literasi membaca secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan fungsi utama bahan ajar sebagai sarana untuk memfasilitasi pemahaman materi, memperjelas informasi, dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar.

    3. Kevalidan Pengemabangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Validasi bahan ajar cerita rakyat untuk siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gatterang Kabupaten Bulukumba melibatkan ahli media dan ahli materi. Hasil penilaian meunjukkan bahwa bahan ajar memperoleh kategori sangat valid dan layak digunakan dalam pembelajaran.

    Ahli media menilai design, tampilan, dan fungsi bahan ajar telah sesuai, sedangkan ahli materi menyatakan isi materi akurat, jelas, dan relevan dengan tujuan pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar saat ini memenuhi kriteria valid dan dapat digunakan untuk mendukung peningkatan minat serta literasi membaca siswa [27].

    4. Kepraktisan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Kepraktisan bahan ajar cerita rakyat dievaluasi melalui observasi pembelajaran serta respons guru dan siswa untuk mengetahui kemudahan penggunaan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pembelajaran siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gatterang Kabupaten Bulukumba.

    Kepraktisan yang mencapai skor 97 dari guru dan 89% dari siswa menunjukkan bahwa bahan ajar ini bersifat user-friendly. Temuan ini relevan dengan kajian teori mengenai fungsi bahan ajar sebagai sarana untuk memperjelas informasi agar tidak bersifat verbalistik semata. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Sari dkk. (2020) yang menyatakan bahwa bahan ajar yang mengintegrasikan ilustrasi menarik dan konten kontekstual terbukti praktis untuk meningkatkan keterlibatan siswa di dalam kelas, sebagaimana yang terjadi pada siswa kelas IV SDN 42 Gattareng.

    Berdasarkan hasil observasi dan tanggapan guru maupun siswa, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang dikembangkan praktis digunakan dalam pembelajaran, memfasilitasi proses belajar mengajar, dan mendukung peningkatan minat serta literasi membaca siswa kelas IV SD secara efektif dan menyenangkan [28].

    Hasil validasi ahli media sebesar 96% dan ahli materi 98% menunjukkan kateori “sangat valid”. Hasil ini menandakan bahwa bahan ajar telah memenuhi kriteria bahan ajar yang baik, yaitu valid, praktis, menarik, dan mudah dipahami siswa. Selain itu, penyusunan isi, Bahasa, dan sistematika yang konsisten membuat materi lebih jelas dan tidak membingungkan peserta didik.

    5. Keefektifan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Cerita Rakyat dalam Meningkatkan Minat dan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba

    Untuk mengetahui efektivitas bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat dalam meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba, dilakukan perbandingan nilai pretest dan posttest siswa. Perbandingan ini bertujuan untuk menilai sejauh mana kemampuan literasi membaca siswa meningkat setelah mengikuti pembelajaran menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.

    a. Uji Coba I (Skala Kecil)

    Pada uji coba I (skala kecil),diperoleh data 84, dengan rata-rata 83,00 dan standar deviasi 1,414, menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa masih relatif rendah pada tahap awal. Minat membaca: nilai pretest berkisar antara 82–92, dengan rata-rata 87,00 dan standar deviasi 7,071, yang menunjukkan variasi minat membaca antar siswa cukup signifikan meskipun secara umum sudah menunjukkan ketertarikan awal terhadap materi.

    Data menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan minat membaca siswa sebelum penggunaan bahan ajar masih terbatas. Setelah penerapan bahan ajar cerita rakyat, hasil posttestmengalami peningkatan sehingga menunuukkan bahwa bahan ajar efektif digunakan pada uji coba skala kecil. Selain meningkatkan pemahaman cerita rakyat, bahan ajar ini juga membantu menumbuhkan minat membaca dan menciptakan pembelajaran yang lebih menarik serta interaktif.

    Peningkatan ini menunjukkan bahwa bahan ajar cerita rakyat efektif dalam meningkatkan literasi membaca siswa pada skala kecil, termasuk bagi siswa yang sebelumnya memiliki kemampuan membaca di tingkat lebih rendah.

    Secara teoretis, peningkatan tersebut terjadi karena bahan ajar cerita rakyat mampu menghadirkan aktivitas membaca yang bermakna dan sesuai dengan pengalaman siswa. Dalam teori literasi membaca dijelaskan bahwa pemahaman bacaan akan lebih mudah berkembang apabila siswa membaca teks yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita rakyat lokal memberikan konteks yang familiar sehingga siswa lebih mudah memahami isi bacaan, mengenali alur cerita, serta menangkap pesan moral yang disampaikan. Kondisi ini membantu siswa membangun keterampilan memahami teks secara bertahap melalui proses membaca yang aktif dan reflektif.

    b. Uji Coba II (Skala Besar)

    Uji coba II dilakukan pada seluruh siswa kelas IV sebagai penerapan bahan ajar dalam skala lebih luas. Hasil pretest literasi membaca siswa berkisar antara 66 hingga 75, sedangkan posttest meningkat menjadi 75 hingga 84, dengan rata-rata posttest sebesar 80,29.

    Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mencapai kategori literasi membaca tinggi setelah menggunakan bahan ajar. Nilai rata-rata minat membaca juga meningkat dari 57,29 menjadi 89,76, yang menandakan bahwa bahan ajar efektif meningkatkan ketertarikan siswa terhadap cerita rakyat, termasuk pada siswa dengan nilai awal rendah.

    Hasil uji coba skala kecil dan skala besar menunjukkan konsistensi dalam efektivitas bahan ajar. Baik pada uji coba awal maupun penerapan skala besar, nilai literasi membaca dan minat membaca siswa meningkat secara signifikan, yang menegaskan bahwa bahan ajar cerita rakyat yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif [29].

    Secara keseluruhan pada keefektifan bahan ajar dalam penelitian ini dibuktikan melalui peningkatan signifikan pada kemampuan literasi dan minat membaca siswa. Nilai rata-rata literasi membaca meningkat dari 70,71 menjadi 80,29, menunjukkan bahwa bahan ajar cerita rakyat membantu siswa memahami unsur bacaan seperti ide pokok, tokoh, latar, dan pesan moral. Minat membaca siswa juga meninglat signifikan dari 57,29% menjadi 89,76. Temuan ini membuktikan teori yang dipaparkan pada Bab II bahwa minat tumbuh melalui adanya rangsangan visual dan kedekatan emosional terhadap konten bacaan. Hasil ini juga didukung oleh penelitian Crismest dkk. (2025) yang menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara penggunaan bahan ajar inovatif dengan tingkat minat belajar siswa, yang pada akhirnya menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan bermakna di kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng [30].

    Peningkatan tersebut terjadi karena bahan ajar cerita rakyat memberikan pengalaman membaca yang lebih kontekstual. Cerita local membuat siswa lebih dekat denga nisi bacaan sehingga lebih mudah memahami teks, meningkatkan rasa ingin tahu, dan lebih aktif dalam kegiatan membaca.

    Dalam teori pembelajaran berbasis budaya lokal dijelaskan bahwa materi yang relevan dengan budaya peserta didik dapat meningkatkan motivasi belajar dan memperkuat pemahaman konsep karena siswa belajar melalui pengalaman yang familiar bagi mereka. Selain itu, ilustrasi gambar dan penggunaan bahasa sederhana dalam bahan ajar juga membantu siswa sekolah dasar memahami isi cerita dengan lebih mudah sehingga proses literasi membaca menjadi lebih efektif dan menyenangkan.

    Efektivitas bahan ajar dipengaruhi oleh penyajian materi yang sistematis, komunikatif, dan sesuai dengan perkembangan siswa SD. Tampilan menarik serta Latihan memahami bacaan membantu meningkatkan perhatian, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman teks, sehingga tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca tetapi juga menumbuhkan kebiasaan membaca yang positif.

    Selain itu, cerita rakyat berbasis budaya lokal mampu menciptakan kedekatan emosional siswa dengan bahan bacaan. Kedekatan tersebut meningkatkan rasa ingin tahu dan motivasi membaca siswa. Oleh karena itu, integrasi budaya lokal dalam bahan ajar menjadi strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan literasi membaca di sekolah dasar.

    KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan, didapatkan Kesimpulan bahwa:

    Pengembangan bahan ajar berbasis cerita rakyat lokal ini menunjukkan bahwa integrasi budaya daerah dalam pembelajaran dapat menjadi alternatif pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan bermakna bagi siswa sekolah dasar. Selain membantu meningkatkan kemampuan literasi membaca, bahan ajar juga berperan dalam mengenalkan nilai budaya lokal kepada siswa secara berkelanjutan.

    1. Penelitian ini menghasilkan sebuah produk berupa bahan ajar Bahasa Indonesia materi cerita rakyat yang dikembangkan sebagai media inovatif untuk menunjang proses pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas IV UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba.

    2. Bahan ajar Bahan ajar cerita rakyat yang dikembangkan dinilai valid berdasarkan penilaian dari dua kelompok validator, yaitu ahli media dan ahli materi. Hasil validasi secara rinci adalah sebagai berikut:

    a. Pada validasi ahli media, dari 17 indikator penilaian, sebanyak 16 indikator dinilai sangat relevan dan 1 indikator dinilai relevan, dengan total nilai 54, sehingga menghasilkan persentase 96% dan dikategorikan sangat valid.

    b. Pada validasi ahli materi, 16 dari 17 indikator dinilai sangat relevan dan 1 indikator relevan dengan presentase 98% sehingga termasuk kategori sangat valid.

    Hasil ini menunjukkan bahwa bahan ajar telah memenuhi validitas tinggi dari aspek materi dan media serta sesuai dengan kebutuhan siswa SD, baik dari isi, Bahasa, tampilan, maupun pembelajaran berbasis budaya local.

    Kepraktisan bahan ajar menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan mudah digunakan oleh guru maupun siswa, sehingga dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan menyenangkan di kelas.

    3. Bahan ajar cerita rakyat dinyatakan sangat sangat praktis digunakan dalam pembelajaran. Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran oleh observer (guru kelas IV) menunjukkan skor 70 dan 72, yang termasuk dalam kategori terlaksana sangat baik, sehingga penerapan bahan ajar dapat dilakukan dengan lancar. Selain itu, tanggapan guru melalui angket juga menunjukkan skor tinggi dan dikategorikan sangat praktis, menegaskan kemudahan penggunaan bahan ajar dalam proses belajar mengajar.

    4. Bahan ajar cerita rakyat dinyatakan efektif efektif dalam meningkatkan minat dan literasi membaca siswa kelas IV. Hal ini dibuktikan melalui Group Statistics pretest dan posttest, yaitu:

    a. Literasi membaca: rata-rata nilai pretest sebesar 70,71 meningkat menjadi 80,29 pada posttest, dengan standar deviasi masing-masing 3,601 dan 3,738, serta standar error 0,873 dan 0,907.

    b. Minat membaca: rata-rata ni;ai pretest sebesar 57,29 meningkat menjadi 89,76 pada posttest, dengan standar deviasi masing-masing 8,740 dan 3,800, serta standar error 1,1,50 dan 0,922.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar cerita rakyat mampu meningkatkan minat dan literasi membaca siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif dan efektif. Penggunaan cerita berbasis budaya local membuat siswa lebih mudah memahami bacaan karena sesuai dengan lingkungan mereka. Oleh sebab itu, bahan ajar cerita rakyat dapat digunakan secara berkelanjutan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk mendukung penguatan literasi membaca siswa SD.

    Penggunaan bahan ajar yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan siswa dapat membantu meningkatkan minat membaca, memperkuat kemampuan literasi, serta menanamkan nilai budaya daerah kepada siswa sejak dini. Selain itu, guru juga dapat mengembangkan bahan ajar serupa dengan memanfaatkan cerita rakyat dari lingkungan sekitar agar proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Penulis mengucapkan terima kasih kepada UPT SPF SDN 42 Gattareng Kabupaten Bulukumba, khususnya guru dan siswa kelas IV, atas dukungan dan partisipasinya dalam penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada para validator ahli yang telah memberikan masukan berharga, sehingga pengembangan bahan ajar ini dapat terlaksana dengan baik.

References

[1] M. Z. Roziqin, Moral Pendidikan di Era Global: Pergeseran Pola Interaksi Guru-Murid di Era Global, 1st ed. Malang: Averroes Press, 2007.

[2] Kemdikbud, Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka, 2022.

[3] N. Fatimah, R. D. Utami, U. M. Surakarta, L. Siswa, and P. Aktif, “Implementasi Kurikulum Merdeka pada pelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar,” Else (Elementary School Education), vol. 8, no. 3, pp. 307–316, 2024.

[4] D. Febrianty et al., “Pemanfaatan cerita rakyat sebagai materi pembelajaran Bahasa Indonesia untuk menumbuhkan karakter bangsa,” JCRD: Journal of Citizen Research and Development, vol. 2, no. 1, pp. 424–428, 2025.

[5] A. K. Syam, S. A. Latief, and A. Syakur, “Efektivitas penerapan metode outing class terhadap kemampuan menulis deskripsi siswa kelas V SD,” Didaktika: Jurnal Kependidikan, vol. 13, no. 1, pp. 991–998, 2024.

[6] E. Harianto, “Keterampilan membaca dalam pembelajaran bahasa,” Didaktika: Jurnal Kependidikan, vol. 9, no. 1, pp. 1–8, 2020.

[7] D. Cunandar, D. Z. Khaerunnisa, and A. Sutisna, “Bahan ajar berbasis karakter cerita rakyat untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di SD,” vol. 8, pp. 77–88, 2023.

[8] Kemdikbudristek, PISA 2022 dan Pemulihan Pembelajaran di Indonesia, 2023.

[9] D. Wahyuni, “Pengembangan bahan ajar cerita rakyat Tana Luwu terintegrasi pendidikan karakter di sekolah dasar,” Socratika: Journal of Progressive Education and Social Inquiry, vol. 1, no. 2, 2024.

[10] R. P. Dewi et al., “Faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya minat baca siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar,” Katalis Pendidikan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Matematika, vol. 2, 2025.

[11] N. M. Meidiani et al., “Pengembangan bahan ajar apresiasi sastra anak di sekolah dasar,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan, vol. 10, pp. 285–296, 2025.

[12] D. G. S. Gogahu and T. Prasetyo, “Pengembangan media pembelajaran berbasis e-bookstory untuk meningkatkan literasi membaca siswa sekolah dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 4, no. 4, pp. 1004–1015, 2020.

[13] S. Sudirman, “Bernyanyi untuk belajar: Mengoptimalkan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode bernyanyi,” Socratika: Journal of Progressive Education and Social Inquiry, pp. 149–156, 2022.

[14] Y. Hatima, “Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk menumbuhkan karakter siswa sekolah dasar,” Journal of Humanities, Social Sciences, and Education (JHUSE), vol. 1, no. 3, pp. 24–39, 2025.

[15] M. Mastiah, N. S. Mutaqin, and A. Tirsa, “Pengembangan buku cerita rakyat berbasis kearifan lokal suku Dayak Randuk,” CALLS, vol. 7, pp. 53–66, 2021.

[16] D. Cunandar, D. Z. Khaerunnisa, and A. Sutisna, “Bahan ajar berbasis karakter cerita rakyat untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di SD,” vol. 8, pp. 77–88, 2023.

[17] N. Ulfa Martha and N. P. Andini, “Pengembangan bahan ajar mata pelajaran Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat Kabupaten Banjarnegara,” JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran), vol. 5, no. 2, p. 185, 2019, doi: 10.22219/jinop.v5i2.9992.

[18] S. T. Sivasailam and M. I. S. Dorothy, Instructional Development for Training Teachers of Exceptional Children: A Sourcebook. Leadership Training Institute/Special Education, 1974.

[19] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 3rd ed. Bandung: Alfabeta, 2021.

[20] R. Anggraini, “Kajian teori keterampilan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,” 2023.

[21] N. Anjani, A. Adrias, and A. P. Zulkarnaini, “Tinjauan literatur tentang pengaruh kebiasaan membaca terhadap hasil belajar siswa sekolah dasar,” Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, 2025.

[22] Y. Annaningsih, “Hubungan antara literasi membaca dan prestasi belajar siswa sekolah dasar,” vol. 5, pp. 161–165, 2025.

[23] E. S. Apriliyani, “A literature review on their role in addressing future challenges,” TofEdu: The Future of Education Journal, vol. 4, no. 5, pp. 1213–1220, 2025.

[24] F. D. Hasibuan and S. Q. Ain, “Strategi guru dalam menumbuhkan minat baca pada siswa kelas IV di SDN 10 Kecamatan Kandis,” Didaktika: Jurnal Kependidikan, vol. 13, no. 2, pp. 1469–1478, 2024, doi: 10.58230/27454312.707.

[25] E. Linggasari and E. Rochaendi, “Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar melalui model literasi,” Literasi, vol. 13, no. 1, pp. 42–46, 2022.

[26] E. N. Banowati et al., “Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa kelas II di SDN 2 Kedungsarimulyo,” Alfihris: Jurnal Inspirasi Pendidikan, vol. 1, no. 4, pp. 116–127, 2023, doi: 10.59246/alfihris.v1i4.448.

[27] M. F. Ferando et al., “Pemanfaatan cerita rakyat sebagai media penguatan literasi Bahasa Indonesia,” Jurnal Ilmuan Bahasa dan Sastra Inggris, vol. 3, no. 1, pp. 301–316, 2025.

[28] M. A. Fitriani and A. A. Putri, “Analisis pengembangan bahan ajar,” Nusantara: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 2, pp. 170–187, 2020.

[29] A. N. Gomes, S. Istiningsih, and N. Nurwahidah, “Literasi membaca dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IV sekolah dasar,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 10, no. 2, pp. 497–502, 2024, doi: 10.31949/educatio.v10i2.8431.

[30] T. Juniar, R. Setiyadi, and E. Susanti, “Pengembangan bahan ajar materi teks cerita rakyat dengan menggunakan pendekatan saintifik berbasis aplikasi Canva untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada teks cerita siswa kelas IV SD,” Jurnal Profesi Pendidikan (JPP), vol. 2, no. 1, pp. 22–29, 2023, doi: 10.22460/jpp.v2i1.12647.