Login
Section Education

Elementary Numeracy Patterns by Initial Mathematical Ability


Pola Numerasi Siswa Berdasarkan Kemampuan Awal Matematis
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Sundari Sundari (1), Zulqoidi R. Habibie (2), Subhanadri Subhanadri (3)

(1) Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Indonesia
(2) Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Indonesia
(3) Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Muara Bungo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Numeracy is a fundamental competence in elementary education because it enables students to interpret numbers, reason logically, and solve contextual mathematical problems. Specific Background Word problems require students not only to calculate but also to understand contexts, identify relevant information, select appropriate operations, and organize solution steps systematically. Knowledge Gap Previous studies have largely emphasized learning outcomes or instructional models, while limited attention has been given to how students’ numeracy profiles, thinking processes, and difficulties differ according to their initial mathematical ability. Aims This study analyzes elementary students’ numeracy ability in solving word problems based on initial mathematical ability and identifies the characteristics and difficulties found in high, moderate, and low ability categories. Results Students with high initial mathematical ability demonstrated integrated skills in reading problems, organizing information, selecting strategies, and presenting systematic solutions. Students with moderate ability showed adequate but inconsistent numeracy performance, particularly in processing complex information and presenting accurate answers. Students with low ability experienced fundamental difficulties in understanding problem contexts, choosing operations, and avoiding number grabbing strategies. Novelty This study provides a differentiated analysis of numeracy by examining final answers, solution processes, error patterns, and ability characteristics across initial mathematical ability levels. Implications Numeracy instruction should integrate reading literacy with basic mathematical concepts and apply differentiated contextual learning according to students’ initial ability profiles.


Highlights

• High-performing students showed systematic reasoning in interpreting word problems.
• Moderate-performing students completed tasks adequately but lacked consistency.
• Low-performing students struggled with context, operations, and structured reasoning.


Keywords

Numeracy; Word Problems; Mathematical Reasoning; Contextual Learning; Elementary Students

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Numerasi merupakan kemampuan dasar yang sangat penting bagi siswa, terutama pada jenjang pendidikan dasar. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, numerasi menjadi salah satu fokus utama dalam kurikulum karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami dan menggunakan angka untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2021). Keterampilan ini mencakup pemikiran logis, analitis, dan kontekstual di samping kemampuan berhitung (Ekowati dkk., 2019).

Secara empiris, masih ada ruang untuk pengembangan kemampuan berhitung siswa Indonesia. Menurut data dari Program Penilaian Siswa Internasional (PISA), mayoritas siswa Indonesia belum mencapai tingkat kompetensi matematika yang dibutuhkan (OECD, 2018). Selain itu, siswa Indonesia terus berprestasi di bawah rata-rata global, menurut Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) (Han et al., 2017).

Kondisi ini mengindikasikan bahwa siswa masih mengalami kesulitan, terutama dalam memahami dan menyelesaikan soal cerita yang menuntut kemampuan interpretasi, analisis, dan penalaran (Fauziah, 2019).

Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan numerasi tidak hanya disebabkan oleh kelemahan dalam berhitung, tetapi juga dipengaruhi oleh rendahnya pemahaman konsep, kemampuan membaca, serta kurangnya pembelajaran yang kontekstual (Mahmud & Pratiwi, 2019; Rahardjo & Waluyati, 2020). Pembelajaran yang terlalu berfokus pada prosedur dan rumus menyebabkan siswa kesulitan mengaitkan konsep matematika dengan situasi nyata (Pratiwi & Mahmud, 2021). Oleh karena itu, penggunaan soal cerita dan pendekatan kontekstual menjadi penting dalam mengembangkan kemampuan numerasi siswa (Paridjo, 2018).

Selain itu, kemampuan awal matematis (KAM) merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal numerasi. Siswa dengan kemampuan awal yang tinggi cenderung lebih mudah memahami konteks soal, menentukan strategi penyelesaian, serta menyusun langkah-langkah secara sistematis (Clements & Sarama, 2020). Sebaliknya, siswa dengan kemampuan awal rendah sering mengalami kesulitan sejak tahap memahami soal hingga menentukan operasi yang tepat (Takaria et al., 2022).

Namun demikian, penelitian sebelumnya masih cenderung berfokus pada hasil belajar atau efektivitas model pembelajaran, dan belum banyak yang mengkaji secara mendalam bagaimana kemampuan numerasi siswa ditinjau dari perbedaan kemampuan awal matematis, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian (research gap) berupa kurangnya analisis yang secara spesifik mengungkap proses berpikir, karakteristik kemampuan, dan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita berdasarkan kategori kemampuan awal matematis.

Berdasarkan hal tersebut, kebaruan (novelty) dalam penelitian ini terletak pada analisis mendalam terhadap kemampuan numerasi siswa yang tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga menelaah proses penyelesaian, pola kesalahan, serta perbedaan karakteristik pada setiap kategori kemampuan awal matematis.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan numerasi siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan soal cerita ditinjau dari kemampuan awal matematis, serta mengidentifikasi perbedaan karakteristik kemampuan dan kesulitan yang dialami siswa pada setiap kategori kemampuan.

Metode

Jenis penelitian yang umum digunakan terdapat dua jenis yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dalam analisis datanya tidak menggunakan analisis statistik, tetapi lebih banyak secara naratif; sedangkan dalam penelitian kuantitatif sejak awal proposal dirumuskan, data yang akan dikumpulkan hendaklah data kuantitatif atau dapat dikuantitatifkan dan menggunakan analisis statistik [1]. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif ini berlandaskan pada filsafat post-positivisme, yang berfungsi untuk mengkaji kondisi perkembangan subjek sebagaimana adanya, dengan peneliti sebagai instrumen utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti tingkah laku, persepsi, tindakan, dan motivasi secara deskriptif, baik itu dalam bentuk bahasa atau kata-kata, dengan menggunakan metode ilmiah lain dan dalam konteks tertentu (Sugiyono, 2015).

Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung di lapangan, kemudian data yang diperoleh disajikan dalam bentuk kata-kata sesuai dengan apa yang dialami, dipikirkan, dan dirasakan oleh sumber data atau partisipan. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan numerasi Siswi dalam menyelesaikan soal cerita, yang ditinjau dari segi kemampuan awal matematis, khususnya pada siswi Kelas III SDN 224/Sijau (Moleong, 2015).

Hasil dan Pembahasan

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan matematika awal siswa (PAM) memiliki dampak besar pada kemahiran aritmatika mereka dalam memecahkan soal cerita. Meskipun demikian, hasil ini menunjukkan variasi dalam kualitas proses berpikir di setiap kategori, di samping variasi dalam tingkat keterampilan. Mayoritas siswa masih mengalami kesulitan dengan beberapa indikator, terutama indikator 3 (menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah). Ini menyiratkan bahwa masalah utamanya bukan hanya pada perhitungan tetapi juga pada keterampilan pemecahan masalah.

Hasil ini konsisten dengan penelitian oleh Sandrawati, Afiani, dan Mirnawati (2023), yang menyatakan bahwa kemampuan matematika awal memengaruhi akurasi identifikasi informasi dan penentuan strategi. Namun, penelitian ini mengembangkan hasil sebelumnya dengan menunjukkan bahwa kurangnya integrasi antara pemahaman konseptual, literasi membaca, dan kemampuan berpikir sistematis juga terkait dengan kekurangan kemampuan berhitung.

Kategori Kemampuan Awal Tinggi

Siswi dengan kemampuan awal matematis tinggi mampu membaca dan memahami soal secara menyeluruh, mengorganisasi informasi, serta menentukan strategi penyelesaian secara sistematis. Kemampuan ini tidak hanya menunjukkan penguasaan prosedural, tetapi juga mencerminkan pemahaman konseptual yang mendalam.

Secara kritis, kemampuan ini terbentuk karena adanya struktur pengetahuan yang terorganisasi dengan baik (well-structured knowledge), sehingga siswi mampu menghubungkan konteks soal dengan konsep matematika yang relevan. Hal ini menjelaskan mengapa mereka lebih fleksibel dalam memilih strategi penyelesaian. Temuan ini sejalan dengan Mulbar dkk. (2025), namun penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukan hanya karena kemampuan menghitung, melainkan karena kemampuan representasi dan interpretasi masalah yang lebih matang.

Kategori Kemampuan Awal Sedang

Keterampilan berhitung yang memadai namun tidak konsisten ditunjukkan oleh siswa dengan kemampuan matematika awal yang moderat, terutama dalam hal menyusun metode pemecahan masalah, mencerna informasi yang kompleks, dan menyajikan hasil dengan jelas.

Dari perspektif analitis, keadaan ini menunjukkan bahwa siswa berada dalam keadaan transisi kognitif, ketika pemahaman konseptual mendasar telah mulai berkembang tetapi belum terintegrasi dengan kuat. Akibatnya, mereka dapat memperbaiki masalah, tetapi metode dan hasil mereka seringkali tidak akurat. Temuan kami konsisten dengan Sandrawati dkk. (2023) dan Pratiwi (2025), tetapi penelitian kami menyoroti bahwa integrasi yang buruk antara keterampilan penalaran matematika dan literasi membaca adalah akar penyebab ketidakstabilan ini.

Kategori Kemampuan Awal Rendah

Siswi dengan kemampuan awal matematis rendah mengalami kesulitan yang bersifat mendasar sejak tahap awal penyelesaian. Kesulitan tersebut meliputi ketidakmampuan memahami konteks soal, kesalahan dalam memilih operasi hitung, serta kecenderungan menggunakan strategi “number grabbing” tanpa dasar analitis.

Secara kritis, fenomena ini menunjukkan bahwa siswi belum memiliki pemahaman konseptual yang memadai serta belum mampu mengaitkan simbol matematika dengan makna kontekstual. Akibatnya, proses penyelesaian menjadi tidak terarah dan cenderung trial and error. Temuan ini sejalan dengan Rahmawati et al. (2024), namun penelitian ini mempertegas bahwa kesulitan numerasi pada kelompok ini bersifat sistemik dan berpotensi berlanjut ke jenjang pendidikan berikutnya, sebagaimana didukung oleh temuan Shafara dkk. (2024).

Dampak Konteks Pembelajaran terhadap Numerasi

Menurut penelitian, strategi pembelajaran kontekstual dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan berhitung siswa, terutama mereka yang memiliki keterampilan awal yang lemah dan sedang.

Yang terpenting, ini terjadi karena pembelajaran kontekstual membantu siswa menghubungkan ide-ide matematika abstrak dengan pengalaman praktis. Hal ini memudahkan siswa untuk memahami makna dari ide-ide yang mereka pelajari. Karena strategi seperti pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan pembelajaran responsif budaya (CRT) mendorong pemahaman yang lebih dalam dan partisipasi aktif, strategi ini telah terbukti berhasil.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal matematis (KAM) merupakan faktor determinan yang secara signifikan memengaruhi kemampuan numerasi siswi dalam menyelesaikan soal cerita. Perbedaan tingkat KAM menghasilkan perbedaan kualitas dalam memahami konteks soal, mengidentifikasi informasi penting, memilih strategi penyelesaian, serta menyusun langkah-langkah pemecahan masalah secara sistematis.

Temuan studi menunjukkan adanya korelasi langsung antara level KAM dengan kualitas pemecahan masalah siswa. Siswa berkemampuan tinggi menunjukkan keterampilan yang integratif, sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah masih menghadapi kendala pada konsistensi serta pemahaman konteks. Hal ini menegaskan pentingnya penggabungan literasi dengan konsep matematika dasar dalam proses pembelajaran. Secara praktis, guru disarankan menerapkan strategi berbeda: fokus pada penguatan konsep dasar untuk kelompok rendah, serta pengembangan berpikir tingkat tinggi (HOTS) bagi kelompok sedang dan tinggi melalui pembelajaran kontekstual.Dengan demikian, upaya peningkatan numerasi perlu dirancang secara sistematis dan berjenjang sesuai dengan karakteristik kemampuan awal matematis siswa.

Ucapan Terima Kasih

Terselesaikannya penyusunan artikel jurnal ini saya tidak akan bisa melakukan semua ini tanpa ketekunan, doa, dorongan, dan bantuan dari beberapa Oleh karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing atas semua bimbingan dan inspirasi yang telah diberikannya kepada saya. dan revisi bagi penulis untuk menyelesaikan artikel jurnal ini.

References

Eprilia, W., Damayanti, D., & Sriwijaya, U. (2023). Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan Model PBL Berbasis Kearifan Lokal Kota Palembang untuk Meningkatkan Kemampuan Numerasi pada Materi Pecahan kelas 3 SD. 5(2), 1388–1401.

Eva Nurdiana Hidayati, M. Yusuf Setia Wardana, F. P. A. (2022). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Langkahlangkah Polya Pada Siswi Kelas Iii Sd Negeri Muntung Temanggung. 2(1), 36–42.

Fahkiroh, A., Fatikhaturrizqiana, H., Nabila, J. S., Karimah, S., & Hidayah, N. (2024). Analisis kemampuan literasi numerasi peserta didik smp negeri 4 pekalongan dalam menyelesaikan soal bilangan rasional. 95–104.

Hamzah, A. M., & Dahlan, J. A. (2023). Developing Mathematics Problems Based On Pisa Level Of Change And Relationships Content.

Irawan, E. P., Yustitia, V., & Kusmaharti, D. (2024). Kemampuan Literasi Numerasi Siswi Kelas III SD Pada Materi Operasi Hitung Bilangan Cacah. Inventa : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 8(2), 129–141.

Marlina, Y. (2024). Analisis Kemampuan Literasi Numerasi Peserta Didik Pada Konsep Bilangan Cacah. 182–191.

Maya Nurjanah, Diah Tara Dewi, Kukuh Maulana Al Fathan, I. D. M. (2022). Literasi Numerasi Dalam Pembelajaran Tematik. 7, 87–98.

OECD. (2007). PISA Mathematics : A Teacher ’ s Guide.

OECD. (2018). PISA 2018 Assessment and Analytical Framework: Mathematics, Reading, Science and Financial Literacy.

Sulastri, S., Nisa, A. F., Cahyani, B. H., Dasar, M. P., & TamanSiswi, U. S. (2024). Analisis Kemampuan Literasi Numerasi dalam Permasalahan Struktur Materi Bilangan Siswi Sekolah Dasar. 17(1), 39–50.

Tabrani. (2023). Perbedaan antara penelitian Kualitatif (Naturalistik) dan Penelitian Kuantitatif (Ilmiah) dalam barbagai Aspek Tabrani. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 5, 318–327.

Takaria, J., Pattimukay, N., & Kaary, K. M. (2022). ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI NUMERASI SISWI DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS (KAM). Jurnal Pedagogik dan Dinamika Pendidikan, 10(2), 318–327.

Baharuddin, M. R., & Cristy, S. (2021). Deskripsi kemampuan numerasi Siswi dalam menyelesaikan operasi pecahan. Pendidikan Matematika, 6(2), 91.

Ekowati, D. W., et al. (2019). Literasi numerasi di SD Muhammadiyah. ELSE (Elementary School Education Journal): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 3(1).

Farida, N. (2014). Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hardani, H., et al. (2020). Buku metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Evaluasi implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Panduan penguatan literasi dan numerasi di sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal PAUD Kemendikbud.

Mahmud, M. R., & Pratiwi, I. M. (2019). Literasi numerasi Siswi dalam pemecahan masalah tidak terstruktur. KALAMATIKA Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 70.

Mei Ratnasari, E. (2020). Outdoor learning terhadap literasi numerasi anak usia dini. ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 8(2), 183.

Moh, M. C. (2019). Metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan. Ponorogo: CV. Nata Karya.

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015).

Nahdi, K., & Yunitasari, D. (2019). Literasi berbahasa Indonesia usia prasekolah: Ancangan metode dia tampan dalam membaca permulaan. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(1), 435.

OECD. (2016). PISA 2015 assessment and analytical framework: Science, reading, mathematic and financial literacy. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/9789264255425-en

OECD. (2018). PISA 2018 assessment and analytical framework. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/9789264305274-en

Pangesti, F. T. P. (2018). Menumbuhkembangkan literasi numerasi pada pembelajaran matematika dengan soal HOTS. Indonesian Digital Journal of Mathematics and Education, 5(9), 568.

Paridjo. (2018). Pembelajaran matematika kontekstual berbasis soal cerita. Jakarta: Penerbit Eduka.

Patta, R., Muin, A., & Mujahidah, M. (2021). Kemampuan literasi numerasi ditinjau dari gaya kognitif reflektif-impulsif. JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan, 5(2), 213.

Rahardjo, A., & Waluyati, S. (2020). Pemecahan masalah matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahma Mutia’ah, I., & dkk. (2020). Literasi matematika: Upaya meningkatkan kemampuan literasi matematika Siswi melalui kegiatan pembelajaran. Sleman: Deepublish Publisher.

Sagita Krissandi, A. D., Sudigdo, A., & Nugraha, A. S. (2021). Model pembelajaran inovatif dan soal berbasis AKM jenjang SMA (Disertai kompetensi dasar dan pembahasan soal AKM literasi-numerasi SMA). Yogyakarta: PT Kanisius.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung, 2015).

Sukmawati, L., & Burhanuddin, A. (2021). Analisis literasi numerasi melalui penggunaan media Lidmatika untuk menyelesaikan soal cerita materi perkalian Kelas V SD Negeri 1 Temon tahun pelajaran 2020/2021. Jurnal PGSD, STKIP PGRI Pacitan.

Suryadi, D., et al. (2022). Pendekatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Tyas Pangesti, F. T. P. (2018). Menumbuhkembangkan literasi numerasi pada pembelajaran matematika dengan soal HOTS. Indonesian Digital Journal of Mathematics and Education, 5(9), 568.

Wahyuningsih, S. (2021). Modul literasi numerasi di sekolah dasar (Vol. 1).