Login
Section Business and Economics

Pricing Promotion and Online Reviews Drive Customer Loyalty at Mie Gacoan Restaurants in Surabaya


Promosi Harga dan Ulasan Online Mendorong Loyalitas Pelanggan Restoran Mie Gacoan di Surabaya
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Dewi Khasanah (1), Minto Waluyo (2)

(1) Program Studi Teknik Industri, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Indonesia
(2) Program Studi Teknik Industri, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background The food and beverage industry is experiencing rapid expansion, intensifying competition and necessitating a deeper understanding of consumer behavior in culinary markets. Specific Background This study examines how the marketing mix (product, price, place, promotion) and electronic word of mouth (e-WOM) relate to purchase intention, purchase decision, repurchase, and customer loyalty within a single integrated framework. Knowledge Gap Prior studies present inconsistent findings and often analyze relationships partially, with limited attention to the sequential process from purchase intention to loyalty. Aims This research aims to analyze the simultaneous relationships among marketing mix variables and e-WOM toward consumer behavioral stages culminating in loyalty. Results The findings indicate that price, promotion, and e-WOM significantly and positively relate to purchase intention, while product and place do not show significant relationships. Purchase intention significantly relates to purchase decisions, which subsequently relate to repurchase behavior and ultimately to customer loyalty. Novelty This study proposes an integrated structural model linking marketing mix and e-WOM to a full behavioral pathway from intention to loyalty using Structural Equation Modeling. Implications The results highlight the central role of pricing strategy, promotional activities, and online reviews in shaping consumer behavior and sustaining long-term loyalty in the culinary sector.


Highlights:



  • Significant drivers of purchase intention originate from pricing, promotional activities, and online reviews.

  • Consumer behavior progresses sequentially from intention to decision, then repeat transactions and retention.

  • Product attributes and distribution aspects show limited contribution within the modeled relationships.


Keywords: Consumer Behavior, E-WOM, Marketing Mix

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Di era sekarang ini, berbagai usaha kuliner dengan keunikan dan keunggulan bermunculan secara pesat, karena usaha ini sangat menjanjikan akibat pola masyarakat yang gemar membeli makanan cepat saji. Sebuah bisnis yang berjalan pada sektor food and beverage menjadi salah satu opsi bisnis yang sangat diminati oleh masyarakat luas. Keberhasilan dari bisnis pada sektor food and beverage tidak hanya terletak pada potensi keuntungan yang tinggi, tetapi alasan utama lainnya ialah makanan merupakan kebutuhan utama bagi setiap individu. Salah satu tren yang paling diminati konsumen dalam beberapa tahun terakhir adalah kuliner berbasis mie. Fenomena ini mendorong munculnya beragam brand kuliner berbasis mie. Salah satu yang berhasil memanfaatkan peluang tersebut adalah Mie Gacoan, Popularitas mie gacoan terus meningkat, hingga kini memiliki lebih dari 200 cabang di berbagai kota besar [1]. Namun demikian, tingginya popularitas sebuah merek tidak otomatis menjamin terciptanya loyalitas konsumen. Dalam praktiknya, tidak semua konsumen yang memiliki minat beli pada akhirnya memutuskan untuk membeli, dan tidak semua yang sudah membeli akan melakukan pembelian ulang hingga loyalitas. Produk merupakan elemen terpenting dalam bauran pemasaran karena mencakup segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen [2]. Pada variabel ini mie gacoan masih terdapat ketidakkonsistenan kualitas yang dirasakan konsumen, seperti tingkat kepedasan yang tidak stabil, rasa yang tidak selalu sesuai ekspektasi, serta ukuran produk yang dinilai tidak konsisten. Harga adalah jumlah uang yang ditukarkan konsumendengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk dan jasa [3]. Pada variabel harga, permasalahan muncul dari persepsi ketidaksesuaian antara harga dan kualitas yang diterima. Tempat didefinisikan sebagai aktivitas perusahaan agar produk mudah didapatkan pelanggan sasarannya [4]. Namun Mie Gacoan masih menghadapi beberapa kendala yaitu suasana restoran kerap dirasakan panas, beberapa konsumen juga menyoroti kebersihan area makan yang kurang terjaga.

Dari aspek promosi, promosi merupakan bentuk komunikasi untuk memberikan informasi dan meyakinkan konsumen terhadap produk atau jasa yang ditawarkan [5]. Dalam praktiknya, beberapa konsumen menilai promo Mie Gacoan tidak sesuai dengan informasi awal, dan keterangan pada menu promosi dinilai kurang jelas sehingga menimbulkan salah persepsi saat pemesanan. Electronic Word of Mouth (e-WOM) adalah komunikasi berupa pernyataan positif maupun negatif yang disampaikan konsumen secara online [6], permasalahan muncul dari adanya ulasan negatif yang tersebar di berbagai platform digital, Hal ini dapat memberikan keuntungan jika ulasannya positif, namun ulasan negatif berpotensi menurunkan persepsi konsumen terhadap merek. Berdasarkan uraian tersebut, masih terdapat kesenjangan antara popularitas merek dengan kondisi nyata yang dialami konsumen yang berkaitan dengan bauran pemasaran (4P) serta electronic word of mouth (e-WOM).

Selain itu, terdapat sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang beragam, terdapat penelitian yang mengindikasikan bahwa kualitas produk tidak berpengaruh terhadap minat beli secara signifikan [7], namun demikian, penelitian pada [8] menunjukkan bahwa kualitas produk, harga dan e wom justru berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, sementara itu, penelitian pada [9] menunjukkan bahwa minat beli ulang berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Berdasarkan kajian terhadap penelitian terdahulu terdapat perbedaan temuan terkait pengaruh variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku konsumen. Selain itu penelitian sebelumnya cenderung masih terbatas pada pengujian hubungan antar variabel secara parsial dan belum mengintegrasikan model yang komprehensif hingga pada tahap loyalitas konsumen. Disamping itu, fokus penelitian pada umumnya masih berhenti pada minat beli atau keputusan pembelian, sehingga belum banyak yang menelusuri bagaimana proses tersebut berlanjut hingga pembelian ulang dan terbentuknya loyalitas konsumen. Sehingga, penelitian ini penting untuk menelaah lebih lanjut bagaimana variabel marketing mix dan e-wom dapat memengaruhi perilaku konsumen, mulai dari minat beli hingga loyalitas konsumen. Penelitian ini juga memberikan kontribusi pada pengembangan model yang menggabungkan variabel marketing mix dan e-wom serta menghubungkannya dengan minat beli, keputusan pembelian, pembelian ulang, hingga loyalitas konsumen, sehingga memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai proses terbentuknya loyalitas konsumen. Penelitian menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM), yaitu teknik statistik multivariat yang menggabungkan analisis faktor dan regresi untuk menguji hubungan antarvariabel sekaligus mengontrol kesalahan pengukuran [10]. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perilaku konsumen serta menjadi masukan bagi perusahaan dalam menyusun strategi pemasaran yang lebih efektif.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tujuan untuk menganalisis hubungan kausal antara marketing mix dan electronic word of mouth (e-WOM) terhadap minat beli, keputusan pembelian, pembelian ulang, dan loyalitas konsumen. Objek penelitian difokuskan pada konsumen Mie Gacoan di Surabaya yang pernah melakukan pembelian.

1. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan penyebaran kuesioner secara online sebagai teknik utama dalam pengumpulan data. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling dengan kriteria responden yang pernah membeli produk mie gacoan minimal 2 kali. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode estimasi Maximum Likelihood (ML), di mana ukuran sampel untuk metode SEM direkomendasikan berkisar antara 100 hingga 200 responden, kuesioner menggunakan skala Likert 1-5 yang penyebarannya dilakukan dengan memanfaatkan Google Form. Kuesioner disebarkan melalui berbagai media komunikasi seperti WhatsApp, Instagram, Tiktok, dan Telegram. Jumlah item pernyataan dalam penelitian ini sebanyak 58 butir yang mencakup seluruh variabel penelitian, dengan pertanyaan Positif (+)

Skor 1. Sangat (tidak setuju/buruk/kurang sekali)

Skor 2. Tidak (setuju/baik/) atau kurang

Skor 3. Netral / Cukup

Skor 4. (Setuju/Baik/suka)

Skor 5. Sangat (setuju/Baik/Suka)

Selain itu dalam penelitian ini data sekunder diperoleh melalui studi literatur yang bersumber dari berbagai buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian terdahulu, serta publikasi resmi yang relevan dengan topik penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM), penggunaan metode SEM karena metode ini mampu menganalisis hubungan antara variabel laten dengan indikatornya serta hubungan antar variabel secara simultan dalam satu model terintegrasi dengan mempertimbangkan kesalahan pengukuran. Pengujian terhadap instrumen dilakukan pada tahap analisis melalui measurement model dalam Structural Equation Modeling (SEM). Pendekatan ini dipilih karena mampu menilai kesesuaian indikator dalam merepresentasikan konstruk yang diukur secara keseluruhan.

2. Identifikasi Variabel

Identifikasi Variabel merupakan kumpulan dari variabel yang akan digunakan dalam suatu penelitian Variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari marketing mix yang meliputi produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion) serta electronic word of mouth (e-WOM). Variabel dependen meliputi minat beli, keputusan pembelian, pembelian ulang, dan loyalitas konsumen. Terdapat beberapa indikator utama dalam menilai produk (X1) yang digunakan dalam penelitian ini antara lain [11] :

a. keberagaman produk

b. kualitas

c. nama merek

d. kuantitas/porsi

Indikator variabel price (X2) adalah sebagai berikut [12]:

a. Keterjangkauan Harga

b. Kesesuaian Harga dengan kualitas produk,

c. Daya Saing Harga

Indikator variabel place (X3) adalah sebagai berikut [13] :

a. Lokasi strategis

b. Kenyamanan Tempat

c. Visibilitas

Indikator variabel promotion(X4)adalah sebagai berikut [11]:

a. Periklanan (advertising)

b. Promosi Penjualan

c.Personal Selling

Indikator variabel electronic word of mouth (X5) adalah sebagai berikut [14]:

a.Intensity

b.Valence opinion

c.Konten

Indikator variabel minat beli (Y1) adalah sebagai berikut [15]:

a. Minat transaksional

b. Minat preferensial

c. Minat eksploratif

Indikator variabel Keputusan pembelian (Y2) adalah sebagai berikut [16] :

a. Pencarian informasi

b. Evaluasi Alternatif

c. Melakukan pembelian

Indikator variabel Pembelian Ulang (Y3) adalah sebagai berikut :

a. Pembelian ulang secara teratur

b. Membeli lini produk

c. Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan pesaing

Indikator variabel Loyalitas Konsumen (Y4) adalah sebagai berikut [17] :

a.Trust (Kepercayaan konsumen)

b.Retention (Ketahanan terhadap pengaruh pesaing)

c.Referrals (Rekomendasi)

Berdasarkan uraian mengenai variabel dan indikator yang telah dijelaskan sebelumnya, diperoleh model penelitian disajikan dalam gambar 1 :

Figure 1. Model Penelitian

Hasil dan Pembahasan

A. Rekapitulasi Data Ku esioner

Untuk mempermudah proses analisis dan interpretasi data, hasil jawaban responden kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kategori penilaian. Penentuan kategori dilakukan dengan menghitung selisih antara nilai tertinggi dan nilai terendah pada skala yang digunakan. Selisih tersebut selanjutnya dibagi menjadi tiga bagian yang sama untuk memperoleh interval kelas yaitu . Interval ini digunakan sebagai dasar dalam menentukan batasan masing-masing kategori penilaian. Dengan interval kelas tersebut, penilaian responden dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu Tidak baik, baik, dan sangat baik, data Rekapitulasi profil responden disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1.Rekapitulasi data kuesioner

B. Pengolahan Data Kuesioner

Sebelum memasuki tahap pengolahan lanjutan pada penelitian ini, data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner terlebih dahulu diolah menggunakan analisis deskriptif.

1. Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan data pada penelitian ini dilakukan untuk memastikan bahwa jumlah data yang digunakan telah memenuhi syarat analisis yang digunakan. Metode estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Maximum Likelihood, yang umumnya memerlukan jumlah sampel dalam kisaran 100–200 responden agar hasil analisis dapat diperoleh secara optimal. Berdasarkan hasil pengumpulan data, jumlah responden yang diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 150 responden. Dengan demikian, jumlah data tersebut telah memenuhi kriteria kecukupan data untuk dilakukan analisis lebih lanjut pada penelitian ini.

2. Memilih Matriks dan Estimasi SEM

Pada tahap ini dilakukan pengaturan matriks dan metode estimasi dalam analisis Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan aplikasi AMOS versi 26. Pengaturan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan analisis pada penelitian ini. pengaturan matriks dan estimasi dalam SEM disajikan pada gambar 2.

Figure 2. Matriks dan estimasi SEM

C. Konversi Path Diagram

Pada langkah ini, model penelitian yang telah digambarkan dalam path diagram selanjutnya dikonversikan ke dalam bentuk persamaan. Persamaan tersebut dinyatakan dalam tiga kategori utama, yaitu:

1. Persamaan Pengukuran ( Measurement Model )

a. Uji Kesesuaian Model Goodness Of Fit

Pada tahap measurement model, dilakukan pengujian kesesuaian model dengan mengevaluasi beberapa kriteria Goodness of Fit beserta nilai cut off value yang digunakan sebagai acuan, Perhitungan indeks Goodness-of Fit dalam menilai cocok atau tidaknya suatu model yang diusulkan dalam penelitian [18] nilai goodness of fit dan cut of values disajikan dalam tabel 2.

Tabel 2. Nilai Goodness Of Fit dan Cut Of value

Berdasarkan tabel nilai goodness of fit dan cut of value dapat diketahui bahwa sebagian besar kriteria Goodness of Fit masih belum memenuhi nilai kritis yang ditetapkan, sehingga model yang dihasilkan belum menunjukkan tingkat kesesuaian yang baik. Gambar Model measurement pada penelitian ini disajikan pada gambar 3.

Figure 3. Model Measurement

b. Uji Validitas dan Siginifikansi

Uji validitas dilakukan melalui measurement model yang digunakan dalam penelitian untuk mengetahui apakah setiap indikator mampu merepresentasikan konstruk atau variabel laten yang diukur. Output Estimate Standarized Regression Weight disajikan pada tabel 3 berikut .

Tabel 3. Output Estimate Standarized Regression Weight

Berdasarkan tabel Output Estimate Standarized Regression Weight indikator dinyatakan valid apabila memiliki nilai Critical Ratio (C.R) yang lebih besar dari 2.SE. Berdasarkan hasil pengujian yang ditampilkan pada Tabel 3, diketahui bahwa seluruh indikator memiliki nilai C.R > 2SE, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh indikator dalam penelitian ini dinyatakan valid dan layak digunakan dalam analisis selanjutnya.

Sedangkan pada tingkat signifikansi 0,05 dengan jumlah indikator sebanyak 28, diperoleh nilai t-tabel sebesar 1,701. Berdasarkan hasil pengujian yang ditampilkan pada Tabel 3, seluruh indikator memiliki nilai C.R yang lebih besar dari nilai t-tabel serta nilai probabilitas (P) ≤ 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua indikator dalam penelitian ini signifikan dan mampu merepresentasikan variabel laten yang diteliti. Berdasarkan tabel 3. semua indikator menunjukkan nilai CR > t-tabel, yang berarti signifikan dengan nilai p0,005 (***=0).

c. Uji Reliabilitas

Setelah model dinyatakan memiliki tingkat kesesuaian yang memadai, tahap berikutnya adalah melakukan uji reliabilitas. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat konsistensi indikator dalam mengukur variabel laten yang terdapat dalam model penelitian data hasil uji reliabilitas semua variabel disajikan dalam tabel 4 berikut:

Tabel 4. Uji Reliabilitas

Menurut Nunally dan Bernstein suatu variabel dikatakan reliabel apabila memiliki nilai reliabilitas konstruk ≥ 0,50 [19]. Berdasarkan hasil pengujian yang disajikan pada Tabel uji reliabilitas diketahui bahwa seluruh variabel memiliki nilai construct reliability ≥ 0,50, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua konstruk dalam penelitian ini dinyatakan reliabel.

d. Uji Korelasi

Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara dua variabel yang diteliti. Koefisien korelasi merupakan nilai yang menunjukkan besar atau kecilnya hubungan antara dua variabel. Output nilai korelasi disajikan pada tabel 5 berikut :

Tabel 5. Nilai korelasi

Berdasarkan tabel hasil uji korelasi antar variabel, diketahui bahwa seluruh variabel dalam penelitian memiliki hubungan yang positif dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda. Untuk memastikan lebih lanjut ada atau tidaknya multikolinieritas dalam model maka dilakukan analisis menggunakan Variance Inflation Factor (VIF). Nilai hasil uji multikolinieritas disajikan pada tabel 6. berikut :

Tabel 6. Uji Multikolinieritas

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diketahui bahwa seluruh nilai VIF berada di bawah 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen dalam model penelitian.

2. Persamaan Struktural ( Structural Model )

a. Uji Kesesuaian Model Goodness Of Fit

Pengujian kesesuaian model dilakukan dengan menggunakan beberapa indikator Goodness of Fit (GOF) yang memiliki nilai batas (cut-off value) tertentu untuk menilai apakah model yang dibangun telah sesuai dengan data penelitian, nilai goodness of fit dan cut of value disajikan pada tabel 7 berikut.

Tabel 7. Nilai Goodness Of Fit dan Cut Of Value

Berdasarkan Tabel nilai goodness of fit dan cut of value dapat diketahui bahwa hasil pengujian model yang dibandingkan dengan nilai kritis menunjukkan bahwa sebagian besar indikator Goodness of Fit belum memenuhi kriteria yang disyaratkan, seperti Chi-square, probabilitas, GFI, AGFI, TLI, dan CFI yang masih berada di bawah batas yang ditentukan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa model struktural yang digunakan belum sepenuhnya baik. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi model (modification model) untuk memperbaiki tingkat kesesuaian model. Model struktural setelah dilakukan modifikasi dapat dilihat pada gambar 4 berikut.

Figure 4. Structural Model

Berdasarkan hasil uji Goodness of Fit (GOF) sebelumnya, diketahui bahwa model penelitian belum sepenuhnya memenuhi kriteria kesesuaian model. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas Goodness of Fit, dilakukan modifikasi model. Proses modifikasi dilakukan dengan melihat nilai Modification Indices (MI) pada output covariance di AMOS dan memilih pasangan indikator yang memiliki nilai MI terbesar untuk dikorelasikan. Tabel 8 menunjukkan nilai covariance antar variabel sebelum dilakukan modifikasi model yang menjadi dasar dalam menentukan pasangan variabel yang akan dimodifikasi. Langkah ini dilakukan agar model yang dihasilkan memiliki tingkat kesesuaian yang lebih baik dengan data penelitian, nilai covariance yang dihasilkan disajikan dalam tabel 8.

Tabel 8. Nilai Covariance

3. Modifikasi Model ( Modification Model )

a. Uji Kesesuaian Model dengan Uji Goodnes Of Fit

Uji kesesuaian dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter yang mengacu pada nilai kritis yang telah ditentukan, hasil goodness of fit dan cut of Value modifikasi model disajikan pada tabel 9.

Tabel 9. Hasil Goodness Of Fit dan Cut Of Value Modifikasi Model

Berdasarkan tabel hasil goodness of fit dan cut of value menunjukkan nilai Model Fit setelah dilakukan proses modifikasi model berdasarkan output modification indices. Hasil pengujian menunjukkan bahwa indikator Goodness of Fit telah memenuhi kriteria yang ditetapkan sehingga model dapat dinyatakan layak atau fit. Dalam tahap modification model terdapat beberapa hubungan error yang muncul, baik antar variabel laten, antara indikator dengan variabel laten, maupun antar indikator, yang mencerminkan adanya kesamaan makna dan kemiripan fokus pengukuran. Model struktural yang telah dimodifikasi selanjutnya ditampilkan pada gambar 5.

Figure 5. Modification Model

b. Uji Validitas dan Signifikansi Modification model

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah indikator mampu merepresentasikan variabel yang diukur dalam penelitian. Indikator dinyatakan valid apabila memiliki nilai Critical Ratio (CR) lebih besar dari 2 × Standard Error (SE). Uji signifikansi dilakukan untuk mengetahui apakah indikator atau hubungan antar variabel dalam model penelitian memiliki pengaruh yang signifikan, hasil uji validitas dan signifikansi modification model disajikan dalam tabel 10 berikut:

Tabel 10. Uji Validitas dan Signifikansi Modification Model

Berdasarkan tabel uji validitas dan signifikansi modification model terdapat satu hubungan yang tidak valid, yaitu hubungan X3 terhadap Y1 dengan nilai estimate sebesar -0,082, C.R. sebesar -0,510, dan nilai 2.SE sebesar 0,322, sehingga hubungan tersebut dinyatakan tidak valid. Sementara itu, hubungan indikator lainnya telah memenuhi kriteria validitas dan dinyatakan valid dalam model penelitian. Pada pengujian signifikansi dilakukan dengan melihat nilai Critical Ratio (C.R.) pada hasil regression weight. Nilai C.R. Pada tingkat signifikansi α = 0,05 dengan derajat kebebasan (df) = 28 dan nilai t tabel sebesar 1,701. Suatu hubungan dinyatakan signifikan apabila nilai C.R. lebih besar dari t tabel (1,701). Berdasarkan hasil analisis, sebagian besar hubungan antar variabel dalam model penelitian telah memenuhi kriteria signifikansi, namun terdapat dua hubungan yang tidak signifikan karena memiliki nilai C.R. lebih kecil dari t tabel.

c. Uji Reliabilitas Modifikasi Model

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur tingkat konsistensi instrumen penelitian dalam mengukur variabel yang ditelitI, uji reliabilitas modifikasi model disajikan dalam tabel 11 berikut

Tabel 11. Uji reliabilitas

Berdasarkan hasil pengujian yang disajikan pada tabel uji reliabilitas diketahui bahwa seluruh variabel memiliki nilai construct reliability ≥ 0,50, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua konstruk dalam penelitian ini dinyatakan reliabel.

d. Interpretasi Model

Model yang telah diestimasi masih memungkinkan untuk dilakukan modifikasi apabila terdapat nilai standardized residual yang berada di luar batas yang ditentukan. Nilai residual digunakan untuk melihat sejauh mana kesesuaian antara data empiris dengan model yang dibangun. Dalam analisis Structural Equation Modeling (SEM), model dikatakan baik apabila nilai residual berada dalam rentang -2,58 ≤ residual ≤ 2,58. Apabila terdapat nilai residual yang berada di luar batas tersebut, maka menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara model dengan data sehingga perlu dilakukan modifikasi model, output standardized residual covariances disajikan dalam gambar 6 berikut:

Figure 6. Nilai standarized residual covariances

Berdasarkan hasil analisis standardized residual covariance yang diperoleh dari output model, dapat diketahui bahwa seluruh nilai residual antar indikator masih berada dalam rentang -2,58 hingga 2,58.. Dengan demikian, model yang digunakan dalam penelitian ini telah memiliki tingkat kesesuaian yang baik dengan data empiris yang diperoleh. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model penelitian yang telah dimodifikasi mampu menggambarkan hubungan antar variabel dengan cukup baik.

D. Persamaan Simultan

Dalam penelitian ini, persamaan simultan disusun berdasarkan hasil estimasi regression weight yang diperoleh dari analisis model struktural menggunakan program AMOS. Nilai koefisien yang dihasilkan menunjukkan besarnya pengaruh antar variabel dalam model penelitian. Koefisien yang bernilai positif menunjukkan hubungan yang searah antar variabel, sedangkan koefisien yang bernilai negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan.

a. Model Parsial Y1 (Minat Beli)

Y1 = f (X1, X2, X3, X4, X5)

Y1 = 0,123X1 + 0,405X2 − 0,095X3 + 0,519X4 + 0,291X5

Persamaan simultan Y1 = 0,123X1 + 0,405X2 − 0,095X3 + 0,519X4 + 0,291X5 menunjukkan bahwa product, price, promotion, dan electronic word of mouth memberikan pengaruh positif terhadap minat beli, sedangkan place memberikan pengaruh negatif terhadap minat beli. Variabel promotion memiliki pengaruh paling dominan terhadap minat beli dengan koefisien sebesar 0,519, diikuti oleh price dengan koefisien sebesar 0,405, serta electronic word of mouth sebesar 0,291. Sementara itu variabel product memiliki pengaruh sebesar 0,123, sehingga kontribusinya terhadap peningkatan minat beli relatif lebih kecil dibandingkan variabel lainnya. Sebaliknya variabel place memiliki koefisien sebesar -0,095, yang menunjukkan adanya hubungan negatif terhadap minat beli.

b. Model P arsial Y2 (Keputusan Pembelian )

Y2 = f (Y1)

Y2 = 0,759Y1

Y2 = 0,759 (0,123X1 + 0,405X2 − 0,095X3 + 0,519X4 + 0,291X5)

Y2 = 0,093X1 + 0,307X2 − 0,072X3 + 0,394X4 + 0,221X5

Persamaan menunjukkan bahwa minat beli berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian dengan koefisien sebesar 0,759. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi minat konsumen terhadap suatu produk maka semakin besar pula kemungkinan konsumen untuk mengambil keputusan pembelian terhadap produk tersebut. Setelah dilakukan substitusi, diketahui bahwa promotion memiliki pengaruh terbesar terhadap keputusan pembelian sebesar 0,394, diikuti oleh price sebesar 0,307, serta electronic word of mouth sebesar 0,221. Sementara itu variabel product memiliki pengaruh sebesar 0,093, yang menunjukkan bahwa kualitas produk tetap berkontribusi dalam mendorong konsumen untuk mengambil keputusan pembelian. Di sisi lain variabel place memiliki pengaruh negatif sebesar -0,072, yang menunjukkan bahwa faktor lokasi atau distribusi produk belum menjadi pertimbangan utama bagi konsumen dalam menentukan keputusan pembelian.

c. Model Parsial Y3 ( Pembelian Ulang )

Y3 = f (Y2)

Y3 = 0,807Y2

Y3 = 0,807 (0,093X1 + 0,307X2 − 0,072X3 + 0,394X4 + 0,221X5)

Y3 = 0,075X1 + 0,248X2 − 0,058X3 + 0,318X4 + 0,178X5

Persamaan menunjukkan bahwa keputusan pembelian berpengaruh positif terhadap pembelian ulang dengan koefisien sebesar 0,807. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen yang telah memutuskan untuk membeli suatu produk cenderung memiliki kemungkinan untuk melakukan pembelian kembali terhadap produk tersebut di masa mendatang, diketahui bahwa promotion memiliki pengaruh terbesar terhadap pembelian ulang sebesar 0,318, diikuti oleh price sebesar 0,248, serta electronic word of mouth sebesar 0,178. Sementara itu variabel product memiliki pengaruh sebesar 0,075 yang menunjukkan bahwa kualitas produk juga turut berkontribusi dalam mendorong konsumen untuk melakukan pembelian kembali.

d. Model Parsial Y4

Y4 = f (Y3)

Y4 = 0,860Y3

Y4 = 0,860 (0,075X1 + 0,248X2 − 0,058X3 + 0,318X4 + 0,178X5)

Y4 = 0,064X1 + 0,213X2 − 0,050X3 + 0,273X4 + 0,153X5

Persamaan menunjukkan bahwa pembelian ulang berpengaruh positif terhadap loyalitas konsumen dengan koefisien sebesar 0,860. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen yang secara konsisten melakukan pembelian ulang terhadap suatu produk cenderung memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap produk tersebut. Setelah dilakukan substitusi, diketahui bahwa promotion memiliki pengaruh terbesar terhadap loyalitas konsumen sebesar 0,273, diikuti oleh price sebesar 0,213, serta electronic word of mouth sebesar 0,153. Sementara itu variabel product memiliki pengaruh sebesar 0,064, yang menunjukkan bahwa kualitas produk tetap berperan dalam membentuk loyalitas konsumen meskipun pengaruhnya tidak sebesar variabel promosi dan harga. Sebaliknya variabel place memiliki pengaruh negatif sebesar -0,050, yang menunjukkan bahwa faktor lokasi tidak menjadi faktor utama dalam membentuk loyalitas konsumen dalam penelitian ini

E. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam SEM dilakukan dengan membandingkan nilai t-hitung (dalam SEM disebut Critical Ratio atau CR) dengan nilai t-tabel pada tingkat signifikansi tertentu. Variabel dapat dikatakan berpengaruh dengan nilai p value < 0,05 atau

1. Jika nilai CR lebih kecil daripada nilai t-tabel, maka H0 diterima dan H1ditolak.2. Jika nilai CR lebih besar daripada nilai t-tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima

Hipotesis ke-1

Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa pengaruh produk terhadap minat beli diperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 1,081 dan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga dalam hipotesis ini nilai C.R lebih kecil dari t-tabel (1,081 < 1,701). Dengan demikian H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti produk tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. .Sejalan dengan penelitian sebelumnya [7] dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa produk berpengaruh positif namun tidak signifikan. Hal ini dapat disebabkan karena konsumen Mie Gacoan lebih mempertimbangkan faktor lain seperti harga yang terjangkau, promosi yang menarik, serta informasi yang diperoleh melalui media sosial sebelum munculnya minat untuk membeli

Hipotesis ke-2

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh harga terhadap minat beli memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 2,326 dan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih besar dari t-tabel (2,326 > 1,701). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti harga berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya [20] menunjukkan bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen, yang menunjukkan bahwa harga yang terjangkau dan sesuai dengan kemampuan konsumen dapat meningkatkan ketertarikan konsumen untuk membeli suatu produk.

Hipotesis ke-3

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh tempat terhadap minat beli memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar -0,510 dengan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih kecil dari t-tabel (-0,510 < 1,701). Dengan demikian H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti tempat tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya [21] yang menyatakan bahwa variabel tempat tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli konsumen, kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen Mie Gacoan di Surabaya tidak menjadikan lokasi gerai sebagai faktor utama dalam menentukan minat membeli produk

Hipotesis ke-4

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh promosi terhadap minat beli memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 3,467 dengan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih besar dari t-tabel (3,467 > 1,701). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti promosi berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya [22] yang menyatakan bahwa promosi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Dalam penelitian ini, promosi yang dilakukan oleh Mie Gacoan melalui media sosial, penyebaran informasi menu yang menarik, serta berbagai program promosi yang ditawarkan mampu meningkatkan ketertarikan konsumen di Surabaya untuk mencoba dan membeli produk tersebut.

Hipotesis ke-5

Hasil uji hipotesis yang tersaji pada tabel hasil pengujian menunjukkan bahwa pengaruh Electronic Word Of Mouth terhadap minat beli memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 2,116 dengan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih besar dari t-tabel (2,116 > 1,701). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti Electronic Word Of Mouth berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya [23] yang menyatakan bahwa Electronic Word Of Mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen.

Hipotesis ke-6

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh minat beli terhadap keputusan pembelian memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 3,683 dengan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih besar dari t-tabel (3,683 > 1,701). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti minat beli berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu [24] yang menyatakan bahwa minat beli memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen.

Hipotesis ke-7

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh keputusan pembelian terhadap pembelian ulang memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 3,923 dengan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih besar dari t-tabel (3,923 > 1,701). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti keputusan pembelian berpengaruh signifikan terhadap pembelian ulang konsumen. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu [25] yang menyatakan bahwa keputusan pembelian memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pembelian ulang. Dengan demikian, keputusan pembelian yang telah dilakukan konsumen dapat menjadi faktor penting yang mendorong terbentuknya perilaku pembelian ulang terhadap suatu produk.

Hipotesis ke-8

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh pembelian ulang terhadap loyalitas konsumen memperoleh nilai Critical Ratio (C.R) sebesar 3,955 dengan nilai t-tabel sebesar 1,701, sehingga C.R lebih besar dari t-tabel (3,955 > 1,701). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti pembelian ulang berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu [9] yang menyatakan bahwa repurchase intention atau pembelian ulang memiliki peran penting dalam meningkatkan loyalitas konsumen, karena konsumen yang melakukan pembelian kembali cenderung memiliki komitmen untuk tetap menggunakan produk atau layanan yang sama di masa mendatang.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa variabel produk memiliki koefisien sebesar 0,123 dengan nilai C.R 1,081 (< 1,701) dan variabel tempat sebesar -0,095 dengan nilai C.R -0,510 (< 1,701), sehingga keduanya tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli. Sebaliknya, variabel harga (0,405; C.R 2,326), promosi (0,519; C.R 3,467), dan electronic word of mouth (e-WOM) (0,291; C.R 2,116) terbukti berpengaruh positif dan signifikan. Selanjutnya, minat beli berpengaruh terhadap keputusan pembelian dengan koefisien 0,759 (C.R 3,683), yang kemudian memengaruhi pembelian ulang sebesar 0,807 (C.R 3,923), dan berlanjut pada loyalitas konsumen sebesar 0,860 (C.R 3,955). Temuan ini menunjukkan bahwa proses terbentuknya loyalitas terjadi secara bertahap, dimulai dari minat hingga pembelian ulang. Dalam penelitian ini, harga, promosi, dan e-WOM menjadi faktor yang paling dominan dalam memengaruhi perilaku konsumen, sementara produk dan tempat belum menjadi pertimbangan utama. Kedua variabel tersebut relevan untuk diteliti lebih dalam pada industri kuliner. Dari sisi praktis, temuan ini dapat menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha kuliner khususnya mie gacoan untuk lebih menitikberatkan strategi pada aspek harga, promosi, serta pengelolaan e-WOM sebagai faktor yang relevan dalam memengaruhi keputusan dan loyalitas konsumen, khususnya pada industri kuliner. Ketiga faktor tersebut dinilai lebih mampu mendorong ketertarikan konsumen sekaligus menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Dari sisi akademik, penelitian ini memberikan gambaran bahwa pengaruh marketing mix terhadap perilaku konsumen tidak selalu bersifat merata pada setiap dimensinya. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan model dengan menambahkan variabel lain yang relevan, seperti influencer marketing dan persepsi waktu tunggu (waiting time perception), agar diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini, serta kepada para responden yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membantu dalam pengisian kuesioner sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.

References

I. Turmudi and P. M. Agustini, “Perilaku Konsumen Dalam Mengonsumsi Makanan Viral: Studi Kasus Tren Kuliner Mie Gacoan Di Kalangan Gen Z Di Media Sosial,” J-CEKI: Jurnal Cendekia Ilmiah, vol. 4, no. 4, pp. 2239–2254, 2025, doi: 10.56799/jceki.v4i4.9359.

R. Junika, M. A. Nasir, and Bq. Elbadriati, “Strategi Marketing Mix Dalam Meningkatkan Citra Merek Electra Diamond,” Jurnal Ilmiah Edunomika, vol. 8, no. 2, pp. 1–15, 2024, doi: 10.29040/jie.v8i2.12034.

A. R. Fahrudin and I. L. Sya’ari, “Pengaruh Marketing Mix Terhadap Keputusan Pembelian Produk Pada Bengkel Pak Amat,” Cendekia: Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, vol. 7, no. 1, pp. 128–137, 2023, doi: 10.65708/cendekia.v7i1.160.

A. W. Purbohastuti and A. A. Hidayah, “Meningkatkan Minat Beli Produk Shopee Melalui Celebrity Endorser,” Jurnal Bisnis Terapan, vol. 6, no. 3, pp. 255–264, 2021, doi: 10.37715/jp.v6i3.2528.

D. D. S. Ningsih and M. R. Maika, “Strategi Bauran Pemasaran 4P Dalam Menentukan Sumber Modal Usaha Syariah Pedagang Pasar,” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, vol. 6, no. 3, p. 693, 2020, doi: 10.29040/jiei.v6i3.1464.

G. Sualang, S. L. Mandey, and I. W. Ogi, “Pengaruh Electronic Word Of Mouth, Harga Dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Pada PT Mandala Finance Tbk,” Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, vol. 11, no. 2, pp. 335–344, 2023. [Online]. Available: https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/emba/article/view/48194

R. Limanto, “Pengaruh Kualitas Produk, Harga Dan Promosi Melalui Instagram Terhadap Minat Beli Konsumen,” Jurnal Manajemen Dan Start-Up Bisnis, vol. 6, no. 1, pp. 1–10, 2021, doi: 10.37715/jp.v6i1.1919.

H. H. R. Susilo and Y. Yoestini, “Pengaruh Harga, Kualitas Produk, Dan Electronic Word Of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Melalui Media Sosial,” Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan, vol. 18, no. 3, pp. 1930–1953, 2024, doi: 10.35931/aq.v18i3.3495.

L. Hamida, I. Wahyuni, and Y. Praja, “Pengaruh Citra Merek, Lokasi, Dan Promosi Terhadap Loyalitas Konsumen Melalui Minat Beli Ulang,” Jurnal Mahasiswa Entrepreneurship, vol. 3, no. 1, pp. 132–146, 2025, doi: 10.36841/jme.v3i1.4699.

P. A. Agustina and H. Sugiarti, “Structural Equation Modeling For The Use Of E-Wallet Services By Urban Workers,” Jurnal Ilmiah Sains, vol. 24, no. 1, 2024, doi: 10.35799/jis.v24i1.54458.

S. Maharani and M. Musnaini, “Pengaruh Marketing Mix Terhadap Minat Beli Produk Pada Night Market,” Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan, vol. 13, no. 1, pp. 229–242, 2024, doi: 10.22437/jmk.v13i01.27434.

D. Syaputro and H. Aribowo, “Pengaruh Marketing Mix Terhadap Volume Penjualan AMDK,” Jurnal Eksekutif, vol. 20, no. 2, pp. 246–263, 2023, doi: 10.60031/jeksekutif.v20i02.364.

Y. S. C. Aditama and A. Amron, “Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Minat Beli Ulang Produk Mixue,” Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, Dan Akuntansi, vol. 8, no. 1, pp. 571–584, 2024, doi: 10.31955/mea.v8i1.3676.

V. A. Ramadhany and A. K. Illahi, “Pengaruh Electronic Word Of Mouth Di Media Sosial Terhadap Keputusan Menonton Film,” Journal Of Southeast Asian Communication, vol. 3, no. 2, pp. 103–111, 2022, doi: 10.21776/ub.tuturlogi.2022.003.02.5.

A. W. Purbohastuti and A. A. Hidayah, “Meningkatkan Minat Beli Produk Shopee Melalui Celebrity Endorser,” Jurnal Bisnis Terapan, vol. 6, no. 3, pp. 255–264, 2021, doi: 10.37715/jp.v6i3.2528.

N. Novianti and A. Saputra, “Pengaruh Kualitas Produk, Minat Beli Dan Perilaku Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian,” ECo-Buss, vol. 6, no. 1, pp. 66–78, 2023, doi: 10.32877/eb.v6i1.656.

A. S. Nugroho and A. E. Yulianto, “Pengaruh Harga, Promosi, Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pelanggan,” Jurnal Ilmu Dan Riset Manajemen, vol. 13, no. 1, pp. 1–20, 2024. [Online]. Available: https://jurnalmahasiswa.stiesia.ac.id/index.php/jirm/article/view/5740

A. U. Zailani, T. Husain, and A. Budiyantara, “Analisis Simulasi Sistem Penunjang Keputusan Dengan Pendekatan Goodness Of Fit Berbasis SEM,” SMARTICS Journal, vol. 6, no. 1, pp. 10–14, 2020, doi: 10.21067/smartics.v6i1.4157.

M. Waluyo and M. Rachman, Mudah Cepat Tepat Dalam Aplikasi Structural Equation Modeling. Malang: Literasi Nusantara, 2020.

H. Pujiati, S. Y. Yosepha, and Y. Aditia, “Pengaruh Harga, Kualitas Produk, Dan Promosi Terhadap Minat Beli Kopi Kenangan,” Jurnal Madani: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Dan Humaniora, vol. 6, no. 2, pp. 88–100, 2023, doi: 10.33753/madani.v6i2.270.

N. F. I. Sari, E. Saputra, W. Hardini, and A. Abnur, “Pengaruh Lokasi Dan Varian Produk Terhadap Minat Beli Konsumen,” Jurnal Mekar, vol. 3, no. 2, pp. 63–67, 2024. [Online]. Available: https://oai.jurnal.btp.ac.id/index.php/mekar-btp/article/view/308

Y. M. Noer, N. Raid, and E. N. Sabebeget, “Pengaruh Promosi Terhadap Minat Beli Konsumen,” Jurnal Public Administration, Business And Rural Development Planning, vol. 5, no. 2, pp. 1–6, 2023, doi: 10.69741/jpublic.v5i2.149.

N. A. A. Siambaton, A. Mardhiyah, and O. M. Siregar, “Pengaruh Electronic Word Of Mouth Terhadap Minat Beli Serta Keputusan Pembelian,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, vol. 4, no. 1, pp. 6649–6655, 2025, doi: 10.31004/jerkin.v4i1.2863.

M. R. Stansyah, R. Choirunnisa, M. Tegar, and S. S. A. Putri, “Analisis Minat Beli Konsumen Terhadap Pembelian Makanan Melalui Aplikasi GoFood,” Jurnal Pendidikan Tata Niaga, vol. 11, no. 1, pp. 43–49, 2023, doi: 10.26740/jptn.v11n1.p43-49.

M. B. Marbun, H. Ali, and F. Dwikotjco, “Model Keputusan Pembelian Dan Pembelian Ulang: Analisis Promosi Dan Kualitas Pelayanan,” Jurnal Ilmu Multidisiplin, vol. 1, no. 3, pp. 571–586, 2022, doi: 10.38035/jim.v1i3.