Login
Section Business and Economics

The Moderating Role of Self-Efficacy in the Influence of Participative Leadership Style and Teachers’ Professional Ethics on Students’ Learning Engagement


Peran Efikasi Diri dalam Memoderasi Pengaruh Gaya Kepemimpinan Partisipatif dan Etika Profesional Guru terhadap Keterlibatan Belajar Siswa
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Bunga Anggreani (1), Ratieh Widhiastuti (2)

(1) Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Student learning engagement is a central factor in educational success because it reflects students’ behavioral, emotional, and cognitive participation in academic activities. Specific Background: This study examined participative leadership style, teachers’ professional ethics, and self-efficacy within the framework of Social Cognitive Theory to explain student learning engagement. Knowledge Gap: Previous studies have commonly examined leadership, teacher professionalism, self-efficacy, and student engagement separately or through direct relationships, while integrated moderation models remain limited. Aims: This study aimed to analyze participative leadership style and teachers’ professional ethics in relation to student learning engagement, with self-efficacy as a moderating variable. Results: Using a quantitative survey design and Partial Least Squares analysis assisted by SmartPLS 4, the findings showed that participative leadership style had a positive and significant relationship with student learning engagement, while teachers’ professional ethics did not show a significant relationship. Self-efficacy had a direct positive relationship with student learning engagement but did not moderate the relationships between participative leadership style, teachers’ professional ethics, and student learning engagement. Novelty: The novelty lies in the simultaneous examination of participative leadership style, teachers’ professional ethics, and self-efficacy in one moderation model, showing that self-efficacy does not strengthen external factors in explaining student engagement. Implications: The findings indicate that student engagement is shaped more by active classroom participation and students’ self-belief, supporting the use of collaborative discussions, problem-based learning, and constructive feedback in learning activities.


Highlights

• Participative classroom leadership shows a significant positive relationship with student engagement.
• Teachers’ professional ethics does not show a significant relationship in the tested model.
• Self-efficacy contributes directly but does not act as a moderating variable.


Keywords

Participative Leadership; Self Efficacy; Student Engagement; Professional Ethics; Social Cognitive Theory

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Keterlibatan belajar siswa (student engagement) merupakan faktor penting dalam keberhasilan proses pembelajaran [1]. Student engagement menggambarkan tingkat partisipasi, perhatian, serta keterlibatan emosional siswa dalam kegiatan akademik [2]. Namun, pada kenyataannya masih banyak siswa yang menunjukkan keterlibatan belajar yang rendah, seperti kurang aktif dalam diskusi, tidak fokus saat pembelajaran, serta kurang inisiatif dalam menyelesaikan tugas [3]. Fenomena ini juga terlihat pada siswa SMA Kesatrian 2 Semarang yang masih cenderung pasif dan kurang terlibat dalam pembelajaran, terutama yang berpusat pada guru [4]. Padahal, keterlibatan tinggi dapat meningkatkan motivasi, pemahaman, dan hasil belajar [5]. Oleh karena itu, keterlibatan belajar menjadi aspek penting dalam penelitian Pendidikan [3].

Berdasarkan Social Cognitive Theory, perilaku seseorang terbentuk melalui hubungan timbal balik antara faktor individu, lingkungan, serta perilaku itu sendiri [6]. Dalam pembelajaran, guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam meningkatkan keterlibatan siswa [4]. Salah satu bentuknya adalah melalui gaya kepemimpinan partisipatif, yaitu gaya mengajar yang melibatkan siswa dalam diskusi, kerja sama, dan pengambilan keputusan. Penelitian menunjukkan bahwa gaya ini dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa [7]. Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh tersebut tidak selalu sama pada setiap siswa karena dipengaruhi oleh faktor internal individu [8][7].

Selain gaya kepemimpinan, etika profesional guru juga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif [9]. Etika profesional mencerminkan tanggung jawab, keadilan, serta komitmen guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik [2]. Guru yang memiliki etika profesional yang baik cenderung mampu membangun hubungan positif dengan siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang mendukung keterlibatan belajar [10]. Penelitian sebelumnya menunjukkan jika kualitas interaksi antara guru dan siswa serta profesionalisme guru berkontribusi terhadap peningkatan keterlibatan belajar siswa [1]. Namun demikian, terdapat temuan yang menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti profesionalisme guru tidak selalu memberikan dampak signifikan apabila tidak didukung oleh faktor internal siswa [11][12].

Sesuai dengan Social Cognitive Theory, faktor internal siswa juga memiliki peran penting dalam membentuk keterlibatan belajar. Salah satu faktor tersebut adalah efikasi diri (self-efficacy), yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas tertentu [8]. Siswa yang memiliki efikasi diri tinggi umumnya menunjukkan keaktifan yang lebih besar dalam proses belajar serta memiliki tingkat ketekunan yang lebih tinggi, serta lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan akademik [8][4]. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa efikasi diri berhubungan positif dengan keterlibatan belajar siswa serta dapat memperkuat pengaruh lingkungan pembelajaran terhadap perilaku belajar [7]. Dengan demikian, efikasi diri tidak hanya berperan sebagai faktor internal, tetapi juga berpotensi sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara faktor eksternal dan keterlibatan belajar [3].

Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji hubungan antara kepemimpinan, profesionalisme pengajar, self-efficacy, dan student engagement, sebagian besar penelitian masih menempatkan variabel-variabel tersebut secara terpisah atau hanya menguji hubungan langsung antar variabel [13]. Penelitian tentang kepemimpinan partisipatif umumnya berfokus pada konteks organisasi atau kinerja guru, sementara penelitian mengenai student engagement lebih banyak menyoroti faktor psikologis siswa [3]. Selain itu, kajian yang menguji pengaruh gaya kepemimpinan partisipatif dan etika profesional guru terhadap keterlibatan belajar siswa dengan mempertimbangkan peran moderasi self-efficacy masih relatif terbatas.

Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat hal yang perlu dikaji lebih lanjut, yaitu perlunya penelitian yang mengintegrasikan faktor kepemimpinan guru, etika profesional, serta faktor psikologis siswa dalam satu model penelitian yang komprehensif [8]. Penelitian ini menjadi penting karena keterlibatan belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh metode atau cara mengajar guru dalam proses pembelajaran, tetapi juga oleh keyakinan diri siswa dalam menghadapi tuntutan akademik [3]. Dengan memahami hubungan antar variabel tersebut, diharapkan dapat diperoleh gambaran mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan belajar siswa di sekolah.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan partisipatif dan etika profesional guru terhadap keterlibatan belajar siswa di SMA Kesatrian 2 Semarang, dengan efikasi diri siswa sebagai variabel moderasi. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada kajian kepemimpinan Pendidikan dan keterlibatan siswa serta peningkatan kualitas pembelajaran. Kebaruannya terletak pada pengujian simultan gaya kepemimpinan partisipatif etika profesional guru, dan efikasi diri dalam satu model moderasi untuk menjelaskan keterlibatan belajar, yang masih jarang dikaji pada Pendidikan menengah di Indonesia. Untuk memperjelas hubungan antar variabel yang diteliti, kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Berpikir [1]

Berdasarkan kerangka penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki lima hipotesis, yaitu:

H1: Gaya kepemimpinan partisipatif guru berpengaruh terhadap keterlibatan belajar siswa.

H2: Etika profesional guru berpengaruh terhadap keterlibatan belajar siswa.

H3: Efikasi diri memperkuat pengaruh gaya kepemimpinan partisipatif guru terhadap keterlibatan belajar siswa.

H4: Efikasi diri memperkuat pengaruh etika profesional guru terhadap keterlibatan belajar siswa.

H5: Efikasi diri berpengaruh terhadap keterlibatan belajar siswa.

METODE

Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain survei, di mana populasi penelitian mencakup seluruh siswa SMA Kesatrian 2 Semarang, sedangkan sampel yang akan digunakan untuk penelitian adalah siswa kelas XI yang dipilih sebagai responden. Variabel pada penelitian ini terdiri dari beberapa yaitu gaya kepemimpinan partisipatif (X1) dan etika profesional guru (X2) sebagai variabel independen, keterlibatan belajar siswa (Y) sebagai variabel dependen, serta efikasi diri (Z) sebagai variabel moderasi. Keterlibatan belajar siswa merupakan tingkat partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran yang mencakup keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif [14]. Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gaya mengajar guru yang melibatkan siswa dalam diskusi, kerja sama, serta pengambilan Keputusan [15]. Etika profesional guru merupakan sikap yang mencerminkan tanggung jawab, keadilan, profesionalisme, dan integritas dalam menjalankan tugas [16]. Sementara itu, efikasi diri adalah keyakinan siswa terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi suatu tantangan akademik [17].

Instrumen penelitian disusun berdasarkan indikator yang sesuai dengan variable dan dari penelitian terdahulu. Variabel keterlibatan belajar siswa diukur melalui keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif . Gaya kepemimpinan partisipatif diukur melalui indikator kesempatan berpendapat, diskusi, kerja sama, umpan balik, dan pengambilan keputusan. Etika profesional guru diukur melalui tanggung jawab, keadilan, sikap profesional, disiplin, dan integritas [18]. Efikasi diri diukur melalui keyakinan diri, ketekunan, kepercayaan diri, kemampuan mengatasi kesulitan, dan motivasi.

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan melalui pendekatan SEM berbasis PLS dengan memanfaatkan aplikasi SmartPLS versi 4 sebagai alat analisis. Berdasarkan hasil, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha, Composite Reliability, dan Average Variance Extracted (AVE) [19][20], Hasil pengujian tersebut disajikan pada gambar berikut.

Tabel 1. Tabel Construct Reability dan Validity

Cronbach’s alpha lebih dari 0,70, yaitu variabel X1 sebesar 0,977, X2 sebesar 0,979, Y sebesar 0,961, dan Z sebesar 0,972. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki tingkat reliabilitas yang sangat baik.

Nilai composite reliability pada semua variabel juga berada di atas 0,70, bahkan mendekati 1, yang menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki konsistensi internal yang sangat tinggi. Selain itu, nilai Average Variance Extracted (AVE) untuk seluruh variabel sudah berada di atas 0,50, yaitu X1 sebesar 0,774, X2 sebesar 0,772, Y sebesar 0,702, dan Z sebesar 0,717. Nilai ini menunjukkan bahwa masing-masing konstruk mampu menjelaskan indikatornya dengan baik.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, sehingga penelitian ini layak digunakan untuk di aanalisis selanjutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah metode Partial Least Squares (PLS). PLS digunakan untuk melihat hubungan antar variabel dalam penelitian ini. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan software SmartPLS versi 4. Model dalam PLS terdiri dari dua bagian, yaitu outer model dan inner model. Untuk menguji validitas dan reliabilitas penelitian ini menggunakan outer model. Sedangkan inner model digunakan untuk melihat hubungan antar variabel pada penelitian. Pengujian akan dilakukan dengan melihat nilai outer loading, Cronbach’s alpha, composite reliability, dan AVE untuk memastikan instrumen sudah valid dan reliabel. Selanjutnya, untuk melihat hubungan antar variabel digunakan nilai T-statistik dan p-value dari hasil bootstrapping. Model penelitian dalam bentuk diagram jalur dapat dilihat pada gambar berikut ini.

    Gambar 2. Outer Model dan Inner Model [ 2]

    Analisis deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai data penelitian pada setiap variabel yang digunakan, yaitu gaya kepemimpinan partisipatif (X1), etika profesional guru (X2), keterlibatan belajar siswa (Y), dan efikasi diri (Z). Analisis ini meliputi nilai rata-rata (mean), median, nilai minimum dan maksimum, standar deviasi, serta distribusi data yang dilihat dari nilai skewness dan kurtosis.

    Tabel 2. Tabel Latent Variables - Descriptives

    A.Hasil Analisis Deskriptif

    Berdasarkan hasil analisis, seluruh variabel memiliki nilai mean yang mendekati nol, yaitu X1 sebesar 0,000, X2 sebesar 0,000, Y sebesar 0,000, dan Z sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa data telah dinormalisasi oleh sistem. Nilai median masing-masing variabel juga relatif mendekati mean, yang mengindikasikan bahwa data cenderung seimbang.

    Nilai minimum dan maksimum pada setiap variabel menunjukkan adanya variasi jawaban responden. Variabel X1 memiliki nilai minimum sebesar -2,605 dan maksimum sebesar 1,516, variabel X2 sebesar -2,632 hingga 1,539, variabel Y sebesar -2,702 hingga 1,635, dan variabel Z sebesar -2,827 hingga 1,621. Hal ini menunjukkan bahwa responden memberikan jawaban yang beragam.

    Standar deviasi seluruh variabel sebesar 1,000, yang menunjukkan bahwa data telah melalui proses standarisasi. Sementara itu, nilai skewness pada seluruh variabel berada di kisaran -0,609 hingga -0,230, yang menunjukkan bahwa distribusi data cenderung mendekati normal. Nilai kurtosis juga berada pada rentang yang tidak terlalu tinggi, sehingga distribusi data tidak menunjukkan penyimpangan.

    Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa sebagian variabel belum sepenuhnya berdistribusi normal. Namun demikian, hal ini tidak menjadi kendala dalam penelitian ini karena analisis menggunakan metode Partial Least Square (PLS) yang tidak mensyaratkan asumsi normalitas secara ketat.

    B. Uji Hipotesis

    Setelah model pengukuran telah diuji dan dinyatakan valid dan reliabel, tahap selanjutnya yaitu melakukan pengujian model struktural (inner model). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode bootstrapping untuk mengetahui pengaruh antar variabel dalam penelitian. Penilaian dilakukan dengan melihat nilai koefisien jalur path coefficient, T-statistik, dan p-value. Hasil pengujian bootstrapping disajikan pada tabel berikut.

    Tabel 4. Tabel Bootstrapping

    Berdasarkan hasil pengujian bootstrapping, diketahui bahwa variabel gaya kepemimpinan partisipatif (X1) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan belajar siswa (Y), dengan nilai koefisien sebesar 0,498, nilai T-statistik sebesar 4,231, dan p-value sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik gaya kepemimpinan partisipatif guru, maka keterlibatan belajar siswa akan meningkat. Dengan demikian, hipotesis pertama (H1) diterima.

    Selanjutnya, variabel etika profesional guru (X2) menunjukkan pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap keterlibatan belajar siswa, dengan nilai koefisien sebesar -0,048, T-statistik sebesar 0,565, dan p-value sebesar 0,572. Hal ini menunjukkan bahwa etika profesional guru tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap keterlibatan belajar siswa dalam penelitian ini. Oleh karena itu, hipotesis kedua (H2) ditolak.

    Pada uji moderasi, interaksi efikasi diri dan gaya kepemimpinan partisipatif (Z×X1) tidak signifikan (koefisien -0,030; T-statistik 0,310; p-value 0,756). Hal ini menunjukkan efikasi diri tidak memperkuat pengaruh gaya kepemimpinan partisipatif terhadap keterlibatan belajar, sehingga H3 ditolak.

    Demikian pula, interaksi antara efikasi diri dengan etika profesional guru (Z × X2) juga menunjukkan hasil yang tidak signifikan, dengan nilai koefisien sebesar -0,029, T-statistik sebesar 0,308, dan p-value sebesar 0,758. Hal ini menunjukkan bahwa efikasi diri tidak berperan sebagai variabel moderasi dalam hubungan tersebut, sehingga hipotesis keempat (H4) ditolak.

    Selain itu, variabel efikasi diri (Z) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan belajar siswa, dengan nilai koefisien sebesar 0,456, T-statistik sebesar 4,572, dan p-value sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi efikasi diri siswa, maka semakin tinggi pula keterlibatan belajar siswa. Dengan demikian, hipotesis kelima (H5) diterima.

    Hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa gaya kepemimpinan partisipatif diterima karena cara guru yang melibatkan siswa dalam diskusi, kerja sama, dan memberi kesempatan berpendapat mampu membuat siswa lebih aktif, sehingga keterlibatan belajar meningkat. Sebaliknya, etika profesional guru ditolak karena aspek seperti tanggung jawab, disiplin, dan sikap profesional cenderung tidak dirasakan secara langsung oleh siswa dalam kegiatan belajar, sehingga pengaruhnya terhadap keterlibatan menjadi tidak terlihat. Pada variabel moderasi, efikasi diri tidak mampu memperkuat hubungan antara gaya kepemimpinan partisipatif maupun etika profesional dengan keterlibatan belajar, yang menunjukkan bahwa pengaruh gaya mengajar guru sudah cukup kuat secara langsung dan tidak bergantung pada tinggi rendahnya efikasi diri siswa, serta etika profesional bukan faktor yang secara langsung mendorong keterlibatan. Sementara itu, efikasi diri sendiri diterima karena siswa yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya cenderung lebih aktif, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah dalam belajar, sehingga keterlibatan belajar menjadi lebih tinggi.

    Temuan ini sejalan dengan Socio Cognitive Theory yang menekankan interaksi lingkungan, factor personal, dan perilaku. Gaya kepemimpinan partisipatif berpengaruh langsung pada keterlibatan siswa, sementara efikasi diri meningkatkan keterlibatan secara langsung, namun tidak sebagai moderator.

    Selain itu, hasil penelitian ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa kepemimpinan partisipatif berpengaruh positif terhadap student engagement, namun tidak sepenuhnya mendukung temuan yang menyatakan bahwa profesionalisme guru selalu berdampak signifikan. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan belajar lebih dipengaruhi oleh interaksi langsung dalam proses pembelajaran dibandingkan aspek profesional yang bersifat tidak langsung dirasakan siswa.

    Penelitian ini berkontribusi dengan menunjukkan bahwa factor lingkungan (kepemimpinan baru) dan factor persona; (efikasi diri) memiliki peran berbeda namun saling melengkapi dalam meningkatkan keterlibatan belajar, sehingga mendukung pendekatan integratif dalam kajian student engagement.

    Secara teoritis, temuan ini menegaskan bahwa hubungan factor ekternal dan internal tidak selalu bersifat moderasi, tetapi dapat bekerja secara parallel dan langsung dalam memengaruhi perilaku belajar, sehingga memperkaya pemahaman student engagement dalam kerangka Social Cognitive Theory.

    KESIMPULAN

    Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa keterlibatan belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Gaya kepemimpinan partisipatif guru terbukti berkontribusi dalam meningkatkan keterlibatan belajar siswa, yang mencerminkan pentingnya partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Namun demikian, etika profesional guru tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap keterlibatan belajar siswa dalam penelitian ini. Efikasi diri berpengaruh langsung terhadap keterlibatan belajar, tetapi tidak memperkuat factor eksternal. Ini menunjukkan keterlibatan lebih ditentukan oleh partisipasi dan keyakinan diri siswa, sehingga perlu kajian lanjutan pada factor lain.

    Secara teoritis, studi ini menegaskan integrasi factor lingkungan dan personal, serta bahwa tidak semua factor ekternal berpengaruh langsung maupun sebagai moderator, sehingga memperkuat Social Cognitive Theory dalam menjelaskan keterlibatan belajar. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa guru perlu mengoptimalkan gaya kepemimpinan partisipatif melalui strategi pembelajaran yang melibatkan diskusi aktif, kerja kelompok, dan pemberian ruang berpendapat. Selain itu, upaya peningkatan efikasi diri siswa juga perlu dilakukan, misalnya melalui pemberian umpan balik positif, penguatan kepercayaan diri, serta penyediaan pengalaman belajar yang menantang namun terarah. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan mengkaji variabel lain seperti motivasi belajar, dukungan lingkungan sekolah, atau penggunaan model pembelajaran inovatif, serta memperluas konteks dan durasi penelitian agar diperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan generalisasi yang lebih kuat.

    Ucapan Terima Kasih

    Penulis menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya penelitian ini. Ucapan terima kasih khusus diberikan kepada pihak SMA Kesatrian 2 Semarang atas izin yang telah diberikan serta dukungan selama proses pengambilan data berlangsung. Penghargaan juga ditujukan kepada para siswa yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, serta masukan yang sangat berarti selama proses penyusunan penelitian. Tidak lupa, penulis juga berterima kasih kepada berbagai pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas bantuan dan dukungannya, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.

References

[1] M. K. Farida, P. Setyosari, and F. Aulia, “Analisis keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis proyek,” JKTP: Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, vol. 7, no. 3, p. 172, 2024, doi: 10.17977/um038v7i32024p172.

[2] N. Bergdahl, M. Bond, J. Sjöberg, M. Dougherty, and E. Oxley, “Unpacking student engagement in higher education learning analytics: A systematic review,” International Journal of Educational Technology in Higher Education, vol. 21, no. 1, 2024, doi: 10.1186/s41239-024-00493-y.

[3] S. Z. Salas-Pilco, Y. Yang, and Z. Zhang, “Student engagement in online learning in Latin American higher education during the COVID-19 pandemic: A systematic review,” British Journal of Educational Technology, vol. 53, no. 3, pp. 593–619, 2022, doi: 10.1111/bjet.13190.

[4] A. Zhang and Y. Yang, “Toward the association between EFL/ESL teachers’ work engagement and their students’ academic engagement,” Frontiers in Psychology, vol. 12, 2021, doi: 10.3389/fpsyg.2021.739827.

[5] M. Ryshina-Pankova, W. Barthold, and E. Barthold, “Enhancing the content- and language-integrated multiple literacies framework: Systemic functional linguistics for teaching regional diversity,” System, vol. 96, p. 102403, 2021, doi: 10.1016/j.system.2020.102403.

[6] A. Bandura, Social Foundations of Thought and Action. 1986. [Online]. Available: https://openlibrary.org/works/OL3356973W/Social_Foundations_of_Thought_and_Action

[7] C. P. Pérez-Salas, V. Parra, F. Sáez-Delgado, and H. Olivares, “Influence of teacher-student relationships and special educational needs on student engagement and disengagement: A correlational study,” Frontiers in Psychology, vol. 12, 2021, doi: 10.3389/fpsyg.2021.708157.

[8] M. H. T. De Souza, R. Miskolci, M. C. Signorelli, F. De Figueiredo Balieiro, and P. P. G. Pereira, “Post-mortem violence against travestis in Santa Maria, Rio Grande do Sul, Brazil,” Cadernos de Saude Publica, vol. 37, no. 5, 2021, doi: 10.1590/0102-311X00141320.

[9] L. Lepp, T. Aaviku, Ä. Leijen, M. Pedaste, and K. Saks, “Teaching during COVID-19: The decisions made in teaching,” Education Sciences, vol. 11, no. 2, pp. 1–21, 2021, doi: 10.3390/educsci11020047.

[10] T. Trust and J. Whalen, “Should teachers be trained in emergency remote teaching? Lessons learned from the COVID-19 pandemic,” Journal of Technology and Teacher Education, vol. 28, no. 2, pp. 189–199, 2020, doi: 10.70725/307718pkpjuu.

[11] F. Umniyyati, E. Ellianawati, and S. Sumartiningsih, “The influence of emotional intelligence, self-efficacy, and independence in learning with moderating variables teacher’s leadership to improve mathematics learning outcomes,” Jurnal Penelitian Pendidikan, vol. 42, no. 1, pp. 8–18, 2025, doi: 10.15294/m6crps18.

[12] Y. Wang, L. Wang, L. Yang, and W. Wang, “Influence of perceived social support and academic self-efficacy on teacher-student relationships and learning engagement for enhanced didactical outcomes,” Scientific Reports, vol. 14, no. 1, pp. 1–10, 2024, doi: 10.1038/s41598-024-78402-6.

[13] F. Muñoz-Oyarce, E. Merellano-Navarro, M. R. Chandia, and M. M. Macaya, “Perspective of teaching in university professors: Case study in a Chilean university,” International Journal of Higher Education, vol. 10, no. 2, p. 140, 2020, doi: 10.5430/ijhe.v10n2p140.

[14] M. H. Faro, T. S. Gutu, and A. B. Hunde, “Major factors influencing student engagement in Ethiopian higher education institutions: Evidence from one institution,” PLOS ONE, vol. 20, no. 2, p. e0318731, 2025, doi: 10.1371/journal.pone.0318731.

[15] J. J. Boncillo, J. L. Badillos, and L. De Jesus, “Enhancing leadership: A systematic review on the effectiveness of participative approach in educational institutions,” IGNATIAN: International Journal for Multidisciplinary Research, vol. 3, no. 4, pp. 1685–1701, 2025. [Online]. Available: https://icceph.com/wp-content/uploads/2025/05/PARTICIPATIVE-APPROACH-IN-EDUCATIONAL.pdf

[16] S. Rahman and U. L. Mangkurat, “Curricula,” vol. 4, no. 2, pp. 1213–1228, 2025.

[17] E. K. Emiru and M. T. Gedifew, “The effect of teacher self-efficacy on learning engagement of secondary school students,” Cogent Education, vol. 11, no. 1, p. 2308432, 2024, doi: 10.1080/2331186X.2024.2308432.

[18] M. L. Hakim, A. Afandhi, A. Widodo, et al., “The effect of green innovational leadership on the quality of vocational high school graduates with mediation of competence and human resource management,” Sciences of Conservation and Archaeology, vol. 37, no. 3, pp. 106–115, 2025, doi: 10.48141/sci-arch-37.3.25.12.

[19] S. Farooqi, “Precedence and impact of flipped classroom on student engagement: Mediating study using SEM-PLS,” 2023, pp. 52–68, doi: 10.20535/2410-8286.272234.

[20] A. Habibi, R. W. Attar, F. Saudagar, Ł. Tomczyk, R. Hendra, and A. H. Alhazmi, “Instructional leadership, self-efficacy, commitment and school climate on teachers’ job satisfaction and performance: Asian context,” Asian Education and Development Studies, vol. 14, no. 5, pp. 1002–1021, 2025, doi: 10.1108/AEDS-11-2024-0262.