Lovia Vioni Putri Jatmiko (1), Minto Waluyo (2)
General Background: Consumer switching behavior is important in essential service markets because purchasing decisions are shaped by dissatisfaction, alternative attractiveness, and switching barriers. Specific Background: In the fuel industry, consumers may move from local to private providers when prior service experiences reduce trust and create perceptions of higher value from alternative providers. Knowledge Gap: Previous Push Pull Mooring studies have been widely applied in e-commerce, digital banking, and technology-based services, while their application in the fuel industry remains limited, particularly in a model linking switching intention, switching behavior, and continuance intention. Aims: This study aimed to analyze push, pull, and mooring factors on switching intention, switching behavior, and continuance intention among fuel consumers. Results: Using a quantitative approach with covariance-based Structural Equation Modeling through AMOS, data from 140 respondents showed that push factors had a positive and significant relationship with switching intention. Pull and mooring factors were not significant. Switching intention significantly related to switching behavior, and switching behavior significantly related to continuance intention. The modified model met goodness-of-fit criteria, with probability of 0.376, CMIN/DF of 1.045, RMSEA of 0.018, GFI of 0.937, TLI of 0.991, and CFI of 0.994. Novelty: This study applies the Push Pull Mooring framework to consumer switching in the fuel industry. Implications: The findings suggest that providers should prioritize reducing dissatisfaction, strengthening service reliability, and maintaining positive post-switching experiences.
Highlights:
Keywords: Continuance Intention, Push-Pull-Mooring, Structural Equation Modeling (SEM), Switching Intention, Switching Behavior
Push, Pull, and Mooring Factors in Consumer Switching and Continuance Intention in the Fuel Industry : Faktor Push , Pull , dan Mooring dalam Perpindahan serta Keberlanjutan Konsumen pada Industri BBM
Lovia Vioni Putri Jatmiko, 22032010076@student.upnjatim.ac.id (*)
Program Studi Teknik Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur , Indonesia
Minto Waluyo,
(*) Corresponding author
Abstract . This study aims to analyze the effects of push, pull, and mooring factors on switching intention, switching behavior, and continuance intention in the fuel industry. Consumer switching reflects the movement from a local provider to private provider, driven not only by the attractiveness of alternatives but also by dissatisfaction with prior services. This research employs a quantitative approach using covariance-based Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS. Data were collected through questionnaires distributed to fuel consumers in Surabaya who have experience using local and private provider, selected through purposive sampling. The results indicate that push factors have a positive and significant effect on switching intention, while pull and mooring factors are not significant. Switching intention significantly influences switching behavior, which in turn significantly affects continuance intention. In conclusion, consumer switching is primarily driven by dissatisfaction with local providers, and actual switching behavior reinforces continued usage of private providers.
Keywords - Continuance Intention, Push-Pull-Mooring, Structural Equation Modeling (SEM), Switching Intention, Switching Behavior
Perilaku konsumen merupakan aspek penting dalam memahami dinamika pasar, khususnya pada sektor kebutuhan vital seperti bahan bakar minyak (BBM). BBM memiliki peran strategis dalam menunjang mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi 1. Dalam memilih penyedia BBM, keputusan konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti persepsi harga, kualitas layanan, dan tingkat kepuasan 2. Di Indonesia, pasar BBM didominasi oleh penyedia lokal dengan pangsa pasar yang sangat besar, namun dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul alternatif penyedia swasta yang menawarkan harga dan layanan yang lebih kompetitif. Di sisi lain, berbagai isu terkait kualitas produk dan layanan dari penyedia lokal turut memengaruhi persepsi dan tingkat kepercayaan konsumen 3. Penurunan kepercayaan tersebut mendorong sebagian konsumen untuk mempertimbangkan perpindahan ke penyedia alternatif yang dianggap memberikan nilai lebih tinggi, baik dari segi kualitas layanan maupun pengalaman penggunaan.
Fenomena perpindahan konsumen ini tidak terjadi secara sederhana, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor pendorong (push), faktor penarik (pull), serta faktor penghambat (mooring). Model Push, Pull, and Mooring (PPM) yang diperkenalkan oleh Bansal dan banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku perpindahan konsumen dalam berbagai layanan 4. Faktor push menggambarkan ketidakpuasan terhadap penyedia sebelumnya, pull mencerminkan daya tarik penyedia alternatif, sedangkan mooring berkaitan dengan hambatan yang memengaruhi keputusan berpindah 5. Dalam perilaku perpindahan, switching intention mencerminkan niat konsumen untuk berpindah, sedangkan switching behavior merupakan tindakan aktual perpindahan dari satu penyedia ke penyedia lain 6. Setelah perpindahan terjadi, muncul continuance intention, yaitu kecenderungan konsumen untuk terus menggunakan layanan baru 7. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa switching intention berpengaruh positif terhadap switching behavior, yang selanjutnya mendorong terbentuknya continuance intention 89.
Meskipun model PPM telah banyak diterapkan pada sektor seperti e-commerce, perbankan digital, dan layanan berbasis teknologi, penerapannya pada sektor energi, khususnya industri BBM, masih relatif terbatas. Selain itu, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang beragam, terutama terkait peran faktor mooring yang tidak selalu menunjukkan pengaruh yang konsisten 1011. Oleh karena itu, penelitian mengenai penerapan model PPM dalam menjelaskan perilaku perpindahan konsumen pada industri BBM masih terbatas dan perlu dikaji lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut, kebaruan dalam penelitian ini terletak pada penerapan model PPM dalam industri BBM di Indonesia serta pengujian hubungan antara switching intention, switching behavior, dan continuance intention dalam satu model penelitian.
Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian
Pada tahap model pengukuran, dilakukan pengujian untuk melihat hubungan antara variabel laten dengan indikator pembentuknya serta memastikan bahwa setiap indikator mampu merefleksikan konstruk yang diukur. Berikut merupakan gambar model pengukuran dalam penelitian ini.
Selanjutnya, untuk menilai apakah model pengukuran yang dibangun telah sesuai dengan data penelitian, dilakukan uji kesesuaian model (goodness of fit). Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai indeks goodness of fit yang dihasilkan dengan nilai cut off value yang telah ditetapkan dalam SEM. Berikut hasil dari uji goodness of fit pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Uji Goodness of Fit Model Pengukuran
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas, terlihat bahwa sebagian besar kriteria goodness of fit belum memenuhi nilai cut-off yang ditetapkan. Dari beberapa indikator yang diuji, hanya CMIN/DF dan RMSEA yang menunjukkan hasil baik, sementara kriteria lainnya masih berada di bawah standar kelayakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa model belum sepenuhnya memiliki tingkat kesesuaian yang optimal terhadap data penelitian. Selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan bahwa tiap indikator mampu mengukur variabel yang diuji. Berikut merupakan tabel 2 uji validitas dan signifikansi model pengukuran dalam penelitian ini.
Tabel 2. Uji Validitas dan Signifikansi Model Pengukuran
Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh indikator dalam penelitian dinyatakan valid karena memiliki nilai Critical Ration (C.R.) lebih besar 2.S.E 12. Untuk uji signifikansi, suatu indikator dinyatakan signifikan apabila nilai C.R > t-tabel (XX). Pada tingkat signifikansi (α) = 0,05 dengan df = 15, diperoleh nilai t-tabel sebesar 1,753. Pada penelitian ini seluruh indikator memiliki nilai C.R > 1,753 serta nilai probabilitas (p) ≤ 0,05. Sehingga semua indikator dinyatakan signifikan. Selanjutnya dilakukan pengujian reliabilitas model pengukuran, hasil dari uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Uji Reliabilitas Model Pengukuran
Suatu variabel dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai reliabilitas sebesar α ≥ 0,70. Pada penelitian ini seluruh variabel memenuhi kriteria reliabel, sehingga seluruh variabel dalam penelitian ini dinyatakan reliabel. Selanjutnya dilakukan Uji korelasi untuk mengetahui hubungan antarvariabel dalam penelitian ini. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Uji Korelasi
Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antarvariabel dalam penelitian ini. Seluruh nilai korelasi antar variabel ≤ 0,80 sehingga tidak menunjukkan adanya korelasi yang terlalu tinggi. Dengan demikian, measurement model dalam penelitian ini tidak mengalami masalah multikolinearitas.
Gambar 3. Model Struktural
Selanjutnya dilakukan uji kesesuaian model, hasil dari uji Goodness of Fit Model Struktural dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Hasil Uji Goodness of Fit Model Struktural
Pada Tabel 5, seluruh kriteria goodness of fit pada model struktural belum memenuhi nilai cut-off yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa model struktural yang dibangun belum sepenuhnya sesuai dengan data penelitian. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses Modifikasi model dengan melihat nilai modification indices (MI) sebagai dasar penyesuaian model.
Gambar 4. Model Modifikasi
Untuk mengetahui apakah model setelah modifikasi telah memenuhi kriteria kelayakan, dilakukan uji kesesuaian model (goodness of fit) dengan membandingkan nilai indeks yang diperoleh terhadap nilai cut off yang telah ditetapkan. Hasil dari uji goodness of fit model modifikasi dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.
Tabel 6. Hasil Uji Goodness of Fit Model Modifikasi
Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar kriteria goodness of fit telah memenuhi nilai cut-off yang ditetapkan kecuali nilai AGFI berada sedikit di bawah 0,90 sehingga dikategorikan marginal. Jadi, model setelah modifikasi dapat dinyatakan telah memenuhi kriteria goodness fit dan layak digunakan untuk analisis selanjutnya. Kemudian dilakukan uji validitas dan signifikansi pada model modifikasi untuk memastikan bahwa setiap indikator tetap mampu mengukur variabel yang dimaksud dalam penelitian ini. Hasil dari uji validitas dan signifikansi pada model modifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.
Tabel 7. Uji Validitas dan Signifikansi Model Modifikasi
Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa indikator X1 terhadap Y1 memiliki nilai C.R > 2SE yakni 5,637 > 0,226 sehingga dinyatakan valid. Sebaliknya, indikator X3 terhadap Y1 memiliki nilai C.R < 2SE yakni -0,566 < 0,130 sehingga dinyatakan tidak valid. Hasil perhitungan pada semua indikator lainnya menunjukkan bahwa nilai C.R > 2SE. Jadi, dapat dinyatakan bahwa hampir seluruh indikator dalam model setelah modifikasi dinyatakan valid, kecuali satu indikator yang tidak memenuhi kriteria validitas. Sementara untuk uji signifikansi hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar indikator memiliki nilai C.R > 1,753 sehingga dinyatakan signifikan. Namun, terdapat dua hubungan yang tidak signifikan, yaitu X3 terhadap Y1 dengan nilai C.R sebesar -0,566 dan X2 terhadap Y3 dengan nilai C.R sebesar 1,481, karena keduanya memiliki nilai C.R < 1,753. Selanjutnya dilakukan uji reliabilitas model modifikasi untuk memastikan bahwa setiap indikator dalam suatu variabel memiliki tingkat konsistensi yang baik dalam mengukur variabel penelitian. Berikut hasil dari uji reliabilitas model pengukuran yang dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Uji Reliabilitas Model Modifikasi
Pada Tabel 8 hasilnya menjukkan bahwa seluruh variabel dalam model setelah modifikasi dinyatakan reliabel karena semua nilainya α ≥ 0,70.
Persamaan Simultan
(1)
(2)
Uji Hipotesis
[2]L. Nie dan L. B. Sugiyanto, “The Influence of Price Perception and Customer Satisfaction on The Performance of Pertamina Gas Stations Mediated By Service Quality (Empirical Study: Pertamina Gas Station Consumers In Jakarta),” Asian J. Soc. Humanit., vol. 3, no. 6, hal. 1329–1345, 2025, doi: https://doi.org/10.59888/ajosh.v3i6.542.
[3]A. S. Efendi, L. L. Vidiananda, F. P. Utami, A. Fitriyah, dan D. I. Mardiningsih, “REPUTASI PERTAMINA DAN MANAJEMEN KRISIS PASCA ISU PENGOPLOSAN BBM DI INDONESIA,” J. Media Akad., vol. 3, no. 6, 2025, doi: https://doi.org/10.62281/v3i6.2074.
[4]H. S. Bansal, S. F. Taylor, dan Y. S. James, “‘Migrating’ to new service providers: Toward a unifying framework of consumers’ switching behaviors,” J. Acad. Mark. Sci., vol. 33, no. 1, hal. 96–115, 2005, doi: 10.1177/0092070304267928.
[5]F. Sa’baniyah, A. Ratnasari, D. Heksaputra, dan T. Rochmadi, “Analisis Push Pull Mooring Factors terhadap Switching Intention pada Penggunaan QRIS di UMKM Kabupaten Bantul Analysis of Push Pull Mooring Factors on Switching Intention in the Use of QRIS among MSMEs in Bantul Regency,” J. Sist. Inf., vol. 14, no. 1, hal. 40–53, 2025, doi: https://doi.org/10.32520/stmsi.v14i1.4396.
[6]A. N. Ichsan, “Analisis Faktor-Faktor Switching Behavior Nasabah Bank Konvensional Ke Bank Syariah Dengan Switching Intention Sebagai Variabel Intervening ( Studi Pada Nasabah Bsi Kota Pekanbaru ),” J. Econ., vol. 13, no. 1, hal. 125–136, 2025, doi: https://doi.org/10.46750/economica.v13i1.345.
[7]J. Yang dan D. Jong, “Understanding continuance intention determinants to adopt online health care community: An empirical study of food safety,” Int. J. Environ. Res. Public Health, vol. 18, no. 12, 2021, doi: 10.3390/ijerph18126514.
[8]R. W. Primadineska, “Pengaruh Penggunaan Sistem Pembayaran Digital terhadap Perilaku Beralih di Era Pandemi COVID-19,” Telaah Bisnis, vol. 21, no. 2, hal. 89, 2021, doi: https://doi.org/10.35917/tb.v21i2.215.
[9]Y. Li dan S. Kitcharoen, “Determinants of Undergraduates’ Continuance Intention and Actual Behavior to Play Mobile Games in Chongqing, China,” AU-GSB e-Journal, vol. 15, no. 2, hal. 206–214, 2022, doi: 10.14456/augsbejr.2022.86.
[10]C. L. Lin, Y. Q. Jin, Q. Zhao, S. W. Yu, dan Y. S. Su, “Factors Influence Students’ Switching Behavior to Online Learning under COVID-19 Pandemic: A Push–Pull–Mooring Model Perspective,” Asia-Pacific Educ. Res., vol. 30, no. 3, hal. 229–245, 2021, doi: 10.1007/s40299-021-00570-0.
[11]F. Muttaqin, “Pengaruh Push, Pull, and Mooring Effect Terhadap Switching Intention Konsumen Mobile Legends: Bang Bang Pada League of Legends: Wild Rift,” SIBATIK J. J. Ilm. Bid. Sos. Ekon. Budaya, Teknol. dan Pendidik., vol. 1, no. 10, hal. 2121–2132, 2022, doi: 10.54443/sibatik.v1i10.311.
[12]M. Waluyo dan M. Rachman, Mudah Cepat Tepat dalam Aplikasi Structural Equation Modelling. Batu: PT Literasi Nusantara Abadi Grup, 2024.
[13]N. R. Robitha dan K. K. Nursalin, “Pengaruh Push, Pull, dan Mooring Pada Switching Intention Konsumen Pertamina ke Shell,” J. Sos. Ekon. dan Hum., vol. 4, no. 1, hal. 1–14, 2025, doi: https://doi.org/10.56244/sosiera.v4i1.929.
[14]D. M. Tangke dan H. Musriha, “Pengaruh Faktor Push-Pull-Mooring Terhadap Switching Intention Konsumen Dari Belanja Offline Ke Belanja Online,” J. Manaj. Dan Akunt. Medan, vol. 7, no. 2, hal. 402–410, 2025, doi: 10.47709/jumansi.v7i2.6116.
[15]K. Setyadi, S. A. Wicaksono, dan A. R. Perdanakusuma, “Analisis Faktor Push-Pull-Mooring dalam Beralih Penggunaan Centralized Exchange (CEX) Cryptocurrency Indonesia ke CEX Internasional,” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., vol. 1, no. 1, hal. 2548–964, 2024, [Daring]. Tersedia pada: https://j-ptiik.ub.ac.id/index.php/j-ptiik/article/view/13815
[16]S. Wang, J. Wang, dan F. Yang, “From willingness to action: Do push-pull-mooring factors matter for shifting to green transportation?,” Transp. Res. Part D Transp. Environ., vol. 79, no. 96, hal. 102242, 2020, doi: 10.1016/j.trd.2020.102242.
[17]M. Marhadi et al., “Continuance intention of Fintech Peer-to-Peer (P2P) financing Shariah: Moderation role of brand schematicity and digital financial literacy,” J. Open Innov. Technol. Mark. Complex., vol. 10, no. 2, hal. 100301, 2024, doi: 10.1016/j.joitmc.2024.100301.
S. H. Posi and I. Muhammad, “Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak Terhadap Sembilan Bahan Pokok Di Kecamatan Tobelo,” JIMAD: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, vol. 1, no. 2, pp. 67–71, 2023, doi: 10.59585/jimad.v1i2.189.
L. Nie and L. B. Sugiyanto, “The Influence of Price Perception and Customer Satisfaction on the Performance of Pertamina Gas Stations Mediated by Service Quality (Empirical Study: Pertamina Gas Station Consumers in Jakarta),” Asian Journal of Social Humanities, vol. 3, no. 6, pp. 1329–1345, 2025, doi: 10.59888/ajosh.v3i6.542.
A. S. Efendi, L. L. Vidiananda, F. P. Utami, A. Fitriyah, and D. I. Mardiningsih, “Reputasi Pertamina dan Manajemen Krisis Pasca Isu Pengoplosan BBM di Indonesia,” Jurnal Media Akademik, vol. 3, no. 6, 2025, doi: 10.62281/v3i6.2074.
H. S. Bansal, S. F. Taylor, and Y. S. James, “‘Migrating’ to New Service Providers: Toward a Unifying Framework of Consumers’ Switching Behaviors,” Journal of the Academy of Marketing Science, vol. 33, no. 1, pp. 96–115, 2005, doi: 10.1177/0092070304267928.
F. Sa’baniyah, A. Ratnasari, D. Heksaputra, and T. Rochmadi, “Analisis Push Pull Mooring Factors terhadap Switching Intention pada Penggunaan QRIS di UMKM Kabupaten Bantul,” Jurnal Sistem Informasi, vol. 14, no. 1, pp. 40–53, 2025, doi: 10.32520/stmsi.v14i1.4396.
A. N. Ichsan, “Analisis Faktor-Faktor Switching Behavior Nasabah Bank Konvensional ke Bank Syariah dengan Switching Intention sebagai Variabel Intervening (Studi pada Nasabah BSI Kota Pekanbaru),” Economica, vol. 13, no. 1, pp. 125–136, 2025, doi: 10.46750/economica.v13i1.345.
J. Yang and D. Jong, “Understanding Continuance Intention Determinants to Adopt Online Health Care Community: An Empirical Study of Food Safety,” International Journal of Environmental Research and Public Health, vol. 18, no. 12, 2021, doi: 10.3390/ijerph18126514.
R. W. Primadineska, “Pengaruh Penggunaan Sistem Pembayaran Digital terhadap Perilaku Beralih di Era Pandemi COVID-19,” Telaah Bisnis, vol. 21, no. 2, p. 89, 2021, doi: 10.35917/tb.v21i2.215.
Y. Li and S. Kitcharoen, “Determinants of Undergraduates’ Continuance Intention and Actual Behavior to Play Mobile Games in Chongqing, China,” AU-GSB e-Journal, vol. 15, no. 2, pp. 206–214, 2022, doi: 10.14456/augsbejr.2022.86.
C. L. Lin, Y. Q. Jin, Q. Zhao, S. W. Yu, and Y. S. Su, “Factors Influence Students’ Switching Behavior to Online Learning under COVID-19 Pandemic: A Push–Pull–Mooring Model Perspective,” The Asia-Pacific Education Researcher, vol. 30, no. 3, pp. 229–245, 2021, doi: 10.1007/s40299-021-00570-0.
F. Muttaqin, “Pengaruh Push, Pull, and Mooring Effect terhadap Switching Intention Konsumen Mobile Legends: Bang Bang pada League of Legends: Wild Rift,” SIBATIK: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, dan Pendidikan, vol. 1, no. 10, pp. 2121–2132, 2022, doi: 10.54443/sibatik.v1i10.311.
M. Waluyo and M. Rachman, Mudah Cepat Tepat dalam Aplikasi Structural Equation Modelling. Batu, Indonesia: PT Literasi Nusantara Abadi Grup, 2024.
N. R. Robitha and K. K. Nursalin, “Pengaruh Push, Pull, dan Mooring pada Switching Intention Konsumen Pertamina ke Shell,” Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora, vol. 4, no. 1, pp. 1–14, 2025, doi: 10.56244/sosiera.v4i1.929.
D. M. Tangke and H. Musriha, “Pengaruh Faktor Push-Pull-Mooring terhadap Switching Intention Konsumen dari Belanja Offline ke Belanja Online,” Jurnal Manajemen dan Akuntansi Medan, vol. 7, no. 2, pp. 402–410, 2025, doi: 10.47709/jumansi.v7i2.6116.
K. Setyadi, S. A. Wicaksono, and A. R. Perdanakusuma, “Analisis Faktor Push-Pull-Mooring dalam Beralih Penggunaan Centralized Exchange (CEX) Cryptocurrency Indonesia ke CEX Internasional,” Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, vol. 1, no. 1, 2024. [Online]. Available: https://j-ptiik.ub.ac.id/index.php/j-ptiik/article/view/13815
S. Wang, J. Wang, and F. Yang, “From Willingness to Action: Do Push-Pull-Mooring Factors Matter for Shifting to Green Transportation?,” Transportation Research Part D: Transport and Environment, vol. 79, Art. no. 102242, 2020, doi: 10.1016/j.trd.2020.102242.
M. Marhadi et al., “Continuance Intention of Fintech Peer-to-Peer (P2P) Financing Shariah: Moderation Role of Brand Schematicity and Digital Financial Literacy,” Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, vol. 10, no. 2, Art. no. 100301, 2024, doi: 10.1016/j.joitmc.2024.100301.