Login
Section Communication

Analysis of Self Presentation on the @revindiacarina Account Through Instagram Social Media


Analisis Self Presentation Pada Akun @revindiacarina Melalui Media Sosial Instagram
Vol. 11 No. 1 (2026): June :

Wida Deviyanti (1), Nur Aini Shofiya Asy'ari (2)

(1) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Social media enables individuals, including women, to construct digital identity through shared daily moments, curated content, and public interaction. Specific Background: The Instagram account @revindiacarina provides a case for analyzing how self-presentation is managed through social media using Erving Goffman’s dramaturgy theory. Knowledge Gap: The novelty of this study lies in examining @revindiacarina, an object that had not previously been studied with a specific focus on self-presentation. Aims: This study aims to analyze self-presentation on the Instagram account @revindiacarina through the concepts of front stage and back stage. Results: Using a descriptive qualitative method, data were collected through in-depth interviews, direct observation of the subject’s content, and documentation. The findings show that Revindia strategically applies front stage and back stage self-presentation on @revindiacarina to build image, maintain privacy, and open professional opportunities. Novelty: The study contributes a specific female digital self-presentation case framed through dramaturgy theory in the Instagram context. Implications: The findings enrich the study and conceptualization of women’s self-presentation in the digital era by showing how image management, privacy, and professional opportunity are negotiated online.


Highlights:



  • @revindiacarina constructs public image while maintaining privacy.

  • Content observation and interviews showed strategic account management.

  • The study adds a female digital self-presentation case not previously examined.


Keywords: Self Presentation, Instagram, Social Media, Dramaturgy


 

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Dalam Era Tekonologi 4.0 dan Era 5.0 merupakan awal dari revolusi teknologi [1]. Banyak teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia dan memenuhi kebutuhan mereka, salah satunya adalah sistem komunikasi dan informasi [2]. Manusia sekarang dapat dengan mudah berkomunikasi satu sama lain berkat internet, dan kemajuan yang terjadi lebih cepat serta terus berlanjut untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah, terutama dalam hal mendapatkan atau mencari informasi [3]. Akses ke informasi dan hiburan dari seluruh dunia tersedia setiap saat dan dari lokasi mana pun berkat internet, yang merupakan kenyamanan yang sangat besar. Secara khusus, di era modern ini, ada beberapa platform media sosial yang memungkinkan individu untuk secara terbuka mengungkapkan semua tindakan pribadi mereka dengan pengguna lain, sehingga mengubah area privat mereka menjadi sesuatu yang dapat dilihat oleh publik.

Pada Oktober 2023, terdapat lonjakan 104,8 juta pengguna Instagram di Indonesia, seperti yang ditunjukkan oleh laporan We Are Social di databoks.katadata.co.id. Angka yang luar biasa ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pengguna Instagram terbanyak keempat di dunia [4]. Banyak orang yang mengunjungi web saat ini menyukai Instagram, sebuah platform jejaring sosial Instagram tidak hanya untuk remaja lagi bahkan ibu-ibu yang tinggal di rumah pun menggunakan platform ini untuk membangun merek pribadi melalui berbagi foto dan video.

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah “bagaimana self presentation Revindia Carina di era digital?” Premis utama dari penelitian ini ialah bahwa perempuan dapat memberikan dampak positif di dunia modern dengan menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi di era digital. Instagram dan platform media sosial lainnya memungkinkan perempuan untuk mengejar minat mereka di luar rumah tanpa mengorbankan kemampuan mereka untuk merawat keluarga. Dalam lingkup sosial ekspresi diri sangat penting karena dapat mempengaruhi bagaimana individu dipersepsikan orang lain [5]. Self presentation adalah upaya atau usaha yang di dilaksanakan secara sadar untuk mengatur dan mengelola kesan yang ditampilkan kepada orang lain, dengan tujuan membentuk citra tertentu tentang diri sendiri [6].

Istilah “presentasi diri atau self presentation pertama kali dikemukakan oleh seorang sosiolog yang berasal dari Kanada bernama Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul ‘The Presentation of Self in Everyday Life” [7]. Teori Utama sebagai acuan studi ialah “Self Presentation Theory yang dikembangkan oleh Ervin Goffman. Self-presentation dengan cara yang tidak memerlukan banyak usaha adalah perpanjangan dari proses manajemen informasi untuk ekspresi diri. Hal ini memerlukan penggunaan taktik presentasi diri, yang merupakan upaya untuk terus menampilkan informasi diri yang diperlukan [8]. Dalam bukunya, The Presentation of Self in Everyday Life, Erving Goffman mengemukakan bahwa setiap individu, yang ia sebut sebagai 'aktor', senantiasa menampilkan diri melalui ekspresi verbal dan nonverbal saat berinteraksi dengan orang lain [8].

Self Presentation di media sosial telah menjadi fenomena signifikan dalam interaksi modern. Dalam konteks ini, Self Presentation berfokus pada cara individu mengelola citra diri mereka untuk membentuk persepsi orang lain,yang sering digunakan untuk mendapatkan pengakuan dan popularitas. Pengguna Instagram sering kali menggunakan berbagai strategi dalam self presentation mereka, salah satunya dengan Teori Dramaturgi. Dramaturgi ialah pendekatan yang menggambarkan interaksi sosial sebagai sebuah pertunjukan teater, di mana individu berperan sebagai aktor yang menampilkan diri mereka di depan audiens. Goffman membagi interaksi sosial menjadi dua arena utama: front stage (panggung depan) serta back stage (panggung belakang). Di panggung depan, individu berusaha menciptakan kesan tertentu kepada orang lain, menggunakan berbagai strategi seperti pengeditan foto, pemilihan kata, dan perilaku yang disengaja untuk membentuk citra positif tampil sempurna [9].

Figure 1. Proflie Akun Instagram @revindiacarina

Revindia Carina, seorang ibu dengan dua anak, aktif menggunakan media sosial, khususnya Instagram, untuk mempublikasikan berbagai aktivitasnya. Dalam akunnya, @revindiacarina, ia sering membagikan konten yang berkaitan dengan dunia politik, modeling, dan promosi produk (endorsement). Aktivitas ini didukung oleh latar belakangnya sebagai Putri Pariwisata Indonesia 2018, yang juga memungkinkannya berperan sebagai pembicara di kelas modeling serta menerima berbagai produk untuk diulas. Saat ini, akun Instagram Revindia Carina telah memiliki lebih dari 20 ribu pengikut dan diverifikasi oleh Instagram dengan tanda centang biru.

Pemilihan akun Instagram Revindia Carina sebagai objek penelitian didasarkan pada penggambaran kegiatan seorang putri pariwisata yang memberikan ilmu dan pengalamannya sebagai pembicara dalam pelatihan public speaking, atau modeling, kepada masyarakat melalui program holiday class, publikasi, dan juga pelatihan prima, hal ini menunjukan Revindia menampilkan dirinya sendiri di akun instagramnya sebagai perempuan selain sebagai ibu rumah tangga . Mempresentasikan Dirinya sebagai pembicara dengan pengalamannya yang beragam, mulai dari dunia politik, modeling, hingga perannya sebagai pengajar. Revindia Carina mampu memberikan pengaruh yang kuat. Kombinasi dari latar belakang profesional dan perannya sebagai ibu menjadikannya figur publik yang relevan untuk meneliti bagaimana seseorang mengelola self presentation, citra diri, menjaga privasi dan memanfaatkan media sosial untuk meraih peluang profesional

Terdapat penelitian terdahulu mengenai self presentation dan juga perempuan berdaya yang dijadikan peneliti sebagai rujukan penelitian. Sebagai bahan pembanding peneliti menggunakan referensi penelitian sebagai berikut : 1. Dengan judul “Media Sosial Instagram Sebagai Presentasi Diri (Studi Kasus Pengguna Instagram di Jakarta)” Teorinya Users dengan Objek Penelitiannya Tyna Kanna Mirdad. kemudian ke 2. “Instagram as a self presentastion Media For Young Mother in Medan City” menggunakan Teori Dramaturgi dengan Objeknya akun instagram @Retnohening, yang ke 3. “Penggunaan media sosial pada ibu rumah tangga dalam tinjauan teori dramaturgi di kota Surabaya” memakai teori Dramaturgi Ervin Goffman dan objeknya Ibu Rumah Tangga di Surabaya. Dari penelitian sebelumnya lebih banyak menyoroti ibu rumah tangga biasa atau selebgram parenting bukan figur publik dengan latar belakang eks putri Pariwisata, pembicara publik, dan model. Tidak semua penelitian terdahulu membedah bagaimana seseorang membedakan secara eksplisit anatara penampilan di media sosial (frontstage) dan kehidupan nyata (backstage) secara konseptual. Banyak penelitian tentang perempuan dan media sosial yang menargetkan ibu-ibu muda di wilayah Medan, meneliti bagaimana mereka memanfaatkan self-presentation, perilaku media sosial, dan personal branding [7]. Penggunaan Media Sosial pada Ibu Rumah Tangga juga pernah di kaji [10]. Kedua Penelitian tersebut sama menggunakan Teori Self Persentation oleh Ervin Goffman. Pembaruan dengan penelitian ini memberikan pembeda pada penerapan teori Daramaturgi dengan Subject Penelitian yaitu Revindia Carina. Berdasarkan uraian di atas, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis self-presentation akun media sosial Instagram (@Revindiacarina), bagaimana Revindia mengelola akunnya di belakang layar saat proses pembuatan konten, sebelum di posting di media sosial dan sesudah di posting citra seperti apa yang akan disampaikan. Penelitian ini diharapkan akan menambah kekayaan literatur tentang penerapan self presentation perempuan secara digital. Self Presentation

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan secara faktual fenomena kondisi yang ada di lapangan. Menurut Sugiyono penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menganalisis suatu kasus atau masalah spesifik saat ini dengan mengandalkan kepercayaan pribadi berdasarkan fakta-fakta dan data historis yang ada, lalu fakta dan data tersebut ditanggapi, dikumpulkan, dianalisis dan diinterpretasikan [11].

Subjek penelitian ialah individu yang mempunyai pengetahuan langsung mengenai fenomena yang diteliti atau mampu menggambarkan lingkungan tempat penelitian berlangsung [12]. Subyek dari penelitian ini adalah Instagram Revindia Carina. Objek penelitian dalam kualitatif merujuk Spradley “sosial situation” atau “situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergi (referensi). Objek dalam Penelitian ini adalah kegiatan dari Revindia Carina yang ada di Instagram. Subjek penelitian ialah individu yang mempunyai pengetahuan langsung mengenai fenomena yang diteliti atau mampu menggambarkan lingkungan tempat penelitian berlangsung [13]. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi konten, serta dokumentasi merupakan bagian terbesar dari kumpulan data penelitian ini. Pertama, wawancara dilakukan bersama dengan Revindia Carina guna mendapatkan informasi yang jelas dan akurat tentang penggunaan instagram sebagai self presentation. Kedua, observasi dengan cara mengamati konten akun Instagram @Revindiacarina, selain itu peneliti juga mengamati interaksi dengan audiens, serta respon yang diterima dari audiens. Ketiga, dokumentasi foto postingan Revindia Carina yang sudah diipload di Instagram.

Reduksi data, penyajian data, dan verifikasi kesimpulan akhir adalah tugas-tugas yang membentuk analisis data” [14]. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan merupakan tiga kegiatan dalam analisis data, seperti yang dinyatakan oleh Miles dan Huberman. Reduksi data melibatkan pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data ini. Dalam konteks ini, reduksi data merujuk pada pemilihan poin-poin penting, penyempitan pada hal-hal yang relevan, merevisi tema dan pola, dan menghilangkan informasi yang tidak relevan [12]. Tujuan dari penyajian data ini adalah untuk membuatnya lebih mudah dipahami dan dikerjakan [12]. Langkah-langkah reduksi data dan penyajian data diikuti dengan penarikan kesimpulan dan verifikasi”, merujuk [15].

Data yang diperoleh harus diperiksa ulang keakuratannya agar dapat dilanjutkan. Peneliti menggunakan triangulasi data, di mana berbagai sumber informasi dibandingkan, dan berbagai teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini untuk menjamin bahwa hasilnya konsisten. Selain itu, data yang dikumpulkan pada periode yang berbeda dibandingkan untuk mengidentifikasi perubahan atau kesamaan proses ini dikenal sebagai triangulasi waktu

Hasil dan Pembahasan

    Dalam upaya mendapatkan hasil penelitian, peneliti melakukan observasi akun Instagram @Revindiacarina serta Wawancara mendalam dengan informan Revindia Carina. Dari upaya ini, peneliti menghasilkan beberapa diskusi mengenai penerapan backstage dan frontstage di akun media sosial Instagram @Revindiacarina sebagai bentuk self presentation. Front stage (panggung depan) serta backstage (panggung belakang). Terutama di panggung depan, individu berusaha menciptakan kesan tertentu kepada orang lain, menggunakan berbagai strategi seperti pengeditan foto, pemilihan kata, dan perilaku yang disengaja untuk membentuk citra positif tampil sempurna [16]. Karena faktor ini Revindia telah menerapkan Citra positif dan konsisten menginspirasi positif.

    Erving Goffman memandang interaksi sosial layaknya pertunjukan teater, di mana setiap individu bertindak sebagai aktor yang memainkan peran tertentu di hadapan orang lain, yang dikenal dengan Teori Dramaturgi. Dalam teori ini terdapat dua indikator utama, yaitu front stage (panggung depan) dan backstage (panggung belakang). Front stage adalah area di mana individu menampilkan diri secara optimal di hadapan publik atau audiens. Di sini, individu berusaha membangun citra diri yang ideal, mengatur penampilan, perilaku, dan tutur kata agar sesuai dengan harapan atau norma sosial yang berlaku. Segala sesuatu yang ditampilkan di front stage telah dipersiapkan dengan matang, baik dari segi fisik, ekspresi, maupun gaya, demi menciptakan kesan tertentu pada orang lain [17]. Sebaliknya, back stage merupakan area di mana individu dapat bersikap lebih santai, lepas dari tuntutan peran sosial, dan menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Di backstage, individu mempersiapkan diri, berlatih, atau bahkan beristirahat sebelum kembali tampil di front stage. Tempat ini juga menjadi ruang untuk merancang strategi, mengelola emosi, dan menghadapi kendala yang mungkin muncul saat tampil di depan publik. Segala hal yang terjadi di backstage umumnya tidak diketahui oleh audiens dan bersifat lebih privat [18].

    Dalam Indikator Front stage dimana individu menampilkan diri secara optimal di hadapan publik. Hasil Penelitian menunjukan jika Revindia Carina menggunakan Instagram sebagai front stage untuk menunjukkan eksistensi dirinya secara digital, dengan aktif membagikan prestasi dan passion melalui unggahan rutin. Platform ini menjadi panggung untuk membangun personal branding, yang terbukti efektif dalam membuka peluang karier yang signifikan. Dalam aktivitasnya, Revindia secara sadar mengelola kesan yang ingin ditampilkan kepada pengikutnya. Revindia juga menunjukan prestasi yang pernah dicapai sebagai Runer Up dari Putri Pariwisata Indonesia tahun 2017 , terlihat dari postingan di Instagram seperti di bawah ini. Hal ini selaras dengan penelitian dari Khuzaimah & Harianto (2023) yang menjelaskan Bahwa Front Stage Tujuannya adalah membangun citra diri yang positif, mendapatkan pengakuan, dan membentuk self-image virtual di mata para pengikutnya.

    Figure 2. Postingan Akun Instagram @revindiacarina

    Dalam hasil Wawancara secara mendalam, Revindia juga mengungkapkan jika akun Media sosial ini dikelola oleh dirinya sendiri dimana dia menerapkan Manajemen Kesan. Manajemen terlihat dari bagaimana Revindia Carina memilih foto dan video yang akan diunggah, Revindia juga menyampaikan jika setiap postingannya barus memberikan kesan estetik untuk menyampaikan kesan menarik dan nyaman dilihat. Revindia mengakui penggunaan filter atau aplikasi edit foto/video sebagai upaya untuk menyajikan konten yang "terbaik" dalam hal kualitas gambar dan penyampaian pesan. Singkatnya estetika dalam postingan Instagram berperan penting dalam memperkuat personal branding dengan meningkatkan daya tarik visual, membangun identitas unik, mempermudah komunikasi pesan, serta meningkatkan interaksi dengan audiens [19].

    Figure 3. Tampilan Feed akun instagram @revindiacarina

    Pola interaksi Revindia dengan pengikutnya mengalami perubahan seiring waktu. Saat ini, interaksi tidak terlalu sering dilakukan karena kesibukan pekerjaan dan keluarga, berbeda dengan masa aktif kompetisi Putri Pariwisata Indonesia dan Pariwisata Dunia di tahun 2017 hingga 2020 dimana interaksi dengan followers lebih intens. Dalam menanggapi komentar, terutama yang negatif, Revindia cenderung berhati-hati meresponnya. Dulu manajernya lah yang membalas hate comment, kebanyakan terkait fisik, namun karena dampak psikologis yang besar, seperti penelitian dari Rumetna et al (2024) yang menyampaikan Paparan berlebihan terhadap hate comment berpotensi menyebabkan gangguan psikologis seperti stres berat, kecemasan kronis, hingga gangguan mental lainnya. Hal Ini membuat Revindia lebih memilih untuk mengabaikannya atau Sesekali, ia hanya memberikan reaksi "love" pada komentar buruk tersebut.

    Front stage di Instagram menghadirkan tantangan tersendiri bagi Revindia Carina. Ia mengungkapkan adanya tekanan untuk menampilkan citra tertentu yang sesuai dengan ekspektasi pengikutnya, yang terkadang memicu rasa "overthinking" dan kekhawatiran tidak mampu memenuhi standar tersebut. Selain itu, Revindia juga menghadapi kendala dalam menjaga konsistensi unggahan konten di tengah padatnya kesibukan, yang menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan front stage-nya. Meskipun demikian, front stage di Instagram memberikan dampak positif yang signifikan bagi karier Revindia. Ia menyebutkan bahwa hampir 70% pekerjaannya berasal dari Instagram, termasuk pekerjaan sebagai presenter dan Putri Pariwisata. Dengan kata lain, semakin aktif Revindia dalam mengelola dan menampilkan diri di Instagram, semakin besar pula peluang pekerjaan yang didapatkannya. Karena Personal branding yang baik membantu individu, termasuk ibu rumah tangga, untuk mendapatkan pekerjaan sampingan seperti freelancer, content creator, atau pekerja digital lainnya yang dapat dilakukan dari rumah tanpa harus meninggalkan peran utama mereka [20]. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa pengelolaan front stage di Instagram bagi Revindia Carina merupakan sebuah dinamika yang kompleks. Di satu sisi, terdapat tekanan dan tantangan yang harus dihadapi, namun di sisi lain, platform ini memberikan manfaat besar dalam hal pengembangan karier dan peluang pekerjaan. Hal ini menunjukkan pentingnya manajemen kesan yang efektif di media sosial, sekaligus perlunya kesadaran akan konsekuensi dan tantangan yang mungkin timbul. Revindia Carina juga mengungkapkan adanya perbedaan yang signifikan antara penampilannya di Instagram (front stage) dan kehidupannya sehari-hari (back stage). Di Instagram, ia menampilkan citra diri yang aktif dan glamor, seringkali dengan dandanan dan penampilan yang maksimal. Namun, dalam kehidupan nyata, Revindia menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dengan kegiatan yang lebih sederhana dan penampilan yang lebih kasual. Perbedaan ini menyoroti adanya usaha "setting" atau persiapan yang dilakukan untuk menciptakan kesan tertentu di media sosial. Meskipun back stage seharusnya menjadi tempat di mana individu merasa "bebas" dan "lepas" dari tuntutan peran di front stage, Revindia Carina justru merasakan adanya keterbatasan. menyatakan bahwa apa yang ia branding di Instagram tidak sepenuhnya "apa adanya", melainkan membutuhkan persiapan detail, termasuk make-up dan pengaturan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan citra yang ditampilkan di front stage tetap mempengaruhi perilaku dan penampilan di backstage.

    Revindia Carina mengelola akun Instagramnya secara mandiri, tanpa bantuan editor atau tim lain. Dalam mengelola akunnya, Revindia menghadapi kekhawatiran tentang bagaimana orang lain akan menafsirkan setiap postingan yang diunggah. Kekhawatiran ini mendorongnya untuk mengambil langkah-langkah menjaga privasi, seperti tidak mengunggah konten secara real-time dan menyembunyikan informasi pribadi seperti lokasi atau nomor telepon. Strategi latepost dapat diartikan sebagai postingan yang diunggah setelah waktu ideal atau setelah momen penting berlalu, sehingga mungkin kehilangan relevansi atau kesempatan untuk mendapatkan perhatian maksimal dari audiens [21], tidak mengunggah hal-hal seperti urusan rumah tangga, masalah atau kegiatan terlalu privasi. Upaya ini mencerminkan adanya kesadaran yang tinggi tentang pentingnya memisahkan antara konsumsi publik di Instagram dan pribadi, serta adanya usaha aktif untuk mengontrol informasi apa yang dibagikan kepada publik.

    Revindia Carina memperlihatkan adanya hubungan yang dinamis antara front stage (Instagram) dan backstage (kehidupan nyata), di mana pengelolaan citra di Instagram (front stage) mempengaruhi perilakunya sehari-hari (back stage). Meskipun berusaha menjaga konsistensi, terdapat inkonsistensi antara citra glamor di Instagram dan peran sederhana sebagai ibu rumah tangga di kehidupan nyata. Revindia mengakui adanya usaha "setting" untuk menciptakan kesan di Instagram, namun ia juga menekankan bahwa citra yang ditampilkan secara keseluruhan mencerminkan dirinya yang sebenarnya. Temuan ini mendukung konsep dramaturgi Goffman tentang front stage dan back stage, di mana Instagram menjadi panggung untuk menampilkan diri kepada audiens. Revindia mengelola akunnya sendiri, menghadapi kekhawatiran tentang penafsiran postingan dan mengambil langkah-langkah menjaga privasi, seperti latepost dan menyembunyikan informasi pribadi. Hal ini menunjukkan relevansi teori dramaturgi dalam memahami dinamika identitas dan interaksi di media sosial, di mana individu aktif mengelola kesan dan privasi mereka. Revindia Carina menyarankan pemanfaatan media sosial untuk membangun citra positif sebagai peluang karier. Secara keseluruhan, penelitian ini merefleksikan kompleksitas pengelolaan identitas di media sosial, di mana individu menavigasi antara menampilkan diri dan menjaga privasi, serta bagaimana teori dramaturgi membantu menganalisis fenomena ini.

    Simpulan

    Penelitian ini menunjukkan bahwa Revindia Carina secara aktif memanfaatkan media sosial Instagram sebagai sarana self-presentation yang mencerminkan dua Indikator dalam Teori Dramaturgi Erving Goffman, yaitu front stage dan back stage. Di front stage, Revindia dengan sadar membangun citra diri yang positif dan profesional melalui unggahan foto, video, serta penggunaan estetika visual untuk menunjang personal branding. Instagram menjadi panggung utama bagi Revindia untuk menampilkan eksistensinya sebagai figur publik, ibu, model, dan pembicara, yang secara signifikan berdampak pada peluang karir dan kepercayaan publik. Sementara itu, di backstage, Revindia menjalani kehidupan sehari-hari yang lebih sederhana dan privat, serta menerapkan strategi seperti latepost dan seleksi konten untuk menjaga batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik. Meskipun terjadi perbedaan antara citra yang ditampilkan di Instagram dan kehidupan nyata, Revindia menyadari pentingnya konsistensi dalam membentuk kesan di mata pengikutnya. Dalam konteks digital, self-presentation menjadi strategi penting bagi perempuan untuk membangun citra, menjaga privasi, dan meraih peluang profesional. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian komunikasi digital khususnya terkait presentasi diri perempuan di era media sosial.

References

E. Setiawati and G. Sridiyatmiko, “Strengthening of Women Characters in the Millennial Era in KUB Sendang Rejeki Sleman,” Jurnal Berdaya Mandiri, pp. 244–255.

P. S. Ramadhan, C. S. Ginting, B. Anwar, I. Santoso, R. Kustini, and N. B. Nugroho, “Pembuatan Sistem Informasi Pemesanan Catering Berbasis Web (Studi Kasus: Renita Catering),” Jurnal Abdimas TGD, vol. 4, no. 2, pp. 182–188, 2024.

D. E. Sari, R. Handoko, and A. I. Rochim, “Pengaruh Online Shop Jejaring Sosial terhadap Perilaku Konsumtif pada Ibu Rumah Tangga Kabupaten Mojokerto (Studi Kasus Ibu Rumah Tangga di Desa Mojotamping, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto),” Representamen, vol. 4, no. 1, pp. 1–10, 2018, doi: 10.30996/representamen.v4i01.1423.

A. F. Hana, S. H. Wulandari, B. M. Hasan, and E. Fantini, “Pengaruh Media Sosial Instagram terhadap Perubahan Perilaku Komunikasi Secara Langsung pada Generasi Z di Jakarta Selatan,” DISCOURSE: Indonesian Journal of Social Studies and Education, vol. 1, no. 1, pp. 8–16, 2023, doi: 10.69875/djosse.v1i1.65

R. Hanaya, J. Amelia, R. Maulidina, M. A. Nauli, and E. Purwanto, “Pengaruh Media Sosial Terhadap Gaya Hidup Anak Muda,” CONVERSE: Journal of Communication Science, vol. 2, no. 1, pp. 1–15, 2025, doi: 10.47134/converse.v2i1.4406.

N. S. Ismail, “Self-Presentation Pengguna Media Sosial dalam Perspektif Dramaturgi,” 2023.

L. Amelia and S. Amin, “Analisis Self-Presenting dalam Teori Dramaturgi Erving Goffman pada Tampilan Instagram Mahasiswa,” Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, vol. 1, no. 2, pp. 173–187, 2022.

M. Maria and S. Foong, “Social Media Blueprints: A Study of Self-Representation and Identity Management,” International Journal of Asian Social Science, vol. 11, no. 6, pp. 286–299, 2021, doi: 10.18488/journal.1.2021.116.286.299.

P. Humbertus, L. G. L. E. Jayanti, F. O. Cuo, F. Laumanto, and P. C. M. P. D., “Kecenderungan Pembentukan Inauthentic Self-Presentation Pengguna Instagram,” Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), vol. 4, no. 5, pp. 1812–1826, 2022, doi: 10.31004/jpdk.v4i5.6867.

E. Ramadhani et al., “Representasi Perempuan dalam Media Sosial dan Konstruksi Identitas Digital,” Jurnal Kajian Gender dan Anak, vol. 6, no. 1, pp. 17–28, 2022.

S. B. Rahimah, R. T. H. Pranata, et al., “Strategi Media Sosial Specialist dalam Publikasi Informasi PT Widodo Makmur Perkasa Tbk,” vol. 4, no. 6, pp. 111–118, 2025.

A. L. Mikraj, S. Besariani, and T. Mutiah, “Gaya Komunikasi Ibu-Ibu di Era Digital Melalui Media Sosial TikTok,” Al Mikraj: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, vol. 6, no. 1, pp. 482–492, 2025, doi: 10.37680/almikraj.v6i1.7909.

S. Khasanah, “Perilaku Konsumtif Ibu Rumah Tangga dengan Menggunakan Kredit Barang Keliling sebagai Local Wisdom dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Kredit Barang Keliling Bapak Yudi pada Desa Banjarsari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas),” Skripsi, Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Purwokerto, Indonesia, 2025.

R. Febriani, “Fenomena Penggunaan Facebook di Kalangan Ibu Rumah Tangga di Sorek Satu Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan,” Skripsi, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia, 2021.

Z. I. Hasan and F. Nisa, “Penerapan Strategi Manajemen Media Sosial untuk Optimalisasi Brand Awareness, Loyalitas, dan Penjualan pada UMKM di Bandung, Jawa Barat,” vol. 4, no. 4, pp. 1087–1096, 2024.

N. Nurmala and R. Setiawan, “Fenomena Dramaturgi dan Konstruksi Citra Diri Pengguna Second Account Instagram pada Kalangan Mahasiswa FKIP UNTIRTA,” Edu Sociata: Jurnal Pendidikan Sosiologi, vol. 6, no. 1, pp. 345–356, 2023, doi: 10.33627/es.v6i1.1336.

H. Thamrin, “Pengaruh Estetika Visual dan Personal Branding terhadap Social Currency Content Creator TikTok di Indonesia,” Filosofi: Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya, vol. 1, no. 3, pp. 267–282, 2024, doi: 10.62383/filosofi.v1i3.246.

A. Priadana and A. W. Murdiyanto, “Analysis of the Best Time to Post Content on Instagram to Reach the Audiences,” Jurnal Penelitian Pers dan Komunikasi Pembangunan, vol. 24, no. 1, pp. 1–14, 2020, doi: 10.46426/jp2kp.v24i1.118.