Login
Section Education

Local Wisdom and Santri Culture Integration in Character Formation


Integrasi Kearifan Lokal dan Budaya Santri dalam Pembentukan Karakter
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Dina Briliana Hamidah (1), Retno Nuzilatus Shoimah (2), Winnuly Winnuly (3)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
(3) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Education plays a strategic role in shaping human resources not only cognitively but also in developing character and ethics from an early age. Specific Background: The advancement of globalization and technology has led to moral value shifts, while character education in elementary schools remains less contextual, particularly within Islamic educational settings. Knowledge Gap: Studies focusing on the integration of local wisdom through santri culture in Islamic elementary schools within pesantren environments are still limited. Aims: This study aims to analyze the implementation of local wisdom-based education through santri culture in shaping students’ character and ethics at SDI Tanwirul Qulub. Results: Using a qualitative case study approach with observation, in-depth interviews, and documentation, the findings show that the integration is implemented through habituation, exemplary behavior, and hidden curriculum, where santri culture as religious local wisdom fosters respectful attitudes, discipline in worship, social ethics, and student confidence. Novelty: This study offers an integrative model of character education based on local wisdom by positioning santri culture as a form of religious local wisdom internalized through daily practices in a pesantren-based elementary school context. Implications: The findings provide a conceptual and practical alternative for strengthening character education in Islamic elementary schools through the integration of formal learning and pesantren cultural values.


Highlights
• Integration of school curriculum with pesantren traditions shapes moral development
• Daily habituation and role modeling build discipline, respect, and social ethics
• Collaborative roles of teachers and caregivers sustain value internalization


Keywords
Local Wisdom Education; Santri Culture; Character Formation; Ethics Education; Islamic Elementary School

Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia, tidak hanya pada aspek pengetahuan tetapi juga pada pembentukan karakter dan etika peserta didik. Pada jenjang sekolah dasar, Pendidikan penting untuk membentuk moral dan social anak melalui kebiasaan dan nilai yang memengaruhi perilaku. Karena itu, Pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai moral, tanggung jawab, dan sikap social sejak dini. Pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena bertujuan membentuk siswa yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif, tetapi juga memiliki kepribadian yang berakhlak dan mampu hidup secara harmonis dalam masyarakat.[1]

Dalam konteks pendidikan modern, muncul berbagai fenomena yang menunjukkan terjadinya perubahan perilaku pada generasi muda. Perkembangan teknologi, arus globalisasi, serta perubahan pola interaksi sosial membawa dampak terhadap pergeseran nilai-nilai moral di kalangan peserta didik. Fenomena menurunnya sikap disiplin, berkurangnya rasa hormat terhadap guru, serta lemahnya kepedulian sosial menunjukkan bahwa pendidikan karakter masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang hanya berfokus pada aspek akademik belum cukup untuk membentuk karakter peserta didik secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai moral, budaya, dan sosial yang relevan dengan kehidupan peserta didik.[2]

Pendidikan berbasis kearifan local efektif membentuk karakter karena memuat nilai moral, etika, dan normal yang dekat dengan kehidupan siswa. pendekatan ini membantu pemahaman kontekstual sekaligus melestarikan budaya dan memperkuat identitas social [3]. Dalam pendidikan Islam, pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki tradisi kuat dalam menanamkan nilai karakter melalui berbagai aktivitas kehidupan santri. Sistem pendidikan di pesantren tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal di kelas, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari yang sarat dengan nilai religius, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap guru dan sesama. Budaya santri seperti kegiatan ibadah berjamaah, hidup sederhana, gotong royong, serta sikap ta’dzim kepada guru merupakan bagian dari proses pendidikan karakter yang dilakukan secara berkelanjutan. Nilai-nilai tersebut sering kali ditanamkan melalui praktik kehidupan sehari-hari atau yang dikenal sebagai hidden curriculum, yaitu pembelajaran nilai yang tidak selalu diajarkan secara formal dalam kelas tetapi terinternalisasi melalui kebiasaan dan keteladanan dalam lingkungan pesantren.[4]

Penelitian menunjukkan integrasi kearifan local di pesantren efektif membentuk karakter. Perpaduan nilai budaya dan agama serta pembiasaan dan keteladanan menanamkan nilai religius, tanggung jawab, kemandirian, dan solidaritas, sehingga menjadi model Pendidikan karakter yang efektif [5]. Meskipun demikian, berbagai penelitian yang ada masih banyak menyoroti pendidikan karakter berbasis kearifan lokal pada sekolah umum atau pada konteks budaya masyarakat tertentu. Kajian tentang integrasi kearifan local melalui budaya santri dalam pembentukan karakter siswa SD di lingkungan pesantren masih terbatas, padahal sekolah berbasis pesantren masih memiliki kekhasan dalam memadukan Pendidikan formal dengan nilai religius, sehingga penting untuk memahami internalisasi nilai tersebut.

Penelitian ini menganalisis penerapan kearifan local melalui budaya santri di SDI Tanwirul Qulub serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter dan etika siswa. Selain itu, penelitian ini juga memiliki urgensi dalam memberikan kontribusi teoretis maupun praktis bagi pengembangan model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal pada lembaga pendidikan Islam, khususnya pada jenjang sekolah dasar yang berada di lingkungan pesantren. Adapun unsur kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi pendidikan berbasis kearifan lokal dengan budaya santri dalam konteks sekolah dasar di lingkungan pesantren, yang masih jarang dikaji. Berbeda dari studi sebelumnya yang memandang kearifan lokal secara umum, penelitian ini menempatkan budaya santri sebagai kearifan lokal religius yang diinternalisasikan melalui pembiasaan, keteladanan, dan hidden curriculum dalam kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, penelitian ini menyoroti interaksi antara pendidikan formal dan kultur pesantren dalam membentuk karakter dan etika siswa secara holistik, sehingga memberikan kontribusi konseptual berupa model integratif pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dalam pendidikan Islam.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal melalui budaya santri dalam pembentukan karakter dan etika siswa di Sekolah Dasar Islam Tanwirul Qulub. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pengkajian fenomena sosial secara alami serta menekankan pada pemaknaan terhadap praktik pendidikan yang berlangsung dalam suatu lingkungan tertentu. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengeksplorasi pengalaman, pandangan, serta praktik pendidikan yang dilakukan oleh berbagai pihak di lingkungan sekolah dan pesantren. Metode penelitian kualitatif umumnya digunakan untuk memahami fenomena sosial secara lebih mendalam melalui proses pengumpulan data secara langsung di lapangan dengan memanfaatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber informasi utama.[6]

Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study). Penelitian ini menggunakan desan studi kasus untuk memahami secara mendalam praktik Pendidikan di SDI Tanwirul Qulub yang mengintegrasikan kurikulum formal dengan budaya santri dalam membentuk nilai disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, dan religiusitas. Informan dipilih secara purposive meliputi kepala sekolah, guru, pengasuh pesantren, dan siswa.

Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk emngkaji penerapan kearifan local dalam pembelajaran, ibadah, dan interaksi social. Selain observasi, penelitian ini juga menggunakan teknik wawancara mendalam untuk memperoleh informasi yang lebih rinci dari para informan. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan menggunakan panduan pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Teknik ini memberikan ruang bagi informan untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka secara lebih luas terkait pelaksanaan pendidikan berbasis kearifan lokal serta pengaruhnya terhadap pembentukan karakter dan etika siswa. Data dikumpulkan melalui dokumentasi sebagai pelengkap sumber tertulis dan visual. Peneliti bertindak sebagai intrumen utama yang melalukan observasi, wawancara, dan pengumpulan dokumen dengan bantuan perdoman penelitian. Analisis data menggunakan model interaktif melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan menyederhanakan serta menyajikan data secara naratif agar mudah dipahami.

Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan setelah seluruh data dianalisis secara menyeluruh sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal melalui budaya santri dalam pembentukan karakter dan etika siswa. Model analisis data tersebut banyak digunakan dalam penelitian kualitatif karena memungkinkan proses analisis dilakukan secara terus-menerus selama penelitian berlangsung.[7]

Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan menggunakan beragam teknik pengumpulan data. Dengan menggunakan triangulasi, peneliti dapat memastikan bahwa data yang diperoleh memiliki tingkat validitas yang lebih tinggi sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Implementasi Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Berdasarkan hasil penelitian di SDI Tanwirul Qulub, implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal diwujudkan melalui integrasi antara kurikulum sekolah dasar dengan nilai-nilai budaya pesantren. Integrasi ini tidak hanya tampak pada kegiatan pembelajaran formal, tetapi juga pada program-program unggulan dan pembiasaan harian siswa. Sekolah memiliki beberapa program unggulan seperti program hafalan 100 hadis shahih pilihan, kelas tahfidz, hafalan surat-surat pendek dan doa sehari-hari, serta kelas minat dan bakat. Program-program tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai religius dan akhlak. Selain itu, implementasi kearifan lokal juga terlihat dari pembiasaan harian seperti membaca Al-Qur’an dan Juz 30 secara tartil sebelum pembelajaran dimulai, serta pengulangan hafalan hadis beserta maknanya. Siswa yang telah menyelesaikan hafalan Juz 30 mengikuti kegiatan tasmi’ yang disaksikan oleh guru dan seluruh siswa sebagai bentuk evaluasi sekaligus motivasi. Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa:

“Program-program ini tidak hanya menekankan pada aspek akademik , tetapi juga bertujuan membentuk karakter dan akhlak santri pada diri siswa .” (NA)

Dengan demikian, implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal di SDI Tanwirul Qulub dilakukan secara menyeluruh melalui perpaduan antara program akademik, kegiatan keagamaan, dan pembiasaan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bentuk Budaya Santri

Budaya santri di SDI Tanwirul Qulub diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dan pembiasaan yang dilakukan secara rutin oleh siswa. Budaya tersebut mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal khas lingkungan pesantren. Bentuk budaya santri yang ditemukan antara lain:

a. Pembiasaan salam dan sikap hormat kepada guru

b. Menundukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua

c.Mencium tangan guru dengan kedua tangan

d. Penggunaan bahasa Jawa krama (halus) dalam komunikasi

e. Kegiatan religius seperti shalat dhuha dan shalat dhuhur berjamaah

Selain itu, terdapat juga kegiatan praktik keagamaan seperti fikih praktik dan pembiasaan toilet training yang mengajarkan kebersihan sebagai bagian dari nilai religius.

a. Budaya santri juga diperkuat melalui kegiatan tambahan seperti:

b. Ekstrakurikuler (public speaking, pramuka, qiro’ah, calistung, Al-Khidmah)

c. Kegiatan ziarah ke makam para ustadz dan ustadzah pesantren

d. Lingkungan sekolah yang berada dalam kawasan pesantren turut memperkuat internalisasi budaya ini, karena siswa secara langsung menyaksikan kehidupan santri sehari-hari.

e. Peran Stakeholder

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal tidak terlepas dari peran berbagai pihak, yaitu kepala sekolah, guru, dan pengasuh pesantren. Kepala sekolah dan guru berperan dalam merancang serta melaksanakan program pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai pesantren ke dalam kegiatan pembelajaran. Guru juga menjadi teladan dalam perilaku sehari-hari sehingga siswa dapat meniru secara langsung. Sementara itu, pengasuh pesantren memiliki peran penting dalam memberikan arah nilai dan penguatan budaya santri. Hal ini ditegaskan dalam hasil wawancara dengan pengasuh pesantren:

“Yang diutamakan adalah ilmu adab atau etika , selain dijadikan mata Pelajaran juga harus dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari .” (AJP)

Selain itu, beliau juga menyampaikan:

Pesantren berperan besar dalam membentuk karakter siswa melalui pembiasaan nilai agama, kedisiplinan , kemandirian , serta akhlak yang baik .” (AJP)

Kerja sama antara sekolah dan pesantren juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembentukan karakter siswa.

Melalui integrasi pembelajaran dan pembiasaan perilaku baik , siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang berahklah mulia dan tanggung jawab .” (AJP)

3. Dampak Terhadap Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal melalui budaya santri memberikan dampak positif terhadap karakter dan etika siswa. Siswa menunjukkan perubahan perilaku seperti:

a. Lebih disiplin

b. Lebih sopan terhadap guru dan orang tua

c.Memiliki kemampuan religius (hafalan, menjadi imam shalat)

d. Terbiasa menggunakan bahasa santun

Hal ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan salah satu siswa:

Melalui integrasi pembelajaran dan pembiasaan perilaku baik , siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan tanggung jawba .” (AJP)

Siswa juga merasa memiliki keunggulan dibandingkan teman sebaya di luar sekolah tersebut:

“Saya bisa berbahasa jawa krama, sementara teman-teman di rumah tidak semuanya bisa .” (AAS)

Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis budaya santri tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan identitas dan kepercayaan diri siswa.

4. Faktor Pendukung dan Penghambat

a. Faktor Pendukung

Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan implementasi pendidikan ini antara lain:

1) Lingkungan sekolah yang berada dalam kawasan pesantren

2) Program pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan

3) Peran aktif guru dan pengasuh pesantren

4) Pembiasaan nilai secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari

b. Faktor Penghambat

Adapun faktor penghambat yang ditemukan antara lain:

1) Perbedaan latar belakang siswa

2) Tingkat pemahaman siswa yang berbeda terhadap nilai-nilai yang diajarkan

3) Konsistensi dalam penerapan pembiasaan yang masih perlu ditingkatkan

Dari hasil penelitian ini dapat dipahami bahwa integrasi pendidikan berbasis kearifan lokal melalui budaya santri di SDI Tanwirul Qulub mampu membentuk karakter dan etika siswa secara efektif melalui pembiasaan, keteladanan, serta lingkungan yang mendukung.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di SDI Tanwirul Qulub, implementasi pendidikan berbasis kearifan lokal tampak melalui integrasi antara kurikulum sekolah dengan budaya pesantren yang diwujudkan dalam berbagai program unggulan. Program seperti hafalan 100 hadis shahih pilihan, kelas tahfidz, hafalan surat-surat pendek, serta pembelajaran doa harian menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga menekankan pada internalisasi nilai religius. Selain itu, adanya kelas minat bakat serta kegiatan ekstrakurikuler seperti public speaking, pramuka, qira’ah, calistung, dan al-khidmah memperlihatkan bahwa sekolah berupaya menyeimbangkan antara pengembangan intelektual dan karakter siswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian dalam Jurnal Pendidikan Karakter Universitas Negeri Yogyakarta yang menyatakan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif apabila diintegrasikan dalam seluruh aktivitas pembelajaran dan kegiatan sekolah[1]

Dibanding sekolah umum yang umunya menanamkan karakter melalui mata Pelajaran atau kegiatan tertentu, SDI Tanwirul Qulub menerapkan pendekatan lebih komprehensif dengan mengintegrasikan nilai karakter dalam kurikulum dan praktik sehari-hari, sehingga menunjukkan pergeseran dari pendekatan instruksional ke kultural.

Budaya santri diwujudkan melalui pembiasaan rutin seperti berbasis, membaca Al Qur’an dan juz 30, menghafal hadis, tasmi’ shalat dhuha atau duhur berjamaah, serta praktik fikih. Kegiatan ini membentuk disiplin dan religiusitas siswa melalui pembiasaan berkelanjutan [9].

Secara kritis, pembiasaan ini menjadi sarana internalisasi nilai yang lebih efektif karena bersifat kontekstual dan berulang, sehingga membentuk habitus siswa. nilai tersebut tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti memberi salam, menghormati yang lebih tua, mencium tangan guru, dan menggunakan Bahasa Jawa krama.

Lingkungan sekolah yang berada di dalam kawasan pesantren turut memperkuat proses ini karena siswa dapat secara langsung mengamati dan meniru perilaku santri. Kondisi tersebut menunjukkan adanya proses pembelajaran tidak langsung melalui lingkungan atau hidden curriculum, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian pada Jurnal Cakrawala Pendidikan bahwa pembentukan karakter sering kali terjadi melalui kebiasaan dan interaksi sosial yang berlangsung secara alami di lingkungan pendidikan [10].

Jika dibandingkan sekolah non pesantren, lingkungan pesantren yang homogen dan religius lebih mampu menjaga konsistensi nilai, sehingga meminimalkan kesenjangan antara ajaran dan praktik serta membuat internalisasi lebih efektif.

Keberhasilan implementasi juga ditentukan oleh peran stakeholder, terutama guru dan pengasuh pesantren. Nilai utama seperti adab tidak hanya diajarkan, tetapi dicontohkan dalam keseharian. Pesantren berkontribusi melalii pembiasaan nilai agama, disiplin, dan kemandirian, didukung kerja sama sekolah dan pesantren dalam pembelajaran, kegiatan keagamaan, dan komunikasi pendidik. Hal ini selaras dengan penelitian dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan yang menyatakan bahwa sinergi antara lembaga pendidikan formal dan lingkungan sosial-keagamaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan karakter [11].

Analisis menunjukkan bahwa keteladanan guru dan pengasuh lebih berpengaruh daripada pengajaran langsung, sehingga pendidik menjadi role model utama dalam pembentukan karakter. Karakter siswa terbentuk melalui pembiasaan dan keterlibatan dalam kegiatan pesantren yang memberi pengalaman nyata, sehingga memperkuat internalisasi nilai. Hal ini tercermin dari sikap siswa yang lebih disiplin, religius, dan menghargai lingkungan. Keberhasilan ini didukung oleh lingkungan pesantren, program terarah, dan peran aktif pendidik, sehingga diperlukan sinergi antar sekolah, pesantren dan keluarga agar Pendidikan karakter berjalan optimal dan dapat diterapkan di konteks lain dengan penyesuaian.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendidikan berbasis kearifan lokal melalui integrasi budaya santri di SDI Tanwirul Qulub berjalan secara sistematis dan menyeluruh. Proses ini tidak hanya dilaksanakan melalui pembelajaran formal di kelas, tetapi juga diperkuat melalui berbagai program keagamaan, kegiatan unggulan, serta pembiasaan perilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai pesantren.Integrasi ini menunjukkan bahwa Pendidikan karakter menyatu dalam seluruh aktivitas belajar melalui budaya santri yang menanamkan nilai moral lewat pembiasaan sikap hormat, bahasa santun, disiplin ibadah, dan interaksi beradab. Keberhasilannya ditentukan oleh keteladanan dan sinergi guru, kepala sekolah, serta pengasuh pesantren, yang berdampak pada peningkatan religiusitas, kedisiplinan, kemampuan social, etika, dan kepercayaan diri siswa. meski terdapat perbedaan latar belakang siswa, pendekatan ini tetap efektif sehingga memerlukan penguatan kolaboraso antara sekolah, pesantren, dan keluarga. Secara keseluruhan, model ini dapat menjadi alternatif strategis Pendidikan karakter berbasis keagamaan dan layak diterapkan dengan penyesuaian konteks.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada Sekolah Dasar Islam Tanwirul Qulub, para guru, serta siswa yang telah berpartisipasi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan dan dukungan sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat dalam pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal.

References

N. Sari, “Pendidikan berbasis kearifan lokal untuk membentuk karakter siswa sekolah dasar,” Jurnal Penelitian, Pendidikan dan Pengajaran (JPPP), vol. 1, no. 1, pp. 27–37, 2020.

D. Iswatiningsih, “Penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kearifan lokal di sekolah,” Jurnal Satwika, vol. 3, no. 2, p. 155, 2019, doi: 10.22219/satwika.vol3.no2.155-164.

N. Dora, E. Susanti, and R. R. Wandini, “Peran pendidikan berbasis kearifan lokal dalam membentuk karakter siswa di MIS Al-Afkary Batang Kuis,” AR-RIAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 121–132, 2021, doi: 10.29240/jpd.v5i1.

K. Sumardi, “Potret pendidikan karakter di pondok pesantren salafiah,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 3, no. 3, 2013, doi: 10.21831/jpk.v0i3.1246.

A. S. Ichsan, “1366-3832-1-Pb,” vol. 3, no. 1, pp. 1–14, 2020.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, R&D dan Penelitian Pendidikan). Bandung: Alfabeta, 2019.

M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2013.

K. Di and S. Dasar, “Creation strategy of caring communities using comprehensive approach in elementary schools,” pp. 27–42, 1996.

C. Anwar, “Peran budaya pesantren dalam pembentukan karakter siswa,” Journal of Islamic Education Studies, vol. 7, no. 1, 2019.

D. Zuchdi, Z. K. Prasetya, and M. S. M., “Pengembangan model pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran bidang studi di sekolah dasar,” Cakrawala Pendidikan, no. 1, pp. 1–12, 2010.

Kemdikbud, “Penguatan pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 4, no. 1, 2019.

A. Wibowo, “Pendidikan karakter berbasis pengalaman,” Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 24, no. 2, 2018.

I. Suyitno, “Pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa berwawasan kearifan lokal,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 3, no. 1, 2012, doi: 10.21831/jpk.v0i1.1307.

U. Fajarini, “Peranan kearifan lokal dalam pendidikan karakter,” SOSIO-DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, vol. 1, no. 2, pp. 123–130, 2014.

R. Rukiyati, “Model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal pada sekolah dasar di Bantul Yogyakarta,” Jurnal Pendidikan Karakter, 2016.