Mey Pratiwi (1), Putri Rachmadyanti (2), Ari Metalin Ika Puspita (3)
General Background: Geographic literacy is a core competency in primary education encompassing spatial understanding, human–environment interaction, and cultural interpretation. Specific Background: Elementary Natural and Social Sciences learning in Indonesia often relies on textbooks and lacks contextual linkage to students’ real-world spatial experiences. Knowledge Gap: Previous studies have identified geographic values in Serat Centhini but have not deeply examined its integration process within classroom practice and learner experiences. Aims: This study investigates the integration of Serat Centhini as a culturally grounded source of geographic literacy in elementary IPAS learning. Results: Using a qualitative case study with 32 fifth-grade students and a teacher, findings show that narrative-based learning through Serat Centhini supports students’ understanding of spatial relationships, contextualizes geographic concepts, strengthens awareness of human–environment interactions, and connects cultural dimensions with geographic knowledge. Students demonstrated the ability to interpret spatial descriptions, relate them to real environments, and reflect on environmental values through culturally relevant narratives. Novelty: This study introduces a perspective that positions traditional Nusantara literature as an integrated pedagogical resource linking geographic literacy with cultural identity formation in elementary education. Implications: The findings highlight the potential of local literary heritage as an interdisciplinary and contextually meaningful learning resource, offering guidance for teachers, curriculum designers, and policymakers to incorporate culturally responsive approaches in geographic literacy development.
Highlights• Narrative learning supports spatial concept comprehension through cultural storytelling• Students connect textual geography with real environmental contexts and practices• Cultural narratives foster ecological awareness and value-based reflection
KeywordsGeographic Literacy; Serat Centhini; Local Wisdom; Narrative Learning; Elementary Education
Perkembangan global di abad ke-21 menuntut pendidikan dasar untuk tidak hanya berorientasi pada penguasaan konten tetapi juga pada penguatan literasi sebagai kompetensi fundamental bagi siswa. Salah satu literasi yang semakin mendapat perhatian global adalah literasi geografi, yang mencakup kemampuan untuk memahami ruang, lingkungan, hubungan manusia alam, dan representasi geografi dalam berbagai media. Di berbagai negara, literasi geografi dipandang sebagai prasyarat penting untuk mengembangkan warga negara yang kritis dan sadar lingkungan yang mampu menanggapi tantangan global seperti globalisasi, perubahan iklim, dan keberlanjutan [1]. Dalam hal ini, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar berperan untuk membangun kerangka berfikir siswa mengenai literasi geografi.
Namun, pembelajaran IPAS di Indonesia juga masih terkendala akan lemahnya hubungan antara materi yang diajarkan disekolah dengan pengalaman spasial dan lingkungan dunia nyata. Beberapa penelitian menunjukan bahwa pembelajaran IPAS cenderung terpaku pada buku teks serta kurang dalam mengeksplorasi konteks lokal yang lebih bermakna bagi siswa. [2] [3]. Akibatnya, literasi geografi siswa berkembang terbatas melalui hafalan konsep, gagal mengembangkan pemahaman spasial, ekologis, dan budaya yang holistik.
Temuan empiris dari berbagai laporan dan observasi pembelajaran menunjukkan bahwa guru sekolah dasar sering mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan literasi geografi secara kontekstual ke dalam pembelajaran ilmu sosial. Globalisasi juga memengaruhi gaya mengajar guru geografi dan ilmu sosial, yang cenderung mengadopsi pendekatan seragam dan kurang peka terhadap kekayaan local [4]. Di sisi lain, siswa menunjukkan minat belajar yang lebih besar ketika materi dikaitkan dengan cerita, pengalaman lokal, dan narasi budaya yang dekat dengan kehidupan mereka[5] [6]. Situasi ini menunjukkan perlunya sumber belajar alternatif yang mampu menjembatani konsep geografi dengan realitas sosial-budaya lokal.
Sastra dan pengetahuan lokal Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai sumber pembelajaran yang relevan dan bermakna secara kontekstual, terutama untuk meningkatkan keterampilan geografis. Serat Centhini, karya sastra Jawa yang sangat penting, menggambarkan perjalanan, lanskap alam, arsitektur pemukiman, usaha ekonomi, dan hubungan kompleks antara manusia dan lingkungannya di berbagai tempat di seluruh Nusantara. Menurut analisis geokritis, teks Centhini menggambarkan ruang geografis sebagai latar belakang cerita serta sebagai habitat dinamis yang dilengkapi dengan berbagai nilai sosial, budaya, dan ekologi.[7]. Potensi ini menjadikan Serat Centhini relevan untuk diintegrasikan ke dalam ilmu pengetahuan dan pembelajaran sosial sebagai sumber literasi geografi berbasis narasi budaya.
Beberapa studi telah meneliti Serat Centhini dalam konteks pendidikan, khususnya sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal dan penguatan nilai-nilai karakter melalui pendekatan sejarah hidup[8]. Selain itu,[9] mengidentifikasi nilai-nilai literasi geografi dalam Serat Centhini yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar kontekstual di sekolah dasar. Namun, studi-studi ini umumnya berfokus pada identifikasi nilai atau efektivitas pembelajaran, dan belum mengeksplorasi secara mendalam bagaimana Serat Centhini diintegrasikan ke dalam praktik pembelajaran ilmu pengetahuan dan studi, serta bagaimana guru dan siswa menafsirkan pengalaman belajar tersebut.
Di sisi lain, studi literasi geografi di Indonesia lebih berfokus pada pengembangan model pembelajaran, pengukuran kemampuan, atau pengaruh pendekatan spesifik terhadap hasil belajar[10] [11] [12]. Investigasi ini memberikan informasi pendidikan yang penting. Namun, masih ada banyak ruang untuk penelitian mengenai penjelasan makna, pengalaman subjektif, dan aspek proses pembelajaran yang terkait dengan kompetensi geografis yang berasal dari sumber daya budaya lokal.
Jika dilihat dari sudut pandang sosial budaya, memasukan Serat Centhini ke dalam pendidikan sosial sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan warisan budaya lokal serta mempertahankan identitas budaya lokal pada siswa. Metode pembelajaran yang menggabungkan antara literasi geografis dengan narasi budaya diharapkan dapat memudahkan siswa untuk memahami perubahan sosial budaya. Penelitian ini difokuskan untuk mempertahankan karya nusantara klasik khususnya Serat Centhini untuk diterapkan pada sumber pembelajaran terpadu dengan tujuan meningkatkan literasi geografi dan identitas budaya pada pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang hanya mengidentifikasi nilai-nilai geografi dalam teks atau mengkaji efektivitas model pembelajaran tertentu, penelitian ini lebih menekankan pada perspektif baru dengan mengkaji lebih dalam proses pembelajaran melalui sudut pandang guru dan siswa, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih kaya tentang makna dan pengalaman belajar berbasis kearifan lokal di pendidikan dasar Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pemilihan studi kasus didasarkan pada tujuan penelitian, yang berfokus pada pengkajian secara mendalam tentang integrasi Serat Centhini dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) pada pembelajaran sekolah dasar. Pemilihan Studi kasus juga memungkinkan peneliti untuk memahami pembelajaran secara holistik, kontekstual, serta memperjelas interaksi antara guru, siswa, dan sumber belajar berbasis kearifan lokal [13]. Kerangka metodologis ini mempertahankan pengkajian literasi geografis dan pembelajaran kontekstual, yang menekankan pentingnya menghasilkan arti, pengetahuan tentang pengalaman, dan aplikasi praktis dalam konteks pendidikan.[1].
Penelitian ini dilaksanakan di SD Urangagung, yang melibatkan 32 siswa kelas V dan guru sebagai informan utama. Penelitian ini dilaksanakan di SD Urangagung, hal ini karena SD urangaung dianggap lebih sesuai dengan permasalahan yang sedang dikaji, terutama tentang penerapan pembelajaran IPAS yang diintegrasikan dengan kearifan lokal. Teknik yang digunakan untuk memilih informan adalah pengambilan sampel, dengan kriteria untuk informan termasuk: (1) pendidik terlibat langsung dalam perencanaan dan penyampaian studi sosial serta instruksi sains, selain itu, penelitian ini juga melibatkan (2) siswa kelas V yang berpartisipasi penuh dalam pelajaran mengnai Serat Centhini yang terintegrasi dengan pelajaran IPAS. Pendekatan pengambilan sampel dilaksanakan secara konsisten dengan paradigma penelitian kualitatif serta memprioritaskan pemilihan subjek berdasarkan relevansi dan kekayaan informasi [6].
Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan pendidik dan beberapa siswa untuk menyelidiki pemahaman, pengalaman pendidikan, dan persepsi mereka tentang integrasi Serat Centhini ke dalam studi sosial dan kurikulum sains. Penilaian observasi peserta dilakukan sepanjang proses instruksional untuk mengevaluasi penggunaan sumber daya sehari-hari dan interaksi siswa. Diharapkan untuk meningkatkan kedalaman data melalui triangulasi metode. Pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar dokumentasi adalah instrumen penelitian yang digunakan. Dalam hal ini, pedoman observasi yang digunakan yaitu berdasarkan pada pemahaman spasial siswa, hubungan antara manusia dan lingkungan dan dimensi kearifan lokal. Pedoman observasi yang digunakan juga divalidasi oleh ahli pendidikan IPS dan geografi. Selain itu, instrumen lain yang digunakan pada penelitian ini yaitu pedoman wawancara semi terstruktur yang telah diuji terlebih dahulu dengan informan sejenis diluar lokasi penelitian. Hal ini dilaksanakan untuk memastikan keterbacaan dan relevansi pertanyaan sudah tersusun dengan baik. Instrumen lain yang digunakan pada penelitian ini yaitu lembar dokumentasi yang dirancang untuk mencatat data dan fakta dari temuan-temuan selama penelitian ini berlangsung. Keseluruhan instrumen telah melalui proses validasi isi untuk memastikan kesesuaian antara instrumen dan tujuan penelitian, sehingga data yang dikumpulkan dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya[13].
Untuk memastikan keakuratan dan kredibilitas hasil, validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber dan metode, serta pengecekan anggota dengan guru sebagai informan utama. Dengan menggunakan model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, analisis data mencakup proses reduksi data secara bersamaan dan berulang, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan secara tematik. Pola makna ditemukan terkait dengan proses integrasi, pengalaman belajar siswa, dan makna literasi geografi berdasarkan Serat Centhini. Pendekatan analitis ini memungkinkan peneliti untuk menangkap kompleksitas fenomena pembelajaran secara mendalam dan kontekstual, dan selaras dengan karakteristik penelitian literasi geografi berbasis kearifan lokal di sekolah dasar[10].
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi Serat Centhini ke dalam pembelajaran IPAS di SDN Urangagung berkontribusi langsung pada pengembangan literasi geografi siswa.
Literasi geografis digunakan dalam penelitian ini untuk membantu siswa memahami hubungan spasial, mendorong interaksi antara manusia dan lingkungan, serta menghubungkan konsep geografis dengan konteks keagamaan dan lingkungan. Berdasarkan data dari observasi kelas, wawancara guru dan dokumentasi pembelajaran, jelas bahwa pendidikan geografi didasarkan pada proses pembelajaran kontekstual dan naratif, bukan pembelajaran hafalan konsep dan metode geografi.
Pengembangan Literasi Geografi melalui Pembelajaran Berbasis Naratif
Temuan kunci pertama menunjukkan bahwa literasi geografi berkembang melalui keterlibatan naratif dengan konten spasial yang tertanam dalam Serat Centhini. Siswa menunjukkan peningkatan pemahaman tentang konsep geografi dasar seperti tempat, lokasi, dan urutan spasial ketika konsep-konsep ini diperkenalkan melalui cerita yang menggambarkan perjalanan, pemukiman, dan lanskap. Observasi di kelas mengungkapkan bahwa siswa mampu menceritakan kembali rute perjalanan tokoh, mengidentifikasi elemen spasial dalam teks, dan menjelaskan hubungan spasial dengan kata-kata mereka sendiri.
Wawancara dengan guru kelas memperkuat temuan observasi ini. Guru menyatakan bahwa pendekatan berbasis naratif membantu siswa memahami konsep geografi secara lebih intuitif daripada hanya menggunakan buku teks. Seorang guru menjelaskan: “Ketika anak-anakbelajarmelaluiceritasepertiSeratCenthini, merekalebihcepatmemahamiarah, tempat, dan hubunganantarlokasi. Merekatidakmerasasedangbelajargeografi, tetapilebihmemahamicerita, dan dari situ, konsepruangmunculsecaraalami.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa narasi sastra berfungsi sebagai kerangka kognitif untuk mengembangkan literasi geografi, di mana siswa menafsirkan ruang secara bermakna melalui alur cerita dan konteks budaya, daripada sekadar menghafal istilah atau definisi geografi yang abstrak.
Pemahaman Spasial Kontekstual sebagai Indikator Literasi Geografi
Terdapat temuan yang signifikan yaitu adanya kemajuan pemahaman spasial kontekstual yang berfungsi sebagai tolak ukur untuk menilai literasi geografis. Pada tahap ini siswa ditugaskan untuk menghubungkan lokasi yang diilustrasikan dengan centhini fibersdengan lingkungan yang ada dilembaga pendidikan. Selain itu, pada tahap pengamatan empiris peneliti menemukan bahwa siswa lebih sering memasangkan pengaturan naratif dengan kearifan lokal seperti halnya lading, persawahan dan lingkungan perumahan.
Menurut lembar kerja siswa, siswa mampu mengaitkan deskripsi spasial yang diberikan dalam teks dengan pola penggunaan lahan yang sebenarnya dan karakteristik lingkungan. Kemampuan untuk mengontekstualisasikan informasi geografis ini menyiratkan bahwa siswa memperoleh keterampilan literasi geografis saat mereka membangun hubungan antara representasi informasi geografis dalam teks dan situasi dunia nyata di mana informasi geografis ditampilkan.
Memahami Hubungan Manusia dan Lingkungan dalam Literasi Geografi
Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa literasi geografi siswa mencakup pemahaman yang semakin meningkat tentang hubungan antara manusia dan lingkungan. Melalui diskusi pembelajaran yang menyoroti aktivitas pertanian, penggunaan air, dan pola pemukiman yang digambarkan dalam Serat Centhini, siswa mulai mengenali bagaimana aktivitas manusia berinteraksi dengan lingkungan alam. Observasi di kelas menunjukkan bahwa siswa mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat sederhana, seperti dampak pengelolaan air terhadap keberhasilan pertanian atau konsekuensi pengabaian lingkungan terhadap kehidupan manusia.
Temuan observasi ini diperkuat oleh wawancara dengan guru kelas, yang mengkonfirmasi bahwa keterlibatan siswa meningkat ketika isu-isu lingkungan disajikan melalui narasi yang dekat dengan pengalaman dan budaya mereka. Guru tersebut menyatakan: “Ketika ceritaCenthinimembahas sawah, sungai, dan bagaimana orang-orang dahulumengelola air, anak-anaklangsungmenghubungkannyadengankondisi di sekitarmereka. Lebihmudahbagimerekauntukmemahamimengapalingkunganharusdilindungi, karenaceritaituterasanyatabagimereka.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa membingkai isu lingkungan melalui narasi budaya tidak hanya meningkatkan keterlibatan belajar siswa tetapi juga membantu mereka mengembangkan pemahaman ekologis kontekstual. Dengan demikian, literasi geografi dalam penelitian ini tidak terbatas pada kesadaran spasial saja, tetapi mencakup pemahaman ekologis yang terintegrasi dengan praktik manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Konteks Budaya sebagai Dimensi Literasi Geografi
Temuan penting menunjukkan bahwa perkembangan literasi geografis anak-anak erat kaitanya dengan pemahaman mereka tentang dinamika spasial. Serat Centhini menggambarkan geografi sebagai wilayah yang dibentuk oleh nilai-nilai bersama, usaha ekonomi, dan kebiasaan masyarakat. Selain itu, Siswa juga dapat mengaitkan aspek geografis dengan aktivitas budaya lokal, seperti hal nya siklus pertanian dan kolaborasi masyarakat selama pelajaran. Pada tahap ini, siswa belajar tentang sifat geografi yang dinamis sehingga mudah dipengaruhi oleh interaksi budaya. Jika kepentingan budaya dimasukkan ke dalam pemahaman spasial maka, literasi geografis dapat diartikan menjadi konsep yang lebih luas serta mencakup aspek sosial dan budaya pada suatu lokasi.
Kesadaran Reflektif dan Pembentukan Nilai dalam Literasi Geografi
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi spasial dipengaruhi oleh proses perkembangan budaya serta pemebentukan nilai terutama pada pengelolaan lingkungan. Siswa menunjukkan kesadaran yang tinggi tentang permasalahan lingkungan sekitar seperti halnya konservasi sumber daya alam serta pengelolaannya. Dalam hal ini, guru menekankan kepada siswa untuk semakin menghubungkan pelajaran geografi dengan pertimbangan moral, sehingga pembelajaran dapat menggabungkan pemahaman kognitif dengan refleksi moral siswa. Sehingga hasilnya menunjukan pemahaman geografis serta pemahaman spasial melalui narasi yang diperkaya dengan kearifan lokal.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa literasi geografi dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar dapat dikembangkan secara efektif melalui pendekatan pembelajaran yang berlandaskan budaya dan berbasis naratif. Integrasi Serat Centhini memungkinkan siswa untuk membangun pemahaman geografi bukan sebagai pengetahuan tempat yang terfragmentasi, tetapi sebagai pemahaman ruang yang bermakna yang menghubungkan lingkungan fisik, aktivitas manusia, dan praktik budaya. Hal ini memperkuat pandangan bahwa literasi geografi adalah kompetensi holistik yang mencakup pemahaman spasial, kesadaran lingkungan, dan interpretasi kontekstual[14] [2].
Munculnya literasi geografi melalui keterlibatan naratif mendukung argumen bahwa pembelajaran geografi di tingkat sekolah dasar mendapat manfaat dari representasi ruang yang dimediasi, daripada hanya instruksi kartografi abstrak. Literasi geografi berkembang ketika pembelajar kritis terlibat dengan representasi ruang yang tertanam dalam berbagai media [1]. Dalam penelitian ini, Serat Centhini digunakan sebagai media budaya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai hubunganya dengan ruang, perjalanan dan lingkungan. terdapat kesamaan hasil temuan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, yang menunjukan pentingnya pedagogi berbasis tempat dalam pendidikan geografi.
Ketika siswa menghubungkan deskripsi spasial dari Serat Centhini dengan lingkungan sekitar mereka, literasi geografi bergeser dari penalaran abstrak ke pemahaman berdasarkan pengalaman. Temuan ini mendukung[11] dan [15], yang berpendapat bahwa literasi geografi menjadi lebih bermakna ketika peserta didik didorong untuk menghubungkan konsep spasial dengan lingkungan yang familiar. Kemampuan siswa untuk mengkontekstualisasikan representasi tekstual ruang menunjukkan indikator penting perkembangan literasi geografi di tingkat sekolah dasar.
Temuan yang berkaitan dengan hubungan manusia-lingkungan lebih lanjut menyoroti dimensi ekologis literasi geografi. Meningkatnya kesadaran siswa tentang praktik lingkungan yang dijelaskan dalam Serat Centhini menunjukkan bahwa pembelajaran literasi geografi dapat secara bersamaan menumbuhkan pemahaman ekologis dan tanggung jawab lingkungan. Hasil ini konsisten dengan[16] dan [10], yang menekankan bahwa literasi geografi melibatkan pemahaman interaksi antara manusia dan sistem alam. Penelitian ini menjelaskan bahwa kesadaran lingkungan dibudidayakan tidak hanya melalui pedagogi pengalaman tetapi juga melalui keterlibatan reflektif dengan narasi budaya yang signifikan yang menggambarkan praktik berkelanjutan dan tidak berkelanjutan.
Penelitian ini memberikan kontribusi besar dengan menekankan aspek budaya literasi geospasial. Serat Centhini meningkatkan pemahaman peserta didik tentang ruang sebagai konstruksi sosiokultural. Hal ini berbeda dengan perspektif tradisional yang memandang geografi sebagai entitas yang nyata. Temuan ini memperluas studi sebelumnya tentang Serat Centhini yang terutama berfokus pada pendidikan karakter dan pembelajaran sejarah [8] dengan menyoroti nilai pedagogis geografinya. Hasil ini juga selaras dengan[7], yang mengkonseptualisasikan karya sastra Nusantara sebagai teks spasial yang mengkodekan hubungan manusia-tempat.
Dari perspektif pedagogis yang lebih luas, temuan ini menawarkan respons alternatif terhadap standardisasi praktik pengajaran yang dipengaruhi oleh globalisasi. Globalisasi cenderung mendorong pendekatan pengajaran yang seragam yang dapat meminggirkan konteks lokal [4]. Studi ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan teks budaya lokal seperti Serat Centhini dapat mengimbangi kecenderungan ini dengan memperkuat literasi geografi sambil tetap mempertahankan relevansi budaya. Pendekatan seperti itu selaras dengan kerangka pendidikan berbasis kearifan lokal yang menekankan pembelajaran kontekstual dan pengembangan karakter[5] [6].
Secara keseluruhan, penelitian ini dapat membantu penelitian lainya mengenai literasi geografi dengan menyatakan bahwa perkembangan literasi di pendidikan dasar harus dilihat sebagai proses yang reflektif, kontekstual, dan budaya.Literasi geografi bukan hanya memperoleh keterampilan spasial. Sehingga diharapkan dengan memasukkan Serat Centhini ke dalam pembelajaran IPAS, siswa mampu belajar tentang literasi geografi dan terlibat dalam cerita, lingkungan, dan makna budaya. Penelitian ini menggabungkan antara jalur budaya dan naratif untuk meningkatkan literasi geografi. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan pendekatan berbasis masalah atau model pembelajaran inovatif lainnya.
Penelitian [11] dan [15] menunjukkan bahwa literasi geografi meningkat ketika pembelajaran dikaitkan dengan konteks lokal siswa, namun masih menggunakan media pembelajaran modern. Penelitian ini menunjukkan bahwa sumber primer berupa karya sastra tradisional pun mampu menghasilkan efek pedagogis yang serupa, bahkan memperkaya dimensi budaya yang seringkali absen dalam pendekatan berbasis teknologi. Secara kritis, perlu diakui bahwa keberhasilan integrasi Serat Centhini sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengimplikasikan pada proses pembelajaran dikelas. Tantangan ini menuntut keterampilan pedagogis khusus yang tidak dapat dimiliki oleh semua guru sekolah dasar.
Dalam hal ini, guru dituntut untuk lebih kritis pada pengembangan perangkat pembelajaran yang terorganisir. Beberapa strategi konkret yang dapat digunakan oleh guru untuk menerapkan pendekatan ini secara aplikatif yaitu : (1) menyajikan kutipan cerita dari Serat Centhini yang telah disederhanakan dan disesuaikan dengan tingkat baca siswa kelas V, lalu meminta siswa membuat peta perjalanan tokoh berdasarkan deskripsi spasial yang ditemukan dalam teks; (2) menggunakan metode pembelajaran think-pair-share untuk membahas hubungan antara kondisi lingkungan yang digambarkan dalam teks dengan kondisi lingkungan di sekitar mereka; dan (3) memanfaatkan metode penugasan kepada siswa dengan membuat jurnal refleksi dengan menghubungkan antara nilai-nilai pengelolaan lingkungan dalam Serat Centhini dengan isu lingkungan sekitar. Strategi-strategi ini memungkinkan guru untuk memfasilitasi literasi geografi secara kontekstual tanpa memerlukan sarana teknologi yang mahal, sehingga relevan untuk diterapkan di berbagai sekolah dasar di Indonesia.
Studi ini menyimpulkan bahwa memasukkan Serat Centhini sebagai sumber literasi geografis dalam pendidikan sosial dan sains tingkat dasar dapat meningkatkan literasi geografis siswa secara kontekstual dan signifikan. Literasi geografis harus diajarkan tidak hanya melalui penerapan prinsip-prinsip spasial secara sistematis. Tetapi juga melalui penggunaan pendidikan berbasis narasi yang mengintegrasikan geografi, lingkungan, aktivitas manusia, dan adat istiadat setempat.Diharapkan penggunaan Serat Centhini dalam penelitian ini dapat membantu siswa memahami konsep ruang sebagai konstruksi dinamis geografis dan mudah terpengaruh oleh interaksi antara aktivitas manusia dan lingkungan sekitarnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Sastra Nusantara memiliki standar pendidikan yang sangat penting sebagai landasan pendidikan interdisipliner, khususnya di bidang pengetahuan akademik dan pendidikan sosial, yang membutuhkan integrasi antara pengetahuan akademik dan pengetahuan sosial. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu pengajar menggunakan materi yang intrusif, sehingga pengajar dapat berperan sebagai fasilitator dalam situasi ini. Tujuannya adalah untuk meningkatkan tingkat pendidikan yang relevan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sastra Nusantara memiliki nilai pendidikan yang sangat penting sebagai. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan literasi geografi dalam pendidikan dasar harus dilihat sebagai proses kontekstual, budaya, dan reflektif. Selain itu, penelitian ini memasukkan aspek sastra dan budaya sebagai komponen yang bertujuan untuk pembentukan kompetensi geografis, serta sebuah perspektif yang belum banyak dibahas dalam literatur pendidikan dasar di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memunculkan referensi pada pendidik, perancang kurikulum, dan pengambil kebijakan pendidikan.
Penelitian ini diharapkan dapat menegaskan kepada guru bahwa karya sastra lokal seperti Serat Centhini dapat digunakan sebagai bahan ajar asli yang kaya makna dalam pembelajaran IPAS tanpa memerlukan biaya atau infrastruktur khusus. Penelitian ini juga diharapkan dapat memotivasi perancang kurikulum untuk mempertimbangkan sehingga dapat memasukkan sumber kearifan lokal sebagai bagian dari perangkat pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Bagi pengambil kebijakan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan program pelatihan guru yang berfokus pada penerapan sastra dan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran kontekstual. Penelitian lebih lanjut harus melihat apakah ada pendekatan tambahan untuk mengintegrasikan karya sastra lokal.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada SDN Urangagung yang telah mengizinkan penelitian dan memfasilitasi pelaksanaan pembelajaran, sehingga memastikan proses pengumpulan data berjalan lancar. Terima kasih juga disampaikan kepada guru kelas dan siswa kelas lima yang telah aktif terlibat sebagai informan dan subjek penelitian. Penulis juga berterima kasih kepda pihak Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya atas dukungan akademik, bimbingan ilmiah, serta lingkungan akademik yang kondusif selama proses penelitian dan penyusunan artikel ini.
[1] C. Hintermann, F. M. Bergmeister, and V. A. Kessel, “Critical Geographic Media Literacy in Geography Education: Findings from the MiDENTITY Project in Austria,” J. Geog., vol. 119, no. 4, pp. 115–126, Jul. 2020, doi: 10.1080/00221341.2020.1761430.
[2] A. Ramadhani, M. Ruhimat, and N. T. Sugito, “Students’ Geographic Literacy Abilities,” Edunesia J. Ilm. Pendidik., vol. 5, no. 2, pp. 669–686, Apr. 2024, doi: 10.51276/edu.v5i2.882.
[3] S. Sugiyanto, “STUDY OF SECONDARY SCHOOL SOCIAL STUDIES TEACHER UNDERSTANDING ABOUT GEOGRAPHY LITERATION,” J. Pendidik. ILMU Sos., vol. 26, no. 2, p. 205, Dec. 2017, doi: 10.17509/jpis.v26i2.8568.
[4] I. Mahdi, S. Sriyanti, A. Hidayat, and N. A. W., “The Influence of Globalization on the Teaching Styles of Geography Teachers in Indonesia,” J. PIPSI (Jurnal Pendidik. Ilmu Pengetah. Sos. Indones., 2025, doi: 10.26737/jpipsi.v10i1.6422.
[5] N. Alifauzzahra, N. T. Khairunisa, and Y. Wahyuningsih, “Implementasi Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal untuk Menumbuhkan Karakter Siswa Sekolah Dasar,” J. Pendidik. IPS Indones., vol. 9, no. 2, 2025, doi: 10.23887/pips.v9i2.6241.
[6] T. Trimansyah, “IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPS BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENANAMKAN NILAI-NILAI BUDAYA BIMA SEJAK DINI PADA SEKOLAH DASAR,” FASHLUNA, vol. 6, no. 1, pp. 66–74, Apr. 2025, doi: 10.47625/fashluna.v6i1.962.
[7] H. Zainal, I. S. M. Resad, and K. A. B. Arshad, “Understanding Humanity in Nusantara’s Works of Literature: Geocriticism Analysis to Serat Centhini, La Galiga, and Tuhfat al-Nafis,” in Prosiding Nadwah Ulama Nusantara (NUN), 2022, pp. 28–29.
[8] E. P. Sari and S. Sunarti, “Penerapan Model Pembelajaran Living History dalam Materi Sejarah Lokal Serat Centini sebagai Upaya Membangun Nilai Pendidikan Karakter Siswa,” Proc. Ser. Soc. Sci. Humanit., vol. 3, pp. 502–508, Jun. 2022, doi: 10.30595/pssh.v3i.319.
[9] M. Pratiwi, P. Rachmadyanti, and A. M. I. Puspita, “Analysis of Geographic Literacy Values in Serat Centhini as a Source of Contextual Learning in Elementary Schools,” J. Innov. Res. Prim. Educ., vol. 4, no. 4, pp. 430–4043, Dec. 2025, doi: 10.56916/jirpe.v4i4.2634.
[10] M. A. Y. Mulyadi, E. Maryani, M. Ruhimat, and I. Setiawan, “Framework, Development, and Evaluation of Geography Literacy-Based Learning Model for Enhancing Students’ Life Skills in Indonesian Senior High School,” JAMBURA GEO Educ. J., vol. 6, no. 2, pp. 206–221, Sep. 2025, doi: 10.37905/jgej.v6i2.33416.
[11] J. Nisa, E. Maryani, and E. Ningrum, “Development of Geographic Literacy-Based Model of Social Studies Learning in Building Students’ Eco-Friendly Character,” J. Sosioteknologi, vol. 19, no. 1, pp. 122–133, 2020, doi: 10.5614/sostek.itbj.2020.19.1.9.
[12] A. Nurdessyanah, E. Maryani, and S. Sapriya, “The Influence of the Problem-Based Learning Model on the Improvement of Geography Literacy Skills,” J. Innov. Res. Prim. Educ., vol. 4, no. 3, pp. 789–799, Jul. 2025, doi: 10.56916/jirpe.v4i3.1593.
[13] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2020.
[14] Rahmatillah, A. W. Abdi, and A. N. Gadeng, “The Relationship Between Reading Literacy, Spatial Intelligence, and Students’ Geography Learning Outcomes,” vol. 6, no. 2, pp. 71–80, 2025, doi: 10.23960/jlg.v6.i2.0002.
[15] D. T. Ratnasari et al., “Pembelajaran IPS Berbasis Literasi Geografi dalam Menumbuhkan Karakter Peduli Lingkungan Peserta Didik,” vol. 10, no. 2, 2025, doi: 10.32493/eduka.v10i2.55713.
[16] R. Z. Maliki, R. F. Arsy, K. Khairurraziq, A. Hamid, and R. Raehan, “PENGUATAN GEO-LITERACY PADA PEMBELAJARAN GEOGRAFI BAGI SISWA DI SMA NEGERI 5 SIGI,” J. Edukasi Pengabdi. Masy., vol. 4, no. 2, pp. 198–206, Apr. 2025, doi: 10.36636/eduabdimas.v4i2.6695.