Muhklisatun Intihana (1), Sri Sumartiningsih (2), Agung Tri Prasetya (3), Decky Avrilianda (4)
General Background Digital transformation in education requires learning media that support active, contextual, and student-centered learning in elementary education. Specific Background Project-Based Learning (PjBL)-based interactive e-modules combine digital content, project activities, and multimedia features to support elementary students’ learning outcomes, engagement, and critical thinking. Knowledge Gap Although previous studies report positive results, the evidence remains limited because the number of reviewed studies is relatively small, research designs vary, and standardized effect size reporting is still lacking. Aims This study aimed to analyze and evaluate PjBL-based interactive e-modules in improving elementary school students’ learning outcomes through a narrative literature review. Results Fifteen articles published between 2020 and 2025 from Scopus, Sinta, and Google Scholar were reviewed. The findings showed a consistent positive trend, with several studies reporting moderate learning gains, approximately 20–30% increases in post-test scores, along with better student engagement and critical thinking skills. The review also identified teacher competency, technological access, and instructional design quality as key moderating factors. Novelty This review synthesizes recent evidence on PjBL-based interactive e-modules by linking learning outcomes with moderating implementation factors and practical development priorities. Implications The findings suggest the need for structured teacher training, standardized interactive module frameworks, and scalable digital infrastructure, while future research should apply meta-analytic approaches and report effect sizes to strengthen the evidence base.
• Fifteen articles from 2020–2025 were synthesized from Scopus, Sinta, and Google Scholar.• Post-test scores showed a consistent 20–30% upward pattern across reviewed studies.• Teacher competency, technological access, and instructional design quality shaped implementation results.
Interactive E Module; Project Based Learning; Learning Outcomes; Elementary School; Critical Thinking
Era transformasi digital yang pesat menuntut pendidikan untuk beradaptasi agar tetap relevan dan efektif dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten. Inovasi pendidikan yang selaras dengan perkembangan teknologi menuntut peningkatan kompetensi individu di dunia[1]. Pendidikan mempunyai posisi sentral dalam pembangunan karena sasaran utama dalam pendidikan adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)[2][3].
Perkembangan dunia yang semakin maju membawa dampak yang besar terhadap perkembangan pendidikan. Kini, Indonesia harus bersiap untuk memperkenalkan pendidikan sesuai tuntutan abad 21 yang berfokus terhadap kemampuan berpikir, berkolaborasi, dan berkomunikasi secara kritis dan kreatif pada siswa. Pada jenjang pendidikan, kurikulum 2013 menerapkan pendidikan abad 21 melalui integrasi berbagai mata pelajaran dan pengembangan karakter. Pembelajaran IPAS merupakan proses interaksi dua arah antara guru dan siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan dimana ilmu pengetahuan yang mempelajari materi tentang keseluruhan alam semesta melalui proses ilmiah yang dibangun atas dasar sikap ilmiah, yang memungkinkan penciptaan produk ilmiah seperti konsep, prinsip, dan teori [4][5][6]. Di era Revolusi Industri 4.0, siswa harus menguasai keterampilan berpikir kritis, kemampuan bekerja sama, literasi digital, dan kemampuan memecahkan masalah secara kreatif. Pembelajaran sangat penting dalam menciptakan generasi yang tangguh dan inovatif yang mampu menghadapi tantangan di era global abad ke-21. Kemajuan pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah berdampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.
Pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang didalamnya terdapat metode, media, strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran. Didalam sebuah pembelajaran terdapat sarana untuk memberikan materi kepada siswa yaitu berupa media pembelajaran. E-modul ialah media/perangkat interaktif yang dibentuk secara digital guna mewujudkan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai yaitu belajar secara mandiri dengan aplikasi tersebut. E-Modul mempunyai kelebihan yang dapat diakses dimanapun dengan konten yang terintegrasi dengan gambar, audio maupun video untuk membantu memahami materi belajar[7]. Bahan ajar tersebut dapat dimuat dalam satu unit konsep yang diaplikasikan menggunakan piranti elektronik. Menurut Daniyati[8] mendefinisikan bahwa media pembelajaran sebagai alat bantu berupa fisik maupun non fisik yang sengaja digunakan sebagai perantara antara tenaga pendidik dan peserta dalam memahami materi pembelajaran agar lebih efektif dan efisien, sehingga menarik minat peserta didik untuk belajar lebih lanjut.
Kenyataannya, dalam suatu pembelajaran, tentu tidak dapat terlepas dari masalah belajar[9]. Begitupun dalam pelajaran IPAS, masalah belajar yang sering terjadi adalah hasil belajar siswa yang rendah karena pengaruh faktor internal (minat, motivasi, rasa percaya diri, kebiasaan belajar, dan cita-cita) dan faktor eksternal seperti banyak istilah asing, materi terlalu padat, banyak hafalan, terbatasnya media pembelajaran, peserta didik terkesan susah memahami materi tanpa tersedianya media, guru yang cenderung mendominasi pembelajaran, penguasaan guru akan materi lemah, dan terlalu monoton.. Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik menekankan peran aktif peserta didik dalam membangun pemahaman melalui eksplorasi, interaksi, dan refleksi. Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah dasar masih menerapkan metode ceramah dan media cetak konvensional yang cenderung bersifat satu arah. Hal ini berdampak pada rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, yang kemudian menyebabkan pemahaman konsep menjadi kurang mendalam dan pencapaian hasil belajar yang tidak optimal[10]. Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran IPAS adalah kurangnya media pembelajaran yang dapat mendukung pembelajaran berbasis proyek dan mendorong partisipasi aktif siswa. Pembelajaran berbasis proyek telah terbukti dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa. Namun, implementasi metode ini sering terkendala oleh keterbatasan bahan ajar yang interaktif dan mudah diakses. Guru sering menghadapi kendala dalam mengembangkan materi yang sesuai dengan pendekatan berbasis proyek karena keterbatasan waktu dan sumber daya. Selain itu, belum banyak bahan ajar yang secara khusus dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan pembelajaran IPAS yang berbasis proyek di tingkat Sekolah Dasar.
Model pembelajaran di sekolah pun kini turut berkembang untuk menyesuaikan model mana yang lebih cocok dan berpengaruh baik terhadap pembelajaran murid. Salah satunya ialah dengan memilihi model pembelajaran Project Based Learning (PjBL), PjBL suatu model pembelajaran dalam menerapkannya membantu siswa memperoleh pengetahuan dan keahlian problem solving melalui pengalaman langsung dan kerja kelompok[11]. Project Based Learning mengintegrasikan pengetahuan ke dalam pengalaman langsung siswa dengan mengutamakan pengembangan keterampilan berpikir, mendukung proses pembelajaran saintifik[12]. Guru tentunya akan melakukan perencanaan awal seperti pemilihan media pembelajaran sebelum proses belajar mengajar dilakukan agar pembelajaran berhasil serta tepat pada sasaran. Pengembangan E-modul sangatlah diperlukan, Modul Elektronik (E-Modul) yang dikembangkan adalah E-modul IPAS berbasis Project Based Learning (PjBL). Pembelajaran berbasis proyek mengarahkan peserta didik untuk merancang, membuat dan menghasilkan karya/hasil untuk mencapai kompetensi kognitif, sikap dan keterampilan[13]. E-modul berbasis Project Based Learning adalah pembelajaran aktif yang menghubungkan teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan kegiatan proyek dan menciptakan karya[14][15][16]. Model PjBL dipilih sebagai model pembelajaran dalam E-modul ini dikarenakan pembelajaran dengan PjBL memberikan manfaat. Project Based Learning membolehkan peserta didik untuk mengekspresikan perbedaan minat, bakat, dan gaya belajar siswa[17][18]. Model PjBL memiliki kelebihan untuk melatih siswa dalam memperluas pemikirannya mengenai masalah dalam kehidupan yang harus diterima. Memberikan pelatihan langsung kepada siswa dengan cara mengasah serta membiasakan mereka melakukan berpikir kritis serta keahlian dalam kehidupan sehari-hari; Penyesuaian dengan prinsip modern yang pelaksanaannya harus dilakukan dengan mengasah keahlian siswa, baik melalui praktek, teori serta pengaplikasiannya[19][20][21].
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan e-modul dalam pembelajaran IPAS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. E-modul berbasis discovery learning mampu meningkatkan kemandirian belajar siswa dalam berbagai kondisi pembelajaran[22]. E-modul yang dikombinasikan dengan model PjBL berkontribusi positif terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa[23]. Integrasi pembelajaran berbasis proyek ke dalam e-modul membantu siswa menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, memperdalam pemahaman, serta meningkatkan partisipasi aktif dalam proses belajar. Studi terbaru mendukung keefektifan pendekatan ini. Penerapan PJBL dengan modul elektronik interaktif dapat secara signifikan meningkatkan hasil belajar sains di sekolah dasar, baik dalam aspek kognitif maupun minat belajar[24].
Temuan penelitian sebelumnya menunjukkan E-modul berbasis Project Based Learning (PjBL) mempunyai kelebihan yaitu meningkatkan hasil belajar, meningkatkan kreativitas, meningkatkan motivasi belajar siswa, melatih kolaborasi dan berfikir kritis[25][26]. Keunggulan E-modul berbasis PjBL ini yaitu didesain menarik, sesuai karakteristik kurikulum merdeka (mandiri dan digitalisasi), dilengkapi soal latihan, dapat diakses dimanapun, menggunakan bahasa sederhana, dan berbasis proyek sehingga melatih kemandirian serta memberikan peluang untuk memahami materi secara mendalam.
Secara teoretis, integrasi Project-Based Learning (PjBL) dan e-modul interaktif dapat dijelaskan melalui perspektif konstruktivisme dan social constructivisme, yang menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui pengalaman aktif dan interaksi sosial. Selain itu, teori Cognitive Load menegaskan pentingnya desain multimedia yang efektif dalam e-modul agar tidak membebani kapasitas kognitif siswa. Dengan demikian, efektivitas e-modul berbasis PjBL tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi, tetapi juga oleh kesesuaian desain instruksional, aktivitas proyek, dan karakteristik peserta didik.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, tujuan utama penelitian ini adalah menyusun tinjauan sistematis mengenai efektivitas penggunaan modul E-Modul Interaktif berbasis Pembelajaran Berbasis Proyek dalam meningkatkan hasil belajar siswa di tingkat sekolah dasar, khususnya pada materi ekosistem. Tujuan khusus penelitian ini meliputi (1) mengidentifikasi teori dan konsep yang mendasari pengembangan modul elektronik interaktif dan pendekatan PjBL; (2) mengevaluasi hasil penelitian relevan sebelumnya mengenai modul elektronik berbasis proyek dalam pembelajaran sains di sekolah dasar; (3) menganalisis kelebihan dan keterbatasan pendekatan tersebut dalam konteks implementasi di sekolah dasar; dan (4) memberikan rekomendasi strategis kepada guru, sekolah, dan pengembang media pembelajaran terkait pengembangan dan implementasi modul elektronik berbasis proyek[27].
Dengan memahami pendekatan ini secara lebih mendalam dan komprehensif, diharapkan para pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan dapat memanfaatkan teknologi secara bijak dan inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta menciptakan siswa yang aktif, kritis, dan berprestasi di era digital[28].
Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Metode narrative literature review adalah salah satu metode untuk melakukan kajian literatur secara kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menyusun sebuah tinjauan atau rangkuman dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang suatu topik tertentu. Metode ini biasa digunakan untuk meneliti atau menganalisis suatu penelitian terdahulu untuk kemudian dibuat dan dikemas dalam versi terbaru. Maka dari itu, penulis memilih metode ini karena sesuai dengan tujuan dibuatnya penelitian ini untuk meneliti dan membandingkan penelitian terdahulu dengan kebaruan yang ada saat ini. Metode tinjauan pustaka naratif bertujuan untuk mengenali dan merangkum artikel-artikel yang telah dipublikasikan sebelumnya, menghindari duplikasi penelitian, dan menemukan area penelitian yang belum terjamah[29]. NLR membantu peneliti membangun teori, memahami perkembangan topik, dan menemukan celah penelitian[30]. NLR bersifat fleksibel dan lebih menekankan sintesis pemahaman daripada prosedur seleksi yang ketat.
[31]Byrne menyatakan bahwa narrative literature review dapat berfokus pada satu sumber referensi yang mengandung beragam data untuk dianalisis, dengan tujuan memperluas perkembangan pengetahuan dan konsep yang terkait. Dalam penulisan ini menggunakan 2 tahapan utama, yaitu pertama, metode pengumpulan data mempertimbangkan proses penyaringan artikel dengan mempertimbangkan judul dan isi pada artikel. Kedua, metode analisis data mempertimbangkan tema penelitian dan melakukan pengkajian dan analisis isi artikel tersebut. Selanjutnya, data diekstraksi dengan memasukkan data ke dalam kategori yang telah ditentukan. Metode literature review ini sangat membantu dengan tujuan untuk memberikan gambaran terhadap topik yang dikaji. Pada umumnya literature review dibuat dengan mencari beberapa sumber untuk dijadikan bahan pustaka yang berhubungan dengan topik dan masalah yang dibahas dengan cara merangkum, meninjau, dan mengevaluasi perspektif penulis[32].
Meskipun menggunakan pendekatan narrative literature review, penelitian ini tetap mempertimbangkan potensi bias publikasi dengan membandingkan hasil studi yang menunjukkan efek tinggi dan rendah. Selain itu, heterogenitas studi dianalisis secara deskriptif berdasarkan variasi desain penelitian, konteks pembelajaran, serta karakteristik sampel. Namun demikian, keterbatasan tetap ada karena tidak dilakukan analisis kuantitatif seperti meta-analisis atau perhitungan effect size.
Dengan pendekatan studi literatur, artikel ini bertujuan untuk meninjau dan mengeksplorasi pengaruh studi literatur terhadap pemanfaatan modul elektronik interaktif yang dirancang dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) guna meningkatkan hasil belajar siswa di tingkat sekolah dasar. Studi literatur dipilih karena memungkinkan penulis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis hasil dari penelitian sebelumnya yang selaras dengan tema pembahasan ini. Dengan memanfaatkan sumber informasi ilmiah yang telah diterbitkan, artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang efektivitas integrasi modul elektronik dan PJBL dalam proses pembelajaran serta kontribusinya terhadap peningkatan hasil belajar siswa[33].
Pada NLR yang dilaksanakan teridiri dari beberapa tahapan utama, yaitu 1) pemilihan tema sebagai fokus kajian, 2) penelusuran literatur, khususnya jurnaljurnal yang menyajikan hasil penelitian yang relevan dengan tema, 3) penyeleksian dan pemilihan literatur yang sesuai dengan tema kajian, 4) analisis dan interpretasi data hasil kajian, dan 5) penarikan simpulan dari kajian yang dilaksanakan. Pada penelitian yang dilaksanakan diperoleh 15 artikel utama yang dikaji secara NLR, artikel ini merupakan artikel hasil seleksi dan pemilihan yang terjaring. Kesesuaian tema dan kriteria tahun publikasi menjadi salah satu acuan dalam pemilihan artikel yang dikaji.
Literatur yang digunakan dalam tinjauan ini dikumpulkan melalui penelusuran pada basis data akademik terkemuka, termasuk Scopus, Sinta, dan Google Scholar. Pencarian difokuskan pada artikel penelitian empiris yang dipublikasikan dalam rentang waktu lima tahun terakhir, yaitu dari tahun 2020 hingga 2025. Pemilihan rentang waktu ini bertujuan untuk menjamin kemutakhiran data (recency). Kata kunci (keywords) yang digunakan dalam pencarian disusun menggunakan operator Boolean (AND/OR) untuk mempersempit hasil yang relevan. Pencarian literatur dilakukan menggunakan kata kunci seperti "e-modul interaktif," "Pembelajaran Berbasis Proyek di Sekolah Dasar," "media pembelajaran digital," dan "hasil belajar siswa sekolah dasar." Artikel-artikel yang ditemukan kemudian diseleksi secara sistematis berdasarkan relevansi topik dan kualitas publikasi. Untuk memperjelas prosesnya, tahapan tinjauan pustaka ini disajikan pada Gambar 1 di bawah ini:
Gambar 1. Alur Penelitian
Pemilihan artikel yang berkaitan dengan ketentuan inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan sebelumnya telah dilakukan. Kriteria inklusi terdiri dari publikasi artikel yang:
Kriteria artikel eksklusi:
Berikut ini akan disajikan kriteria inklusi dan eksklusi artikel. Penjelasan mengenai kriteria seleksi artikel dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Artikel
Dalam proses analisis, para penulis menerapkan teknik sintesis tematik untuk mengelompokkan temuan utama dari artikel-artikel yang dipilih. Setiap artikel dianalisis berdasarkan fokus utama penelitian, seperti desain modul elektronik interaktif, penerapan model Pembelajaran Berbasis Proyek, integrasi metode digital dalam pembelajaran, serta evaluasi indikator keberhasilan belajar siswa. Proses ini memungkinkan penulis untuk mengidentifikasi pola, kesenjangan, dan kontribusi yang konsisten atau berbeda antara satu studi dengan studi lainnya. Analisis dilakukan secara deskriptif-kualitatif untuk menggambarkan hubungan antara variabel yang diteliti tanpa uji statistik, sesuai dengan karakteristik non-empiris studi literatur.
Hasil sintesis literatur disajikan dalam bentuk uraian sistematis yang membahas karakteristik pengembangan modul elektronik interaktif, prinsip-prinsip dasar model Pembelajaran Berbasis Proyek, serta dampak gabungan keduanya terhadap prestasi belajar siswa sekolah dasar yang dianalisis dalam penelitian ini. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana penggabungan teknologi digital dengan model pembelajaran berbasis proyek dapat mendorong partisipasi aktif siswa, memperdalam pemahaman terhadap materi, serta membangun motivasi belajar yang konsisten dan berkelanjutan. Oleh karena itu, tinjauan ini tidak terbatas pada penyajian temuan dari literatur yang dianalisis, tetapi juga memberikan arahan strategis dalam mengembangkan model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan dasar di era digital.
Temuan sintesis literatur ini dapat menjadi landasan bagi pendidik, pengembang media, dan pembuat kebijakan untuk merancang modul elektronik interaktif yang menarik secara visual dan mendalam secara pedagogis. Selain itu, integrasi pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek dan teknologi digital memungkinkan pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan bermakna lingkungan, yang berujung pada peningkatan hasil belajar dan kompetensi abad ke-21 pada siswa sekolah dasar. Data yang diambil dari sumber rujukan yang telah dikaji selanjutnya dicatat dan dikelola untuk mendapatkan kesimpulan yang akurat. Teknik analisis data dari penelitian ini dengan mempertimbangkan topik dan tema penelitian yang selanjutnya data diekstraksi dengan membaginya menjadi kategori dan membahasnya sesuai tema.
A. Hasil
1. Analisis Data
Proses analisis data dalam tinjauan pustaka ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan memilih artikel yang relevan dengan pembuatan modul elektronik interaktif yang mengadopsi pendekatan Project-Based Learning (PJBL) di tingkat sekolah dasar. Hasil pencarian memperoleh beberapa artikel ilmiah terakreditasi nasional dari basis data Google Scholar, scopus, maupun sinta. Pemilihan dilakukan berdasarkan kesesuaian topik, kualitas metodologi penelitian, tahun publikasi, dan hubungan langsung dengan aspek pengembangan media e-modul, pendekatan PjBL, serta hasil belajar siswa sekolah dasar.
Data primer yang dianalisis meliputi (1) tujuan penelitian, (2) metode yang digunakan, (3) jenis dan bentuk e-modul yang dikembangkan, serta (4) hasil dan dampaknya terhadap hasil belajar siswa. Proses analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif dengan mengelompokkan hasil penelitian ke dalam tema-tema seperti efektivitas media, relevansi dengan pendekatan PPA, serta dampaknya terhadap hasil belajar dan motivasi siswa.
Hasil studi pustaka dari 15 artikel yang dianalisis menunjukkan bahwa penggunaan modul elektronik interaktif berbasis Project Based Learning (PjBL) secara signifikan meningkatkan hasil belajar, motivasi, dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Secara umum, fokus penelitian terbagi menjadi tiga tema utama: pengembangan modul elektronik (53%), implementasi PJBL (33%), dan integrasi keduanya (14%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Dewi & Lestari, yang membuktikan bahwa penggunaan modul elektronik secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa melalui pendekatan berbasis proyek[34].
Literatur yang dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari 15 artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025. Artikel-artikel tersebut dipilih berdasarkan kesesuaiannya untuk mengembangkan modul elektronik interaktif berbasis Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) di sekolah dasar. Tiga kategori utama ditemukan dalam proses pengkodean dan klasifikasi artikel, yaitu: (1) pengembangan modul elektronik interaktif, (2) penerapan PJBL dalam pembelajaran, dan (3) integrasi modul elektronik dengan PJBL. Distribusi artikel berdasarkan topik dapat dilihat pada tabel dan diagram batang berikut:
Tabel2.Klasifikasi Berdasarkan Artikel yang Relevan
Gambar.2 Jumlah Artikel
Dalam melakukan penilaian kritis, para peneliti mengevaluasi kualitas metodologis artikel-artikel yang dianalisis. Sebagian besar artikel menerapkan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang menyediakan kerangka kerja sistematis untuk pembuatan dan pengujian media. Validitas isi modul elektronik umumnya diuji melalui penilaian ahli, sedangkan efektivitasnya diukur dengan pendekatan kuasi-eksperimental atau desain pretest dan posttest. Untuk menilai kualitas metodologis dan kontribusi ilmiah, setiap artikel ditinjau dan dinilai berdasarkan kriteria berikut:
a) Kejelasan rumusan masalah: Apakah fokus penelitian jelas dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sekolah dasar?
b) Kesesuaian metode: Apakah metode pengembangan atau eksperimental yang digunakan sesuai untuk mencapai tujuan penelitian?
c) Kualitas instrumen: Apakah alat evaluasi yang digunakan menunjukkan validitas dan reliabilitas yang memadai dalam menilai hasil belajar atau variabel lain yang diteliti?
d) Signifikansi hasil: Apakah hasil penelitian menunjukkan kontribusi yang berarti dalam meningkatkan kualitas pembelajaran?
Meskipun demikian, temuan studi-studi ini memberikan bukti kuat tentang dampak positif penerapan e-modul dengan PjBL dalam meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis siswa, dan meningkatkan hasil belajar siswa di tingkat pendidikan dasar. Penelitian oleh Qonita & Handayani[35] juga menunjukkan bahwa integrasi model PjBL dengan platform Wordwall berdampak positif pada pemahaman materi siswa, terutama mengenai gaya gravitasi. Berdasarkan uji t, ditemukan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang menunjukkan bahwa penggunaan platform Wordwall dalam PjBL memiliki efek positif yang signifikan terhadap pemahaman siswa. Meskipun demikian, evaluasi jangka panjang terhadap penerapan teknologi dalam pembelajaran perlu dilakukan untuk memastikan efektivitasnya dalam jangka waktu yang lebih lama.
2. Hasil Tinjauan Pustaka
Dari tinjauan pustaka, penerapan e-modul berbasis PjBL semakin banyak digunakan dalam pendidikan dasar untuk mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemahaman konsep siswa. Sebagian besar penelitian ini menerapkan metode pengembangan (R&D) dengan mengacu pada model desain instruksional seperti ADDIE dan model 4D. Validitas instrumen biasanya diperoleh melalui evaluasi oleh para ahli materi, media, dan bahasa, yang kemudian diperkuat dengan uji coba terbatas pada siswa dan praktisi pendidikan. Selain itu, beberapa studi berhasil menggabungkan pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dengan teknologi digital, seperti animasi 2D/3D dan format flipbook, yang menghasilkan modul elektronik interaktif yang mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21, termasuk kompetensi dalam kerja sama tim, komunikasi, inovasi, dan pemecahan masalah.
Berdasarkan analisis terhadap 15 artikel yang relevan, diperoleh beberapa temuan penting terkait pembuatan modul elektronik interaktif bterintegrasi model Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) untuk siswa sekolah dasar. Modul elektronik yang mengadopsi PJBL terbukti efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, terutama dalam pelajaran IPAS, elemen interaktif dalam modul elektronik, seperti flipbook, video pembelajaran, dan kuis interaktif, dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa.
Berdasarkan analisis terhadap 20 artikel yang relevan, diperoleh temuan penting sebagai berikut:
a) Pemahaman Konsep: Rata-rata "Peningkatan hasil belajar siswa setelah memanfaatkan e-modul berbasis PJBL mencapai 20% hingga 30%. Sebagai contoh, dalam penelitian Nisrina dkk [36], nilai pra-tes siswa sebesar 59,37 meningkat menjadi 78,56 setelah menggunakan e-modul.
b) Motivasi Belajar: Asri dan Andaryani [37] menyatakan bahwa e-modul yang dilengkapi dengan animasi dan kuis interaktif dapat mendorong peningkatan motivasi belajar, sebagaimana dibuktikan dengan hasil validasi media yang mencapai lebih dari 90%.
c) Keterlibatan Aktif: Wiranata dan Margunayasa [38] mencatat peningkatan partisipasi siswa dalam kegiatan proyek setelah e-modul diterapkan, terutama dalam kerja kelompok dan penyelesaian tugas berbasis konteks.
3. Matriks Analisis Data Literatur
Untuk memperkuat hasil penelitian dan memberikan gambaran komprehensif mengenai tren temuan yang relevan, disusunlah matriks analisis data berdasarkan 15 artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi. Matriks ini berisi informasi utama dari setiap artikel, yang meliputi nama penulis, judul dan tahun, tujuan penelitian, pendekatan atau model yang digunakan, dan hasil utama yang ditemukan. Matriks ini mengilustrasikan hasil analisis data dari berbagai studi yang telah ditinjau:
Tabel. 3 Matriks Analisis Data Tinjauan Pustaka
B. Pembahasan
Transformasi pembelajaran di era digital telah mendorong kebutuhan akan inovasi media pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan siswa abad ke-21. Salah satu bentuk inovasi yang mendapat perhatian luas dalam berbagai penelitian adalah penyusunan modul elektronik interaktif yang mengadopsi pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL). Model ini mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran berbasis proyek nyata, yang diyakini dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis serta membentuk karakter belajar mandiri siswa.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan e-modul berbasis PjBL dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan berpusat pada siswa. E-modul berbasis proyek juga dapat meningkatkan keterlibatan siswa sekolah dasar dalam proses belajar serta kemampuan mereka dalam memecahkan masalah secara sistematis. Proyek-proyek dalam modul tersebut dirancang untuk merangsang pemikiran kritis melalui tahapan penyelidikan, pengumpulan data, pengolahan, dan pelaporan.
Meskipun sebagian besar studi menunjukkan hasil positif, terdapat variasi dalam tingkat efektivitas yang dipengaruhi oleh desain penelitian dan konteks implementasi. Studi dengan desain eksperimen cenderung memberikan bukti yang lebih kuat dibandingkan studi pengembangan (R&D) yang berfokus pada validitas produk. Selain itu, faktor kontekstual seperti kesiapan guru, akses teknologi, dan karakteristik siswa turut memengaruhi hasil yang diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas e-modul berbasis PjBL bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi secara langsung
Temuan dari meta-analisis menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek memiliki dampak yang lebih signifikan dalam meningkatkan motivasi siswa dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran konvensional. Metode ini juga membuka peluang yang lebih luas untuk mendorong siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran guna menentukan langkah-langkah pembelajaran, mengambil keputusan, dan mengevaluasi hasil secara mandiri, yang semuanya berkontribusi dalam membentuk karakter belajar yang kuat (Wijnia dkk., 2024).
Terakhir, upaya pengembangan modul elektronik interaktif berbasis proyek harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas guru dan dukungan sistem pendidikan yang memadai. Dalam konteks ini, hal tersebut menekankan pentingnya mengintegrasikan PjBL dalam pembelajaran di sekolah dasar sebagai langkah strategis untuk mempersiapkan generasi yang unggul secara akademis dan mampu mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan sintesis literatur, dapat dirumuskan suatu model konseptual yang menunjukkan bahwa efektivitas e-modul berbasis PjBL dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu: (1) desain e-modul (interaktivitas dan multimedia), (2) implementasi PjBL (tahapan proyek dan kolaborasi), serta (3) faktor kontekstual (kompetensi guru dan akses teknologi). Ketiga komponen ini secara simultan memengaruhi hasil belajar, motivasi, dan keterampilan berpikir kritis siswa.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, jumlah artikel yang dianalisis relatif terbatas, sehingga generalisasi hasil perlu dilakukan secara hati-hati. Kedua, sebagian besar studi tidak melaporkan ukuran efek secara kuantitatif, sehingga kekuatan evidens sulit dibandingkan secara objektif. Ketiga, terdapat heterogenitas dalam desain penelitian dan konteks implementasi yang belum dianalisis secara statistik. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan pendekatan meta-analisis untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, khususnya di tingkat pendidikan dasar Strategi ini meningkatkan penguasaan konsep secara mendalam dan menumbuhkan keterampilan abad ke-21 yang penting seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kerja sama, dan tanggung jawab. Penggunaan modul elektronik yang dirancang secara menarik dan interaktif membuat proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. Selain itu, integrasi PJBL ke dalam modul elektronik memungkinkan siswa belajar secara aktif melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan proyek yang disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek, siswa dapat menghubungkan pengetahuan teoretis dengan situasi nyata, memperkaya pengalaman belajar mereka dan mendorong mereka untuk berpikir lebih aplikatif. Selain itu, penggunaan teknologi interaktif seperti video animasi dan realitas tertambah dapat memperkaya penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek, memberikan siswa pengalaman belajar yang lebih menarik dan memotivasi mereka untuk lebih aktif dalam proses belajar.
Secara operasional, guru disarankan mengikuti pelatihan berbasis praktik minimal 20–30 jam terkait implementasi PjBL dan pengembangan e-modul interaktif. Selain itu, pengembang media perlu menyediakan template standar berbasis proyek, sedangkan sekolah perlu memastikan ketersediaan infrastruktur digital yang memadai untuk mendukung pembelajaran.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan dasar, terutama dalam pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Para guru dan pengembang pembelajaran harus mengintegrasikan PJBL dan teknologi digital secara menyeluruh dalam proses belajar-mengajar. Pengembangan e-modul interaktif berbasis PJBL telah terbukti mengatasi kelemahan pendekatan konvensional yang masih dominan di sekolah, seperti ceramah dan latihan satu arah. Di sisi lain, hasil penelitian ini juga menyoroti perlunya dukungan sistemik berupa pelatihan guru, penguatan kompetensi TIK, serta penyediaan infrastruktur digital yang memadai agar implementasi modul elektronik PJBL dapat berjalan efektif dan merata di berbagai daerah. Oleh karena itu, modul digital yang dikembangkan melalui pendekatan PJBL berpotensi menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pendidikan yang inovatif dan berkelanjutan.
Namun demikian, diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif yang lebih kuat untuk memastikan konsistensi temuan ini.
[1] P. L. Antari, I. W. Widiana, and I. M. C. Wibawa, “Modul ELlelktronik Belrbasis Projelct Baseld Lelarning Pelmbellajaran IPAS untuk Melningkatkan Hasil Bellajar Siswa Selkolah Dasar,” J. Imiah Pelndidik. dan Pelmbellajaran, vol. 7, no. 2, pp. 266–275, Aug. 2023, doi: 10.23887/jipp.v7i2.60236.
[2] I. Mustaqim and W. Wijayanti, “Problelmatika Pelnelrapan Kurikulum 2013 pada Mata Pellajaran Telmatik Madrasah Ibtidaiyah di Kelcamatan Jogoroto Jombang,” J. Pelndidik. Dasar Islam, vol. 1, no. 2, pp. 1–23, 2019, [Onlinel]. Availablel: http://journal.unipdu.ac.id:8080/indelx.php/jpdi/articlel/vielw/1900.
[3] K. Sutarmi and I. M. Suarjana, “Pelningkatan Hasil Bellajar Siswa Melnggunakan Meltodel Problelm Solving dalam Pelmbellajaran,” J. Ilm. Selkol. Dasar, vol. 1, no. 2, p. 75, Jun. 2017, doi: 10.23887/jisd.v1i2.10141.
[4] Siti Nur Ni’mah and Faiq Makhdum Noor, “Delvellopmelnt of ELthnoscielncel-Baseld Scielncel Lelarning Modulel Orielnteld Scielncel Procelss Skills of Studelnts,” J. Insa. Mulia ELduc., vol. 1, no. 1, pp. 1–10, 2023, doi: 10.59923/joinmel.v1i1.3.
[5] M. W. Tyas, S. Wahyuni, and Y. Yushardi, “Pelngelmbangan Bahan Ajar IPA Belrupa Komik ELdukasi Pada Pokok Bahasan Objelk IPA Dan Pelngamatannya Di SMP,” J. Pelmbellajaran Fis. Univ. Jelmbelr, vol. 4, no. 1, 2015.
[6] R. Husain and A. Kaharu, “Melnghadapi ELra Abad 21: Tantangan Guru Pelndidikan Anak Usia Dini di Kabupateln Bonel Bolango,” J. Obs. J. Pelndidik. Anak Usia Dini, vol. 5, no. 1, p. 85, 2020, doi: 10.31004/obselsi.v5i1.527.
[7] A. Nurhidayati, S. C. Putro, and T. Widiyaningtyas, “Pelnelrapan Modell Pbl Belrbantuan EL-Modul Belrbasis Flipbook Dibandingkan Belrbantuan Bahan Ajar Celtak Pelngaruhnya Telrhadap Hasil Bellajar Pelmrograman Siswa Smk,” Telknol. dan Keljuru. J. Telknol. Keljuruan, dan Pelngajarannya, vol. 41, no. 2, pp. 130–138, 2018, doi: 10.17977/um031v41i22018p130.
[8] A. Daniyati Muttaqieln Purwakarta, I. Bulqis Saputri Muttaqieln Purwakarta, S. Aqila Selptiyani Muttaqieln Purwakarta, and Seltiawan Muttaqieln Purwakarta, “Konselp Dasar Meldia Pelmbellajaran Rickeln Wijaya STAI DR.KHELZ Muttaqieln Purwakarta,” J. Studelnt Rels., vol. 1, no. 1, pp. 282–294, 2023.
[9] N. S. Helrawati and A. Muhtadi, “Pelngelmbangan modul ellelktronik (el-modul) intelraktif pada mata pellajaran Kimia kellas XI SMA,” J. Inov. Telknol. Pelndidik., vol. 5, no. 2, pp. 180–191, Oct. 2018, doi: 10.21831/jitp.v5i2.15424.
[10] L. D. Kusumawati, Nf. Sugito, and A. Mustadi, “Kellayakan multimeldia pelmbellajaran intelraktif dalam melmotivasi siswa bellajar matelmatika,” Kwangsan J. Telknol. Pelndidik., vol. 9, no. 1, p. 31, Jul. 2021, doi: 10.31800/jtp.kw.v9n1.p31--51.
[11] N. Nurfathurrahmah, EL. Suryani, N. Nelhru, and O. Olahairullah, “Pelrbandingan Hasil Bellajar Biologi Modell Problelm Baseld Lelarning Belrbantuan LKPD Pokok Bahasan Tulang dan Otot,” ORYZA ( J. Pelndidik. Biol. ), vol. 10, no. 1, pp. 23–27, Aug. 2021, doi: 10.33627/oz.v10i1.529.
[12] Y. Anwar, D. Nurfadhilah, and M. Tibrani, “Thel ELffelctivelnelss of thel Projelct Baseld Lelarning (PjBL) Modell on thel Crelativel Thinking Skill of Studelnts in thel Human Relspiration Systelm,” J. Pelnellit. Pelndidik. IPA, vol. 10, no. 2, pp. 599–608, 2024, doi: 10.29303/jppipa.v10i2.4941.
[13] A. Banawi, “Implelmelntasi Pelndelkatan Saintifik Pada Sintaks Discovelry/Inquiry Lelarning, Baseld Lelarning, Projelct Baseld Lelarning,” Biosell Biol. Sci. ELduc., vol. 8, no. 1, pp. 90–100, Jun. 2019, doi: 10.33477/bs.v8i1.850.
[14] EL. Khairani, H. Maksum, F. Rizal, and M. Adri, “Validitas pelngelmbangan modul pelmbellajaran belrbasis projelct baseld lelarning pada mata pellajaran telknologi informasi dan komunikasi,” JRTI (Jurnal Ris. Tindakan Indonels., vol. 7, no. 2, p. 71, 2022, doi: 10.29210/30031489000.
[15] R. Putra, W. Purwanto, H. Maksum, D. Irfan, M. Muslim, and H. D. Saputra, “ELfelktivitas pelnggunaan modul belrbasis projelck baseld lelarning dalam pelmbellajaran telknologi alat belrat,” Rang Telk. J., vol. 5, no. 1, pp. 164–173, Jan. 2022, doi: 10.31869/rtj.v5i1.3068.
[16] N. Ramadhanti, M. Rahmad, and Z. Zulirfan, “Analisis kelbutuhan bahan ajar el-modul ipa pjbl mellatih kelmampuan belrpikir krelatif matelri kelmagneltan,” ELDUSAINTELK J. Pelndidikan, Sains dan Telknol., vol. 10, no. 2, pp. 630–645, Mar. 2023, doi: 10.47668/eldusaintelk.v10i2.720.
[17] EL. Ismanto, Vitriani, and Khairul Anshari, “Pelngelmbangan Meldia Pelmbellajaran el-Modul untuk Pelmbellajaran Belrbasis Projelct Baseld Lelarning (PjBL),” J. Pelngabdi. UntukMu NelgelRI, vol. 6, no. 2, pp. 17–24, Nov. 2022, doi: 10.37859/jpumri.v6i2.3628.
[18] N. Nurradiati, Y. Fitria, D. Arielf, and M. Mudjiran, “Pelngelmbangan Buku Ajar Telma 5 telntang Bagaimana Tubuh Melngolah Makanan Belrbasis Modell PJBL Di Selkolah Dasar,” J. Basiceldu, vol. 5, no. 5, pp. 3224–3231, Aug. 2021, doi: 10.31004/basiceldu.v5i5.1329.
[19] P. D. Anggraini and S. S. Wulandari, “Analisis Pelnggunaan Modell Pelmbellajaran Projelct Baseld Lelarning Dalam Pelningkatan Kelaktifan Siswa,” J. Pelndidik. Adm. Pelrkantoran, vol. 9, no. 2, pp. 292–299, Aug. 2020, doi: 10.26740/jpap.v9n2.p292-299.
[20] Y. Rahmawati, “ELfelktifitas Pelnggunaan EL-Modul Belrbasis Projelct Baseld Lelarning Telrhadap Kompeltelnsi Pelselrta Didik Pada Kurikulum Melrdelka Bellajar,” ELDUKASIA J. Pelndidik. dan Pelmbellajaran, vol. 4, no. 1, pp. 293–300, Mar. 2023, doi: 10.62775/eldukasia.v4i1.260.
[21] J. Karnando, I. K. Relzki, and EL. Tasrif, “ELfelktivitas EL-Modul Belrbasis Projelct Baseld Lelarning Sellama Pelmbellajaran Jarak Jauh,” Jav. J. Vokasi Inform., pp. 1–4, Felb. 2021, doi: 10.24036/javit.v1i1.17.
[22] R. T. U. Dari and I. G. W. Sudatha, “Upaya Melningkatkan Selmangat Bellajar Siswa mellalui EL-Modul Belrorielntasi Discovelry Lelarning,” J. ELdutelch Undiksha, vol. 10, no. 2, pp. 205–214, Felb. 2022, doi: 10.23887/jelu.v10i1.43966.
[23] EL. Khairani Astri, J. Siburian, and B. Hariyadi, “Pelngaruh Modell Projelct Baseld Lelarning telrhadap Keltelrampilan Belrpikir Kritis dan Belrkomunikasi Pelselrta Didik,” BIODIK, vol. 8, no. 1, pp. 51–59, Mar. 2022, doi: 10.22437/bio.v8i1.16061.
[24] T. R. Wulandari, S. Wahyuni, and S. Suparti, “ELfelktivitas EL-modul Belrbasis Problelm Baseld Lelarning dalam Keltelrampilan Belrpikir Kritis Matelri Bangun Datar,” Kalam Celndelkia J. Ilm. Kelpelndidikan, vol. 12, no. 2, Jul. 2024, doi: 10.20961/jkc.v12i2.87482.
[25] S. Oksa and S. Soelnarto, “Pelngelmbangan el-modul belrbasis proyelk untuk melmotivasi bellajar siswa selkolah keljuruan,” J. Kelpelndidikan Pelnellit. Inov. Pelmbellajaran, vol. 4, no. 1, pp. 99–111, May 2020, doi: 10.21831/jk.v4i1.27280.
[26] A. D. Sirelgar and L. K. Harahap, “Pelngelmbangan el-modul belrbasis projelct baseld lelarning telrintelgrasi meldia komputasi hypelrchelm pada matelri belntuk molelkul,” JPPS (Jurnal Pelnellit. Pelndidik. Sains), vol. 10, no. 1, p. 1925, Nov. 2020, doi: 10.26740/jpps.v10n1.p1925-1931.
[27] D. Jaelnudin, S. Kurniasih, and G. R. Amalia, “Improving Studelnts Ability in Problelm Solving and Crelativity Through Projelct-Baseld Lelarning,” in Proceleldings of thel 4th Asian ELducation Symposium (AELS 2019), Paris, Francel: Atlantis Prelss, 2020. doi: 10.2991/asselhr.k.200513.058.
[28] D. V. F.T.H, T. Juniarso, and V. Yustitia, “Delvellopmelnt of intelractivel digital modulels on flat building spacel matelrials for class iv studelnts,” ELlelm. Sch. J. Pelndidik. dan Pelmbellajaran kel-SD-an, vol. 9, no. 2, pp. 115–120, Jul. 2022, doi: 10.31316/elsjurnal.v9i2.2968.
[29] R. Felrrari, “Writing narrativel stylel litelraturel relvielws,” Meld. Writ., vol. 24, no. 4, pp. 230–235, Delc. 2015, doi: 10.1179/2047480615Z.000000000329.
[30] R. F. Baumelistelr and M. R. Lelary, “Writing Narrativel Litelraturel Relvielws,” Relv. Geln. Psychol., vol. 1, no. 3, pp. 311–320, Selp. 1997, doi: 10.1037/1089-2680.1.3.311.
[31] J. A. Byrnel, “Improving thel pelelr relvielw of narrativel litelraturel relvielws,” Rels. Intelgr. Pelelr Relv., vol. 1, no. 1, pp. 10–13, 2016, doi: 10.1186/s41073-016-0019-2.
[32] H. N. Tuginelm, “PELNELLITIAN STRATELGI PELNGELMBANGAN KOLELKSI DI PELRPUSTAKAAN PADA GOOGLEL SCHOLAR: SELBUAH NARRATIVEL LITELRATUREL RELVIELW,” J. Pustaka Budaya, vol. 10, no. 1, pp. 32–43, Jan. 2023, doi: 10.31849/pb.v10i1.11275.
[33] Aribah Capah elt al., “Hambatan yang di Hadapi Guru SD dalam Melrancang Modul Ajar di Kurikulum Melrdelka,” Din. Pelmbellajaran J. Pelndidik. dan Bhs., vol. 2, no. 2, pp. 28–39, Mar. 2025, doi: 10.62383/dilan.v2i2.1429.
[34] M. Sri, A. Delwi, N. Ayu, and P. Lelstari, “EL-Modul Intelraktif Belrbasis Proyelk Telrhadap Hasil,” J. Articell, vol. 4, pp. 433–441, 2020.
[35] A. G. Qonita and S. L. Handayani, “Pelngaruh Modell Projelct Baseld Lelarning Belrbantuan Wordwall telrhadap Kelmampuan Belrpikir Kritis Siswa Matelri Gaya Gravitasi pada Kellas IV SDN Ciracas 10 Pagi,” Idelas J. Pelndidikan, Sos. dan Budaya, vol. 9, no. 3, p. 867, Aug. 2023, doi: 10.32884/idelas.v9i3.1445.
[36] S. H. Nisrina, R. I. Rokhmawati, and T. Afirianto, “Pelngelmbangan EL-modul Belrbasis Projelct Baseld Lelarning (PjBL) pada Mata Pellajaran Animasi 2 Dimelnsi dan 3 Dimelnsi untuk Melningkatkan Hasil Bellajar Pelselrta Didik,” ELdu Komputika J., vol. 8, no. 2, pp. 82–90, Delc. 2021, doi: 10.15294/eldukomputika.v8i2.48451.
[37] K. Asri and EL. T. Andaryani, “Pelngaruh EL Modul Dalam Melningkatkan Motivasi Dan Hasil Bellajar Pada Mata Pellajaran SBDP Di Selkolah Dasar,” Pelndas J. Ilm. Pelndidik. Dasar, vol. 9, no. 03, pp. 1–13, 2024.
[38] N. Komang Wiratama and I. Geldel Margunayasa, “ELModul Intelraktif Muatan IPA Pada Sub Telma 1 Telma 5,” Mimb. PGSD Undiksha, vol. 9, no. 2, p. 258, Jun. 2021, doi: 10.23887/jjpgsd.v9i2.34805.
[39] N. Hasibuan and H. A. Nasution, “Pelngelmbangan EL-Modul Belrbasis Projelct Baseld Lelarning (PjBL) Melnggunakan Flipbook Pada Matelri Laju Relaksi,” J. Ilm. Profelsi Pelndidik., 2025, [Onlinel]. Availablel: https://api.selmanticscholar.org/CorpusID:278655960
[40] EL. F. Manzil, S. Sukamti, and M. A. Thohir, “Pelngelmbangan el-modul intelraktif helyzinel flipbook belrbasis scielntific matelri siklus air bagi siswa kellas v selkolah dasar,” Selkol. Dasar Kaji. Telor. dan Prakt. Pelndidik., vol. 31, no. 2, p. 112, Nov. 2022, doi: 10.17977/um009v31i22022p112.
[41] Y. Pratama, F. N. Kumala, and A. D. Yasa, “Delvellopmelnt of PjBL el-modulels baseld on ispring suitel on altelrnativel elnelrgy sourcels of watelr for ellelmelntary studelnts,” J. Bid. Pelndidik. Dasar, vol. 8, no. 2, pp. 205–216, 2024, doi: 10.21067/jbpd.v8i2.10825.
[42] Kartika Fajar Pratiwi, Joko Sulianto, and Sumarno, “Pelngelmbangan EL-Modul Belrbasis Projelct Baseld Lelarning untuk Melningkatkan Kelmampuan Belrpikir Kritis Siswa Kellas IV Selkolah Dasar,” Didakt. J. Ilm. PGSD STKIP Subang, vol. 9, no. 04, pp. 1282–1294, Selp. 2023, doi: 10.36989/didaktik.v9i04.1718.
[43] S. Wahyuni, EL. T. Andaryani, and P. EL.-M. I. B. P.-B. L. U. M. K. S. D. K. S. K. S. Sd, “Pelngelmbangan el-modul intelraktif belrbasis projelct-baseld lelarning untuk melningkatkan keltelrampilan selni dan krelativitas siswa kellas satu sd,” J. Ilm. Pelndidik. Dasar, vol. 10, no. 04, pp. 470–479, 2025.
[44] T. N. T. Nurahmania and Y. Wardatunnissa, “Pelngelmbangan EL-Modul IPAS belrmuatan Projelct Baseld Lelarning dalam Melningkatkan Keltelrampilan Belrpikir Kritis Siswa,” J. Ilm. Pelndidik. Dasar, vol. 10, no. 04, pp. 353–366, 2025.
[45] A. Fujiarti, D. K. Melilania, M. Angraelni, and R. N. Umah, “Litelratur Relvielw : Pelngaruh Pelnggunaan EL-Modul Telrhadap Hasil Bellajar Siswa Selkolah Dasar,” J. JELNDELLA Pelndidik., vol. 4, no. 01, pp. 83–89, Felb. 2024, doi: 10.57008/jjp.v4i01.694.
[46] R. Triwoellandari, EL. W. Handayani, and S. Arif, “Delvellopmelnt of Projelct-Baseld Lelarning Scielncel EL-Modulel To Improvel Collaboration Skills of ELlelmelntary School Studelnts,” J. Cakrawala Pelndas, vol. 9, no. 4, pp. 762–774, 2023, doi: 10.31949/jcp.v9i4.6611.
[47] L. Zhang and Y. Ma, “A study of thel impact of projelct-baseld lelarning on studelnt lelarning elffelcts: a melta-analysis study,” Front. Psychol., vol. 14, Jul. 2023, doi: 10.3389/fpsyg.2023.1202728.
[48] D. Dalifa, EL. W. Winarni, and Nirwana, “Thelmatic EL-Modulels Using thel PjBL Modell Baseld on STELAM,” J. ELduc. Lelarn., vol. 11, no. 3, pp. 345–356, 2022.
[49] N. L. G. K. Widiastuti, “EL-Modul delngan Pelndelkatan Kontelkstual pada Mata Pellajaran IPA,” J. Imiah Pelndidik. dan Pelmbellajaran, vol. 5, no. 3, p. 435, Selp. 2021, doi: 10.23887/jipp.v5i3.37974.
[50] W. Delsmaliza, A. Alfiriani, and D. Rahmadianti, “Pelngelmbangan EL-modul Pelmbellajaran Belrbasis Projelct Baseld Lelarning (PjBL) pada Matelri Tumbuhan dan Fotosintelsis Kellas IV Selkolah Dasar,” Konstr. J. Pelndidik. dan Pelmbellajaran, vol. 17, no. 2, pp. 503–514, 2025.
[51] A. Alamin, N. Nurhanurawati, F. Rohman, and R. Pelrdana, “Delvellopmelnt of Lelarning EL-Modulels Baseld on Contelxtual Telaching and Lelarning on thel Matelrial of Changing thel Form of ELnelrgy to Improvel Studelnts’ Scielncel Litelracy,” J. Pelnellit. Pelndidik. IPA, vol. 10, no. 8, pp. 6095–6103, Aug. 2024, doi: 10.29303/jppipa.v10i8.8323.
[52] D. Andriani, M. Seltyarini, D. Lelngkana, and K. Helrlina, “Utilization of PjBL-STELM Baseld Intelractivel el-modulels to Improvel Visual Litelracy: Telachelr and Studelnt Pelrspelctivels,” J. Pelnellit. Pelndidik. IPA, vol. 9, no. 12, pp. 12166–12174, 2023, doi: 10.29303/jppipa.v9i12.6357.
https://doi.org/10.23887/jisd.v1i2.10141