Amalia Dwi Kartika (1), Khotimatus Sholikhah (2), Nina Rohmatul Fauziyah (3)
General Background: Civic Education plays a strategic role in developing students’ religious values and social attitudes at the elementary level. Specific Background: However, the learning process often relies on conventional methods, making abstract values difficult for students in the concrete operational stage to understand and internalize. Knowledge Gap: There is limited focus on how Problem Based Learning integrated with audiovisual media supports the internalization of both religious and social values beyond cognitive outcomes. Aims: This study aims to analyze the implementation of video-assisted Problem Based Learning in Civics Education for fostering religious values and social attitudes among third-grade students at MI Darul Ulum Jotosanur. Results: The findings indicate that video-based Problem Based Learning increases student engagement, critical thinking, collaboration, and the ability to relate values to real-life contexts, although challenges arise from teacher readiness, student ability differences, time limitations, and environmental support. Novelty: The study highlights the integration of Problem Based Learning with audiovisual media to emphasize value internalization through real problem-solving experiences in elementary students. Implications: The study suggests that teachers design contextual Problem Based Learning supported by visual media and consistent reflection, along with collaboration between schools and parents, to support character formation in students.
Highlights• Video-supported problem scenarios stimulate active participation and classroom interaction• Contextual tasks guide learners to connect moral concepts with daily behavior• Implementation constraints emerge from pedagogical readiness and learning conditions
KeywordsCivic Education; Problem Based Learning; Religious Values; Social Attitudes; Video Media
Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan nilai strategis mencapai tujuan sistem pendidikan nasional untuk membentuk karakter peserta didik. Di jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Pkn berperan penting dalam menanamkan nilai religius dan sikap sosial sejak dini agar siswa tidak hanya cerdas secara intelektual dan berakhlak mulia. Melalui pembelajaran ini siswa diarahkan untuk menjadi warga negara yang beriman, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian tinggi kepada lingkungan sekitarnya.[1]
Berdasarkan Kemendikbud, pembelajaran PKn terdapat beberapa tujuan di antaranya; (1) beradap dan religius; (2) berwawasan luas; (3) bertanggung jawab; (4) berlandaskan pancasila.[2] Agar tujuan pembelajaran PKn tercapai, guru perlu menggunakan model mengajar yang tepat. Model pembelajaran yang tepat akan menjadikan siswa lebih mudah memhamami materi yang pelajari. Model pembelajaran adalah inti dari sistem pengajaran, pemilihanya harus tepat dan tidak asal pilih. Guru menentukan model yang paling cocok dengan karakter siswa, jenis materi yang aka di pelajari, dan kondisi di sekitar lingkungan sekolah maupun di masyarakat.
Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah mulai menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk mendukung penanaman nilai karakter tersebut. Salah satu Model pembelajaran yang bisa digunakan adalah Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran ini menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran dengan memberikan permasalahan nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang bertujuan agar peserta didik dapat berpikir kritis, berdiskusi, dan bekerja sama dalam mencari solusi. Melalui metode PBL siswa mampu memahami nilai sosial serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan empati terhadap masalah sosial di sekitarnya. Melalui metode PBL guru dapat mengamati perkembangan peserta didik, baik dari cara berfikir ataupun dari segi emosi.[3]
Indikator yang perlu dicapai oleh peserta didik mengenai pembelajaran PKn dalam penanaman nilai religius di antaranya : (1) Ketaatan beribadah; (2) implementasi ajaran agama atau berakhlak mulia; (3) Toleransi Beragama; (4) karakter treligius. Selain itu penanaman konsep nilai sosial adalah : (1) Kerja sama; (2) Tanggung jawab; (3) Empati; (4) kejujuran; dan (5) Toleransi.[4] Dapat disimpulkan keduanya memiliki indikatir yang hampir sama, seorang siswa yang memiliki dasar religius yang kuat secara otomatis akan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungannya, karena setiap ajaran agama menekankan pentingnya akhlak mulia dalam berinteraksi.
Realitanya, Tidak semua peserta didik mudah dalam memahami dan menginternalisasi nilai religius serta sikap sosial, karena konsep tersebut cenderung bersifat abstrak dan tidak selalu terlihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Kesulitan ini semakin diperparah dengan pendekatan pembelajaran yang kurang inovatif dan kreatif yang dilakukan oleh guru. Guru cenderung menggunakan metode konvensional seperti ceramah yang masih mendominasi di ruang kelas.[5] Akibatnya, keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran menjadi rendah, sehingga nilai-nilai religius dan sikap sosial belum dapat tertanam secara optimal. Karakteristik siswa sekolah dasar yang masih berada dalam tahap operasional konkret, sebagaimana dijelaskan oleh teori perkembangan kognitif Piaget, menunjukkan bahwa mereka lebih mudah memahami konsep melalui pendekatan yang melibatkan pengalaman langsung, interaksi sosial, serta situasi nyata.[6] Oleh karena itu, pembelajaran yang hanya bersifat teoritis tanpa melibatkan konteks kehidupan nyata dan pemecahan masalah dapat menyebabkan peserta didik kesulitan dalam memahami serta menginternalisasi nilai-nilai religius dan sikap sosial secara mendalam.
Banyak yang beranggapan bahwa nilai penanaman sosial dan nilai religius sulit untuk diterapkan pada peserta didik dalam mata pelajaran PKn. Hal ini disebabkan karena model yang digunakan terlalu monoton dan membosankan dan yhanya mementingkan hafalan pada materi yang diajarkan sehingga peserta didik tidak mempunyai pengalaman secara langsung. Penerapan model PBL dapat menjadi fondasi yang pentig sebelum mengharapkan prilaku siswa.
Melalui studi lapangan di MI Daru Ulum Jotosanur, peneliti melakukan observasi dan kegiatan wawancara. Hasil observasi menunjukkan bahwa sekolah tersebut berusaha menerapkan pebiasaan diskusi kelompok berbasis masalah nyata (PBL) setelah kegiatan pagi yaitu sholat dhuhah berjamaah dan mengaji bersama sebelum pembelajaran utama dimulai. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti mendapatkan penjelasan dari guru mapel yang menjelaskan bahwa pelibatan siswa dalam memecahkan masalah sehari-hari adalah cara untuk mengonkritkan konsep religiusitas dan kepedulian sosial. Proses ini membutuhkan konsentrasi dan empati penuh, karena antara tindakan solusi yang diambil harus relevan dengan nilai moral yang diajarkan. Guru tersebut juga mengungkapkan bahwa masih ada sebagian peserta didik yang kesulitan menyelaraskan antara teori etika yang dihafal dengan tindakan nyata saat berdiskusi.[7]
Konsep yang diterapkan di MI Darul Ulum Jotosanur terkait pemecahan masalah ini selaras dengan pernyataan bahwa aktivitas motorik dan kognitif dalam pembelajaran aktif adalah cerminan pemahaman mendalam anak terhadap nilai-nilai karakter. Melalui pembiasaan menghadapi kasus nyata, daya ingat dan kepekaan nurani peserta didik terhadap nilai religius dan sosial dapat meningkat secara signifikan. Dengan demikian, model PBL tidak hanya mendukung kecerdasan berpikir, tetapi juga memperkuat internalisasi akhlak anak.[8] Namun, peneliti juga mendapatkan informasi dari wawancara dengan beberapa peserta didik kelas rendah di MI tersebut, yang menyatakan bahwa mereka masih merasa kesulitan dalam menghubungkan pesan moral agama dengan solusi praktis dalam konflik sosial yang ajarkan.
Adapun tahapan tahapan dala model PBL
Dengan adanya tahapan-tahapan tersebut, pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL) diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang lebih aktif, kritis, dan bermakna bagi peserta didik. Setiap langkah yang dirancang tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menekankan pada proses berpikir, kerja sama, serta kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah secara sistematis. Selain itu, model PBL juga memerlukan bantuan media maupun alat bantu agar pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan mampu mendukung pemahaman peserta didik secara optimal. Salah satu media yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran adalah media video. Penggunaan video dinilai praktis dan mampu menarik perhatian siswa sejak awal pembelajaran. Dengan menggabungkan gambar, suaram dan gerak, video mempermudah pemahaman materi dibanding metode konvensional sekaligus meningkatkan keterliabatan dan motivasi belajar. Tampilan yang interaktif membuat siswa lebih focus dan aktif mengikuti proses pembelajaran [10]. Peneliti juga mendapatkan informasi dari hasil wawancara dengan beberapa peserta didik kelas 3 di MI Darul Ulum Jotosanur, Mereka cenderung masih bingung antara nilai yang diucapkan dengan penerapan perilaku yang harus dilaksanakan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif seperti Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran serta membantu mereka memahami nilai-nilai sosial dan moral secara lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Problem Based Learning (PBL) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, empati, serta tanggung jawab sosial peserta didik karena siswa dilibatkan secara aktif dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.[10] Integrasi pembelajaran berbasis masalah dengan pengembangan sosial emosional dalam pembelajaran di sekolah dasar dapat mendukung perkembangan karakter siswa, termasuk sikap sosial dan kemampuan bekerja sama dalam kelompok.[11] Penerapan model PBL dalam pembelajaran dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam diskusi, kemampuan menyampaikan pendapat secara santun, serta pemahaman terhadap nilai-nilai moral dan sosial. Dengan demikian, model pembelajaran ini dinilai efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran yang bertujuan membentuk karakter peserta didik.[3]
Berdasarkan paparan hasil terdahulu tersebut, dapat dipahami bahwa pembelajaran PKn memiliki peran penting dalam menanamkan nilai religius dan sikap sosial kepada peserta didik. Namun, implementasi pembelajaran tersebut masih memerlukan pendekatan yang lebih efektif agar nilai-nilai tersebut dapat tertanam secara optimal pada diri siswa.
Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan guna menganalisis bagaimana proses pembelajaran PKn dalam menanamkan nilai religius dan sikap sosial melalui model Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas III di MI Darul Ulum Jotosanur. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, strategi yang digunakan dalam menanamkan nilai karakter, serta dampak penerapan model Problem Based Learning (PBL) terhadap perkembangan nilai religius dan sikap sosial peserta didik.[1]
Hasil penelitian diharapkan mendukung pengembangan pembekajaran PKn yang lebih efektif dalam membentuk karakter, khususnya nilai religius dan sikap social siswa MI. Keterbaruan penelitian ini terletak pada integrasi Problem Based Learning (PBL) dengan media video untuk menanamkan nilai religius dan sikap social pada siswa sekolah dasar.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya hanya mengkaji efektivitas PBL terhadap aspek kognitif atau sosial secara umum, penelitian ini secara spesifik menyoroti proses internalisasi nilai religius dan sosial melalui pengalaman belajar berbasis masalah nyata yang didukung media visual. Selain itu, penelitian ini juga memberikan gambaran kontekstual mengenai implementasi PBL di lingkungan madrasah ibtidaiyah yang memiliki karakteristik religius, sehingga memberikan kontribusi praktis berupa model pembelajaran yang lebih aplikatif dalam membentuk karakter siswa.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian kualitatif deskriptif adalah metode yang menekankan pada pemahaman terhadap kualitas, karakteristik, serta hubungan antar fenomena untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai suatu keadaan, baik yang terjadi secara alami maupun yang dibuat oleh manusia.[12] Sementara itu, studi kasus digunakan sebagai pendekatan untuk membantu peneliti dalam mengkaji secara mendalam suatu realitas yang terjadi di lapangan berdasarkan berbagai sumber data yang tersedia. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis bagaimana pembiasaan dalam menyelesaikan masalah nyata dapat memperkuat internalisasi nilai-nilai Pancasila serta meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.[13]
Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas III MI Darul Ulum Jotosanur serta guru mata pelajaran PKn di kelas tersebut. Fokus penelitian diarahkan untuk memahami bagaimana proses pembelajaran PKn diterapkan dalam menanamkan nilai religius dan sikap sosial melalui model Problem Based Learning (PBL). Untuk memperoleh data yang valid, peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi guna menangkap informasi dari berbagai perspektif, baik pengalaman guru maupun respons siswa selama pembelajaran. Sumber daya terdiri dari data primer, diperoleh langsung dari guru dan siswa kelas III PKn, serta data sekunder dari dokumen dan literatur terkait, termasuk RPP, catatan observasim dan referensi tentang PBL serta penanaman nilai religius dan social di SD. Analisis data mengikuti model Miles and Huberman, meliputi pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan Kesimpulan [15].
Dalam penerapan pemlajaran PKn yang di lakukan oleh guru di jenjang sekolah dasar selalu dijumpai adanya pembiasaan pada materi penerapan pancasila di setiap ayat-ayat pancasila. Di MI Darul Ulum Jotosanur, pembelajaran PKn menggunakan Model PBL dengan menayangkan video yang difokuskan pada materinya saja. Hal ini didapatkan peneliti dalam kegiatan observasi secara langsung di sekolah tersebut.[13] Didukung dengan ungkapan guru PKn dalam kegiatan wawancara yang menyatakan:
Penggunaan model konvensional seperti ceramah cenderung membuat anak-anak cepat bosan, mengatuk, bahkan asik sendiri. Tapi saat saya menggunakan model PBL dengan bantuan video, respon mereka berubah menjadi sangat antusias. Media tersebut menjadi pemantik yang kuat untuk menarik perhatian siswa dan focus pada materi yang sedang di bahas.”
Sesuai yang disampaikan oleh guru mapel tersebut menunjukkan bahwa tujuan diterapkannya model PBL dengan bantuan video siswa menjadi tertarik sehingga siswa aktif dan fokus pada materi yang sedang di bahas. penerapan model Problem Based Learning yang didukung oleh media video mampu dapat meningkatkan minat dan fokus belajar peserta didik, serta membantu proses penanaman nilai-nilai Pancasila menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami dalam konteks kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dideskripsikan dari hasil analisis proses pembelajaran melalui penerapan model Problem Based Learning dalam penanaman nilai religius dan sikap sosial. Analisis tersebut mencakup beberapa aspek, di antaranya langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran, kelebihan dan kelemahan model yang digunakan, serta hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam proses penerapannya di kelas.
Temuan ini sesuai dengan kontruktivisme, di mana pengalaman langsung melalui masalah nyata dan media video dalam PBL membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai Pancasila. Pendekatan multimedia juga meningkatkan pemahaman dan daya ingat dibanding ceramah.
Secara lebih kritis, temuan ini juga menunjukkan kesesuaian dengan hasil penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman konseptual karena siswa terlibat langsung dalam proses belajar. Namun, penelitian ini memberikan penekanan tambahan bahwa keberhasilan tersebut semakin kuat ketika didukung oleh media visual yang mampu mengkonkretkan konsep abstrak, sehingga tidak hanya meningkatkan aspek kognitif tetapi juga afektif siswa.
Bedasarkan hasil pengamatan peneliti, di MI Darul Ulum dilakukan pembiasaan dalam pembelajaran melalui kegiatan yang melibatkan keaktifan siswa secara langsung. Dalam konteks penelitian ini, peneliti menerapkan model PBL yang diamati melalui respons dan keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Peneliti mengamati bahwa sebelum kegiatan tersebut menjadi pembiasaan, terdapat proses pengenalan yang dilakukan secara bertahap kepada siswa. Penerapan ini membuat siswa lebih aktif berpartisipasi, memahami materi, dan mengaitkannya dengan situasi nyata. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan PBL meningkatkan keterlibatan dan berpikir kritis siswa melalui pemecahan masalah kontesktual, sehingga mendukung efektivitas PBL berbasis nilai.
Hal ini terlihat dari bagaimana siswa merespons setiap permasalahan yang diberikan serta keterlibatan mereka dalam diskusi dan kerja sama kelompok selama pembelajaran. Dalam penerapan yang dilakukan secara langsung oleh peneliti, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang diterapkan kepada peserta didik dengan tujuan untuk menanamkan dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila secara lebih bermakna. Proses pembelajaran ini dilakukan dengan memaparkan materi secara sistematis melalui media video yang disiapkan sebelumnya, sehingga siswa dapat melihat contoh nyata, memahami konteks penerapan nilai-nilai Pancasila, dan lebih mudah mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Video tersebut dapat diakses melalui link berikut https://youtu.be/XaMRSuZSt0E?si=T_dbBCRl8Hv27Mju, dan berfungsi sebagai sarana visual yang mempermudah pemahaman siswa, sekaligus meningkatkan keterlibatan, perhatian, dan motivasi mereka dalam mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.
Penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran PKn dilakukan dengan dukungan media audio visual dan disesuaikan dengan standar proses pembelajaran yang berlaku, yang merupakan implementasi dari langkah-langkah dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kegiatan pembelajaran mencakup tahap awal, kegiatan inti yang meliputi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, serta diakhiri dengan kegiatan penutup. Penggunaan media audio visual terbukti meningkatkan antusiasme siswa karena suasana pembelajaran menjadi lebih interaktif dan berbeda dari metode konvensional.
Dalam penerapannya, Pada tahap pendahuluan, guru dapat memulai pembelajaran dengan memberikan pertanyaan pemantik kepada siswa, misalnya “Bagaimana kita menolong teman yang membutuhkan?” atau “Apa yang harus dilakukan jika melihat teman berperilaku tidak jujur?” Pertanyaan ini bertujuan untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan refleksi awal siswa terhadap nilai religius dan sikap sosial.
Guru memulai dengan orientasi masalah terkait nilai religius dan sikap sosal menggunakan media video, sehingga konsep lebih konkret dan mudah dipahami siswa tahap operasional konrekt. Persiapan dengan pertanyaan pematik mendorong siswa berpikir kritis dan siap mengikuti kegiatan inti, termasuk diskusi kelompok, identifikasi, dan pemecahan masalah. Pada tahap inti, siswa mengekplorasi permaslahan penerapan nilai Pancasila dan mengorganisir informasi tentang sikap social di lingkungan kelompok untuk menganalisis penerapan nilai Pancasila secara nyata, belajar bekerja sama, menyampaikan pendapat, dan menghargai perbedaan, sehingga pemahaman nilai, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan social meningkat. Selanjutnya, tahap konfirmasi digunakan untuk menyajikan hasil kerja kelompok dan menganalisis proses pemecahan masalah sehingga siswa dapat merefleksikan pembelajaran Pada kegiatan ini, saya menjelaskan dan meluruskan pembelajaran melalui pemaparan menggunakan media PPT interaktif yang dimana di dalamnya terdapat;
Setelah memperoleh landasan konsep melalui PPT, siswa menganalisis perilaku social di kelas tiga dengan pendekatan PBL, mengidentifikasi fenomena interaksi harian. Dan mencari Solusi atas kendala penerapan nilai Pancasila. Pada tahap penutup, guru meninjau Kembali materi, menekankan hubungan nilai religius dan sikap social, serta mengevaluasi pemahaman melalui tanya jawab atau refleksi singkat, sekaligus mendorong siswa mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman sehari-hari agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Dari uraian mengenai penerapan media visual dan nilai-nilai Pancasila di atas, menunjukkan bahwa pendekatan ini diterapkan bukan hanya untuk menciptakan suasana belajar yang interaktif, melainkan lebih diprioritaskan pada ketercapaian target afektif peserta didik. Oleh karena itu, guru mengarahkan peserta didik untuk membiasakan refleksi nilai-nilai sosial secara konsisten setiap sebelum pembelajaran, yang kemudian dipraktikkan secara langsung dalam interaksi harian di lingkungan sekolah.
Kondisi ini sesuai dengan teori perkembangan kognitif yang menyatakan bahwa siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan bantuan media visual untuk memahami konsep abstrak. Oleh karena itu, penggunaan video dalam PBL menjadi strategi yang tepat untuk menjembatani pemahaman nilai religius dan sosial.
Penerapan model Problem-Based Learning (PBL) dalam penanaman karakter tidak hanya menekankan hasil akhir, tetapi lebih pada proses bagaimana siswa memahami dan menerapkan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan saat menghadapi masalah nyata. Melalui proses ini siswa belajar berpikir, bersikap, dan mengambil Keputusan berdasarlam nilai-nilai yang diajarkan.PBL mendorong siswa menjadi lebih kritis dan reflektif, namun penerapannya memerlukan penyesuaian dari guru dan manajemen kelas. Oleh karena itu, pemahaman kelebihan PBL penting untuk memastikan implementasi yang efektif dalam pembelajaran:
Sedangkan kekurangan dari model PBL adalah
Secara teoretis, hal ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran berbasis nilai (value-based learning) yang menekankan bahwa internalisasi nilai terjadi melalui pengalaman, refleksi, dan praktik nyata, bukan sekadar hafalan. PBL memberikan ruang bagi proses tersebut sehingga nilai lebih mudah tertanam dalam diri siswa.
Jika dilihat dari praktik di kelas, kelebihan ini tampak ketika siswa mampu mengaitkan nilai religius dengan tindakan sehari-hari, misalnya menunjukkan sikap tolong-menolong atau menghargai pendapat teman. Namun, kelemahan seperti dominasi siswa tertentu dalam diskusi juga terlihat nyata, sehingga guru perlu strategi seperti pembagian peran agar partisipasi lebih merata.
Penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada materi nilai religius dan sikap sosial di kelas tiga sekolah dasar menghadapi hambatan yang cukup kompleks, terutama terkait dengan tahap perkembangan kognitif siswa yang masih berada pada fase operasional konkret. Hambatan utama muncul ketika siswa diinstruksikan untuk membedah permasalahan sosial yang bersifat abstrak; mereka cenderung hanya mampu melihat fenomena di permukaan tanpa bisa menarik benang merah mengenai penyebab mendasar dari suatu krisis moral atau sosial. Secara teknis, keterbatasan waktu menjadi kendala yang signifikan karena sintaks PBL—mulai dari orientasi masalah hingga presentasi solusi—membutuhkan durasi yang panjang, yang sering kali tidak sejalan dengan alokasi waktu kurikulum di kelas. Belum lagi adanya kesenjangan tingkat literasi dan kemampuan berkomunikasi antar siswa yang menyebabkan proses identifikasi masalah berjalan lambat dan tidak merata, sehingga tujuan internalisasi nilai tidak tersampaikan secara menyeluruh kepada setiap individu.
Tantangan yang muncul pun tidak kalah berat, di mana guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik yang tinggi untuk berperan sebagai fasilitator yang mampu mengarahkan tanpa mendikte, sebuah transisi peran yang sulit dilakukan jika guru terbiasa dengan metode ekspositori. Menjaga kondusivitas emosional siswa saat berdiskusi mengenai nilai-nilai sensitif juga menjadi tantangan tersendiri; guru harus mampu mengubah konflik pendapat di dalam kelompok menjadi laboratorium praktik nyata bagi sikap toleransi dan kerja sama.
Tantangan utama penerapan PBL terletak oada penilaian autentik, di mana guru harus mengukur perubahan karakter dan refleksi religius siswa secara objektif, sambil menghadapi pengaruh lingkungan dan pola asuh yang mungkin bertentangan dengan nilai sekolah. Untuk mengoptimalkan PBL, guru dapat menyederhanakan masalah sesuai pengamalan nyata siswa, menggunakan media menarik seperti gambar, cerita, atau permainan peran, serta menjalin kolaborasi dengan orang tua agar internalisasi nilai religius dan social berlangsung konsisten. Dengan strategi tepat dan dukungan berbagai pihak, PBL dapat berjalan efektif. Secara kesleuruhan, efektivitas PBL bergantung pada integrasi teori pembelajaran, karakteristik siswa, media, dan konteks kelas, sehingga penerapannya perlu adaptif dan reflektif untuk memberikan dampak optimal pada pembentukan karakter siswa.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai religius dan sikap sosial pada peserta didik sejak dini, khususnya di jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, melatih kemampuan berpikir kritis, serta membantu siswa mengaitkan nilai-nilai moral dan sosial dengan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan media seperti video dan PPT interaktif membantu meningkatkan minat, focus, dan pemamahan siswa. PBL memberikan pengalaman belaajr bermakna, mendorong siswa menginternalisasi nilai religius dan sikap social melalui pemecahan masalah, serta melatih toleransi, tanggung jawab, dan empati. Meski demikian, keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan siswa, kesiapan guru, serta pengaruh lingkungan keluarga dan pergaulan menjadi tantangan. Strategi tepat, kreativitas guru, dan kerja sama sekolah orang tua diperlukan agar PBL berjalan optimal. Dengan penerapan konsisten dan dukungan semua pihak, PBL berpotensi membentuk karakter siswa yang cerdas, berakhlak baik, dan peduli social.
Implikasi praktis dari penelitian ini adalah guru disarankan untuk merancang pembelajaran PKn berbasis Problem Based Learning dengan menghadirkan permasalahan nyata yang dekat dengan kehidupan siswa serta memanfaatkan media seperti video dan PPT interaktif agar pembelajaran lebih konkret dan menarik. Guru juga perlu mengelola diskusi kelompok secara efektif agar semua siswa terlibat aktif serta menanamkan nilai secara konsisten melalui refleksi di akhir pembelajaran. Selain itu, sekolah diharapkan mendukung dengan menyediakan fasilitas pembelajaran yang memadai dan mendorong kolaborasi dengan orang tua agar penanaman nilai religius dan sikap sosial dapat berlanjut di lingkungan rumah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya penelitian ini, khususnya kepada pihak MI Darul Ulum Jotosanur, guru, serta siswa kelas III yang telah berpartisipasi aktif. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan sehingga artikel ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam pengembangan pembelajaran PKn.
[1] D. B. Sanjaya and N. Swastika, “Pembelajaran PKN Berbasis Problem Based Learning dalam Upaya Meningkatkan Integritas Nasionalisme Siswa Kelas VI,” vol. 9, no. 4, pp. 644–650, 2025.
[2] P. Jenjang and S. Dasar, “ELSE ( Elementary School Education Journal ),” vol. 4, pp. 9–19, 2020.
[3] R. Pada et al., “Penerapan Problem Based Learning Dalam Menanamkan Nilai-Nilai The application of Problem Based Learning in Habituating Religious Values in Students at MA Nurul Islam Gunung Sari Abstract,” vol. 1, no. 1, pp. 13–20, 2023.
[4] P. P. Pancasila, “Al-Madrasah : Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah , Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta , Indonesia Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah , Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta , Indonesia Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah , Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang , Indonesia Abstrak,” vol. 7, no. 2, pp. 627–637, 2023, doi: 10.35931/am.v7i2.1928.
[5] K. A. Wisudayanti, “Pengembangan Kecerdasan Emosional Siswa di Sekolah Dasar Melalui Penanaman Pendidikan Karakter,” vol. 1, pp. 135–146, 2020, [Online]. Available: https://consensus.app/papers/pengembangan-kecerdasan-emosional-siswa-di-sekolah-dasar-wisudayanti/fa27bdea732556c8aba9cbb284b70bdd/
[6] U. N. Padang, “1 , 2 , 3 123,” vol. 09, 2023.
[7] J. M. Pendidikan, S. Dwi, K. Syahdania, and P. R. Suryaningtyas, “Integrasi nilai agama dan budaya dalam pendidikan islam multikultural,” vol. 14, no. 01, pp. 234–242, 2026.
[8] S. Islam, M. F. Maulani, P. Melati, and A. Murdayanti, “Meningkatkan Keaktifan Siswa melalui Pembelajaran Kooperatif STAD pada Mata Pelajaran PPKn,” vol. 6, no. 1, pp. 198–213, 2025.
[9] L. Sebagai et al., “1 2 3 4,” vol. 07, pp. 1134–1150, 2022.
[10] J. C. Volume and T. Xii, “Penerapan Model,” vol. 21, no. 1, pp. 16–30, 2021.
[11] “PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn MELALUI MODEL,” pp. 114–121, 2015.
[12] A. Ikhwan, “INTEGRASI PENDIDIKAN ISLAM ( Nilai-Nilai Islami dalam Pembelajaran ),” 2003.
[13] D. Sugiharto et al., “PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN PADA MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN METODE SCAFFOLDING MATERI PELUANG,” vol. 8, pp. 229–243, 2025.
[14] R. Murdaningrum, S. Purwati, and E. N. Safitri, “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING ( PBL ) BERBANTUAN VIDEO ANIMASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PESERTA DIDIK DI KELAS VII B SMP NEGERI 10 SEMARANG,” pp. 94–102.
[15] M. C. Ngadha et al., “Internalisasi Nilai Sila Ke-2 Pancasila dalam Memperkuat Toleransi di SMP Negeri 5 Balfai Penfui Timur Kupang,” vol. 2, 2024.