Kholifatun Nisa (1), Sulhatul Habibah (2), Nina Rohmatul Fauziyah (3)
General Background: Early childhood represents a critical developmental phase in which social competencies such as empathy, cooperation, and communication begin to form through interactions within family and educational environments. Specific Background: In the digital era, millennial parents increasingly adopt teach free parenting, a flexible and communicative approach that allows children to learn through direct experience with guided boundaries. Knowledge Gap: Despite its growing relevance, empirical understanding of how millennial parents implement teach free parenting and its role in early childhood social development remains limited, particularly in Indonesian early childhood education contexts. Aims: This study aims to describe parenting patterns of millennial parents in applying teach free parenting and examine its role in shaping social development among kindergarten children in Lamongan. Results: Using a qualitative case study with in-depth interviews involving parents and teachers, findings indicate that teach free parenting reflects a balance between child autonomy and parental guidance, fostering confidence, empathy, cooperation, and communication skills through open dialogue, decision-making opportunities, and consistent support. Challenges include environmental influences, gadget use, and differing family parenting patterns, while parent–school collaboration emerges as a key supporting factor. Novelty: The study highlights teach free parenting as an adaptive transformation of democratic parenting within the digital era, emphasizing experiential learning and guided autonomy. Implications: These findings provide practical insights for parents and educators to implement adaptive parenting strategies that support consistent social value internalization and collaborative educational environments.
Highlights• Flexible caregiving approach balances autonomy with structured guidance• Social competencies emerge through dialogue and experiential learning• Parent–school synergy supports consistent developmental processes
KeywordsTeach Free Parenting; Millennial Parents; Early Childhood; Social Development; Democratic Parenting
Usia dini merupakan periode fundamental yang sering disebut sebagai masa keemasan (golden age) dalam fase pertumbuhan manusia. Pada fase ini, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat dan menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan aspek lainnya, termasuk perkembangan sosial emosional [1]. Kemampuan dalam bersosialisasi, berempati, dan bekerja sama dengan teman sebaya mulai terbentuk dan distimulasi secara optimal melalui lingkungan pendidikan, salah satunya di Taman Kanak-Kanak (TK) [2]. Oleh karena itu, peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama menjadi sangat krusial dalam mengoptimalkan perkembangan sosial pada anak di lingkungan sosialnya, karena kualitas interaksi orang tua dengan anak akan menentukan kesiapan anak untuk dapat memasuki lingkungan yang lebih luas dan berinteraksi secara efektif dengan teman sebaya dan lingkungan sekitarnya [3].
Fenomena perubahan sosial yang terjadi di era digital ini sangat mempengaruhi pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua, khususnya generasi milenial [4]. Generasi milenial yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996 mempunyai karakteristik yang berbeda dengan generasi yang sebelumnya, terutama dalam hal akses terhadap informasi dan teknologi [5]. Generasi ini cenderung lebih terbuka terhadap berbagai pendekatan pengasuhan yang berkembang, salah satunya adalah konsep teach free parenting. Konsep ini menekankan pada pemberian kebebasan kepada anak untuk belajar dari pengalaman langsung, dengan tetap dalam naungan dan bimbingan orang tua yang tidak bersifat memaksa [6]. Pendekatan ini dianggap relevan dengan kebutuhan anak di era modern yang menuntut kemandirian dan kreativitas.
Secara konseptual, teach free parenting berbeda dengan pola asuh otoriter yang sudah banyak diterapkan pada generasi sebelumnya [7]. Pola asuh ini menekankan pada komunikasi dua arah, keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan sederhana, serta pengembangan kemandirian melalui pengalaman langsung. Orang tua berperan sebagai fasilitator dan pendamping, bukan sebagai pengatur yang keras [8].
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip PAUD berbasis bermain dan eksplorasi [3], namun penerapannya menantang karena tuntutan budaya dan perubahan zaman. Orang tua milenial kerap menghadapi dilemma antara memberi kebebasan dan menetapkan Batasan, sementara penggunaan gadget serta pengaruh lingkungan turut memepngaruhi perkembangan social anak [9]. Selain itu, perbedaan pola asuh antara generasi sebelumnya dengan generasi milenial juga turut mewarnai dinamika pengasuhan di dalam keluarga. Di sisi lain, tuntutan untuk tetap menjaga nilai-nilai lokal dan kearifan budaya juga menjadi salah satu pertimbangan dalam praktik pengasuhan [10].
Keterkaitan antara pola asuh dan perkembangan sosial anak merupakan hal yang krusial dalam kajian pendidikan anak, dengan pendekatan yang demokratis cenderung menghasilkan anak yang lebih percaya diri, empatik, dan mampu bekerja sama dengan baik [11]. Namun, kajian yang secara spesifik membahas mengenai penerapan teach free parenting pada orang tua generasi milenial di Indonesia masih terbatas, terutama dalam konteks pendidikan anak usia dini.Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana orang tua milenial memahami dan menerapkan teach free parenting dalam kehiudpan sehari-hari serta dampaknya terhadap perkembangan social anak usia dini. Penelitian ini berfokus pada orang tua milenial yang memiliki anak di TK Lamongan, dengan tujuan menggambarkan praktik pola asuh tersebut dan pengaruhnya terhadap perkembangan social anal. Hasil penelitian diharapkan berkontribuso pada pengembangan kajian PAUD, khususnya terkait dinamika pengasuhan di era digital. Serta menjadi acuan bagi orang tua dan pendidik dalam mendukung perkembangan social anak secara optimal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih dengan tujuan untuk memahami secara mendalam mengenai pola asuh orang tua generasi milenial dalam menerapkan teach free parenting serta dampaknya terhadap perkembangan sosial anak usia dini. Lokasi penelitian dilaksanakan di dua Lembaga pendidikan anak usia dini di Kabupaten Lamongan, yaitu SPS Duku Pucangtelu dan PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif dengan pertimbangan bahwa kedua Lembaga tersebut memiliki populasi orang tua dari generasi milenial yang aktif dalam pengasuhan anak.
Subjek dalam penelitian ini terdiri atas orang tua generasi milenial yang memiliki anak usia dini serta guru di kedua lembaga tersebut. Pengambilan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria, yaitu orang tua yang lahir antara tahun 1981-1996, memiliki anak yang terdaftar sebagai peserta didik di lembaga terkait, dan bersedia menjadi informan. Jumlah informan dalam penelitian ini terdiri dari dua orang tua dan dua guru, masing-masing satu dari setiap lembaga.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun berdasarkan indikator-indikator yang relevan dengan fokus penelitian. Wawancara tersebut dilaksanakan secara tatap muka dan mengacu pada aspek-aspek yang meliputi persepsi dan pemahaman mengenai teach free parenting, penerapan pola asuh, tantangan yang dihadapi, serta kolaborasi antara orang tua dan sekolah.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data hasil wawancara. Penyajian data disusun dalam bentuk naratif yang sistematis. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan memverifikasi temuan secara berulang untuk menjamin keabsahan data. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumberr dan triangulasi teknik.
Hasil penelitian disajikan berdasarkan wawancara dengan dua informan orang tua dari masing-masing Lembaga, yaitu SPS Duku Pucangtelu dan PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan, serta didukung oleh wawancara dengan guru di kedua lembaga tersebut. Paparan hasil dikelompokkan ke dalam empat kategori utama yang meliputi persepsi dan pemahaman megenai teach free parenting, penerapan pola asuh, tantangan yang dihadapi, serta kolaborasi antara orang tua dan sekolah.
Informan dari SPS Duku Pucangtelu menjelaskan bahwa telah mengenal istilah teach free parenting melalui media sosial, terutama dari konten parenting di Instragram dan YouTube. Informan memaknai pola asuh ini sebagai pendekatan yang tidak menekan anak, memberikan kebebasan untuk dapat belajar dari pengalaman langsung, namun tetap dalam arahan yang tidak memaksa sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan kepribadiannya. Sementara itu, informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan mengetahui konsep tersebut melalui diskusi dengan sesama orang tua dan seminar parenting yang diselenggarakan oleh sekolah. Informan memaknai teach free parenting sebagai pola asuh yang fleksibel dan komunikatif, dengan melibatkan anak dalam pengambilan Keputusan sederhana terkait dirinya. Pendekatan ini dianggap relevan dengan kebutuhan anak di era modern yang menuntut kemandirian dan keterbukaan.
Mengenai pola asuh ideal, kedua informan memiliki pandangan serupa dengan penekanan berbeda. Informan dari SPS Duku Pucangtelu menilai pola asuh ideal sebagai keseimbangan antara kebebasan dan pengawasan, di mana anak diberi ruang bereksplorasi dengan Batasan yang jelas. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengatur, tetapi juga sebagai pendamping dan teman bagi anak, sehingga tercipta hubungan yang dekat dan terbuka. Informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan menambahkan bahwa pola asuh ideal harus dapat menyesuaikan dengan kebutuhan anak dan perkembangan zaman. Orang tua perlu untuk memahami karakter anak secara mendalam dan memberikan dukungan emosional yang memadai, sementara komunikasi dua arah menjadi hal yang sangat krusial agar anak merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya. Adapun ujuan mendidik anak dalam aspek sosial, informan dari SPS Duku Pucangtelu mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utamanya adalah agar anak mampu untuk berinteraksi dengan baik, memiliki rasa percaya diri, serta mampu untuk beradaptasi di lingkungan sosial. Informan juga menekankan bahwa pentingnya penanaman sikap sopan santun dan kemampuan bekerja sama dengan teman sebaya sebagai bekal awal bagi anak dalam menjalani kehidupan sosialnya. Adapun informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan berharap anak dapat tumbuh menjadi individu yang empatik, mampu memahami perasaan orang lain, dan memiliki keterampilan komunikasi yang baik. Kemampuan sosial menurut informan juga merupakan bekal yang penting bagi kehidupan anak di masa depan, sehingga perlu untuk distimulasi sejak dini melalui interaksi yang positif.
Perbedaan pola asuh antara masa kini dan dahulu juga menjadi temuan yang menarik dalam penelitian ini. Informan dari SPS Duku Pucangtelu menyatakan bahwa pola asuh pada zaman dahulu cenderung lebih otoriter, di mana anak harus selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak bertanya. Sebaliknya, pada masa sekarang orang tua lebih terbuka terhadap pendapat anak dan mengutamakan komunikasi dalam setiap interaksi. Informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan menambahkan bahwa perbedaan yang paling mencolok terletak pada penggunaan teknologi dan akses informasi yang sangat luas. Saat ini, orang tua memiliki kesempatan untuk belajar mengenai berbagai pendekatan pengasuhan, sehingga cenderung lebih fleksibel dan tidak terlalu keras dalam mendidik anak jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Dalam penerapan pola asuh sehari-hari oleh informan dari SPS Duku Pucangtelu dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada anak dalam memilih permainan atau aktivitas yang disukai, namun tetap menetapkan aturan yang jelas seperti waktu belajar dan waktu bermain. Salah satu contohnya adalah anak diperbolehkan untuk bermain di luar rumah, tetapi harus pulang sebelum waktu yang telah ditentukan. Sementara itu, informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan menerapkan kebebasan yang lebih terarah, di mana anak boleh untuk memilih aktivitasnya sendiri, tetapi tetap diberikan batasan yang jelas terutama terkait aspek keamanan dan kedisiplinan. Kedua informan sepakat bahwa kebebasan yang diberikan kepada anak harus tetap dalam lingkup pengawasan agar tidak menimbulkan dampak negatif. Dalam menghadapi tantrum, informan dari SPS Duku Pucangtelu menenangkan anak terlebih dahulu lalu berdialog setelah emosi mereda, sedangkan informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan mengajak anak membahas perasannya agar belajar mengelolah emosi secara mandiri.
Keduanya juga menekankan peran orang tua sebagai teladan melalui perilaku positif sehari-hari, karena anak cenderung meniru sikap orang tua. Oleh karena itu, orang tua berusaha untuk selalu menunjukkan sikap yang baik dalam berinteraksi, baik dengan anak maupun dengan orang lain di lingkungan sekitarnya. Dalam menyelesaikan konflik yang dialami anak, informan dari SPS Duku Pucangtelu membeikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan konflik terlebih dahulu secara mandiri, namun tetap dalam pengawasan. Apabila konflik tidak terselesaikan, baru orang tua turun tangan membantu memberikan solusi. Informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan cenderung membimbing anak untuk menyelesaikan dengan cara berdiskusi dan saling memahami. Pendekatan ini bertujuan untuk melatih keterampilan sosial anak dalam menyelesaikan permasalahan secara konstruktif.
Fasilitasi sosialisasi anak bervariasi: anak dari SPS Duku Pucangtelu rutin bermain dengan teman sebaya, sedangkan di PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan mengikuti kegiatan kelompok dan keagamaan, penggunaan gadget pada keduanya dibatasi secara ketat, baik, dari segi durasi maupun konten.
Tantangan utama meliputi pengaruh lingkungan, penggunaan gadget, dan perbedaan pola asuh dalam keluarga besar. Upaya yang dilakukan adalah membatasi gadget, meningkatkan komunikasi, serta menyelaraskan pola asuh dalam keluarga.
Kolaborasi orang tua dan sekolah menjadi factor penting melalui komunikasi intensif dan program kegiatan social. Guru menilai orang tual milenial cenderung terbuka, komunikatif, dan demokratis, sementara anak menunjukkan perkembangan social positif seperti percaya diri, empati, dan kemampuan bekerja sama. Kendala utama tetap pada gadget dan kurangnya interaksi langsung, dengan guru berperan sebagai penghubung antara rumah dan sekolah.
Berdasarkan temuan penelitian, pemaknaan teach free parenting oleh orang tua generasi milenial di TK Lamongan menunjukkan adanya pergeseran paradigma pengasuhan dari pola otoriter menuju pola yang lebih fleksibel dan komunikatif. Kedua informan memaknai teach free parenting sebagai pendekatan yang memberikan kebebasan kepada anak untuk belajar dari pengalaman secara langsung, namun tetap dalam bimbingan yang tidak memaksa. Hal ini sejalan dengan [1] bahwa teach free parenting secara konseptual berbeda dengan pola asuh otoriter pada generasi sebelumnya karena menekankan pada komunikasi dua arah dan keterlibatan anak dalam proses pengasuhan [12]. Informan dari SPS Duku Pucangtelu memahami pendekatan ini melalui media sosial, sementara informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan memperoleh informasi dari diskusi dan seminar parenting. Hal ini mencerminkan karakteristik generasi milenial yang lebih melek teknologi dan terbuka terhadap informasi baru [13]. Kedua informan juga memandang bahwa pola asuh ideal sebagai keseimbangan antara kebebasan dan pengawasan, di mana orang tua berperan sebagai pendamping dan teman, bukan sebagai pengatur yang kaku. Pandangan ini sejalan dengan prinsip pendidikan anak usia dini yang menekankan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika anak merasa dihargai dan dilibatkan secara aktif dalam bereksplorasi [14]. Oleh karena itu,pemahaman orang tua milenial mengenai teach free parenting tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga telah terinternalisasi menjadi keyakinan bahwa pengasuhan yang baik adalah pengasuhan yang menghormati otonomi anak tanpa mengabaikan peran orang tua sebagai pembimbing. Lebih lanjut, temuan ini menunjukkan bahwa teach free parenting tidak sekadar tren pengasuhan modern, tetapi merupakan bentuk adaptasi kontekstual terhadap tuntutan perkembangan anak di era digital. Perpaduan antara kebebasan dan control yang terarah menunjukkan pergeseran peran orang tua dari otoritas utama menjadi fasilitator perkembangan, sejalan dengan pendekatan konstruktivistik dalam PAUD.
Dalam praktiknya, orang tua milenial di TK Lamongan berupaya menyeimbangkan kebebasan anak dengan aturan yang jelas, emncerminkan pola asuh demokratis. Informan dari SPS Duku Pucangtelu memberikan kebebasan kepada anak dalam memilih permainan, nnamun tetap menetapkan aturan terkait waktu belajar dan waktu bermain, bahkan memberikan Batasan konkret seperti waktu pulang bermain. Informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan juga menerapkan kebebasan yang terarah dengan Batasan yang jelas, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan kedisiplinan. Pendekatan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa orang tua milenial tidak sepenuhnya lepas tangan dalam pengasuhan, melainkan tetap hadir sebagai sosok yang mengawasi dan memberikan panduan. Berdasarkan literatur menunjukkan bahwa pola asuh demokratis terbukti memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial anak, seperti meningkatkan rasa percaya diri, empati, dan kemampuan bekerja sama dengan teman sebaya [16]. Selain itu, pengelolaan emosi anak yang dilakukan oleh kedua informan menunjukkan pendekatan yang empatik dan komunikatif. Pada saat menghadapi tantrum, informan dari SPS Duku Pucangtelu memilih untuk menenangkan anak terlebih dahulu dan tidak langsung memarahi, kemudian setelah anak tenang akan diajak berbicara untuk memahami penyebab emosinya. Informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan berusaha untuk berdiskusi mengenai perasaan yang dialami, sehingga anak belajar mengenali dan mengelola emosinya secara mandiri. Pendekatan ini sangat relevan dengan perkembangan sosial anak usia dini karena pada masa ini anak sedang belajar untuk memahami emosi diri sendiri dan orang lain. Dalam teach free parenting orang tua berperan sebagai fasilitator dan pendamping, bukan sebagai pengatur yang keras. Peran orang tua sebagai role model juga menjadi salah satu faktor penting, di mana kedua informan secara sadar memberikan contoh perilaku sosial yang baik seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, bersikap sopan, dan menunjukkan sikap positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Anak usia dini berada pada tahap operasional konkret, sehingga proses belajar lebih banyak terjadi melalui observasi dan imitasi terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, keteladanan yang ditunjukkan oleh orang tua menjadi media yang paling efektif [11].
Secara analitis, mekanisme yang menjelaskan dampak positif tersebut terletak pada interaksi antara otonomi anak dan regulasi sosial yang diberikan secara konsisten. Pemberian kebebasan yang disertai dialog memungkinkan anak mengembangkan self-regulation, sementara keteladanan orang tua memperkuat proses internalisasi nilai sosial melalui observasi dan imitasi. Dengan demikian, perkembangan social anak terbentuk secara bertahap melalui pengalaman yang berulang dan bermakna, bukan secara instan. Tantangan utama dalam penerapan teach free parenting di TK Lamongan meliputi pengaruh lingkungan, penggunaan gadget, serta perbedaan pola asuh dalam keluarga besar. Hal ini sejalan dengan temuan Setyawati et al (2024) [16] yang menyebutkan bahwa factor lingkungan dan penggunaan gadget turut memengaruhi perkembangan social anak. Di era digital saat ini, anak-anak dengan mudah untuk terpapar berbagai konten melalui gadget, dan tanpa pengawasan yang memadai, hal ini dapat menghambat interaksi sosial langsung yang justru sangat dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan sosial. Selain itu, perbedaan pola asuh antara generasi milenial dengan generasi sebelumnya sering kali menjadi sumber konflik dalam keluarga. Orang tua milenial cenderung lebih fleksibel dan demokratis mungkin akan berbenturan dengan kakek nenek yang masih menganut pola asuh otoriter tradisional. [2] menekankan bahwa tuntutan untuk tetap menjaga nilai-nilai lokal dan kearifan budaya juga menjadi salah satu pertimbangan dalam praktik pengasuhan [17]. Untuk mengatasi hal tersebut, informan melakukan pembatasan gadget dan meningkatkan komunikasi dengan anak, serta menyamakan persepsi terlebih dahulu dengan anggota keluarga lainnya agar tercipta keselarasan dalam pola pengasuhan. Upaya ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat beberapa hambatan, orang tua milenial tetap berkomitmen untuk menerapkan konsep teach free parenting secara konsisten.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan teach free parenting dipengaruhi oleh factor lingkungan, teknologi, dan dinamika keluarga yang saling berinteraksi. Selain itu, kolaborasi orang tua dan sekolah menjadi pendukung penting dalam penerapannya di TK Lamongan. Informan dari SPS Duku Pucangtelu menjalin komunikasi dengan pihak sekolah melalui grup WhatsApp dan pertemuan rutin, sedangkan informan dari PAUD Al-Wardah Terpadu II Bedahan melakukan komunikasi secara intensif dengan guru melalui berbagai saluran, termasuk tatap muka, WhatsApp, catatan harian anak, dan grup diskusi orang tua. Program sekolah seperti kegiatan bermain kelompok, kegiatan pembiasaan sosial, dan kegiatan keagamaan juga memperkuat sinergi nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan pembiasaan sosial di sekolah. Berdasarkan wawancara guru, orang tua melenial cenderung terbuka, komunikatif, aktif mencari informasi parenting, serta kritis dalam memilih pendekatan, dengan pola asuh yang demokratis dan dialogis. Perilaku social anak juga menunjukkan kecenderungan positif, seperti aktif, percaya diri, empatik, dan mampu bekerja sama. Dalam hal ini, guru berperan sebagai mediator antara nilai di rumah dan pembiasaan di sekolah, sehingga kolaborasi keduanya penting untuk menciptakan lingkungan yang konsisten dan mendukung perkembangan social anak.
Dengan demikian, teach free parenting yang diterapkan secara konsisten dan didukung kerja sama yang baik antara ora\ng tua dan sekolah dapat menjadi model pengasuhan yang efektif di era digital. Secara konseptual, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan ekosistem dalam PAUD, di mana keluarga dan sekolah saling terintegrasi untuk memperkuat konsistensi nilai dan efektivitas stimulasi perkembangan social anak.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan teach free parenting oleh orang tua generasi milenial di TK Lamongan mencerminkan pergeseran paradigma pengasuhan dari pola otoriter menuju pendekatan yang lebih fleksibel, komunikatif, dan partisipatif. Dalam pola ini, orang tua tidak lagi berperan sebagai pengontrol utama, melainkan sebagai pendamping yang memfasilitasi perkembangan anak melalui interaksi yang empatik dan dialogis. Keseimbangan antara kebebasan dan aturan yang jelas menjadi kunci terciptanya lingkungan pengasuhan yang kondusif. Temuan ini menunjukkan bahwa teach free parenting bekerja melalui pemberian otonomi terarha, komunikasi terbuka dan bimbingan yang konsisten, sehingga mendorong internalisasi nilai social secara bertahap. Hal ini berkontribuso pada berkembangnya kepercayaan diri, empati, kemampuan bekerja sama, dan keterampilan komunikasi anak. Namun, efektivitasnya dipengaruhi oleh factor lingkungan, penggunaan gadget, serta dinamika pola asuh dalam keluarga besar. Dalam konteks inim kolaborasi orang tua dan sekolah berperan penting sebagai penghubung untuk menyelaraskan pengasuhan di rumah dan di sekolah.
Secara umum, teach free parenting dapat menjadi model pengasuhan yang adaptif dalam mendukung perkembangan social anak usia dini di era digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan kapasitas orang tua melalui edukasi pengasuhan, serta integrasi program kolaboratif antara keluarga dan lembaga pendidikan agar penerapan pola asuh ini dapat berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penelitian ini, khususnya kepada pihak TK Lamongan, orang tua, serta anak-anak yang telah berpartisipasi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing atas arahan dan bimbingannya. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan pola asuh dan pendidikan anak usia dini.
Indrawati, “Pendidikan Anak Usia Dini pada Masa Golden Age,” Al-Ashlah: Journal of Islamic Studies, vol. 1, no. 1, pp. 1–19, 2017.
R. D. N. R. Mardiyani dan C. Widyasari, “Interaksi Teman Sebaya dalam Mengembangkan Perilaku Sosial Anak Usia Dini,” Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, pp. 416–429, 2023. doi: 10.37985/murhum.v4i2.329
Amelia dan S. Sumarni, “Peran Orang Tua dalam Mengoptimalkan Perkembangan Sosial Anak Usia 5–6 Tahun,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 11, no. 2, pp. 171–180, 2022.
Suharsono, M. Andrianata, M. N. Fithrianto, dan A. A. R. Wiyono, “Pengaruh Era Digital pada Pola Asuh Anak dapat Menjadi Faktor yang Signifikan dalam Keharmonisan Keluarga,” INSAN CENDEKIA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 2, no. 3, pp. 150–158, 2024.
S. Marlina, “Dinamika Partisipasi Politik Generasi Milenial di Era Digital: Studi Kasus Media Sosial di Indonesia,” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, vol. 1, no. 1, pp. 13–18, 2025.
N. T. T. Fitri, M. Hayati, dan L. Maimuna, “Peranan Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar pada Anak Usia Dini,” Journal of Lifespan Development, vol. 2, no. 1, pp. 94–99, 2024.
K. Jannah, N. Gupita, dan D. Pusparini, “Pola Pengasuhan Orang Tua terhadap Penerapan Screen Time di Masa Generasi Alpha Usia 4–6 Tahun di Desa Rombuh Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan,” Jurnal Inovasi Pendidikan, vol. 1, no. 3, pp. 333–343, 2023.
S. Maylisah, “Transformasi Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini di Era Digital,” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 1, pp. 10–20, 2025.
M. I. Rofiqo dan L. H. Fauziah, “Dampak Teknologi dan Gadget pada Perkembangan Sosial-Emosional pada Anak-anak,” dalam Prosiding Seminar Nasional Psikologi (SINOPSI), vol. 2, no. 1, pp. 262–271, 2023.
A. D. D. Anindia et al., “Perbedaan Pola Asuh Bahasa Anak antara Ibu Influencer Shabira Alula dan Ibu Generasi Milenial-Generasi Z,” Journal Genta Mulia, vol. 15, no. 2, pp. 144–150, 2025.
A. Nurhalisa et al., “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Emosional Anak,” Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, vol. 4, no. 2, pp. 21–32, 2026.
Malihah, “Pelimpahan Pengasuhan Anak Menurut Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Mishbah,” Tesis, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta, 2025.
N. V. Leuwol et al., “Smart Is An Art—Pembentukan Karakter Milenial Melek Teknologi dan Cerdas Bernarasi dalam Media Sosial,” J-DEPACE: Jurnal Pengabdian, vol. 4, no. 1, pp. 11–20, 2021.
A. Widianti et al., “Implementasi Metode Beyond Center and Circle Time terhadap Motivasi Belajar Anak Usia Dini di RA Al-Qushwa,” EDUKIDS: Jurnal Inovasi Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 138–144, 2025.
Yuliana, “Studi Literatur Sistematis tentang Pola Asuh Orang Tua dan Perkembangan Sosial Anak Usia Dini,” PENDAS: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 10, no. 3, pp. 330–344, 2025.
E. Setyawati et al., “Literature Review: Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak,” dalam Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan, vol. 3, no. 2, pp. 3152–3161, 2024.
E. Sulistyorini, F. H. Palupi, dan Lefiyana, “Peran Pola Asuh Berbasis Kearifan Lokal dalam Mendukung Status Gizi Balita di Komunitas Pedesaan,” Jurnal Kebidanan Indonesia, vol. 16, no. 2, pp. 57–70, 2025.