Ela Kania Samosir (1), Minto Waluyo (2)
General Background: Chemical retail businesses need adaptive strategies to survive in competitive markets. Specific Background: CV. XYZ faces stable sales, low brand awareness, simple packaging, limited promotion, and strong competition in the chemical trading area. Knowledge Gap: Prior business development studies rarely focus on chemical retail products that require consumer education. Aims: This study formulates priority business development strategies for CV. XYZ using Business Model Canvas, SWOT, and QSPM. Results: The internal condition was strong with an IFE score of 3.681, while the external condition was also strong with an EFE score of 3.4573. SWOT positioning placed CV. XYZ in Quadrant I, supporting an aggressive strategy. QSPM identified educational content on product functions, safety, and benefits through social media and digital catalogs as the top priority, with a TAS of 6.206. Novelty: The study integrates educational marketing and supplier partnership strengthening in chemical retail strategy. Implications: CV. XYZ should develop informative digital promotion, improve brand identity, and strengthen supplier collaboration.
Highlights:
Keyword: Business Model Canvas, Business Development, SWOT, QSPM
Pendahuluan
Perkembangan dunia usaha, khususnya di sektor perdagangan, menunjukkan dinamika yang cepat dengan peluang pasar yang semakin luas sekaligus persaingan yang semakin ketat, sehingga menuntut pelaku usaha untuk memiliki strategi bersaing yang tepat [1]. Dalam konteks bisnis yang kompetititf, strategi menjadi elemen krusial yang tidak hanya berfungsi untuk merumuskan tujuan jangka panjang, tetapi juga untuk merespons perubahan, mengoptimalkan sumber daya, serta menciptakan keunggulan kompetitif. Selain itu, strategi membantu keputusan yang terarah dan terencana. Dengan demikian, strategi yang matang dan adaptif sangat penting untuk mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan secara berkelanjutan [2].
CV. XYZ merupakan usaha retail bahan kimia curah yang telah beroperasi sejak tahun 2019 dengan legalitas resmi berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) serta produk yang telah tersertifikasi COA (Certificate of Analysis). Usaha ini menyediakan berbagai produk seperti sorbitol, sendawa, wash bensin, texapone, CAB amphitol dan stearic acid. Namun, produk yang ditawarkan masih dikemas secara sederhana tanpa identitas merek yang jelas serta belum didukung oleh kegiatan promosi yang terencana, baik secara online maupun offline, sehingga tingkat awareness masyarakat masih rendah. Selain itu, lokasi usaha yang berada di kawasan pusat perdagangan bahan kimia juga menyebabkan tingginya tingkat persaingan dengan pelaku usaha sejenis. Data dapat dilihat pada tabel 1 dan gambar 1.
Tabel 1. Harga Produk CV. XYZ
Gambar 1. Grafik Pendapatan Bulanan CV. XYZ Tahun 2025
Berdasarkan data pendapatan periode Maret - Agustus 2025, CV. XYZ menunjukkan kondisi penjualan yang cenderung stabil tanpa adanya peningkatan yang signifikan, sehingga mengindikasikan bahwa usaha stabil tanpa strategi khusus untuk mendorong pertumbuhan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan bisnis yang tepat guna meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, serta bisnis yang tepat guna meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, serta mengoptimalkan potensi pasar yang dimiliki.
Untuk mengatasi permasalahan yang telah dipaparkan, dilakukan kombinasi Business Model Canvas (BMC), analisis SWOT dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) agar perusahaan memiliki gambaran visual yang jelas mengenai model bisnis, sekaligus mampu menganalisis faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan di dalam perusahaan serta peluang dan ancaman dari luar [3]. Dengan pemahaman ini, CV. XYZ dapat memanfaatkan kekuatan internal yang dimiliki serta menangkap peluang yang muncul di pasar untuk dibentuk startegi bisnis [4]. Selanjutnya, QSPM digunakan untuk mengevaluasi alternatif strategi yang dihasilkan dari SWOT dan menentukan strategis prioritas [5]. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan strategi-strategi terbaik untuk diusulkan pada CV. XYZ.
Beberapa penelitian terdahulu telah membahasa startegi pengembangan bisnis menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC), analisis SWOT dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Penelitian oleh Kurniawati et al. [8] menunjukkan bahwa kombinasi metode tersebut efektif dalam merumuskan strategi prioritas pada usaha skala kecil. Selain itu, penelitian lain juga menekankan bahwa pemanfaatan BMC mampu memberikan gambaran model bisnis secara komprehensif, sedangkan SWOT membantu dalam mengidentifikasi faktor internal dan eksternal perusahaan. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada sektor usaha umum dan belum spesifik membahasa bisnis retail bahan kimia dengan karakteristik produk yang memerlukan edukasi konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan startegi pemasaran berbasis konten edukatif dan penguatan kemitraan supplier pada bisnis retail bahan kimia, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam pengembangan strategi bisnis pada sektor ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi strategi pengembangan bisnis yang paling prioritas bagi CV. XYZ dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal perusahaan, sehingga diharapkan mampu meningkatkan daya saing serta mendukung keberlanjutan usaha.
Metode
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif-kuantitatif. penelitian ini menerapkan pendekatan Business Model Canvas (BMC), analisis SWOT dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Metode Business Model Canvas (BMC) yang dipadukan dengan analisis SWOT digunakan sebagai pendekatan untuk memahami kondisi bisnis secara menyeluruh. Melalui Business Model Canvas (BMC), aspek-aspek utama dalam sebuah model bisnis dapat digambarkan dengan jelas, mulai dari segmen pelanggan, saluran distribusi, hubungan pelanggan, hingga struktur biaya dan sumber pendapatan [6]. Sementara itu, analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi jalannya usaha, meliputi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) [7]. Dengan menggabungkan analisis SWOT dan Business Model Canvas (BMC), perusahaan dapat memahami tidak hanya gambaran umum dari sembilan elemen BMC, tetapi juga bagaimana setiap elemen tersebut dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal. Kombinasi kedua metode ini membantu perusahaan dalam menentukan strategi yang paling tepat melalui Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) berdasarkan nilai daya tarik (Total Attractiveness Score/TAS). Pendekatan gabungan ini memberikan hasil analisis yang lebih fokus dan mendalam, sehingga konsep bisnis yang dirumuskan menjadi lebih matang, realistis, dan mampu beradaptasi dengan dinamika persaingan bisnis. Selain itu, strategi yang dihasilkan juga lebih tanggap terhadap dinamika lingkungan bisnis, membuat perusahaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. Selanjutnya, alternatif strategi yang diperoleh dari analisis SWOT akan dievaluasi kembali secara objektif menggunakan QSPM [8]. Melalui metode ini, perusahaan dapat menilai tingkat daya tarik dari setiap strategi alternatif dengan memberikan bobot berdasarkan tingkat kepentingan dan relevansinya terhadap kondisi perusahaan. Dengan cara tersebut, CV. XYZ dapat menentukan strategi bisnis yang paling sesuai untuk diimplementasikan. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi serta data primer melalui penyebaran kuesioner kepada karyawan CV.XYZ untuk memberikan penilaian terhadap faktor internal dan eskternal perusahaan serta untuk menentukan nilai Attractiveness Score (AS) pada setiap alternatif strategi dalam QSPM.
Hasil dan Pembahasan
Pada tahapan awal dalam menyusun BMC di mana proses ini dimulai dari customer segments sampai dengan cost structure. BMC ini digunakan menjadi alat yang strategis dengan mempunyai Sembilan elemen yang utama diantaranya adalah key partners, key activities, customer relationship, customer segmenys, key resources, channels, cosy structure, dan revenue streams [9]. Pada kesembilan elemen itu maka dapat dijadikan komponen yang paling pentinh khususnya untuk membangun dasaran dari suatu model bisnis [10]. Pada penelitian ini di mana sembilan elemenya pada CV.Rizqi Anhu Kemala ditunjukkan pada gambar 2 sebagai berikut ini.
Gambar 2. Business Model Canvas pada CV. XYZ
Matriks IFE dan EFE digunakan menjadi alat dalam melakukan analisis dalam kondisi lingkungan secara internal ataupun secara eksternal dengan dimiliki dari suatu perusahaan [11]. Tujuan dalam menggunakan kedua matris inilah adalah digunakan untuk melakukan pengidentifikasian factor yang penting dalam memberikan pengaruh pada kinerja perusahaan dari dalam ke luar. Hasil analisis dengan menggunakan matriks IFE dengan EFE tersebut dilihat pada table 2 dan 3 sebagai berikut ini.
Tabel2. Matriks Evaluasi Internal
Berdasarkan dari hasil analisis faktor internal atau IFE yang ditunjukkan pada tabel 2 di atas dengan memiliki skornya adalah sebesar 3,681, yang hal tersebut mengindikasikan bahwa pada kondisi secara internal CV. XYZ terklasifikasikan dengan kuat. Yang selanjutnya dari hasil matriks IFE tersebut dapat diketahui bahwa dengan nilai strength telah menjadi hal yang paling mayoritas dengan totalnya adalah 2,7208, jika dibandingkan dengan faktor weakness yang hanya memiliki jumlahnya adalah 0,960. Maka dari itu di mana. nilai strength dapat digunakan menjadi dasar dalam penentuan kebijakan di perusahaan.
Tabel3. Matriks Evaluasi Eksternal
Berdasarkan matriks evaluasi faktor eksternal (EFE) pada tabel 3 di atas, diperoleh total keseluruhan skor EFE sebesar 3,4573 yang artinya CV. XYZ memiliki kondisi eksternal yang kuat. Selanjutnya dari matriks IFE tersebut dapat dilihat bahwa nilai peluang (opportunities) ialah nilai yang paling tinggi untuk matriks IFE dengan jumlah 2,0815 dibandingkan dengan faktor ancaman (threats) dengan jumlah 1,3758 maka nilai yang bisa dijadikan dasar kebijakan adalah nilai peluang (opportunities).
Untuk menentukan posisi strategis perusahaan, digunakan matriks diagram cartesius analisis SWOT. Penentuan koordinat pada matriks tersebut didasarkan pada hasil selisih skor faktor internal (kekuatan - kelemahan) serta selisih skor faktor eksternal (peluang - ancaman) [12]. Adapun perhitungan koordinat titik X dan Y dapat dilihat pada gambar 3.
X = Skor Total Kekuatan - Skor Total Kelemahan = 2,7208 – 0,960 = 1,8
Y = Skor Total Peluang - Ancaman = 2,0815 – 1,3758 = 0,7
Gambar 3. Matriks Cartesius Analisis SWOT
Dari gambar diagram cartesius di atas, terlihat bahwa posisi CV. XYZ berada pada kuadran I atau dikenal dengan strategi agresif yang menunjukkan situasi perusahaan yang sangat memungkinkan untuk meraih strategi bisnis yang optimal. Pada kuadran I menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kekuatan dari faktor internal yang tinggi yakni (strength) dan menghadapi peluang eksternal yang signifikan (opportunities) [13].
Matriks SWOT adalah alat yang digunakan untuk mengukur faktor-faktor strategi perusahaan, matriks ini digunakan untuk menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dimiliki oleh CV. XYZ [14]. Matriks ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategi yang dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Matriks SWOT
Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) merupakan sebuah metode yang digunakan untuk analisis lebih lanjut dari strategi yang sebelumnya diidentifikasi dari Analisis SWOT dan digunakan untuk menentukan strategi prioritas [15]. Adapun hasil perhitungan untuk QSPM dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Perhitungan Nilai QSPM
Berdasarkan tabel 5 hasil perhitungan QSPM, alternatif strategi yang paling diprioritaskan untuk dilakukan oleh CV. XYZ adalah menyediakan konten edukatif mengenai fungsi, keamanan, dan manfaat produk bahan kimia melalui media sosial dan katalog digital untuk meningkatkan kepercayaan konsumen (S5) dengan skor TAS seebsar 6,206, kemudian menjalin kerja sama dengan UMKM dan industri makanan/minuman setempat sebagai pemasok bahan baku alternatif khususnya mempromosikan sorbitol sebagai pengganti gula (S4) dengan skor TAS sebesar 6,072, kemudian mengembangkan strategi promosi digital yang terstruktur dan berkelanjutan melalui media sosial dan e-commerce untuk meningkatkan awareness dan memperluas pangsa pasar (S2) dengan skor TAS sebesar 5,671, kemudian mengembangkan identitas merek (logo, label, desain kemasan profesional) yang menonjolkan kualitas dan legalitas produk untuk menciptakan diferensiasi dan meningkatkan daya saing (S1) dengan skor TAS sebesar 5,666 dan memanfaatkan layanan pengiriman instan dan pelayanan responsif sebagai keunggulan kompetitif untuk menarik pelanggan di wilayah sekitar Jalan Tidar, sehingga mampu bersaing dengan toko sejenis melalui kecepatan dan kemudahan layanan (S3) dengan skor TAS sebesar 5,599. Dengan demikian, urutan nilai TAS menunjukkan tingkat prioritas implementasi strategi, di mana strategi dengan nilai tertinggi direkomendasikan untuk dilaksanakan terlebih dahulu karena memberikan daya tarik strategis paling besar bagi perusahaan.
Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa kondisi internal dan eksternal perusahaan berada pada kategori kuat. Temuan ini sejalan dengan penelitian Kurniawati et al. [8] yang menyatakan bahwa nilai IFE dan EFE yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan kekuatan internal serta merespons peluang eksternal secara optimal dalam merumuskan startegi bisnis. Selain itu, strategi prioritas yang diperoleh melalui QSPM menunjukkan bahwa pengembangan konten edukatif menjadi strategi yang paling menarik untuk diterapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan kepercayaan konsumen, terutama pada produk yang memerlukan pemahaman khusus seperti bahan kimia. Temuan ini sejalan dengan konsep pemasaran modern yang menekankan pentingnya value creation dan customer education dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Simpulan
CV. XYZ telah menggambarkan model bisnisnya melalui 9 aspek BMC yaitu customer segments, value propositions, customer relationship, channels, key activities, key resource, key partnership, cost structure dan revenue stream. Aspek-aspek ini menunjukkan bagaimana CV. XYZ menciptakan dan memberikan nilai dalam bisnisnya. Dalam matriks IFE dapat diketahui bahwa kekuatan utama yang dimiliki oleh perusahaan adalah memanfaatkan platform e-commerce seperti shopee untuk memperluas jangkauan pemasaran dengan nilai skor tertinggi sebesar 0,4104 dan kelemahan utama adalah belum pernah melakukan program promosi atau iklan di media sosial sehingga jangkauan pemasaran masih terbatas dengan skor tertinggi sebesar 0,2448 begitu juga pada matriks EFE dapat diketahui bahwa peluang utama yang dimiliki oleh perusahaan adalah pertumbuhan e-commerce yang pesat sehingga memberikan kesempatan bagi CV. XYZ untuk menjadi rujukan luasnya pemasaran dengan skor tertinggi sebesar 0,3896 dan ancaman utama yang dihadapi adalah semakin ketat pada platform e-commerce untuk produk sejenis karena dapat melemahkan daya saing CV. XYZ dengan skor tertinggi sebesar 0,245. Melalui matriks cartesius analisis SWOT dapat diketahui bahwa CV. XYZ berada pada kuadran I menunjukkan bahwa perusahaan ini dapat memanfaatkan kekuatan dan peluang yang dimiliki untuk meraih startegi bisnis ang optimal yang artinya mengarah pada strategi SO. Selanjutnya dirumuskanlah strategi SO melalui matriks SWOT dan menghasilkan 5 alternatif strategi yang akan direkomendasikan pada perusahaan yang akan dipriroritaskan melalui Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Berdasarkan hasil prioritas strategi dengan Total Attractiveness Score (TAS) tertinggi pada QSPM, terlihat bahwa perusahaan menunjukkan minat terhadap strategi menyediakan konten edukatif mengenai fungsi, keamanan, dan manfaat produk bahan kimia melalui media sosial dan katalog digital untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dengan nilai TAS tertinggi sebesar 6,206. Dengan demikian, penelitian ini memberikan implikasi bahwa strategi pemasaran berbasis edukasi dan kolaborasi merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan bisnis retail bahan kimia secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian, strategi prioritas yang direkomendasikan bagi CV. XYZ adalah pengembangan konten edukatif terkait fungsi, keamanan, dan manfaat produk bahan kimia melalui media sosial dan katalog digital. Strategi ini tidak hanya memiliki nilai daya tarik tertinggi, tetapi juga menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman konsumen menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan dan mendorong keputusan pembelian, khususnya pada produk yang bersifat teknis seperti bahan kimia. Selain itu, pentingnya penguatan identitas merek dan kerja sama dengan pihak eksternal mengindikasikan bahwa daya saing usaha tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan dalam membangun citra dan jaringan bisnis. Dengan demikian, penelitian ini memberikan implikasi bahwa strategi pemasaran berbasis edukasi dan kolaborasi merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan bisnis retail bahan kimia secara berkelanjutan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, serta kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada pembimbing atas arahan dan bimbingannya, kepada pihak instansi penelitian yang telah memberikan izin serta data yang dibutuhkan, serta kepada keluarga dan teman-teman yang senantiasa memberikan doa dan dukungan. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan
Referen ces
A. F. Rizqi, E. Wahyudi, and W. Khristianto, “Analisis Strategi Bersaing dalam Menghadapi Persaingan Bisnis pada Maju Toys,” Jurnal Strategi Bisnis (JSB), vol. 11, no. 2, pp. 161–168, 2023, doi: 10.31004/jutin.v8i4.48776.
K. Harahap, Strategi Bisnis: Pendekatan Teoritis dalam Merancang Jalan Menuju Keberhasilan. Medan, Indonesia: PT Media Penerbit Indonesia, 2024.
F. Wijaya, R. Muttaqin, and A. M. Siddiq, “Desain Business Model Canvas (BMC) pada Kelompok Keramba Bambu di Kota Bandung,” Kumawula: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 6, no. 2, p. 309, 2023, doi: 10.24198/kumawula.v6i2.42504.
Z. Safitri, W. El, V. P. Sitorus, and I. Noviyanti, “Analisis SWOT terhadap Pengembangan Strategi Bisnis pada Warung Makan Asyik Desa Balunijuk,” Jurnal Manuhara: Pusat Penelitian Ilmu Manajemen dan Bisnis, vol. 2, no. 3, pp. 140–153, 2024, doi: 10.61132/manuhara.v2i3.967.
N. Hermina, Buku Ajar Esensi Manajemen Strategis: Dari Teori hingga Eksekusi. Bandung, Indonesia: Widina Media Utama, 2025.
A. Sa’diah, T. F. Musfar, and S. W. Wildah, “Rancangan Pengembangan Usaha Menggunakan Pendekatan Business Model Canvas (BMC) dan SWOT Analysis pada Percetakan Kemasan CV Berkah Andalas Pekanbaru,” Jurnal Literasi dan Teknologi Pendidikan, vol. 6, no. 3, pp. 543–559, 2025, doi: 10.24198/kumawula.v6i2.42503.
V. Karadzhov and E. Patarchanova, “How to Create the Best PESTEL Analysis,” International Journal of Digital Research, vol. 1, no. 3, pp. 8–20, 2025, doi: 10.63711/ijdr.net20250301.
R. Kurniawati, H. Aulawi, and S. Rismawati, “Analisis Strategi Pengembangan Bisnis dengan Metode Business Model Canvas (BMC) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM),” Jurnal Kalibrasi, vol. 20, no. 2, pp. 93–101, 2022, doi: 10.33364/kalibrasi/v.20-2.1152.
S. Daud, D. A. Affan, M. F. Rachman, and M. R. A. Fiqih, “Implementasi Business Model Canvas (BMC) dalam Perencanaan Strategi Pemasaran Kewirausahaan UMKM (Studi pada ‘Citra Oleh-Oleh Lampung’ di Bandar Lampung),” Indonesian Journal for the Economics Management and Technology, vol. 9, no. 2, pp. 370–383, 2025, doi: 10.35870/emt.v9i1.3542.
T. Nurseto, Sulasmi, and A. C. Alwi, “The Business Model Canvas to Develop Entrepreneurial Mindset in Online Learning,” International Journal of Economics, Business and Accounting Research (IJEBAR), vol. 8, no. 3, pp. 1–9, 2024, doi: 10.29040/ijebar.v8i3.
A. Kurniawan and Y. Iriani, “Analisis Strategi Pemasaran dengan Matriks SWOT dan QSPM untuk Perusahaan Penyedia Peralatan di Industri Telekomunikasi,” Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, vol. 2, no. 1, pp. 303–315, 2024, doi: 10.572349/scientica.v2i1.812.
S. Kumar and Praveena, “SWOT Analysis,” International Journal of Advanced Research, vol. 11, no. 9, pp. 744–748, 2023, doi: 10.21474/ijar01/17584.
R. Sylvia and D. Hayati, “Analisis SWOT dalam Menentukan Strategi Pemasaran Produk Indosat pada PT X,” Dinamika Ekonomi: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, vol. 16, no. 1, pp. 124–134, 2023, doi: 10.53651/jdeb.v16i1.422.
R. D. Pasaribu, A. N. Pertiwi, and Z. I. Sugiharto, “Strategi Bisnis dan Program Fungsional pada Usaha Roti dengan Pendekatan Analisis dan Matriks SWOT,” Jurnal Ilmiah MEA (Manajemen, Ekonomi, dan Akuntansi), vol. 6, no. 3, pp. 1450–1465, 2023, doi: 10.31955/mea.v6i3.2503.
M. Morreira, M. Hilman, and E. Aristriyana, “Pengaplikasian Metode QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dalam Strategi Pemasaran UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Pabrik Tahu 2 Saudara di Banjarsari Kab. Ciamis,” Jurnal Mahasiswa Teknik Industri, vol. 1, no. 2, pp. 76–86, 2024, doi: 10.25157/intriga.v1i2.3890.