Login
Section Business and Economics

The Integration of Self-Efficacy, Teachers’ Instructional Skills, and Learning Motivation in Shaping Students’ Creative Thinking Ability”


Integrasi Efikasi Diri, Keterampilan Mengajar Guru, dan Motivasi Belajar dalam Pembentukan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Anisa Oktavia Nur (1), Indri Murniawaty (2)

(1) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:









General Background: Students’ creative thinking ability in economics learning remains relatively low, despite its importance in developing higher-order thinking skills in 21st-century education. Specific Background: Previous studies have predominantly examined self-efficacy, teacher instructional skills, and learning motivation separately, limiting a comprehensive understanding of their combined role in shaping creativity. Knowledge Gap: There is limited empirical evidence integrating personal, environmental, and behavioral factors within a unified analytical framework based on Social Cognitive Theory. Aims: This study aims to analyze the role of self-efficacy, teachers’ instructional skills, and learning motivation in shaping students’ creative thinking ability. Results: Using a quantitative causality design with 63 students, the findings reveal that self-efficacy and teacher instructional skills show significant relationships with creative thinking ability (p < 0.05), while learning motivation does not demonstrate a significant partial relationship; however, all variables jointly show a significant contribution. Novelty: The study offers an integrated analytical model combining psychological and pedagogical factors to explain students’ creative thinking ability within economics learning. Implications: The findings highlight that developing creative thinking requires not only motivational aspects but also the reinforcement of self-efficacy and the improvement of teacher instructional practices, supporting a more holistic and integrated learning approach.


Highlights
• Integration of psychological and pedagogical variables explains student creativity patterns
• Instructional competence shows measurable contribution to idea generation processes
• Joint variable interaction provides stronger explanatory model than single-factor analysis


Keywords
Self Efficacy; Teacher Instructional Skills; Learning Motivation; Creative Thinking Ability; Economics Learning









Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN .

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk sumber daya manusia yang mempunyai kualitas. Di periode globalisasi dan teknologi yang semakin maju, kebutuhan akan ilmu-ilmu berpikir kreatif menjadi semakin mendesak. Keterampilan berpikir kreatif diperlukan tidak hanya dalam berbagai profesi dan industri, Namun, juga dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan masalah yang rumit dan menghasilkan solusi yang inovatif. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting bagi individu, terutama dalam menentukan perkembangan sehingga dapat meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan membentuk pribadi yang religius dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki integritas moral yang luhur, serta kecakapan intelektual dan daya inovasi yang tinggi. Hal ini juga dibarengi dengan penguatan kemandirian individu agar mampu berperan sebagai warga negara yang partisipatif dalam demokrasi serta memiliki akuntabilitas sosial yang kuat.

Pendidikan adalah dasar yang menentukan kemajuan suatu bangsa, dan peran pentingnya adalah karena menyokong dan membentuk sumber daya manusia yang potensial. Pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan melakukan banyak perubahan pada kurikulum, metode pembelajaran, bahan ajar, dan standar kelulusan. Tentu saja, ini dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 2 yang berbunyi “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pendidikan pada era abad ke-21 dipahami sebagai proses pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif dan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. OECD (2019) menegaskan bahwa sistem pendidikan modern perlu mengembangkan kompetensi kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi agar peserta didik mampu menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang kompleks. Sejalan dengan itu, UNESCO (2021) menyatakan bahwa pembelajaran harus menciptakan ruang dialogis yang memungkinkan siswa mengeksplorasi ide, berinovasi, serta membangun pemahaman secara reflektif, bukan sekadar menerima pengetahuan secara pasif.

Pendidikan Indonesia diharapkan dapat mengembangkan potensi siswa dan potensi tersebut dapat diukur dari kemampuan siswa memiliki kekuatan spiritual dalam lingkup kehidupan beragama, pengendalian diri dalam kehidupan bermasyarakat, kepribadian yang kuat, kecerdasan, akhlak yang mulia dan kecakapan hidup yang bermanfaat baik orang lain dan dirinya sendiri. Dalam hal ini siswa harus mampu menguasai kecakapan profesional sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajarinya karena setiap ilmu yang dipelajari nantinya akan berguna bagi setiap orang dan mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Pembelajaran abad ke-21 merupakan pembelajaran yang menekankan pada aspek kemampuan berpikir tinggi siswa.

Keterampilan berpikir kreatif merupakan salah satu capaian penting dalam pengembangan potensi peserta didik, yang terbentuk melalui proses pembelajaran yang mendorong eksplorasi ide, keluwesan berpikir, serta kemampuan menghasilkan solusi yang orisinal. Dalam Pendidikan abad ke 21, pembelajaran tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang mencakup kreativitas, berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi 4C. sejalan dengan itu, Kurikulum Merdeka di Indonesia menitikberatkan pada pembelajaran berdiferensiasi, penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Kurikulum ini memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk berinisiatif, mengeksplorasi gagasan, dan mengembangkan kreativitas sesuai minat serta potensinya. Penegasan mengenai pentingnya suasana pembelajaran yang mendorong kreativitas dan kemandirian juga tercermin dalam kebijakan pendidikan nasional melalui [1], menekankan penyelenggaraan pembelajaran yang memberikan ruang bagi prakarsa dan kreativitas peserta didik.

Salah satu bentuk keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills adalah kemampuan berpikir kreatif. Dalam kerangka taksonomi kognitif yang direvisi oleh Anderson dan Krathwohl 2010, kemampuan berpikir tingkat tinggi mencakup kategori menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create), dengan create sebagai tingkatan kognitif tertinggi [2]. Kemampuan berpikir kreatif memiliki peran penting dalam melatih individu untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Karena diperlukan dalam penelitian kurikulum sangat penting, untuk berperan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sesuai peradaban negara dan dunia. Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya yang terlalu sulit, kurikulum merdeka bertujuan untuk mengembanhkan kurikulum 2013 sehingga kompetensi siswa tetap sama. Kemampuan berpikir kreatif sangat penting, dan kurikulum merdeka mencerminkan hal ini dalam profil pelajar pancasila. Profil pelajar Pancasila Merujuk pada siswa Indonesia yang menjalani proses pembelajaran seumur hidup, memiliki kompetensi global, serta berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila. Profil pelajar Pancasila terdiri dari enam dimensi, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mudia, menghargai keberagaman, bergotong royong, mandiri, serta berpikir kritis dan kreatif (Kemendikbud, 2022).

Berpikir kreatif sendiri merupakan kemampuan menghasilkan ide baru, mencari berbagai alternatif Solusi, dan berpikir fleksibel dalam memecahkan masalah. Menurut [1], kemampuan berpikir kreatif ditunjukkan melalui kelancaran dalam mengemukakan ide, keluwesan dalam berpikir, keaslian gagasan, serta kemampuan mengelaborasi suatu permasalahan secara mendalam [3]. Sedangkan berpikir kreatif yang dijelaskan dalam penelitian [2] merupakan kemampuan siswa dalam menghasilkan banyak gagasan, mengemukakan berbagai alternatif pemecahan masalah, mencetuskan ide yang asli, serta mengembangkan dan mengembangkan solusi secara mendalam melalui proses elaborasi [4]. Dijelaskan pula bahwa dapat berkembang melalui pembelajaran berbasis proyek yang menuntut siswa untuk menganalisis masalah, merancang solusi, serta menghasilkan karya secara mandiri dan kolaboratif. Dengan demikian, siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan menyelesaikannya secara inovatif, efektif, dan bermakna dalam pembelajaran Ekonomi.

Kemampuan ini merupakan kemampuan individu dalam menemukan dan menciptakan ide-ide baru yang berbeda, tidak umum, serta orisinal sehingga mampu menghasilkan solusi yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran [5]. Dijelaskan pula bahwa kemampuan berpikir kreatif termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) yang melatih siswa untuk berpikir lebih kompleks, kritis, dan inovatif dalam lingkungan pengetahuan yang dimiliki dengan permasalahan yang dihadapi. Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir kreatif apabila mampu menunjukkan kelancaran, keluwesan, keaslian, dan elaborasi dalam mengemukakan gagasan, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan secara efektif, inovatif, dan bermakna dalam proses pembelajaran.

Tergolong masih rendah kemampuan berpikir kreatif Masyarakat Indonesia ini dibuktikan dengan hasil yang menunjukkan bahwa meskipun peringkat PISA tahun 2022 mengalami sedikit peningkatan, Indonesia masih merupakan negara dengan kinerja rendah, dan tidak adanya keterlibatan TIMSS menyoroti perlunya reformasi pendidikan. Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA) oleh OECD pada tahun 2022, diketahui bahwa Indonesia berada di peringkat 74 dari 81 negara peserta dalam matematika dilihat dari skor rata-rata 366, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 472, serta peringkat 75 dalam sains (skor 377 vs. 485) dan peringkat 73 dalam literasi membaca (skor 359 vs. 476), menunjukkan kelemahan siswa dalam tugas yang memerlukan kreativitas dan aplikasi konsep. Demikian pula, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) oleh IEA pada 2019 menempatkan siswa Indonesia di peringkat 45 dari 58 negara dalam matematika (skor 455) dan 46 dalam sains (skor 397), dengan hanya sekitar 20% siswa mampu menjawab soal berpikir kreatif. Kondisi ini diperkuat oleh Human Capital Index World Bank 2020, yang memberikan skor 0.53 untuk Indonesia, menempatkannya di peringkat 87 dari 174 negara, mencerminkan rendahnya kualitas pembelajaran termasuk berpikir kritis.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa pada awal pembelajaran masih berada pada level yang rendah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh [3] menunjukkan bahwa (1) nilai rata-rata pretest kemampuan berpikir kreatif siswa hanya sebesar 41,33 dengan kategori belum mampu, (2) sebanyak 60% siswa memperoleh nilai di bawah rata-rata kelas pada tes awal, (3) nilai terendah pretest sebesar 20 dan nilai tertinggi sebesar 56, yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mampu berpikir kreatif secara optimal, serta (4) skor awal kemampuan berpikir kreatif berdasarkan indikator, keluwesan, keaslian, dan elaborasi masih rendah sehingga memerlukan bimbingan dan penerapan model pembelajaran yang baik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa [6]. [4] menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih memiliki kemampuan berpikir kreatif yang tergolong rendah, dengan persentase kategori rendah mencapai 75%, sedangkan kategori tinggi hanya 16,66% dan kategori sedang 8,33% [7]. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan siswa dalam mengembangkan ide dan menghasilkan solusi belum optimal sehingga perlu ditingkatkan dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh [5] mengungkapkan bahwa keterampilan berpikir kreatif memberikan dampak positif dan signifikan terhadap pencapaian belajar ekonomi siswa kelas XI di SMA, dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05) dan kontribusi simultan sebesar 52,4% (R² = 0,524) [8]. Hal ini menegaskan bahwa dalam pembelajaran ekonomi di SMA, kemampuan berpikir kreatif merupakan faktor penting yang perlu dikembangkan karena berperan dalam membantu siswa menganalisis permasalahan ekonomi, menghasilkan ide secara fleksibel, serta menemukan solusi yang relevan guna menunjang keberhasilan belajar.

Rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah pelaksanaan kurikulum pembelajaran yang kurang efektif dalam memfasilitasi ruang eksplorasi ide dan kreativitas siswa. Meskipun Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan kebebasan belajar dan mendorong kreativitas peserta didik, penelitian [6] menunjukkan bahwa skor kemampuan berpikir kreatif siswa masih tergolong rendah dilihat dari rata-rata nilai 49,87, yang mengindikasikan bahwa penerapan kurikulum belum optimal dalam meningkatkan kreativitas siswa secara signifikan [9]. Selain itu, analisis implementasi Kurikulum Merdeka menemukan sejumlah tantangan penerapan strategi pembelajaran yang inovatif sehingga siswa belum sepenuhnya terbiasa melakukan eksplorasi ide dan berpikir mandiri [10]. Oleh karena itu, pelaksanaan kurikulum yang belum teratur dan kurang didukung oleh metode pengajaran yang inovatif dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa dalam proses belajar.

Keterbatasan kemampuan berpikir kreatif siswa juga mungkin dipengaruhi oleh faktor internal, terutama yang berhubungan dengan efikasi diri dan rasa percaya diri. Siswa yang memiliki efikasi diri dan rasa percaya diri yang rendah cenderung merasa ragu terhadap kemampuan mereka, mudah kehilangan keyakinan, serta cepat menyerah saat menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran. Kondisi tersebut menyebabkan siswa kurang berani mengemukakan ide, tidak mencoba berbagai alternatif penyelesaian, dan hanya terpaku pada cara-cara yang bersifat rutin, sehingga kemampuan berpikir kreatif sulit berkembang secara optimal. [7] menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan berpikir kreatif, di mana individu dengan efikasi diri tinggi mampu memenuhi berpikir kreatif seperti kelancaran, keluwesan, keaslian, dan keterincian, sedangkan individu dengan efikasi diri rendah mengalami hambatan dalam mengembangkan kemampuan tersebut [11]. Selain itu, [8] juga menegaskan bahwa kepercayaan diri mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa, Karena siswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi cenderung dapat menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah dengan teratur dan menunjukkan proses berpikir kreatif yang lebih maju dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah [12].

Rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa dipengaruhi oleh faktor proses dan strategi pembelajaran yang masih terfokus pada guru, sehingga peluang siswa untuk mengeksplorasi ide dan berpikir secara mandiri menjadi terbatas, mengakibatkan sikap siswa yang cenderung pasif di dalam kelas. Pembelajaran yang penyampaian materi secara satu arah membuat siswa kurang percaya diri dan jarang menyampaikan gagasan, sehingga kemampuan berpikir kreatif dan motivasi belajar tidak berkembang secara optimal. Penelitian [9] menunjukkan bahwa pembelajaran yang kurang memberi ruang bagi siswa untuk berpikir bebas dan kreatif berdampak pada rendahnya keterampilan berpikir kreatif siswa. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang kurang variatif dan dominan guru dapat menjadi kendala dalam menumbuhkan partisipasi aktif dan kreativitas siswa [13].

Kemampuan berpikir kreatif peserta didik secara signifikan dipengaruhi oleh tingkat efikasi diri, yakni persepsi subjektif mengenai kecakapan seseorang dalam menuntaskan tugas-tugas yang diberikan. Secara kontekstual, efikasi diri mencakup keyakinan pribadi dalam mengatur langkah-langkah sistematis untuk menghasilkan karya, mencapai tujuan, serta menerapkan tindakan yang diperlukan demi penguasaan keterampilan. Mengacu pada pemikiran Bandura sebagaimana disitasi oleh [10], efikasi diri didefinisikan sebagai persepsi subjektif individu kapasitas terhadapnya dalam mengorganisasi serta mengimplementasikan rangkaian tindakan yang diperlukan demi mencapai target yang telah ditetapkan [14]. Dalam lingkungan pembelajaran, efikasi diri siswa memiliki peran yang signifikan dalam menentukan pola pikir, tingkat motivasi, ketahanan, serta keberanian siswa saat menghadapi tugas-tugas akademis.

[11] menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki kontribusi nyata terhadap kecakapan berpikir kreatif matematis pada siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Dampak signifikan tersebut muncul baik secara mandiri maupun melalui interaksi dengan strategi pembelajaran yang diterapkan di kelas [15]. [12] yang meneliti pengaruh self-efficacy terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dan menemukan bahwa efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan keterampilan berpikir siswa, dengan kontribusi sebesar 49,4% terhadap kemampuan berpikir kreatif [16]. Temuan tersebut menegaskan bahwa keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya mendorong keberanian dalam mengeksplorasi ide, menyusun strategi, dan menemukan solusi secara kreatif.

Faktor lain yang memengaruhi berpikir kreatif siswa adalah guru. Guru salah satu komponen penting yang bertanggung jawab dan berperan penting dalam menentukan kualitas dan kualitas kemampuan berpikir kreatif siswa. Mengajar merupakan wujud implementasi profesionalisme seorang pendidik yang fokus pada transformasi pengetahuan kepada peserta didik. Aktivitas ini bertujuan untuk membekali siswa dengan beragam wawasan keilmuan sehingga mereka mampu menyerap dan memahami informasi yang diberikan secara optimal [17]. Menurut [13] mengajar merupakan proses pembelajaran inovatif yang dirancang untuk mengintegrasikan kreativitas dan berpikir kritis melalui pemanfaatan strategi pedagogis serta teknologi Pendidikan [18]. Mengajar bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan kepada siswa, melainkan upaya sistematis guru dalam menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, mendorong eksplorasi ide, serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui pendekatan yang adaptif dan kontekstual.

Kedudukan sentral guru dalam dinamika belajar-mengajar berimplikasi pada pentingnya peningkatan kapasitas dan profesionalisme yang dilaksanakan secara konsisten untuk medapatkan hasil pembelajaran yang efektif, khususnya dalam keterampilan mengajar dan merencanakan proses pembelajaran. Meskipun guru bukanlah satu-satunya elemen dari tiga komponen utama yang berhubungan langsung dalam proses pembelajaran, dua komponen lainnya yang juga berpengaruh besar terhadap keberhasilan pembelajaran adalah kurikulum dan strategi/metode [19]. Namun, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan, peran guru harus lebih berarti dan berada pada posisi sentral, karena guru perlu dapat menjemahkan dan menguraikan nilai-nilai yang dirancang didalam kurikulum untuk berikutnya menyampaikan nilai-nilai tersebut untuk siswa melalui proses pembelajaran.

Motivasi merupakan kekuatan internal yang dapat mendorong individu untuk terlibat didalam aktivitas atau tindakan tertentu. Kekuatan ini muncul saat ada pergeseran energi yang membangkitkan hasrat untuk meraih sasaran. Secara sederhana, motivasi berperan sebagai pemicu untuk mengubah perilaku menjadi lebih positif guna memenuhi keperluan. [14], Motivasi belajar didefinisikan sebagai kekuatan pendorong dalam diri peserta didik yang mendorong, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku belajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai [20]. Motivasi belajar berperan penting dalam menumbuhkan kemandirian, semangat, dan ketekunan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Tujuan memberikan panduan pada motivasi pembelajaran, sebagai tahap akhir pemenuhan kebutuhan, sehingga motivasi bertindak sebagai energi yang mendorong individu untuk berusaha mencapai hasil yang diinginkan. Motivasi tidak hanya mendorong siswa untuk terlibat dalam pembelajaran, tetapi juga menentukan seberapa siswa dapat menyerap pelajaran dari kegiatan atau data yang diperoleh.

SMA Negeri 1 Tengaran merupakan salah satu sekolah menengah atas berstatus negeri yang terletak di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan BAN-PDM, SMA Negeri 1 Tengaran telah memperoleh akreditasi A yang menunjukkan mutu penididkan yang sangat baik [21]. Sekolah ini juga telah menerapkan kurikulum Merdeka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran [22]. Dengan jumlah siswa lebih dari 1.100 orang, sekolah ini mencerminkan tingginya minat masyarakat sebagai salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Semarang [24].

Hasil pengamatan yang dilakukan di SMA Negeri 1 Tengaran pada tanggal 27 dan 28 Januari 2026, ditemukan bahwa proses pembelajaran ekonomi masih cenderung berpusat pada guru (teacher centered) dari pada berpusat pada siswa (student centered). Hasil studi ini memperkuat argumen [15] yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berpusat pada guru menempatkan siswa sebagai penerima informasi pasif, sehingga keterlibatan, kreativitas, dan partisipasi aktif siswa menjadi rendah [25]. Pembelajaran yang didominasi metode ceramah juga membuat suasana kelas kurang komunikatif dan membatasi kesempatan siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu serta kemampuan berpikir kreatifnya. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam menghasilkan ide, mengemukakan gagasan alternatif, dan mengembangkan solusi terhadap permasalahan ekonomi yang diberikan.

Analisis data awal yang dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran, diperoleh gambaran tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa yang diklasifikasikan ke dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah. Adapun hasil persentase kemampuan berpikir kreatif siswa dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 1 Presentase Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran

Tabel 1 merupakan hasil kuesioner yang dilakukan terhadap 122 Siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Tengaran menunjukkan gambaran kemampuan berpikir kreatif mereka pada pembelajaran ekonomi yang masih tergolong rendah. Hasil pengolahan angket yang disajikan dalam diagram menunjukkan bahwa indikator keluwesan dalam mencoba berbagai cara memperoleh persentase tertinggi sebesar 28% dibandingkan dengan indikator lainnya, yaitu kelancaran menghasilkan ide ekonomi sebesar 24%, keaslian ide ekonomi sebesar 25%, dan perincian penjelasan ide ekonomi sebesar 22%. Perbedaan persentase tersebut menunjukkan bahwa meskipun siswa mampu mencoba berbagai alternatif solusi, aspek kemampuan lainnya masih terbatas dan belum berkembang optimal. Kondisi ini menegaskan perlunya peningkatan berpikir kreatif agar sesuai standar kompetensi. Di SMA Negeri 1 Tengaran, siswa juga cenderung kurang percaya diri dalam berpendapat dan focus pada satu jawaban benar. Karena itu, rendahnya kemampuan berpikir kreatif menjadi isu penting dalam pembelajaran ekonomi.

Observasi pada siswa dalam pembelajaran ekonomi kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa masih belum berkembang secara optimal. Hal ini diperkuat oleh temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa peserta didik cenderung tidak langsung merespons pertanyaan yang diajukan guru, sehingga mengindikasikan rendahnya kelancaran dalam menghasilkan ide ekonomi dan masih memerlukan stimulus. Dalam menjawab pertanyaan, siswa cenderung mengulang penjelasan guru sehingga flekbilitas berpikir masih terbatas. Dari aspek orisinalitas, jawaban hanyak meniru buku atau contoh yang diberikan, sehingga belum menunjukkan kebaruan. Pada aspek elaborasi, siswa juga belum mampu menguraikan argumen secara mendalam. Secara kesleuruhan, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa belum berkembang optimal akibat factor personal dan lingkungan pembelajaran.

Berdasarkan kondisi tersebut, unsur kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada upaya mengkaji kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran ekonomi dengan mengintegrasikan faktor internal (efikasi diri dan motivasi belajar) serta faktor eksternal (strategi pembelajaran dan peran guru) dalam satu kerangka analisis yang komprehensif. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang umunya hanya menguji variable secara parsial, penelitian ini menyoroti hubungan simultan antara factor psikologis dan pedagogis terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. penelitan ini juga memberikan kontribusi kontekstual dengan mengambil lokasi di sekolah yang telah menerapkan kurikulum merdeka, sehingga dapat menggambarkan efektivitas implementasinya dalam pembelajaran ekonomi. Dengan demikian, penelitian ini bersifat lebih integrative dan memperkuat kajian pembelajaran abad ke-21.

METODE

A.Pendekatan, Jenis, dan Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, sebuah metodologi yang fokus pada pengujian keterkaitan dan dampak antarvariabel melalui penghimpunan data numerik yang diproses secara statistikal. Dilihat dari tingkat eksplanasinya, studi ini diklasifikasikan sebagai penelitian asosiatif dengan pola hubungan kausalitas. Desain ini dipilih guna mengidentifikasi interaksi sebab-akibat yang terjadi diantara dua variabel atau lebih. Dengan demikian, fokus utama penelitian ini adalah menganalisis besaran pengaruh variabel terhadap variabel independen dependen secara empiris.

B.Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat untuk penelitian ini adalah di SMA Negeri Tengaran yang berlokasi di Jl. Jendral Soemitro Kembangsari, Karangduren, Tengaran, Kabupaten Semarang. Penelitian dilakukan pada 23-26 februari 2026.

C. Subjek Penelitian/Populasi dan Sampel

1.Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMA Negeri 1 Tengaran tahun Pelajaran 2025/2026 sebanyak 168 siswa, dengan sampel 63 siswa. Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling, yaitu pemilihan sampel secara proporsional dari tiap kelas berdasarkan jumlah siswa, lalu dipilih secara acak. Teknik ini digunakan karena populasi terbagi dalam beberapa kelas sehingga setiap kelas terwakili secara proporsional.

2. Sampel

Jumlah sampel dalam penelitian ini terdiri dari 63 siswa. Metode dari pengambilan sampel yang diterapkan adalah proporsional random sampling, yakni metode pengambilan sampel yang dilakukan secara proporsional dari setiap kelas berdasarkan jumlah siswa pada masing-masing kelas, dan kemudian dipilih secara acak. Metode ini dipilih karena populasi penelitian terbagi dalam beberapa kelas, sehingga setiap kelas perlu terwakili sesuai dengan proporsi jumlah siswanya.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

  1. Variabel Penelitian

a. Variabel Dependen atau Terikat (Y)

Variabel terikat (dependen) didalam penelitian ini merupakan kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi.

b.Variabel Independen atau Bebas (X)

    Dalam penelitian ini variabel bebas (X) adalah efikasi diri (X1), keterampilan megajar guru (X2), dan motivasi belajar (X3).

    2. Definisi Operasional

    a.Kemampuan Bepikir Kreatif

    Kemampuan berpikir kreatif yang diartikan didalam penelitian ini merupakan kemampuan siswa dalam menghasilkan gagasan-gagasan baru yang masih orisinal, mengombinasikan berbagai ide, serta menemukan solusi yang inovatif dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran.

    b. Efikasi Diri

    Efikasi diri dalam konteks studi ini dimaknai sebagai derajat keyakinan peserta didik terhadap kapasitas personalnya dalam mengelola serta mengoordinasikan, melaksanakan, dan menyelesaikan tugas-tugas belajar, memotivasi diri untuk terus berusaha, menghadapi kesulitan atau hambatan dalam kegiatan belajar, serta memperoleh tujuan akademis yang telah ditentukan.

    c. Mengajar Guru

    Keterampilan mengajar guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan profesional guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran secara terstruktur, efektif, dan berdaya guna, melalui penyampaian materi yang jelas, pengelolaan kelas yang kondusif, pemberian motivasi belajar, penggunaan metode dan media pembelajaran yang tepat, serta fasilitasi interaksi aktif antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    d. Motivasi belajar

    Motivasi belajar yang dibahas dalam pembelajaran ini merupakan pendorong yang berasal dari faktor internal maupun eksternal siswa. Pendorong ini menimbulkan semangat, niat, dan keseriusan dalam mengikuti proses pembelajaran, menyelesaikan tugas, mempertahankan usaha ketika menghadapi tantangan, serta mengarahkan perilaku belajar demi mencapai tujuan akademik yang telah ditentukan.

    E. Hipotesis Statistik

    Hipotesis statistik adalah suatu asumsi sementara yang dikembangkan berdasarkan teori dan pola pikir tertentu, kemudian diuji kebenarannya menggunakan analisis data secara statistik. Dalam penelitian ini, hipotesis statistik disusun untuk mengidentifikasi pengaruh efikasi diri, keterampilan mengajar guru, serta motivasi belajar terhadap kemampuan berpikir kreatif ekonomi siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Tengaran.

    F. Data dan Sumber Data

    1.Data

    Data primer diperoleh secara langsung dari responden, yakni siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran, melalui metode penyebaran angket (kuesioner). Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber tertulis, termasuk dokumen sekolah, informasi mengenai jumlah siswa, profil sekolah, arsip akademik, serta buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan efikasi diri, keterampilan mengajar guru, motivasi belajar, serta pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa.

    2. Sumber Data

    Data pada penelitian ini bersumber dari siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran Tahun Ajaran 2025/2026 sebagai responden utama penelitian. Data diperoleh melalui kegiatan penyebaran angket yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai tingkat efikasi diri, presepri sisea terhadap keterampilan mengajar guru, motivasi belajar, serta kemampuan berpikir kreatif dalam mata pelajaran ekonomi.

    G. Teknik Pengumpulan Data

    1.Observasi

    Observasi digunakan untuk mengamati perilaku manusia, proses pembelajaran, serta berbagai gejala sosial yang terajdi dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui observasi, peneliti dapat memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi objek penelitian di lapangan.

    2. Kuesioner (Angket)

    Dienelitian ini kuesioner digunakan sebagai instrumen utama untuk memperoleh data secara langsung dari responden, yaitu siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran.

    3. Dokumentasi

    Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data berupa foto dan catatan kegiatan penelitian, khususnya pada saat siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran mengisi angket penelitian.

    H. Teknik Keabsahan Data

    1.Uji Validitas

    Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan terhadap instrumen yang terdiri dari 57 butir soal yang meliputi variable Kemampuan Berpikir Kreatif (Y), Efikasi Diri (X1), Keterampilan Mengajar Guru (X2), serta Motivasi Belajar (X3). Instrumen tersebut diuji cobakan kepada 30 siswa. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Science) dan Microsoft Excel.

    2. Uji Reliabilitas

    Untuk mengukur instrumen stabilitas, peneliti menerapkan uji Cronbach’s Alpha dengan dukungan perangkat lunak IBM SPSS Statistics. Sebuah instrumen yang dinilai memiliki reliabilitas yang tinggi apabila koefisien yang dihasilkan bernilai Cronbach’s Alpha ≥ 0,70 atau lebih. Hasil ini menunjukkan bahwa butir-butir pernyataan dalam kuesioner memiliki keterkaitan internal yang kuat dan dapat diandalkan sebagai alat ukur yang konsisten dalam proses penelitian.

    I. Teknik Analisis Data

    1. Analisis Deskriptif

    Statistik deskriptif diterapkan pada penelitian ini guna untuk menyajikan potret komprehensif mengenai profil efikasi diri, kompetensi instruksional guru, dorongan belajar, serta kapasitas berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran didalam mata pelajaran ekonomi. Analisis ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik data secara sistematis.

    2. Uji Prasyarat Analisis

    Sebelum melakukan pengujian hipotesis, serangkaian uji prasyarat atau uji asumsi klasik diimplementasikan untuk menjamin validitas model penelitian. Prosedur ini mencakup verifikasi normalitas, linearitas, multikolinearitas, serta heteroskedastisitas.

    a.Uji Normalitas

    Pengujian normalitas digunakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sebaran data, guna memastikan kesesuaiannya dengan kriteria distribusi normal.

    b.Uji Linearitas

    Uji Linearitas dilaksanakan untuk mengidentifikasi keberadaan hubungan garis lurus yang konsistensi diantara variabel independen dengan variabel dependen. Keberadaan pola hubungan yang linier menjadi prasyarat mutlak sebelum data diproses melalui estimasi regresi linier.

    c. Uji Multikolinearitas

    Uji multikolinearitas ditujukan untuk mendeteksi tidaknya korelasi antarvariabel bebas dalam model penelitian. Sebuah model regresi yang kredibel harus terbebas dari interkorelasi yang berlebihan antarvariabel independen agar tidak terjadi bias dalam interpretasi pengaruhnya.

    J. Etika Penelitian

    Etika penelitian adalah pedoman yang harus diperhatikan oleh peneliti agar pelaksanaan penelitian tidak merugikan subjek penelitian serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian yang berlaku dalam penelitian pendidikan, mengingat subjek penelitian adalah peserta didik di lingkungan sekolah menengah.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Pengujian uji validitas instrumen dalam studi ini diproses melalui sistem SPSS guna menguji sejauh mana butir kuesioner mampu merepresentasikan variabel yang dikaji secara akurat. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai signifikansi (Sig.) pada taraf signifikansi 0,05. Analisis validitas menunjukkan bahwa pada variabel kemampuan berpikir kreatif (Y) yang terdiri dari 12 item menyatakan bahwa seluruh item dinyatakan valid dengan nilai signifikansi < 0,05. Selanjutnya hasil pengujian validitas pada variabel efikasi diri (X1) yang terdiri dari 9 item pernyataan juga menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan dinyatakan valid dengan nilai signifikansi < 0,05.

    Analisis terhadap variabel keterampilan mengajar guru (X2) yang terdiri dari 18 item pernyataan, seluruh item soal atau pernyataan dinyatakan valid ketika memiliki nilai signifikansi < 0,05. Demikian pula pada variabel motivasi belajar (X3) yang terdiri dari 18 item pernyataan, seluruh item pernyataan dinyatakan valid jika dengan nilai signifikansi < 0,05.

    Tahap berikutnya meliputi prosedur uji reliabilitas diterapkan guna memastikan konsistensi internal dari butir-butir pernyataan pada kuesioner. Temuan menunjukkan skor Cronbach’s Alpha untuk masing-masing variabel adalah 0,822 (Berpikir Kreatif), 0,744 (Efikasi Diri), 0,885 (Keterampilan Mengajar), dan 0,920 (Motivasi Belajar). Karena seluruh skor tersebut secara signifikan berada di atas parameter standar 0,70, maka perangkat penelitian ini terbukti andal serta layak dipertanggungjawabkan keakuratannya dalam menghimpun data empiris

    Teknik analisis deskriptif diterapkan untuk menyajikan gambaran data sesuai fakta di lapangan tanpa adanya penarikan kesimpulan umum yang melampaui subjek penelitian. Prosedur ini dilakukan dengan mengolah distribusi persentase jawaban responden, sehingga tren persepsi pada setiap variabel penelitian dapat teridentifikasi secara akurat dan representatif.

    Mengacu pada hasil analisis statistik deskriptif diketahui bahwa nilai rerata skor untuk variabel efikasi diri adalah 25,63, kompetensi mengajar guru bernilai 52,87, motivasi belajar di angka 52,82, serta kapasitas berpikir kreatif mencapai 27,49. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara umum kondisi efikasi diri, keterampilan mengajar guru, motivasi belajar, dan kemampuan berpikir kreatif siswa yang masih berada pada kategori yang cukup baik sehingga dapat mendukung proses pembelajaran, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan agar hasil belajar siswa dapat lebih optimal.

    Analisis normalitas dalam penelitian ini bertujuan untuk memastikan apakah sebaran data penelitian telah mengikuti pola distribusi normal. Tahapan analisis normalitas dilakukan dengan menerapkan uji One-Sample Kolmogorov–Smirnov (K-S) melalui dukungan sistem komputasi SPSS. Parameter distribusi normal dianggap terpenuhi jika koefisien signifikansi yang diperoleh melebihi angka 0,05. Namun apabila nilai signifikansi pembelian berada di bawah standar 0,05, maka dapat diinterpretasikan bahwa dataset tersebut tidak mengikuti pola sebaran normal.

    Hasil uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov–Smirnov menunjukkan bahwa nilai signifikansi Monte Carlo Sig. (2-tailed) sebesar 0,247. Nilai tersebut lebih besar dari batas signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal. Dengan demikian, asumsi normalitas telah terpenuhi dan data dapat digunakan untuk melanjutkan ke tahap analisis statistik selanjutnya.

    Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengidentifikasi adanya hubungan yang kuat antar variabel independen dalam model regresi. Pengujian ini mengacu pada nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Suatu model regresi dinyatakan tidak mengalami multikolinearitas apabila nilai Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10.

    a. Dependent Variable: Kemampuan Berfikir Kreatif
    Table 1.

    Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel efikasi diri memiliki nilai Tolerance sebesar 0,286 dan VIF 3,497, variabel keterampilan mengajar guru memiliki nilai Tolerance sebesar 0,140 dan VIF 7,144, serta variabel motivasi belajar memiliki nilai Tolerance sebesar 0,171 dan VIF 5,860. Berdasarkan fakta bahwa seluruh variabel bebas telah memenuhi apabila nilai Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dapat dinyatakan bahwa model regresi tersebut terbebas dari permasalahan multikolinearitas, interkorelasi antarvariabel independen atau terbebas dari multikolinearitas. Dengan demikian, tidak ditemukan hubungan linier yang mengganggu antarvariabel bebas dalam menjelaskan kemampuan berpikir kreatif.

    Analisis heteroskedastisitas diterapkan guna mengidentifikasi tidak adanya diskrepansi varians residu antarpengamatan dalam model regresi. Riset ini memanfaatkan uji Glejser dengan menitikberatkan pada parameter signifikansi sebagai dasar pengambilan keputusan. Model regresi terbebas dari masalah heteroskedastisitas jika perolehan nilai signifikansi melampaui angka 0,05.

    0,939, variabel keterampilan mengajar guru sebesar 0,246, dan variabel motivasi belajar sebesar 0,257. Seluruh variabel memiliki nilai signifikansi yang diperoleh > 0,05, sehingga dapat dinyatakan bahwa model regresi dalam penelitian ini bebas dari gejala heteroskedastisitas.

    Penerapan analisis regresi linier berganda dilakukan apabila terdapat lebih dari satu variabel independen yang diuji dalam suatu model. Metodologi statistik ini berfungsi untuk mengidentifikasi besaran kontribusi serta pola hubungan antara variabel-variabel bebas dengan variabel dependen. Secara spesifik, penelitian ini memanfaatkan teknik-teknik tersebut guna memancarkan pengaruh efikasi diri, kompetensi mengajar guru, serta dorongan belajar terhadap kapasitas berpikir kreatif peserta didik.

    Tabel di atas menyajikan hasil pengolahan data menggunakan teknik regresi linier berganda, yang mana dari data tersebut dapat dibentuk persamaan regresi yakni Y = 15,953 − 0,656X₁ + 0,459X₂ + 0,077X₃ + e, dengan X₁ = efikasi diri, X₂ = keterampilan mengajar guru, dan X₃ = motivasi belajar. Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan bahwa nilai konstanta sebesar 15,953 menunjukkan bahwa apabila variabel efikasi diri, keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar bernilai 0, maka kemampuan berpikir kreatif memiliki nilai sebesar 15,953. Sementara itu, koefisien regresi untuk variabel efikasi diri adalah sebesar −0,656 menunjukkan hubungan negatif terhadap kemampuan berpikir kreatif, artinya apabila efikasi diri meningkat satu satuan maka kemampuan berpikir kreatif akan menurun sebesar 0,656. Nilai koefisien regresi variabel keterampilan mengajar guru sebesar 0,459 menunjukkan hubungan positif, yang berarti semakin baik keterampilan mengajar guru maka kemampuan berpikir kreatif siswa juga akan meningkat. Selanjutnya, nilai koefisien regresi variabel motivasi belajar sebesar 0,077 menunjukkan hubungan positif, yang berarti semakin tinggi motivasi belajar maka kemampuan berpikir kreatif siswa juga cenderung meningkat.

    Analisis parsial melalui uji t diterapkan untuk memancarkan dampak individu dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Prosedur pengujian ini menitikberatkan pada perolehan skor t-hitung serta tingkat dalam signifikansi masing-masing variabel. Suatu variabel bebas dipecah memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik apabila nilai signifikansinya menunjukkan angka di bawah ambang batas 0,05

    a. Dependent Variable: Kemampuan Berfikir Kreatif
    Table 2.

    Dari hasil uji parsial (uji t) yang disajikan pada tabel di atas maka menunjukkan bahwa variabel efikasi diri memperoleh nilai t hitung sebesar -2,380 dengan tingkat signifikansi 0,021 (p < 0,05). Hal ini mengkonfirmasi adanya pengaruh signifikan variabel tersebut terhadap kapasitas berpikir kreatif siswa. Serupa dengan itu, kompetensi mengajar guru mencatatkan skor t-hitung 2,393 dengan nilai signifikansi 0,020 (p < 0,05), yang menunjukkan dampak signifikan terhadap kreativitas peserta didik. Sebaliknya variabel motivasi belajar dengan nilai t 0,505 dan signifikansi 0,616 (p > 0,05) tidak terbukti memberikan pengaruh nyata secara statistik terhadap kemampuan berpikir kreatif dalam penelitian ini.

    Uji simultan digunakan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama memberikan pengaruh terhadap variabel dependen. Prosedur analisisnya meliputi perbandingan antara nilai statistik F-hitung dan F-tabel, atau dengan meninjau derajat signifikansi yang dihasilkan dalam model regresi. Apabila nilai signifikansi < 0,05, maka variabel bebas secara simultan berpengaruh terhadap variabel terikat.

    a. Dependent Variable: Kemampuan Berfikir Kreatif
    b. Predictors: (Constant), Motivasi Belajar, Efikasi Diri, Keterampilan Mengajar Guru
    Table 3.

    Berdasarkan hasil uji simultan yang ditampilkan pada tabel di atas, diperoleh nilai F hitung sebesar 6,617 dengan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa variabel efikasi diri, keterampilan mengajar guru, dan motivasi belajar secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel bebas tersebut secara simultan memiliki pengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif.

    Hasil dari penelitian diperoleh bahwa terdapat pengaruh efikasi diri terhadap bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran. Berdasarkan hasil analisis secara parsial diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,021 yang lebih kecil dari 0,05 dengan nilai t hitung −2,380. Dengan demikian hipotesis alternatif pertama (H1) yang menyatakan bahwa efikasi diri berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran dapat diterima. Hal ini menunjukkan bahwa efikasi diri memengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran ekonomi.

    Didukung statistic deskriptif dengan rata-rata 25,63 dari 63 responden, yang menandakan efikasi diri siswa tegolong cukup baik. Efikasi diri yang dimiliki siswa tercermin dari keyakinan siswa dalam menghadapi kesulitan belajar, kepercayaan diri dalam menyelesaikan tugas, serta kemampuan siswa dalam mengelola usaha belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    Efikasi diri didefinisikan sebagai persepsi subjektif individu mengenai kapabilitasnya dalam mengelola serta mengimplementasikan rangkaian tindakan guna mencapai target yang telah ditetapkan. Efikasi diri terbentuk dari pengalaman individu dalam menghadapi berbagai situasi yang diperkuat oleh dukungan lingkungan social. Keyakinan ini memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak saat menghadapi tugas atau tantangan.

    Dalam pembelajaran, efikasi diri berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan siswa untuk menyampaikan ide, mencoba berbagai cara pemecahan masalah, dan mengembangkan gagasan baru. Siswa dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih percaya diri, tekun, tidak mudah menyerah, serta berani mencari alternatif solusi dalam menghadapi kesulitan belajar.

    Kemampuan berpikir kreatif sendiri merupakan kemampuan siswa untuk menghasilkan gagasan baru, menemukan berbagai alternatif solusi, serta mengembangkan pemikiran yang fleksibel dalam menghadapi suatu permasalahan. Kemampuan ini tercermin melalui beberapa indikator seperti kelancaran dalam mengemukakan ide, keluwesan dalam berpikir, keaslian gagasan, serta kemampuan mengelaborasi suatu permasalahan secara lebih mendalam.

    Dengan adanya efikasi diri yang baik, siswa akan lebih berani dalam menyampaikan pendapat, mengemukakan gagasan baru, serta mencoba berbagai cara dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran. Kondisi tersebut dapat mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kreatif siswa dalam memahami materi pelajaran ekonomi. Hasil penelitian ini setujuan dengan penelitian yang dilakukan oleh [11] yang menunjukkan bahwa efikasi diri berdampak signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa siswa yang memiliki keyakinan terhadap kemampuan dirinya cenderung lebih aktif dalam proses pembelajaran serta mampu menghasilkan berbagai ide kreatif dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru [25].

    Temuan dari [16] menguatkan bahwa efikasi diri memberikan kontribusi positif terhadap kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran ekonomi [26]. Hal ini menunjukkan bahwa efikasi diri menjadi salah satu faktor kunci dalam menunjang keberhasilan siswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi selama proses pembelajaran. Sejalan dengan hasil penelitian dan landasan teori yang digunakan, dapat dipahami bahwa efikasi diri memiliki peranan yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Siswa dengan efikasi diri tinggi umumnya lebih yakin menghadapi tantangan, mampu menghasilkan ide baru, dan lebih fleksibel dalam berpikir kreatif pada pembelajaran ekonomi. Namun, nillai t hitung negatif (-2,380) menunjukkan arah hubungan yang berlawanan, sehingga peningkatan efikasi diri tidak selalu diikuti peningkatan kreativitas secara langsung. Hal ini dapat dipengaruhi overconfidence atau ketidaksesuaian antara perspesi dan kemampuan actual, sehingga perlu interpretasi yang kririts. Secara praktis, guru perlu membangun efikasi diri melalui umpan balik positif, scaffholding, dan pemberian pengalaman sukses bertahap agar siswa lebih percaya diri dalam berpikir kreatif.

    Temuan empiris dalam penelitian ini mengkonfirmasi adanya pengaruh yang signifikan dari keterampilan mengajar guru terhadap kapasitas berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi di kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran. Hasil analisis parsial menunjukkan t-hitung sebesar 2,393 dengan nilai signifikansi 0,020 (p < 0,05), sehingga hipotesis alternatif kedua (H2) diterima. Hal ini mengindikasikan bahwa kompetensi instruksional guru berpengaruh terhadap kreativitas siswa. Dengan demikian, kualitas pengajaran guru menjadi factor penting karena menentukan perkembangan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran ekonomi.

    Merujuk hasil analisis statistik deskriptif yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata variabel keterampilan mengajar guru sebesar 52,87 dari 63 responden. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum keterampilan mengajar guru dalam proses pembelajaran ekonomi berada pada kategori cukup baik sehingga mampu mendukung proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterampilan guru dalam menyampaikan materi, memberikan latihan, serta memberikan umpan balik kepada siswa dapat memberikan kontribusi dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

    Kecakapan pedagogis baru adalah kemampuan profesional dalam mengelola pembelajaran dari perencanaan hingga evaluasi secara efektif. Kemampuan ini terlihat dari keterampilan menyampaikan materi, mengelola kelas, meningkatkan minat belajar, serta menggunakan metode, dan media yang sesuai karakter siswa. keterampilan mengajar guru berperan penting dalam menciptakan suasana belajar yang aktif dan kondusif, sehingga siswa dapat terlibat, berani bertanya dan berpendapat, serta berpikir lebih mendalam terhadap materi.

    Menurut [17] keterampilan mengajar guru dapat dilihat dari beberapa aspek utama, keterampilan tersebut mencakup kemampuan dalam meninjau kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya, menyampaikan materi baru secara sistematis, memberikan latihan soal kepada siswa, serta menyajikan umpan balik atas hasil belajar yang diperoleh. Selain itu, guru juga memberikan tugas latihan mandiri dan melakukan penguatan dengan mengulas kembali materi yang telah diajarkan [27]. Keenam aspek tersebut menunjukkan bahwa keterampilan mengajar guru tidak hanya berfokus pada saat penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana guru mengelola proses pembelajaran yang membuat siswa dapat memahami materi secara aktif dan bermakna. Selain itu, [18] juga menjelaskan bahwa keterampilan mengajar guru mencakup berbagai keterampilan seperti keterampilan bertanya, keterampilan menjelaskan, keterampilan memberikan penguatan, serta keterampilan mengelola kelas [28]. Seluruh keterampilan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan interaktif, sehingga partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar dapat meningkat.

    Keterampilan mengajar guru yang baik dapat mendorong atau memicu siswa untuk berpikir secara lebih kreatif karena guru mampu memberikan stimulus berupa pertanyaan terbuka, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat, serta memberikan tugas yang menuntut siswa untuk mengembangkan gagasan atau solusi baru terhadap suatu permasalahan. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi secara satu arah, tetapi juga mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses berpikir. Hal tersebut sejalan dengan kondisi yang ditemukan dalam latar belakang penelitian, hal tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa masih belum berkembang secara maksimal, ditandai dengan kecenderungan siswa untuk hanya mengulang penjelasan guru tanpa mampu mengemukakan ide secara mandiri. Dengan demikian, keterampilan mengajar guru mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam proses pembelajaran ekonomi.

    Hasil penelitian mrujuk pada [19] yang mengindikasikan bahwa keterampilan mengajar guru memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap proses belajar siswa [29]. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa keterampilan mengajar guru yang baik mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam memahami materi pelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan mengajar guru berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatifsiswa. Semakin baik pengelolaan pembelajaran, semakin besar peluang siswa mengembangkan ide dan solusi terhadap kreatif dalam ekonomi. Guru juga perlu mengaitkan materi dengan fenomena nyata seperti masalah ekonomi, analisis pasar, dan pengambilan Keputusan agar siswa berpikir lebih kontekstual, tidak hanya teoritis. Implikasinya, guru disarankan untuk menerapkan strategi pembelajaran berbasis student-centered seperti problem based learning, diskusi terbuka, dan penggunaan pertanyaan tingkat tinggi (HOTS) agar siswa lebih aktif dan terlatih berpikir kreatif. Selain itu, variasi metode dan penggunaan media interaktif juga dapat memperkaya pengalaman belajar siswa.

    Temuan penelitian mengindikasikan ketiadaan pengaruh yang signifikan dari variabel motivasi belajar terhadap kapasitas berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran dalam disiplin ekonomi. Berdasarkan estimasi parsial diperoleh skor t-hitung sebesar 0,505 dengan probabilitas signifikansi 0,616 (p > 0,05). Permintaannya, hipotesis alternatif ketiga (H₃) yang mengasumsikan adanya dampak motivasi terhadap kreativitas berpikir dinyatakan ditolak. Fenomena ini memberikan bukti empiris bahwa dorongan belajar peserta didik dalam konteks studi ini belum menjadi determinan utama yang menggerakkan potensi kreatif mereka selama pembelajaran ekonomi berlangsung.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun siswa memiliki motivasi belajar, hal tersebut belum secara langsung mendorong peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Kreativitas tidak hanya dipengaruhi motivasi, tetapi juga factor internal dan lingkungan pembelajaran. Karena itu, pengembangannya memerlukan dukungan lain seperti efikasi diri, strategi pembelajaran guru, serta lingkungan belajar yang kondusif.

    Secara teoritis, motivasi belajar didefinisikan sebagai stimulus, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik, yang memicu antusiasme, determinasi, serta ketekunan siswa dalam menjalankan aktivitas akademik guna merealisasikan target pembelajaran yang telah ditetapkan. Motivasi belajar tercermin dalam ketekunan siswa dalam mengikuti pembelajaran, keuletan dalam menghadapi kesulitan belajar, minat terhadap materi pelajaran, semangat dalam mengerjakan tugas, serta keinginan untuk mencapai prestasi yang optimal. Menurut [20] motivasi belajar dapat diidentifikasi melalui beberapa dimensi utama, antara ambisi lain untuk meraih kesuksesan, urgensi kebutuhan dalam menuntut ilmu, serta visi mengenai aspirasi di masa depan. Selain itu, indikator ini juga mencakup aspek rekognisi atau penghargaan dalam belajar, keterlibatan dalam aktivitas proses belajar yang stimulatif, serta ketersediaan ekosistem belajar yang mendukung kenyamanan siswa [30]. Keenam indikator tersebut menunjukkan bahwa motivasi belajar merupakan faktor psikologis yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, [21] menjelaskan bahwa dorongan belajar siswa dapat bersumber dari faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi intrinsik lahir dari kesadaran dan kemauan pribadi tanpa pengaruh luar, sedangkan motivasi ekstrinsik terbentuk melalui stimulasi yang berasal dari kondisi lingkungan sekitar. Elemen ini berperan penting sebagai penggerak utama proses belajar di sekolah [31].

    Namun, dalam penelitian ini motivasi belajar tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa, diduga karena lebih berorientasi pada tugas dan nilai sehingga belum mendorong pengembangan ide, gaagsa, atau solusi kreatif dalam pembelajaran eknomi. Selain itu, berdasarkan kondisi yang ditemukan pada latar belakang penelitian, kemampuan berpikir kreatif siswa masih belum berkembang secara optimal. Siswa cenderung menunggu arahan guru, mengulang kembali penjelasan yang diberikan guru, serta masih banyak meniru contoh dari buku dalam menjawab pertanyaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa siswa belum terbiasa mengembangkan ide atau gagasan secara mandiri dalam proses pembelajaran.

    Kemampuan berpikir kreatif sendiri merupakan kemampuan individu yang dapat menghasilkan gagasan baru, menemukan berbagai alternatif solusi, serta mengembangkan pemikiran secara fleksibel dalam menghadapi suatu permasalahan. Kemampuan ini ditunjukkan melalui kelancaran dalam mengemukakan ide, keluwesan dalam berpikir, keaslian gagasan, serta kemampuan mengelaborasi suatu permasalahan secara lebih rinci dan mendalam. Dengan demikian, meskipun motivasi belajar merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran, namun dalam penelitian ini motivasi belajar belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Dengan demikian, pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa tidak hanya memerlukan motivasi belajar yang tinggi, tetapi juga perlu didukung oleh faktor lain seperti efikasi diri siswa, keterampilan mengajar guru, serta strategi pembelajaran yang mampu mendorong siswa untuk berpikir secara lebih kreatif dan inovatif dalam memecahkan permasalahan ekonomi.

    Secara kritis, ketidaksignifikanan ini mengindikasikan bahwa motivasi belajar yang dimiliki siswa cenderung bersifat ekstrinsik dan berorientasi pada hasil (nilai), bukan pada proses eksplorasi ide.Oleh karena itu, diperlukan perubahan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan motivasi, tetapi juga mengarahkannya pada aktivitas kreatif seperti proyek berbasis masalah, tugas terbuka, dan penilaian proses. Dengan demikian, motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong kreativitas, bukan sekedar penyelesaian tugas akademik.

    1. Pengaruh Efikasi Diri terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
    2. Pengaruh Keterampilan Mengajar Guru terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
    3. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
    4. Pengaruh Efikasi Diri, Keterampilan Mengajar Guru, dan Motivasi Belajar terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif

    Analisis simultan emnunjukkan bahwa efikasi firi, kompetensi mengajar guru, dan motivasi belajar secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran pada pembelajaran ekonomi. Hasil uji F 0,000 (p < 0,05) menegaskan H4diterima, yang berarti ketiga variable tersebut secara kolektif memengaruhi variasi kemampuan berpikir kreatif siswa.

    Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa semakin tinggi efikasi diri siswa, semakin baik keterampilan mengajar guru, serta semakin tinggi motivasi belajar siswa, maka kemampuan berpikir kreatif siswa juga cenderung semakin meningkat. Sebaliknya, apabila efikasi diri siswa rendah, keterampilan mengajar guru kurang optimal, serta motivasi belajar siswa rendah, maka kemampuan berpikir kreatif siswa juga cenderung kurang berkembang. Bahwa hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa

    tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan pembelajaran.

    Berdasarkan data statistik deskriptif, sebagian besar responden menunjukkan kecenderungan positif dengan memberikan respon 'setuju' dan 'sangat setuju' terhadap indikator efikasi diri, kompetensi pembelajaran guru, serta motivasi belajar. Pola yang selaras juga terdapat pada variabel kapasitas berpikir kreatif, di mana sebagian besar peserta diajarkan menyampaikan persepsi yang serupa, sehingga menempatkan kemampuan tersebut dalam klasifikasi yang cukup memadai. Fenomena ini mengindikasikan bahwa sinergi antara determinan internal dan eksternal dalam ekosistem pembelajaran memegang peranan krusial dalam menstimulasi pertumbuhan potensi kreatif siswa.

    Efikasi diri didefinisikan sebagai persepsi subjektif individu terhadap kapasitasnya dalam menuntaskan tanggung jawab atau mengatasi hambatan akademik. Peserta dilatih dengan efikasi diri yang cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi saat menghadapi rintangan belajar, bereksperimen dengan berbagai solusi alternatif, serta menunjukkan ketahanan yang tinggi ketika menghadapi kendala. Dampaknya, keyakinan internal ini memotivasi siswa untuk lebih produktif dalam mengonstruksi gagasan-gagasan baru selama proses pembelajaran. Di sisi lain, kompetensi instruksional guru turut memegang peranan krusial dalam membangun lingkungan belajar yang fungsional dan inspiratif. Pendidik yang mahir mampu mendeseminasikan materi secara komprehensif, menerapkan variasi strategi pedagogi, serta memfasilitasi dialog interaktif yang dinamis. Suasana yang kondusif ini merangsang partisipasi kognitif siswa dalam mengutarakan perspektif serta mengaktualisasikan pemikiran kreatif mereka secara optimal.

    Motivasi belajar juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Motivasi belajar merupakan dorongan yang muncul baik dari dalam maupun luar diri siswa yang mendorong timbulnya semangat dan keinginan untuk mencapai tujuan belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih tekun dalam mengikuti pembelajaran, lebih aktif dalam menyelesaikan tugas, serta memiliki keinginan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.

    Kemampuan berpikir kreatif sendiri merupakan kemampuan individu dalam menghasilkan ide atau gagasan baru, menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah, serta mengembangkan pemikiran secara fleksibel dan orisinal. Kemampuan ini sangat penting dalam proses pembelajaran karena dapat membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam serta mampu menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam berbagai situasi. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran ekonomi tidak terlepas dari berbagai faktor yang saling berhubungan, baik yang berasal dari dalam diri siswa seperti efikasi diri dan motivasi belajar, maupun faktor dari luar seperti keterampilan mengajar guru. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan berpikir kreatif perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan kepercayaan diri siswa, peningkatan motivasi belajar, serta peningkatan kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di kelas.

    Secara implikatif, temuan ini menegaskan perlunya pembelajaran holistic yang mengintegrasikan efikasi diri, kualitas mengajar guru, dan desain pembelajaran yang mendorong motivasi ke aktivitas kreatif, karena berpikir kreatif membutuhkan sinergi factor internal dan eksternal.

    Secara teoritis, hasil ini memperkuat Teori Kognitif Sosial bahwa interaksi factor personal, lingkungan, dan perilaku lebih efektif menjelaskan kreativitas siswa dalam pembelajaran ekonomi dibandingkan pengujian parsial. Selain itu, hasil ini menegaskan bahwa pengembangan berpikir kreatif memerlukan pendekatan integratif yang tidak hanya berfokus pada satu variabel, tetapi pada sinergi antar faktor, sehingga memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih komprehensif.

    KESIMPULAN

    Mengacu pada penelitian temuan yang telah melalui tahapan pengolahan informasi, eksplorasi statistik, serta verifikasi hipotesis mengenai sinergi efikasi diri, kompetensi mengajar pendidik, dan dorongan belajar terhadap kreativitas berpikir siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran pada bidang studi ekonomi periode 2025/2026, maka simpulan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

    1. Efikasi diri memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap kapasitas berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran. Temuan ini menyiratkan bahwa penguatan keyakinan pribadi siswa dalam menguasai materi serta menuntaskan tanggung jawab akademik berbanding lurus dengan kemahiran mereka dalam memformulasikan ide-ide inovatif, menciptakan solusi alternatif, serta mengekspansi gagasan secara kreatif selama aktivitas pembelajaran.
    2. Keterampilan mengajar guru berpengaruh positif terhadap pertumbuhan berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran dalam pembelajaran ekonomi. Hasil ini mengimplikasikan bahwa optimalisasi kualitas pengajaran—yang meliputi kejelasan dalam artikulasi materi, diversifikasi strategi pengajaran, pemberian afirmasi positif, serta pendampingan intensif dalam aktivitas kelas-secara nyata akan memperkuat kapasitas kreatif peserta didik dalam mengonstruksi serta mendalami prinsip-prinsip ekonomi secara inovatif.
    3. Motivasi belajar tidak terbukti memberikan dampak positif dan signifikan terhadap kapasitas berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran pada mata pelajaran ekonomi. Temuan ini mengindikasikan bahwa peserta dididik dengan dorongan belajar yang kuat menampilkan keterlibatan yang lebih intensif dalam proses pengajaran, memiliki ketekunan tinggi dalam penguasaan materi, serta mampu merumuskan solusi inovatif dan gagasan baru untuk memecahkan berbagai problematika ekonomi.
    4. Secara kolektif, efikasi diri, koterampilan mengajar guru, dan motivasi belajar memberikan kontribusi positif serta signifikan terhadap potensi berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran dalam disiplin ekonomi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kapasitas kreatif peserta didik merupakan hasil dari integrasi determinan internal, yakni keyakinan diri dan motivasi, serta stimulasi eksternal yang bersumber dari profesionalisme guru dalam mengarahkan dinamika prosesonal di kelas.

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru, dan seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tengaran atas partisipasi dan kerja sama yang diberikan selama pelaksanaan penelitian. Apresiasi juga disampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung proses pengumpulan data hingga penyusunan artikel ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pembelajaran ekonomi, khususnya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

References

[1] Permendikbudristek, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbudristek, vol. 1, no. 69, pp. 5–24, 2022.

[2] L. W. Anderson and D. R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Pearson, 2010.

[3] D. Adharini, “Kemampuan berpikir kreatif dan kemandirian belajar dengan pendekatan open-ended pada materi polinomial,” Jurnal Guru Dikmen dan Diksus, vol. 5, no. 1, pp. 87–103, 2022, doi: 10.47239/jgdd.v5i1.365.

[4] N. R. Agustrin and S. R. Rindrayani, “Pengaruh gender dan model pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Pakel, Tulungagung,” Jurnal Economina, vol. 1, no. 2, pp. 407–416, 2022, doi: 10.55681/economina.v1i2.82.

[5] R. Astria and A. B. Kusuma, “Analisis pembelajaran berdiferensiasi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis,” Proximal: Jurnal Penelitian Matematika dan Pendidikan Matematika, vol. 6, no. 2, pp. 112–119, 2023, doi: 10.30605/proximal.v6i2.2647.

[6] E. Susanti, S. D. Ardianti, and D. A. Santoso, “Peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas V D dengan model pembelajaran creative problem solving,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 9, no. 2, pp. 2416–2425, 2023, doi: 10.36989/didaktik.v9i2.987.

[7] L. Fitri, W. Wulandari, and Z. Mujtahid, “Analisis kemampuan berpikir kreatif matematis berdasarkan kecerdasan emosional siswa MAN 3 Aceh Utara,” Jurnal Pendidikan Matematika Malikussaleh, vol. 5, no. 1, pp. 124–136, 2025, doi: 10.29103/jpmm.v5i1.19679.

[8] Y. Gustiara, R. Gumilar, and A. Sadiah, “Pengaruh kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis dan lingkungan belajar terhadap hasil belajar ekonomi,” COSMOS: Jurnal Ilmu Pendidikan, Ekonomi, dan Teknologi, vol. 2, no. 3, pp. 438–450, 2025.

[9] Jumanto, U. S. Sa’ud, and W. Sopandi, “Profiling creative thinking skills among elementary school students: A study based on the Merdeka Curriculum elements,” Jurnal Komunikasi Pendidikan, vol. 8, no. 2, pp. 205–214, 2024, doi: 10.32585/jurnalkomdik.v8i2.5143.

[10] A. M. Tsabit, “Implementasi Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan kreativitas siswa,” JKP: Jurnal Khasanah Pendidikan, vol. 3, no. 3, pp. 91–96, 2025, doi: 10.58738/jkp.v3i3.1001.

[11] E. F. K. Nihayah, “Peran efikasi diri tinggi dalam membentuk kemampuan berpikir kreatif matematika mahasiswa pada perkuliahan program linear,” Jurnal Pendidikan Glasser, vol. 4, no. 2, p. 127, 2020, doi: 10.32529/glasser.v4i2.640.

[12] R. Dalilan and D. Sofyan, “Kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMP ditinjau dari self confidence,” Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 2, no. 1, pp. 141–150, 2022, doi: 10.31980/plusminus.v2i1.1092.

[13] R. K. Utomo, F. Roshayanti, N. Nizaruddin, and M. S. Hayat, “Analysis of students’ creative thinking skills and learning motivation in science subjects at state primary school,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika, vol. 8, no. 3, p. 350, 2024, doi: 10.20527/jipf.v8i3.12772.

[14] R. Nur Fadilah and M. A. Rafsanjani, “Pengaruh efikasi diri siswa terhadap hasil belajar ekonomi dalam pembelajaran daring,” Jurnal Paradigma Ekonomika, vol. 16, no. 3, pp. 581–588, 2021, doi: 10.22437/jpe.v16i3.12978.

[15] W. Adi Prasetyo, “Pengaruh pendekatan pembelajaran dan efikasi diri terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 4, no. 10, pp. 1148–1174, 2023, doi: 10.59141/japendi.v4i10.2293.

[16] A. Levinta, P. Gunowibowo, and S. Sutiarso, “Pengaruh self-efficacy terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dalam pembelajaran saintifik,” Indiktika: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika, vol. 6, no. 2, pp. 232–244, 2024, doi: 10.31851/indiktika.v6i2.15114.

[17] A. Waritsman, “Kreativitas guru dalam mengajar untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di MA Madinatul Ilmi DDI Siapo,” Nusantara: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 1, no. 2, 2020.

[18] A. Tahiri, “Creativity in innovative teaching, the role of teachers in integrating creativity and critical thinking through technology,” Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development, vol. 2, no. 1, pp. 51–64, 2025.

[19] M. I. Sholeh et al., Manajemen Kurikulum. CV Gita Lentera, 2024.

[20] N. P. Ramadhani, E. Irmayanti, et al., “Pengaruh motivasi belajar dan self-efficacy terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada mapel ekonomi,” Prosiding, pp. 1332–1343, 2025.

[21] BAN-PDM, “Data akreditasi satuan pendidikan,” 2023.

[22] Kemendikbudristek, “Profil sekolah SMA Negeri 1 Tengaran,” 2024.

[23] DaftarSekolah, “Profil SMA Negeri 1 Tengaran Kabupaten Semarang,” 2024.

[24] A. Simbolon et al., “Pengaruh metode pembelajaran yang berpusat pada guru dalam proses pembelajaran siswa,” Jurnal Intelek Insan Cendikia, vol. 2, no. 11, pp. 18145–18149, 2025.

[25] W. Adi Prasetyo, “Pengaruh pendekatan pembelajaran dan efikasi diri terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 4, no. 10, pp. 1148–1174, 2023.

[26] D. Marlina, “The effect of self efficacy, learning motivation and student involvement on critical thinking abilities in the economics subject,” Jurnal Profesi Keguruan, vol. 10, no. 2, pp. 65–91, 2024, doi: 10.15294/jpk.v10i2.4425.

[27] P. R. Pintrich and D. H. Schunk, Motivation in Education: Theory, Research, and Application, 2nd ed. Prentice Hall, 2002.

[28] Rusman, Belajar dan Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana, 2017.

[29] N. Yusuf and A. Rizaldi, “Pengaruh keterampilan mengajar guru dan fasilitas belajar terhadap motivasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Toraja Utara,” Journal of Economics Management Business and Accounting, vol. 3, no. 1, pp. 49–60, 2023, doi: 10.34010/jemba.v3i1.10139.

[30] H. B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan. Bumi Aksara, 2011.

[31] A. M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT RajaGrafindo Persada, 2018.