Lathifatunnupus Lathifatunnupus (1), Fathurrohman Fathurrohman (2)
General Background: Character education remains central to elementary education as schools are expected to develop students’ academic competence, morality, and national values. Specific Background: The Pancasila Student Profile provides a national framework for shaping students who are religious, globally minded, cooperative, independent, critical, and creative, yet its implementation in elementary schools often remains limited by classroom-centered practices. Knowledge Gap: Previous studies have mostly examined the Pancasila Student Profile in general school contexts, while limited attention has been given to Islamic boarding school environments that integrate classroom learning, dormitory life, habituation, and caregiving within a continuous educational system. Aims: This study analyzes Islamic boarding school strategies for instilling Pancasila Student Profile values in elementary school students, examines the synergistic roles of principals, teachers, and caregivers, and identifies supporting and inhibiting factors in implementation. Results: The findings show that character formation is carried out holistically through religious habituation, contextual project-based learning, extracurricular activities, 24-hour dormitory guidance, educator exemplarity, and structured social interaction. The principal, teachers, and caregivers work interdependently through policy design, pedagogical practice, and student life guidance. Supporting factors include a conducive religious environment, continuous habituation, and educator modeling, while inhibiting factors include student background differences, varied understanding, adaptation processes, and limited non-boarding student involvement. Novelty: The study proposes an integrated school dormitory caregiving model, total environment learning, and a dual-factor implementation model. Implications: These findings offer a conceptual contribution to pesantren-based character education and practical guidance for holistic Pancasila Student Profile implementation.
• Character formation is developed through classroom learning, dormitory life, habituation, and caregiving.• Principals, teachers, and caregivers work interdependently in value internalization.• Supporting and inhibiting factors operate through systemic and individual student conditions.
Islamic Boarding School; Pancasila Student Profile; Character Education; Elementary Education; Total Environment Learning
Pendidikan di Indonesia sudah mengalami berbagai proses perkembangan, salah satunya adalah melalui perubahan kurikulum yang sudah dikembangkan sejak masa pra-kemerdekaan dan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada era disrupsi saat ini, berbagai aspek kehidupan mengalami perubahan signifikan, di mana tatanan lama perlahan digantikan oleh tatanan baru yang lebih sesuai dengan tuntutan zama [1].
Perkembangan teknologi memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam bidang pendidikan. Teknologi telah mempermudah proses pembelajaran, khususnya dalam membantu siswa mengakses dan memperoleh berbagai informasi yang menunjang kegiatan belajar. Namun, kemudahan tersebut tidak hanya menghadirkan dampak positif, tetapi juga membuka peluang munculnya informasi negatif yang berpotensi menimbulkan pengaruh kurang baik terhadap siswa [2].
Apabila permasalahan tersebut tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan berdampak pada berkurangnya moral, mental, dan akhlak pada generasi penerus bangsa. Hal ini dijadikan perhatian utama bagi para pendidik untuk memberikan pembinaan karakter yang kuat. Urgensi pembinaan karakter ini Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nasional dimaksudkan untuk mengembangkan potensi siswa sekaligus membentuk karakter bangsa, dan pada akhirnya menghasilkan individu dengan kompetensi yang berkembang dengan baik dan nilai-nilai moral yang kuat [3]
Sebagai wujud dari upaya pembentukan karakter tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi merumuskan Profil Pelajar Pancasila sebagai gambaran ideal siswa Indonesia. Profil pelajar pancasilamenekankan enam dimensi utama, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif [4].
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter utuh yang mampu menghadapi tantangan zaman dan menjaga jati diri bangsa [5]. Pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis 2020–2024 menetapkan Profil Siswa Pancasila sebagai tujuan utama pendidikan nasional. Profil pelajar pancasila mewakili pembelajar sepanjang hayat yang menunjukkan nilai-nilai Pancasila sekaligus memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk bersaing di tingkat global [6].
Profil Pelajar Pancasila menjadi tolok ukur utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Keenam dimensinya diharapkan dapat terintegrasi dalam seluruh aspek pembelajaran dan kehidupan sekolah. Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di tingkat sekolah dasar belum sepenuhnya optimal.[7] mengemukakan bahwa meskipun dimensi Profil Pelajar Pancasila sangat penting dalam membentuk karakter siswa, guru masih menghadapi kesulitan dalam menginternalisasikannya secara utuh. Hal ini disebabkan pembelajaran yang masih berfokus pada aspek kognitif, sementara penguatan karakter memerlukan pendekatan yang lebih mendalam, berkelanjutan, dan kontekstual. Sejalan dengan hal tersebut [8] menegaskan bahwa penguatan berpikir kritis memang bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan siswa, namun tanpa diimbangi dengan interaksi sosial yang baik, nilai-nilai gotong royong, kebinekaan, dan toleransi budaya sulit diwujudkan secara optimal.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sekolah dasar menghadapi kendala dalam pengalokasian waktu pembelajaran karena satu tema digunakan sepanjang satu semester sehingga pelaksanaannya kurang fleksibel. Proses evaluasi dan asesmen juga belum optimal, sementara keterbatasan referensi dalam penyusunan modul pembelajaran membuat integrasi nilai Profil Pelajar Pancasila menjadi tidak maksimal. Akibatnya, siswa kesulitan memahami keterkaitan materi dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga motivasi belajar menurun dan kesempatan untuk berinteraksi sosial menjadi terbatas [9].
Meskipun berbagai penelitian tersebut telah memberikan gambaran mengenai implementasi Profil Pelajar Pancasila di sekolah dasar, sebagian besar kajian masih berfokus pada konteks sekolah umum dan menitikberatkan pada proses pembelajaran di kelas. Sementara itu, kajian yang mengkaji implementasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam lingkungan pendidikan berbasis pesantren masih relatif terbatas. Padahal, pesantren memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya sistem pembinaan yang berlangsung secara menyeluruh selama 24 jam melalui integrasi antara pembelajaran di kelas, kehidupan asrama, serta pembiasaan nilai dalam aktivitas sehari-hari.
Lebih lanjut, penelitian sebelumnya cenderung belum mengkaji secara mendalam bagaimana sinergi antara kepala sekolah, guru, dan pengasuhan dalam membentuk karakter siswa secara holistik dalam satu sistem pendidikan terpadu. Padahal, dalam konteks pesantren, ketiga unsur tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dan berlangsung secara simultan dalam membina perkembangan siswa. Dengan demikian, terdapat celah penelitian yang penting untuk dikaji lebih lanjut, khususnya terkait bagaimana strategi pondok pesantren mengintegrasikan sistem pembinaan berbasis kelas, asrama, dan pembiasaan dalam menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila secara berkelanjutan.
Pesantren umumnya dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang berperan strategis dalam mendukung implementasi Profil pelajar Pancasila. Selain memberikan pengetahuan akademis, pesantren juga menekankan pengembangan nilai-nilai, disiplin, dan pembentukan karakter positif yang berkelanjutan. [10] menyatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang menjadi rujukan masyarakat sekaligus memiliki peran sosial dalam menggerakkan swadaya masyarakat dan memperbaiki kehidupan dari aspek spiritual maupun jasmaniah.
Pada jenjang sekolah dasar, penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila menjadi sangat penting karena anak berada pada tahap perkembangan awal, di mana pembentukan sikap dan karakter dapat dilakukan secara efektif melalui pembiasaan [11]. Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di MI NW Nurul Haramain menunjukkan bahwa strategi pondok pesantren berperan besar dalam membimbing siswa agar terbiasa menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru MI NW Nurul Haramain Narmada, diketahui bahwa sebagian siswa telah terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, bersikap sopan terhadap guru dan teman, serta mampu bekerja sama dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa telah mulai menginternalisasi nilai-nilai Profil Siswa Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mereka. Internalisasi ini didukung oleh berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan program pembiasaan, yang bertujuan mengembangkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial siswa. Selain itu, kegiatan seni, hadroh, kaligrafi, olahraga, serta Gerakan Pramuka juga menjadi wadah dalam menanamkan nilai gotong royong, kerja sama, disiplin, dan semangat kebinekaan. Kepala sekolah pondok pesantren MI NW Nurul Haramain turut menginisiasi berbagai kegiatan seperti Parenting Day, outing class, dauroh tahfidz, dan program membaca Al-Qur’an dua bulan tuntas sebagai upaya membangun karakter siswa secara komprehensif.
Secara keseluruhan, strategi yang diterapkan pondok pesantren MI NW Nurul Haramain dalam implementasi Profil Pelajar Pancasila menekankan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, pembiasaan nilai positif, serta peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan. Strategi ini terbukti efektif karena tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi juga mencontohkannya secara langsung melalui keteladanan guru.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengkaji lebih dalam terkait dengan strategi pondok pesantren dalam menerapkan Profil Siswa Pancasila di kalangan siswa. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran nyata mengenai peran pondok pesantren dalam membentuk karakter siswa sesuai nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan serta menjadi rujukan aplikatif bagi sekolah lain dalam mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila secara lebih efektif.
A.Jenis Penelitian
Pendekatan pada penelitian ini menggunakan kulaitatif dengan jenis penelitian studi kasus (case study). Pemilihan studi kasus didasrkan pada adanya kekhasan konteks penelitian, yaitu lingkungan sekolah dasar yang terintegrasi dengan sistem pondok pesantren.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1.Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di MI NW Nurul Haramain Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
2. Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2025/2026 di bulan desember-januari. selama waktu penelitiaan peneliti melakukan penelitian langsung ke MI NW Nurul HaramainNarmada.
C. Sumber Data
1.Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru, dan pengasuhan. Mereka dipilih karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam serta terlibat langsung dalam strategi profil pelajar pancasila di lingkungan pondok pesantren, sehingga dapat memeberikan informasi yang relevan dan akurat sesuai dengan kebutuhan penelitian.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan strategi pondok pesantren dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila pada siswa sekolah dasar. objek penelitian juga mencakup peran kepala sekolah dalam merumuskan kebijakan, mengarahkan program, serta melakukan pengawasan terhadap implementasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di sekolah.
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
1.Teknik Pengumpulan Data
a.Observasi
Untuk memperoleh data penelitian yang akurat, observasi sebagai salah satu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap partisipan dan konteks yang terkait dengan fenomena penelitian. Observasi kualitatif dapat dilakukan dalam situasi nyata atau di lingkungan yang telah dirancang secara khusus untuk penelitian. Observasi memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengamati interaksi sosial, perilaku, dan konteks yang relevan dengan fenomena yang diteliti.
b.Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data kualitatif yang melibatkan interaksi langsung antara peneliti dan informan. Melalui teknik ini, peneliti dapat memahami makna subjektif yang diberikan individu terhadap pengalaman mereka.
c.Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan informasi melalui dokumen publik maupun pribadi yang berhubungan dengan lokasi penelitian dan partisipan.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dipahami sebagai alat atau sarana sistematis yang digunakan untuk memperoleh informasi atau data yang relevan dengan fokus penelitian. [12] berpendapat bahwa pengumpulan data merupakan proses yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber yang relevan guna menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan [12]. Proses ini penting untuk menghasilkan data yang valid, reliabel, dan bermakna, sehingga dapat mendukung kesimpulan penelitian secara ilmiah.
3. Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data, peneliti memanfaatkan berbagai instrumen pendukung, seperti buku catatan lapangan, alat perekam suara, dan kamera digital untuk mendokumentasikan seluruh proses penelitian. Dalam penyusunan catatan lapangan, peneliti secara sistematis membedakan antara data yang bersifat deskriptif, yaitu berupa fakta hasil pengamatan dan wawancara, dengan data reflektif yang merupakan hasil pemaknaan atau interpretasi peneliti terhadap fenomena yang diteliti.
E. Keabsahan Data
1.Memperpanjang waktu penelitian
Pendalaman informasi dilakukan melalui pengamatan terarah dengan memperpanjang keterlibatan penelitian guna memperluas dan memperdalam data. Observasi berkelanjutan terhadap persepsi, pola pikir, perilaku, dan komunikasi warga sekolah bertujuan memperoleh pemahaman komprehensif tentang strategi pondok pesantren dalam mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila. Perpanjangan durasi penelitian juga meningkatkan validitas data melalui pemahaman konteks yang lebih utuh, verifikasi berulang, serta kedekatan dengan partisipan.
2.Observasi Partisipatif
Observasi partisipatif dilakukan melalui keterlibatan langsung peneliti dalam konteks penelitian untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap data. Dalam penelitian etnografis, konteks menjadi kunci karena makna informasi dipengaruhi oleh latar peristiwa. Oleh karena itu, observasi tidak hanya sebagai teknik pengumpulan data, tetapi juga sebagai sarana interpretasi fenomena secara komprehensif guna meningkatkan validitas.
3.Triangulasi
Triangulasi digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan membandingkan berbagai sumber dan teknik hingga diperoleh kesesuaian makna. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi antar informan, sedangkan triangulasi teknik dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Pendekatan ini memperkuat penafsiran serta mendukung temuan berbasis data yang valid.
4. Member Check
Member check dilakukan secara informal saat pengumpulan data dengan mengonfirmasi langsung informasi kepada partisipan, serta secara formal setelah data terkumpul. Penerapan member check, triangulasi, dan ketekunan pengamatan bertujuan memastikan keabsahan data, meminimalkan bias, serta menjamin hasil penelitian yang faktual dan objektif.
F. Analisis Data
Penyajian data merupakan tahap lanjutan setelah reduksi data. Tahap ini berfungsi untuk menyusun informasi yang telah terorganisasi dengan baik sehingga memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan serta menentukan langkah yang tepat [13].
1. Kondensasi Data
Kondensasi data adalah tahap di mana peneliti melakukan proses pemilahan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstrakan, serta pengubahan data mentah yang diperoleh dari catatan lapangan [13]. Proses ini mencakup sejumlah langkah, antara lain memperdalam analisis, mengelompokkan atau mengkategorikan data sesuai permasalahan disertai ringkasan, memusatkan perhatian pada aspek penting, menyingkirkan informasi yang tidak relevan, serta menata data agar lebih mudah digunakan dan diverifikasi.
2. Penyajian Data
Setelah tahap reduksi data, langkah selanjutnya adalah penyajian data. Tahap ini berfungsi untuk menyusun informasi yang telah terorganisasi dengan baik sehingga memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan serta menentukan langkah yang tepat [13]. Penyajian data bertujuan agar hasil reduksi dapat ditampilkan secara terstruktur dalam suatu Pola dalam suatu hubungan yang memudahkan peneliti maupun pembaca untuk memahami temuan penelitian.
3. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi
Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak tahap awal pengumpulan data. Oleh karena itu, kesimpulan yang pertama kali ditarik bersifat sementara atau tentatif. Veriviakasi dilakukan Agar kesimpulan tersebut memiliki dasar yang lebih kuat secara berkelanjutann sepanjang proses penelitian. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keabsahan dan tingkat kepercayaan terhadap hasil penelitian, melalui mekanisme member check dan triangulasi.
A. Strategi pondok pesantren dalam menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila pada siswa sekolah dasar
1.Integrasi Pembelajaran, Asrama, dan Pembiasaan dalam Penanaman Nilai Profil Pelajar Pancasila
Implementasi penanaman nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di MI NW Nurul Haramain Narmada menunjukkan bahwa lingkungan pondok pesantren memiliki peran strategis dalam menjadikan nilai karakter sebagai dasar dalam proses pendidikan siswa sekolah dasar. Temuan ini sejak awal menunjukkan terbentuknya Model Integrasi Sekolah, Asrama, Pengasuhan dalam Implementasi Profil Pelajar Pancasila, yaitu model implementasi yang menempatkan pembelajaran, kehidupan asrama, pembiasaan, keteladanan, dan penguatan melalui pengasuhan sebagai komponen yang saling terhubung dalam satu sistem pendidikan integratif. Pada model ini, penanaman nilai tidak berlangsung melalui strategi tunggal, tetapi melalui keterhubungan antarunsur yang bekerja secara simultan dalam membentuk karakter siswa.
Pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter melalui integrasi pembelajaran, kehidupan asrama, dan pembiasaan nilai-nilai religius, sosial, dan budaya yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari siswa. Nilai-nilai seperti religius, kedisiplinan, tanggung jawab, gotong royong, dan empati tidak diajarkan secara teoritis semata, tetapi diimplementasikan melalui pengalaman langsung yang membentuk kebiasaan dan karakter siswa secara bertahap.
Temuan ini menguatkan konsep pendidikan karakter [14], khususnya pada tiga dimensi moral knowing, moral feeling, dan moral action [14]. Namun demikian, penelitian ini tidak berhenti pada penguatan teori, melainkan sekaligus memperluasnya. Jika dalam kerangka Lickona tindakan moral banyak dipahami berkembang melalui habituasi dan pengalaman moral individu, maka penelitian ini menunjukkan bahwa moral action dalam konteks pesantren tidak terbentuk hanya melalui habituasi individual, melainkan melalui integrasi sistem sekolah, asrama, dan pengasuhan. Di titik ini, penelitian ini juga memodifikasi pembacaan terhadap teori Lickona dengan menempatkan dimensi struktural dan sistemik sebagai faktor pembentuk tindakan moral, bukan hanya faktor personal dan habituatif. Dengan demikian, temuan ini berkontribusi memperluas teori pendidikan karakter dari pendekatan individual menuju pendekatan sistem pendidikan integratif.
Pada kegiatan pembelajaran di kelas, guru mengaitkan materi dengan pengalaman kehidupan siswa di pesantren. Nilai gotong royong ditanamkan melalui kerja kelompok, tanggung jawab dibangun melalui tugas individu dan kegiatan bersama, sedangkan toleransi dan empati tumbuh melalui interaksi sosial yang partisipatif. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa, sehingga pembentukan karakter tidak berlangsung melalui ceramah semata, tetapi melalui pengalaman belajar yang melibatkan interaksi sosial.
Temuan ini juga menguatkan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura yang dikemukananoleh [15] terutama terkait proses observasi, imitasi, dan modelling [15]. Namun penelitian ini sekaligus memperluas teori Bandura karena proses modeling di pesantren tidak hanya berlangsung dalam hubungan individu dengan model sosial, tetapi beroperasi dalam struktur lingkungan pendidikan yang terus-menerus. Artinya, modeling tidak semata dipahami sebagai proses psikologis individual, tetapi juga sebagai proses sosial kultural yang ditopang oleh ekosistem pendidikan karakter. Bahkan pada titik tertentu, penelitian ini memodifikasi pembacaan teori Bandura dengan menunjukkan bahwa keberhasilan modeling tidak hanya bergantung pada keberadaan figur teladan, tetapi pada keterhubungan antara teladan, budaya institusi, dan sistem pengasuhan. Ini menjadi karakteristik yang tidak banyak dijelaskan dalam konstruksi awal teori pembelajaran sosial.
Selain melalui pembelajaran, strategi penanaman nilai juga tampak melalui kegiatan pembiasaan terstruktur seperti salat berjamaah, kerja bakti, kegiatan ekstrakurikuler, dan disiplin kehidupan asrama. Melalui kegiatan ini, nilai tidak hanya dipahami, tetapi dialami dan dipraktikkan secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pesantren tidak bersifat parsial, tetapi membentuk integrasi antara dimensi instruksional, kultural, dan struktural.
Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, perbedaan penelitian ini tampak lebih jelas. Sejumlah penelitian sebelumnya cenderung menempatkan pendidikan karakter berbasis sekolah pada integrasi pembelajaran formal, sementara penelitian lain menekankan pembiasaan atau keteladanan sebagai strategi dominan yang berdiri sendiri. Berbeda dengan itu, penelitian ini menemukan bahwa implementasi nilai Profil Pelajar Pancasila di pesantren justru terbentuk melalui keterhubungan pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan pengasuhan dalam satu model integratif pesantren. Dengan demikian, kontribusi penelitian ini bukan hanya mengonfirmasi temuan sebelumnya, tetapi menawarkan konstruksi baru berupa model implementasi berbasis keterhubungan sistemik.
Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, penelitian ini menemukan bahwa strategi pondok pesantren membentuk Model Integrasi Sekolah, Asrama, Pengasuhan dalam Implementasi Profil Pelajar Pancasila, sebagai model integratif pesantren yang memperlihatkan penanaman nilai berjalan melalui relasi antarkomponen dalam satu sistem, bukan melalui strategi yang berdiri sendiri.
2. Peran Kepala Sekolah, Guru, dan Pengasuhan dalam Mendukung Implementasi Nilai Profil Pelajar Pancasila
Implementasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di lingkungan pondok pesantren tidak hanya ditentukan oleh strategi yang diterapkan, tetapi juga oleh sinergi peran kepala sekolah, guru, dan pengasuhan sebagai aktor utama implementasi. Ketiga aktor ini memiliki fungsi berbeda, tetapi saling terhubung dalam membentuk sistem pendidikan karakter.
Kepala sekolah berperan pada level kebijakan, melalui perancangan program, penguatan budaya sekolah, dan pengintegrasian nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila ke dalam sistem pendidikan pesantren. Guru berperan pada level pedagogik, sebagai fasilitator, pembimbing, sekaligus teladan dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter siswa. Sementara itu, pengasuhan berperan pada level penguatan karakter, melalui pembinaan intensif di asrama, pengawasan, serta pengondisian perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan ini menguatkan pemikiran Ki Hajar Dewantara( [16] mengenai keterpaduan lingkungan pendidikan, namun sekaligus memperluas dan memodifikasinya [16]. Jika Ki Hajar Dewantara menekankan keterhubungan antarlingkungan pendidikan, maka penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks pesantren keterhubungan itu beroperasi lebih jauh sebagai sistem peran yang terstruktur. Artinya, bukan hanya ada keterpaduan lingkungan, tetapi ada mekanisme distribusi fungsi: kepala sekolah pada level kebijakan, guru pada level pedagogik, dan pengasuhan pada level penguatan karakter. Ini memperluas teori dari konsep keterpaduan menuju konstruksi sistem peran.
Berdasarkan keseluruhan temuan tersebut, penelitian ini menemukan bahwa peran kepala sekolah, guru, dan pengasuhan tidak hanya “berperan”, tetapi saling bekerja membentuk mekanisme implementasi. Kebijakan tanpa pedagogi tidak cukup menginternalisasi nilai. Pedagogi tanpa penguatan karakter di asrama tidak cukup menjamin keberlanjutan internalisasi. Sebaliknya, pengasuhan tanpa arah kebijakan dan dukungan pedagogik berpotensi berjalan parsial. Karena itu, hubungan ketiganya bersifat interdependen dan membentuk konstruksi sistem. Implementasi Model ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya bersifat instruksional, tetapi juga kultural dan struktural, di mana nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan dalam praktik keseharian siswa. Temuan ini menjadi kontribusi penting dalam pengembangan teori pendidikan karakter, khususnya dalam konteks pendidikan berbasis pesantren.
B. Peran Lingkungan Pondok Pesantren dalam Mendukung Penerapan Profil Pelajar Pancasila
Penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di MI NW Nurul Haramain Narmada menunjukkan bahwa lingkungan pondok pesantren memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar. Lingkungan pesantren tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang sosial yang secara langsung membentuk kebiasaan, sikap, dan perilaku siswa melalui interaksi yang berlangsung secara intensif dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian, peran lingkungan pondok pesantren dalam mendukung penerapan Profil Pelajar Pancasila dapat diklasifikasikan ke dalam tiga komponen temuan utama, yaitu lingkungan sosial sebagai ruang internalisasi nilai, sistem pembiasaan sebagai mekanisme penguatan karakter, dan struktur kehidupan asrama sebagai kontrol perilaku dan disiplin.
Komponen pertama, lingkungan sosial sebagai ruang internalisasi nilai, terlihat dari kehidupan berasrama dengan latar belakang siswa yang beragam yang mendorong terbentuknya sikap toleransi, empati, kerja sama, serta kemampuan beradaptasi. Siswa belajar menghargai perbedaan, mengikuti aturan bersama, membangun hubungan sosial yang harmonis, dan mengembangkan sikap gotong royong melalui interaksi sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial pesantren berperan aktif dalam membentuk dimensi berkebinekaan global, gotong royong, serta mendukung berkembangnya kemandirian siswa dalam Profil Pelajar Pancasila.
Temuan tersebut sejalan dengan pendapat [17] yang menyatakan bahwa kehidupan di pesantren menuntut siswa untuk menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan baru [17]. Proses adaptasi ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter karena siswa belajar mengontrol perilaku, memahami norma sosial, serta membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, berbeda dengan Kompri yang menempatkan adaptasi sebagai konsekuensi kehidupan pesantren, penelitian ini menunjukkan bahwa adaptasi justru merupakan mekanisme inti pembentukan karakter, karena melalui proses adaptasi siswa secara bertahap membangun kesadaran, menginternalisasi nilai, dan membentuk kebiasaan melalui interaksi sosial yang berulang.
Selain itu, peran lingkungan dalam membentuk karakter siswa juga dapat dipahami melalui konsep pendidikan sebagai proses pewarisan nilai sosial. Crow and Crow yang dikutip oleh [18] menjelaskan bahwa pendidikan merupakan proses transmisi nilai, budaya, dan kebiasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya [18]. Dalam konteks pesantren, nilai-nilai religius, sosial, dan budaya tidak hanya diajarkan, tetapi diwariskan melalui praktik kehidupan sehari-hari seperti kegiatan ibadah berjamaah, interaksi sosial, serta pembiasaan disiplin. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa proses transmisi nilai di pesantren berlangsung secara alami (naturalistic learning), di mana siswa belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui instruksi formal. Proses ini sekaligus berkontribusi pada terbentuknya dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, khususnya melalui pembiasaan religius dan kehidupan sosial yang sarat nilai moral.
Komponen kedua, sistem pembiasaan sebagai mekanisme penguatan karakter, terlihat melalui keteraturan aktivitas siswa, pembiasaan disiplin, kegiatan ibadah berjamaah, tanggung jawab kolektif, serta rutinitas kehidupan pesantren yang dilakukan secara berulang. Pembiasaan ini berfungsi memperkuat nilai karakter sehingga tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berkembang menjadi perilaku yang menetap. Hasil penelitian ini diperkuat oleh temuan [19] yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial pesantren berfungsi sebagai ruang pendidikan nilai yang efektif dalam membentuk karakter siswa secara menyeluruh [19]. Namun penelitian ini tidak hanya mengonfirmasi temuan tersebut, melainkan menunjukkan bahwa pembiasaan bukan sekadar strategi penguatan karakter, tetapi merupakan mekanisme utama yang mendorong internalisasi nilai secara berkelanjutan.
Melalui sistem pembiasaan ini, dimensi mandiri berkembang melalui pembentukan tanggung jawab personal, dimensi bernalar kritis berkembang ketika siswa belajar mengambil keputusan dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari di lingkungan asrama, sedangkan dimensi kreatif berkembang melalui keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas kolektif, penyelesaian masalah, serta penyesuaian terhadap dinamika kehidupan bersama. Dengan demikian, sistem pembiasaan tidak hanya memperkuat sebagian dimensi Profil Pelajar Pancasila, tetapi berkontribusi terhadap pengembangan enam dimensi secara utuh.
Komponen ketiga, struktur kehidupan asrama sebagai kontrol perilaku dan disiplin, terlihat melalui adanya sistem aturan yang terstruktur, pengawasan yang konsisten, serta mekanisme pembinaan yang mendukung keteraturan perilaku siswa. Temuan ini diperkuat oleh penelitian [20] yang menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter di pesantren didukung oleh aturan yang terstruktur dan pembiasaan disiplin yang konsisten. Namun demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa struktur kehidupan asrama tidak hanya berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial, tetapi menjadi sistem pedagogis yang secara aktif membentuk perilaku, mengarahkan disiplin, dan menopang keberlanjutan internalisasi nilai karakter.
Ketiga komponen tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama lingkungan pesantren terletak pada integrasi antara interaksi sosial, pembiasaan nilai, dan struktur kehidupan asrama. Lingkungan yang terstruktur memungkinkan siswa mengalami langsung proses internalisasi nilai melalui praktik nyata, bukan hanya melalui penjelasan teoritis. Hal ini berbeda dengan lingkungan sekolah non-boarding yang memiliki keterbatasan waktu dalam membentuk karakter siswa. Meskipun demikian, proses pembentukan karakter melalui lingkungan pesantren juga menghadapi tantangan, terutama dalam proses adaptasi siswa terhadap budaya baru. Perbedaan latar belakang dapat memunculkan dinamika sosial yang memerlukan pembinaan secara berkelanjutan agar nilai-nilai yang diharapkan dapat terinternalisasi secara optimal.
Berdasarkan tiga komponen temuan tersebut, penelitian ini menemukan Model Lingkungan Pesantren sebagai Total Environment Learning dalam Implementasi Profil Pelajar Pancasila. Konsep total environment learning dalam penelitian ini merujuk pada integrasi tiga elemen utama, yaitu interaksi sosial sebagai ruang internalisasi nilai, sistem pembiasaan sebagai mekanisme penguatan karakter, dan struktur kehidupan asrama sebagai kontrol perilaku dan disiplin yang secara simultan membentuk karakter siswa. Integrasi ketiga elemen tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan Profil Pelajar Pancasila tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran formal, tetapi sangat dipengaruhi oleh kekuatan lingkungan sebagai ekosistem pendidikan karakter yang holistik dan berkelanjutan.
Konsep ini sekaligus melengkapi teori pendidikan karakter yang selama ini lebih menekankan pembelajaran formal di kelas, karena penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan sebagai sistem kehidupan total memiliki kontribusi yang sama pentingnya, bahkan menjadi basis utama internalisasi nilai karakter. Dengan demikian, temuan ini tidak hanya memperkuat teori sebelumnya, tetapi memberikan kontribusi konseptual baru melalui model Total Environment Learning sebagai bentuk pengembangan teori pendidikan karakter berbasis pesantren.
Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan pondok pesantren memiliki peran yang sangat penting sebagai faktor utama dalam mendukung penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila melalui tiga komponen utama, yaitu lingkungan sosial sebagai ruang internalisasi nilai, sistem pembiasaan sebagai mekanisme penguatan karakter, dan struktur kehidupan asrama sebagai kontrol perilaku dan disiplin, yang terintegrasi dalam model Total Environment Learning sebagai ekosistem pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk siswa secara holistik.
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Profil Pelajar Pancasila di Pondok Pesantren.
Strategi pondok pesantren dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila pada siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi dalam menentukan keberhasilan implementasi nilai-nilai karakter. Hasil analisis mengindikasikan bahwa faktor pendukung dan faktor penghambat tidak bekerja secara terpisah, melainkan membentuk hubungan dinamis antara faktor sistemik dan faktor individual siswa. Dalam penelitian ini, faktor sistemik meliputi lingkungan religius, struktur kegiatan, pembiasaan, dan interaksi sosial, sedangkan faktor individual meliputi kesiapan adaptasi, latar belakang siswa, serta keterlibatan siswa dalam sistem pembinaan pesantren.
1. Faktor Pendukung
Temuan penelitian menunjukkan bahwa lingkungan pesantren yang religius dan terstruktur tidak hanya menjadi faktor pendukung secara langsung, tetapi juga berfungsi memperkuat proses pembiasaan yang mendorong internalisasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan seperti sholat berjamaah, pengajian, kerja bakti, dan aktivitas harian yang terjadwal tidak sekadar membentuk rutinitas, tetapi menciptakan sistem pembinaan yang memungkinkan nilai karakter dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan ini sejalan dengan pendapat [21] yang menyatakan bahwa sistem kehidupan berasrama membentuk disiplin melalui aturan dan pembiasaan yang terus-menerus [20]. Namun, penelitian ini menunjukkan lebih lanjut bahwa struktur lingkungan tidak hanya berfungsi sebagai konteks pendidikan, tetapi menjadi penguat utama bagi keberlangsungan pembiasaan karakter. Dalam konteks ini, lingkungan terstruktur memperkuat pembiasaan, dan pembiasaan tersebut mempercepat proses adaptasi siswa terhadap sistem nilai yang diterapkan di pesantren.
Data lapangan juga memperlihatkan bahwa intensitas interaksi sosial antara siswa, guru, dan pengasuh berperan sebagai penghubung yang memperkuat hubungan antara lingkungan yang terstruktur dengan keberhasilan internalisasi nilai. Interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus memungkinkan pembelajaran nilai berlangsung tidak hanya melalui instruksi formal, tetapi melalui keteladanan, pengawasan, dan pengalaman sosial sehari-hari. Kondisi ini memperkuat temuan. [22] bahwa keberhasilan pendidikan karakter di pesantren dipengaruhi oleh konsistensi aturan, pembiasaan berkelanjutan, dan sistem interaksi yang mendukung [21].
Dengan demikian, faktor pendukung dalam penelitian ini tidak dipahami sebagai unsur yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sistem yang saling memperkuat antara lingkungan terstruktur, pembiasaan, dan interaksi sosial. Relasi antar faktor ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila tidak hanya ditentukan oleh keberadaan masing-masing faktor, tetapi oleh sinergi antar faktor tersebut dalam membangun sistem penguatan karakter.
2. Faktor Penghambat
Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor penghambat implementasi tidak hanya bersumber dari kendala teknis, tetapi terutama berkaitan dengan faktor individual siswa yang berinteraksi dengan sistem pembinaan pesantren. Perbedaan latar belakang siswa, proses adaptasi terhadap budaya pesantren, serta tingkat kesiapan siswa dalam menerima pembinaan menjadi faktor yang dapat menghambat optimalisasi internalisasi nilai karakter.
Hasil analisis mengindikasikan bahwa hambatan ini muncul ketika kesiapan individual siswa belum sepenuhnya sejalan dengan tuntutan sistem lingkungan yang terstruktur. Dalam kondisi demikian, proses adaptasi berjalan lebih lambat, sehingga memengaruhi efektivitas pembiasaan dan internalisasi nilai. Dengan kata lain, jika lingkungan terstruktur memperkuat pembiasaan, maka kemampuan adaptasi siswa menjadi faktor yang memediasi keberhasilan proses tersebut.
Temuan ini diperkuat oleh [23] yang menyatakan bahwa pembentukan moral dipengaruhi oleh penalaran moral, perasaan moral, dan perilaku moral [22]. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa ketidaksiapan pada salah satu aspek tersebut dapat memengaruhi penerimaan siswa terhadap pembinaan karakter, terutama pada tahap awal adaptasi.
Selain itu, keterbatasan waktu pada siswa nonmukim juga menjadi hambatan karena keterlibatan mereka dalam sistem pembiasaan tidak berlangsung secara penuh. Namun, penelitian ini menemukan bahwa hambatan tersebut tidak dibiarkan menjadi kendala yang bersifat pasif, melainkan dimitigasi melalui respons institusi berupa penguatan pendampingan, pembinaan bertahap, penyesuaian pola pengasuhan, serta penguatan koordinasi antara sekolah, asrama, dan keluarga. Strategi ini menunjukkan bahwa hambatan dalam implementasi tidak hanya dihadapi, tetapi dikelola melalui mekanisme adaptif dalam sistem pendidikan pesantren.
Dengan demikian, faktor penghambat dalam penelitian ini tidak dipahami semata sebagai kelemahan implementasi, tetapi sebagai tantangan yang memerlukan strategi mitigasi. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi sangat ditentukan oleh kemampuan institusi dalam menjembatani faktor individual siswa dengan tuntutan sistem lingkungan pesantren.
D. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian tentang strategi pondok pesantren dalam penerapan profil pelajar pancasila pada siswa sekolah dasar, dapat disimpulkan bahwa:
1.Strategi penanaman nilai profil pelajar pancasila dan Peran kepala sekolah, guru, dan pengasuhan siswa
Strategi penanaman nilai Profil Pelajar Pancasila dilaksanakan melalui integrasi kegiatan intrakurikuler, pembiasaan, dan sistem kehidupan pesantren yang saling memperkuat dalam proses internalisasi karakter siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi implementasi tidak hanya bersifat instruksional, tetapi juga bersifat kultural dan struktural melalui integrasi sekolah, asrama, pengasuhan sebagai model implementasi pendidikan karakter berbasis pesantren.
Peran kepala sekolah, guru, dan pengasuhan siswa menunjukkan adanya sinergi yang membentuk model kolaboratif dalam implementasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Keberhasilan implementasi nilai tidak ditentukan oleh peran aktor secara terpisah, tetapi oleh keterpaduan peran dalam sistem pendidikan karakter yang berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan.
2.Peran lingkungan pondok pesantren
Lingkungan pondok pesantren berfungsi sebagai ekosistem pendidikan karakter yang bersifat total environment learning, di mana seluruh aktivitas kehidupan siswa menjadi media internalisasi nilai. Temuan ini menegaskan bahwa lingkungan pesantren tidak hanya menjadi faktor pendukung, tetapi menjadi faktor utama dalam keberhasilan pembentukan karakter siswa.
3. Faktor pendukung dan penghambat
Faktor pendukung dan penghambat implementasi menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dipengaruhi oleh interaksi antara faktor sistemik (lingkungan, struktur, pembiasaan, interaksi sosial) dan faktor individual (adaptasi, latar belakang, kesiapan siswa). Temuan ini menghasilkan Model Dual Faktor Implementasi Profil Pelajar Pancasila Berbasis Pesantren, yang menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter ditentukan oleh keseimbangan antara penguatan sistem lingkungan dan strategi adaptasi peserta didik.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan berbasis pesantren memiliki keunggulan dalam membentuk karakter siswa secara holistik melalui integrasi sistem lingkungan, kolaborasi aktor pendidikan, dan strategi adaptif terhadap karakteristik siswa. Temuan ini menjadi kontribusi konseptual dalam pengembangan teori implementasi pendidikan karakter berbasis pesantren.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak MI NW Nurul Haramain Narmada atas izin dan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Apresiasi juga disampaikan kepada kepala sekolah, guru, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan membantu sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian ini memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan berbasis pesantren.
Lubaba, “Analisis penerapan profil pelajar Pancasila dalam pembentukan karakter peserta didik di sekolah dasar,” Edusaintek: Jurnal Pendidikan, Sains dan Teknologi, vol. 9, no. 3, pp. 687–706, Aug. 2022, doi: 10.47668/edusaintek.v9i3.576.
Wijayanti, “Penguatan dimensi berkebinekaan global profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan,” Educatio, vol. 18, no. 1, pp. 172–184, 2023, doi: 10.29408/edc.v18i1.12518.
A. Reksa, “Peran guru dalam menanamkan nilai karakter peserta didik melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila,” Jurnal Ilmiah dan Karya Mahasiswa, vol. 1, no. 3, pp. 110–124, 2023, doi: 10.54066/jikma-itb.v1i3.305.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, “Pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran,” 2022. [Online]. Available: https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/salinan_20220711_121315_Fix%20Salinan%20JDIH_Kepmen%20Perubahan%2056%20Pemulihan%20Pembelajaran.pdf
Asiati et al., “Implementasi projek penguatan profil pelajar Pancasila di sekolah penggerak,” Jurnal Lingkar Mutu Pendidikan, vol. 19, no. 2, pp. 61–72, Dec. 2022, doi: 10.54124/jlmp.v19i2.78.
Santika et al., “Implementasi profil pelajar Pancasila sebagai pendidikan karakter di sekolah dasar,” Jurnal Obsesi, vol. 7, no. 6, pp. 6641–6653, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i6.5611.
Rizkasari et al., “Tantangan implementasi nilai-nilai profil pelajar Pancasila dalam pendidikan Pancasila pada kurikulum merdeka belajar,” Action Research Journal Indonesia, vol. 7, no. 1, Mar. 2025, doi: 10.61227/arji.v7i1.309.
B. P. A. Putra, “Metaverse: Tantangan dan peluang dalam pendidikan profil pelajar Pancasila,” dalam Seminar Nasional Manajemen Strategi Pengembangan Profil Pelajar Pancasila pada PAUD dan Pendidikan Dasar, vol. 6, no. 3, pp. 3351–3363, 2022.
S. S. Gunadi, N. Hanifah, dan R. G. Nugraha, “Analisis strategi penerapan profil pelajar Pancasila dalam penguatan karakter peserta didik di sekolah dasar,” Jurnal Kependidikan, vol. 13, no. 1, pp. 177–184, 2024. [Online]. Available: https://jurnaldidaktika.org
Z. K. Nisa, “Pengembangan pendidikan lingkungan hidup di pondok pesantren Kabupaten Blitar,” Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual, vol. 4, no. 1, p. 105, 2019, doi: 10.28926/briliant.v4i1.275.
H. Hendri, “Penanaman nilai-nilai Pancasila pada kehidupan santri di pondok pesantren,” vol. 15, no. 2, pp. 103–110, 2018.
M. Nafisatur, “Metode pengumpulan data penelitian,” vol. 3, no. 5, pp. 5423–5443, 2024.
M. B. Miles dan A. M. Huberman, Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Thousand Oaks, CA: Sage, 1994.
T. Lickona, “What is effective character education?” presented at the Stony Brook School Symposium on Character, pp. 1–12, 2001. [Online]. Available: https://wicharacter.org/wp-content/uploads/What-is-Effective-Character-Ed-Stonybrook-debate-by-Thomas-Lickona.pdf
E. R. Boiliu, “Aplikasi teori belajar sosial Albert Bandura terhadap PAK masa kini,” vol. 3, no. 2, pp. 133–143, 2022, doi: 10.25278/jitpk.v3i2.649.
Asnawan, “Exploring education character thought of Ki Hajar Dewantara and Thomas Lickona,” vol. 3, no. 3, 2020.
Kompri, Manajemen & Kepemimpinan Pondok Pesantren. Jakarta: Prenada Media, 2018.
U. Seno, S. Narimo, D. Fuadi, Minsih, dan C. Widyasari, “Implementation of local wisdom based learning in realizing Pancasila student profiles in elementary schools,” Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, vol. 6, no. 4, pp. 652–660, 2022, doi: 10.23887/jisd.v6i4.56041.
I. Fikriah, “Pengaruh lingkungan asrama dalam pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren Syech Ahmad Chatib,” vol. 3, no. 2, pp. 145–152, 2024.
S. Al Baqi, “Faktor pendukung motivasi berperilaku disiplin pada santri pondok pesantren,” vol. 1, no. 1, n.d.
D. P. Damayanti, “Model dukungan holistik terhadap pendidikan anak di pondok pesantren,” vol. 4, pp. 2121–2128, 2023.
S. M. Muniroh, “Perkembangan moral santri anak usia dini,” Jurnal Penelitian, vol. 12, no. 2, pp. 180–199, 2018.