Login
Section Education

Integration of Pluralism Values in Civics Learning to Form a Tolerant Attitude in Grade 4 Students of MI Ma'arif Nu Sunan Drajat Lamongan


Integrasi Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Pembelajaran PKN Untuk Membentuk Sikap Toleransi Siswa Kelas 4 Mi Ma’arif Nu Sunan Drajat Lamongan
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Puji Lestari (1), Sulhatul Habibah (2), Moh. Vito Miftahul Munif (3)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
(3) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:









General Background Civic education plays a strategic role in managing social diversity and developing tolerant character among elementary school students. Specific Background In PPKn learning, pluralism values are integrated to address the gap between students’ conceptual understanding of tolerance and their daily social practices, including sociolinguistic conflict and exclusive peer grouping. Knowledge Gap Previous studies have largely emphasized formal curriculum and teaching materials, while limited attention has been given to classroom management, hidden curriculum, social interaction, and inclusive school culture as contextual spaces for internalizing pluralism. Aims This study aims to analyze the strategic integration of pluralism values in PPKn learning and its implications for forming students’ tolerance. Results The findings show that pluralism values were integrated through contextual learning, heterogeneous group discussion, teacher role modelling, sociopedagogical mediation, inclusive school culture, and school family synergy. These strategies encouraged openness, respect for differences, reduced sociolinguistic conflict, and strengthened consistent tolerant behavior inside and outside school. Novelty This study positions students’ social experiences and hidden curriculum as central mechanisms for pluralism internalization, rather than treating tolerance education only as formal knowledge transfer. Implications The findings provide practical direction for teachers, schools, and parents in developing inclusive civic learning that supports democratic, respectful, and socially aware student character.


Highlights

• Pluralism values were practiced through contextual learning and heterogeneous interaction.
• Teacher mediation reduced sociolinguistic conflict among elementary students.
• School family synergy strengthened consistent tolerant behavior beyond classroom settings.


Keywords

Pluralism; Civic Education; Tolerance; Hidden Curriculum; Inclusive Learning









Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman budaya yang sangat kaya, diantaranya terdiri dari berbagai macam suku, agama, bahasa dan tradisi. Keberagaman tersebut merupakan salah satu aspek yang memperkuat jati diri bangsa, namun di sisi lain juga menimbulkan tantangan dalam mencapai kesatuan dan keharmonisan sosial Perbedaan pandangan dan nilai antar kelompok budaya seringkali menimbulkan kesalahpahaman dan ketegangan yang dapat mengganggu stabilitas sosial [1].

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, dinamika sosial yang kompleks sering muncul dalam interaksi antar kelompok, yang dapat menciptakan hubungan harmonis maupun memicu konflik. Kurangnya pemahaman terhadap budaya dan nilai kelompok lain meningkatkan potensi konflik social, sehingga diperlukan strategi agar keberagaman dipandang sebagai kekuatan pemersatu, bukan sumber perpecahan [2].

Pluralisme menjadi landasan penting karena tidak hanya mengakui perbedaan, tetapi juga mendorong sikap menghargai, menerima, dan hidup setara, sehingga perbedaan dapat menjadi modal social bagi terciptanya kehidupan yang inklusif dan harmonis [3].

Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai pluralisme menjadi penting untuk ditanamkan melalui pendidikan, khususnya dalam pembelajaran PPKn. Integrasi nilai pluralisme tidak sebatas memasukkan nilai toleransi, kerja sama, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan ke dalam materi pembelajaran, tetapi juga diwujudkan melalui interaksi sosial, pembiasaan, dan budaya belajar yang inklusif. Dengan demikian, pembelajaran PPKn tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan kewarganegaraan, tetapi juga berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter toleran dan kesadaran hidup dalam keberagaman [2].

Secara teoritik, integrasi nilai pluralisme dalam pendidikan berakar pada paradigma pendidikan multikultural yang memandang sekolah bukan sekadar ruang transmisi pengetahuan, melainkan arena pembentukan kesadaran sosial peserta didik. Dalam perspektif ini, pembelajaran PPKn memiliki fungsi strategis untuk menanamkan civic disposition berupa sikap menghargai keberagaman, demokratis, dan inklusif. Orientasi tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan yang tidak hanya menekankan civic knowledge, tetapi juga civic skills dan civic attitudes sebagai satu kesatuan utuh [4].

Pada konteks sekolah dasar, urgensi integrasi nilai pluralisme semakin relevan karena fase perkembangan peserta didik pada usia tersebut rupakan periode penting pembentu karakter sosial. Nilai toleransi yang dibangun sejak dini cenderung lebih mudah terinternalisasi menjadi kebiasaan dan karakter dibandingkan ditanamkan pada fase perkembangan berikutnya. Dengan demikian, integrasi nilai pluralisme dalam pembelajaran PPKn tidak dapat dipahami sebagai muatan tambahan, melainkan sebagai bagian inheren dari proses pendidikan karakter[3].

Selain itu, secara empiris masih terdapat kesenjangan antara tujuan normatif pendidikan toleransi dan realitas praktik pembelajaran di kelas[4]. Pembelajaran PPKn pada banyak kasus masih berorientasi pada transfer konsep normatif tentang keberagaman, namun belum sepenuhnya mampu mentransformasikannya menjadi pengalaman sosial yang hidup dalam interaksi siswa. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa internalisasi nilai seringkali terhambat oleh pendekatan yang terlalu berfokus pada konten teks[5]. Studi lain mengungkapkan bahwa penggunaan metode konvensional dalam materi keberagaman hanya mampu meningkatkan pemahaman kognitif siswa tanpa mengubah perilaku sosial secara signifikan di lingkungan sekolah. Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa metode pembelajaran yang kaku cenderung membuat pendidikan nilai hanya dianggap sebagai hafalan untuk ujian tanpa meresap menjadi karakter[3].

Observasi awal di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan menunjukkan internalisasi pluralisme siswa masih lemah. Perbedaan Bahasa kerap memicu konflik, disertai sikap ekslusif dalam pertemanan yang menciptakan sekat social dan menghambat inklusivitas, sehingga pluralisme tampak sebagai persoalan konflik interpersonal.

Kesenjangan (gap) penelitian ini terletak pada keterbatasan studi sebelumnya yang mayoritas hanya mengkaji integrasi pluralisme melalui modifikasi bahan ajar atau kurikulum formal [6]. Masih jarang ditemukan penelitian yang mengeksplorasi penguatan toleransi melalui rekayasa manajemen kelas dan lingkungan belajar secara spesifik. Kondisi yang ditemukan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan sekaligus menghadirkan kebaruan dibanding penelitian-penelitian sebelumnya. Berbeda dari studi sebelumnya yang berfokus pada kurikulum, penelitian ini menekanka integrasi pluralisme secara kontekstual melalui hidden curriculum. Pendekatan ini membentuk budaya kelas, interaksi social, dan pembiasaan yang menanamkan toleransi dan inklusivitas secara implisit, sehingga nilai pluralisme terinternalisasi secara alami. Temuan ini menawarkan model yang lebih aplikatif untuk mengatasi konflik sosiolonguistik dan ekslusivisme di sekolah dasar.

Penelitian ini penting karena pembentukan toleransi sejak dini menjadi dasar karakter demokratis dan inklusif, terutama di Tengah masih adnaya ekslusivisme dan konflik, serta belum optimalnya implementasi PPKn dalam mewujudkan nilai pluralisme dalam perilaku siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami secara mendalam fenomena integrasi nilai-nilai pluralisme dalam pembelajaran PPKn serta pembentukan sikap toleransi siswa dalam konteks alamiah. Penelitian deskriptif dipilih karena bertujuan menggambarkan secara sistematis fakta, proses, dan dinamika yang terjadi di lapangan sesuai kondisi sebenarnya [6].

Penelitian dilaksanakan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan dengan subjek penelitian meliputi guru kelas IV yang berjumlah 1 orang, siswa kelas IV 32 anak, serta dokumen pendukung pembelajaran seperti modul ajar, perangkat pembelajaran, dan dokumentasi kegiatan sekolah. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, yaitu berdasarkan pertimbangan bahwa informan dipandang mengetahui dan terlibat langsung dalam implementasi integrasi nilai pluralisme di kelas.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Observasi partisipan dilakukan untuk memperoleh data mengenai praktik pembelajaran, interaksi sosial siswa, dan strategi guru dalam menanamkan nilai pluralisme. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali informasi terkait strategi implementasi, hambatan, dan upaya pembentukan sikap toleransi. Adapun dokumentasi digunakan untuk melengkapi serta memperkuat data hasil observasi dan wawancara [10].

Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verivikasi kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya data disajikan secara sistematis dalam bentuk narasi deskriptif agar mudah dipahami hubungan antartemuan. Tahap akhir dilakukan penarikan kesimpulan melalui interpretasi data secara berkelanjutan selama proses penelitian berlangsung [7].

Keabsahan data diuji melalui teknik triangulasi sumber dan teknik, member checking, serta audit trail guna memastikan kredibilitas dan konsistensi data penelitian. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan member checking dilakukan melalui konfirmasi hasil temuan kepada informan agar data yang diperoleh sesuai dengan kondisi yang sebenarnya [8].

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

Integrasi nilai-nilai pluralisme dalam pembelajaran PPKn dilaksanakan melalui beberapa strategi pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan sikap toleransi siswa.

Pertama, guru mengintegrasikan nilai pluralisme dalam proses pembelajaran melalui pemberian materi yang menekankan penghargaan terhadap perbedaan suku, agama, budaya, dan pendapat. Dalam pembelajaran, guru tidak hanya menjelaskan konsep toleransi, tetapi juga mengaitkannya dengan pengalaman nyata siswa di skeolah.Kedua, diskusi kelompok heterogeny menjadi strategi utama untuk membangun interaksi yang inklusif, saling menghargai, dan menghormati perbedaan. Ketiga, keteladanan guru juga berperan penting, terutama sebagai mediator dalam konflik dan dalam membiasakan penyelesaian masalah melalui dialog serta musyawarah. Keempat, pembentukan sikap toleransi siswa juga didukung melalui budaya sekolah berupa pembiasaan sikap saling menghormati, kegiatan kolaboratif, serta interaksi sosial yang menumbuhkan empati antarpeserta didik.

Hasil temuan menunjukkan sebagian besar siswa mulai menunjukkan perilaku toleran, seperti menghargai pendapat teman, bekerja sama tanpa membeda-bedakan, dan mampu menerima keberagaman di lingkungan kelas.

Kelima, meskipun implementasi integrasi nilai pluralisme berjalan cukup baik, ditemukan beberapa kendala, di antaranya perbedaan karakter siswa, pemahaman toleransi yang belum merata, serta perlunya penguatan strategi pembelajaran yang lebih variatif agar internalisasi nilai pluralisme lebih optimal

B. Pembahasan

Integrasi nilai-nilai pluralisme dalam pembelajaran PPKn di MI Ma’arif NU Sunan Drajat menunjukkan bahwa pembentukan sikap toleransi siswa tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pedagogis yang terstruktur, kontekstual, dan berkelanjutan. Penerapan praktik dialogis dan kolaboratif heterogen di madrasah tidak hanya berfungsi sebagai strategi teknis pembelajaran, tetapi juga sebagai bentuk intervensi sosial yang secara langsung memengaruhi relasi antar siswa. Dalam konteks ini, manajemen kelas berfungsi sebagai medium konstruksi sosial yang membentuk pola interaksi dan persepsi siswa terhadap keberagaman[9]. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa nilai-nilai multikultural tidak cukup diajarkan sebagai mata pelajaran, tetapi harus diintegrasikan dalam praktik pembelajaran sehari-hari[10]. Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa pembiasaan interaksi lintas kelompok secara konsisten mampu meningkatkan empati, menurunkan prasangka, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antarsiswa[11].

Mediasi sosiopedagogik menegaskan peran guru sebagai mediator social, dengan pendekatan dialogis yang menjadikan perbedaan sebagai sarana belajar untuk menumbuhkan saling menghargai. Temuan ini selaras dengan studi bahwa Pendidikan multicultural efektif membangun toleransi melalui interaksi terarah.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa internalisasi nilai toleransi lebih efektif ketika siswa terlibat langsung dalam pengalaman belajar berbasis keberagaman dibanding hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis[12]. Hal ini menegaskan bahwa pembentukan karakter toleran tidak hanya bergantung pada transfer nilai secara kognitif, tetapi juga pada pengalaman sosial yang dialami siswa dalam lingkungan sekolah.

Di sisi lain, keberhasilan pembentukan sikap toleransi dalam penelitian ini tidak terlepas dari sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga. Penggunaan buku penghubung sebagai media komunikasi menjadi instrumen penting dalam menjaga konsistensi nilai yang ditanamkan di sekolah agar tetap terjaga di lingkungan rumah. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak dapat berlangsung secara parsial, melainkan membutuhkan dukungan sistem yang terintegrasi. Penelitian dalam Jurnal Pendidikan Multikultural, menegaskan bahwa kolaborasi antara guru dan orang tua berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan pendidikan karakter siswa.[12]

Secara keseluruhan, integrasi nilai pluralisme dalam PPKn di MI Ma’arif NU Sunan Drajat tercermin pada keterbukaan, sikap menghargai perbedaan, dan konsistensi toleransi saya, yang menandakan nilai tersebut telah menjadi bagian dari karakter mereka.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Toat Haryanto dan Saepudin Zuhri yang menegaskan bahwa pendidikan multikultural berperan penting dalam membentuk sikap toleransi secara berkelanjutan[13]. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran PPKn dalam penelitian ini tidak hanya terletak pada aspek kognitif, tetapi juga pada keberhasilan membangun kesadaran sosial dan karakter inklusif siswa melalui integrasi strategi manajemen kelas, mediasi konflik, dan sinergi ekosistem pendidikan secara holistik.

Berdasarkan hasil sintesis data, integrasi nilai pluralisme dalam pembelajaran PPKn di MI Ma’arif NU Sunan Drajat terbukti efektif membentuk sikap toleransi siswa. Hal ini terlihat dari trasnformasi perilaku social, terutama meningkatnya penerimaan terhadap teman di luar kelompoknya. Melalui rotasi tempat duduk dan kelompok heterogeny, siswa mampu bekerja sama tanpa menunjukkan penolakan terhadap perbedaan latar belakang.

Hal ini menunjukkan bahwa prasangka sosial telah terkikis dan digantikan oleh sikap keterbukaan (open-mindedness). (2) Reduksi Konflik Sosiolinguistik (Indikator Menghargai). Keberhasilan paling nyata ditemukan pada kemampuan siswa dalam mengelola perbedaan identitas. Arahan guru mengenai keragaman dialek bahasa daerah berhasil meminimalisir aksi perundungan (bullying) atau ejekan yang sebelumnya sering memicu pertengkaran. Siswa mulai menunjukkan sikap menghargai terhadap keunikan setiap daerah, yang membuktikan bahwa nilai pluralisme telah terinternalisasi menjadi sebuah etika bergaul. (3) Konsistensi Sikap melalui Pengawasan Terintegrasi (Indikator Karakterisasi). Penggunaan buku penghubung membuktikan bahwa pembentukan sikap toleransi tidak hanya bersifat sementara di sekolah. Adanya sinergi antara guru dan orang tua memastikan bahwa nilai-nilai toleransi menjadi perilaku yang menetap (karakter). Meskipun terdapat tantangan berupa heterogenitas karakter siswa, intervensi guru yang konsisten melalui media komunikasi tersebut mampu menjaga stabilitas sikap toleran siswa bahkan di luar jangkauan sekolah.

Namun demikian, hasil ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi nilai pluralisme sangat bergantung pada intensitas interaksi sosial yang dikelola guru, sehingga berpotensi berbeda jika diterapkan pada kelas dengan kondisi yang kurang kondusif atau guru yang tidak memiliki kompetensi mediasi yang memadai. Hal ini menjadi catatan kritis bahwa efektivitas model tidak sepenuhnya universal. Selain itu, jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang cenderung menampilkan hasil positif secara umum, temuan ini mengungkap adanya variasi tingkat internalisasi pada siswa. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sikap siswa berlangsung dengan keceapatan berbeda, sehingga memerlukan pendekatan yang bersifat diferensiatif.

Secara lebih luas, temuan ini menegaskan bahwa integrasi pluralisme tidak cukup melalui kurikulum formal saja, tetapi perlu didukung hidden curriculum dan budaya sekolah, dengan menempatkan pengalaman social siswa sebagai kunci pembentukan sikap toleran. Lebih lanjut, konflik sosiolinguistik yang ditemukan tidak hanya berfungsi sebagai hambatan, tetapi juga sebagai indikator awal untuk merancang intervensi pembelajaran yang lebih kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan justru dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, bukan sekadar masalah yang harus dihindari.

KESIMPULAN

Integrasi nilai-nilai pluralisme dalam pembelajaran PPKn di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan terbukti efektif sebagai strategi pedagogis dalam membentuk sikap toleransi siswa secara substantif, yang mana keberhasilan ini tidak hanya tercermin pada aspek kognitif, tetapi juga pada transformasi perilaku sosial yang lebih inklusif, kemampuan mengelola perbedaan tanpa konflik, serta konsistensi sikap toleran dalam kehidupan sehari-hari. Efektivitas tersebut didukung pembelajaran kontekstual melalui interaksi heterogeny, mediasi sosiopedagogik guru, serta sinergi sekolah dan keluarga, sehingga mampu membentuk karakter siswa yang demokratis dan kerkesadaran social. Secara praktis, temuan ini menjadi rujukan bagi guru dalam strategi inklusif, bagi sekolah dalam kebijakan budaya toleransi, dan bagi orang tua dalam menjaga konsistensi karakter anak.

Namun, untuk memperkuat temuan, penelitian selanjutnya disarankan memperluas Lokasi dan subjek serta menggunakan metode yang lebih beragam, termasul kuantiatif atau campuran, guna mengkaji keberlanjutan sikap toleransi secara lebih komprehensif.

Selain itu, model intgerasi pluralisme berbasis hidden curriculum perlu diuji pada konteks Pendidikan lain yang lebih beragam untuk melihat adaptabilitas dan konsistensinya. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan model tidak hanya ditentukan oleh strategi pembelajaran, tetapi juga oleh kesiapan lingkungan social dan budaya skeolah, sehingga memerlukan penyesuaian kontekstual.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak atas dukungan, bantuan, dan masukan selama proses penulisan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan serta penguatan sikap toleransi siswa di sekolah dasar.

References

Nurlailah, “Strategi pembelajaran ppkn dalam menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama di sekolah menengah 1),” vol. 02, no. April, pp. 19–25, 2025.

Fatih, “MEMBUMIKAN PLURALISME DI INDONESIA : MANAJEMEN,” vol. 5, pp. 29–38, 2018, [Online]. Available: https://doi.org/10.58518/madinah.v5i1.126

S. Anwar and A. Salim, “PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA DI ERA MILENIAL PENDAHULUAN Arus perkembangan globalisasi telah melahirkan generasi gadget , istilah digunakan untuk menandai munculnya generasi millennial . Gadget sebenarnya lebih tepat diartikan dengan p,” vol. 9, no. 2, pp. 233–247, 2018.

T. Muzdalifah, “PENANAMAN NILAI PLURALISME DALAM MEMBENTUK TOLERANSI BERAGAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 07 YOGYAKARTA HALAMAN.” Universitas Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pp. 1–102, 2024.

L. Elita, “Pendidikan kewarganegaraan dalam perspektif internasionalisasi dan globalisasi,” Univ. Pendidik. Indones., vol. 1, no. 3, p. 3, 2024, doi: https://doi.org/10.47134/pgsd.v1i3.564.

T. L. Salma, D. Safitri, and S. Sujarwo, “INTEGRASI NILAI-NILAI MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA,” J. Intelek Insa. Cendikia, vol. 2, no. 6, pp. 11780–11788, 2025, doi: DOI: 10.59818/jpi.v5i3.1534.

Tiensi, “Implementasi nilai-nilai pendidikan toleransi pluralisme dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di sd negeri 01 muara kemumu kabupaten kepahiang,” 2021.

N. Samudra, PERAN GURU IPS DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS SISWA DI SMPK ST. YOSEPH KEPANJEN KAB. MALANG, vol. 5, no. 1. Malang: UIN Maulana Malik I brahim, 2024.

H. et Al, Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter Tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Jakarta, 2019. [Online]. Available: https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/?wpdmpro=buku-konsep-dan-pedoman-ppk

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, 19th ed., vol. 2. Bandung: ALFABETA, CV., 2024. [Online]. Available: www.cvalfabeta.com

S. Saleh, Mengenal Penelitian Kualitatif, 1st ed. Sulawesi Selatan: AGMA, 2023. [Online]. Available: www.penerbitagma.com%0ACetakan

A. Wahyuni, Pendidikan Karkater. Sidoarjo: UMSIDA Press, 2021.

T. Farmer, J. Hamm, M. Dawes, K. Barko-Alva, and J. Cross, “Promoting Inclusive Communities in Diverse Classrooms: Teacher Attunement and Social Dynamics Management,” Educ. Psychol., vol. 54, pp. 286–305, 2019, doi: 10.1080/00461520.2019.1635020.

T. R. Destiyana Awalia Fiaranti, Kirana chita Mutiara, “Penerapan Manajemen kelas Inklusi Sekolah Dasar,” Kaji. Pendidik. dasar, vol. 12, p. 113, 2022, doi: https://doi.org/10.24114/esipgsd.v12i2.

& C. Karmila, K., “Pembentukan karakter siswa melalui penanaman nilai- nilai multikultural di smp negeri 02 tasik putri puyu 1,2,” vol. 3, pp. 241–360, 2023.