Login
Section Medicine

Effects of Moderate-Intensity Walking Exercise on Sleep Quality and Cardiopulmonary Capacity in Sedentary Adolescents and Young Adults: A Systematic Review


Walking Exercise Berintensitas Sedang pada Kualitas Tidur dan Kapasitas Kardiopulmoner Remaja dan Dewasa Muda Sedentary: A Systematic Review
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Kartika Arta Dewi (1), Dela Fariha Fuadi (2)

(1) Program Studi Fisioterapi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia, Indonesia
(2) Program Studi Fisioterapi, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

















General Background: Sedentary lifestyle is increasingly prevalent among adolescents and young adults and is associated with metabolic dysfunction, autonomic imbalance, reduced cardiovascular efficiency, and poor sleep quality. Specific Background: Moderate-intensity walking exercise is recognized as a simple aerobic activity that can be easily implemented to support physiological regulation and fitness. Knowledge Gap: However, empirical evidence synthesizing the effects of walking exercise simultaneously on sleep quality and cardiopulmonary capacity in sedentary youth remains limited. Aims: This study aims to systematically synthesize evidence on moderate-intensity walking exercise, including brisk walking, in improving sleep quality and cardiopulmonary capacity among adolescents and young adults with sedentary lifestyles. Results: Based on eight selected studies following PRISMA 2020 guidelines, walking exercise improved sleep quality components such as sleep duration and daytime function, although changes in global PSQI scores were not consistently significant, while cardiopulmonary capacity showed consistent improvement indicated by increased VO₂max/VO₂peak and decreased resting heart rate. Novelty: This study integrates dual outcomes of sleep quality and cardiopulmonary capacity within a single intervention framework focused specifically on sedentary adolescents and young adults, emphasizing intervention characteristics such as duration, intensity, and frequency. Implications: These findings support walking exercise as a practical, accessible, and evidence-based physical activity strategy for promoting cardiopulmonary health and supporting sleep regulation in sedentary populations.


Highlights
• Moderate walking programs increased sleep duration and daytime functioning
• Aerobic capacity gains observed through VO₂max and heart rate changes
• Structured interventions show consistent physiological adaptations


Keywords
Walking Exercise; Sleep Quality; Cardiopulmonary Capacity; Sedentary Lifestyle; Adolescents

















Downloads

Download data is not yet available.

PENDAHULUAN

Sedentary lifestyle muncul sebagai pola perilaku global dengan implikasi signifikan terhadap kesehatan remaja. Analisis lintas 80 negara mengindikasikan bahwa remaja cenderung menunjukkan tingkat aktivitas fisik yang rendah disertai peningkatan waktu sedentari, khususnya pada populasi pelajar perkotaan[1]. Survei Kesehatan Indonesia 2023 melaporkan bahwa 37,4% individu berusia ≥10 tahun melakukan aktivitas fisik yang tidak memadai, sementara hanya 62,6% yang memenuhi tingkat aktivitas yang direkomendasikan[2]. Temuan tersebut juga mengidentifikasi beberapa alasan utama rendahnya aktivitas fisik, meliputi kurangnya waktu (48,7%), kurangnya motivasi (32,6%), faktor usia (19,5%), dan tidak adanya teman berolahraga (9,8%) [3].

Remaja dan dewasa muda di Indonesia saat ini berada dalam kelompok usia yang sangat rentan terhadap pola sedentary lifestyle. Tuntutan akademik yang tinggi, jadwal harian yang padat, dan paparan teknologi digital yang intensif membatasi kesempatan untuk beraktivitas fisik sehari-hari. Survei pada siswa sekolah menengah atas di Jakarta melaporkan frekuensi aktivitas fisik yang rendah disertai tingginya waktu layar harian selama hari sekolah [4]. Pola ini sejalan dengan temuan di Jakarta Barat, dimana 77% dewasa muda diklasifikasikan sebagai kelebihan berat badan hingga obesitas [5].

Gangguan kualitas tidur menjadi salah satu konsekuensi yang paling sering dilaporkan pada remaja dan dewasa muda dengan tingkat aktivitas fisik yang rendah. Stres akademik dan penggunaan perangkat digital secara intensif terbukti berkaitan dengan peningkatan keluhan terkait tidur pada siswa sekolah menengah atas [6]. Survei pada remaja di DKI Jakarta menemukan bahwa 32% mengalami kecemasan, 28% depresi, dan proporsi yang cukup besar melaporkan kualitas tidur yang buruk [7], hal ini mengindikasikan bahwa beban kesehatan mental dan gangguan tidur terjadi bersamaan. Gangguan pola tidur menjadi semakin nyata ketika penggunaan gawai di malam hari mengubah ritme tidur fisiologis dan mengurangi durasi tidur efektif [8].

Penurunan kapasitas kardiopulmoner juga teridentifikasi pada populasi usia sekolah dengan sedentary lifestyle. Kebugaran aerobik yang rendah berkaitan dengan peningkatan risiko kelelahan dini, penurunan toleransi aktivitas, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit tidak menular di kemudian hari [9]. Data longitudinal selama 35 tahun menunjukkan tren penurunan VO₂max pada individu usia sekolah [10].

Latihan aerobik intensitas sedang, seperti walking exercise, merupakan bentuk aktivitas fisik yang sederhana dan mudah dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas kardiopulmoner serta mendukung regulasi fisiologis [11]. Aktivitas ini dapat meningkatkan denyut jantung dan sirkulasi tanpa memberikan beban fisik yang berlebihan [12]. Namun bukti empiris mengenai efektivitas walking exercise terhadap kualitas tidur dan kapasitas kardiopulmoner pada remaja dengan sedentary lifestyle masih terbatas.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya mengkaji aktivitas fisik secara umum atau hanya berfokus pada salah satu luaran (kualitas tidur atau kapasitas kardiopulmoner), penelitian ini menawarkan kebaruan dengan secara simultan mengintegrasikan kedua luaran tersebut dalam satu kerangka analisis berbasis intervensi walking exercise. Selain itu, penelitian ini secara spesifik memfokuskan pada populasi remaja dan dewasa muda dengan sedentary lifestyle, yang selama ini masih relatif kurang dieksplorasi dalam studi intervensi berbasis aktivitas berjalan. Pendekatan sintesis yang digunakan juga menekankan pada karakteristik intervensi (durasi, intensitas, dan frekuensi) sehingga mampu memberikan pemahaman yang lebih aplikatif dibandingkan studi sebelumnya yang cenderung deskriptif. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi kesenjangan literatur, tetapi juga memberikan kontribusi praktis dalam merumuskan rekomendasi aktivitas fisik sederhana yang berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas tidur dan kapasitas kardiopulmoner pada populasi berisiko.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah mengenai efektivitas walking exercise intensitas sedang (termasuk brisk walking) terhadap kualitas tidur dan kapasitas kardiopulomer pada remaja dan dewasa muda dengan sedentary lifestyle. Selain itu penelitian ini secara khusus mengkaji karakteristik studi intervensi yang menggunakan walking exercise pada populasi tersebut serta mengevaluasi efeknya terhadap kualitas tidur yang diukur menggunakan indikator seperti Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan/atau kapasitas kardiopulmoner yang dinilai melalui indikator seperti VO₂max, VO₂peak, kapasitas aerobik, atau ukuran terkait lainnya. Penelitian ini juga mengintegrasikan temuan yang ada untuk memahami konsistensi efek walking exercise pada kedua luaran tersebut. Ruang lingkup tinjauan dibatasi pada studi yang diterbitkan dalam periode tertentu dan dilaksanakan sesuai konteks masing-masing penelitian. Studi yang dikecualikan meliputi desain observasional, studi validasi, narrative review, systematic review, atau meta analisis, penelitian tanpa intervensi berjalan, populasi yang tidak releevan dengan remaja atau dewasa muda sedentari, serta penilaian yang tidak dilaporkan luaran terkait kualitas tidur atau kapasitas kardiopulmoner.

METODE

Penelitian ini menggunakan desain Systematic Literature Review (SLR) mengikuti pedoman PRISMA 2020 (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Seluruh prosedur metodologis diuraikan dengan detail yang memadai agar dapat direplikasi dan dikembangkan oleh peneliti lain berdasarkan hasil yang telah dipublikasikan.

Studi memenuhi syarat untuk disertakan apabila memenuhi beberapa kriteria utama. Kriteria inklusi meliputi: (1) desain penelitian eskperimental atau intervensi, seperti randomized colltrolled trial, kuasi eksperimen, atau studi pre post; (2) populasi berupa remaja atau dewasa muda dengan gaya hidup sedentari; (3) intervensi berupa aktivitas berjalan, termasuk jalan cepat atau walking exercise intensitas sedang; dan (4) laporan minimal satu luaran terkait kualitas tidur melalui PSQI atau kapasitas kardiopulmoner, seperti VO₂max, VO₂peak, denyut jantung istirahat, atau uji kebugaran aerobic. Studi dieksklusi apabila melibatkan populasi dengan kondisi klinis yang tidak berkaitan dengan perilaku sedentari, tidak memiliki intervensi berjalan yang terdefinisi dengan jelas, atau tidak melaporkan satupun ukuran luaran yang ditentukan. Tinjauan dalam bahasa Indonesia atau Inggris yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025 turut dipertimbangkan.

Pencarian literatur sistematis dilakukan pada tiga basis data: PubMed, Scopus, dan Google Scholar, yang diakses melalui perangkat lunak Publish or Perish (PoP) untuk memfasilitasi pengambilan data sitasi secara masif. Sumber tambahan seperti grey literature, laporan organisasi, atau penelusuran manual daftar referensi tidak dimasukkan dalam pencarian utama.

Strategi pencarian dikembangkan menggunakan kerangka PICO. Komponen populasi mencakup remaja, siswa sekolah menengah atas, atau dewasa muda dengan sedentary lifestyle. Intervensi mencakup brisk walking, walking exercise, atau aerobic walking, sedangkan kelompok perbandingan terdiri dari control, tanpa olahraga, atau aktivitas rutin. Luaran yang diukur meliputi kualitas tidur, PSQI, kapasitas kardiopulmoner, VO₂peak, VO₂max, atau Incremental Shuttle Walking Test (ISWT). Kata kunci dan judul yang relevan untuk setiap komponen PICO digabungkan dengan operator Boolean AND/OR untuk meningkatkan spesifisitas pencarian. Seluruh temuan diekspor dalam format RIS dari tiap basis data dan diimpor ke Rayyan untuk manajemen referensi terpusat.

Skrining dan seleksi artikel dilakukan menggunakan perangkat lunak Rayyan. Proses seleksi mencakup dua tahap berurutan: skrining judul dan abstrak, dilanjutkan dengan penilaian teks lengkap pada studi yang berpotensi memenuhi syarat. Setiap rekaman dievaluasi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Fitur blinding pada Rayyan dimanfaatkan untuk meminimalkan bias seleksi selama fase skrining. Keseluruhan proses seleksi, termasuk jumlah rekaman yang diidentifikasi, diskrining, dieksklusi, dan disertakan, disajikan dalam diagram alur PRISMA 2020 (Gambar 1).

  1. Kriteria kelayakan
  2. Sumber informasi
  3. Strategi pencarian
  4. Proses seleksi
  5. Item Data

Ekstraksi data dari setiap studi yang disertakan dilakukan terhadap beberapa variabel. Karakteristik studi mencakup tahun publikasi, bahasa, dan desain penelitian. Karakteristik partisipan meliputi usia, jenis kelamin, dan kriteria sedentary lifestyle. Rincian intervensi mencakup jenis, intensitas, frekuensi, durasi, dan total periode walking exercise, serta kondisi control masing-masing studi. Luaran yang dicatat meliputi skor global PSQI untuk kualitas tidur dan VO₂max, VO₂peak, atau denyut jantung istirahat untuk kapasitas kardiopulmoner, beserta semua titik waktu pengukuran. Jika data tidak jelas, artikel asli ditinjau, dan bila informasi tetap tidak tersedia, dicatat sebagai tidak dilaporkan.

Gambar 1. Pencarian dan seleksi artikel menggunakan metode PRISMA

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil telaah artikel menunjukkan terdapat 8 artikel yang memenuhi kriteria inklusi (lihat Tabel 1).

Tabel 1 Ringkasan Hasil Studi

  1. Hasil Penelitian
  2. Pembahasan

Studi intervensi walking exercise umumnya berasal dari populasi mahasiswa atau komunitas muda yang sehat, sehingga konteks penelitian dilaksanakan di lingkungan kampus atau lingkungan sosial sehari-hari. Sedentary lifestyle digunakan sebagai dasar pemilihan sampel karena kaitannya yang erat dengan penurunan kualitas tidur dan kapasitas kardiopulmoner [15]. Salah satu studi dalam tinjauan ini dilakukan pada remaja laki-laki, mencerminkan upaya yang disengaja untuk mengurangi variabilitas yang berkaitan dengan perbedaan fisiologis berbasis jenis kelamin selama masa remaja. Pendekatan ini sering digunakan untuk memperoleh data yang lebih homogen, mengingat fluktuasi hormonal, komposisi tubuh, dan respons metabolik berbeda antara laki-laki dan perempuan serta dapat memengaruhi hasil latihan. Intervensi yang diterapkan dalam studi-studi ini secara konsisten melibatkan walking exercise intensitas sedang, termasuk brisk walking dan jalan aerobik yang dilakukan secara terstruktur. Program intervensi umumnya mengadopsi pendekatan berbasis langkah atau berbasis durasi, didukung oleh perangkat seperti pedometer untuk memantau kepatuhan dan intensitas aktivitas [13].Latihan dikategorikan sebagai intensitas sedang, ditandai oleh Gerakan ritmis, keterlibatan otot besar, dan mudah diterapkan sehari-hari tanpa fasilitas khusus. Meski homogenitas populasi meningkatkan validitas internal, hal ini membatasi generalisasi hasil ke kelompok lain, seperti Perempuan, usia berbeda, atau individu dengan kondisi Kesehatan tertentu. Selain itu, efek intervensi antar kelompok demografis jarang dianalisis, sehingga variasi respons terhadap walking exercise belum sepenuhnya diketahui. Homogenitas sampel juga dapat menimbulkan bias seleksi, karena populasi sehat lebih responsive terhadap Latihan, sehingga efektivitas intervensi pada kelompok dengan kondisi berbeda atau tingkat sedentary lebih tinggi masih perlu penelitian lebih lanjut.

Durasi intervensi bervariasi antara empat hingga dua belas minggu, dengan frekuensi latihan yang diterapkan hampir setiap hari atau beberapa kali per minggu. Remaja berusia 16–17 tahun cenderung responsif terhadap intervensi latihan fisik karena perkembangan fisiologis yang sedang berlangsung, termasuk peningkatan massa otot melalui proliferasi mitokondria dan sintesis protein kontraktil. Metabolisme energi pada tahap ini mulai menyerupai pola dewasa dengan peningkatan kapasitas glikolitik, meski pemanfaatan lemak tetap dominan selama aktivitas intensitas sedang [21]. Studi menunjukkan bahwa intervensi walking exercise yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan stimulus fisiologis yang cukup untuk memengaruhi parameter tidur dan kebugaran fisik tanpa menimbulkan kelelahan berlebihan. Walking exercise juga banyak dipilih karena tingkat keberlanjutannya yang tinggi dan kemudahannya untuk diintegrasikan ke dalam program kesehatan yang menyasar populasi muda [14]. Namun, terdapat variasi durasi dan frekuensi intervensi antar studi yang dapat memengaruhi konsistensi hasil. Intervensi berdurasi pendek cenderung menunjukkan efek terbatas dibanding jangka panjang, sehingga sulit menentukan dosis Latihan optimal. Tidak semua studi melaporkan kepatuhan peserta secara rinci, yang bisa menimbulkan bias dalam menilai efektivitas. Perbedaan durasi dan frekuensi menunjukkan belum adanya protocol standar, sehingga membatasi perbandingan antar studi dan dapat menyebabkan hasil yang tidak konsisten, terutama pada kualitas tidur yang sensitif terhadap perubahan jangka pendek.

Hasil utama berfokus pada kualitas tidur yang diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index, yang memungkinkan evaluasi multidimensi terhadap komponen tidur seperti durasi, latensi, dan gangguan tidur. Temuan penelitian menunjukkan perbaikan pada aspek seperti kualitas tidur subjektif, durasi tidur, dan fungsi di siang hari setelah periode intervensi yang ditentukan. Perubahan ini mengindikasikan bahwa walking exercise dapat memodulasi regulasi tidur melalui mekanisme fisiologis, termasuk peningkatan homeostasis energi dan penurunan tingkat stres [13]. Peningkatan aktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan pengeluaran energi dan perputaran ATP, yang selanjutnya memacu akumulasi adenosin di otak selama terjaga. Adenosin berperan sebagai faktor tidur homeostatik dengan menghambat sistem neuronal yang memacu kondisi terjaga dan mengaktifkan jalur yang mempromosikan tidur, sehingga meningkatkan tekanan tidur dan memfasilitasi onset tidur [22].

Efek terhadap skor global PSQI tidak selalu mencapai signifikansi statistik antar kelompok, terutama pada studi dengan durasi intervensi yang relatif singkat. Analisis dalam kelompok tetap menunjukkan perbaikan konsisten pada beberapa komponen tidur setelah walking exercise dilakukan secara rutin [13]. Sedentary lifestyle yang lebih tinggi berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk, yang mendukung peran aktivitas fisik sebagai faktor protektif terhadap gangguan tidur [15]. Penurunan aktivitas fisik dapat membatasi akumulasi adenosin, mengakibatkan tekanan tidur yang lebih rendah dan gangguan homeostasis tidur [22].

Secara sintesis, perbedaan hasil antar studi menunjukkan bahwa efek walking exercise terhadap kualitas tidur kemungkinan bersifat moderat dan dipengaruhi oleh faktor lain seperti tingkat stres, pola tidur awal, serta kepatuhan terhadap intervensi. Hal ini menandakan bahwa kualitas tidur merupakan variabel multifaktorial yang tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh aktivitas fisik saja, sehingga interpretasi hasil perlu mempertimbangkan faktor kontekstual lain.

  1. Karakteristik Populasi dan Latar Studi
  2. Durasi dan Implementasi Intervensi
  3. Hasil Kualitas Tidur
  4. Hasil Kapasitas Kardiopulmoner

Kapasitas kardiopulmoner dievaluasi menggunakan indikator seperti VO₂max dan VO₂peak, beserta parameter terkait meliputi denyut jantung istirahat dan performa uji kebugaran aerobik. Aktivitas fisik intensitas sedang umumnya berkaitan dengan pengeluaran energi sekitar 3–6 METs, seperti brisk walking atau bersepeda ringan, meski nilai MET spesifik tidak selalu dilaporkan [23]. Studi intervensi menunjukkan bahwa program aktivitas fisik berbasis berjalan yang dilakukan secara rutin dapat meningkatkan VO₂max secara signifikan sekaligus menurunkan denyut jantung istirahat, mencerminkan peningkatan kapasitas beban kerja jantung dan efisiensi sirkulasi [18].

Studi desain pre–post lebih lanjut menunjukkan bahwa program brisk walking yang dilakukan secara rutin selama enam minggu dengan frekuensi tiga sesi per minggu mampu meningkatkan nilai VO₂max secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol [19]. Pola latihan dengan frekuensi lebih tinggi pada intensitas sedang dapat mempercepat pemulihan vagal pascalatihan, sehingga mendukung manfaat kardiopulmoner [24]. Denyut jantung istirahat menunjukkan korelasi negatif dengan kebugaran kardiopulmoner, di mana peningkatan denyut jantung istirahat berkaitan dengan nilai VO₂max yang lebih rendah [25]. Walking exercise meningkatkan kebuagaran lain seperti fleksibilitas dan kelincahan, yang mendukung performa aerobik [19]. Meski banyak studi melaporkan peningkatan VO₂max, variasi dalam metode pengukuran (uji lapangan vs laboraturioum) dan desain penelitian, termasuk kurangnya kelompok kontrol atau sampel kecil, membatasi kekuatan bukti. Oleh karena itu, diperlukan penelitian eksperimental dengan control variable lebih ketat untuk memastikan hubungan kausal. Dibanding kualitas tidur, kapasitas kardiopulmoner menunjukkan respons yang lebih konsisten antar studi, meski variasi metode pengukuran tetap menjadi potensi bias yang perlu diperhatikan.

KESIMPULAN

Walking exercise intensitas sedang merupakan bentuk aktivitas fisik yang praktis dan efektif bagi remaja dan dewasa muda dengan sedentary lifestyle. Intervensi semacam ini umumnya diterapkan secara terstruktur selama empat hingga dua belas minggu dengan frekuensi yang teratur dan dapat diintegrasikan dengan mudah ke dalam rutinitas harian. Bukti menunjukkan bahwa walking exercise berkontribusi pada peningkatan kualitas tidur, khususnya pada komponen subjektif seperti durasi tidur dan fungsi di siang hari, meski efeknya terhadap skor global Pittsburgh Sleep Quality Index tidak konsisten signifikan. Efek walking exercise pada kapasitas kardiopulmoner relatif konsisten, terlihat dari peningkatan VO₂max dan penurunan denyut jantung istirahat, menunjukkan bahwa intervensi ini memberikan perbaikan fisiologis yang lebih stabil dibanding ukuran subjektif seperti kualitas tidur. Secara praktis, temuan ini mendukung pengembangan program, aktivitas fisik sederhana di sekolah atau komunitas, dengan focus pada konsistensi dan kemudahan akses tanpa fasilitas khusus. Walking exercise dapat dijadikan startegi promotif preventif yang terjangkau dan berkelanjutan bagi Kesehatan remaja. Meski demikian, penelitian ini terbatas oleh heterogenitas desai, variasi durasi intervensi, dominasi pengukuran subjektif untuk kualitas tidur, serta sampel yang relative homogen, sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain eksperimental yang lebih kuat dengan ukuran sampel yang lebih besar dan beragam, serta mengombinasikan pengukuran subjektif dan objektif agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pengaruh walking exercise terhadap kualitas tidur dan kapasitas kardiopulmoner.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa waktu, tenaga, maupun pemikiran dalam penyusunan artikel ini. Semoga hasil kajian ini dapat memberikan manfaat sebagai referensi ilmiah serta menambah wawasan mengenai pentingnya latihan berjalan berintensitas sedang dalam meningkatkan kualitas tidur dan kapasitas kardiopulmoner pada remaja dan dewasa muda sedentary.

References

[1] S. Pechtl, L. Kim, and K. Jacobsen, “Physical Inactivity and Sedentariness: Languorous Behavior Among Adolescents in 80 Countries,” J. Adolesc. Heal., 2022, doi: 10.1016/j.jadohealth.2021.12.017.

[2] S. K. Indonesia, “Aktifitas Fisik Penduduk Indonesia,” Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Accessed: Oct. 27, 2025. [Online]. Available: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/aktifitas-fisik-penduduk-indonesia/

[3] Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI, “Kurang Bergerak: Ancaman Tersembunyi Kesehatan Indonesia,” 2023.

[4] I. Lisetyaningrum, H. Pujasari, and K. Kuntarti, “A Cross-Sectional Analysis of Snacking Habits, Eating Habits, Physical Activity, and Indicators of Obesity Among High School Students in Jakarta, Indonesia,” J. Public health Res., vol. 10, p. 2402, 2021, doi: 10.4081/jphr.2021.2402.

[5] S. O. Lontoh, M. Dzakwan, D. Putra, and M. N. Razaan, “Gaya Hidup Sedentari Dewasa Muda Di Pekojan Jakarta Barat,” vol. 2, no. 1, pp. 195–199, 2024.

[6] T. Argo et al., “Association Between Depression, Anxiety, and Stress with Sleep Quality in Indonesian People During the COVID-19 Pandemic,” Public Heal. Indones., vol. 7, no. 2, 2021, doi: 10.36685/phi.v7i2.409.

[7] H. Lusianawati, S. Sulaeman, G. Sianipar, and D. Rasmita, “The Impact of Digital Lifestyles on Young People’s Health: Social Media Abuse, Physical Inactivity and Psychological Impacts,” West Sci. Interdiscip. Stud., vol. 1, no. 09, pp. 773–782, 2023, doi: 10.58812/wsis.v1i09.211.

[8] K. Siste et al., “Implications of COVID-19 and Lockdown on Internet Addiction Among Adolescents: Data from a Developing Country,” Front. Psychiatry, vol. 12, p. 665675, 2021, doi: 10.3389/fpsyt.2021.665675.

[9] T. Gao et al., “Aerobic Capacity Beyond Cardiorespiratory Fitness Linking Mitochondrial Function, Disease Resilience and Healthy Aging,” FASEB J., vol. 39, no. 11, pp. 1–14, 2025, doi: 10.1096/fj.202500554R.

[10] M. Leone et al., “Secular Trends of Cardiorespiratory Fitness in Children and Adolescents Over a 35-Year Period: Chronicle of a Predicted Foretold,” Front. Public Heal., vol. 10, p. 1056484, 2023, doi: 10.3389/fpubh.2022.1056484.

[11] A. Malandish and M. Rahmati-Yamchi, “The effect of moderate intensity aerobic exercise on cardiovascular function, cardiorespiratory fitness and estrogen receptor alpha gene in overweight/obese postmenopausal women: A randomized controlled trial,” J. Mol. Cell. Cardiol. Plus, vol. 2, no. November, p. 100026, 2022, doi: 10.1016/j.jmccpl.2022.100026.

[12] American College of Sports Medicine, ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription, 11th ed. Wolters Kluwer, 2021.

[13] F. Wang and S. Boros, “Effects of a Pedometer-Based Walking Intervention on Young Adults’ Sleep Quality, Stress and Life Satisfaction: A Randomized Controlled Trial,” J. Bodyw. Mov. Ther., vol. 24, no. 3, pp. 286–292, 2020, doi: 10.1016/j.jbmt.2020.02.005.

[14] F. Wang and S. Boros, “The Effect of Daily Walking Exercise on Sleep Quality in Healthy Young Adults,” Sport Sci. Health, vol. 17, pp. 393–401, 2021, doi: 10.1007/s11332-020-00702-x.

[15] M. K. Edwards and P. D. Loprinzi, Experimentally increasing sedentary behavior results in decreased sleep quality among young adults, vol. 12. Elsevier Ltd, 2017. doi: 10.1016/j.mhpa.2017.04.002.

[16] H. Yahat, “Optimising adolescent health: a comparative study of high-intensity interval training and moderate-intensity continuous training on body composition and cardiovascular fitness in sedentary male youth,” Front. Sport. Act. Living, vol. 7, no. October, 2025, doi: 10.3389/fspor.2025.1655906.

[17] D. R. Lubans et al., “Time-efficient intervention to improve older adolescents’ cardiorespiratory fitness: Findings from the a € Burn 2 Learn’ cluster randomised controlled trial,” Br. J. Sports Med., vol. 55, no. 13, pp. 751–758, 2021, doi: 10.1136/bjsports-2020-103277.

[18] A. Pranoto et al., “Non-pharmacological approach based on physical exercise in the campus environment as a strategy to prevent sedentary lifestyle among university students,” Pedagog. Phys. Cult. Sport., vol. 29, no. 4, pp. 243–252, 2025, doi: 10.15561/26649837.2025.0402.

[19] A. Francis and L. Mathew, “Effectiveness of Brisk Walking on VO2 Max, Agility and Flexibility in Physically Inactive Children,” Int. J. Sci. Healthc. Res., vol. 8, no. 2, pp. 141–156, 2023, doi: 10.52403/ijshr.20230218.

[20] F. R. Mendonça et al., “Effects of aerobic exercise combined with resistance training on health-related physical fitness in adolescents: A randomized controlled trial,” J. Exerc. Sci. Fit., vol. 20, no. 2, pp. 182–189, 2022, doi: 10.1016/j.jesf.2022.03.002.

[21] S. V. Pogodina and G. D. Aleksanyants, “Potential abilities in children, adolescents, and young males during adaptation to physical load in sports swimming,” Hum. Sport Med., vol. 19, no. 2, pp. 45–54, 2019, doi: 10.14529/hsm190206.

[22] L. Huang et al., “Functions and mechanisms of adenosine and its receptors in sleep regulation,” Sleep Med., vol. 115, no. February, pp. 210–217, 2024, doi: 10.1016/j.sleep.2024.02.012.

[23] M. Reuter et al., “Effects on cardiorespiratory fitness of moderate-intensity training vs. energy-matched training with increasing intensity,” Front. Sport. Act. Living, vol. 5, no. January, pp. 1–10, 2023, doi: 10.3389/fspor.2023.1298877.

[24] J. P. Sasso et al., “Investigating the Role of Exercise Pattern in Acute Cardiovagal Recovery,” Med. Sci. Sports Exerc., vol. 57, no. 3, pp. 579–589, 2025, doi: 10.1249/MSS.0000000000003580.

[25] T. I. Gonzales et al., “Resting heart rate is a population-level biomarker of cardiorespiratory fitness: The Fenland Study,” PLoS One, vol. 18, no. 5 May, pp. 1–17, 2023, doi: 10.1371/journal.pone.0285272.