Izza Rasuna Arujie (1), Minto Waluyo (2)
General Background: Competitive café markets require effective marketing strategies that shape consumer decisions, satisfaction, repeat purchasing, and long-term customer attachment. Specific Background: Nature-themed cafés offer dining experiences through menu quality, pricing, location, ambience, and promotional activities, yet customer satisfaction may decline when perceived value, atmosphere, and communication do not match expectations. Knowledge Gap: Previous marketing mix studies have produced inconsistent findings and rarely examine the sequential relationship from 4P marketing mix to purchase decision, customer satisfaction, repeat purchase, and customer loyalty in nature-themed café settings. Aims: This study aimed to analyze the relationships between product, price, place, promotion, purchase decision, customer satisfaction, repeat purchase, and customer loyalty using Structural Equation Modeling. Results: Data from 120 respondents were analyzed using SEM-AMOS. The modified model showed acceptable fit, with probability of 0.294, CMIN/DF of 1.059, RMSEA of 0.022, TLI of 0.986, and CFI of 0.988. Product and price had significant relationships with purchase decision, while place and promotion were not significant. Purchase decision significantly related to customer satisfaction, customer satisfaction significantly related to repeat purchase, and repeat purchase significantly related to customer loyalty. Price became the dominant factor in the simultaneous model. Novelty: This study examines a staged consumer behavior model linking 4P marketing mix to loyalty formation in a nature-themed café context. Implications: Managers should prioritize menu quality, value-based pricing, customer satisfaction control, and repeat-visit strategies to maintain sustainable customer loyalty.
Highlights:
Keywords: 4Ps of Marketing, Purchase Decisions, Repurchase, Customer Satisfaction, Customer Loyalty.
Marketing Mix Pathways to Loyalty in Nature Themed Cafes
Izza Rasuna Arujie1)*, Minto Waluyo2)
1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Indonesia
2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Indonesia
*Email Penulis Korespondensi: 22032010188@student.upnjatim.ac.id
Abstract . Persaingan bisnis di industri kafe yang semakin ketat menuntut pelaku usaha untuk mampu mengelola strategi pemasaran secara efektif, khususnya melalui marketing mix 4P ( product , price , place , promotion ). Ketidaktepatan dalam pengelolaan aspek tersebut dapat memengaruhi keputusan pembelian, kepuasan pelanggan, pembelian ulang, hingga loyalitas pelanggan. Kafe yang berlokasi di Trawas , Mojokerto, sebagai kafe dengan konsep alam dan suasana sejuk, juga menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan strategi pemasaran guna meningkatkan perilaku konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh marketing mix 4P terhadap keputusan pembelian, kepuasan pelanggan, pembelian ulang, dan loyalitas pelanggan pada Kafe. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis hubungan simultan antar variabel dalam model penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel product dan price berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan place dan promotion tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Selain itu, keputusan pembelian berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan, kepuasan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap pembelian ulang, dan pembelian ulang berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk dan kesesuaian harga menjadi faktor utama yang memengaruhi perilaku konsumen pada industri kafe. Oleh karena itu, pihak manajemen perlu memprioritaskan peningkatan kualitas produk serta menjaga kesesuaian harga dengan manfaat yang diterima pelanggan guna meningkatkan kepuasan, pembelian ulang, dan loyalitas pelanggan secara berkelanjutan. Model simultan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah Y1 = 0.339X1 + 0.603X2+0.132X3 + 0.156X4; Y2 = 0.343X1 + 0.611X2+ 0.134X3 + 0.158X4; Y3 = 0.333X1 + 0.593X2+ 0.130X3 + 0.153X4 ; dan Y4 = 0.346X1 + 0.6152 X2 + 0.135X3 + 0.159X4 .
Keywords - Bauran Pemasaran 4P, Keputusan Pembelian, Pembelian Ulang, Kepuasan Pelanggan, Loyalitas Pelanggan .
Industri kuliner di Indonesia mengalami perkembangan pesat seiring globalisasi, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat modern. Sektor kafe menjadi salah satu yang paling berkembang karena pergeseran aktivitas sosial dari rumah ke kafe, seperti diskusi, bisnis, dan pertemuan informal 1. Persaingan yang semakin ketat menuntut pelaku usaha untuk menyusun strategi pemasaran yang tepat agar tetap relevan. Faktor seperti kualitas produk, harga, lokasi, dan promosi menjadi penentu utama dalam menarik pelanggan 2. Oleh karena itu, pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi sangat penting dalam menghadapi dinamika pasar.
Marketing mix 4P yang terdiri dari product, price, place, dan promotion telah banyak digunakan dalam penelitian untuk menganalisis perilaku konsumen, khususnya pada industri kuliner dan kafe. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa marketing mix berpengaruh terhadap keputusan pembelian, kepuasan pelanggan, hingga loyalitas pelanggan. Namun, hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan adanya perbedaan temuan pada masing-masing variabel. Beberapa penelitian menyatakan bahwa seluruh variabel marketing mix berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan penelitian lain menunjukkan bahwa tidak semua variabel memiliki pengaruh yang signifikan, khususnya pada aspek lokasi dan promosi. Selain itu, sebagian besar penelitian sebelumnya hanya berfokus pada pengaruh langsung marketing mix terhadap keputusan pembelian atau kepuasan pelanggan, sehingga hubungan berkelanjutan hingga pembelian ulang dan loyalitas pelanggan masih belum banyak dibahas secara komprehensif, terutama pada kafe dengan konsep alam.
Kafe ini merupakan salah satu kafe di Trawas, Mojokerto yang mengusung konsep alam dengan pemandangan sawah dan pegunungan. Kafe ini menawarkan pengalaman tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menarik. Keunikan konsep, suasana asri, serta menu khas menjadi daya tarik utama bagi konsumen. Hal tersebut membuat kafe ini sempat menjadi pelopor dan tujuan utama wisatawan di kawasan tersebut. Loyalitas pelanggan dapat terbentuk apabila kafe mampu menjaga kepuasan dan hubungan positif dengan konsumennya.
Namun, berdasarkan pengamatan dan ulasan pelanggan, tingkat kepuasan di Kafe ini mengalami penurunan dalam satu tahun terakhir. Hasil pra-survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai harga tidak sebanding dengan kualitas, serta terjadi penurunan pada suasana dan promosi. Dampaknya, banyak pelanggan menjadi ragu untuk melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan kafe tersebut. Permasalahan ini dapat dianalisis menggunakan konsep MarketingMix (4P) yang meliputi produk, harga, tempat, dan promosi. Evaluasi terhadap keempat aspek ini penting untuk mengetahui faktor yang paling memengaruhi kepuasan dan perilaku konsumen.
Penelitian ini menggunakan metode StructuralEquationModelling (SEM) untuk menganalisis hubungan antar variabel secara komprehensif 3. SEM mampu menguji pengaruh langsung dan tidak langsung antara marketing mix terhadap keputusan pembelian, kepuasan pelanggan, pembelian ulang, dan loyalitas pelanggan. Kebaruan dalam penelitian ini terletak pada pengujian hubungan berjenjang antara marketing mix 4P, keputusan pembelian, kepuasan pelanggan, pembelian ulang, hingga loyalitas pelanggan pada kafe bertema alam. Penelitian ini tidak hanya menganalisis keputusan pembelian, tetapi juga menjelaskan bagaimana keputusan pembelian dapat memengaruhi kepuasan pelanggan, pembelian ulang, dan loyalitas pelanggan secara berkelanjutan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi pemasaran yang lebih efektif serta menjadi referensi bagi pelaku usaha kafe dalam meningkatkan daya saing dan mempertahankan loyalitas pelanggan..
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode StructuralEquation Modeling (SEM) untuk menganalisis hubungan antar variabel yang diteliti. SEM merupakan teknik analisis multivariat yang merupakan pengembangan dari analisis jalur (pathanalysis) dan regresi berganda (multipleregression), yang digunakan untuk menguji hubungan kausalitas antar variabel secara simultan dalam suatu model penelitian. Metode ini memungkinkan peneliti untuk menganalisis hubungan yang kompleks antara variabel laten dan variabel terukur secara lebih komprehensif 4.
Dalam penerapannya, SEM memiliki dua aspek utama, yaitu analisis hubungan antar variabel dalam bentuk persamaan struktural serta pemodelan hubungan tersebut dalam bentuk diagram alur (path diagram). Diagram ini digunakan untuk mempermudah pemahaman terhadap hubungan kausalitas antar variabel yang diteliti. Selain itu, SEM juga memungkinkan pengujian beberapa hipotesis secara bersamaan dengan mempertimbangkan kesesuaian model (goodnessof fit), validitas, serta reliabilitas konstruk yang digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Covariance-Based SEM (CB-SEM) dengan bantuan software AMOS, karena bertujuan untuk menguji model teoritis yang telah dikembangkan berdasarkan kajian literatur dan penelitian terdahulu 5. Teknik estimasi yang digunakan adalah MaximumLikelihoodEstimation (MLE), yang umum digunakan dalam SEM karena mampu memberikan estimasi parameter yang efisien dan akurat apabila asumsi normalitas data terpenuhi 6.
Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner sebagai data utama, sedangkan observasi dan wawancara digunakan sebagai data pendukung untuk memahami kondisi aktual Kafe serta mengidentifikasi fenomena penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu responden yang telah melakukan pembelian minimal tiga kali di Kafe. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 120 responden dan telah memenuhi persyaratan minimum dalam analisis SEM dengan teknik estimasi MaximumLikelihood.
Instrumen penelitian menggunakan skala Likert 1–5, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Variabel product (X1) diukur menggunakan indikator variasi produk, kualitas produk, dan tampilan produk. Variabel price (X2) diukur menggunakan indikator keterjangkauan harga dan kesesuaian harga dengan kualitas produk dan daya saing dengan kompetitor. Variabel place (X3) diukur melalui indikator akses menuju lokasi, tempat parkir yang luas, lokasi yang strategis, dan kenyamanan tempat. Variabel promotion (X4) diukur menggunakan indikator frekuensi promosi, kualitas promosi, ketepatan sasaran promosi, dan kesesuaian promosi dengan kondisi nyata. Variabel keputusan pembelian (Y1) diukur melalui indikator minat transaksional, minat preferensial, dan minat eksploratif. Variabel kepuasan pelanggan (Y2) diukur melalui indikator kesesuaian harapan, minat kunjung kembali, sistem keluhan dan saran, serta kesediaan merekomendasikan kepada orang lain. Variabel pembelian ulang (Y3) diukur menggunakan indikator minat repeat order, rekomendasi kepada orang lain, dan tidak berpindah ke merek lain. Variabel loyalitas pelanggan (Y4) diukur menggunakan indikator pembelian secara kontinyu, menyampaikan hal positif kepada orang lain, tetap membeli meskipun harga meningkat, dan perhatian terhadap produk. Indikator-indikator tersebut disusun berdasarkan kajian literatur dan penelitian terdahulu yang relevan.
Tahapan penelitian dilakukan secara sistematis yang diawali dengan studi lapangan dan studi literatur untuk mengidentifikasi permasalahan serta menentukan variabel penelitian. Selanjutnya dilakukan penyusunan model konseptual dalam bentuk path diagram yang menggambarkan hubungan antar variabel independen dan dependen. Model tersebut kemudian dikonversikan ke dalam persamaan struktural dan model pengukuran. Analisis SEM dilakukan melalui tiga tahap utama, yaitu measurement model, structural model, dan modification model 7. Measurement model digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas indikator dalam mengukur konstruk laten, sedangkan structural model digunakan untuk menguji hubungan kausalitas antar variabel dalam model penelitian. Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk mengukur sah, atau valid tidaknya suatu kuesioner. Dalam penentuan layak atau tidaknya suatu item yang akan digunakan, biasanya dilakukan uji signifikansi koefisien korelasi pada taraf signifikansi 0,05, artinya suatu item dianggap valid jika berkorelasi signifikan terhadap skor total 8. Uji signifikansi merupakan metode statistik yang digun akan untuk menentukan apakah suatu hasil penelitian memiliki makna secara statistik atau hanya terjadi karena kebetulan. Uji t adalah metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis komperatif antara dua sampel ketika data berada pada skala interval atau rasio 9. Uji signifikansi parameter dilakukan dengan menggunakan rumus statistik uji t sebagai berikut:
Gambar 1. Measurement Model
Uji validitas dilakukan untuk memastikan bahwa setiap indikator mampu merepresentasikan konstruk yang diteliti secara tepat. Berdasarkan hasil analisis, seluruh indikator memiliki nilai CriticalRatio (C.R) lebih besar dari dua kali standar error (2SE), sehingga dapat dinyatakan valid 13. Kekuatan indikator dalam membentuk variabel laten dianalisis melalui nilai regressionweight dengan uji signifikansi menggunakan nilai C.R yang setara dengan t-hitung. Nilai tersebut dibandingkan dengan t-tabel pada tingkat signifikansi 0,05, dengan derajat kebebasan yang menghasilkan nilai t-tabel sebesar 1,703. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai C.R lebih besar dari t-tabel, sehingga dinyatakan signifikan dalam membentuk konstruk laten. Setelah uji validitas dan signifikansi terpenuhi, dilakukan uji reliabilitas untuk menilai konsistensi dan stabilitas indikator dalam mengukur konstruk. Berdasarkan hasil perhitungan, seluruh variabel memiliki nilai reliabilitas ≥ 0,70, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua indikator telah memenuhi kriteria reliabilitas. Uji korelasi dilakukan untuk memastikan tidak adanya hubungan yang terlalu kuat antar variabel eksogen dalam model. Nilai korelasi yang berada di bawah 0,80 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas, sehingga model masih dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Hasil uji korelasi antar variabel dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Uji Korelasi
Untuk memperkuat hasil tersebut, dilakukan pengujian menggunakan nilai VarianceInflationFactor (VIF) sebagai indikator tambahan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai VIF < 10, yang menandakan tidak terdapat gejala multikolinearitas dalam model 14. Dengan demikian, model penelitian dinyatakan layak digunakan tanpa perlu melakukan penghapusan variabel maupun penambahan jumlah responden. Hasil uji multikoleniaritas antar variabel eksogen dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Uji Multiokoleniaritas
Gambar 2. Structural Model
Hasil pengujian menunjukkan bahwa masih terdapat enam parameter yang belum memenuhi kriteria, sehingga model belum mampu merepresentasikan hubungan antar variabel secara akurat. Oleh karena itu, dilakukan proses modifikasi model untuk meningkatkan kesesuaian model. Nilai ModificationIndices (MI) pada tahap structural model dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. ModificationIndices (MI)
Modifikasi dilakukan dengan mengacu pada nilai modificationindices (MI) terbesar sebagai prioritas perbaikan. Nilai MI yang digunakan sebagai dasar modifikasi model.
Pada tahap ini uji goodnessof fit dilakukan dengan membandingkan nilai hasil model terhadap nilai kritis yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil, sebagian besar indikator telah memenuhi kriteria, meskipun GFI dan AGFI masih berada pada kategori cukup. Namun, model tetap dapat dinyatakan layak karena telah memenuhi sebagian besar indikator kelayakan. Hal ini sesuai dengan 15 . bahwa 4–5 indikator sudah cukup untuk menilai kesesuaian model. Dengan demikian, model dapat dikatakan fit dan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Pada Gambar 3 menyajikan modification model yang dihasilkan dalam penelitian ini sebagai hasil dari tahap modifikasi model untuk menyesuaikan kriteria uji Godnessof Fit.
Gambar 3. Modification Model
Dari gambar 3. Model modification didapatkan hasil uji Goodnessof Fit yang diperoleh dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Uji Goodnessof Fit Modification Model
Modifikasi model dilakukan berdasarkan nilai ModificationIndices (MI) terbesar dengan menghubungkan kovarians antar variabel. Proses ini dilakukan hingga tidak terdapat lagi nilai MI yang perlu diperbaiki. Setelah modifikasi, sebagian besar indikator menunjukkan hasil yang lebih baik. Uji validitas dilakukan untuk memastikan indikator mampu mengukur variabel secara tepat dengan kriteria C.R > 2SE. Hasil menunjukkan seluruh indikator telah memenuhi kriteria validitas. Uji signifikansi menggunakan perbandingan nilai C.R dengan t-tabel sebesar 1,703 dan menunjukkan semua indikator signifikan. Uji reliabilitas juga menunjukkan nilai ≥ 0,70 sehingga konstruk dinyatakan reliabel. Dengan demikian, model sudah valid, signifikan, dan reliabel. Nilai uji validitas dan uji signifikansi pada tahap modification model dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Uji Validitas dan Uji Signifikansi
Persamaan simultan dalam penelitian ini disusun untuk menjelaskan hubungan kausal antar variabel yang terdapat dalam model penelitian. Persamaan tersebut menggambarkan arah serta besarnya pengaruh antar variabel berdasarkan hasil estimasi dari model struktural yang telah diperoleh. Penyusunan persamaan simultan dilakukan dengan mengacu pada nilai koefisien jalur (pathcoefficient) yang dihasilkan dari proses pengolahan data, sehingga dapat menunjukkan keterkaitan antar variabel dalam model secara sistematis. Oleh karena itu, persamaan simultan yang dibangun dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Model Parsial
Uji hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai CriticalRatio (C.R) atau t-hitung dengan nilai t-tabel sebesar 1,703. Apabila nilai C.R lebih kecil dari t-tabel (C.R < 1,703), maka hipotesis nol (H0) diterima. Sebaliknya, jika nilai C.R lebih besar dari t-tabel (C.R > 1,703), maka hipotesis alternatif (H1) diterima. Dengan demikian, keputusan penerimaan atau penolakan hipotesis didasarkan pada hasil perbandingan antara nilai C.R dan t-tabel. Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut. Nilai uji hipotesis dalam penelitian ini ditampilkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Uji Hipotesis
Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara online kepada responden yang pernah melakukan pembelian di Kafe. Jumlah responden yang diperoleh sebanyak 120 orang dan telah memenuhi syarat estimasi MaximumLikelihood (ML) dalam analisis SEM, sehingga data yang digunakan dinilai memadai untuk proses pengolahan lebih lanjut 16 . Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama yaitu measurement model, structural model, dan modification model yang dilakukan secara sistematis. Hasil pengujian pada tahap measurement model menunjukkan bahwa nilai goodnessof fit belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang ditetapkan sehingga model awal masih perlu dievaluasi. Namun demikian, hasil uji validitas, reliabilitas, dan signifikansi menunjukkan bahwa seluruh indikator telah valid, reliabel, serta memiliki hubungan yang signifikan sehingga tetap dapat digunakan dalam analisis selanjutnya.
Hasil uji korelasi antar variabel menunjukkan bahwa seluruh variabel eksogen memiliki nilai korelasi di bawah 0,80 sehingga tidak terjadi gejala multikolinearitas dalam model penelitian. Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan antar variabel masih dalam batas wajar dan tidak saling mempengaruhi secara berlebihan 17. Dengan demikian, model tidak memerlukan penghapusan variabel maupun penambahan jumlah responden untuk memperbaiki hubungan antar variabel. Pada tahap structural model, hasil pengujian goodnessof fit menunjukkan bahwa hanya beberapa indikator seperti CMIN/DF dan RMSEA yang memenuhi kriteria, sedangkan indikator lainnya belum memenuhi standar. Nilai Chi-square, GFI, AGFI, TLI, dan CFI yang belum sesuai menunjukkan bahwa model masih perlu dilakukan perbaikan agar lebih representatif.
Proses modifikasi model dilakukan dengan mengacu pada nilai ModificationIndices (MI) terbesar yang terdapat pada output AMOS sebagai dasar dalam perbaikan model. Hasil modifikasi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada nilai goodnessof fit dibandingkan model sebelumnya. Sebagian besar indikator telah memenuhi kriteria yang ditetapkan, meskipun masih terdapat indikator seperti GFI yang berada pada kategori cukup. Selain itu, nilai standardizedresidual telah berada dalam rentang -2,58 hingga 2,58 yang menunjukkan bahwa model telah mencapai kondisi yang optimal. Uji validitas dan reliabilitas pada model yang telah dimodifikasi juga menunjukkan hasil yang baik sehingga model dapat dinyatakan layak untuk digunakan dalam analisis lanjutan.
Berdasarkan hasil persamaan simultan, variabel product, price, place, dan promotion secara keseluruhan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Namun, place dan promotion berpengaruh positif namun tidak signifikan. Variabel price memiliki pengaruh paling dominan dengan koefisien terbesar, diikuti oleh product, promotion, dan place yang memiliki pengaruh lebih kecil. Namun demikian, hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa hanya product dan price yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan place dan promotion tidak signifikan, temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya 18. Selanjutnya, keputusan pembelian terbukti berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan, kepuasan pelanggan berpengaruh terhadap pembelian ulang, dan pembelian ulang berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan. Hal ini menunjukkan adanya hubungan berantai yang kuat antar variabel dalam model penelitian yang saling mempengaruhi secara berkelanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel price (X2) menjadi faktor yang paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian konsumen di Kafe. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen cenderung mempertimbangkan kesesuaian antara harga dengan kualitas produk serta pengalaman yang diperoleh. Dalam konteks perilaku konsumen, harga tidak hanya dipandang sebagai biaya yang harus dikeluarkan, tetapi juga sebagai indikator nilai yang diterima konsumen. Pada kafe dengan konsep alam seperti Kafe ini, konsumen memiliki ekspektasi terhadap kualitas produk, suasana, dan pengalaman yang sebanding dengan harga yang dibayarkan, sehingga kesesuaian harga menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian. Sementara itu, variabel place (X3) dan promotion (X4) tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini dapat disebabkan karena konsumen yang berkunjung ke Kafe umumnya telah memiliki tujuan untuk menikmati suasana alam dan pengalaman yang ditawarkan, sehingga faktor lokasi tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keputusan pembelian. Selain itu, promosi juga belum memberikan pengaruh signifikan karena keputusan konsumen kemungkinan lebih dipengaruhi oleh pengalaman langsung, rekomendasi dari pelanggan lain, serta suasana kafe yang sesuai dengan preferensi konsumen. Pada kafe bertema alam, pengalaman pelanggan dan rekomendasi orang lain cenderung lebih berpengaruh dibandingkan promosi formal yang dilakukan perusahaan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. baik secara langsung maupun tidak langsung. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kafe, yang telah memberikan izin serta informasi selama proses penelitian.
[2]I. Fawzy, N. Saidah, And S. Sumowo, “Pengaruh Lokasi,Harga Dan Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada Stasiun Cafe Balung Jember,” J. Mhs. Entrep., Vol. 2, No. 1, Pp. 47–51, 2023, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.36841/Jme.V2i1.2625
[3]N. N. Dewi And Rudi Wibowo, “Pengaruh Persepsi Harga, Kualitas Produk Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Keputusan Pembelian Di Minimarket,” J. Ecopreneur, Vol. 4, No. 1, Pp. 30–52, 2021, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.51804/Econ12.V4i1.919
[4]E. A. Hilmiyah And N. Fadhillah, “Pengaruh Marketing Mix Terhadap Loyalitas Pelanggan Di Cafe Seblak Bestie Glatik Ujungpangkah,” J. Qiema (Qomaruddin Islam. Econ. Mag., Vol. 11, No. 2, Pp. 101–117, 2025, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.36835/Qiema.V11i2.4643
[5]S. Haryono, Metode Sem Untuk Penelitian Amos Lisrel Pls, 1st Ed. Bekasi: Pt. Intermedia Personalia Utama, 2016. [Online]. Available: Http://Repository.Umy.Ac.Id/Bitstream/Handle/123456789/2485/E Book Sem Dengan Amos 18.Pdf?Sequence=8
[6]S. Yudapatty, H. Sutopo, And R. . Bramastyo, “Pengaruh Lokasi, Produk, Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Kopi Admiral Navy Coffe Di Surabaya,” Ubhara Manag. J., Vol. 1, No. 1, Pp. 1–8, 2021, [Online]. Available: Http://Journal.Febubhara-Sby.Org/Umj/Article/View/52
[7]R. H. N. Mohammad Rachman W, Minto Waluyo, Structural Equation Modeling, 1st Ed. Malang: Pt. Literasi Nusantara Abadi Grup, 2025. [Online]. Available: Https://Repository.Upnjatim.Ac.Id/43694/1/23-8-25 Buku Mudah Cepat Tepat Sip Sabrina%281%29.Pdf
[8]H. Mardiani, Saleh, “Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Pada Proyek Pembangunan Gedung Asrama Man 1 Tulehu Maluku Tengah,” J. Simetrik, Vol. 11, No. 1, Pp. 432–439, 2021, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.31959/Js.V11i1.615
[9]I. Wingdes And H. Y. Calvin, “Interaktivitas Faktor Pada Bauran Pemasaran Terhadap Repurchase Intention Pada Café Di Pontianak,” … J. (Accounting …, Vol. 5, No. 1, Pp. 1–13, 2023, [Online]. Available: Https://Www.Doi.Org/10.22303/Accumulated.5.1.2023.01-13
[10]A. Rismawan, T. Mulyana, And S. Munawar, “Pengaruh Experiential Marketing Terhadap Minat Pembelian Ulang Serta Dampaknya Pada Loyalitas Pelanggan Di Pd. Sinar Berkah,” J. Knowl. Manag., Vol. 15, No. 2, P. 99, 2021, Doi: 10.52434/Jkm.V15i2.3133.
[11]A. R. Saputra And K. Kustini, “Strategi Promosi Digital Pada Umkm Sebagai Penerapan Marketing Mix 4p,” Dedication J. Pengabdi. Masy., Vol. 8, No. 2, Pp. 259–268, 2024. Available: Https://Doi.Org/10.31537/Dedication.V8i2.1983.
[12]M. E. Pratama, A.J., Rachman, “Analisis Marketing Mix Terhadap Target Penjualan Kafe Dr. Koffie,” J. Ekon. Dan Manaj. Teknol., Vol. 7, No. 4, 2023, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.35870/Emt.V7i4.1640
[13]R. Sibrani, “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Mahasiswa Dengan Kepuasan Sebagai Variabel Intervening,” J. Ilm. Fak. Tek. Limits, Vol. 17, No. 2, Pp. 43–49, 2021, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.59134/Prosidng.V3i.288
[14]B. Budiarno, I. B. N. Udayana, And A. Lukitaningsih, “Pengaruh Kualitas Layanan, Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan Dalam Membentuk Loyalitas Pelanggan,” Equilib. J. Penelit. Pendidik. Dan Ekon., Vol. 19, No. 02, Pp. 226–233, 2022. Available: Https://Doi.Org/10.25134/Equi.V19i02.4531.
[15]M. Rinaldi, M. N. Prayudyanto, And Syaiful, “Persepsi Masyarakat Terhadap Tingkat Kepuasan Pelayanan Bus Transjabodetabek Dengan Metode Uji Asumsi Klasik Dan Uji Regresi Linear Berganda,” Semin. Nas. Ketekniksipilan, Infrastruktur Dan Ind. Jasa Konstr., Vol. 1, No. 1, Pp. 309–315, 2021, [Online] Available: https://doi.org/10.23887/jptk-undiksha.v17i2.25286.
[16]E. Sihombing, R. E., Nugroho, S. D., & Toha, “Epuasan Pelanggan Melalui Keputusan Pembelian Sebagai Variabel Intervening,” Cakrawala, Vol. 6, No. 2016, 2023, Available: Https://Doi.Org/10.4135/9781412963909.N349.
[17]A. Muzani, U. Arifah, And A. N. Aliefah, “Analisis Marketing Mix Dalam Upaya Meningkatkan Volume Penjualan Home Industry Keripik Singkong Ayu Di Banjareja Menurut Perspektif Ekonomi Islam,” J. Manag. Econ. Entrep., Vol. 2, No. 1, Pp. 157–182, 2023, [Online] Available: http://doi.org/10.30998/sosioekons.v15i1.16303.
[18]B. Teressa, J. I. Lukito, A. Aprilia, And F. Andreani, “Pengaruh Kualitas Produk Dan Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen Dan Minat Beli Ulang Di Wizz Drive Thru Gelato Surabaya,” J. Manaj. Pemasar., Vol. 18, No. 1, Pp. 1–14, 2024. Available: Https://Doi.Org/10.9744/Pemasaran.18.1.1-14.
P. Arisanti, "Tren Gaya Hidup Milenial, Identitas Sosial, dan Desain Coffee Shop," Jurnal Manajemen Bisnis, vol. 18, no. 4, pp. 579–590, 2021, doi: 10.38043/jmb.v18i4.3318.
I. Fawzy, N. Saidah, and S. Sumowo, "Pengaruh Lokasi, Harga, dan Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada Stasiun Cafe Balung Jember," Jurnal Mahasiswa Entrepreneur, vol. 2, no. 1, pp. 47–51, 2023, doi: 10.36841/jme.v2i1.2625.
N. N. Dewi and R. Wibowo, "Pengaruh Persepsi Harga, Kualitas Produk, dan Kualitas Pelayanan terhadap Keputusan Pembelian di Minimarket," Jurnal Ecopreneur, vol. 4, no. 1, pp. 30–52, 2021, doi: 10.51804/econ12.v4i1.919.
E. A. Hilmiyah and N. Fadhillah, "Pengaruh Marketing Mix terhadap Loyalitas Pelanggan di Cafe Seblak Bestie Glatik Ujungpangkah," QIEMA: Qomaruddin Islamic Economy Magazine, vol. 11, no. 2, pp. 101–117, 2025, doi: 10.36835/qiema.v11i2.4643.
S. Haryono, Metode SEM untuk Penelitian AMOS LISREL PLS, 1st ed. Bekasi, Indonesia: PT Intermedia Personalia Utama, 2016.
S. Yudapatty, H. Sutopo, and R. Bramastyo, "Pengaruh Lokasi, Produk, dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Kopi Admiral Navy Coffee di Surabaya," Ubhara Management Journal, vol. 1, no. 1, pp. 1–8, 2021.
M. Waluyo and M. Rachman, Structural Equation Modeling, 1st ed. Malang, Indonesia: PT Literasi Nusantara Abadi Grup, 2025.
H. Mardiani and Saleh, "Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan pada Proyek Pembangunan Gedung Asrama MAN 1 Tulehu Maluku Tengah," Jurnal Simetrik, vol. 11, no. 1, pp. 432–439, 2021, doi: 10.31959/js.v11i1.615.
I. Wingdes and H. Y. Calvin, "Interaktivitas Faktor pada Bauran Pemasaran terhadap Repurchase Intention pada Cafe di Pontianak," Accumulated Journal of Accounting and Management, vol. 5, no. 1, pp. 1–13, 2023, doi: 10.22303/accumulated.5.1.2023.01-13.
A. Rismawan, T. Mulyana, and S. Munawar, "Pengaruh Experiential Marketing terhadap Minat Pembelian Ulang serta Dampaknya pada Loyalitas Pelanggan di PD Sinar Berkah," Jurnal Knowledge Management, vol. 15, no. 2, pp. 99–110, 2021, doi: 10.52434/jkm.v15i2.3133.
A. R. Saputra and K. Kustini, "Strategi Promosi Digital pada UMKM sebagai Penerapan Marketing Mix 4P," Dedication: Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 8, no. 2, pp. 259–268, 2024, doi: 10.31537/dedication.v8i2.1983.
M. E. Pratama, A. J. Rachman, and A. Rachman, "Analisis Marketing Mix terhadap Target Penjualan Kafe Dr. Koffie," Jurnal Ekonomi dan Manajemen Teknologi, vol. 7, no. 4, 2023, doi: 10.35870/emt.v7i4.1640.
R. Sibrani, "Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Loyalitas Mahasiswa dengan Kepuasan sebagai Variabel Intervening," Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik LIMIT'S, vol. 17, no. 2, pp. 43–49, 2021.
B. Budiarno, I. B. N. Udayana, and A. Lukitaningsih, "Pengaruh Kualitas Layanan dan Kualitas Produk terhadap Kepuasan Pelanggan dalam Membentuk Loyalitas Pelanggan," Equilibrium: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Ekonomi, vol. 19, no. 2, pp. 226–233, 2022, doi: 10.25134/equi.v19i02.4531.
M. Rinaldi, M. N. Prayudyanto, and Syaiful, "Persepsi Masyarakat terhadap Tingkat Kepuasan Pelayanan Bus Transjabodetabek dengan Metode Uji Asumsi Klasik dan Uji Regresi Linear Berganda," Seminar Nasional Ketekniksipilan, Infrastruktur, dan Industri Jasa Konstruksi, vol. 1, no. 1, pp. 309–315, 2021.
R. E. Sihombing, S. D. Nugroho, and Toha, "Kepuasan Pelanggan Melalui Keputusan Pembelian sebagai Variabel Intervening," Cakrawala, vol. 6, 2023.
A. Muzani, U. Arifah, and A. N. Aliefah, "Analisis Marketing Mix dalam Upaya Meningkatkan Volume Penjualan Home Industry Keripik Singkong Ayu di Banjareja Menurut Perspektif Ekonomi Islam," Journal of Management, Economics, and Entrepreneurship, vol. 2, no. 1, pp. 157–182, 2023.
B. Teressa, J. I. Lukito, A. Aprilia, and F. Andreani, "Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Konsumen dan Minat Beli Ulang di Wizz Drive Thru Gelato Surabaya," Jurnal Manajemen Pemasaran, vol. 18, no. 1, pp. 1–14, 2024, doi: 10.9744/pemasaran.18.1.1-14.