Salsabila Nur Farodisa (1), Sulhatul Habibah (2), Aisyah Durrotun Nafisah (3)
General Background: Bullying remains a recurring problem in educational settings, including early childhood education, where children are in a crucial stage of social and emotional development. Specific Background: Family plays a central part in preventing bullying, yet fathers’ roles are often overlooked because paternal involvement is frequently associated with economic responsibility rather than emotional caregiving. Knowledge Gap: Research on fathers’ psychological presence in shaping anti-bullying character in early childhood, particularly in early childhood education contexts, remains limited. Aims: This study examines the role of fathers’ psychological presence in forming anti-bullying character among young children at Assa’adah Kindergarten. Results: Using a qualitative case study, the findings show that fathers’ psychological presence appears through involvement in daily caregiving, warm communication, value transmission, and behavioral modeling. Anti-bullying character formation is reflected in children’s emotional control, empathy, self-confidence, assertive responses, and willingness to report harmful behavior without retaliation. Differences in paternal occupation shaped patterns of involvement, yet the quality of emotional engagement was more decisive than the amount of time spent together. Novelty: This study highlights fathers’ psychological presence as the central analytical focus and connects it directly with anti-bullying character formation in early childhood education. Implications: The findings support father-inclusive parenting programs and school-family collaboration as practical strategies for early bullying prevention.
Highlights• Fathers’ psychological presence was reflected in caregiving, warm interaction, value transmission, and role modeling.• Anti-bullying character was shaped through emotional regulation, empathy, self-confidence, and safe reporting habits.• Emotional engagement mattered more than time quantity across different paternal occupational backgrounds.
KeywordsFathers’ Psychological Presence; Anti-Bullying Character; Early Childhood Education; Emotional Engagement; Parenting Involvement
Data kasus kekerasan pada anak di indonesia masi menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tercatat sebanyak 143 kasus kekerasan pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 43 korban berjenis kelamin laki-laki dan 105 korban berjenis kelamin perempuan. Angka tersebut baru mencerminkan data yang hanya dilaporkan, sementara potensi kasus yang ada di lapangan diperkirakan jauh lebih besar, mengingat banyaknya kasus kekerasan yang tidak dilaporkan. Bullying atau perundungan didefiniskan sebagai salah satu tindakan penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh pihak yang lebih dominan (baik individu maupun kelompok) terhadap suatu individu lain dengan tujuan menimbulkan penderitaan atau dampak yang negatif [1]. Fenomena ini menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling sering terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk pada jenjang anak usia dini. Padahal, periode usia dini (0-6 tahun) merupakan masa emas (golden age) dalam perkembangan otak yang membutuhkan kebutuhan dasar seperti rasa aman dan kasih sayang [2].
Maraknya praktik bullying di lingkungan PAUD secara langsung dapat mengancam pemenuhan kebutuhan yang fundamental dan berpotensi dalam proses tumbuh kembang optimal pada anak yang sedang berada pada fase kritis. Dampak bullying pada anak usia dini tidak dapat dianggap hal yang remeh. Dampak dari perilaku bullying terhadap korban sangat merugikan, salah satunya adalah terganggunya kondisi mental atau kejiwaan anak yang dapat berimplikasi pada masa depannya [3]. tidak sekadar kenakalan anak biasa, melainkan permasalahan yang serius dan membutuhkan intervensi segera dari berbagai pihak, terutama keluarga sebagai lingkungan terdekat dari anak [4],[5]. Hal ini menegaskan bahwa pentingnya perlindungan anak dari praktik perundungan sebagai salah satu upaya untuk menjahga stabilitas psikologis dan masa depan mereka.
Keluarga memiliki peran yang strategis dalam pencegahan perilaku bullying sejak dini. Sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak, keluarga menjadi tempat anak belajat mengenai nilai, norma, dan perilaku sosial [6]. Orang tua berperan sebagai salah satu model utama dalam menanamkan nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan penghargaan terhadap sesama. Program intervensi berbasis keluarga seperti Triple P terbukti lebih efektif dalam menurunkan insiden bullying jika dibandingkan dengan intervensi yang hanya dilakukan di sekolah. Keberhasilan pada program ini menunjukkan bahwa keterlitbatan aktif orang tua dalam mendampingi perkembangan sosial pada anak menjadi salah satu faktor yang penting dalam upaya pencegahan perilaku bullying. Dalam konteks pengasuhan, peran ayah seringkali kurang mendapat dibandingkan dengan peran ibu. budaya patriarki cenderung memposisikan ayah sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, sehingga posisi keterlibatannya dalam pengasuhan keseharian anak menjadi sangat terbatas [7]. Kehadiran psikologis ayah memiliki tingkat kepentingan yang setara dengan kehadiran ibu. Hal ini tidak hanya sebatas pada keberadaan fisiknya, melainkan keterlibatan emosional yang mendalam dalam setiap fase kehidupan anak. Anak yang memiliki hubungan yang hangat dan suportif dengan ayah menunjukkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, kepercayaan diri yang lebih tinggi, serta perilaku agresif yang lebih rendah [8]. Ayah yang hadir secara psikologis dapat menjadi tempat aman (safe haven) bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman buruk [9]. Berdasarkan teori pembelajaran sosial (social learning) Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan, internalisasi pola perilaku orang di sekitarnya. Ayah yang menunjukkan sikap yang saling menghormati, pengendalian emosi, dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah secara tenang akan menjadi contoh positif bagi anak dalam berinteraksi sosial. Sebaliknya, ketidakhadiran ayah secara psikologis dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah perilaku, termasuk kecenderungan menjadi pelaku atau korban bullying [10].
Pentingnya peran dari seorang ayah dalam perkembangan sosial anak, menjadikan kehadiran psikologis ayah sebagai salah satu variabel penting yang perlu dikaji lebih spesifik dalam konteks pembentukan karakter anti bullying pada anak usia dini. Interaksi sosial anak di TK Assa’adah perlu mendapat perhatian yang serius mengingat pentingnya pembentukan karakter sejak dini. Namun, penelitian tentang pera ayah dalam pencegahan bullying masih sangat terbatas, khususunya dalam konteks pendidikan anak usia dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kehadiran psikologis ayah dalam membentuk karakter anti bullying pada anak usia dini di TK Assa’adah, serta diharapkan memberi kontribusi ilmiah dan menjadi acuah bagi orang tua dan pendidik dalam merancang pencegahan kekerasan yang lebih komprehensif. Kebaruan penelitian ini terletak pada focus kehadiran psikologis ayah sebagai factor utama, serta integrasi perspektif perkembangan anak usia dini dengan konteks PAUD. Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih kontekstual dan mendalam tentang peran keterlibatan emosional ayah dalam membentuk perilaku social anak, sekaligus menawarkan strategi pencegahan bullying yang lebih spesifik.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami secara mendalam fenomena kehadiran psikologis ayah dalam pembentukan karakter anti bullying pada anak usia dini di TK Assa’adah. Penelitian ini dilaksanakan di TK Assa’adah pada bulan Maret 2026. Subjek penelitian ini Adalah 10 orang ayah dari seluruh anak yang bersekolah di TK B Assa’adah. Pemilihan kelas TK B didasarkan pada pertimbangan bahwa anak usia TK B (5-6 tahun) berada pada fase perkembangan sosial yang lebih kompleks dibandingkan TK A, sehingga potensi munculnya perilaku bullying (seperti mengejek, mengucilkan, atau mendorong teman) mulai terlihat. Oleh karena itu, kelas TK B dinilai paling representative untuk mengkaji peran kehadiran psikologis ayah dalam pembentukan karakter anti bullying. Jumlah anak di kelas TK B Assa’adah Adalah 10 anak, sehingga seluruh ayah dari 10 anak tersebut dijadikan informan dalam penelitian ini. Para informan memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam, antara lain wiraswasta, pegawai, pekerja lepas harian, dan petani. Subjek penelitian dipilih secara purposive dengan kriteria: ayah dari anak yang sedang menempuh Pendidikan di TK B Assa’adah, bersedia menjadi informan, memiliki waktu untuk diwawancarai secara mendalam, serta mewakili variasi latar belakang pekerjaan untuk memperkaya pemahaman mengenai pengaruh profesi terhadap kehadiran psikologis ayah.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan pada 10 Maret 2026 terhadap 10 ayah di kelas TK B Assa’adah dengan pedoman struktur yang mencakup enam aspek: pemahaman bullying, keadiran psikologis ayah, pembentukan karakter anti bullying, kolaborasi dengan sekolah, kendala dan harapan,serta penutup. Observasi dilakukan selama wawancara untuk melihat sikap dan perilaku informan, sementara dokumentasi berupa catatan lapangan dan rekaman digunakan untuk mendukung analisis data.
Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data dengan cara menyederhanakan dan memilih data yang relevan dengan fokus penelitian, serta penarikan Kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan Teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan jawaban informan dengan catatan lapangan, sedangkan triangulasi Teknik dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 orang ayah dari kelas TK B Assa’adah yang memiliki profesi beragam, meliputi wiraswasta, pegawai, pekerja lepas harian, dan petani, kehadiran psikologis ayah dapat dideskripsikan melalui indikator. Pertama, dalam hal keterlibatan pengasuhan sehari-hari. Seluruh informan menunjukkan upaya keterlibatan meskipun dengan pola waktu yang berbeda-beda. Informan dengan latar belakang wiraswasta memiliki waktu kebersamaan dengan anak pada pagi hingga siang hari sebelum beraktivitas di tempat dagang, serta sore hari setelah kembali. Informan tersebut dapat mengantar dan menjemput anak hampir setiap hari karena lokasi usaha yang tidak jauh dengan sekolah. Sebaliknya, informan yang bekerja sebagai pegawai memiliki waktu kebersamaan yang terbatas, yakni pada malam hari selepas kerja dan akhir pekan, sehingga hanya dapat mengantar dan menjemput anak satu hingga dua kali dalam seminggu. Informan dengan pekerjaan lepas harian memiliki waktu yang tidak menentu terantung ketersediaan proyek, meskipun tetap berusaha meluangkan waktu setiap malam untuk bermain bersama anak. Adapun informan yang berporfesi sebagai petani memiliki pola waktu yang berbeda, yaitu lebih banyak bersama anak pada pagi hari sebelum ke sawah serta pada sore hingga malam hari. Pada musim panen, waktu kebersamaan cenderung berkurang karena tuntutan pekerjaan. Secara umum, para ayah menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam pengasuhan meskipun dihadapkan pada keterbatasan waktu akibat tuntutan profesi masing-masing.
Kedua, dalam kualitas interaksi dan komunikasi. Seluruh informan menunjukkan kehangatan dalam berkomunikasi dengan anak. Informan wiraswasta cenderung lebih ekspresif dan banyak bercanda, karena terbiasa dengan interaksi sehari-hari dengan pembeli. Informan pegawai berkomunikasi terstruktur melalui diskusi dan cerita, pekerja lepas menunjukkan kehangatan lewat perlukan dan candaan meski Lelah, sedangkan petani berinteraksi melalui aktivitas bersama. Anak-anak umunya terbuka dan nyaman saat diajak berbicara.
Dalam penanaman nilai, wiraswasta menekankan sopan santun dan kejujuran melalui praktik langsung, pegawai menumbuhkan empati dan keberanian menolak perilaku negatif, sementara pekerja lepas menanamkan kerja keras, kesederhanaan, dan kepedulian. Informan petani menanamkan nilai kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur melalui kegiatan berkebun bersama anak. Semua informan sepakat bahwa keteladanan merupakan metode paling efektif, sehingga mereka berusaha untuk menjaga sikap dan perilaku di depan anak.
Keempat, dalam hal keteladanan, seluruh informan menyadari bahwa anak merupakan peniru ulung. Informan wiraswasta berusaha menunjukkan perilaku ramah dan jujur kepada pembeli. Informan pegawai berusaha berbicara sopan dengan pasangan dan menghindari pertengkaran di depan anak. Informan pekerja lepas harian menunjukkan keteladanan dalam kedisiplinan dan tanggung jawab. Informan petani memberikan contoh mengenai kesabaram dalam merawat tanaman serta ketekunan dalam bekerja. Apabila secara tidak sengaja menunjukkan perilaku kurang baik, mereka mengaku akan menjelaskan penyebabnya dan meminta maaf kepada anak.
Pembentukan karakter anti bullying yang dilakukan oleh para informan tercermin dalam upaya pencegahan anak menjadi pelaku maupun korban bullying. Dalam pencegahan anak menjadi pelaku bullying, mereka mengajarkan anak untuk dapat mengendalikan emosi dengan cara yang berbeda-beda. Informan wiraswasta mengajarkan teknik menarik napas dan menghitung Ketika marah. Informan pegawai mengajarkan untuk mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, seperti “aku sedang marah”. Informan pekerja lepas harian mengajarkan pengalihan emosi melalui bermain atau aktivitas fisik. Informan petani mengajarkan untuk duduk sejenak dan bercerita ketika sedang kesal. Seluruh informan juga mengajarkan empati dengan cara yang sederhana, misalnya menanyakan perasaan anak jika diperlakukan tidak baik oleh orang lain.
Dalam pencegahan anak menjadi korban bullying, para informan membangun rasa percaya diri kepada anak melalui pujian dan pemberian kepercayaan untuk melakukan tugas sederhana. Informan wiraswasta memberikan kepercayaan kepada anak untuk membantu melayani pembeli yang ramah. Informan pegawai memberikan pujian ketika anak berhasil menyelesaikan tugas sekolah. Informan pekerja lepas harian mengajak anak membantu pekerjaan ringan di rumah sebagai bentuk penghargaan. Informan petani memberikan tanggung jawab untuk merawat tanaman kecil yang ditanam. Anak diajarkan untuk menegur teman yang mengganggu dan melapor kepada guru tanpa membalas dengan kekerasan [11]. Para informan juga mengenalkan Batasan sentuhan yang boleh dan tidak boleh, serta menciptakan rasa aman agar anak berani bercerita.
Kehadiran psikologis ayah berperan dalam pembentukan karakter anti bullying melalui dua aspek utama: sebagai teladan perilaku yang santun, tidak agresif, dan bijak dalam menyelesaikan masalah, serta sebagai pendamping emosional yang membuat anak merasa aman untuk mengungkapkan pengalaman, termasuk saat mengalami perundungan. Anak yang merasa didengar dan didukung akan lebih berani untuk melaporkan tindakan bullying. Ketiga, sebagai pendidik, ayah berperan dalam menanamkan nilai-nilai anti bullying seperti rasa empati, sopan santun, keberanian untuk menolak perilaku negatif, serta keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan secara damai melalui keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari
Kehadiran psikologis ayah dalam pengasuhan anak usia dini di TK Assa’adah menunjukkan gambaran yang cukup positif meskipun dihadapkan pada keterbatasan waktu akibat tuntutan pekerjaan. Seluruh informan berbagai dengan latar belakang profesi secara konsisten berusaha meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak, meskipun dengan pola waktu yang berbeda-beda. Sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa kehadiran psikologis ayah lebih menekankan pada kualitas keterikatan emosional jika dibandingkan dengan keberadaan fisik secara kuantitatif. Hal ini menegaskan bahwa peran emosional ayah bersifat fundamental sebagai syarat utama, bukan hanya pelengkap, dalam pembentukan kestabilan emosi anak yang sudah harus ditanamkan sejak usia dini [12][13]. Para informan membuktikan bahwa keterbatasan waktu dan perbedaan profesi tidak menjadi sebuah penghalang untuk membangun kedekatan dengan anak selama ada kesadaran untuk memanfaatkan waktu yang ada secara berkualitas.
Kualitas interaksi dan komunikasi yang hangat antara informan dan anak menjadi salah satu indikator penting dari kehadiran psikologi ayah. Mereka membiasakan diri untuk mengobrol santai setiap hari, mendekati dan memeluk anak saat sedang sedih atau marah, serta menunjukkan kasih saying melalui pelukan dan candaan. Responsivitas terhadap kebutuhan emosional anak ini menunjukkan bahwa informan tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak yang merasa nyaman dan terbuka untuk bercerita kepada ayahnya menunjukkan bahwa telah terbangun rasa aman dalam hubungan tersebut. Temuan ini memperkuat pernyataan dari[14] bahwa ayah yang hadir secara psikologis dapat menjadi tempat yang aman (safe haven) bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman buruknya. Keamanan emosional menjadi salah satu fondasi penting bagi anak dalam mengembangkan kesehatan mental dan keberanian untuk bersuara ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, termasuk perundungan [15].
Penanaman nilai-nilai yang dilakukan oleh informan melalui pembiasaan dan keteladanan mencerminkan penerapan teori sosial Albert Bandura (1977).Anak belajar melalui pengamatan dan internalisasi pola perilaku dari orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tua. para informan menyadari perannya sebagai teladan dengan menjaga sikap dihadapan anak, meski dengan cara berbeda. Saat tanpa sengaja bersikap agresif, mereka menjelaskan penyebabnya dan meminta maaf sebagai bentuk pembelajaran tanggung jawab. Nilai sopan santun, kasih sayangm dan perilaku baik ditanamkan melalui pembiasaan mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih, yang efektif bagi anak usia dini karena belajar dari pengulangan dan contoh nyata [18],[19].
Pembentukan karakter anti bullying yang dilakukan informan mencakup dua aspek penting, yaitu pencegahan anak menjadi pelaku dan pencegahan anak menjadi korban bullying. Dalam mencegah anak menjadi pelaku bullying, para informan mengajarkan pengendalian emosi, empati, dan pemberian konsekuensi positif tanpa kekerasan fisik. Hal ini menunjukkan bahwa anak yang memiliki hubungan hangat dan suportif dengan ayah menunjukkan perilaku agresif yang lebih rendah [16].
Pencegahan anak menjadi korban bullying menjadi perhatian utama informan melalui pengembangan rasa percaya diri. Upaya membangun kepercayaan diri anak dilakukan dengan memberikan pujian serta kepercayaan untuk melakukan tugas sederhana, sehingga anak tidak mudah menjadi target perundungan karena memiliki keberanian menolak perilaku negatif dan melapor kepada guru atau orang tua[17]. Para informan mengajarkan cara menegur teman tanpa kekerasan, mengenalkan Batasan sentuhan sebagai perlindungan diri, serta membangun komunikasi terbuka agar merasa aman untuk bercerita. Kehadiran psikologis ayah sebagai teladan, pendamping emosional, dan penanaman nilai terbukti penting dalam membentuk parakter anti bullying pada anak usia dini.
Perbedaan pekerjaan ayah memengaruhi pola keterlibatan. Ayah dengan waktu fleksibel (wiraswasta dan petani) memiliki interaksi lebih intens melalui pengalaman langsung, sedangkan ayah dengan waktu terbatas (pegawai dan pekerja lepas) menekankan kualitas komunikasi yang lebih terarah. Dengan melibatkan 10 ayah, penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas keterlibatan emosional lebih menentukan dibandingkan kualitas waktu.
Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah informan yang sedikit, Lokasi yang terbatas, serta data yang bersifat subjektif. Selain itu, dampak jangka Panjang kehadiran psikologis ayah belum dikaji secara longitudinal. Untuk memperkuat kontribusi penelitian, perlu ditegaskan bahwa keterbatasan jumlah informan dan fokus lokasi penelitian menyebabkan hasil belum dapat digeneralisasi secara luas, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih besar dan metode yang lebih beragam. Selain itu, implikasi praktis dapat dirumuskan secara lebih konkret melalui pengembangan program parenting berbasis peran ayah, seperti pelatihan komunikasi efektif ayah-anak, kegiatan keterlibatan ayah di sekolah (father involvement program), serta penyusunan panduan pengasuhan yang menekankan pembentukan karakter anti bullying sejak usia dini. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya memberikan kontribusi teoretis, tetapi juga menjadi acuan praktis bagi guru, orang tua, dan lembaga PAUD dalam merancang strategi pencegahan bullying yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai analisis kehadiran psikologis ayah dalam pembentukan karakter anti bullying pada anak usia dini di TK Assa’adah, dapat disimpulkan bahwa kehadiran psikologis para informan dengan latar belakang profesi sebagai wiraswasta, pegawai, pekerja lepas harian dan petani tercermin dalam empat indikator utama, yaitu keterlibatan dalam pengasuhan sehari-hari meskipun dengan keterbatasan waktu akibat pekerjaan, kualitas interaksi dan komunikasi yang hangat dengan anak, penanaman nilai-nilai positif seperti sopan santun dan saling menyayangi, serta keteladanan perilaku yang baik di hadapan anak.
Pembentukan karakter anti bullying yang dilakukan informan mencakup upaya pencegahan anak menjadi pelaku bullying melalui pengajaran dan pengendalian emosi, empato, dan pemberian konsekuensi positif tanpa kekerasan fisik, serta pencegahan anak menjadi korban bullying melalui pengembangan rasa percaya diri, keterampilan asertif, dan hubungan komunikasi yang aman bagi anak. Meskipun terdapat perbedaan pola keterlibatan dan metode penanaman nilai yang dipengaruhi oleh latar belakang profesi, para informan menunjukkan upaya yang signifikan dalam membangun kehadiran psikologis untuk membentuk karakter anti bullying pada anak. Kehadiran psikologis ayah terbukti berperan penting dalam pembentukan karakter anti bullying melalui tiga peran utama, yaitu sebagai model perilaku yang memberikan teladan dalam bersikap hormat dan menyelesaikan konflik secara damai, sebagai pendamping emosional yang menjadi tempat aman bagi anak untuk bercerita, serta sebagai pendidik nilai yang menanamkan nilai-nilai anti bullying melalui keteladanan dan pembiasaan sehari-hari. Penelitian ini mengimplikasikan tentang perlunya program Parenting yang lebih spesifik dan melibatkan peran ayah secara aktif dalam Upaya pencegahan bullying pada anak usia dini, mengingat kontribusi signifikan kehadiran psikologis ayah terhadap perkembangan sosial dan pembentukan karakter anak.
Secara praktis, PAUD disarankan mengembangkan program parenting berbasis peran ayah dan kolaborasi sekolah-keluarga untuk menanamkan nilai anti bullying. Secara teoritis, penelitian ini menegaskan pentingnya kehadiran psikologis ayah dalam pembentukan karakter social anak. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan menggunakan sampel yang lebih luas, pendekatan longitudinal, serta desain penelitian yang lebih variatif agar hasil penelitian memiliki daya generalisasi yang lebih kuat.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan artikel ini, khususnya kepada pihak TK Assa’adah yang telah memberikan izin dan dukungan selama proses penelitian. Terima kasih juga disampaikan kepada para responden serta semua pihak yang telah memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.
C. D. E. Pradana, “Pengertian Tindakan Bullying , Penyebab , Efek , Pencegahan dan Solusi,” J. Syntax Admiration, vol. 5, no. 3, pp. 884–898, 2024.
A. Muarifah, D. E. Wati, and I. Puspitasari, “Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Identifikasi Bentuk dan Dampak Kekerasan Pada Anak Usia Dini di Kota Yogyakarta Abstrak,” vol. 4, no. 2, pp. 757–765, 2020, doi: 10.31004/obsesi.v4i2.451.
D. F. F. Surya and Ismaniar, “Upaya Mengatasi Maraknya Tindakan Bullying Pada Anak Usia Dini PENDAHULUAN Anak usia dini adalah seseorang yang berada pada rentang usia 0-8 tahun dan menjalani proses tumbuh kembang sangat pesat dan fundamental untuk kehidupan selanjutnya . Pada usia din,” vol. 4, no. 1, pp. 61–72, 2023.
P. A. Raraswati, D. Safitri, and Sujarwo, “Peran Orang Tua Dalam Meminimalkan Risiko Bullying Pada Anak-Anak,” vol. 3, no. 1, pp. 139–145, 2024.
A. D. Nafisah, W. Zulfaa, A. Maulida, and C. Mega, “ANAK USIA DINI DI RUMAH,” vol. 4, no. 2, pp. 1–14, 2025.
G. Hamidah, L. Karwati, B. A. Laksono, P. Bullying, and A. U. Dini, “PERAN KELUARGA DALAM MENCEGAH PERILAKU BULLYING PADA ANAK USIA DINI,” vol. 18, no. 2, pp. 95–105, 2024, doi: 10.32832/jpls.v14i2.172682.
A. A. N. Putri and A. Chusairi, “Efektivitas Positive Parenting Program ( Triple-P ) Dalam Meningkatkan Keterampilan Regulasi Diri Orang Tua Remaja : Systematic Review,” vol. 6, no. 2, pp. 171–179, 2021.
M. Musyafa, F. Malik, and M. H. Rumaday, “Peran Ayah dan Dampaknya pada Kemandirian Psikologi Anak di Lingkungan Urban-Multikultural Kota Jayapura,” vol. 6, no. 2, pp. 273–290, 2025.
N. J. Cabrera, “Father involvement , father-child relationship , and attachment in the early years attachment in the early years,” Attach. Hum. Dev., vol. 22, no. 1, pp. 1–5, 2019, doi: 10.1080/14616734.2019.1589070.
T. Ariyati and V. M. Zaidah, “Dampak psikologis ayah terhadap perkembangan anak usia dini,” Khazanah Pendidik. J. Ilm. Kependidikan, vol. 18, no. 1, pp. 110–113, 2024, doi: 10.30595/jkp.v18i1.21220.
A. D. Nafisah, Y. Kurniawati, S. Pranoto, and S. Nuzulia, “Father involvement as a predictor of early childhood external behaviors in Indonesian,” vol. 14, no. 1, pp. 434–442, 2025, doi: 10.11591/ijphs.v14i1.24269.
N. Ambriyani, A. H. Palawa, and M. R. Dahliani, Anugrah, “Teori Pembelajaran Sosial,” Pediaqu J. Pendidik. Sos. dan Hum., vol. 4, no. 4, pp. 7334–7346, 2025.
Y. Kurniawati, S. Pranoto, N. Aksoy, and A. D. Nafisah, “Voices of first graders : exploratory study on starting school during post-pandemic period,” vol. 13, no. 3, pp. 1511–1525, 2024, doi: 10.11591/ijere.v13i3.27320.
R. G. Ningrum and H. Wulandari, “Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Emosional Anak Usia Dini,” Murhum J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 6, no. 2, pp. 544–554, 2025, doi: 10.37985/murhum.v6i2.1572.
D. Setiawan and A. D. Nafisah, “Father ’ s Involvement in Children ’ s Distance Learning during the Pandemic,” vol. 16, no. 1, 2022.
Y. Maronta and A. D. Nafisah, “No Title,” vol. 4, no. 1, pp. 140–150, 2024.
R. Ali et al., “STRATEGI EFEKTIF MENINGKATKAN KESEHATAN EMOSIONAL ANAK,” J. BUDIMAS, vol. 07, no. 01, pp. 1–6, 2025.
Fitriani, “Peningkatan perkembangan moral anak melalui pembiasaan ucapan tolong, maaf, dan terimakasih kelompok A Tk an-nur colo panjangrejo pundong bantul,” 2019.
A. D. Nafisah, Y. Kurniawati, S. Pranoto, and S. Nuzulia, “The Impact of Father Involvement in the Early Childhood Problematic Behavior,” vol. 17, no. 1, 2023.
W. Febriani, Y. Bawono, and W. P. Wibowo, “Penggunaan Metode Bercerita Untuk Meningkatkan Kemampuan Empati Anak Usia Dini,” vol. 1, no. 2, pp. 49–56, 2025.
A. D. Nafisah, Y. Kurniawati, S. Pranoto, and H. Article, “Early Childhood Education Papers,” vol. 11, no. 1, pp. 1–8, 2022, doi: 10.15294/belia.v11i1.48424.