Login
Section Education

Problem Based Islamic Education Module Validated For Classroom Use


Modul Pendidikan Islam Berbasis Masalah Layak Digunakan Di Kelas
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Fauzana Zakiah (1), Siti Halimah (2), Haidir Haidir (3)

(1) Program Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
(2) Program Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
(3) Program Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Islamic Religious Education requires contextual learning materials that connect religious concepts with students’ real-life social and digital experiences. Specific Background: Initial classroom conditions showed teacher-centered instruction, limited student discussion, weak analytical exploration, and insufficient development of balanced wasathiyah attitudes. Knowledge Gap: Existing teaching materials remained text-oriented and did not provide adequate problem-based exploration to support critical thinking and moderate religious attitudes. Aims: This study developed Problem Based Instruction Islamic Religious Education teaching materials to strengthen students’ critical thinking and wasathiyah abilities. Results: The developed module was designed through needs analysis, product design, development, validation, field testing, and revision. It integrated learning objectives, triggering questions, problem-based activities, reflection, worksheets, and assessment tools covering knowledge, attitudes, and skills. Expert validation indicated that the module met feasibility standards in content, language, and instructional design. Field testing involving 36 grade X software engineering students showed a positive student response score of 76.6%. Students became more active in discussion, more willing to express opinions, better able to draw group conclusions, and more open to different viewpoints. The module also supported logical reasoning, problem analysis, decision-making, tolerance, fairness, balance, and respectful interaction in social and digital contexts. Novelty: The study presents a contextual Islamic Religious Education module that combines problem-based learning, critical thinking indicators, and wasathiyah values within students’ everyday realities. Implications: The module can serve as an alternative teaching resource for more interactive, targeted, and character-oriented Islamic Religious Education learning.


Highlights
• Expert validation confirmed the module’s feasibility across content, language, and design.
• Student responses reached 76.6% after classroom implementation.
• Learners showed stronger discussion participation, logical reasoning, tolerance, and balance.


Keywords
Islamic Religious Education; Problem Based Learning; Critical Thinking; Wasathiyah; Teaching Materials

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Hasil observasi awal di SMK Negeri 1 Lubuk Pakam menunjukkan Proses pembelajaran cenderung berpusat pada penyampaian materi secara satu arah, sehingga ruang eksplorasi siswa dalam diskusi menjadi terbatas. Partisipasi siswa dalam diskusi masih terbatas pada respons minimal tanpa eksplorasi ide yang mendalam. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan sikap wasathiyah belum berkembang secara optimal dalam pembelajaran PAI . Hasil pengamatan di SMK Negeri 1 Lubuk Pakam menunjukkan bahwa peserta didik menunjukkan potensi kreativitas, namun belum diiringi dengan kemampuan analitis yang memadai.

Dalam kegiatan diskusi, peserta didik masih cenderung mempertahankan pendapat tanpa mempertimbangkan sudut pandang lain secara objektif Guru juga menyampaikan bahan ajar yang digunakan masih berfokus pada penyajian teks tanpa memberikan ruang eksplorasi berbasis masalah.

Berdasarkan kondisi tersebut, kondisi tersebut menuntut pengembangan bahan ajar yang mampu mengintegrasikan konsep PAI dengan konteks kehidupan nyata siswa Salah satu pendekatan yang relevan adalah Problem Based Learning karena mendorong siswa aktif menganalisis masalah, berdiskusi, dan menemukan solusi berdasarkan nilai-nilai Islam yang moderat .

Maka dari itu, penelitian ini difokuskan pada pengembangan bahan pengajaran Pendidikan Islam berbasis Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikiran kritis dan sikap yang moderat pada siswa SMK Negeri 1 Lubuk Pakam

Metode

Penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan pengembangan yang mengadaptasi model Borg & Gall dalam bentuk yang disederhanakan .

Subjek uji coba adalah 36 siswa kelas X jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMK Negeri 1 Lubuk Pakam. Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi observasi lapangan, wawancara mendalam, penyebaran angket, serta pengukuran kemampuan berpikir kritis dan sikap wasathiyah.

Instrumen penelitian berupa lembar observasi, pedoman wawancara, dan angket skala Likert. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk melihat tingkat kelayakan produk dan respon siswa, serta deskriptif kualitatif untuk menggambarkan proses pembelajaran.

Hasil dan Pembahasan

Deskripsi Produk yang Dikembangkan

Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa modul bahan ajar PAI berbasis Problem Based Learning untuk siswa kelas X RPL . Modul dirancang berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang menunjukkan keterbatasan siswa dalam mengaitkan konsep keagamaan dengan realitas kehidupan. Struktur modul diterapkan dengan cara menyatukan tiga elemen penting dalam satu paket yang saling berkaitan satu sama lain. Isi modul dihubungkan dengan situasi nyata yang sering terjadi dalam kehidupan siswa, terutama penggunaan media digital dan interaksi sosial .

Modul memiliki isi seperti tujuan pembelajaran, pertanyaan pemantik, kegiatan berbasis masalah, dan refleksi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, desain ini bertujuan untuk tidak hanya menjadikan siswa paham dengan materi, tetapi juga turut aktif dalam proses diskusi dan analisis. Dalam hal bentuk penyusunannya, modul dirancang berdasarkan struktur pembelajaran yang sistematis . Elemen yang diberikan antara lain identitas pembelajaran, tujuan, pertanyaan pemantik, kegiatan berbasis masalah, dan proses refleksi. Selain itu, modul juga disertai dengan lembar kerja siswa beserta alat penilaian yang meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Konten yang terdapat pada modul berkisar pada pemahaman dan penerapan prinsip moderasi dalam kegiatan sehari-hari, terutama penggunaan media digital . Disini, siswa dibimbing untuk membangun pikiran dan pola pikir yang seimbang serta bisa mengambil langkah dalam merespon perbedaan yang ada secara proporsional. Penggunaan modul ini dari metodologi berbasis masalah bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Siswa diajarkan untuk menemukan masalah, mengevaluasi data, dan membuat solusi berdasarkan nilai-nilai yang mereka pelajari. Proses ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan berpikir kritis, termasuk kemampuan analisis dan pengambilan keputusan .

Selain itu, desain modul memperhitungkan ciri-ciri siswa sekolah kejuruan, yang biasanya memiliki kecenderungan untuk pembelajaran berbasis teknologi dan visual . Akibatnya, kegiatan berbasis produk seperti pengembangan konten dasar dan media digital seperti video dan alat pembelajaran online meningkatkan pembelajaran . Oleh karena itu, diharapkan bahwa materi instruksional yang dibuat akan memberikan alternatif untuk mempromosikan pembelajaran yang lebih kontekstual, dinamis, dan relevan dengan tuntutan kontemporer.

Hasil Uji Coba Lapangan (REVISI)

Untuk menentukan sejauh mana materi instruksional yang dihasilkan dapat diterapkan dengan sukses dalam proses pembelajaran, uji coba lapangan dilakukan. 36 siswa kelas X jurusan rekayasa perangkat lunak mengikuti latihan ini. Kuesioner yang dirancang berdasarkan ukuran keterampilan berpikir kritis dan sikap wasathiyah digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan berbentuk skala penilaian dengan beberapa pilihan jawaban yang menggambarkan tingkat persetujuan peserta didik terhadap pernyataan yang diberikan.

Skala yang digunakan:

1 = Sangat Tidak Setuju

2 = Tidak Setuju

3 = Setuju

4 = Sangat Setuju

Tabel 1. Kisi-kisi Angket Berpikir Kritis

Tabel 2 . Kisi-kisi Angket Wasathiyah

Hasil Analisis Angket Respon Siswa

Rata-rata skor 76,6% diperoleh melalui informasi yang diambil dari hasil kuesioner setelah implementasi pembelajaran tersebut. Ini berarti bahwa siswa menunjukkan respon yang positif terhadap implementasi bahan pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya instruksional yang digunakan dalam proses pembelajaran ini dapat membuat lingkungan belajar menjadi lebih menarik. Apabila dibandingkan dengan situasi yang mengharuskan untuk melakukan pemecahan masalah secara praktis, peserta didik dianggap lebih aktif .

Hasil angket menunjukkan rata-rata respon siswa sebesar 76,6%. Angka ini menunjukkan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika pembelajaran berbasis masalah diterapkan. Siswa terlihat lebih aktif dalam diskusi, berani menyampaikan pendapat, serta mampu menyimpulkan hasil pembahasan kelompok. Selain itu, sikap menghargai perbedaan pendapat juga mulai terlihat selama proses pembelajaran berlangsung.

Proses Pengembangan Bahan Ajar

Dalam penelitian ini, pengembangan bahan ajar diwujudkan melalui metode pengembangan instruksional dengan cara menghasilkan benda-benda pendidikan yang bisa digunakan di dalam kelas. Dengan demikian, selain berusaha memahami lingkungan belajar, pendekatan ini juga memberikan solusi berupa bahan ajar yang memenuhi persyaratan. Pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari dientifikasi kebutuhan sampai pada proses penyempuaan produk . Setiap tahapan tersebut disusun dengan sistematis dengan tujuan agar produk yang dihasilkan berkualitas dan relevan dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan zaman. Tahapan utama yang dilakukan meliputi:

1. analisis kebutuhan,

2. perancangan,

3. penyusunan produk awal,

4. validasi,

5. uji coba,

6. serta perbaikan produk.

Tahap Analisis Kebutuhan (REVISI)

Fase pertama dikhususkan untuk mengamati kondisi di mana pembelajaran terjadi. Terbukti dari data observasi bahwa pembelajaran berbasis perkuliahan masih mendominasi, yang membatasi partisipasi mahasiswa. Selain itu, sumber daya instruksional yang digunakan tidak dapat secara efektif menghubungkan konten dengan keadaan aktual . Akibatnya, siswa sering memahami materi pelajaran secara konseptual tetapi tidak dapat menerapkannya dalam situasi dunia nyata. Ketidakmampuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dipengaruhi oleh penyakit ini. Sebelum mengambil keputusan, siswa tidak terbiasa menganalisis masalah atau memperhitungkan sudut pandang yang berbeda.

Tahap Perancangan Produk

Langkah selanjutnya adalah membuat desain bahan ajar berdasarkan temuan analisis. Pada titik ini, peneliti mulai mencari tahu organisasi konten, tujuan pembelajaran, dan aktivitas siswa. Konten yang dipilih menekankan prinsip-prinsip moderasi, termasuk keadilan, keseimbangan, dan toleransi terhadap keberagaman. Selain itu, latihan pembelajaran berbasis masalah dibuat untuk mendorong partisipasi siswa.

Tahap Pengembangan Produk

Modul pembelajaran yang lebih komprehensif kemudian dibuat menggunakan desain yang direncanakan. Selain konten, modul ini mencakup latihan, pertanyaan yang menggugah pikiran, dan tugas yang mempromosikan pemikiran kritis. Selain itu, untuk meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar, modul dibuat agar lebih menarik dan mudah dimengerti.

Revisi Produk

Setelah fase persiapan, hasil uji coba dan umpan balik validator digunakan untuk menyempurnakan materi instruksional. Sejumlah area ditingkatkan, termasuk isi materi, penggunaan bahasa, dan penyajian. Tujuan dari modifikasi ini adalah untuk memastikan bahwa materi pengajaran yang dibuat ramah pengguna dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan belajar siswa .

Pembahasan

Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengajaran yang dibuat menggunakan pendekatan berbasis masalah dapat mengubah proses belajar siswa. Mereka tumbuh lebih terlibat dalam berdebat dan menyuarakan pemikiran mereka selain memahami materi pelajaran. Selain itu, anak-anak mulai bereaksi terhadap informasi terutama yang berasal dari media digital dengan sikap yang lebih cerdik . Meskipun mereka tidak langsung mendapatkan informasi, mereka berusaha untuk memverifikasi fakta terlebih dahulu. Cara siswa terlibat satu sama lain juga telah berubah. Mereka berusaha untuk bekerja sama untuk menemukan jawaban dan seringkali lebih toleran terhadap sudut pandang yang berbeda. Ini menunjukkan bagaimana cita-cita moderasi mulai muncul selama proses pembelajaran . Maka dari itu, materi pengajaran yang dibuat berdampak pada sikap dan perkembangan karakter siswa selain kemampuan kognitif mereka.

Simpulan

Bahan ajar PAI berbasis Problem Based Learning yang dikembangkan dinyatakan layak digunakan berdasarkan hasil validasi ahli dan respon siswa. Penggunaan modul ini meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, kemampuan berpikir kritis, serta sikap wasathiyah dalam menyikapi perbedaan.Bahan ajar yang disusun dalam bentuk modul dirancang dengan mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis, nilai-nilai wasathiyah, serta konteks kehidupan peserta didik, baik dalam lingkungan sosial maupun digital.

Kesimpulan penilaian oleh para ahli menunjukkan bahwa modul tersebut sudah memenuhi standar kelayakan dalam berbagai aspek sehingga dapat dipergunakan untuk kegiatan pembelajaran. Implementasi dari uji coba menunjukkan bahwa materi ajar tersebut mudah diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Peserta didik dapat mengikuti jalannya pembelajaran, memahami materi pembelajaran, dan ikut terlibat aktif dalam kegiatan diskusi dan kelompok kerja. Sementara itu, materi ajar tersebut juga membantu guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran dengan lebih tertarget.

Berdasarkan aspek hasil belajar, tampak ada peningkatan pada keterampilan berpikir kritis peserta didik. Peserta didik sudah mampu menganalisa masalah, menyusun opini secara logis, dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menarik kesimpulan. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah berkontribusi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Di luar aspek kognitif, penggunaan materi pembelajaran ini juga memengaruhi perkembangan sikap siswa.

Mereka menunjukkan kecenderungan untuk lebih terbuka, mampu menghargai perbedaan, dan berperilaku lebih bijaksana dalam interaksi, baik di lingkungan sosial maupun digital. Dengan demikian, materi pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya mendukung pemahaman materi tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter.

SARAN

Berdasarkan temuan tersebut, sejumlah masalah mungkin muncul di masa depan. Sumber daya Pembelajaran Berbasis Masalah dapat digunakan oleh instruktur Pendidikan Agama Islam sebagai pengganti untuk menumbuhkan pembelajaran yang lebih menarik dan signifikan. Diharapkan dari guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir kritis dan reflektif selain fokus pada penyampaian pengetahuan. Untuk memastikan pembelajaran berjalan lebih efisien, modifikasi fitur siswa juga harus diperhitungkan.

Dalam konteks pihak sekolah, dukungan untuk implementasi pembelajaran inovatif harus ditingkatkan baik dari segi sarana atau juga kompetensi guru itu sendiri. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pembelajaran inovatif tidak dilakukan hanya dalam waktu tertentu, namun secara berkesinambungan. Sarjana masa depan bisa mengembangkan modul instruksional yang setaraf menggunakan berbagai material maupun level pendidikan. Dengan demikian, gambaran yang lebih rinci bisa didapatkan dengan penelitian lanjutan yang jangkauannya lebih luas.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua orang yang membantu, mendukung, dan berkontribusi dalam penyelesaian penelitian ini. Kami secara khusus ingin berterima kasih kepada eksekutif institusi, pengawas, validator profesional, dan sekolah karena telah menyediakan fasilitas dan izin selama proses penelitian. Responden yang meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dan menyediakan data yang diperlukan juga dihargai oleh penulis. Untuk menyelesaikan penelitian ini dengan benar, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan rekan kerjanya atas doa, inspirasi, dan dukungan spiritual mereka yang tak tergoyahkan. Saya berharap semua cinta dan bantuan akan diduplikasi.

References

Aini, N. (2021). Pengembangan bahan ajar PAI berbasis nilai-nilai toleransi dalam pemahaman Islam wasathiyah. https://repository.unipdu.ac.id

Aseegaf, A., & Sontani, U. (2016). Upaya meningkatkan kemampuan berpikir analitis melalui model problem based learning (PBL). Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 1(1), 38–48. https://ejournal.upi.edu/index.php/jpmanper/article/view/3263

Borg, W. R., & Gall, M. D. (1983). Educational research: An introduction (4th ed.). Longman.

Ghofur, A. (2024). Metodologi penelitian pendidikan: Teori dan aplikasi. Prenadamedia Group.

Hamalik, O. (2008). Kurikulum dan pembelajaran. Bumi Aksara.

Hasmiati. (2025). Pembelajaran abad 21 dan implementasi kurikulum merdeka. Alauddin Press.

Kadir, N. (2012). Proses manajemen strategi dalam pendidikan tinggi.

Karim, A. (2022). Pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran. UINSA Press. https://repository.uinsa.ac.id

Khairunnisa. (2020). Implementasi problem based learning dalam pembelajaran matematika. Deepublish.

Larasati, D. (2020). Berpikir kritis dalam pendidikan kontemporer. Alfabeta.

Majid, A. (2012). Belajar dan pembelajaran pendidikan agama Islam. Remaja Rosdakarya.

Prastowo, A. (2015). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press.

Shihab, M. Q. (2019). Wasathiyyah: Wawasan Islam dalam moderasi beragama. Lentera Hati.

Soyomukti, N. (2015). Teori-teori pendidikan. Ar-Ruzz Media.

Widodo, A., Indraswati, D., & Sobri, M. (2019). Analisis nilai-nilai kecakapan abad 21 dalam buku siswa SD/MI kelas V sub tema 1 manusia dan lingkungan. Tarbiyah: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 8(2), 125–134. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/jtjik/article/view/3231