Login
Section Business and Economics

The Effect of Strategic Management Accounting, Green Accounting, and Firm Age on Profitability with Company Size as a Moderating Variable in Energy Companies on the IDX for the 2020–2025 Period


Pengaruh Strategic Management Accounting, Green Accounting dan Firm Age terhadap Profitabilitas dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi pada Perusahaan Energi di BEI Periode 2020–2025
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Ari Zidan Mahzumi (1), Novi Darmayanti (2), Dewi Kusmayasari (3)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
(3) Program Studi Akuntansi, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background The energy sector faces increasing environmental regulatory pressure and sustainability demands that require more adaptive accounting strategies to maintain financial performance. Specific Background This study examines Strategic Management Accounting, Green Accounting, and Firm Age as determinants of profitability, measured by Return on Assets, with Firm Size positioned as a moderating variable in energy companies during the 2020–2025 period. Knowledge Gap Previous studies have produced inconsistent findings on the relationship between Green Accounting and profitability, while Firm Size has commonly been treated as a control variable rather than a contingency factor. Aims This study aims to empirically analyze Strategic Management Accounting, Green Accounting, and Firm Age in relation to profitability and assess the moderating role of Firm Size. Results The findings show that Strategic Management Accounting, Green Accounting, and Firm Age have positive and significant relationships with profitability. Firm Size strengthens the relationship between Strategic Management Accounting and profitability, as well as between Firm Age and profitability, but does not moderate the relationship between Green Accounting and profitability. Novelty The study offers an integrative model combining accounting strategy, environmental accounting, organizational maturity, and company scale in explaining profitability in the energy sector. Implications The findings indicate that energy companies should optimize Strategic Management Accounting and Green Accounting while considering organizational scale and maturity to sustain profitability under energy transition pressure.


Highlights

• Strategic Management Accounting shows a positive and significant relationship with profitability.
• Green Accounting contributes significantly through environmental cost internalization and operational efficiency.
• Firm Size moderates Strategic Management Accounting and Firm Age, but not Green Accounting.


Keywords

Strategic Management Accounting; Green Accounting; Firm Age; Firm Size; Profitability

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Sektor energi di Indonesia tengah mengalami perubahan struktural yang signifikan akibat tekanan global untuk dekarbonisasi serta pergeseran orientasi ekonomi ke arah yang lebih berkelanjutan. Sebagai sektor strategis dalam perekonomian nasional, industri ini menghadapi dilema peran, yakni sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus penyumbang dominan emisi gas rumah kaca (GRK). Data Inventarisasi Emisi GRK Nasional menunjukkan bahwa kontribusi sektor energi berada pada kisaran 43%–45% dari total emisi nasional, sehingga menempatkannya sebagai fokus utama pengawasan regulator dan perhatian publik. Rentang waktu 2020–2025 menjadi fase kritis sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) serta target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Kondisi tersebut mendorong perusahaan-perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan penyesuaian strategis, dengan mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan ke dalam model bisnis, tidak semata berorientasi pada maksimalisasi laba, tetapi juga pada upaya menjaga legitimasi lingkungan[1] .

Secara konseptual, tekanan yang berasal dari regulasi maupun ekspektasi sosial dapat diinterpretasikan melalui kerangka Legitimacy Theory, yang menegaskan adanya “kontrak sosial” implisit antara entitas bisnis dan masyarakat. Dalam konteks ini, perusahaan sektor energi di Indonesia menjalankan operasinya di bawah potensi risiko kehilangan legitimasi publik apabila aktivitas yang dilakukan dinilai berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem[1]. Argumen tersebut semakin diperkuat oleh perspektif Stakeholder Theory, yang menempatkan masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan utama. Teori ini menegaskan bahwa keberlanjutan suatu entitas bisnis sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengakomodasi serta menyeimbangkan kepentingan berbagai pihak, termasuk pemerintah, investor, dan komunitas lokal yang terdampak langsung oleh aktivitas eksplorasi dan eksploitasi energi[2]. Transparansi pengungkapan lingkungan tidak sekedar administrative, tetapi strategis untuk menjaga kepercayaan pemangku kepentingan.

Sementara itu, transisi bisnis hijau memunculkan tantangan manajerial kompleks, sehigga penerapan Strategic Management Accounting (SMA) menjadi krusial di Tengah fluktuasi pasca pandemi [3]. SMA melampaui batas akuntansi tradisional dengan mengintegrasikan perspektif eksternal, analisis pesaing, dan strategi informasi untuk mendukung pengambilan keputusan jangka panjang [3]. Di sektor energi yang memiliki intensitas modal tinggi, implementasi SMA manajer memungkinkan untuk memetakan posisi strategi perusahaan di tengah pemasaran harga komoditas global. Penggunaan teknik SMA seperti penetapan biaya atribut dan akuntansi pesaing terbukti krusial dalam menjaga keunggulan kompetitif saat perusahaan harus mengalokasikan sumber daya besar untuk teknologi rendah karbon [4]; [5].

Sejalan dengan kebijakan manajerial, Green Accounting menjadi alat sistematis untuk pegelolaan biaya lingkungan dan telah bergeser dari aspek normatif menjadi strategi peningkat daya Tarik investasi berkelanjutan di Indonesia. Melalui pencatatan dan pengukuran biaya lingkungan yang lebih akurat, perusahaan memperoleh kemampuan untuk mengevaluasi tingkat efisiensi penggunaan energi serta menilai efektivitas upaya pengendalian dan mitigasi dampak pencemaran.[6]. Kendati demikian, terdapat fenomena Research Gap yang signifikan terkait pengaruh Green Accounting terhadap profitabilitas.

Sebagian penelitian menunjukkan bahwa investasi lingkungan secara sistematis meningkatkan kinerja keuangan melalui efisiensi sumber daya [7];[8]. Sebaliknya, kajian lain justru menemukan bahwa pengeluaran lingkungan yang masif dalam jangka pendek dapat menggerus margin laba, terutama pada perusahaan yang memiliki struktur biaya yang kaku[9]. Kontradiksi temuan ini menunjukkan adanya variabel lain yang mengintervensi hubungan tersebut.

Karakteristik internal perusahaan, khususnya umur perusahaan (firm age), turut memengaruhi dinamika tersebut. Variabel ini mencerminkan tingkat kematangan organisasi serta akumulasi pengalaman dalam menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan lingkungan bisnis. Dalam konteks sektor energi, perusahaan yang telah beroperasi dalam jangka waktu panjang umumnya memiliki kurva pembelajaran yang lebih mapan, terutama dalam pengelolaan risiko operasional dan peningkatan efisiensi aset[10]. Namun, maturitas ini sering kali dibarengi dengan inersia organisasi atau ketergantungan pada infrastruktur energi fosil yang sudah usang ( aset warisan ), sehingga pengaruhnya terhadap profitabilitas di era transisi energi masih menunjukkan hasil yang ambigu [11];[12].

Urgensi penelitian ini terletak pada analisi kemampuan perusahaan energi di Indonesia menjaga profitabilitas di Tengah ketatnya regulasi lingkungan. Periode 2020-2025 menjadi krusial dengan hadirnya pajak dan bursa karbon yang memengaruhi biaya operasional, sehingga tanpa strategi akuntansi adaptif dan pengelolaan lingkungan terintegrasi, kinerja keuangan berisiko menurun. Dampak lanjutan dari penurunan tersebut tidak hanya terbatas pada level korporasi, tetapi juga dapat berimplikasi pada stabilitas dan ketahanan energi nasional.

Kebaruan ( Novelty ) dalam penelitian ini terletak pada integrasi SMA, Green Accounting , dan Firm Age dalam satu konsep model dengan menempatkan Ukuran Perusahaan ( Firm Size ) sebagai variabel moderasi. Sebagian besar penelitian terdahulu hanya menguji pengaruh variabel-variabel tersebut secara parsial atau langsung. Penelitian ini berargumen bahwa efektivitas SMA dan Green Accounting dalam mendongkrak laba sangat bergantung pada skala organisasi. Perusahaan besar memiliki kapasitas sumber daya dan financial slack yang lebih kuat untuk menanggung biaya awal implementasi sistem akuntansi hijau dan teknologi rendah karbon[13];[14]. Sebaliknya, bagi perusahaan kecil, beban lingkungan dapat mengganggu keuangan yang memperlemah kinerja laba mereka [15].

Namun, terdapat fenomena penelitian gap yang signifikan terkait pengaruh Green Accounting terhadap profitabilitas. Ketidakpastian hasil penelitian terdahulu menciptakan ambiguitas bagi praktisi. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa investasi lingkungan secara sistematis meningkatkan kinerja keuangan melalui efisiensi sumber daya [7];[8]. Sebaliknya, kajian lain justru menemukan bahwa pengeluaran lingkungan yang masif dalam jangka pendek dapat menggerus margin laba, terutama pada perusahaan yang memiliki struktur biaya yang kaku. Kontradiksi temuan ini menunjukkan adanya variabel lain yang mengintervensi hubungan tersebut.

Penelitian ini menggabungkan Strategic Management Accounting (SMA), Green Accounting, dan Firm Age sebagai determinan profitabilitas dengan memasukkan Firm Size sebagai variabel moderasi dalam satu kerangka empiris. Aspek kebaruan (novelty) terletak pada pengujian model integratif tersebut dalam konteks sektor energi yang tengah menghadapi tekanan transisi menuju target Net Zero Emission 2060.

Berbeda dari studi sebelumnya yang menjadikan ukuran oerusahaan sebagai control, penelitian ini memosisikannya sebagai factor kontinjensi yang memoderasi pengaruh strategi akuntansi terhadap profitabilitas [14]. Kontribusinya, meliputi pengujian simultan SMA dan Green Accounting, penggunaan Firm Size sebagai moderator utama, serta integrasi Frim Age untuk mencerminkan kesiapan organisasi dalam menghadapi transisi energi. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi ada atau tidaknya pengaruh, tetapi juga menjelaskan kondisi, mekanisme, dan konteks spesifik di mana strategi akuntansi berkelanjutan memberikan dampak optimal terhadap kinerja keuangan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh Strategic Management Accounting (SMA), Green Accounting, dan Firm Age terhadap profitabilitas dengan Firm Size sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2025. Temuan penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi praktis bagi regulator dan manajemen perusahaan dalam merumuskan strategi keberlanjutan yang tetap menjaga kinerja keuangan, sehingga pencapaian tujuan lingkungan tidak mengorbankan tingkat profitabilitas entitas.

STUDI LITERATUR

1.Teori Legitimasi

Teori legitimasi fokus pada interaksi antara perusahaan dan sistem sosial. Dalam industri energi yang memiliki risikoitas eksternal tinggi, perusahaan beroperasi di bawah "kontrak sosial" [1]. Perusahaan harus memastikan aktivitasnya selaras dengan nilai-nilai masyarakat agar tetap mendapatkan dukungan. Implementasi Green Accounting dalam penelitian ini dipandang sebagai alat untuk memperoleh legitimasi publik; dengan mengungkapkan beban lingkungan, perusahaan memberikan sinyal bahwa mereka bertanggung jawab, yang pada akhirnya memitigasi risiko reputasi dan menjaga stabilitas profitabilitas [2]

2.Teori Pemangku Kepentingan

Teori ini menyatakan bahwa manajemen tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham ( pemegang saham ), tetapi juga kepada pihak lain seperti pemerintah, masyarakat, dan aktivis lingkungan. Penggunaan Strategic Management Accounting (SMA) dalam penelitian ini merupakan instrumen strategi untuk memenuhi ekspektasi para pemangku kepentingan tersebut [4]. Dengan menyediakan informasi non-keuangan dan eksternal, perusahaan dapat merancang strategi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga berkelanjutan secara operasional.

3.Teori Keagenan

Dalam konteks moderasi, teori keagenan menjelaskan adanya asimetri informasi antara agen (manajemen) dan prinsipal (pemilik). Ukuran perusahaan ( firm size ) sering kali memperbesar konflik keagenan karena pengawasan yang lebih kompleks. Namun, perusahaan besar cenderung menggunakan konservatisme akuntansi dan menyebarkan hijau yang lebih luas untuk mengurangi biaya agensi dan menjanjikan prinsip bahwa dana dikelola secara efisien untuk keberlanjutan laba [15]

4. Definisi Variabel

a.Strategic Management Accounting (SMA)

SMA melampaui akuntansi manajemen tradisional dengan mengintegrasikan data eksternal, biaya pesaing, dan analisis pasar dalam pengambilan keputusan [3]. SMA bukan sekadar alat kontrol biaya, melainkan sistem informasi strategi yang memungkinkan perusahaan energi melakukan navigasi di tengah perdagangan komoditas global. [16][17].

b.Green accounting (Akuntansi Hijau)

Green Accounting adalah proses pengakuan, pengukuran, dan pelaporan biaya-biaya yang timbul dari dampak lingkungan operasional perusahaan [6]. Variabel ini mencerminkan sejauh mana perusahaan menginternalisasi biaya eksternalitas negatif menjadi bagian dari perencanaan keuangan untuk mencapai efisiensi sumber daya.

c.Firm Age (Umur Perusahaan)

Umur perusahaan mencerminkan tingkat kematangan, pengalaman, dan kemampuan adaptasi terhadap siklus ekonomi [18]. Perusahaan yang lebih tua dianggap memiliki sistem mitigasi risiko yang lebih mapan, namun juga menghadapi tantangan inersia organisasi dalam menghadapi transisi energi hijau. [19].

d.Profitabilitas ( Return on Assets )

Profitabilitas adalah indikator efektivitas manajemen dalam menghasilkan laba dari seluruh aset yang dimiliki [20]. Dalam penelitian ini, ROA digunakan karena sektor energi bersifat modal padat ( padat modal ), sehingga penting untuk mengukur seberapa efisien setiap unit aset menghasilkan keuntungan bersih di tengah beban biaya lingkungan.[21].

e. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan diukur melalui total aset yang mencerminkan skala operasi dan kapasitas finansial perusahaan [22]. Ukuran perusahaan menentukan ketersediaan financial slack (kelebihan sumber daya) yang dapat digunakan untuk menambah inovasi strategi dan teknologi ramah lingkungan [13].

5. Hubungan Antar Variabel dan Pengembangan Hipotesis

a.Pengaruh SMA terhadap Profitabilitas

Argumentasi logistik: SMA memberikan keunggulan kompetitif melalui akuntansi pesaing dan penetapan harga strategis . Dengan memahami struktur biaya pesaing, perusahaan energi dapat mengoptimalkan margin laba mereka. Studi menunjukkan bahwa penerapan SMA secara signifikan meningkatkan efisiensi keputusan yang berdampak pada kinerja keuangan [5].

H1: Akuntansi Manajemen Strategis berpengaruh positif terhadap Profitabilitas.

b.Pengaruh Green Accounting terhadap Profitabilitas

Argumentasi logistik: Berdasarkan teori pemangku kepentingan, internalisasi biaya lingkungan melalui akuntansi hijau dapat mengurangi pemborosan energi dan limbah. Meskipun terdapat biaya di awal, efisiensi operasional jangka panjang dan peningkatan citra perusahaan akan menurunkan risiko pasar, yang pada gilirannya meningkatkan ROA [8]; [23].

H2: Green Accounting berpengaruh positif terhadap Profitabilitas.

c.Pengaruh Usia Perusahaan terhadap Profitabilitas

Argumentasi logistik: Kematangan perusahaan memberikan aksesibilitas yang lebih mudah terhadap modal dan kepercayaan pasar yang lebih stabil. Perusahaan yang lebih tua memiliki kurva pembelajaran yang lebih baik dalam mengelola biaya operasional yang kompleks di sektor energi [11].

H3: Umur Perusahaan berpengaruh positif terhadap Profitabilitas.

d. Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi

Argumentasi logistik: Ukuran perusahaan diposisikan sebagai moderasi karena adanya perbedaan kapasitas penyerapan biaya. Perusahaan besar memiliki aset yang cukup untuk mengimplementasikan teknik SMA dan Green Accounting tanpa mengganggu likuiditas jangka pendek. Sebaliknya, perusahaan kecil dengan keterbatasan modal melihat biaya lingkungan mungkin sebagai beban yang memperlemah kinerja laba [15];[14].

H4a: Ukuran Perusahaan memperkuat pengaruh SMA terhadap Profitabilitas.

H4b: Ukuran Perusahaan memperkuat pengaruh Green Accounting terhadap Profitabilitas.

H4c: Ukuran Perusahaan memoderasi pengaruh Usia Perusahaan terhadap Profitabilitas.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas dan metode eksplanatori guna menguji hubungan sebab-akibat antar variabel. Data yang digunakan adalah data panel ( pool data ) yang mengintegrasikan data cross-section dan time-series selama periode pengamatan 2020–2025. Populasi penelitian mencakup seluruh perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria:

  1. Perusahaan sektor energi yang konsisten listing di BEI periode 2020–2025
  2. Menerbitkan laporan tahunan dan laporan berkelanjutan (sustainability report ) secara lengkap
  3. Tidak mengalami delisting atau merger
  4. Memiliki kelengkapan data terkait komponen biaya lingkungan dan teknik akuntansi manajemen strategis, Terdapat 91 perusahaan yang dieliminasi sehingga diperoleh sampel akhir 7 perusahaan yang digunakan dalam penelitian.

Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan tahunan dan laporan berlangganan yang diperoleh dari situs resmi BEI dan situs masing-masing emiten. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi dan analisis konten pada laporan tahunan serta catatan atas laporan keuangan. Definisi operasional dan pengukuran variabel dalam penelitian ini dirangkum dalam tabel berikut:

Analisis data diawali dengan statistik deskriptif untuk memberikan gambaran umum data.Sebelum menguji hipotesis, dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas guna memastikan model regresi memenuhi kriteria BLUE ( Best Linear Unbiased Estimator ).Estimasi model regresi data panel ditentukan melalui Uji Chow dan Uji Hausman untuk memilih antara Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), atau Random Effect Model (REM).

Pengujian pengaruh moderasi dilakukan menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan persamaan sebagai berikut:

Uji hipotesis dilakukan melalui uji parsial (uji t) dan uji simultan (uji F) dengan tingkat signifikansi yang ditentukan, serta analisis koefisien determinasi (R2)untuk mengukur persentase variasi variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Statistik Deskriptif

Variabel Profitabilitas (Y_PROFIT) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,094654 dengan nilai tengah 0,068941. Nilai tertinggi variabel ini tercatat sebesar 0,262571 sedangkan nilai terendahnya adalah -0,045622, dengan tingkat penyimpangan data sebesar 0,076630.

Variabel Ukuran Perusahaan (M_FS) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 20,98686 dan nilai tengah sebesar 20,71450. Rentang nilai pada variabel ini bergerak dari nilai minimum 18,80483 hingga nilai maksimum 23,10117 dengan standar deviasi sebesar 1,168531.

Variabel Strategic Management Accounting (X1_SMA) mencatatkan nilai rata-rata sebesar 0,805556 dengan nilai tengah 0,833333. Data ini memiliki nilai maksimum sebesar 1,000000 dan nilai minimum sebesar 0,666667 dengan standar deviasi senilai 0,121623.

Variabel Green Accounting (X2_GA) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,859788 dengan nilai tengah sebesar 0,888889. Nilai tertinggi variabel ini adalah 0,888889 dan nilai terendahnya adalah 0,777778, dengan tingkat sebaran data atau standar deviasi sebesar 0,049445.

Variabel Firm Age (X3_FA) memiliki nilai rata-rata sebesar 28,85714 tahun dengan nilai tengah 26,00000 tahun. Perusahaan tertua dalam sampel memiliki usia 53,00000 tahun dan yang termuda berusia 13,00000 tahun, dengan standar deviasi sebesar 13,86973.

B. Estimasi Model

1.Uji Chow

Berdasarkan hasil pengujian, nilai Probabilitas Cross-section F sebesar 0,2347 yang berarti lebih besar dari alpha 0,05. Karena nilai probabilitas tersebut lebih besar dari 0,05, maka model dinyatakan lolos uji untuk menggunakan Common Effect Model (CEM) dibandingkan Fixed Effect Model (FEM) dalam mengestimasi pengaruh Strategic Management Accounting, Green Accounting, dan Firm Age terhadap Profitabilitas.

2.Uji Hausman

Hasil Uji Hausman menunjukkan nilai Probabilitas Cross-section Random sebesar 0,7941 yang nilainya lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pengujian tidak menolak hipotesis nol, sehingga Random Effect Model (REM) dinilai lebih tepat digunakan dibandingkan Fixed Effect Model (FEM) dalam penelitian yang melibatkan variabel Strategic Management Accounting, Green Accounting, Firm Age, serta Ukuran Perusahaan ini.

3. Uji Lagrange

Nilai Probabilitas Cross-section pada uji Breusch-Pagan sebesar 0,8494 yang berarti lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Dengan hasil probabilitas yang melebihi 0,05 tersebut, maka model dinyatakan lolos uji dan Common Effect Model (CEM) dipilih sebagai model yang lebih baik digunakan daripada Random Effect Model (REM) untuk menganalisis variabel-variabel dalam penelitian ini.

C. Model Terpilih

Berdasarkan rangkaian pengujian estimasi model yang telah dilakukan meliputi Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier, maka diputuskan bahwa model estimasi yang terpilih untuk digunakan dalam analisis data panel ini adalah Common Effect Model (CEM). Model ini dipilih karena secara konsisten menunjukkan hasil probabilitas di atas 0,05 pada pengujian perbandingan model untuk variabel Strategic Management Accounting, Green Accounting, Firm Age, dan Ukuran Perusahaan.

D.Uji Asumsi Klasik

1.Uji Normalitas

Uji Normalitas menunjukkan nilai probabilitas Jarque-Bera untuk variabel Profitabilitas sebesar 0,205678. Mengingat nilai probabilitas tersebut lebih besar dari 0,05, maka model dinyatakan lolos uji normalitas yang berarti data terdistribusi secara normal dan layak digunakan dalam analisis regresi selanjutnya untuk variabel Strategic Management Accounting, Green Accounting, dan Firm Age.

2.Uji Multikolinearitas

Hasil pengujian menunjukkan nilai Centered VIF untuk variabel Ukuran Perusahaan sebesar 1,352785, Strategic Management Accounting sebesar 1,474602, Green Accounting sebesar 1,207160, dan Firm Age sebesar 1,216743. Karena seluruh nilai Centered VIF berada di bawah angka 10, maka model dinyatakan lolos uji multikolinearitas yang mengindikasikan tidak adanya hubungan antar variabel independen yang dapat mengganggu model penelitian.

3.Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan hasil Uji Glejser, diperoleh nilai Probabilitas F-statistic sebesar 0,5365 yang nilainya lebih besar dari 0,05. Dengan hasil probabilitas tersebut, maka model dinyatakan lolos uji karena tidak terdapat masalah heteroskedastisitas, sehingga varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap konstan untuk seluruh variabel independen dalam model.

4.Uji Autokorelasi

.Pengujian autokorelasi menggunakan Breusch-Godfrey menunjukkan nilai Probabilitas Chi-Square sebesar 0,4342 yang berarti lebih besar dari 0,05. Selain itu, nilai Durbin-Watson stat sebesar 1,951461 berada dalam rentang yang aman, sehingga model dinyatakan lolos uji autokorelasi dan tidak ditemukan adanya korelasi antar anggota observasi yang diurutkan menurut waktu pada variabel Profitabilitas.

5. Regresi Linear Berganda

a.Model 1 (X => Y)

Y = -0,696240 + 0,437183X1 + 0,461009X2 + 0,001468*X3

Keterangan:

Y = Profitabilitas (Y_PROFIT)

X1 = Strategic Management Accounting (X1_SMA)

X2 = Green Accounting (X2_GA)

X3 = Firm Age (X3_FA)

Konstanta sebesar -0,696240 menunjukkan bahwa jika variabel Strategic Management Accounting, Green Accounting, dan Firm Age bernilai nol, maka nilai Profitabilitas akan mengalami penurunan atau bernilai negatif sebesar 0,696240.

Variabel Strategic Management Accounting memiliki koefisien regresi sebesar 0,437183, yang berarti setiap kenaikan satu satuan pada Strategic Management Accounting akan meningkatkan Profitabilitas sebesar 0,437183 dengan asumsi variabel independen lainnya tetap.

Variabel Green Accounting menunjukkan koefisien regresi senilai 0,461009, yang mengindikasikan bahwa setiap peningkatan pada penerapan Green Accounting akan diikuti dengan kenaikan Profitabilitas sebesar 0,461009 jika variabel lainnya dianggap konstan.

Variabel Firm Age memiliki koefisien regresi sebesar 0,001468, yang menjelaskan bahwa setiap bertambahnya satu tahun usia perusahaan, maka Profitabilitas perusahaan akan meningkat sebesar 0,001468 dengan catatan variabel lainnya tidak mengalami perubahan.

b.Model 2 (X & M & XM => Y)

Y = 0,411236 - 2,909180X1 + 2,216198X2 - 0,020597X3 - 0,040817M + 0,152314X1M - 0,090669X2M + 0,001028*X3M

Keterangan:

Y = Profitabilitas (Y_PROFIT)

X1 = Strategic Management Accounting (X1_SMA)

X2 = Green Accounting (X2_GA)

X3 = Firm Age (X3_FA)

M = Ukuran Perusahaan (M_FS)

X1M = Interaksi SMA dengan Ukuran Perusahaan

X2M = Interaksi Green Accounting dengan Ukuran Perusahaan

X3M = Interaksi Firm Age dengan Ukuran Perusahaan

Konstanta sebesar 0,411236 menunjukkan nilai dasar Profitabilitas ketika seluruh variabel independen dan interaksi moderasi bernilai nol dalam model.

Variabel Strategic Management Accounting memiliki koefisien -2,909180, sementara interaksinya dengan Ukuran Perusahaan (X1M) memiliki koefisien positif 0,152314 yang menunjukkan peran Ukuran Perusahaan dalam mempengaruhi hubungan SMA terhadap Profitabilitas.

Variabel Green Accounting memiliki koefisien 2,216198, sedangkan hasil interaksinya dengan Ukuran Perusahaan (X2M) menunjukkan koefisien negatif sebesar -0,090669 dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap Profitabilitas.

Variabel Firm Age memiliki koefisien -0,020597, dan interaksinya dengan Ukuran Perusahaan (X3M) menghasilkan koefisien positif sebesar 0,001028 yang berkontribusi pada perubahan nilai Profitabilitas perusahaan.

Variabel Ukuran Perusahaan sebagai variabel pemoderasi memiliki koefisien regresi mandiri sebesar -0,040817 yang mempengaruhi model secara keseluruhan dalam memoderasi hubungan variabel independen terhadap dependen.

6.Uji Hipotesis

a. Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji T)

1) Model 1 (X => Y)

Variabel Strategic Management Accounting memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,437183 dengan nilai probabilitas 0,0000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Strategic Management Accounting berpengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas, sehingga hipotesis pertama diterima karena pemahaman struktur biaya dan keunggulan kompetitif yang diberikan SMA terbukti efektif meningkatkan laba perusahaan energi.

Variabel Green Accounting mencatatkan koefisien regresi sebesar 0,461009 dengan nilai probabilitas sebesar 0,0268 yang berada di bawah tingkat signifikansi 0,05. Hasil ini membuktikan bahwa Green Accounting memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas, yang berarti internalisasi biaya lingkungan dan efisiensi operasional jangka panjang mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan energi, sehingga hipotesis kedua diterima.

Variabel Firm Age menunjukkan koefisien regresi senilai 0,001468 dengan nilai probabilitas sebesar 0,0446 yang nilainya lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Firm Age berpengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas, di mana kematangan dan pengalaman perusahaan dalam mengelola operasional di sektor energi memberikan dampak nyata pada peningkatan laba, sehingga hipotesis ketiga dinyatakan diterima.

2) Model 2 (X & M & XM => Y)

Variabel interaksi Strategic Management Accounting dengan Ukuran Perusahaan (X1M) menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,0349 yang lebih kecil dari 0,05 dengan koefisien positif 0,152314. Hasil ini menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan secara signifikan mampu memperkuat pengaruh Strategic Management Accounting terhadap Profitabilitas, sehingga hipotesis H4a diterima karena perusahaan besar memiliki kapasitas aset yang lebih baik untuk mendukung implementasi teknik akuntansi strategis.

Variabel interaksi Green Accounting dengan Ukuran Perusahaan (X2M) memiliki nilai probabilitas sebesar 0,7388 yang nilainya jauh lebih besar dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa Ukuran Perusahaan tidak mampu memoderasi pengaruh Green Accounting terhadap Profitabilitas secara signifikan, sehingga hipotesis H4b ditolak karena perbedaan ukuran aset perusahaan tidak memberikan perbedaan dampak yang nyata dalam efektivitas biaya lingkungan terhadap kinerja laba.

Variabel interaksi Firm Age dengan Ukuran Perusahaan (X3M) menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0,0353 yang lebih kecil dari batas signifikansi 0,05 dengan koefisien positif 0,001028. Berdasarkan hasil tersebut, Ukuran Perusahaan terbukti memoderasi atau memperkuat pengaruh Firm Age terhadap Profitabilitas secara signifikan, sehingga hipotesis H4c diterima karena kombinasi kematangan usia dan aset yang besar memberikan kepercayaan pasar yang lebih stabil dalam menghasilkan profit.

b. Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

1) Model 1 (X => Y)

Model regresi tanpa variabel moderasi memiliki nilai Prob(F-statistic) sebesar 0,000039 yang berarti lebih kecil dari 0,05, sehingga model dinyatakan lolos uji F. Hasil ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel Strategic Management Accounting, Green Accounting, dan Firm Age memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Profitabilitas perusahaan energi.

2) Model 2 (X & M & XM => Y)

Hasil pengujian simultan pada model dengan variabel moderasi menunjukkan nilai Prob(F-statistic) sebesar 0,000000 yang jauh lebih kecil dari alpha 0,05, sehingga model dinyatakan lolos uji. Secara statistik, hal ini berarti seluruh variabel independen, variabel moderasi, beserta interaksinya secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap perubahan nilai Profitabilitas.

c. Koefisien Determinasi

1) Model 1 (X => Y)

Nilai Adjusted R-squared pada model tanpa moderasi tercatat sebesar 0,407988, yang menunjukkan bahwa model dinyatakan lolos uji karena mampu menjelaskan variasi data. Secara sederhana, variabel Strategic Management Accounting, Green Accounting, dan Firm Age mampu menjelaskan variabilitas Profitabilitas sebesar 40,79%, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.

2) Model 2 (X & M & XM => Y)

Model dengan variabel moderasi memiliki nilai Adjusted R-squared sebesar 0,626160, yang mengindikasikan model lolos uji dengan tingkat penjelasan yang lebih kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa kehadiran variabel Ukuran Perusahaan sebagai moderator meningkatkan kemampuan model dalam menjelaskan Profitabilitas hingga mencapai 62,61%, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan model tanpa moderasi.

E. Pembahasan

1.Pengaruh Strategic Management Accounting terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil pengujian regresi pada model tanpa variabel moderasi, variabel Strategic Management Accounting (SMA) menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,437183 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,0000 (< 0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa SMA berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa Strategic Management Accounting berpengaruh terhadap profitabilitas diterima.

Secara ekonomis, temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi penerapan teknik akuntansi manajemen strategis dalam perusahaan, maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hal ini terjadi karena SMA tidak hanya berfokus pada pencatatan biaya internal, tetapi juga mempertimbangkan analisis kompetitor, value chain, dan positioning strategis perusahaan. Informasi komprehensif membantu manajemen meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Dalam agency theory, SMA mengurangi asimetri informasi sehingga pengawasan dan profitabilitas meningkat, sedangkann dalam signaling theory, SMA menjadi sinyal positif investor atas kualitas pengendalian dan prospek laba perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa penerapan Strategic Management Accounting mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan melalui efisiensi biaya dan peningkatan kualitas pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa SMA merupakan faktor internal yang krusial dalam meningkatkan profitabilitas, khususnya pada sektor yang memiliki tingkat persaingan tinggi.

Namun demikian, temuan ini juga memperkuat posisi penelitian dalam literatur dengan menunjukkan bahwa pengaruh positif SMA pada sektor energi cenderung lebih kuat dibandingkan sektor lain, mengingat kompleksitas biaya, volatilitas harga komoditas, dan kebutuhan investasi jangka panjang. Hal ini sekaligus mengisi celah penelitian sebelumnya yang belum secara spesifik menyoroti konteks industri berintensitas modal tinggi dalam menguji efektivitas SMA.

2. Pengaruh Green Accounting terhadap Profitabilitas

Hasil uji menunjukkan Green Accounting berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas (koefisien 0,461009; sig. 0,0268 < 0,05), sehingga hipotesis kedua diterima. Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi lingkungan meningkatkan laba melalui efisiensi jangka Panjang seperti pengurangan limbah, efisiensi energi, dan optimalisasi sumber daya.

Dalam stakeholder theory, praktik ini memperkuat legitimasi perusahaan, sedangkan dalam signaling theory menjadi sinyal positif bagi investor. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya, meski manfaatnya cenderung jangka Panjang dan bergantung pada konsistensi penerapan.

Perbedaan dengan studi yang menemukan dampak negatif jangka pendek mengindikasikan perusahaan telah mencapai efisiensi biaya lingkungan, sehingga manfaat melampaui biaya awal. Dengan demikian, Green Accounting terbukti meningkatkan profitabilitas melalui efisiensi dan peningkatan reputasi.

3.Pengaruh Firm Age terhadap Profitabilitas

Variabel Firm Age menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,001468 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,0446 (< 0,05), yang berarti berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Dengan demikian, hipotesis ketiga diterima.

Secara ekonomis, hasil ini menunjukkan bahwa semakin lama usia perusahaan, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hal ini disebabkan oleh pengalaman operasional yang lebih matang, efisiensi proses bisnis, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan pasar yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang lebih muda.

Dalam kerangka agency theory, perusahaan yang telah lama berdiri cenderung memiliki sistem pengendalian internal yang lebih baik, sehingga konflik keagenan dapat diminimalkan dan berdampak pada peningkatan kinerja keuangan. Selain itu, dalam perspektif signaling theory, usia perusahaan menjadi sinyal stabilitas dan keberlanjutan usaha bagi investor, yang meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan.

Hasil ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa perusahaan yang lebih mature memiliki keunggulan dalam hal pengalaman, jaringan bisnis, serta efisiensi operasional, yang pada akhirnya meningkatkan profitabilitas.

Peran Ukuran Perusahaan dalam Memoderasi Pengaruh Strategic Management Accounting terhadap Profitabilitas

Hasil uji moderasi menunjukkan bahwa interaksi antara SMA dan ukuran perusahaan (X1M) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,0349 (< 0,05) dengan koefisien positif. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mampu memperkuat pengaruh SMA terhadap profitabilitas.

Artinya, semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin efektif penerapan Strategic Management Accounting dalam meningkatkan profitabilitas. Perusahaan besar dengan sumber daya lebih kuat mampu mengoptimalkan SMA.

Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas bersifat kontijensi dan menunjukkan firm size berperan memperkuat dampak strategi SMA, bukan sekedar variable control. Secara konseptual, moderasi ini terjadi karena perusahaan besar memiliki financial slack, infrastruktur teknologi, dan kapasitas analitis yang lebih tinggi, sehingga informasi dari SMA dapat diolah menjadi keputusan strategis yang lebih efektif dibandingkan perusahaan kecil.

4.Peran Ukuran Perusahaan dalam Memoderasi Pengaruh Green Accounting terhadap Profitabilitas

Berbeda dengan SMA, hasil pengujian menunjukkan bahwa interaksi antara Green Accounting dan ukuran perusahaan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,7388 (> 0,05), yang berarti tidak signifikan. Dengan demikian, ukuran perusahaan tidak mampu memoderasi pengaruh Green Accounting terhadap profitabilitas.

Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas Green Accounting dalam meningkatkan profitabilitas tidak bergantung pada besar kecilnya perusahaan. Baik perusahaan besar maupun kecil memiliki peluang yang relatif sama dalam memperoleh manfaat dari penerapan akuntansi lingkungan.

Hasil ini memberikan kontribusi penting dengan menantang asumsi umum dalam literatur bahwa perusahaan besar selalu memiliki keunggulan dalam implementasi praktik keberlanjutan. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor komitmen manajerial dan efisiensi operasional lebih menentukan dibandingkan skala perusahaan, sehingga memperluas perspektif penelitian sebelumnya yang cenderung berfokus pada kapasitas sumber daya.

5. Peran Ukuran Perusahaan dalam Memoderasi Pengaruh Firm Age terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian menunjukkan bahwa interaksi antara Firm Age dan ukuran perusahaan (X3M) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,0353 (< 0,05) dengan koefisien positif. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mampu memperkuat pengaruh Firm Age terhadap profitabilitas.

Interpretasinya, perusahaan yang sudah lama berdiri dan memiliki ukuran besar akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat dibandingkan perusahaan kecil atau baru. Kombinasi antara pengalaman dan sumber daya yang besar menciptakan stabilitas dan efisiensi yang lebih tinggi dalam menghasilkan laba.

Dibandingkan dengan studi sebelumnya yang menguji firm age secara terpisah, temuan ini menegaskan bahwa keunggulan usia perusahaan akan semakin optimal ketika didukung oleh skala usaha yang besar. Hal ini menunjukkan adanya efek sinergis antara pengalaman dan kapasitas sumber daya, yang menjadi kontribusi baru dalam menjelaskan determinan profitabilitas pada sektor energi.

Secara kritis, temuan ini tidak hanya memperkuat studi sebelumnya, tetapi juga memperluasnya dengan menunjukkan adanya efek sinergis antara pengalaman (firm age) dan kapasitas sumber daya (firm size) sebagai determinan utama profitabilitas dalam konteks industri energi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pengaruh Strategic Management Accounting, Green Accounting, dan Firm Age terhadap profitabilitas dengan Ukuran Perusahaan sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor energi periode 2020–2025, dapat disimpulkan bahwa Strategic Management Accounting terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan teknik akuntansi manajemen strategis mampu meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan perusahaan sehingga berdampak pada peningkatan kinerja keuangan.

Temuan menunjukkan bahwa informasi strategis dari akuntansi manajemen modern penting bagi keunggulan kompetitif. Green Accounting dan Firm Age berpengaruh positif terhadap profitabilitas melalui efisiensi. Reuptasi, serta pengalaman dan kematangan organisasi.

Ukuran perusahaan memperkuat pengaruh SMA dan Firm Age, namun tidak memoderasi Green Accounting yang bergantung pada kualitas implementasi. Secara umum, profitabilitas, ditentukan oleh factor internal, sementara ukuran perusahaan hanya memperkuat hubungan tertentu.

Secara teoritis, penelitian ini mendukung pendekatan kontinjensi dan memperkaya perspektif legitimasi serta stakeholder. Secara praktis, perusahaan energi perlu mengoptimalkan SMA dan Gree Accounting dengan mempertimbangkan skala dan usia. Keterbatasan penelitian pada periode dan sektor, sehingga studi selanjutnya disarankan memasukkan factor eksternal.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam penyusunan artikel ini. Terima kasih juga disampaikan kepada pihak-pihak yang telah menyediakan data serta membantu kelancaran penelitian pada perusahaan energi di BEI. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.

References

[1] N. Darmayanti, N. Ramadani, A. Muhajir, A. F. Bilgies, R. S. Rama, and A. Rokhimah, “the Effect of Carbon Emission Disclosure, Environmental Performance, and Profitability on Firm Value With Media Exposure As a Moderating Variable,” Int. Conf. Bus. Soc. Sci., no. 2021, pp. 717–731, 2025, doi: 10.24034/icobuss.v5i1.716.

[2] S. Iman, Darmayanti, “The Effect of Good Corporate Governance and Company Growth on Company Value,” Governors, vol. 1, no. 1, pp. 8–14, 2022, doi: 10.47709/governors.v1i1.1650.

[3] M. A. Wafa, Dewi Kusmayasari, M. R. Irawan, and N. Darmayanti, “Synergy of Information Technology, Accounting Information Systems, and Human Resource Quality in Enhancing Employee Performance,” J. Financ. Accounting, Econ., vol. 2, no. 2, pp. 81–95, 2025, doi: 10.58857/jfae.2025.v02.i02.p02.

[4] A. Hibathur, R. M. Rifkhan, M. Rifkhan, and A. H. Rahuman, “Strategic Management Accounting: A Comprehensive Literature Review,” Cineforum, vol. 65, no. 1, pp. 201–221, 2025, [Online]. Available: https://orcid.org/0009-0002-0287-5727

[5] J. Ojra, A. P. Opute, and M. M. Alsolmi, “Strategic management accounting and performance implications: a literature review and research agenda,” Futur. Bus. J., vol. 7, no. 1, 2021, doi: 10.1186/s43093-021-00109-1.

[6] S. Ekkaphol and S. Wichitsathian, “Strategic management accounting and sustainable performance: The serial mediating role of business strategies and competitiveness,” J. Infrastructure, Policy Dev., vol. 8, no. 6, pp. 1–20, 2024, doi: 10.24294/jipd.v8i6.3453.

[7] Tjoa & Widianingsih, “Green Accounting, Environmental Performance, and Profitability: Empirical Evidence on High Profile Industry in Indonesia,” Res. Manag. Account., vol. 5, no. 2, pp. 93–105, 2022, doi: 10.33508/rima.v5i2.4158.

[8] A. R. Dania, E. Ekawati, M. Si, Y. M. Sari, and M. Acc, “Implementation of Green Accounting and Environmental Performance on the Company ’ s Financial Performance ( Study on Companies Winning the 2021 Green Industry Award ),” vol. 9, no. 9, pp. 28–32, 2023.

[9] Meily Surianti and Michelle Theresa Hutagalung, “The Effect of Green Accounting and Green Intellectual Capital on Profitability,” J. Akunt., vol. 29, no. 2, pp. 312–335, 2025, doi: 10.24912/ja.v29i2.2841.

[10] D. Elvaretta, V. Maulina, T. Febriani, and D. Rissi, “Pengaruh Penerapan Green Accounting Terhadap Profitabilitas Perusahaan (Studi Pada Sektor Pertambangan),” J. Akunt. Keuang. dan Bisnis Politek. Caltex Riau, vol. 17, no. November, pp. 191–198, 2024.

[11] Welly & Hermanto, “The effect of capital structure, firm age, firm size, asset structure, liquidity, financial slack, asset productivity, and operating profit margin on profitability,” no. 2019, pp. 538–551, 2025.

[12] Meilita et al, “Understanding the Role of ROA in the Relationship between Firm Age, Size, and Leverage.,” Cap. Struct. Dyn. Indones., vol. 7, no. 3, pp. 406–415, 2024.

[13] K. R. Rizqi, “Pengaruh Profitabilitas, Firm Size, Firm Age, Leverage dan Deferred Tax Expense terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di BEI Periode 2020-2022),” pp. 17–85, 2024.

[14] Ahmad Aulia Dalimunthe, Erlina Erlina, and Idhar Yahya, “The Influence of Corporate Social Responsibility, Green Accounting, Intellectual Capital, and Firm Size on Financial Performance with Good Corporate Governance as a Moderating Variable,” Int. J. Econ. Manag. Account., vol. 3, no. 1, pp. 101–116, 2026, doi: 10.61132/ijema.v3i1.1093.

[15] M. T. Putra, I. Zoraya, and B. Usman, “Firm Profitability and Carbon Disclosure : The Moderating Effect of Firm Size,” vol. 5, no. 3, pp. 371–385, 2026.

[16] S. Darmayanti, Laely, Sari, “The Influence of Leverage, Firm Size and Financial Distress on Accounting Conservatism,” J. Tour. Econ. Policy, vol. 3, no. 2, pp. 75–83, 2022, doi: 10.38142/jtep.v3i2.603.

[17] Ayu & Abdullah, “No Title 済無No Title No Title No Title,” vol. 2, pp. 306–312, 2024.

[18] Antonius Singgih Setiawan and Jamaludin Iskak, “Strategic Management Accounting: Historical Business Performance, Owner-Management Characteristics, Innovation Culture,” J. Akunt., vol. 27, no. 2, pp. 197–217, 2023, doi: 10.24912/ja.v27i2.1243.

[19] A. Wahyuningsih, F. T. Indani, and J. Andriani, “Analisis Kinerja Bisnis , Kinerja Pemasaran , Karakteristik Pemilik-Manajemen , dan Budaya Inovasi Terhadap,” vol. 15, no. 6, pp. 384–392, 2024.

[20] W. WELLY and H. HERMANTO, “The Effect of Capital Structure, Firm Age, Firm Size, Asset Structure, Liquidity, Financial Slack, Asset Productivity, and Operating Profit Margin on Profitability,” J. Tour. Econ. Policy, vol. 5, no. 3, pp. 538–551, 2025, doi: 10.38142/jtep.v5i3.1454.

[21] N. A. Nuhu, K. Baird, and L. Jiao, “The Effect of Traditional and Contemporary Management Accounting Practices on Organisational Outcomes and the Moderating Role of Strategy,” Am. Bus. Rev., vol. 26, no. 1, pp. 95–121, 2023, doi: 10.37625/abr.26.1.95-121.

[22] Md. Jahidur Rahman and Liu Yilun, “Ssrn-3867566,” vol. 28, no. April, pp. 100–115, 2021.

[23] I. I. J. Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, “PENGARUH BIAYA LINGKUNGAN, KINERJA LINGKUNGAN DAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP PROFITABILITAS PADA PERUSAHAAN SEKTOR ENERGI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2021-2023 Oleh,” vol. 2, pp. 306–312, 2024.

[24] A. & As’ari, “PENGARUH PERPUTARAN KAS, LEVERAGE DANUKURANPERUSAHAAN TERHADAP PROFITABILITAS PADAPERUSAHAAN MANUFAKTUR SUBSEKTOR MAKANANDANMINUMAN YANG TERCATAT DI BEI (2020-2022),” vol. 7, no. February, pp. 4–6, 2024.

[25] A. R. Dania, E. E. M Si, and Y. M. Sari, “Implementation of Green Accounting and Environmental Performance on the Company’s Financial Performance (Study on Companies Winning the 2021 Green Industry Award),” Adv. Bus. Res. Int. J., vol. 9, no. 2, pp. 28–32, 2024, doi: 10.24191/abrij.v9i2.5151.

[26] D. A. Purnomo, Pengaruh Green Accounting Dan Corporate Social Resposibility Terhadap Nilai Perusahaan: Dengan Pertumbuhan Perusahaan Sebagai Variabel Intervening …. 2024. [Online]. Available: http://repository.unissula.ac.id/37575/%0Ahttp://repository.unissula.ac.id/37575/1/Akuntansi_31402000057_fullpdf.pdf